Anda di halaman 1dari 107

BAHAN KULIAH HIDROLOGI

CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN


METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Ir. Dantje K. Natakusumah M.Sc, PhD

Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air


Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

APRIL 2014
BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

DAFTAR ISI

BAB 1 1-1
Pendahuluan 1-1
1.1 Pengertian hidrograf 1-1
1.2 Komponen Suatu Hidrograf 1-2
1.3 Kegunaan Hidrograf 1-3

BAB 2 2-1
LANDASAN TEORI 2-1
2.1 Definisi dan asumsi 2-1
2.1.1 Definisi 2-1
2.1.2 Asumsi 2-1
2.1.3 Hidrograf Satuan Terukur 2-2
2.1.4 Hidrograf Satuan Sintetis 2-3
2.1.5 Kurva Dan Konvolusi Unit Hidrograf 2-4
2.2 Perhitungan Debit Banjir Dengan Cara Hidrograf Satuan Sintetis 2-5

BAB 3 3-1
CARA SCS 3-1
3.1 Hidrograf Satuan Sintetis SCS 3-1
3.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis SCS Curvilinear Tak Berdimensi 3-1
3.1.2 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis SCS Curvilinear Tak Berdimensi 3-1
3.1.3 Contoh Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis SCS 3-4
3.1.4 Superposisi Hidrograf 3-7
3.1.5 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir 3-9

BAB 4 4-1
CARA NAKAYASU 4-1
4.1 Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu 4-1
4.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu Tak Berdimensi 4-1
4.1.2 Cara Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu 4-4
4.1.3 Superposisi Hidrograf 4-8
4.1.4 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir 4-8

BAB 5 5-1
CARA GAMA-1 5-1
5.1 Hidrograf Satuan Sintetik GAMA 1 5-1
5.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis GAMA-1 5-1
5.1.2 Parameter Morfometri DAS 5-3
5.1.3 Contoh Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis GAMA-1 5-5
5.1.4 Superposisi Hidrograf 5-9
5.1.5 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir 5-9

BAB 6 6-1
CARA ITB 6-1
6.1 Latar Belakang 6-1
6.2 Formulasi Umum Hidrograf Satuan Sintetis 6-3
6.2.1 Transformasi/Normalisasi Koordinat 6-4
6.2.2 Generalisasi ke bentuk yang kompleks 6-5
6.2.3 Rumus Umum Qp (Debit Puncak) dan Kp (Peak Rate Factor) 6-6
6.3 Hidrograf Satuan Sintetis ITB-1 dan ITB-2 6-7
6.3.1 Data karakteristik fisik DAS 6-7
6.3.2 Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb) 6-7

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB ii


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.3.3 Persamaan Bentuk Dasar Hidrograf Satuan 6-8


6.3.4 Debit Puncak dan Faktor Debit Puncak Hidrograf Satuan 6-9
6.3.5 Integrasi Kurva HSS 6-10
6.3.6 Kalibrasi Tp dan Qp 6-14
6.3.7 Pentingnya Harga Kp dan Qp Yang Dihitung Secara Eksak 6-15
6.4 Contoh penggunaan 6-17
6.4.1 Hidrograf Banjir Das Kecil Dihitung Dengan HSS SCS Curviliner dan HSS SCS Segitiga 6-
17
6.4.1.1 Perhitungan HSS SCS Curvilinear dan Segitiga dengan Cara ITB 6-19
6.4.1.2 Superposisi Hidrograf 6-26
6.4.1.3 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir 6-27
6.4.2 Hidrograf banjir DAS Katulampa dengan HSS ITB-1, HSS ITB-2 6-29
6.4.2.1 Perhitungan HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 6-29
6.4.2.2 Superposisi Hidrograf 6-37
6.4.2.3 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir 6-37
6.4.3 Kalibrasi Hasil HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 Dengan Data Debit Terukur 6-41
6.4.3.1 Data Untuk Kalibrasi 6-41
6.4.3.2 Proses Kalibrasi 6-42
6.4.3.3 Hasil Proses Kalibrasi 6-43

BAB 7 7-1
KESIMPULAN DAN CATATAN PENUTUP 7-1
7.1 KESIMPULAN 7-1
7.2 CATATAN PENUTUP 7-6
7.3 DAFTAR PUSTAKA 7-7
LAMPIRAN 1

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB iii


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1-1 : Bentuk Typikal Hidrograf Banjir 1-1


Gambar 1-2 : Komponen Dari Hidrograf 1-2
Gambar 2-1 : Prinsip hidrograf satuan (Bambang Triatmojo 2008). 2-2
Gambar 2-2 : Pemisahan hidrograf satuan dari hidrograf aliran 2-3
Gambar 2-3 : Beberapa bentuk hidrograf satuan sintetis 2-4
Gambar 2-4 : Contoh superposisi hidrograf 2-5
Gambar 3-1 : Bentuk dan kurva massa HSS SCS Curvilinear 3-2
Gambar 3-2 : Bentuk HSS SCS Curvilinear berdimensi 3-6
Gambar 3-3 : Bentuk hidrograf banjir hasil superposisi HSS SCS Curvilinear 3-9
Gambar 4-1. : Hidrograf Satuan Sintetis menurut Nakayasu 4-1
Gambar 4-2 : Bentuk HSS Nakayasu Tak berdimensi (empat segment kurva) 4-4
Gambar 4-3 : Bentuk HSS Nakayasu berdimensi 4-7
Gambar 4-4 : Bentuk Hidrograf Banjir Hasil Superposisi HSS Nakayas 4-8
Gambar 5-1 : Bentuk Hidrograf HSS Gama-1 (berdimensi) 5-1
Gambar 5-2 : Penetapan Tingkat-Tingkat Sungai Menurut Strahler 5-3
Gambar 5-3 : Pengertian Luas (A) Penentuan Luas Relatif DAS Hulu (RUA) 5-4
Gambar 5-4 : Penentuan Faktor Lebar DAS 5-4
Gambar 5-5 : Peta jaringan sungai DAS Ciliwung Hulu (Bejo Slamet 2006) 5-5
Gambar 5-6 : Bentuk Hidrograf HSS Gama-1 (berdimensi) 5-7
Gambar 5-7 : Bentuk Hidrograf Banjir Hasil Superposisi HSS GAMA-1 5-9
Gambar 6-1 : Kesetaraan Luas HSS-Segitiga dengan HSS-Segitiga Tak-Berdimensi 6-4
Gambar 6-2 : Kesetaraan volume HSS generik dengan HSS yang telah dinormalkan 6-5
Gambar 6-3 : Bentuk HSS ITB-1, ITB-2 dan HSS NRCS Tak berdimensi 6-9
Gambar 6-4 : Integrasi numerik kurva hidrograf dengan metoda trapesium 6-11
Gambar 6-5 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS SCS-Asli dan hidrograf hasil superposisi HSS
SCS-ITB 6-13
Gambar 6-6 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS Nakayasu Asli dan hidrograf hasil superposisi
HSS Nakayasu-ITB 6-13
Gambar 6-7 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 untuk Cp=1.2 dengan Kp
dan Qp yang dihitung secara eksak dan numerik. 6-16
Gambar 6-8 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 untuk Cp=0.4 dengan Kp
dan Qp yang dihitung secara eksak dan numerik. 6-16
Gambar 6-9 : Bentuk HSS SCS Curvilinear dan HSS SCS Segitiga 6-18
Gambar 6-10 : Bentuk HSS SCS Segitiga berdimensi 6-25
Gambar 6-11 : Bentuk HSS SCS Curvilinear berdimensi 6-25
Gambar 6-12 : Hasil superposisi SCS Segitiga dan Curvilinear (Tr=0.25 Jam) 6-28
Gambar 6-13 : Hasil superposisi SCS Segitiga dan Curvilinear (Tr=0.125 Jam) 6-28
Gambar 6-14 : Bentuk HSS ITB-1 dan ITB-2 Berdimensi 6-37
Gambar 6-15 : Bentuk hidrograf banjir hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 6-40
Gambar 6-16 : Perbandingan hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 dengan Hasil HSS
Nakayasu, SCS, Gama-1 dan Hasil Program HEC-HMS 6-40
Gambar 6-17 : Hujan Effektif, Infiltrasi dan Debit Total dan Aliran Dasar 6-42
Gambar 6-18 : Hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sebelum dilakukan kalibrasi
terhadap Hidrograf hasil pengukuran. 6-44
Gambar 6-19 : Hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 setelah dilakukan kalibrasi
terhadap hidrograf hasil pengukuran. 6-44
Gambar 7-1 : Perbadingan hasil perhitungan hidrograf hasil superposisi HSS SCS, Nakayasu, HSS
Gama-1 serta HSS ITB-1 dan HSS ITB-2. 7-1

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB iv


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB v


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

DAFTAR TABEL

Tabel 3-1 : Koordinat Tidak Berdimensi Dari HSS SCS Curvilinear 3-2
Tabel 3-2 : Perhitungan HSS SCS Curvilinear 3-5
Tabel 3-3 : Distribusi Hujan Hujan Efektif 3-7
Tabel 3-4 : Superposisi HSS SCS Curvilinear 3-8
Tabel 4-1 : Perhitungan HSS Nakayasu 4-5
Tabel 4-2 : Superposisi HSS Nakayasu 4-9
Tabel 5-1 : Parameter Morfometri DAS Ciliwung Hulu 5-6
Tabel 5-2 : Perhitungan HSS GAMA-1 5-8
Tabel 5-3 : Superposisi HSS GAMA-1 5-10
Tabel 6-1 : Koordinat HSS SCS Curvilinear Tidak Berdimensi 6-18
Tabel 6-2 : Perhitungan HSS SCS Segitiga dengan cara ITB 6-20
Tabel 6-3 : Perhitungan HSS SCS Curvilinear dengan cara ITB 6-21
Tabel 6-4 : Superposisi HSS SCS Segitiga 6-26
Tabel 6-5 : Superposisi HSS SCS Curvilinear 6-27
Tabel 6-6 : Distribusi Hujan Hujan Efektif 6-29
Tabel 6-7 : Perhitungan HSS ITB-1 6-30
Tabel 6-8 : Perhitungan HSS ITB-2 6-31
Tabel 6-9 : Perbandingan harga Kp exact dan hasil perhtungan NRCS 6-34
Tabel 6-10 : Superposisi HSS ITB-1 6-38
Tabel 6-11 : Superposisi HSS ITB-2 6-39
Tabel 6-12 : Perhitungan Hujan Effektif, Infiltrasi dan Limpasan Langsung (DRO) 6-41
Tabel 6-13 : Nilai koefisien HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sebelum kalibrasi 6-42
Tabel 6-14 : Nilai koefisien HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sesudah kalibrasi 6-43

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB vi


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

LAMPIRAN

LAMPIRAN- 1 : Perbandingan Rumusan Hidrograf Satuan Sintesis SCS, Nakayasu, GAMA-1


dan Cara ITB 2
LAMPIRAN- 2 : Berbagai Rumusan Time Lag dan Waktu Puncak 4
LAMPIRAN- 3 : Data Perhitungan Hidrograf GAMA-1 DAS Ciliwung Katulampa (Bejo Slamet
2006) 5

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB vii


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

KATA PENGANTAR

Salah satu topic bahasan dalam beberapa mata kuliah tertentu di program Studi Teknik
Sipil ITB, Program Studi Magister Teknik Sipil bidang Sumber Daya Air dan Program
Magister Pengelolaan Sumber Daya Air yang ada di ITB terkait dengan perhitungan
debit banjir. Bahan ini dimaksudkan penulis sebagai suplemen berbagai mata kuliah
tersebut khususnya untuk pembahasan tentang perhitungan debit banjir dengan metoda
hidrograf satuan sintetis.

Isi tulisan ini berasal dari Bab-3 materi Pelatihan Bidang Hidrologi untuk PT
Indonesia Power. Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Pusat Rekayasa Industri ITB
pada tanggal 1 s./d 5 November 2013 di Institut Teknologi Bandung. Materi yang
ditulis berasal dari hasil riset mandiri penulis pada tahun 2009 tentang Prosedur Umum
Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis (HSS). Hasil penelitian tersebut selanjutnya
diuji coba oleh penulis dalam beberapa proyek SDA di Jawa Barat, Sulawesi Utara
dan Gorontalo sehingga mendapat bentuk yang lebih definitif.

Hasil riset mandiri dan uji coba tersebut selanjut dikembangkan lebih lanjut melalui
program riset peningkatan kapasitas ITB 2010 dengan judul Prosedur Umum
Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Untuk Perhitungan Hidrograf Banjir
Rencana. Studi Kasus Pengembangan HSS ITB-1 Dan HSS ITB-2. Dalam
perkembangan selanjutnya, dirasakan perlu untuk mendapatkan perhitungan yang
akurat, sehingga penulis mengembangkan cara untuk menghitung Kp (Peak Rate
Factor) dan Qp (Peak Discharge) secara eksak dan hasilnya disampaikan dalam akhir
bahan kuliah ini.

Selama proses penelitian dan uji coba tersebut penulis telah membandingkan hasil
berbagai perhitungan HSS yang kesimpulannya adalah bahwa semua dikembangkan
dari prinsip dasar yang sama. Hasil-hasil perbandingan berbagai metoda perhitungan
itulah yang selanjutnya menjadi bahan pembahasan dalam materi kuliah ini. Penulis
berharap materi ini bermanfaat untuk pendidikan dan pengembangan ilmu hidrologi
dan dapat digunakan dalam berbagai proyek SDA di Indonesia.

PROGRAM STUDI TPSDA-ITB viii


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN HIDROGRAF

Hidrograf adalah visualisasi perubahan/variasi besarnya parameter hidrologi terhadap


waktu kejadiannya. Parameter hidrologi yang dimaksud dapat berupa besaran tinggi
hujan, tinggi muka air dan debit sungai, namun parameter yang paling umum
digunakan adalah debit sungai.

Hidrograf debit dapat digunakan untuk mengetahui perubahan debit di sungai sebagai
akibat terjadinya hujan selama waktu tertentu. Dalam siklus hidrologi, terlihat bahwa
aliran sungai tersebut terjadi akibat limpasan air hujan baik langsung maupun tak
langsung. Pada Gambar 1-2 ditunjukan gambar typikal hidrograp banjir akibat
distribusi hujan tertentu.

Gambar 1-1 : Bentuk Typikal Hidrograf Banjir

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 1-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1.2 KOMPONEN SUATU HIDROGRAF

Sebuah hidrograf dapat dibagi atas dua komponen aliran yaitu limpasan permukaan
(runoff) dan base flow. Bila pengaruh turunnya air hujan terhadap aliran disungai
digambarkan terhadap waktu, maka akan diperoleh hidrograf aliran yang mempunyai
komponen kurva yang jika disederhanakan akan berbentuk seperti ditunjukan pada
Gambar 1-2 sebagai berikut :

Gambar 1-2 : Komponen Dari Hidrograf

Bila pengaruh turunnya air hujan terhadap aliran disungai digambarkan terhawadap
waktu maka akan diperoleh hidrograf aliran yang mempunyai komponen kurva
sebagai berikut :

a) Rising curve : kurva yang menggambarkan naiknya debit aliran permukaan sejak
tercapainya hujan sampai dengan tercapainya puncak
b) Puncak aliran : saat dicapainya debit maksimum akibat pengaruh hujan.
c) Recession curve : kurva yang menggambarkan turunnya debit aliran permukaan
sejak tercapainya puncak sampai dengan akhir pengaruh hujan
d) Lag time (tL) : waktu antara pertengahan terjadinya hujan sampai dengan
terjadinya debit puncak

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 1-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

e) Time to peak (tp) : waktu antara mulai terjadinya hujan sampai dengan terjadinya
puncak aliran
f) Time of concentration : Menurut definisi yaitu SCS waktu antara berkahirnya
hujan sampai dengan terjadinya puncak debit
g) Recession time (tf) : waktu antara terjadinya puncak aliran sampai dengan
berakhirnya pengaruh hujan terhadap aliran
h) Time based (tb) : total waktu terjadinya pengaruh hujan terhadap aliran kesluruhan
aliran akibat hujan.

Besaran komponen tersebut dan bentuk dari kurva hidrograf menggambarkan proses
terjadinya aliran di sungai sebagai akibat turunnya hujan dalam DAS. Proses tersebut
sangat dipengaruhi oleh karakteristik hujan dan DAS dari hidrograf yang
bersangkutan. Karakteristik hujan bisaanya dapat digambarkan melalui besaran, lama
dan distribusi hujan dalam DAS, sedangkan karakteristik DAS dapat dideskripsikan
melalui beberapa parameter, yaitu : porositas tanah, kemiringan lahan, tataguna lahan,
morfologi sungai

1.3 KEGUNAAN HIDROGRAF

Dalam perencanaan dibidang sumber daya air pada umumnya dan perencanaan
dibidang sumber daya air, seringkali diperlukan data debit banjir rencana alam bentuk
hidrograf . Debit banjir rencana tersebut akan digunakan sebagai dasar rencana
bangunan pelimpah, terowongan pengelak, elevasi powerhouse dekat tail race yang
penting dalam perencanaan sumber daya air.

Banjir rencana dengan periode ulang tertentu dapat dihitung dan data debit sungai
untuk waktu yang panjang atau data hujan. Apabila data debit banjir tersedia cukup
panjang (>20 tahun), debit banjir maximum tahunan bisa dicatat dan debit banjir
maximum rencana dapat langsung dihitung dengan metode analisis probabilitas.

Mengingat pada umumnya dilokasi yang akan dihitung debit banjirnya seringkali tidak
terdapat stasiun pencatatan debit, maka metoda perhitungan yang umum dipakai dalam
analisa debit banjir dari curah hujan maksimum harian rencana. Jika data karakteristik
daerah aliran sungai, seperti luas, panjang sungai dan nilai infiltrasi, besarnya debit
banjir dapat dihitung kemudian dengan berbagai model perhitungan debit banjir.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 1-3


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 DEFINISI DAN ASUMSI

Hidrograf aliran menggambarkan suatu distribusi waktu dari aliran (dalam hal ini
debit) di sungai dalam suatu DAS pada suatu lokasi tertentu. Hidrograf aliran suatu
DAS merupakan bagian penting yang diperlukan dalam berbagai perecanaan bidang
Sumber Daya Air. Terdapat hubungan erat antara hidrograf dengan karakteristik suatu
DAS, dimana hidrograf banjir dapat menunjukkan respon DAS terhadap masukan
hujan tersebut.

2.1.1 Definisi

Menurut definisi hidrograf satuan adalah hidrograf limpasan langsung (tanpa aliran
dasar) yang tercatat di ujung hilir DAS yang ditimbulkan oleh hujan efektif sebesar
satu satuan (1 mm, 1 cm, atau 1 inchi) yang terjadi secara merata di seluruh DAS
dengan intensitas tetap dalam suatu satuan waktu (misal 1 jam) tertentu.

2.1.2 Asumsi

Beberapa asumsi yang digunakan dalam idrograf satuan adalah adalah sbb.

1) Hujan Effektif : Hujan efektif terdistribusi secara merata pada seluruh DAS.
Dengan anggapan ini maka hidrograf satuan tidak berlaku untuk DAS yang sangat
luas, karena sulit untuk mendapatkan hujan merata di seluruh DAS.

2) Lumped Response : Hidrograf menggambarkan semua kombinasi dari


karakteristik fisik DAS yang meliputi (bentuk, ukuran, kemiringan, sifat tanah) dan
karakteristik hujan.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

3) Time Invariant : Hidrograf yang dihasilkan oleh hujan dengan durasi dan pola
yang serupa memberikan bentuk dan waktu dasar yang serupa pula.

4) Linear Response : Dengan asumsi ini, aliran yang terjadi hanya dipengaruhi oleh
karakteristik DAS, sehingga pengaruh distribusi hujan terhadap besar dan
distribusi aliran dapat ditentukan melalui konsep superposisi dari aliran tersebut
akibat satuan hujan dalam mm/jam (inch/jam)

Karakteristik bentuk hidrograf yang merupakan dasar dari konsep hidrograf satuan
ditunjukan pada Gambar 2-1.

Gambar 2-1 : Prinsip hidrograf satuan (Bambang Triatmojo 2008).

2.1.3 Hidrograf Satuan Terukur

Bentuk kurva hidrograf satuan mencerminkan pengaruh karakteristik DAS pada proses
pelepasan satuan volume air tersebut di oulet DAS pada umumnya karakteristik DAS
dinyatakan dalam beberapa parameter fisik yang mudah ditemuka seperti : jenis tanah,
panjang alur pengaliran dan kemiringannya Hidrograf satuan dari suatu DAS dapat
ditentukan dengan mengggunakan data pengukuran aliran sungai DAS dengan cara
pada Gambar 2-2.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Gambar 2-2 : Pemisahan hidrograf satuan dari hidrograf aliran

Mengingat keterbatasan data debit yang terukur di sungai-sungai yang ada, maka
uraian tentang cara pebuatan hidrograf satuan terukur tidak akan dibahas dalam
pelatihan ini.

2.1.4 Hidrograf Satuan Sintetis

Data yang diperlukan untuk menurunkan hidrograf satuan terukur di DAS yang
ditinjau adalah data hujan otomatis dan pencatatan debit di titik pengamatan tertentu.
Namun jika data hujan yang diperlukan untuk menyusun hidrograf satuan terukur tidak
tersedia digunakan analisis hidrograf satuan sintetis. Beberapa metoda hidrograf
satuan sintetis yang akan diberikan dalam pelatihan ini adalah 1) Cara SCS, 2) Cara
Nakayasu, 3) Cara GAMA-1 dan 4) Cara ITB. Ringkasan rumus-rumus yang
digunakan oleh masing-masing metoda tersebut ditunjukan pada LAMPIRAN-1.

Pada Gambar 2-3 ditunjukan beberapa bentuk hidrograf satuan sintetis yang akan
dibahas dalam pelatihan ini. Dari gambar tersebut terlihat bahwa bentuk hidrograf
satuan sitentis tersebut ada yang memiliki bentuk puncak lancip(sharp peak) dan ada
pul yang berbentuk tumpul (rounded). Hasil perhitungan berbagai metoda tersebut
akan dibandingkan dengan hasil Program HEC-HMS yang merupakan pengembangan
dari program HEC-1.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

10.00

ITB-1
9.00
ITB-2
Nakayasu
8.00 Gama-1
SCS

7.00

6.00
Q (m3/s)

5.00

4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
0.00 6.00 12.00 18.00 24.00 30.00 36.00 42.00 48.00
T (jam)

Gambar 2-3 : Beberapa bentuk hidrograf satuan sintetis

2.1.5 Kurva Dan Konvolusi Unit Hidrograf

Pada kenyataannya intensitas hujan yang terjadi tidak merata dan lamanya hujan
bisaanya kurang ataupun lebih dari satu jam, dalam hal ini sebuah hidrograf
didefinsikan sebagai superposisi dari hidrograf satuan akibat total curah hujan yang
terjadi. Dengan demikian total hidrograf dianggap merupakan jumlah kumulatif dari
hidrograf satuan dikalikan curah hujan yang terjadi sesungguhnya. Untuk Prinsip
superposisi dari hidrograf satuan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut

Q = PNUN = P1 U1 + P2 U2 +. . . . +PN UN
k=0

Dimana

Qn = ordinat storm hidrograf

Pi = kelebihan curah hujan

Un = Ordinat unit hidrograf

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Dalam prakteknya perhitungan diatas dapat dilakukan dengan cara matrik atau dengan
menggunakan tabel superposisi Contoh hasil superposisi hidrograf ditunjukan pada
Gambar 2-4.

10 30 20 15 12 5 Total

450

400

350

300

250
Q (m3/s)

200

150

100

50

0
0 6 12 18 24 30 36 42 48

Waktu (Jam)

Gambar 2-4 : Contoh superposisi hidrograf

2.2 PERHITUNGAN DEBIT BANJIR DENGAN CARA HIDROGRAF


SATUAN SINTETIS

Apabila data yang tersedia hanya berupa data hujan dan karakteristik DAS, salah satu
metoda yang disarankan adalah menghitung debit banjir dari data hujan maksimum
harian rencana dengan cara superposisi hidrograf satuan sintetis. Konsep hidrograf
satuan sintetis, pertama lkali diperkenalkan pada tahun 1932 oleh L.K. Sherman. Sejak
itu muncul berbagai Hidrograh lainnya dan jumlahnya sampai saat ini terus betambah.

Untuk menganalisis hidrograf satuan sintetis pada suatu DAS perlu diketahui beberapa
komponen penting pembentuk hidrograf satuan sintetis berikut 1) Tinggi Dan Durasi
Hujan Satuan. 2) Time Lag (TL), Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb), 4) Debit
Puncak Hidrograf Satuan dan 5) Bentuk Hidrograf Satuan yang digunakan 6)
Distribusi Hujan Effektif. Meskipun rumusan yang digunakan berbeda, semua metoda
tersebut bekerja dengan prinsip yang sama.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tinggi hujan satuan yang umum digunakan dalam analisa debit banjir adalah hujan
effektif setinggi 1 inchi atau 1 mm. Durasi hujan satuan umumnya diambil Tr=1
jam, namun dapat dipilih durasi lain asalkan dinyatakan dalam satuan jam (misal 0.5
jam, 10 menit = 1/6 jam). Jika misalkan diinginkan melakukan perhitungan hidrograf
satuan dengan dalam interval waktu 0.5 jam, maka tinggi hujan setiap jam harus
didistribusikan dalam interval 0.5 jam.

Metode analisis banjir sesuai SKSNI M181989F diantaranya adalah satuan


hidrograf sintetik SCS dan Gama-I. Metode lain yang juga akan dijelaskan pada
pelatihan ini adalah HSS Nakayasu dan HSS ITB-1 dengan kurva dasar dari NRCS
dan HSS ITB-2.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2-6


BAB 3
CARASCS

3.1 HIDROGRAF SATUAN SINTETIS SCS

Cara pertama yang digunakan dalam perhitungan debit banjir yang akan dijelaskan
dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf satuan sintetis cara SCS. Cara ini
dikembangkan oleh Victor Mockus dari Soil Conservation Service salah satu
lembaga dibawah Departement Pertanian Amerika Serikat. Victor Mockus
mengembangkan Hidrograf satuan SCS berdasarkan hasil pengamatan dari
karakteristik hidrograf satuan alami yang berasal dari sejumlah besar DAS baik
yang berukuran besar maupun kecil di Amerika Serikat.

3.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis SCS Curvilinear Tak Berdimensi

Hidrograf satuan tak berdemensi SCS adalah hidrograf sintetis yang di-ekspresikan
dalam bentuk perbandingan antara debit Q dengan debit puncak Qp dan waktu t
dengan waktu naik (time of rise) tp. Tabel 3-1 memperlihatkan koordinat tidak
berdimensi dari hidrograf satuan SCS. Pada Gambar 3-1 sumbu horizontal (sumbu-x)
yang menunjukan satuan waktu (jam) yang telah dinormalkan t=(T/Tp) sedang sumbut
vertical (sumbu-y) menunjukan debit yang telah dinormalkan q=(Q/Qp).

3.1.2 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis SCS Curvilinear Tak Berdimensi

Hidrograf satuan tak berdemensi SCS adalah hidrograf sintetis yang di-ekspresikan
dalam bentuk perbandingan antara debit Q dengan debit puncak Qp dan waktu t
dengan waktu naik (time of rise) tp. Tabel 3-1 memperlihatkan koordinat tidak
berdimensi dari hidrograf satuan SCS. Pada Gambar 3-1 sumbu horizontal (sumbu-
x) yang menunjukan satuan waktu (jam) yang telah dinormalkan t=(T/Tp) sedang
sumbut vertical (sumbu-y) menunjukan debit yang telah dinormalkan q=(Q/Qp).

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 3-1 : Koordinat Tidak Berdimensi Dari HSS SCS Curvilinear

t/tp q/qp t/tp q/qp

0.000 0.000 1.400 0.750


0.100 0.015 1.500 0.660
0.200 0.075 1.600 0.560
0.300 0.160 1.800 0.420
0.400 0.280 2.000 0.320
0.500 0.430 2.200 0.240
0.600 0.600 2.400 0.180
0.700 0.770 2.600 0.130
0.800 0.890 2.800 0.098
0.900 0.970 3.000 0.075
1.000 1.000 3.500 0.036
1.100 0.980 4.000 0.018
1.200 0.920 4.500 0.009
1.300 0.840 5.000 0.004

Gambar 3-1 : Bentuk dan kurva massa HSS SCS Curvilinear

Dari peta DAS Sungai yang akan dianalisa, dapat diperoleh beberapa elemen-elemen
penting yang dapat digunakan menentukan bentuk dari hidrograf satuan itu yaitu 1)
Time Lag (T L), 2) Waktu puncak (Tp) dan waktu dasar (Tb).

1) Data karakteristik fisik DAS

Untuk menghitung HSS SCS diperlukan data karakteristik fisik DAS yang
bergantung dari rumus time lag yang dibgunakan. Beberapa karakteristik fisik
DAS yang umum digunakan antara alin adalah luas DAS, kemiringan sungai dan
panjang sungai.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

2) Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb)

Beberapa runus time lag yang dapat bisaa digunakan yang bisaa digunakan alam
kaitan dengan HSS SCS antara lain adalah Rumus Kirpirch (Untuk DAS Kecil),
Rumus Snyder dan Rumus SCS (agak kompleks). Dalam Pelatihan ini rumusan
time lag yang digunakan untuk menghitung time lag adalah rumus time lag dari
Snyder (dengan Lc=1/2 dan n=0.3) sbb

TL = Ct (L Lc) 0.3 (1)

dimana :

Ct = koefisien penyesuaian waktu (untuk proses kalibrasi);

TL = time lag (Jam)

L = Panjang Sungai (km)

Lc = Jarak Titik Berat ke outlet (km)

Untuk durasi hujan satuan Tr (misal 1 jam), maka waktu puncak HSS SCS
didefiniskan sbb

Tp = T L + 0.50 Tr (3)

Selanjutnya berdasarkan koordinat tidak berdimensi dari hidrograf satuan SCS,


waktu Dasar Hidrograf Satuan (Tb) didefinisikan sbb

Tb = 5*Tp (5)

3) Debit Puncak

Jika harga waktu puncak dan waktu dasar diketahui, maka debit puncak hidrograf
satuan sintetis akibat tinggi hujan satu satun R=1 mm yang jatuh selama durasi
hujan satu satuan Tr=1 jam, dapat dihitung sbb :

0.2083A DAS
Qp (8)
Tp
Dimana :
Qp = Debit puncak hidrograf satuan (m3/s)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

R = Curah Hujan satuan (mm)

Tp = Waktu Puncak (jam)

ADAS = Luas DAS (km2)

3.1.3 Contoh Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis SCS

Prosedur pembuatan hidrograf satuan sintetis SCS akan digunakan untuk menentukan
bentuk hidrograf banjir DAS Ciliwung hulu di bendung Katulampa yang mempunyai
luas DAS 149.230 km2 dan Panjang sungai diperkirakan 24.460 km, kemiringan alur
sungai S= 112.245 m/km. Perhitungan HSS SCS dilakukan dengan Spread Sheet dan
hasilnya ditunjukan pada Tabel 3-4 dengan penjelasan sbb :

1) Bagian I, berisi Input data yang diperlukan seperti Nama DAS, Nama Stasiun, Luas
DAS, Panjang Sungai L, Penetapan Tr dan Hr.

2) Bagian-II, berisi penetapan Ct, hasil perhitungan TL (menggunakan cara Snyder),


Tp dan Tb

3) Bagian-III berisi input Cp, parameter dan , perhitungan AHHS (Eksak), Kp, Qp,

dan Volume Hujan (VDAS)

4) Bagian-IV terdiri dari kolom 1 s/d kolom 5 untuk menghitung bentuk HSS SCS
Curvilinear dengan penjelasan sbb :

a) Kolom Pertama : berisi waktu perhitungan waktu T i=Ti-1+Tr dengan interval


Tr (jam) termasuk didalamnya waktu puncak Tp.
b) Kolom Kedua : (Kolom-1 dibagi Tp) berisi absis kurva HSS SCS Curvilinear
tak berdimesi (t=T/Tp), termasuk waktu puncak (tP =1).
c) Kolom Ketiga merupakan ordinat HSS tak berdimensi (q=Q/Qp) sebagai
fungsi dari (t=T/Tp) yang didapat dari tabel bentuk kurva HSS SCS
Curvilinear.

d) Kolom Keempat berisi ordinat HSS SCS Curvilinear berdimensi didapat


dengan mengalikan ordinat kurva HSS dengan Qp (Kolom-3 x Qp) , yaitu

Qi Q p q i (m3/sec)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 3-2 : Perhitungan HSS SCS Curvilinear


I. Karakteristik DAS dan Hujan
1. Nama Sungai = Ciliwung
2. Stasiun = Katulampa
3. Luas DAS (A) = 149.230 km2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 24.460 km
5. Panjang Ke Titik Berat (Lc) = 12.230 mm
6. Tinggi Hujan Satuan (R) = 1.000 mm
7. Durasi Hujan Satuan (Tr) = 1.000 Jam

II. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) Dan Waktu Dasar (Tb)


1. Koefisien waktu (Ct) = 1.000
2. Koefisien nilai n = 0.300
3. Time Lag (tP) --> Snyder
n
tP = Ct (L x LC) = 5.531 Jam
3. Waktu Puncak
Tp = 6.031 Jam
4. Waktu Dasar
TB/TP = 5.00
TB = 30.153 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Qp = 5.155 m3/s
2. Volume Hujan pada DAS (VDAS) = 149,230 m3
3. Volume Unit Hidrograph = 151,639 m3
4. Tinggi Limpasan = 1.016 mm Ok

IV. Tabel perhitungan HSS SCS

Waktu t HSS Tak berdimensi HSS berdimensi


(jam) t=T/Tp q=Q/Qp Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (5)
0.00 0.00 0.0000 0.00000 0.000
1.00 0.17 0.0545 0.28089 505.608
2.00 0.33 0.1980 1.02048 2342.476
3.00 0.50 0.4262 2.19690 5791.297
4.00 0.66 0.7076 3.64737 10519.692
5.00 0.83 0.9133 4.70763 15038.998
6.00 0.99 0.9985 5.14674 17737.864
6.03 1.00 1.0000 5.15456 565.654
7.00 1.16 0.9435 4.86354 17482.477
8.00 1.33 0.8161 4.20648 16326.042
9.00 1.49 0.6668 3.43721 13758.652
10.00 1.66 0.5192 2.67643 11004.552
11.00 1.82 0.4080 2.10291 8602.806
12.00 1.99 0.3251 1.67553 6801.197
13.00 2.16 0.2577 1.32842 5407.118
14.00 2.32 0.2035 1.04916 4279.653
15.00 2.49 0.1582 0.81525 3355.953
16.00 2.65 0.1215 0.62624 2594.682
17.00 2.82 0.0958 0.49388 2016.216
18.00 2.98 0.0767 0.39559 1601.049
19.00 3.15 0.0632 0.32602 1298.900
20.00 3.32 0.0503 0.25935 1053.677
21.00 3.48 0.0374 0.19268 813.664
22.00 3.65 0.0307 0.15808 631.370
23.00 3.81 0.0247 0.12731 513.696
24.00 3.98 0.0187 0.09654 402.920
25.00 4.15 0.0154 0.07927 316.460
26.00 4.31 0.0124 0.06389 257.693
27.00 4.48 0.0094 0.04850 202.305
28.00 4.64 0.0076 0.03902 157.536
29.00 4.81 0.0059 0.03047 125.076
30.00 4.97 0.0043 0.02192 94.305
31.00 5.14 0.0000 0.00000 39.460
32.00 5.31 0.0000 0.00000 0.000
33.00 5.47 0.0000 0.00000 0.000
34.00 5.64 0.0000 0.00000 0.000
35.00 5.80 0.0000 0.00000 0.000
36.00 5.97 0.0000 0.00000 0.000

150.00 24.87 0.0000 0.00000 0.000


151.00 25.04 0.0000 0.00000 0.000
152.00 25.21 0.0000 0.00000 0.000
153.00 25.37 0.0000 0.00000 0.000
154.00 25.54 0.0000 0.00000 0.000
155.00 25.70 0.0000 0.00000 0.000
156.00 25.87 0.0000 0.00000 0.000
157.00 26.03 0.0000 0.00000 0.000
158.00 26.20 0.0000 0.00000 0.000
159.00 26.37 0.0000 0.00000 0.000
160.00 26.53 0.0000 0.00000 0.000
Vol HSS (m3) 151639
DRO (mm) 1.016

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

e) Kolom Kelima berisi luas segmen HSS SCS Curvilinear berdimensi, termasuk
segmen sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan cara trapesium
Vi 3600
2
Q i Q i 1 Ti1 Ti (mm)

Jumlah seluruh Kolom Kelima adalah volume kHSS SCS Curvilinear


berdimensi.
N
VHSS Vi (m3)
i 1

f) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung HDRO,
yang nilainya harus mendekati 1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
H DRO 1 (mm)
A DAS

Hasil perhitungan menghasilkan HDRO = 1.016 mm yang sangat mendekati


dengan tinggi hujan satuan (kesalahan < 5%).
g) Jika hasil perhitungan HSS SCS Curvilinear pada
h) Tabel 3-2 digambarkan akan didapat HSS SCS Curvilinear berdimensi seperti
ditunjukan pada Gambar 4-3.

6.000

5.000

4.000
Q (m3/s)

3.000

2.000

1.000

0.000
0.000 6.000 12.000 18.000 24.000 30.000 36.000 42.000 48.000
T (jam)

Gambar 3-2 : Bentuk HSS SCS Curvilinear berdimensi

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-6


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

3.1.4 Superposisi Hidrograf

Dalam contoh kasus ini akan digunakan distribusi hujan hujan efektif dengan durasi 1
jam yang berurutan seperti ditunjukan pada Tabel 3-3. Proses superposisi hidrograf
hanya memperhitungkan distribusi hujan efektif, sedang infiltrasi hanya digunakan
untuk penggambaran Hyteograf (distribusi hujan). Tabel superposisi hidrograf banjir
yang disusun dengan HSS SCS Curvilinear ditunjukan pada Tabel 3-4.

Tabel 3-3 : Distribusi Hujan Hujan Efektif


Jam Rtot (mm) Infil (mm) Reff (mm)
1 21.404 52.4487 0.0000
2 38.329 22.4554 15.8733
3 147.463 11.4215 136.0413
4 26.887 7.3623 19.5243
5 18.075 5.8691 12.2062
6 15.800 5.3197 10.4801

Sebagai indikator ketelitian hasil perhitungan digunakan prinsip konservasi masa,


yaitu volume hujan efektif yang jatuh dalam DAS harus sama dengan volume
hidrograf banjir yang dihasilkan. Dalam tabel tersebut Rasio Limpasan/Hujan tidak
sama dengan 100%. Penyebabnya adalah karena harga Tp umumnya tidak merupakan
kelipapan dari Tr, akibatnya debit puncak Qp tidak diperhitungkan dalam proses
superposisi hidrograf .

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-7


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 3-4 : Superposisi HSS SCS Curvilinear


Tinggi Hujan (mm/jam)
Waktu HSS Q (m3/s) Volume
1 2 3 4 5 6
(jam) Nakayasu Limpasan
0.000 15.873 136.041 19.524 12.206 10.480 194.125
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 0.562 0.000 0.000 0.000 0.000
2.00 2.966 0.000 8.920 0.000 8.920 16055.654
3.00 7.848 0.000 47.079 76.447 0.000 123.526 238402.103
4.00 6.530 0.000 124.579 403.489 10.971 0.000 539.039 1192617.473
5.00 4.793 0.000 103.651 1067.702 57.908 6.859 0.000 1236.120 3195286.674
6.00 3.518 0.000 76.079 888.332 153.234 36.203 5.889 1159.737 4312542.867
7.00 2.582 0.000 55.842 652.031 127.491 95.799 31.083 962.246 3819570.472
8.00 2.099 0.000 40.987 478.588 93.578 79.705 82.252 775.110 3127241.010
9.00 1.708 0.000 33.325 351.281 68.686 58.503 68.434 580.228 2439608.765
10.00 1.390 0.000 27.116 285.609 50.415 42.941 50.230 456.312 1865771.760
11.00 1.131 0.000 22.064 232.399 40.990 31.518 36.869 363.840 1476273.449
12.00 0.920 0.000 17.954 189.102 33.353 25.626 27.061 293.097 1182486.487
13.00 0.755 0.000 14.609 153.871 27.139 20.852 22.002 238.474 956826.875
14.00 0.647 0.000 11.981 125.205 22.083 16.967 17.903 194.139 778703.371
15.00 0.554 0.000 10.265 102.683 17.969 13.806 14.568 159.290 636172.409
16.00 0.475 0.000 8.794 87.972 14.737 11.234 11.854 134.590 528984.557
17.00 0.407 0.000 7.534 75.369 12.626 9.213 9.645 114.387 448158.416
18.00 0.348 0.000 6.455 64.571 10.817 7.893 7.910 97.646 381658.569
19.00 0.298 0.000 5.530 55.320 9.267 6.762 6.777 83.657 326344.538
20.00 0.256 0.000 4.738 47.395 7.939 5.794 5.806 71.672 279590.773
21.00 0.219 0.000 4.059 40.605 6.802 4.964 4.974 61.404 239535.188
22.00 0.188 0.000 3.477 34.787 5.827 4.252 4.262 52.607 205218.169
23.00 0.161 0.000 2.979 29.804 4.993 3.643 3.651 45.070 175817.578
24.00 0.138 0.000 2.552 25.534 4.277 3.121 3.128 38.613 150629.065
25.00 0.118 0.000 2.187 21.876 3.665 2.674 2.680 33.081 129049.185
26.00 0.101 0.000 1.873 18.742 3.140 2.291 2.296 28.342 110560.948
27.00 0.087 0.000 1.605 16.057 2.690 1.963 1.967 24.281 94721.429
28.00 0.074 0.000 1.375 13.756 2.304 1.682 1.685 20.803 81151.159
29.00 0.064 0.000 1.178 11.786 1.974 1.441 1.444 17.822 69525.035
30.00 0.054 0.000 1.009 10.097 1.691 1.234 1.237 15.269 59564.527
31.00 0.047 0.000 0.865 8.650 1.449 1.057 1.060 13.082 51031.013
32.00 0.040 0.000 0.741 7.411 1.241 0.906 0.908 11.207 43720.052
33.00 0.034 0.000 0.635 6.349 1.064 0.776 0.778 9.602 37456.497
34.00 0.029 0.000 0.544 5.440 0.911 0.665 0.666 8.226 32090.290
35.00 0.025 0.000 0.466 4.660 0.781 0.570 0.571 7.048 27492.873
36.00 0.022 0.000 0.399 3.993 0.669 0.488 0.489 6.038 23554.106
37.00 0.018 0.000 0.342 3.421 0.573 0.418 0.419 5.173 20179.626
38.00 0.016 0.000 0.293 2.931 0.491 0.358 0.359 4.432 17288.591
39.00 0.014 0.000 0.251 2.511 0.421 0.307 0.308 3.797 14811.740
40.00 0.012 0.000 0.215 2.151 0.360 0.263 0.264 3.253 12689.735
41.00 0.010 0.000 0.184 1.843 0.309 0.225 0.226 2.787 10871.740
42.00 0.009 0.000 0.158 1.579 0.264 0.193 0.193 2.388 9314.200
43.00 0.007 0.000 0.135 1.353 0.227 0.165 0.166 2.046 7979.800
44.00 0.006 0.000 0.116 1.159 0.194 0.142 0.142 1.753 6836.574
45.00 0.005 0.000 0.099 0.993 0.166 0.121 0.122 1.501 5857.132
46.00 0.005 0.000 0.085 0.851 0.142 0.104 0.104 1.286 5018.010
47.00 0.004 0.000 0.073 0.729 0.122 0.089 0.089 1.102 4299.104
48.00 0.003 0.000 0.062 0.624 0.105 0.076 0.076 0.944 3683.193

150.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001
151.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
152.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
153.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
154.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
155.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
156.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
157.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
158.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
159.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
160.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Volume Total Limpasan m3 2.89E+07
Luas DAS km2 149.23
Tinggi Limpasan Langsung mm 193.49
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 99.67%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-8


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

3.1.5 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir

Jika hasil perhitungan superposisi HSS SCS Curvilinear pada Tabel 3-4 digambarkan
akan didapat hidrograf banjir dengan interval waktu 1 jam seperti ditunjukan pada
Gambar 3-3.

1,000.0 0.0

Hujan Eff (mm)


900.0 Infiltrasi (mm) 50.0

SCS

800.0 100.0

700.0 150.0

600.0 200.0
Q (m3/s)

R (mm)
500.0 250.0

400.0 300.0

300.0 350.0

200.0 400.0

100.0 450.0

0.0 500.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 3-3 : Bentuk hidrograf banjir hasil superposisi HSS SCS Curvilinear

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 3-9


BAB 4
CARANAKAYASU

4.1 HIDROGRAF SATUAN SINTETIS NAKAYASU

Cara kedua yang digunakan dalam perhitungan debit banjir yang akan dijelaskan
dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf satuan sintetis cara Nakayasu. Cara
ini dikembangkan oleh Nakayasu Jepang. Hidrograf satuan sintetik Nakayasu
dikebangkan berdasarkan hasil pengamatan dari hidrograf satuan alami yang berasal
dari sejumlah besar DAS yang ada di jepang. Mungkin karena sungai di Jepang
relatif pendek dengan kemiringan besar, time lag menjadi lebih kecil dan puncaknya
relatif tajam.

4.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu Tak Berdimensi

Hidrograf satuan tak berdemensi Nakayasu adalah hidrograf sintetis yang di-
ekspresikan dalam bentuk perbandingan antara debit Q dengan debit puncak Qp dan
waktu t dengan waktu naik Tp dan selanjutnya dibentuk menjadi kurva HSS Nakayasu
seperti ditunjukan pada Gambar 4-1

Gambar 4-1. : Hidrograf Satuan Sintetis menurut Nakayasu

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1) Data karakteristik fisik DAS

Dari peta DAS yang akan dianalisa, dapat diperoleh beberapa elemen-elemen
penting seperti Panjang Sungai (L) dan Luas DAS (A) yang dapat digunakan
menentukan bentuk dari hidrograf satuan sintetik Nakayasu.

2) Time Lag (Tg) dan Waktu Puncak (Tp)

Time Lag dan Waktu Puncak ditentukan dari persamaan berikut


Tg = 0.5279 + 0.058 L untuk L > 15 km
Tg = 0.21 L0.7 untuk L <15 km
Tp = Tg + 0.8 tr

dimana :
Tp = peaktime(jam)
Tg = time lag yaitu waktu terjadinya hujan sampai terjadinya debit puncak
(jam)
Tr = satuan waktu curah hujan (jam)
L = panjangsungai

3) Debit Puncak untuk hujan efektif 1 mm pada daerah seluas A km2

Jika harga waktu puncak dan waktu dasar diketahui, maka debit puncak hidrograf
satuan sintetis akibat tinggi hujan satu satun Re=1 mm yang jatuh selama durasi
hujan satu satuan Tr=1 jam, dapat dihitung sbb :
A. Re
Qp =
3.6(0.3.Tp + T0.3 )
dimana :

Qp = Debit puncak banjir (m3/det)

Re = Hujan Efektif satuan (1 mm)

Tp = waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)

A = Luas daerah pengaliran sampai outlet

T0.3 = Waktu penurunan debit, dari puncak sampai 30% (T0.3 = Tg)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

= Parameter hidrograf , dimana


= 2.0 Pada daerah pengaliran bisaa
= 1.5 Pada bagian naik hidrograf lambat dan turun cepat
= 3.0 Pada bagian naik hidrograf cepat, dan turun lambat

4) Persamaan Bentuk Dasar Hidrograf Satuan

Bentuk Hidrograf Satuan Nakayasu terdiri dari empat segmen kurva yang
dinyatakan dengan persamaan sbb :

a) Pada waktu kurva naik : 0 < t < Tp

t 2, 4
Qp = ( )
Tp

dimana :
Q(t) = Limpasan sebelum mencari debit puncak (m3)
t = Waktu (jam)

b) Pada waktu kurva turun

Selang nilai : t (Tp T0,3 )


( t Tp )
T0 , 3
Q ( t ) = Q p .0,3

Selang nilai : (Tp T0,3 ) t (Tp T0,3 1,5T0,3 )


( t Tp +0, 5T0 , 3 )
1, 5T0.3
Q ( t ) = Q p .0,3

Selang nilai : t > (Tp+T0,3 + 1,5 T0,3)


( t Tp + 0 , 5 T0 , 3 )
2T0,3
Q ( t ) = Q p .0,3

Rumus tersebut di atas merupakan rumus empiris, maka penerapannya terhadap


suatu daerah aliran harus didahului dengan suatu pemilihan parameter-parameter
yang sesuai yaitu Tp dan , dan pola distribusi hujan agar didapatkan suatu pola
hidrograf yang realistik.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Bentuk HSS Nakayasu tak berdimensi dapat digambarkan dengan empat segment
kurva seperti pada Gambar 4-2 sumbu horizontal (sumbu-x) yang menunjukan
satuan waktu (jam) yang telah dinormalkan t=(T/Tp) sedang sumbut vertical
(sumbu-y) menunjukan debit yang telah dinormalkan q=(Q/Qp).
1.20

Pers-1
Pers-2
Pers-3
1.00
Pers-4

0.80
Q/Qp

0.60

0.40

0.20

0.00
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00
T/Tp

Gambar 4-2 : Bentuk HSS Nakayasu Tak berdimensi (empat segment kurva)

4.1.2 Cara Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis Nakayasu

Prosedur pembuatan HSS Nakayasu akan digunakan untuk menentukan bentuk


hidrograf banjir DAS Ciliwung hulu di bendung Katulampa seperti pada Contoh
Sebelumnya. Perhitungan HSS Nakayasu dilakukan pada Tabel 4-1 dan hasilnya
ditunjukan pada Gambar 4-3 dengan penjelasan sbb :

1) Bagian I, berisi Input data yang diperlukan seperti Luas DAS, Panjang Sungai
L dll.

2) Bagian-II, berisi hasil perhitungan TL (menggunakan cara Nakayasu),


penentuan parameter , perhitungan Tp dan Tb, perhitungan Qp, Volume
Hujan dan Tinggi Limpasan (DRO)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 4-1 : Perhitungan HSS Nakayasu


I. Karakteristik DAS
1. Nama Sungai = Ciliwung
2. Nama Sungai = Katulampa
3. Luas daerah aliran Sungai (A) = 149.230 Km2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 24.460 Km
5. Tinggi Hujan R = 1.000 mm
6. Durasi Hujan Tr = 1.000 Jam

II. Parameter hidrograf satuan sintetis :


0.21*L0.7 < 15 km
1. T g = 1.9466 Jam
0.4 + 0.058*L
> 15 km
2. Tr 0.75*Tg = 1.4599 Jam
3. T 0.8 0.8*Tr = 1.1679 Jam
4. T p Tg+0.8*Tr = 3.1145 Jam

5. = 2.0000

6. T 0.3 *Tg = 3.8932 Jam


T p+T 0.3 = 7.0077 Jam
T p+T 0.3+1.5*T 0.3 = 12.8474 Jam

7. Volume Hujan DAS = 149,230 m3


8. Qp = 8.587 m3/s
9. Volume HSS = 150,324 m3
10. Tinggi Hujan = 1.007 mm
Ok

III. Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis :

Waktu t Qa Qd1 Qd2 Qd3 HSS Tak berdimensi HSS berdimensi


(jam) (t/T p)2.4 3((t-Tp)/T3((t-Tp
0.3)
+0.5*T 0.3)/1.5* T0.3)
((t-T p+1.5*T 0.3)/2*T 0.3 )
t=T/Tpq=Q/Qp Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 0.065 0.321 0.065 0.562 1011.488
2.00 0.345 0.642 0.345 2.966 6350.155
3.00 0.914 0.963 0.914 7.848 19465.729
3.11 1.000 1.000 1.000 8.587 3388.110
4.00 0.760 1.284 0.760 6.530 24093.648
5.00 0.558 1.605 0.558 4.793 20380.971
6.00 0.410 1.926 0.410 3.518 14959.527
7.00 0.301 2.248 0.301 2.582 10980.215
7.01 0.300 2.250 0.300 2.576 71.381
8.00 0.244 2.569 0.244 2.099 8351.127
9.00 0.199 2.890 0.199 1.708 6853.907
10.00 0.162 3.211 0.162 1.390 5576.994
11.00 0.132 3.532 0.132 1.131 4537.976
12.00 0.107 3.853 0.107 0.920 3692.531
12.85 0.090 4.125 0.090 0.773 2582.682
13.00 0.088 4.174 0.088 0.755 419.524
14.00 0.075 4.495 0.075 0.647 2522.603
15.00 0.065 4.816 0.065 0.554 2161.202
16.00 0.055 5.137 0.055 0.475 1851.577
17.00 0.047 5.458 0.047 0.407 1586.311
18.00 0.041 5.779 0.041 0.348 1359.048
19.00 0.035 6.100 0.035 0.298 1164.344
20.00 0.030 6.422 0.030 0.256 997.534
21.00 0.026 6.743 0.026 0.219 854.622
22.00 0.022 7.064 0.022 0.188 732.185
23.00 0.019 7.385 0.019 0.161 627.288
24.00 0.016 7.706 0.016 0.138 537.420

155.00 0.000 49.767 0.000 0.000 0.000


156.00 0.000 50.088 0.000 0.000 0.000
157.00 0.000 50.409 0.000 0.000 0.000
158.00 0.000 50.730 0.000 0.000 0.000
159.00 0.000 51.051 0.000 0.000 0.000
160.00 0.000 51.372 0.000 0.000 0.000
Vol HSS (m3) 150324
DRO (mm) 1.007

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

3) Bagian-III terdiri dari kolom 1 s/d kolom 8 untuk menghitung bentuk HSS
Nakayasu dengan penjelasan sbb :

a) Kolom Pertama : berisi waktu perhitungan dengan interval Tr (jam)


termasuk didalamnya waktu puncak Tp.

b) Kolom Kedua merupakan ordinat segmen pertama yaitu bagian dari


lengkung naik didapat dari persamaan q( t ) = t 2, 4 pada interval t 1

c) Kolom Ketiga merupakan ordinat segmen kedua yaitu lengkung turun


didapat dari persamaan q(t ) = 0.3 exp((t t p ) / t 0.3 ) pada interval

1 t ( t p + t 0.3 )

d) Kolom Keempat berupa ordinat segmen ketiga yaitu bagian dari lengkung
turun yang didapat dari persamaan q(t ) = 0.3 exp((t t p + 0.5 t 0.3 ) / 2t 0.3 )

pada interval (t p + t 0,3 ) t (t p + t 0,3 + 1,5t 0,3 )

e) Kolom Kelima berupa ordinat segmen keempat yaitu bagian dari


lengkung turun yang didapat dari persamaan
q(t ) = 0.3 exp((t t p + 0.5 t 0.3 ) / 1.5t 0.3 ) pada interval t ( t p + t 0,3 + 1,5t 0,3 )

f) Kolom Keenam : (Kolom-1 dibagi Tp) berisi absis dari kurva HSS
Nakayasu tak berdimesi (t=T/Tp), termasuk waktu puncak (t P =1).

g) Kolom Ketujuh berisi ordinat HSS Nakayasu tak berdimensi (q=Q/Qp)


yang didapat dengan menggabungkan Kolom Kedua, Ketiga, Keempat dan
Kelima

h) Kolom Kedelapan berisi ordinat HSS Nakayasu berdimensi didapat


dengan mengalikan ordinat kurva HSS dengan Qp (Kolom-6 x Qp) , yaitu
Qi = Q p q i (m3/sec)

i) Kolom Kesembilan berisi luas (volume) segmen HSS Nakayasu


berdimensi, termasuk segmen sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan
cara trapesium

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-6


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Vi 3600
2
Q i Q i 1 Ti 1 Ti (m3)

j) Jumlah seluruh Kolom Kelima adalah luas kurva HSS Nakayasu


berdimensi.
N
VHSS Vi (m3)
i 1

k) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung HDRO,
yang nilainya harus mendekati 1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
H DRO 1 (mm)
A DAS

Hasil perhitungan menghasilkan HDRO = 1.007 mm yang sangat mendekati


dengan tinggi hujan satuan (kesalahan < 5%).

l) Jika hasil perhitungan HSS Nakayasu pada Tabel 4-1 digambarkan akan
didapat HSS Nakayasu berdimensi seperti ditunjukan pada Gambar 4-3.

10.00

9.00

8.00

7.00

6.00
Q (m3/s)

5.00

4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
0.000 6.000 12.000 18.000 24.000 30.000 36.000 42.000 48.000
T (jam)

Gambar 4-3 : Bentuk HSS Nakayasu berdimensi

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-7


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

4.1.3 Superposisi Hidrograf

Proses superposisi hidrograf hanya memperhitungkan distribusi hujan efektif. Tabel


superposisi hidrograf banjir yang disusun dengan HSS Nakayasu ditunjukan pada
Tabel 4-2. Sebagai indikator ketelitian hasil perhitungan digunakan prinsip konservasi
masa, yaitu volume hujan efektif yang jatuh dalam DAS harus sama dengan volume
hidrograf banjir yang dihasilkan. Dalam tabel tersebut Rasio Limpasan/Hujan tidak
sama dengan 100%. Penyebabnya adalah karena harga Tp umumnya tidak merupakan
kelipapan dari Tr, akibatnya debit puncak Qp tidak diperhitungkan dalam proses
superposisi hidrograf.

4.1.4 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir

Jika hasil perhitungan superposisi HSS Nakayasu pada Tabel 4-2 digambarkan akan
didapat hidrograf banjir dengan interval waktu 1 jam seperti ditunjukan pada Gambar
4-4.

1,400.0 0.0

Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm) 50.0


1,200.0 Nakayasu (Alpha=2.0)

100.0

1,000.0
150.0

200.0
800.0
Q (m3/s)

R (mm)

250.0

600.0
300.0

350.0
400.0

400.0

200.0
450.0

0.0 500.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 4-4 : Bentuk Hidrograf Banjir Hasil Superposisi HSS Nakayas

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-8


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 4-2 : Superposisi HSS Nakayasu

Tinggi Hujan (mm/jam)


Waktu HSS Q (m3/s) Volume
1 2 3 4 5 6
(jam) Nakayasu Limpasan
0.000 15.873 136.041 19.524 12.206 10.480 194.125
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 0.562 0.000 0.000 0.000 0.000
2.00 2.966 0.000 8.920 0.000 8.920 16055.654
3.00 7.848 0.000 47.079 76.447 0.000 123.526 238402.103
4.00 6.530 0.000 124.579 403.489 10.971 0.000 539.039 1192617.473
5.00 4.793 0.000 103.651 1067.702 57.908 6.859 0.000 1236.120 3195286.674
6.00 3.518 0.000 76.079 888.332 153.234 36.203 5.889 1159.737 4312542.867
7.00 2.582 0.000 55.842 652.031 127.491 95.799 31.083 962.246 3819570.472
8.00 2.099 0.000 40.987 478.588 93.578 79.705 82.252 775.110 3127241.010
9.00 1.708 0.000 33.325 351.281 68.686 58.503 68.434 580.228 2439608.765
10.00 1.390 0.000 27.116 285.609 50.415 42.941 50.230 456.312 1865771.760
11.00 1.131 0.000 22.064 232.399 40.990 31.518 36.869 363.840 1476273.449
12.00 0.920 0.000 17.954 189.102 33.353 25.626 27.061 293.097 1182486.487
13.00 0.755 0.000 14.609 153.871 27.139 20.852 22.002 238.474 956826.875
14.00 0.647 0.000 11.981 125.205 22.083 16.967 17.903 194.139 778703.371
15.00 0.554 0.000 10.265 102.683 17.969 13.806 14.568 159.290 636172.409
16.00 0.475 0.000 8.794 87.972 14.737 11.234 11.854 134.590 528984.557
17.00 0.407 0.000 7.534 75.369 12.626 9.213 9.645 114.387 448158.416
18.00 0.348 0.000 6.455 64.571 10.817 7.893 7.910 97.646 381658.569
19.00 0.298 0.000 5.530 55.320 9.267 6.762 6.777 83.657 326344.538
20.00 0.256 0.000 4.738 47.395 7.939 5.794 5.806 71.672 279590.773
21.00 0.219 0.000 4.059 40.605 6.802 4.964 4.974 61.404 239535.188
22.00 0.188 0.000 3.477 34.787 5.827 4.252 4.262 52.607 205218.169
23.00 0.161 0.000 2.979 29.804 4.993 3.643 3.651 45.070 175817.578
24.00 0.138 0.000 2.552 25.534 4.277 3.121 3.128 38.613 150629.065
25.00 0.118 0.000 2.187 21.876 3.665 2.674 2.680 33.081 129049.185
26.00 0.101 0.000 1.873 18.742 3.140 2.291 2.296 28.342 110560.948
27.00 0.087 0.000 1.605 16.057 2.690 1.963 1.967 24.281 94721.429
28.00 0.074 0.000 1.375 13.756 2.304 1.682 1.685 20.803 81151.159
29.00 0.064 0.000 1.178 11.786 1.974 1.441 1.444 17.822 69525.035
30.00 0.054 0.000 1.009 10.097 1.691 1.234 1.237 15.269 59564.527
31.00 0.047 0.000 0.865 8.650 1.449 1.057 1.060 13.082 51031.013
32.00 0.040 0.000 0.741 7.411 1.241 0.906 0.908 11.207 43720.052
33.00 0.034 0.000 0.635 6.349 1.064 0.776 0.778 9.602 37456.497
34.00 0.029 0.000 0.544 5.440 0.911 0.665 0.666 8.226 32090.290
35.00 0.025 0.000 0.466 4.660 0.781 0.570 0.571 7.048 27492.873
36.00 0.022 0.000 0.399 3.993 0.669 0.488 0.489 6.038 23554.106
37.00 0.018 0.000 0.342 3.421 0.573 0.418 0.419 5.173 20179.626
38.00 0.016 0.000 0.293 2.931 0.491 0.358 0.359 4.432 17288.591
39.00 0.014 0.000 0.251 2.511 0.421 0.307 0.308 3.797 14811.740
40.00 0.012 0.000 0.215 2.151 0.360 0.263 0.264 3.253 12689.735
41.00 0.010 0.000 0.184 1.843 0.309 0.225 0.226 2.787 10871.740
42.00 0.009 0.000 0.158 1.579 0.264 0.193 0.193 2.388 9314.200
43.00 0.007 0.000 0.135 1.353 0.227 0.165 0.166 2.046 7979.800
44.00 0.006 0.000 0.116 1.159 0.194 0.142 0.142 1.753 6836.574
45.00 0.005 0.000 0.099 0.993 0.166 0.121 0.122 1.501 5857.132
46.00 0.005 0.000 0.085 0.851 0.142 0.104 0.104 1.286 5018.010
47.00 0.004 0.000 0.073 0.729 0.122 0.089 0.089 1.102 4299.104
48.00 0.003 0.000 0.062 0.624 0.105 0.076 0.076 0.944 3683.193

155.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
156.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
157.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
158.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
159.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
160.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Volume Total Limpasan m3 2.89E+07
Luas DAS km2 149.23
Tinggi Limpasan Langsung mm 193.49
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 99.67%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 4-9


BAB 5
CARAGAMA-1

5.1 HIDROGRAF SATUAN SINTETIK GAMA 1

Cara ketiga yang digunakan dalam perhitungan debit banjir yang akan dijelaskan
dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf satuan sintetis cara GAMA-1. Cara
ini dikembangkan oleh Dr. Sri Harto dari Univeritas Gajah Mada berdasarkan hasil
pengamatan dari hidrograf satuan alami di 30 DAS yang ada di pulau Jawa.

5.1.1 Bentuk Hidrograf Satuan Sintetis GAMA-1

Dalam rumusan aslinya, hidrograf satuan sintetis GAMA-1 adalah hidrograf sintetis
berdimesi yang dibentuk dengan menggunakan dua segment kurva yang dibentuk oleh
4 (empat) variabel pokok yaitu waktu naik/time to rise (TR), debit puncak/peak
discharge (QP), waktu dasar/time to base (TB) dan koefisien tampungan (K).

Dengan menggunakan sketsa definisi pada Gambar 5-1 keempat variabel pokok HSS
GAMA-1 dapat ditentukan dengan persamaan-persamaan sebagai berikut :

Gambar 5-1 : Bentuk Hidrograf HSS Gama-1 (berdimensi)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

a) Waktu Puncak (Tp)

Rumusan waktu naik/time to rise (Tp) dalam satuan jam yang digunakan adalah
L 3
Tp = 0.43( ) + 1.0665SIM + 1.2775
100F

b) Waktu Dasar (Tb)

Rumusan waktu dasar/time to base (Tb) dalam satuan Jam yang digunakan adalah

Tb = 27.4132 Tp 0.1457S -0.0986S N 0.7344 RUA 0.2574

c) Debit Puncak/peak discharge (QP)

Debit Puncak/peak discharge (QP) dalam satan m3/s adalah sbb

Qp = 0.1836 A 0.5886 Tp -0.4008


JN -0.2381

d) Bentuk Hidrograf Satuan

Rumusan bentuk hidrograf satuan adalah sbb

Lengkung naik (0 T Tp)

Qt = Qp T

Lengkung Turun (Tp T Tb)


T/K
Qt = Qp e

Pengertian dari berbagai variabel diatas adalah sbb

Qt = debit dihitung pada waktu t jam setelah Qp, dalam m3/detik

Qp = debit puncak (dengan waktu pada debit puncak dianggap t = 0), dalam
m3/detik

K = Koefisien tampungan dalam satuan Jam yang digunakan untuk


menetapkan kurva resesi didekati dengan persamaan eksponensial seperti
berikut :

K = 0.5617A 0.1798 S - 0.1446 SF -1.0897 D0.0452

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

5.1.2 Parameter Morfometri DAS

Parameter Morfometri DAS yang diperlukan dalam membuat hubungan antara


pengalih ragaman data hujan menjadi debit adalah sbb
1) L = Panjang sungai utama mulai dari outlet sampai hulu (km)
2) S = Kemiringan sungai yaitu perbandingan antara selisih titik tertinggi dengan
titik luaran (outlet) di Sungai utama, dengan panjang sungai utama yang
terletak pada kedua titik tersebut.
3) Penetapan tingkat-tingkat atau orde sungai dilakukan dengan metode Strahler yaitu
(lihat Gambar 5-2) :
a) Sungai-sungai paling ujung adalah sungai-sungai tingkat satu
b) Apabula dua buah sungai dengan tingkat sama bertemu akan terbentuk sungai
satu tingkat lebih tinggi
c) Apabila sebuah sungai dengan suatu tingkat bertemu dengan sungai lain
dengan tingkat yang lebih rendah maka tingkat sungai pertama tidak berubah

Gambar 5-2 : Penetapan Tingkat-Tingkat Sungai Menurut Strahler

4) JN = jumlah pertemuan semua sungai JN = (sungai orde 1) 1

5) SN = perbandingan antara jumlah orde sungai tingkat satu dengan jumlah orde
sungai semua tingkat

6) SF = (Jumlah panjang sungai orde 1)/(Jumlah panjang sungai semua orde)

7) D = Kerapatan Drainase DAS yaitu jumlah panjang sungai semua tingkat setiap
satuan luas (Km/Km2)
8) A = Luas total DAS (Km2)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

9) AU = luas DAS sebelah hulu yang diukur di hulu garis yang ditarik tegak lurus
garis hubung antara stasiun hidrometri dengan titik yang paling dekat
dengan titik berat DAS di sungai, melewati titik tersebut.
10) RUA = AU/A (Relative Upstream Area) yaitu Perbandingan luas DAS sebelah
hulu dan luas DAS.
11) WU = lebar DAS yang diukur di titik di sungai yang berjarak 0.75 L dan tegak
lurus dengan stasiun hidrometri
12) WL = lebar DAS yang diukur di titik di sungai yang berjarak 0.25 L dan
tegak lurus dengan stasiun hidrometri
13) WF = WU/WL
14) SIM = Symmetry Factor merupakan parameter bentuk DAS. (SIM= WF x RUA)

Gambar 5-3 : Pengertian Luas (A) Penentuan Luas Relatif DAS Hulu (RUA)

Gambar 5-4 : Penentuan Faktor Lebar DAS

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

5.1.3 Contoh Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis GAMA-1

Prosedur pembuatan hidrograf satuan sintetis GAMA-1 akan digunakan untuk


menentukan bentuk hidrograf banjir DAS Ciliwung hulu di bendung Katulampa
seperti pada Contoh Sebelumnya. Ditinjau dari jumlah data yang dipelukan, input HSS
GAMA-1 relatif kompleks. Yang cukup sulit didapat secara manual dari peta adalah
Jumlah Orde sungai dan Panjang setiap orde sungai. Pada Gambar 5-5 ditunjukan
peta jaringan sungai DAS Ciliwung Hulu (Bejo Slamet 2006).

Gambar 5-5 : Peta jaringan sungai DAS Ciliwung Hulu (Bejo Slamet 2006)

Parameter Morfometri DAS Ciliwung Hulu yang diperlukan dalam membuat


hubungan antara pengalih ragaman (transfer) data hujan menjadi debit ditunjukan pada
Tabel 5-1 Secara total terdapat 17 parameter morphometri (tidak termasuk nama
sungai dan stasiun) yang digunakan untuk membuat HSS GAMA-1 dimana rincian
data selengkapnya diberikan pada LAMPIRAN-3.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 5-1 : Parameter Morfometri DAS Ciliwung Hulu

No Parameter Morphometri Symbol Nlai Satuan Catatan

1 Nama Sungai Ciliwung Identitas DAS dan Stasiun


2 Stasiun Katulampa

3 Luas total DAS (A) A 149.230 km2 Data hanya dapat


4 Panjang Sungai Maksimum (L) L 24.460 km diperoleh dari peta DAS
5 Kemiringan DAS/Slope (S) S 0.111 m/m dengan informasi relatif
6 Lebar DAS pada titik 0,75L dan tegak lurus dengan outlet WU 11.000 km lengkap
7 Lebar DAS pada titik 0,25L dan tegak lurus dengan outlet WL 5.750 km
8 Luas DAS Sebelah Hulu Titik Berat (AU) AU 81.033 km2
9 Banyaknya sungai order-1 (J1) J1 264 buah
10 Banyaknya sungai untuk semua order (Ji) Js 520 buah
11 Jumlah Panjang sungai order-1 (L1) L1 231.740 km
12 Jumlah Panjang sungai untuk semua order (Li) Ls 436.080 km

13 Faktor Lebar/width Factor (WF) Wf 1.913 - (6)/(7)


14 Faktor simetri/Symmetry factor (SIM) = WF x RUA SIM 1.039 - (13)*(18)
15 Faktor Sumber/Source Factor (SF) SF 0.531 - (12)/(11)
16 Frekuensi Sumber/Source frequency (SN) SN 0.508 - (10)/(9)
17 Jumlah Pertemuan Sungai/Joint Frequency (JN) JN 263 buah (9)-1
18 Luas Relatif DAS Bagian Hulu/relative Upstream Area (RUA) = AU/A RUA 0.543 km2 (3)/(8)
19 Kerapatan Drainase/drainage density (D) D 2.922 km/km2 (3)/(11)

Prosedur pembuatan HSS GAMA-1 akan digunakan untuk menentukan hidrograf


banjir DAS Ciliwung hulu di bendung Katulampa seperti pada Contoh Sebelumnya.
Perhitungan HSS GAMA-1 dilakukan dengan Spread Sheet pada Tabel 5-2. dan
hasilnya ditunjukan pada Gambar 5-6 dengan penjelasan sbb :

1) Bagian I, berisi Input data yang diperlukan seperti Luas DAS, Panjang Sungai L
dll.

2) Bagian-II, berisi hasil perhitungan TL (menggunakan cara Snyder), Tp dan Tb

3) Bagian-III berisi perhitungan Qp, Volume Hujan dan Tinggi Limpasan (DRO)

4) Bagian-IV terdiri dari kolom 1 s/d kolom 5 untuk menghitung bentuk HSS GAMA-
1 dengan penjelasan sbb :

a) Kolom Pertama : berisi waktu perhitungan dengan interval Tr (jam) termasuk


didalamnya waktu puncak Tp.

b) Kolom Kedua merupakan ordinat HSS tak berdimensi didapat dari persamaan
bentuk kurva HSS GAMA-1.

Lengkung naik : Qt = Qp T (0 T Tp)


Lengkung Turun : Qt Qp e -T / K
(Tp T Tb)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-6


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

c) Kolom Ketiga berisi luas (volume) segmen HSS GAMA-1 berdimensi,


termasuk segmen sebelum dan sesudah Tp, dihitung dengan cara trapesium
Vi = 3600 ( )(
2 Qi + Qi +1 Ti +1 Ti ) (m3)

d) Jumlah seluruh Kolom Ketiga adalah luas kurva HSS GAMA-1 berdimensi.
N
VHSS V
i 1
i (m3)

e) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung HDRO,
yang nilainya harus mendekati 1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
H DRO 1 (mm)
A DAS

Hasil perhitungan menghasilkan HDRO = 1.152 mm yang cukup berbeda dengan


tinggi hujan satuan (kesalahan > 5%). Namun untuk bebebarapa DAS lain hasil
perhitungan HDRO cara yang dihitung GAMA-1 cukup mendekati tinggi hujan
satu satuan.
f) Jika hasil perhitungan HSS GAMA-1 pada Tabel 5-2 digambarkan akan
didapat HSS GAMA-1 berdimensi seperti Gambar 5-6.

10.000

9.000

8.000

7.000

6.000
Q (m3/s)

5.000

4.000

3.000

2.000

1.000

0.000
0.000 6.000 12.000 18.000 24.000 30.000 36.000 42.000 48.000
T (jam)

Gambar 5-6 : Bentuk Hidrograf HSS Gama-1 (berdimensi)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-7


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 5-2 : Perhitungan HSS GAMA-1


I. Karakteristik DAS
1. Nama Sungai Ciliwung
2. Stasiun Katulampa
3. Luas DAS A 149.230 km2
4. Panjang sungai L 24.460 km
5. Kemiringan sungai S 0.111 -
6. Faktor Lebar/width Factor Wf 1.913 -
7. Faktor simetri SIM 1.039 -
8. Faktor sumber SF 0.529 -
9. Frekuensi sumber SN 0.508 -
10. Jumlah pertemuan sungai JN 263.000 buah
11. Luas DPS sebelah hulu RUA 0.543 km2
12. Kerapatan jaringan kuras D 2.936 km/km2

II. Perhitungan Tp, Tb dan K


1. Waktu naik TR 2.428 Jam
2. Waktu dasar TB 20.131 Jam
3. Koefisien tampungan K 3.988 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Qp Qp 9.221 m3/s
2. Volume Hujan VR 149,230 m3
3. Volume Limpasan VRO 171,916 m3
4. Tinggi Limpasan RD 1.152 mm
Error > 5%
IV. Tabel perhitungan HSS Gama-1

HSS berdimensi HSS Tak berdimensi


t (jam)
Q=qQp V(m3) t=T/Tp q=Q/Qp
(1) (2) (3) (4) (5)
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 3.798 6836.054 0.412 0.412
2.00 7.596 20508.163 0.824 0.824
2.43 9.221 12951.837 1.000 1.000
3.00 7.988 17722.012 1.236 0.866
4.00 6.217 25569.687 1.648 0.674
5.00 4.838 19899.188 2.059 0.525
6.00 3.765 15486.216 2.471 0.408
7.00 2.930 12051.893 2.883 0.318
8.00 2.280 9379.187 3.295 0.247
9.00 1.775 7299.198 3.707 0.192
10.00 1.381 5680.481 4.119 0.150
11.00 1.075 4420.741 4.531 0.117
12.00 0.836 3440.369 4.943 0.091
13.00 0.651 2677.410 5.354 0.071
14.00 0.507 2083.651 5.766 0.055
15.00 0.394 1621.567 6.178 0.043
16.00 0.307 1261.958 6.590 0.033
17.00 0.239 982.098 7.002 0.026
18.00 0.186 764.301 7.414 0.020
19.00 0.145 594.805 7.826 0.016
20.00 0.113 462.897 8.238 0.012
20.13 0.109 52.203 8.292 0.012
21.00 0.000 170.367 8.649 0.000
22.00 0.000 0.000 9.061 0.000
23.00 0.000 0.000 9.473 0.000
24.00 0.000 0.000 9.885 0.000

150.00 0.000 0.000 61.782 0.000


151.00 0.000 0.000 62.194 0.000
152.00 0.000 0.000 62.606 0.000
153.00 0.000 0.000 63.018 0.000
154.00 0.000 0.000 63.430 0.000
155.00 0.000 0.000 63.842 0.000
156.00 0.000 0.000 64.253 0.000
157.00 0.000 0.000 64.665 0.000
158.00 0.000 0.000 65.077 0.000
159.00 0.000 0.000 65.489 0.000
160.00 0.000 0.000 65.901 0.000
Vol HSS (m3) 171916
DRO (mm) 1.152

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-8


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

g) Dua kolom pada Tabel 5-2 SEBENARNYA tidak ada dalam rumusan asli
GAMA-1. Namun kedua kolom ini diadakan agar didapat kurva HSS GAMA-
1 tak berdimesi yang dapat dibandingkan dengan HSS lainnya.
Kolom Keempat : berisi waktu tak berdimesi (t=T/Tp)
Kolom Kelima : berisi ordinat HSS GAMA-1 tak berdimesi (t=Q/Qp),

5.1.4 Superposisi Hidrograf

Tabel superposisi hidrograf banjir yang disusun dengan HSS Gama-1 ditunjukan pada
Tabel 5-3. Dalam tabel tersebut Rasio Limpasan/Hujan tidak sama dengan 100%.
Selain karam sejak awal HSS yang dihasilkan tidak menghasilkan H DRO cukup jauh
dari 1, selain itu harga Tp umumnya tidak merupakan kelipapan dari Tr, akibatnya
debit puncak Qp tidak diperhitungkan dalam proses superposisi hidrograf .

5.1.5 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir

Hasil akhir berupa hidrograf banjir untuk interval perhitungan Tr=1.0 Jam seperti
ditunjukan pada Gambar 5-7.

1,600.0 0.0

Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm) 50.0


1,400.0
Gama-1

100.0

1,200.0

150.0

1,000.0
200.0
Q (m3/s)

R (mm)

800.0 250.0

300.0
600.0

350.0

400.0

400.0

200.0
450.0

0.0 500.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 5-7 : Bentuk Hidrograf Banjir Hasil Superposisi HSS GAMA-1

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-9


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 5-3 : Superposisi HSS GAMA-1


Tinggi Hujan (mm/jam)
Waktu HSS Q (m3/s) Volume
1 2 3 4 5 6
(jam) GAMA-1 Limpasan
0.000 15.873 136.041 19.524 12.206 10.480 194.125
0.000 0.000 0.00 0.00 0.00
1.000 3.800 0.00 0.00 0.00 0.00
2.000 7.599 0.00 60.31 0.00 60.31 108564.10
3.000 7.988 0.00 120.63 516.91 0.00 637.54 1256135.66
4.000 6.216 0.00 126.79 1033.83 74.19 0.00 1234.81 3370222.60
5.000 4.838 0.00 98.67 1086.68 148.37 46.38 0.00 1380.11 4706846.76
6.000 3.765 0.00 76.79 845.69 155.96 92.76 39.82 1211.02 4664030.86
7.000 2.930 0.00 59.76 658.14 121.37 97.50 79.64 1016.42 4009388.40
8.000 2.280 0.00 46.51 512.19 94.45 75.88 83.71 812.74 3292489.18
9.000 1.775 0.00 36.19 398.60 73.51 59.05 65.15 632.50 2601437.67
10.000 1.381 0.00 28.17 310.20 57.21 45.96 50.70 492.23 2024518.85
11.000 1.075 0.00 21.92 241.41 44.52 35.76 39.46 383.07 1575542.87
12.000 0.836 0.00 17.06 187.87 34.65 27.83 30.71 298.12 1226135.95
13.000 0.651 0.00 13.28 146.21 26.96 21.66 23.90 232.00 954216.73
14.000 0.507 0.00 10.33 113.78 20.98 16.86 18.60 180.55 742600.82
15.000 0.394 0.00 8.04 88.55 16.33 13.12 14.47 140.51 577914.81
16.000 0.307 0.00 6.26 68.91 12.71 10.21 11.26 109.35 449751.09
17.000 0.239 0.00 4.87 53.63 9.89 7.95 8.77 85.10 350010.14
18.000 0.186 0.00 3.79 41.74 7.70 6.18 6.82 66.23 272388.66
19.000 0.145 0.00 2.95 32.48 5.99 4.81 5.31 51.54 211981.24
20.000 0.113 0.00 2.30 25.28 4.66 3.74 4.13 40.11 164970.32
21.000 0.000 0.00 1.79 19.67 3.63 2.91 3.22 31.21 128384.98
22.000 0.000 0.00 0.00 15.31 2.82 2.27 2.50 22.90 97410.94
23.000 0.000 0.00 0.00 0.00 2.20 1.77 1.95 5.91 51860.99
24.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 1.37 1.52 2.89 15837.08
25.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.18 1.18 7323.03
26.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2122.82
27.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
28.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
29.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
30.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
31.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
32.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
33.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
34.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
35.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
36.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
37.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
38.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
39.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
40.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
41.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
42.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
43.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
44.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
45.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
46.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
47.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
48.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

150.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
151.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
152.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
153.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
154.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
155.000 0.000 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Volume Total Limpasan m3 3.29E+07
Luas DAS km2 149.23
Tinggi Limpasan Langsung mm 220.21
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 113.44%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5-10


BAB 6
CARAITB

6.1 LATAR BELAKANG

Cara kempat yang dijelaskan dalam pelatihan ini adaah, perhitungan debit banjir
dengan hidrograf satuan sintetis cara ITB. Konsep dasar perhitungan hidrograf satuan
sintetis dengn cara ITB, pertama kali di publikasikan oleh Dantje K. Natakusumah
dalam Seminar Nasional Teknik Sumber Daya Air di Bandung, 2009. Selanjutnya
melalui program riset peningkatan kapasitas ITB 2010, metoda tersebut selanjutnya
dikebangkan lebih jauh oleh D.K. Natakusumah (ITB), W. Hatmoko (Puslitbang Air,
Kementrian Pekerjaan Umum) dan Dhemi Harlan (ITB). Karena riset didanai oleh ITB
maka metpda perhitungan ini diberinama metoda perhitungan HSS cara ITB. Meski
metoda ini dikembangkan paling akhir dibanding metoda HSS lain, namun metoda ini
bersifat umum, sehingga metoda yang lain dapat diangggap sebagai kasus khusus.

Metoda perhitungan HSS dengan cara ITB tidak dikembangkan berdasarkan analisa
HSS hasil observasi lapangan. Alasannya adalah untuk menghindarkan pengulangan
pekerjaan yang sama, yaitu menganalisa bentuk dasar HSS, yang hasilnya akan sama
yaitu bahwa bentuk dasar HSS dapat dibagi menjadi dua type yaitu, HSS dengan
bentuk puncak tumpul dan HSS dengan bentuk puncak lancip (sharp peak) serta sangat
sulit menemukan rumusan time lag yang berlaku pada semua type DAS.

Untuk menghindari menemukan/mengulangi hasil yang sama (dont re-invent the


wheel), pengembangan perhitungan hidrograf satuan sintetis dengan cara ITB
dilakukan dengan pendekatan reverse engineering process. Reverse engineering
adalah suatu proses disain yang memiliki pengertian sbb

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Reverse engineering is the process of discovering the technological


principles of a device, object, or system through analysis of its structure,
function, and operation. It often involves disassembling something (a
mechanical device, electronic component, computer program, or
biological, chemical, or organic matter) and analyzing its components and
workings in detail for either purposes of maintenance or to support
creation of a new device or program that does the same thing, without
using or simply duplicating (without understanding) the original
(http://en.wikipedia.org/wiki/Reverse_engineering).

Metoda perhitungan hidrograf satuan sintetis dengan cara ITB tidak dikembangkan
berdasarkan analisa bentuk dasar HSS hasil observasi lapangan, namun
berdasarkan pengamatan atas prinsip kerja, struktur, fungsi dan cara operasi berbagai
metoda perhitungan dan hasil perhitungan berbagai hidrograf satuan sintetis yang
umum digunakan, yang semua menyatakan dikembangkan dari hasil observasi
lapangan. Tujuannya adalah membangun suatu metoda perhitungan hidrograf satuan
sintetis baru yang dapat melakukan hal yang sama tanpa menduplikasi metoda lain
yang sudah yang sudah ada.

Kesimpulan hasil pengamatan atas prinsip kerja, strukture, fungsi dan cara operasi
berbagai metoda perhitungan dan hasil perhitungan berbagai hidrograf satuan sintetis
tersebut adalah sbb :

1) Bentuk dasar HSS dapat dibagi menjadi dua type yaitu, HSS dengan bentuk puncak
tumpul dan HSS dengan bentuk puncak lancip (sharp peak)

2) Sangat sulit menemukan rumusan time lag yang berlaku pada semua type DAS.
Tidak heran jika ada puluhan rumus time lag yang dikembangkan, namun tidak
ada satupun rumus yang berlaku umum untuk semua kasus.

3) Meskipun metoda HSS yang dikaji semuanya bekerja dengan prinsip yang sama,
namun ternyata tidak ada suatu formulasi umum yang berlaku untuk semua. Setiap
metoda diturunkan dengan cara yang berbeda dan dengan cara bagaimana rumus
Qp dari HSS tersebut dirumuskan seringkali tidak diketahui.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

4) Kompleksitas input data dan bentuk dasar HSS ternyata tidak terlalu perlu. Hal ini
terlihat dari fakta hidrograf banjir yang dihasilkan oleh HSS dengan input data dan
bentuk dasar HSS yang relatif sederhana, seringkali tidak terlalu berbeda jauh
dengan HSS dengan input data dan bentuk dasar HSS yang relatif rumit.

5) Akibat adanya kesalahan dalam berbagai tahapan perhitungan menyebabkan hasil


perhitungan volume hidrograf banjir yang berbeda dengan volume hujan effektif.
Kesalahan seperti ini seringkali tidak terdeteksi karena bentuk hidrograf yang
dihasilkan sepintas terlihat wajar.

6) Dalam kuliah hidrologi selalu diajarkan prinsip konservasi massa yang berakibat
volume hujan efektif satu satuan yang jatuh merata diseluruh DAS (VDAS) harus
sama volume hidrograf satuan sintetis (VHS) dengan waktu puncak Tp. Dalam
praktek cukup sulit untuk menunjukan bagaimana prinsip ini diterapkan dalam
berbagai rumus hidrograf satuan sintetis sudah ada

Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, telah dikembangkan suatu formulasi


untuk membuatan hidrograf satuan sintetis (HSS) yang memenuhi hukum konservasi
massa yang diturunkan dengan cara seperti dijelaskan pada bagian berikut.

6.2 FORMULASI UMUM HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Sebelum membahas debit puncak hidrograf satuan, perlu dijelaskan bahwa idea dasar
pencarian rumus umum untuk pembentukan hidrograf satuan sintetis bermula dari
penggunaan konsep transformasi (mapping) koordinat global ke lokal (atau dalam
bidang hidrologi disebut normalisasi) dan konsep integrasi numerik dalam bidang
komputasi yang umum digunakan dalam bidang komputasi dinamika fluida dan
komputasi hidrolika.

Inti konsep transformasi koordinat dan Integrasi Numerik adalah penyelesaian suatu
persamaan dalam domain yang kompleks dapat dilakukan dengan cara lebih mudah
jika bidang asli dipetakan kedalam bidang komputasi yang bernilai antara 0 dan 1.
Perhitungan integrasi dan/atau diffreresiasi dilakukan pada bidang normal tersebut dan
kemudian hasilnya dikembalikan ke bidang semula.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.2.1 Transformasi/Normalisasi Koordinat

Untuk memudahkan penjelasan, tinjau suatu kurva hidrograf berbentuk segitiga yang
terjadi akibat hujan efektif R=1 mm pada suatu DAS luas ADAS. seperti ditunjukan
pada Gambar 6-1.a. Misalkan Tp adalah absis dan Qp adalah ordinat titik puncak HS
Segitiga. Jika seluruh harga T (waktu) pada absis dinormalkan terhadap Tp atau
(t=T/Tp) dan seluruh harga ordinat Q (debit) dinormalkan terhadap Qp atau (q=Q/Qp),
akan didapat suatu kurva hidrograf tak berdimensi seperti ditunjukan Gambar 6-1.b
dimana titik puncak (tp,qp) bernilai (1,1). Integrasi kurva hidrograf adalah sama
dengan volume hidrograf satuan dan integrasi dilakukan secara eksak atau numerik.

Qp=5 m3/s
V SUH = 1/2*(8 s)*(5 m3/s) =20 m3

0 Tp=2 s Tb=8 s
(a) Triangular SUH (dimensional)

1
A SUH = 1/2*(4*1) = 2 (exact)
VSUH = Qp*Tp*A SUH
= (5 m3/s)*(2 s)*(2) = 20 m3

0 1 4
(b) Triangular SUH (non-dimensional)

Gambar 6-1 : Kesetaraan Luas HSS-Segitiga dengan HSS-Segitiga Tak-Berdimensi

Luas bidang dibawah kurva yang telah dinormalkan dapat dihitung dari rumus luas
segitiga sbb.

AHSS = * (4*1) = 2 (tanpa satuan)

Volume hidrograf satuan VHSS (memiliki dimensi m3) dapat diperoleh dengan cara
yang lebih mudah yaitu mengalikan AHSS dengan Qp dan Tp, atau

VHSS = Qp Tp AHSS = (5 m3/s)*(2s)*(2) = 20 (m3)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.2.2 Generalisasi ke bentuk yang kompleks

Hasil tersebut dapat digeneralisasi untuk bentuk HSS yang lebih kompleks seperti
ditunjukan pada Gambar 6-2.

Qp
V HSS = Volume HSS (m3)

0 Tp Tb
(a) Typical SUH (dimensional)

1
A SUH = Luas HSS (Dihitung Secara Numerik)
V HSS = Qp*Tp*A HSS

0 1 Tb/Tp
(b) Typical SUH (non-dimensional)

Gambar 6-2 : Kesetaraan volume HSS generik dengan HSS yang telah dinormalkan

Jika hidrograf banjir dinormalkan dengan faktor Qp dan Tp, maka volume HSS dapat
dihitung dengan rumus

VHSS = Qp Tp AHSS

Jika Tp (jam) dikonversi dalam detik, maka

VHS = AHSS Qp Tp 3600 (m3)

dimana AHSS adalah luas HSS tak berdimensi. Untuk hujan efektif satuan R=1 mm
pada suatu DAS luas ADAS (km2), maka volume hujan efektif satu satuan R=1 mm
yang jatuh merata diseluruh DAS (VDAS) dapat dinyatakan sbb

VDAS = R x ADAS = 1000 ADAS (m3)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.2.3 Rumus Umum Qp (Debit Puncak) dan Kp (Peak Rate Factor)

Dengan konsep transformasi atau normalisasi koordinat telah dapat dicari kesetaraan
luas HSS yang dihitung pada bidang sebenarnya dengan HSS yang dhitung pada
bidang yang telah dinormalkan. Hal ini berguna dalam menjelaskan penerapan prinsip
konservasi mass dalam penurunan debit puncak hidrograf satuan.

Dari definisi HSS dan prinsip konservasi massa, dapat disimpulkan bahwa volume
hujan efektif satu satuan yang jatuh merata diseluruh DAS (VDAS) harus sama volume
hidrograf satuan sintetis (VHS) dengan waktu puncak Tp, atau

1000 ADAS = AHSS Qp Tp 3600

Akibatnya formulasi umum yang berlaku untuk semua bentuk HSS adalah

R A DAS
Qp (m3)
3.6 Tp A HSS

Atau dapat pula dituliskan sbb

Kp R A DAS
Qp (m3)
TP
Dimana :

Qp = Debit puncak hidrograf satuan (m3/s)

Kp = 1/(3.6 x AHSS) = Peak Rate Factor (m3 per s/km2/mm)

R = Curah Hujan satuan (1 mm)

Tp = waktu mencapai puncak (jam)

ADAS = Luas DAS (km2)

AHSS = Luas kurva hidrograf satuan tak berdimensi (dimensionless unit hidrograf)

Dari rumusan diatas terlihat bahwa rumus Qp (Debit Puncak) dan Kp (Peak Rate
Faktor) yang diturunkan dengan cara ITB bentuknya jauh lebih sederhana namun
bersifat lebih umum. Selanjutnya dapat ditujukan bahwa rumus diatas dapat pula
dipergunakan untuk membuat bentuk hidrograf satuan lainnya.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-6


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.3 HIDROGRAF SATUAN SINTETIS ITB-1 DAN ITB-2

Hidrograf satuan sintetis ITB-1 dan ITB-2 yang tak berdimensi adalah hidrograf
sintetis yang dinyatakan dalam bentuk perbandingan antara debit Q dengan debit
puncak Qp dan waktu t dengan waktu naik Tp dan selanjutnya dibentuk menjadi kurva
HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 berdimensi. Untuk menghitung HSS HSS ITB-1 dan HSS
ITB-2 diperlukan data karakteristik fisik DAS berupa luas DAS dan panjang sungai.

6.3.1 Data karakteristik fisik DAS

Dari karakteristik fisik DAS dapat dihitung dua elemen-elemen penting yang akan
menentukan bentuk dari hidrograf satuan itu yaitu 1) Time Lag (TL), 2) Waktu puncak
(Tp) dan waktu dasar (Tb). Selain parameter fisik terdapat pula parameter non-fisik
yang digunakan untuk proses kalibrasi.

6.3.2 Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb)

Prosedure umum ini juga direncanakan cukup fleksibel dalam mengadopsi rumusan
time lag yang akan digunakan. Beberapa runus time lag yang dapat digunakan antara
dapat dilihat pada LAMPIRAN-1. Untuk HSS ITB-1 rumusan time lag yang
digunakan adalah rumus Snyder (dalam hal ini Lc = L dan n=0.3)

TL Ct 0.81225 L0.6 (1)

Sedang untuk HSS ITB-2 rumusan time lag yang digunakan adalah

TL Ct (0.0394L + 0.201L0.5 ) (2)

dimana :

TL = time lag (jam)

Ct = koefisien penyesuaian waktu (untuk proses kalibrasi)

L= panjang sungai (km);

Waktu puncak HSS ITB-1 didefiniskan sbb

Tp = TL + 0.50 Tr (3)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-7


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Sedang untuk HSS ITB-2 puncak didefiniskan sbb

Tp = 1.6 tp (4)

Selanjutnya waktu Dasar Hidrograf Satuan (Tb) didefinisikan sampai harga tak
berhingga (Tb=), namun untuk perhitungan prakstis (Tb) dibatasi antara 10 s/d 20
Tb dan dalam tukisan ini harga yang digunakan sbb

Tb = 10*Tp (5)

6.3.3 Persamaan Bentuk Dasar Hidrograf Satuan

Terdapat tiga bentuk dasar HS yang dapat digunakan antara lain adalah HSS ITB-1,
HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sbb :

HSS ITB-1 memiliki persamaan bentuk dasar yang dinyatakan dengan satu
persamaan berikut

q(t ) t * exp(1 t )
Cp
(t > 0 s/d ) = 3.700 (6.b)
persamaan diatas digunakan pula oleh NRCS sebagai alternative lain selain kurva
SCS Curvilinear yang diberikan dalam bentuk tabel. Perlu dicatat, sebelumnya
persamaan yang digunakan untuk HSS ITB-1 adalah
Cp
1
q( t ) exp2 t (t > 0 s/d ) = 2.000 (6.a)
t
Persamaan kurva diatas tidak bisa diintegrasikan secara eksak sehingga harus
diintegrasi secara numerik.

HSS ITB-2 memiliki persamaan bentuk dasar yang dinyatakan dengan dua
persamaan yaitu persamaan lengkung naik dan lengkung turun sbb

Lengkung Naik : q( t ) t (0 t 1) = 2.400 (7.a)


Lengkung Turun : q(t ) exp 1 t C p
(t > 1 s/d ) = 0.880 (7.b)

Jika ketiga persamaan diatas digambarkan dalam satu gambar, didapat tiga bentuk
kurva seperti ditunjukan pada Gambar 6-3. Pada gambar tersebut sumbu horizontal
t=T/Tp dan vertical q=Q/Qp masing-masing adalah waktu dan debit yang telah
dinormalkan (tak berdimensi).

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-8


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1.2
HSS ITB-1
HSS ITB-2
HSS NRSS
1.0

0.8
q=Q/Qp

0.6

0.4

0.2

0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
t=T/Tp

Gambar 6-3 : Bentuk HSS ITB-1, ITB-2 dan HSS NRCS Tak berdimensi

6.3.4 Debit Puncak dan Faktor Debit Puncak Hidrograf Satuan

Jika bentuk dasar HSS diketahui, dan harga waktu puncak T P dan waktu dasar T B
diketahui, maka debit puncak hidrograf satuan sintetis akibat tinggi hujan satu satun
R=1 mm yang jatuh selama durasi hujan satu satuan Tr=1 jam, dapat dihitung sbb :

R A DAS
Qp (m3)
3.6 Tp A HSS
Dimana :

R = Curah Hujan satuan (1.0 mm)

Qp = Debit puncak hidrograf satuan (m3/s)

Tp = waktu mencapai puncak (jam)

ADAS = Luas DAS (km2)

AHSS = Luas kurva hidrograf satuan tak berdimensi (dimensionless unit


hidrograf) yang bisa dihitung secara eksak atau secara numerik.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-9


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Selanjunya Harga Peak Rate factor dihitung sbb

Kp = 1/(3.6 x AHSS) = Peak Rate Factor (m3 per s/km2/mm)

6.3.5 Integrasi Kurva HSS

Luas AHSS tak berdimensi yang dapat dihitung secara eksak atau secara numerik.
Tentang apakah AHSS dicari integrasinya secara eksak atau numerik, bergantung pada
persamaan bentuk dasar HSS yang digunakan. Sebagai contoh adalah sbb

1) Jika bentuk dasar yang digunakan adalah bentuk persamaan HSS ITB-1 adalah

Cp
1
q( t ) exp2 t (t > 0 s/d ) = 2.000
t

Harga eksak AHSS hasil integrasi persamaan tersebut tidak bisa ditemukan,
sehingga AHSS hanya bisa diperoleh secara numerik dan harga tsb selanjutnya
dianggap sebagai harga eksak.

2) Jika bentuk dasar yang digunakan adalah bentuk dapat digunakan pesamaan Kurva
digunakan NRCS sebagai alternative selain kurva SCS Curvilinear

q ( t ) t * exp( 1 t )
Cp
(t > 0 s/d ) = 3.700

harga eksak AHSS hasil integrasi persamaan tersebut dapat diketahui. Jika m =

Cp, maka harga eksak integrasi persamaan tersebut diketahui sbb.


e m (m 1,0)
A HSS q( t ) dt t * exp(1 t ) dt
m

0 0 m m 1

Dimana fungsi (m 1,0) adalah fungsi Gamma tak lengkap (Incompletee


Gamma function of Second Kind) dengan dua input parameter m+1 dan 0. Perlu
dicatat bahwa NRCS hanya memberikan hasil numerik Kp yang diturunkan
integrasi numerik persamaan diatas untuk benerapa harga m.

3) Persamaan bentuk dasar HSS ITB-2 adalah

Lengkung Naik : q( t ) t (0 t 1) = 2.400


Lengkung Turun : q ( t ) exp 1 t C p
(t > 1 s/d ) = 0.880

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-10


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Harga eksak integrasi persamaan tersebut diketahui. Jika m=, dan n=Cp maka

harga eksak integrasi persamaan tersebut diketahui sbb.


e ( n1 ,1n ) 1

1
1
A HSS q ( t ) dt t m dt exp 1 t n dt
0 0 1
m 1
n 1n n
1

Dimana fungsi ( n1 ,1n ) adalah fungsi Gamma tak lengkap (Incompletee Gamma
function of Second Kind) dengan dua input parameter 1/n dan 1 n.

4) Mengingat cara SCS dan cara Nakayasu menggunakan harga AHSS eksak, maka
demi keseragaman cara perhitungan dengan HSS lainnya, untuk selanjutnya harga
AHSS yang digunakan adalah hasil integrasi eksaknya diketahui (kecuali jika
integrasi eksak tidak diketahui, maka digunakan hasil numerik). Setelah seluruh
tabel perhitungan dengan harga eksak selesai dilakukan, untuk merubah apakah
selanjutnya menggunakan harga AHSS eksak atau numerik sebenarnya
mudah. Cukup merubah apakah Kp dihitung menggunakan harga A HSS eksak atau
AHSS numerik. Jika hasil integrasi eksak digunakan, perhitungan harga Kp dan Qp,
dipastikan benar, namun terdapat kesalahan kecil dalam perhitungan A HSS, VHSS
dan DRO. Sebaliknya jika hasil integrasi numerik yang digunakan, maka VHSS dan
DRO dipastikan benar, namun terdapat kesalahan dalam harga Kp dan Qp.

5) Integrasi numerik dapat dengan metoda trapesium banyak pias seperti ditunjukan
pada Gambar 6-4. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kurva lengkung didekati
dengan kepingan garis lurus yang menerus (piecewise straight lines).
Q
Q4
Q4
Q3

Q5

Q6
Q2
Q7

T0 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T

Gambar 6-4 : Integrasi numerik kurva hidrograf dengan metoda trapesium

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-11


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Integrasi numerik dengan metoda trapesium banyak pias untuk kurva diatas
dilakukan menggunakan persamaan

1 N
A HSS Ti 1 - Ti Q i 1 Q i
2 i 1

Untuk hidrograf banjir nilai Q0 dan QN umumnya sama dengan nol

6) Jika bentuk HSS diberikan dalam bentuk tabel absis dan ordinat, maka satu-
satunya cara untuk mendapatkan luas HSS hanyalah dengan menggunakan cara
integrasi numerik dan harga hasil integrasi numerik itulah yang dianggap sebagai
harga eksaknya. Beberapa HSS seperti HSS SCS curvinliear, HSS-Delmarva dan
HSS Hickok-Keppel-Rafferty bentuknya didefinisikan menggunakan tabel.

7) Sebagai contoh pada Gambar 6-5 ditunjukan bentuk HSS SCS Asli yang bentuk
kurvanya didefinisikan dengan Tabel yang berisi absis dan ordinat kurva SCS
Curviliner. Luas HSS SCS curvinliear hanya bisa dihitung dengan cara integrasi
numerik. Dengan menggunakan rumus debit puncak rumus Kp (Peak Rate Faktor)
dan Qp (Debit Puncak) cara ITB dapat dibuat HSS SCS-ITB dan hasilnya
ditunjukan pada Gambar 6-5. Meski rumus debit puncak cara SCS dan ITB
berbeda, namun hasil akhirnya menunjukan kesesuaian hasil yang sangat baik.
Dengan cara yang sama telah berhasil dibuat HSS-Delmarva dan HSS Hickok-
Keppel-Rafferty yang bentuk kurvanya juga didefinisikan denganTabel yang berisi
absis dan ordinat kurva HSS dan hasil rekonstrusi dengan cara ITB memberikan
hasil HSS-Delmarva dan HSS Hickok-Keppel-Rafferty yang sangat mendekati
bentuk yang asli.

8) Rumus Kp (Peak Rate Faktor) dan Qp (Debit Puncak) cara ITB bahkan dapat
dipergunakan untuk membuat bentuk HSS asalkan bentuk persamaannya
diketahui. Sebagai contoh, jika misalkan kurva bentuk HSS Nakayasu seperti pada
Gambar 6-6 dijadikan bentuk kurva dasar, dengan Rumus Qp (Debit Puncak) dan
Kp (Peak Rate Faktor) cara ITB dapat dibuat HSS Nakayasu-ITB, dan hasilnya
ditunjukan pada Gambar 6-6. Meski rumus debit puncak cara Nakayasu yang asli
dan rumus debit puncak ITB berbeda, namun hasil akhirnya menunjukan
kesesuaian hasil yang sangat baik.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-12


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1,400.0 0.0

Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm)
1,200.0 100.0
SCS-Asli

SCS-ITB
1,000.0 200.0

800.0 300.0
Q (m3/s)

R (mm)
0.2083 A DAS
Qp = HSS SCS Asli
Tp
600.0 400.0
R A DAS
Qp = HSS SCS ITB
3.6 Tp A HSS

400.0 500.0

200.0 600.0

0.0 700.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 6-5 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS SCS-Asli dan hidrograf hasil
superposisi HSS SCS-ITB

1,400.0 0.0

Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm)
1,200.0 100.0
Nakayasu-Asli (Alpha=2.0)

Nakayasu-ITB (Alpha=2.0)
1,000.0 200.0

800.0 A DAS .R 300.0


Qp = HSS Nakayasu Asli
Q (m3/s)

3.6 (0.3Tp + T0.3 )


R (mm)

R A DAS
Qp = HSS Nakayasu ITB
3.6 Tp A HSS
600.0 400.0

400.0 500.0

200.0 600.0

0.0 700.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 6-6 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS Nakayasu Asli dan hidrograf
hasil superposisi HSS Nakayasu-ITB

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-13


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.3.6 Kalibrasi Tp dan Qp

Jika disuatu DAS dapat diperoleh data hidrograf debit banjir, seringkali dijumpai hasil
perhitungan hidrograf banjir dengan superposisi HSS yang sedikit berbeda dengan
hasil pengamatan. Kalibrasi diperlukan untuk memperoleh parameter model dengan
mencocokkan hasil perhitungan dan pengamatan. Kedekatan hidrograf perhitungan
dan pengamatan dilakukan dengan optimasi berdasarkan Peak Weighted RMS (Root
Mean Square) error, metode ini pada prinsipnya mendekatkan besaran puncak,
volume dan waktu puncak dari perhitungan ke pengamatan. Pembahasan tentang cara
adalah diluar lingkup bahasan pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini kalibrasi kalibrasi hidrograf banjir dilakukan dengan pendekatan
trial and eror secara manual dengan evaluasi hasil yang dibantu secara visual.

1) Kalibrasi waktu puncak Tp diberikan melalui coefisien Ct. Harga standar koefisien
Ct adalah 1.0. harga Tp dapat dirubah sesuai kebutuhan tanpa harus merubah
rumus time lag dengan merubah harga koefisien Ct.,

Jika harga waktu puncak perhitungan lebih kecil dari waktu puncak
pengamatan, maka harga diambil Ct > 1.0 akan membuat harga waktu puncak
membesar.

Jika harga waktu puncak perhitungan lebih besar dari waktu puncak
pengamatan, maka harga diambil Ct < 1.0 akan membuat harga waktu puncak
mengecil

2) Kalibrasi debit puncak Qp diberikan diberikan melalui coefisien Cp. Untuk HSS
ITB-1 dengan kurva dasar NRCS harga default =3.7 sedang untuk HSS ITB-2
harga default =2.4 dan =0.86. Jika sangat diperlukan harga koefisien dan
dapat dirubah atau dapat juga dengan merubah harga koefisien Cp. Harga standar
koefisien Cp adalah 1.0,

Jika harga debit puncak perhitungan lebih kecil dari debit puncak pengamatan,
maka harga diambil Cp > 1.0 akan membuat harga debit puncak membesar,

Jika debit puncak perhitungan lebih besar dari hasil pengamatan maka harga
diambil Cp < 1.0 agar harga debit puncak mengecil.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-14


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.3.7 Pentingnya Harga Kp dan Qp Yang Dihitung Secara Eksak

Luas dibawah kurva HSS yang menunjukan volume HSS sebenarnya dapat dihitung
dengan mudah dengan metoda trapesium banyak pias, dan hasilnya sangat akurat. Jika
hasil integrasi numerik sangat akurat, maka timbul pertanyaan apa guna Kp Dan Qp
yang dihitung secara eksak ?. Ada sejumlah alasan mengapa hal itu penting.

1) Bentuk kurva HSS banyak ditentukan oleh akurasi harga Kp. Jika harga eksak Kp
diketahui, maka harga Qp yang benar diketahui dan bentuk kurva hidrograf akan
dikontrol oleh harga yang benar tersebut.

2) Ketelian integrasi numerik sangat bergantung pada jumlah titik yang digunakan
dalam integrasi, semakin banyak titik semakin akurat. Namun unuk mengetui
berapa harga yang benar, jawabnya adalah yang mendekati hasil eksak.

3) Pentingnya harga Kp dan Qp yang dihitung secara eksak sebenarnya terjadi untuk
kasus kalibrasi memerlukan harga Cp yang sangat rendah khususnya untuk HSS
ITB-2. Untuk HSS ITB-1 dengan kurva NRCS hal ini tidak terlalu terlihat. Hal ini
ditunjukan pada gambar

a) Pada Gambar 6-7 ditunjukan bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1
dan HSS ITB-2 untuk Cp=1.2 dengan Kp dan Qp yang dihitung secara eksak
dan numerik. Untuk HSS ITB-1 hasil eksak dan numerik sangat dekat. Untuk
HSS ITB-2 hasil eksak dan numerik juga sangat dekat kecuali dekat puncak
terdapat sedikit selisih.

b) Pada Gambar 6-8 ditunjukan bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1
dan HSS ITB-2 untuk Cp=0.4 dengan Kp dan Qp yang dihitung secara eksak
dan numerik. Untuk HSS ITB-1 hasil eksak dan numerik sangat dekat. Untuk
HSS ITB-2 terdapat perbedaan hasil eksak dan numerik yang sangat besar.
Penyebab kesalahan hasil numerik sebenarnya bukan pada perhitungan
numeriknya tetapi pada batas atas integrasi yang ditetapkan Tb/Tp=20 dan
hasilnya digunakan menghitung Kp dan Qp. Hasilnya tentu akan tidak akurat,
karena untuk kasus Cp=0.40, seharusnya minimal besarnya Tb/Tp=1000,
sehingga agak sulit jika dihitung secara numerik. Sebaliknya HSS ITB-2 yang
dihitung secara eksak, didasarkan pada integrasi sampai Tb/Tp=.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-15


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1,600.0 0.0
Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm)
1,400.0 100.0
ITB-1 (Eksak)

ITB-2 (Eksak)

1,200.0 ITB-1 (Numerik) 200.0


ITB-2 (Numerik)

1,000.0 300.0
Q (m3/s)

R (mm)
800.0 400.0

600.0 500.0

400.0 600.0

200.0 700.0

0.0 800.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0
T (Jam)

Gambar 6-7 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 untuk
Cp=1.2 dengan Kp dan Qp yang dihitung secara eksak dan numerik.
1,600.0 0.0
Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm)
1,400.0 100.0
ITB-1 (Eksak)

ITB-2 (Eksak)

1,200.0 ITB-1 (Numerik) 200.0


ITB-2 (Numerik)

1,000.0 300.0
Q (m3/s)

R (mm)

800.0 400.0

600.0 500.0

400.0 600.0

200.0 700.0

0.0 800.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0
T (Jam)

Gambar 6-8 : Bentuk hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 untuk
Cp=0.4 dengan Kp dan Qp yang dihitung secara eksak dan numerik.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-16


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.4 CONTOH PENGGUNAAN

Pada bagian ini ditunjukan beberapa contoh perhitungan debit banjir menggunakan
perhitungan Kp dan Qp dilakukan dengan cara ITB. Meskipun misalnya bentuk dasar
yang digunakan adalah HSS SCS Segitiga, SCS Curvilinear dalam bentuk Tabel atau
NRCS, namun perhitungan debit puncak HSS tidak dilakukan dengan rumus dari SCS
namun akan dilakukan dengan Rumus Kp (Peak Rate Faktor) dan Qp (Debit Puncak)
cara ITB.

Contoh penggunaan cara ITB akan ditunjukan melalui lima contoh penggunaan di
DAS yang berukuran ecil dan DAS Ciliwung di Bendung Katulampa yang berukukan
sedang.

1) Hidrograf Banjir DAS Kecil Dihitung Dengan HSS SCS Segitiga dan HSS SCS
Curvilinear.

2) Hidrograf Banjir DAS Katulampa Dihitung Dengan HSS ITB-1, HSS ITB-2 dan
NRCS-ITB

3) Cara Kalibrasi Dengan HSS ITB-1, HSS ITB-2 dan NRCS-ITB dengan Hidrograf
Banjir Terukur

6.4.1 Hidrograf Banjir Das Kecil Dihitung Dengan HSS SCS Curviliner dan HSS
SCS Segitiga

Pada bagian ini ditunjukan contoh cara perhitungan hidrograf banjir suatu DAS kecil
yang memiliki Luas DAS = 1.2 km2, L=1575 m, S=0.001 (m/m). Banjir terjadi di DAS
tersebut akibat hujan efektif sebesar 10 mm, 70 mm dan 30 mm (interval 1/4 jam).
Perhitungan hidrograf bajir dilakukan dengan bentuk dasar HSS SCS segitiga dan HSS
SCS Curvilinear namun perhitungan Kp dan Qp dilakukan dengan cara ITB.

Harga absis dan ordinat diberikan pada Tabel 6-1 adapun bentuk kurva SCS
Curvilinear ditunjukan pada Gambar 6-9. Jika dihitung luas dibawah kurva pada
Tabel SCS Curvilinear adalah 1.3544 Bentuk dasar HSS SCS Segitiga tak berdimensi
yang merupakan penyederhaan HSS SCS Curviliner memiliki titik puncak tp=(1,1)
dan tb=(8/3,0) dan ordinat diberikan pada Gambar 6-9.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-17


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-1 : Koordinat HSS SCS Curvilinear Tidak Berdimensi

t/tp q/qp t/tp q/qp

0.000 0.000 1.400 0.750


0.100 0.015 1.500 0.660
0.200 0.075 1.600 0.560
0.300 0.160 1.800 0.420
0.400 0.280 2.000 0.320
0.500 0.430 2.200 0.240
0.600 0.600 2.400 0.180
0.700 0.770 2.600 0.130
0.800 0.890 2.800 0.098
0.900 0.970 3.000 0.075
1.000 1.000 3.500 0.036
1.100 0.980 4.000 0.018
1.200 0.920 4.500 0.009
1.300 0.840 5.000 0.004

Gambar 6-9 : Bentuk HSS SCS Curvilinear dan HSS SCS Segitiga

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-18


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.4.1.1 Perhitungan HSS SCS Curvilinear dan Segitiga dengan Cara ITB

Perhitungan dilakukan dengan Spread Sheet (Microsoft Excell) dan hasilnya


ditunjukan pada Tabel 6-2 dan Tabel 6-3

1) Bagian I pada Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, berisi Input data yang diperlukan seperti
Nama DAS, Nama Stasiun, Input Luas DAS, Panjang Sungai L, Harga Tr dan R.

2) Bagian-II dari Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, berisi hasil perhitungan Tc, Tp dan Tb

a) Time Concentration (untuk DAS kecil gunakan Rumus Kirpirch)

L0.77 15750.77
t c 0.01947 0.835 0.01947 80.58 menit 1.34 jam
0.835
S 0.001

b) Time Peak (Tp) dan Time Base (Tb)

Tp 23 tc 23 1.34 0.893jam

Tb 83 tp 83 0.893 2.382 jam

3) Bagian-III pada Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, berisi perhitungan Luas HSS, Kp, Qp,
Volume Hujan (VDAS)

a) Hitung Luas AHSS

Pada bagian-III dari Tabel 6-2, Luas HSS SCS Segitiga dapat dihitung
secara eksak.

A HSS 12 q p t b 12 1* 8 / 3 4/3 Luas Exact

Pada bagian-III dari Tabel 6-3, Luas HSS SCS Curvilinear pada tabel SCS
hanya dapat dihitung secara numerik kurva pada Tabel SCS. karena SCS
tidak memberikan bentuk persamaanya kurva pada Tabel 6-1 hasil
integrasi secara numerik tersebut adalah harga eksak

A HSS 1.3544 Luas Exact

Harga tersebut selanjutnya digunakan untuk memastikan harga Kp dan Qp


yang digunakan benar dan ketelitian kurva HSS hasil interpolasi yang
digunakan cukup dekat dengan kurva pada Tabel 6-1

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-19


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-2 : Perhitungan HSS SCS Segitiga dengan cara ITB

I. Karakteristik DAS dan Hujan


1. Nama Sungai = Anonim
2. Stasiun = Kecil
3. Luas DAS (A) = 1.200 km2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 1570.000 m
5. Kemiringan Sungai (So) = 0.001 m/m
6. Tinggi Hujan Satuan (R) = 1.000 mm
7. Durasi Hujan Satuan (Tr) = 0.250 Jam

II. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) Dan Waktu Dasar (Tb)


1. Time Concentration (tc) --> rumus Kirpirch
tP = 0.01947*(L^0.77)/(So^0.385) = 80.391 menit
= 1.340 Jam
2. Waktu Puncak
Tp = 0.893 Jam
3. Waktu Dasar
T B /T P = 8/3 = 2.667
TB = 2.382 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Luas HSS (Harga Exact) = 1.3333 (tak bersatuan)
2. Kp = 1/(3.6*A H S S ) = 0.2083 (m3 per s/km2/mm)
3. Qp = Kp ADA S R/Tp = 0.2799 m3/s
4. Volume Hujan (V DA S = 1000*R*A DA S ) = 1,200.00 m3
5. VH S S (Bag-IV, Kol-6, baris 2 terbawah) = 1,200.00 m3 Ok !
6. DRO (Bag-IV, Kol-6, baris terbawah) = 1.0000 mm Ok !

IV. Tabel perhitungan HSS SCS Segitiga

HSS Tak berdimensi HSS berdimensi


T (jam)
t=T/Tp q=Q/Qp AH S S Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (4) (5)
0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
0.2500 0.2799 0.2799 0.0392 0.0783 35.2501
0.5000 0.5598 0.5598 0.1175 0.1567 105.7503
0.7500 0.8396 0.8396 0.1958 0.2350 176.2504
0.8932 1.0000 1.0000 0.1475 0.2799 132.7492
1.0000 1.1195 0.9283 0.1152 0.2598 103.7153
1.2500 1.3994 0.7604 0.2363 0.2128 212.6786
1.5000 1.6793 0.5924 0.1893 0.1658 170.3785
1.7500 1.9592 0.4245 0.1423 0.1188 128.0784
2.0000 2.2391 0.2566 0.0953 0.0718 85.7783
2.2500 2.5189 0.0886 0.0483 0.0248 43.4781
2.3820 2.6667 0.0000 0.0065 0.0000 5.8929
2.5000 2.7988 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
2.7500 3.0787 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.0000 3.3586 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.2500 3.6385 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.5000 3.9183 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.7500 4.1982 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.0000 4.4781 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.2500 4.7580 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.5000 5.0379 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.7500 5.3177 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
5.0000 5.5976 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
AH S S = 1.3333 VH S S (m3) 1200.000
Error = 0.000% DRO (mm) 1.000

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-20


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-3 : Perhitungan HSS SCS Curvilinear dengan cara ITB

I. Karakteristik DAS dan Hujan


1. Nama Sungai = Kecil
2. Stasiun = Anonim
3. Luas DAS (A) = 1.200 km2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 1570.000 mm
5. Kemiringan Sungai (So) = 0.001 mm
6. Tinggi Hujan Satuan (R) = 1.000 mm
7. Durasi Hujan Satuan (Tr) = 0.250 Jam

II. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) Dan Waktu Dasar (Tb)


1. Time Concentration (tc) --> rumus Kirpirch
tP = 0.01947*(L^0.77)/(S^0.385) = 80.391 menit
= 1.340 Jam
2. Waktu Puncak
Tp = 0.893 Jam
3. Waktu Dasar
T B /T P = 5 = 5.000
TB = 4.466 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Luas HSS (Hasil Integrasi Tabel SCS) = 1.3544 (tak bersatuan)
2. Kp = 1/(3.6*A H S S ) = 0.2051 (m3 per s/km2/mm)
3. Qp = Kp ADA S R/Tp = 0.2755 m3/s
4. VDA S = 1000*R*A DA S = 1,200.00 m3
5. VH S S (Bag-IV, Kol-6, baris 2 terbawah) = 1,205.24 m3 Ok !
6. DRO (Bag-IV, Kol-6, baris terbawah) = 1.0044 mm Ok !

IV. Tabel perhitungan HSS SCS Curvilinear

Waktu t HSS Tak berdimensi HSS berdimensi


(jam) t=T/Tp q=Q/Qp AH S S Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
0.2500 0.2799 0.1429 0.0200 0.0394 17.7184
0.5000 0.5598 0.5316 0.0944 0.1465 83.6321
0.7500 0.8396 0.9217 0.2034 0.2540 180.1992
0.8932 1.0000 1.0000 0.1541 0.2755 136.5196
1.0000 1.1195 0.9683 0.1176 0.2668 104.2239
1.2500 1.3994 0.7505 0.2405 0.2068 213.1201
1.5000 1.6793 0.5045 0.1756 0.1390 155.6142
1.7500 1.9592 0.3404 0.1182 0.0938 104.7627
2.0000 2.2391 0.2283 0.0796 0.0629 70.5144
2.2500 2.5189 0.1503 0.0530 0.0414 46.9375
2.5000 2.7988 0.0982 0.0348 0.0271 30.8067
2.7500 3.0787 0.0689 0.0234 0.0190 20.7131
3.0000 3.3586 0.0470 0.0162 0.0130 14.3698
3.2500 3.6385 0.0310 0.0109 0.0085 9.6772
3.5000 3.9183 0.0209 0.0073 0.0058 6.4421
3.7500 4.1982 0.0144 0.0049 0.0040 4.3858
4.0000 4.4781 0.0094 0.0033 0.0026 2.9543
4.2500 4.7580 0.0064 0.0022 0.0018 1.9609
4.4662 5.0000 0.0000 0.0008 0.0000 0.6884
4.5000 5.0379 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.7500 5.3177 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
5.0000 5.5976 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
AH S S = 1.3603 VH S S (m3) 1205.240
Error = 0.437% DRO (mm) 1.004

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-21


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

b) Hitung Faktor Debit Puncak (Kp)

Pada bagian-III dari Tabel 6-2, Faktor Debit Puncak (Kp) untuk HSS SCS
Segitiga dapat dihitung secara eksak
1 1
Kp 0.2803 (m3 per s/km2/mm)
3.6 A HSS 3.6 1.3333

Harga ini persis sama dengan harga Kp untuk HSS SCS Segitiga yang ada
dalam literature yaitu Kp=0.2803 (m3 per s/km2/mm)

Pada bagian-III dari Tabel 6-3, Faktor Debit Puncak (Kp) untuk SCS
Curvilinear dapat dihitung harga AHSS=1.3544,
1 1
Kp 0.2051 (m3 per s/km2/mm)
3.6 A HSS 3.6 1.3544

Harga Kp HSS SCS Curvilinear yang ada dalam literature yaitu


Kp=0.2803 (m3 per s/km2/mm). Penyebab perbedaan ini adalah karena
dalam literature Harga Kp untuk HSS SCS curvilinear dianggap sama
persis dengan harga Kp untuk HSS SCS segitiga. Seharusnya harga ini
berbeda karena luas HSS SCS segitiga (A HSS =1.3333) dan HSS SCS
Curvilinear (AHSS=1.3544) tidak sama persis.

c) Hitung Debit Puncak HSS (Berdimensi) dengan rumus umum sbb

Pada bagian-III dari Tabel 6-2, debit puncak HSS SCS Segitiga dapat
dihitung sbb
Kp A DAS R 0.28031.20 1.0
Qp 0.224 (m3/s)
Tp 3.6 0.893

Pada bagian-III dari Tabel 6-3, Debit Puncak HSS SCS Curvilinear dapat
dihitung sbb
Kp A DAS R 0.20511.20 1.0
Qp 0.2755 (m3/s)
Tp 0.893

d) Pada bagian-III dari Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, dan Hitung volume hujan
efektif satu satuan yang jatuh di DAS

VDAS = 1000 R ADAS = 1000 1.0 1.200 = 1200 m3

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-22


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

4) Bagian-IV pada Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, terdiri dari kolom 1 s/d kolom 4 untuk
menghitung bentuk HSS SCS Segitiga berdimensi dengan penjelasan sbb :

a) Kolom Pertama : berisi waktu perhitungan dengan interval Tr (jam) termasuk


didalamnya waktu puncak Tp.

b) Kolom Kedua : (Kolom-1 dibagi Tp) berisi absis kurva HSS SCS Segitiga tak
berdimesi (t=T/Tp), termasuk waktu puncak (t =1).

c) Kolom Ketiga merupakan ordinat HSS tak berdimensi didapat dari interpolasi
linear persamaan kurva HSS SCS Segitiga tak berdimensi.

d) Kolom Keempat berisi luas segmen HSS tak berdimensi, termasuk segmen
sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan cara trapesium.

Ai 1
2
q i 1 q i t i 1 t i
Jumlah seluruh Kolom Keempat, adalah luas kurva HSS SCS Curvilinear dan

Segitiga tak berdimensi hasil interpolasi yang digunakan.


N
A HSS A i (tanpa satuan)
i 1

e) Untuk HSS SCS Segitiga didapat AHSS = 1.3333, kesalahan relatifnya terhadap

nilai eksak (AHSS = 1.3333) adalah 0%, artinya bentuk kurva HSS SCS Segitiga

hasil interpolasi sama dengan kurva eksaknya. Untuk HSS Curviliner didapat

AHSS = 1.3603. kesalahan relatifnya terhadap nilai eksak (AHSS = 1.3544)

adalah 0.437%, harga ini relative sangat kecil, artinya bentuk kurva HSS SCS

kurvilinier hasil interpolasi sangat mendekati dengan kurva eksaknya.

e) Kolom Kelima berisi ordinat HSS berdimensi didapat dengan mengalikan


ordinat kurva HSS tak berdimensi dengan Qp yang didapat pada bagia III.
Dengan kata lain Kolom-4 = Kolom-3 x Qp, yaitu

Qi Q p q i (m3/sec)

f) Kolom Keenam berisi volume segmen HSS berdimensi, termasuk segmen


sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan cara trapesium

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-23


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Vi 3600
2
Q i Q i 1 Ti 1 Ti (m3/s)

Jumlah seluruh Kolom Keenam adalah Volume HSS berdimensi.


N
VHSS Vi (m3)
i 1

g) Berdasarkan prinsip konservasi masa, volume hidrograf satuan harus sama


dengan volume hujan efektif yang jatuh di DAS (V HSS=VDAS). Untuk HSS SCS
Segitiga didapat VHSS= 1200 m3, kesalahan relatifnya terhadap (VDAS=1200
m3) adalah 0%, sedang untuk HSS Curviliner didapat V HSS= 1205.2404 m3,
kesalahan relatifnya adalah 0.437%,

h) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung DRO
(Direct Run Off), yang nilainya harus mendekati R=1 mm (tinggi hujan satuan)

VHSS
DRO 1.0043 1 .00 (mm)
A DAS

Untuk HSS SCS Segitiga didapat DRO=1.000, artnya kesalahan relatifnya

terhadap tinggi hujan satuan (R=1.00 mm) adalah 0%, sedang untuk HSS

Curviliner didapat DRO= 1.0044 kesalahan relatifnya adalah 0.437%.

i) Dari uraian penjelasan bagian-III Tabel 6-2 dan Tabel 6-3, pada butir 3 huruf

a) dan butir 4 huruf g) dan h) dapat disimpulkan bahwa nilai kesalahan relative

pada AHSS ternyata sama dengan kesalahan relative VHSS dan DRO. Dengan

demikian besarnya kesalahan A HSS sebagaimana tertulis pada bagian-III

baris terakhir kolom 4, mewakili kesalahan relative VHSS dan DRO.

5) Jika hasil perhitungan HSS SCS Segitiga dan HSS SCS Curvilinear berdimensi
pada Tabel 6-2 dan Tabel 6-3 digambarkan, akan didapat kurva HSS SCS Segitiga
dan HSS SCS Curvilinear berdimensi seperti ditunjukan pada Gambar 6-10 dan
Gambar 6-11. Dari kedua gambar tersebut terlihat bahwa karena harga Tp
umumnya tidak merupakan kelipapan dari Tr, maka debit puncak Qp tidak
diperhitungkan dalam proses superposisi hidrograf.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-24


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

0.30
0.89, 0.28
HSS SCS Segitiga yang dihitung
HSS SCS Segitiga yang disuperposisi

0.25

0.20
Q(m3/s)

0.15

0.10

0.05

0.00
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00
T(Jam)

Gambar 6-10 : Bentuk HSS SCS Segitiga berdimensi

0.30

0.893, 0.2755 HSS SCS Curvilinear yang dihitung

HSS SCS Curvilinear yang disuperposisi


0.25

0.20
Q(m3/s)

0.15

0.10

0.05

0.00
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00
T(jam)

Gambar 6-11 : Bentuk HSS SCS Curvilinear berdimensi

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-25


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.4.1.2 Superposisi Hidrograf

Dalam contoh kasus ini akan digunakan distribusi hujan hujan akibat hujan efektif
sebesar 10 mm, 70 mm dan 30 mm (interval 1/4 jam). Tabel superposisi HSS SCS
Segitiga dan HSS SCS Curvilinear berdimensi ditunjukan pada Tabel 6-4 dan Tabel
6-5. Dalam tabel tersebut Rasio Limpasan/Hujan tidak persis sama dengan 100%.
Penyebabnya adalah karena seperti terlihat pada Gambar 6-10 dan Gambar 6-11,
harga Tp umumnya tidak merupakan kelipapan dari Tr, akibatnya debit puncak Qp
tidak diperhitungkan dalam proses superposisi hidrograf.

Tabel 6-4 : Superposisi HSS SCS Segitiga

Tinggi Hujan (mm/jam)


HSS SCS Total Volume
T (Jam) 1 2 3
Segitiga Limpasan
10.000 70.000 30.000 110.000
0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
0.2500 0.0783 0.7833 0.0000 0.7833 352.5009
0.5000 0.1567 1.5667 5.4833 0.0000 7.0500 3525.0086
0.7500 0.2350 2.3500 10.9667 2.3500 15.6667 10222.5250
1.0000 0.2598 2.5981 16.4500 4.7000 23.7481 17736.6835
1.2500 0.2128 2.1281 18.1867 7.0500 27.3648 23000.8181
1.5000 0.1658 1.6581 14.8967 7.7943 24.3490 23271.2209
1.7500 0.1188 1.1881 11.6067 6.3843 19.1790 19587.6325
2.0000 0.0718 0.7181 8.3166 4.9743 14.0090 14934.6212
2.2500 0.0248 0.2481 5.0266 3.5643 8.8390 10281.6098
2.5000 0.0000 0.0000 1.7366 2.1543 3.8909 5728.4585
2.7500 0.0000 0.0000 0.0000 0.7443 0.7443 2085.8279
3.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 334.9215
3.2500 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.5000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
3.7500 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
4.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
Volume Total Limpasan m3 1.31E+05
Luas DAS km2 1.200
Tinggi Limpasan Langsung mm 109.218
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 99.29%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-26


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-5 : Superposisi HSS SCS Curvilinear

Tinggi Hujan (mm/jam) Tinggi


Waktu Volume
HSS SCS 1 2 3 Hujan
(jam) Limpasan
10.000 70.000 30.000 110.000
0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
0.2500 0.0394 0.3937 0.0000 0.3937 177.1836
0.5000 0.1465 1.4648 2.7562 0.0000 4.2209 2076.6067
0.7500 0.2540 2.5397 10.2533 1.1812 13.9742 8187.7920
1.0000 0.2668 2.6680 17.7777 4.3943 24.8400 17466.3589
1.2500 0.2068 2.0680 18.6760 7.6190 28.3630 23941.3374
1.5000 0.1390 1.3901 14.4761 8.0040 23.8701 23504.9028
1.7500 0.0938 0.9380 9.7306 6.2040 16.8726 18334.2258
2.0000 0.0629 0.6290 6.5658 4.1703 11.3651 12706.9617
2.2500 0.0414 0.4140 4.4031 2.8139 7.6311 8548.2644
2.5000 0.0271 0.2706 2.8983 1.8870 5.0559 5709.1233
2.7500 0.0190 0.1897 1.8939 1.2421 3.3257 3771.7269
3.0000 0.0130 0.1296 1.3282 0.8117 2.2694 2517.8183
3.2500 0.0085 0.0855 0.9071 0.5692 1.5618 1724.0528
3.5000 0.0058 0.0577 0.5982 0.3888 1.0447 1172.9177
3.7500 0.0040 0.0398 0.4039 0.2564 0.7000 785.1181
4.0000 0.0026 0.0259 0.2784 0.1731 0.4773 529.8132
4.2500 0.0018 0.0177 0.1812 0.1193 0.3182 357.9825
4.5000 0.0000 0.0000 0.1238 0.0777 0.2015 233.8487
4.7500 0.0000 0.0000 0.0000 0.0531 0.0531 114.5494
5.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 23.8816
5.2500 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
5.5000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
5.7500 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
6.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
Volume Total Limpasan m3 1.32E+05
Luas DAS km2 1.20
Tinggi Limpasan Langsung mm 109.90
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 99.91%

6.4.1.3 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir

Hasil akhir proses superposisi HSS SCS Segitiga dan HSS SCS Curvilinear berupa
hidrograf banjir untuk interval perhitungan Tr=0.25 Jam seperti ditunjukan pada
Gambar 6-12. Selanjunya dapat ditunjukan jika Tr=0.125 dan hujan efektif total tetal
100 mm namun dengan distribusi (5, 5, 35, 35, 15 dan 15 mm) setiap 0.125 jam, maka
Hasil akhir proses superposisi HSS SCS Segitiga dan HSS SCS Curvilinear berupa
hidrograf banjir untuk interval perhitungan Tr=0.125 Jam seperti ditunjukan pada
Gambar 6-12.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-27


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

50.00 0.00

Hujan Eff (mm)


45.00 HSS SCS-Curvilinear 10.00
HSS SCS-Triangular
40.00 20.00

35.00 30.00

30.00 40.00

R(mm)
25.00 50.00
Q(m3/s)

20.00 60.00

15.00 70.00

10.00 80.00

5.00 90.00

0.00 100.00
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00

T(jam)

Gambar 6-12 : Hasil superposisi SCS Segitiga dan Curvilinear (Tr=0.25 Jam)

50.00 0.00

Hujan Eff (mm)


45.00 HSS SCS-Curvilinear 10.00
HSS SCS-Triangular
40.00 20.00

35.00 30.00

30.00 40.00
R(mm)

25.00 50.00
Q(m3/s)

20.00 60.00

15.00 70.00

10.00 80.00

5.00 90.00

0.00 100.00
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00

T(jam)

Gambar 6-13 : Hasil superposisi SCS Segitiga dan Curvilinear (Tr=0.125 Jam)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-28


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.4.2 Hidrograf banjir DAS Katulampa dengan HSS ITB-1, HSS ITB-2

Dalam contoh ini Cara ITB digunakan untuk menentukan bentuk hidrograf banjir DAS
Ciliwung hulu di bendung Katulampa dengan bentuk HSS ITB-1 dan kurva HSS ITB-
2. Perhitungan harga Kp dan Qp akan dihitung cara ITB. Karena bentuk kurva yang
digunakan dalam HSS ITB-1 adalah juga digunakan oleh NRCS, maka dimungkinkan
untuk membandingkan hasil perhitngan dalam supmenen ini dengan hasil perhitungan
yang dilakukan oleh NRCS.

Sungai ciliwung dilokasi ini mempunyai luas DAS 149.230 km2 dan Panjang sungai
diperkirakan 24.460 km, kemiringan alur sungai S= 112.245 m/km. Dalam contoh
kasus ini digunakan distribusi hujan hujan efektif dengan durasi 1 jam seperti
ditunjukan pada Tabel 6-6. Proses superposisi hidrograf hanya memperhitungkan
distribusi hujan efektif, sedang infiltrasi hanya digunakan untuk penggambaran
Hyteograf (distribusi hujan).

Tabel 6-6 : Distribusi Hujan Hujan Efektif


Jam Rtot (mm) Infil (mm) Reff (mm)
1 21.404 13.0182 8.3862
2 38.329 7.9497 30.3790
3 147.463 6.0851 141.3777
4 26.887 5.3992 21.4875
5 18.075 5.1469 12.9284
6 15.800 5.0540 10.7458

6.4.2.1 Perhitungan HSS ITB-1 dan HSS ITB-2

Perhitungan HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 dilakukan dalam bentuk dengan Spread Sheet
(Microsoft Excell). Tabel perhitungan untuk HSS ITB-1 ditunjukan pada Tabel 6-7
sedang untuk HSS ITB-2 ditunjukan pada Tabel 6-8 dengan penjelasan sbb :

1) Bagian I pada Tabel 6-7 dan Tabel 6-8, berisi Input data yang diperlukan seperti
Luas DAS, Panjang Sungai L, Kemiringan Sungai dll.

2) Bagian-II pada Tabel 6-7 dan Tabel 6-8, berisi hasil perhitungan Tl, Tp dan Tb
untuk HSS ITB-1 dan HSS ITB-2.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-29


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-7 : Perhitungan HSS ITB-1


I. Karakteristik DAS dan Hujan
1. Nama Sungai = Ciliwung
2. Stasiun = Katulampa
3. Luas DAS (A) = 149.230 Km 2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 24.460 Km
5. Tinggi Hujan Satuan (R) = 1.000 mm
6. Durasi Hujan Satuan (Tr) = 1.000 Jam

II. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) Dan Waktu Dasar (Tb)


1. Koefisien waktu (Ct) = 1.000
2. Time Lag (tP )
tP = Ct 0.81225 L0.6 = 5.530 Jam
3. Waktu Puncak
Tp = 6.030 Jam
4. Waktu Dasar
T B/T P = 20.000ditetapkan
TB = 120.610 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Cp. Koefisien Puncak (C p ) = 1.0000
2. Alpha = 3.7000
3. AHSS (Eksak, Numerik, Selisih) = 1.3327 1.333 0.011%
4. Kp = 1/(3.6*AHSS ) = 0.2084 m3 per s/km2/mm
5. Qp = Kp ADAS R/Tp = 5.1577 m3/s
6. VDAS = 1000*R*ADAS = 149,230 m3
7. VHSS (Bag-IV, Kol-6, baris 2 terbawah) = 149,247 m3 Ok !
8. HDRO (Bag-IV, Kol-6, baris terbawah) = 1.0001 mm Ok !

IV. Tabel perhitungan HSS ITB-1 :


HSS Tak berdimensi HSS berdimensi
T (jam)
t=T/Tp q=Q/Qp AHSS Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 0.166 0.028 0.002 0.146 263.542
2.00 0.332 0.200 0.019 1.030 2117.931
3.00 0.497 0.485 0.057 2.500 6355.061
4.00 0.663 0.761 0.103 3.925 11565.311
5.00 0.829 0.941 0.141 4.852 15798.294
6.00 0.995 1.000 0.161 5.157 18017.029
6.03 1.000 1.000 0.005 5.158 566.109
7.00 1.161 0.958 0.157 4.939 17620.618
8.00 1.327 0.850 0.150 4.383 16780.592
9.00 1.492 0.711 0.129 3.669 14494.462
10.00 1.658 0.569 0.106 2.934 11885.654
11.00 1.824 0.438 0.083 2.260 9348.965
12.00 1.990 0.327 0.063 1.688 7107.275
13.00 2.156 0.238 0.047 1.229 5251.784
14.00 2.322 0.170 0.034 0.876 3788.554
15.00 2.487 0.119 0.024 0.612 2677.292
16.00 2.653 0.082 0.017 0.421 1858.526
17.00 2.819 0.055 0.011 0.285 1270.173
18.00 2.985 0.037 0.008 0.191 856.205
19.00 3.151 0.024 0.005 0.126 570.138
20.00 3.316 0.016 0.003 0.083 375.518
21.00 3.482 0.010 0.002 0.054 244.909
22.00 3.648 0.007 0.001 0.034 158.312
23.00 3.814 0.004 0.001 0.022 101.510
24.00 3.980 0.003 0.001 0.014 64.609

155.00 25.703 0.000 0.000 0.000 0.000


156.00 25.869 0.000 0.000 0.000 0.000
157.00 26.034 0.000 0.000 0.000 0.000
158.00 26.200 0.000 0.000 0.000 0.000
159.00 26.366 0.000 0.000 0.000 0.000
160.00 26.532 0.000 0.000 0.000 0.000
AHSS = 1.3329 VHSS (m3) 149247
Selisih = 0.0112% DRO (mm) 1.00011

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-30


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-8 : Perhitungan HSS ITB-2


I. Karakteristik DAS dan Hujan
1. Nama Sungai = Ciliwung
2. Stasiun = Katulampa
3. Luas DAS (A) = 149.230 Km 2
4. Panjang Sungai Utama (L) = 24.460 Km
5. Tinggi Hujan Satuan (R) = 1.000 mm
6. Durasi Hujan Satuan (Tr) = 1.000 Jam

II. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) Dan Waktu Dasar (Tb)


1. Koefisien waktu (Ct) = 1.000
2. Time Lag (tP )
tP = Ct 0.81225 L0.6 = 5.530 Jam
3. Waktu Puncak
Tp = 6.030 Jam
4. Waktu Dasar
T B/T P = 20.000ditetapkan
TB = 120.610 Jam

III. Debit Puncak (QP)


1. Cp. Koefisien Puncak (C p ) = 1.0000
2. Alpha = 3.7000
3. AHSS (Eksak, Numerik, Selisih) = 1.3327 1.333 0.011%
4. Kp = 1/(3.6*AHSS ) = 0.2084 m3 per s/km2/mm
5. Qp = Kp ADAS R/Tp = 5.1577 m3/s
6. VDAS = 1000*R*ADAS = 149,230 m3
7. VHSS (Bag-IV, Kol-6, baris 2 terbawah) = 149,247 m3 Ok !
8. HDRO (Bag-IV, Kol-6, baris terbawah) = 1.0001 mm Ok !

IV. Tabel perhitungan HSS ITB-2 :


HSS Tak berdimensi HSS berdimensi
T (jam)
t=T/Tp q=Q/Qp AHSS Q=qQp V(m3)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
0.00 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
1.00 0.166 0.028 0.002 0.146 263.542
2.00 0.332 0.200 0.019 1.030 2117.931
3.00 0.497 0.485 0.057 2.500 6355.061
4.00 0.663 0.761 0.103 3.925 11565.311
5.00 0.829 0.941 0.141 4.852 15798.294
6.00 0.995 1.000 0.161 5.157 18017.029
6.03 1.000 1.000 0.005 5.158 566.109
7.00 1.161 0.958 0.157 4.939 17620.618
8.00 1.327 0.850 0.150 4.383 16780.592
9.00 1.492 0.711 0.129 3.669 14494.462
10.00 1.658 0.569 0.106 2.934 11885.654
11.00 1.824 0.438 0.083 2.260 9348.965
12.00 1.990 0.327 0.063 1.688 7107.275
13.00 2.156 0.238 0.047 1.229 5251.784
14.00 2.322 0.170 0.034 0.876 3788.554
15.00 2.487 0.119 0.024 0.612 2677.292
16.00 2.653 0.082 0.017 0.421 1858.526
17.00 2.819 0.055 0.011 0.285 1270.173
18.00 2.985 0.037 0.008 0.191 856.205
19.00 3.151 0.024 0.005 0.126 570.138
20.00 3.316 0.016 0.003 0.083 375.518
21.00 3.482 0.010 0.002 0.054 244.909
22.00 3.648 0.007 0.001 0.034 158.312
23.00 3.814 0.004 0.001 0.022 101.510
24.00 3.980 0.003 0.001 0.014 64.609

155.00 25.703 0.000 0.000 0.000 0.000


156.00 25.869 0.000 0.000 0.000 0.000
157.00 26.034 0.000 0.000 0.000 0.000
158.00 26.200 0.000 0.000 0.000 0.000
159.00 26.366 0.000 0.000 0.000 0.000
160.00 26.532 0.000 0.000 0.000 0.000
AHSS = 1.3329 VHSS (m3) 149247
Selisih = 0.0112% DRO (mm) 1.00011

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-31


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

a) Time Lag (T L)

Untuk HSS ITB-1 dan NRCS-ITB besarnya time lag adalah

TL Ct 0.81225 L0.6 = 1.0 0.81225 24.46 = 5.530 jam

Untuk HSS ITB-2 besarnya time lag adalah

TL Ct (0.0394L + 0.201L0.5 )

=1.0 (0.0394 24.46 + 0.201 24.465)= 1.958 jam

b) Time to Peak (Tp)

Untuk HSS ITB-1 besarnya Time to Peak adalah

Tp = TL + 0.50 Tr = 5.530 + 0.5 1.0 = 6.0530 Jam

Untuk HSS ITB-2 besarnya Time to Peak adalah

Tp = 1.6 T L = 1.6 1.958 = 6.0530 Jam

c) Time Base (Tb)

Untuk HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 besarnya Time to Base adalah

Tp = 20 Tp

3) Bagian-III pada Tabel 6-7 dan Tabel 6-8 berisi perhitungan harga eksak integrasi
luas HSS, perhitungan Kp, Qp, Volume Hujan (VDAS)

a) Luas HSS (AHSS)

Persamaan bentuk dasar yang digunakan HSS ITB-1 adalah kurva yang
digunakan oleh NRCS yaitu

q ( t ) t * exp( 1 t )
Cp
(t > 0 s/d ) = 3.700

Harga eksak AHSS hasil integrasi persamaan tersebut diketahui. Jika m =

Cp, maka harga eksak integrasi persamaan tersebut diketahui sbb.


e m (m 1,0)
A HSS q( t ) dt t * exp(1 t ) dt
m

0 0 m m 1

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-32


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Untuk harga =3.7 dan Cp=1.0 harga m=3.7, maka harga fungsi Gamma

dapat dicari menggunakan fungsi excell sbb

(m 1,0) = EXP(GAMMALN(m + 1)) * (1 - GAMMADIST( 0, m + 1, 1, TRUE))


(3.7 1,0) =15.43141160004740,

akibatnya

e 3.7 (3.7 1,0)


A HSS = 1.33274522508382
3.7 3.7 1

Persamaan bentuk dasar yang digunakan HSS ITB-2 yaitu

o Lengkung Naik : q( t ) t (0 t 1) = 2.400


o Lengkung Turun : q ( t ) exp 1 t C p
(t > 1 s/d ) =0.880

Jika m=, dan n=Cp maka harga eksak integrasi persamaan tersebut

adalah.

e ( n1 ,1n ) 1

1
1
A HSS q ( t ) dt t m dt exp 1 t n dt
0 0 1
m 1
n 1n n
1

Integrasi diatas dapat dicari dengaan mudah menggunakan excel. Untuk


harga =2.4, dan =0.86 serta Cp=1.0, maka harga n=0.86, maka harga

1 1.104568
A HSS = 1.57849873403035
2.4 1 0.86

b) Faktor Debit Puncak (Kp)

Pada bagian-III dari Tabel 6-7, Faktor Debit Puncak (Kp) untuk HSS ITB-
1 dengan bentuk kurva dasar NRCS dapat dihitung secara eksak
1 1
Kp 0.2084 (m3 per s/km2/mm)
3.6 A HSS 3.6 1.3327

Jika dikonversi kedalam satuan Inggris didapat harrga Kp= 484.21 ft3 per
s/mi2/in. Harga ini sangat mendekati hasil Kp yang dihitung oleh NRCS
untuk harga m=3.70 yaitu Kp=484 (m3 per s/km2/mm), harga ini oleh
NRCS diambil harga rata-rata berbagai DAS.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-33


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Dalam publikasi Part 630 Hydrology National Engineering Handbook,


Chapter 16 NRCS tidak memberikan harga eksak hasil integrasi kurva
HSS NRCS, namun dengan integrasi numerik telah menghitung harga Kp
untuk berbagai harga m dan memberikan kurva bentuk HSS NRCS dalam
bentuk tabel.

Untuk menchek kebenaran rumus Kp dan hasil integrasi eksak dalam


makalah ini, telah dilakukan perbandingan hasil perhitungan harga Kp
yang kami lakukan dengan harga Kp yang dihitung oleh NRCS dan
hasilnya ditunjukan pada Tabel 6-9. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa untuk kurva NRCS yang dijasikan bentuk dasar HSS ITB-1 hasil
perhitungan harga Kp yang dihitung secara eksak dan hasil perhitungan
NRCS menunjukan kesesuaian yang sangat baik.

Tabel 6-9 : Perbandingan harga Kp exact dan hasil perhtungan NRCS

Kp (Eksak) Kp NRSCS
m m3 per ft3 per ft3 per Selisih
s/km2/mm s/mi2/in s/mi2/in
0.26 0.0434 100.780 101 0.22%
1.00 0.1022 237.405 238 0.25%
2.00 0.1504 349.345 349 -0.10%
3.00 0.1867 433.745 433 -0.17%
3.70 0.2084 484.214 484 -0.04%
4.00 0.2171 504.307 504 -0.06%
5.00 0.2437 566.175 566 -0.03%

Pada bagian-III dari Tabel 6-8, Faktor Debit Puncak (Kp) untuk HSS ITB-
2 dapat dihitung sbb,
1 1
Kp = 0.175975926865987 (m3 per s/km2/mm)
3.6 A HSS 3.6 1.3544

Harga Kp untuk HSS ITB-2 yang tidak ada dalam literature. Satu-satunya
pembanding adalah harga Kp yang dihitung secara numerik yaitu
0.17310264 dam Peak rate Faktor untuk HSS Nakayasu sebesar
0.177963889. Selain itu mengingat perhitungan dilakukan dengan cara
yang persis sama dengan perhitungan HSS ITB-1 yang teah terbukti benar,
maka harga tersebut dapat dipastikan benar.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-34


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

c) Hitung Debit Puncak HSS (Berdimensi) dengan rumus umum sbb


Pada bagian-III dari Tabel 6-7, debit puncak HSS ITB-1 sbb
Kp A DAS R 0.2804149.231.0
Qp 6.0307 (m3/s)
Tp 6.053

Pada bagian-III dari Tabel 6-8, Debit Puncak HSS ITB-2 sbb
Kp A DAS R 0.1759149.23 1.0
Qp 8.3834 (m3/s)
Tp 3.132

d) Pada bagian-III dari Tabel 6-7 dan Tabel 6-8, dan Hitung volume hujan efektif
satu satuan yang jatuh di DAS

VDAS = 1000 R ADAS = 1000 1.0 149.23 = 14923 m3

4) Bagian-IV pada Tabel 6-7 dan Tabel 6-8 terdiri dari kolom 1 s/d kolom 5 untuk
menghitung bentuk HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 dengan penjelasan sbb :

a) Kolom Pertama : berisi waktu perhitungan dengan interval Tr (jam) termasuk


didalamnya waktu puncak Tp.

b) Kolom Kedua : (Kolom-1 dibagi Tp) berisi absis kurva HSS tak berdimesi
(t=T/Tp), termasuk waktu puncak (t =1).

c) Kolom Ketiga merupakan ordinat HSS ITB-1 dan ITB-2 tak berdimensi
didapat dari persamaan kurva HSS ITB-1 dan ITB-2 tak berdimensi.

d) Kolom Keempat berisi luas segmen HSS ITB-1 dan ITB-2 tak berdimensi,
termasuk segmen sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan cara trapesium.

Ai 1
2
q i 1 q i t i 1 t i

Jumlah seluruh Kolom Keempat adalah luas kurva HSS tak berdimensi.
N
A HSS A i (tanpa satuan)
i 1

Untuk contoh ini untuk HSS ITB-1 didapat AHSS = 1.1400 dan untuk HSS ITB-

2 didapat AHSS=1.6047. Jika dibandingkan dengan harga eksaknya, kesalahan

relatifnya masing-masing adalah 0.012% dan 1.660%, artinya bentuk kurva

HSS ITB-1 dan ITB-2 yang digunakan mendekati kurva eksaknya.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-35


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

e) Kolom Kelima berisi ordinat HSS berdimensi didapat dengan mengalikan


ordinat kurva HSS tak berdimensi dengan Qp yang didapat pada bagia III.
Dengan kata lain Kolom-4 = Kolom-3 x Qp, yaitu
Qi Q p q i m3/sec)

f) Kolom Keenam berisi volume segmen HSS berdimensi, termasuk segmen


sebelum dan sesudah Qp, dihitung dengan cara trapesium

Vi 3600
2
Q i Q i 1 Ti 1 Ti (m3/s)
Jumlah seluruh Kolom Keenam adalah Volume HSS berdimensi.
N
VHSS Vi (m3)
i 1

Untuk HSS ITB-1 didapat harga VHSS = 149248 m3 dan untuk HSS ITB-2
VHSS = 151707 m3. Jika harga VHSS tersebut dibandingkan dengan harga VDAS
= 149223 m3, kesalahan relatifnya masing-masing adalah 0.016% dan
1.660%, hasil itu masih bisa diterima karena masih kurang dari 5%.

g) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung DRO
(Direct Run Off), yang nilainya harus mendekati R=1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
DRO 1 .00 (mm)
A DAS
Untuk HSS ITB-1 didapat DRO=1.0001, artinya kesalahan relatifnya terhadap

tinggi hujan satuan (R=1.00 mm) adalah 0.011%, sedang untuk HSS ITB-2

didapat DRO= 1.0170 kesalahan relatifnya adalah 1.660%, yang besarnya

sama dengan kesalahan AHSS tertulis pada bagian-III baris terakhir kolom 4.

Artinya kesalahan AHSS mewakili kesalahan relative VHSS dan DRO.

6) Jika hasil perhitungan HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 pada Tabel 6-7 dan Tabel 6-8
digambarkan, akan didapat kurva HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 berdimensi seperti
ditunjukan pada Gambar 6-14. Dari gambar tersebut terlihat bahwa karena harga
Tp umumnya tidak merupakan kelipapan dari Tr, maka debit puncak Qp tidak
diperhitungkan dalam proses superposisi hidrograf. Pengabaian ini cukup besar
pengaruhnya terhadap HSS ITB-2 karena area yang terpotong cukup besar.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-36


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

10.00
HSS ITB-1 berdimensi
HSS ITB-1 yang disuperposisi
9.00
HSS ITB-2 Berdimensi
HSS ITB-2 yang disuperposisi
8.00

7.00

6.00
Q(m3/s)

5.00

4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
0.00 6.00 12.00 18.00 24.00 30.00 36.00
T(jam)

Gambar 6-14 : Bentuk HSS ITB-1 dan ITB-2 Berdimensi

6.4.2.2 Superposisi Hidrograf

Dalam contoh ini akan digunakan distribusi hujan hujan efektif dengan durasi 1 jam
yang berurutan seperti ditunjukan sebelumnya pada Tabel 6-6. Tabel superposisi
hidrograf banjir HSS ITB-1 dan ITB-2 ditunjukan pada Tabel 6-10 dan Tabel 6-11.
Dalam tabel tersebut Rasio Limpasan/Hujan tidak persis sama dengan 100%. Seperti
terlihat pada Gambar 6-14, harga Tp umumnya tidak merupakan kelipapan dari Tr,
akibatnya debit puncak Qp tidak diperhitungkan dalam proses superposisi hidrograf.
Kurva HSS ITB-1 yang disuperposisi bentuknya masih cukup mendekati sedang untuk
kurva HSS ITB-2 terdapat bagian yang terpotong yang agak besar didekat puncak.

6.4.2.3 Penggambaran Bentuk Hidrograf Banjir

Hasil akhir berupa hidrograf banjir untuk interval perhitungan Tr=1.0 Jam seperti
ditunjukan pada Gambar 6-15. Pada Gambar 6-16 ditunjukan pula perbadingan hasil
cara ITB-1 dan ITB-2 dengan hasil cara Nakayasu, cara GAMA-1 dan cara SCS.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-37


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-10 : Superposisi HSS ITB-1

Waktu Tinggi Hujan (mm/jam) Q (m3/s) Volume


HSS ITB-1 1 2 3 4 5 6
(jam) 0.000 15.873 136.041 19.524 12.206 10.480 194.125 Limpasan
0.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
1.00 0.1464 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
2.00 1.0302 0.0000 2.3240 0.0000 2.3240 4183.29
3.00 2.5004 0.0000 16.3529 19.9181 0.0000 36.2711 69471.21
4.00 3.9248 0.0000 39.6892 140.1519 2.8586 0.0000 182.6997 394147.38
5.00 4.8520 0.0000 62.2995 340.1542 20.1143 1.7871 0.0000 424.3551 1092698.66
6.00 5.1574 0.0000 77.0177 533.9348 48.8182 12.5750 1.5344 673.8802 1976823.50
7.00 4.9394 0.0000 81.8654 660.0767 76.6291 30.5200 10.7968 859.8881 2760782.94
8.00 4.3831 0.0000 78.4048 701.6236 94.7327 47.9068 26.2043 948.8722 3255768.61
9.00 3.6693 0.0000 69.5748 671.9646 100.6954 59.2248 41.1325 942.5921 3404635.81
10.00 2.9338 0.0000 58.2446 596.2876 96.4389 62.9525 50.8500 864.7735 3253258.14
11.00 2.2601 0.0000 46.5690 499.1823 85.5778 60.2914 54.0506 745.6712 2898800.54
12.00 1.6884 0.0000 35.8748 399.1177 71.6415 53.5014 51.7658 611.9012 2443630.41
13.00 1.2292 0.0000 26.8007 307.4632 57.2805 44.7887 45.9359 482.2689 1969506.24
14.00 0.8755 0.0000 19.5121 229.6941 44.1264 35.8105 38.4552 367.5984 1529761.23
15.00 0.6119 0.0000 13.8972 167.2279 32.9652 27.5869 30.7466 272.4238 1152040.00
16.00 0.4206 0.0000 9.7125 119.1053 24.0002 20.6091 23.6859 197.1130 845166.22
17.00 0.2850 0.0000 6.6769 83.2404 17.0937 15.0044 17.6948 139.7103 606281.89
18.00 0.1907 0.0000 4.5241 57.2242 11.9465 10.6866 12.8826 97.2640 426553.79
19.00 0.1261 0.0000 3.0263 38.7736 8.2127 7.4687 9.1755 66.6567 295057.42
20.00 0.0825 0.0000 2.0014 25.9372 5.5647 5.1344 6.4125 45.0502 201072.51
21.00 0.0535 0.0000 1.3101 17.1531 3.7224 3.4789 4.4084 30.0729 135221.51
22.00 0.0344 0.0000 0.8496 11.2280 2.4618 2.3272 2.9870 19.8536 89867.63
23.00 0.0220 0.0000 0.5464 7.2819 1.6114 1.5390 1.9981 12.9769 59094.84
24.00 0.0139 0.0000 0.3487 4.6831 1.0451 1.0074 1.3214 8.4058 38488.72
25.00 0.0088 0.0000 0.2210 2.9888 0.6721 0.6534 0.8650 5.4003 24850.90
26.00 0.0055 0.0000 0.1392 1.8942 0.4290 0.4202 0.5610 3.4435 15918.83
27.00 0.0034 0.0000 0.0871 1.1928 0.2719 0.2682 0.3608 2.1807 10123.59
28.00 0.0021 0.0000 0.0542 0.7467 0.1712 0.1700 0.2302 1.3723 6395.43
29.00 0.0013 0.0000 0.0336 0.4648 0.1072 0.1070 0.1459 0.8586 4015.54
30.00 0.0008 0.0000 0.0207 0.2879 0.0667 0.0670 0.0919 0.5342 2507.03
31.00 0.0005 0.0000 0.0127 0.1775 0.0413 0.0417 0.0575 0.3308 1557.02
32.00 0.0003 0.0000 0.0078 0.1090 0.0255 0.0258 0.0358 0.2038 962.31
33.00 0.0002 0.0000 0.0047 0.0666 0.0156 0.0159 0.0222 0.1251 592.05
34.00 0.0001 0.0000 0.0029 0.0406 0.0096 0.0098 0.0137 0.0764 362.71
35.00 0.0001 0.0000 0.0017 0.0246 0.0058 0.0060 0.0084 0.0465 221.33
36.00 0.0000 0.0000 0.0010 0.0149 0.0035 0.0036 0.0051 0.0282 134.55
37.00 0.0000 0.0000 0.0006 0.0090 0.0021 0.0022 0.0031 0.0171 81.51
38.00 0.0000 0.0000 0.0004 0.0054 0.0013 0.0013 0.0019 0.0103 49.22
39.00 0.0000 0.0000 0.0002 0.0032 0.0008 0.0008 0.0011 0.0062 29.63
40.00 0.0000 0.0000 0.0001 0.0019 0.0005 0.0005 0.0007 0.0037 17.78
41.00 0.0000 0.0000 0.0001 0.0011 0.0003 0.0003 0.0004 0.0022 10.64
42.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0007 0.0002 0.0002 0.0002 0.0013 6.35
43.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0004 0.0001 0.0001 0.0001 0.0008 3.78
44.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0002 0.0001 0.0001 0.0001 0.0005 2.25
45.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0001 0.0000 0.0000 0.0001 0.0003 1.33
46.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.0002 0.79
47.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0001 0.46
48.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0001 0.27

155.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
156.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
157.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
158.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
159.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
160.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
Volume Total Limpasan m3 2.90E+07
Luas DAS km2 149.23
Tinggi Limpasan Langsung mm 194.13
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 100.003%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-38


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Tabel 6-11 : Superposisi HSS ITB-2


Waktu Tinggi Hujan (mm/jam) Q (m3/s) Volume
HSS ITB-2 1 2 3 4 5 6
(jam) 0.000 15.873 136.041 19.524 12.206 10.480 194.125 Limpasan
0.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
1.00 0.5411 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
2.00 2.8560 0.0000 8.5891 0.0000 8.5891 15460.40
3.00 7.5574 0.0000 45.3336 73.6126 0.0000 118.9462 229563.48
4.00 6.6345 0.0000 119.9608 388.5294 10.5647 0.0000 519.0549 1148401.88
5.00 5.1101 0.0000 105.3108 1028.1179 55.7609 6.6048 0.0000 1195.7944 3086728.63
6.00 3.9647 0.0000 81.1147 902.5608 147.5532 34.8605 5.6709 1171.7600 4261597.76
7.00 3.0942 0.0000 62.9331 695.1897 129.5335 92.2470 29.9309 1009.8342 3926869.42
8.00 2.4267 0.0000 49.1149 539.3653 99.7721 80.9815 79.2026 848.4363 3344886.81
9.00 1.9113 0.0000 38.5201 420.9372 77.4085 62.3753 69.5301 668.7711 2730973.33
10.00 1.5109 0.0000 30.3387 330.1347 60.4120 48.3941 53.5550 522.8344 2144890.02
11.00 1.1983 0.0000 23.9834 260.0165 47.3802 37.7682 41.5508 410.6991 1680360.42
12.00 0.9532 0.0000 19.0216 205.5487 37.3170 29.6210 32.4275 323.9358 1322342.80
13.00 0.7602 0.0000 15.1306 163.0235 29.4999 23.3297 25.4324 256.4161 1044633.39
14.00 0.6078 0.0000 12.0676 129.6763 23.3968 18.4427 20.0308 203.6141 828054.33
15.00 0.4870 0.0000 9.6480 103.4249 18.6108 14.6271 15.8347 162.1457 658367.53
16.00 0.3911 0.0000 7.7308 82.6881 14.8433 11.6351 12.5588 129.4561 524883.17
17.00 0.3146 0.0000 6.2073 66.2566 11.8672 9.2797 9.9898 103.6006 419502.09
18.00 0.2535 0.0000 4.9936 53.1997 9.5090 7.4191 7.9675 83.0890 336041.26
19.00 0.2047 0.0000 4.0244 42.7977 7.6351 5.9448 6.3700 66.7721 269749.84
20.00 0.1655 0.0000 3.2488 34.4911 6.1422 4.7733 5.1042 53.7596 216956.98
21.00 0.1340 0.0000 2.6267 27.8433 4.9501 3.8400 4.0983 43.3584 174812.40
22.00 0.1087 0.0000 2.1269 22.5121 3.9960 3.0947 3.2970 35.0268 141093.30
23.00 0.0882 0.0000 1.7247 18.2288 3.2309 2.4982 2.6571 28.3396 114059.46
24.00 0.0717 0.0000 1.4003 14.7811 2.6162 2.0199 2.1449 22.9624 92343.65
25.00 0.0584 0.0000 1.1384 12.0015 2.1214 1.6356 1.7343 18.6311 74868.28
26.00 0.0476 0.0000 0.9266 9.7569 1.7224 1.3262 1.4043 15.1364 60781.51
27.00 0.0388 0.0000 0.7551 7.9417 1.4003 1.0768 1.1387 12.3125 49408.17
28.00 0.0317 0.0000 0.6160 6.4716 1.1398 0.8754 0.9246 10.0273 40211.77
29.00 0.0259 0.0000 0.5031 5.2794 0.9288 0.7126 0.7516 8.1755 32765.02
30.00 0.0212 0.0000 0.4112 4.3114 0.7577 0.5807 0.6118 6.6728 26726.89
31.00 0.0174 0.0000 0.3365 3.5245 0.6188 0.4737 0.4985 5.4520 21824.61
32.00 0.0142 0.0000 0.2756 2.8840 0.5058 0.3868 0.4067 4.4589 17839.63
33.00 0.0117 0.0000 0.2259 2.3620 0.4139 0.3162 0.3321 3.6502 14596.52
34.00 0.0096 0.0000 0.1854 1.9363 0.3390 0.2588 0.2715 2.9910 11954.19
35.00 0.0079 0.0000 0.1522 1.5887 0.2779 0.2119 0.2222 2.4529 9799.05
36.00 0.0065 0.0000 0.1251 1.3046 0.2280 0.1737 0.1820 2.0134 8039.44
37.00 0.0053 0.0000 0.1029 1.0722 0.1872 0.1425 0.1492 1.6540 6601.36
38.00 0.0044 0.0000 0.0847 0.8818 0.1539 0.1171 0.1224 1.3598 5424.93
39.00 0.0036 0.0000 0.0698 0.7258 0.1266 0.0962 0.1005 1.1189 4461.66
40.00 0.0030 0.0000 0.0575 0.5979 0.1042 0.0791 0.0826 0.9213 3672.23
41.00 0.0025 0.0000 0.0474 0.4928 0.0858 0.0651 0.0679 0.7591 3024.70
42.00 0.0020 0.0000 0.0392 0.4065 0.0707 0.0536 0.0559 0.6260 2493.14
43.00 0.0017 0.0000 0.0323 0.3355 0.0583 0.0442 0.0461 0.5165 2056.42
44.00 0.0014 0.0000 0.0267 0.2771 0.0482 0.0365 0.0380 0.4265 1697.35
45.00 0.0012 0.0000 0.0221 0.2291 0.0398 0.0301 0.0313 0.3524 1401.90
46.00 0.0010 0.0000 0.0183 0.1894 0.0329 0.0249 0.0258 0.2913 1158.61
47.00 0.0008 0.0000 0.0151 0.1568 0.0272 0.0206 0.0214 0.2410 958.14
48.00 0.0007 0.0000 0.0125 0.1298 0.0225 0.0170 0.0176 0.1995 792.83

155.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
156.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
157.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
158.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
159.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
160.00 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.00
Volume Total Limpasan m3 2.91E+07
Luas DAS km2 149.23
Tinggi Limpasan Langsung mm 195.13
Rasio Tinggi Limpasan/Tinggi Hujan % 100.516%

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-39


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1,600.0 0.0

Hujan Eff (mm)

1,400.0 Infiltrasi (mm) 100.0

ITB-1

1,200.0 200.0
ITB-2

1,000.0 300.0
Q (m3/s)

R (mm)
800.0 400.0

600.0 500.0

400.0 600.0

200.0 700.0

0.0 800.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0
T (Jam)

Gambar 6-15 : Bentuk hidrograf banjir hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2

1,600.0 0.0
Hujan Eff (mm)
Infiltrasi (mm)

1,400.0 Nakayasu (Alpha=2.0) 100.0


SCS
ITB-1
ITB-2
1,200.0 HEC-HMS (SCS) 200.0
Gama-1

1,000.0 300.0
Q (m3/s)

R (mm)

800.0 400.0

600.0 500.0

400.0 600.0

200.0 700.0

0.0 800.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0
T (Jam)

Gambar 6-16 : Perbandingan hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 dengan
Hasil HSS Nakayasu, SCS, Gama-1 dan Hasil Program HEC-HMS

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-40


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6.4.3 Kalibrasi Hasil HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 Dengan Data Debit Terukur

Pada DAS yang dilengkapi dengan sejumlah stasiun hujan otomatis dan pada outletya
dilengkapi stasiun pencatat muka air otomatis dapat dilakukan upaya kalibrasi debit
banjir terukur. Pada bagian berikut diberikan data hujan huja di DAS Ciliwung Hulu
dan data debit banjir di stasiun Katulampa yang diukur secara simultan.

6.4.3.1 Data Untuk Kalibrasi

Data yang digunakan adalah data tanggal 14 Desember 2006 jam 16.00 sampai tanggal
15 Desember 2006 jam15.00. Data Curah hujan berasal stasiun hujan Gadog, Gunung
Mas, Citeko, Cilember dan Tugu Utara. Data debit banjir didapat dari stasiun
Katulampa. Jika curah hujan dan debit digambarkan didapat hidrograf seperti pada
Gambar 6-17. Dengan menggunakan metoda garis lurus didapat aliran dasar (base
flow) Qbas=6.15 m3/s. Tabel 6-12 menunjukan hasil perhitugan volume limpasan
(luas dibawah kurva) = 380.050 m3 dan tinggi limpasan (DRO) = 2.55 mm dan
besarnya infiltrasi (dengan metoda indek) sebesar = 0.187 mm. Hasil-hasil tersebut
dihitung oleh Indra Agus dan Iwan K. Hadihardaja (2011).

Tabel 6-12 : Perhitungan Hujan Effektif, Infiltrasi dan Limpasan Langsung (DRO)
Rtotal Infiltrasi Reffektif Qtotal QBase QDRO
Jam
(mm) (mm) (mm) (m3/s) (m3/s) (m3/s)
1 0.163 0.187 0.000 6.150 6.150 0.000
2 2.036 0.187 1.849 6.150 6.150 0.000
3 0.894 0.187 0.707 6.710 6.150 0.560
4 0.163 0.187 0.000 8.560 6.150 2.410
5 12.270 6.150 6.120
6 17.810 6.150 11.660
7 21.050 6.150 14.900
8 21.050 6.150 14.900
9 18.860 6.150 12.710
10 14.890 6.150 8.740
11 12.680 6.150 6.530
12 11.460 6.150 5.310
13 10.690 6.150 4.540
14 9.950 6.150 3.800
15 8.900 6.150 2.750
16 8.560 6.150 2.410
17 8.560 6.150 2.410
18 7.910 6.150 1.760
19 7.600 6.150 1.450
20 7.290 6.150 1.140
21 7.000 6.150 0.850
22 6.710 6.150 0.560
23 6.150 6.150 0.000
24 6.150 6.150 0.000
Sumber : Diolah dari Indra Agus dan Iwan K. Hadihardaja (2011)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-41


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

25.00 0.00

Reffektif (mm)
Infiltrasi (mm)
Qtotal (m3/s)

20.00 QBase (m3/s) 1.00

15.00 2.00
Q(m3/s)

R(mm)
10.00 3.00

5.00 4.00

0.00 5.00
0 6 Axis12Title 18 24

Gambar 6-17 : Hujan Effektif, Infiltrasi dan Debit Total dan Aliran Dasar

6.4.3.2 Proses Kalibrasi

Untuk selanjutnya, dalam pelatihan ini kalibrasi dilakukan secara manual dengan tolok
ukur yang bisa dihitung secara visual. Selanjutnya dengan menggunakan data hujan
effektif seperti pada Tabel 6-12 dilakukan kalibrasi hasil HSS ITB-1 dan ITB-2
dengan menggunakan data debit banjir dilokasi Katulampa. Untuk harga awal
digunakan harga parameter seperti pada Tabel 6-13.

Tabel 6-13 : Nilai koefisien HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sebelum kalibrasi
HSS Ct Cp
ITB-1 3.700 - 1.000 1.000
ITB-2 2.400 0.860 1.000 1.000

Dengan harga parameter sebelum kalibrasi tersebut didapat hidrograf hasil superposisi
HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 seperti ditunjukan pada Gambar 6-18. Proses Kalibrasi
prinsipnya mendekatkan besaran puncak, volume dan waktu puncak dari perhitungan
ke pengamatan dan ini dilakukan dalam 2 langkah coba-coba sbb

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-42


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

1) Mula-mula Proses kalibrasi dilakukan dengan merubah harga Ct agar waktu


puncak perhitungan dan pengukuran kurang lebih sama besar. Dari Gambar 6-18
terlihat bahwa waktu puncak hasil superposisi HSS ITB-1 sedikit lebih lama
dibading hasil pengukuran sehingga harus dikurangi dengan menurukan harga Ct.
Sebalikya waktu puncak hasil superposisi HSS ITB-2 sedikit lebih cepat dibading
hasil pengukuran sehingga harus diperbesar dengan menaikan harga Ct.

2) Setelah waktu puncak perhitungan dan pengukuran kurang lebih sama proses
kalibrasi dilanjutkan agar harga debit puncak kurang lebih sama dengan merubah-
rubah harga Cp. Jika harga debit puncak perhitungan lebih kecil dari debit puncak
pengamatan, maka harga diambil Cp > 1.0 akan membuat harga debit puncak
membesar. Jika debit puncak perhitungan lebih besar dari hasil pengamatan maka
harga diambil Cp < 1.0 agar harga debit puncak mengecil. Dengan cara trial and
error didapat parameter hasil kalibrasi seperti ditujukan pada Tabel 6-13. Dari
tabel ini terlihat harga parameter yang perubah hanya Ct dan Cp sedang harga
parameter dan tidak berubah.

Tabel 6-14 : Nilai koefisien HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sesudah kalibrasi
HSS Ct Cp
ITB-1 3.700 - 0.880 1.050
ITB-2 2.400 0.860 1.500 1.180

6.4.3.3 Hasil Proses Kalibrasi

Dengan menggunakan harga parameter sesudah kalibrasi seperti ditujukan pada Tabel
6-13 akan didapat hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 seperti ditujukan pada
Gambar 6-19. Dari gambar tersebut terlihat bahwa hasil kalibrasi HSS ITB-2 secara
visual lebih mendekati hydrograph pengamatan. Cara kalibrasi yang lebih baik dapat
dilakukan dengan optimasi berdasarkan Peak Weighted RMS (Root Mean Square)
error, metode ini pada prinsipnya mendekatkan besaran puncak, volume dan waktu
puncak dari perhitungan ke pengamatan. Pembahasan tentang cara adalah diluar
lingkup bahasan pelatihan ini.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-43


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

20.0 0.0
Hujan Eff (mm)
18.0 Infiltrasi (mm) 1.0

ITB-1
16.0 ITB-2 2.0

Pengukuran
14.0 3.0

12.0 4.0
Q (m3/s)

R (mm)
10.0 5.0

8.0 6.0

6.0 7.0

4.0 8.0

2.0 9.0

0.0 10.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0
T (Jam)

Gambar 6-18 : Hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sebelum
dilakukan kalibrasi terhadap Hidrograf hasil pengukuran.
18.0 0.0
Hujan Eff (mm)

16.0 Infiltrasi (mm) 1.0

ITB-1
ITB-2 2.0
14.0
Pengukuran
3.0
12.0

4.0
10.0
Q (m3/s)

R (mm)

5.0

8.0
6.0

6.0
7.0

4.0
8.0

2.0 9.0

0.0 10.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0
T (Jam)

Gambar 6-19 : Hidrograf hasil superposisi HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 setelah
dilakukan kalibrasi terhadap hidrograf hasil pengukuran.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 6-44


BAB 7
KESIMPULAN DAN CATATAN PENUTUP

7.1 KESIMPULAN

Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan tentang penggunaan berbagai
metoda perhitungan hidrograf satuan sintetik, khususnya menyangkut kelebihan dan
kekurangan masing-masing metoda diberikan pada uraian singkat dibawah ini

1) Dalam pelatihan ini telah diberikan 4 cara perhitungan hidrograf banjir


menggunakan superposisi dari empat jenis hidrogrpah satuan sintetis yaitu cara
SCS, Cara Nakayasu, Cara Gama-1 dan Cara ITB. Untuk DAS Ciliwung di
Katulampa dan data hujan seperti diberikan pada Tabel 3-3, maka hasil keempat
metoda tersebut jika digambarkan diperoleh gambar seperti pada

1,600.0 0.0
Hujan Eff (mm)

Infiltrasi (mm) 50.0


1,400.0
Nakayasu (Alpha=2.0)

SCS 100.0

1,200.0 Gama-1

ITB-1 (Alpha=2.0) 150.0


ITB-2 (Alpha=2.4, Betha=0.86)
1,000.0
200.0
Q (m3/s)

R (mm)

800.0 250.0

300.0
600.0

350.0

400.0

400.0

200.0
450.0

0.0 500.0
0.0 6.0 12.0 18.0 24.0 30.0 36.0 42.0 48.0

T (Jam)

Gambar 7-1 : Perbadingan hasil perhitungan hidrograf hasil superposisi HSS SCS,
Nakayasu, HSS Gama-1 serta HSS ITB-1 dan HSS ITB-2.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-1


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

2) Cara pertama yang dijelaskan dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf
satuan sintetis cara SCS. Cara ini dikembangkan oleh Victor Mockus dari Soil
Conservation Service berdasarkan hasil pengamatan dari karakteristik hidrograf
satuan alami yang berasal dari sejumlah besar DAS di Ametrika Serikat baik
yang berukuran besar maupun kecil.

a) Kelebihan : Metoda ini banyak digunakan berberbagai bagian dunia dan jika
digunakan dengan rumus infiltrasi dari SCS, metoda ini dapat digunakan untuk
memodelkan pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap debit. Metoda ini
memenuhi prinsip konservasi masa dengan penurunan rumus yang debit
puncak dan bentuk hidrograf cukup jelas sehingga mudah diajarkan pada
mahasiswa. Metoda ini didisain memiliki flexibilitas yang tinggi dalam
mengadopsi rumus time lag yang akan digunakan. Beberapa rumus yang bisa
digunakan bersama dengan SCS ditunjukan pada LAMPIRAN- 2.

b) Kekurangan : Bentuk kurva hidrograf satuan SCS relatif statik sehingga debit
pucak dan tidak bisa dirubah untuk menyesuaikan dengan data hasil
pengukuran. Dengan demikian jika hasil pengukuran berbeda tidak ada yang
bisa dilakukan untuk menyesuaikan bentuk hidrograf kecuali jika time lag
dirubah. Jika puncak menggunakan ryumus Snyder, maka posisi time to peak
bisa diperbesar atau diperkecil dengan pernaikan atau menurunkan harga Ct,
sehingga kurva hidrograf dapat bergeser maju atau mindur anmuntanpa
merubah bentuk hidrograf.

3) Cara kedua yang dijelaskan dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf
satuan sintetis cara Nakayasu. Cara ini dikembangkan oleh Nakayasu di Jepang
berdasarkan hasil pengamatan dari karakteristik hidrograf satuan alami yang
berasal dari sejumlah besar DAS di Jepang.

a) Kelebihan : Metoda ini sering digunakan di Jepang, Indonesia dan beberapa


negara asia timur dan asia tenggara, namun kurang populer di Eroupa dan
Amerika. Metoda ini baik untuk DAS dengan kemiringan curam dan panjang
sungai pendek seperti yang umum dijumpai di jepang. Metoda ini memenuhi
prinsip konservasi.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

b) Kekurangan : Metoda ini relatif agak sulit digunakan oleh pemula karena
menggunkan 4 segmen kurva yang terpisah tapi menerus. Puncak kurva relatif
dinamik dan bisa dirubah dengan menyesuaikan parameter agar
menyesuaikan dengan data hasil pengukuran. Waktu puncak tidak dapat
dirubah kecuali jika panjang sungai dirubah. Penurunan rumus debit puncak
dan bentuk hidrograf tidak jelas (Obscure) sehingga sangat sulit untuk
menjelaskan pada mahasiswa, bagaimana rumus-rumus tertsebut didapat
(kecuali jika rumus diterima tanpa reserve).

4) Cara ketiga yang dijelaskan dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf
satuan sintetis cara GAMA-1. Cara ini dikembangkan oleh Sri Harto di Univeritas
Gajah Mada berdasarkan hasil pengamatan dari karakteristik hidrograf satuan
alami yang berasal dari 30 DAS yang berada di pulau Jawa.

a) Kelebihan : Metoda ini banyak digunakan di Indonesia namun praktis tidak


pernah digunakan diluar indonesia. Metoda ini baik untuk DAS dengan
kemiringan curam dan panjang sungai pendek seperti yang umum dijumpai di
pulau Jawa. Metoda ini diklaim oleh penemunya telah dikalibrasi dengan data
30 DAS yang berada di pulau Jawa, sehingga orang cenderung percaya dengan
hasilnya, khsusnya jika digunakan di pulau Jawa.
c) Kekurangan : Kesulitan utama penggunaan metoda ini adalah, jumlah data
yang dipelukan sangat banyak dan relatif kompleks. Yang cukup sulit didapat
secara manual dari peta adalah Jumlah Orde sungai dan Panjang setiap orde
sungai. Jika posisi outlet DAS dirubah cukup jauh dari posisi semula,
perhitungan orde dan panjang sungai praktis harus diulang seluruhnya,
sehingga kurang praktis untuk pekerjaan yang memerlukan waktu singkat.
Berbeda dengan metoda lain yang selalu memenuhi hukum konservasi masa,
metoda HSS GAMA-1 tidak selalu memenuhi prinsip konservasi massa yang
dicirikan dengan tinggi limpasan HSS (DRO) yang mendekati tinggi hujan
satuan. Agar memenuhi hukum konservasi massa, beberapa parameter
morfometri DAS akhirnya harus diubah-ubah secara manual agar tinggi hujan
mendekati tinggi limpasan. Parameter atau data yang dirubah terkadang jauh
dengan data yang secara fisik yang ada dilapangan. Modifikasi parameter

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-3


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

perhitungan seperti ini sebetulnya menjadi tidak konsisten. Kesulitan lain


penggunaan GAMA-1 adalah hasilnya yang sulit diprediksi. Misal jika
kemiringan sungai diperkecil atau jumlah pertemuan sungai bertambah belum
tentu time lag atau time base bertambah. Bentuk kurva hidrograf sangat statik
dan sama sekali tidak bisa dirubah untuk menyesuaikan dengan data hasil
pengukuran. Hal ini demikian karena baik TR, TB, QP maupun K semua
didasarkan pada parameter morphometri yang saling terkait. Penurunan rumus
debit puncak dan bentuk hidrograf tidak jelas sehingga sulit untuk dijelaskan
datrimana rumus-rumus tersebut didapat.

5) Cara keempat yang dijelaskan dalam pelatihan ini adalah perhitungan hidrograf
satuan sintetis cara ITB. Konsep awal metoda ini pertama kali di publikasikan oleh
Dantje K. Natakusumah dalam Seminar Nasional Teknik Sumber Daya Air di
Bandung, 2009. Dalam makalah tersebut Rumus umum dan intergrasi eksak dan
numerik telah digunakan. Sifat HSS masih bersifat statik, sehingga baik harga Tp
dan Qp tidak bisa dirubah. Melalui program riset peningkatan kapasitas ITB 2010,
metoda tersebut selanjutnya dikebangkan lebih jauh oleh Dantje K. Natakusumah
(ITB), W. Hatmoko (Puslitbang Air) dan Dhemi Harlan (ITB).

Metoda perhitungan hidrograf satuan sintetis dengan cara ITB tidak


dikembangkan berdasarkan analisa bentuk dasar HSS hasil observasi
lapangan, namun berdasarkan pengamatan atas prinsip kerja, struktur, fungsi dan
cara operasi berbagai metoda perhitungan dan hasil perhitungan berbagai hidrograf
satuan sintetis yang umum digunakan, yang semua menyatakan dikembangkan
dari hasil observasi lapangan.

Dari hasil pengamatan atas prinsip kerja dan cara operasi berbagai metoda
hidrograf satuan sintetis yang ada, dapat disimpulkan bahwa metoda HSS yang
dikaji semua bekerja dengan prinsip yang sama, namun setiap metoda diturunkan
dengan cara yang berbeda. Meski bekerja dengan cara yang sama, tidak ada rumus
umum yang berlaku untuk semua. Tidak adanya suatu rumus debit puncak yang
berlaku umum, menjadi sesuatu yang seolah terlewatkan (overlooked), padahal
adanya rumus umum seperti ini penting untuk pendidikan.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-4


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Karena itulah, tujuan awal penelitan pengembangan cara perhitungan HSS dengan
cara ITB adalah mengembangkan suatu cara baru perhitungan hidrograf satuan
sitetik yang berlaku umum dan memenuhi prinsip konservasi masa dengan rumus
debit puncak yang berlaku umum dan mudah diingat.

R A DAS
. Qp (8)
3.6 Tp A HSS

Selanjunya Harga Peak Rate factor dihitung sbb

Kp = 1/(3.6 x AHSS) = Peak Rate Factor (m3 per s/km2/mm)

Dengan menggunakan rumus umum tersebut telah berhasil dibuat ulang HSS
Nakayasu, HSS SCS Curvilinear, HSS SCS Segitiga, HSS-Delmarva, HSS
Hickok-Keppel-Rafferty, HSS NRCS yang dikerjakan dengan cara ITB hasilnya
sangat mendekati HSS yang asli. Hal ini sebetulnya merupakan cara lain untuk
melakukan validasi hasil, yaitu membandingkan hasil satu metoda perhitugan baru
dengan dengan hasil metoda lain yang telah diakui validitasnya.

a) Kelebihan : Salah satu manfaat perhitungan hidrograf satuan dengan cara ITB
adalah mampu nenerima semua bentuk dasar hidrograf satuan (baik hidrograf
satuan sintetis/buatan atau hidrograf satuan hasil pegukuran) dan kemudian
memprosesnya menjadi hidrograf banjir. Cara ITB didisain memiliki
flexibilitas yang tinggi dalam mengadopsi rumus time lag digunakan. Beberapa
rumus lain, selain rumus time lag yang diberikan penulis, yang dapat
digunakan untuk HSS ITB-1 dan ITB-2 ditunjukan pada LAMPIRAN- 2.

Jika digunakan dengan rumus infiltrasi dari SCS maka HSS ITB-1 dan ITB-2
dapat digunakan untuk memodelkan pengaruh perubahan tata guna lahan
terhadap debit banjir. Bentuk HSS ITB-1 dan ITB-2 tidak statik namun bisa
dirubah dengan merubah harga Ct dan Cp agar hasil perhitungan mendekati
hasil pengukuran, namun tetap memenuhi prinsip konservasi.

Validasi tentang kebenaran metoda perhitungan, sudah dilakukan dengan cara


membandingkan hasil perhitungan metoda ini dengan hasil metoda lain yang
banyak digunakan seperti SCS-Curvilinear, SCS-Triangular, Nakayasu,

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Snyder dll. Dan hasilnya menunjukan kesesuaian yang baik dan konsiten
termasuk jika data luas DAS dan distribusi hujan dirubah-rubah. Akhirnya
penurunan rumus untuk debit puncak dan bentuk hidrograf sangat jelas
sehingga sangat mudah diajarkan pada mahasiswa.

b) Kekurangan : Metoda ini relatif baru (terbit di Journal tahun 2011) sehingga
belum banyak digunakan. Metoda baru dikalibrasi secara terbatas di DAS
Ciliwung Hulu di Katulampadan belum dikalibrasi disungai lain di Indonesia,
penyebabnya terutama adalah karena sangat sulitnya mendapat data
hujan dan debit yang dapat digunakan untuk proses kalibrasi. Selain itu
kalibrasi dilakukan sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh pihak yang membuat,
karena hasilnya cenderung mencari kasus yang menguatkan temuannya. Oleh
karenanya, kalibrasi sebaiknya terutama dilakukan oleh pihak-pihak lain yang
independen dan mempunyai data hujan dan debit yang dapat digunakan untuk
proses kalibrasi.

7.2 CATATAN PENUTUP

Tentang kalibrasi HSS sering terjadi kesalah pahaman. Orang sering beranggaan jika
suatu metoda perhitungan HSS telah dikalibrasi pada sekian puluh DAS, maka jika
metoda ini diterapkan pada DAS yang lain dan hasilnya akan benar. Pendapat ini jelas
salah, karena faktanya tidak pernah ada metoda HSS, termasuk yang terlah dikalibrasi
secara estensif, pasti bisa diterapkan ditempat mana saja dan dijamin hasilnya benar.
Semua metoda pada prinsipnya memerlukan kalibrasi, sehingga sangat penting suatu
metoda memiliki instrument untuk kalibrasi.

Kalaupun suatu metoda digunakan tanpa kalibrasi setempat, hal itu lebih karena
sulitnya mendapat data setempat untuk kalibrasi. Model berbasis HSS adalah model
black box yang sederhana, sehingga mustahil bisa diterapkan dengan hasil sangat
akurat. Kalaupun cara HSS ini masih banyak digunakan secara luas, sebenarnya bukan
karena akurasinya, namun karena kepraktisannya. Beberapa software perhitungan
debit banjir yang didasarkan pada model yang lebih baik (physicaly based model)
belum praktis karena memerlukan data yang lebih kompleks.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-6


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Umumnya orang mengganggap data debit yang dipublikasi di Indonesia adalah benar
cukup akurat. Namun, jika data debit tersebut dikaji sampai ke tingkat rating curve
yang digunakan, seringkali dijumpai bahwa hanya dengan beberapa data pengukuran
debit sungai saat debit rendah, pihak yang melakukan publikasi data debit, ternyata
sudah mampu membuat persamaan rating curve sampai saat kondisi banjir besar. Data
debit semacam ini sebenarnya sangat meragukan, namun data yang meragukan
inilah yang kemudian sering dijadikan sebagai tolok sebagai debit yang benar untuk
proses kalibrasi.

Untuk mengkalibrasi model hidrograf banjir, sebenarnya bukan hanya data debit yang
diperlukan, namun data hujan yang diukur secara simultan dengan data debit juga
menjadi sangat penting. Kecuali pada beberapa DAS yang penting, kebanyakan stasiun
hujan di DAS sungai di Indonesia adalah stasiun penakar hujan yang hanya mencatat
hujan total tanpa melihat riwayat waktu turunnya hujan.

Jadi sebetulnya agak sulit atau bahkan mustahil untuk mengalibrasi model hidrograf
banjir dengan data hujan dan debit yang tidak saling terkait dari segi waktu
kejadiannya. Dengan demikian perlu kehati-hatian dalam menerima hasil
kalibrasi model hidrograf banjir jika kalibrasi tersebut tanpa disertai dengan
gambar distribusi hujan dan debit yang digambarkan pada satu gambar yang
sama.

7.3 DAFTAR PUSTAKA

1) Harto, S., 1993 Analisis Hidrologi, Penerbit P.T.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
2) Soemarto, C.D, 1995 Hidrologi Teknik, Penerbit Erlangga, Jakarta.
3) Triatmodjo, B., 2008: Hidrologi Terapan, Penerbit Beta Offset Yogyakarta,
4) Ramrez, J. A., 2000: Prediction and Modeling of Flood Hydrology and
Hydraulics. Chapter 11 of Inland Flood Hazards: Human, Riparian and Aquatic
Communities Eds. Ellen Wohl; Cambridge University Press.
5) Bejo Slamet, Model Hidrograf Satuan Sintetik Menggunakanparameter
Morfometri (Studi Kasus Di Das Ciliwung Hulu), Thesis Magister, Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-7


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

6) Dantje K. Natakusumah, Prosedure Umum Penentuan Hidrograf Satuan Sintetis


Untuk Perhitungan Hidrograf Banjir Rencana, Seminar Nasional Teknik Sumber
Daya Air, Peran Masyarakat, Pemerintah dan Swasta sebagai Jejaring, dalam
Mitigasi Bahaya Banjir, Bandung, 11 Agustus 2009
7) Dantje K. Natakusumah, Waluyo Hatmoko . Dhemi Harlan, Prosedure Umum
Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Untuk Perhitungan Banjir Rencana.
Studi Kasus Penerapan HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 Dalam Penentuan Debit Banjir
Untuk Perencanaan Pelimpah Bendungan Besar. Seminar Nasional Bendungan
Besar, Bali, 2010.
8) Indra Agus dan Iwan K. Hadihardaja, Perbandingan Hidrograf Satuan Teoritis
Terhadap Hidrograf Satuan Observasi DAS Ciliwung Hulu, Jurnal Terknik Sipil
ITB. Vol. 18 No. 1 April 2011.
9) D.K. Natakusumah, Waluyo Hatmoko, Dhemi Harlan, A General Procedure For
Development Of ITB-1 And ITB-2 Synthetic Unit Hidrograf Based On Mass
Concervation Principle, International Seminar On Water Related Risk
Management, Jakarta, July 2011.
10) Dantje K. Natakusumah, Waluyo Hatmoko, Dhemi Harlan Timidzi, Prosedure
Umum Perhitungan Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Dan Contoh Penerapannya
Dalam Pengembangan HSS ITB-1 DAN HSS ITB-2, Journal Teknik Spil ITB,
Vol. 18 No. 3 Desember 2011.
11) D. K. Natakusumah, D. Harlan and W. Hatmoko. A new synthetic unit hidrograf
computation method based on the mass conservation principle, WIT Transactions
on Ecology and The Environment, Vol 172, 2013 WIT Press.

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7-8


LAMPIRAN

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 1


LAMPIRAN- 1 : Perbandingan Rumusan Hidrograf Satuan Sintesis SCS, Nakayasu, GAMA-1 dan Cara ITB
Parameter SCS Nakayasu GAMA-1 ITB
Input Fisk DAS A = Luas DAS A = Luas DAS Luas total DAS (A) A = Luas DAS
L = Panjang sungai terpanjang L = Panjang sungai Panjang Sungai Maksimum (L) L = Panjang sungai
Lc = Panjang sungai ke pusat DAS Kemiringan DAS/Slope (S)
Lebar DAS pada titik 0,75L
Lebar DAS pada titik 0,25L
Luas DAS Sebelah Hulu Titik Berat (AU)
Banyaknya sungai order-1 (J1)
Banyaknya sungai untuk semua order (Ji)
Jumlah Panjang sungai order-1 (L1)
Jumlah Panjang untuk semua order (Li)
Input Fisk DAS Tidak Ada Tidak Ada Faktor Lebar/width Factor (WF) Tidak Ada
yang dihitung Faktor simetri factor (SIM) = WF x RUA
Faktor Sumber/Source Factor (SF)
Frekuensi Sumber/Source frequency (SN)
Jumlah Pertemuan Sungai Frequency (JN)
Luas Relatif DAS (RUA) = AU/A
Kerapatan Drainase/drainage density (D)
Input Non Fisik R = Curah Hujan Satuan R = Curah Hujan Satuan R = Curah Hujan Satuan R = Curah Hujan Satuan
DAS Tr = Durasi hujan standar Cp = Coef Debit Puncak Tr = Durasi hujan standar
Ct=Coef Waktu (1-1.2) Ct = Coef Kalibrasi Waktu

Debit Puncak 0.2083A CAR Qp 0.1836A 0.5886 Tp -0.4008 R A DAS


Qp = Qp Qp
Tp 3.6 0.3 Tp 0.3 3.6 Tp A HSS
JN -0.2381
Cp = Coef Debit (Untuk kalibrasi) Cp = Coef Debit (Kalibrasi)
Time Lag tp tP Ct L Lc n L 3 tp Ct 0.81225 L0.6
T p 0.43( )
Cp = Coef Waktu (Untuk kalibrasi) Tg = 0.21 L0.7 (L< 15 km) 100F Ct = Coef Waktu (Untuk kalibrasi)
n=0.2-0.3 Tg = 0.4 + 0.058 L (L> 15 km) 1.0665SIM 1.2775
Dapat juga menggunakan rumus time lag
yang ada dalam literatur, (lihat Lampiran-2)
Waktu Puncak Tp = tp + 0.50 Tr Tr = 0.75 Tg L 3 Tp = tp + 0.50 Tr
Tp T0.8 = 0.8 Tr T p 0.43( )
100F
Dapat juga menggunakan rumus time to peak Tp = Tg+0.8Tr Dapat juga menggunakan rumus time to peak
yang ada dalam literatur, (lihat Lampiran-2) 1.0665SIM 1.2775 yang ada dalam literatur, (lihat Lampiran-2)
Time Base Tb = 5 Tp Tb Tb 27.4132 Tp0.1457 Tb
Catatan : Prakteknya Tb dibatasi sampai harga
S -0.0986SN 0.7344 dimana lengkung turun mendekati nol. (misal
Tb/Tp=100)
RUA 0.2574

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 2


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

LAMPIRAN-2 : Perbandingan Rumusan Hidrograf Satuan Sintesis SCS, Nakayasu, GAMA-1 dan Cara ITB (lanjutan)
Parameter SCS Nakayasu GAMA-1 ITB
Sifat Kurva Kurva tunggal berubah terhadap karakteristik Kurva majemuk (4 kurva) berubah terhadap Kurva ganda berubah terhadap karakteristik Kurva tunggal atau kurva ganda yang
DAS karakteristik DAS DAS berubah terhadap karakteristik DAS

Koef Resesi Tidak dinyatakan secara eksplisit tapi Tidak dinyatakan secara eksplisit tapi K 0.5617A0.1798 S -0.1446 Tidak dinyatakan secara eksplisit tapi
mengikuti bentuk kurva HSS mengikuti bentuk kurva HSS -1.0897 0.0452
mengikuti bentuk kurva HSS
SF D
Bentuk Kurva Kurva Tunggal yang dibentuk berdasarkan Kurva Majemuk (4 Kurva) Kurva Ganda Kurva Tunggal atau Ganda
tabel berikut
1) (0 t Tp) 1) Lengkung naik (0 T Tp) 1) Kurva tunggal HSS ITB-1
t/tp q/qp t/tp q/qp
2 .4 Qt QpT q(t) 2 t 1 / t
Cp
(t 0)
1
Q a Q P
2) Lengkung Turun (Tp T Tb)
Tp Atau menggunakan kurva dari NRCS
0.000 0.000 1.400 0.750 Qt Qp e T / K
2) (Tp t Tp + T0.3) q(t) t * exp(1 t)
Cp
0.100 0.015 1.500 0.660 (t 0)
0.200 0.075 1.600 0.560 1 T p Catatan : t= waktu (jam)
2) Kurva ganda HSS ITB-2
0.300 0.160 1.800 0.420 T
Q d1 Q P 0.3 0.3 q( t ) t (0 t 1)
0.400 0.280 2.000 0.320
0.500 0.430 2.200 0.240 3) (Tp + T0.3 t Tp +1.5 T0.3)
q( t ) exp(1 t Cp ) (t 1)
0.600 0.600 2.400 0.180 1 Tp 0.5

0.700 0.770 2.600 0.130 1.5T Catatan :
0.800 0.890 2.800 0.098
Qd 2 Q P 0.3 0.3
1) t T / Tp (tak berdimensi)
0.900 0.970 3.000 0.075 4) (t Tp + 1.5 T0.3) 2) q Q / Qp (tak berdimensi)
1.000 1.000 3.500 0.036 1 Tp1.5 T0.3 3) Cp=Coef Kalibrasi Qp (0.31.5)

1.100 0.980 4.000 0.018 2T0.3
1.200 0.920 4.500 0.009 Qd3 Q P 0.3

1.300 0.840 5.000 0.004


Catatan : T = waktu (jam)
Catatan :
t T / Tp (tak berdimensi)
q = Q / Qp (tak berdimensi)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB


3
BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

LAMPIRAN- 2 : Berbagai Rumusan Time Lag dan Waktu Puncak


Method Time Lag Waktu Puncak (Time to Peak) Catatan
Untuk Cathment Kecil (A=2 km2)
L0.77 Tp 2 / 3 Tc Tc = Waktu Konsentrasi (Jam)
Kirpich Tc 0.01947 0.835 L = Panjang Sungai (km)
S
S = Kemiringan Sungai (m/m)
Tp = Waktu Puncak (Jam)
(1)
TL = time lag (Jam)
Snyder TL = (L Lc)0.3 Te Tp / 5.5 L = Panjang Sungai (km)
Lc = Jarak Titik Berat ke outlet (km)
Te Tr Tp = tp + 0.25 (Tr - Te) Te = Durasi Hujan Effektif (Jam)
Tp S = Kemiringan Sungai (m/m)
Te < Tr Tp = tp + 0.50 Tr Tr = Satuan Durasi Hujan (jam)
Tp = Waktu Puncak (Jam)

0.21 L0.7 (L < 15 km) TL = time lag (Jam)
Nakayasu TL = Tp 1.6 TL L = Panjang Sungai (km)

0.527 + 0.058 L (L 15 km)
Tp = Waktu Puncak (Jam)
TL = time lag (Jam)
2540 - 22.86 CN Tp TL 0.5 Tr L = River Lenght (km)
SCS TL = L0.8 S = Kemiringan Sungai (m/m)
14104 CN 0.7S0.5
CN = Curve number (50 - 95)
Tr = Satuan Durasi Hujan (jam)
Tp = Waktu Puncak (Jam)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB


4
LAMPIRAN- 3 :
Data Perhitungan Hidrograf GAMA-1 DAS Ciliwung Katulampa (Bejo Slamet 2006)

Orde Sungai Jumlah Segmen Jumlah Panjang


Orde-1 264 231.74 km
Orde-2 138 101.14 km
Orde-3 67 64.99 km
Orde-4 24 20.91 km
Orde-5 27 17.30 km
Jumlah Total 520 436.08 km

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 5


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Lampiran 23. Rekapitulasi Panjang Sungai Orde 1 (Satu) di DAS Ciliwung Hulu Hasil Pengukuran pada Peta
Rupa Bumi Skala 1 : 25.000
No Panjang No Panjang No Panjang No Panjang No Panjang No Panjang
Segmen (km) Segmen (km) Segmen (km) Segmen (km) Segmen (km) Segmen (km)
1 0.400 87 0.320 176 0.970 268 0.350 360 0.720 469 0.610
2 0.380 89 1.470 178 0.950 269 2.500 361 0.400 470 1.730
4 0.430 91 0.350 180 1.320 273 3.080 364 0.770 477 3.560
6 0.730 92 0.300 181 0.220 274 2.080 365 0.030 478 0.570
8 1.020 94 0.300 184 0.450 278 0.470 366 0.710 485 0.250
10 0.640 101 0.450 185 0.330 279 2.780 368 0.430 486 0.370
12 0.940 102 0.580 187 0.470 281 1.170 369 1.080 488 0.560
14 0.530 105 2.150 189 0.220 284 0.260 372 1.550 490 0.570
15 1.940 110 0.730 191 0.280 285 0.780 374 0.920 492 0.430
16 1.380 111 0.780 193 0.350 287 0.720 378 0.200 493 1.360
17 1.050 112 1.080 195 0.260 288 1.230 379 0.800 496 0.340
18 0.530 114 0.680 198 0.820 290 0.530 380 1.610 497 0.890
24 1.120 115 1.750 199 0.330 293 0.380 381 0.250 499 0.630
26 0.530 117 1.470 201 0.600 294 0.700 385 0.530 501 0.460
27 0.380 119 1.050 202 0.450 298 0.820 387 0.730 502 1.180
29 0.430 120 0.260 205 1.330 299 0.730 388 0.290 503 2.320
32 1.030 121 0.830 207 0.780 301 0.880 390 0.530 511 2.590
33 0.380 124 3.070 209 0.730 303 0.670 393 0.840 515 1.550
35 0.390 127 0.210 212 0.700 305 0.530 394 0.350 518 0.900
37 0.710 128 3.650 214 0.230 306 0.270 396 1.510 519 0.390
39 0.280 131 0.280 216 0.700 308 2.250 397 0.270 521 0.450
41 0.740 134 0.380 217 0.150 312 0.880 400 1.350 523 0.760
42 0.230 136 0.380 219 0.150 315 0.950 404 1.310 526 0.580
44 0.730 137 1.880 221 0.450 316 0.680 407 0.270 527 1.030
46 0.730 139 1.030 223 0.250 317 1.190 408 0.140 529 0.570
48 0.210 140 0.750 225 0.200 319 0.510 410 0.220 537 2.650
50 1.260 142 0.430 227 0.280 320 1.130 411 1.090 538 1.170
53 2.630 143 1.830 229 1.500 323 0.330 414 1.550 539 2.450
54 0.770 144 1.050 230 0.080 324 0.680 416 0.600 543 0.530
56 0.980 145 0.570 235 0.780 327 1.400 418 0.330 544 3.130
59 0.450 146 0.740 236 0.220 328 1.290 419 2.280 545 1.980
60 0.240 148 0.580 237 0.450 330 1.020 421 1.700 547 2.130
62 0.800 150 0.280 239 0.210 332 1.030 423 0.830 549 2.870
64 0.730 152 1.020 241 0.180 334 0.420 426 0.140 552 1.000
65 0.470 153 0.570 245 0.450 335 0.260 427 0.370 553 0.340
67 0.230 156 1.500 247 0.470 336 1.080 450 0.360 554 2.600
69 0.830 158 1.000 252 0.700 337 0.720 452 0.370 243 a 0.330
70 0.160 160 0.570 253 0.870 339 0.480 454 0.760 243 b 0.180
72 0.320 163 0.150 255 1.200 341 0.820 456 0.560 476b 3.670
74 0.370 164 0.650 257 2.120 343 1.120 458 0.610
75 0.300 166 0.530 258 0.080 344 1.120 459 2.710
78 0.520 167 0.270 260 1.200 346 0.250 461 1.310
82 0.550 169 1.030 262 1.600 348 0.930 463 0.710
84 0.600 172 1.000 264 1.830 354 1.570 464 2.020
85 0.050 174 0.750 265 1.120 358 1.330 465 1.730
30.120 40.700 29.030 44.370 37.840 49.680

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB


6
Rekapitulasi Panjang Sungai Orde 2 (dua) di DAS Ciliwung Hulu
Hasil Pengukuran pada Peta Rupa Bumi Skala 1 : 25.000
No Panjang No Panjang No Panjang
Segmen (km) Segmen (km) Segmen (km)
5 0.590 168 0.630 373 0.980
7 0.510 170 0.230 377 0.100
9 0.250 186 0.730 382 0.250
11 1.200 188 0.280 384 0.300
13 0.720 190 0.330 391 1.650
19 0.470 192 0.100 392 1.740
20 1.540 194 0.250 398 0.590
23 0.660 196 0.420 402 0.780
25 0.600 200 0.130 406 2.280
28 0.520 203 0.100 409 0.190
30 0.920 218 0.240 413 2.300
34 0.580 220 0.830 415 0.760
36 0.810 222 0.550 417 0.780
38 0.570 224 0.300 425 1.130
40 0.370 226 0.150 429 0.940
43 0.250 228 1.780 451 0.500
45 0.770 231 0.380 453 1.810
47 0.320 238 0.150 455 0.930
49 0.870 240 0.050 457 0.470
55 0.520 242 0.300 484 3.330
61 0.230 243 0.430 487 3.310
63 0.780 251 0.310 489 0.350
66 0.230 267 0.520 491 0.750
68 0.460 272 0.870 495 0.610
71 0.550 277 0.340 111.a 0.250
73 0.080 283 1.750 116.a 0.900
76 0.500 286 0.470 145a 0.030
86 0.480 292 0.830 365.a 0.030
88 1.170 297 2.350 407 0.550
90 0.620 300 0.900 498 0.750
93 1.000 302 0.500 500 0.780
95 0.650 304 1.050 500a 0.080
100 0.750 311 0.840 520 0.310
109 1.500 313 0.000 522 0.230
113 0.930 314 0.450 524 0.810
116 1.250 318 0.600 528 0.200
118 0.270 322 0.450 535 1.000
126 0.200 326 0.480 536 0.960
133 0.270 329 0.210 541 0.640
135 0.480 331 0.530 542 2.470
138 0.100 333 0.550 546 3.130
141 0.560 338 2.100 548 1.270
147 0.370 340 0.830 550 1.200
149 0.080 342 0.380 551 0.450
151 0.320 345 0.800
154 0.430 347 3.500
162 0.120 367 0.880
27.420 30.850 42.870

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 7


Rekapitulasi Panjang Sungai Orde 3 (tiga) di DAS Ciliwung Hulu
Hasil Pengukuran pada Peta Rupa Bumi Skala 1 : 25.000
No Panjang No Panjang
Segmen (km) Segmen (km)
31 2.530 282 0.950
51 0.520 296 0.400
77 0.380 310 1.950
79 0.140 321 0.820
80 0.520 325 0.800
81 0.170 363 0.200
83 2.300 376 1.700
96 0.680 383 0.250
107 0.670 395 0.210
108 1.900 399 0.820
129 2.870 401 0.670
130 0.950 403 1.040
132 1.220 405 0.800
155 0.950 412 0.610
157 0.400 420 2.130
159 0.240 422 0.270
161 0.200 424 0.830
165 0.750 428 1.100
171 0.150 460 0.560
173 0.270 462 1.780
175 0.500 466 2.540
177 0.250 467 0.550
179 1.070 468 0.630
183 0.570 471 1.540
197 0.350 472 0.490
204 1.120 481 1.900
206 1.120 482 2.040
208 0.720 483 1.700
210 0.950 494 0.080
232 0.240 476a 0.910
244 1.030 528a 0.370
246 0.430 531 2.500
248 1.470 540 1.750
280 2.470
Total 64.99

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB 8


BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Rekapitulasi Panjang Sungai Orde 4 (empat) di DAS Ciliwung Hulu


Hasil Pengukuran pada Peta Rupa Bumi Skala 1 : 25.000
No Panjang
Segmen (km)
52 0.200
57 0.250
58 1.300
97 0.230
211 0.200
213 0.080
215 1.430
234 0.930
249 0.420
250 0.720
254 0.920
256 0.970
259 0.250
261 1.350
263 1.220
266 1.500
271 1.250
275 3.680
289 0.200
291 1.380
295 1.050
307 0.400
309 0.230
510 0.750
20.910

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB


9
BAHAN KULIAH HIDROLOGI CARA MENGHITUNG DEBIT BANJIR DENGAN
METODA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS

Rekapitulasi Panjang Sungai Orde 5 (Lima) di DAS Ciliwung Hulu


Hasil Pengukuran pada Peta Rupa Bumi Skala 1 : 25.000
No Panjang
Segmen (km)
98 0.300
99 0.570
103 0.100
104 0.100
106 1.200
122 0.130
123 1.170
125 0.740
430 0.350
431 0.520
432 0.800
433 0.490
434 0.550
435 1.230
436 0.810
437 1.250
438 0.730
439 0.080
440 0.380
441 0.630
513 0.800
514 0.400
516 1.580
529a 0.100
525 0.980
530 0.930
555 0.380
17.300

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL-ITB


10