Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ANALISIS KEBUTUHAN DAN KONDISI EKSISTING


JARINGAN IRIGASI TERSIER

Kerjasama
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN
MASYARAKAT UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Dengan
DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN
HORTIKULTURA ACEH
Tahun 2016
KATA PENGANTAR

Aceh telah ditetapkan sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional pada
Pemerintah Jokowi-Jusuf Kala untuk memenuhi dan menjaga ketahanan pangan
nasional dan lokal. Pemerintah Aceh memiliki komitmen untuk meningkatkan
produksi padi di wilayahnya sehingga sasaran pemenuhan pangan ke depan bisa
tercapai.
Pengelolaan air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir (downstream)
memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadai. Rusaknya atau tidak
tersedianya salah satu bangunan-bangunan irigasi akan mempengaruhi kinerja sistem
yang ada, sehingga mengakibatkan efisiensi dan efektifitas irigasi menurun serta
menurunnya produktivitas lahan usahatani.
Permasalahan utama dalam pengelolaan irigasi di Aceh berkaitan dengan
jaringan tersier (jaringan yang mensuplai air ke lahan sawah) masih terkendala dan
belum mencukupi. Jaringan tersier ini menjadi suatu faktor yang menentukan
keberhasilan produksi padi karena keberadaan jaringan ini berhubungan langsung
dengan petak sawah para petani.
Respon Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura untuk mengatasi permasalahan kondisi jaringan irigasi tersier sangat
penting. Oleh karena itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh
melakukan kerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
Universitas Syiah Kuala untuk Mengalisis Kebutuhan dan Kondisi Eksisting Jaringan
Irigasi Tersier.
Laporan pendahuluan ini memuat Pendahuluan, Ruang Lingkup Pekerjaan,
Tinjauan Pustaka, Metodologi dan Progres Kegiatan. Diharapkan laporan pendahuluan
dapat menyediakan laporan awal tentang Kebutuhan dan Kondisi Eksisting Jaringan
Irigasi Tersier. Saran dan masukan yang konstruktif dari semua pihak sangat
diharafkan untuk penyempurnaan laporan pendahuluan ini.

TIM PENELITI
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------------------------------- i


DAFTAR ISI --------------------------------------------------------------------------------------- ii
DAFTAR TABEL --------------------------------------------------------------------------------- iii
DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------------------------ iv

BAB I PENDAHULUAN -------------------------------------------------------------------- 1


1.1. Latar Belakang ------------------------------------------------------------------ 1
1.2. Maksud dan Tujuan ------------------------------------------------------------ 3
1.3. Sasaran dan Manfaat ---------------------------------------------------------- 3

BAB II RUANG LINGKUP PEKERJAAN -------------------------------------------------- 4

BAB III TINJAUAN PUSTAKA -------------------------------------------------------------- 5


3.1. Acuan Normatif ----------------------------------------------------------------- 5
3.2. Klasifikasi Jaringan Irigasi --------------------------------------------------- 9
3.2.1. lrigasi Sederhana ------------------------------------------------------ 10
3.2.2. Jaringan irigasi semiteknis ------------------------------------------ 11
3.2.3. Jaringan irigasi teknis ------------------------------------------------ 12
3.3. Pengelolaan Jaringan Irigasi ------------------------------------------------- 14
3.4. Operasi dan Pemeliharaan Jaringan irigasi ------------------------------- 15
3.4.1. Operasi Jaringan Irigasi ---------------------------------------------- 15
3.4.2. Pemeliharaan jaringan irigasi -------------------------------------- 15
3.4.3. Kelembagaan Pengelolaan Irigasi --------------------------------- 16

BAB IV METODOLOGI ---------------------------------------------------------------------- 18


4.1. Lokasi Kegiatan----------------------------------------------------------------- 18
4.2. Tahapan Kegiatan -------------------------------------------------------------- 18
4.2.1. Persiapan dan Pengumpulan Data Sekunder ------------------- 18
4.2.2. Penyusunan Rencana Kerja ----------------------------------------- 18
4.2.3. Pengumpulan Data---------------------------------------------------- 19
4.2.4. Tabulasi, Kompilasi dan Analisis Data ---------------------------- 19
4.2.5. Penyusunan Laporan ------------------------------------------------- 19
4.2.6. Ekspose/Seminar Hasil dan Finalisasi Kajian ------------------- 19
4.2.7. Jadwal pelaksanaan--------------------------------------------------- 20

BAB V PROGRES PEKERJAAN ------------------------------------------------------------ 21


5.1. Pengumpulan Data Primer --------------------------------------------------- 21
5.2. Tabulasi dan Kompilasi Data ------------------------------------------------ 22

DAFTAR PUSTAKA --------------------------------------------------------------------------- 23

Daftar Isi ii
DAFTAR TABEL

Tabel. 3.1. Klasifikasi Jaringan Irigasi --------------------------------------------------- 9


Tabel. 4.1. Kelompok dan Uraian Kegiatan --------------------------------------------- 18
Tabel. 4.2. Kondisi Saluran Irigasi Berdasarkan Kewenangan di Aceh ----------- 19
Tabel. 4.3. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan ----------------------------------------------- 20
Tabel. 5.1. Indikator Kuantitatif Kondisi ------------------------------------------------ 21
Tabel. 5.2. Indikator Deskripsi Kondisi Bangunan Sipil dan Lining --------------- 21
Tabel. 5.3. Indikator Deskripsi Kondisi Pintu ------------------------------------------ 21
Tabel. 5.4. Indikator Deskripsi Kondisi Tanggul Saluran ---------------------------- 22
Tabel. 5.5. Indikator Fungsi Aset --------------------------------------------------------- 22

Daftar Tabel iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar. 3.1. Jaringan Irigasi Sederhana ------------------------------------------------- 11


Gambar. 3.2. Jaringan Irigasi Semi Teknis ----------------------------------------------- 12
Gambar. 3.3. Jaringan Irigasi Teknis ------------------------------------------------------ 14

Daftar Gambar iv
Laporan
Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Air adalah sumber daya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup
semua makhluk hidup. Air juga sangat diperlukan untuk kegiatan industri, perikanan,
pertanian dan usaha-usaha lainnya. Dalam penggunaan air sering terjadi kurang hati-
hati dalam pemakaian dan pemanfaatannya sehingga diperlukan upaya untuk menjaga
keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air melalui pengembangan,
pelestarian, perbaikan dan perlindungan. Dalam pemanfaatan air khususnya lagi dalam
hal pertanian, dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan serta pengembangan
wilayah, Pemerintah Indonesia melakukan usaha pembangunan di bidang pengairan
yang bertujuan agar dapat langsung dirasakan oleh masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan air (Priyonugroho,2014).
Aceh telah ditetapkan sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional pada
Pemerintah Jokowi-JK dalam rangka memenuhi dan menjaga ketahanan pangan
nasional dan lokal. Oleh karena itu, Pemerintah Aceh harus serius dalam upaya
meningkatkan produksi padi di wilayahnya sehingga sasaran pemenuhan pangan
kedepan bisa tercapai.
Untuk meningkatkan produksi padi tersebut secara teknis dapat dilakukan
secara ekstensifikasi dan intensifikasi. Namun, hal yang terpenting dari keduanya
adalah tersedianya sumber air dan jaringan irigasi yang memadai sebab air merupakan
faktor penentu keberhasilan usahatani padi sawah. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan produktivitas lahan yang sangat signifikan antara lahan
beririgasi dan lahan tadah hujan.
Irigasi adalah menyalurkan air yang perlu untuk pertumbuhan tanaman ke
tanah yang diolah dan mendistribusinya secara sistematis (Sosrodarsono dan Takeda,
2003). Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air
bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak (PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi).
Pengelolaan air irigasi dari hulu (upstream) sampai dengan hilir (downstream)
memerlukan sarana dan prasarana irigasi yang memadai. Sarana dan prasarana
tersebut dapat berupa: bendungan, bendung, saluran primer dan sekunder, boks bagi,
bangunan-bangunan ukur, dan saluran tersier serta saluran tingkat usaha tani (TUT).
Rusaknya atau tidak tersedianya salah satu bangunan-bangunan irigasi akan
mempengaruhi kinerja sistem yang ada, sehingga mengakibatkan efisiensi dan
efektifitas irigasi menurun serta menurunnya produktivitas lahan usahatani.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 1


Laporan
Pendahuluan

Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan
Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi mengamanatkan bahwa tanggung jawab
pengelolaan jaringan irigasi tersier sampai ke tingkat usahatani dan jaringan irigasi
desa menjadi hak dan tanggung jawab petani, yang terhimpun dalam wadah
perkumpulan petani pemakai air (P3A) sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan
Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan
antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi dan Pemerintah daerah
Kabupaten/Kota disebutkan bahwa kewenangan pengembangan/ rehabilitasi jaringan
irigasi tingkat usahatani menjadi kewenangan dan tanggung jawab instansi tingkat
Kabupaten/Kota yang menangani urusan pertanian.
Luas Daerah irigasi di Provinsi Aceh adalah 390.518 Ha yang terdiri dari 1.499
Daerah Irigasi (DI) yang terdiri dari Lintas Kabupaten/Kota dan Utuh Kabupaten/Kota
berdasarkan kewenangannya (Dinas Pengairan Aceh, 2016). Kondisi saluran irigasi di
Aceh berdasarkan kewenangan dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kewenangan yaitu: 1)
Kewenangan pusat dengan luas baku 101.622 Ha dan luas fungsional 87.903 Ha, 2)
Kewenangan provnsi dengan luas baku 65.409 Ha dan luas fungsional 28.975 Ha, dan
3) Kewenangan Kabupaten/Kota denga luas baku 196.261 Ha dan luas fungsional
104.018 Ha. Selanjutnya kondisi saluran irigasi berdasarkan kewenangan yaitu: 1)
Kewenangan pusat dalam kondisi baik 785 km (65,67 %), rusak sedang 322 km (26,92
%), dan rusak berat 89 km (7,42 %), 2) Kewenangan provinsi dalam kondisi baik 418
km (99,26 %), rusak sedang 178 km (25,2 %) dan rusak berat 110 km (15,54 %)., dan
3) Kewenangan kabupaten/kota dalam kondisi baik 908 km (51,59 %), rusak sedang
440 km (25,03 %) dan rusak berat 411 km (23,38 %).
Bangunan irigasi berdasarkan kewenangan di Aceh terdiri dari: 1) Kewenangan
pusat dengan luas baku 101.622 Ha dan luas fungsional 87.903 Ha, 2) Kewenangan
provinsi dengan luas baku 65.409 Ha dan luas fungsional 28.975 Ha. Selanjutnya
kondisi bangunan irigasi dapat dikelompokkan yaitu: 1) Kewenangan pusat dengan
kondisi baik 2.316 buah (69,20 %) dan kondisi rusak 1.031 buah (30,80 %), 2)
Kewenangan provinsi dengan kondisi baik 894 buah (65,30 %) dan kondisi rusak 475
buah (34,70 %), dan (3) Kewenangan kabupaten/kota dengan kondisi baik 2.508
buah(50,48 %) dan kondisi rusak 2.460 buah (49,52 %).
Uraian sebelumnya memberikan informasi bahwa ketersediaan irigasi di Aceh
sudah cukup luas dan panjang, namun dilihat dari rasio jaringan irigasi relatif masih
rendah, yaitu 61,32% tahun 2014 dan meningkat menjadi 65,23% tahun 2015. Tahun
2016 Pemerintah Aceh menargetkan meningkat ratio jaringan irigasi menjadi 70,45
persen (Dinas Pengairan Aceh, 2016). Rasio rasio jaringan irigasi adalah perbandingan
antara panjang saluran irigasi dengan luas lahan budidaya pertanian.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 2


Laporan
Pendahuluan

Sungguhpun rasio jaringan irigasi di Aceh terus meningkat, namun fakta di


lapangan terjadi banyak kendala sehingga pengelolaan jaringan irigasi tidak optimal.
Air irigasi yang diharapkan oleh para petani tidak tersedia tercukupi untuk mengairi
sawah-sawah mereka. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain (1) terbatas
debit andalan di beberapa daerah irigasi, (2) Terdapat beberapa daerah irigasi yang
tidak berfungsi secara optimal; (3) pembangunan jaringan irigasi, terutama jaringan
tersier (jaringan yang mensuplai air ke lahan sawah) masih terkendala dan belum
mencukupi, dan lain-lain. Jaringan tersier ini menjadi suatu faktor yang menentukan
keberhasilan produksi padi karena keberadaan jaringan ini berhubungan langsung
dengan petak sawah para petani.
Persoalan di lapangan ketersedia dan kondisi jaringan irigasi tersier tersebut
masih terbatas dan sederhana sehingga menjadi kendala dalam menyalurkan air ke
lahan usahatani padi di Aceh. Sejauh ini belum tersedia data secara konkrit berapa
jumlah jaringan tersier yang ada di Aceh, dan bagaimana kondisinya serta berapa
kebutuhan jaringan tersier tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian tentang
identifikasi jumlah dan kondisi serta kebutuhan irigasi tersier di Aceh.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari kajian ini adalah untuk mengevaluasi jaringan irigasi tersier dalam
rangka meningkatkan produksi dan produktivitas lahan sawah di Aceh sehingga
mencapai sasaran Aceh sebagai salah satu lumbung padi nasional. Tujuan dari kajian
ini adalah (1) mengidentifikasi jumlah dan kondisi (eksisting) salurah irigasi tersier di
Wilayah Timur Aceh, dan (2) menghitung dan menganalisis jumlah kebutuhan irigasi
tersier di Wilayah Timur Aceh.

1.3. Sasaran dan Manfaat

Sasaran dari kegiatan ini adalah teridentifikasinya jumlah dan kondisi saluran
irigasi tersier saat ini di Wilayah Timur Aceh dan diketahui kebutuhan saluran irigasi
tersier di wilayah tersebut. Manfaat kajian ini adalah dapat menjadi informasi
mendasar bagi dinas teknis (SKPA/SKPK) dan petani (kelompok tani) serta stakeholder
lainnya dalam menyusun program/kegiatan untuk merehabilitasi dan atau membuat
baru saluran irigasi tersier di Wilayah Timur Aceh sesuai kebutuhannya. Jika
kebutuhan irigasi tersier sudah tercukupi maka diharapkan produksi dan produktivitas
usahatani sawah di Wilayah Timur Aceh dapat meningkat sehingga berdampak pada
peningkatan supplai padi Aceh.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 3


Laporan
Pendahuluan

BAB II
Ruang Lingkup Pekerjaan

Ruang lingkup analisis kebutuhan dan kondisi eksisting jaringan irigasi tersier
Aceh meliputi:
1. Mengumpulkan data sekunder tentang luasan sawah, jumlah jaringan irigasi
primer, sekunder, dan tersier serta kondisinya (eksisting) di Wilayah Timur Aceh.
2. Mengumpulkan dan menganalisis data primer melalui survei lapang tentang
kondisi eksisting jaringan irigasi tersier di Wilayah Timur Aceh.
3. Menghitung dan menganalisis kebutuhan jaringan irigasi tersier di Wilayah Timur
Aceh.
4. Membuat laporan hasil kajian analisis kebutuhan dan kondisi eksisting jaringan
irigasi tersier di Wilayah Timur Aceh.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 4


Laporan
Pendahuluan

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Acuan Normatif

Pelaksanaan kegiatan Analisis Kebutuhan dan Kondisi Eksisting Jaringan Irigasi


Tersier yang dilakukan pada tahun 2016 ini mengacu kepada standar-standar teknis
yang berlaku. Rujukan yang digunakan pada pelaksanaan ini adalah:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi;
2. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 79/Permen/OT.140/8/2013 tentang
Pedoman Kesesuaian Lahan pada Komoditas Tanaman Pangan;
3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03/Permen/OT.140/2/2015 tentang
Pedoman Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan
Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana
Pendukungnya Tahun Anggaran 2015;
4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permen/OT.140/2/2012 tentang
Pedoman Teknis Kriteria dan Persyaratan Kawasan, Lahan dan Lahan
Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 58/Permen/OT.140/9/2012 tentang
Perlindungan, Pemeliharaan, Pemulihan serta Peningkatan Fungsi Lahan
Budidaya Holtikultura;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
06/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Sumber Air dan
Bangunan Pengairan;
7. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
10/PRT/M/2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan dan
Tata Pengairan;
8. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
12/PRT/M/2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi;
9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
14/PRT/M/2015 tentang Kriteria Penetapan Status Daerah Irigasi;
10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
17/PRT/M/2015 tentang Komisi Irigasi;
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
18/PRT/M/2015 tentang Iuran Eksploitasi dan Pemeliharaan Bangunan
Pengairan.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 5


Laporan
Pendahuluan

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 32 / PRT / M / 2007 Tentang


Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi mendefinisikan hal-hal penting
yang berkaitan dengan Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi sebagai berikut:
1. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan
tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan
air laut yang berada di darat.
2. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat
pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
3. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi
untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi
rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
4. Daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan
irigasi.
5. Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkap yang
merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,
pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi.
6. Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas
bangunan utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan
bagi, bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
7. Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri
atas saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan
bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
8. Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas saluran tersier,
saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta
bangunan pelengkapnya.
9. Petak irigasi adalah petak lahan yang memperoleh air irigasi.
10. Petak tersier adalah kumpulan petak irigasi yang merupakan satu
kesatuan dan mendapatkan air irigasi melalui saluran tersier yang sama.
11. Penyediaan air irigasi adalah penentuan volume air per satuan waktu yang
dialokasikan dari suatu sumber air untuk suatu daerah irigasi yang didasarkan
waktu, jumlah, dan mutu sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang
pertanian dan keperluan lainnya.
12. Pembagian air irigasi adalah kegiatan membagi air di bangunan bagi dalam
jaringan primer dan/atau jaringan sekunder.
13. Pemberian air irigasi adalah kegiatan menyalurkan air dengan jumlah tertentu
dari jaringan primer atau jaringan sekunder ke petak tersier.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 6


Laporan
Pendahuluan

14. Penggunaan air irigasi adalah kegiatan memanfaatkan air dari petak tersier
untuk mengairi lahan pertanian pada saat diperlukan.
15. Pembuangan air irigasi selanjutnya disebut drainase adalah pengaliran
kelebihan air yang sudah tidak dipergunakan lagi pada suatu daerah irigasi
tertentu.
16. Perkumpulan petani pemakai air yang selanjutnya disebut P3A adalah
kelembagaan pengelolaan irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air
dalam suatu daerah layanan/petak tersier atau desa yang dibentuk secara
demokratis oleh petani pemakai air termasuk lembaga lokal pengelola irigasi.
17. Gabungan petani pemakai air yang selanjutnya disebut GP3A adalah
kelembagaan sejumlah P3A yang bersepakat bekerja sama memanfaatkan air
irigasi dan jaringan irigasi pada daerah layanan blok sekunder, gabungan
beberapa blok sekunder, atau satu daerah irigasi.
18. Induk perkumpulan petani pemakai air yang selanjutnya disebut IP3A adalah
kelembagaan sejumlah GP3A yang bersepakat bekerja sama untuk
memanfaatkan air irigasi dan jaringan irigasi pada daerah layanan blok primer,
gabungan beberapa blok primer, atau satu daerah irigasi.
19. Komisi irigasi kabupaten/kota adalah lembaga koordinasi dan komunikasi
antara wakil pemerintah kabupaten/kota, wakil perkumpulan petani pemakai
air tingkat daerah irigasi, dan wakil pengguna jaringan irigasi pada
kabupaten/kota.
20. Komisi irigasi provinsi adalah lembaga koordinasi dan komunikasi antara
wakil pemerintah provinsi, wakil perkumpulan petani pemakai air tingkat
daerah irigasi, wakil pengguna jaringan irigasi pada provinsi, dan wakil
komisi irigasi kabupaten/kota yang terkait.
21. Komisi irigasi antarprovinsi adalah lembaga koordinasi dan komunikasi
antara wakil pemerintah kabupaten/kota yang terkait, wakil komisi irigasi
provinsi yang terkait, wakil perkumpulan petani pemakai air, dan wakil
pengguna jaringan irigasi di suatu daerah irigasi lintas provinsi.
22. Pengelolaan jaringan irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi,
pemeliharaan, dan rehabilitasi jaringan irigasi di daerah irigasi.
23. Operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi dan
pembuangannya, termasuk kegiatan membuka-menutup pintu bangunan
irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun
rencana pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/bangunan,
mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi.
24. Hak guna air untuk irigasi adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau
mengusahakan air dari sumber air untuk kepentingan pertanian.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 7


Laporan
Pendahuluan

25. Rencana tata tanam detail yang selanjutnya disebut dengan RTTD adalah
rencana tata tanam yang menggambarkan rencana luas tanam pada suatu
daerah irigasi dan terperinci per petak tersier.
26. Rencana tata tanam golongan yang selanjutnya disebut RTTG adalah rencana
tata tanam yang menggambarkan rencana luas tanam pada suatu daerah
irigasi, belum terperinci per petak tersier sehingga yang terlihat hanya total
rencana luas tanam per daerah irigasi.
27. Debit andalan adalah debit perhitungan ketersediaan air berdasarkan
probabilitas 80 persen terjadinya debit sungai.
28. Golongan vertikal adalah cara penentuan waktu awal pemberian air (awal
tanam) secara bersamaan pada petak tersier dari hulu ke hilir dalam suatu
saluran sekunder dengan tenggang waktu pemberian air antargolongan,
biasanya antara 10 sampai dengan 15 hari.
29. Golongan horisontal adalah cara penentuan waktu pemberian air (awal
tanam) secara bersamaan pada petak tersier yang berada di bagian hulu dari
saluran sekunder yang berlainan dan diteruskan pada periode berikutnya ke
petak tersier yang berada di bagian hilirnya dengan tenggang waktu
pemberian air antargolongan, biasanya antara 10 sampai dengan 15 hari.
30. Golongan tersebar adalah cara penentuan waktu awal pemberian air (awal
tanam) secara bersamaan pada petak tersier yang telah ditentukan dan tersebar
pada satu daerah irigasi dengan tenggang waktu pemberian air antargolongan,
biasanya antara 10 sampai dengan 15 hari.
31. Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan
jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya.
32. Pengamanan jaringan irigasi adalah upaya menjaga kondisi dan fungsi jaringan
irigasi serta mencegah terjadinya hal-hal yang merugikan terhadap jaringan
dan fasilitas jaringan, baik yang diakibatkan oleh ulah manusia, hewan,
maupun proses alami.
33. Pemeliharaan rutin adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi
jaringan yang dilaksanakan setiap waktu.
34. Pemeliharaan berkala adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi
jaringan yang dilaksanakan secara berkala.
35. Perbaikan adalah usaha untuk mengembalikan kondisi dan fungsi saluran
dan/atau bangunan irigasi secara parsial.
36. Perbaikan darurat adalah kegiatan penanggulangan yang berupa perbaikan
dan bersifat darurat akibat suatu bencana agar saluran dan/atau bangunan
dapat segera berfungsi.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 8


Laporan
Pendahuluan

37. Penggantian adalah usaha untuk mengganti seluruh atau sebagian komponen
prasarana fisik, fasilitas, dan peralatan jaringan irigasi.
38. Inventarisasi jaringan irigasi adalah kegiatan untuk mendapatkan data jumlah,
dimensi, jenis, kondisi, dan fungsi seluruh aset irigasi serta data ketersediaan
air, nilai aset jaringan irigasi, dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi.
39. Perencanaan pemeliharaan adalah suatu proses perancangan pemeliharaan
jaringan irigasi sebelum pelaksanaan pemeliharaan dimulai yang meliputi
inspeksi, survei, desain, dan penyusunan program.
40. Inspeksi rutin adalah pemeriksaan jaringan irigasi yang dilakukan secara rutin
setiap periode tertentu (10 atau 15 hari sekali) untuk mengetahui kondisi
jaringan irigasi.
41. Penelusuran jaringan adalah kegiatan pemeriksaan bersama dengan P3A dari
hulu sampai ke hilir untuk mengamati kondisi dan fungsi jaringan irigasi
dengan periode 6 bulanan pada saat pengeringan dan awal musim hujan atau
sesuai dengan kebutuhan.

3.2. Klasifikasi Jaringan Irigasi

Berdasarkan cara pengaturan pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas,


jaringan irigasi dapat dibedakan ke dalam tiga tingkatan yaitu : 1) Irigasi Sederhana, 2)
Irigasi Semiteknis dan 3) Irigasi Teknis. Klasifikasi jaringan irigasi tersebut disajikan
pada Tabel 3.1. Selanjutnya ketiga tingkatan tersebut diperlihatkan pada Gambar 3.1,
3.2 dan 3.2.
Tabel. 3.1. Klasifikasi Jaringan Irigasi
Klasifikasi jaringan irigasi
Jenis
Teknis Semiteknis Sederhana
Bangunan
Bangunan Bangunan Bangunan
1 permanen atau
Utama permanen sementara
semi permanen

Kemampuan bangunan
2 dalam mengukur dan Baik Sedang Jelek
mengatur debit

Saluran irigasi dan


Saluran irigasi
Saluran irigasi dan pembuang
3 Jaringan saluran dan pembuang
pembuang terpisah tidak sepenuhnya
jadi satu
terpisah
Belum dikembangkan Belum ada
Dikembangkan atau densitas jaringan terpisah
4 Petak tersier
sepenuhnya bangunan tersier yang
jarang dikembangkan
Tinggi Sedang Kurang
Efisiensi secara
50 60 % (Ancar- 40 50% (Ancar- < 40% (Ancar-
5 keseluruhan
ancar) ancar) ancar

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 9


Laporan
Pendahuluan

Klasifikasi jaringan irigasi


Jenis
Teknis Semiteknis Sederhana
Tak lebih dari
6 Ukuran Tak ada batasan Sampai 2.000 ha
500 ha
Jalan Usaha Cenderung tidak
7 Ada ke seluruh areal Hanya sebagian areal
Tani ada
- Ada instansi yang
menangani Tidak ada
8 Kondisi O & P Belum teratur
- Dilaksanakan O&P
teratur
Sumber: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2010

Dalam konteks Standarisasi Irigasi ini, hanya irigasi teknis saja yang ditinjau.
Bentuk irigasi yang lebih maju ini cocok untuk dipraktekkan di sebagian besar
pembangunan irigasi di Indonesia.
Dalam suatu jaringan irigasi dapat dibedakan adanya empat unsur fungsional
pokok, yaitu:
a. Bangunan-bangunan utama (headworks) di mana air diambil dari sumbernya,
umumnya sungai atau waduk,
b. Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak-petak
tersier,
c. Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan
kolektif, air irigasi dibagi-bagi dan dialirkan kesawah- sawahdan kelebihan air
ditampung di dalam suatu sistem pembuangan di dalam petak tersier;
d. Sistem pembuang berupa saluran dan bangunan bertujuan untuk membuang
kelebihan air dari sawah ke sungai atau saluran-saluran alamiah.

3.2.1. lrigasi Sederhana


Di dalam irigasi sederhana, pembagian air tidak diukur atau diatur, air lebih akan
mengalir ke saluran pembuang seperti yang disajikan pada Gambar 3.1. Para petani
pemakai air itu tergabung dalam satu kelompok jaringan irigasi yang sama, sehingga tidak
memerlukan keterlibatan pemerintah di dalam organisasi jaringan irigasi semacam ini.
Persediaan air biasanya berlimpah dengan kemiringan berkisar antara sedang sampai
curam. Oleh karena itu hampir-hampir tidak diperlukan teknik yang sulit untuk sistem
pembagian airnya.
Jaringan irigasi yang masih sederhana itu mudah diorganisasi tetapi
memiliki kelemahan-kelemahan yang serius. Pertama-tama, ada pemborosan air
dan, karena pada umumnya jaringan ini terletak di daerah yang tinggi, air yang
terbuang itu tidak selalu dapat mencapai daerah rendah yang lebih subur. Kedua,
terdapat banyak penyadapan yang memerlukan lebih banyak biaya lagi dari penduduk
karena setiap desa membuat jaringan dan pengambilan sendiri-sendiri. Karena

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 10


Laporan
Pendahuluan

bangunan pengelaknya bukan bangunan tetap/permanen, maka umurnya mungkin


pendek.

Sumber: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2010.


Gambar. 3.1. Jaringan Irigasi Sederhana

3.2.2. Jaringan irigasi semiteknis


Perbedaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana dan jaringan
semiteknis adalah bahwa jaringan semiteknis ini bendungnya terletak di sungai
lengkap dengan bangunan pengambilan dan bangunan pengukur di bagian hilirnya.
Mungkin juga dibangun beberapa bangunan permanen di jaringan saluran. Sistem
pembagian air biasanya serupa dengan jaringan sederhana seperti yang disajikan pada
Gambar 3.2.
Pengambilan air dipakai untuk melayani/mengairi daerah yang lebih luas dari
daerah layanan pada jaringan sederhana. Oleh karena itu biayanya ditanggung oleh
lebih banyak daerah layanan. Organisasinya akan lebih rumit jika bangunan tetapnya
berupa bangunan pengambilan dari sungai, karena diperlukan lebih banyak
keterlibatan dari pemerintah, dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 11


Laporan
Pendahuluan

Sumber: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2010.


Gambar. 3.2. Jaringan Irigasi Semi Teknis

3.2.3. Jaringan irigasi teknis


Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan teknis adalah pemisahan antara
jaringan irigasi dan jaringan pembuang/pematus. Hal ini berarti bahwa baik saluran
irigasi maupun pembuang tetap bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing,
dari pangkal hingga ujung. Saluran irigasi mengalirkan air irigasi ke sawah-sawah dan
saluran pembuang mengalirkan air lebih dari sawah-sawah ke saluran pembuang
alamiah yang kemudian akan diteruskan ke laut seperti yang disajikan pada Gambar
3.3.
Petak tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis.Sebuah
petak tersier terdiri dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang idealnya
maksimum 50 ha, tetapi dalam keadaan tertentu masih bisa ditolerir sampai seluas 75
ha. Perlunya batasan luas petak tersier yang ideal hingga maksimum adalah agar
pembagian air di saluran tersier lebih efektif dan efisien hingga mencapai lokasi sawah
terjauh.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 12


Laporan
Pendahuluan

Permasalahan yang banyak dijumpai di lapangan untuk petak tersier dengan


luasan lebih dari 75 ha antara lain:
a. Dalam proses pemberian air irigasi untuk petak sawah terjauh sering tidak
terpenuhi.
b. Kesulitan dalam mengendalikan proses pembagian air sehingga sering terjadi
pencurian air,
c. Banyak petak tersier yang rusak akibat organisasi petani setempat yang tidak
terkelola dengan baik.
Semakin kecil luas petak dan luas kepemilikan maka semakin mudah organisasi
setingkat P3A/GP3A untuk melaksanakan tugasnya dalam melaksanakan operasi dan
pemeliharaan. Petak tersier menerima air di suatu tempat dalam jumlah yang sudah
diukur dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Institusi Pengelola Irigasi.
Pembagian air di dalam petak tersier diserahkan kepada para petani. Jaringan
saluran tersier dan kuarter mengalirkan air ke sawah. Kelebihan air ditampung di
dalam suatu jaringan saluran pembuang tersier dan kuarter dan selanjutnya dialirkan
ke jaringan pembuang primer.
Jaringan irigasi teknis yang didasarkan pada prinsip-prinsip di atas adalah cara
pembagian air yang paling efisien dengan mempertimbangkan waktu merosotnya
persediaan air serta kebutuhan-kebutuhan pertanian.
Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran,
pembagian air irigasi dan pembuangan air lebih secara efisien. Jika petak tersier hanya
memperoleh air pada satu tempat saja dari jaringan (pembawa) utama, hal ini akan
memerlukan jumlah bangunan yang lebih sedikit di saluran primer, eksploitasi yang
lebih baik dan pemeliharaan yang lebih murah dibandingkan dengan apabila
setiap petani diizinkan untuk mengambil sendiri air dari jaringan pembawa. Kesalahan
dalam pengelolaan air di petak-petak tersier juga tidak akan mempengaruhi pembagian
air di jaringan utama.
Dalam hal-hal khusus, dibuat sistem gabungan (fungsi saluran irigasi dan
pembuang digabung). Walaupun jaringan ini memiliki keuntungan tersendiri, dan
kelemahan-kelemahannya juga amat serius sehingga sistem ini pada umumnya tidak
akan diterapkan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari jaringan gabungan semacam
ini adalah pemanfaatan air yang lebih ekonomis dan biaya pembuatan saluran
lebih rendah, karena saluran pembawa dapat dibuat lebih pendek dengan kapasitas
yang lebih kecil.
Kelemahan-kelemahannya antara lain adalah bahwa jaringan semacam ini lebih
sulit diatur dan dioperasikan sering banjir, lebih cepat rusak dan menampakkan
pembagian air yang tidak merata. Bangunan-bangunan tertentu di dalam jaringan tersebut
akan memiliki sifat-sifat seperti bendung dan relatif mahal.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 13


Laporan
Pendahuluan

Sumber: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2010.


Gambar. 3.3. Jaringan Irigasi Teknis

3.3. Pengelolaan Jaringan Irigasi


Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007,
disebutkan bahwa jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan
pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan,
pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi. Ada beberapa jenis
jaringan irigasi yaitu:
1. Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas bangunan
utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi-
sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
2. Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas
saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi- sadap,
bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya.
3. Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana
pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas saluran tersier, saluran kuarter
dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta bangunan pelengkapnya.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 14


Laporan
Pendahuluan

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 dan Peraturan Menteri


Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007 menyebutkan bahwa Pengelolaan Jaringan
Irigasi adalah kegiatan Operasi dan Pemeliharaan serta rehabilitasi jaringan irigasi di
Daerah Irigasi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006
menjelaskan tentang kewenangan pengelolaan irigasi utama (primer dan sekunder)
menjadi wewenang tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan
ketentuan:
1. Daerah Irigasi (DI) dengan luas diatas 3000 ha menjadi wewenang dan tanggung
jawab pemerintah pusat,
2. Daerah Irigasi (DI) antara 1000 ha 3000 ha menjadi kewenangan pemerintah
provinsi, dan
3 . Daerah Irigasi (DI) lebih kecil dari 1000 ha sepenuhnya menjadi kewenangan dan
tanggung jawab pemerintah kabupaten, sedangkan jika berada pada lintas
kabupaten maka menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Jaringan tersier
sepenuhnya merupakan tanggung jawab organisasi petani (P3A).

3.4. Operasi dan Pemeliharaan Jaringan irigasi


3.4.1. Operasi Jaringan Irigasi
Operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi dan
pembuangannya, termasuk kegiatan membuka menutup pintu bangunan irigasi,
menyusun rencana tata tanam, menyusun system golongan, menyusun rencana
pembagian air, melakukan kalibrasi pintu/bangunan, mengumpulkan data,
memantau dan mengevaluasi. Agar operasi jaringan dapat dilaksanakan dengan baik
harus tersedia data pendukung antara lain:
1. Peta Wilayah Kerja Pengelolaan Irigasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab.
2. Peta Daerah Irigasi dengan batas daerah irigasi dan plotting saluran induk dan
saluran sekunder, bangunan air, lahan irigasi serta pembagian golongan.
3. Skema Jaringan Irigasi yang menggambarkan saluran induk dan saluran
sekunder, bangunan air dan bangunan lainnya yang ada disetiap ruas dan
panjang saluran, petak tersier dengan data debit rencana, luas petak, kode
golongan yang masing-masing dilengkapi dengan nomenklatur.

3.4.2. Pemeliharaan jaringan irigasi


Pemeliharaan jaringan irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan
jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar
pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya melalui kegiatan
perawatan, perbaikan, pencegahan dan pengamanan yang harus dilakukan secara terus
menerus. Adapun jenis pemeliharaan jaringan irigasi terdiri dari:

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 15


Laporan
Pendahuluan

1. Pengamanan jaringan irigasi.


Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya
rusak air, hewan atau manusia guna mempertahankan fungsi dari jaringan
irigasi tersebut.

2. Pemeliharaan rutin.
Pemeliharaan rutin merupakan kegiatan perawatan dalam rangka
mempertahankan kondisi jaringan irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus
tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti.

3. Pemeliharaan berkala
Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan yang
dilaksanakan secara berkala yang direncanakan dan dilaksanakan oleh dinas yang
membidangi irigasi dan dapat bekerja sama dengan P3A/GP3A/IP3A secara
swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula
dilaksanakan dengan kontraktual.

4. Perbaikan darurat.
Perbaikan darurat dilakukan akibat bencana alam dan atau kerusakan berat akibat
terjadinya kejadian luar biasa (seperti pengrusakan/ penjebolan tanggul, longsoran
tebing yang menutup jaringan, tanggul putus dan lain-lain) dan penanggulangan segera
dengan konstruksi tidak permanen agar jaringan irigasi tetap berfungsi.

3.4.3. Kelembagaan Pengelolaan Irigasi


Menurut PP No. 20 Tahun 2006, untuk menjamin terwujudnya tertib
pengelolaan jaringan irigasi yang dibangun pemerintah maka dibentuk kelembagaan
pengelolaan irigasi yang meliputi instansi pemerintah yang membidangi irigasi,
perkumpulan petani pemakai air dan komisi irigasi. Selanjutnya, partisipasi
perkumpulan petani pemakai air dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi,
sudah diatur pada pasal 26 dan pasal 27 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.
20 Tahun 2006 tentang Irigasi sebagai berikut:
1. Partisipasi masyarakat petani dalam pengembangan dan pengelolaan sistem
irigasi diwujudkan mulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan dan
pelaksanaan kegiatan dalam pembangunan, peningkatan, operasi, pemeliharaan
dan rehabilitasi.
2. Partisipasi masyarakat petani dapat diwujudkan dalam bentuk sumbangan
pemikiran, gagasan, waktu, tenaga, material dan dana.
3. Partisipasi masyarakat petani dilakukan secara perseorangan atau melalui
perkumpulan petani pemakai air.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 16


Laporan
Pendahuluan

4. Partisipasi masyarakat petani didasarkan atas kemauan dan kemampuan


masyarakat petani serta semangat kemitraan dan kemandirian.
5. Partisipasi masyarakat petani dapat disalurkan melalui perkumpulan petani
pemakai air di wilayah kerjanya.
6. Pemerintah pusat, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/ kota
sesuai dengan kewenangannya mendorong partisipasi masyarakat petani
dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi untuk meningkatkan rasa
memiliki dan rasa tanggung jawab guna keberlanjutan sistem irigasi.
Upaya pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air, sudah diatur pada pasal
28 dan pasal 29 Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.
Beberapa hal penting yang dapat dipetik dari kedua pasal tersebut diantaranya:
1. Pemerintah kabupaten/kota melakukan pemberdayaan perkumpulan petani
pemakai air.
2. Pemerintah kabupaten/kota menetapkan strategi dan program pemberdayaan
perkumpulan petani pemakai air berdasarkan kebijakan kabupaten/kota dalam
pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.
3. Pemerintah provinsi memberikan bantuan teknis kepada pemerintah
kabupaten/ kota dalam pemberdayaan dinas atau instansi terkait di bidang irigasi
dan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air, serta dalam
pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi berdasarkan kebutuhan
pemerintah kabupaten/kota.
4. Pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dapat memberi
bantuan kepada perkumpulan petani pemakai air dalam melaksanakan
pemberdayaan.
5. Pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai
dengan kewenangannya :
a. Melakukan penyuluhan dan penyebarluasan teknologi bidang irigasi hasil
penelitian dan pengembangan kepada masyarakat petani.
b. Mendorong masyarakat petani untuk menerapkan teknologi tepat guna
yang sesuai dengan kebutuhan, sumber daya, dan kearifan lokal.
c. Memfasilitasi dan meningkatkan pelaksanaan penelitian dan pengembangan
teknologi di bidang irigasi.
d. Memfasilitasi perlindungan hak penemu dan temuan teknologi dalam bidang
irigasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 17


Laporan
Pendahuluan

BAB IV
METODOLOGI

Mengingat banyaknya jumlah irigasi tersier di Aceh serta keterbatasan waktu,


tenaga, dan dana, maka kajian analisis kebutuhan dan kondisi eksisting jaringan irigasi
tersier Aceh dibatasi hanya pada irigasi tersier yang ada di Wilayah Timur Aceh.

4.1. Lokasi Kegiatan

Lokasi penelitian dilakukan di 8 kabupaten/kota yang mewakili kondisi jaringan


tersier irigasi Wilayah Timur Aceh adalah sebagai berikut:
1. Kabupaten Aceh Besar (Blang Bintang)
2. Kabupaten Pidie (D.I Baro Raya)
3. Kabupaten Pidie Jaya (D.I Mereudu)
4. Kabupaten Biruen (D.I Peudada)
5. Kabupaten Aceh Utara (D.I Pase)
6. Kota Lhokseumawe
7. Kabupaten Aceh Timur (D.I Jambo Reuhat)
8. Kabupaten Aceh Tamiang (D.I Keuteungga)

4.2. Tahapan Kegiatan


4.2.1. Persiapan dan Pengumpulan Data Sekunder
Pada tahap ini dilakukan persiapan studi yang meliputi: (1) koordinasi dengan
instansi/lembaga terkait, (2) penyamaan persepsi dan pembekalan diantara sesama
tim peneliti, (3) pengumpulan data (sekunder dan primer), dan (4) pengumpulan peta
rupa bumi, peta penggunaan lahan, peta jenis tanah, peta administrasi, dan peta irigasi
dan jaringannya (primer, sekunder, dan tersier).

4.2.2. Penyusunan Rencana Kerja


Penyusunan rencana kerja dilakukan untuk memudahkan konsultan mengapresiasi
pelaksanaan teknis kegiatan secara terukur dan terjadwal. Berdasarkan lingkup kegiaan
yang tertera di KAK dan Kontrak Kerja, rencana pelaksanaan kegiatan Analisis Kebutuhan
dan Kondisi Eksisting Jaringan Irigasi Tersier disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel. 4.1. Kelompok dan Uraian Kegiatan
No Kelompok Uraian Kegiatan
1 Kegiatan A Persiapan dan Mobilisasi Tim,
Inventarisasi Lapangan, Pengumpulan Data dan Peta, Informasi Mengenai
2 Kegiatan B
Kondisi Umum Pekerjaan
3 Kegiatan C Identifikasi kondisi infrastruktur pertanian

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 18


Laporan
Pendahuluan

No Kelompok Uraian Kegiatan


Penyusunan rencana dan program usulan perbaikan menuju peningkatan
4 Kegiatan D
kinerja pengelolaan irigasi partisipatif
5 Kegiatan E Penyusunan Laporan
6 Kegiatan F Pertemuan konsultasi masyarakat dan diskusi dengan stakeholder

4.2.3. Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengumpulan data primer
(lapangan) dilaksanakan dengan observasi dan wawancara langsung dengan tokoh
masyarakat, pemerintah desa, dan ketua kelompok tani. Pengumpulan data sekunder
berupa peta-peta utama dan pendukung yang diolah dengan memanfaatkan teknologi
Geographical Information System (GIS) serta informasi dari instansi terkait. Untuk
mendapatkan data primer dilakukan survei lapangan ke 8 kabupaten/kota di Wilayah
Timur Aceh. Data sekunder tentang kondisi saluran irigasi disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel. 4.2. Kondisi Saluran Irigasi Berdasarkan Kewenangan di Aceh


luas Kondisi Saluran
No Kewenangan Baku Fungsional Kuantitas Baik Rusak Sedang Rusak Berat
(Ha) (Ha) (Km) (%) (Km) (%) (Km) (%)
Kewenangan 1.195 km
1 101.622 87.903 785 65,67 322 26,92 89 7,42
Pusat 3.347 bh

Kewenangan 705 km
2 65.409 28.975 418 59,26 178 25,2 110 15,54
Provinsi 1.369 bh

Kewenangan 1.760 km
3 196.261 104.018 908 51,59 440 25,03 411 23,38
kab/kota 4.968 bh
Sumber : Dinas Pengairan Aceh, 2016

4.2.4. Tabulasi, Kompilasi dan Analisis Data


Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode diskriptif kuantitatif.
Selanjutnya, untuk memperkuat analisis kuantitatif tersebut ditunjang oleh analasis
kualitatif berdasarkan wawancara mendalam dengan beberapa tokoh masyarakat di
lokasi penelitian.

4.2.5. Penyusunan Laporan


Laporan kajian analisis kebutuhan dan kondisi eksisting jaringan irigasi tersier
terdiri dari 3 (tiga) laporan, yaitu: 1). Laporan Pendahuluan, 2). Laporan Antara dan 3).
Laporan Akhir sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

4.2.6. Ekspose/Seminar Hasil dan Finalisasi Kajian


Setelah draft laporan hasil studi selesai dikerjakan, dilakukan ekspose hasil
studi, sebelum laporan tersebut dicetak/difinalkan. Ekspose/seminar hasil studi
dilakukan dengan menyertakan para pihak terkait dari tingkat provinsi dan di
beberapa kabupaten/kota yang mewakili Wilayah Timur Aceh.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 19


Laporan
Pendahuluan

4.2.7. Jadwal pelaksanaan


Kegiatan dilaksanakan selama enam bulan mulai bulan Mei sampai dengan
November 2016 dengan kegiatan : (a) persiapan dan penyusunan instrumen kajian, (b)
pengumpulan data skunder, (c) survey lapangan, (d) tabulasi dan analisis data, (e)
penulisan draft laporan, (f) Seminar dan (g) Perbaikan laporan akhir. Perincian
jadwal kegiatan dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel. 4.3. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Bulan
NO. URAIAN PEKERJAAN
JUNI JULI AGT SEP OKT NOV
1. Persiapan
Survei awal dan pengumpulan data
2.
sekunder
3. Laporan pendahuluan
Pengambilan data lapangan (Observasi,
4.
wawancara dan FGD)
5. Analisis Peta (GIS)
6. Tabulasi, kompilasi dan analisis data
8. Laporan antara
9. Ekspose/seminar hasil kajian
10. Laporan akhir

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 20


Laporan
Pendahuluan

BAB V
PROGRES PEKERJAAN

5.1. Pengumpulan Data Primer


Progres pekerjaan sampai saat adalah pengumpulan data sekunder dan data
primer dar masing-masing Daerah Irigasi yang menjadi sasaran survey. Seluruh
anggota Tim mengevaluasi 8 (delapan) Derah Irigasi di Pantai Timur Aceh yaitu :
1. Kabupaten Aceh Besar (Blang Bintang)
2. Kabupaten Pidie (D.I Baro Raya)
3. Kabupaten Pidie Jaya (D.I Mereudu)
4. Kabupaten Biruen (D.I Peudada)
5. Kabupaten Aceh Utara (D.I Pase)
6. Kota Lhokseumawe
7. Kabupaten Aceh Timur (D.I Jambo Reuhat)
8. Kabupaten Aceh Tamiang (D.I Keuteungga)
Selanjutnya, Indikator yang digunakan digunakan adalah angka kuantitatif %
untuk menentukan tingkat kerusakan masuk katagori mana kondisi suatu aset ini
dapat dilihat seperti Tabel 5.1.

Tabel.5.1. Indikator Kuantitatif Kondisi


Tingkat kerusakan Katagori Kondisi
0 % - 20 % Baik
20 % - 40 % Rusak Ringan
40 % - 80 % Rusak Sedang
80 % - 100 % Rusak Berat
Sumber: Permen PU No. 13/PRT/M/2012

Selain itu juga dapat dipergunakan indikator yang didasarkan atas deskripsi
kerusakan, hal ini bisa dilihat seperti Tabel 5.2, 5.3 dan 5.4.

Tabel.5.2. Indikator Deskripsi Kondisi Bangunan Sipil dan Lining


No. Kondisi Kerusakan (salah satu atau semuanya)
1 Baik Retak Rambut
2 Rusak Ringan Retak lebar, tergerus, terkelupas, dan lapuk
Terlihat besi penulangan, berongga, melendut atau melengkung, bergeser
3 Rusak Sedang dari tempat semestinya, miring dari seharusnya tegak, sebagian
bangunan turun elevasinya, dan terjadi aliran air di bawah pondasi
4 Rusak Berat Seluruh bangunan turun elevasinya dan bangunan roboh
Sumber : Permen PU No. 13/PRT/M/2012

Tabel.5.3. Indikator Deskripsi Kondisi Pintu


No. Kondisi Kerusakan (salah satu atau semuanya)
1 Baik Karatan ringan
2 Rusak Ringan Mur dan baut hilang

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 21


Laporan
Pendahuluan

No. Kondisi Kerusakan (salah satu atau semuanya)


Berlubang dan bocor, karatan berat, batang pengangkat patah,
3 Rusak Sedang hilang roda / stang pegangan, hilang gigi-gigi pengangkat, Mesin
pengangkat rusak,dan mesin pengangkat terbakar
4 Rusak Berat Pintu hancur
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 13/PRT/M/2012

Tabel.5.4. Indikator Deskripsi Kondisi Tanggul Saluran


No. Kondisi Kerusakan (salah satu atau semuanya)
1 Baik Rembes
Bocor kecil, bocor besar, tergerus dasar dan talud, dan rusak akibat
2 Rusak Ringan
ulah manusia/hewan
3 Rusak Sedang Longsor kearah dalam, longsor kearah luar, dan muka tanggul turun
4 Rusak Berat Tanggul jebol
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 13/PRT/M/2012

Tabel.5.5. Indikator Fungsi Aset


Tingkat kerusakan Katagori Kondisi
0 % - 20 % Baik
20 % - 40 % Kurang
40 % - 80 % Buruk
80 % - 100 % Tidak Berfungsi
Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 13/PRT/M/2012

5.2. Tabulasi dan Kompilasi Data


Data yang dikumpulkan dan diperoleh dari lapangan di tabulasi dan dikopilasi
untuk menjadi bahan di dalam laporan antara. Temuan dan kendala yang diperoleh di
lapangan didiskusikan di internal tim dan disampaikan kepada Dinas Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura untuk memperoleh masukan.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 22


DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pengairan Aceh, 2016. Rencana Kerja Dinas Sumberdaya Air, Aceh.

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, 2010. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria
Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi KP - 01.

Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2001 tentang Irigasi.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 79/Permen/OT.140/8/2013 tentang Pedoman


Kesesuaian Lahan pada Komoditas Tanaman Pangan.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03/Permen/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Upaya


Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Melalui Program
Perbaikan Jaringan Irigasi dan Sarana Pendukungnya Tahun Anggaran 2015.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permen/OT.140/2/2012 tentang Pedoman Teknis


Kriteria dan Persyaratan Kawasan, Lahan dan Lahan Cadangan Pertanian Pangan
Berkelanjutan.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 58/Permen/OT.140/9/2012 tentang Perlindungan,


Pemeliharaan, Pemulihan serta Peningkatan Fungsi Lahan Budidaya Holtikultura.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 06/PRT/M/2015 tentang
Eksploitasi dan Pemeliharaan Sumber Air dan Bangunan Pengairan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/2015 tentang
Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan dan Tata Pengairan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 12/PRT/M/2015 tentang
Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2015 tentang
Kriteria Penetapan Status Daerah Irigasi.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 17/PRT/M/2015 tentang
Komisi Irigasi.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 18/PRT/M/2015 tentang
Iuran Eksploitasi dan Pemeliharaan Bangunan Pengairan.

Priyonugroho, A., 2014. Analisis Kebutuhan Air Irigasi (Studi Kasus Pada Daerah Irigasi
Sungai Air Keban Daerah Kabupaten Empat Lawang), Jurnal Teknik Sipil dan
Lingkungan Vol.2.No.3, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang.

Sosrodarsono, S dan Takeda, K. 2003. Hidrologi untuk Pengairan. Pradna Paramita, Jakarta.

Analisis kebutuhan dan kondisi eksisting Jaringan irigasi tersier 23