100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
217 tayangan17 halaman

Peraturan Perusahaan RIB

Peraturan perusahaan ini mengatur tentang hak dan kewajiban Perusahaan dan karyawan serta ketentuan-ketentuan umum yang berlaku di perusahaan terkait istilah-istilah, berlakunya peraturan, maksud dan tujuan dibuatnya peraturan.

Diunggah oleh

Lestijono Last
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
217 tayangan17 halaman

Peraturan Perusahaan RIB

Peraturan perusahaan ini mengatur tentang hak dan kewajiban Perusahaan dan karyawan serta ketentuan-ketentuan umum yang berlaku di perusahaan terkait istilah-istilah, berlakunya peraturan, maksud dan tujuan dibuatnya peraturan.

Diunggah oleh

Lestijono Last
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERATURAN PERUSAHAAN

PT. RAJAWALI INSURANCE BROKERSPERKASA


PILAR UTAMA
Head office : Komplek Rukan Artha Gading Niaga
Jl. Jl.Boulevard Artha Gading Blok D No. 19-20, Komplek Rukan Artha
Gading Niaga
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240.
Phone (62-21) 4585-0686 - 87, 4585-0687
Fax (62-21) 4585-0689

http://www.ribppu.co.id
Tahun 201709 - 2011

copyright 2008 confidential for internal purposes only


PENDAHULUAN
Atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa serta berdasarkan keinginan yang
luhur untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan sehat antara Perusahaan dan
karyawan sesuai dengan iklim Hubungan Industrial Pancasila. Perusahaan dan
Karyawan sepenuhnya untuk menjamin terpeliharanya kerja sama yang baik,
terciptanya ketenangan bekerja, meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan
karyawan.

Bahwa disadari untuk mencapai tujuan tersebut diatas landasan yang


dipergunakan adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan sehubungan
dengan landasan itu, maka Peraturan Perusahaan ini disusun atas dasar musyawarah
untuk mufakat.

Bahwa Pengusaha dan karyawan menyadari sepenuhnya untuk menjamin


terpelihara kerja sama yang baik, terciptanya ketenangan kerja dan kepastian usaha,
diperlukan adanya Peraturan Perusahaan yang mengatur hak-hak dan kewajiban
masing-masing pihak yang dituangkan dalam bentuk Peraturan Perusahaan yang
secara keseluruhan harus mendorong kegairahan kerja untuk meningkatkan produksi
dan produktivitas kerja serta meningkatkan kesejahteraan kerja. Karyawan perlu
secara sadar melaksanakan Peraturan Perusahaan ini dengan penuh tanggung jawab.

Dalam rangka meningkatkan produktifitas kerja dan stabilitas ekonomi


Perusahaan, maka Karyawan dan Perusahaan harus saling mengisi segala bentuk
kekurangan dan selalu berusaha untuk mengadakan pengembangan demi kemajuan
Perusahaan.

Oleh sebab itu, segala bentuk kesalahpahaman dalam melaksanakan tugas


masing-masing , maka pihak Perusahaan dan Karyawan akan selalu berpegang teguh
pada azas musyawarah untuk mufakat. Dalam melaksanakan Hubungan Industrial
Pancasila, harus berpegang kepada terciptanya saling merasa ikut memiliki, ikut
memelihara , tanggung jawab bersama dan mempertahankan serta secara terus-
menerus mawas diri sebagai suatu azas kemitraan dan tanggung jawab bersama,
dengan landasan itulah, maka Peraturan Perusahaan ini disusun.
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
TENTANG ISTILAH - ISTILAH

- DIREKSI:
Ialah Presiden Direktur PT. Perkasa Pilar UtamaRajawali Insurance Brokers
serta pejabat yang diberi kuasa olehnya, untuk bertindak atas nama Direksi.

- KARYAWAN/TI:
Ialah mereka yang diterima bekerja pada PT. Perkasa Pilar UtamaRajawali
Insurance Brokers sampai berakhirnya hubungan kerja.

- KELUARGA:
Ialah isteri/suami dan anak-anak dari Karyawan/ti yang berdasarkan
perkawinan yang sah menurut hukum yang berlaku.

- ANAK :
Ialah anak Karyawan/ti yang bersangkutan, yang lahir dari perkawinan yang
sah atau anak yang disahkan menurut hukum, anak tiri, yang belum berumur
18 (delapan belas) tahun belum berpenghasilan sendiri, belum pernah kawin
dan menjadi tanggungan sepenuhnya Karyawan/ti.

- AHLI WARIS:
Ialah keluarga atau orang yang ditunjuk oleh Karyawan/ti untuk menerima
setiap pembayaran dalam kematian. Apabila tidak ada penunjukkan atas ahli
warisnya, maka akan diatur menurut hukum yang berlaku.

- STAFF:
Ialah mereka yang karena kedudukkannya berwenang dan bertindak sebagai
wakil Perusahaan.

Pasal 2
TENTANG BERLAKUNYA

1. Peraturan dan tata-tertib Perusahaan ini berlaku untuk semua Karyawan/ti


PT. Perkasa Pilar UtamaRajawali Insurance Brokers baik yang bekerja di kantor
maupun yang bertugas di lapangan/proyek , berikut dengan peraturan-
peraturan khusus lainnya.
2. Syarat-syarat kerja ini merupakan bagian dari tiap-tiap Perjanjian Kerja
masing-masing Karyawan/ti ataupun surat pengangkatan.

3. Syarat-syarat kerja ini sifatnya mengikat bagi semua Karyawan/ti dan para
Karyawan/ti wajib mengindahkan semua ketentuan-ketentuan dan peraturan-
peraturan yang sewaktu-waktu dikeluarkan oleh Perusahaan sebagai
tambahan ataupun perubahan/pembetulan atas syarat-syarat kerja ini dengan
memperhatikan ketentuan perundangan yang berlaku cq. Persetujuan
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

4. Para Karyawan/ti wajib mengikuti tata cara yang telah digariskan dalam
menjalankan tugas utamanya dan pekerjaan-pekerjaan lain, dan berusaha
demi tercapainya maksud dan tujuan Perusahaan.

5. Atas kelalaian Karyawan/ti dalam menunaikan tugas pekerjaan dan tidak


sesuai dengan syarat-syarat kerja ini sehingga akan dapat berakibat kerugian
ataupun kemunduran maka perusahaan berhak untuk menuntut kerugian
berdasarkan hukum yang berlaku ataupun denda sesuai dengan keadaan yang
diderita Perusahaan.

Pasal 3
MAKSUD DAN TUJUAN

1. Maksud dibentuknya Peraturan Perusahaan ini adalah agar terciptanya suatu


kondisi kerja yang harmonis, serasi dan seimbang antara hak dan kewajiban
Perusahaan dengan Karyawan/ti sehingga terselenggaranya kesejahteraan
Karyawan/ti serta kemajuan Perusahaan secara bersama-sama.

2. Tujuan dari Peraturan Perusahaan, yang berisi syarat-syarat kerja dan tata
tertib kerja ini adalah :
2.1 Terciptanya suatu hubungan kerja yang harmonis antara Perusahaan dan
Karyawan/ti.
2.2 Memelihara adanya ketenangan bekerja di Perusahaan.
2.3 Meningkatkan produktivitas kerja Perusahaan guna perbaikan
kesejahteraan Karyawan/ti dan perluasan kesempatan kerja.

3. Untuk mencapai hasil usaha yang optimal dan efisien di Perusahaan maka
diperlukan :
3.1.Sikap mental dan disiplin kerja yang tinggi dari Perusahaan dan
karyawan/i
3.2. Adanya saling pengertian, penghayatan dan pengamalan isi Peraturan
Perusahaan, kebijaksanaan Pimpinan/Direksi dan/atau Peraturan
Ketenagakerjaan lain yang berlaku.
3.3. Terjaminnya pelaksanaan hak dan kewajiban yang diatur dalaPeraturan
Perusahaan ini secara nyata.
Pasal 4
HAK DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN

1. Hak Perusahaan :
1.1. Pengelolaan usaha-usaha Perusahaan serta Karyawan/ti adalah
wewenang dan tanggung jawab Perusahaan.
1.2. Perusahaan berhak memberikan tugas/pekerjaan yang layak kepada
Karyawan/ti selama waktu kerja.
1.3. Perusahaan berhak untuk menuntut prestasi yang terbaik dari setiap
karyawannya.
1.4. Perusahaan mempunyai kebebasan untuk menerapkan secara lancar
sistem-sistem, tehnik-tehnik dan metoda-metoda serta kebijakan-
kebijakan untuk meningkatkan usaha dan sekaligus menjamin masa
depan para karyawan.
1.5. Perusahaan berhak meminta Karyawan/ti untuk kerja lembur dengan
mengindahkan undang-undang/ketetapan Pemerintah.
1.6. Perusahaan berhak untuk menetapkan tata-tertib kerja dengan
mengindahkan undang-undang/ketetapan pemerintah.

2. Kewajiban Perusahaan :
2.1. Perusahaan wajib memberikan upah/tunjangan-tunjangan sebagai
imbalan atas tenaga/jasa yang diberikan oleh Karyawan/ti.
2.2. Perusahaan wajib mentaati Undang-Undang dan semua peraturan
ketetapan pemerintah dibidang ketenaga-kerjaan.
2.3. Perusahaan wajib memperhatikan kesejahteraan Karyawan/ti.
2.4. Perusahaan wajib memberikan hak-hak Karyawan/ti sesuai dengan
ketetapan yang dicantumkan dalam peraturan Perusahaan.
2.5. Perusahaan berkewajiban untuk memberikan kompensasi, fasilitas
dan jaminan masa depan sesuai dengan prestasi kerja karyawan dan
kemampuan keuangan Perusahaan.

Pasal 5
HAK DAN KEWAJIBAN KARYAWAN/TI

1. Hak Karyawan/t :
1.1 Karyawan/ti berhak atas kompensasi dan jaminan masa depan sesuai
dengan prestasi kerja yang dilakukannya serta kemampuan keuangan
Perusahaan.
1.2 Karyawan/ti berhak atas upah sebagai imbalan kerja yang dilaksana -
kan
1.3 Karyawan/ti berhak atas cuti
1.4 Karyawan/ti berhak memperoleh bantuan kesehatan
1.5 Karyawan/ti berhak memperoleh ganti rugi atas gangguan / cacat badan
yang diakibatkan dalam melakukan tugas Perusahaan.
1.6 Ahli waris yang sah dari karyawan/ti berhak menerima ganti rugi atas
meninggalnya Karyawan/ti pada waktu melakukan tugas Perusahaan.
1.7 Karyawan/ti berhak mengemukakan pendapat, saran-saran dan usul-usul
pada atasannya.
1.8 Karyawan/ti berhak memperoleh segala sesuatu sesuai dengan ketetapan
yang dicantumkan dalam Peraturan dan Tata Tertib Perusahaan.

2. Kewajiban Karyawan/t :
2.1 Karyawan/ti wajib mematuhi seluruh isi Peraturan Perusahaan ini serta
aturan-aturan lain yang berlaku di Perusahaan.
2.2 Karyawan/ti wajib memberikan keterangan yang sebenarnya, baik
mengenai dirinya maupun kerjanya kepada yang berwenang dalam
hubungan dengan tugasnya.
2.3 Karyawan/ti wajib melaksanakan pekerjaan yang diinstruksikan oleh
Perusahaan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan mentaati perintah
atasan dengan penuh rasa tanggung jawab selama tidak bertentangan
dengan undang-undang Peraturan Perusahaan atau norma-norma
susila.
2.4 Tiap Karyawan/ti wajib menghormati Pimpinan dan sesama Karyawan/ti
2.5 Karyawan/ti dilarang untuk keluar membawa barang-barang dari
lingkungan Perusahaan tanpa izin.
2.6 Tiap Karyawan/ti wajib untuk segera melaporkan kepada Perusahaan
setiap peristiwa atau perbuatan yang merugikan perusahaan.
2.7 Karyawan/ti wajib untuk memberikan prestasi kerja yang terbaik untuk
Perusahaan serta menjamin kerahasiaan Perusahaan.

Pasal 6
KESEPAKATAN KERJA WAKTU TERTENTU

1. Setiap calon karyawan yang dinyatakan lulus dari proses seleksi maka dapat
diterima sebagai karyawan waktu tertentu atau waktu tidak tertentu.
2. Kesepakatan kerja Waktu Tertentu (KKWT) adalah suatu hubungan kerja yang
ditentukan oleh waktu tertentu dan disepakati oleh pihak karyawan maupun
pihak pengusaha. (Permen No.02/1993)
3. Kesepakatan Kerja Waktu Tertentu mengikat kepada setiap karyawan KKWT,
dibuat secara tertulis dan bermeterai Rp. 6.000 dan disepakati oleh kedua
belah pihak.
4. Sesuai dengan kebutuhan serta memperhatikan prosedur yang ditetapkan
oleh perusahaan maka pekerja KKWT dapat diangkat menjadi Karyawan
Tetap.

Pasal 7
MASA PERCOBAAN

1. Calon yang diterima dengan status karyawan tetap, maka diwajibkan


mengikuti masa percobaan maksimal selama 3 (tiga) bulan, terhitung mulai tanggal
masuk kerja, masa percobaan tersebut hanya berlaku 1 (satu) kali dan tidak dapat
diperpanjang.
2. Selama dalam masa percobaan, pengusaha berhak memutuskan hubungan
kerja sewaktu-waktu, serta pihak karyawan tidak berhak menuntut
pesangon/ganti rugi berupa apapun kepada Perusahaan kecuali gaji yang
belum dibayarkan sampai saat tanggal hubungan kerja tersebut berakhir.
3. Selama masa percobaan masing-masing pihak dapat memutuskan hubungan
kerja tanpa syarat.
4. Karyawan/ti yang masih dalam masa percobaan belum berhak atas THR
maupun Jaminan sosial (pengobatan, perawatan RS, sumbangan kelahiran,
dsb) yang berlaku di dalam perusahaan.
5. Bilamana masa percobaan berakhir tetapi dari pihak Pengusaha tidak ada
pemberitahuan kepada yang bersangkutan tentang berakhirnya hubungan
kerja, maka secara otomatis calon karyawan yang bersangkutan dianggap
sebagai karyawan tetap menurut status penggolongannya.
6. Calon karyawan setelah dinyatakan lulus dari masa percobaan akan diangkat
menjadi karyawan tetap dengan surat keputusan, sehingga 3 (tiga) bulan
masa percobaan yang telah dijalani tersebut dihitung sebagai masa kerja serta
penyesuaian hak dan kewajibannya berlaku sejak tanggal surat keputusan
ditetapkan.

Pasal 8
HARI KERJA DAN JAM KERJA

1. Dengan memperhatikan ketentuan perundangan yang berlaku, hari kerja di


Perusahaan adalah 5 (lima) hari kerja seminggu. Pengusaha mempunyai hak
sepenuhnya untuk merubah hari kerja menjadi 6 (enam) hari kerja seminggu,
dengan mempertimbangkan kondisi dan efisiensi Perusahaan.
2. Jam kerja yang di berlakukan di dalam Perusahaan adalah 8 (delapan) jam
sehari yaitu mulai dari Jam 08.30 17.30.
3. Waktu Istirahat untuk hari Senin s/d Jumat adalah 1 (satu) Jam.
4. Untuk pekerja yang sifat pekerjaannya tidak dapat ditinggalkan, maka waktu
istirahat makannya diatur secara bergiliran/bergantian. Waktu istirahat dapat
diatur untuk disesuaikan dengan kebutuhan menurut situasi dan kondisi
perusahaan pada waktu tersebut.
5. Tidak masuk karena sakit selama 2 (dua) hari berturut-turut, harus
memberitahukan pada hari karyawan/ti berhalangan dan setelah masuk
kembali harus di lengkapi dengan surat keterangan dokter. Tanpa keterangan
resmi tersebut yang bersangkutan dianggap mangkir dan akan di perhitungkan
dengan cuti tahunan.
6. Absen selama 5 (lima) hari berturut-turut tanpa pemberitahuan resmi
dianggap Karyawan/ti tersebut telah mengundurkan diri atas kemauan sendiri
dengan tidak hormat.

Pasal 9
CUTI TAHUNAN

1 Karyawan yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan berturut-
turut terhitung sejak saat masa percobaan maka yang bersangkutan berhak
atas hak cuti tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja dengan mendapat gaji
penuh.
2 Hak atas cuti tahunan dinyatakan gugur termasuk cuti massal yang ditentukan
oleh Pemerintah , bilamana dalam batas waktu yang ditetapkan setelah
lahirnya hak atas cuti , pekerja tersebut tidak menggunakannya, kecuali atas
permintaan dari Pengusaha untuk menundanya.
3 Untuk memudahkan perhitungan cuti tahunan setiap tahun berjalan selalu
ditutup pada tanggal 31 Desember tahun berjalan, dan batas pengambilan
hak cuti tahunan dinyatakan berakhir setiap tanggal 31 Januari tahun
berikutnya.
4 Setiap karyawan yang akan mengambil hak cutinya, terlebih dahulu
mengajukan permohonan secara tertulis sesuai dengan prosedur yang
berlaku selambat-lambatnya 1 (satu) minggu sebelum istirahat cuti di mulai
dengan persetujuan PM/CoPM dengan sepengetahuan kantor pusat.
5 Pengusaha dapat memanggil untuk bekerja kembali kepada karyawan yang
sementara dalam istirahat cuti, bilamana ada suatu pekerjaan yang sifatnya
penting dan hak cutinya tersebut digantikan dengan hari kerja lainnya.
6 Karyawan yang tanpa ijin sebelumnya dari Pengusaha memperpanjang waktu
istirahat cuti, maka tidak masuk kerjanya tersebut dianggap Mangkir/Alpa,
kecuali karyawan tersebut dapat memberikan alasan-alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan dengan memperlihatkan bukti-bukti yang sah.
7 Untuk karyawan yang cutinya melebihi dari hak cutinya, maka pada saat batas
akhir cuti kelebihan (hutang) cutinya akan diperhitungkan sesuai dengan
prosedur yang berlaku di Perusahaan. Demikian pula sebaliknya bilamana
batas akhir cuti terdapat sisa cuti karena kepentingan perusahaan., bbisa
ditambahkan ke tahun berikutnya.

Pasal 10
CUTI MELAHIRKAN / KEGUGURAN KANDUNGAN

1 Bagi karyawan wanita yang akan melahirkan berhak diberi istirahat selama 3
(tiga) bulan dengan gaji penuh. Dapat diambil 1 (satu) bulan sebelum anaknya
itu menurut perhitungan akan dilahirkan dan 2(dua) bulan sesudah
melahirkan.
2 Karyawan wanita yang hendak menggunakan hak cuti melahirkan tersebut
diatas wajib mengajukan surat permohonan selambat-lambatnya 10 (sepuluh)
hari sebelum istirahat cuti dimulai, disertai dengan surat keterangan
dokter/bidan yang merawat.
3 Bagi karyawan/ti yang mengalami keguguran kandungan, dianggap sebagai
cuti sakit dan harus dilengkapi dengan surat keterangan dokter dengan Hak
Cuti 2 (dua) minggu setelah keguguran.

Pasal 11
TUNJANGAN HARI RAYA

Pengusaha akan memberikan tunjangan hari raya kepada karyawan tetap sesuai
dengan agamanya masing-masing, yaitu selambat-lambatnya 1 (satu) minggu
sebelum hari raya Idul Fitri bagi pekerja yang beragama Islam dan hari raya Natal
bagi yang beragama Kristen/Katolik dan agama lainnya sesuai dengan pedoman
UU . Kketenagaan Kkerja RI No.13 Tahun 2003, Besarnya Ttunjangan Hhari
Rraya , yaitu :
1. Karyawan yang mempunyai masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih diberikan
minimal 1 (satu) bulan gaji.
2. Karyawan yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun akan
diperhitungkan sesuai dengan masa kerjanya, yaitu :
- .Kurang dari 3 (tiga) bulan masa percobaan tidak diberikan.
- .Lebih dari 3 (tiga) bulan kurang dari 1 (satu) tahun adalah dihitung secara
proporsional yaitu :
Masa Kerja X 1/12 X Gaji (Upah Sebulan)
(Masa Kerja dikalikan dengan satu dibagi dua belas kemudian dikalikan
Gaji.)
Pasal 12
JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA (JAMSOSTEK) DAN ASURANSI
KESEHATAN

1. Sesuai dengan UU Ketenagaan Kerja RI No.13 Tahun 2003 maka Pengusaha


mengikut sertakan karyawannya pada program Jamsostek pada PT.Jamsostek
(Persero)
2. Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu bentuk perlindungan bagi tenaga
kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari
penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat
peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan
kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia.
3. Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) sebagaimana dimaksud
dalam pemerintah ini, terdiri dari :
Paket Jamsostek yang diikuti oleh Pengusaha meliputi :
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) ditanggung oleh Perusahaan.
Jaminan Kematian (JKM) ditanggung oleh Perusahaan.
Jaminan Hari Tua (JHT) dengan perincian sebesar 2(dua) %
ditanggung oleh karyawan dan 3,7 % ditanggung oleh Perusahaan

B) Setiap Karyawan diwajibkan mengikuti petunjuk dan prosedur yang telah


ditetapkan oleh PT.Jamsostek dan apabila diluar ketentuan yang telah
ditetapkan tersebut, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang
bersangkutan.
Penjelasan mengenai Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) yang lebih
terperinci diatur dalam ketentuan yang dikeluarkan oleh PT.Jamsostek.

4.
Setiap karyawan tetap akan mendapatkan fasilitas Asuransi Kesehatan ( Rawat
Inap) dari sesuai dengan perusahaan Asuransi yang ditunjuk oleh Perusahaan.
Dari Perusahaan.

PASAL 13
IJIN MENINGGALKAN PEKERJAAN DENGAN MENDAPAT
UPAH PENUH

1. Pekerja dapat diberi ijin meninggalkan tempat pekerjaan dengan mendapat


upah penuh untuk kepentingan sendiri, dalam hal sebagai berikut :
Pernikahan karyawan/ti 3 (tiga) Hari
Pernikahan perta anak karyawan/ti.. 2 (dua) Hari
Isteri Pekerja melahirkan . 2 (dua) Hari
Suami/Isteri/Anak/Orang Tua yang sah meninggal dunia 2 (dua) Hari
Mertua pekerja yang sah meninggal dunia .. 2 (dua) Hari
Saudara sekandung meninggal dunia 2 (dua) Hari
Khitanan/Pembaptisan Anak 1 (satu) Hari
Menjaga Isteri/Suami/Anak sakit keras di RS 2 (dua) Hari
Korban penggusuran/kebakaran/kebanjiran/bencana alam 2 (dua) Hari

Pasal 14
TATA TERTIB KERJA

1. 1. Kewajiban umum dan tanggung jawab karyawan :


Setiap karyawan wajib mematuhi Peraturan Perusahaan dan Peraturan
Project serta ketentuan yang berlaku di dalam lingkungan perusahaan dan
wajib melaksanakan tugas pekerjaannya dengan penuh kesadaran ,
kejujuran, dan tanggung jawab .
Setiap karyawan wajib mengutamakan tugasnya daripada kepentingan
pribadi dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-
baiknya.
Saling menghormati dan menghargai sesama teman kerja, Pimpinan ,
keluarga teman kerja , keluarga pimpinan atau orang lain.
Setiap karyawan wajib menyimpan dan menjaga rahasia jabatan dan
rahasia perusahaan .
Setiap karyawan wajib menjaga kerapihan berpakaian, kerapihan
rambut dan kesopanan di tempat kerja.
Setiap karyawan wajib melaporkan kepada atasannya bila diperkirakan
terdapat gejala-gejala, kejadian-kejadian , bahaya-bahaya yang
mengancam dan atau dapat menimbulkan kerugian perusahaan.
Setiap karyawan wajib mematuhi tugas dan wewenang yang telah
diberikan oleh perusahaan.

2. Ketertiban dan Keamanan :


Karyawan yang didatangi seseorang untuk meminta keterangan mengenai
perusahaan dan kegiatannya harus sepengetahuan dan seijin pihak
perusahaan. Tanpa sepengetahuan pihak perusahaan tidak seorang
karyawanpun diperkenankan memberikan keterangan kepada anggota
pers/wartawan yang manapun juga yang menyangkut hal-hal seperti
kecelakaan, kejadian-kejadian yang menyangkut kekayaan atau mengenai
proses kerja, keterangan customer base, keuangan , statistik dan lain-lain.
Karyawan tidak diperkenankan menyalin, memperbanyak rahasia-rahasia
perusahaan(properti Intelektual ) tanpa ijin yang sah dari Perusahaan.
Karyawan dilarang melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan
hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Karyawan selama jam kerja dilarang mempergunakan waktu dan fasilitas
kantor untuk kepentingan pribadi atau bekerja ganda.

Pasal 15
MACAM-MACAM SANKSI INDISIPLINER TERHADAP
KESALAHAN DAN PELANGGARAN PERATURAN PERUSAHAAN

1. Karyawan yang melanggar Peraturan Perusahaan ini dapat dikenakan sanksi-


sanksi Indisipliner sebagai berikut :
Peringatan lisan / teguran.
Peringatan tertulis.
Sanksi Administratif berupa pelepasan jabatan, penundaan
kenaikan gaji, atau pencabutan fasilitas-fasilitas tertentu termasuk
demosi(penurunan jabatan)
Sanksi ganti rugi (denda)
Pemberhentian Sementara (Skorsing)
Pemutusan Hubungan Kerja sesuai prosedur perundang-undangan
yang berlaku
2. 15.2. Peringatan tertulis terdiri dari 3 (tiga) tingkatan , yaitu :
Surat Peringatan Pertama.
Surat Peringatan Kedua
Surat Peringatan Ketiga

3. Sanksi
4. 15.3. Sanksi-sanksi indisipliner tersebut, diberikan tidak perlu sesuai dengan
tingkatannya, tetapi
5. tingkatannya, tetapi diberikan sesuai dengan nilai berat ringannya kesalahan
atau jenis pelanggaran

Pasal 16
JANGKA WAKTU BERLAKU SURAT PERINGATAN
1. Jangka waktu berlakunya surat peringatan, yaitu :
16.1. Jangka waktu berlakunya surat peringatan , yaitu :
Surat Peringatan Pertama paling lama 6 ( enam ) bulan
Surat Peringatan Pertama paling lama 6(enam) bulan
Surat Peringatan Kedua paling lama 6 ( enam ) bulan.
Surat Peringatan Ketiga paling lama 6 ( enam ) bulan.
Berlakunya surat peringatan adalah sejak surat peringatan tersebut
diterbitkan.

2. Dengan turunnya surat peringatan yang lebih tinggi, maka surat peringatan
yang diterima sebelumnya dinyatakan tidak berlaku.
3. Apabila dalam jangka waktu masa berlakunya surat peringatan yang diberikan
pekerja yang bersangkutan tidak melakukan kesalahan/pelanggaran lagi ,
maka surat peringatan dianggap gugur tetapi dicatat dalam kondite kerja
4. Sebaiknya apabila dalam jangka waktu berlakunya surat peringatan tersebut,
karyawan yang bersangkutan masih melakukan kesalahan/pelanggaran, maka
kepadanay dapat diberikan surat peringatan yang lebih tinggi tingkatannya
atau sanksi indisipliner lainnya
5. Karyawan yang dalam masa berlakunya surat peringatan ketiga melakukan
kesalahan/pelanggaran, maka kepadanya dapat dilakukan pemutusan
hubungan kerja (PHK)
6. Pemberian surat peringatan harus disertai dengan tanda terima surat dan
apabila karyawan tidak mau menandatangani tanda terima surat peringatan,
maka sanksi surat peringatan tetap dianggap sah dan berlaku sejak tanggal
ditetapkan.
7.
8. 16.2. Dengan turunnya surat peringatan yang lebih tinggi, maka surat
peringatan yang
diterima sebelumnya dinyatakan tidak berlaku.
16.3. Apabila dalam jangka waktu masa berlakunya surat peringatan yang diberikan
,
pekerja yang bersangkutan tidak melakukan kesalahan/pelanggaran lagi , maka
surat peringatan dianggap gugur tetapi dicatat dalam kartu kondite pekerja
16.4 Sebaiknya apabila dalam jangka waktu berlakunya surat peringatan tersebut,
karyawan yang bersangkutan masih melakukan kesalahan/pelanggaran,maka
kepadanya dapat diberikan surat peringatan yang lebih tinggi tingkatannya
atau
sanksi indisipliner lainnya.
16.5. Karyawan yang dalam masa berlakunya surat peringatan ketiga melakukan
kesalahan/pelanggaran, maka kepadanya dapat dilakukan pemutusan
hubungan
kerja (PHK)
16.6. Pemberian surat peringatan harus disertai dengan tanda terima surat dan
apabila
karyawan tidak mau menandatangani tanda terima surat peringatan , maka
sanksi
surat peringatan tetap dianggap sah dan berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Pasal 17
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

1. 17.1 Tata cara atau prosedur pemutusan hubungan kerja dengan pekerja
memperhatikan ketentuan Undang-Undang Ketenaga kerjaan RI No. 13
tahun 2003

2. 17.2.Hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawan putus karena :


Berakhirnya hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu
sebagaimana dimaksudkan dalam perjanjian kerja jangka waktu tertentu.
Karyawan mengajukan permintaan mengundurkan diri secara tertulis
atas kemauan sendiri tanpa mengajukan syarat.
Karyawan meninggal dunia
Karyawan yang tidak cakap dalam melaksanakan pekerjaan walau
telah dicoba dimana-mana.
Karyawan yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan karena melakukan
tindak pidana.
Karyawan yang sakit setelah 12 (duabelas) bulan ( dalam kurun waktu
2 tahun)dan masih belum dapat menjalankan tugas pekerjaannya
berdasarkan keterangan dokter yang merawat.
Karyawan dianggap tidak sanggup bekerja lagi karena kelainan jiwa.
Karyawan yang mangkir 5 (lima) hari berturut-turut.
Karyawan yang tidak mengindahkan peringatan terakhir.
Karyawan yang telah mencapai usia pensiun yaitu : 55 tahun.
Karyawan wajib melunasi dan menyelesaikan kewajibannya
terhadapPerusahaan
3. Karyawan wajib melunasi dan menyelesaikan seluruh kewajibannya terhadap
perusahaan
Pasal 18
PERATURAN OPERASIONAL PROYEK

Karyawan wajib untuk mematuhi Peraturan operasional Proyek yang telah


ditetapkan Perusahaan yang dibuat terpisah dari Peraturan Perusahaan.

Disahkan di Jakarta
Pada tanggal 2108 Januari 2009

Tan Gwan An
Direktur Utama

Mengetahui :

Harlin Setadarma Yoce Gunawan Hardian Helmi

David Wirjanto Rully Winangun Maria Ongky


Saputra
Leonard Alvin

Anda mungkin juga menyukai