Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak merupakan kekeruhan yang timbul pada lensa yang dapat menyebabkan kebutaan.
Pada tahun 1997, WHO memperkirakan terdapat 38 juta orang buta di dunia dan setengahnya
disebabkan oleh katarak. Katarak yang berhubungan dengan usia menyebabkan kira-kira 48%
kebutaan didunia, yaitu sekitar 18 juta orang.

Sekitar 85% dari penderita katarak adalah orang lanjut usia (Fakultas & Universitas 2013).
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat kedua-duanya (Ilyas,
2009). Kekeruhan ini dapat mengganggu jalannya cahaya yang melewati lensa sehingga
pandangan dapat menjadi kabur hingga hilang sama sekali. Penyebab utama katarak adalah usia,
tetapi banyak hal lain yang dapat terlibat seperti trauma, toksin, penyakit sistemik (seperti
diabetes), merokok dan herediter (Vaughan & Asbury, 2007). Berdasarkan studi potong lintang
prevalensi katarak pada usia 65 tahun adalah 50% dan prevalensi ini meningkat hingga 70% pada
usia lebih dari 75 tahun (Vaughan & Asbury, 2007). Katarak merupakan masalah penglihatan
yang serius karena katarak dapat mengakibatkan kebutaan. Menurut WHO pada tahun 2002
katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling utama di dunia sebesar 48% dari seluruh
kebutaan di dunia. Setidaknya terdapat delapan belas juta orang di dunia menderita kebutaan
akibat katarak. Di Indonesia sendiri berdasarkan hasil survey kesehatan indera 1993-1996,
katarak juga penyebab kebutaan paling utama yaitu sebesar 52%. Katarak memang dianggap
sebagai penyakit yang lumrah pada lansia.

Akan tetapi, ada banyak faktor yang akan memperbesar resiko terjadinya katarak. Faktor-faktor
ini antara lain adalah paparan sinar ultraviolet yang berlebihan terutama pada negara tropis,
paparan dengan radikal bebas, merokok, defesiensi vitamin (A, C, E, niasin, tiamin, riboflavin,
dan beta karoten), dehidrasi, trauma, infeksi, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang,
penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, genetik dan myopia. Beberapa faktor-faktor resiko ini
tentunya ada yang dapat dihindari masyarakat untuk mencegah percepatan terjadinya katarak,
misalnya merokok.(Utara 2009)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1) PENGERTIAN KATARAK

Katarak merupakan kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran
yang diproyeksikan pada retina (Istiqomah,2003). Menurut Nugroho (2011) Kelainan ini bukan
suatu tumor atau pertumbuhan jaringan di dalam mata,akan tetapi keadaan lensa yang menjadi
berkabut (Ilyas, 2004). Katarak sendiri diumpamakan seperti penglihatan yg tertutup airterjun
akibat kerunhya lensa (Tamsuri,2004) biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan
progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.(Utara 2009)

Katarak merupakan kelainan lensa mata yang keruh di dalam bola mata. Kekeruhan lensa atau
katarak akan mengakibatkan sinar terhalang masuk ke dalam mata sehingga penglihatan menjadi
menurun. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa
yang keruh cahaya sulit mencapai retina sehingga menghasilkan bayangan yang kabur pada
retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi. Katarak berasal
dari kata Yunani Cataracta yang berarti Air terjun, hal ini disebabkan karena penderita
katarak seakan-akan melihat sesuatu seperti tertutup oleh air terjun di depan matanya (Ilyas,
2003).(Nyoman et al. 2014).

2) FAKTOR DAN PENYEBAB TERJADINYA KATARAK

Katarak umumnya merupakan penyakit usia lanjut, namun katarak juga dapat diakibatkan
oleh kelainan kongenital (Tamsuri, 2004). Banyak faktor dikaitkan dengan katarak, yaitu umur
sebagai faktor utama, dan faktor lainnya antara lain penyakit diabetes melitus (DM), pajanan
kronis terhadap sinar ultraviolet (sinar matahari), konsumsi alkohol, nutrisi, merokok, tingkat
sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan pekerjaan (Tana dkk., 2009)

1. Umur

Bertambahnya umur harapan hidup di seluruh dunia, khususnya dinegara berkembang,


menyebabkan bertambah banyaknya jumlah orang tua secara cepat. Hal ini dapat menimbulkan
fenomena pertambahan kasus katarak, karena dengan sendirinya jumlah kebutaan karena katarak
akan bertambah banyak. Katarak senilis (lebih dari 40 tahun) merupakan penyebab yang
terbanyak penurunan penglihatan pada orang usia lanjut. Pada penelitian cross sectional
dikatakan bahwa prevalensi katarak sekitar 50 % pada usia antara 65 smpai 74 tahun dan
meningkat 70 % pada usia di atas 75 tahun (Wisnujono, 2004).

2. Jenis kelamin

Menurut Rasyid, dkk (2010) kejadian katarak lebih banyak terjadipada perempuan dari pada
laki-laki, ditujukan dengan hasil penelitian yang menemukan 114 orang (71,7%) penderita
katarak berjenis kelamin perempuan, sedangkan 57 orang (63,4%) penderita katarak berjenis
kelamin laki-laki.

3. Katarak erat kaitannya juga dengan pekerjaan yang berada di luar gedung, dimana sinar
ultraviolet (UV) merupakan faktor risiko terjadinya katarak.

4. Pendapatan dikaitkan dengan status sosial ekonomi yang rendah.

Seseorang dengan tingkat ekonomi yang rendah dalam hal penghasilan memiliki
ketidakmampuan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi setiap harinya. Status ekonomi juga
dihubungkan dengan rendahnya tingkat pengetahuan seseorang yang berkaitan dengan kemauan
untuk mencari informasi mengenai pengobatan katarak, sehingga munculnya tanda-tanda akan
terjadinya katarak tidak disadari oleh seseorang karena dirasakan masih belum menganggu. Pada
umumnya seseorang akan mengunjungi tempat pelayanan kesehatan mata setelah merasa
terganggu pada matanya. Selain itu juga penderita katarak yang berasal dari golongan ekonomi
rendah tidak akan mampu mengobati penyakitnya ke rumah sakit atau klinik swasta yang mahal,
sehingga pengobatan katarak tidak menjadi prioritas bagi mereka. Jarak yang jauh dari sarana
pelayanan menyebabkan ongkos transportasi dan biaya untuk keluarga yang mengantar menjadi
mahal (Pujiyanto, 2004).

5. Diabetes Melitus dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi, salah satunya adalah
katarak. peningkatan enzim aldose reduktase dapat mereduksi gula menjadi sorbitol, hal ini
menyebabkan terjadinya perubahan osmotik sehingga serat lensa lama-kelamaan akan menjadi
keruh dan menimbulkan katarak (Pollreisz dan Erfurth, 2010).

6. Merokok Dari beberapa faktor risiko terjadinya katarak, salah satunya adalah merokok.
Rokok berperan dalam pembentukan katarak melalui dua cara yaitu, pertama paparan asap rokok
yang berasal dari tembakau dapat merusak membrane sel dan serat-serat yang ada pada mata. Ke
dua yaitu, merokok dapat menyebabkan antioksidan dan enzim-enzim di dalam tubuh mengalami
gangguan sehingga dapat merusak mata (United For Sigth, 2003 ) Pada penelitian dengan
menggunakan kasus-kontrol, di mana kasus sebanyak 54 orang dan kontrol 35 orang, hasil uji
multivariat (OR=2,287) menunjukkan hubungan merokok dapat meningkatkan kejadian katarak
2 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok.

C. PATOFISIOLOGI KATARAK

Menurut Kowalak (2003), patofoiologi katarak dapat bervariasi menurut masing-


masing bentuk katarak. Katarak senilis memperlihatkan bukti adanya agregasi protein, cedera
oksidatif dan peningkatan pigmentasi di bagian tengah lensa, selain itu pada katarak traumatika
dapat terjadi inflamasi atau fagositosis lensa ketika lensa mata mengalami rupture (Kowalak,
2003). Sedangkan mekanisme katarak komplikasi bervariasi menurut proses penyakitnya,
sebagai contoh pada penyakit diabetes mellitus akan terjadi peningkatan kadar glukosa dalam
lensa yang kemudian menyebabkan lensa mata menyerap air (Kowalak, 2011) sedangkan katarak
kongenital merupakan bentuk yang memberikan tantanggan khusus. Tamsuri (2003)
mengungkapkan bahwa secara kimiawi pembentukan katarak ditandai dengan berkurangnya
ambilan oksigen dan bertambahnya kandungan air yang kemudian diikuti dengan dehidrasi.
Kandungan natrium dan kalsium bertambah, sedangkan kalium, asam askorbat serta protein
menjadi berkurang.

Menurut Istiqomah (2003), lensa mata berisi 65% air, sisanya berupa protein dan mineral
penting. Katarak terjadi pada saat penurunan ambilan oksigen dan penurunan air. Dilain sisi
terjadi peningkatan kadar kalsium dan berubahnya protein larut menjadi tidak dapat larut. Pada
kondisi tersebut akan menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan
metabolisme ini akan mengakibatkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada di dalam
lensa. Perubahan inilah yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa.Kekeruhan dapat
berkembang sampai di berbagai bagian lensa atau kapsulnya. (Pascasarjana & Udayana 2013)

D. TANDA DAN GEJALA KATARAK

Kekeruhan lensa dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala, dan dijumpai pada pemeriksaan mata
rutin. Gejala katarak yang sering dikeluhkan adalah :
1. Silau Pasien katarak sering mengeluh silau, yang bisa bervariasi keparahannya mulai dari
penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang hingga silau pada saat siang hari
atau sewaktu melihat lampu mobil atau kondisi serupa di malam hari. Keluhan ini khususnya
dijumpai pada tipe katarak posterior subkapsular. Pemeriksaan silau ( test glare ) dilakukan
untuk mengetahui derajat gangguan penglihatan yang disebabkan oleh sumber cahaya yang
diletakkan di dalam lapang pandangan pasien.

2. Diplopia monokular atau polyopia Terkadang, perubahan nuklear terletak pada lapisan
dalam nukleus lensa, menyebabkan daerah pembiasan multipel di tengah lensa. Daerah ini dapat
dilihat dengan refleks merah retinoskopi atau oftalmoskopi direk. Tipe katarak ini kadang
kadang menyebabkan diplopia monokular atau polyopia. Hal-hal ini bisa terjadi pada beberapa
pasien oleh karena terpecahnya sinar putih menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya
kandungan air dalam lensa.

3. Distorsi Katarak dapat menyebabkan garis lurus kelihatan bergelombang,24 sering


dijumpai pada stadium awal katarak.

4. Penurunan tajam penglihatan Katarak menyebabkan penurunan penglihatan progresif


tanpa rasa nyeri.

5. Sensitivitas kontras Sensitivitas kontras mengukur kemampuan pasien untuk mendeteksi


variasi tersamar dalam bayangan dengan menggunakan benda yang bervariasi dalam hal kontras,
luminance dan frekuensi spasial. Sensitivitas kontras dapat menunjukkan penurunan fungsi
penglihatan yang tidak terdeteksi dengan Snellen. Namun, hal tersebut bukanlah indikator
spesifik hilangnya tajam penglihatan oleh karena katarak.

6. Myopic shift Perkembangan katarak dapat terjadi peningkatan dioptri kekuatan lensa,
yang umumnya menyebabkan miopia ringan atau sedang. Umumnya, pematangan katarak
nuklear ditandai dengan kembalinya penglihatan dekat oleh karena meningkatnya myopia akibat
peningkatan kekuatan refraktif lensa nuclear sklerotik, sehingga kacamata baca atau bifokal tidak
diperlukan lagi. Perubahan ini disebut second sight. Namun, seiring dengan perubahan kualitas
optikal lensa, keuntungan tersebut akhirnya hilang juga.(Mata 2010).
E. JENIS- JENIS DAN STADIUM KATARAK

Stadium katarak ini dibagai ke dalam 4 stadium, yaitu:

1. Katarak insipien, kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruji menuju korteks
anterior dan posterior (katarak kortikal) Katarak subkapsular psoterior, kekeruhan mulai terlihat
di anterior subkapsular posterior, celah terbentuk, antara serat lensa dan korteks berisi jaringan
degeneratif (beda morgagni) pada katarak insipien Katarak intumesen. Kekeruhan lensa disertai
pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Pada keadaan ini dapat terjadi
hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya bertambah, yang akan
memberikan miopisasi

2. Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Merupakan katarak yang belum
mengenai seluruh lapis lensa. Volume lensa bertambah akibat meningkatnya tekanan osmotik
bahan degeneratif lensa. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan
pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder

3. Katarak matur, pada katarak matur, kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Kekeruhan ini
bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur tidak dikeluarkan, maka
cairan lensa akan keluar sehingga lensa kembali pada ukuran normal dan terjadi kekeruhan lensa
yang lama kelamaan akan mengakibatkan kalsifikasi lensa pada katarak matur. Bilik mata depan
berukuran dengan kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada shadow test,
atau disebut negatif.

4. Katarak hipermatur, merupakan katarak yang telah mengalami proses degenerasi lanjut,
dapat menjadi keras, lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul
lensa, sehingga lensa menjadi kecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik
mata dalam dan terlihat lipatan kapsul lensa. Kadang pengkerutan berjalan terus sehingga
hubungan dengan zonula zinn menjadi kendur. Bila proses katarak berlajut disertai dengan
penebalan kapsul, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks
akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam
didalam korteks lensa karena lebih berat, keadaan tersebut dinamakan katarak morgagni.
(Masyarakat 2012)
F. CARA MENCEGAH TERJADINYA KATARAK

Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan:

1. Menjaga kadar gula darah selalu normal

Pada penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengonsumsi makanan
yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah-buahan
banyak yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang-kacangan,
kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E,
selenium, dan tembaga tinggi. Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E
merupakan antioksidan yang dapat meminimalisasi kerusakan oksidatif pada mata, sebagai salah
satu penyebab katarak. (Masyarakat 2012).

2. Katarak yang disebabkan oleh faktor resiko lain dapat diusahakan

pencegahannya, misalnya dengan memberikan perlindungan khusus pada mata seperti topi atau
kacamata untuk menghindari radiasi sinar ultra violet.

3. Menghindari cedera pada mata atau prilaku merokok dan minum alkohol. Upaya pencegahan
ini dibutuhkan untuk menghindari datangnya katarak pada usia dini.

G. PENATA LAKSANAAN MEDIS

Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala katarak
tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup dengan mengganti
kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan lensa yang keruh. Namun,
aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah
memperlihatkan hasil yang menjanjikan dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti
katarak lainnya sedang diteliti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol,
aspirin, agen glutathione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E2,5,7,9. Penatalaksanaan
definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih dari bertahun-tahun, tehnik bedah
yang bervariasi sudah berkembang dari metode yang kuno hingga tehnik hari ini
phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi IOL yang digunakan, yang bervariasi
dengan lokasi, material, dan bahan implantasi. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior,
ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract
ekstraksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi
pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi.

1.Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)

Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh lensa
dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi
korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa
subluksatio dan dislokasi. ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia
kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat
terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan

2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)

Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan
memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar
melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan
endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan
implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata
dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami
prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular
edema. Pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak
pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti
prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya
katarak sekunder.

3. Phakoemulsifikasi

Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik
ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonic akan
digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PHACO akan menyedot massa
katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat
dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan
pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan
aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan
katarak senilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan incisi limbus
yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, meskipun sekarang lebih sering
digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat dimasukkan melalui incisi kecil seperti itu.

4. SICS Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan teknik
pembedahan kecil.teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh dan
murah.

Apabila lensa mata penderita katarak telah diangkat maka penderita memerlukan lensa penggant
untuk memfokuskan penglihatannya dengan cara sebagai berikut: kacamata afakia yang tebal
lensanya lensa kontak lensa intra okular, yaitu lensa permanen yang ditanamkan di dalam mata
pada saat pembedahan untuk mengganti lensa mata asli yang telah diangkat(Klinis & Protein
2010)

H.Pencegahan

Perawat sebagai anggota penting tim perawatan kesehatan, dan sebagai pendidik dan praktiksi
kebiasaan kesehatan yang baik, dapat memberikan pendidikan dalam hal asuhan mata, keamanan
mata, dan pencegahan penyakit mata. Perawat dapat mencegah membantu orang belajar
bagaimana mencegah kontaminasi silang atau penyebaran penyakit infeksi kepada orang lain
melalui praktek higiene yang baik. Perawat dapat mendorong pasien melakukan pemeriksaan
berkala dan dapat merekomendasikan cara mencegah cedera mata.

Kapan dan seringnya mata seseorang harus diperiksa tergantung pada usia pasien, faktor resiko
terhadap penyakit dan gejala orkuler. Orang yang mengalami gejala orkuler harus segera
menjalani pemeriksaan mata. Mereka yang tidak mengalami gejala tetapi yang berisiko
mengalami penyakit mata orkuler harus menjalani pemeriksaan mata berkala. Pasien yang
menggunakan obat yang dapat mempengaruhi mata, seperti kortekosteroid, hidrokksikloroquin
sulfat, tioridasin HCI, atau amiodarone, harus diperiksa secara teratur. Yang lainya harus
menjalani evaluasi glaukoma rutin pada usia 35 dan reevaluasi berkala setiap 2 sampai 5 tahun.

I. Komplikasi
Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5. Komplikasi
yang terjadi : nistagmus dan strabismus dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu
penglihatan dan akan menimbulkan komplikasi berupa glukoma dan uveitis.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Katarak merupakan kelainan lensa mata yang keruh di dalam bola mata. Faktor-faktor
penyebab katarak antara lain: umur, jenis kelamin, lingkungan, status sosial, nutrisi, pola hidup.
Stadium katarak dibagi menjadi 4 antara lain: Katarak Insipien, Imatur, Matur, Hipermatur.

Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu normal pada
penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengonsumsi makanan yang
dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah-buahan banyak
yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah,
buncis, telur, hati dan susu yang merupakan makanan dengan kandungan vitamin E, selenium,
dan tembaga tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas, M. & Universitas, K., 2013. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. , 1(5), pp.58
64.

Klinis, S. & Protein, A., 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak senilis. , (December),
pp.115.

Masyarakat, S.K., 2012. FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KATARAK DEGENERATIF DI RSUD BUDHI ASIH TAHUN 2011 SKRIPSI UNIVERSITAS
INDONESIA.

Mata, D.S., 2010. Prevalensi kebutaan akibat katarak di kabupaten tapanuli selatan tesis dokter
spesialis mata.

Pascasarjana, P. & Udayana, U., 2013. Kadar malondialdehyde serum pasien katarak senilis
matur lebih tinggi daripada katarak senilis imatur (7 ,6)

Utara, U.S., 2009. Universitas Sumatera Utara. , pp.14.