Anda di halaman 1dari 34

REFERAT

BLEFARITIS MARGINALIS

Disusun Oleh :

Mahdiyah Aturi Sari 1261050153

Dian Apriyetty 1361050085

Hardi Hutabarat 1361050161

Martha Digna Olivia 1361050198

Cathleen Kenya 1361050253

Pembimbing :

Dr. Med. dr. Jannes Fritz Tan., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


PERIODE 10 DESEMBER 2018 – 19 JANUARI 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan pertolongan-Nya, penulis dapat menyelesaikan Referat berjudul
“Blefaritis Marginalis” dengan tepat waktu. Referat ini disusun guna memenuhi
tugas kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di RSU UKI.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Med. dr.
Jannes Fritz Tan, Sp.M yang telah membimbing penulis dalam mengerjakan referat
ini, serta kepada rekan-rekan dokter yang telah membimbing penulis selama di
kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di RSU UKI. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada teman-teman seperjuangan di kepaniteraan ini, serta kepada
semua pihak yang telah memberi dukungan dan bantuan kepada penulis.

Dengan penuh kesadaran, meskipun penulis sudah berupaya semaksimal


mungkin untuk menyelesaikan referat ini, namun masih terdapat beberapa kesalahan
maupun kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca. Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini dapat
berguna dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Jakarta, 15 Desember 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 4

1.1.Anatomi Palpebra .......................................................................................... 5

1.2.Kelenjar Palpebra .......................................................................................... 7

1.3.Fisiologi Palpebra dan Kelenjar Meibom ...................................................... 8

1.4.Flora Normal Palpebra .................................................................................. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 11

2.1.Blefaritis Marginalis .................................................................................... 11

2.1.1 Definisi .............................................................................................. 11


2.1.2 Klasifikasi ......................................................................................... 12
2.1.3 Epidemiologi ..................................................................................... 14
2.1.4 Etiologi dan Faktor Risiko ................................................................ 15
2.1.5 Patofisiologi ...................................................................................... 17
2.1.6 Manifestasi Klinis dan Diagnosis ..................................................... 21
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang .................................................................... 24
2.1.8 Diagnosis Banding ............................................................................ 25
2.1.9 Tatalaksana........................................................................................ 26
2.1.10 Komplikasi dan Prognosis .............................................................. 28

BAB III PENUTUP ................................................................................................... 30

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 33

3
BAB I

PENDAHULUAN

Blefaritis adalah suatu peradangan subakut atau menahun tepi kelopak mata.1
Blefaritis diklasifikasikan menjadi blefaritis anterior dan posterior. Blefaritis anterior
merupakan inflamasi kulit kelopak mata dan folikel bulu mata disertai dengan debris
skuamosa atau kolaret, biasanya berkaitan dengan infeksi Staphylococcal dan
dermatitis seboroik. Blefaritis posterior adalah inflamasi kelenjar Meibom dan
biasanya disebabkan oleh disfungsi kelenjar Meibom.2
Pada umumnya, beberapa mekanisme patogenesis terlibat dalam kelompok
kondisi yang kita sebut blefaritis. Sebagai contoh, disfungsi kelenjar Meibom
merupakan bagian dari kondisi yang dapat menyebabkan blefaritis, namun bisa
menjadi hasil dari sejumlah faktor terkait yang menimbulkan efek subklinis dan klinis
yang berbeda. Blefaritis dapat timbul berhubungan dengan berbagai kondisi,
termasuk dry eye disease, dermatitis seboroik, akne rosasea, dan atopi.3
Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang paling banyak
ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan prevalensi masih kurang. Salah
satu studi pusat tunggal pada 90 pasien dengan blefaritis kronik tercatat rata-rata usia
pasien adalah 50 tahun. Pasien dengan blefaritis staphylococcal ditemukan pada
relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering ditemukan pada wanita (80%). Sebuah
penelitian U.S pada orang dewasa (n= 5000) terungkap bahwa gejala khas blefaritis
cukup sering ditemukan, lebih sering gejala ditemukan pada usia individu lebih muda
dibanding dengan usia individu yang lebih tua. Prevalensi diagnosis klinis disfungsi
kelenjar Meibomian sangatlah bervariasi dipublikasikan di literatur dunia, paling
sering ditemukan diantara populasi Asia dibanding populasi kaukasian.4

4
1.1.Anatomi Palpebra

Palpebra adalah termasuk komponen eksternal mata yang berupa


lipatan jaringan yang mudah bergerak dan berperan melindungi bola mata dari
depan. Fungsi palpebra antara lain untuk melindungi dari segala trauma,
mencegah penguapan air mata, menjaga kelembaban mata, dan sebagai
estetika. Kulit palpebra sangat tipis sehingga mudah membengkak pada
keadaan-keadaan tertentu. Pada tepi palpebra terdapat bulu mata (silia) yang
berguna untuk proteksi mata terhadap sinar, di samping juga terhadap trauma-
trauma minor. Di dalam palpebra terdapat tarsus, yaitu jaringan ikat padat
bersama dengan jaringan elastik.5

Gambar 1. Anatomi Palpebra6

5
Lapisan otot palpebra tersusun atas muskulus orbikularis okuli,
muskulus levator palpebra, dan muskulus tarsalis superior dan inferior.
Muskulus orbikularis okuli berfungsi untuk menutup kelopak mata (berkedip),
diinervasi oleh saraf fasial (nervus facialis) dan parasimpatis. Muskulus
levator palpebra berfungsi untuk membuka mata, diinervasi oleh saraf
okulomotor. Muskulus tarsalis superior (Mulleri) dan inferior yang berfungsi
untuk memperlebar celah mata, mendapat inervasi dari serabut saraf
pascaganglioner simpatis yang mempunyai badan sel di ganglion servikal
superior.5

Bagian belakang palpebra ditutupi oleh konjungtiva, Konjungtiva yang


melapisi permukaan belakang kelopak ini disebut sebagai konjungtiva
palpebradan merupakan lanjutan konjungtiva bulbi, yaitu konjungtiva yang
melapisi sklera bagian depan. Pada kelopak juga terdapat septum orbita.
Kelopak mata berperan sebagai pelindung dengan adanya refleks menutup
kelopak akibat rangsangan di kornea, adanya cahaya yang menyilaukan,
maupun akibat adanya obyek yang bergerak ke arah mata. Ia juga berperan
pada saat tidur, karena saat tidur kontraksi m. orbikularis okuli berkontraksi
sehingga kelopak mata menutup dan mencegah kornea mengalami
kekeringan. Saat terjaga juga terjadi kedipan spontan untuk menjaga kornea
tetap licin dan meratakan air mata. Perlu diketahui bahwa pada saat kelopak
menutup secara volunter, masih terdapat cahaya yang masuk mata sebesar
kira-kira 1%.5

Vaskularisasi palpebra berasal terutama dari a.oftalmik, a.zigomatik,


dan a.angularis. Drainase limfatiknya adalah ke kelenjar limfe preaurikular,
parotid, dan submaksilaris.5

6
1.2.Kelenjar Palpebra

Pada palpebra terdapat empat macam kelenjar, yaitu kelenjar Meibom,


Zeis, Moll, dan aksesoria. Kelenjar Meibom (glandula tarsalis) terdapat di
dalam tarsus, bermuara dalam tepi kelopak. Pada palpebra atas terdapat 25
buah kelenjar dan pada palpebra bawah terdapat 20 kelenjar. Kelenjar
Meibom menghasilkan sebum (minyak) yang merupakan lapisan terluar air
mata. Kelenjar Zeis berhubungan dengan folikel rambut dan juga
menghasilkan sebum. Kelenjar Moll merupakan kelenjar keringat. Kelenjar
lakrimal tambahan (aksesoria) terdiri atas kelenjar Krause dan kelenjar
Wolfring yang keduanya terdapat di bawah konjungtiva palpebra. Mereka
menghasilkan komponen air yang merupakan lapisan tengah air mata.5

Gambar 2. Kelenjar Palpebra

7
1.3.Fisiologi Palpebra dan Kelenjar Meibom

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta


mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan
kornea. Kelopak merupakan alat menutup mata yang berguna untuk
melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan keringnya bola mata.
Fungsi lainnya antara lain mencegah penguapan air mata, menjaga
kelembaban mata, dan sebagai estetika. Pada tepi palpebra terdapat bulu mata
(silia) yang berguna untuk proteksi mata terhadap sinar dan juga proteksi
terhadap trauma-trauma minor.5

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta


mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan
kornea. Kelopak merupakan alat menutup mata yang berguna untuk
melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan keringnya bola
mata.7 Fungsi lainnya antara lain mencegah penguapan air mata, menjaga
kelembaban mata, dan sebagai estetika.Pada tepi palpebra terdapat bulu mata
(silia) yang berguna untuk proteksi mata terhadap sinar dan juga proteksi
terhadap trauma-trauma minor.5

Lapisan air mata merupakan lapisan tipis dan melapisi permukaan


kornea, konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi. Tebal lapisan air mata
berkisar 7-10 mikron. Lapisan air mata terdiri dari :5

1. Lapisan musin (mukus) yang melapisi langsung kornea dan selaput lendir
konjungtiva yang dihasilkan oleh sel Goblet konjungtiva
2. Lapisan air yang merupakan lapisan tengah yang dihasilkan oleh Kelenjar
Lakrimal dan kelenjar lakrimal aksesoris (Krause dan Wolfring)
3. Lapisan lemak yang merupakan lapisan terluar yang dihasilkan oleh
Kelenjar Meibom dan Moll

8
Anterior lapisan air mata terdiri dari lapisan lipid yang dihasilkan oleh
Glandula Meibom yang terletau di tarsus pada palpebra superior dan inferior.
Pada palpebra superior terdapat 30-40 Glandula Meibom dan pada palpebra
inferior terdapat 20-30 Glandula Meibom yang lebih kecil. Masing-masing
orificium kelenjar terbuka ke kulit tepi kelopak mata.

Fungsi lapisan lipid antara lain :8


1. Memperlambat evaporasi
2. Mempertahankan barier hidropobik yang mencegah air mata berlebihan
dengan meningkatkan tekanan permukaan
3. Mencegah kerusakan kulittepi palpebra dengan air mata

1.4.Flora Normal Palpebra

Dalam keadaan normal, kelopak mata dan konjungtiva mendukung


populasi mikroorganisme yang tidak menyebabkan penyakit. Mikroorganisme
ini disebut sebagai flora normal. Pada mata sehat memelihara flora normal
selama hidupnya. Flora normal terbanyak yaitu Staphylococcus epidermidis,
Staphylococcus aureus, dan diphtheroid. Mekanisme untuk mengendalikan
flora normal termasuk bulu mata, kelopak mata, lapisan air mata, dan
apparatus lakrimalis.9

Kolonisasi bakteri pada tepi kelopak mata dan konjungtiva


mempunyai keuntungan sebagai menurunkan peluang mikroorganisme lain
untuk tinggal pada mata. Hubungan antara host dan mikroorganisme dikenal
sebagai komensalisme., yaitu hubungan anatara dua organism dimana yang
satu mendapatkan keuntungan namun yang lainnya tidak dirugikan. Walaupun
demikian, perubahan keadaan lingkungan, kadang-kadang dapat masuk dan
menginfeksi host.9

9
Sebelum lahir, konjungtiva dan kelopak mata steril, saat masih berada
dalam kantong amniotic. Flora bakteri seperti Staphylococcus epidermidis,
streptococci, dan Escherichia coli ditransfer pada saat jalan lahir. Dengan
pertambahan usia Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan
diphtheroid merupakan bakteri yang dominan.9

Selain itu, jamur tertentu merupakan flora normal permukaan okuli


ekterna. Spora di udara dipercaya jatuh masuk ke dalam permukaan mata.
Walaupun begitu, riwayat trauma atau imunosupresi, secara normal jamur
dapat menginduksi infeksi kornea, dengan selanjutnya kebutaan.9

Virus dan amoeba tidak dipertimbangkan sebagai residen normal pada


mata bagian luar. Virus, sebagai parasit intraseluler obligat, lebih mengarah
pada penyakit dibangingkan komensalisme. Spesies Acanthamoeba dapat
diisolasi pada konjungtiva pada pasien dengan pemakai lensa kontak yang
terkontaminasi. Mekanisme dalam mengendalikan flora normal pada mata
bagian luar adalah bulu mata, kelopak mata, lapisan air mata dan apparatus
lakrimalis. Lapisan air mata berkontribusi dalam menghambat pertumbuhan
bakteri melalui lisozim dan laktoferin. Lisozim memiliki antibakteri
nonspesifik yang dapat menyebabkan dinding sel bakteri. Laktoferin berperan
penting dalam mengambat flora bakteri mata oleh kapasitas pengikat besinya.9

Infeksi dapat terjadi ketika komponen mekanisme pengendali dibawah


normal menyebabkan mikroba menjadi tidak dapat melakukan mekanisme
pertahanan dengan adekuat. Perubahan komposisi flora normal dapat terjadi
setelah pemakaian antiseptic dan antibiotic pada kelopak mata atau
konjungtiva.9

10
BAB II

TINJAUAN PUS TAKA

2.1. Blefaritis Marginalis

2.1.1 Definisi

Istilah blefaritis meliputi kondisi yang dihasilkan dari patologi yang


terkait dengan unit pilosebasea palpebra anterior dan kelenjar Meibom
palpebra posterior. Klasifikasi blefaritis paling sederhana dan digunakan pada
klinis, yaitu anterior dan posterior. Paling sering blefaritis anterior disebabkan
oleh karena produk bakteri mengalami pertumbuhan berlebihan dan/atau
aktivitas kelenjar sebasea. Sedangkan blefaritis posterior hampir selalu
dikaitkan dengan disfungsi kelenjar Meibom. Disfungsi kelenjar Meibom
adalah yang paling sering menyebabkan penguapan mata kering.3

Blefaritis didefinisikan sebagai kondisi yang dapat mempengaruhi


fungsi normal bulu mata dan kelenjar Meibom melalui produk bakteri,
inflamasi, perubahan sekresi kelenjar Meibom, atau kombinasi dari faktor-
faktor tersebut. Blefaritis dapat timbul berhubungan dengan berbagai kondisi,
termasuk penyakit mata kering, dermatitis seboroik, akne rosasea, dan atopi.
Penyakit mata kering adalah kondisi dimana film air mata tidak cukup
melindungi permukaan okular dikarenakan produksi air mata tidak cukup
dan/atau penguapan air mata yang berlebihan.3

Blefaritis adalah suatu peradangan subakut atau menahun tepi kelopak


mata. Blefaritis kronis (blefaritis marginal kronis) adalah penyebab yang
sangat umum dari ketidaknyamanan okular dan iritasi. Korelasi yang buruk

11
antara gejala dan tanda-tanda, etiologi pasti, dan mekanisme proses penyakit
menjadikan tatalaksana menjadi sulit.1

2.1.2 Klasifikasi

Secara anatomis, blefaritis dapat dibagi menjadi blefaritis anterior dan


posterior. Blefaritis anterior adalah peradangan pada bulu mata dan folikel,
sedangkan blefaritis posterior melibatkan kelenjar Meibom. Blefaritis anterior
biasanya menular dan dapat disebabkan oleh bakteri (Staphylococcal), virus
(Moluskum kontagiosum), dan parasit (Phthiriasis) atau seboroik. Blefaritis
posterior umumnya disebabkan karena metabolik.10

Blefaritis dapat dibagi menjadi anterior dan posterior, meskipun ada


tumpang tindih dan kedua jenis sering terjadi bersamaan (mixed blepharitis).
Blefaritis anterior mengenai daerah sekitarnya dasar bulu mata dan mungkin
sebuah bentuk dari blefaritis stafilokokus atau seboroik. Sebuah faktor
etiologi pada blefaritis staphylococcal mungkin merupakan respon
diperantarai sel abnormal terhadap komponen dinding sel S. aureus, yang
mungkin juga bertanggung jawab untuk mata merah dan infiltrat kornea
perifer terlihat pada beberapa pasien; itu lebih umum dan lebih ditandai pada
pasien dengan dermatitis atopik. Blefaritis seboroik sangat terkait dengan
dermatitis seboroik umum yang khas melibatkan kulit kepala, lipatan
nasolabial, kulit belakang telinga dan tulang dada.1

Terdapat 2 bentuk blefaritis yaitu blefaritisseboroik (blefaritis


skuamosa) dan blefaritis ulseratif (blefaritisstafilokokal). Blefaritis seboroik
merupakan peradangan kelenjar kulit didaerah bulu mata, sering pada orang
yang kulitnya berminyak,penyebabnya biasanya kelainan metabolik atau
jamur. Adahubungannya dengan penyakit kulit karena jamur,

12
contohnyaketombe pada kepala. Blefaritis seboroik dapat merupakan
bagiandermatitis seboroik.Secara klinis ditemukan sisik halus,
putih,penebalan kelopak mata disertai madarosis (hilangnya bulu
mata),dibawah sisik kulit hiperemi, tidak berulserasi. Berbeda dengan
blefaritis ulserativa yang diduga penyebab utamanya adalah stafilokokus.
Secara klinis terdapat keropeng kekuningan merekat bulu mata menjadi satu.
Bilakeropeng dibuang akan terjadi ulkus kecil mudah berdarah. Ulkus ini bila
sembuh dapat menyebabkan sikatriks.Bila tidak diobatidengan baik ulkus bisa
meluas merusak akar rambut sehingga bulumata rontok. Ia juga bisa
menyebabkan konjungtivitis menahun.Selain itu dapat menyebabkan trikiasis
karena terbentuk sikatrikspada palpebra.1

Blefaritis posterior disebabkan oleh disfungsi kelenjar Meibom dan


perubahan sekresi kelenjar Meibom. Lipase bakteri dapat mengakibatkan
pembentukan asam lemak bebas. Hal ini meningkatkan titik leleh Meibom,
mencegah ekspresi dari kelenjar, yang berkontribusi terhadap iritasi
permukaan mata dan memungkinkan pertumbuhan S. aureus. Kehilangan
fosfolipid film air mata yang bertindak sebagai surfaktan mengakibatkan
peningkatan penguapan air mata dan osmolaritas, dan film air mata tidak
stabil. Blefaritis posterior umumnya dianggap sebagai kondisi peradangan
persisten dan kronis dari blefaritis anterior.1

Blefaritis marginalis adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan koeksistensi blefaritis anterior dan posterior. Karena sering
ada tumpang tindih yang signifikan antara blefaritis anterior dan posterior,
banyak etiologi blefaritis yang tidak spesifik untuk satu jenis blefaritis.
Tungau Demodex adalah parasit intrakutan yang menghambat folikel rambut
dan kelenjar sebasea. Infestasi Demodex telah dikaitkan dengan kedua
blefaritis baik anterior maupun posterior. Phthirus pubis adalah infeksi parasit

13
lain pada kelopak mata yang dapat menyebabkan blefaritis (walaupun jarang
terjadi).2

2.1.3 Epidemiologi

Secara khusus, sangatlah sedikit data prevalensi dan insidensi yang


tersedia dalam literatur mengenai blefaritis. Walaupun dalam praktik klinis,
blefaritis adalah salah satu gangguan okular paling sering ditemui. Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Hom dan rekan kerja berupa ekspresi kelenjar
Meibom pada 398 pasien yang dipilih secara acak tampak normal untuk
pemeriksaan visus rutin. Hasilnya terdapat 155 pasien dinilai memiliki
disfungsi kelenjar Meibom. Dalam penelitian ini, prevalensi meningkat
seiring dengan usia tetapi tidak berkorelasi dengan faktor lain.3

Pada tahun 2003, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Venturino


dan koleganya mengumpulkan dan menganalisis data dari 1.148 pasien yang
melakukan pemeriksaan mata karena alami ketidaknyamanan atau iritasi mata.
Mereka menemukan bahwa blefaritis posterior (24%) adalah kondisi yang
paling sering terdiagnosis diantara pasien yang diteliti, diikuti dengan
penyakit mata kering (21%), dan blefaritis anterior (12%). Mereka lebih lanjut
mencatat bahwa secara keseluruhan penatalaksanaan yang digunakan adalah
tidak spesifik untuk diagnosis dan memberikan hasil yang buruk.3

Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang paling


banyak ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan prevalensi masih
kurang. Salah satu studi pusat tunggal pada 90 pasien dengan blefaritis kronik
tercatat rata-rata usia pasien adalah 50 tahun. Pasien dengan blefaritis
staphylococcal ditemukan pada relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering
ditemukan pada wanita (80%). Sebuah penelitian U.S pada orang dewasa (n=

14
5000) terungkap bahwa gejala khas blefaritis cukup sering ditemukan, lebih
sering gejala ditemukan pada usia individu lebih mudadibanding dengan usia
individu yang lebih tua. Prevalensidiagnosis klinis disfungsi kelenjar Meibom
sangatlah bervariasi dipublikasikan di literatur dunia, paling sering ditemukan
diantara populasi Asia dibanding populasi kaukasian.4

2.1.4 Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab blefaritis tidak diketahui jelas dan multifaktorial. Bakteri


memainkan peran penting dalam patogenesis blefaritis. Flora normal
konjungtiva pada pasien dengan blefaritis telah dilaporkan memiliki jumlah
bakteri yang lebih banyak daripada individu normal. Lipase bakteri mengubah
sekresi dari kelenjar meibom, meningkatkan konsentrasi kolesterol dan
mendukung pertumbuhan dan proliferasi bakteri. Residu beracun dari bakteri,
invasi jaringan secara langsung, dan kerusakan yang dimediasi imunitas
memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit.10

Selain itu, salah satu etiologi blefaritis adalah Demodex folliculorum.


Demodexfolliculorum adalah tungau parasit kecil yang hidup di folikel
rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar meibom. Biasanya terlihat di daerah
wajah, leher, aksila dan kemaluan. Pertama kali dilihat oleh Henle e Berguer
pada tahun 1841 dan dijelaskan secara rinci oleh Simon pada tahun 1842,
terkait dengan blefaritis kronis. Hal ini masih kontroversial dan beberapa
penulis percaya D. folliculorum tidak berbahaya.10

Berdasarkan penelitian Thygeson (1946) didapatkan hal-hal yang


menjadi penyebab dan faktor terjadinya blefaritis adalah11

1. Bakteri, termasuk staphylococci, streptococci dan diplobacilli;


2. Alergi terhadap berbagai zat;

15
3. Jamur;
4. Kesalahan pembiasan;
5. Seborrhea;
6. Parasit hewan;
7. Kekurangan vitamin;
8. Gangguan endokrin, dan
9. Predisposisi keturunan.

Faktor Risiko4

1. Mata Kering
Mata kering telah dilaporkan pada 50% pasien dengan
Blefaritis staphylococcal. Disisi lain dari 66 pasien dengan mata
kering, 75% mengalami staphylococcal konjungtivitis atau blefaritis.
Hal itu memungkinkan dikarenakan menurun nya lokal lysozyme dan
immunoglobulin yang berhubungan dengan menurunnya air mata.
Dua puluh lima persen dari 40% total pasien blefaritis seboroik
dan MGD (Meibomian gland dysfunction) dan 37%-52% pasien
dengan ocular rosacea juga mengalami defisiensi air mata. Hal ini
terjadi dari peningkatan evaporasi air mata yang disebabkan defisiensi
komponen lipid pada air mata.

2. Kondisi Kulit
Kondisi kulit berhubungan dengan blefaritis seboroik dan
MGD yang mempunyai etiologi dan faktor predisposisi yang sama.
Dalam satu studi, 95% pasien dengan blefaritis seboroik juga
mengalami dermatitis seboroik.

16
3. Demodicosis
Demodex folliculorum ditemukan pada 30% pasien kronik
blefaritis.

4. Rosacea
Rosacea adalah penyakit kronis yang ditandai dengan adanya
telangiektasis, eritema, papula, pustula, dan kelenjar sebaceous
hipertrofik di area wajah kemerahan. Rosacea biasanya dimulai sekitar
30 hingga 40 tahun dan tanda-tanda dan gejala
sering terjadi dan terjadi pada awal proses penyakit. Semua tersangka
harus segera dirujuk ke dokter kulit untuk memastikan diagnosis dan
membantu mengidentifikasi pemicu.

2.1.5 Patofisiologi

Blefaritis biasanya disfungsi sekunder akibat perubahan struktural


pada kelenjar meibom. Ada 30 hingga 40 kelenjar di tarsus atas dan 20 hingga
25 pada tarsus bawah. Mereka membentuk lobulus yang berpusat di sekitar
tubulus utama di tarsus atas dan bawah. Lipid yang diproduksi di kelenjar ini
diekspresikan melalui bukaan meibom yang terletak di antara kulit epitel dan
garis abu-abu di dalam tarsus dan akan membentuk lapisan lipid dari air mata.
Lapisan lipid mencegah penguapan air mata, mencegah kontaminasi dan
membantu membentuk permukaan optik pada kornea dan bertindak sebagai
penghalang terhadap setiap partikulat. McCulley et al. melaporkan bahwa di
antara pasien dengan disfungsi kelenjar meibom, jumlah produksi air mata
sering menurun.10

Kelopak mata melindungi permukaan mata dan kelenjar pada kelopak


mata, terutama kelenjar meibom, yang berfungsi penting dalam sekresi air

17
mata. Infeksi pada kelopak mata (blefaritis) dapat menyebabkan obstruksi dan
mencegah kelenjar ini mensekresikan lipid yang berkontribusi membentuk air
mata. Termasuk dalam air mata adalah lapisan atas terpenting dari lipid yang
secara luas berasal dari kelenjar meibom yang membatasi penguapan air
sehingga membantu mencegah perkembangan mata yang kering.12

Lipase dari kedua host dan bakteri dapat melepaskan asam lemak
bebas, kolesterol, dan lipid lainnya yang terakumulasi dalam saluran yang
berkontribusi terhadap penyumbatan saluran dan berkumpulnya neutrofil dan
komponen inflamasi lainnya ke kelenjar.12

Lipase bakteri mengubah sekresi kelenjar meibom, meningkatkan


konsentrasi kolesterol dan mendukung pertumbuhan dan proliferasi bakteri.
Residu beracun dari bakteri, invasi jaringan langsung, dan kerusakan
dimediasi kekebalan memainkan peran penting dalam perkembangan
penyakit.12

Blefaritis dengan mata kering menjadi dua hal yang saling


berhubungan. Istilah baru yang diperkenalkan adalah dry eye blepharitis
syndrome (DEBS). Fakta bahwa ada beberapa gejala tumpang tindih dan
patologi yang saling terkait dalam sindrom mata kering.12

Hal ini sekarang dapat menghubungkan mata kering dan blefaritis


bersama dengan satu sumber patologi umum. Yang menjadi jelas adalah
bahwa mata kering dan blepharitis menjadi satu kesatuan, yaitu dry eye
blepharitis syndrome (DEBS), yang mencerminkan pada kenyataannya satu
proses penyakit, bukan dua hal yang berbeda.12

Pada kelopak mata terdapat bakteri flora normal, terutama


Staphylococcusaureus dan Staphylococcalepidermidis, flora normal ini
menjadi overcolonized dan mengalami perubahan patogenisitas selama masa

18
hidup pasien. Thygeson pada tahun 1946 mengakui bahwa "kolonisasi
Staphylococcus abnormal" dikaitkan dengan blefaritis. Biofilm merupakan hal
yang mendasari terjadi nya overcolonized dan perubahan patogenisitas dari
flora normal.12

Penyakit pada kelopak mata melibatkan enam langkah yang berkaitan


dengan perubahan bakteri :12

1. Bakteri survival
2. Pembentukan biofilm
3. Over-Colonization
4. Quorum-sensing gene activation
5. Produksi faktor virulensi
6. Peradangan.

Biofilm terbukti menjadi struktur pertahanan yang sangat baik dengan


memungkinkan bakteri untuk menghindari kekeringan, menghindari respon
pertahanan tuan rumah pada atau di dalam sistem kehidupan lain,
menghasilkan faktor virulensi, membebaskan dan memusatkan nutrisi, dan
berkomunikasi dengan spesies bakteri lainnya, sehingga meningkatkan
strategi bertahan hidup di seluruh spesies.12

Telah diketahui dengan baik bahwa kelopak mata adalah rumah bagi
bakteri flora normal yang terdiri dari S. aureus, S. epidermidis, dan pada
tingkat yang lebih rendah Corynebacterium spp. dan Propionobacterium spp.
Juga diketahui bahwa kedua spesies Staphylococcus adalah pembentuk
biofilm yang produktif, terutama S. epidermidis.12

19
Gambar 3. Enam langkah terjadi nya DEBS.12

Terjadi nya over-colonization dalam biofilm dan meningkatkan


populasi bakteri inilah yang mengaktifkan gen quorum-sensing. Hastings
menunjukkan bahwa populasi bakteri dapat merasakan ketika kepadatan
mereka mencapai kuorum tertentu, dan begitu jumlah atau kepadatan tercapai,
gen yang dorman diaktifkan. Hal tersebut akan meningkatkan faktor virulensi
yang berasal dari gen yang baru diaktifkan. Hal itu akan menyebabkan
inflamasi pada permukaan kelopak dan akhirnya mengenai struktur lainnya
seperti folikel bulu mata, kelenjar meibom dan jaringan ikat.12

20
Tindakan penyapuan yang konstan dari kelopak mata di sepanjang
kornea, konjungtiva, dan batas kelopak mata (yaitu, berkedip) dan pembilasan
air mata memainkan peran mekanis dalam mencegah akumulasi biofilm yang
signifikan pada konjungtiva palpebra atau bulbar. Tentu saja, protein
antibakteri dari air mata, laktoferin, dan lisozim, memainkan peran penting.
Sel goblet, bagaimanapun, mungkin memainkan bagian yang lebih signifikan
dalam pencegahan mekanik akumulasi biofilm serta secara fisik melindungi
epitelium.12

2.1.6 Manifestasi Klinis dan Diagnosis

Gejala okular umum yang dapat menyertai blefaritis adalah kelopak


mata yang sakit, mata yang terasa pegal, gatal, terbakar, atau berpasir, mata
merah, mata kering atau berair, meningkatkan frekuensi berkedip, terasa
sensasi benda asing, fotofobia, kontak intoleransi lensa, dan kelopak mata
saling menempel (khususnya di pagi hari).13

Blefaritis marginal anterior dan posterior berhubungan dengan infeksi


staphylococci, dan subklasifikasi lebih lanjut dari kedua kondisi utama ini
didasarkan pada pengelompokan tanda yang dapat diamati.14

1. Riwayat2
Pertanyaan tentang unsur-unsur berikut dari riwayat pasien dapat
membantu informasi:
a. Gejala dan tanda (kemerahan, iritasi, rasa terbakar, berair, gatal,
kehilangan bulu mata, bulu mata menempel, pandangan mata kabur,
tidak dapat menggunakan kontak lensa, fotofobia, peningkatan
frekuensi berkedip).

21
b. Waktu dalam sehari ketika gejala memburuk (gejala memburuk pada
pagi hari merupakan tipikal gejala pada blefaritis, yang dimana gejala
dapat bertambah buruksehari setelahnya merupakan tipikal gejala dari
defisit aqueous mata kering)
c. Lamanya gejala
d. Pada satu atau kedua mata
e. Faktor yang dapat memperburuk keadaan (merokok, alergi, angin,
pemakaian kontak lensa, kelembapan yang rendah, retinoid, diet,
mengkonsumsi alcohol, pemakaian makeup pada mata)
f. Tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit sistemik
(rosasea, alergi)
g. Sebelum dan sesudah penyakit sistemik dan pengobatan tipikal
(antihistamine, obat dengan efek antikolinergik, atau obat yang
digunakan sebelumnya seperti isotretinoin yang mampu menimbulkan
efek oada permukaan okular)
h. Paparan baru pada individual yang terinfeksi (pedikulosis
palpebrarum)

2. Pemeriksaan2
Pemeriksaan pada ata dan adneksa meliputi pengukuran ketajaman visual,
pemeriksaan luar. Pemeriksaan luar harus dilakukan pada kondisi lampu
yang cukup dengan perhatian khusus dalam hal-hal berikut:
a. Kulit
Perubahan konsistensi kulit dengan rosasea seperti rhinophyma,
eritema, telangiectasia, papul, pustul, dan hipertropik glandula
sebaseus di area malar
b. Kelopak mata
1) Posisi abnormal pada kelopak mata (ektropion dan entropion,
penutupan kelopak mata (lagoftalmus), respon mengedip

22
2) Hilang, kerusakan, dan bentuk kelopak mata yang salah
3) Vaskularisasi atau hiperemis pada kelopak mata marginal
4) Kelainan pada bawah kelopak mata
5) Ulserasi

Tabel 2.1 Deskripsi tanda klinis pada kategori blefaritis2

Kelopak Mata Anterior Kelopak Mata Posterior


Tanda
Staphylococcus Seboroik Glandula Meibom
Kehilangan bulu
mata Sering Jarang terjadi -
Arah kelopak mata Dapat terjadi
yang salah Sering Jarang terjadi denganpenyakit lama
Kelaian kelopak Berminyak atau Minyak berlebih,
mata Kusut, bersisik keras licin berbusa
Ulserasi kelopak Dengan eksaserbasi
mata berat - -
Jaringan parut Dapat terjadi
kelopak mata Dapat terjadi - denganpenyakit lama
Sesekali sampai sering,
Chalazion Jarang terjadi Jarang terjadi kadang multipel
Hordeolum Dapat terjadi - -
Injeksi ringan sampai Injeksi ringan sampai
berat, Phlyctenules berat, reaksi papil dari
Conjungtiva dapat terjadi Injeksi ringan konjungtiva tarsal
Defisiensi air mata Sering Sering Sering
Erosi epitel punctate Erosi epitel Erosi epitel punctate
Cornea inferior punctate inferior inferior
Penyakit kulit Atopi jarang terjadi Dermatitis seboroik Rosasea

23
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada pemeriksaan diagnostik yang spesifik untuk blefaritis.


Meskipun begitu, kultur kelopak mata dapat membantu dalam identifikasi
pasien dengan blefaritis anterior rekuren dengan inflamasi derajat berat
ataupun pasien yang tidak berespon dengan terapi. Evaluasi secara
mikroskopik pada bulu mata dapat mengungkapkan adanya tungau Demodex,
yang biasanya terjadi pada beberapa kasus blefarokonjungtivitis. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meletakkan bulu mata diatas kaca pemeriksaan, dengan
menambahkan fluorescein dan menutupnya. Infestasi demodex diasosiasikan
dengan ketombedan biasa ditemukan pada pasien disfungsi kelenjar meibom,
inflamasi konjungtiva, dan rosasea okuler. Dapat juga ditemukan pada pasien
dengan tanda kornea, seperti infiltrate marginal, phlytenule, vaskularisasi
superfisial, opasitas superfisial, dan jaringan parut nodular. Walaupun
kejadian ditemukannya Demodex sudah cukup sering, namun perannya
sebagai agen etiologi kasus blefarokonjungtivitis belum sepenuhnya
dipahami.4

Kemungkinan terjadinya karsinoma perlu dipertimbangkan pada


pasien dengan blefaritis kronik yang tidak berespon terhadap terapi, terutama
jika hanya satu mata yang terlibat. Pemeriksaan biosi kelopak mata dapat
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma, resistensi obat, atau
kalazia rekuren unifokal yang tidak berespon terhadap terapi. Tanda lainnya
adalah hilangnya batas normal kelopak mata dan anatomi konjungtiva dan
madarosis siliaris. Jaringan segar mungkin dibutuhkan untuk mendeteksi lipid
menggunakan pewarna khusus minyak merah O.4

Pemeriksaan dermatologis mungkin diperlukan, kulit wajah atau kulit


kepala yang terkelupas harus dinilai untuk menyingkirkan dermatitis seboroik.
Pemeriksaan untuk rosacea mungkin diperlukan; bengkak atau kemerahan

24
pada hidung atau pipi.15 Jika curiga staphylococcal blefaritis, kultur bakteri
menggunakan sampel kulit dapat dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis.15

2.1.8 Diagnosis Banding

Blefaritis sering kurang terdiagnosis dalam praktik klinis. Pasien


sering hadir dengan berbagai tanda dan gejala yang membuat diagnosis
bermasalah (Tabel 1). Perbedaannya termasuk karsinoma sel basal kelopak
mata, rosacea okular, kalazion, herpes (simplex atau zoster), sindrom mata
kering dan trakoma.15

Tabel 2.2 Diagnosis Banding Blefaritis15

Tanda dan Gejala Pemeriksaan

- Gejala menyerupai blefaritis - Uji Schimer menunjukkan

- Pewarnaan f;uorescein pada penurunan produksi air mata

sindrom mata kering melibatkan - Penurunan waktu robeknya

zona interpalpebra. Pada blefaritis, lapisan badan kaca.


Sindrom
sepertiga bawah kornea lebih - Abnormalitas pada lapisan badan
Mata Kering
sering terlibat. kaca juga sering terjadi pada

- Temuan pada slit lamp dari kolaret blefaritis, tetapi umumnya dengan

dan kelenjar meibom yang tertutup debris dan saponifikasi lapisan

lebih mengarah pada blefaritis. badan kaca sebagai tambahan.

- Kelunakan dan nodul pada kelopak - Biopsy kelopak menunjukkan


mata disebabkan oleh kelenjar inflamasi histiosit
Kalazion
yang tersumbat. lipogranulomatosa dan sel giant
- Umumnya juga merupakan tanda berinti banyak yang

25
blefaritis yang mendasarinya. menyelubungi ruang yang jelas.
- Limfosit, sel plasma dan neutrofil
juga dapat ditemukan.

- Biopsy kelopak menunjukkan sel


- Perubahan kelopak unilateral,
skuamosa atipikal membentuk
Karsinoma distorsi bentuk kelopak termasuk
sarang dan helai, menginfiltrasi
Sel Skuamosa ulserasi, perubahan atau kehilangan
dermis dengan reaksi jaringan
bulu mata.
fibrosa desmoplastik.

- Perubahan kelopak unilateral,


- Biopsy kelopak menunjukkan sel
Karsinoma nodul dengan telangiektasis,
basalis palisade perifer dengan
Sel Basal perubahan atau kehilangan bulu
reaksi jaringan fibrosa.
mata, distorsi bentuk kelopak.

2.1.9 Tatalaksana

Pada umumnya pengobatan blefaritis didasarkan pada kebersihan


kelopak mata, antibiotik sistemik atau antibiotik topikal, dan pada beberapa
kasus membutuhkan agen antiinflamasi topikal seperti kortikosteroid atau
siklosporin A.13

1. Menjaga Keberihan Kelopak Mata


Pengobatan rutin berupa membersihkan kelopak mata adalah
hal utama dalam pengeobatan Blefaritis. Kompres hangat
direkomendasikan untuk tatalaksana Blefaritis dengan tujuan
mencairkan lipid pada kelenjar Meibom sehingga membantu sekresi
kelenjar Meibom. Cara kompres hangat yang direkomendasikan yaitu
kompres dipanaskan hingga 45OC selama kurang lebih 4 menit,
kemudian kompres diganti setelah 2 menit untuk mempertahankan

26
suhu. Kompres hangat dapat dilakukan 2 kali dalam sehari. Menjaga
kebersihan kelopak mata secara mekanis juga merupakan langkah
awal dalam tatalaksana Blefaritis, yaitu dengan menggosokkan tea tree
oil atau minyak pohon teh setiap minggu dan menggosokkan tea tree
shampoo atau sampo pohon teh setiap hari. 2,13

2. Terapi Farmakologi
a. Antibiotik
Antibiotik topikal sering digunakan untuk terapi lokal. Agen
topikal yang sering digunakan adalah Bacitracin dan Salep
Eritromisin, namun karena penggunaan yang luas sehingga
terjadi resistensi terhadap Eritromisin. Agen topikal ini pada
umumnya digunakan Agen topikal lain yang dapat digunakan
adalah asam fusidat, metronidazol dan fluoroquinolones.
Preparat ini diaplikasikan pada kelopak mata 1 sampai 4 kali
dalam sehari selama 2 minggu, lalu digunakan lebih jarang
dalam beberapa minggu ketika reaksi inflamasi sudah teratasi.
Antibiotika sistemik jarang diperlukan kecuali bila tidak
respon terhadap terapi antibiotik yang adekuat atau terjadi
infeksi sekunder pada glandula Meibom. 13
b. Steroid
Penggunaan steroid topikal dapat bermanfaat untuk
mengendalikan eksaserbasi akut dan digunakan pada kasus
peradangan berat dan komplikasi seperti phlyctenules, injeksi
konjungtiva berat, dll. Namun, penggunaan steroid jangka
panjang dihindari karena berisiko tinggi meningkatkan
Tekanan Intra Okular (TIO). Studi Hosseini dkk menunjukkan
penggunaan kombinasi Azitromisin dan Deksametason lebih
efektif dibandingkan terapi dengan Azitromisin saja atau

27
dengan Dexametason saja. Penggunaan steroid untuk Blefaritis
harus dibatasi hanya untuk penggunaan jangka pendek, dan
penggunaan steroid potensi rendah. 2,13
c. Penghambat Calcineurin
Penghambat Calcuneurin adalah agen immunomodulator yang
digunakan untuk mengurangi peradangan pada Blefaritis tanpa
efek samping seperti steroid. Contoh Penghambat Calcineurin
adalah Cyclosporin. 2
d. Terapi intervensi
Berbagai terapi intervensi sedang dalam pengembangan.
Maskin dkk mengembangkan pembukaan dan dilatasi kelenjar
Meibom menggunakan stainless steel kecil. Penelitian awal
melaporkan bahwa 25 pasien yang menjalani prosedur ini
mengalami perbaikan gejala setelah 4 minggu. 2

2.1.10 Komplikasi dan Prognosis Blefaritis

Komplikasi

1. Konjungtivitis Kronis

Konjungtivitis kronis adalah penyakit yang sering menyertai


Blefaritis. Terjadinya Blefarokonjungtivitis adalah akibat pelepasan
toksin dari Stafilokokus. Karakteristik Blefarokonjungtivitis akibat
stafilokokus adalah hipertrofi papil ringan, dengan terdapatnya eksudat
mukopurulen yang didominasi oleh neutrofil.16

2. Hordeolum internal dan Hordeolum eksternal

Banyak kasus Hordeolum yang berulang disebabkan oleh


Blefaritis Kronis yang disebabkan oleh Stafilokokus. Terkadang

28
Blefaritis terjadi dengan gejala yang ringan sehingga tidak tampak
gejala yang mencolok. Perawatan rutin kelopak mata dapat dilakukan
ntuk memutuskan rantai terjadinya Hordeolum akibat Blefaritits.16

3. Trikiasis

Pasien dengan Blefaritis sering mengalami kelainan pada folikel


rambut sehingga menyebabkan Trikiasis. Folikel rambut yang terkena
dapat dihancurkkan dengan elektrolisis atau diatermi.16

4. Keratitis Epitel16

5. Keratitis Phlytenular16

Prognosis
Blefaritis merupakan penyakit yang tidak mengancam kesehatan atau
fungsi seseorang. Secara keseluruhan, prognosis penyakit Blefaritis adalah
baik. Blefaritis Kronis terjadi berulang dan dapat menjadi resisten terhadap
pengobatan. Meskipun eksaserbasi penyakit ini membuat pasien merasa tidak
nyaman, pasien mampu memiliki hidup yang normal dan sehat tanpa
ketakutan kehilangan penglihatan yang permanen.15

29
BAB III

PENUTUP

Blefaritis didefinisikan sebagai kondisi yang dapat mempengaruhi fungsi


normal bulu mata dan kelenjar Meibom melalui produk bakteri, inflamasi, perubahan
sekresi kelenjar Meibom, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut.3 Blefaritis adalah
suatu peradangan subakut atau menahun tepi kelopak mata. Blefaritis kronis
(blefaritis marginal kronis) adalah penyebab yang sangat umum dari
ketidaknyamanan okular dan iritasi. Korelasi yang buruk antara gejala dan tanda-
tanda, etiologi pasti, dan mekanisme proses penyakit menjadikan tatalaksana menjadi
sulit.1

Secara anatomis, blefaritis dapat dibagi menjadi blefaritis anterior dan


posterior. Blefaritis anterior adalah peradangan pada bulu mata dan folikel,
sedangkan blefaritis posterior melibatkan kelenjar Meibom. Blefaritis anterior
biasanya menular dan dapat disebabkan oleh bakteri (Staphylococcal), virus
(Moluskum kontagiosum), dan parasit (Phthiriasis) atau seboroik. Blefaritis posterior
umumnya disebabkan karena metabolik.10

Walaupun blefaritis adalah salah satu gangguan okuler yang paling banyak
ditemukan, data epidemiologi berupa insidensi dan prevalensi masih kurang. Salah
satu studi pusat tunggal pada 90 pasien dengan blefaritis kronik tercatat rata-rata usia
pasien adalah 50 tahun. Pasien dengan blefaritis staphylococcal ditemukan pada
relatif usia muda (42 tahun) dan paling sering ditemukan pada wanita (80%).4

Penyebab blepharitis tidak diketahui jelas dan multifaktorial. Bakteri


memainkan peran penting dalam patogenesis blepharitis. Residu beracun dari bakteri,
invasi jaringan secara langsung, dan kerusakan yang dimediasi imunitas memainkan
peran penting dalam perkembangan penyakit.7 Selain itu, salah satu etiologi blefaritis

30
adalah dermodex folliculorum yang merupakan tungau parasit kecil yang hidup di
folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar meibom. Biasanya terlihat di daerah
wajah, leher, aksila dan kemaluan.7 Faktor resiko terjadinya Blefaritis antara lain
matra kering, kondisi kulit, Demodicosis danRosacea.4

Untuk menegakkan diagnosis Blefaritis dapat dilakukan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis dapat ditanyakan
onset dan kondisi spesifik pasien, riwayat medis menyeluruh dan gejala yang dialami
pasien. Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan pemeriksaan mata luar meliputi
bentuk kelopak mata, konsistensi, gambaran bulu mata, pememeriksaan air mata pada
abnormalitas lapisan lipid serta evaluasi pada palpebra dan konjungtiva.11,14 Pada
Blefaritis, tidak ada pemeriksaan diagnostik yang spesifik untuk blefaritis. Meskipun
begitu, kultur kelopak mata dapat membantu dalam identifikasi pasien dengan
blefaritis anterior rekuren dengan inflamasi derajat berat ataupun pasien yang tidak
berespon dengan terapi.4,14

Pada umumnya pengobatan blefaritis didasarkan pada kebersihan kelopak


mata, antibiotik sistemik atau antibiotik topikal, dan pada beberapa kasus
membutuhkan agen antiinflamasi topikal seperti kortikosteroid atau Siklosporin A.13
Menjaga kebersihan kelopak mata dapat dilakukan dengan kompres hangat dan
2,13
menggosok bulu mata dengan tea tree oil atau tea tree shampoo. Terapi
Antibiotika topikal sering digunakan untuk terapi lokal pada Blefaritis. Agen topikal
yang sering digunakan adalah Bacitacin dan Salep Eritromisin. Antibiotika sistemik
jarang diperlukan kecuali bila tidak respon terhadap terapi antibiotik yang adekuat
atau terjadi infeksi sekunder pada glandula Meibom. 13

Blefaritis yang terjadi pada pasien dapat menimbulkan komplikasi pada


pasien. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien antara lain : konjungtivitis kronis
yang terjadi akibat pelepasan toksin Stafilokokus, Hordeolum yang terjadi akibat
blefaritis yang berulang, Trikiasis, Keratitis Epitel dan Keratitis Phlytenular. 13

31
Blefaritis merupakan penyakit yang tidak mengancam kesehatan atau fungsi
seseorang. Secara keseluruhan, prognosis penyakit Blefaritis adalah baik. Blefaritis
Kronis terjadi berulang dan dapat menjadi resisten terhadap pengobatan. Meskipun
eksaserbasi penyakit ini membuat pasien merasa tidak nyaman, pasien mampu
memiliki hidup yang normal dan sehat tanpa ketakutan kehilangan penglihatan yang
permanen.15

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Suhardjo, Nugroho A, Winarti T, Setyowati R. Kelainan Palpebra, Konjungtiva,


Kornea, Sklera, dan Sistem Lakrimal. Buku Ilmu Kesehatan Mata. Edisi Ketiga.
Yogyakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran UGM
Yogyakarta. 2017:30-2.
2. Duncan K, Jeng BH. Medical Management Of Blepharitis. Current Opinion
Ophthalmology.2015;26:289-94.
3. Lemp MA, Nichols, KK. Blepharitis in The United States 2009: A Survey-based
Perspective on Prevalence and Treatment. The Ocular Surface.2009;7: 1–14.
4. American Academy Of Ophthalmology. Blepharitis Preferred Practice Pattern.
Blepharitis Preferred Practice Pattern.2018:56-93.
5. Hartono, Nugroho A, Mahayana IT. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan.
Buku Ilmu Kesehatan Mata. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.2017:17.
6. Kels BD, Grzybowski A, Grant-Kels JM. Human Ocular Anatomy. Clinics in
Dermatology 2015;33:140-6.
7. Ilyas HS, Yuliantu SR. Anatomi dan Fisiologi Mata. Ilmu Penyakit Mata. Edisi
Kelima. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.2015:1.
8. Cantor LB, Christopher JR, George AC. 2017. Fundamentals and Principles of
Ophthalmology. United States of America: American Academy of
Ophthalmology.
9. Kirkwood BJ. Normal Flora of The External Eye. Insight The Journal of The
American Society of Opthalmic Registered Nurses. 2007: 1(32): 12-13.
10. Bernardes TF, Bonfioli AA. Blepharitis. Seminars in Ophthalmology. 2010; 25:
79-83.

33
11. Thygeson P. Etiology and treatment of blepharitis. Arch Ophthalmol.
1946;36:445–77.
12. Rynerson JM, Perry HD. DEBS – a unification theory for dry eye and blepharitis.
Clinical Ophthalmology. 2016;10: 2455–67.

13. Jackson WB. Blepharitis: current strategies for diagnosis and management. Can J
Ophthalmol. 2008;43:170-9.
14. Key James E, MD. A Comparative Study Of Eyelid Cleaning Regimens In
Chronic Blepharitis. The CLAO Journal.1996; 22(3): 209-12
15. Din N. Blepharitis A Review of Diagnosis and Management. International
Journal of Ophthalmic Practice. 2015:3(4):150-5.

16. Thygeson P. Complications of staphylococcic blepharitis. American Journal Of


Ophthalmology. 1969;64: 446-9.

34