LAPORAN PENDAHULUAN BPH
MATRIKULASI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PERTEMUAN TANGGAL 13 JULI 2017
Oleh :
YULIANTO KURNIAWAN
175070209111022
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)
A. DEFINISI
1. Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di
inferior kandung kemih dan dipengaruhi oleh neoplasmaa jinak serta ganas.
Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa
kurang lebih 20 gram. Jika mengalami pembesaran, organ ini akan
menghambat aliran urine keluar dari kandung kemih. Benign Prostatic
hiperplasia (BPH) merupakan pertumbuhan histologi nonmaligna elemen
glanduler prostat yanag dapat menyumbat jalan keluar uretra sehingga
menimbulkan gejala saluran kemih bawah yang mengganggu, hematuria,
infeksi saluran kemih (ISK), atau gangguan fungsi saluran kemih atas.
2. BPH dapat didefinisikan sebagai pembesaran kelenjar prostat yang
memanjang ke atas, ke dalam kandung kemih, yang menghambat aliran urin,
serta menutupi orifisium uretra (Smeltzer & Bare, 2003). Secara patologis,
BPH dikarakteristikkan dengan meningkatnya jumlah sel stroma dan epitelia
pada bagian periuretra prostat. Peningkatan jumlah sel stroma dan epitelia ini
disebabkan adanya proliferasi atau gangguan pemrograman kematian sel
yang menyebabkan terjadinya akumulasi sel (Roehrborn, 2011).
3. Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh
penuaan. Price&Wilson (2005).
2
B. ETIOLOGI
Etiologi terjadinya BPH masih belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa
hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan penuaan dan
testoteron.
Didalam prostat, testoteron diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) dibawah
pengaruh enzim 5a-reduktase. Kadar DHT tidah jauh berbeda dengan kadarnya
pada prostat normal, tetapi aktivitas enzim 5a-reduktase dan jumlah reseptor
androgen lebih banyak pada BPH. Hal tersebut menyebabkan sel-sel prostat
pada BPH lebih sensitif terhadap DHT. Sehingga replikasi sel lebih banyak
terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
Proses penuaan menyebabkan kadar testoteron menurun, sedangkan kadar
estrogen relatif tetap. Ketidakseimbangan antara estrogen dan testoteron ini
diduga menyebabkan kelenjar prostat mengalami hiperplasia jaringan
(peningkatan jumlah sel) yang mengakibatkan prostat mengalami hipertrofi,
selain itu, bukti terbaru menunjukan bahwa penuaan mengkibatkan gangguan
keseimbangan DHT dan enzim 5a-reduktase, yang mendukung terjadinya
hiperplasia prostat.
BPH jarang mengancam jiwa. Namun, keluhan yang disebabkan BPH dapat
menimbulkan ketidaknyamanan. BPH dapat menyebabkan timbulnya gejala
LUTS (lower urinary tract symptoms) pada lansia pria. LUTS terdiri atas gejala
obstruksi (voiding symptoms) maupun iritasi (storage symptom) yang meliputi:
frekuensi berkemih meningkat, urgensi, nokturia, pancaran berkemih lemah dan
sering terputus-putus (intermitensi), dan merasa tidak puas sehabis berkemih,
dan tahap selanjutnya terjadi retensi urin (IAUI, 2003).
C. EPIDEMIOLOGI
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), merupakan suatu penyakit yang biasa
terjadi. Di dunia, diperkirakan jumlah penderita BPH sebesar 30 juta, jumlah ini
hanya pada kaum pria karena wanita tidak mempunyai kalenjar prostat
(emedicine, 2009). Di Amerika Serikat, terdapat lebih dari setengah (50%) pada
laki laki usia 60-70 th mengalami gejala BPH dan antara usia 70-90 th sebanyak
90% mengalami gejala gejala BPH (Suharyanto & Abdul, 2009).
Jika dilihat secara epidemiologinya, di dunia, menurut usia, maka dapat di lihat
kadar insidensi BPH, pada usia 40-an, kemungkinan seseorang menderita
3
penyakit ini sebesar 40%, dan seiring meningkatnya usia, dalam rentang usia
60-70 tahun, persentasenya meningkat menjadi 50% dan diatas 70 tahun,
persen untuk mendapatkannya bisa sehingga 90%. Akan tetapi, jika di lihat
secara histology penyakit BPH, secara umum sejumlah 20% pria pada usia 40-
an, dan meningkat pada pria berusia 60-an, dan 90% pada usia 70 (A.K. Abbas,
2005).
Di Indonesia, BPH menjadi urutan kedua setelah penyakit batu saluran kemih,
dan secara umumn, diperkirakan hampir 50% pria Indonesia yang berusia di
atas 50 tahun ditemukan menderita BPH ini. Oleh karena itu, jika dilihat, dari 200
juta lebih rakyat indonesia, maka dapat diperkirakan 100 juta adalah pria, dan
yang berusia 60 tahun dan ke atas adalah kira-kira sejumlah 5 juta, maka dapat
dinyatakan kira-kira 2,5 juta pria Indonesia menderita penyakit. (Purnomo,
2009).
Jumlah penderita BPH secara pasti belum bisa dinyatakan tetapi secara
prevalensi di RS, contohnya di RS Cipto Mangunkusumo ditemukan 423 kasus
BPH yang dirawat selama tiga tahun (1994-1997) dan di RS Sumber Waras
sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama (Arisandi, 2008).
Selain itu Kanker prostat, juga merupakan salah satu penyakit prostat yang
sering dtemukan dan lebih ganas dibanding BPH yang hanya melibatkan
pembesaran jinak prostat. Kenyataan ini adalah berdasarkan prevalensi
terjadinya kanker prostat di dunia secara umum dan Indonesia khususnya.
Secara umum, di dunia, pada 2003, terdapat kurang lebih 220.900 kasus baru
ditemukan, dimana sejumlah 29.000 kasus diantaranya berada di tahap
membunuh (A.K. Abbas, 2005) . Seperti BPH, kanker prostat juga menyerang
pria berusia lebih dari 50. Secara khususnya di Indonesia, menurut (WHO,2008),
untuk tahun 2005, insidensi terjadinya kanker prostat adalah sebesar 12 orang
setiap 100,000 orang, dan menduduki peringkat keempat setelah kanker saluran
napas atas, saluran pencernaan dan hati.
D. KLASIFIKASI
Berdasarkan perkembangan penyakitnya menurut Sjamsuhidajat dan Dejong
(2005) secara klinis penyakit BPH dibagi menjadi 4 gradiasi :
4
1. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur
ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan sisa urin kurang
dari 50 ml
2. Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok dubur dan
batas atas dapat dicapai, sedangkan sisa volum urin 50- 100 ml.
3. Derajat 3 : Pada saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas prostat
tidak dapat diraba dan sisa volum urin lebih dari 100ml.
4. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urine total
E. PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan
menghambat aliran urine. Dua proses yang menyebabkan obstruksi ini adalah
hiperplasia dan hipertofi. Penyumbatan terjadi ketika hiperplasia menyempitkan
lumen-lumen segmen uretra yang melalui prostat. Obstruksi terjadi juga ketika
prostat melampui bagian atas leher kandung kemih sehingga mengurangi
kemampuannya untuk mengeluarkan urine sebagai respons terhadap miksi dan
saat pertumbuhan dari lobus median prostat ke dalam uretra prostatika.
Keadaan tersebut menyebabkan meningkatkan tekanan intravesikal. Untuk
dapat mengeluarkan urine, kandung kemih harus berkontraksi lebih kuat guna
melawan tahanan itu.
Obstruksi yang diakibatkan oleh BPH tidak hanya disebabkan oleh adanya
massa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh
tonus otot polos prostat yang ada pada stroma prostat, kapsul prostat dan otot
polos pada leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang
berasal dari nervus pudendus.
Pathway
5
F. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran tanda dan gejala secara klinis pada hiperplasi prostat digolongkan
dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor
gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan:
pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus
menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus
(intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin
dan inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi),
terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang
mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000)
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium :
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai
habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine
walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa
ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes
secara periodik (over flow inkontinen).
6
Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa Tanda dan gejala
dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin
berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan
harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus
menerus setelah berkemih), retensi urine akut.
Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :
1. Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
Grade 0 : Penonjolan prosrar 0-1 cm ke dalam rectum.
Grade 1 : Penonjolan prosrar 1-2 cm ke dalam rectum.
Grade 2 : Penonjolan prosrar 2-3 cm ke dalam rectum.
Grade 3 : Penonjolan prosrar 3-4 cm ke dalam rectum.
Grade 4 : Penonjolan prosrar 4-5 cm ke dalam rectum.
2. Clinical Gradding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh
kencing dahulu kemudian dipasang kateter.
Normal : Tidak ada sisa
Grade I : sisa 0-50 cc
Grade II : sisa 50-150 cc
Grade III : sisa > 150 cc
Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.
G. TATALAKSANA MEDIS
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH
tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis
1. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti
alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera
terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat.
Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian
lama.
7
2. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya
dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
3. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan
prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.
Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat
dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.
4. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian
terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan
pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan
obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah
dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.
Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada BPH
dapat dilakukan dengan:
1. Observasi
Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan, kurangi
kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa kencing dan colok
dubur.
2. Medikamentosa
Mengharnbat adrenoreseptor
Obat anti androgen
Penghambat enzim -2 reduktase
Fisioterapi
3. Terapi Bedah
8
Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria, penurunan fungsi
ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel batu saluran kemih,
hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan:
TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui
sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra.
Prostatektomi Suprapubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada
kandung kemih.
Prostatektomi retropubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian
bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih.
Prostatektomi Peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara
skrotum dan rektum.
Prostatektomi retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula, vesikula seminalis
dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian
bawah, uretra dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker
prostat.
4. Terapi Invasif Minimal
Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke
kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter.
Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP)
Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Urin alisa
Analisis urin dan mikroskopik urin penting untuk melihat adanya sel leukosit,
sedimen, eritrosit, bakteri dan infeksi. Bila terdapat hematuri harus
diperhitungkan adanya etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih,
9
batu, infeksi saluran kemih, walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan
hematuri.
Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari
fungsi ginjal dan status metabolik.
Pemeriksaan prostate spesific antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar
penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilai
PSA < 4 ng/ml tidak perlu biopsi. Sedangkan bila nilai PSA 4-10 ng/ml,
dihitung Prostate specific antigen density (PSAD) yaitu PSA serum dibagi
dengan volume prostat. Bila PSAD > 0,15, sebaiknya dilakukan biopsi prostat,
demikian pula bila nilai PSA > 10 ng/ml.
2. Pemeriksaan darah lengkap
Karena perdarahan merupakan komplikasi utama pasca operatif maka semua
defek pembekuan harus diatasi. Komplikasi jantung dan pernafasan biasanya
menyertai penderita BPH karena usianya yang sudah tinggi maka fungsi
jantung dan pernafasan harus dikaji.
Pemeriksaan darah mencakup Hb, leukosit, eritrosit, hitung jenis leukosit, CT,
BT, golongan darah, Hmt, trombosit, BUN, kreatinin serum.
3. Pemeriksaan radiologis
Biasanya dilakukan foto polos abdomen, pielografi intravena, USG, dan
sitoskopi. Tujuan pencitraan untuk memperkirakan volume BPH, derajat
disfungsi buli, dan volume residu urin. Dari foto polos dapat dilihat adanya
batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli. Dapat juga
dilihat lesi osteoblastik sebagai tanda metastase dari keganasan prostat serta
osteoporosis akibat kegagalan ginjal. Dari Pielografi intravena dapat dilihat
supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis dan hidroureter, gambaran
ureter berbelok-belok di vesika urinaria, residu urin. Dari USG dapat
diperkirakan besarnya prostat, memeriksa massa ginjal, mendeteksi residu
urin dan batu ginjal.
BNO /IVP untuk menilai apakah ada pembesaran dari ginjal apakah terlihat
bayangan radioopak daerah traktus urinarius. IVP untuk melihat /mengetahui
10
fungsi ginjal apakah ada hidronefrosis. Dengan IVP buli-buli dapat dilihat
sebelum, sementara dan sesudah isinya dikencingkan. Sebelum kencing
adalah untuk melihat adanya tumor, divertikel. Selagi kencing (viding
cystografi) adalah untuk melihat adanya refluks urin. Sesudah kencing adalah
untuk menilai residual urin.
REFERENSI
Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia. Asuhan Keperawatan Medikal
Bedah. EGC (2016)
Wijaya, Andra Saferi Yasode Mariza Putri. Keperawatan Medikal Bedah I. Nuha
Medika (2013).
Corwin, E. J. Buku saku pathofisiologi Edisi 3. EGC(2009).
11