Anda di halaman 1dari 18

Apa itu Normalisasi ataukah Restorasi Sungai?

Normalisasi sungai adalah menciptakan kondisi sungai dengan lebar dan


kedalaman tertentu.Sungai mampu mengalirkan air sehingga tidak terjadi luapan
dari sungai tersebut. Kegiatan normalisasi sungai berupa membersihkan sungai
dari endapan lumpur dan memperdalamnya agar kapasitas sungai dalam
menampung air dapat meningkat. Hal ini dilakukan dengan cara mengeruk sungai
tersebut di titik-titik rawan tersembunyi aliran air upaya pemulihan lebar sungai
merupakan bagian penting dari program normalisasi sungai karena meningkatkan
kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan ke laut.

Menurut Maryono dalam Masyhuri (2007) pengembangan sungai-sungai di


Indonesia dalam 30 tahun terakhir ini mengalami peningkatan pembangunan fisik
yang relative cepat. Pembangunan fisik tersebut misalnya pembuatan sudetan,
pelurusan, pembuatan tanggul sisi dan pembetonan tebing, baik sungai kecil
maupun besar. Hal ini menyebabkan terjadinya percepatan aliran menuju hilir dan
sungai bagaian hilir akan menanggung aliran yang lebih besar dalam waktu yang
lebih cepat dibanding sebelumnya. Perbaikan sungai akan memberikan pengaruh
maksimal sehingga empat kali lipat, itu pun jika proses pelebaran atau
pengerukan sebesar dua kali lipatnya dapat berjalan lancar (Kodoatie dan Sjarief,
2008). Pelebaran sungai harus dipertahankan sampai ke lokasi sungai paling hilr.
Sungai unus adalah salah satu sungai yang terbesar yang mengalir di lingkungan
Pagutan. Sungai unus masih dimanfaatkan oleh masyarakat Pagutan khususnya
masyarakat Peresak Timur, Gulinten dan warga pertigaan kali Sri Bhakti,
sedangkan Presak Timur terindikasi menjadi daerah rawan banjir. Menurut www.
Portalmataram. Blogspot.com (28/09/2010) hal ini terungkap dari hasil
pemetaan lingkungan permukiman yang dilakukan tim penataan Lingkungan
Berbasis Komunitas (PLP-BK). Badan keswadayaan masyarakat (BKM) Sami
Karya PAgutan. Dikatakan Jayadi ketua Tim Ahli Pendamping Program (TAPP)
BKM Sami Karya Pagutan bahwa penyebab dari banjir dikarenakan tingginya
sedimen atau endapan di dasar aliran Sungai Unus yang membelah kampung
Presak Timur. Drainase primer ini di beberapa titik terdapat pintu pembagi air
yang berimbas terlintasnya semua wilayah Pagutan. Di kampung Presak Timur,
saluran sungai ini mengalir di kedua sisi Utara dan Selatan kampung dengan
ketinggian rata-rata saat ini 1,5 m dengan lebar rata-rata 3 m. Dibandingkan 20
tahun lalu kedua saluran sungai Unus masih cukup dalam dan bersih sehingga
tidak terjadinya banjir di sekitar lingkungan Pagutan ketika musim hujan tiba.

berdasarkan hasil survei, sampah merupakan salah satu penyebab sedimentasi di


Sungai Unus, sampah yang dominan terlihat di sungai Unus adalah sampah dari
sampah plastik. Bahan plastik sudah lama mengendap di sungai, sehingga aliran
sungai menjadi tidak lancar dan sungai terlihat kotor dan kumuh. Sampah
diperoleh dari hasil aktivitas rumah tangga di lingkungan tersebut, misalkan
kebanyakan ibu-ibu membuang sampah di sungai, selain itu sampah yang berada
di sungai Unus adalah merupakan hasil kiriman sampah dari aliran sungai Unus
di luar lingkungan Pagutan sendiri, misalkan kiriman sampah rumah tangga dari
lingkungan Abian Tubuh. Untuk itu tujuan penulisan ini setidaknya dapat
menggugah hati kita untuk bersama-sama mengadakan normalisasi di Sungai
Unus.
Normalisasi sungai menjadi salah satu cara untuk mengendalikan banjir Jakarta.
Namun, model ini sebetulnya hanya salah satu alternatif penyelesaian masalah
jangka pendek. Proses peningkatan kapasitas sungai memang akan berkontribusi
pada proses pengurangan genangan banjir. Namun, di sisi lain, normalisasi kini
dianggap sebagai cara kuno dalam pembangunan sungai dan berdampak
lingkungan alam dan sosial.

Air mengalir perlahan menjelang malam di Kanal Timur di Pondok Kelapa,


Jakarta Timur, Minggu (27/1/2013). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
memutuskan pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Timur untuk
mengurangi dampak banjir.
Kata normalisasi sungai mencuat sejak penertiban kawasan Kampung Pulo,
Agustus lalu. Sebanyak 300 orang di Kampung Pulo, yang rumahnya berlokasi di
bantaran Sungai Ciliwung, direlokasi ke Rusun Jatinegara Barat, Cipinang Besar
Selatan, dan ke rusun di Pulo Gebang. Pemprov DKI bersama Kementerian
Pekerjaan Umum akan melaksanakan proyek normalisasi sungai sebagai bagian
dari upaya pengendalian banjir Jakarta.
Secara umum, normalisasi sungai diketahui warga sebagai upaya untuk
meningkatkan kapasitas sungai dengan mengeruk sedimentasi yang ada.
Sebenarnya, aktivitas normalisasi sungai tidak hanya itu. Agus Maryono (2003)
dalam buku "Pembangunan Sungai dan Dampak Restorasi Sungai" menyebutkan,
kegiatan normalisasi meliputi pengerasan dinding, pembangunan sudetan,
tanggul, serta pengerukan sungai. Aktivitas koreksi sungai tersebut mirip dengan
pembangunan sungai yang marak dilakukan pada abad 17 sampai 20.
Sejarah normalisasi
Normalisasi sungai sudah menjadi andalan model pengendalian banjir sejak jaman
Kolonial Belanda. Sejak abad 16, Sungai Ciliwung yang disebut Sungai Besar
sudah 'diiris-iris' menjadi kanal untuk menyediakan alur pelayaran, alur
pembuangan air, dan sarana untuk pertahanan kota. Abad berikutnya, mulai
dilakukan pembangunan pintu air di beberapa sungai untuk mengendalikan arus
banjir dari wilayah selatan.
Sistem koreksi sungai yang terkenal di era Belanda, yakni Rencana Van Breen
(1920) untuk membuat Terusan Kanal Barat yang berfungsi untuk pengendalian
banjir, pengadaan air, serta perbaikan sungai. Terusan ini dibangun mulai dari
sungai CIliwung yang dipecah di kawasan Manggarai, selanjutnya memotong
aliran sungai Krukut, Angke, dan Grogol. Jadi, aliran sungai Ciliwung yang
masuk ke tengah kota Jakarta dipecah menjadi dua, serta aliran sungai Krukut,
Angke dan Grogol dipotong dan dibelokkan masuk ke kanal baru tersebut.
Setidaknya sistem normalisasi ini menurunkan risiko banjir di wilayah tengah
Jakarta dengan mengurangi aliran 13 sungai dan mengalirkan aliran air secepat-
cepatnya dari selatan ke teluk Jakarta. Rencana Van Breen tidak hanya membuat
Terusan Kanal Barat yang sekarang disebut Kanal Banjir Barat, namun juga
merencanakan membuat Terusan Kanal Timur yang baru terwujud 2010 lalu.
Sekitar abad 19, tidak hanya Van Breen yang mempunyai rencana normalisasi
sungai-sungai di Jakarta. Sejumlah ahli tata air Belanda lain pernah mengusulkan
membuat sodetan yakni membuat percabangan sungai pada satu bagian badan
sungai yang dialirkan pada kanal baru lainnya. Sodetan yang diusulkan adalah
sodetan di antara Sungai Ciliwung dan Cisadane dan Sungai Ciliwung-Kanal
Banjir Timur. Di antara dua usulan tersebut, hanya sodetan Sungai CIliwung-
Kanal Banjir Timur yang sekarang dalam proses pembangunan.
Setelah Indonesia merdeka, upaya normalisasi sungai dilakukan dengan
pengerukan sedimentasi serta pembuatan tanggul sungai. Upaya tersebut relatif
tidak memerlukan biaya tinggi dibandingkan harus membuat kanal baru ataupun
sodetan.
Sudah ditinggalkan
,
1
2
Normalisasi sungai yang banyak dilakukan di Indonesia sekarang ini menurut
Maryono (2003), merupakan tahap paling awal dari sejarah pembangunan sungai.
Sejarah pembangunan sungai terdiri atas tiga tahap, yakni, tahap "Pembangunan
Sungai" (abad 17 - 20), "Dampak Pembangunan Sungai" (pertengahan abad 20 -
akhir abad 20), serta "Tahap Restorasi atau Naturalisasi Sungai" (abad 20-
sekarang).
Bagi negara maju di Eropa dan Amerika, tahap "Pembangunan dan Dampak
Pembangunan Sungai" sudah mulai ditinggalkan. Negara-negara tersebut sedang
giat-giatnya mengadakan renaturalisasi atau restorasi sungai. Sebaliknya, negara
berkembang justru masih berkutat pada tahap "Pembangunan Sungai."
Negara Eropa dan Amerika mengubah sistem pembangunan sungainya karena
sistem normalisasi malah menimbulkan banjir, sedimentasi, erosi dan merusak
ekologi lingkungan setempat. Sistem normalisasi telah mengubah penampang
sungai yang berkelok-kelok menjadi alur yang lurus. Akibatnya, morfologi sungai
berubah, yang disusul oleh peningkatan debit air di hilir. Peningkatan debit aliran
akan meningkatkan risiko terjadinya sedimentasi dan banjir di daerah hilir.
Selesainya proses normalisasi sungai, bukan berarti seluruh pekerjaan
penanggulangan banjir selesai. Namun, pembangunan tersebut mengawali suatu
pekerjaan yang akan terus-menerus dilakukan untuk pemeliharaan sarana
bangunan. Misalnya, pengerukan sedimentasi dan memeriksa ketahanan tanggul
supaya tidak bocor. Ada kecenderungan, sungai yang tadinya berkelok-kelok
kemudian diluruskan akan kembali pada kondisi semula.
Selain berdampak fisik pada kondisi badan sungai, sistem normalisasi sungai juga
akan mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Habitat sungai akan berubah
total dan tidak lagi sesuai dengan syarat hidup flora dan fauna yang ada. Otomatis
jumlah flora dan fauna sungai akan menurun.
Identik dengan penertiban
Proses normalisasi di Jakarta, tak semudah membalik telapak tangan. Meski
hanya melakukan aktivitas pelebaran dan mengeruk sedimentasi sungai, tapi
harus bersinggungan dengan masalah sosial. Penyebabnya di sepanjang bantaran
sungai sudah penuh oleh permukiman penduduk. Jadi proses normalisasi sungai di
Jakarta akan identik dengan proses penertiban permukiman. Terkadang,
normalisasi sungai di Jakarta prosesnya bisa menjadi lama hanya karena
penduduk tidak mau ditertibkan ataupun jika sudah ditertibkan, mereka akan
balik lagi ke lokasi semula.
Sebelum pemerintahan Gubernur Joko Widodo, proses normalisasi hanya
berhenti pada pengerukan sedimentasi saja, tidak melakukan upaya pelebaran
sungai karena ada permukiman penduduk di bantaran sungai. Penduduk tidak
segera direlokasi karena saat itu pemerintah belum mempunyai kebijakan relokasi
penduduk.
Setelah pemerintahan Gubernur Joko Widodo yang dilanjutkan oleh
pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, upaya normalisasi sungai
menjadi penting sebagai salah satu usaha pengendalian banjir. Oleh karena itu
keluar kebijakan untuk merelokasi penduduk hasil penertiban bantaran sungai ke
Rusunawa.
KOMPAS/PRIYOMBODOSuasana Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, di
bantaran sungai Ciliwung yang tengah dinormalisasi, Kamis (21/1/2016).
Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta menolak tuntutan warga Kampung Pulo
terhadap Pemerintah provinsi DKI Jakarta terkait pembongkaran permukiman
Kampung Pulo untuk proyek normalisasi sungai Ciliwung.
Setelah program relokasi penduduk dari bantaran Waduk Pluit dan Ria Rio ke
rusunawa berhasil, Pemprov DKI beralih pada relokasi penduduk di bantaran
sungai. Penduduk di bantaran Kali Sentiong, Februari 2014 dipindah ke
Rusunawa Komaruddin, Pulo Gebang, Jakarta Timur. Selanjutnya, Kali Sentiong
akan dinormalisasi sepanjang 1,5 kilometer. Berdasarkan penelusuran
Litbang Kompas, terdapat 9 kasus penertiban bantaran sungai yang akan terkena
proyek normalisasi sungai.

Pencegahan Banjir
Antara normalisasi sungai untuk pencegahan banjir dengan dampak yang
ditimbulkan, bagai buah simalakama. Normalisasi sungai harus tetap diteruskan
karena hal tersebut dianggap Pemprov DKI upaya paling efektif untuk mencegah
banjir. Hal tersebut berarti akan ada ribuan keluarga yang harus direlokasi ke
rusunawa. Padahal, rusunawa yang tersedia pun belum bisa menampung
penduduk korban gusuran. Persoalan relokasi ini bisa menjadi kendala terbesar
bagi normalisasi.
Hingga pertengahan Februari 2016, pekerjaan sodetan Kali Ciliwung masih
terhambat pembebasan lahan dan relokasi warga Bidaracina, Kecamatan
Jatinegara yang berjalan alot. Sejak pengeboran dua pipa sodetan paruh pertama
selesai pada Oktober 2015, hampir lima bulan hingga saat ini pengeboran sodetan
berhenti (Kompas, 19 Februari 2016). Kesulitan itu di luar dampak lingkungan
yang diperkirakan bakal muncul karena selama ini hal tersebut belum dirasakan
langsung oleh warga.
Pemerintah beranggapan bahwa salah satu penyebab banjir Jakarta adalah
menurunnya kapasitas sungai. Sehingga normalisasi sungai menjadi salah satu
pegangan untuk mencegah banjir Jakarta. Jika kapasitas sungai telah
dikembalikan seperti semula banjir akan berkurang. Namun, sebenarnya upaya
tersebut bukan upaya preventif dari akar permasalahan banjir. Upaya tersebut
hanya bersifat 'mengobati luka sesaat' yang jika tidak dilakukan pemeliharaan
akan berdampak lebih besar di kemudian hari.
Pemerintah melupakan prinsip utama pengendalian banjir, menyerapkan air
sebanyak-banyaknya ke dalam tanah untuk mengurangi air limpasan yang akan
menjadi pengisi badan air seperti sungai, drainase, dan danau. Jika air hujan yang
jatuh ke tanah bisa terserap lebih banyak (sekitar 80 persen), otomatis debit air di
badan sungai akan berkurang. Akibat lebih jauhnya, potensi genangan akan
berkurang bahkan cadangan air tanah akan semakin banyak.
Namun, untuk meresapkan air hujan sebanyak-banyaknya dengan kondisi wilayah
Jabodetabek yang hampir 90 persen tertutup bangunan cukup sulit. Lagi-lagi,
upaya yang dipilih adalah upaya instan yakni meningkatkan kapasitas sungai
dengan normalisasi sungai.
Teuku Iskandar, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, dalam
wawancara Maret lalu mengungkapkan, normalisasi sungai harus tetap dilakukan
karena sekaligus untuk menata kawasan sekitarnya yang telah berubah fungsi
serta melakukan proses pengerukan. Bertahun-tahun, proses normalisasi sungai
yang dilakukan tak bisa maksimal. Alat berat tidak bisa bebas melakukan proses
pengerukan sedimentasi karena di samping kanan kiri sungai masih terdapat
permukiman padat penduduk. Sekarang, setelah penduduk direlokasi, pengerjaan
normalisasi bisa leluasa dilakukan.
Normalisasi yang dilakukan tetap menggunakan sheet pile (tembok beton di
kanan kiri sungai) karena untuk mencegah longsor. Setelah tembok beton jadi,
sungai baru dikeruk. Tembok beton pun menurut Iskandar tidak bisa dibuat
dengan kemiringan yang landai supaya bisa digunakan sebagai ruang publik
warga. "Lahan di sekitar sungai sudah padat, gak mungkin untuk membuat
dinding yang landai", katanya. Namun demikian, menurut Iskandar, ada sekitar
13 titik arah Condet ke hulu yang dibikin landai.
Normalisasi sungai bukan satu-satunya model pengendali banjir, meski dipercaya
mengurangi luasan banjir. Upaya untuk meresapkan sebanyak-banyaknya air
hujan harus tetap dilakukan, seperti meningkatkan luasan ruang terbuka hijau,
membangun sumur resapan dan biopori, mengembalikan fungsi kawasan
konservasi serta menegakkan aturan tata ruang. Hendaknya, Pemprov DKI mulai
beranjak pada sistem restorasi sungai, tidak hanya berfokus pada normalisasi
yang risikonya cukup banyak.
TUJUAN DARI KEBIJAKAN ?
Penggusuran sering dilakukan Pemerintah dengan berbagai tujuan, biasanya
untuk mewujudkan tata kota menjadi lebih menarik, jauh dari kesan kumuh. akan
tetapi keputusan ini menjadi sebuah hal yang paling tidak disukai Si penguasa,
meski hal itu mau tidak mau dilaksanakan juga. Konsekuensi nya publik menjadi
marah, rakyat tidak lagi menaruh kepercayaan untuk memilihnya lagi dalam pesta
demokrasi yang diikutinya alias PEMILU.

Kebijakan simalakama ini pun kerap terjadi usai pemilu, dan perlu dihindari saat
menjelang pemilu agar si petahana tidak kehilangan simpati masyarakat. so
nuansa politik dalam penggusuran itu dipastikan tetap ada.

Lalu, bagaimana solusi agar penggusuran menjadi kebijakan yang pro rakyat,
sebagai warga kita menginginkan tata kota yang menarik, bersih dan nyaman.
disisi lain kita miris melihat penggusuran yang diwarnai bentrok antar alat
pemerintah dengan warga korban penggusuran.
Jika teman-teman memiliki masukan tentang bagaimana penggusuran itu
dilakukan lebih humanis atau tanpa adanya kerugian diantara kedua belah pihak.
dan bangunan yang bagaiamana nanti sebaiknya didirikan di lahan bekas
penggusuran sebagai fasilitas umum dengan tetap melibatkan para korban
penggusuran untuk tetap berlokasi disitu atau merasa memiliki lokasi tersebut.
silahkan komentar pada rubrik wcana dibawah ini.

Sebagai pandangan akan saya jelaskan sedikit mengenai penggusuran. jadi check
it out!!!

Jakarta-Upaya pemerintah untuk melakukan normalisasi sungai dalam mengatasi


banjir yang terjadi di Jakarta misalnya, masih banyak meninggalkan persoalan.

Belakangan ini, pemprov memang sering menertibkan bangunan yang berdiri di


bantaran sungai atau waduk. Aksi represif itu dilakukan untuk mengembalikan
fungsi bantaran sebagai jalur inspeksi dan ruang terbuka hijau. Namun, sikap
tegas tersebut mendapat perlawanan dari warga bantaran.

Mereka bahkan beberapa kali berunjuk rasa ke balai kota. Aksi terakhir dilakukan
warga Kali Apuran Kapuk, Jakarta Barat, kemarin. Mereka mendatangi balai kota
untuk memprotes penggusuran. Pemprov beberapa kali diancam akan dilaporkan
ke Komnas HAM karena merelokasi paksa warga ke flat. sumber : Kaltimpost

Gresik-Banjir yang melanda di sejumlah kecamatan di Kabupaten Gresik,


dipastikan akan menjadi "tamu" tahunan. Hal ini karena pemerintah selalu
kesulitan membangun tanggul di sekitar sungai Kali Lamong.

Kesulitan yang dimaksud, kata Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul),
karena warga terus menaikkan harga tanah yang akan dijadikan lokasi tanggul.

Untuk membangun tanggul penahan sungai Kali Lamong diperlukan sekitar 650
hektar lahan di sekitar sungai. Saat ini, upaya yang bisa dilakukan hanya
menguruk sungai agar tidak terlalu dangkal. sumber : Kompas

Dari dua informasi diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa warga enggan untuk
meninggalkan lokasi semula atau memberikan lahannya begitu saja dengan harga
normal kepada pemerintah meski tujuan kebijakan pemerintah sebenarnya untuk
kepentingan orang banyak. Warga pun menaikkan harga jual lahan diatas
kewajaran. otomatis ini menghambat upaya pemerintah dalam mengatasi banjir
atau hal-hal positif lainnya.

Jika masalah tersebut berlarut-larut tanpa ada persetujuan ganti rugi yang sesuai
dengan kemampuan pemerintah dan warga, dapat dipastikan akan dilakukan
penggusuran paksa. muncullah masalah baru dari segi kemanusiaan.

Lalu jika solusinya seperti ini, setujuhkah anda?

Pro dan Kontra Normalisasi Sungai Ciliwung

Program Normalisasi Sungai Ciliwung

Normalisasi Sungai Ciliwung adalah salah satu upaya Pemprov DKI dalam
menyelamatkan sungai yang membelah kota Jakarta. Proyek ini mendapat
tanggapan positif dan negatif dari berbagai kalangan. Sungai Ciliwung yang
membelah kota Jakarta dianggap menjadi sebuah masalah bagi kota Jakarta
karena ketika hujan lebat, air sungai akan meluap dan menyebabkan banjir bagi
kota Jakarta.

Pemerintah DKI sudah sejak lama ingin melebarkan dan menormalisasi Sungai
Ciliwung. Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) berencana melebarkan
bantaran Ciliwung khususnya di wilayah Kampung Pulo, Jakarta Timur, menjadi
50 meter dari panjang sekarang yang berkisar 10 meter.
Pemprov DKI membuat proyek normalisasi Sungai Ciliwung sepanjang 19 km
mulai dari Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan sampai dengan Kampung
Melayu, Jakarta Timur yang telah dimulai pada Desember 2013 silam.

Dengan adanya program pemerintah untuk melakukan normalisasi sungai


Ciliwung tidak lantas mendapat reaksi positif dari warga yang tinggal di bantaran
sungai. Reaksi penokan juga muncul dari sebagian warga masyarakat di pinggiran
sungai. Seperti warga yang terhimpun dalam Komunitas Ciliwung Condet (KCC)
yang menggugat Gubernur DKI Jakarta terkait Proyek Normalisasi Sungai
Ciliwung ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Ketua KCC, Abdul Kodir dalam surat gugatannya mengatakan proyek


normalisasi tersebut justru mengancam usaha konservasi keanekaragaman hayati
sepanjang sungai yang mereka lakukan sepanjang aliran Sungai Ciliwung dari
Condet sampai Kalibata.

Proyek normalisasi dapat merusak ekosistem Sungai Ciliwung, hilangnya flora


dan fauna khas setempat dan hilangnya budaya masyarakat Condet. Pemprov
DKI juga belum melakukan penyelesaian submer masalah penyebab banjir, salah
satunya yaitu penetapan sempadan sungai yang berpengaruh terhadap kegaitan
KCC di sempadan Sungai Ciliwung.

KCC sendiri mempunyai kegiatan utama yaitu pelestarian Sungai Ciliwung dan
perlindungan keanekaragaman hayati melalui pembibitan, penanaman dan
pemeliharaan berbagai tanaman lokal seperti salak, duku dan pucung yang
statusnya hampir punah. Mereka juga melakukan kegiatan seperti pembuatan
lubang resapan biopori, sumur resapan, taman resapan, dan pembuatan sekat
rumput.
Masih menurut Abdul Kodir, upaya untuk mengatasi banjir di Jakarta, bukan
dengan melakukan betonisasi Sungai Ciliwung. Normalisasi dengan cara
betonisasi bantaran sungai ditengarai akan mempercepat air sampai ke hilir.

Kita khawatir ekosistem yang ada selama ini di kawasan Sungai Ciliwung akan
terusik dan berpindah tempat, kata Abdul Kodir.

Proyek normalisasi Sungai Ciliwung diharapkan dapat mengatasi permasalahan


banjir kota Jakarta. Apa yang dilakukan DKI Jakarta, sesungguhnya bisa menjadi
salah satu contoh bagi daerah lainnya yang memiliki sungai dan membelah
kotanya.

Untuk menyelamatkan sungai dan ekosistem yang telah terbangun di dalamnya


harus dilakukan dengan banyak pertimbangan agar tidak sampai mengganggu
atau menghapus biota yang ada di sekitar aliran sungai.

Permasalahan banjir dan sungai dipenuhi sampah sudah menjadi pemandangan


sehari-hari bagi warga ibukota Jakarta. Kesadaran dari masyarakat dan padatnya
penduduk sering menjadi masalah dalam upaya untuk mengatasinya. mes
Tata bangunan atau pemukiman warga seharusnya menghadap kesungai secara
langsung, hal ini dimungkinkan adanya rasa kesadaran warga untuk
mempertahankan kebersihan lebih besar daripada membelakanginya. anda coba
perhatikan apa yang terjadi dibelakang rumah dengan yang ada didepan rumah.
sebagian besar masyarakat kita cenderung menghias bagian depan rumah
ketimbang bagian belakang rumahnya.

Dan pemerintah sebaiknya tidak membangun akses jalan dibelakanya agar warga
pada lokasi tersebut menggunakan sungai sebagai akses transportasi. mau tidak
mau warga akan menciptakan kelancaran sungai melalui kebersihan bebas dari
sampah. atau membangun jalan sepanjang sungai dengan menutup akses jalan
yang biasa ada dibelakang pemukiman.

Pemukiman diubah posisinya lebih mundur kebelakang dari jalan yang ditutup,
diganti jalan yang ada di pinggir bantaran. Hal ini selain menambah keindahan
sungai juga memudahkan pemerintah saat melakukan normalisasi sungai
(pengerukan).

Membangun fasilitas umum disepanjang sungai seperti taman dengan segala


retributor dari warga bantaran, memperkerjakan petugas kebersihan dari warga
bantaran tersebut akan memberi ruang rasa memiliki sungai.

Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Untuk Melakukan Normalisasi Sungai


Provinsi DKI Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km. Di sebelah utara
membentang pantai sepanjang 35 km, yang menjadi tempat bermuaranya 13 buah
sungai dan 2 buah kanal. Di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Kota
Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi, sebelah barat
dengan Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, serta di sebelah utara
dengan Laut Jawa.
Letak geografis Jakarta yang seperti ini, erat kaitannya dengan keberadaan
sungai-sungai yang perlu di normalisasi. Sungai-sungai yang mengalir,
khususnya di DKI Jakarta, hanya memiliki daya tampung sekitar sepertiga dari
total curah hujan yang masuk. Hal ini tentu saja, dapat membuat sungai-sungai
meluap apabila curah hujan yang turun sudah melewati batas normal.
Mengecilnya kapasitas sungai seperti ini juga memperkuat alasan dilakukannya
normalisasi sungai.
Normalisasi Sungai adalah usaha untuk mengembalikan sungai ke fungsi awalnya.
Normalisasi dilakukan saat kondisi sungai sudah terlalu dangkal sehingga
membutuhkan pengerukan, banyaknya dinding sungai yang rawan longsor,
adanya sistem aliran yang belum terbangun dengan baik, dan banyaknya Daerah
Aliran Sungai (DAS) yang disalahgunakan untuk pemukiman penduduk.
Untuk mengoptimalkan proses normalisasi sungai, Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta melakukan beberapa usaha, diantaranya adalah; pengerukan sungai untuk
memperlebar dan memperdalam sungai, pemasangan sheet pile atau batu kali
untuk pengerasan dinding sungai, pembangunan sudetan berupa sungai baru
yang lurus dengan lintasan terpendek, dan membangun tanggul dengan timbunan
tanah atau dinding beton memanjang di daerah-daerah rawan banjir.
Program normalisasi sungai di Jakarta merupakan sepenuhnya tanggung jawab
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Peran-peran penting yang dilakukan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diantaranya adalah melaksanakan pembebasan
dan penertiban lahan yang merupakan bagian dari sungai, membangun sheet pile
dan turap batu kali pada tebing-tebing sungai yang rawan longsor, melakukan
pengerukan untuk menambah kapasitas sungai, dan menyediakan rumah susun
untuk warga yang berada di bantaran sungai yang terkena penertiban. Sungai-
sungai di Jakarta yang menjadi prioritas program normalisasi diantaranya adalah
Sungai Ciliwung, Sungai Cipinang, Sungai Sunter, dan Sungai Cakung.
Langkah kongkrit Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk program normalisasi
sungai antara lain dengan melakukan penertiban bangunan pada Daerah Aliran
Sungai (DAS) atau bantaran sungai, seperti yang sudah dilakukan pada lokasi Kali
Apuran Bawah, dan Kali Ciliwung Lama segmen Mangga Besar. Selain itu
Pemprov DKI Jakarta juga melakukan sheet pile di Kali Sekertaris, dan Kali
Apuran Bawah. Pemprov DKI Jakarta juga melakukan pengerukan di Kali
Ciliwung, Kali Uangan, Kali Utan Kayu, Kali Cipinang, Kali Lodan Ancol, Kali
Mati, dan Kali Sentiong Paru.

DAMPAK POSITIF MENURUT PENDAPAT WARGA

Saya sangat Bangga menjadi warga ibukota jakarta,karena begitu pesatnya


pembangunan,terutama di kawasan sekitar rumah saya,bisa di bayangkan
kawasan yang dulunya "terkesan" kumuh kini di sulap menjadi kawasan yang
sangat indah dan juga memberikan ruang terbuka kepada masyarakat umum
untuk menikmatinya.
Selain kawasan yang bersih,di sini juga terdapat danau yang berguna untuk
menampung air hujan,Banyak juga yang memanfaatkan danau ini untuk kegiatan
memancing atau hanya sekedar untuk duduk santai melepas lelah,sungguh tak
terbayangkan sebelumnya suasana yang dulu terkenal kumuh dan banjir kini
berubah menjadi kawasan "wisata"untuk masyarakat umum berkat adanya
program normalisai sungai dan juga pembangunan jalan serta di bangunnya dua
buah Danau yang kesemuanya itu bermanfaat bagi semua orang.
Hampir setiap sore hari di kawasan ini banyak di kunjungi warga sekitar untuk
melakukan berbagai aktifitas,bahkan banyak pedagang yang memanfaatkan
situasi ini untuk menjual aneka barang dagangannya,sehingga menurut saya
kawasan ini layak di sebut tempat rekreasi murah meriah,Bagaimana menurut
Anda?