Anda di halaman 1dari 13

Komponen dan Mekanisme Kerja Sistem Darah serta

Hubungannya dengan Anemia Defisiensi Besi


Barbara Beiby Tarigas Ley
10.2015.130 E-6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
E-mail: barbara2015fk130@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak

Darah merupakan salah satu komponen essensial bagi makhluk hidup. Darah
berperan penting dalam tubuh manusia sebagai alat transportasi berbagai bahan dari dan
ke dalam sel. Darah membantu proses metabolisme tubuh bekerja dan memaksimalkan
fungsi dari setiap bagian tubuh. Darah terbagi atas berbagai sel yaitu eritrosit, leukosit,
dan trombosit dengan mekanisme dan fungsi masing-masing membantu darah dalam
melaksanakan fungsi dan kerjanya. Kadar darah dalam tubuh harus sesuai jika tidak
akan menyebabkan suatu kelainan tergantung apakan dalam jumlah yang berlebih atau
jumlah yang kekurangan atau tidak mencukupi.

Kata Kunci: Darah, Eritropoiesis, Hematopoietik, Anemia.

Abstract

Blood is one of the components of life for living things. Blood plays an
important role in the human body as a means of transportation to and from the
various materials within cells. Blood helps the metabolic processes of the body work
and maximize the function of any part of the body. Blood is divided into various cells
i.e. erythrocytes, leukocytes, and platelets to the mechanism and function of each
help the blood in the discharge of its function and it works. Blood levels in the body
have to match if not going to cause a disorder depending whether the excess amounts
or the amount of the deficiency or insufficient.

Key words: Blood, Eritropoiesis, Hematopoietic, Anemia.

Pendahuluan

Darah merupakan salah satu komponen essensial bagi makhluk hidup, Darah
membentuk sekitar 8% dari berat tubuh total. Darah memiliki fungsi penting dalam
mempertahankan homeostasis sebagai alat transportasi untuk mengangkut bahan ke dan
dari sel, menyangga perubahan pH, membawa kelebihan panas ke permukaan tubuh,
untuk eliminasi, berperan besar dalam sistem pertahanan tubuh dan memperkecil

1
kehilangan darah ketika terjadi kerusakan pembuluh darah.Darah merupakan alat
transportasi masal jarak jauh dimana darah ini terdiri dari cairan kompleks plasma
tempat elemen selular seperti eritrosit, leukosit dan trombosit. Darah mengalir melalui
suatu pembuluh darah yang mengantarkan zat-zat ke seluruh tubuh.

Darah

Darah membentuk sekitar 8% dari berat tubuh total dan memiliki volume rerata
5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah terdiri dari tiga jenis elemen seluler
khusus yaitu eritrosi( sel darah merah), leukosit ( sel darah putih) dan trombosit (keping
darah.). Komponen darah memiliki peran masing-masing terdiri dari plasma darah yang
merupakan fase cair dari darah yg terdiri dari 99% air, eritrosit yang terlibat dalam
transportasi O2, leukosit berperan untuk sistem imun nonspesifik, sedangkan monosit
dan limfosit berperan untuk reaksi imun spesifik. Trombosit berperan penting dalam
hemostasis.1

Gambar 1. Darah 2.

Plasma Darah

Merupakan salah satu komponen darah yang bersifat cair yg terdiri dari 99% air
dan terlarut elektrolit, zat makanan, produk metabolisme, vitamin dan protein. Protein
plasma ini berfungsi dalam sistem imun humoral, mempertahankan tekanan koloid
osmotik(onkortik) yang mempertahankan agar volume darah selalu konstan, serta
mentranspor zat yang tidak larut dalam air dan memberi perlindungan pada berbagai zat
terhadap hasil pemecahannya di dalam darah dan pembuangannya melalui ginjal
misalnya heme.1

2
Air plasma berfungsi sebagai medium bagi bahan-bahan yang dibawa oleh
darah. Plasma dapat menyerap panas dan menyebarkan sebagiannya yang dihasilkan
dalam proses metabolisme di dalam jaringan. Pada dasarnya protein plasma merupakan
suatu kelompok konstituen plasma dimana komponen pentingnya dalam keadaan
normal tetap berada dalam plasma. Adapun fungsi protein plasma adalah pertama
terdispersi atau tersebar sebagai koloid, kedua berperan dalam buffer,. Ketiga terdiri
dari komponen protein yaitu albumin globulin dan fibrinogen sebagai sifat fisika dan
kimiawinya. Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak berperan besar
dalam menentukan tekanan osmotik koloid berkat jumlahnya. Secara nonspesifik
berikatan dengan banyak bahan yang kurang larut dalam plasma (misalnya bilirubin,
garam empedu, dan penisilin) untuk transport dalam plasma. Globulin dibedakan
menjadi alfa() berfungsi dalam mengikat bahan-bahan yang kurang larut dalam plasma
untuk transportasi dalam plasma secara spesifik contohnya hormon tiroid dan kolesterol
serta berperan dalam pembekuan darah. Kemudian beta() berperan dalam pembekuan
darah dan gamma() merupakan imunoglobulin(antibodi) yang sangat penting dalam
mekanisme pertahanan tubuh. Serta fibrinogen merupakan faktor utama dalam
pembekuan darah.2

Gambar 2. Komponen darah2

Eritrosit

Eritrosit atau sel darah merah merupakan sel datar berbentuk pigmen yang
mencekung di bagian tengah di kedua sisi seperti donat dengan bagian tengahnya
menggepeng bukan lobang atau sering disebut dengan piringan bikonkaf dengan garis
tengah 8 m, ketebalan 2m di tepi luar dan ketebalan 1 m di bagian tengah. Bentuk
sel darah merah dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler. Konsentrasi
Sel darah merah pada pria normalnya adalah 5.200.000 mm3 pada wanita normal
4.700.000 mm3. Eritrosit berperan dengan dua cara dalam menentukan efisiensi sel

3
darah merah melakukan transportasi O2 yaitu bentuk bikonkaf menghasilkan luas
permukaan yang lebih besar untuk difusi O2 menembus membran kemudian tipisnya sel
memungkinka proses difusi menjadi cepat anatara bagian paling dalam dan luar sel.2
Komponen sel darah merah terdiri dari hemoglobin(heme dan globin). Eritrosit
berperan dalam pengangkutan hemoglobin yang selanjutnya mengangkut O2 dari paru-
paru ke jaringan. Kadar hemoglobin dalam darah sekitar 34 gram per 100 mm sel. Bila
pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang persentase hemoglobin
dalam sel dapat turun sampai dibawah dari kadar tersebut.2,3 Pada dasarnya sel darah
merah tidak dapat membentuk protein untuk memperbaiki sel, tumbuh dan membelah
atau memperbarui enzim-enzimnya. Sel darah merah memiliki usia yang singkat sekitar
120 hari. Seiring berjalannya proses penuaan, membran plasma eritrosit menjadi rapuh
dan mudah pecah. Sebagian besar mengakhiri hidupnya di limpa.1,3,4

Pembentukan Hemoglobin

Pembentukan dimulai dari tahap proeritoblas dan berlanjut hingga tahap


retikulosit saat sel keluar dari sumsum tulang dan masuk ke aliran darah. Selama
pembentukan molekul heme akan berikatan dengan suatu rantai polipetida panjang yang
dinamai globin untuk memembentuk subunit hemoglobin yang dinamai rantai
hemoglobin. Empat rantai hemoglobin berikatan secara longgar untuk membentuk
molekul hemoglobin lengkap. Molekul hemoglobin ini memilik kemampuan mengikat
O2 secara longgar dan reversibel. O2 berikatan dengan heme besi kemudian diangkut
sebagai oksigem molekular dan dibebaskan ke dalam cairan jaringan dalam bentuk
oksigen molekuler terlarut.5

Gambar 3. Hemoglobin2.

Biosintesis Heme

4
Hemoglobin terdiri dari dua molekul yaitu heme dan globin. Bagian globin
terdiri dari 4 rantai polipeptida yang sangat berlipat-lipat. Heme merupakan molekul
yang terdiri dari 4 gugus non protein yang mengandung besi. Heme dibentuk oleh
porfirin dimana heme ini menjadi gugus prostetik yang terdiri dari hemoglobin sebagai
alat transpor oksigen dalam darah, myoglobin untuk penyimpanan oksigen di otot,
sitokrom terlibat dalam rantai transpor elektron, sitokrom p450 untuk hidroksilasi
xenobiotik, katalase untuk penguraian hidrogen peroksida, triptofan untuk oksidasi
triptopan.,dan NOS(Nitic Oxide Synthase. Heme dibagi menjadi 2 golongan yaitu
golongan eritroid yaitu hemoglobin dan non eritroid yaitu hemoprotein sperti
myoglobin, sitokrom dan lain-lain. Proses sintesis heme kebanyak di hati. Proses
sintesis dimulai pembentukan -aminolevulinic axid synthase(ALA) dikatalis dengan
ALA synthase di mitokondria reaksi ini penting karena sebagai pengendali kecepatan
biosintesis heme.kemudian dilanjutkan dengan pembentuka uroporphyrinogen,
C7,C6,C5-porphyrinogen, Corproporhyrinogen, Protoporphyrinogen, protoporphyrin,
dan terakhir Heme. Berikut adalah gambar proses pembentukan heme.2,4

Gambar 4. Sintesis Heme2

Eritropoiesis

Pembentukan sel darah merah baru diproduksi di sumsum tulang yaitu jaringan
lunak yang sangat selular yang mengisi rongga internal tulang. Sumsum tulang dalam
keadaan normal menghasilkan sel darah merah barru sutau proses yang dinamai

5
eritropoiesis, dimana kecepatan pembentukan sama cepatnya dengan kecepatan
kerusakan sel tua. Eritrosit mula-mula dibentuk oleh yolk sac dan kemudian oleh hati
dan limpa sampai sumsum tulang terbentuk dan mengambil alih prodksi eritrosit
.seiring pertambahan usia sumsum tulang merah mengisi sebagian besar tulang. Sumsun
tulang tidak hanya membentuk SDM tetapi juga merupakan sumber leukosit dan
trombosit. Di sumsum ini terdapat sel punca pluripoten tak berdiferensiasi dimana sel
ini terus-menerus membelah diri dan berdiferensiasi menghasilkan semua jenis sel
darah. Proses ini dikrontrol oleh hormon eritropoietin dari ginjal dimana hormon ini
menjadi perangsang dalam proses eritropoiesis. Hormon ini bekerja dalam turunan sel
punca yg sudah ditentukan menjadi SDM. Kemudian terjadi proliferasi dan pematangan
sel-sel eritrosit. Peningkatan aktivitas ini akam meningkatkan jumlah SDM sehingga
kapasitas trasportasi O2 meningkat dan penyalurannya menjadi normal. Sehingga
produksi eritrosit dalam keadaan normal dapat selaras dengan kerusakan atau
kehilangan sel. Pada kehilangan SDm berlebihan misalnya pendarahan laju eritropoiesis
dapat meningkat jadi enam kali lipat normal.3-5

Eritrosit matang dikhususkan untuk mengangkut oksigen dan karbondioksida.


Kekhususan ini diakibatkan oleh adanya protein hemoglobin di dalam sitoplasmanya.
Molekul besi dalam hemoglobin mengikat molekul oksigen. Krr"nu itu, kebanyakan
oksigen dalam darah diangkut dalam bentuk campuran oksihemoglobin, yang
menyebabkan warna darah arteri merah terang. Karbondioksida berdifusi dari sel dan
jaringan ke dalam pembuluh darah. Karbondioksida dibawa ke paru-paru dalam keadan
sebagian larut dalam darah dan sebagian terikat pada hemoglobin di eritrosit berupa
karbaminohemoglobin, yang menyebabkan darah vena berwarna kebiruan. Selama
diferensiasi dan pematangan di sumsum tulang, eritrosit menyintesis banyak
hemoglobin. Sebelum eritrosit dibebaskan ke dalam sirkulasi sistemik, intinya
dikeluarkan dari sitoplasma, dan eritrosit matang berbentuk bikonkaf. Bentuk ini
menyediakan luas permukaan yang lebih besar untuk mengangkut gas pernapasan.
Karena itu, eritrosit mamalia matang di dalam sirkulasi adalah cakram bikonkaf tidak
berinti yang dibungkus oleh membran dan mengandung hemoglobin dan beberapa
enzim.Rentang usia eritrosit sekitar 120 hari, sehingga sel yang sudah tua disingkirkan
dari darah dan difagositosis oleh makrotag di lirnpa, hati, dan sumsum tulang.6

6
Gambar 5. Proses eritropoiesis2.

Leukosit

Merupakan suatu sistem khusus untuk melawan berbagai infeksi dari bahan
toksik yang terus menerus terpapar dalam tubuh manusia. Leukosit sebagai suatu unit
sistem perlindungan tubuh yang dapat bergerak. Sel-sel ini dibentuk sumsum tulang dan
kelenjar limfe dan diangkut dalam darah kebagian yang meradang untuk pertahanan
cepat dan kuat terhadap semua agen infeksi. Leukosit pada akhirnya berasal dari sel
punca multipoten tak berdiferensiasi yang juga menghasilkam eritrosit dan trombosit di
sumsum tulang merah.6

Di dalam darah secara normal ditemukan 5 jenis leukosit yaitu:

Neutrofil(60-70%)

Sebagai spesialis fagositik, serta pertahanan pertama pada invasi bakteri dan responn
peradangan.

Eosinofil(1-4%)

Merupakan spesialisasi jenis lain.

Basofil (0.25-0.5%)

Paling sedikit di leukosit. Secara struktur dan fungsi mirip dengan sel mast tidak
pernah beredar dalam darah tetapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh. Basofil
mensintesis dan menyimpan histamin dan heparin yang merupakan bahan kimia
proteinn yang dapat dibebaskan jika terdapat rangsangan yang sesuai. Pelepasan
histamin berperan penting dalam reaksi alergik, sefangkan heparin mempercepat

7
pembersihan partikel lemak dari darah setelah makan makanan berlemak, dan
mencegah pembekuan(koagulasi) sampel darah yang diambil untuk analisis klinis.

Monosit( 2-6%)

Akan berkembang menjadi fagosit profesional.muncul dari sumsum tulang


selagi belum matang. Ketika matang akan berkembang menjadi makrofag yang berguna
untuk menelan benda asing dalam jumlah terbatas sebelum akhirnya mati.

Limfosit(25-33%)

Limfosit membentuk imunitas tubuh terhadap sasaran yang diprogram oleh


limfosit secara spesifik. Terdapat dua jenis limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T(sel B
dan T). Limfosit B menghasilkan antibodi, yang beredar dalam darah dan bertanggung
jawab dalam imunitas humoral atau yang dirantai oleh antibodi. Limfosit T tidak
memproduksi antibodi secara langsung sel ini menghancurkan sel sasaran spesifiknya
dnegan mengeluarkan berbagai zat kimia yang melubangi sel sasaran. Sel sasaran dari
sel T mencakup sel tubu yang terkena virus dan sel kanker. Limfosit hidup sekitar 100-
300 hari.Sebagian kecil limfosit total berada di dalam darah.

Gambar 6. Komponen leukosit2.

Trombosit

Trombosit atau keping darah merupakan fragmen kecil sel(garis tengah sekitar
2-4m yang dilepaskan dari tepi luar sel sumsum tulang yang sangat besa yang dikenal
megakariosit. Trombosit berfungsi rata-rata 10hari. Trombosit disimpan di rongga-
rongga berisi darah di limfa.Trombosit tidak memiliki nukleus tetapi memiliki organel
dan enzim sitosol untuk menghasilkan energi dan membentuk produk sekretorik yang

8
disimpan di banyak granula yang tersebar di seluruh sitosol. Trombosit mengandung
banyak aktin dan miosin sehingga menyebabkan keping darah berkontraksi.
Kemampuan sekretorik dan kontraksi sangat penting dalam proses
hemostasis(pembekuan darah)

Hemostasis

Hemostasis adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh yang amat penting dalam
menghentikan perdarahan pada pembuluh darah yang luka. Mekanisme hemostasis
mempunyai dua fungsi primer yaitu untuk menjamin bahwa sirkulasi darah tetap cair
ketika di dalam pembuluh darah, dan untuk menghentikan perdarahan pada pembuluh
darah yang luka. Hemostasis normal tergantung pada keseimbangan yang baik dan
interaksi yang kompleks, paling sedikit antara 5 komponen-komponen berikut :7
1. Pembuluh darah
2. Trombosit
3. Faktor-faktor koagulasi
4. Inhibitor
5. Sistem fibrinolisis

Hemostasis merupakan proses penghentian pendarahan dari suatu pembuluh


darah yang rusak. Pendarahan pembuluh sedang sampai besar jarang terjadi dan
biasanya tidak dapat dihentikan dengan mekanisme hemostatik tubuh saja. Hemostasis
dibagi menjadi tiga langkah utama yang pertama adalah spasme vaskular tujuannya
untuk mengurangi aliran darah melalui pembulluh darah yang cedera. Proses ini
memperlambat darah mengalir melalui defek dan memperkecil kehilangan darah.
Proses kedua adalah pembentukan sumbat trombosit. Proses ini menambal kerusakan
pembuluh darah serta dilakukan 3 fungsi penting yaitu kompleks aktin-miosin dalam
trombosit akan membentuk sumbat tersebut kontraksi untuk memadatkan dan
memperkuat sumbat mula-mula longgar. Kemudian bahan kimia yang dikeluarkan oleh
sumbat trombosit mencakup beberapa vasokonstriktor kuat yang memicu konstriksi
kuat pembuluh darah yang bersangkutan untuk memperkuat basospasme awal
kemudian sumbat ini membebaskan kimia lain yang meningkatkan koagulasi darah.
Proses ketiga adalah koagulasi darah atau pembekuan darah mengubah darah dari
cairan menjadi gel padat. Langkah terakhir pembekuan darah adalah perubahan
fibrinogen suatu protein plasma yang tidak dapat larut dan berukuran besar dihasilkan

9
oleh hati menjadi fibrin. Kemudian fibrin dikatalis oleh enzim trombin di tempat
cedera. Serta dikatalisisi dengan faktor XII.5

Proses pembekuan darah melibatkan jalur intrinsik dan ekstrinsik. Faktor


intrinsik memicu pembekuan di dalam pembuluh yang rusak serta pembekuan sampel
darah di dalam tabung reaksi. Jalur intrinsik melibatkan 7 langkah berbeda. Jalur
ekstrinsik bersifat potong kompas dan hanya terdapat 4 langkah.

Gambar 7. Jalur pembekuan darah2.

Proses pembentukan Darah(Hematopoietik)

Sel darah memiliki rentang usia terbatas, dan, sebagai akibatnya, mereka secara
terus menerus diganti di tubuh oleh proses yang disebut hemopoiesis. Pada proses ini,
semua sel darah berasal dari sel induk di sumsum tulang merah (medulla ossium rubra).
Karena sel induk dapat menghasilkan semua jenis sel darah, sel ini disebut sel induk
hemopoietik pluripoten (cellula haematopoietica precursoria pluripotens). Sel induk
pluripoten selanjutnya menghasilkan dua turunan yang membentuk sel induk mieloid
pluripoten dan sel induk limfoid pluripoten. Sebelum pematangan dan pelepasan ke
dalam aliran darah sel induk dari masing-masing garis keturunan mengalami beberapa
kali pembelahan dan tahap intermedia diferensiasi. Sel induk mieloid (cellula
myeloideus precursoria) berkembang di sumsum tulang merah dan menghasilkan
eritrosit (erythrocfius), eosinofil (eosinophilus), neutrofil (neutrophilus), basofil
(basophilus), monosit (monocytus), dan megakariosit (megakaryocytus). Sel induk
limfoid (cellula lymphoideus precursoria) luga berkembang di sumsum tulang merah.
Sebagian sel limfoid tetap berada di sumsum tulang, berproliferasi, mengalami

10
pematangan, dan menjadi limfosit B (lymphocytus n). Sel limfoid lainnya
meninggalkan sumsum tulang dan bermigrasi melalui aliran darah ke limfonodus dan
limpa, tempat sel-sel ini berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi limfosit B. Sel
limfoid tidak berdiferensiasi lainnya bermigrasi ke kelenjar timus, tempat sel-sel
berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi Iimfosit T (lymphocytus T) imunokompeten.
Setelah itu, limfosit T masuk ke aliran darah dan bermigrasi ke daerah-daerah spesifik
di organ limfoid perifer. Limfosit B dan T terletak di banyak jaringan limfoid perifer,
limfonodus, dan limpa. Di sini, sel-sel memulai respons imun jika terpajan antigen.
Karena semua sel darah memiliki rentang usia terbatas, sel induk hemopoietik
pluripoten secara terus menerus membelah dan berdiferensiasi untuk menghasilkan
keturunan baru. Ketika sel-sel darah menjadi tua dan mati, sel-sel ini dihancurkan di
berbagai organ limfoid misalnya limpa Sel darah terbentuk dalam sumsum tulang dari
suatu tipe sel yang disebut dengan sel stem hematopoietik pluripoten yang merupakan
asal dari semua sel dalam darah. Proses pembentukan sel-sel darah adalah:6

Gambar 8. Proses hematopoietik2

Gangguan Darah

Kelainan eritrosit

Kelebihan eritrosit akan menimbulkan polisitemia yang ditandai dengan


kelebihan SDM dalam darah dan peningkatan hematokrit. Terdapat dua jenis umum
polisitemia yai primer dan sekunder. Kekurangan eritrosit akan menimbulkan anemia.
Anemia merupaka suatu kelainan darah dimana menunjukan kemampuan darah
mengangkut O2 di bawah normal dan ditandai oleh hematokrit yang rendah. Anemia
dapat disebabkan oleh penurunan laju eritropoiesis, kehlangan eritrosit dalam jumlah
besar, atau defisiensi kandungan hemoglobin. Jenis-jenis anemia dapat dibedakan

11
menjadi anemia pernisiosa, anemia aplastik, anemi aginjal, anemia pendarahan, anemia
hemolitik dan anemia gizi atau anemia defisiensi besi. 8

Anemia Defisiensi Besi

Merupakan kelainan eritrosit dimana kadar eritrosit menurun dan disebabkan


oleh defisiensi dalam makanan suatu faktor yang dibutuhkan untuk eritropoiesis.
Pembentukan SDM bergantung pada pasokan adekuat bahan-bahan dasar esensial, yang
sebagian di antaranya tidak disintesis di tubuh tetapi disediakan oleh makanan. Pada
anemia ini terjadi jika tidak cukup banyak besi tersedia untuk membentuk hemoglobin.
Defisiensi besi akan menghambat sintesis hb dan penyebabnya seperti kekurangan
darah, daur ulang besi berkurang, asupan besi rendah, penyerapan besi berkurang,
kebutuhan besi meningkat dan kelainan apotransferin.8

Kelainan Leukosit

Kelainan leukosit dapat terjadi jika sel darah putih yang dihasilkan mungkin
terlalu sedikit atau terlalu banyak. Sumsum tulang dapat sangat memperlambat atau
menghentikan prodksi sel darah putih jika terkena bahan kimia toksik tertentu.
Sehingga menyebabkan penurunan fagosit progesional yang menurunkan kemampuan
pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yang masuk. Jika sumsum tulang
mengalami kegagalan maka satu-satunya pertahanan tubuh yang masih tersedia adalah
kemampuan imun limfosit yang diproduksi oleh organ-organ limfoid.8

Kelainan trombosit

Jika gagal dalam pembekuan darah maka dapat menyebabkan suatu kelainan
seperti pendarahan yang berlebihan yang mengancam nyawa bahkan oleh traumauang
relatif ringan misalnya hemofilia. Hemofilia disebabkan oleh defisiensi salah satu faktor
dalam jenjang pembekuan.8

Kesimpulan

Sebagai komponen esensial dalam tubuh yang sangat berperan penting dalam
transportasi nutrisi ke dalam jaringan darah harus tersedia dalam jumlah cukup tidak
kurang dan tidak lebih agar proses metabolisme tubuh berjalan lancar. Jika kadar darah
tidak sesuai dalam tubuh akan menyebabkan suatu kelainan seperti anemia defisiensi

12
besi pada kasus. Kadar darah sangat berpengaruh dalam proses fisiologis dalam tubuh
manusia.

Daftar Pustaka

1. Resmisari T, Liena, editors. Teks dan atlas berwarna patofisiologi.


Diterjemahkan dari: Silbernagl S, Lang F. Color atlas of pathophysiology.
Jakarta:EGC;2014
2. Ramadhani D, Ong HO, editors. Fisiologi manusia: Dari sel ke sistem. 8th ed.
Diterjemahkan dari: Sherwood L. Introduction to human physiology. 8th ed.
Jakarta: EGC; 2012.
3. Guyton, Hall. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC; 2008.
4. Salim D, Winata H, Gunardi S, Sumbayak EM, Husin E, Maria A, et al. Modul
kuliah blok 8: cardiovaskular 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana; 2016.
5. Guyton, Hall.Buku saku fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC;2009.
6. Dharmawan Didiek,Yesdelta Nella,editors. Atlas Histologi difiore. 11thed.
Diterjemahkan dari Eroschenko Victor P: difiores Atlas of Histology with
functional correlations. 11thed. Jakarta: EGC;2010
7. Brozovic M. Investigation of Haemostasis. In : Dacie SJV, Lewis SM, editors.
Practical Haemotology. Seventh ed. London : Chruchill Livingtone, 1993 : 279
84.
8. Hartanto Huriawati. Patofisiologi: konsep klinis proses penyakit-penyakit.6th
ed.Diterjemahkan dari: Wilson Lorraine McCarty, Price Sylvia Anderson.
Pathophysiology: clinical concepts of disease processes. 6th
ed.Jakarta:EGC;2012

13