Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Episkleritis. Episkleritis didefinisikan sebagai peradangan local sklera


yang relatif sering dijumpai. Kelainan ini bersifat unilateral pada dua-pertiga
kasus, dan insidens pada kedua jenis kelamin setara. Episklera dapat tumbuh di
tempat yang sama atau di dekatnya di jaringan palpebra.Episkleritis merupakan
reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan
permukaan sklera.

Keluhan pasien dengan episkleritis berupa mata terasa kering, dengan rasa
sakit yang ringan, mengganjal, dengan konjungtiva yang kemotik.Bentuk radang
yang terjadi pada episklerisis mempunyai gambaran khusus, yaitu berupa benjolan
setempat dengan batas tegas dan warna merah ungu di bawah konjungtiva. Bila
benjolan itu ditekan dengan kapas atau ditekan pada kelopak di atas benkolan,
akan memberikan rasa sakit, rasa sakit akan menjalar ke sekitar mata. Pada
episkleritis bila dilakukan pengangkatan konjungtiva di atasnya, maka akan
mudah terangkat atau dilepas dari pembuluh darah yang meradang. Perjalanan
penyakit mulai dengan episode akut dan terdapat riwayat berulang dan dapat
berminggu-minggu atau beberapa bulan

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
.
1. Definisi
Episkleritis adalah suatu reaksi inflamasi pada jaringan episklera yang
terletak di antara konjungtiva dan sklera, bersifat ringan, dapat sembuh sendiri,
dan bersifat rekurensi. Episkleritis adalah penyakit pada episklera yang sering,
ringan, dapat sembuh sendiri dan biasanya mengenai orang dewasa. 1,2

2. Epidemiologi
Angka kejadian pasti tidak diketahui karena banyaknya pasien yang tidak
berobat. Tidak ada perbedaan jenis kelamin, namun terdapat laporan 74 % kasus
terjadi pada perempuan dan sering terjadi pada usia dekade 4-5. 1 Pada anak-anak
episkleritis biasanya menghilang dalam 7-10 hari dan jarang rekuren. Pada
dewasa, 30 % kasus berhubungan dengan penyakit jaringan ikat penyertanya,
penyakit inflamasi saluran cerna, infeksi herpes, gout, dan vaskulitis. Penyakit
sistemik biasanya jarang pada anak-anak. 3

3. Anatomi
Sklera
Sklera merupakan jaringan kuat yang lentur dan berwarna putih pada bola
mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan pembungkus di bagian
belakang dan pelindung isi bola mata. Sklera meliputi 5/6 anterior dari bola mata
dengan diameter lebih kurang 22 mm. Di anterior sklera berhubungan kuat dengan
kornea dalam bentuk lingkaran yang disebut limbus, sedangkan di posterior
dengan duramater nervus optikus.3
Secara histologis sklera terdiri dari banyak pita padat yang sejajar dan
berkas-berkas jaringan fibrosa yang teranyam, yang masing-masing mempunyai
tebal 10-16 mikro dan lebar 100-150 mikro dibandingkan dengan kornea jaringan
fibrosa sklera mempunyai daya pembiasan yang lebih kuat, tidak mempunyai
jarak yang tetap antara berkas jaringan fibrosanya, dan mempunyai diameter yang
berbeda-beda. Hal inilah yang membuat sklera menjadi opak. 3 Sklera mempunyai

2
kekakuan tertentu sehingga mempengaruhi pengukuran tekanan bola mata
walaupun sklera kaku dan tebalnya 1mm sklera masih tahan terhadap kontusio
trauma tumpul. Ketebalan sklera bervariasi, maksimum 1 mm terdapat di dekat
nervus optikus dan minimum 0,3 mm pada insersio otot-otot rektus.
Di sekitar nervus optikus sklera ditembus oleh arteri siliaris posterior
longus dan brevis dan nervus siliaris longus dan brevis. Arteri siliaris longus dan
nervus siliaris longus berjalan dari nervus optikus menuju ke korpus siliaris di
sebuah lekukan dangkal pada permukaan dalam sklera pada meredian jam 3 dan 9.
Sekitar 4 mm di belakang limbus, sklera ditembus oleh 4 arteri dan vena siliaris
anterior. 4
Beberapa lembar jaringan sklera berjalan melintang bagian anterior nervus
optikus sebagai lamina kribrosa. Bagian dalam sklera berwarna hitam, coklat
disebut lamina fuschka, dihubungkan dengan koroid oleh filamen-filamen yang
terdiri dari jaringan ikat yang mengandung pigmen dan membuat dinding luar dari
ruang suprakoroid dan ditembus oleh serat saraf dan pembuluh darah. Permukaan
luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus
yaitu episklera.3

Gambar 1. Lapisan Bola Mata

3
Episklera
Episklera mengandung banyak pembuluh darah yang menyediakan nutrisi
untuk sklera dan permeabel terhadap air, glukosa dan protein. Episklera juga
berfungsi sebagai lapisan pelicin bagi jaringan kolagen dan elastis dari sklera dan
akan bereaksi hebat jika terjadi inflamasi pada sklera .
Jaringan fibroelastis dari episklera mempunyai dua lapisan yaitu lapisan
viseral yang lebih dekat ke sklera dan lapisan parietal yang bergabung dengan
fasia dari otot dan konjungtiva dekat limbus.
Pleksus episklera posterior berasal dari siliari posterior , sementara itu di
episklera anterior berhubungan dengan pleksus konjungtiva, pleksus episklera
superfisial dan pleksus episkera profunda. 3

4. Patofisiologi
Patofisiologi belum diketahui secara pasti namun ditemukan respon
inflamasi yang terlokalisir pada superficial episcleral vascular network,
patologinya menunjukkan inflamasi nongranulomatous dengan dilatasi vascular
dan infiltrasi perivascular. Penyebab tidak diketahui, paling banyak bersifat
idiopatik namun sepertiga kasus berhubungan dengan penyakit sistemik dan
reaksi hipersensitivitas mungkin berperan.1

Hubungan yang paling signifikan adalah dengan hiperurisemia dan gout. 4


Terdapat dua tipe klinik yaitu simple dan nodular. Tipe yang paling sering
dijumpai adalah simple episcleritis (80%), merupakan penyakit inflamasi
moderate hingga severe yang sering berulang dengan interval 1-3 bulan, terdapat
kemerahan yang bersifat sektoral atau dapat bersifat diffuse (jarang), dan edema
episklera. Tiap serangan berlangsung 7-10 hari dan paling banyak sembuh
spontan dalam 1-2 atau 2-3 minggu. Dapat lebih lama terjadi pada pasien dengan
penyakit sistemik. Pada anak kecil jarang kambuh dan jarang berhubungan
dengan penyakit sistemik. Beberapa pasien melaporkan serangan lebih sering
terjadi saat musim hujan atau semi. Faktor presipitasi jarang ditemukan namun
serangan dapat dihubungkan dengan stress dan perubahan hormonal. Pasien
dengan nodular episcleritis mengalami serangan yang lebih lama, berhubungan

4
dengan penyakit sistemik (30% kasus, 5% berhubungan dengan artritis rematoid,
7% berhubungan dengan herpes zoster ophthalmicus atau herpes simplex dan 3%
dengan gout atau atopy) dan lebih nyeri dibandingkan tipe simple. Nodular
episcleritis (20%) terlokalisasi pada satu area, membentuk nodul dengan injeksi
sekelilingnya. 1,3,4,8

5. Manifestasi Klinik
Pasien mengeluhkan rasa tidak nyaman (mild to moderate) yang
berlangsung akut, seringkali bersifat unilateral, walaupun ada yang melaporkan
tidak nyeri, kemerahan, nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri saat ditekan, dan
lakrimasi. Pada tipe noduler gejala lebih hebat dan disertai perasaan ada yang
mengganjal.
Tanda objektif dapat ditemukan kelopak mata bengkak, konjungtiva bulbi kemosis
disertai pelebaran pembuluh darah episklera dan konjungtiva. 1,4,5

6. Pemeriksaan Fisik
Ditandai dengan adanya hiperemia lokal sehingga bola mata tampak
berwarna merah muda atau keunguan. Juga terdapat infiltrasi, kongesti, dan edem
episklera, konjungtiva diatasnya dan kapsula tenon di bawahnya. 4
a. Episkleritis Sederhana
Gambaran yang paling sering ditandai dengan kemerahan sektoral dan
gambaran yang lebih jarang adalah kemerahan difus. Jenis ini biasanya
sembuh spontan dalam 1-2 minggu.
b. Episkleritis Noduler
Ditandai dengan adanya kemerahan yang terlokalisir, dengan nodul
kongestif dan biasanya sembuh dalam waktu yang lebih lama.
Pemeriksaan dengan Slit Lamp yang tidak menunjukkan
peningkatan permukaan sklera anterior mengindikasikan bahwa
sklera tidak membengkak.
Pada kasus rekuren, lamela sklera superfisial dapat membentuk
garis yang paralel sehinggga menyebabkan sklera tampak lebih

5
translusen. Gambaran seperti ini jangan disalah diagnosa dengan
penipisan sklera.

6
Pada kasus yang jarang pemeriksaan pada kornea menunjukkan adanya
dellen formation yaitu adanya infiltrat kornea bagian perifer. 1
Pemeriksaan fisik lainnya adalah adanya uveitis bagian anterior yang
didapatkan pada 10 % penderita. 1
Pemeriksaan visus pada penderita episkleritis tidak menunjukkan
penurunan. 6

7. Pemeriksaan Penunjang

Pada kebanyakan pasien dengan episkleritis yang self limited
pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan . 1

Pada beberapa pasien dengan episkleritis noduler atau pada kasus yang
berat, rekuren, dan episkleritis sederhana yang persisten atau rekuren,
diperlukan hitung jenis sel darah (diff count), kecepatan sedimentasi
eritrosit (ESR), pemeriksaan asam urat serum, foto thoraks, pemeriksaan
antibodi antinuklea, rheumatoid factor, tes VDRL (Venereal Disease
Research Laborator)) dan tes FTA-ABS (Fluorescent Treponemal
Antibody Absorption) 1

8. Penatalaksanaan
a. Non-Medikamentosa
1.
Bila terdapat riwayat yang jelas mengenai paparan zat eksogen, misalnya
alergen atau iritan, maka perlu dilakukan avoidance untuk mengurangi
progresifitas gejala dan mencegah rekurensi.
2.
Bila terdapat gejala sensitifitas terhadap cahaya, penggunaan kacamata
hitam dapat membantu. 10
b. Medikamentosa
1.Simple Lubrikan atau Vasokonstriktor
Digunakan pada kasus yang ringan 2
2.Steroid Topikal
Mungkin cukup berguna, akan tetapi penggunaannya dapat menyebabkan
rekurensi. Oleh karena itu dianjurkan untuk memberikannya dalam periode
waktu yang pendek.2 Terapi topikal dengan Deksametason 0,1 % meredakan

7
peradangan dalam 3-4 hari. Kortikosteroid lebih efektif untuk episkleritis
sederhana daripada daripada episkleritis noduler. 4
3.Oral Non Steroid Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs)
Obat yang termasuk golongan ini adalah Flurbiprofen 300 mg sehari, yang
diturunkan menjadi 150 mg sehari setelah gejala terkontrol, atau Indometasin
25 mg tiga kali sehari. Obat ini mungkin bermanfaat untuk kedua bentuk
4
episkleritis, terutama pada kasus rekuren. Pemberian ibuprofen 200 sampai
600 mg per oral disertai dengan makanan atau antasid. 6
4. Episkleritis memiliki hubungan yang paling signifikan dengan hiperurisemia
(Gout), oleh karena itu Gout harus diterapi secara spesifik.

Follow up
Pasien yang diberi pengobatan dengan air mata artifisial tidak perlu
diperiksa kembali episkleritisnya dalam beberapa minggu, kecuali bila
gejala tidak membaik atau malah makin memburuk.
Pasien yang diberi steroid topikal harus diperiksa setiap mingggunya
(termasuk pemeriksaan tekanan intraokular) sampai gejala-gejalanya
hilang. Kemudian frekuensi pemberian steroid topikal ditappering off.
Kepada pasien harus dijelaskan bahwa episkleritis dapat berulang pada
mata yang sama atau pada mata sebelahnya. 6

9. Diagnosis Banding

Konjungtivitis
Disingkirkan dengan sifat episkleritis yang lokal dan tidak adanya
4
keterlibatan injeksi konjungtiva palpebra. Pada konjungtivitis ditandai
dengan adanya sekret dan tampak adanya folikel atau papil pada
konjungtiva tarsal inferior. 6

Skleritis
Pasien biasanya lebih tua, bisa disertai penyakit imun, nyeri berat, dan
sering memancar ke ipsilateral sisi kepala atau wajah.

Iritis
Pada iritis ditemukan adanya sel dan flare pada kamera okuli anterior. 6

8

Keratokonjungtivitis limbic superior. 1

Scleritis. Engorged scleral vessels do not blanch with application of topical


phenylephrine 2.5 percent.

9
Episcleritis. Engorged episcleral vessels give the eye a bright red appearance.
Blanching of the vessels occurs with application of topical phenylephrine 2.5
percent.

10. Prognosis

Umumnya kelainan ini bersifat jinak dan perjalanan penyakit biasanya
sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Namun kekambuhan dapat terjadi
selama bertahun-tahun 4

11. Komplikasi

Sering relaps

Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat kembali. Jarang, iritasi dan
peradangan pada bagian putih mata dapat berkembang. Ini disebut
scleritis9

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Ellen N Yu-Keh, Episcleritis 2016. Department of Ophthalmology, St


Luke's Medical Center, Quezon City, Philippines. in
Http://www.emedicine.medscape.com/article/1228246. Access : 28
Februari 2017
2. Kanski J. Jack, Episclera and Sclera in Clinical Ophthalmology 7th
Edition. Great Britain. 2011. London.
3. Pavan-Langston, Cornea and External Disease in Manual of Ocular
Diagnosis and Therapy 5th Edition pp.54. Philadelphia. 2002. Lippincott
Williams & Wilkins
4. Riordan Paul-Eva, Episkleritis dalam Oftalmologi Umum edisi 17 hal.170-
171. Jakarta. 2000. Widya Medika.
5. Sidarta Ilyas, Episkleritis dan Skleritis, dalam Penuntun Ilmu Penyakit
Mata 3th Edition pp. 60. Balai Penerbit FKUI. 2005. Jakarta
6. Rhee Douglas and Pyfer Mark, Episcleritis in The Wills Eye Manual 3rd
Edition pp121-134. United States of America. 1999. Lippincott Williams
& Wilkins
7. Sharmin A. Balakrishan. Episcleritis. 2016. American Academy of
Opthalmology. Site: http://eyewiki.aao.org/Episcleritis access 28 Februari
2017.
8. Sainz de la Maza,dkk. Immune-Mediated Dieses of the Episclera and
Sclera in External Diesese and Cornea Section 8: Basic and Clinical
Science Course 2014-2015
9. Franklin W,dkk. Episcleritis. Medlineplus . National Library of medicine.
Site: https://medlineplus.gov/ency/article/001019.htm access : 28 Februari
2017

11
10. Panduan Praktis Klinis bagi dokter difasilitas pelayanan kesehatan primer
Edisi Revisi Tahun 2014 pp 194. Jakarta. 2014
.

12