Anda di halaman 1dari 97

BAHAN AJAR

MATA KULIAH EKOLOGI HEWAN

1. Tinjauan Mata Kuliah

a. Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini membahas tentang Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi,

Hewan dan Lingkungannya, Respon dan Adaptasi Hewan, Habitat dan

Relung, Populasi, Suksesi dan Ekoenergetika.

b. Kegunaan Mata Kuliah

Mata Kuliah Ekologi Hewan berguna bagi mahasiswa dalam memahami

bagaimana interelasi hewan dengan lingkungan biotic maupun abiotik.

Interelasi antara hewan dengan lingkungannya ini merupakan proses interaksi

dengan alam sekitar untuk pemenuhan kebutuhan. Interelasi ini juga

menggambarkan tatanan kinerja fungsi komponen lingkungan yang saling

menghargai dan senantiasa dalam keseimbangan. Oleh karena itu untuk

memahami tatanan interelasi tersebut diperlukan kajian tentang ekologi.

Interelasi ini biasanya menggambarkan keadan hewan yang sangat tergantung

pada faktor-faktor abiotik maupun biotic dan sebaliknya hubungan kedua

faktor tersebut dengan hewan itu sendiri. Selain itu mahasiswa dapat

menerapkan peranan ekologi hewan bagi manusia, permodelan, pendekatan

serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dapat mengamati

langsung interelasi hewan dan lingkungannya sehingga dapat menentukan,

mengestimasi serta dapat menghitung populasi dan energi dalam ekosistem

baik di lapangan maupun di laboratorium. Hal ini sangat berguna dalam hal

1
pengambilan dan penentuan kebijakan dalam penerapnnya di lapangan, karena

sangat berhubungan dengan keadaan dan sifat-sifat hewan. Kegunaan lain

adalah mahasiswa dapat menerapkan sistim dan strategi-strategi tersebut baik

dalam kehidupan sehari-hari maupun di kemudian hari.

c. Standard Kompetensi

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini dalam satu semester, mahasiswa

diharapkan mampu memahami, menerapkan serta mengaplikasikan sasaran

dan strategi serta permodelan-permodelan dalam Ekologi Hewan dengan

benar.

d. Materi

Bab 1. Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan

Bab 2. Hewan dan Lingkungannya

Bab 3. Respond an Adaptasi Hewan

Bab 4. Habitat dan Relung

Bab 5. Populasi

Bab 6. Suksesi

Bab 7. Ekoenergetika.

e. Petunjuk Bagi Mahasiswa

1. Sebelum mengikuti perkuliahan, hendaknya mahasiswa telah membaca

buku yang relevan dengan materi yang akan dibahas pada setiap

pertemuan.

2. Mengikuti setiap materi yang dipraktekkan sehingga dapat memahami dan

mengerti serta mendapatkan contoh kasus di lapangan agar menambah

wawasan keilmuan.

2
3. Carilah tambahan materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas

dari internet dan perpustakaan kemudian diskusikan dalam kelompok baik

di kelas maupun di lapangan.

4. Mintalah petunjuk dari dosen jika ada konsep yang belum terselesaikan

baik dalam kelompok kecil maupun klasikal.

5. Kerjakan tugas mandiri yang diberikan pada akhir perkuliahan dan ikuti

ketentuan yang disepakati baik isi, teknis maupun batas pemasukan.

3
BAB I
DEFINISI EKOLOGI DAN KONSEP EKOLOGI HEWAN
1.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini akan menguraikan Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan,
Sasaran dan Ruang Lingkup Ekologi Hewan, Peranan Ekologi Bagi Manusia,
Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi Hewan serta Aplikasi Konsep Ekologi
Hewan.
Relevansi
Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya
dengan bab-bab selanjutnya.
Kompetensi Dasar
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa Jurusan Biologi
semester VII dapat menjelaskan Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan
dengan tepat.
1.2. Penyajian
Uraian dan Contoh

PENDAHULUAN
1. Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan
Ekologi berasal dari bahasa Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu. Beberapa
ahli ekologi mendefinisikan Ekologi sebagai berikut:
a. Odum (1963), Ekologi diartikan sebagai totalitas atau pola hubungan
antara makhluk dengan lingkungannya.
b. Kendeigh (1980), Ekologi sebagai kajian tentang hewan dan tumbuhan
dalam hubungannya antara satu makhluk dengan makhluk hidup yang lain
dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
c. Krebs (1972), Ekologi, merupakan ilmu yang mempelajari interaksi-
interaksi yang menentukan sebaran/agihan (distribusi) dan kelimpahan
organisme-organisme.

4
Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang
mempelajari interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling
ketergantungan antara organisme dengan lingkungannya baik secara langsung
maupun tidak langsung terhadap kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan
tersebut artinya segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup yaitu
lingkungan biotik maupun abiotik.
Hal-hal yang dihadapi dalam ekologi sebagai suatu ilmu adalah organisme,
kehadirannya dan tingkat kelimpahannya di suatu tempat serta faktor-faktor dan
proses-proses penyebabnya. Dengan demikian, definisi-definisi tersebut jika
dihubungkan dengan ekologi hewan dapat disimpulkan bahwa Ekologi Hewan
adalah suatu cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi-interaksi antara
hewan dengan lingkungan biotic dan abiotik secara langsung maupun tidak
langsung meliputi sebaran (distribusi) maupun tingkat kelimpahan hewan
tersebut.
2. Sasaran dan Ruang Lingkup Ekologi Hewan
Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek
dasar yang melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi, komunitas
dan ekosistem yang ditempatinya, meliputi pengenalan pola proses interaksi serta
faktor-faktor penting yang menyebabkan keberhasilan maupun ketidakberhasilan
organisme-organisme dan ekosistem-ekosistem itu dalam mempertahankan
keberadaannya. Berbagai faktor dan proses ini merupakan informasi yang dapat
dijadikan dasar dalam menyusun permodelan, peramalan dan penerapannya bagi
kepentingan manusia, seperti; habitat, distribusi dan kelimpahannya, makanannya,
perilaku (behavior) dan lain-lain.
Setelah mempelajari dan memahami hal-hal tersebut, maka pengetahuan ini
dapat kita manfaatkan untuk misalnya, memprediksi kelimpahannya dan
menganalisis keadaannya serta peranannya dalam ekosistem, menjaga
kelestariannya serta kegiatan lainnya yang menyangkut keberadaan hewan
tersebut. Sebagai contoh, kita mempelajari salah satu jenis hewan mulai dari
habitatnya di alam, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, prilakunya, dan
lain-lain. Setelah semua dipahami dengan pengamatan dan penelitian yang cermat

5
dan teliti, maka pengetahuan itu dapat kita manfaatkan misalnya dalam menjaga
kelestariannya di alam dengan menjaga keutuhan lingkungan, habitat
alaminya,memprediksi kelimpahan populasinya kelak, menganalisis perannya
dalam ekosistem, membudidayakannya serta kegiatan lainnya dengan
mengoptimalkan kondisi lingkungannya menyerupai habitat aslinya.
Adapun ruang lingkup ekologi hewan dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu;
Synekologidan Autekologi. Synekologi adalah materi bahasan dalam kajian atau
penelitiannya ialah komunitas dengan berbagai interaksi antar populasi yang
terjadi dalam komunitas tersebut. Contohnya; mempelajari atau meneliti tentang
distribusi dan kelimpahan jenis ikan tertentu di daerah pasang surut. Autekologi
adalah kajian atau penelitian tentang species, yaitu mengenai aspek-aspek ekologi
dari individu-individu atau populasi suatu species hewan. Contohnya adalah
meneliti atau mempelajari tentang seluk beluk kehidupan lalat buah (Drosophila
sp.), mulai dari habitat, makanan, fekunditas, reproduksi, perilaku, respond an
lain-lain.
Menurut Ibkar-Kramadibrata (1992) dan Sucipta (1993), secara garis besar
pokok bahasan dalam ekologi hewan mencakup hal berikut ini;
a. Masalah distribusi dan kelimpahan populasi hewan secara local dan regional,
mulai tingkat relung ekologi, microhabitat dan habitat, komunitas sampai
biogeografi atau penyebaran hewan di muka bumi.
b. Masalah pengaturan fisiologis, respon serta adaptasi structural maupun perilaku
terhadap perubahan lingkungan.
c. Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
d. Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, tahunan dsb) dari
kehadiran, aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.
e. Dinamika pop[ulasi dan komunitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam
populasi dan komunitas.
f. Pemisahan-pemisahan relung ekologi, species dan ekologi evolusioner.
g. Masalah produktivitas sekunder dan ekoenergetika.
h. Ekologi sistem dan permodelan.

6
Dengan demikian ruang lingkup Ekologi Hewan meliputi obyek kajian
individu/organisme, populasi, komunitas sampai ekosistem tentang distribusi dan
kelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas sekunder,
sistem dan permodelan ekologi.
3. Peranan Ekologi Bagi Manusia
Manusia adalah organisme heterotrof di bumi. Ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semakin maju menyebabkan manusia mengeksplorasi, mengolah
dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, sehingga dengan mudah mengubah kondisi lingkungannya
sesuai keinginannya. Dengan keberhasilannya ini dengan mudah menyebabkan
laju peningkatan populasi manusia yang relative tinggi (2%) pertahun.
Makin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya yang diperlukan manusia
telah menyebabkan makin menciutnya luas lingkungan alami dan makin
bertambahnya lingkungan buatan. Akibat kegiatan manusia tersebut adalah
pencemaran lingkungan oleh limbah buangan industri, kelangkan dan kepunahan
species berbagaim organisme, terjadinya perubahan pola cuaca maupun iklim,
semakin lebarnya lubang ozon, timbulnya berbagai jenis penyakit yang berbahaya
dan lain-lain. Manusia kini dihadapkan pada 2 tantangan, yaitu; 1) menjaga
kelestarian ketersediaan sumberdaya, 2) memelihara kondisi lingkungannya.
Menghadapi kedua tantangan tersebut, ekologi sangat berperan, misalnya
penelitian-penelitian yang menghasilkan pemahaman mengenai berbagai aspek
ekologi dari suatu populasi, komunitas ataupun ekosistem sehingga faktor-faktor
penting dapat diketahui dengan tepat serta menghasilkan peramalan yang lebih
akkurat. Hal ini dapat mendukung upaya-upaya yang akan dilakukan manusia,
karena adanya acuan yang lebih baik untuk mencegah terjadinya perubahan-
perubahan maupun kerusakan yang dapat merugikan kondisi lingkungan serta
menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya agar lestari dan
pemanfaatannya dapat berkelanjutan.
Ekologi hewan bagi manusia cukup penting artinya dalam memberi nilai-
nilai terapan dalam kehidupan manusia. Manfaat tersebut terutama menyangkut
masalah-masalah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, serta

7
pengolahan dan konservasi satwa liar. Kisaran toleransi dan faktor-faktor
pembatas telah banyak diterapkan dalam bidang-bidang tersebut. Konsep-konsep
tersebut juga telah melandasi penanganan berbagai masalah seperti pengendalian
hama dan penyakit, penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai indicator
menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, hubungan predator
mangsa dan parasitoid inang, vector penyebar penyakit, pengelolaan dan upaya-
upaya konservasi satwa liar yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya)
maupun exsitu ( pemeliharaan di lingkungan buatan yang menyerupai habitat
aslinya) dan lain-lain. Banyak masalah-masalah yang terpecahkan dengan
mempelajari ekologi hewan yang senantiasa berlandaskan pada konsep efisiensi
ekologi.
4. Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi
Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam
atau lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia
dituntut dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk
memperoleh manfaat bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian
yang mungkin akan terjadi guna menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk
dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan acuan dan peramalan yang lebih
baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat dalam bentuk permodelan ekologi.
Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian ekologi yang memberikan
informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu oleh teknik-teknik
computer.
Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai
bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah
disederhanakan. Jumlah variable dalam suatu model lebih rendah dari yang
sebenarnya, karena yang ditampilkan hanya faktor-faktor dan proses kuncinya
saja, yaitu yang paling penting serta paling menentukan. Informasi ini didapatkan
dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif maupunh
eksperimental di lapangan maupun di laboratorium.

8
Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik
sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologp yang sebenarnya dan telah
disempurnakan.
5. Pendekatan dalam Ekologi Hewan
Pendekatan dalam ekologi dapat secara laboratories, lapangan dan
matematik. Dalam ekologi hewan salah satu kendala yang sulit adalah
pengukuran, metode dan teknik pengamatan. Hal ini disebabkan oleh sifat hewan
yang senantiasa bergerak dan berpindah-pindah baik secara liar maupun jinak.
Misalnya menyangkut penentuan kelimpahan dan perilaku hewan yang diteliti,
ukuran tubuh mulai dari milimikron sampai yang besar dan tinggi, stadia
perkembangan, kecepatan dan daya gerak yang berbeda-beda, lingkungan yang
ditempati juga berbeda-beda seperti; habitat daratan, perairan tawar ataupun laut
serta keunikan dan kespecifikan perilaku hidupnya termasuk aktivitasnya dalam
sehari.
Metode dan teknik penelitian bukan saja ditentukan oleh hal-hal tersebut
di atas, tetapi hal lain yang sangat penting adalah tujuan, sasaran dan manfaat dari
penelitian itu. Penelitian ekologi hewan yang bersifat deskriptif ataupun
eksperimental dengan data kuantitatif memerlukan desain (rancangan), prosedur
kerja serta pengolahan data secara statistic.
Penelitian eksperimen, pada dasarnya melibatkan 2 komponen atau
perangkat obyek yang diteliti, yakni; perangkat eksperimen (perlakuan) dan
control. Perangkat control merupakan suatu perangkat obyek yang diamati dan
kondisinya serupa benar dengan perangkat eksperimen, kecuali ada hal-hal
tertentu merupakan faktor atau proses yang diteliti atau yang diberikan sebagai
perlakuan.
Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan di dalam laboratorium
yang kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan alami atau kondisi
habitat alami yang ditempati hewan yang diteliti. Kondisi lingkungan dalam suatu
penelitian laboratorium merupakan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti,
misalnya dibuat sangat berbeda dalam satu atau lebih faktor lingkungan

9
dibandingkan dengan kondisi lingkungan alami atau dibuat sedemikian rupa yang
sangat mirip dengan kondisi lingkungan alami.
6. Aplikasi Konsep Ekologi Hewan
Dalam perkembangannya ekologi telah mengalami diversivikasi dengan
lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi lainnya yang lebih spesifik, dengan materi
yang terbatas, khusus dan mendalam yang didasarkan atas kelompok organisme,
misalnya; Ekologi Tumbuhan, Ekologi hewan, Ekologi Parasit, Ekologi Gulma,
Ekologi Serangga, ekologi Burung dan lainnya.
Ekologi Hewan, bahasannya memerlukan pemahaman mengenai aspek-
aspek biologi lainnya juga menyangkut matematika dan statistika. Sebenarnya
konsep, asas ataupun generalisasi dalam ekologi hewan telah banyak memberikan
nilai-nilai terapan yang cukup dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama
dalam bidang-bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehata dan
pengolahan maupun konservasi satwa liar. Penerapan ekologi makin penting
dengan semakin diperlukannya upaya-upaya manusia dalam memelihara
ketersediaan sumberdaya serta kualitas lingkungan hidup yang
berkesinambungan.
Dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan, konsep kisaran
toleransi dan faktor pembatas serta dalam masalah pengendalian populasi hama
dan penyakit (Biological Control). Dengan konsep ekologi hewan juga telah
melandasi penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai species indicator
yang menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, sudah tercemar atau
belum. Konsep lain dalam bidang pertanian dan kesehatan adalah hubungan
predator mangsa dan parasitoid inang. Dalam upaya meningkatkan hasil produk
ikan maupun ternak, pengelolaan satwa liar baik yang bersifat insitu
(pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di lingkungan
buatan) seluruhnya berazaskan dan berlandaskan efisiensi ekologi dan azas-azas
ekologi.
- Rangkuman
1. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan interaksi makhluk
hidup dengan lingkungannya.

10
2. Ekologi hewan adalah cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi antara
hewan dengan lingkungannya yang menentukan sebaran (distribusi) dan
kemelimpahan hewan-hewan tersebut.
3. Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar
yang melanda kinerja hewan-hewan meliputi individu, populasi, komunitas
maupun sistem ekologisnya, guna menemukan proses dan mekanisme kunci
untuk menyusun permodelan yang akan dipakai dalam peramalan.
4. Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai
bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang telah disederhanakan.
5. Ruang lingkup ekologi hewan meliputi kajian individu/organisme, populasi,
komunitas, dan ekosistem tentang distribusi dan kemelimpahan, adaptasi dan
perilaku, habitat dan relung, produktivitas, sistem dan permodelan ekologi.
6. Pendekatan dalam ekologi hewan dapat secara laboratories dan matematik.
7. Aplikasi penerapan ekologi hewan banyak dimanfaatkan dalam bidang
pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan konservasi satwa liar.
1.3. Penutup
a. Tes formatif
1. Jelaskan perbedaan Konsep Ekologi dengan Ekologi Hewan.
2.Apa sasaran utama Ekologi Hewan? Jelaskan.
3. Sebutkan contoh-contoh aspek terapan Ekologi Hewan.
b. Umpan balik dan tindak lanjut
- Umpan balik
Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
- Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi tersebut
dibahas dalam diskusi maupun praktikum
- Aktif dalam diskusi dan praktikum
- Mengerjakan latihan dan tugas

11
- Tindak lanjut
Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka
mahasiswa tersebut dapat melanjutkanke bab selanjutnya sebab pengetahuan
konsep perlindungan tanaman merupakan dasar untuk bab selanjutnya.
Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan
untuk :
1. Mempelajari kembali materi di atas.
2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum
dikuasai.
3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam diskusi.
c. Jawaban tes formatif
1. Ekologi adalah Ilmu yang mempelajari hubungan atau interelasi antara
makhluk hidup dengan lingkungannya atau hubungan yang saling
mempengaruhi dan saling ketergantungan antara organisme dengan
lingkungannya. Konesp Ekologi Hewan adalah suatu cabang biologi yang
khusus mempelajari interaksi-interaksi antara hewan dengan lingkungan
biotic dan abiotiknya yang menentukan sebaran (distribusi)dan
kemelimpahan hewan-hewan tersebut.
2. Sasaran utama Ekologi Hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek
dasar yang melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi,
komunitas maupun sistem ekologis (ekosistem) yang ditempatinya.
3. Contoh-contoh aspek terapan Ekologi Hewan adalah:
a. Bidang Pertanian dan Kesehatan; Konsep mengenai hubungan predator
mangsa dan parasitoid inang, pengendalian populasi hama dan penyakit
maupun vector penyebar penyakit pada manusia atau tanaman budidaya.
b. Peternakan : Mendeteksi penyakit hewan misalnya virus flu burung, dan
lain-lain
c. Perikanan; Mendeteksi penyakit dan hama ikan dan lain-lain.
d. Konservasi satwa liar.

12
1.4. Daftar Pustaka
Kendeigh, S.C. 1980. Ecology With Special Reference to Animal & Man.
Prentice Hall, New Jersey.

Krebs, C. 1978. Ecology of the Experimental Analysis of Distribution and


Abundance. Harper Pub. New York.

Odum, EP. 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Sounders, Tokyo, Japan.


Odum, EP. 1983. Basic Ecology. Sounders, Philadelphia.
1.5. Senarai
Ekologi Hewan = Suatu cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi-
(distribusi) dan interaksi antara hewan dengan lingkungan
biotic dan abiotiknya yang menentukan sebaran
kemelimpahan hewan-hewan tersebut.

13
BAB II
HEWAN DAN LINGKUNGANNYA

2.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan pengertian Lingkungan Bagi Hewan sebagai Kondisi
dan Sumberdaya, Hewan dan Lingkungan Biotik, Hewan dan Lingkungan
Abiotik, Kisaran Toleransi dan Faktor Pembatas serta Terapannya dan Komunitas.
Relevansi
Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya
dengan bab selanjutnya.
Kompetensi Dasar
Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Biologi semester VII
dapat menjelaskan Hewan dan Lingkungannya dengan benar.
2.2. Penyajian.
Uraian dan Contoh
HEWAN DAN LINGKUNGANNYA
1. Lingkungan bagi Hewan Sebagai Kondisi dan Sumberdaya.
Lingkungan hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di
sekitarnya dan dapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat hidup, tumbuh dan
berkembang biak dalam suatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan
sumberdaya serta terhindar dari faktor-faktor yang membahayakan.
Begon (1996), membedakan faktor lingkungan bagi hewan ada 2 kategori,
yaitu; Kondisi dan Sumberdaya. Kondisi adalah faktor-faktor lingkungan abiotik
yang keadaannya berbeda dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan
waktu.
Hewan bereaksi terhadap kondisi lingkungan, yang berupa perubahan-
perubahan morfologi, fisiologi dan tingkah laku. Kondisi lingkungan antara lain
berupa.; temperature, kelembaban, Ph, salinitas, arus air, angina, tekanan, zat-zat
organic dan anorganik.

14
Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme,
yang dapat dibedakan atas materi, energi dan ruang. Sumberdaya digunakan untuk
menunjukkan suatu faktor abiotik maupun biotikyang diperlukan oleh hewan,
karena tersedianya di lingkungan berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh
hewan. Setiap hewan akan bervariasi menurut ruang (tempat) dan waktu. Oleh
karena itu setiap hewan senantiasa berusaha untuk selalu dapat beradaptasi
terhadap setiap perubahan lingkungan tersebut. Dalam penyesuaian diri tersebut
hanya hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat bertahan
hidup, sementtara yang tidak mampu beradaptasi akan mati atau beremigrasi
bahkan akan punah.
Perubahan lingkungan terhadap waktu, secara garis besarnya terdiri atas 3,
yaitu;
a. Perubahan Siklik, perubahan yang terjadinya berulang-ulang secara
berirama, seperti malam dan siang, laut pasang dan surut, kemarau dan
penghujan, dll. Perubahan siklik dapat berskala harian, bulanan, musiman,
tahunan.
b. Perubahan Terarah, suatu perubahan yang terjadi berangsur-angsur, terus
menerus dan progresif dan menuju ke suatu arah tertentu. Prosesnya bisa
lama. Contohnya mendangkalnya danau Limboto di Gorontalo.
c. Perubahan Eratik, suatu perubahan yang tidak berpola dan tidak
menunjukkan arah perubahannya. Contohnya; pengendapan Lumpur
Lapindo di Jawa Timur (Ponorogo), kebakaran hutan, letusan gunung
berapi dan lain-lain.
2. Hewan dan Lingkungan Biotik
Setiap organisme di muka bumi menempati habitatnya masing-masing.
Dalam suatu habitat terdapat lebih dari satu jenis organisme dan semuanya berada
dalam satu komunitas. Komunitas menyatu dengan lingkungan abiotik dan
membentuk suatu ekosistem. Dalam ekosistem hewan berinteraksi dengan
lingkungan biotic , yaitu hewan lain, tumbuhan serta mikroorganisme lainnya.
Interaksi tersebut dapat terjadi antar individu, antar populasi dan antar komunitas.
Interaksi tersebut merupakan fungsi ekologis dari suatu ekosistem.

15
Interaksi antara individu dapat terjadi antar individu dalam suatu populasi
atau berbeda populasi. Misalnya interaksi ayam jantan dengan pejantan lainnya
untuk memperebutkan territorial, antarseekor kucing dengan tikus. Interaksi
populasi terjadi antar kelompok hewan dari suatu jenis organisme dengan
kelompok lain yang berbeda jenis organisme. Misalnya sekelompok harimau
berburu sekelompok rusa di padang rumput. Interaksi antar komunitas terjadi
antar kelompok-kelompo singa, kerbau, bison dan banteng di satu pihak dengan
rumput dan semak-semak di pihak lain ketika hewan itu merumput di padang
rumput. Hubungan antar hewan dengan lingkungan biotiknya terjadi antar
organisme yang hidup terpisah dengan organisme yang hidup bersama.
Faktor-faktor biotic yang mempengaruhi kehidupan hewan adalah sebagai
berikut:
Komunitas dan Ekosistem
Komunitas (biocenose) adalah beberapa jenis organisme yang merupakan
bagian dari jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit ekologis, yaitu
suatu satuan lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat bermacam-macam
makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) dan antar sesamanya dan
lingkungan di sekitarnya (abiotik) membntuk hubungan timbale balik yang
salingmempengaruhi.
Ekosistem
Ekosistem adalah suatu unit lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat
hubungan yangfungsional antar sesame makhluk hidup dan antar makhluk hidup
dengan komponen lingkungan abiotik. Hubungan fungsional dalam ekosistem
adalah proses-proses yang melibatkan seluruh komponen biotic dan abiotik
untukm mengelola sumberdaya yang masuk dalam ekosistem. Sumberdaya
tersebut adalah sesuatu yang digunakan oleh o0rganisme untuk kehidupannya,
yaitu energi, cahaya dan unsure-unsur nutrisi.
Interaksi antar komponen di dalam ekosistem menentukan pertumbuhan
populasi setiap organisme dan berpengaruh terhadap perubahan serta
perkembangan struktur komunitas biotic.
Produsen

16
Produsen terdiri dari organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat
menyusun bahan organic dari bahan organic sebagai bahan makanannya.
Penyusunan bahan organic itu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi
yang diperlukan untuk aktivitas metabolisme dan aktivitas hidup lainnya.
Organisme autotrof adalah; sebagian besar adalah organisme berklorofil, yang
sebagian besar terdiri dari tumbuhan hijau dan sebagian kecil berupa bakteri.
Konsumen
Konsumen adalh komponen biotic yang terdiri dari organisme heterotrof, yaitu
organisme yang tidak dapat memanfaatkan energi secara langsung untuk
memenhuhi kebutuhan energinya. Organisme heterotrof sebagai organisme yang
tidak dapat menyusun bahan organic dari bahan anorganik. Energi kimia dan
bahan organic yang diperlukan dipenuhi dengan cara mengkonsumsi energi kimia
dan bahan organic yang diproduksi oleh tumbuhan hijau (produsen).
Organisme yang tergolong konsumen adalah; Herbivore, yaitu memakan
tumbuhan. Misalnya sapi, kuda, kambing, kerbau, kupu-kupu, belalang dan siput.
Karnivor, adalah hewan pemakan hewan lain baik herbivore maupn sesame
karnivor. Karnivor pada umumnya adalah hewan buas (harimau, singa, ular), dan
hewan pemakan bangkai (komodo, burung hantu, dll). Predator juga termasuk
sebagai karnivor. Omnivor, adalah hewan pemakan segalanya baik tumbuhan
maupun hewan yang sudah mati, misalnya kucing, ayam, musang , tikus dan lain-
lain. Detritivor, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai
(mikroorganisme) seperti bakteri.
Predator
Predator adalah hewan yang makan hewan lain dengan cara berburu dan
membunuh. Hewan yang dimangsanya adalah hewan yang masih hidup.
Contohnya adalah kucing makan tikus, capung makan serangga.

Parasit
Parasit, adalah hewan yang hidup pada hewan lain. Hidupnya sangat
mempengaruhi inangnya karena semua zat makanan dari inang diserapnya untuk

17
memenuhi kebutuhannya. Parasit berupa hewan kecil dan organisme kecil yanmg
termasuk jamur dan bakteri pathogen.
Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang pada fase dewasanya hidup bebas, tetapi
pada fase larva berkembang di dalam tubuh (telur, larva dan pupa) serangga lain
yang merupakan inangnya. Serangga parasitoid pada umumnya termasuk pada
ordo Hymenoptera dan Diptera. Hewan dewasa parasitoid meletakkan telurnya di
dekat atau pada tubuh serangga lain (telur, larva dan pupa). Ketika telur parasitoid
yang diletakkan pada tubuh inangnya menetas, selam fase larva itu belum dewasa
akan hidup terus dalam tubuh inang. Larva tersebut akan makan sebagian atau
seluruh tubuh dari inang sehingga menyebakan kematian bagi inangnya.
Pengurai
Pengurai, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai. Cara
mengkonsumsi makanan tidak dapat menelan dan mencerna makanan di dalam sel
tubuhnya, melainkan harus mengeluarkan enzim pencerna keluar sel untuk dapat
menguraikan makanannya yang berupa organic mati menjadi zat-zat yang
molekulnya kecil sehingga dapat diserap oleh sel.
Mikrobivor
Mikrobivor adalah hewan-hewan kecil yang makan mikroflora (bakteri
dan fungi). Hewan ini berupa protozoa dan nematoda.
Detritivor
Detritivor adalah hewan yang makan detritus, yaitu bahan-bahan organic
mati yang berasal dari tubuh tumbuhan dan hewan. Hewan yang tergolong detritus
antara lain; rayap, anjing tanah dan cacing tanah.
Intraspesifik dan interspesifik
Hubungan timbal balik antara dua individu dalam suatu jenis organisme
(intraspsifik) dan hubungan antara dua individu yang berbeda jenis (interspesifik).
Hubungan-hubungan ini meliputi:
Kompetisi
Kompetisi adalah hubungan antara dua individu untuk memperebutkan
satu macam sumberdaya, sehingga hubungan itu bersifat merugikan bagi salah

18
satu pihak. Sumberdaya berupa; makanan, energi dan tempat tinggal. Persaingan
ini terjadi pada saat populasi meledak sehingga hewan akan berdesak-desakan di
suatu tempat tertentu. Dalam kondisi demikian biasanya hewan yang kuat akan
mengusir yang lemah dan akan menguasai tempat itu sedangkan yang lemah akan
beremigrasi atau mati bahkan punah.
Simbiosis
Hubungan interspesifik ada yang berifat simbiosis ada yang non simbiosis.
Hubungan simbiosis adalah hubungan antara dua individu dari dua jenis
organisme yang keduanya selalu bersama-sama. Contoh dari simbiosis adalah
Flagellata yang hidup dalam usus rayap. Flagellata itu mencerna selulosa kayu
yang dimakan rayap. Dengan demikian rayap dapat menyerap karbohidrat yang
berasal dari selulosa itu. Hubungan nonsimbiosis adalah hubungan antara dua
individu yang hidup secara terpisah, dan hubungan terjadi jika keduanya
bertematau berdekatan. Contohnya adalah kupu-kupu dengan tanaman bunga.
Bunga akan terbantu dalam penyerbukan yang disebabkan terbawanya serbuk sari
bunga oleh kaki kupu-kupu dengan tidak sengaja ke bunga yang lain pada saat
kupu-kupu mengisap nectar dari bunga tersebut. Simbiosis sebagai hidup bersama
antara dua individu dari dua jenis organisme, baik yang menguntungkan maupun
yang merugikan.
Pemisahan Kegiatan Hidup
Peristiwa ini adalah hubungan kompetitif antara satu hewan dengan hewan
yang lain dapat berkembang menjadi kegiatan pemisahan hidup (partition). Dalam
hubungan ini hewan-hewan yang hidup di suatu habitat mengadakan spesialisasi
dalam hal jenis makanan atau dalam metode dan tempat memperoleh
makanannya. Misalnya burung Flaminggo mempunyai kaki dan leher yang
panjang yang berfungsi dalam hal pengambilan makanannya berupa organisme
kecil dan di tempat berlumpur sehingga burung tersebut mudah meraihnya.
Kanibalisme
Kanibalisme adalah sifat suatu hewan untuk menyakiti dan membunuh
bahkan memakannya terhadap individu lain yang masih sejenis. Contoh belalang
sembah betina membunuh belalang jantan setelah melakukan perkawinan, ayam

19
dalam satu kandang yang berdesak-desakan sehingga ruangan dan makananya
terbatas menyebabkan persaingan yang hebat.
Amensalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu menghambat atau
merugikan yang lain, tetapi dirinya tidak berpengaruh apa-apa dari organisme
yang dihambat atau dirugikan.
Komansalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu memberi kondisi yang
menguntungkan bagi yang lain sedangkan dirinya tidak terpengaruh oleh
kehadiran organisme yang lain itu.
Mutualisme
Hubungan antara dua jenis organisme atau individu yang saling
menguntungkan tanpa ada yang dirugikan.
3. Hewan dan Lingkungan Abiotik
Hewan adalah organisme yang bersifat motil, yaitu dapat bergerak dan
berpndah tempat. Gerakannya disebabkan oleh rangsangan tertentu yang berasal
dari lingkungannya. Faktor-faktor yang merangsang hewan untuk bergerak adalah
makanan, air, cahaya, suhu, kelembaban,dan lain-lain.
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan hewan dibedakan
atas kondisi dan sumberdaya. Sumberdaya terdiri atas:
Materi adalah bahan-bahan atau zat yang diperlukan oleh organisme untuk
membangun tubuh. Materi terdiri atas; zat-zat anorganik (air, garam-garam
mineral) dan zat-zat organic (tubuh organisme lain atau sisa-sisa tubuh organisme
yang sudah mati).
Energi adalah daya yang diperlukan oleh organisme untuk melakukan aktivitas
hidup. Ruang adalah tempat yang digunakan organisme untuk menjalankan siklus
hidupnya.
Hewan dan organisme lain mempunyai hubungan yang saling
ketergantungan dengan lingkungannya, sehingga timbullah hubungan timbal balik
antara keduanya. Hubungan timbal balik tersebut meliputi; Aksi, Reaksi dan
Koasi. Lingkungan abiotik hewan meliputi faktor-faktor Medium dan Substrat.

20
Medium adalah bahan yang secara langsung melingkupi organisme dan
organisme tersebut berinteraksi dengan medium, seperti; Ikan menerima zat-zat
mineral dari air, sebaliknya air menerima kotoran ikan dalam air. Bagi beberapa
jenis hewan, medium merupakan habitatnya.
Beberapa fungsi medium bagi hewan;
1. Tempat tinggal misalnya; ikan hidup di air, cacing hidup di dalam tanah
2. Sumber materi yang diperlukan untuk metabolisme tubuh, misalnya;
hewan darat memperolh Oksigen dari udara.
3. Tempat membuang sisa metabolisme, seperti Karbondioksida dan feces.
4. Tempat berepeoduksi, misalnya, katak pergi ke air untuk kawin dan
bertelur.
5. Menyebarkan keturunan, misalnya; Larva ketam air tawar (Megalopa),
menyebar di perairan sungai setelah berimigrasi dari laut ke arah hulu
sungai.
Setiap medium berbeda komposisi merambatkan panas, sifat perubahnya
sebagai akibat perubahan suhu, tegangan permukaan kekentalan, massa jenis dan
tekanan.
Substrat adalah permukaan tempat organisme hidup, terutama untuk
menetap atau bergerak, atau benda-benda padat tempat organisme menjalankan
seluruh atau sebagian hidupnya. Setiap organisme memerlukan medium, tetapi
tidak semua mempunyai substrat. Hewan air yang bersifat pelagic (berenang)
tidak mempunyai substrat. Medium juga tidak berubah sebagai akibat adanya
aktifitas organisme. Substrat mengalami modifikasi oleh aktivitas organisme,
misalnya tanah padang rumput yang gembur menjadi padat jika digunakan untuk
gembala kambing atau kerbau terus menerus. Substrat sebagai tempat berpijak,
membangun rumah atau kandang dan tempat makanan. Beberapa hewan
menggunakan substrat sebagai tempat berlindung, karena warna substrat sama
dengan warna tubuhnya, misalnya; bunglon dan belalang kayu.
Beberapa faktor fisik yang berpengaruh pada kehidupan hewan adalah
Tanah

21
Tanah merupakan substrat bagi tumbuhan untuk tumbuh, merupakan
medium untuk pertumbuhan akar dan untuk menyerap air dan unsure-unsur hara
makanan. Bagi hewan tanah adalah substrat sebagai tempat berpijak dan tempat
tinggal, kecuali hewan yang hidup di dalam tanah. Kondisi tanah yang
berpengaruh terhadap hewan tersebut adalah kekerasannya.
Faktor dalam tanah yang mempengaruhi kehidupan hewan tanah antara
lain kandungan air (drainase), kandungan udara (aerase), suhu, kelembaban serta
sisa-sisa tubuh tumbuhan yang telah lapuk. Jika tanah banyak mengandung air
maka oksigen di dalam tanah akan berkurang dan karbondioksidanya akan
meningkat. Air juga menyebabkan tanah menjadi cepat asam, karena eir
mempercepat pembusukan. Kurangnya oksigen menyebabkan gangguan
pernapasan , dan zat-zat yang bersifat asam dapat meracuni hewan. Tanah yang
terlalu kering menyebabkan hewan dalam tanah tidak dapat mengekstrak air
secara normal. Kandungan karbondioksida dalam tanah lebih banyak daripada di
atmosfir. Jika tanah banyak mengandung rongga pertukaran udara antar tanah
dengan atmosfir menjadi lancar, karbondioksida dapat keluar sementara oksigen
masuk.Rongga-rongga tanah dapat diperbanyak jika dalam tanah tersebut banyak
hewan penggali tanahseperti cacing tanah dan anjing tanah.
Air
Air sangat menentukan kondisi lingkungan fisik dan biologis hewan.
Perwujudan air dapat berpengaruh terahadap hewan. Misalnya jika air dalam
tubuh hewan akan berubah menjadi dingin atau membeku karena penurunan suhu
lingkungan, menyebabkan sel dan jaringan tubuh akan rusak dan metabolosme
tidak akan bejalan noremal, sebaliknya penguapan air yangb berlebihan dari
dalam tubuh hewan menyebabkan tubuh kekeurangan air.Hewan dapat dibedakan
atas 3 kelompok ditinjau dari pengaruh air, yaitu; Hidrosol ( Hydrosoles) atau
hewan air, Mesosol (Mesocoles), hewan yang hidup di tempat yang tidak terlalu
basah dan tidak terlalu kering dan Xeroso ( Xerosole), hewan yang hidup di
tempat yang kering karena tingginya penguapan.

22
Penyebaran dan kepadatan hewan air di lingkungan air ditentukan oleh
kemampuannya mempertahankan osmotic dalam tubuhnya dan berhubungan
dengan kemampuannya untuk bertoleransi dengan salinitas air.
Temperatur
Temperatur merupakan faktor lingkungan yang dapt menembus dan
menyebar ke berbagai tempat. Temperatur dapat berpengaruh terhadap hewan
dalam proses reproduksi, metabolisme serta aktivitas hidup lainnya. Suhu
optimum adalah batas suhu yang dapat ditolerir oleh hewan, lewat atau kurang
dari suhu tersebut menyebabkan hewan terganggu bahkan menuju kematian
karena tidk tahan terhadap suhu.
Cahaya
Cahaya dapat mempengaruhi hewan, misalnya warna tubuh, gerakan
hewan dan tingkah laku.
Gravitasi
Pengaruh gravitasi dirasakan oleh hewan jika hewan sedang berpijak pada
substrat yang horizontal.Hewan yang berdiri di suatu bidang yang miring atau
tegak, berenang di air dan terbang di udara merasakan adanya pengaruh gravitasi
bumi. Gravitasi juga berpengaruh pada perbedaan tekanan air dan udara.
Gelombang Arus dan Angin
Kehidupan hewan juga dipengaruhi oleh arus dan angina. Hewan yang
hidup di lingkungan air mengalir menghadapi resiko hanyut karena adanya aliran
dan arus air. Demikian dengan hewan yang hidup di darat dan udara menghadapi
arus angina. Namun demikian arus air dan angina yang normal sangat
berpengaruh positif terhadap hewann, karena air dan angina dapat membantu
sebagian aktivitas hewan.
pH
Pengaruh pH terhadap organisme terjadi melalui 3 cara, yaitu; 1) secara
langsung, mengganggu osmoregulasi, kerja enzim dan pertukaran gas di respirasi,
2) tidak langsung, mengurangi kualitas makanan yang tersedia bagi organisme, 3)
meningkatkan konsentarasi racun logam berat terutama ion AI.

23
Di lingkungan daratan dan perairan, pH menjadi faktor yang sangat
berpengaruh terhadap kehidupan dan penyebaran organisme. Toleransi hewan
yang hidup di lingkungan air umumnya pHnya bervartiasi.
Salinitas
Salinitas adalah kondisi lingkungan yang menyangkut konsentrasi garam
di lingkungan perairan dan air yang terkandung di dalam tanah. Di lingkungan
perairan tawar, air cenderung meresap ke dalam tubuh hewan karena salinitasi air
lebih renadah daripada cairan tubuh. Hewan yang bhidup di phabitat laut
umumnya bersifat isotonic terhadap salinitas air laut sehingga tidak ada peresapan
air ke dalam tubuh hewan.
4. Kisaran Toleransi dan Faktor Pembatas serta Terapannya
Setiap organisme harus mampu beradaptasi untuk menghadapi kondisi
faktor lingkungan abiotik. Hewan tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik
yang seluas-luasnya. Pada prinsipnya masing-masing hewan memiliki kisaran
toleransi tertentu terhadap semua semua faktor lingkungan.
Hukum Toleransi Shelford
Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis,
yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu
terhadap kondisi faktor lingkungan
Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang
mendekati batas kisaran tolrensinya, maka organisme tersebut akan mengalami
cekaman (stress). Fisiologis. Organisme berada dalam kondisi kritis. Contohnya,
hewan yang didedahkan pada suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi
kritis Hipotermia dan pada suhu ekstirm tinggi akan mengakibatkan gejala
Hipertemia. Apabila kondisi lingkungan suhu yang demikian tidak segera berubah
maka hewan akan mati.
Dalam menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan tidaklah
mudah. Setiap organisme terdedah sekaligus pada sejumlah faktor lingkungan,
oleh adanya suatu interaksi faktor maka suatu faktor lingkungan dapat mengubah
efek faktor lingkungan lainnya. Misalnya suatu individu hewan akan merusak
efek suhu tinggi yang lebih kerasapabila kelembaban udara yang relative rendah.

24
Dengan demikian hewan akan lebih tahan terhadap suhu tinggi apabila udara
kering disbanding dengan pada kondisi udara yang lembab.
Dalam laboratorium juga sangat sulit untuk menentukan batas-batas
kisaran toleransi hewan terhadap sesuatu faktor lingkungan. Penyebabnya ialah
sulit untuk menentukan secara tepat kapan hewan tersebut akan mati. Cara yang
biasa dilakukan ialah dengan memperhitungkan adanya variasi individual batas-
batas kisaran toleransi itu ditentukan atas dasar terjadinya kematian pada 50% dari
jumlah individu setelah dideadahkan pada suatu kondisi faktor lingkungan selama
rentang waktu tertentu. Untuk kondisi suhu, misalnya ditentukan LT50 24 jam
atau LT50 48 jam (LT= Lethal Temperatur). Untuk konsentrasi suatu zat dalam
lingkungan biasanya ditentukan dengan LC 50 X jam ( LC= Lethal
Concentration; X dapat 24, 48, 72 atau 96 jam) dan untuk sesuatu dosis ditentukan
LD50 X Jam.
Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berbagai
jenis hewan berbeda-beda. Ada hewan yang kisarannya lebar (euri) dan ada hewan
yang sempit (steno). Kisaran toleransi ditentukan secara herediter, namun
demikian dapat mengalami perubahan oleh terjadinya proses aklimatisasi (di
alam) atau aklimasi (di lab).
Aklimatisasi adalah usaha manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap
kondisi faktor lingkungan di habitat buatan yang baru. Aklimasi adalah usaha yang
dilakukan manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi suatu faktor
lingkungan tertentu dalam laboratorium.
Konsep kisaran toleransi, faktor pembatas maupun preferendum
diterapkan di bidang-bidang pertanian, peternakan, kesehatan, konservasi dan
lain-lain. Hal ini dilakukan dengan harapan kinerja biologi hewan, pertumbuhan
dan reproduksi dapat maksimum dan untuk kondisi hewan yang merugikan
kondisi lingkungan biasanya dibuat yang sebaliknya.
Setiap hewan memiliki kisaran toleransi yang bervariasi, maka kehadiran
di suatu habitat sangat ditentukan oleh kondisi dari faktor lingkungan di tempat
tersebut. Kehadiran dan kinerja populasi hewan di suatu tempat menggambarkan
tentang kondisi faktor-faktor lingkungan di tempat tersebut. Oleh karena itu ada

25
istilah spesies indicator ekologi, baik kajian ekologi hewan maupun ekologi
tumbuhan. Species indikatoe ekologi adalah suatu species organisme yang
kehadirannya ataupun kelimpahannya dapat memberi petunjuk mengenai
bagaimana kondisi faktor-faktor fisiko kimia di suatu tempat.
Beberapa species hewan sebagai spcies indicator antara lain adalah
Capitella capitata (Polychaeta) sebagai indicator untuk pencemaran bahan
organic. Cacing Tubifex (Olygochaeta) dan lain-lain.
Kriteria-kriteria species indicator adalah;
a. aran toleransinya sempit untuk satu atau beberapa faktor lingkungan
b. Ukuran tubuh cukup besar sehingga mudah dideteksi
c. Kelimpahannya tinggi sehingga mudah didapatkan dan mudah dijadikan
sample.
d. Mudah diidentifikasi
e. Distribusnya kosmopolit
f. Mudah mengakumulasi zat-zat polutan
g. Mudah dipelihara di laboratorium
h. Mempunyai keragaman jenis atau genetic dan relung yang sempit
5. Komunitas
Komunitas disebut juga Biocenuse, adalah beberapa jenis organisme yang
merupakan bagian dari suatu jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit.
Ekologis yang dimaksud adalah suatu satuan lingkungan hidup yang di dalamnya
terdapat bermacam0macam makhluk hidup (tumbuhan dan hewan). Antar
sesamanya dan lingkungan sekitarnya membentuk hubungan timbale balik yang
saling mempengaruhi. Komunitas berupa hewan yang terdiri dari berbagai macam
hewan, komunitas tumbuhan dalam satu ekosistem atau seluruh hewan dan
tumbuhan yang disebut komunitas biotic.
Komunitas suatu ekosistem tertentu mempunyai ciri-ciri tertentu. Salah
satu karakternya adalah keragaman jenis organisme penyusunnya. Keragaman
komunitas biasanya ditentukan dengan menghitung indeks keragaman.
- Latihan

26
Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka
kerjakanlah soal-soal berikut ini :
1. Bagaimana menurut anda interelasi antara hewan dengan
lingkungannya?
2. Apakah perbedaan Kondisi dengan Sumberdaya?
3. Anda yang anda tahu tentang komunitas? Berilah contoh.

- Kunci Jawaban
1. Interelasi hewan dan lingkungannya bersifat timbale balik. Lingkungan
bagi hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di sekitar
hewan dan dapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat tumbuh,
berkembangbiak dan hidup dalam lingkungan yang menyediakan kondisi
yang cocok dan sumberdaya yang dibutuhkan serta terhindar dari hal-hal
yang membahayakannya.
2. Kondisi adalah faktor-faktor lingkungan abiotik yang keadaannya
berbeda dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan
waktu.Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme
yang dapat dibedakan atas materi, energi dan ruang.
3. Komunitas adalah bagian dari suatu jenis ekologis tertentu yang
disebut ekosistem unit., yaitu suatu satuan lingkungan hidup yang di
dalamnya terdapat bermacam-macam makhluk hidupdan saling
mempengaruhi. Komunitas biasanya ditentukan dengan menghitung indeks
keragaman.
- Rangkuman
1. Lingkungan adalah faktor-faktor abiotik dan biotic di luar tubuh organisme
yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme, yang dibedakan atas kondisi
dan sumberdaya.
2. Faktor-faktor biotic yang berpengaruh terhadap kehidupan hewan adalah
komunitas dan ekosistem, produsen, konsumen, predator, parasit dan
parasitoid, pengurai, mikrobivor dan detritivor.

27
3. Faktor-faktor abiotik yang berpengaruh pada kehidupan hewan adalah tanah,
air, temperature, arus air dan angin, salinitas dan makanan.
4. Setiap organisme terdedah pada faktor lingkungan abiotik yang selalu dinamis
atau berubah-ubah dalam skala ruang dan waktu.
2.3. Penutup
a. Tes formatif
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan lingkungan bagi hewan!
2. Sebutkan 3 contoh kondisi lingkungan dan 3 contoh sumberdaya bagi hewan
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan faktor lingkungan sebagai faktor pembatas
bagi kehidupan hewan.
b. Umpan balik dan tindak lanjut
- Umpan balik
Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
- Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi tersebut
dibahas dalam diskusi maupun praktikum
- Aktif dalam dsikusi dan praktikum
- Mengerjakan latihan dan tugas
- Tindak lanjut
Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka
mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya sebab pengetahuan
dinamika populasi organisme pengganggu tanaman merupakan dasar untuk
bab selanjutnya.
Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan
untuk :
1. Mempelajari kembali materi di atas.
2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum
dikuasai.
3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tiudak jelas dalam
diskusi.
c. Jawaban tes formatif

28
1. Lingkungan bagi hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di
sekitar hewan dan dapat mempengaruhinya.
2. Contoh-contoh kondisi adalah: Temperatur, kelembaban, pH,
Contoh-contoh sumberdaya: Materi, energi dan ruang.
2.4 . Daftar Pustaka
Begon, M., T.L. Harper & C.R. Townsend. 1986. Ecology: Individuals
Populations and Communities. Blacwell. Oxfor.

Kendeigh, S.C.1980. Ecology With Special Reference to Animal & Man.


Prentice Hall, New Jersey.

2.5. Senarai
Sumberdaya = Segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme.
Kondisi = Faktor-faktor lingkungan abiotik yang keadaannya berbeda
dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan waktu.
Parasitasi = Kemampuan organisme untuk memarasit organsime lain
(inang),
Patogen = Penyebab penyakit seperti jamur, bakteri, virus, nematoda.

29
BAB III
RESPON DAN ADAPTASI HEWAN

3.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan Konsep Adaptasi, Mekanisme Adaptasi, Prinsip-
prinsip Adaptasi dan Bentuk-bentuk Adaptasi.
Relevansi
Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya
dengan bab selanjutnya.
Kompetensi Dasar
Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Biologi semester VII
dapat: Menjelaskan Respond an adaptasi Hewan dengan tepat.
3.2. Penyajian
Uraian dan Contoh
RESPON DAN ADAPTASI
1. Konsep Adaptasi
Perubahan kondisi lingkungan berpengaruh terhadap hewan. Hewan
mengadakan respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya tersebut. Respon
hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungannya denyatakan sebagai respon
hewan terhadap lingkungannya. Respon tersebut berupa perubahan fisik,
fisiologis, dan tingkah laku. Respon hewan tersebut ada yang bersifat reaktif dan
ada yang bersifat terpola, artinya berasala dari nenek moyangnya.
Adaptasi umumnya diartikan sebagai penyesuaian makhluk hidup
terhadap lingkungannya. Adaptasi menunjukkan kesesuaian organisme dengan
lingkungannya yang merupakan produk masa lalu. Organisme yang ada kini dapat
hidup pada lingkungannya karena kondisi lingkungan itu secara kebetulan sama
dengan kondisi lingkungan nenek moyangnya.
2. Mekanisme Adaptasi

30
Sifat yang dimiliki oleh suatu populasi yang ada sekarang merupakan sifat
yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain populasi yang ada
sekarang merupakan populasi yang lolos dari seleksi alam sebagaimana yang
dinyatakan oleh Darwin.
Di alam organisme terkumpul dalam kelompok-kelompok populasi yang
diantara anggotanya terjadi hubungan kawin. Setiap kelompok disebut Deme.
Kelompok besar yang terbentuk dari banyak deme disebut jenis organisme.
Deme-deme tersebut ada yang menempati daerah-daerah geografis yang berbeda,
misalnya Kanguru yang hidup hanya di Australia dan di Irian. Daerah-daerah
geografis tersebut merupakan lingkungan hidup yang sempit dan bersifat khas
dibanding dengan daerah penyebaran jenis organismenya. Deme yang menempati
daerah geoegrafis khusus itu bisa mempunyai sifat genetik yang berbeda dengan
deme yang menempati daerah lain, jika di antara deme-deme itu terjadi isolasi
geografis sehingga antar deme tidak dapat terjadi pertukaran informasi genetik.
Kelompok yang terisolasi itu disebut klin (Cline) yang merupakan sub jenis
organisme atau sub populasi.
Perbedaan sifat genetik dari suatu klin dengan klin lainterbentuk dari
perbedaan perubahan lingkungan dalam suatu rentangan tertentu, yang disebut
gradien ekologik. Variasi sifat individu pada landaian ekologis yang berbeda
disebut ekotip. Perbedaan sifat itu dalam hal bentuk, warna dan lain-lain.
Contohnya adalah kupu-kupu Biston bitularia yang hidup di hutan jauh dari
industri berwarna abu-abu keputihan sesuai dengan warna batang pohon
substratnya, tetapi kupu-kupu yang sama hisup di daerah industri di Inggris
berwarna gelap karena tertutup oleh asap dan jelaga pabrik.
3. Prinsip-prinsip Adaptasi
Bagi hewan dan organisme lain sifat adptif sangat penting untuk bertahan hidup
pada lingkungan baru atau jika ada perubahan lingkungan habitatnya.
Kemampuan hewan dalam beradaptasi dengan lingkungannya berbeda-beda yang
dipengaruhi oleh:
1. Sifat genetik
2. Kemampuan berkembang biak

31
3. Frekwensi perubahan lingkungan

Kemampuan hewan untuk beradaptasi terbatas oleh:


1. Ketahanan hidup (survival)
2. Perbedaan kemampuan setiap jenis organisme
3. tumpang tindih dengan kondisi sebelumnya sehingga adaptasi merupakan
proses yang lambat
4. Melibatkan seluruh kegiatan hidup.
4. Bentuk-bentuk Adaptasi
Sifat-sifat adaptif yang dimiliki hewan adalah:
1. Adaptasi Struktural
Adaptasi struktural adalah sifat adaptasi yang muncul dalam wujud sifat-
sifat morfologi tubuh, meliputi bentuk dan susunan alat-alat tubuh, ukuran tubuh,
serta warna tubuh (kulit dan bulu).
2. Adaptasi Fisiologis
Adaptasi fisiologis adalah adaptasi yang menyangkut kesesuaian proses-
proses fisiologis hewan dengan kondisi lingkungan dan sumberdaya yang ada di
habitatnya. Diantaranya ada yang berhubungan dengan adaptasi struktural,
terutama pada bagian dalam tubuh. Misalnya pada proses respirasi, pencernan
makanan dan lain-lain yang menggambarkan adanya adaptasi terstruktur.
3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah respon hewan terhadap kondisi lingkungan
dalam bentuk perubahan tingkah laku. Perubahan tersebut biasanya muncul
dalam bentuk gerakan untuk menanggapi rangsangan yang mengenai dirinya.
Baik rangsangan dari luar maupun dari dalam lingkungan tubuhnya.
Adaptasi tingkah laku tersebut adalah; Hibernasi, Aestivasi, Diurnal dan
Nocturnal, Orientasi terhadap lingkungan, Ototomi, Adaptasi Mutual, Tingkah
laku sosial, tingkah laku perkembangbiakan, berkelahi, refleks, insting dan
tingkah laku belajar.

32
- Latihan
Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka
kerjakanlah soal-soal di bawah ini :
1. Sebutkan bentuk bentuk adaptasi yang anda ketahui!
2. Apa yang dimaksud dengan adaptasi morfologi? Berikan contoh
- Kunci Jawaban
1. Bentuk-bentukl adaptasi adalah: adaptasi struktural, adaptasi fisiologi
dan adaptasi tingkah laku.
2. Adaptasi morfologi adalah adaptasi yang terjadi pada perubahan bentuk
luar tubuh seperti ukuran dan warna tubuh dan bulu, dan lain-lain.
- Rangkuman
1. Adaptasi adalah sifat dan kemampuan organisme untuk menyesuaikan diri
terhadap lingkungannyaatau kondisi habitatnya.
2. Sifat-sifat adaptasi hewan meliputi adaptasi structural, fisiologis dan tingkah
laku.
3.3. Penutup
a. Tes formatif
1. Apa yang dimaksud dnegn Respon dan Adaptasi?
2. Uraikan dengan singkat mekanisme adaptasi
3. Sebutkan prinsip-prinsip adaptasi
4. Sebutkan bentuk-bentuk adaptasi.
b. Umpan balik dan tindak lanjut
- Umpan balik
Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi tersebut
dibahas dalam diskusi maupun praktikum
2. Aktif dalam dsikusi dan praktikum
2. Mengerjakan latihan dan tugas

33
- Tindak lanjut
Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka
mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya sebab pengetahuan
terhadap konsep Aras Ekonomi dan Ambang Ekonomi merupakan dasar untuk
bab selanjutnya.
Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan ::
1. Mempelajari kembali materi di atas, terutama materi yang belum
dikuasai.
2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum dikuasai.
3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tiudak jelas dalam diskusi.
c. Jawaban tes formatif
3.4. Daftar Pustaka
Kendeigh, S.C. 1980. Ecology With Special Reference to Animal & Man.
Prentice Hall, New Jersey.
Odum, EP. 1971. Fundamental of Ecology. W.B. Sounders, Tokyo, Japan.
Odum, EP. 1983. Basic Ecology. Sounders, Philadelphia.
3.5. Senarai
Adaptasi = Penyesuaian organisme dengan keadaan lingkungan atau
habitatnya

34
Nimfa = Stadia serangga yang mengalami metamorfosa tidak sempurna, bentuk
serangga ini sama dengan serangga dewasa tetapi organ-organ lain
belum berkembang dengan sempurna

BAB IV

PEMANTAUAN DAN TEKNIK PENGAMATAN


AGROEKOSISTEM

4.1. Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan pengertian Perbedaan Ekosistem Alami dan

Agroekosistem, Sistem Pemantauan dan Pengamatan OPT, Penilaian Tingkat

Serangan dan Tingkat Kerusakan Tanaman serta Metode Pengambilan Sampel.

Relevansi

Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya

dengan bab selanjutnya.

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian

semester III dapat: Menguasai dan menganalisis Sistem Pemantauan pada

Agroekosistem dan Teknik Pengamatan OPT secara tepat.

35
4.2. Penyajian

Uraian dan Contoh.

Dasar-dasar Ekosistem

Ekosistem, baik ekosistem alamiah (hutan tropik) maupun ekosistem

pertanian (agroekosistem) terbentuk dan terbangun atas dasar adanya beberapa

komponen seperti, (1) adanya individu suatu spesies, (2) tempat dan ruang atau

habitat, (3) populasi, (4) komunitas dan (5) biosfir (Pedigo, 1996: 334).

Individu adalah organisme hidup dan merupakan komponen utama yang

menyusun suatu ekosistem dimana secara genetik adalah unik. Setiap individu

berjuang untuk mempertahankan hidup. Individu-individu ini tumbuh dan

berkembang dalam rangka untuk mempertahankan hidupnya, akan menempati

suatu tempat dan ruang atau habitat (Oka, 1995 ; Untung, 2003 : 23).

Kumpulan individu akan berkembang biak menjadi suatu populasi yang

menempati tempat yang sama dalam suatu komunitas. Komunitas ini terdiri atas

berbagai jenis organisme yang saling berinteraksi satu sama lain dalam bentuk

aliran energi, dengan memanfaatkan daur biotik (daur biogeokimiawi) dalam

bentuk aliran unsur hara dari lingkungan ke organisme dan kembali ke

lingkungan. Hal ini akan menuju ke arah perkembangan yang dinamis yang

selalu berubah dari keadaan yang sederhana menuju ke arah yang lebih

kompleks, perubahan ini dikenal dengan suksesi ekologi yang dipengaruhi oleh

lingkungan biotik dan abiotik sebagai bagian dari biosfir (Untung, 2003 : 23).

36
Kumpulan populasi akan membentuk suatu komunitas yang di dalamnya

terdapat suatu aliran energi yang terjadi akibat adanya suatu interaksi. Interaksi

disini adalah hubungan timbal balik antara dua individu dalam satu spesies atau

spesies yang berbeda dalam suatu populasi untuk mempertahankan hidupnya

dalam mendapatkan makanan, ruang untuk tempat tinggal dan berkembang biak.

Interaksi ini terlihat dari hubungan serangga dan tanaman, serangga dengan

serangga baik itu sebagai hama, predator, parasitoid, hubungannya dengan

artropoda lainnya yang membentuk suatu rantai makanan (Tarumingkeng, 1994).

Pada rantai makanan tanaman menduduki tingkat tropik pertama, dengan

memanfaatkan sinar matahari tanaman akan melakukan proses fotosintesis,

mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik, karena itu tanaman termasuk

dalam organisme ototroph. Selanjutnya organisme lain yang mendapatkan energi

dari tanaman disebut organisme heterotroph, termasuk hama sebagai

mangsa/inang dari predator dan parasitoid yang menduduki tingkat tropik kedua

(herbivora). Predator dan parasitoid menduduki tingkat tropik ketiga sebagai

pemakan herbivora dan karnivora lainnya (Untung, 2003 : 29).

Ekosistem Alami

Ekosistem alamiah (hutan tropik) merupakan ekosistem yang stabil

dibandingkan dengan ekosistem pertanian karena memiliki keanekaragaman

hayati yang tinggi (Tarumingkeng, 1994 : 7). Stabilitas ini terbentuk dan terjaga

karena adanya dua unsur penting yang bekerja, yaitu mekanisme umpan balik

negatif dan mekanisme pengendalian populasi dalam ekosistem. Mekanisme

umpan balik negatif adalah mekanisme yang membawa sistem menuju ke

37
keadaan ideal. Mekanisme pengendalian populasi dalam ekosistem adalah

mekanisme pengendalian yang mengatur naik turunnya populasi, dimana ada dua

kekuatan yang mengaturnya yaitu kemampuan hayati (potensi biotik) dan

hambatan lingkungan (Untung, 2003 : 53).

Ekosistem Pertanian (Agroekosistem)

Ekosistem pertanian (agroekosistem) memiliki keanekaragaman biotik dan

genetik yang rendah dan cenderung semakin seragam, sehingga tidak stabil dan

ini memacu terjadinya peningkatan populasi hama. Agroekosistem merupakan

salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang dikelola semaksimal mungkin

untuk memperoleh produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai

kebutuhan manusia (Pedigo, 1996 : 335).

Perbedaaan ekosistem alami dan ekosistem buatan (agroekosistem) dapat

dilihat pada Tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Karakteristik Ekosistem Alami Dan Ekosistem Buatan Manusia


(Agroekosistem)

Komponen Ekosistem Alami Ekosistem Buatan


(Agroekosistem)
Abiotik

Erosi Rendah Tinggi


Serasah Tinggi Rendah
Daya serap Tinggi Rendah
Temperatur tanah Rendah Tinggi

Biotik

Aktivitas organisme Tinggi Rendah


Diversitas Tanaman Tinggi Rendah
Diversitas genetika Tinggi Rendah
Sumber : Mahrub (1999 : 28)

38
Sistem Pemantauan Agroekosistem

Sistem Pemantauan adalah salah satu bagian dari kegiatan monitoring

dimana sangat erat kaitannya dengan Ambang Ekonomi. Hal ini karena nilai

Ambang Ekonomi yang sudah ditetapkan tidak ada gunanya apabila tidak diikuti

dengan kegiatan pemantauan yang teratur dan dapat dipercaya. Sebaliknya

pemantauan untuk tujuan pengendalian tidak akan dirasakan manfaatnya apabila

tidak dikaitkan dengan Aras Penentuan Keputusan Pengendalian berdasarkan

penilaian Ambang Ekonomi (Untung, 2003 : 90).

Hubungan antara Pemantauan, Pengambilan Keputusan dan Tindakan

Aksi dalam Agroekosistem seperti pada Gambar 4.1 berikut ini :

Analisis ekosistem Pengambil Keputusan

Pemantauan Tindakan Aksi

Agroekosistem

Gambar 4.1. Hubungan Antara Pemantauan, Pengambilan Keputusan dan Tindakan


Aksi Dalam Agroekosistem (Sumber : Untung, 2003 : 90)

Kegiatan pemantauan dilakukan untuk mengamati dan mengikuti

perkembangan keadaan agroekosistem yang meliputi komponen biotik seperti

keadaan tanaman, populasi OPT, populasi musuh alami dan komponen abiotik

seperti suhu, curah hujan, kelembaban dan kecepatan angin. Hasil pemantauan di

dapatkan data informasi lapangan yang merupakan masukan bagi pengambil

keputusan untuk menggunakan data tersebut dalam menetapkan keputusan dan

rekomendasi yang perlu dilakukan pada agroekosistem. Pengambil keputusan

39
adalah pemerintah dinas terkait maupun petani itu sendiri sebagai pelaku yang

melakukan pemantauan terhadap perkembangan tanaman dan kompleks

ekosistemnya serta melakukan tindakan aksi pengendalian hasil rekomendasi

yang dilakukan sendiri maupun kelompok secara bersama-sama (Untung, 2003 :

91).

Salah satu model pengambilan keputusan yang sederhana adalah

berdasarkan hasil perhitungan Ambang Ekonomi tentang populasi hama dan

intensitas kerusakan tanaman. Apabila data populasi hama hasil pemantauan

menunjukkan telah sama atau melampaui Ambang Ekonomi maka keputusannya

adalah segera diadakan pengendalian kimia untuk mengembalikan populasi hama

ke Aras Keseimbangan Umum, sebaliknya apabila populasi hama masih berada di

bawah Ambang Ekonomi maka tidak perlu diadakan pengendalian kimia.

Teknik Pengamatan OPT

Berdasarkan Buku Pedoman Pengamatan Dan Pelaporan Perlindungan

Tanaman Pangan tahun 1992 direkomendasikan bahwa untuk teknik pengamatan

OPT dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan Pengamatan Tetap dan

Pengamatan Keliling atau patroli. Waktu pengamatan dapat dilakukan 4

(empat) hari dalam seminggu, kecuali untuk tangkapan lampu perangkap dan

curah hujan dapat dilakukan setiap hari.

Pengamatan Tetap

Pengamatan tetap bertujuan untuk mengetahui perubahan kepadatan

populasi dan intensitas serangan OPT, kepadatan populasi musuh alami yang

efektif serta besarnya curah hujan. Pengamatan dilakukan pada petak

40
pengamatan, lampu perangkap dan penakar curah hujan. Komponen yang diamati

terdiri atas perubahan kepadatan populasi dan intensitas serangan pada petak

contoh yang tetap. Petak contoh ditentukan secara purposive, sehingga mewakili

bagian terbesar dari wilayah pengamatan. Pengamatan dimulai sejak tanam, cara

bercocok tanam/pola tanam dan varietas yang ditanam.

Setiap petak contoh ditentukan 3 (tiga) unit contoh yang terletak di titik

perpotongan garis diagonal pada petak contoh (A) dan di pertengahan potongan-

potongan garis diagonal dari diagonal terpanjang (B dan C) seperti terlihat pada

Gambar 4.2. Tiap unit contoh terdiri atas 10 (sepuluh) rumpun contoh, dan

diamati intensitas serangan OPT, kepadatan populasi OPT dan kepadatan populasi

musuh alami.

Gambar 4.2. Penyebaran Unit Contoh Dalam Petak Contoh (Sumber : Buku Pedoman
Pengamatan Dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan, 1992 : 6).

Kepadatan populasi OPT dan musuh alami yang efektif tertarik cahaya

diamati pada satu atau lebih lampu perangkap yang mewakili wilayah

pengamatan. Lampu perangkap ditempatkan jauh dari faktor-faktor yang akan

mempengaruhi banyaknya serangga pengganggu tanaman dan musuh alami yang

41
tertarik cahaya. lampu dinyalakan dari senja sampai fajar, serangga yang

tertangkap diidentifikasi dan dihitung. Serangga yang tertangkap umumnya

adalah serangga imago yang aktif pada malam hari.

Pengamatan Keliling (Patroli)

Pengamatan keliling (patroli) bertujuan untuk mengetahui tanaman yang

terserang dan terancam, luas pegendalian, bencana alam serta mencari informasi

tentang penggunaan, peredaran dan penyimpanan pestisida. Pengamatan keliling

ini dilaksanakan dengan cara mengelilingi wilayah pengamatan yang dicurigai

terancam serangan OPT. Penentuan daerah yang dicurigai berdasarkan pada

kerentanan varietas yang ditanam terhadap serangan OPT utama/kunci di daerah

tersebut, stadia pertumbuhan dan jaraknya terhadap sumber serangan serta daerah

yang endemik OPT tertentu.

Serangan OPT di daerah yang dicurigai, diamati pada 5 (lima) petak

contoh yang terletak pada perpotongan garis diagonal seperti pada Gambar 4.2.

bedanya pada Gambar 4.2 hanya 3 petak contoh. Komponen-komponen yang

diamati adalah luas tanaman yang terserang, intensitas serangan, kepadatan

populasi OPT, stadia/umur tanaman, varietas yang ditanami dan tindakan

pengendalian yang pernah dilakukan oleh petani.

Penilaian Tingkat Serangan OPT dan Tingkat Kerusakan Tanaman

Serangan diartikan sebagai bentuk aktivitas OPT untuk menimbulkan

kerusakan pada tanaman sedangkan kerusakan adalah efek dari aktivitas OPT

pada tanaman dan biasanya ditinjau dari segi fisiologis dan ekonomis. Kerusakan

tanaman karena serangan OPT sangat beragam tergantung pada gejala

42
serangannya, sehingga dikenal kerusakan mutlak atau dianggap mutlak dan tidak

mutlak. Kerusakan mutlak adalah kerusakan yang terjadi secara permanen /

keseluruhan pada tanaman bagian tanaman yang akan dipanen, misalnya kematian

seluruh jaringan tanaman dan layu, sedangkan yang dianggap mutlak seperti

terjadinya busuk, rusaknya sebagian jaringan tanaman sehingga tanaman atau

bagian tanaman tidak produktif lagi. Kerusakan tidak mutlak, kerusakan

sebagian tanaman seperti daun, bunga, buah, ranting, cabang dan batang.

Berdasarkan Buku Pedoman Pengamatan Dan Pelaporan Perlindungan

Tanaman Pangan tahun (1992 : 10) untuk menghitung kerusakan mutlak dapat

menggunakan rumus sebagi berikut :

A A
I = X 100% atau I = X 100%
A+ B C

Keterangan : I = Intensitas serangan (%)

A = Banyaknya Contoh (Daun, Pucuk, Bunga, Buah, Tunas,


Tanaman, Rumpun Tanaman) Rusak Mutlak Atau Dianggap Rusak
Mutlak
B = Banyaknya Contoh Yang Tidak Terserang (Tidak
Menunjukkan Gejala Terserang)
C = Jumlah Keseluruhan Contoh yang Diamati

Rumus ini digunakan untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan

kerusakan mutlak atau dianggap mutlak pada tanaman (tunas, malai, gabah) atau

rumpun. Rumus untuk menghitung kerusakan tidak mutlak adalah :

z
(ni X vi)
i=0
I= X 100%
ZN
Keterangan : I = Intensitas Serangan

43
ni = Jumlah Tanaman atau Bagian Tanaman Contoh dengan Skala
Kerusakan vi

vi = Nilai Skala Kerusakan Contoh ke-i

N = Jumlah Tanaman atau Bagian Tanaman Contoh yang Diamati

Z = Nilai Skala Kerusakan Tertinggi

Nilai skala kerusakan beberapa jenis OPT penting pada beberapa tanaman

pangan (padi dan jagung) yang sering digunakan oleh pengamat lapangan adalah

sebagai berikut (Sunoto, 2003) :

1 = Serangan / kerusakan kurang dari 25 %

2 = Serangan antara 25 50 %

3 = Serangan antara 50 75 %

4 = Serangan > 75 %

Nilai kerusakan dapat pula menggunakan nilai skala 1, 3, 5, 7, 9 seperti

pada Tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2. Nilai Skala Kerusakan Beberapa Jenis OPT Penting pada Tanaman
Pangan (Padi dan Jagung) dengan Nilai Skala 1, 3, 5, 7, 9.

No Komoditi OPT Skala Kerusakan


1 Padi Wereng Coklat 0 = Contoh tidak menunujukkan
(Nilaparvata lugens) , gejala kerusakan, tidak
Kepinding tanah ditemukan OPT
(Scotinophora verniculata)
1 = Sebagian daun pertama
menguning, belum terjadi
kelayuan pada tanaman,
ditemukan OPT, ditemukan
sedikit embun jelaga

3= Sebagian daun pertama dan


kedua menguning, daun
agak layu, banyak
ditemukan embun jelaga

44
5 = Sebagian besar daun
menguning, daun bagian
bawah layu, tanaman agak
kerdil, embun jelaga sangat
banyak

7 = Daun mengeriting dan hampir


semua layu, tanaman sangat
kerdil

9 = Tanaman layu sempurna/mati

2 Jagung Belalang dan ulat grayak 0 = Tidak ada kerusakan


1= Kerusakan daun 1 20 %
3= Kerusakan daun 21 40 %
5 = Kerusakan daun 41 60 %
7 = Kerusakan daun 61 80 %
9 = Kerusakan daun 81 100 %

(Sumber : Buku Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan,


1992 : 50 ; Sunoto, 2003).

Metode Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel dalam pembahasan ini adalah cara atau

teknik untuk memperoleh data tentang kepadatan populasi serangga yang diamati.

Ukuran kepadatan populasi suatu serangga yang tepat adalah dalam bentuk jumlah

individu per suatu satuan luas permukaan tanah. Data ini dapat digunakan untuk

menghitung berapa jumlah individu yang ada pada suatu daerah atau wilayah

pengamatan.

Sampel atau contoh dalam pengertian statistik merupakan bagian suatu

populasi. Populasi hama pada suatu tempat merupakan seluruh individu hama

yang menempati tempat tertentu artinya sampel merupakan wakil dari populasi

45
yang diamati. Permasalahan penting yang sering dihadapi dalam pengambilan

sampel adalah menentukan jumlah anggota sampel dengan tepat sehingga dapat

mewakili keseluruhan anggota populasi. Jika terjadi kesalahan penentuan jumlah

sampel maka data yang diperoleh tidak dapat digunakan untuk menduga sifat

populasi (Untung, 2003 : 93).

Proses pengambilan sampel dan monitoring memerlukan teknik yang

beragam tergantung pada jenis tanaman, jenis hama atau organisme lain yang

diamati. Ada 2 (dua) syarat yang harus diperhatikan dalam melakukan teknik

pengamatan dan pengambilan sampel yaitu : Praktis, artinya metode yang

dilakukan sederhana, mudah dikerjakan dan tidak memerlukan peralatan dan

bahan yang mahal serta tidak memerlukan waktu yang lama; Valid (dapat

dipercaya), artinya metode yang dilakukan harus menghasilkan data yang dapat

mewakili atau menggambarkan secara benar tentang sifat populasi yang

sesungguhnya (Untung, 2003 : 94).

Pola pengambilan sampel dapat mengikuti pola Diagonal, Zigzag dan

Lajur tanaman (Sistematik) seperti terlihat pada Gambar 4.3 berikut ini. Rumpun

tanaman yang ada di pinggiran plot pengamatan jangan dijadikan sebagai sampel,

yaitu sekitar 3-5 baris dari tepi lahan (plot pengamatan).

(A) (B) (C)

Gambar 4.3. Pola Pengambilan Sampel mengikuti Pola (A) Diagonal, (B) Zigzag dan (C)
Lajur Tanaman (Sistematik) Sumber : Untung (2003 : 105).

46
Untung (2003 : 98) menyatakan ada 3 metode pokok pengambilan sampel

yaitu metode mutlak (absolut), metode nisbi (relatif) dan indeks populasi.

1. Metode Mutlak (Absolut), yaitu data yang didapat merupakan angka

pendugaan kepadatan populasi dalam bentuk jumlah individu per satuan unit

permukaan tanah atau habitat serangga yang kita amati. Pelaksanaan sampling

lebih dahulu ditetapkan unit sampel berupa satuan luas permukaan tanah (1 X 1

m2 ) kemudian semua individu serangga yang ada dalam unit sampel yang kita

amati dikumpulkan dan dihitung jumlahnya. Untuk suatu petak pengamatan

biasanya diambil beberapa unit sampel, lalu dihitung rat-rata kepadatan

populasi dari petak pengamatan tersebut.

Apabila perhitungan populasi dilakukan pada pertanaman yang teratur dalam

baris dan kolom maka dengan menggunakan unit sampel berupa satu

tanaman/pohon atau rumpun dapat diperoleh jumlah populasi serangga untuk

satu wilayah pengamatan. Misalnya tanaman padi yang ditanam dengan jarak

tanam 25 X 25 cm, maka dalam 1 m2 luas tanah terdapat 16 rumpun padi, jika

pada setiap rumpun ditemukan 10 ekor wereng maka dapat diperkirakan untuk

luasan 1 m2 permukaan tanah terdapat 160 ekor wereng.

Kelebihan metode mutlak adalah memiliki ketelitian yang tinggi, tetapi

memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk menghitung

serangga yang terkumpul.

2. Metode Nisbi (Relatif), yaitu data penduga populasi yang diperoleh sulit untuk

dikonversi dalam unit permukaan tanah karena banyaknya faktor yang

47
mempengaruhi angka penduga tersebut. Cara pengambilan sampel dengan

alat perangkap serangga seperti lampu perangkap (light trap) atau perangkap

jebakan (pitfal trap) akan memperoleh angka yang sulit untuk dikonversikan

pada unit permukaan tanah.

Dibandingkan dengan metode mutlak, metode nisbi merupakan metode yang

lebih mudah dan praktis karena umumnya individu serangga lebih mudah

tertangkap dan dihitung. Kekurangannya adalah dari segi ketelitian statistik

metode ini termasuk rendah. Hal ini karena dipengaruhi banyak faktor seperti

keadaan lingkungan sekitar, alat perangkap, keadaan dan kemampuan

pengamat, waktu pengumpulan serangga dan lain-lain. Metode nisbi tidak

dianjurkan untuk studi ekologi serangga yang memerlukan ketelitian tinggi.

3. Metode Indeks Populasi, yaitu yang diukur dan dihitung adalah bekas yang

ditinggalkan oleh serangga seperti kotoran, kokon dan sarang. Misalnya kita

mengamati tikus maka yang dihitung adalah jumlah liang. Indeks populasi

yang sering digunakan adalah kerusakan atau akibat serangan hama pada

tanaman, biasanya angka tersebut disebut intensitas kerusakan atau serangan.

- Latihan

Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka

kerjakanlah soal-soal di bawah ini :

1. Berilah contoh masalah di lapangan tentang Ekosistem Alami dan

Agroekosistem.

2. Sebutkan teknik-teknik pengamatan yang anda ketahui

48
3. Bagaimana pendapat anda tentang 3 metode pengambilan sample. Jelaskan

dengan singkat masing-masing metode tersebut.

- Kunci Jawaban

Menyesuaikan.

- Rangkuman

1. Ekosistem alamiah (hutan tropik) merupakan ekosistem yang stabil

dibandingkan dengan ekosistem pertanian karena memiliki keanekaragaman

hayati yang tinggi.

2. Ekosistem pertanian (agroekosistem) memiliki keanekaragaman biotik dan

genetik yang rendah dan cenderung semakin seragam, sehingga tidak stabil

dan ini memacu terjadinya peningkatan populasi hama.

3. Teknik pengamatan ekosistem ada 2 cara yaitu; Pengamatan Tetap dan Patroli.

4. Ada 3 metode pokok pengambilan sampel yaitu metode mutlak (absolut),

metode nisbi (relatif) dan indeks populasi.

4..3. Penutup

a. Tes formatif

1. Jelaskan perbedaan Ekosistem Alami dengan Agroekosistem!

2. Apa perbedaan antara Sistem Pemantauan dengan Tindakan Pengendalian?

Jelaskan!

3. Sebutkan Teknik-teknik Pengamatan OPT dan Jelaskan penerapan masing-

masing!

4. Berikan contoh tentang Teknik pengamatan denngan menerapkan salah satu

metode pengambilan sample yang anda ketahui.!

49
b. Umpan balik dan tindak lanjut

- Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

1. Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi tersebut

dibahas dalam diskusi maupun praktikum

2. Aktif dalam dsikusi dan praktikum

4. Mengerjakan latihan dan tugas

- Tindak lanjut

Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka

mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya sebab pengetahuan

terhadap Sistem Pemantauan Ekosistem dengan Teknik Pengamatan OPT

merupakan dasar untuk bab selanjutnya.

Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan

untuk :

1. Mempelajari kembali materi di atas, terutama materi yang belum

dikuasai.

2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum dikuasai.

3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tiudak jelas dalam diskusi.

c. Jawaban tes formatif

Menyesuaikan

4.4. Daftar Pustaka

50
Anonim, 1992. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman
Pangan. (Khusus untuk beberapa tanaman semusim). DirJen. Pertanian
Tanaman Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Jakarta.76 p.

Mahrub, Eddy, 1999. Kajian Pengendalian Alami Penggerek Batang Padi


Kuning Scirpophaga incertulas (Walker). Disertasi Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.

Oka, I. N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu Dan Implementasinya Di


Indonesia. Gadjah Mada University Press. 255 p.

Sunoto, 2003. Metode Pengamatan Penyakit Tanaman. Makalah yang


Disampaikan pada pelatihan sinkronisasi Petugas Pengawas Benih. Di
Bali.

Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi. Kajian Ekologi Kuantitatif.


Pustaka Sinar Harapan dan Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta.

Untung, K., 2003. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.

Wigenasantana, M., S., dkk., 2001. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Pusat


Penerbitan Universitas Terbuka.

Witjaksono, 2004. Pemanfaatan Senyawa Semiochemical Untuk Pengendalian


Serangga Hama. Makalah Seminar Nasional Pengelolaan Resistensi
Pestisida, 24 -25 Februari 2004.

4.5. Senarai

Agroekosistem = Ekosistem buatan manusia

51
BAB V

MODEL-MODEL PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU


TANAMAN (OPT)

5.1. Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini akan menguraikan Model-Model Pengendalian Organisme

Pengganggu Tanaman (OPT) serta Pestisida.

Relevansi

Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya

dengan bab selanjutnya.

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian

semester III dapat : Menjelaskan dan Menerapkan Model-model Pengendalian

Hama Secara Terpadu (PHT) dengan tepat.

52
3.2. Penyajian

Uraian dan Contoh

Model-Model Pengendalian OPT

Sekarang ini dikenal dua istilah bahasa Inggris yang sering digunakan

secara bergantian untuk Pengendalian Hama Terpadu yaitu Integrated Pest

Control (IPC) yang diartikan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan

Integrated Pest Management (IPM) yang diartikan Pengelolaan Hama Terpadu

(PHT). Sebenarnya kedua istilah ini digunakan untuk menjelaskan hal yang

sama. Jika dilihat dari sejarah perkembangan konsepsi Pengendalian Hama

Terpadu, maka (IPM) merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsepsi (IPC).

Iastilah IPC saat ini di dunia pergaulan ilmiah internasional sudah ditinggalkan

dan yang digunakan kini adalah istilah (PHT) singkatan dari Pengelolaan Hama

Terpadu (Untung, 2003 :7 ; Wigenasantana, 2001 : 201).

Konsep PHT muncul sebagai akibat kesadaran umat manusia akan bahaya

pestisida sebagai bahan yang beracun bagi kelangsungan hidup ekosistem dan

kehidupan manusia secara global. Melihat hal ini, muncul pemikiran para ahli

untuk mencari metode baru dalam mengendalikan OPT yang dipandang aman.

Mula-mula dikembangkan metode dengan memadukan dua teknik pengendalian

OPT, kemudian metode ini dikembangkan lagi dengan memadukan semua atau

beberapa metode pengendalian yang dianggap cocok dan kompatibel untuk daerah

itu, yaitu memadukan cara fisik, mekanik, kultur teknis (bercocok tanam), biologi,

kimiawi dan cara pengendalian lainnya (Untung, 2003 : 8; Wigenasantana, 2001 :

202).

53
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dapat dilakukan

dengan beberapa cara sesuai dengan situasi, kondisi dan keadaan faktor-faktor

biotic dan abiotik setempat. Pengendalian tersebut adalah:

Pengendalian Secara Bercocok Tanam (Cultural Control)

Pengendalian OPT secara bercocok tanam bertujuan untuk mengelola

lingkungan tanaman sedemikian rupa sehingga menjadi tidak cocok untuk

berkembangnya OPT dan mendorong berfungsinya musuh alami (Natural

enemies) secara efektif.

Pengendalian secara bercocok tanam merupakan usaha pengendalian yang

bersifat preventif yang dilakukan sebelum serangan OPT terjadi, populasi hama

diharapkan tidak melawati Aras Ambang Ekonomi (Untung, 2003 : 114 ;

Wigenasantana, 2001 : 182).

Teknik pengendalian bercocok tanam didasarkan pada pengetahuan

agroekosistem setempat yaitu ekologi dan perilaku OPT meliputi waktu

perkawinan, habitat/inang, waktu menyerang dan lain-lain.

Pedigo (1996 : 334) menyatakan bahwa teknik pengendalian secara

bercook tanam dpat dikelompokkan dalam 4 (empat) kelompok, yakni:

1. Mengurangi kesuaian ekosistem, yaitu dengan menciptakan

agroekosistem yang tidak sesuai dengan perkembangan hidup OPT, maka

perkembangannya akan terhambat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara

melakukan sanitasi, penghancuran inang, pengolahan tanah dan pengelolaan

air.

54
2. Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup OPT, yaitu

memutuskan kontinuitas tersedianya makanan/inang dengan cara pergiliran

tanaman, pemberoan lahan, penanaman serentak, penetapan jarak tanam,

pengaturan lokasi penanaman dan memutuskan sinkronisasi antara tanaman

dan hama dengan mengatur waktu tanam agar tidak sesuai dengan fase

perkembangan hama.

3. Mengalihkan populasi OPT agar menjauhi pertanaman, yaitu suatu cara

pengendalian OPT dengan mengalihkan OPT ke tanaman lain, cara ini tidak

begitu efektif bagi serangga yang penyebarannya cepat tetapi masih dapat

dilakukan beberapa cara untuk mengalihkan OPT, seperti dengan mananam

tanaman perangkap dan melakukan pemanenan secara bertahap untuk

menghindari pindahnya OPT secara serempak ke lahan tetangga, cara ini

dapat dilakukan pada tanman tertentu.

4. Mengurangi dampak kerusakan OPT, yaitu menanam tanaman yang

bersifat toleran terhadap kerusakan OPT, melakukan pemupukan yang

seimbang sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman masih dapat pulih

kembali setelah terserang oleh OPT, mengubah jadwal panen untuk tanaman

tertentu dapat dilakukan pemanenan lebih awal.

Pengendalian Hayati (Biologycal Control)

Pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan

musuh alami untuk mengendalikan OPT. Musuh alami ini meliputi predator,

parasitoid dan patogen sebagai pengatur dan pengendali populasi OPT yang

efektif karena sifat pengaturannya yang tergantung kepadatan. Artinya

55
peningkatan populasi OPT akan diikuti oleh peningkatan predator hal ini terlihat

dari meningkatnya daya makan per predator. Peningkatan populasi OPT akan

diimbangi oleh tekanan yang lebih keras dari populasi musuh alami (Untung,

2003 : 169).

Martono (2005 : 1) dan Untung (2003 : 183) menyatakan dalam praktek

pengendalian yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan 3 kategori :

1. Introduksi, yaitu memasukkan atau importasi musuh alami ke suatu lahan

atau areal tanaman yang terserang OPT tertentu. Misalnya untuk

mengendalikan OPT pada tanaman padi (di provinsi Gorontalo) yaitu

penggerek batang padi telah menggunakan parsitoid telur Trichogramma sp.

yang diintroduksi dari pulau Jawa. Berdasarkan laporan petugas pengamat

hama ternyata parasitoid ini cocok dan berhasil menekan perkembangan

penggerek batang padi sehingga populasi penggerek batang padi di areal padi

yang telah dilakukan pelepasan dan introduksi parasitoid menurun. Hal ini

cukup membantu petani dan dari segi keamanan hayati dapat

dipertanggungjawabkan. Pengendalian dengan introduksi musuh alami adalah

pengendalian hayati klasik

2. Augmentasi, yaitu suatu teknik pengendalian dengan meningkatkan

jumlah musuh alami atau pengaruhnya. Hal ini dapat tercapai melalui 2 (dua)

cara yaitu, a) melepaskan sejumlah musuh alami untuk menambah jumlahnya

di lapangan (agroekosistem) sehingga dengan tambahan itu dalam waktu

singkat musuh alami akan mampu menurunkan populasi OPT; b)

56
memodifikasi agroekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas

musuh alami dapat ditingkatkan.

Pelepasan musuh alami secara teknik augmentasi hampir sama dengan cara

introduksi, bedanya adalah teknik augmentasi yang kita harapkan adalah

populasi hama dalam satu musim tanam dengan cepat dapat ditekan sehingga

tidak merugikan, sedangkan teknik introduksi bertujuan dalam jangka panjang

dapat menurunkan aras keseimbangan populasi OPT sehingga tetap berada di

bawah aras ambang ekonomi. Teknik augmentasi menggunakan musuh alami

yang sudah berfungsi di ekosistem, sedangkan introduksi menggunakan

musuh alami dari luar ekosistem.

3. Konservasi Musuh Alami, yaitu suatu teknik untuk mempertahankan

kehidupan musuh alami dengan memanipulasi ekosistem seperti menyediakan

tanaman inang sementara(inang alternatif) bagi herbivora dan musuh alami.

Keberadaan inang alternatif sangat penting dalam mendukung kelestarian

parasitoid dan predator terutama yang bersifat polifag dan oligofag (Laba, et

al., 2000 : 207). Adanya vegetasi yang tumbuh dipinggiran sawah sangat

berperan dalam menyediakan tempat sebagai inang alternatif bagi predator dan

parasitoid (Herlinda et al., 2000 : 163), dan ini perlu dipertahankan karena

menguntungkan bagi pelestarian musuh alami pada ekosistem persawahan

karena tanaman liar yang tumbuh di dipinggiran sawah tersebut mampu

menyediakan bunga follen, nectar yang dibutuhkan oleh musuh alami.

Ekosistem persawahan yang intensif umumnya adalah monokultur sehingga

kurang memberikan habitat yang sesuai bagi musuh alami karena terbatasnya

57
nektar dan inang alternatif. Hal ini dapat diatasi dengan memanfaatkan tepian

lahan, pematang yang ditumbuhi tumbuhan liar sebagai koridor yang

berfungsi dalam menyediakan pollen, nektar yang diperlukan oleh musuh

alami, sehingga berfungsi dalam menekan populasi hama (Buchori dan Sahari,

2000 : 127).

Pengendalian hayati dapat pula menggunakan patogen hama seperti jamur,

virus dan bakteri. Beberapa contoh patogen antagonis yang berpotensi sebagai

agen pengendali OPT dan dianggap aman bagi lingkungan biotik dan abiotik

terlihat pada Gambar 5.1 berikut ini :

(A) (B) (C)

(D) (E) (F)


Gambar 5.1 (A) Jamur Metarhizium sp. Yang Menginfeksi Kumbang Coleoptera, (B, C)
Jamur Beauveria bassiana Menyerang Kepik, (D, E, F) Jamur Trichoderma
sp. Jamur Antagonis Pada Patogen Penyebab Penyakit Pada Akar Tanaman
(Sumber : Sosromarsono dan Hidayat, 2002 : 13 ; Shepard, et.al., 1987)

Pengendalian Fisik dan Mekanik (Fysical and Mechanical Control)

Pengendalian secara fisik adalah tindakan pengendalian hama dengan

menggunakan faktor fisik seperti menaikkan suhu dengan cara pembakaran,

58
menurunkan suhu dengan penggenangan, solarisasi tanah, lampu perangkap,

pengaturan cahaya dan suara. Beberapa perlakuan fisik adalah sebagai berikut :

1. Pemanasan dan Pembakaran, yaitu teknik pengendalian dengan perlakuan

panas. Perlu diketahui dalam aplikasi teknik ini adalah pengetahuan tentang

batas toleransi OPT sasaran terhadap fakor fisik yang digunakan. Teknik ini

mempunyai kelemahan apabila dilakukan di lapangan, yaitu apabila petani

melakukan pembakaran maka yang terbakar bukan saja OPT tetapi musuh

alami dan organisme lain ikut terbunuh (Wigenasantana, 2001 : 189).

2. Pemasangan Lampu Perangkap, yaitu ditujukan untuk memantau populasi

OPT yang tertarik dengan cahaya terutama serangga dewasa (imago) yang

aktif terbang malam hari, teknik ini dapat menekan populasi OPT dewasa.

lampu yang digunakan bisa menggunakan Petromak (Wigenasantana, 2001 :

190).

3. Memasang Barier, yaitu memasng penghalang, menanam tanaman pagar

yang bersifat menghalangi dan membatasi pergerakan OPT agar tidak dapat

memasuki dan mendatangi tanaman utama sehingga tidak menimbulkan

kerusakan yang berarti pada tanaman. Barier ini seperti pematang yang

ditinggikan, lubang jebakan dan selokan (Wigenasantana, 2001 : 190).

4. Solarisasi Tanah, adalah suatu cara mensterilkan tanah dari OPT

(mikroorganisme tanah penyebab penyakit layu pada tanaman) dengan

menggunakan plastik transparan sebagai mulsa penutup tanah pada saat

sebelum tanam. Berdasarkan hasil penelitian Lihawa Mohamad (1994)

tentang Pengaruh Periode Solarisasi Tanah Terhadap Serangan Jamur

59
Fusarium Oxysporum Schlecht Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman

Tomat, ternyata perlakuan solarisasi tanah selama 6 (enam) minggu efektif

untuk menekan serangan jamur F. oxysporum Schlecht pada tanaman tomat di

lapangan.

Wigenasantana (2001 : 190) menyatakan bahwa pengendalian secara

mekanik adalah tindakan mematikan hama secara langsung dengan menggunakan

tangan atau alat. Teknik mekanik ini seperti :

1. Pengambilan dengan Tangan, cara ini murah dan sederhana tetapi

memerlukan tenaga kerja yang banyak. OPT yang ditemukan seperti telur,

larva, pupa, jika memungkinkan imago dikumpulkan dengan tangan lalu

langsung dibunuh, misalnya kelompok telur penggerek batang.

2. Gropyokan, yaitu untuk mengendalikan hama tikus dengan membunuh

tikus yang ada di dalam maupun di luar sarang dengan menggunakan alat

bantu seperti pentungan/alat pemukul lainnya dan cangkul.

3. Memasang Perangkap, yaitu untuk menangkap OPT dengan memasang

alat perangkap di tempat yang sering dilalui oleh OPT, alat perangkap ini

sering diberi zat kimia baik sebagai perekat maupun penarik OPT.

4. Pemasangan Umpan, misalnya untuk mengendalikan hama walang sangit

(Leptocorixa acuta) dengan menggunakan umpan daging busuk atau ikan asin

yang ditancapkan di tengah-tengah sawah. Jika hama walng sangit ini sudah

terkumpul pada umpan maka dapat langsung dibunuh dengan cara di bakar.

Pada waktu membakar hindari tanaman ikut terbakar.

60
5. Pengusiran, yaitu memasang orang-orangan/patung di tengah lahan sawah,

atau memasang alat (kaleng-kaleng kosong) yang dapat mengeluarkan bunyi-

bunyian, sehingga OPT lari menjauhi pertanaman.

Pengendalian Kimiawi (Chemistry Control)

Pengendalian kimiawi adalah pengendalian OPT dengan menggunakan

pestisida. Untung (2003 : 198) membagi pestisida berdasarkan cara masuknya ke

dalam tubuh serangga dan berdasarkan sifat kimianya.

Pestisida berdasarkan cara masuk ke tubuh serangga yaitu ; 1) racun perut,

insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui saluran pencernaan

makanan (perut). Serangga mati karena termakan tanaman yang sudah

mengandung insektisida, biasanya insektisida sistemik ; 2) racun kontak,

insektisida masuk ke tubuh serangga melalui dinding tubuh apabila serangga

mengadakan kontak dengan insektisida yang ada pada permukaan tanaman ; 3)

fumigan, insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam

tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistem trachea, kemudian

diedarkan ke seluruh jaringan tubuh serangga. Fumigan biasanya digunakan

untuk mengendalikan OPT yang sering menyerang produk simpanan.

Pestisida berdasarkan sifat kimianya yaitu insektisida anorganik tidak

mengandung unsur karbon merupakan insektisida lama yang digunakan sebelum

tahun 1945 dan insektisida organik yang mengandung unsur karbon merupakan

insektisida modern setelah ditemukannya DDT. Insektisida organik terbagi atas

insektisida organik alami yaitu terbuat dari tanaman (insektisida nabati) dan

61
insektisida organik sintetik yaitu merupakan hasil buatan pabrik melalui

proses sintetis kimiawi.

Pestisida Kimia (insektisida organik sintetik)

Pengendalian dengan pestisida kimia dilakukan dengan menggunakan

bahan kimia sintetik seperti insektisida (membunuh serangga), fungisida

(membunuh jamur), herbisida (membunuh gulma/rumput liar), akarisida

(membunuh tungau), nematisida (membunuh nematoda), rodentisida (membunuh

mamalia pengerat) (Wigenasantana, 2001 : 192).

Pestisida dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasa baik

dalam bidang pertanian, kesehatan dan pemukiman. Pada bidang pertanian

pestisida kimia telah berhasil mengendalikan dan menurunkan populasi OPT

dengan cepat sehingga petani sangat tergantung pada pestisida. Di pemukiman

adalah untuk mengendalikan nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dan

malaria. Cara pengendalian yaitu dengan cara pengasapan di setiap rumah atau

tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat hidup nyamuk.

Adanya penemuan insektisida sintetik organik pertama yaitu DDT pada

tahun 1940 telah memacu revolusi pestisida, hal ini mendorong para peneliti

untuk mencari pestisida baru yang lebih ampuh. Banyaknya penemuan jenis

pestisida baru yang berhasil membunuh OPT telah menyebabkan banyaknya

permintaan pestisida, sehingga bisnis dan industri pestisida muncul dimana-mana

(Untung, 2003 : 195; Wigenasantana, 2001 : 193).

Di Indonesia adanya program nasional BIMAS telah memacu petani

menggunakan pestisida untuk mengendalikan OPT karena keunggulannya yaitu

62
praktis, ampuh membunuh, mudah diaplikasikan. Tetapi tanpa disadari akibat

pemaparan pestisida secara terus menerus dengan cara tidak bijaksana telah

berakibat kerusakan lingkungan biotik dan abiotik, munculnya resistensi hama,

resurjensi hama, peletusan hama kedua, selain itu adanya pencemaran perairan

oleh residu pestisida.

Pestisida kimia yang dipasarkan umumnya sudah dalam bentuk formulasi

yaitu campuran bahan aktif teknis, sinergis (bahan penguat yang tidak bersifat

racun tetapi apabila dicampurkan ke bahan aktif akan menambah toksisitas

insektisida) dan bahan pembantu/ajuvan (berfungsi meningkatkan daya

larut/solvent, sebagai pembawa/diluent dan penyelimut, menambah daya

lekat/stiker, meningkatkan daya sebar dan pembasahan pada permukaan/

surfaktan, dan memberikan bau harum/deodoran) (Untung, 2003 : 212).

Formulasi Insektisida

Untung, (2003 : 213) membagi formulasi insektisida sebagai berikut:

1. Emulsifiable Concentrates (EC), yaitu formulasi yang paling banyak

diproduksi, terdiri atas campuran bahan aktif, perantara/emulsi (emulsifier),

suatu emulsi minyak-dalam-air terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan

air akan terbentuk cairan seperti susu. Emulsifier memungkinkan melarutkan

bahan kimia yang sukar larut dalam air, mengurangi tekanan permukaan dari

semprotan sehingga dapat lebih menyebar dan membasahi permukaan yang

disemprot sehingga memungkinkan terjadinya kontak yang lebih baik dengan

kutikula serangga.

63
2. Wettable Powders (WP), yaitu dalam bentuk tepung, kering dan agak

pekat ditujukan agar dapat diencerkan dan larut dalam air untuk disemprotkan.

Dibandingkan dengan EC, WP mempunyai toksisitas pada tanaman yang

rendah tetapi kurang baik untuk alat penyemprot karena menyebabkan macet

pada nozzle sehingga perlu pengadukan.

3. Flowable Powder (F), formulasi dalam bentuk padat atau semi padat dan

dicampur dengan formulasi EC kemudian digiling secara basah dengan bahan

pembawa/diluent dan air sehingga diperoleh bahan teknis yang tergiling halus

dan basah seperti puding. Formulasi ini dicampur dengan air untuk dapat

disemprotkan, dan harus selalu diaduk agar tidak terjadi pengendapan.

4. Soluble Powder (SP), formulasi berbentuk bubuk kering ditambah

dengan bahan inert (membantu pelekatan) dan bahan pembantu untuk

menyebarkan pada permukaan tanaman. Formulasi ini dapat larut dalam air

dan mengandung 75-95% bahan aktif. Formulasi ini dapat diaplikasikan

sebagai racun kontak maupun racun perut, adanya inert maka dapat

diaplikasikan pada musim penghujan.

5. Solutions (S), formulasi ini jarang digunakan untuk tanaman karena

fitotoksitas yang tinggi. Umumnya digunakan utnuk mengendalikan serangga

yang menyerang ternak, jentik-jentik nyamuk yang ada pada permukan air.

6. Dust (D), formulasi ini dalam bentuk debu, tidak efektif bila digunakan

dalam kondisi berangin karena sedikit yang mengenai sasaran dan bayak yang

tertiup angin, berbahaya bagi imago parasitoid ordo hymenoptera.

64
7. Granules (G), yaitu dalam bentuk butiran dalam aplikasinya cukup

dibenamkan dalam tanah di sekitar pangkal akar tanaman atau disebarkan di

sekitar tanaman, formulasi ini efektif untuk mengendalikan hama di tanah.

8. Aerosol (A), formulasi ini dibuat dengan cara insektisida dilarutkan

dalam zat pelarut berupa minyak yang menguap. Larutan kemudian diberi

tekanan udara dalam kaleng dengan gas propelan seperti karbondioksida atau

fluorokarbon, apabila disemprotkan larutan akan menjadi partikel-partikel

yang sangat kecil dan secara cepat menguap meninggalkan droplet-droiplet

mikroskopik di udara. Formulasi ini biasanya digunakan untuk kebutuhan

rumah tangga, di pekarangan atau di rumah kaca.

Konsentrasi dan Dosis Pestisida

Natawigena (1989 : 24) telah menjelaskan tentang pengertian konsentrasi

dan dosis sebagai berikut.

Konsentrasi pestisida terbagi atas 3 (tiga) yaitu : 1) konsentrasi formulasi,

yaitu banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram pestisida per liter air yang

dicampurkan. Contoh konsentrasi formulasi fungisida Antracol 70 WP adalah 2

gram, artinya dalam 1 liter air kita campur dengan 2 gram Antracol 70 WP ; 2)

konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif pestisida yang terdapat di

dalam larutan jadi (sudah dicampur air); 3) konsentrasi larutan, yaitu persentase

kandungan pestisida yang terdapat dalam larutan jadi.

Beberapa pengertian dosis yaitu : 1) jumlah pestisida (cc, liter atau gram,

kg) yang digunakan untuk mengendalikan OPT persatun luas tertentu atau per

65
pohon yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Contoh kebutuhan

dosis Diazinon 60 EC untuk mengendalikan OPT pada lahan sawah seluas 1 ha

adalah 1 liter untuk 1 kali aplikasi, bila 3 kali aplikasi maka dosis dibutuhkan

adalah 3 liter ; 2) jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan terlebih

dahulu dengan air dan digunakan untuk menyemprot pertanaman yang diserang

OPT dengan luas tertentu dalam satu kali aplikasi ; 3) jumlah bahan aktif pestisida

yang dibutuhkan untuk keperluan per satuan luas.

Untuk dosis perlu dilihat label yang tertera pada kemasan pestisida,

perhatikan petunjuk penggunaannya sehingga pada waktu aplikasi tidak terjadi

kesalahan dan usaha pengendalian tidak sia-sia.

Efek Toksisitas Pestisida Kimia Terhadap Manusia

Untung (2003 : 218) menyatakan bahwa efek toksit pestisida kimia

terhadap manusia adalah dilihat dari gejala keracunan yaitu: 1) keracunan akut

(kesakitan dan kematian akibat terkena dosis tunggal insektisida), terjadinya

keracunan karena kecorobohan pada waktu aplikasi insektisida. Obat antidote

untuk manusia yang terkena keracunan akut adalah atropine. 2) keracunan

khronik (penderita terkena rcun dalam jangka waktu yang lama dengan dosis

yang sangat rendah), gejala keracunan baru terlihat selang beberapa hari, bulan

atau tahun setelah penderita terkena racun.

Contoh Insektisida Kimia

66
Salah satu contoh insektisida yang masih sering digunakan di Indonesia

adalah karbamat dengan nama umum karbofuran untuk mengendalikan

penggerek batang padi.

Nama Umum : Karbofuran

Nama Kimia : 2,3 dihidro 2,2 dimetil 7 benzofuranil metil karbamat

Nama Dagang : Furadan 3 G, Curater 3 G, Dharmafur 3 G, Kresnadan 3 G,

Tomafur 3 G, Petrofur 3 G, Hidrofur 3 G, Trufer 3 G,

Primafur 3 G Anonim, (2002).

Struktur / Rumus Bangun :

CH3

H O O CH3

CH3 N C O

Sumber : (Minarni, 2002 : 13 ; Untung, 2003 : 197)

Toksisitas

Formulasi karbofuran umumnya dijumpai adalah 3 % granular, walupun

ada juga formulasi 2%, 5%, dan 10% granula, serta flowable dan suspensi.

67
Rendahnya persen bahan aktif dalam formulasi antara lain disebabkan oleh

tingginya toksisitas (LD50 8 mg/kg pada serangga), meski ini berarti

penggunaannya membutuhkan jumlah berat yang cukup banyak (Martono, et. al.,

1993). Karbofuran ditinjau dari segi kategori racun termasuk kategori 1 yaitu

sangat berbahaya (racun berbahaya) dengan LD50 oral untuk tikus 8-14 mg/kg,

sedangkan untuk LD50 dermal adalah 120 mg/kg sehingga dalam penggunaannya

harus dengan cara bijaksana (Untung, 2003).

Pengaruh toksisitas karbofuran terhadap berbagai spesies hama dan musuh

alami telah dilaporkan, ternyata pengaruhnya dapat menurunkan populasi hama

wereng coklat dan dan populasi musuh alami (predator) Cytorrhinus lividipennis,

dan pengaruh racun karbofuran ini akan mengurangi telur parasitoid dan

mencegah musuh alami (Mahrub, E., and Pollet, A., 1996 : 20).

Jenis Insektisida

Insektisida karbofuran adalah insektisida golongan karbamat yang bersifat

sistemik dan kontak-perut, sehingga dapat digunakan untuk mengendalikan hama-

hama padi yang mengisap tanaman seperti wereng (batang maupun daun) atau

hama pemakan yang letaknya tersembunyi seperti penggerek batang padi,

(Martono, et. al., 1993).

Penggunaan Pestisida

Dosis anjuran adalah 34 kg per hektar per musim tanam untuk formulasi

3% granular, setara dengan 1 kg bahan aktif per hektar (Martono, et. al., 1993).

Umumnya dosis yang dianjurkan untuk karbofuran antara 0,5 1 kg bahan aktif

68
per hektar. Tetapi pada tingkat petani, tingkat dosis sebesar itu jarang tercapai.

Dengan menggunakan formulasi granula yang mengandung 3% bahan aktif,

petani umumnya melakukan aplikasi 8 10 kg per hektar, yang berarti antara

hanya 0,25 0,3 kg bahan aktif per hektar (Martono, et. al., 1993). Dosis di

bawah anjuran seperti ini, apabila diberikan secara terus menerus akan memiliki

efek samping yang kurang menguntungkan, seperti terjadinya resistensi,

resurjensi, kematian jasad bukan sasaran karena lebih peka terhadap insektisida

dan sebagainya (Martono, et. al., 1993).

Dampak Pestisida Terhadap Serangga Target

Insektisida karbamat adalah derivat dari fisostigmin yang merupakan

alkaloida dari tanaman Physostigma venerosom. Fisostigma merupakan inhibitor

kolinesterase. Senyawa-senyawa karbamat bersifat antikolinesterase, tetapi

karena sifatnya yang polar sehingga sukar menembus kutikula. Tidak efektifnya

senyawa karbamat dalam mengadakan penetrasi disebabkan karena daya larutnya

dalam lipid yang sangat rendah, sehingga sebagian besar golongan insektisida ini

diproduksi dalam bentuk fosforotioat yang lebih mudah menembus ke dalam

kutikula dan selanjutnya mengalami aktivasi in vivo atau peningkatan daya racun

di dalam jaringan, sehingga bersifat antikolinesterase (Kuhr and Dorough, 1976

cit. Dien, 1994 : 21).

Insektisida golongan karbamat memiliki sifat selektif menghambat enzim

kholinesterase dan bukan aliesterase. Selektifitas karbamat kadang-kadang

berbeda pada spesies yang berbeda. Insektisida golongan karbamat dapat

mematikan serangga melalui penghambatan aktivitas enzim asetilkolinesterase

69
pada system syaraf pusat, penghambatan enzim asetilkolinesterase ini bersifat

bolak-balik (reversible) (Matsumura, 1975 ; Minarni, 2002).

Sistem syaraf serangga antara sel syaraf (neuron) dengan sel-sel lain

termasuk sel otot terdapat celah yang disebut sinaps. Asetilkolinesterase yang

dibentuk oleh system syaraf pusat berfungsi untuk menghantarkan pesan atau

impuls. Setelah impuls diantarkan ke sel-sel otot proses penghantaran impuls

tersebut dihentikan oleh bekerjanya enzim asetilkolinesterase, dengan enzim

tersebut asetilkolin dipecah menjadi asam asetat dan kholin, adanya

asetilkolinesterase menyebabkan sinaps menjadi kosong lagi sehingga

penghantaran impuls berikutnya dapat dilakukan. Insektisida golongan karbamat

akan menghambat bekerjanya enzim asetilkolinesterase yang berakibat terjadinya

penumpukan asetilkholin sehingga terjadi kekacauan pada system penghantaran

impuls ke sel-sel otot, keadaan ini akan menyebabkan pesan-pesan berikutnya

tidak dapat diteruskan akibatnya otot menjadi kejang dan terjadi kelumpuhan dan

akhirnya mengalami kematian (Minarni, 2002).

Dampak Pestisida Terhadap Agroekosistem

Karbofuran adalah pestisida golongan karbamat yang mempunyai daya

racun cukup tinggi (Matsumura, 1975), dimana dapat membunuh serangga dan

nematoda. sifatnya adalah sistemik atau sebagai racun kontak dan lambung

sehingga dapat diaplikasikan pada berbagai tanaman pertanian seperti, tanaman

pangan, palawija, hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman tembakau, tanaman

jeruk dan tanaman pisang. Karbofuran ditujukan untuk mengendalikan berbagai

macam serangga hama yang menyerang daun, batang, buah, dan nematoda yang

70
menyerang akar, baik pada tanaman yang masih dipersemaian maupun tanaman

yang sudah dipindahkan ke lapangan (Anonim, 2002).

Akibat samping penggunaan pestisida pada jasad sasaran dalam

agroekosistem berupa munculnya ketahanan hama, hal ini karena pestisida tidak

mampu untuk membunuh hama dan sebaliknya terjadi peledakan hama

(resurjensi) pada hama yang semula tidak penting.

Insektisida karbamat (karbofuran) termasuk salah satu insektisida yang

mendorong timbulnya resurjensi pada hama, hal ini dipacu oleh kesalahan aplikasi

dalam hal dosis dan frekuensi. Selain itu pengaruh penggunaan karbofuran adalah

meninggalkan residu pada tanaman. Untuk tanaman padi residu karbofuran dapat

1
mencapai 0,178 g g pada padi yang diberi karbofuran tiga kali pada umur 30,

50 dan 70 hari setelah tanam (Martono, et. al., 1993).

Pada tanaman, pestisida dapat mengubah penampilan dan melumurinya

dengan residu bahan beracun. Laporan tentang tingginya kadar residu acapkali

dijumpai, meski dengan semakin canggihnya peralatan wajib dicermati dengan

hati-hati (Martono, 2001), Di Indonesia telah disusun suatu ketentuan tentang

Batas Maksimum Residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian beberapa

komoditas (tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan dan perkebunan,

baik yang dapat langsung dikonsumsi maupun yang tidak langsung dikonsumsi)

yang ditetapkan dengan SK Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian

dengan no. 881 tahun 1996 (Anonim, 2002).

Selain pengaruh residu muncul pula masalah lain yaitu adanya keluhan

petani bahwa tanah sawah yang diberi perlakuan karbofuran granula akan

71
menyebabkan tanah menjadi keras dan bantat. Keadaan ini menyebabkan

turunnya kesuburan tanah karena secara biologis banyak terjadi kematian jasad

berguna yang membantu penggemburan tanah, sehingga potensi produksi tak

dapat dicapai (Martono, et. al., 1993 ; Martono,1997).

Dampak Pestisida Terhadap Lingkungan

Kegiatan pertanian moderen telah berhasil meningkatkan produksi pangan,

serat, pakan dan ternak secara dramatis. Penggunaan bahan kimia pertanian

sebagai bagian kegiatan pertanian moderen ternyata telah menimbulkan dampak

pada lingkungan dan dianggap sebagai sumber pencemar baru terhadap tanah dan

air tanah (Sutanto, 2001). Selanjutnya Martono, et. al. (1993) menyatakan bahwa

pengaruh residu pada lingkungan fisik agroekosistem dapat berupa pencemaran

sumber air, menurunnya mutu sumber bahan atau kondisi tanah sulit diolah.

Sutanto (2001) menyatakan bahwa suatu lingkungan dikatakan tercemar

apabila telah terjadi perubahan dalam tatanan lingkungan itu sehingga berbeda

sama sekali dengan tatanan asalnya, sebagai akibat masuknya dan atau

dimasukkannya suatu zat atau benda asing ke dalam tatanan lingkungan itu.

Apabila lingkungan tercemar dalam aras tinggi maka kemungkinan dapat

membunuh dan bahkan menghilangkan satu atau lebih organisme penghuni

lingkungan yang semula hidup normal dalam tatanan lingkungan yang ada. Croft

(1990) cit. Minarni, (2002) menyatakan bahwa insektisida karbamat umumnya

sangat toksik terhadap musuh alami, namun ada beberapa insektisida karbamat

sistemik seperti karbofuran menunjukkan selektifitas terhadap musuh alami.

Prospek Kedepan

72
Pemakaian insektisida karbofuran dimasa yang akan datang perlu

dipertimbangkan lagi dari segi keuntungan dan kerugiannya serta dampaknya

terhadap lingkungan baik terhadap tanaman, serangga target maupun non target,

mamalia, dan tanah pertanian yang secara langsung maupun tidak langsung

menerima perlakuan atau pemaparan insektisida.

Karbofuran ditinjau dari efektifitasnya mengendalikan hama adalah sangat

efektif karena kemampuannya untuk membunuh serangga-serangga yang tinggal

pada bagian-bagian tersembunyi dalam tubuh tanaman. Kemampuan tersebut

disebabkan oleh sifat bahan aktif yang sistemik, dan penyusunan formulasinya

yang granular, dengan demikian aplikasinya dapat diberikan dalam bentuk sebaran

(broadcasting) atau pembenaman (soil incorporating) cara ini menyebabkan

karbofuran mampu mencapai system perakaran dan kemudian dapat

ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman (Martono, et. al., 1993).

Karbamat dibandingkan dengan khlor-hidrokarbon, maka persistensinya

masih lebih rendah sedang daya racunnya jauh lebih tinggi selain itu sebagai

racun syaraf dengan menghambat enzim asetilkholinesterase karbamat bersifat

non spesifik sehingga daya racunnya tinggi untuk serangga dan mamalia

(Matsumura, 1985 cit. Martono, et. al., 1993).

Keefektifan karbofuran ternyata kurang didukung oleh petani dalam hal

aplikasinya di lapangan, petani cenderung melakukan aplikasi tidak sesuai dengan

anjuran sehingga dampaknya berupa terjadinya resistensi dan resurjensi (Mahrub,

1992 dan Metcalf, 1982 cit. Martono 1993). Selain itu teknik penggunaan oleh

petani masih belum seragam sehingga hal ini sangat mempengaruhi efektifitasnya.

73
Supriyadi cit. Martono (1993) menyatakan bahwa bahwa cara menaburkan

broadcasting bila tidak diikuti dengan pembenaman seringkali tidak efektif

untuk menekan populasi hama.

Penelitian Mariyono (2002) menunjukkan bahwa serangan hama

meningkat secara nyata sebagai akibat peningkatan aplikasi pestisida. Keadaan

ini tidak sesuai dengan harapan yaitu serangan hama akan turun jika dilakukan

aplikasi pestisida. Hal ini dapat terjadi karena jika aplikasi pestisida kurang tepat

menyebabkan keadaan akan menjadi berbalik.

Kesalahan dalam mengaplikasi pestisida dapat menyebabkan serangan

hama menjadi lebih banyak karena telah terjadi resistensi dan resurjensi, yaitu

hama menjadi tahan terhadap pestisida dan jumlahnya semakin banyak setelah

aplikasi pestisida.

Rola & Phrabu (1993) cit. Mariyono (2002) menyebutkan bahwa ada

beberapa pestisida telah terbukti dapat menyebabkan resurjensi wereng coklat,

dan diantara pestisida tersebut ada yang beredar di pasaran menyebabkan

resurjensi wereng coklat, dan diantara pestisida tersebut ada yang beredar di

pasaran Yogyakarta yaitu, karbofuran, deltametrin dan fentoat.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian tentang dampak dari insektisida

termasuk didalamnya karbofuran maka kedepan penggunaannya harus dipikirkan

kalau memang terpaksa maka perlu diperhatikan tentang lima T yaitu tepat dosis,

tepat waktu, tepat aplikasi, tepat sasaran, dan tepat formulasi. Sehingga efektifitas

dari insektisida karbofuran akan tercapai hal ini karena karbofuran masih

74
dianggap merupakan insektisida yang efektif dan direkomendasikan untuk

mengendalikan beberapa hama, diantaranya hama penggerek batang padi.

Pestisida Nabati (insektisida organik nabati)

Pestisida nabati adalah pestisida yang berasal dari tumbuhan, dapat

diperoleh dari bagian tumbuhan seperti bunga, buah, biji, daun, batang, akar dan

sebagainya. Penggunaan bagian tumbuhan bisa dalam bentuk utuh, bubuk

maupun ekstrak. Untuk memperoleh produk yang murah dan siap pakai (tidak

tahan lama) maka dibuat dalam bentuk kering dan basah.

Produk yang diekstrak dari tumbuhan dapat bersifat sebagai repelent,

atraktan sehingga dapat mempengaruhi perilaku serangga, mengurangi nafsu

makan, menghambat pertumbuhan, menurunkan keperidian dan menyebabkan

kemandulan, serta pengaruh langsung sebagai racun bagi serangga (Andayani dan

Utomo, 1997 : 259 ; Martono, 1997 : 296).

Beberapa contoh tumbuhan yang berpotensi sebagai pestisida nabati

seperti : Mimba (Azadirachta indica), Mindi (Melia azedarch), Sirsak (Annona

muricata L.), Srikaya (Annona squamosa L.), Serai (Andropogon nardus L.),

Babadotan (Ageratum conyzoides L.).

Berikut ini gambar beberapa tanaman yang berpotensi sebagai pestisida

nabati.

75
(A) (B)
Gambar 5.2. (A) Tanaman Sirsak dan Srikaya , (B) Tanaman Babadotan yang berpotensi
sebagai pestisida nabati (Sumber : Kardinan, A. 2004 )

Proses Pembuatan Pestisida Nabati

Proses pembuatan pestisida nabati sederhana dengan pelarut air meliputi

beberapa tahapan yaitu :

1. Pengumpulan bahan berupa bunga, buah, biji, daun, kulit atau

akar tanaman

2. Pemilihan dan pembersihan/pencucian bahan dari kotoran

3. Bahan berupa bahan segar/basah atau bahan yang telah

dikeringkan

4. Bahan dapat dihancurkan melalui blender/ditumbuk

5. Perendaman bahan dalam air dilakukan selama 1-2 hari dengan komposisi

perbandingan antara bahan tumbuhan dan pelarut (air), untuk setiap

tumbuhan berbeda (misalnya untuk, Mimba adalah 1kg bahan : 2 liter air

atau 2 genggam biji ditumbuk : 1 liter air; Srikaya yaitu 20 butir biji tua : 1

liter air;

6. Setelah perendaman maka dilakukan penyaringan menggunakan kain saring

76
7. Hasil penyaringan akan didapatkan ekstrak tanaman berupa larutan

8. Larutan hasil penyaringan sebelum diaplikasi dapat dicampur

dengan detergen/sabun, dengan dosis 1 gram sabun/liter larutan pestisida.

Metode Aplikasi Pestisida Nabati

Aplikasi pestisida di lapangan harus dilaksanakan beberapa kali aplikasi

dengan interval waktu tertentu, hal ini karena daya kerja senyawa bioaktif

memerlukan waktu dalam proses pengendalian. Cara aplikasi dapat dilakukan

dengan menabur, disemprotkan atau dioleskan, tergantung OPT sasarannya.

Apabila akan diaplikasikan dengan cara penaburan, bahan pestisida nabati harus

dalam bentuk serbuk, dan jika diaplikasikan dengan cara pengolesan atau

disemprotkan maka bahan pestisida nabati harus dalam bentuk cairan.

Kebutuhan Pestisida Nabati Untuk Pengendalian OPT

Kebutuhan pestisida nabati persatuan luas berbeda dengan kebutuhan

pestisida sintetis yang sudah dikemas dalam bentuk formulasi yang telah

dicantumkan kadar bahan aktif serta dosis persatuan luas. Pestisida nabati kadar

bahan aktifnya belum banyak diketahui sehingga sulit untuk menentukan dosis

persatuan luas.

Dasar yang dipakai dalam penentuan dosis penggunaan pestisida nabati

adalah menggunakan standar kadar bioaktif Azadirachtin tanaman Mimba yaitu

berkisar antara 7-10 gr/kg bahan (PAU-Hayati ITB, 1992).

- Cara aplikasi pestisida nabati dalam bentuk larutan

Untuk mengaplikasikan pestisida dalam bentuk larutan maka sebelumnya

harus dilakukan kalibrasi alat semprot. Hal ini ditujukan untuk memperoleh

pembagian pestisida yang merata pada bidang sasaran dengan dosis yang tepat

77
sehingga perlu dilakukan perhitungan kebutuhan larutan semprot dengan rumus

sederhana :

10.000 X V
Q=
W X S

diketahui misalnya :

(V) = Volume yang Keluar Dari Nozle = 4 Liter/Menit

(W) = Lebar Bidang Semprot = 2 Meter

(S) = Kecepatan Berjalan = 50 Meter/Menit

(Q) = Kebutuhan Larutan Semprot/ha = ?

maka kebutuhan larutan semprot/ha adalah :

10.000 X 4 40.000
Q= = = 400 liter/ha
2 X 50 100

Untuk konsentrasi larutan semprot dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut :

Volume Hasil Ekstraksi


Kebutuhan Larutan Semprot

Diketahui misalnya volume hasil ekstraksi adalah 12 liter, maka

konsentrasi larutan semprot adalah :

12 liter
= = 0,03 liter/liter = 30 cc/liter
400 liter

- Cara aplikasi pestisida nabati dalam bentuk serbuk

Untuk menentukan dosis/pohon dalam bentuk serbuk dapat dihitung

dengan rumus sederhana :

78
Jumlah Serbuk
Jumlah Populasi Tanaman

Diketahui misalnya untuk mengendalikan penyakit Fusarium pada

tanaman panili maka diperlukan 10 kg serbuk daun cengkeh/ha, dengan jumlah

populasi tanaman panili 1000 pohon/ha maka dosis perpohon adalah :

10 kg
= = 0,01 kg/pohon = 10 gr/pohon
1000 pohon
Beberapa Contoh Tanaman yang Berpotensi Sebagai Pestisida Nabati

1. Mimba (Azadirachta indica)

Biji Mimba dikupas dan diparut kemudian dibungkus dengan kain lalu
direndam dalam air selama satu malam dengan perbandingan 25-50 gr/liter air.
Hasil rendaman siap digunakan, untuk menghindari hilangnya potensi maka
waktu aplikasi sebaiknya pada malam hari. Pestisida nabati ini efektif untuk
mengendalikan lebih dari 100 jenis hama serangga diantaranya adalah tungau,
nematoda, ulat penggerek batang, ulat tanah, ulat gerayak, belalang, kutu dan lain-
lain (Andayani dan Utomo, 1997 : 260 ; Schmutterer, 1995 : 367).
2. Pepaya (Carica papaya)
Ambil 1 kg daun pepaya segar dirajang/diiris-iris dan direndam dalam 10
liter air, tambahkan 2 sendok minyak tanah dan larutan sabun 30 gram. Biarkan
selama semalam setelah itu disaring. Hasil rendaman siap digunakan untuk
mengendalikan berbagai jenis serangga hama.
3. Srikaya (Annona squamosa L.)
Siapkan biji yang sudah tua secukupnya (20 biji) kemudian ditumbuk
sampai menjadi halus lalu dicampur dengan air 1 liter dan tambahkan larutan
sabun secukupnya. Pestisida ini efektif untuk membunuh hama Aphid, semut,
ulat.

79
Untuk mengendalikan hama gudang diperlukan tepung biji srikaya
secukupnya lalu dicampurkan pada biji kacang hijau yang akan disimpan ternyata
hal ini dapat mengendalikan hama gudang Callosobruchus analis dan dapat
menghambat proses peletakan telur serangga hama pada biji kacang hijau
(Kardinan, 2004).
4. Babadotan (Ageratum conyzoides L.)
Tanaman ini daunnya dapat digunakan sebagai insektisida nabati, caranya
ambil daun secukupnya lalu dihaluskan/ditumbuk kemudian dicampur air dengan
perbandingan sesuai kebutuhan. Insektisida ini efektif untuk menghambat
pertumbuhan larva menjadi pupa (Kardinan, 2004).
- Latihan

Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka

kerjakanlah soal-soal di bawah ini :

1. Sebutkan model-model pengendalian OPT

2. Jelaskan kelebihan pengendalian dengan cara bercocok

tanam (kultur teknis)

3. Uraikan dengan singkat pengertian konsentrasi dan dosis

- Kunci Jawaban

1. Model-model pengendalian yaitu : 1) cara fisik dan mekanik; 2) kultur

teknis (bercocok tanam); 3) biologi/hayati ; dan 4) kimiawi (sintetik dan

nabati)

2. Pengendalian secara bercocok tanam memiliki kelebihan yaitu

penerapannya dimulai sejak persiapan tanam sebagai bentuk preventif

80
mencegah munculnya serangan OPT, sehingga jika terjadi kenaikan populasi

hama segera dapat diantisipasi.

3. Konsentrasi pestisida terbagi atas 3 (tiga) yaitu : 1) konsentrasi formulasi,

yaitu banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram pestisida per liter air

yang dicampurkan ; 2) konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif

pestisida yang terdapat di dalam larutan jadi (sudah dicampur air); 3)

konsentrasi larutan, yaitu persentase kandungan pestisida yang terdapat

dalam larutan jadi. Sedangkan dosis yaitu : 1) jumlah pestisida (cc, liter atau

gram, kg) yang digunakan untuk mengendalikan OPT persatun luas tertentu

atau per pohon yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih ; 2) jumlah

pestisida yang telah dicampur atau diencerkan terlebih dahulu dengan air dan

digunakan untuk menyemprot pertanaman yang diserang OPT dengan luas

tertentu dalam satu kali aplikasi ; 3) jumlah bahan aktif pestisida yang

dibutuhkan untuk keperluan per satuan luas.

- Rangkuman

1. Pengendalian OPT dengan cara bercocok tanam bertujuan untuk mengelola

lingkungan tanaman sedemikian rupa sehingga menjadi tidak cocok untuk

berkembangnya OPT dan mendorong berfungsinya musuh alami (Natural

enemies) secara efektif. Pengendalian secara bercocok tanam merupakan

usaha pengendalian yang bersifat preventif yang dilakukan sebelum serangan

OPT terjadi, populasi hama diharapkan tidak melawati aras ambang ekonomi.

2. Pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan

musuh alami untuk mengendalikan OPT. Musuh alami terdiri atas predator,

81
parasitoid dan patogen sebagai pengatur dan pengendali populasi OPT yang

efektif karena sifat pengaturannya yang tergantung kepadatan. Artinya

peningkatan populasi OPT akan diikuti oleh peningkatan predator hal ini

terlihat dari meningkatnya daya makan setiap predator.

3. Pengendalian secara fisik adalah tindakan pengendalian hama dengan

menggunakan faktor fisik seperti menaikkan suhu dengan cara pembakaran,

menurunkan suhu dengan penggenangan, solarisasi tanah, lampu perangkap,

pengaturan cahaya dan suara. Sedangkan pengendalian secara mekanik

adalah tindakan mematikan hama yaitu (telur, larva, nimfa, pupa dan imago)

secara langsung apabila ditemukan di tanaman atau disekitar pertanaman

dengan menggunakan tangan atau alat tertentu.

4. Pengendalian kimiawi adalah pengendalian OPT dengan menggunakan

pestisida. Pestisida terbagi atas dua pestisida organik alami yaitu terbuat dari

tanaman (insektisida nabati) dan pestisida organik sintetik yaitu merupakan

hasil buatan pabrik melalui proses sintetis kimiawi. Pestisida kimia yang

dipasarkan umumnya sudah dalam bentuk formulasi yaitu campuran bahan

aktif teknis, sinergis (bahan penguat yang tidak bersifat racun tetapi apabila

dicampurkan ke bahan aktif akan menambah toksisitas insektisida) dan bahan

pembantu/ajuvan (berfungsi meningkatkan daya larut/solvent, sebagai

pembawa/diluent dan penyelimut, menambah daya lekat/stiker, meningkatkan

daya sebar dan pembasahan pada permukaan/ surfaktan, dan memberikan bau

harum/deodoran.

5.3. Penutup

82
a. Tes formatif

1. Jelaskan salah satu contoh pengendalian fisik dan mekanik

2. Sebutkan masing-masing 2 (dua) contoh agen pengendali hayati (patogen,

predator dan parasitoid).

3. Sebut dan jelaskan pembagian pestisida kimia.

4. Jelaskan pengaruh negatif pestisida kimia sintetik.

5. Jelaskan perhitungan kebutuhan pestisida nabati untuk mengendalikan

OPT pada lahan seluas 1 hektar.

b. Umpan balik dan tindak lanjut

- Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

4. Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi tersebut dibahas

dalam diskusi maupun praktek

5. Aktif dalam diskusi dan praktikum

6. Mengerjakan latihan dan tugas

- Tindak lanjut

Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka

mahasiswa tersebut dapat melanjutkanke bab selanjutnya sebab pengetahuan

konsep perlindungan tanaman merupakan dasar untuk bab selanjutnya.

Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan

untuk :

83
1. Mempelajari kembali materi di atas.

2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum dikuasai.

3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tiudak jelas dalam diskusi.

c. Jawaban tes formatif

1. Contoh pengendalian dengan menggunakan cara fisik yaitu melakukan

solarisasi Tanah, adalah suatu cara mensterilkan tanah dari OPT

(mikroorganisme tanah penyebab penyakit layu pada tanaman) dengan

menggunakan plastik transparan sebagai mulsa penutup tanah pada saat

sebelum tanam. Sedangkan cara mekanik seperti pengambilan dengan tangan,

cara ini murah dan sederhana tetapi memerlukan tenaga kerja yang banyak.

OPT yang ditemukan seperti telur, larva, pupa, jika memungkinkan imago

dikumpulkan dengan tangan lalu langsung dibunuh.

2. Agen pengendali hayati patogen (Jamur Metarhizium sp. dan Beauveria

bassiana patogen pada coleoptera ); predator (Andrallus spinidens predator

larva dan Lycosa pseudoannulata laba-laba pemburu); dan parasiotid

(Tetrastichus shcoenobii parasiotid telur penggerek batang padi dan

Poecilotraphera sp. parasitoid ulat dan pupa penggerek batang padi).

3. Pestisida kimia terbagi atas dua yaitu pestisida organik alami terbuat dari

tanaman (insektisida nabati) dan pestisida organik sintetik merupakan hasil

buatan pabrik melalui proses sintetis kimiawi.

4. Akibat pemaparan pestisida kimia sintetik secara terus menerus dengan cara

tidak bijaksana telah berakibat kerusakan lingkungan biotik dan abiotik,

84
munculnya resistensi hama, resurjensi hama, peletusan hama kedua, selain itu

adanya pencemaran perairan oleh residu pestisida.

5. Perhitungan kebutuhan pestisida nabati untuk lahan seluas 1 hektar adalah

10.000 X V
Q=
W X S

diketahui misalnya :

(V) = Volume Yang Keluar Dari Nozle = 4 liter/menit

(W) = Lebar Bidang Semprot = 2 meter

(S) = Kepatan Berjalan = 50 meter/menit

(Q) = Kebutuhan Larutan Semprot/ha = ?

maka kebutuhan larutan semprot/ha adalah :

10.000 X 4 40.000
Q= = = 400 liter/ha
2 X 50 100

5.4. Daftar Pustaka

Andayani, I. N. dan Utomo, A. N. 1997. Pestisida Alami dan


Peluang Penggunaannya dalam Pembangunan yang Berwawasan
Lingkungan. Kongres Entomologi IV. Yogyakarta, 23-30 Januari 1992.
259-274 pp.

85
Anonim, 2002. Pestisida Untuk Pertanian Dan Kehutanan. Direktorat Pupuk Dan
Pestisida. Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian Departemen
Pertanian, Jakarta. 375p.

Anonim, 2002. Peraturan-Peraturan Tentang Pestisida. Direktorat Pupuk dan


Pestisida Departemen . Koperasi Pegawai Negeri Ditjen BSP. 189p.

Buchori, D., dan Sahari, B., 2000. Keanekaragaman Serangga danb


Pengendalian Hayati. Antara Pertanian dan Konservasi Alam. Prosiding
Simposium Keanekaragaman Hayati Artropoda pada Sistem Produksi
Pertanian. PEI dan KEHATI. Cipayung Bogor. 127-132 pp.

Dien, M.F., 1994. Pengaruh Insektisida Racun Saraf Terhadap Perilaku


Serangga. Tugas Mata Kuliah Masalah Khusus Hama. Program Studi
Ilmu Hama Tumbuhan. Program Pasca Sarjana. Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. 31p.

Herlinda, S., Kandowangko, D.S., Winasa, IW., dan Rauf, A., 2000. Fauna
Artropoda Penghuni Habitat Pinggiran di Ekosistem Persawahan.
Prosiding Simposium Keanekaragaman Hayati Artropoda pada Sistem
Produksi Pertanian. PEI dan KEHATI. Cipayung Bogor. 163-174 pp.

Kardinan, A. 2004. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya.


Jakarta. 88 p.

Laba, I.W., Djatnika, K., dan Arifin, M., 2000. Analisis Keanekaragaman Hayati
Musuh Alami pada Ekosistem Padi Sawah. Prosiding Simposium
Keanekaragaman Hayati Artropoda pada Sistem Produksi Pertanian. PEI
dan KEHATI. Cipayung Bogor. 207-216 pp.

Lihawa, Mohamad, 1994. Pengaruh Periode Solarisasi Tanah Terhadap


Serangan Jamur Fusarium oxysporum Schlect Penyebab Penyakti Layu
Pada Tanaman Tomat. Skripsi. FAPERTA UNSRAT Manado. 37 p.

Martono, E., et. al., 1993. Kajian Insektisida Karbofuran dalam Ekosistem Padi
Sawah. Komisi Penelitian Dan Pengembangan Pengendalian Hama
Terpadu. Program nasional Pengendalian Hama Terpadu. BAPPENAS.
77p.

------------, 1997. Toksikologi Insektisida. Buku Ajar. Program Studi Ilmu Hama
Tumbuhan Bidang Ilmu Pertanian . Program Pasca Sarjana Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta. 73p.

------------, 2001. Pemahaman Pengetahuan Pestisida, Anasir Pertanian


Terlanjutkan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas
Pertanian. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 38p.

86
Mahrub, E., and Pollet A., 1996. Spesific Effects Of Carbofuran On Rice
Agroecosystems In Yogyakarta Plant Growth And Rice Stem Borer
Populations. Faculty Of Agriculture Gadjah Mada University. French
Institute For The Development Through Cooperation (ORSTOM). Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia, Vo. 2: 13-26. 1996. 11p 26p.

Mariyono, J., 2002. Hubungan Antara Serangan Hama Dan Penggunaan :


Pendekatan Analisis Ekonomet6rik Pada Padi Sawah Dan Kedelai.
Fakultas Pertanian Universitas Gunung Kidul, Yogyakarta. Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia, Vol. 8. No. 1, 2002: 54-62p.

Matsumura, F., 1975. Toxicology of Insecticides. Departemen of Entomology


University of Wisconsin-Madison. Madison, Wisconsin. Plenum Press.
New York and London. 503p.

Minarni, E.W., 2002. Pengaruh Insektisida Karbofuran dan BPC Terhadap


Peranan Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi Kuning. Tesis Program
Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 69p.

Natawigena, H., 1989.Pestisida dan Kegunaannya.Penerbit CV. Armico.


Bandung. 59 p.

Pedigo, L. P. 1996. Entomology and Pest Management. 2 nd Ed. Prentice Hall


Upper Saddle River, NJ 07458. 679 p.

Schmutterer, H. 1995. The Neem Tree. Source of Unique Natural Products


for Integrated Pest management, Medicine, Industry and Other Purposes.
696 p.

Shepard, B.M., et.al., 1989. Serangga-Serangga, Laba-Laba dan Patogen yang


Membantu. Lembaga Penelitian Padi Internasional. (International Rice
Research Institute). 127 p.

Sosromarsono, Sumartono dan Purnama Hidayat, 2002. Diktat Pengantar


Entomologi. Jurusdan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor.

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan


Berkelanjutan. Kanisius. 218 p.

Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi. Kajian Ekologi Kuantitatif.


Pustaka Sinar Harapan dan Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta.

Untung, K, 2003. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.

87
Wigenasantana, M., S., dkk., 2001. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka.

5.5. Senarai

Sintetik = Bahan buatan.

Pupa = Tahap antara larva dan dewasa (stadia serangga yang mengalami

metamorfosa sempurna) serangga dalam kondisi istirahat

BAB VI

STRATEGI PENGELOLAAN HAMA TERPADU

6.1. Pendahuluan

88
Deskripsi Singkat

Bab ini akan menguraikan Strategi Pengelolaan Hama Terpadu, Penerapan

PHT dan Evaluasi PHT di Tingkat Petani.

Relevansi

Bab ini berisi materi yang sangat erat hubungannya dengan bab

sebelumnya.

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian

semester III dapat : Menguasai Strategi dan Evaluasi Pengelolaan Hama Terpadu

(PHT) serta mampu menerapkannya dengan tepat.

6.2. Penyajian

Uraian dan Contoh

Strategi Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)

Sejak hama menjadi masalah maka manusia berusaha untuk menurunkan

populasinya agar tidak mendatangkan kerugian bagi pertanaman yang diusahakan.

Berbagai macam cara telah dilakukan namun keberhasilannya tidak begitu

maksimal karena setelah ditinjau kembali cara tersebut ternyata petani hanya

melakukan satu cara atau satu teknik pengendalian.

Berdasarkan hal tersebut maka dipikirkan untuk memadukan beberapa

cara/teknik pengendalian melalui pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).

OPT dianggap bukan sebagai musuh tetapi sebagai komponen penyusun

agroekosistem yang perlu dikelola sehingga keberadaanya tidak begitu merugikan

tanaman budidaya. Pendekatan yang ditawarkan adalah melalui strategi PHT.

89
Beberapa Strategi Penerapan PHT

Untung (2003 : 242) dan Wigenasantana (2001 : 201) menyatakan strategi

Penerapan dan Pengembangan PHT pada suatu daerah untuk suatu jenis tanaman

tertentu ada 3 program yang harus dikembangkan yaitu :

1. Teknologi PHT, yaitu teknik yang diterapkan untuk mengelola agroekosistem

dengan memperhatikan berbagai kendala yang ada di ekosistem dan sistem

sosial setempat, dan sistem informasi sangat diperlukan untuk menentukan

pengambilan keputusan. Teknologi PHT yang diterapkan harus bersifat; a)

sedapat mungkin merupakan teknologi lunak yang sedikit efek sampingnya

bagi manusia, lingkungan dan OPT; b) memanfaatkan dan mendorong

berfungsinya proses pengendali alami ; c) perpaduan optimal berbagai teknik

pengendalian ; d) mudah dimengerti dan mampu dilaksanakan oleh petani

yang memiliki sumber daya terbatas ; e) fleksibel dan menampung inovasi dan

variasi sesuai dengan keadaan ekosistem yang dikelola dan masyarakat

setempat.

Keberhasilan penerapan teknologi PHT sangat ditentukan oleh perilaku petani

untuk mau menerima teknologi tersebut, untuk itu perlu adanya penyuluhan

kepada petani yang didukung dengan contoh yang dapat dilihat oleh petani

merupakan salah satu bentuk agar teknologi tersebut dapat diterima petani.

2. Jaringan Informasi, dalam sistem PHT jaringan informasi harus

direncanakan dan disusun dengan cermat sehingga hubungan informasi antara

para pelaksana PHT dapat berjalan dengan lancar, cepat dan efisien sehingga

90
tindakan pengendalian yang dilakukan selalu tepat dengan keadaan dan

keperluan lapangan.

Jaringan informasi akan terbentuk apabila kegiatan anggota kelompok tani

yang ada aktif, setiap permasalahan yang ditemukan segera dibahas bersama-

sama dengan melibatkan petugas pengamat hama setempat sehingga

permasalahan tersebut dapat segera terpecahkan.

3. Proses Pengambilan Keputusan, harus berdasarkan pada informasi yang

lengkap dan dapat dipercaya. Pengambilan keputusan dilakukan sejak

perencanan dan persiapan tanam, penanaman, panen selama satu musim

tanam. Informasi yang salah akan menyebabkan pengendalian yang dilakukan

tidak akan efektif dan efisien, sehingga keuntungan yang diharapkan secara

ekonomi telah berbalik menjadi kerugian.

Menurut Norton (1976) cit. Untung (2003 : 247) bahwa; ada beberapa

faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan petani dalam

pengendalian OPT yaitu : a) tujuan petani ; b) ketersediaan tenaga, modal dan

tanah ; c) kedalaman pengertian petani tentang serangan OPT dan kerusakan yang

diakibatkan; dan d) kisaran serta efektifitas metode pengendalian yang tersedia

dan langsung dapat digunakan oleh petani.

Strategi PHT dalam penerapannya adalah menekankan pada pengendalian

yang berjalan secara alami dan mengurangi sekecil mungkin intervensi manusia

dalam bentuk penggunaan pestisida secara tidak bijaksana terutama pestisida yang

berspektrum lebar. Penggunaan pestisida organik sintetik merupakan cara

pengendalian terakhir apabila sudah tidak ada cara pengendalian lain yang efektif.

91
Evaluasi Penerapan PHT Di Tingkat Petani

Evaluasi PHT adalah suatu kegiatan untuk melihat penerapan PHT oleh

petani di lapangan. Hal ini meliputi kegiatan dari sejak perencanaan, pelaksanaan

penanaman, pemeliharaan, pemanenan. Petani yang telah mengikuti SLPHT tentu

sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan yang cukup sehingga memiliki

wawasan tentang bagaimana pengelolaan agroekosistem dan komponen-

komponen penyusunnya melalui kegiatan pengamatan. Hasil pengamatan akan

menjadi dasar pengambilan keputusan pengendalian OPT.

Biasanya petani dalam menetapkan keputusan pengendalian masih

menggunakan intuisi dan pengalamannya, tetapi karena mereka telah mengikuti

SLPHT maka pengetahuan dan keterampilannya semakin bertambah sehingga

keputusan yang diambil akan mantap dan lebih pasti (Untung, 2003 : 249).

Petani diprovinsi Gorontalo umumnya sudah memahami PHT, karena

sebagian besar sudah pernah mengikuti program SLPHT, tetapi apakah mereka

sudah sepenuhnya menerapkan PHT pada sistem pertanian mereka, ini menjadi

suatu persoalan bagi kita untuk melihat dan mengevaluasi.

Hasil evaluasi diharapkan akan menjadi bahan pelajaran bagi kita,

mahsiswa dan sebagai bahan masukan untuk komponen-komponen terkait dalam

pengambilan kebijakan.

Berikut ini Gambar dari beberapa kegiatan mahasiswa di lapangan.

92
Gambar 6.1. Kegiatan Pengamatan OPT Oleh Mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian
UNG Yang Didampingi Oleh Para Dosen. Sumber : Koleksi Pribadi (2006).

- Latihan

Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka

kerjakanlah soal-soal di bawah ini :

1. Jelaskan pengertian pengelolaan hama terpadu (PHT)

2. Sebutkan 3 program yang harus dikembangkan pada penerapan PHT

3. Uraikan dengan singkat pentingnya informasi pada sistem PHT

- Kunci Jawaban

1. Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) adalah suatu usaha untuk mengelola

OPT dan kompleks ekosistem yang ada sehingga tidak terjadi lonjakan

populasi OPT mendekati aras luka ekonomi melalui pendekatan memadukan

model-model pengendalian yang cocok dan serasi dengan dilandasi prinsip

ekologis.

2. Ada 3 (tiga) program yang harus dikembangkan pada penerapan PHT

adalah: 1) teknologi PHT ; 2) jaringan informasi ; dan 3) proses pengambilan

keputusan.

3. Jaringan informasi dalam penerapan PHT sangat penting untuk

menentukan keputusan pengendalian. Apabila informasi salah akan

93
menyebabkan pengendalian yang dilakukan tidak akan efektif dan efisien,

sehingga keuntungan yang diharapkan secara ekonomi telah berbalik menjadi

kerugian.

- Rangkuman

1. Organisme Pengganggu Tanaman dianggap bukan sebagai musuh tetapi

sebagai salah satu komponen penyusun agroekosistem yang perlu dikelola

sehingga keberadaanya tidak begitu merugikan tanaman budidaya.

2. Teknologi PHT yang diterapkan harus bersifat ; a) sedapat mungkin

merupakan teknologi lunak yang sedikit efek sampingnya bagi manusia,

lingkungan dan OPT; b) memanfaatkan dan mendorong berfungsinya proses

pengendali alami ; c) perpaduan optimal berbagai teknik pengendalian ; d)

mudah dimengerti dan mampu dilaksanakan oleh petani yang memiliki

sumber daya terbatas ; e) fleksibel dan menampung inovasi dan variasi sesuai

dengan keadaan ekosistem yang dikelola dan masyarakat setempat.

3. Jaringan informasi dalam sistem PHT harus direncanakan dan disusun dengan

cermat sehingga hubungan informasi antara para pelaksana PHT dapat

berjalan dengan lancar, cepat dan efisien sehingga tindakan pengendalian yang

dilakukan selalu tepat dengan keadaan dan keperluan lapangan.

5. Proses Pengambilan Keputusan harus berdasarkan pada informasi yang

lengkap dan dapat dipercaya. Pengambilan keputusan dilakukan sejak

perencanan dan persiapan tanam, penanaman, panen selama satu musim

tanam.

94
6. Evaluasi PHT adalah suatu kegiatan untuk melihat penerapan PHT oleh

petani di lapangan. Hal ini meliputi kegiatan dari sejak perencanaan,

pelaksanaan penanaman, pemeliharaan, pemanenan. Petani yang telah

mengikuti SLPHT tentu sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan yang

cukup sehingga memiliki wawasan tentang bagaimana pengelolaan

agroekosistem dan komponen-komponen penyusunnya melalui kegiatan

pengamatan.

6.3. Penutup

a. Tes formatif

1. Jelaskan apabila informasi yang diberikan salah apa akibatnya .

2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan oleh

petani dalam pengendalian OPT.

3. Uraikan dengan singkat strategi PHT.

4. Jelaskan fungsi evaluasi PHT ditingkat petani.

b. Umpan balik dan tindak lanjut

- Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal

sebagai berikut :

a. Membuat ringkasan materi pada setiap bab sebelum materi

tersebut dibahas dalam diskusi maupun praktikum

b. Aktif dalam dsikusi dan praktikum

c. Mengerjakan latihan dan tugas

- Tindak lanjut

95
Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% tes formatif di atas, maka

mahasiswa tersebut dapat melanjutkanke bab selanjutnya sebab pengetahuan

konsep perlindungan tanaman merupakan dasar untuk bab selanjutnya.

Jika ada diantara mereka belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan

untuk :

1. Mempelajari kembali materi di atas.

2. Berdiskusi dengan teman terutama tentang hal-hal yang belum dikuasai.

3. Bertanya kepada dosen jika ada hal-hal yang tiudak jelas dalam diskusi.

c. Jawaban tes formatif

1. Informasi yang salah akan menyebabkan pengendalian yang dilakukan tidak

akan berhasil sesuai harapan sebaliknya hanya kerugian biaya dan tenaga.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan petani


dalam pengendalian OPT yaitu : a) tujuan petani ; b) ketersediaan tenaga,
modal dan tanah ; c) kedalaman pengertian petani tentang serangan OPT dan
kerusakan yang diakibatkan; dan d) kisaran dan efektifitas metode
pengendalian yang tersedia dan langsung dapat digunakan oleh petani.
3. Strategi PHT dalam penerapannya adalah menekankan pada pengendalian
yang berjalan secara alami dan mengurangi sekecil mungkin intervensi
manusia dalam bentuk penggunaan pestisida secara tidak bijaksana terutama
pestisida yang berspektrum lebar. Penggunaan pestisida organik sintetik
merupakan cara pengendalian terakhir apabila sudah tidak ada cara
pengendalian lain yang efektif.
4. Evaluasi PHT berfungsi untuk melihat penerapan PHT oleh petani di
lapangan. Hal ini meliputi kegiatan dari sejak perencanaan, pelaksanaan
penanaman, pemeliharaan, pemanenan. Petani yang telah mengikuti SLPHT
tentu sudah dibekali pengetahuan dan keterampilan yang cukup sehingga

96
memiliki wawasan tentang bagaimana pengelolaan agroekosistem dan
komponen-komponen penyusunnya melalui kegiatan pengamatan.

6.4. Daftar Pustaka

Untung, K, 2003. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada


University Press. Yogyakarta.

Wigenasantana, M., S., dkk., 2001. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Pusat


Penerbitan Universitas Terbuka.

6.5. Senarai
SLPHT = Sekolah Lapang Pengamatan Hama Tanaman.

97