Anda di halaman 1dari 34

Pemerintah Kota Tasikmalaya

Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan


Jl. Noenoeng Tisnasaputra No. 5 Tasikmalaya

LAPORAN AKHIR

PEKERJAAN :
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DRAINASE
WILAYAH KOTA TERSEBAR DI KOTA
TASIKMALAYA

TAHUN ANGGARAN 2014

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

KATA PENGANTAR

Laporan ini kami susun sebagai salah satu syarat kami selaku Konsultan
Perencana untuk Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota
Tersebar di Kota Tasikmalaya Tahun Anggaran 2014.
Laporan ini merupakan Laporan Akhir yang bermaterikan mengenai bagaimana
cara perencanaan drainase yang baik dan benar.
Demikian pengantar singkat laporan ini dengan harapan dapat menjadi kajian
bersama bagi pihak yang terkait, sehingga akan didapat hasil perencanaan yang
optimal.

Bandung,

2014

Konsultan Perencana

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL

iii

DAFTAR GAMBAR

iv

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Maksud dan Tujuan

1.3 Sasaran

1.4 Lokasi Kegiatan

1.5 Lingkup Kegiatan

1.6 Keluaran

1.7 Sistematika Penulisan

BAB II

PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN

2.1 Pekerjaan Persiapan 4


2.2 Kegiatan Survey dan Investigasi

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI

28

3.1 Pengertian Drainase 28


3.2 Sistem Drainase Perkotaan 28
3.3 Pembangunan Sistem Drainase

BAB IV

KESIMPULAN

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

30

32

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Syarat Pemilihan Distribusi 24

Tabel 2.2

Nilai Yn dan Sn

Tabel 2.3

Nilai Ytr Berbagai Periode Ulang

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

25
25

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Model Tipe BM dan CP

Gambar 2.2

Pengukuran Jarak pada Permukaan Miring 11

Gambar 2.3

Pengukuran Sudut Antar Dua Patok 12

Gambar 2.4

Pengamatan Azimuth Astronomis

Gambar 2.5

Pengukuran Waterpass

Gambar 2.6

Profil Melintang

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

10

13

15

18

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Drainase merupakan salah satu infrastruktur yang sama pentingnya dengan
keberadaan infrastruktur

jalan untuk menangani air limbah dan air kotor.

Drainase memegang peran penting dalam pengaturan air limpasan hujan yang
berpotensi menjadi genangan air dan banjir. Keberadaan sarana drainase yang
terdiri dari sistim drainase merupakan sarana yang fungsi dan keberadaannya
haruslah selalu dijaga dan dipelihara untuk menjamin keselamatan dan
keamanan manusia dari bahaya banjir sebagai akibat tidak difungsikannya
saluran dengan benar. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, perluasandan
pertambahan

penggunaan

lahan,

seyogyanya

koreksi

atas

fungsi

dan

keberlakuan saluran drainase harus dilakukan melalui upaya pembangunan


infrastruktur drainase yang optimal. Dalam Pelaksanaannya drainase harus
dilaksanakan secara menyeluruh serta partisipasi masyarakat. Peningkatan
pemahaman mengenai drainase kepada pihak yang terlibat baik bagi pelaksana
maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar penanganan
drainase

dapat

membludaknya

dilakukandengan
tenaga

terampil

sebaik-baiknya
/

intelektual

Bahwa
lulusan

untuk

merespon

perguruan

tinggi

negerimaupun perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi oleh pihak yang
berwenang, maka dalam rangka pelaksanaan pembangunan yang dikelola oleh
Pemerintah Kota Tasikmalaya pada umumnya dan khususnya pembangunan
yang dikelola oleh Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Kota
Tasikmalaya, yang bertanggung jawab atas penanganan seluruh drainase.
Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah Perencanaan Konstruksi pada :
Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota
1.2Maksud dan Tujuan
Maksud dari pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota adalah
untuk menyusun Rencana Teknis: Arsitektur, Struktur, dalam bentuk Gambar
Rencana, Gambar Detail, Pelaksanaan dan Perhitungannya, serta Penyusunan

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Rencana Kerja dan Syarat-Syarat. Sedangkan tujuanya adalah untuk mengatasi


daerah-daerah yang sering rawan banjir dan juga genangan, daerah yang
terkena limpahan pasang surut.

1.3Sasaran
Sasaran dari kegiatan Perencanaan ini adalah dipenuhinya :
Ketentuan yang diberlakukan untuk pekerjaan konstruksi oleh konsultan yaitu
Surat Perjanjian (Kontrak Kerja Konstruksi) beserta kelengkapan dan ketentuanketentuannya sebagai dasar perjanjiannya;
1. Tersedianya dokumen perencanaan untuk penanganan/pelaksanaan fisik
Pembangunan Drainase;
2. Tersedianya dokumen pengadaan termasuk dokumen analisa harga satuan,
spesifikasi

teknik

dan

gambar

rencana

sebelum

jadwal

penanganan/pelaksanaan fisik.
1.4Lokasi Kegiatan
Lokasi untuk kegiatan ini adalah tersebar di Kota Tasikmalaya.

1.5Lingkup Kegiatan
Lingkup Kegiatan
a. Lingkup kegiatan ini adalah :
1. Persiapan atau Penyusunan Konsep Perencanaan, Mengumpulkan
Data dan Informasi Lapangan.
2. Penyusunan Prarencana, Seperti Membuat rencana tapak, prarencana
bangunan dan perkiraan biaya.
3. Penyusunan pengembangan rencana, seperti membuat :
Rencana arsitektur beserta uraian konsep;
Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya;
Garis besar spesifikasi teknis dan perkiraan biaya;
4. Penyusunan rencana detail berupa uraian lebih terinci seperti:
Membuat gambar-gambar detail, rencana kerja dan syarat-syarat,
rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya
pekerjaan konstruksi.
5. Pembuatan dokumen perencanaan teknis berupa rencana teknis
arsitektur, struktur, dalam bentuk gambar rencana, gambar detail
pelaksanaan dan perhitungannya, rencana kerja dan syarat-syarat.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

1.6Keluaran
Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini meliputi dokumen
perencanaan, berupa : Gambar Rencana Teknis, Rencana Kerja dan Syaratsyarat (RKS), Rencana Anggaran Biaya (Engineering Estimate), dan Daftar
Volume Pekerjaan (Bill Of Quantity) yang disusun sesuai ketentuan.
1.7Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang Latar belakang dari Usulan Teknis serta maksud dan
tujuan proyek, lingkup pekerjaan dan hasil yang harus diserahkan oleh
konsultan, dan Sistematika penyajian Laporan Pendahuluan

BAB 2 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN


Memuat pendekatan yang dilakukan dan metodologi yang digunakan dalam
Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota
Tasikmalaya.

BAB 3 RENCANA KERJA DAN MOBILISASI TENAGA AHLI


Memuat tentang strategi kerja konsultan, tanggung jawab dan tugas tenaga ahli
yang terlibat dan jadual penugasan tenaga ahli untuk melaksanakan Pekerjaan
Perencanaan

Pembangunan

Drainase

Wilayah

Kota

Tersebar

di

Kota

Tasikmalaya.

BAB 4 KESIMPULAN
Memuat kesimpulan awal dalam Pekerjaan Perencanaan Pembangunan Drainase
Wilayah Kota Tersebar di Kota Tasikmalaya.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

BAB II
PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEKERJAAN

2.1.

Pekerjaan Persiapan

Untuk menunjang kelancaran kegiatan pekerjaan diperlukan administrasi yang


baik antara pemberi kerja dengan konsultan. Pekerjaan persiapan di mulai
segera setelah Konsultan menerima surat perintah mulai kerja (SPMK) dengan
beberapa kegiatan antara lain :
A. Pekerjaan persiapan, meliputi :
Administrasi Proyek
Mempersiapkan administrasi proyek

meliputi

buku

kontrak,

surat

perintah mulai kerja (SPMK).

Persiapan Personil
Dengan dimulainya kegiatan proyek maka konsultan mempersiapkan
personil tenaga ahli yang tercantum di dalam proposal teknis. Setiap
tenaga ahli akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan
survey meliputi form survey maupun daftar (check list) kebutuhan data
sekunder yang diperlukan.
Personil yang harus di persiapkan untuk menangani pekerjaan Pekerjaan
Perencanaan Pembangunan Drainase Wilayah Kota Tersebar di Kota
Tasikmalaya, terdiri dari tenaga ahli dan tenaga pendukung.
Tenaga ahli, terdiri dari :
1. Team Leader ( Ahli Teknik Sipil )
2. Ahli Teknik Sipil
Tenaga Pendukung, terdiri dari :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Juru Ukur / Teknisi


Drafter/Teknisi
Estimator/Teknisi
Administrasi Keuangan
Operator Komputer
Sopir

Persiapan Peralatan
Pada tahap awal dimulainya pekerjaan akan dipersiapkan peralatan yang
diperlukan untuk mendukung operasional proyek.

Khususnya untuk

tenaga ahli yang melakukan survey akan mempersiapkan peralatannya

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

yang sudah dikalibrasi. Daftar peralatan dan surat uji kalibrasi akan
disampaikan kepada pemberi kerja untuk mendapatkan persetujuan.
Penyusunan Rencana Kerja Terinci
Agar tujuan pekerjaan dapat di capai baik mutu maupun waktu sesuai

sasaran yang di harapkan maka perlu di susun rencana kerja yang


meliputi jadwal pelaksanaan pekerjaan, jadwal penugasan personil dan
jadwal

pemakaian

peralatan.

Penyusunan

rencana

kerja

akan

dituangkan dalam Laporan Pendahuluan setelah dapat diketahui baik


dari hasil analisa dan evaluasi hasil studi terdahulu yang di komparasi
dengan kondisi existing hasil tinjauan lapangan, terutama menyangkut
kepastian lokasi yang akan dilakukan survei dan investigasi. Hal ini
terutama menyangkut kegiatan lapangan yang perlu dilakukan sesuai
dengan kondisi exsisting.

B. Pengumpulan Data Sekunder


Data sekunder yang dibutuhkan ada 2 jenis yaitu data sekunder yang
bersifat umum (general) dan khusus. Data tersebut dikumpulkan dari
berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah.
Data sekunder yang bersifat umum antara lain :
1. Data Hidrologi, hidrometri (curah hujan, penyinaran matahari, suhu,
dll), Data Peta SWS dan DAS
2. Studi Terdahulu (Kalau ada) Identifikasi dan inventarisasi sungai dan
muara
3. Titik-titik referensi yang digunakan
4. Peta topografi (rupa bumi) daerah proyek skala 1 : 50.000 / 1 : 25.000
5.
6.
7.
8.

atau yang lebih besar


RUTRW dan RDTR
Data dan peta-peta geologi sungai-sungai dan pantai skala 1 : 250.000
Data hidro-oceanografi
Kota Tasikmalaya dalam rangka tahun 2014

Data sekunder yang bersifat khusus adalah data yang dibutuhkan oleh
masing-masing tenaga ahli untuk keperluan analisa yang biasanya hanya
didapatkan dari daerah antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Data hidraulic (pasang surut laut) dari pelabuhan terdekat


Data RTRW
Data Sistem Drainase Yang Dikelola Pemerintah Daerah
Peta dan rekaman data genangan banjir
Buku hasil studi dan perencanaan yang pernah dilakukan yang

berkaitan dengan Drainase


6. Titik Bench Mark (BM) referensi

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

7. Data kerugian serta lokasi dan infrastruktur yang rusak


8. Dan lain-lain.

C. Studi Pendahuluan
Pada tahap ini merupakan studi awal atas kondisi wilayah kajian pada saat
ini dan penulurusan data serta studi yang telah ada terutama menyangkut
segi hidrologi-hidrometri, morfologi sungai, tata guna lahan, kondisi
jaringan drainase

existing serta identifikasi wilayah genangan dan

sedimentasi di samping usulan-usulan pada studi yang telah ada.


Demikian juga halnya dengan peta-peta yang diperlukan seperti peta
topografi terbesar yang ada dan terbaru (diharapkan peta skala 1 : 25.000
atau

lebih

besar)

serta

referensi-referensi

sebagai

acuan

dalam

pengukuran situasi sungai pada ruas-ruas yang telah ditentukan.


Kegiatan studi pendahuluan terdiri dari site visit, survey pemetaan
topografi, geoteknik/mekanika tanah (termasuk geologi), hidrologi &
hidrometri.
Untuk mendapatkan gambaran kondisi lapangan dan informasi yang
lengkap tentang wilayah proyek, maka Konsultan menugaskan team leader
bersama ahli lingkungan dan ahli lainnya untuk melakukan peninjauan
lapangan dan berkoordinasi dengan instansi daerah.
Peninjauan ini sangat bermanfaat terutama untuk merencanakan strategi
pelaksanaan survey Hidrometri, Geoteknik, Topografi, dan memperoleh
informasi permasalahan yang ada di daerah studi khususnya yang
berkaitan dengan drainase. Selama kunjungan lapangan akan dilakukan
juga pengumpulan data sekunder antara lain :
1. Data Kota Tasikmalaya dalam angka, sumber BPS.
2. Peta Kota Tasikmalaya.
3. Buku hasil studi maupun perencanaan yang pernah dilakukan.
4. Peta tata guna lahan dan Rencana strategis dan tata ruang Kota
Tasikmalaya, sumber Pemda setempat.
5. Daftar harga satuan bahan dan upah setempat.
6. Dan lain-lain.

D. Analisis Data dan Evaluasi Studi Terdahulu


Kajian terhadap studi-studi terdahulu dimaksudkan untuk didapatkan
kesinambungan program perencanaan drainase yang di maksud di atas
pada level makro sistem dan mikro sistem sehingga nampak jelas adanya

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

penajaman atau konsep perencanaan dari usaha pengelolaan drainase


yang berkelanjutan di wilayah perencanaan yang telah ditentukan.
Aspek yang dipelajari dari studi terdahulu meliputi :
1. Rekomendasi studi terdahulu dan relevansinya terhadap pekerjaan
yang akan dilaksanakan.
2. Pendekatan teknis dari permasalahan yang ada, kemudian diklarifikasi
validitasnya di lapangan.
3. Rekomendasi pemecahan masalah dan program penangannya baik
aspek teknik maupun skala prioritasnya apakah masih representarif
untuk kondisi saat ini.
4. Identifikasi lokasi serta masalah rawan pada genangan setempat.
5. Relevansi rekomendasi studi terdahulu terhadap kondisi existing pada
saat ini dengan melakukan komparasi secara visual di lapangan.
6. Ketersediaan data dari studi terdahulu terutama data hidrologihidrometri, data debit sungai, referensi dan lain-lain.
7. Permasalahan aktual pada saat ini baik secara fisik lapangan maupun
terhadap rencana pengembangan dari instansi-instansi terkait dan
kaitannya dengan perubahan tata ruang serta faktual di lapangan.

2.2.

Kegiatan Survey Dan Investigasi

A. Pengukuran Topografi
Pelaksanaan pekerjaan pengukuran

topografi

dalam

pelaksanaannya

melalui proses pengambilan data, pengolahan data lapangan, perhitungan,


penggambaran dan penyajian data pada laporan.
Berdasarkan pemahaman umum proyek sebelumnya, Secara garis besar
pengambilan data topografi meliputi :
1. Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal.
2. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal.
3. Pengukuran Detail Situasi.
4. Pengukuran melintang.
Prosedur kerja lapangan dan studio diuraikan di bawah ini :
1. Peralatan yang diperlukan
a. Peralatan yang akan

di

pakai

telah

memenuhi

persyaratan

ketelitian (kalibrasi) dan sudah di periksa dan disetujui oleh


pemberi kerja.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

b. Theodolite T2/Wild, dipergunakan untuk kegiatan pembuatan


kerangka horizontal utama, baik untuk pemetaan situasi maupun
pengukuran trase.
c. Waterpass (WP),

dipergunakan

untuk

kegiatan

pembuatan

kerangka vertical dan pengukuran trase.


d. Theodolite To/Wild, dipergunakan untuk kegiatan pemetaan situasi
rincikan.
e. EDM (Electronic

Distance

Measure),

dipergunakan

untuk

pengukuran jarak akurat poligon utama


2. Titik Referensi dan Pemasangan Benchmark (BM), Control Point (CP)
dan patok kayu
Dalam pelaksanaan pengukuran situasi detail dan trase sungai/pantai,
Konsultan akan menggunakan titik tetap yang sudah ada sebagai titik
acuan (referensi) dan harus diketahui dan disetujui oleh pemberi kerja.
Untuk menunjang hasil kegiatan proyek, dilakukan penambahan
benchmark baik berupa BM maupun CP di beberapa lokasi untuk
menjamin akurasi pengukuran pada saat pelaksanaan konstruksi.
Dimensi patok Benchmark (BM) berukuran 20 cm x 20 cm x 100 cm
terbuat dari beton dan Control Point (CP) berukuran 10 cm x 10 cm x
80 cm atau pipa paralon diameter 4 diisi beton cor. Keduanya
dilengkapi paku/besi beton yang dipasang menonjol setinggi 1 cm
pada bagian atas BM dan CP.
Penempatan CP dan BM pada posisi yang memudahkan kontrol
pengukuran,

aman

dari

gangguan

manusia

atau

hewan,

tidak

mengganggu transportasi dan kegiatan rutin penduduk sekitar, tetapi


cukup mudah dicari dan berada dicakupan lokasi kerja. Patok CP dan
BM dilengkapi dengan kode proyek, nama, nomor dan huruf yang akan
dikonsultasikan dengan direksi.
Sesuai KAK, spesifikasi rintisan dan pemasangan patok dan patok
permanen (BM dan CP) kerangka dasar pengukuran adalah sebagai
berikut :
a. Pemasangan patok, BM dan CP dilaksanakan pada jalur-jalur
pengukuran sehingga memudahkan pelaksanaan pengukuran.
b. BM, CP dan patok di pasang sebelum pengukuran situasi
sungai/pantai dilaksanakan.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

c. BM di pasang pada setiap jarak 1.0 km pada tempat yang


diperkirakan akan di buat bangunan penanganan abrasi pantai.
Pilar-pilar tersebut di buat dari konstruksi beton.
d. BM tersebut di pasang pada tempat-tempat yang aman, stabil
serta mudah ditemukan.
e. Apabila tidak memungkinkan untuk mendapatkan tempat yang
stabil, misalnya tanah gembur atau rawa-rawa maka pemasangan
f.

BM tersebut harus di sangga dengan bambu/kayu.


Patok-patok di pasang maksimal setiap jarak 50-100 m pada
bagian sungai yang lurus dan < 25 m pada bagian sungai yang

berkelok-kelok (disesuaikan dengan keperluan).


g. Patok-patok di buat dari kayu (misal kayu gelam/dolken) dengan
diameter 3 5 cm. Pada bagian atas patok ditandai dengan paku
payung.
h. Jalur rintisan/pengukuran mengikuti alur garis pantai.
Didalam laporan topografi akan di buat buku Diskripsi BM yang
memuat, posisi BM dilengkapi dengan foto, denah lokasi, dan nilai
koordinat (x,y,z).

Pen kuningan

6 cm

Pipa pralon PVC 6 cm

Pelat marmer 12 x 12

Nomor titik

Tulangan tiang 10
Dicor beton
Sengkang 5-15

Dicor beton

Beton 1:2:3

20
Pasir dipadatkan

40

Benchmark

Control Point

Gambar 2.1 Model Tipe BM dan CP

3. Pengukuran kerangka dasar pemetaan


Sebelum melakukan pekerjaan pemetaan areal Rencana pengamanan
pantai baik pengukuran kerangka dasar horizontal, kerangka dasar
vertikal maupun pengukuran detail situasi, terlebih dahulu dilakukan
pematokan yang mengcover seluruh areal yang akan dipetakan.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

Azimut

awal

akan

ditetapkan

dari

LAPORAN AKHIR

pengamatan

matahari

dan

dikoreksikan terhadap azimut magnetis.

a. Pengukuran Jarak
Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan pita ukur 50
meter.

Tingkat

menggunakan

ketelitian
pita

ukur,

hasil

pengukuran

sangat

tergantung

jarak

dengan

kepada

cara

pengukuran itu sendiri dan keadaan permukaan tanah. Khusus


untuk pengukuran jarak pada daerah yang miring dilakukan
dengan cara seperti pada Gambar di bawah ini.
Jarak AB = d1 + d2 + d3
d1

d2

1
d3
2

Gambar 2.2 Pengukuran Jarak Pada Permukaan Miring

Untuk menjamin ketelitian pengukuran jarak, maka dilakukan juga


pengukuran jarak optis pada saat pembacaan rambu ukur sebagai
koreksi.
b. Pengukuran Sudut Jurusan
Sudut jurusan sisi-sisi poligon adalah besarnya bacaan lingkaran
horisontal alat ukur sudut pada waktu pembacaan ke suatu titik.
Besarnya sudut jurusan dihitung berdasarkan hasil pengukuran
sudut

mendatar

di

masing-masing

titik

poligon.

Penjelasan

pengukuran sudut jurusan sebagai berikut lihat pada Gambar di


bawah

AB
AC

ini.
= sudut mendatar
= bacaan skala horisontal ke target kiri
= bacaan skala horisontal ke target kanan

Pembacaan sudut jurusan poligon dilakukan dalam posisi teropong


biasa (B) dan luar biasa (LB) dengan spesifikasi teknis sebagai
berikut:
Jarak antara titik-titik poligon adalah 50 m.
Alat ukur sudut yang digunakan Theodolite T2.
Alat ukur jarak yang digunakan pita ukur 100 meter.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

10

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Jumlah seri pengukuran sudut 4 seri (B1, B2, LB1, LB2).


Selisih sudut antara dua pembacaan 2 (dua detik).
Ketelitian jarak linier (KI) ditentukan dengan rumus berikut.

KI

2
x

fy

1 : 5.000

Bentuk Geometris Poligon adalah Loop

AB

AC

A
C

Gambar 2.3 Pengukuran Sudut Antar Dua Patok

c. Pengamatan Azimuth Astronomis


Pengamatan matahari dilakukan untuk mengetahui arah/azimuth
awal yaitu :
Sebagai koreksi

azimuth

guna

menghilangkan

kesalahan

akumulatif pada sudut-sudut terukur dalam jaringan poligon.


Untuk menentukan azimuth/arah titik-titik kontrol/poligon yang
tidak terlihat satu dengan yang lainnya.
Penentuan sumbu X untuk koordinat bidang datar pada pekerjaan
pengukuran

yang

bersifat

lokal/koordinat

lokal.

Pengamatan

azimuth astronomis dilakukan dengan :


Alat ukur yang digunakan Theodolite T2
Jumlah seri pengamatan 4 seri (pagi hari)
Tempat pengamatan, titik awal (BM.1)
Dengan melihat metoda pengamatan azimuth astronomis pada
Gambar 5, Azimuth Target (T) adalah :

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

11

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

T = M + atau T = M + ( T - M )
dimana :
T
=
M
=
(T)
=
(M)
=

azimuth ke target
azimuth pusat matahari
bacaan jurusan mendatar ke target
bacaan jurusan mendatar ke matahari
sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan

jurusan ke target.

U (Geografi)
Matahari

M T

Target
A

Gambar 2.4 Pengamatan Azimuth Astronomis

Pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan dengan metoda


poligon

dimaksudkan

untuk

mengetahui

posisi

horizontal,

koordinat (X,Y).
Adapun spesifikasi pengukuran kerangka dasar antara lain :
Pengukuran poligon adalah untuk menentukan koordinat titik

titik poligon yang digunakan sebagai kerangka pemetaan.


Pengukuran polygon sebagai kerangka kontrol horisontal dan
pengukuran waterpass sebagai kerangka vertikal. Pengukuran
kerangka dasar pemetaan ini harus terikat dengan benchmark
referensi dan di bagi dalam beberapa loop/kring sesuai dengan

kebutuhan.
Pengukuran poligon diikatkan pada titik tetap geodetis (titik
trianggulasi) dan titik tersebut harus masih dalam keadaan baik
serta

mendapatkan

Pengontrolan

sudut

persetujuan
hasil

dari

pengukuran

Direksi
poligon

Pekerjaan.
dilakukan

penelitian azimuth satu sisi dengan pengamatan matahari pada


setiap jarak 2.5 km.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

12

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Sudut polygon diusahakan tidak ada sudut lancip, alat ukur


yang di pakai adalah Theodolite T2 atau yang sederajat dengan

ketelitian 20 dan Elektronik Distance Meter (EDM).


Kerangka cabang dilakukan dengan ketentuan panjang sisi
poligon maksimum 50-100 m. Jarak kerangka cabang diukur

ketinggiannya dengan waterpass.


Selisih sudut antara dua pembacaan < 2 (dua detik).
Persyaratan pengukuran poligon utama mempunyai kesalahan
sudut (toleransi) adalah 10 n detik pada loop tertutup dimana
n adalah jumlah titik poligon. Pada poligon cabang toleransi
kesalahan sudut adalah 20 n detik dengan n adalah jumlah

titik poligon.
Salah penutup utama jarak fd < 1 : 7.500, dimana fd adalah

jumlah penutup jarak.


Pengukuran waterpass setiap seksi dilakukan pergi-pulang yang

harus dilakukan dalam satu hari.


Jalur pengukuran waterpass harus merupakan jalur yang
tertutup dengan toleransi kesalahan beda tinggi 10D (mm)

dimana D = panjang jarak (km).


Pengukuran sudut dilakukan dua seri (biasa dan luar biasa)

muka belakang.
Jarak di ukur dengan pita ukur.
Jalur poligon di buat dalam bentuk geometris poligon kring
tertutup

(loop)

melalui

BM dan

patok

kayu

dan

bagian

sungai/pantai berada dalam kring tersebut.

d. Pengukuran Waterpass
Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui posisi tinggi
elevasi (Z), pada masing-masing patok kerangka dasar vertikal.
Metoda pengukuran yang dilakukan ini metoda waterpas, yaitu
dengan melakukan pengukuran beda tinggi antara dua titik
terhadap

bidang

referensi

yang

di

pilih

(LWS),

jalannya

pengukuran setiap titik seperti diilustrasikan pada gambar 7 di


bawah ini.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

13

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Gambar 2.5 Pengukuran Waterpass

Spesifikasi Teknis Pengukuran Waterpass adalah sebagai berikut :

Maksud

pengukuran

waterpass

adalah

untuk

menentukan

ketinggian titik-titik (BM dan patok-patok) terhadap bidang


referensi tertentu yang akan digunakan sebagai jaring sipat

datar pemetaan.
Alat ukur yang dipakai adalah Automatic Level NAK-2 atau yang

sederajat dan rambu ukur alumunium 3 m.


Jalur pengukuran di bagi menjadi beberapa seksi.
Tiap seksi di bagi menjadi slag yang genap.
Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan

rambu belakang menjadi rambu muka.


Pengukuran waterpass dilakukan dengan cara double stand.

jarak seksi-seksi pengukuran waterpass antara 50 100 m.


Toleransi kesalahan pembacaan stand 1 dengan stand 2 < 2

mm.
Jalur pengukuran mengikuti jalur poligon dan meliwati (BM).
Toleransi salah penutup tinggi (Sp) < 10 mm D, Dimana :
n
= Salah penutup tinggi.
D
= Jarak dalam satuan km.
Pengukuran waterpass diikatkan pada titik tetap ketinggian
geodetis yang ada di dekat daerah pengukuran atau titik

referensi lain yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan.


Pembacaan rambu dengan tiga benang (benang atas, tengah
dan bawah).
Pengukuran sifat datar ini dilakukan melalui titik-titik poligon
dan patok lainnya yang digunakan untuk pengukuran situasi
dan profil melintang sungai/pantai.

e. Pengukuran Situasi Detail


Penentuan posisi (x,y,z) titik detail dilakukan pengukuran situasi
dengan metoda pengukuran Tachymetri. Adapun spesifikasi teknis
pengukuran situasi detail adalah sebagai berikut :

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

14

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Alat yang digunakan theodolite T.o.


Titik detail terikat terhadap patok yang sudah punya nilai

koordinat dan elevasi.


Pengambilan data menyebar ke seluruh areal yang dipetakan
dengan kerapatan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan
skala peta 1 : 1.000 dan 1 : 2.000.

f.

Pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang.


Maksud dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi
terukur yang dapat dipergunakan dalam perencanaan bangunan
serta perkiraan volume.
Untuk mengetahui bentuk permukaan pantai maka dilakukan
pengukuran profil (cross section).
Spesifikasi pengukuran penampang memanjang dan melintang
sebagai berikut :
Pengukuran dilakukan di sepanjang pantai dan sungai pada

patok-patok profil yang telah dipasang.


Interval profil 50 m dan 100 m.
Pengukuran profil tegak lurus pantai.
Pengukuran terikat terhadap titik poligon.
Pengukuran situasi dan penampang dilakukan bersama-sama.
Alat ukur yang di pakai adalah Thedolite T0 atau yang

sederajat.
Metode yang dipergunakan adalah metode tachimetri.
Jalur raai merupakan panjang penampang melintang pantai.
Penampang melintang di buat dengan interval jarak 50-100 m
pada bagian yang lurus dan < 50 m pada bagian sungai yang

berkelok-kelok atau disesuaikan dengan keperluan.


Penampang memanjang diambil pada dasar sungai

yang

terdalam termasuk peil-peil muka air tanah terendah, normal

dan tertinggi.
Detail yang ada di lapangan di ukur, terutama kampung,

lembah, bukit, jembatan dan lain-lain.


Setiap 50 m atau 25 m titik poligon diukur dengan meter ukur

baja dan harus diikatkan pada patok kerangka utama.


Pengamatan matahari harus dilakukan setiap 2,5 km.
Setiap titik poligon harus diukur ketinggiannya.
Profil memanjang dan melintang dilakukan dengan interval
jarak 50 m dan pada belokan diukur setiap 25 m dengan koridor
500 m kearah pantai jika kedalaman air h 3 m, jika h > 3 m
dilakukan dengan echosounder.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

15

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

Titik-titik

pengukuran

penampang

LAPORAN AKHIR

melintang

direncanakan

seperti gambar berikut :

Gambar 2.6 Profil Melintang

g. Perhitungan hasil ukur


Perhitungan harus dilaksanakan di lapangan, dengan kontrol
perhitungan oleh pengawas lapangan dan tiap selesai 1 hari
pengukuran data diserahkan untuk di cek dan dibubuhi paraf

oleh pengawas lapangan.


Perhitungan dilakukan 2

(dua)

kali,

yaitu

perhitungan

sementara dan perhitungan definitif. Perhitungan data lapangan


merupakan perhitungan sementara untuk mengetahui ketelitian
ukuran. Perhitungan definitip adalah perhitungan yang sudah
menggunakan hitungan perataan oleh tenaga ahli geodesi. Hasil

perhitungan ini akan digunakan untuk proses penggambaran.


Setiap hasil perhitungan harus diasistensikan dan disetujui

supervisor lapangan.
Semua data azimuth hasil pengamatan matahari harus di pakai
dalam perhitungan, jika ada yang tidak di pakai harus ada

persetujuan dengan direksi.


Semua titik kerangka utama/cabang harus di hitung koordinat

dan ketinggiannya.
Semua data ukur asli dan perhitungan perataannya diserahkan
ke direksi pekerjaan.

h. Penggambaran
Penggambaran hasil pengukuran mengacu kepada standard
penggambaran

yang

diterbitkan

oleh

Direktorat

Jenderal

Pengairan.
Penggambaran draft dapat dilaksanakan dengan penggambaran
secara grafis, dengan menggunakan data ukur sudut dan jarak.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

16

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Penggambaran peta situasi definitif dilakukan, setelah hasil


perhitungan definitif selesai dilaksanakan sehingga koordinat
sebagai kerangka horizontal dan spot height sebagai kerangka

vertikal telah dilakukan hitungan perataannya.


Penggambaran peta situasi sungai skala 1 : 5.000 dengan

interval kontur 0,50 m di buat pada kertas kalkir ukuran A1.


Peta ikhtisar skala 1 : 10.000 s/d 1 : 25.000 dengan interval

kontur 1,0 m di buat pada kertas kalkir ukuran A1.


Penggambaran profil memanjang sungai skala (H) 1 : 2.000 dan
skala (V) 1 : 1 : 200, penggambaran profil melintang skala (H)
1 : 200 dan skala (V) 1 : 1 : 200. atau dikoordinasikan dengan

direksi pekerjaan.
Semua titik koordinat kerangka utama dan cabang di gambar

dengan sistem koordinat.


Indek kontur di tulis setiap garis kontur.
Kontur di kampung di gambar tidak boleh putus.
Sistem grid yang di pakai adalah sistem proyeksi UTM.

B. Survey Hidrologi-Hidrometri
Pekerjaan survai hidrologi & hidrometri dimaksudkan untuk memperoleh
data lapangan (primer

dan sekunder) tentang karakteristik sungai,

anak/cabang sungai yang akan mendukung dalam analisis hidrologi


maupun hidrolika.
1. Kegiatan survai hidrologi meliputi :
Pengumpulan data curah hujan terbaru minimum selama 10 tahun
dari beberapa stasiun-stasiun terdekat minimum 3 stasiun pos

hujan.
Pengumpulan data klimatologi lainnya terbaru minimum selama 5

tahun dari stasiun-stasiun terdekat.


Pengumpulan data/informasi banjir (tinggi, lamanya perkiraan luas

genangan dan dampaknya).


Pengumpulan data yang berkaitan dengan karakteristik DPS antara
lain : keadaan vegetasi daerah pengaliran, sifat dan jenis tanah
dan debit rata-rata pada waktu keadaan normal, tahun kering dan
tahun basah.

2. Kegiatan survai hidrometri meliputi :


a. Pengukuran kecepatan aliran
Pengukuran kecepatan aliran sungai dilakukan pada bagian aliran
(di sungai) yang tidak terpengaruh pasang surut, kegiatan

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

17

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

pengukuran dilakukan di 3 titik yang ditempatkan di hulu sungai,


hilir sungai dan sungai cabang dengan ketentuan sebagai berikut :
Jika kedalaman air > 0,50 m, di pakai alat Current Meter.
Untuk kedalaman aliran > 1,50 m, pengukuran kecepatan
dilakukan pada kedalaman 0,20, 0,60 dan 0,80 dari kedalaman
aliran untuk masing-masing lokasi (bagian tengah dan pinggir
aliran).
Untuk kedalaman aliran antara 0,50 1,50 m, pengukuran
kecepatan dilakukan pada kedalaman 0,50 m dari kedalaman

aliran pada bagian tengah aliran.


Jika kedalaman aliran < 0,50 m, di pakai alat metode

pengukuran kecepatan aliran dengan menggunakan pelampung.


Interval pias pengukuran terhadap lebar permukaan sungai

adalah :
B < 50 m, jumlah 3 pias.
B = 50-100 m, jumlah 4 pias.
B = 100 200 m, jumlah 5 pias.
B = 200 400 m, jumlah 6 pias.
Kedalaman pengukuran (D) dan perhitungan kecepatan rata rata (Vm):
D < 0.60 m, satu titik pengukuran, Vm = V0.6
D = 0.60 1.50 m, dua titik pengukuran, Vm = (V0.2 +
V0.8)
D > 1.50 m, tiga titik pengukuran, Vm = (V0.2 +2V0.6 +

V0.8)
Pengukuran penampang sungai di titik pengukuran debit.
Pengikatan muka air sungai dan bak ukur muka air (peil schaal)
dengan patok topografi untuk mendapatkan kesatuan sistim

elevasi tanah dengan muka air.


Pengamatan muka air sungai khususnya di hilir sungai (titik
pengukuran debit) tiap 1 jam selama 24 jam saat pasang tinggi
(spring tide) dan pasang rendah (neap tide) berdasarkan data
HIDRAL (Hidro Oceanografi AL) di pelabuhan terdekat.

b. Pengambilan Contoh Sedimen.


Contoh sedimen yang di ambil terdiri dari sedimen layang dan
material dasar, dengan ketentuan sebagai berikut :
Jika ketinggian air > 1,00 m maka pengambilan contoh sedimen
dilakukan

dengan

menggunakan

alat

Suspended

Sampler

(untuk sedimen layang) dan Bed Material Sampler (untuk


material dasar).

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

18

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Jika ketinggian air < 1,00 m maka pengambilan contoh sedimen


dilakukan dengan tabung sample (untuk sedimen layang) dan

Bed Material Sampler (untuk material dasar).


Pengambilan contoh sedimen dilakukan pada bagian pinggir

aliran dan tengah aliran.


Contoh sedimen dimasukan ke dalam tabung sample.

c. Pengamatan Pasang Surut Muka Air Sungai/Laut.


Pengamatan pasang surut dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut :
Lokasi pengamatan di daerah muara sungai, dimana muka
airnya tidak bergelombang/berombak baik akibat lalu lintas

perahu maupun gelombang air laut.


Pengamatan dilakukan selama 15 hari x 24 jam berturut-turut

dengan interval pengamatan setiap 1 jam.


Pengamatan harus maliputi pasang purnama.
Pada lokasi pengamatan di pasang peil schaal.

C. Survey Sosial Ekonomi


Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang kondisi social
ekonomi penduduk setempat, survey ini dilakukan dengan cara :
1. Melakukan interview terhadap pihak-pihak maupun instansi terkait
dengan permasalahan banjir yaitu Masyarakat setempat, Pamong
Desa, Kecamatan, Pemda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas
Perikanan, BPS, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Kimpraswil, dan
sebagainya.
2. Menyebarkan quesioner.
3. Survey langsung ke lokasi di mana banjir sering melanda daerah
tersebut.
D. Penyelidikan Geologi Teknik/Mekanika Tanah
Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang kondisi social
ekonomi penduduk setempat, survey ini dilakukan dengan cara :
1. Melakukan interview terhadap pihak-pihak maupun instansi terkait
dengan permasalahan banjir yaitu Masyarakat setempat, Pamong
Desa, Kecamatan, Pemda, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas
Perikanan, BPS, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Kimpraswil, dan
sebagainya.
2. Menyebarkan quesioner.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

19

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

3. Survey langsung ke lokasi di mana banjir sering melanda daerah


tersebut.
E. Analisa Hidrologi dan Evaluasi DAS
Secara garis besar analisa hidrologi yang dilakukan antara lain :
1. Konsistensi data curah hujan (membuang data yang tidak sesuai,
pengisian data hilang/kosong, uji konsistensi).
2. Penentuan curah hujan rencana.
3. Perhitungan debit banjir.
a. Konsistensi Data Curah Hujan
Sebelum data hujan dipergunakan untuk perencanaan harus
dilakukan uji konsistensi data di mana data yang tidak sesuai
akibat kesalahan pencatatan dan gangguan alat pencatat perlu
dikoreksi dan data yang hilang/kosong di isi dengan menggunakan
pembanding pos hujan sekitar yang terdekat. Analisa yang
digunakan meliputi metode ratio normal dan kurva massa ganda.
Metode statistik lain bila tidak tersedia data pembanding maka
digunakan Metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sums). Metode
ini berdasarkan data curah hujan setempat, di mana data curah
hujan yang tersedia di sekitar lokasi proyek sangat terbatas.
Persamaan yang dipergunakan dalam metode ini adalah sebagai
berikut :

Dengan k = 1, 2, 3, ....., n
Nilai statistik Q dan R :

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

20

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Dengan melihat nilai statistik di atas maka dapat di cari nilai Q/n
dan R/n. Hasil yang di dapat dibandingkan dengan nilai Q/n
syarat dan R/n syarat, jika lebih kecil maka data masih dalam
batasan konsisten.
b. Curah Hujan Rencana
Analisa hidrologi untuk penentuan curah hujan rencana disesuakan
dengan kebutuhan perencanaan. Analisa hidrologi yang digunakan
untuk perencanaan sungai adalah curah hujan dengan periode
ulang 5, 10, 25 dan 50 tahunan.
Data yang diperlukan adalah data curah hujan pos terdekat dan
harus di uji konsistensinya sebelum di analisa. Syarat untuk
pemilihan jenis distribusi yang sesuai untuk metode Gumbel, log
normal, normal atau log Pearson Type III adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Syarat Pemilihan Distribusi

No.
1.
2.
3.
4.

Sebaran

Syarat
Cs = 0
Cs = 3 Cv
Cs = 1,1396
Ck = 5,4002
Bila tidak ada yang memenuhi syarat digunakan sebaran
Log Pearson Type III
Normal
Log Normal
Gumbel

Apabila dari uji sebaran data masuk di dalam salah satu syarat
tersebut di atas maka metode tersebut yang akan digunakan.
Berikut diterangkan metode distribusi yang dapat di gunakan.

Metode Gumbel :
Persamaan-persamaan dasar :

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

21

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

X Tr X K .S x
Dimana :

X Tr
Tr
X

Sx
K

Curah hujan pada periode ulang Tr.

Periode Ulang (tahun).

Hujan maximum rata-rata (mm).

Standar deviasi.

Faktor frekuensi.

Persamaan faktor frekuensi :

(YTr Y n )
Sn

Sn dan Yn tegantung pada jumlah data (n), yang nilainya seperti


tabel berikut :
Tabel 2.2 Nilai Yn dan Sn

Yn

Sn

10

0.4952

0.9496

11

0.4996

12

Yn

Sn

16

0.5157

1.0316

0.9676

17

0.5181

1.0411

0.5035

0.9833

18

0.5202

1.0493

13

0.5070

0.9971

19

0.5220

1.0565

14

0.5100

1.0095

20

0.5225

0.0628

15

0.5128

1.0206

21

0.5252

1.0696

Persamaan Ytr (reduced variate) merupakan fungsi periode ulang


(T) :

T
YTr 0,834 2,303 log r 1
Tr

Tabel 2.3 Nilai Ytr berbagai Periode Ulang

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

22

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Periode Ulang (T)

Reduce Variate (Ytr)

0.3665

1.4999

10

2.2502

25

3.1985

50

3.9019

100

4.6001

Metode Log Pearson Type III


Log X =
Log X + G.S
Dimana :
Log X =
Log X =
S
=
G
=

Nilai log dari X yang terjadi dengan kala ulang Tr.


Nilai log dari X rata-rata seri data X.
Standar devisasi/simpangan baku.
Faktor penyimpangan untuk kala ulang tertentu.

Hasil analisis distribusi frekuensi kemudian di uji kesesuainya


dengan

menggunakan

metode

Chi

Square

dan

Smirnov

Kolmogorov.
c. Debit Banjir Rencana
Debit banjir rencana di hitung dengan metode hidrograf satuan
atau dengan menggunakan metode Metode hidrograf satuan yang
umum digunakan di Indonesia adalah Nakayasu dan Gamma-1.
Metode Nakayasu

Dimana :
Qp
=
Ro
=
Tp
=
Tg
=
Tg
=
T0,3 =
L
=
Tg
=
Tr
=

Debit puncak banjir (m3/detik).


Curah hujan satuan (mm).
Tg + 0,8 Tr.
0,21 x 0,7 L
L < 15 Km.
0,40 + 0,058 x L L > 15 Km.
x Tg
Panjang alur sungai (km).
Waktu konsentrasi (jam).
Satuan waktu hujan, diambil 1 jam.
Koefisien, untuk daerah pengaliran biasa diambil nilai 2.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

23

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Metode Gamma I
Qt

Qp . e(t/k)

Tr

0,43 (l/100SF)3 + 1,0665 SIM + 1,2775

Qp

0,1836 A0,5886 TR-0,4008 JN0,2381

TB

27,4132 TR0,1457 S-0,0986 SN0,7344 RUA0,2574

0,5617 A0,7198 S-0,1446 SF-1,0697 D0,0452

Dimana :
Qt

Debit pada jam ke-t (m3/detik).

Qp

Debit puncak banjir (m3/detik).

Waktu dari saat terjadinya debit puncak (jam).

TR

Waktu naik (jam).

TB

Waktu dasar (jam).

Koefisien tampungan (jam).

Panjang sungai utama (km).

Kerapatan jaringan lurus (km/km2).

SF

Faktor sumber, perbandingan antara jumlah panjang


sungai tingkat 1 dengan jumlah panjang sungai semua
tingkat.

SN

Frekuensi sungai, perbandingan antara jumlah segmen


sungai tingkat 1 dengan jumlah sungai semua tingkat.

WF

Faktor lebar, perbandingan antara lebar DPS yang di ukur


dari titik di sungai yang berjarak L dari tempat
pengukuran.

SIM =

Faktor simetris, hasil kali antara faktor lebar (WF)


dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA).

JS

Jumlah pertemuan sungai.

Kemiringan slope sungai rata-rata.

F. Album Gambar
Album gambar yang berisikan :
1. Gambar-gambar bangunan drainase lengkap dengan potongan dan
detail, gambar tampang memanjang dan melintang.
2. Desain potongan melintang, skala H = V = 1 : 200.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

24

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

3. Peta Zonasi Drainase


4. Dll.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

25

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

BAB III
RENCANA KERJA DAN MOBILISASI TENAGA AHLI

3.1 Pengertian Drainase


Pengertian tentang drainase kota pada dasarnya telah diatur dalam SK
Menteri Pekerjaan Umum 239 Tahun 1987. Menurut SK tersebut, yang
dimaksud drainase kota adalah :
Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian
wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari
hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota.
Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke
badan air atau ke bangunan resapan buatan.
Drainase berwawasan lingkungan adalah :
Pengelolaan drainase yang tidak menimbulkan dampak yang merugikan
bagi lingkungan. Terdapat dua pola pengelolaan :
Drainase perkotaan adalah sistem drainase dalam wilayah administrasi
kota dan daerah perkotaan (urban) yang berfungsi mengendalikan
atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman
yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat

dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.


Pengendali banjir adalah bangunan untuk mengendalikan tinggi muka
air agar tidak terjadi limpasan atau genangan yang menimbulkan

kerugian.
Badan penerima air adalah sungai, danau, atau laut yang menerima
aliran dari sistem drainase perkotaan.

3.2

Sistem Drainase Perkotaan


Fungsi Drainase Perkotaan secara umum :
Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak

menimbulkan dampak negatif.


Mengalirkan air permukaan

secepatnya.
Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan

untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.


Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah

(konservasi air).
Melindungi prasarana dan sarana yang sudah terbangun.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

ke

badan

air

penerima

terdekat

26

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Berdasarkan fungsi layanan :


a. Sistem Drainase Lokal
Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang
melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek permukiman,
areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial. Sistem ini
melayani areal kurang dari 10 Ha. Pengelolaan sistem drainase lokal
menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi
lainnya.
b. Sistem Drainase Utama
Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase
primer, sekunder, tersier

beserta

bangunan

pelengkapnya

yang

melayani kepentingan sebagian besar warga masyarakat. Pengelolaan


sistem drainase utama merupakan tanggung jawab pemerintah kota.
c. Pengendalian Banjir (Flood Control)
Sungai yang melalui wilayah kota yang berfungsi mengendalikan air
sungai, sehingga tidak mengganggu dan dapat memberi manfaat bagi
kehidupan masyarakat. Pengelolaan pengendalian menjadi tanggung
jawab Direktorat Jenderal SDA.
Berdasarkan Fisiknya :
a. Sistem saluran primer : adalah saluran utama yang menerima
masukan aliran dari saluran sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar.
Akhir saluran primer adalah badan penerima air.
b. Sistem saluran sekunder : adalah saluran terbuka atau tertutup yang
berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari
permukaan sekitarnya, dan menersukan air ke saluran primer. Dimensi
saluran tergantung pada debit yang dialirkan.
c. Sistem saluran tersier : adalah saluran drainase yang menerima air
dari saluran drainase lokal.

3.2 Pembangunan Sistem Drainase


Prinsip-prinsip utama :
Kapasitas sistem harus mencukupi, baik untuk melayani pengaliran air
ke badan penerima air, maupun untuk meresapkan air ke dalam tanah.
Untuk mencapai kapasitas yang memadai dilakukan perencanaan
berdasarkan prinsip hidrologi dan hidrolika.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

27

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

Pembangunan sistem drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi


drainase sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep
berwawasan lingkungan.
Konsep ini antara lain berkaitan dengan usaha konservasi sumber daya
air, yang pada prinsipnya mengendalikan air hujan agar lebih banyak
yang

diresapkan

ke

dalam

tanah

sehingga

mengurangi

jumlah

limpasan, antara lain dengan membuat bangunan resapan buatan,

kolam retensa dan penataan landscape.


Sedapat mungkin menggunakan sistem gravitasi, hanya dalam hal

sistem gravitasi tidak memungkinkan baru digunakan sistem pompa.


Meminimalisasi pembebasan lahan
Meminimalkan aliran permukaan dan memaksimalkan resapan
Letak sistem memenuhi kriteria perkotaan dan memiliki kesempatan
untuk perluasan sistem. Dalam pelaksanaannya harus memperhatikan
segi hidrolik dan tata letak dalam kaitannya dengan prasarana lainnya

(jalan, dan utilitas kota)


Stabilitas sistem harus terjamin, baik dari segi struktural, keawetan

sistem dan kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan.


Pembuatan kolam retensi dan sistem folder disusun

dengan

memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota

dan rencana prasarana dan sarana kota.


Kelayakan pelaksanaan kolam retensi

dan

sitem

folder

harus

berdasarkan faktor, antar lain : biaya konstruksi, biaya operasi dan


biaya pemeliharaan.

Parameter penentuan prioritas penanganan, meliputi hal sebagai berikut :


a. Parameter genangan, meliputi tinggi genangan, luas genangan dan
lamanya genangan terjadi.
b. Parameter frekuensi terjadinya genangan setiap tahunnya.
Faktor medan dan lingkungan

Topografi

Pembangunan

drainase

pada

daerah

datar

harus

memperhatikan sistem pengaliran dan ketersediaan air penggelontor.


Kestabilan tanah : pembangunan di daerah lereng pegunungan harus
memperhatikan masalah longsor yang disebabkan oleh kandungan air
tanah.

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

28

Perencanaan Pembangunan Drainase


Wilayah Kota

LAPORAN AKHIR

BAB IV
KESIMPULAN
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan perkotaan dan permasalahan banjir yang
makin

meningkat

pula,

maka

pengelolaan

drainase

perkotaan

harus

dilaksanakan secara menyeluruh dimulai dari tahap perencanaan, konstruksi,


operasi dan pemeliharaan yang ditunjang peningkatan kelembagaan dan
partisipasi masyarakat perkotaan.
Pembangunan sistem drainase perkotaan harus memperhatikan fungsi drainase
perkotaan sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan
lingkungan.
Konsep ini berkaitan dengan upaya konservasi sumber daya air yang pada
prinsipnya adalah pengendalian air hujan. Dengan memaksimalkan peresapan ke
dalam tanah dan meminimalkan aliran permukaan (limpasan).

CV. DAYA CIPTA MANDIRI

29