Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PRODUKSI KAMBING DAN KERBAU PERAH


BANGSA BANGSA KAMBING PERAH DAN PERSILANGAN
KAMBING PERAH DI INDONESIA

Di susun oleh :
Kelompok 1
Kelas A

Wahidiyat Suyudi 200110140193


Yulystira 200110140252
Denela Nisa Anggunia 200110140256

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017

KATA PENGANTAR
2

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunian-Nya kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan makalah ini dengan tema bangsa-bangsa kambing perah. Makalah

ini berisikan tentang bangsa-bangsa kambing yang di pergunakan untuk produksi

susu.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas yang di

berikan dosen. Tujuan intruksional umum dari makalah ini yaitu agar mahasiswa

mampu membuat makalah dengan sempurna dan dapat mengetahui lebih dalam

tentang topik yang di bahas pada kali ini.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

pembimbing yang telah membimbing dalam perkuliahan, begitu juga kepada

teman-teman yang telah menyumbangkan pemikirannya demi kesempurnaan

makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini tentu saja tidak terlepas dari kesalahan-

kesalahan atau kekhilafan-kekhilafan, untuk itu penulis menerima kritikan

sekiranya kritikan tersebut dapat menyempurnakan makalah ini. Akhir kata

penulis berharap agar makalah ini bermanfaat dan dapat meningkatkan

pengetahuan bagi yang membacanya.

Sumedang, Maret 2017

Penulis

DAFTAR ISI

2
3

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii


DAFTAR GAMBAR iv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Identifikasi Masalah 2
1.3. Tujuan 2
BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN 3
2.1. Bangsa - bangsa kambing 3
2.2. Bangsa bangsa kambing persilangan 9
BAB III KESIMPULAN 13
DAFTAR PUSTAKA 14

DAFTAR GAMBAR

3
4

GAMBAR HALAMAN
1. Kambing Saanen 3
2. Kambing Toggenburg 4
3. Kambing Nubian 5
4. Kambing Ettawa 5
5. Kamabing Alpine 6
6. Kambing Damaskus 7
7. Kambing Beetal 8
8. Kambing Barbari 9
9. Kambing Anglo Nubian 10
10. Kambing PE Jawarandu 11
11. Kambing PE Kaligesing 11
12. Kambing Sapera 12

4
5

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kambing perah merupakan komoditas ternak yang banyak dikembangkan

di berbagai negara. Salah satu benua yang memiliki komoditas kambing perah

terbesar adalah asia dan afrika. Bangsa kambing perah menghasilkan produksi

susu yang berbeda-beda. Banyak manfaat dan keuntungan yang diambil dari

ternak kambing perah baik dari segi produksi yang menghasilkan susu untuk

kesehatan manusia maupun pendapatan peternak karena harga kambing dan susu

yang mahal. Beberapa alasan kambing perah sebagai alat untuk mengentaskan

kemiskinan adalah merupakan komoditi yang fleksibel didalam pengelolaan

karena tidak memerlukan lahan luas, modal relative lebih kecil, dapat dipelihara

oleh kalangan ekonomi rendah, dapat menghasilkan air susu yang setiap hari

dengan harga cukup tinggi dibandingkan susu sapi, gizi yang terdapat didalam air

susu kambing dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit dan mengatasi

malnutrisi pada anak-anak.

Produksi susu kambing perah memberikan kontribusi sebesar 2,2 % dari

total produksi susu sedunia (Seifert, J, 2012). Populasi kambing perah di Negara

berkembang, kurang lebih 921 juta atau lebih 90 % dari populasi dunia dan

60%nya terdapat di Asia, demikian pula breed terbanyak dijumpai di Asia (FAO,

2010 dalam Makkar, 2012). Didalam pemeliharaannya kambing perah paling

banyak dijumpai dalam lokasi lahan sempit dengan kandang tipe panggung

sehingga sangat diperlukan pemilihan bahan pakan berkualitas dengan suplemen

dan tambahan bahan pakan lain untuk mencukupi kebutuhan mineral khususnya.

5
6

1.2 Identifikasi Masalah

Apa saja bangsa bangsa kambing perah

Persilangan kambing perah apa saja yang ada di Indonesia

1.3 Tujuan

Mengetahui bangsa bangsa kambing perah

Mengetahui persilangan kambing perah di Indonesia

6
7

II

PEMBAHASAN

2.1 Bangsa- Bangsa Kambing

2.1.1 Kambing Saanen

Bangsa kambing ini berasal dari switzerland, tepatnya di Lembah Saanen.

Kambing Saanen merupakan kambing penghasil susu. Ciri khususnya diantaranya

adalah bermuka segitiga dan hidung yang lurus, telinga tegak kesamping dan

kedepan, memiliki bulu pendek berwarna putih atau krem, umumnya terdapat titik

hitam di daerah hidung, telinga dan ambing, ekor tipis dan pendek. Kambing

saanen memiliki tanduk baik kambing jantan maupun betina. Umumnya

mempunyai kapasitas ambing yang besar dan popular karena menurut Thomas

Saputro (2015) produksi susu di daerah asalnya rata-rata 3-4 liter per hari (dengan

kadar lemak 3-4%. Kambing saanen sangat sensitif dan performanya akan bagus

jika berada di lingkungan bersuhu dingin. Kambing saanen memiliki ciri Bobot

kambing jantan dewasa berkisar 68-91 kg sedangkan untuk betina sekitar 36-63

kg (Setiawan dan Mt Farm, 2011).

Gambar 1. Kambing Saanen


8

Kambing saanen lebih cocok dipelihara di daerah subtropis daripada di daerah

tropis. Kambing saanen sangat sensitif dan performanya akan bagus jika berada di

lingkungan bersuhu dingin. Kambing saanen sulit beradaptasi didaerah tropis

sehingga apabila dipelihara di derah tropis biasanya disilangkan dengan kambing

yang tahan pada daerah tropis seperti kambing kacang dan pemeliharaanya di

dalam kandang untuk menghindarkan kambing dari sengatan sinar matahari.

(Thomas Saputro, 2015).

2.1.2 Kambing Toggenburg

Bangsa kambing ini berasal dari switzerland, Lembah Toggenburg. Konon

kambing ini merupakan bangsa kambing perah tertua. Kambing ini adalah jenis

kambing kecil dengan badan pendek dan kompak. Kambing betina mempunyai

berat 45 kg saat dewasa kelamin. Kambing Togg berwarna coklat dibagian

badannya dengan warna putih di kaki bagian bawah, dasar ekor dan sisi wajah

bagian bawah. Kambing ini berambut panjang atau sedang berjenggot. Kepala

kambing Toggenburg mempunyai ukuran sedang dan garis profilnya sedikit

konkav (cekung). Telinganya berdiri dari mengarah kedepan (Prihadi,1997).

Kakinya berukuran pendek, telinga berdiri tegak, memiliki perkembangan ambing

yang istimewa, dan produksi susunya tinggi dengan kadar lemak sekitar 3,7%.

Kambing Toggenburg merupakan kambing penghasil susu yang baik

(Blakely,1991).

Gambar 2. Kambing Toggenburg


9

2.1.3 Kambing Nubian

Bangsa kambing Nubian berasal dari Afrika. Berbulu pendek, mengkilap

dan kebanyakan berwarna hitam dan coklat dengan telinga yang panjang dan jatuh

(terkulai). Kambing bersifat sangat lembut, produksi susunya lebih sedikit bila

dibandingkan dengan kambing yang berasal dari Swiss, tetapi persentase lemak

susu tinggi. Kambing betina mencapai dewasa kelamin pada saat beratnya kira-

kira 60 kg. kambing Nubian cenderung lebih banyak dagingnya dibandingkan

bangsa kambing perah lainnya (Blakely,1991).

Gambar 3. Kambing Nubian

2.1.4 Kambing Jamnapari (Ettawa)

Gambar 4. Kambing Ettawa

Bangsa kambing perah Ettawa atau Jamnapari merupakan kambing

popular dan tersebar luas sebagai kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara
10

dan di daerah-daerah lain. Kambing ini mempunyai telinga yang lebar dan

panjang serta menggantung. Kambing perah Ettawa merupakan kambing perah

yang baik dan juga sering digunakan sebagai produsen daging. Warna bulunya

bervariasi dengan warna dasarnya putih, coklat dan hitam. Telinga menggantung

dan panjangnya 30 cm. Ambing biasanya berkembang baik. Berat badannya

yang jantan 68-91 kg, sedang yang betina 36-63 kg. Produksi susu dapat mencapai

235 kg dalam periode laktasi 261 hari dan produksi susu tertinggi tercatat 569 kg.

Kadar lemak rata-rata 5,2% karkas kambing jantan dan betina umur 12 bulan

dapat mencapai 44-45% berat hidup (Blakely,1991).

2.1.5 Kambing Alpine

Kambing french alpine berasal dari pegunungan alpine yang dibawa ke

amerika serikat dari prancis. Bangsa kambing ini merupakan kambing tipe

medium sampai besar dengan bobot badan betina sekitar 65 kg dan pejantan 85

kg. Warna bulunya bervariasi, dari putih, cokelat, abu-abu, hitam dan merah atau

kombinasi. Telinga berdiri tegak dan sangat populer karena produksi susunya

tinggi, mampu menghasilkan susu 4,5 kg per hari, terutama dalam masa laktasi

kedua dan ketiga. Sesuai dengan pendapat Blakely (1991) kambing ini menonjol

kemampuan untuk menyusui anaknya karena mempunyai ambing yang besar dan

bentuknya bagus dengan puting yang ideal. Selain itu kambing ini dapat

beradaptasi dengan baik di daerah tropis yang beriklim kering.

Gambar 5. Kambing Alpine


11

2.1.6 Kambing Damaskus

Kambing bangsa ini merupakan kambing yang banyak dipelihara di Libang,

Syria,Cyprus. Kambing tersebut baik yang jantan maupun betina tidak bertanduk.,

warna pada umumnya merah, atau merah dan putih, profil muka konveks, daun

telinga panjang dan menggantung. Tinggi gumba 70-75 cm dan berat badan antara

40-60 kg. produksi susu 3-4 liter perhari dapat mencapai 6 liter, dengan jumlah

produksi 300-600 liter dalam 8 bulan. Kambing Damaskus lebih subur

dibandingkan dengan Saanen, dimana tiap kelahiran rata-rata 1,76 cempe

(Prihadi,1997).

Gambar 6. Kambing Damaskus


12

2.1.7 Kambing Beetal

Bangsa kambing ini banyak dijumpai di beberapa distrik di Punyab India,

Rawalpindi dan Lahore di Pakistan barat. Sepintas kambing ini seperti

Jamnampari, antara lain profil mukanya Roman Nose, telinga panjang tetapi jauh

lebih kecil dibandingkan telinga kambing Etawah (Prihadi,1997).

Gambar 7. Kambing Beetal

Kambing ini biasanya berwarna merah coklat dengan bercak atau belang-

belang putih. Tinggi gumba jantan dan betina adalah 89 dan 84 cm. kambing

betina dewasa mencapai berat hidup kira-kira 45 kg. rata-rata selama laktasi

kambing ini dapat menghasilkan susu 105 kg susu dalam waktu 224 hari, dan

beranak rata-rata setahun sekali dengan rata-rata anaknya tunggal atau twin

(kembar dua) (Prihadi,1997).

2.1.8 Kambing Barbari

Bangsa kambing Barbari banyak dijumpai di India bagian Pakistan barat.

Kambing ini mempunyai bulu-bulu yang pendek, umumnya berwarna putih

dengan bercak-bercak coklat. Tinggi gumba kambing jantan antara 66-76 cm dan

betina 60-71 cm. kambing betina dewasa berat hidupnya antara 27-36 kg.

Kambing ini biasanya digunakan untuk produksi susu dan ambingnya pada
13

umumnya berkembang dengan baik. Pernah tercatat produksi susu selama dalam

periode laktasi 235 hari mencapai 144 kg (Prihadi,1997). Bangsa kambing ini

telah dikembangkan di India karena produksi susu dan area tubuhnya relative

kecil, sedang produksi cukup banyak menyebabkan ternak ini dipandang sebagai

produsen susu yang ekonomis (Prihadi,1997).

Gambar 8. Kambing Barbari

2.2 Bangsa Bangsa Kambing Persilangan

2.2.1 Kambing Anglo Nubian

Bangsa kambing Anglo Nubian dikembangkan di Inggris, merupakan hasil

persilangan dari kambing perah dari Inggris dengan pejantan nubian dari Afrika

dan kambing jamnapari dari India. Di beberapa negara tropis, bangsa bangsa

kambing ini digunakan untuk program grading up untuk meningkatkan produksi

susu dan daging bangsa kambing lokal. Kambing anglo nubian merupakan

kambing dwi fungsi, selain menghasilkan produksi daging yang baik, juga

memiliki produksi susu tinggi. Karakteristik kambing ini yaitu mempunyai kaki

yang tinggi dengan kulit yang baik dan bulu mengkilap. Mempunyi telinga

panjang dan menggantung, profil mukanya konveks (cembung) yang biasanya

disebut Roman Nose. Jadi bentuk kepala kambing tersebut keseluruhan seperti
14

kepala unta dan biasanya tidak bertanduk. Warna bulu sangat bervariasi. Pada

puncak laktasi produksi susu mencapai 2-4 kg per hari dengan rata-rata 1-2 kg per

hari. Susu kambing Anglo Nubian mempunyai kadar lemak yang tinggi, rata-rata

5,6% (Prihadi,1997).

Gambar 9. Kambing Anglo Nubian

2.2.2 Kambing Peranakan Ettawa/ PE (Jawarandu)

3 Bangsa kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil kawin

tatar (grading-up) antara kambing kacang dengan kambing ettawa, sehingg

mempunyai sifat diantara tetuanya. Kambing PE merupakan kambing tipe

dwiguna yaitu dapat menghasilkan daging dan susu. Mulyono (2003)

menyatakan bahwa kambing PE lebih cocok diusahakan di dataran sedang

dengan ketinggian 500 700 m diatas permukaan laut sampai dataran

rendah yang panas dengan suhu 21-25oC. Keunggulan kambing PE

dibandingkan ternak lokal sejenis adalah kambing PE betina mampu

menghasilkan susu 1,2 liter/ekor/hari selama masa laktasi (Atabany, 2001).

Sarwono (2012) menyatakan bahwa kambing PE mempunyai ciri-ciri

antara kambing kacang dengan kambing Etawa, yaitu bagian hidung atas

melengkung, panjang telinga antara 15-30 cm menggantung kebawah,


15

sedikit kaku, warna bulu bervariasi antara hitam, putih, dan coklat.

Kambing jantan mempunyai bulu yang tebal dan agak panjang dibawah

leher dan pundak, sedangkan bulu kambing betina agak panjang terdapat

di bagian bawah ekor kearah garis kaki.

10 Gambar 10. Kambing PE Jawarandu

10.1.1 Kambing Peranakan Ettawa/PE Kaligesing

11 PE kaligesing merupakan hasil persilangan antara kambing

jamnapari atau etawa, yang masuk ke Indonesia dari India pada tahun

1930, dengan kambing lokal didaerah Kaligesing, Puworejo, Jawa tengah.

PE kaligesing kemudian ditetapkan sebagai kambing galur lokal Jawa

Tengah melalui surat keputusan Menteri pertanian RI

No.2591/Kpts/PD.400/7/2010. PE kaligesing mampu memproduksi susu

antara 0,5-3 liter per hari.

12

13

14

15

16

17
16

18

19 Gambar 11. Kambing PE Kaligesing

20 Dalam hal reproduksi , kambing ini memiliki kecenderungan

melahirkan anak kembar atau lebih dari satu. Angka kelahirannya tinggi,

bisa mencapai 85%. Kambing PE kaligesing mulai berahi sekitar umur 10

bulan. Lama kebuntingannya 149-154 hari atau 5 bulan. Kidding interval

atau jarak beranak sekitar 8 bulan. Kambing kaligesing mudah diternak

karena mudah beradaptasi dengan lingkungan dan tidak pilih-pilih pakan.

PE kaligesing memiliki ciri fisik antara lain postur tubuh besar, tegap, dan

kokoh. Warna bulunya merupakan kombinasi hitam dan putih, bagian

kepalanya tegak dengan muka cembung. Kambing ini memiliki tanduk

yang kecil melengkung kebelakang. Telinganya lebar, panjang,

menggantung, dan ujung nya melipat. Ekornya pendek dan mengarah ke

atas atau ke belakang. Kaki belakangnya berbulu lebat dan panjang.

20.1.1 Kambing Sapera

21 Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing saenen

dengan kambing PE. Nama sapera merupakan singkatan dari "saenen-

peranakan etawa". Seperti halnya PE, sapera juga bisa dibilang sebagai ras

kambing perah Indonesia karena pengembangannya dilakukan oleh anak

negeri ini. Kambing sapera memiliki postur tubuh mendekati kambing PE.

Hasil produksi susunya bisa mencapai 4-5 liter per hari. Namun, masih

sulit untuk menemukan bibit kambing ini karena upaya persilangannya

masih ditahap awal sehingga masih membutuhkan upaya dan waktu lebih

untuk mengembangkannya.

22
17

23

24
25
26
27
28
29
30 Gambar 12. Kambing Sapera

31 III

32 KESIMPULAN

33

1. Bangsa bangsa kambing perah meliputi : kambing Saanen, kambing

Toggenburg, kambing Nubian, kambing Jamnapari (Ettawa), kambing Alpine,

kambing Damaskus, kambing Beetal dan kambing Barbari.

2. Persilangan kambing perah yang ada di Indonesia yaitu kambing Anglo

Nubian, Kambing Peranakan Ettawa/ PE (Jawarandu), kambing Peranakan

Ettawa Kaligesing dan kambing Sapera.


34

35 DAFTAR PUSTAKA

36

37 Atabany, A. 2001. Studi Kasus Produktivitas Kambing PE dan Kambing

Saanen pada Peternakan Kambing Perah Barokah dan PT. Taurus Dairy

Farm. Tesis. Program Pasca Sarjana,IPB. Bogor.

38 Blakely, J and D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan, edisi ke- 4. Gadjah Mada

University Press. Jogjakarta.

39 Makkar, H. P. S.; Kumar, V.; Becker, K., 2012. Use of detoxified jatropha

kernel meal and protein isolate in diets of farm animals: chapter 21. In:

Makkar, H.P.S, Biofuel co-products as livestock feed - opportunities and

challenges, FAO.

40 Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan ke-5.

Penebar Swadaya. Jakarta.

41 Prihadi, S. 1997. Dasar Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM.

Yogjakarta.

42 Saputro, Thomas. 2015. Karakteristik Kambing Saanen.

www.ilmuternak.com. (Diakses : Sabtu, 04 Maret 2017 pukul 17.13 WIB).

43 Sarwono, B. 2012. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

44 Setiawan, B. S., dan MT Farm. 2011. Beternak kambing dan domba. Pt

Agromedia Pustaka. Jakarta.


45
46
47