Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari fenomena hidup parasitis atau fenomena

keparasitan. Parasitologi merupakan suatu ilmu cabang Biologi yang mempelajari tentang

semua organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini terbatas

mempelajari organisme parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi protozoa, helminthes,

arthropoda, dan insekta parasit baik yang zoonosis maupun anthroponosis. Cakupan

parasitologi meliputi taksonomi, morfologi, siklus hidup masing-masing parasit, serta

patologi dan epidemiologi penyakit yang ditimbulkannya. Salah satu cabang ilmunya yaitu

entomologi.

Secara terbatas, entomologi merupakan salah satu cabang ilmu Biologi yang

mempelajari tentang serangga (insecta). Istilah ini berasal dari dua perkataan Latin yaitu

entomon yang bermakna serangga dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Akan tetapi, arti

ini sering kali diperluas untuk mencakup ilmu yang mempelajari Arthropoda (hewan beruas-

ruas) lainnya, khususnya laba-laba dan kerabatnya (Arachnida atau Arachnoidea), serta

luwing dan kerabatnya (Millepoda dan Centipoda). Dimasukkannya Arthropoda lain sebagai

bagian yang dibahas pada bagian entomologi karena ada hubungan evolusioner/filogenetis

dalam konteks pembahasan taksomis dengan serangga. Selain itu dalam konteks fungsional

Arthropoda lain berperan sebagai pemangsa dan pesaing bagi serangga.

Sebagai disiplin ilmu yang sudah berkembang pesat entomologi kini dapat dibagi

menjadi dua cabang ilmu yaitu Entomologi Dasar dan Entomologi Terapan. Entomologi dasar

dibagi lagi menjadi sub-cabang ilmu yang lebih khusus antara lain morfologi serangga,

anatomi dan fisiologi serangga, perilaku (behavior) serangga, ekologi serangga, patologi

serangga, dan taksonomi serangga. Sedangkan entomologi terapan kini telah terspesialisasi

1
kedalam sub-sub disiplin yang lebih khusus yaitu entomologi forensik, entomologi

kedokteran (medical entomology), entomologi peternakan (veterinary entomology),

entomologi perkotaan (urban entomology), entomologi kehutanan (forest entomology), dan

entomologi pertanian (agricultural entomology).

Ilmu yang memfokuskan kajian pada golongan serangga dan arthropoda penggangu

manusia baik yang langsung (penyengat/menggigit mangsa seperti tawon, lebah, kutu dan

serangga berbisa lainnya), maupun yang tidak lansung (vektor penyakit seperti lalat, nyamuk,

kecoak, pinjal/kutu) merupakan entomologi kedokteran (medical entomology).

Arthropoda (arthros = sendi atau ruas dan podos = kaki) adalah hewan yang memiliki

kaki bersendi/beruas-ruas. Arthropoda merupakan filum terbesar dari kingdom animalia.

Jumlah spesiesnya lebih banyak dari filum-filum lainnya. Arthropoda dapat ditemukan di

berbagai habitat, antara lain di air, di darat, di dalam tanah dan ada juga yang hidup sebagai

parasit pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Arthropoda dapat menyebabkan gangguan-gangguan kesehatan pada manusia melalui

berbagai cara. Oleh sebab itu, hal ini menjadikannya penting untuk dipelajari sehingga

manusia mampu mengatasi akibat-akibat yang ditimbulkan oleh arthropoda serta dapat

meminimalkan kemungkinan yang dapat menganggu serta merugikan manusia.

Arthropoda dapat berperan sebagai vektor penyakit, menimbulkan penyakit, dan dapat

pula menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada manusia baik melalui kontak langsung,

sengatan, maupun gigitan.

Gigitan arthropoda dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan menyebabkan

kematian karena toksin yang dikandungnya dan dikeluarkan sewaktu menggigit manusia.

Untuk itu manusia perlu mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh gigitan arthropoda

serta langkah-langkah untuk menghindari kemungkinan terburuk akibat gigitan arthropoda

tersebut.

2
1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Arthropoda?

2. Bagaimana pembagian kelas filum Arthropoda?

3. Bagaimana gangguan kesehatan akibat Arthropoda?

4. Bagaimana gangguan kesehatan yang muncul akibat gigitan Arthropoda serta gejala

klinis dan pengobatannya?

1.3. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian Arthropoda.

2. Untuk mengetahui pembagian kelas filum Arthropoda.

3. Untuk mengetahui gangguan kesehatan akibat Arthropoda.

4. Untuk mengetahui gangguan kesehatan yang muncul akibat gigitan Arthropoda serta

gejala klinis dan pengobatannya.

1.4. Manfaat Penulisan

Bagi Penulis, sebagai salah satu sarana untuk melatih kemampuan dalam

menganalisis berdasarkan data dan fakta yang tersedia tentang filum arthropoda

khususnya tentang gangguan kesehatan akibat gigitan arthropoda.

Bagi Pembaca, makalah ini dapat dijadikan sumber acuan dalam penulisan makalah-

makalah selanjutnya mengenai kajian filum arthropoda khususnya gangguan

kesehatan akibat gigitan arthropoda.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Arthropoda

Arthropoda adalah hewan triploblastik, selomata (tubuh dan kaki beruas-ruas) dan

bilateral simetris. Tubuhnya terdiri atas kepala, dada, dan abdomen yang keseluruhannya

dibungkus oleh zat kitin dan merupakan kerangka luar (eksoskeleton). Biasanya diantara

ruas-ruas terdapat bagian yang tidak berkitin sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan.

Pada waktu tertentu kulit dan tubuh arthropoda dapat mengalami pergantian kulit (eksdisis).

Arthropoda memiliki sistim pencernaan yang sempurna (memiliki anus). Mulut

dilengkapi dengan rahang. Sistim peredaran darahnya terbuka dan darahnya berwarna biru

karena mengandung hemosianin (bukan hemoglobin). Sistem pernapasannya ada yang berupa

trakea, insang, paru-paru buku, atau melalui seluruh permukaan tubuhnya. Organ ekskresinya

berupa tubulus malphigi yang bermuara pada usus belakang. Reproduksi dilakukan dengan

perkawinan, tetapi ada juga beberapa hewan yang melakukan parthenogenesis.

Partenogenesis adalah proses perkembangan embrio dari telur yang tidak dibuahi. Jenis

kelaminnya terpisah (gonokori). Artinya ada hewan jantan ada hewan betina. Sistem sarafnya

adalah sistem saraf tangga tali.

Arthropoda memiliki empat kelas, yaitu sebagai berikut.

1. Kelas Myriapoda (golongan luwing)

2. Kelas Crustacea (golongan udang)

3. Kelas Arachnida (golongan kalajengking dan laba-laba)

4. Kelas Insecta (serangga)

Arthropoda dalam dunia hewan merupakan filum yang terbesar di dunia. Empat dari

lima bagian spesies hewan adalah arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta spesies modern

4
yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian. Jumlah spesiesnya yaitu

sekitar 900.000 spesies dengan beragam variasi. Jumlah ini kira-kira 80% dari spesies hewan

yang diketahui sekarang. Arthropoda dapat hidup di air tawar, laut, tanah, dan praktis semua

permukaan bumi dipenuhi oleh spesies ini. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan

Annelida, contohnya adalah Peripetus di Afrika Selatan.

Arthropoda mungkin satu-satunya yang dapat hidup di Antartika dan liang-liang batu

terjal di pegunungan yang tinggi. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan

kerangka luar yang tersusun dari kitin. Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel

terdiri dari sejumlah ruangan kecil yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi

dorsal dari tubuhnya.

Beberapa jenis arthropoda dapat bersifat sebagai parasit, vektor penyakit, dan dapat

menyebabkan penyakit ataupun gangguan kesehatan pada manusia. Gangguan kesehatan

yang disebabkan oleh arthropoda diantaranya dapat melalui kontak, sengatan, dan gigitan.

Secara umum ciri-ciri filum arthropoda adalah sebagai berikut.

a. Tubuh beruas-ruas yang terbagi atas kepala (caput), dada (thoraks), dan badan belakang

(abdomen). Beberapa diantaranya ada yang memiliki kepala dan dada yang bersatu

(cephalothoraks).

b. Memiliki 3 lapisan (triploblastik) yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm dengan

rongga tubuh.

c. Bentuk tubuh simetris bilateral.

d. Bagian tubuh terbungkus oleh eksoskelet yang mengandung khitin.

e. Alat pencernaan makanan lengkap terdiri atas mulut, kerongkongan usus, dan anus.

f. Sistem reproduksi terpisah, artinya ada hewan jantan dan ada hewan betina. Reproduksi

terjadi secara seksual dan aseksual (partenogenesis dan paedogenesis).

5
g. Memiliki sistem peredaran darah terbuka (sistem lakuner) dan alat peredarannya berupa

jantung dan pembuluh-pembuluh darah terbuka .

h. Sistem syaraf terdiri dari ganglion anterior yang merupakan otak terletak di atas saluran

pencernaan, sepasang syaraf yang menghubungkan otak dengan syaraf sebelah ventral,

serta pasangan-pasangan ganglion ventral yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh

urat syaraf ventral, berjalan sepanjang tubuh dari depan ke belakang di bawah saluran

pencernaan.

i. Sistem eksresinya berupa saluran-saluran malphigi

j. Alat pernapasan berupa trakea, insang, dan paru-paru yang merupakan lembaran (paru-

paru buku)

k. Sifat hidup ada yang parasit, heterotropik, dan hidup secara bebas

l. Hidupnya di darat, air tawar, dan laut.

Secara morfologi Arthropoda dicirikan dengan badan yang beruas biasanya mencapai

lebih dari 21 ruas, yang tiap ruasnya mempunyai sepasang anggota badan (appendages)

namun sepasang anggota badan ini ada yang mereduksi atau berubah bentuk dan fungsi

sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Ciri penting lain adalah kelompok arthropoda tidak mempunyai struktur tulang di

dalam tubuhnya. Arthropoda mempunyai struktur dinding badan keras yang menutupi tubuh

bagian luar untuk melindungi bagian dalam tubuh yang biasanya disebut eksosekeleton.

Bagian paling luar mempunyai struktur yang paling keras dan diperkuat oleh khitin.

Meskipun keras namun strukutur ini masih memungkinkan pergerakan di tiap ruas.

Adapun sistem organ dalam tubuh arthropoda antara lain yaitu sebagai berikut.

Sistem organ Keterangan


Sistem Alat pencernaan makanan lengkap terdiri dari mulut, kerongkongan,

pencernaan usus, dan anus. Mulut dilengkapi alat-alat mulut. Anus terdapat pada

makanan segmen posterior.

6
Sistem ekskresi Ekskresi dengan kelenjar hijau atau dengan pembuluh malpigih
Reproduksi secara seksual dan aseksual (partenogenesis dan
Sistem
paedogenesis). Sistem reproduksi pada arthropoda terpisah, artinya ada
reproduksi
hewan jantan dan ada hewan betina.
Sistem saraf Sistem saraf berupa tangga tali dan alat peraba berupa antena.

2.2. Pembagian Kelas Filum Arthropoda

Kelas
Kelas Kelas Kelas Kelas
Diplopoda
Crustacea Insekta Arachneida Chilopoda
(kaki
(udang-udangan) (serangga) (laba-laba) (kelabang)
seribu)
Kepala (5 Kepala dan
kepala dan
ruas), dada Kepala, badan yang
Susunan Kepala, dada, badan yang
(8 ruas), dan dada, dan memanjang
Tubuh dan perut. bentuknya
perut (6 perut. agak
silindris.
ruas) . gepeng
Antena 2 pasang sepasang Tak ada Sepasang sepasang
Sepasang
pada setiap
2 pasang
ruas untuk 4 pasang kaki Sepasang
Anggota 3 pasang kaki pada
berbagai pada kaki pada
Tubuh Kaki setiap ruas
fungsi, 5 sefalotoraks setiap ruas
tubuh
pasang kaki
pada dada
Sayap Tak ada Ada Tak ada Tak ada Tak ada
Insang atau
Alat Paru-paru
permukaan Trakea Trakea Trakea
Respirasi buku
tubuh
Habitat Air Darat Darat Darat Darat

Adapun perbedaan kenampakan morfologi lima kelas utama Arthropoda antara lain :

Perbedaan Crustacea Insecta Arachnida Diplopoda Chilopoda

7
Pembagian Cepahalotorax Kepala, thorax Cepahalotorax Kepala dan Kepala dan
badan dan abdomen dan abdomen dan abdomen badan badan

Bentuk
Bervariasi Bersvariasi Pipih Globular Pipih
badan

Kaki Banyak Tiga pasang Empat pasang Banyak Banyak

Antena 2 pasang Sepasang Tidak ada Sepasang Sepasang


Chelicera dan
Alat mulut Mandibula Mandibula Mandibula Mandibula
pedipalpus
Kebanyakan di
laut dan air
Habitat Teristerial Teristerial Teristerial Teristerial
tawar, jarang
terrestrial

2.3. Gangguan Kesehatan Akibat Arthropoda

Arthropoda dapat menyebabkan gangguan kesehatan melalui berbagai cara,

diantaranya yaitu melalui kontak, sengatan, dan gigitan. Gangguan kesehatan melalui kontak

terjadi akibat kontak langsung dengan serangga yang mengandung racun. Sengatan dari

serangga yang tertinggal dalam tubuh manusia dan mengandung racun juga dapat

menyebabkan gangguan kesehatan. Cara lain arthropoda menyebabkan gangguan kesehatan

yaitu melalui gigitan-gigitan serangga yang mengandung racun. Jenis-jenis Arthropoda

tersebut yaitu sebagai berikut.

a. Gangguan kesehatan akibat kontak

- Alergi yang disebabkan kupu-kupu

- Alergi yang disebabkan tungau debu (Dermatophagoides pteronyssinus)

8
- Alergi yang disebabkan oleh kumbang (Lyttavesicatoria / kumbang meksiko dan

Paederus sabaeus / kumbang Indonesia)

b. Gangguan kesehatan akibat sengatan

- Lebah

- Kalajengking

c. Gangguan kesehatan akibat gigitan

- Kelabang

- Laba-laba

- Semut api (Solenopsis geminata)

- Kutu busuk (Cimex)

- Sengkenit (Ticks)

2.4. Gangguan Kesehatan Akibat Gigitan Arthropoda

Gigitan arthropoda dapat membahayakan kesehatan pada manusia. Hal ini disebabkan

karena racun yang ada pada arthropoda tersebut. Beberapa jenis arthropoda yang dapat

menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia melalui gigitannya yaitu sebagai berikut.

a. Kelabang

Kelabang atau centipede termasuk kelas Chilopoda. Metamorfosisnya tidak

sempurna. Kelabang berukuran 2 25 cm. Tubuhnya memanjang dan pipih dorsoventral,

terdiri atas kepala dan badan yang beruas-ruas. Tiap ruas badan terdapat satu pasang

9
kaki. Di kepala terdapat satu pasang antena. Pada ruas pertama badan terdapat sepasang

kuku beracun (poison claw) yang berhubungan dengan kelenjar racun. Tempat hidupnya

di bawah batu dan dibawah kayu. Makananya berupa insekta dan berupa binatang kecil

lainnya.

Patologi dan gejala klinis

Gigitan kelabang dapat menimbulkan rasa nyeri dan eritema karena toksin yang

keluar melalui kuku beracun. Toksin kelabang mengandung antikoagulan dan 5-

hidroksi triptamin. Genus Scolopendra yang terdapat di daerah tropik dan subtropik

dapat menyebabkan rasa nyeri, perdarahan, dan nekrosis. Kematian akibat gigitan

kelabang belum pernah dilaporkan.

Pengobatan

10
Proksimal dari tempat gigitan dipasang torniquet. Dapat diberikan obat-obat

golongan barbiturate, kortikosteroid, dan antihistamin. Pemberian anti racun sangat

bermanfaat.

Pengobatan tradisional

Berikut adalah beberapa cara tradisional yang dapat dilalukan setelah mencuci

tangan dengan air bersih dan antiseptik.

- Oleskan minyak tawon pada daerah gigitan, hangat hangatnya minyak dapat

mengurangi rasa nyeri yang terjadi. Minumlah air kelapa sebagai penawar racun

kelabang.

- Orang Banjar mengatasi digigit kelabang dengan menggunakan otak dari hewan

itu sendiri. Caranya ambillah bagian otak lalu tumbuk sampai halus. Oleskan

ramuan tersebut pada bagian yang tergigit.

- Cara lain adalah dengan memanfaatkan biji asam jawa, kumpulkan biji lalu

tumbuk sampai menjadi serbuk dan buang kulit biji. Lalu taburkan pada daerah

yang digigit kelabang.

b. Laba-Laba

11
Laba-laba termasuk ordo Aranea. Tubuhnya terdiri atas sefalotoraks dan

abdomen. Di sefalotoraks terdapat kelenjar toksin. Toksin dikeluarkan melalui mulut.

Laba-laba bertelur dalam jumlah yang besar yang dibungkus dalam kokon.

Metamorfhosis tidak sempurna. Laba-laba jantan pada umumnya mati setelah kopulasi.

Makananya insekta dan binatang kecil lainnya yang ditangkap dengan sarangnya dan

dibunuh dengan toksinnya. Meskipun pada umumnya laba-laba mengandung racun untuk

membunuh mangsanya, hanya beberapa spesies yang berbahaya bagi manusia. Gigitan

laba-laba menyebabkan kelainan yang disebut araknidisme. Menurut sifat toksinnya

dapat terjadi araknidisme nekrotik dan araknidisme sistemik.

Contoh dari laba-laba yang mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia

akibat gigitannya yaitu Latrodectus mactans, Loxosceles laeta, dan Tarantula.

1. Lactrodectus mactans

Latrodectus mactans (laba-laba janda hitam = black widow spider) yang

betina berukuran 13 mm, berwarna hitam dan mempunyai gambaran hour glass

merah pada bagian ventral abdomen, sedangkan yang jantan berukuran 6 mm,

mempunyai garis median merah dan 3 garis transversal putih pada bagian dorsal

abdomennya. Biasanya laba-laba jantan dibunuh oleh laba-laba betina setelah

kopulasi.

Patologi dan Gejala Klinis

Racun Lactrodectus mactans bersifat neurotoksik terhadap syaraf perifer.

Pada tempat gigitan timbul benjolan merah biru, dikelilingi lingkaran putih.

Gigitan laba-laba menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Rasa nyeri menjalar ke

dada dan perut dan timbul gejala seperti abdomen akut. Mungkin timbul syok

dan paralisis pernapasan yang dapat mnyebabkan kematian penderita dalam

waktu 18-36 jam. Dapat juga terjadi gangguan kejiwaan.

12
Pengobatan

Daerah gigitan dikompres dengan es. Obat-obatan jenis Opioid dan

benzodiazepin dapat diberikan. Pemberian parenteral opioid dan anti racun

sangat efektif terutama untuk anak-anak, usia lanjut, reaksi hipertensi, dan acut

respiratory distress.

Pengobatan Alamiah

Pengobatan secara alami tidak dianjurkan karena toksin dan akibat yang

ditimbulkan gigitan laba-laba ini sangat berbahaya. Serangan dari gigitan

beracun tersebut harus ditanggulangi secara medis.

13
2. Loxosceles laeta

Laba-laba ini bentuknya kecil, berukuran 8 15 mm, berwarna kuning sampai

tengguli tua. Laba-laba jenis ini ditemukan di Amerika.

Patologi dan Gejala Klinis

Pada umumnya menyebabkan araknidisme nekrotik. Pada tempat gigitan

timbul edema dan rasa nyeri. Bila edema menghilang, timbul nekrosis yang

dimulai dari bagian tengah. Kulit mengelupas dan terjadi ulkus yang besar dan

dalam. Pada keadaan berat mugkin timbul gejala sistemik, terutama pada anak.

Kematian terjadi karena gagal jantung.

Pengobatan

Proksimal dari tempat gigitan dipasang turniket. Dapat diberikan obat-obat

golongan barbiturate, kortikosteroid, dan antihistamin. Pemberian anti racun

sangat bermanfaat.

3. Tarantula

Nama genus tarantula dipakai untuk menyebut setiap jenis laba-laba yang

besar. Salah satu spesies yang terkenal adalah Lycosa tarantula.


14
Patologi dan Gejala Klinis

Meskipun mempunyai muka yang menyeramkan, gigitan tarantula hanya

menyebabkan rasa nyeri setempat dan tidak berbahaya.

Pengobatan

Proksimal dari tempat gigitan dipasang turniket. Dapat diberikan obat-obat

golongan barbiturate, kortikosteroid, dan antihistamin. Pemberian anti racun

sangat bermanfaat.

Pengobatan alami akibat gigitan laba-laba

Laba-laba tidak memakan manusia. Pada umunya laba-laba mengigit kulit

manusia dikarenakan mekanisme pertahanan dan dalam hal medis gigitan tersebut

disebut dengan nama arachnidism. Gejala yang terjadi akibat gigitan laba-laba

meliputi gatal-gatal, kemerahan, peradangan hingga rasa nyeri. Untuk mengatasi

masalah ini, beberapa cara alami mengobati gigitan laba-laba dapat dilakukan. Namun

cara ini tidak termasuk untuk gigitan laba-laba beracun semisal black widow ataupun

brown recluse, yang mana ditandai dengan demam, kejang otot, kekakuan, muntah

dan lain sebagainya. Serangan dari gigitan beracun tersebut harus ditanggulangi

secara medis.

Cara Alami Mengobati Gigitan Laba-Laba

1. Kompres es

Ketika awal digigit, luka harus dibersihkan menggunakan air dan sabun yang

tidak terlalu kuat. Selanjutnya gunakan kompres es di bagian yang terluka.

Nantinya suhu dingin dari kompres akan membantu membuat ujung saraf mati

rasa, sehingga sensasi gatal, pembengkakan serta peradangan dapat dikurangi.

15
Cara membuat kompresnya sangat mudah. Hanya perlu membungkus beberapa es

batu kecil dengan handuk tipis. Selanjutnya tempatkan handuk tersebut di atas luka

dan diamkan selama 10 menit. Lakukan cara ini beberapa kali dalam sehari sesuai

kebutuhan.

2. Baking soda

Zat alkali yang terkandung pada baking soda mampu membantu menarik racun

laba-laba keluar, sehingga dapat meringankan rasa sakit, peradangan serta gatal

pada kulit. Cara ini bisa dilakukan dengan mencampurkan 1 sdt baking soda

dengan 3 sdt air. Setelah itu oleskan ramuan tersebut ke area gigitan menggunakan

bola kapas. Diamkan selama 5 menit, lalu cuci menggunakan air hangat.

3. Garam

Cara alami mengobati gigitan laba-laba selanjutnya adalah dengan

menggunakan garam. Dengan sifat antiseptik dan anti-inflamasi, garam merupakan

bahan yang cocok untuk mengeluarkan racun dari gigitan laba-laba, sehingga

proses pemulihan akan berlangsung lebih cepat. Selain itu, kandungan pada garam

tersebut juga dapat membantu mengurangi gejala dari gigitan, termasuk kemerahan

dan peradangan.

Untuk penggunaannya, bisa dilakukan dengan mencuci dahulu area yang tergigit

hingga bersih menggunakan air hangat. Setelah itu taburkan garam meja ke kain

lap bersih yang basah. Selain menggunakan garam meja, juga bisa menggunakan

garam laut. Selanjutnya gunakan kain tersebut untuk dijadikan perban. Diamkan

selama beberapa jam, lalu lepaskan kain.

4. Kentang

16
Kentang bisa dipakai untuk membantu mempercepat proses penyembuhan,

sekaligus juga menenangkan. Hal ini dikarenakan sifat anti-iritasi yang terdapat

pada kentang sangat bermanfaat untuk menghilangkan peradangan dan rasa gatal.

Caranya dengan mengupas 1 buah kentang besar, lalu mencucinya. Setelah itu

belah kentang menjadi 2 bagian. Lanjutkan dengan membersihkan luka gigitan

menggunakan alkohol. Jika sudah, letakkan tapal kentang ke area yang sakit. Lalu

diamkan hingga kering. Agar lebih mempermudah, bisa dilakukan dengan

mengikat kentang menggunakan kain. Setelah kentang menua, area yang sakit

dibersihkan dengan air hangat.

5. Jus lemon

Cara penggunaannya sangatlah mudah. Caranya buat jus dari lemon segar.

Setelah itu terapkan jus tersebut ke area yang sakit menggunakan bola kapas.

Diamkan hingga kering, lalu bilas dengan air hangat.

c. Semut Api (Solenopsis geminata)

Termasuk dalam ordo Hymenoptera dari kelas Insecta.

Patologi dan Gejala Klinis

Jika semut ini menggigit manusia dapat menimbulkan vesikula dan pustule pada

bagian badan yang digigit.

17
Penanganan dan pengobatan

Cara awal penanganan gigitan semut api adalah sebagai berikut:

1. Segera evakuasi korban ke tempat yang aman, terpapar sinar matahari, dan

juga di jauhkan dari lokasi gigitan.

2. Lepaskan semut yang sedang menggigit kulit dengan ranting ataupun kayu dan

benda lainnya.

3. Kemudian cuci pada bekas gigitan dengan air sabun pada bekas, atau bisa

dibersihkan dengan larutan antiseptik.

4. Kemudian kompres bekas gigitas dengan menggunakan es batu, atau jika tidak

ada bisa dengan kain yang dibasahi air dingin.

5. Bisa diberikan salah satu obat-obatan seperti paracetamol/ibuprofen atau

codein sebagai antinyeri, oleskan juga dengan krim metilprednisolone 5%

sebagai pencegah untuk terjadinya peradangan kulit lebih lanjut pada area

gigitan, minum tablet cetirizine untuk menghilangkan gatal.

6. Apabila timbul rasa nyeri yang tak tertahankan, pandangan kabur, terjadi mual

muntah, ada penurunan kesadaran, segera bawa ke pelayanan kesehatan

maupun rumah sakit.

18
d. Kutu Busuk (Cimex)

Cimex hymepterius (Indonesia) dan Cimex lectularius (Eropa) dapat digunakan

sebagai serangga percobaan untuk xenidioagnosis penyakit chagas. Bedbug (Kutu

Busuk) dewasa memiliki tubuh oval, berwarna coklat sampai merah kecoklatan, tak

bersayap dan memiliki tubuh pipih. Bedbug (kutu busuk) betina biasanya memiliki

ukuran tubuh lebih panjang dan lebih lebar dari pada jantan. Ketika belum menghisap

darah ukuran panjang tubuh bedbug adalah 5 9 mm dan memiliki permukaan atas

tubuh berkerut. Dan bila sudah menghisap darah tubuhnya memanjang dan

membengkak, warnanya menjadi kusam.

Patologi dan Gejala Klinis

Gigitan cimex dapat menimbulkan dermatitis pada orang yang rentan terhadap

gigitannya.

Pengobatan

Untuk mengobati dermatitis ini, diperlukan obat untuk membunuh kutunya,

contohnya yang mengandung permethrin, gamma benxena heksachlorida, dsb. Obat-

obat ini bersifat toksik dan pemakaiannya harus atas pengawasan dokter. Dioleskan

di seluruh tubuh (kecuali wajah). Jangan ada bagian kulit yang terlewatkan.

Diamkan selama 8-10 jam (semalaman) dan besok paginya dibilas/mandi. Obat ini

hanya digunakan sekali (tidak diulang). Pakaian/sperai, dsb sebaiknya direndam air

hangat/panas dan dijemur di terik matahari. Kasur dijemur di terik matahari.

Perhatikan kebersihan leingkungan dalam rumah.


19
e. Sengkenit (Ticks)

Sengkenit hidup sebagai ektroparasit dan menghisap darah berbagai binatang.

Sengkenit jantan mati setelah kopulasi. Sengkenit betina bertelur ditanah dan kemudian

mati. Telur menetas menjadi larva dan berkaki 3 pasang, yang kemudian tumbuh menjadi

nimfa berkaki 4 pasang dan menjadi dewasa. Untuk tiap penggantian stadium diperlukan

penghisapan darah hospes dan setelah kenyang melepaskan diri dari hospes.

Pertumbuhan dari stadium larva dan menjadi dewasa dapat berlangsung satu hospes atau

lebih.

Patologi dan Gejala Klinik

Beberapa spesies sengkenit mengandung toksin yang dapat menyebabkan

paralisis. Pada waktu menghisap darah, toksin ini dikeluarkan bersama ludah yang

mengandung antikoagulan. Paralisisnya berupa paralisis motorik yang dapat

menimbulkan kematian bila mengenai otot pernapasan. Jika sengkenit menggigit

bahu atau sepanjang tulang punggung gejala lebih berat. Paralisis dapat dikurangi

dengan cara melepaskan sengkenit yang menggigit. Spesies sengkenit yang dapat

menyebabkan Tick paralisis adalah Dermacentor andersoni, Dermacentor pariabilis

dan Amblyomma maculatum di Amerika serikat, serta Ixodes holocyclus di Australia.

Gigitan sengkenit juga menyebabkan trauma mekanis. Pada tempat gigitan terjadi

luka yang mudah meradang terutama jika kapitulumnya tertinggal pada waktu

sengkenit diepaskan.

20
Sengkenit di kepala bayi. Ibu jari orang dewasa ditunjukkan untuk skala

Pengobatan

Bila gigitan menimbulkan reaksi ringan seperti bekas gigitan kemerahan, gatal,

ataupun terjadi sedikit bentol, dapat menggunakan losio kalamin ataupun krim

hidrokortison yang dijual bebas.

Jika gigitan sudah mengakibatkan rasa gatal yang parah, mintalah saran dari dokter.

Dokter bisa merekomendasikan penggunaan obat antihistamin sebagai langkah

penanganan.

Pengobatan Alamiah

1. Balurkan ampas kelapa

Balurkan ampas kelapa pada daerah yang terkena infeksi dan bungkus dengan

handuk sekitar satu jam. Setelah itu, bilas daerah yang terkena gigitan tersebut

hingga bersih. Lakukan sekitar tiga kali untuk mengurangi efek pembengkakan

yang bisa muncul akibat gigitan kutu.

2. Oleskan lidah buaya

Patahkan daun lidah buaya dan gosokkan pada bekas gigitan. Bisa digantikan

dengan gel yang mengandung lidah buaya. Caranya oleskan gel tersebut ke

daerah gigitan. Khasiatnya antara keduanya sama saja.

21
3. Gunakan daun kemangi

Hancurkan daun kemangi dan oleskan pada area yang digigit. Jika ada minyak

kemangi, cukup tetesi dua kali saja pada jari tangan, kemudian oleskan di daerah

yang digigit.

4. Cuci dengan teh

Cuci daerah yang digigit dengan minuman teh. Selain bisa dengan dibasuh

dengan air larutan teh, menempelkan kantong teh pada area yang terkena gigitan

juga sama efektifnya.

22
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Ciri utama hewan yang termasuk dalam filum arthropoda adalah kaki yang tersusun

atas ruas-ruas. Jumlah anggota filum ini adalah terbanyak dibandingkan dengan filum

lainnya. Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.

Arthropoda dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia melalui kontak

secara langsung, gigitan, ataupun sengatannya. Jenis arthropoda yang menimbulkan

gangguan kesehatan melalui gigitannya yaitu kelabang, laba-laba, semut api, cimex, dan

sengkenit.

Gangguan kesehatan yang ditimbulkan akibat gigitan arthropoda ini dapat diatasi

dengan pengobatan baik secara medis maupun secara alamiah/tradisional.

3.2. Saran

Untuk mencegah gangguan kesehatan akibat gigitan arthropoda sebaiknya setiap

individu menjaga kebersihan diri dan lingkungannya termasuk hewan peliharaan agar

arthropoda tidak bersarang dan menyebabkan gangguan kesehatan. Selain itu setiap individu

selayaknya tahu cara-cara pertolongan pertama akibat gigitan arthropoda agar akibat yang

dimunculkan dapat diminimalkan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Natadisastra, Djaenudin & Ridad Agoes. 2009. Parasitologi Kedokteran : ditinjau


dari organ tubuh yang diserang. Jakarta : EGC.
http://firanuudianhusada.blogspot.co.id/p/parasitologi-a.html

http://myfnsblogaddress.blogspot.co.id/2016/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://nightray13-kuro.blogspot.co.id/2012/05/parasitologi-dermatitis-yang-
disebabkan.html
http://wisatanusantara211.blogspot.co.id/2016/09/penanganan-gigitan-semut-api-
di.html
http://www.alodokter.com/kutu-anjing-risiko-penyakit-dan-cara-mengobati-gigitannya
http://www.carabuas.xyz/2016/01/cara-mengobati-digigit-kelabang-lipan.html

http://www.wongsehat.com/cara-alami-mengobati-gigitan-laba-laba/

https://ms.wikipedia.org/wiki/Sengkenit

https://www.scribd.com/doc/20704678/ENTOMOLOGI

24