Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

OD PSEUDOFAKIA
DAN
OS KATARAK SENILIS IMMATUR

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata


Rumah Sakit Mardi Rahayu
Kudus
Periode 26 September 2016 29 Oktober 2016
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. R
Umur : 63 Tahun
Agama : Islam
Alamat : Pladen, Jekulo, Kudus
Pekerjaan : Perangkat desa
Tanggal pemeriksaan : 27 September 2016

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Auto anamnesis tanggal : 27 September 2016

Keluhan utama
Penglihatan mata kiri tampak semakin kabur sejak 1 minggu SMRS.

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang dengan keluhan mata kiri tampak semakin kabur sejak 1
minggu SMRS. Keluhan mata kiri kabur dirasakan pertama kali oleh pasien sejak 6
bulan lalu, tanpa disertai dengan adanya nyeri dan keluarnya cairan ataupun sekret
pada mata pasien. Pasien kemudian membeli obat tetes mata catarlent, yang dibeli
dari apotek, dan menggunakannya setiap kali pasien merasakan penglihatan yang
kabur. Namun, pasien mengatakan bahwa tidak ada perbaikkan signifikan selama
menggunakan obat tetes mata tersebut. Sejak 1 minggu lalu, penglihatan mata kiri
pasien menjadi semakin kabur, terasa silau apabila berusaha untuk melihat cahaya
terutama pada saat malam hari, dan menjadi dan hal inilah yang membuat pasien
melakukan kunjungan ke poliklinik mata RS Mardi Rahayu.
Pasien mengatakan memiliki riwayat operasi katarak pada mata kanan 1
bulan lalu, dan telah dipasang lensa tanam pada mata kanan pasien. Pasien tidak
memiliki riwayat darah tinggi, asma ataupun diabettes melitus. Pasien mengatakan
tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah melakukan operasi katarak pada mata kanan dan telah dipasang lensa
tanam pada mata kanan pasien.

Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi ataupun diabetes mellitus.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pengobatan ditanggung BPJS, Status ekonomi cukup

I. PEMERIKSAAN FISIK
Status Ganeralis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Pernafasan : 20 x / menit
Suhu : 36,2 C
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi : Normal (IMT: 22.8 kg/m2 ; BB: 65 kg; TB: 169 cm2)

STATUS OPHTHALMOLOGIS
OD PEMERIKSAAN OS
5/60 Visus 2/60
pre op: 1/~
Tidak Dikoreksi Koreksi Tidak Dikoreksi
Gerak bola mata normal Gerak bola mata normal
Enopthalmus (-) Bulbus Oculi Enopthalmus (-)
Exopthalmus (-) Exopthalmus (-)
Strabismus (-) Strabismus (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Edema (-) Edema (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Blefarospasme (-) Palpebra Blefarospasme (-)
Lagopthalmus (-) Lagopthalmus (-)
Ektropion (-) Ektropin (-)
Entropion (-) Entropion (-)
Edem (-) Edem (-)
Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-)
Bangunan patologis (-) Conjuctiva Bangunan patologis (-)
Infiltrat (-) Infiltrat (-)
Kemosis (-) Kemosis (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Normal, warna putih Sclera Normal, warna putih
Bulat, jernih Bulat, jernih
Edem (-) Edem (-)
Infiltrat (-) Kornea Infiltrat (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Kedalaman: normal Kedalaman: dangkal
Hipopion (-) Camera Oculi Anterior Hipopion (-)
Hifema (-) Hifema (-)
Warna coklat Warna coklat
Edema (-) Edema (-)
Sinekia (-) Iris Sinekia (-)
Atrofi (-) Atrofi (-)
Letak sentral Letak sentral
Diameter 3 mm Pupil Diameter 4 mm
Refleks pupil langsung + Refleks pupil langsung +
Refleks pupil tak Refleks pupil tak
langsung + langsung +
IOL di posterior, Jernih Lensa Sebagian keruh
Letak ditengah Letak ditengah
Shadow test - Shadow test +
Jernih Vitreous Jernih
Papil warna jingga, Fundus Occuli Sulit dinilai
C/D ratio 0,3 - 0,4,
ratio arteri:vena = 2:3,
makula lutea positif

Normal Tekanan Intra Okuler Normal


Normal Sistem Lakrimasi Normal

RESUME
Subjektif
Seorang laki-laki, berusia 63 tahun, datang dengan keluhan mata kiri tampak
semakin kabur sejak 1 minggu lalu. Keluhan mata kiri kabur dirasakan pertama kali
oleh pasien sejak 6 bulan lalu, tanpa disertai dengan adanya nyeri dan keluarnya
cairan ataupun sekret pada mata pasien. Pasien kemudian membeli obat tetes mata
catarlent, yang dibeli dari apotek, dan menggunakannya setiap kali pasien
merasakan penglihatan yang kabur. Namun, pasien mengatakan bahwa tidak ada
perbaikkan signifikan selama menggunakan obat tetes mata tersebut. Sejak 1
minggu lalu, penglihatan mata kiri pasien menjadi semakin kabur, terasa silau
apabila berusaha untuk melihat cahaya terutama pada saat malam hari, dan menjadi
dan hal inilah yang membuat pasien melakukan kunjungan ke poliklinik mata RS
Mardi Rahayu. Pasien mengatakan memiliki riwayat operasi katarak pada mata
kanan 1 bulan lalu, dan telah dipasang lensa tanam pada mata kanan pasien.

Objektif
OD OS
Kedalaman: normal Kedalaman: dangkal
Hipopion (-) Camera Oculi Hipopion (-)
Hifema (-) Anterior Hifema (-)
Letak sentral Letak sentral
Diameter 3 mm Pupil Diameter 4 mm
Refleks pupil langsung + Refleks pupil langsung +
Refleks pupil tak Refleks pupil tak langsung
langsung + +
Warna coklat Warna coklat
Edema (-) Edema (-)
Sinekia (-) Iris Sinekia (-)
Atrofi (-) Atrofi (-)
IOL di posterior, Jernih Lensa Sebagian keruh
Letak ditengah Letak ditengah
Shadow test - Shadow test +

II. DIAGNOSIS KERJA


OD Pseudofakia
Dasar diagnosis
- Subjektif :
Telah dilakukan operasi katarak dan pemasangan lensa intraokuler pada
mata kanan pasien 1 bulan lalu. Saat ini pasien tidak memiliki keluhan
dalam penglihatan untuk mata kanan.
- Objektif:
Lensa IOL di posterior, jernih, letak ditengah, shadow
test negatif. Iris berwarna coklat, tidak ditemukan kelainan.
Pupil terletak sentral dengan diameter +/- 3 mm, refleks pupil
baik langsung ataupun tidak langsung (+). COA normal
Pemeriksaan visus : 5/60. ( Pre-op: 1/~)

OS Katarak Senilis Immatur


Dasar diagnosis
- Subjektif:
Penglihatan mata kiri pasien tampak kabur sejak 6 bulan
lalu yang tidak membaik dengan pemberian obat tetes mata.
Penglihatan semakin kabur sejak 1 minggu lalu, dan
terasa silau apabila sedang melihat cahaya, terutama pada malam
hari
Keluhan tidak disertai dengan adanya nyeri pada mata
ataupun keluarnya cairan/sekret.
- Objektif:
Lensa sebagian keruh, terletak di tengah, shadow test (+).
Iris berwarna coklat, tidak tampak kelainan. Pupil terletak sentral
dengan diameter +/- 4 mm, refleks pupil baik langsung ataupun
tidak langsung (+). COA dangkal
Pemeriksaan visus: 2/60

DIAGNOSIS BANDING

OD pseudofakia dan OS Katarak Senilis Insipien


OD pseudofakia dan OS Katarak Senilis Matur
OD pseudofakia dan OS Katarak Senilis Hipermatur
TERAPI
Promotif
Edukasi pasien tentang penyakit katarak, faktor risiko dan komplikasi
Edukasi pasien bahwa dengan terapi obat dan pembedahan tidak akan
mengembalikan tajam penglihatan seperti orang normal.

Preventif
Edukasi pasien untuk menjaga kebersihan mata dan area sekitar mata
Segera berobat ke dokter mata jika ada keluhan pada mata

Kuratif
Medika mentosa
C- lyters ED fl. No I
S 4 dd gtt II ODS
Optiflox ED fl. No I
S 4dd gtt II OD

Non Medikamentosa
Untuk OS katarak senilis immature dapat dilakukan tindakan bedah berupa
fakoemulsifikasi atau ekstraksi katarak ekstrakapsular (EKEK) dan insersi intraocular
lensa (IOL).

Rehabilitatif
Jaga kebersihan area sekitar mata
Gunakan obat secara teratur
Kontrol kondisi mata 2 minggu lagi
Tidak boleh mengedan

III. PROGNOSIS
OD OS
Ad Vitam ad bonam ad bonam
Ad Functionam ad bonam ad bonam
Ad Sanationam ad bonam ad bonam
Ad Cosmetikum ad bonam ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

Katarak

Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai pada
orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Penuaan
merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga factor lain yang mungkin
terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik (mis; diabetes), merokok, dan
herediter. Kata katarak berasal dari Yunani katarraktes yang berarti air terjun. Dalam
bahasa Indonesia disebut bular dimana seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.
Katarak sendiri sebenarnya merupakan kekeruhan pada lensa akibat hidrasi, denaturasi
protein, dan proses penuaan.sehingga memberikan gambaran area berawan atau putih.1

Kekeuruhan ini menyebabkan sulitnya cahaya untuk mencapai retina, sehingga


penderita katarak mengalami gangguan penglihatan dimana objek terlihat kabur. Mereka
mengidap kelainan ini mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak
apabila kekeruhan tidak terletak dibagian tengah lensanya.1

Gambar 1. Lensa dengan Katarak2

Gangguan penglihatan yang dirasakan oleh penderita katarak tidak terjadi secara instan,
melainkan terjadi berangsur-angsur, sehingga penglihatan penderita terganggu secara tetap
atau penderita mengalami kebutaan. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang
lain, namun dapat terjadi pada kedua mata secara bersamaan.1

Katarak biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun dan pasen mungkin
meninggal sebelum diperlukan pembedahan. Apabila diperlukan pembedahan maka
pengangkatan lensa akan memperbaii ketajaman penglihtan pada > 90% kasus.sisanya
mungkin mengalami kerusakan retina atau mengalami penyulit pasca bedah serius
misalnya glaukoma, ablasio retina, atau infesi yang menghambat pemulihan daya
pandang.1

Katarak Senilis

Definisi

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya.
Lima puluh satu persen (51%) kebutaan diakibatkan oleh katarak.. Katarak senilis
merupakan jenis katarak yang paling sering ditemukan. Katarak senilis adalah setiap
kekeruhan pada lensa yang terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas usia 50 tahun.1

Faktor Resiko

Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal
maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain adalah umur dan jenis
kelamin sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah pekerjaan dan pendidikan
yang berdampak langsung pada status sosial ekonomi dan status kesehatan seseorang, serta
faktor lingkungan, yang dalam hubungannya dalam paparan sinat Ultraviolet yang berasal
dari sinar matahari.3

Usia

Proses normal ketuaan mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh. Dengan
meningkatnya umur, maka ukuran lensa akan bertambah dengan timbulnya serat-serat lensa
yang baru. Seiring bertambahnya usia, lensa berkurang kebeningannya, keadaan ini akan
berkembang dengan bertambahnya berat katarak. .Prevalensi katarak meningkat tiga sampai
empat kali pada pasien berusia >65 tahun 3

Tipe Katarak Senilis

1. Katarak Nuklear

Dalam tingkatan tertentu sklerosis dan penguningan nuklear dianggap normal setelah
usia pertengahan. Pada umumnya, kondisi ini hanya sedikit mengganggu fungsi
penglihatan. Jumlah sklerosis dan penguningan yang berlebihan disebut katarak nuklear,
yang menyebabkan opasitas sentral. Tingkat sklerosis, penguningan dan opasifikasi dinilai
dengan menggunakan biomikroskop slit-lamp dan pemeriksaan reflex merah dengan pupil
dilatasi.1

Katarak nuklear cenderung berkembang dengan lambat. Sebagian besar katarak nuklear
adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. Cirri khas dari katarak nuklear adalah membaiknya
penglihatan dekat tanpa kacamata, keadaan inilah yang disebut sebagai penglihatan
kedua. Ini merupakan akibat meningkatnya kekuatan focus lensa bagian sentral,
menyebabkan refraksi bergeser ke myopia (penglihatan dekat). Kadang-kadang, perubahan
mendadak indeks refraksi antara nukleus sklerotik dan korteks lensa dapat menyebabkan
monocular diplopia . Penguningan lensa yang progresif menyebabkan diskriminasi warna
yang buruk. Pada kasus yang sudah lanjut, nukleusnlensa menjadi opak dan coklat dan
disebut katarak nuklear brunescent.1

Secara histopatologi, karakteristik katarak nuklearis adalah homogenitas nukleus lensa


dengan hilangnya lapisan tipis seluler.

2. Katarak Kortikal

Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Ini adalah jenis katarak yang
paling sering terjadi. Lapisan korteks lensa tidak sepadat pada bagian nukleus sehingga lebih
mudah terjadi overhidrasi akibat ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu serabut
korteks lensa sehingga terbentuk osifikasi kortikal, yang ditunjukkan pada diabetes dan
galaktosemia Perubahan hidrasi serat lensa menyebabkan terbentuknya celah- celah dalam
pola radial disekeliling daerah ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering
asimetrik. Derajat gangguan fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat
kekeruhan lensa dengan sumbu penglihatan .Gejala yang sering ditemukan adalah penderita
merasa silau pada saat mencoba memfokuskan pandangan pada suatu sumber cahaya di
malam hari.1

Pemeriksaan menggunakan biomikroskop slitlamp akan mendapatkan gambaran


vakuola, degenerasi hiropik serabut lensa, serta pemisahan lamella kortek anterior atau
posterior oleh air. Kekeruhan putih seperti baji terlihat di perifer lensa dengan ujungnya
mengarah ke sentral, kekeruhan ini tampak gelap apabila dilihat menggunakan retroiluminasi.
Secara histopatologi, karakteristik dari katarak kortikal adalah adanya pembengkakan hidrofik
serabut lensa. Globula Morgagni (globules-globulus material eosinofilik) dapat diamati di
dalam celah antara serabut lensa.

3. Katarak Subkapsularis Posterior

Katarak subkapsularis posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior bagian
sentral. Katarak ini biasanya didapatkan pada penderita dengan usia yang lebih muda
dibanding kedua jenis katarak yang lain. Gejalanya antara lain adalah fotofobia dan penglihatan
yang buruk saat mata berakomodasi atau diberikan miotikum. Ini dikarenakan ketika pupil
konstriksi saat berakomodasi, cahaya yang masuk ke mata menjadi terfokus ke sentral, dimana
terdapat katarak subkapsularis posterior, menyebabkan cahaya menyebar dan mengganggu
kemampuan mata untuk memfokuskan pada macula.1

Deteksi katarak subkapsularis posterior paling baik menggunakan biomikroskop


slitlamp pada mata yang telah ditetesi midriatikum. Pasda awal pembentukan katarakakan
ditemukan gambaran kecerahan mengkilap seperti pelangi yang halus pada lapisan korteks
posterior. Sedangkan pada tahap akhir terbentuk kekeruhan granular dan kekeruhan seperti
plak di kortek subkapsular posterior. Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma,
penggunaan kortikosteroid (topical atau sistemik), peradangan atau pajanan radiasi pengion.1

Gambar 2. Tipe Katarak Senilis. (1.katarak nuklear, 2. katarak kortikal, 3. katarak subkapsularis
posterior)2

Stadium Katarak Senilis


1) Stadium insipien. Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan
visus. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak
seperti baji (jari-jari roda),terutama mengenai korteks anterior, sedangkan aksis
relatif masih jernih. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil
dilebarkan.3
Ciri2 :
Visus masih cukup baik, bertanbah kabur bila bertambah usia, fundus reflek masih
positif, kekeruhan ditepi lensa.

Gambar 3. Katarak Stadium Insipien2


2) Stadium imatur. Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. Kekeruhan
terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa. Kalau
tidak ada kekeruhan di lensa, maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang
dipantulkan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa, maka sinar oblik yang
mengenai bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan,
terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada
daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap,akibat bayangan iris pada lensa yang
keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+).
Ciri2 :
Visus bertambah kabur terutama sore menjelang malam , Kekeruhan belum merata,
bisa dinukleus atau di kapsul posterior, fundus reflek mulai suram, bisa terjadi
komplikasi glaucoma.3

3) Stadium matur . Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya, sehingga
semua sinar yangmelalui pupil dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa.
Tak ada bayangan iris. Shadow test (-). Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara.
Shadow test membedakan stadium matur dari imatur, dengan syarat harus diperiksa
lebih lanjut dengan midriatika,oleh karena pada katarak polaris anterior juga
terdapat shadow test (-), karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Dengan
melebarkan pupil, akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil
saja. Kadang-kadang, walaupun masih stadium imatur, dengankoreksi, visus tetap
buruk, hanya dapat menghitung jari, bahkan dapat lebih buruk lagi1/300 atau satu
per tak hingga, hanya ada persepsi cahaya, walaupun lensanya belumkeruh
seluruhnya. Keadaan ini disebut vera matur.3

Ciri2 :
Kekeruhan lensa merata, Visus 1/300 1/, Fundus reflek (-)

Gambar 4. Katarak Stadium Matur2


4) Stadium hipermatur. Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah
mencair, sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke bawah. Melalui
pupil, pada daerah yang keruh, nukleus ini terbayang sebagai setengah lingkaran di
bagian bawah, dengan warna yang lain daripada bagian yang diatasnya, yaitu
kecoklatan. Pada stadium ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa, yang menjadi
lebih permeabel, sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi
kempis, yang di bawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak
Morgagni.3

Gambar 5 . Katarak Morgagni2


Ciri2 :
Kekeruhan lensa merata, daerah kortek mulai mencair , nukleus mengendap
kebawah, bisa terjadi glaucoma.
Epidemiologi Katarak Senilis
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia 60
tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa.
Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak
kongenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-
laki dan perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan akibat
katarak.4

Patofisiologi Katarak
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari badan
siliar ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan menghambat
jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal
disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.5

Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan
sklerosis:5

1. Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitellensa yang
berada di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapatdikeluarkan dari lensa. Air yang
banyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan osmotik yangmenyebabkan
kekeruhan lensa.
2. Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana serabutkolagen
terus bertambah sehingga terjadi pemadatan serabut kolagendi tengah. Makin lama
serabut tersebut semakin bertambah banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa.

Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:6


1. Kapsula
- Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
- Mulai presbyopia
- Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
- Terlihat bahan granular
2. Epitel-makin tipis

- Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)

- Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata

3. Serat lensa

- Serat irregular

- Pada korteks jelas kerusakan serat sel

- Brown sclerotic nucleus, sinar UV lama kelamaan merubah proteinnukelus


lensa, sedang warna coklat protein lensa nucleusmengandung histidin dan
triptofan disbanding normal

- Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi
foto oksidasi.

Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan fisik dan
kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat perubahan pada serabut
halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di luar lensa,
misalnya menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Pada protein lensa
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan penghambatan
jalannya cahaya ke retina.6

Gambar 6. Perbandingan penglihatan normal dan penglihatan katarak2


Perbedaan stadium katarak6

Insipien Imatur Matur Hipermatur


Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
(air masuk) (air keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test - + - Pseudops
Penyulit - Glaukoma - Uveitis +
Glaukoma

Manifestasi Klinis
Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi secara progresif
dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis
dari katarak yang diderita pasien.7

Gejala pada penderita katarak adalah sebagai berikut:

1. Penurunan visus

2. Silau

3. Perubahan miopik

4. Diplopia monocular

5. Halo bewarna

6. Bintik hitam di depan mata

Tanda pada penderita katarak adalah sebagai berikut:7

1. Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya


2. Pemeriksaan iluminasi oblik
3. Shadow test
4. Oftalmoskopi direk
5. Pemeriksaan sit lamp
Diagnosa Katarak Senilis

Diagnosa katarak senilis dapat dibuat dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit-penyakit
yang menyertai, seperti DM, hipertensi, dan kelainan jantung.2,8

Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui


kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subcapsuler posterior dapat membaik
dengan dilatasi pupil. Pemeriksaan adneksa okuler dan struktur intraokuler dapat memberikan
petunjuk terhadap penyakit pasien dan prognosis penglihatannya.8

Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas lensa tetapi
dapat juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva, kornea, iris, bilik mata depan. Ketebalan
kornea harus diperiksa dengan hati-hati, gambaran lensa harus dicatat dengan teliti sebelum
dan sesudah pemberian dilator pupil, posisi lensa dan intergritas dari serat zonular juga dapat
diperiksa sebab subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya,
kelainan metabolik, atau katarak hipermatur. Pemeriksaan shadow test dilakukan untuk
menentukan stadium pada katarak senilis. Selain itu, pemeriksaan ofthalmoskopi direk dan
indirek dalam evaluasi dari intergritas bagian belakang harus dinilai.8

Tatalaksana

Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Bergantung


pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler cataract
ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE).9

Indikasi

Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup indikasi visus,medis, dan
kosmetik.9

1. Indikasi visus; merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini berbeda pada tiap
individu, tergantung dari gangguan yang ditimbulkan oleh katarak terhadap aktivitas
sehari-harinya.
2. Indikasi medis; pasien bisa saja merasa tidak terganggu dengan kekeruhan pada
lensa matanya, namun beberapa indikasi medis dilakukan operasi katarak seperti
glaukoma imbas lensa (lens-induced glaucoma), endoftalmitis fakoanafilaktik, dan
kelainan pada retina misalnya retiopati diabetik atau ablasio retina.
3. Indikasi kosmetik; kadang-kadang pasien dengan katarak matur meminta
ekstraksi katarak (meskipun kecil harapan untuk mengembalikan visus) untuk
memperoleh pupil yang hitam.

Persiapan Pre-Operasi9
1. Pasien sebaiknya dirawat di rumah sakit semalam sebelum operasi
2. Pemberian informed consent
3. Bulu mata dipotong dan mata dibersihkan dengan larutan Povidone-Iodine 5%
4. Pemberian tetes antibiotik tiap 6 jam
5. Pemberian sedatif ringan (Diazepam 5 mg) pada malam harinya bila pasien
cemas
6. Pada hari operasi, pasien dipuasakan.
7. Pupil dilebarkan dengan midriatika tetes sekitar 2 jam sebelum operasi. Tetesan
diberikan tiap 15 menit
8. Obat-obat yang diperlukan dapat diberikan, misalnya obat asma, antihipertensi,
atau anti glaukoma. Tetapi untuk pemberian obat antidiabetik sebaiknya tidak
diberikan pada hari operasi untuk mencegah hipoglikemia, dan obat antidiabetik
dapat diteruskan sehari setelah operasi.

Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada ekstraksi
katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi, SICS.9

1. Intra Capsular Cataract Extraction (ICCE)

Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh


lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata melalui
incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan
lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan
tindakan pembedahan yang sangat lama populer.ICCE tidak boleh dilakukan atau
kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen
hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma,
uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.9
Gambar 7. Teknik ICCE9

2. Extra Capsular Cataract Extraction ( ECCE )

Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa
dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek
lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda,
pasien dengan kelainan endotel, implantasi lensa intra ocular posterior, perencanaan
implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma,
mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah
mengalami prolap badan kaca, ada riwayat mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid
macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan
pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada
pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.9

Gambar 8. Teknik ECCE9


3. Phacoemulsification

Phakoemulsifikasi (phaco) adalah teknik untuk membongkar dan memindahkan


kristal lensa. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di
kornea. Getaran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya
mesin PHACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah
lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi
yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-
hari.Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak
senilis.9

Gambar 9. Phacoemulsification

4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)


Insisi dilakukan pada sklera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm. Namun tetap
dikatakan SICS sejak design arsiteknya tanpa jahitan, Penutupan luka insisi terjadi
dengan sendirinya (self-sealing). Teknik operasi ini dapat dilakukan pada stadium
katarak immature, mature, dan hypermature. Teknik ini juga telah dilakukan pada kasus
glaukoma fakolitik dan dapat dikombinasikan dengan operasi trabekulektomi.9
Jenis tehnik Keuntungan Kerugian
bedah katarak

Extra capsular Incisi kecil Kekeruhan pada


cataract Tidak ada komplikasi kapsul posterior
extraction vitreus Dapat terjadi
(ECCE) Kejadian perlengketan iris dengan
endophtalmodonesis lebih kapsul
sedikit
Edema sistoid makula
lebih jarang
Trauma terhadap
endotelium kornea lebih
sedikit
Retinal detachment lebih
sedikit
Lebih mudah dilakukan

Intra capsular Semua komponen lensa Incisi lebih besar


cataract diangkat Edema cistoid pada
extraction makula
(ICCE) Komplikasi pada
vitreus
Sulit pada usia < 40
tahun
Endopthalmitis
Fakoemulsifikasi Incisi paling kecil Memerlukan dilatasi
Astigmatisma jarang pupil yang baik
terjadi Pelebaran luka jika
Pendarahan lebih ada IOL
sedikit
Teknik paling cepat
Pseudofakia

Pseudofakia adalah suatu keadaan dimana mata terpasang lensa tanam setelah operasi
katarak. Lensa ini akan memberikan penglihatan lebih baik. Lensa intraokular ditempatkan
waktu operasi katarak dan akan tetap disana untuk seumur hidup. Lensa ini tidak aakn
mengganggu dan tidak perlu perawatan khusus dan tidak akan ditolak keluar oleh tubuh.
Gejala dan tanda pseudofakia: penglihatan kabur, visus jauh dengan optotype snellen, dapat
merupakan miopi atau hipermetropi tergantung ukuran lensa yang ditanam (IOL), terdapat
bekas insisi atau jahitan.5,6
Letak lensa didalam bola mata dapat bermacam-macam, seperti:
a. Pada bilik depan mata, yang ditempatkan didepan iris dengan kaki penyokongnya
bersandar pada sudut bilik mata
b. Pada daerah pupil, dimana bagian 11 ulti lensa pada pupil denagn fiksasi pupil
c. Pada bilik mata belakang, yang diletakkan pada kedudukan lensa normal dibelakang
iris, lensa dikeluarkan dengan ekstraksi lensa ekstra kapsular
d. Pada kapsul lensa

Pada saat ini pemasangan lensa terutama diusahakan terletak di dalam kapsul lensa.
Meletakkan lensa tanam didalam bilik mata memerlukan perlindungan khusus:5
1. Endotel korena terlindung
2. Melindungi iris terutama pigme iris
3. Melindungi kapsul posterior lensa
4. Mudah memasukkannya karena tidak memberikan cedera pada zonula lensa

Keuntungan pemasangan lensa ini:5


1. Penglihtan menjadi lebih fisiologis karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat
lensa asli yang diangkat
2. Lapang penglihatan sama denagn lapang pandangan normal
3. Tidak terjadi pembesaraan benda yang dilihat
4. Psikologis, mobilisasi lebih cepat

Pemasangan lensa tidak dianjurkan kepada:5


1. Mata yang sering mengalami radang intra okuer (uveitis)
2. Andak dibawah usai 3 tahun
3. Uveitis menahun berat
4. Retinopati 12 ultifocal berat
5. Glaukoma neovaskuler

KOMPLIKASI

Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif, postoperatif awal,


postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa intra okular (intra ocular lens,
IOL).6

Komplikasi preoperatif
a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat
ketakutan akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat
memperbaiki keadaan.
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid dan/atau
gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida oral untuk
mengurangi gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep
antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2 hari.
Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
b) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau selama
insisi ke bilik mata depan.
c) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat
terjadi akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
d) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
e) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi
akibat ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.

Komplikasi postoperatif awal


Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema, prolaps iris,
keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis bakterial.
Komplikasi postoperatif lanjut
Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative endophtalmitis,
Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan katarak sekunder
merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa waktu post operasi.

Komplikasi yang berkaitan dengan IOL


Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucoma-hyphema
syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa toksik (toxic lens
syndrome).6

Pencegahan Katarak Senilis

Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis
ialah oleh karena faktor usia, namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal yang
memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik, mencegah paparan langsung terhatap
sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya. Pemberian intake
antioksidan (seperti asam vitamin A, C dan E) secara teori bermanfaat.6
Bagi perokok, diusahakan berhenti merokok, karena rokok memproduksi radikal bebas
yang meningkatkan risiko katarak. Selanjutnya, juga dapat mengkonsumsi makanan bergizi
yang seimbang. Memperbanyak porsi buah dan sayuran. Lindungilah mata dari sinar
ultraviolet. Selalu menggunakan kaca mata gelap ketika berada di bawah sinar matahari.
Lindungi juga diri dari penyakit seperti diabetes.6

Prognosis Katarak Senilis

Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak senilis dapat memperbaiki


ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus. Sedangkan prognosis penglihatan untuk
pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak
senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi
tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan
ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan
paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat.9
DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan-Eva P, Witcher. Vaughan & Asbury. Oftalmologi umum. Edisi 17. Jakarta:
EGC; 2010. h. 212-28.
2. Smith, Morton. Opthalmology Basic and Clinical Science Course. California:
American Academy of Ophthalmology ;2016.
3. Ilyas, H.S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta:FKUI.
4. PERDAMI. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 2. Jakarta: Agung Seto; 2009.
5. Suhardjo SU, Hartono. Ilmu kesehatan mata. Edisi ke-2. Yogyakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada; 2012. H.111-43.
6. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th edition. New Delhi: New Age
International; 2007.
7. Tsai JC, Denniston A, Murray PI, et. Al, editors. Oxford American handbook of
ophthalmology. New York: Oxford University Press; 2011.
8. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Jakarta: Widya Medika; 2009.
9. Tan, D.T.H.2002. Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New
York: Springer. p.65 83