Anda di halaman 1dari 66

KAJIAN AKADEMIS

RANCANGAN
PERATURAN GUBERNUR PROVINSI GORONTALO
TENTANG
PEMBENTUKAN UNIT PELAKSANA TEKNIS
DINAS/BADAN

PROVINSI GORONTALO
TAHUN 2017
PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

selesainya kegiatan penyusunan Kajian Akademis Rancangan

Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit

Pelaksana Teknis Dinas.. Kajian Akademis ini

memuat pertimbangan dalam penyusunan Rancangan Peraturan

Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit Pelaksana

Teknis Dinas/Badan dari beberapa aspek yaitu kajian teori, asas,

kondisi empirik, dan implikasi penerapan peraturan gubernur.

Selain itu, dalam Kajian Akademis ini juga disusun

berdasarkan regulasi yang berlaku sebagai bahan pertimbangan

untuk pengambilan kebijakan dalam pembentukan dan penyusunan

perangkat daerah di Provinsi Gorontalo.

Harapan kami, kajian ini dapat menjadi bahan pertimbangan

yang obyektif, ilmiah, dan rasional dalam menetapkan Peraturan

Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit Pelaksana

Teknis Dinas...

Gorontalo, ....... April 2017

TIM PENYUSUN,

Kajian Akademis ttg Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas ii


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................... ii

DAFTAR ISI ............................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................ 1


A. Latar Belakang ................................................... 1
B. Tujuan dan Kegunaan ........................................ 13

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS .................. 17


A. Kajian Teoritis .................................................. 17
B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip Yang Terkait
dengan Penyusunan Norma .............................. 36
C. Kajian Terhadap Praktek Penyelenggaraan, Kondisi
Yang Ada, dan Permasalahan Yang Dihadapi ......... 47
D. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Peraturan
Gubernur Terhadap Rasio Belanja Pegawai ........... 54

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-


UNDANGAN TERKAIT ................................................ 60
A. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia .. 60
B. Undang-Undang tentang Penanggulangan
Bencana ......................................................... 61
C. Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan ........................................ 64
D. Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah .... 65
E. Peraturan Pemerintah tentang Perangkat Daerah ... 69

BAB 1V LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS .... 86


A. Landasan Filosofis ............................................ 86
B. Landasan Sosiologis ......................................... 88
C. Landasan Yuridis ............................................. 90

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG


LINGKUP MATERI MUATAN ..................................... 93
A. Jangkauan, Arah Pengaturan, dan Sasaran Yang
Akan Diwujudkan ............................................ 93
Kajian Akademis ttg Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas iii
PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

B. Ruang Lingkup Materi Muatan ......................... 94

BAB VI PENUTUP .............................................................. 102


A. Simpulan ...................................................... 102
B. Saran ............................................................. 104

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN: RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI


GORONTALO TENTANG PEMBENTUKAN DAN
SUSUNAN PERANGKAT DAERAH.

Kajian Akademis ttg Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas iv


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penataan kelembagaan merupakan salah satu langkah dalam


menata sistem pemerintahan. Karena itu, penataan kelembagaan
harus diiringi oleh penataan sumber daya manusia, keuangan,
kebutuhan sarana dan prasarana, serta mekanisme hubungan kerja
antara unit-unit organisasi. Secara yuridis formal, penataan
kelembagaan pemerintah daerah dilakukan berdasarkan penerapan
organisasi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Kebijakan desentralisasi merupakan bagian penting dalam


rangka perbaikan manajemen pemerintahan. Penyelenggaraan
pemerintahan yang terpusat dengan kondisi geografis yang luas dan
penduduk yang banyak dan beranekaragam dianggap tidak mampu
memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Oleh karena itu, perlu
adanya penyerahan urusan pemerintahan kepada pemerintahan
tingkat bawah untuk melaksanakan urusan terkait dengan
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
masyarakat skala lokal. Dengan demikian rentang kendali tidak
terlampau luas dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan dapat
dipenuhi oleh pemerintahan tingkat lokal secara lebih cepat, tepat,
dan murah.

Terkait dengan hal di atas, salah satu elemen yang perlu dilihat
secara mendalam dan komprehensif adalah menyangkut
kelembagaan. Argumentasi yang dibangun disini adalah bahwa
kewenangan daerah tidak mungkin dapat dilaksanakan kalau tidak
diakomodasikan dalam kelembagaan daerah. Kelembagaan daerah
merupakan wadah atau sarana berlangsungnya penyelenggaraan
urusan yang menjadi kewenangan daerah (Lampiran Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014) tersebut. Kehadiran kelembagaan daerah
memberikan kejelasan dalam pertanggungjawaban pelaksanaan tugas
dan fungsi dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Oleh

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 1


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

karena itu, penataan terhadap kelembagaan daerah merupakan


bagian penting dalam mendukung pencapaian tujuan otonomi daerah.

Kebijakan otonomi daerah melalui penerapan Undang-Undang


Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, direspon oleh
pemerintah daerah dengan berbagai langkah konkrit dalam berbagai
kebijakan di daerah sesuai tuntutan masyarakat. Daerah memiliki
kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan,
peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat
yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Tujuan
tersebut dapat diwujudkan antara lain melalui perubahan sistem
birokrasi yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016


tentang Perangkat Daerah ditegaskan bahwa Pembentukan Perangkat
Daerah mempertimbangkan faktor luas wilayah, jumlah penduduk,
kemampuan keuangan Daerah serta besaran beban tugas sesuai
dengan urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah
sebagai mandat yang wajib dilaksanakan oleh setiap Daerah melalui
Perangkat Daerah.

Dasar utama penyusunan perangkat daerah dalam bentuk


suatu organisasi daerah adalah adanya urusan pemerintahan yang
perlu pengaturan, namun tidak berarti setiap urusan pemerintahan
harus dibentuk ke dalam organisasi tersendiri. Tata cara atau
prosedur, persyaratan, kriteria pembentukan suatu organisasi
perangkat daerah ditetapkan dalam peraturan daerah yang mengacu
pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Perubahan organisasi perangkat daerah mempunyai arti


penting dalam mendorong terwujudnya penyelenggaraan
pemerintahan yang lebih efektif, terutama dalam melaksanakan misi
baru pemerintahan. Organisasi yang dibentuk haruslah sebatas
kewenangan yang dimiliki oleh daerah otonom. Seharusnya
pemerintah daerah tidak menggunakan kewenangan itu untuk
membentuk organisasi yang tidak rasional dan terlalu besar.
Pembentukan organisasi harus didasarkan pada pertimbangan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 2


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

kemampuan pembiayaan dan urgensi/kebutuhan daerah


berdasarkan hasil pemetaan pada masing-masing urusan
pemerintahan.

Organisasi Perangkat Daerah dianggap penting, karena untuk


menyelenggarakan otonomi daerah diperlukan instrumen
kelembagaan yang mampu mewadahi, bekerjasama, mengendalikan
sumber daya dan perilaku dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian melalui instrumen organisasi perangkat daerah
dapat merencanakan, mengimplementasi, mengawasi dan
mengevaluasi suatu tujuan, program dan kegiatan dalam mencapai
visi dan misi daerah.

Besaran organisasi perangkat daerah provinsi Gorontalo saat


ini telah menyesuaikan dengan amanat PP 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat daerah dan selanjutnya sebagai tindak lanjutnya adalah
penerapan Peraturan Menter Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2017
tentang .

Pembenahan Unit Pelaksana Teknis Dinas, dapat


dilihat sebagai upaya mendukung semangat reformasi manajemen
pemerintahan.

Kehadiran UPTD ini secara umum dipandang akan mampu


memberikan dukungan maksimal terkait dengan pelaksanaan teknis
operasi

UPTD ini diharapkan menjadi organisasi yang mapan dan


mampu berperan sebagai wadah pelaksanaan fungsi-fungsi dinas
serta sebagai proses interaksi antara pemerintah dengan institusi
daerah lainnya dan masyarakat secara optimal. Dengan demikian,
akan terwujud postur organisasi perangkat daerah yang proporsional,
efektif, dan efisien berdasarkan prinsip-prinsip organisasi.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat di identifikasi


beberapa permasalahan, yakni sebagai berikut:

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 3


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

1. Pertimbangan yang mendasari perlu dibentuknya Rancangan


Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan
Unit Pelaksana Teknis Dinas ...
2. Landasan filososfis, sosiologis, dan yuridis pembentukan
Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas ....
3. Jangkauan, arah pengaturan, sasaran yang akan diwujudkan,
dan ruang lingkup materi muatan Rancangan Peraturan
Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit
Pelaksana Teknis Dinas ...

C. Tujuan dan Kegunaan

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di


atas maka tujuan penyusunan Naskah Akademik Rancangan
Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan pertimbangan yang mendasari perlu di bentuknya
Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas ...
2. Merumuskan landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis
pembentukan Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo
tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas ...
3. Merumuskan jangkauan, arah pengaturan, sasaran yang akan
diwujudkan, dan ruang lingkup materi muatan Rancangan
Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan
Unit Pelaksana Teknis Dinas ...

Sementara itu, kegunaan Penyusunan Kajian Akademis adalah


sebagai acuan atau referensi penyusunan Rancangan Peraturan
Gubernur Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit Pelaksana
Teknis Dinas ...

D. Metode

Naskah kajian akademis Rancangan Peraturan Gubernur


Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas
... menggunakan metode penelitian hukum. Penelitian hukum

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 4


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

adalah penelitian yang membantu pengembangan ilmu hukum dalam


mengungkapkan suatu kebenaran hukum. Konsekuensinya untuk
melakukan penelitian hukum, seseorang harus memahami penelitian
itu sendiri dan memahami ilmu hukum.

Metode penelitian yang dipergunakan dalam naskah akademik


rancangan peraturan daerah tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah adalah penelitian hukum normatif atau penelitian
hukum doktrinal. Penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum
yang bertujuan mencari kaedah, norma atau das sollen. Pengertian
kaedah dalam hal ini meliputi asas hukum, kaedah hukum, sistem
hukum dan peraturan hukum kongkrit khususnya terhadap seluruh
perangkat perundang-undangan atau peraturan gubernur yang
berhubungan dengan perangkat daerah.

Selain itu, penelitian ini disebut juga dengan penelitian hukum


normatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini disebut penelitian
hukum normatif yang bersifat deskriptif karena dimaksudkan untuk
memberikan gambaran yang rinci tentang fokus yang diteliti dengan
memanfaatkan norma-norma hukum yang ada, sehingga dapat
menjawab permasalahan yang diteliti.

Adapun bahan hukum yang digunakan dalam penelitian


hukum normatif yakni bahan hukum yang diperoleh dari bahan
literatur dan dokumen-dokumen. Bahan hukum terdiri dari bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.
Bahan hukum primer ialah bahan-bahan hukum yang mempunyai
kekuatan mengikat, seperti peraturan perundang-undangan terkait,
bahan hukum sekunder ialah bahan hukum yang membantu
menganalisis bahan hukum primer, sedangkan bahan hukum tertier
ialah bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan
terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus (hukum)
dan ensiklopedia. Sumber data yang diperoleh dari bahan hukum
berupa literatur, peraturan perundang-undangan, hasil kajian, dan
hasil penelitian, yang kemudian dideskripsikan secara terstruktur dan
sistematis.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 5


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Tahap berikutnya yakni analisis hukum terhadap bahan


hukum yang yang telah diperoleh. Menurut Gijssels dan van Hoecke
analisis data dilakukan dalam tiga tataran yaitu: Pertama,
sistematisasi data (tataran deskriptif). Kedua, penjelasan (tataran
eksplikatif). Ketiga, perbaikan dan pembaharuan (tataran preskriptif
atau normatif).

Berdasarkan pendapat tersebut, maka data (bahan hukum)


Kajian Akademis Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Gorontalo
tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas ... harus
diolah sehingga tampak sistematis atau saling keterkaitan.
Sistematisasi data untuk mewujudkan tataran deskriptif. Sesudah itu
dijelaskan mengenai data atau bahan-bahan hukum yang
dikumpulkan dan mengapa saling berkaitan. Penjelasan yang
demikian itu mewujudkan tataran kedua yaitu tataran eksplikatif.
Terhadap dua tataran di atas ditambahkan tataran ketiga yaitu
tataran normatif dengan usulan perbaikan dan pembaharuan. Dengan
demikian pada tataran ketiga ini memberikan jawaban atas
pertanyaan bagaimana seharusnya atau bagaimana sebaiknya.

Di Provinsi Gorontalo, struktur organisasi dilingkungan


Pemerintah Provinsi Gorontalo terbagi dalam Sekretariat Daerah,
Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Kantor
Unit Pelayanan. Pengaturan mengenai struktur organisasi dan tata

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 6


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

kerja lembaga-lembaga tersebut diatur dalam Peraturan Daerah


sebagai berikut:
1. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 7 Tahun 2013 tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi Gorontalo;
2. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 8 Tahun 2013 tentang
Penamaan Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Gorontalo;
3. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 11 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan
Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Gorontalo;
4. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 12 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi
Gorontalo;
5. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 13 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah
Provinsi Gorontalo; dan
6. Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 14 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Lain.

Peraturan Daerah sebagaimana disebutkan di atas disusun


dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun
2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 57 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis
Penataan Organisasi Perangkat Daerah.

Berdasarkan ketentuan Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo


sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah tersebut di atas,
susunan organisasi perangkat daerah dapat dirinci seperti terlihat
dalam Tabel 2.

Tabel 2: Susunan Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo


(Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007)

No. Perangkat Daerah Peraturan Daerah Keterangan

1. Sekretariat Daerah Peraturan Daerah Terdiri dari 1 (satu)


Nomor 11 Tahun Sekretaris Daerah, 3
2013 tentang (tiga) Assisten, setiap
Organisasi dan Tata Asisten terdiri dari 2
Kerja Sekretariat (dua) Biro, setiap Biro

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 7


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Daerah dan terdiri dari 3 (tiga)


Sekretariat Dewan bagian, kecuali biro
Perwakilan Rakyat humas dan protokol
Daerah Provinsi hanya terdiri dari 2 (dua)
Gorontalo bagian, dan setiap
bagian terdiri dari 3 (tiga)
subbagian, serta
kelompok jabatan
fungsional.

2. Sekretariat DPRD Peraturan Daerah Terdiri dari 1 (satu)


Nomor 11 Tahun Sekretaris Dewan, 4
2013 tentang (empat) Bagian, setiap
Organisasi dan Tata Bagian terdiri dari 2
Kerja Sekretariat (dua) Subbagian kecuali
Daerah dan Bagian Umum terdiri
Sekretariat Dewan dari 3 (tiga) Subbagian,
Perwakilan Rakyat dan kelompok jabatan
Daerah Provinsi fungsional.
Gorontalo

3. Dinas Daerah Peraturan Daerah Terdiri dari 1 (satu)


Nomor 12 Tahun Kepala Dinas, 1 (satu)
2013 tentang Sekretaris dan 3 (tiga)
Organisasi dan Tata Subbagian, serta 4 s/d 6
Kerja Dinas Daerah (empat s/d enam) Bidang
Provinsi Gorontalo dan setiap Bidang terdiri
dari 2 s/d 3 (dua s/d
tiga) Seksi, Kelompok
Jabatan Fungsional, dan
Unit Pelaksana Teknis
Dinas

4. Lembaga Teknis Peraturan Daerah Untuk Badan terdiri dari


Daerah Nomor 13 Tahun 1 (satu) Kepala Badan, 1
2013 tentang (Satu) Sekretaris dan 3
Organisasi dan Tata (tiga) Subbagian, serta 3
Kerja Lembaga s/d 4 (tiga s/d empat)
Teknis Daerah Bidang dan setiap
Provinsi Gorontalo Bidang terdiri dari 2
(dua) Subbidang, serta
Unit Pelaksana Teknis
Badan.
Untuk Kantor terdiri dari
1 (satu) Kepala Kantor, 1
(satu) Subbagian dan 3
(tiga) Seksi, dan
Kelompok Jabatan
Fungsional.
Untuk Inspektorat terdiri
dari 1 (satu) Inspektur, 1

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 8


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

(Satu) Sekretariat dan


dibantu 3 (tiga)
Subbagian, dan 4
(empat) Inspektur
Pembantu Wilayah, serta
Kelompok Jabatan
Fungsional.

5. Lembaga Teknis Peraturan Daerah Untuk Badan terdiri dari


Lain Nomor 14 Tahun 1 (satu) Kepala Badan, 1
2013 tentang (Satu) Sekretaris dan 3
Organisasi dan Tata (tiga) Subbagian, serta 3
Kerja Lembaga Lain s/d 4 (tiga s/d empat)
Bidang dan setiap
Bidang terdiri dari 2
(dua) Subbidang, serta
Unit Pelaksana Teknis
Badan.
Untuk Kantor terdiri dari
1 (satu) Kepala Kantor, 1
(satu) Subbagian dan 3
(tiga) Seksi.
Untuk KORPRI terdiri
dari 3 (tiga) Bagian dan
setiap Bagian terdiri dari
2 (dua) Subbagian.
Untuk Satpol PP terdiri
dari 1 (satu) Kepala, 1
(satu) Subbagian dan 3
(tiga) Seksi.

6. Rumah Sakit Umum Peraturan Daerah Terdiri dari 1 (satu)


Daerah Nomor 7 Tahun 2013 Direktur, 1 Subbagian, 2
tentang (dua) Seksi, serta
Pembentukan Kelompok Jabatan
Organisasi dan Tata Fungsional.
Kerja Rumah Sakit
Umum Daerah
Provinsi Gorontalo
dan Peraturan
Daerah Provinsi
Gorontalo Nomor 8
Tahun 2013 tentang
Penamaan Rumah
Sakit Umum Daerah
Provinsi Gorontalo

Susunan organisasi perangkat daerah seperti terlihat dalam


Tabel 2 dikenal juga dengan istilah pola maksimum. Organisasi

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 9


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Perangkat Daerah Provinsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor


41 Tahun 2007 terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD,
Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Lembaga Lain, dan Rumah
Sakit Daerah. Sebutan Bawasda pada Peraturan Pemerintah Nomor
84 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003
diganti dengan sebutan Inspektorat pada Peraturan Pemerintah
Nomor 41 Tahun 2007.

Jumlah pejabat struktural dilingkungan Pemerintah Provinsi


Gorontalo sampai pada dengan saat ini adalah sebagai berikut:
a. Eselon I = 1 orang
b. Eselon II = 40 orang
c. Eselon III = 167 orang
d. Eselon IV = 454 orang
e. Eselon V =-

Jumlah total pegawai sampai dengan tahun 2015 adalah 3.031 orang.

A. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Peraturan Daerah


Terhadap Masyarakat dan Keuangan Daerah

Penerapan berbagai Peraturan Daerah tentang Pembentukan


Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo yang masih mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah, Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo merasa
ketidaksinkronan antara besaran organisasi yang dibentuk dengan
visi dan misi yang ditetapkan menyebabkan penyelenggaraan
pemerintahan berjalan dalam koridor rutinitas belaka dan tidak
mampu membawa perubahan yang mendasar di daerah sesuai
perencanaan. Organisasi perangkat daerah yang dibentuk seringkali
tidak memberikan konstribusi bagi pengembangan pembangunan
daerah. Hal tersebut biasanya dipengaruhi faktor lain yang sering
diabaikan selama ini dalam rangka penataan kelembagaan perangkat
daerah yakni tidak dilakukan pembedaan penentuan secara khusus
kriteria kelembagaan bagi daerah dan adanya penyeragaman pola
sehingga organisasi yang dibentuk dengan berbagai pertimbangan
subyektifitas birokrat di daerah dan terkadang muncul organisasi
yang dibentuk tidak sesuai dengan kebutuhan daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 10


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Dengan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi


Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah yang
baru mengantikan Peraturan Daerah sebelumnya, diharapkan
penataan Perangkat Daerah dapat menghasilkan perangkat daerah
yang mampu mengedepankan pemenuhan kebutuhan masyarakat
dengan struktur dan fungsi yang efektif, efisien dan rasional sesuai
dengan kemampuan daerah. Selain itu, diperlukan adanya koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi dan simplikasi serta komunikasi
kelembagaan antara pusat dan daerah, serta struktur yang tepat
fungsi dan tepat ukur dari Perangkat Daerah dapat berjalan secara
efektif, efisien dan rasional sehingga dapat menciptakan bagi
kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan uraian di atas bahwa besaran perangkat daerah


sekurang-kurangnya mempertimbangkan faktor keuangan,
kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang
harus diwujudkan, jenis dan banyaknya tugas, luas wilayah kerja dan
kondisi geografis, jumlah dan kepadatan penduduk, potensi daerah
yang bertalian dengan urusan yang akan ditangani, sarana dan
prasarana penunjang tugas, serta mampu menguasai cara-cara baru
yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi,
yaitu melakukan penyesuaian pola organisasi yang cenderung kaku
menjadi lebih fleksibel.

Dalam lingkup organisasi Pemerintahan Daerah, berlakunya


Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat
Daerah menuntut penyesuaian atau perubahan pola penataan
kelembagaannya. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo
dalam merespon dan melaksanakan amanat Peraturan Pemerintah
Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, dilakukan penataan
terhadap kelembagaan Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo, yang
selama ini Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo masih mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah. Adapun susunan perangkat daerah Provinsi
Gorontalo berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh kementerian

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 11


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

dalam negeri sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun


2016 tentang Perangkat Daerah, seperti terlihat dalam tabel 3.

Tabel 3: Susunan Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo berdasarkan


hasil Pemetaan

NO PERANGKAT DAERAH SKOR TIPE

1. Sekretariat Daerah 616 B

- Sekretaris Daerah

- 3 Asisten

- 6 Biro

2. Sekretariat DPRD 470 C

3. Inspektorat 517 C

DINAS DAERAH

1. Dinas Sosial 836 A

2. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan 814 A


Menengah

3. Dinas Kepemudaan dan Olahraga 836 A

4. Dinas Perpustakaan 880 A

5. Dinas Pariwisata 825 A

6. Dinas Pertanian 845 A

7. Dinas Komunikasi dan Informatika 658 B

8. Dinas Perdagangan 636 B

9. Dinas Transmigrasi 770 B

10. Dinas Pendidikan 605 B

11. Dinas Kesehatan 638 B

12. Dinas Kebakaran 660 B

13. Satuan Polisi Pamong Praja dan 737 B


Perlindungan Masyarakat

14. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan 638 B


Perlindungan Anak

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 12


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

15. Dinas Pangan 792 B

16. Dinas Lingkungan Hidup 660 B

17. Dinas Perhubungan 625 B

18. Dinas Penanaman Modal 704 B

19. Dinas Statistik 715 B

20. Dinas Kebudayaan 704 B

21. Dinas Kearsipan 640 B

22. Dinas Kelautan dan Perikanan 750 B

23. Dinas Kehutanan 671 B

24. Dinas Energi dan Sumber Daya 733 B


Mineral

25. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan 693 B


Desa

26. Dinas Pekerjaan umum dan penataan 557 C


ruang

27. Dinas Administrasi Kependudukan 517 C


dan Pencatatan Sipil

BADAN DAERAH

1. Badan Perencanaan 928 A

2. Badan Keuangan 627 B

3. Badan Penelitian dan Pengembangan 715 B

4. Badan Kepegawaian 968 A

5. Badan Pendidikan dan Pelatihan ASN 968 A

6. Badan Penghubung 88

SETINGKAT BIDANG:
1. Perumahan rakyat dan kawasan 394 Bidang
pemukiman
2. Tenaga Kerja 308 Bidang
3. Pertanahan 330 Bidang
4. Pengendalian Penduduk dan KB 330 Bidang

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 13


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

5. Persandian 304 Bidang


6. Perindustrian 264 Bidang

Data dalam tabel 3 tersebut berdasarkan pemetaan urusan

pemerintahan untuk memperoleh informasi intensitas urusan

pemerintahan wajib dan potensi urusan pemerintahan pilihan serta

beban kerja penyelenggaraan urusan pemerintahan yang digunakan

untuk menentukkan susunan dan tipe perangkat daerah

sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun

2016 tentang Perangkat Daerah.

Penggabungan beberapa urusan pemerintahan wajib yang

terkait dengan pelayanan dasar dan yang tidak terkait dengan

pelayanan dasar serta urusan pemerintahan pilihan setingkat bidang,

karena urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud tidak

memenuhi syarat dibentuk Dinas Daerah Provinsi sendiri, sehingga

urusan pemerintahan tersebut digabung dengan dinas lain. Dimana

penggabungan urusan pemerintahan dalam 1 (satu) dinas Daerah

provinsi didasarkan pada perumpunan Urusan Pemerintahan dengan

criteria yaitu kedekatan karakteristik Urusan Pemerintahan,

dan/atau keterkaitan antar penyelenggaraan Urusan Pemerintahan

serta nomenklatur dinas yang mendapatkan tambahan bidang Urusan

Pemerintahan merupakan nomenklatur dinas dari Urusan

Pemerintahan yang berdiri sendiri sebelum penggabungan.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 14


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TERKAIT

Untuk membentuk Peraturan Daerah yang harmonis dan


singkron dengan peraturan perundang-undangan yang ada di
Indonesia, maka pembentukan Peraturan Daerah harus dilaksanakan
sesuai dengan kaedah-kaedah pembentukan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Peraturan Daerah merupakan bagian yang
tidak terpisahkan atau terintegrasi dalam satu kesatuan sistem
hukum nasional. Sehingga materi muatan Peraturan Daerah harus
memiliki keharmonisan dan singkron dengan peraturan perundang-
undang yang berlaku, khususnya dengan peraturan perundang-
undangan yang memiliki kedudukan atau hierarki yang lebih tinggi

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 15


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

atau sama kedudukannya dalam hierarki peraturan perundang-


undangan.

Keharmonisasan dan singkronisasi dalam pembentukan


Peraturan Daerah merupakan suatu keharusan yang harus dipenuhi,
agar Peraturan Daerah yang dibentuk dapat berlaku dan
dilaksanakan secara efektif.

Beberapa peraturan perundang-undangan yang memiliki


keterkaitan dengan pengaturan pembentukan Rancangan Peraturan
Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah, yang perlu diperhatikan dan dijadikan acuan serta
dasar dalam pembentukan rancangan peraturan daerah sebagaimana
dimaksud.

A. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Dalam Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945, menyatakan bahwa Pemerintahan
Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
Perintah Pusat. Berdasarkan bunyi Pasal 18 ayat (5) UUD 1945
tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa dalam desentralisasi
daerah diberikan hak otonomi. Otonomi daerah adalah Hak,
wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Terkait dengan dasar konstitusional mengenai pembentukan


peraturan daerah dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yakni diatur secara tegas dalam Pasal 18 ayat
(6) yang menyatakan bahwa pemerintahan daerah berhak untuk
membentuk peraturan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi
daerah dan tugas pembantuan. Dasar kewenangan pembentukan
Peraturan Daerah ini merupakan dasar konstitusional yang dimiliki
oleh Pemerintahan Daerah (Pemerintah Daerah dan DPRD) dalam
membentuk Peraturan Daerah untuk mengatur dan menjalankan
otonomi daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 16


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

B. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang


Penanggulangan Bencana

Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki wilayah yang


luas dan terletak digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua
benua dan dua samudra dengan kondisi alam yang memiliki berbagai
keunggulan, namun dipihak lain posisinya berada dalam wilayah yang
memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang
rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekwensi yang cukup
tinggi, sehingga memerlukan penanganan yang sistematis, terpadu,
dan terkoordinasi.

Potensi penyebab bencana diwilayah negara kesatuan


Indonesia dapat dikelompokan dalam 3 (tiga) jenis bencana, yaitu
bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial.

Bencana alam antara lain berupa gempa bumi karena alam,


letusan gunung berapi, angin topan, tanah longsor, kekeringan,
kebakaran hutan/lahan karena faktor alam, hama penyakit tanaman,
epidemi, wabah, kejadian luar biasa, dan kejadian antariksa/benda-
benda angkasa. Sedangkan bencana nonalam antara lain kebakaran
hutan/lahan yang disebabkan oleh manusia, kecelakan transportasi,
kegagalan konstruksi/teknologi, dampak industri, ledakan nuklir,
pencemaran lingkungan dan kegiatan keantariksaan. Dan yang
dimaksud dengan bencana sosial antara lain berupa kerusuhan sosial
dan konflik sosial dalam masyarakat yang sering terjadi.

Penanggulangan Bencana merupakan salah satu bagian dari


pembangunan nasional yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan
bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana.
Selama ini masih dirasakan adanya kelemahan baikdalam
pelaksanaan penanggulangan bencana maupun yang terkait dengan
landasan hukumnya, karena belum ada undang-undang yang secara
khusus menangani bencana.

Mencermati hal-hal tersebut diatas dan dalam rangka


memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan
penanggulangan bencana, disusunlah Undang-Undang tentang
Penanggulangan Bencana yang pada prinsipnya mengatur tahapan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 17


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

bencana meliputi pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca


bencana.

Materi muatan Undang-undang ini berisikan ketentuan-


ketentuan pokok sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan tanggung
jawab dan wewenang Pemerintah dan pemerintah daerah, yang
dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan
menyeluruh.
2. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam tahap tanggap
darurat dilaksanakan sepenuhnya oleh Badan Nasional
Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah. Badan penanggulangan bencana tersebut terdiri dari
unsure pengarah dan unsur pelaksana. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah mempunyai tugas dan fungsi antara lain pengkoordinasian
penyelenggaraan penanggulangan bencana secara terencana dan
terpadu sesuai dengan kewenangannya.
3. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan
memperhatikan hak masyarakat yang antara lain mendapatkan
bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan
perlindungan sosial, mendapatkan pendidikan dan keterampilan
dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan.
4. Kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan dengan
memberikan kesempatan secara luas kepada lembaga usaha dan
lembaga internasional.
5. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dilakukan pada tahap
pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana, karena
masingmasing tahapan mempunyai karakteristik penanganan
yang berbeda.
6. Pada saat tanggap darurat, kegiatan penanggulangan bencana
selain didukung dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, juga disediakan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 18


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

dana siap pakai dengan pertanggungjawabanmelalui mekanisme


khusus.
7. Pengawasan terhadap seluruh kegiatan penanggulangan bencana
dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
pada setiap tahapan bencana, agar tidak terjadi penyimpangan
dalam penggunaan dana penanggulangan bencana.
8. Untuk menjamin ditaatinya undang-undang ini dan sekaligus
memberikan efek jera terhadap para pihak, baik karena kelalaian
maupun karena kesengajaan sehinggamenyebabkan terjadinya
bencana yang menimbulkan kerugian, baik terhadap harta benda
maupun matinya orang, menghambat kemudahan akses dalam
kegiatan penanggulangan bencana, dan penyalahgunaan
pengelolaan sumber daya bantuan bencana dikenakan sanksi
pidana, baik pidana penjara maupun pidana denda, dengan
menerapkan pidana minimum dan maksimum.

Dengan materi muatan sebagaimana disebutkan diatas,


Undang-Undang ini diharapkan dapat dijadikan landasan hukum
yang kuat dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana sehingga
penyelenggaraan penanggulangan bencana dapat dilaksanakan
secara terencana, terkoordinasi, dan terpadu.

Dimana di dalam Pasal 18 dinyatakan bahwa pemerintah


daerah membentuk badan penanggulangan bencana daerah. Badan
penanggulangan bencana daerah sebagaimana dimaksud terdiri atas
badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat
di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib dan badan pada tingkat
kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah
bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Selanjutnya dalam Pasal 25
menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan,
fungsi, tugas, struktur organisasi, dan tata kerja badan
penanggulangan bencana daerah diatur dengan peraturan daerah.

C. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan

Dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mengatur mengenai

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 19


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

teknik dan materi pembentukan peraturan perundang-undangan


termasuk Peraturan Daerah sebagai salah satu hierarki peraturan
perundang-undangan, sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan.

Pengaturan mengenai materi muatan yang dapat diatur dalam


Peraturan Daerah diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
yang menyatakan bahwa materi muatan Peraturan Daerah Provinsi
dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam
rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta
menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut
Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Jadi secara
normatif tujuan dibentuknya Peraturan Daerah adalah untuk
menyelenggarakan otonomi daerah, penjabaran lebih lanjut peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, dan menampung kondisi
khusus daerah yang tetap diselaraskan dengan peraturan perundang-
undangan yang lain dan kepentingan umum.

Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Undang-
Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah Provinsi, dan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Dimana Kekuatan hukum
Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan hierarki.

Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan


Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka
penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta
menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut
Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan, menjadi pedoman teknis dalam
proses pembentukan Peraturan Daerah mulai dari tahapan
perencanaan (prolegda) sampai pada tahapan pengundangan, dan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 20


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

menjadi pedoman teknis dalam penyusunan Rancangan Peraturan


Daerah. Oleh karena itu, proses pembentukan dan proses
penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah harus mengacu dan
berpedoman pada mekanisme dan pengaturan yang diatur dalam
Undang-Undang ini termasuk peraturan pelaksanaannya.

D. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah

Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah merupakan


peraturan perundang-undangan yang mengatur secara umum
kewenangan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Kewenangan pembentukan peraturan daerah merupakan
kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah untuk mengatur dan
menjalankan pemerintahan di daerah. Melalui Peraturan Daerah yang
dibentuk, Pemerintah Daerah dapat melakukan pengaturan dan
regulasi untuk menjalankan pemerintahan, termasuk dalam rangka
mengatur dan mengendalikan tindakan/perilaku masyarakat.

Dalam Pasal 236 menjadi dasar kewenangan bagi Pemerintah


Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk membentuk
Peraturan Daerah. Perda dapat memuat ketentuan tentang
pembebanan biaya paksaan penegakan/pelaksanaan perda
seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan dan pembatasan dalam menentukan
norma pidana yang hendak dimuat dalam peraturan daerah serta juga
dapat memuat ancaman sanksi yang bersifat mengembalikan keadaan
semula dan sanksi administratif.

Dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah secara


tegas mengatur mengenai klasifikasi urusan pemerintahan yaitu
urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan
urusan pemerintahan umum.

Urusan pemerintahan absolut adalah urusan pemerintahan


yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.
Selanjutnya, urusan pemerintahan konkuren adalah urusan
pemerintahan yang dibagi antara pemerintah pusat dan daerah

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 21


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

provinsi dan daerah kabupaten/kota. Dimana urusan pemerintahan


konkuren yang diserahkan ke daerah menjadi dasar pelaksanaan
otonomi daerah.

Urusan pemerintahan konkuren yang menjadi kewenangan


daerah terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan
pemerintahan pilihan. Urusan wajib terdiri atas urusan yang
berkaitan dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Urusan pemerintahan wajib
yang berkaitan dengan pelayanan dasar merupakan urusan
pemerintahan wajib yang sebagian substansinya merupakan
pelayanan dasar.

Urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan


dasar meliputi:
a. pendidikan;
b. kesehatan;
c. pekerjaan umum dan penataan ruang;
d. perumahan rakyat dan kawasan permukiman;
e. ketenteraman, ketertiban umum, dan pelindungan masyarakat;
dan
f. sosial.

Sedangkan urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan


pelayanan dasar meliputi:
a. tenaga kerja;
b. pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak;
c. pangan;
d. pertanahan;
e. lingkungan hidup;
f. administrasi kependudukan dan pencatatan sipil;
g. pemberdayaan masyarakat dan Desa;
h. pengendalian penduduk dan keluarga berencana;
b. perhubungan;
c. komunikasi dan informatika;
d. koperasi, usaha kecil, dan menengah;
e. penanaman modal;

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 22


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

f. kepemudaan dan olah raga;


g. statistik;
h. persandian;
i. kebudayaan;
j. perpustakaan; dan
k. kearsipan.

Urusan Pemerintahan Pilihan meliputi:


a. kelautan dan perikanan;
b. pariwisata;
c. pertanian;
d. kehutanan;
e. energi dan sumber daya mineral;
f. perdagangan;
g. perindustrian; dan
h. transmigrasi.

Pembagian urusan pemerintahan konkuren antara Pemerintah


Pusat dan Daerah provinsi serta Daerah kabupaten/kota didasarkan
pada prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas, serta
kepentingan strategis nasional. Berdasarkan prinsip tersebut maka
yang menjadi kriteria Urusan Pemerintahan yang merupakan
kewenangan Daerah provinsi adalah:
a. Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah
kabupaten/kota;
b. Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah
kabupaten/kota;
c. Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya
lintas Daerah kabupaten/kota; dan/atau
d. Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih
efisien apabila dilakukan oleh Daerah Provinsi.

Penyelenggara Pemerintahan Daerah provinsi dan


kabupaten/kota terdiri atas kepala daerah dan DPRD dibantu oleh
Perangkat Daerah. Dimana kepala daerah dan DPRD dalam
menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dibantu oleh Perangkat
Daerah. Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud diisi oleh pegawai

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 23


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

aparatur sipil negara. Untuk perangkat daerah provinsi terdiri atas


sekretariat daerah, sekretariat DPRD, inspektorat, dinas, dan badan.
Sedangkan perangkat daerah kabupaten/kota terdiri atas sekretariat
daerah, sekretariat DPRD, inspektorat, dinas, badan, dan kecamatan.
Perangkat Daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud di atas selain melaksanakan Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Daerah juga melaksanakan Tugas Pembantuan.

Dalam pembentukan dan susunan perangkat daerah


sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan dengan Perda. Perda
tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah berlaku setelah
mendapat persetujuan dari Menteri bagi perangkat daerah provinsi
dan dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat bagi Perangkat
Daerah kabupaten/kota.

Persetujuan Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah


Pusat diberikan berdasarkan pemetaan Urusan Pemerintahan Wajib
yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar dan Urusan
Pemerintahan Pilihan. Selanjutnya terkait dengan kedudukan,
susunan organisasi, perincian tugas dan fungsi, serta tata kerja
perangkat daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah, dalam
hal ini peraturan gubernur untuk daerah provinsi, peraturan bupati
untuk kabupaten, dan peraturan walikota untuk kota.

E. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang


Perangkat Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang


Perangkat Daerah merupakan salah satu peraturan pelaksanaan dari
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, yang pembentukannya merupakan perintah atau
pendelegasian dari ketentuan dalam Pasal 232 ayat (1) dari Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah membawa perubahan yang signifikan terhadap pembentukan
Perangkat Daerah, yakni dengan prinsip tepat fungsi dan tepat ukuran
(rightsizing) berdasarkan beban kerja yang sesuai dengan kondisi
nyata di masingmasing Daerah. Hal ini juga sejalan dengan prinsip

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 24


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

penataan organisasi Perangkat Daerah yang rasional, proporsional,


efektif, dan efisien.

Pengelompokan organisasi Perangkat Daerah didasarkan pada


konsepsi pembentukan organisasi yang terdiri atas 5 (lima) elemen,
yaitu kepala Daerah (strategic apex), sekretaris Daerah (middle line),
dinas Daerah (operating core), badan/fungsi penunjang
(technostructure), dan staf pendukung (supporting staff). Dinas Daerah
merupakan pelaksana fungsi inti (operating core) yang melaksanakan
tugas dan fungsi sebagai pembantu kepala Daerah dalam
melaksanakan fungsi mengatur dan mengurus sesuai bidang Urusan
Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah, baik urusan wajib
maupun urusan pilihan. Badan Daerah melaksanakan fungsi
penunjang (technostructure) yang melaksanakan tugas dan fungsi
sebagai pembantu kepala Daerah dalam melaksanakan fungsi
mengatur dan mengurus untuk menunjang kelancaran pelaksanaan
fungsi inti (operating core).

Dalam rangka mewujudkan pembentukan Perangkat Daerah


sesuai dengan prinsip desain organisasi, pembentukan Perangkat
Daerah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini didasarkan pada
asas efisiensi, efektivitas, pembagian habis tugas, rentang kendali,
tata kerja yang jelas, fleksibilitas, Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah, dan intensitas Urusan Pemerintahan dan
potensi Daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah, kepala Daerah dibantu oleh Perangkat Daerah
yang terdiri dari unsur staf, unsur pelaksana, dan unsur penunjang.
Unsur staf diwadahi dalam sekretariat Daerah dan sekretariat DPRD.
Unsur pelaksana Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada
Daerah diwadahi dalam dinas Daerah.

Unsur pelaksana fungsi penunjang Urusan Pemerintahan


Daerah diwadahi dalam badan Daerah. Unsur penunjang yang khusus
melaksanakan fungsi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah diwadahi dalam inspektorat. Di samping itu,
pada Daerah kabupaten/kota dibentuk kecamatan sebagai Perangkat

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 25


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Daerah yang bersifat kewilayahan untuk melaksanakan fungsi


koordinasi kewilayahan dan pelayanan tertentu yang bersifat
sederhana dan intensitas tinggi.

Kepala dinas, kepala badan, sekretaris DPRD, kepala


inspektorat dan camat atau nama lain di kabupaten/kota
bertanggung jawab kepada kepala Daerah melalui sekretaris Daerah.
Fungsi sekretaris Daerah dalam pertanggungjawaban tersebut
hanyalah fungsi pengendalian administrasi untuk memverifikasi
kebenaran administrasi atas pertanggungjawaban yang disampaikan
oleh kepala dinas, kepala badan, sekretaris DPRD, inspektur, kepala
satuan polisi pamong praja dan camat atau nama lain kepada kepala
Daerah.

Dasar utama pembentukan Perangkat Daerah, yaitu adanya


Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah yang terdiri
atas Urusan Pemerintahan Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan.
Urusan Pemerintahan Wajib dibagi atas Urusan Pemerintahan yang
berkaitan dengan pelayanan dasar dan Urusan Pemerintahan yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar.

Berdasarkan pembagian Urusan Pemerintahan antara


Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota
sebagaimana dimuat dalam matriks pembagian Urusan Pemerintahan
konkuren, Perangkat Daerah mengelola unsur manajemen yang
meliputi sarana dan prasarana, personil, metode kerja dan
penyelenggaraan fungsi manajemen yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengoordinasian, penganggaran,
pengawasan, penelitian dan pengembangan, standardisasi, dan
pengelolaan informasi sesuai dengan substansi urusan
pemerintahannya.

Pembentukan Perangkat Daerah mempertimbangkan faktor


luas wilayah, jumlah penduduk, kemampuan keuangan Daerah serta
besaran beban tugas sesuai dengan Urusan Pemerintahan yang
diserahkan kepada Daerah sebagai mandat yang wajib dilaksanakan
oleh setiap Daerah melalui Perangkat Daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 26


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Peraturan Pemerintah ini menetapkan Perangkat Daerah


dalam 3 (tiga) tipe, yaitu sekretariat Daerah, sekretariat DPRD dan
inspektorat tipe A; sekretariat Daerah, sekretariat DPRD dan
inspektorat tipe B; dan sekretariat Daerah, sekretariat DPRD dan
inspektorat tipe C; dinas tipe A, dinas tipe B, dan dinas tipe C; badan
tipe A, badan tipe B, dan badan tipe C; serta kecamatan dalam 2 (dua)
tipe, yaitu kecamatan tipe A dan kecamatan tipe B. Penetapan tipe
Perangkat Daerah didasarkan pada perhitungan jumlah nilai variabel
beban kerja. Variabel beban kerja terdiri dari variabel umum dan
variabel teknis. Variabel umum, meliputi jumlah penduduk, luas
wilayah, jumlah anggaran pendapatan dan belanja Daerah dengan
bobot sebesar 20% (dua puluh persen) dan variabel teknis yang
merupakan beban utama dengan bobot sebesar 80% (delapan puluh
persen). Pada tiap-tiap variabel, baik variabel umum maupun variabel
teknis ditetapkan 5 (lima) kelas interval, dengan skala nilai dari 200
(dua ratus) sampai dengan 1.000 (seribu).

Pemerintahan Daerah memprioritaskan pelaksanaan Urusan


Pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar, agar
kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara optimal. Oleh
karena itu, Perangkat Daerah yang melaksanakan Urusan
Pemerintahan wajib berkaitan dengan pelayanan dasar diwadahi
dalam bentuk dinas utama minimal tipe C.

Pembinaan dan pengendalian Perangkat Daerah dalam


Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan dalam rangka penerapan
koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi antar Daerah dan
antar sektor, sehingga masing-masing Pemerintah Daerah taat asas
dan taat norma dalam penataan kelembagaan Perangkat Daerah.
Menteri atau gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat dapat
membatalkan Perda tentang pembentukan Perangkat Daerah yang
bertentangan dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah ini.

Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengendalian penataan


Perangkat Daerah, Pemerintah Pusat melakukan fasilitasi melalui
asistensi, pemberian arahan, pedoman, bimbingan, supervisi,

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 27


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

pelatihan, dan kerja sama, sehingga sinkronisasi dan simplifikasi


dapat tercapai secara optimal dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Peraturan Pemerintah ini memberikan arah dan pedoman yang


jelas kepada Daerah dalam menata Perangkat Daerah secara efisien,
efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan nyata dan kemampuan
Daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi,
sinkronisasi dan simplifikasi serta komunikasi kelembagaan antara
Pusat dan Daerah.

Perangkat Daerah provinsi terdiri atas sekretariat daerah,


sekretariat DPRD, inspektorat, dinas, dan badan. Dimana kedudukan,
tugas, dan fungsi perangkat daerah provinsi sebagai berikut:
a. Sekretariat Daerah Provinsi

Sekretariat Daerah provinsi merupakan unsur staf yang dipimpin


oleh sekretaris Daerah dan bertanggung jawab kepada gubernur.
Sekretariat Daerah provinsi sebagaimana dimaksud mempunyai
tugas membantu gubernur dalam penyusunan kebijakan dan
pengoordinasian administratif terhadap pelaksanaan tugas
Perangkat Daerah serta pelayanan administratif. Sekretariat
Daerah provinsi dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan
fungsi pengoordinasian penyusunan kebijakan Daerah;
pengoordinasian pelaksanaan tugas Perangkat Daerah;
pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Daerah;
pelayanan administratif dan pembinaan aparatur sipil negara pada
instansi Daerah; dan pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh
gubernur yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya

b. Sekretariat DPRD Provinsi

Sekretariat DPRD provinsi merupakan unsur pelayanan


administrasi dan pemberian dukungan terhadap tugas dan fungsi
DPRD provinsi. Sekretariat DPRD provinsi sebagaimana dimaksud
dipimpin oleh sekretaris DPRD provinsi yang dalam melaksanakan
tugasnya secara teknis operasional berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD provinsi dan secara

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 28


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

administratif bertanggung jawab kepada gubernur melalui


sekretaris Daerah provinsi. Sekretaris DPRD provinsi diangkat dan
diberhentikan dengan keputusan gubernur atas persetujuan
pimpinan DPRD provinsi setelah berkonsultasi dengan pimpinan
fraksi.
Sekretariat DPRD provinsi mempunyai tugas menyelenggarakan
administrasi kesekretariatan dan keuangan, mendukung
pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD provinsi, serta menyediakan
dan mengoordinasikan tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD
provinsi dalam melaksanakan hak dan fungsinya sesuai dengan
kebutuhan.
Sekretariat DPRD provinsi dalam melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksud di atas menyelenggarakan fungsi
penyelenggaraan administrasi kesekretariatan DPRD provinsi;
penyelenggaraan administrasi keuangan DPRD provinsi; fasilitasi
penyelenggaraan rapat DPRD provinsi; dan penyediaan dan
pengoordinasian tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD provinsi.

c. Inspektorat Daerah Provinsi

Inspektorat Daerah Provinsi merupakan unsur pengawas


penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Inspektorat Daerah
provinsi sebagaimana dimaksud dipimpin oleh inspektur.
Inspektur Daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam
melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada gubernur
melalui sekretaris Daerah.
Inspektorat Daerah provinsi mempunyai tugas membantu
gubernur dalam membina dan mengawasi pelaksanaan Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas
Pembantuan oleh Perangkat Daerah.
Inspektorat Daerah provinsi dalam melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksud di atas menyelenggarakan fungsi
perumusan kebijakan teknis bidang pengawasan dan fasilitasi
pengawasan; pelaksanaan pengawasan internal terhadap kinerja
dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan
kegiatan pengawasan lainnya; pelaksanaan pengawasan untuk

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 29


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

tujuan tertentu atas penugasan dari gubernur; penyusunan


laporan hasil pengawasan; pelaksanaan administrasi inspektorat
Daerah provinsi; dan pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh
gubernur terkait dengan tugas dan fungsinya.

d. Dinas Daerah Provinsi

Dinas Daerah provinsi merupakan unsur pelaksana Urusan


Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Dinas Daerah
provinsi dipimpin oleh kepala dinas Daerah provinsi yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur
melalui sekretaris Daerah provinsi.
Dinas Daerah provinsi sebagaimana dimaksud di atas mempunyai
tugas membantu gubernur melaksanakan Urusan Pemerintahan
yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan yang
ditugaskan kepada Daerah provinsi.
Dinas Daerah provinsi dalam melaksanakan tugas sebagaimana
dimaksud di atas menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan
sesuai dengan lingkup tugasnya; pelaksanaan kebijakan sesuai
dengan lingkup tugasnya; pelaksanaan evaluasi dan pelaporan
sesuai dengan lingkup tugasnya; pelaksanaan administrasi dinas
sesuai dengan lingkup tugasnya; dan pelaksanaan fungsi lain yang
diberikan oleh gubernur terkait dengan tugas dan fungsinya.

e. Badan Daerah Provinsi

Badan Daerah provinsi merupakan unsur penunjang Urusan


Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi. Badan
Daerah provinsi dipimpin oleh kepala badan Daerah provinsi yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada gubernur
melalui sekretaris Daerah provinsi.

Badan Daerah provinsi mempunyai tugas membantu gubernur


melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Daerah provinsi.

Badan Daerah provinsi dalam melaksanakan tugas sebagaimana


dimaksud di atas menyelenggarakan fungsi penyusunan kebijakan
teknis sesuai dengan lingkup tugasnya; pelaksanaan tugas

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 30


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

dukungan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya; pemantauan,


evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis
sesuai dengan lingkup tugasnya; pembinaan teknis
penyelenggaraan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan Daerah
sesuai dengan lingkup tugasnya; dan pelaksanaan fungsi lain yang
diberikan oleh gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan uraian di atas, perangkat daerah Provinsi


Gorontalo sebagai berikut:

a. Sekretariat Daerah dengan skor 616 tipe B dengan ketentuan


terdiri dari 1 orang Sekretaris, paling banyak 3 Asisten, masing-
masing asisten paling banyak 2 biro, masing-masing biro paling
banyak 3 bagian, dan masing-masing bagian paling banyak 3
sub bagian.

b. Sekretariat DPRD dengan skor 470 tipe C dengan ketentuan


terdiri dari 1 orang Sekretaris, paling banyak 3 bagian, masing-
masing bagian paling banyak 2 sub bagian. Akan tetapi adanya
beban kerja yang cukup tinggi Pemerintah daerah menggangap
perlu untuk dinaikkan tipeloginya menjadi tipe B dengan
mengunakan kewenangan diskresi yang diatur dalam Undang-
undang 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
pasal 22.

c. Inspektorat dengan skor 517 tipe B dengan ketentuan terdiri


dari 1 orang Inspektur, 1 sekretaris paling banyak 2 sub bagian
dan 2 inspektur pembantu. Akan tetapi adanya beban kerja
yang cukup tinggi Pemerintah daerah menggangap perlu untuk
dinaikkan tipeloginya menjadi tipe B dengan mengunakan
kewenangan diskresi yang diatur dalam Undang-undang 30
Tahun 2014 tentang Administrasi Pemrintahan pasal 22.

d. Dinas Daerah terdiri dari:

1. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan Tipe A

Urusan pemerintahan dibidang pendidikan


merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan
dengan pelayanan dasar dengan skor 605 memperoleh tipe

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 31


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

B. sementara urusan pemerintahan dibidang kebudayaan


dengan skor 704 tipe B merupakan urusan pemerintahan
wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar. Dalam
rangka efisiensi dan efektifitas suatu perangkat daerah
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah, kedua urusan pemerintahan ini
merupakan urusan pemerintahan yang serumpun. Selain
itu berdasarkan Pasal 54 ayat (1) peraturan pemerintah
tersebut menyebutkan Dalam hal kemampuan keuangan
Daerah atau ketersediaan aparatur yang dimiliki oleh
Daerah masih terbatas, tipe Perangkat Daerah dapat
diturunkan dari hasil pemetaan. Oleh karenanya urusan
pemerintahan dibidang kebudayaan yang awalnya dapat
diwadahi dalam bentuk dinas tersendiri dengan tipe B, akan
tetapi melihat kemampuan keuangan daerah dan
ketersediaan aparatur serta beban kerja yang ada di bidang
kebudayaan tersebut sehingga urusan pemerintahan
dibidang kebudayaan digabungkan dengan urusan
pemerintahan dibidang pendidikan yang diwadahi dalam
bentuk dinas pendidikan dan kebudayaan dengan tipe A
yang mana nomenklatur dinas tersebut mencerminkan
urusan pemerintahan yang digabung sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 54 ayat (4) Peraturan Pemerintah
tersebut.

2. Dinas Kesehatan dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang kesehatan merupakan


urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 638 memperoleh tipe B.

Bahwa dalam rangka efisiensi Organisasi, maka


urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana,
dengan skor 330 (setingkat bidang), maka dilakukan
penggabungan sesuai perumpunan Urusan Pemerintahan
ke Dinas kesehatan sehingga dinas kesehatan menjadi tipe
A.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 32


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

3. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Pekerjaan Umum dan


Penataan Ruang merupakan urusan pemerintahan wajib
yang berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 557
memperoleh tipe C.

Urusan pemerintahan dibidang Perumahan dan


Kawasan Pemukiman merupakan urusan pemerintahan
wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor
394 setingkat bidang. Akan tetapi berdasarkan Pasal 53 ayat
(3) menyebutkan Dalam hal hasil perhitungan nilai variabel
Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan
pelayanan dasar tidak memenuhi perhitungan nilai variabel
untuk menjadi dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Urusan Pemerintahan tersebut tetap dibentuk sebagai dinas
tipe C. Untuk itu urusan pemerintahan bidang perumahan
rakyat dan kawasan pemukiman dapat diwadahi dalam
bentuk dinas tipe C.

Bahwa dalam rangka efisiensi Organisasi, maka


urusan pengendalian perumahan dan kawasan pemukiman,
maka dilakukan penggabungan sesuai perumpunan Urusan
Pemerintahan ke Dinas pekerjaan umum dan penataan
ruang, sehingga menjadi dinas pekerjaan umum dan
penataan ruang dengan tipe B.

4. Satuan Polisi Pamong Praja dengan tipe A

Berdasarkan Pasal 15 ayat (7) dan Pasal 16 Peraturan


Pemerintahan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat
Daerah menyebutkan Khusus untuk Urusan Pemerintahan
di bidang ketenteraman dan ketertiban umum serta
perlindungan masyarakat dilaksanakan oleh:
a. dinas Daerah provinsi yang menyelenggarakan sub
urusan ketenteraman dan ketertiban umum; dan
b. dinas Daerah provinsi yang menyelenggarakan sub
urusan kebakaran. Dinas Daerah provinsi yang

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 33


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

menyelenggarakan sub urusan ketenteraman dan


ketertiban umum disebut satuan polisi pamong praja
Daerah provinsi. Urusan pemerintahan dibidang satuan
polisi pamong praja merupakan urusan pemerintahan
wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar dengan
skor 737 dengan dinas tipe B, sedangkan sub urusan
kebakaran dengan skor 660 dengan dinas tipe B. Akan
tetapi berdasarkan efiseinsi, kemampuan keuangan
daerah dan keterbatasan sumber daya manusia yang
ada, kedua sub urusan tersebut digabungkan yang
diwadahi dalam satu dinas ketenteraman dan ketertiban
yang disebut dengan satuan polisi pamong praja.
5. Dinas Sosial dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang sosial merupakan urusan


pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar
dengan skor 836 memperoleh tipe A.

6. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang perpustakaan dan kearsipan


merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar. Urusan pemerintahan di
bidang perpustakaan dengan skor 880 memperoleh tipe A.
sementara urusan pemerintahan dibidang kearsipan dengan
skor 640 tipe B. Dalam rangka efisiensi dan efektifitas suatu
perangkat daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, kedua urusan
pemerintahan ini merupakan urusan pemerintahan yang
serumpun. Selain itu, berdasarkan Pasal 54 ayat (1)
peraturan pemerintah tersebut menyebutkan Dalam hal
kemampuan keuangan Daerah atau ketersediaan aparatur
yang dimiliki oleh Daerah masih terbatas, tipe Perangkat
Daerah dapat diturunkan dari hasil pemetaan. Oleh
karenanya urusan pemerintahan dibidang perpustakaan
dan kearsipan yang awalnya dapat diwadahi dalam bentuk
dinas tersendiri dengan tipe A dan tipe B, akan tetapi

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 34


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dan


ketersediaan aparatur serta beban kerja yang ada di bidang
perpustakaan dan kearsipan tersebut maka urusan
pemerintahan dibidang Perpustakaan digabungkan dengan
urusan pemerintahan dibidang kearsipan yang diwadahi
dalam bentuk dinas perpustakaan dan kearsipan tipe A
dengan 5 bidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54
ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah, yang mana nomenklatur dinas
tersebut mencerminkan urusan pemerintahan yang
digabung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (4)
Peraturan Pemerintah tersebut.

7. Dinas Kelautan dan Perikanan dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Kelautan dan Perikanan


merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 750
memperoleh tipe B.

8. Dinas Kepemudaan dan Olah Raga dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Kepemudaan dan Olah


Raga merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 836
memperoleh tipe A.

9. Dinas Lingkungan Hidup dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Lingkungan Hidup


merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 660
memperoleh tipe B.

Untuk melakukan efisiensi dan efektifitas organisasi


perangkat daerah dengan mempertimbangkan kemampuan
keuangan daerah maka urusan pemerintahan dibidang
pertanahan yang memperoleh skor 330 (setingkat bidang)
digabungkan dengan urusan pemerintahan sesuai dengan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 35


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

perumpunan ke dinas lingkungan hidup sehingga dinas


tersebut menjadi tipe A.

10. Dinas Kehutanan dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Kehutanan merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 671 memperoleh tipe B.

11. Dinas Pangan dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Pangan merupakan urusan


pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 792 memperoleh tipe B.

12. Dinas Pariwisata dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Pariwisata merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 825 memperoleh tipe A.

13. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Pemberdayaan Masyarakat


dan Desa merupakan urusan pemerintahan wajib yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 693
memperoleh tipe B.

Bahwa untuk efisiensi dan efektifitas organisasi perangkat


daerah maka Urusan pemerintahan di bidang Administrasi
Kependudukan dan Catatan Sipil yang merupakan urusan
pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 517 memperoleh tipe C.
digabungkan sesuai perumpunan urusan pemerintahan ke
dinas pemberdayaan masyarakat dan desa sehingga dinas
ini dinaikan satu tingkat menjadi tipe A.

14. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Pemberdayaan Perempuan


dan Perlindungan Anak merupakan urusan pemerintahan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 36


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar dengan


skor 638 memperoleh tipe B.

15. Dinas Pertanian dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Pertanian merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 845 memperoleh tipe A.

16. Dinas Perdagangan dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Perdagangan merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar. Urusan pemerintahan di bidang
Perdagangan dengan skor 636 memperoleh tipe B.
Sementara urusan pemerintahan dibidang perindustrian
dengan skor 264 setingkat subbidang. Berdasarkan Pasal
53 ayat (5) huruf b Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
2016 tentang Perangkat Daerah, maka urusan
pemerintahan dibidang Perindustrian digabungkan dengan
urusan pemerintahan dibidang perdagangan dengan tidak
menambah tipelogi dari Dinas yang digabungkan. Dimana
kedua urusan pemerintahan tersebut serumpun dengan
menggunakan nomenklatur dari dinas yang berdiri sendiri
sebelum digabungkan, dalam hal ini Dinas Perdagangan.

17. Dinas Transmigrasi dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang transmigrasi merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar. Urusan pemerintahan di bidang
transmigrasi dengan skor 770 memperoleh tipe B.
Sementara urusan pemerintahan dibidang tenaga kerja
dengan skor 308 setingkat bidang. Berdasarkan Pasal 18
ayat (1), ayat (6), dan ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, maka urusan
pemerintahan dibidang tenaga kerja digabungkan dengan
urusan pemerintahan dibidang transmigrasi dengan
tipelogi dapat dinaikkan satu tingkat diatasnya. Sehingga

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 37


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Dinas Transmigrasi yang tadinya tipe B menjadi Tipe A,


oleh karena digabungkan dengan urusan pemerintahan
dibidang Tegana Kerja. Dimana kedua urusan
pemerintahan tersebut serumpun dengan menggunakan
nomenklatur dari dinas yang berdiri sendiri sebelum
digabungkan, dalam hal ini Dinas Transmigrasi.

18. Dinas Perhubungan dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Perhubungan merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar dengan skor 625 memperoleh tipe B.

19. Dinas Komunikasi dan Informatika dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Komunikasi dan


Informatika merupakan urusan pemerintahan wajib yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 658
memperoleh tipe B.

20. Dinas Statistik dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang statistik merupakan


urusan pemerintahan wajib yang tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar. Urusan pemerintahan di bidang Statistik
dengan skor 715 memperoleh tipe B. Sementara urusan
pemerintahan dibidang persandian dengan skor 304
setingkat bidang. Berdasarkan Pasal 18 ayat (1), ayat (6),
dan ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah, maka urusan pemerintahan
dibidang persandian digabungkan dengan urusan
pemerintahan dibidang statistik dengan tipelogi dapat
dinaikkan satu tingkat diatasnya. Sehingga Dinas Statistik
yang tadinya tipe B menjadi Tipe A, oleh karena
digabungkan dengan urusan pemerintahan dibidang
Persandian. Dimana kedua urusan pemerintahan tersebut
serumpun dengan menggunakan nomenklatur dari dinas
yang berdiri sendiri sebelum digabungkan, dalam hal ini
Dinas Statistik.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 38


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

21. Dinas Penanaman Modal dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Komunikasi dan


Informatika merupakan urusan pemerintahan wajib yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 704
memperoleh tipe B. Dimana Dinas Penanaman Modal
didalamnya terdapat unit pelayanan terpadu satu pintu
berdasarkan Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, yang mana besaran
unit pelayanan terpadu satu pintu sama dengan besaran
Dinas Penaman Modal. Disamping itu, dalam penjelasan
pasal tersebut di atas, disebutkan Kepala Dinas
Penanaman Modal sekaligus menjadi kepala unit
pelayanan terpadu satu pintu.

22. Dinas Energi Sumber Daya Mineral dengan tipe B

Urusan pemerintahan dibidang Energi Sumber Daya


Mineral merupakan urusan pemerintahan wajib yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 733
memperoleh tipe B.

23. Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah dengan tipe A

Urusan pemerintahan dibidang Koperasi, Usaha Kecil, dan


Menengah merupakan urusan pemerintahan wajib yang
tidak berkaitan dengan pelayanan dasar dengan skor 814
memperoleh tipe A.

e. Badan Daerah, terdiri dari:

1. Badan Perencanaan dengan tipe A

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan merupakan
unsur penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Provinsi. Dimana Badan Perencanaan
memperoleh skor 928 dengan tipe A.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 39


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

2. Badan Keuangan dengan tipe B

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan merupakan
unsur penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Provinsi. Dimana Badan Keuangan
memperoleh skor 627 dengan tipe B.

3. Badan Penelitian dan Pengembangan dengan tipe B

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan merupakan
unsur penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Provinsi. Dimana Badan Penelitian
dan Pengembangan memperoleh skor 715 dengan tipe B.

4. Badan Kepegawaian dengan tipe A

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan merupakan
unsur penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Provinsi. Dimana Badan Kepegawaian
memperoleh skor 968 dengan tipe A.

5. Badan Pendidikan dan Pelatihan dengan tipe A

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan merupakan
unsur penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah Provinsi. Dimana Badan Pendidikan
dan Pelatihan memperoleh skor 968 dengan tipe A.

6. Badan Penghubung

Berdasarkan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 18


Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Badan
Penghubung dalam rangka untuk menunjang koordinasi
pelaksanaan Urusan Pemerintahan dan pembangunan
dengan Pemerintah Pusat, yang berkedudukan ibu kota
negara.

BAB IV

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 40


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

Eksistensi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo


tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah merupakan
suatu hal yang dianggap penting. Sehingga materi yang terkait dari
Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah dapat ditilik dari
berbagai macam data faktual yang dikaji melalui satu buah kajian
naskah akademik. Uraian komprehensif dalam naskah akademik
harus memuat tiga landasan utama yang dapat dikemukakan sebagai
berikut:

A. Landasan Filosofis

Filosofis berasal dari kata filsafat, yakni ilmu tentang


kebijaksanaan. Berdasarkan akar kata semacam ini, maka arti
filosofis tidak lain adalah sifat-sifat yang mengarah kepada
kebijaksanaan. Karena menitikberatkan kepada sifat akan
kebijaksanaan, maka filosofis tidak lain adalah pandangan hidup
suatu bangsa yakni nilai-nilai moral atau etika yang berisi nilai-nilai
yang baik dan yang tidak baik (H. Rojidi Ranggawijaya, 1998:43).

Semuanya itu bersifat filosofis artinya menyangkut pandangan


mengenai hakikat sesuatu. Hukum diharapkan mencerminkan sistem
nilai tersebut baik sebagai sarana mewujudkannya dalam tingkah
laku masyarakat. Nilai-nilai ini ada yang dibiarkan dalam masyarakat
sehingga setiap pembentukan hukum atau peraturan perundang-
undangan harus dapat menangkapnya setiap kali akan membentuk
hukum atau peraturan perundang-undangan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan


rakyat yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun
1945. Untuk itu, maka pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat
harus tetap berlandaskan sepenuhnya kepada Undang-Undang Dasar
1945 dalam setiap perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan
pembangunan nasional. Paradigma pembangunan nasional yang
tercantum dalam Pancasila sebagai Landasan Idiil, Undang-Undang
Dasar Tahun 1945 sebagai Landasan Konstitusional, Wawasan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 41


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Nusantara sebagai Landasan Visional, Ketahanan Nasional sebagai


Landasan Konsepsional, serta Rencana Pembangunan Nasional
sebagai Landasan Operasional.

Pancasila merupakan landasan idiil yang dijadikan dasar


dalam perumusan dan pengembangan visi, misi, strategi, dan
kebijakan serta program pembangunann nasional. Kelima sila
Pancasila mengandung butir-butir yang merupakan kristalisasi nilai-
nilai luhur bangsa. Segala bentuk visi, misi, strategi, kebijakan dan
program dalam upaya mencari solusi terhadap permasalahan serta
tantangan bangsa ke depan, hendaknya tetap berlandaskan kepada
Pancasila. Dalam pengertian tersebut, seluruh sila-sila dan butir-butir
yang terkandung dalam Pancasila merupakan landasan yang
dijadikan referensi di dalam perumusan dan pengembangan visi, misi,
strategi, dan kebijakan serta program pembangunan nasional.
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 Ayat (1) yang menyatakan Negara
Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik, kemudian
pada ayat (2) menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat
dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar, selanjutnya pada
ayat (3) yang berbunyi Negara Indonesia adalah negara hukum.

Hamid S. Attamimi (1992:8), dengan mengutip Burkens,


mengatakan bahwa negara hukum (rechtstaat) secara sederhana
adalah negara yang menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan
negara dan penyelenggaraan kekuasaan tersebut dalam segala
bentuknya dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Dalam negara
hukum, segala sesuatu harus dilakukan menurut hukum (everything
must be done according to law). Negara hukum menentukan bahwa
pemerintah harus tunduk pada hukum, bukannya hukum yang harus
tunduk pada pemerintah (H.W.R. Wade, 1971:6). Dengan demikian
konsekuensi dari negara hukum tersebut, maka seluruh aktifitas
kenegaraan harus selalu didasarkan atas aturan hukum,
pembentukan Organisasi Perangkat Daerah baik ditingkat pusat
maupun di tingkat daerah provinsi serta kabupaten dan kota.

Dalam ketentuan Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Dasar


Tahun 1945 dinyatakan bahwa pemerintah daerah provinsi, daerah

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 42


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

kabupaten, dan kota mengatur dan menggurus sendiri urusan


pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Dalam
kaitan ini pemberian otonomi luas kepada daerah didalamnya
termaksud pembentukan Organisasi Perangkat Daerah diarahkan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.
Selain itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu
meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi
dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

B. Landasan Sosiologis

Peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai


landasan atau dasar sosiologis (sociologische grondsIag) apabila
ketentuan-ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum atau
kesadaran hukum masyarakat. Kondisi dan kenyataan ini dapat
berupa kebutuhan atau tuntutan yang dihadapi oleh masyarakat,
kecenderungan dan harapan masyarakat. Dengan memperhatikan
kondisi semacam ini peraturan perundang-undangan diharapkan
dapat diterima oleh masyarakat dan mempunyai daya laku secara
Efektif.

Bertalian dengan hal tersebut, maka dikenal dengan dua teori


yaitu:
1. Teori kekuasaan (machtteorie), yang pada pokoknya menyatakan
bahwa kaedah hukum mempunyai kelakuan sosiologis, apabila
dipaksakan berlakunya oleh penguasa, diterima ataupun tidak
oleh warga-warga masyarakat.
2. Teori pengakuan (Anerkennungstheorie) yang berpokok pangkal
pada pendapat, bahwa kelakuan kaedah hukum didasarkan pada
penerimaan atau pengakuan oleh mereka kepada siapa kaedah
hukum tadi tertuju.

Secara sosiologis, Peraturan Daerah yang disusun


mengindikasikan bahwa hukum sebagai sarana rekayasa sosial dalam

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 43


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

masyarakat akan menimbulkan perubahan sosial, perubahan sosial


yang diakibatkan oleh perubahan hukum.

Hingga saat ini hak-hak masyarakat dalam pelayanan publik,


sebagai mandat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, belum dapat diberikan secara penuh karena
Negara tidak memiliki cukup sumber daya yang memadai. Dalam
perjalanannya kemudian, hak-hak ini juga belum sepenuhnya dapat
dipenuhi dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Hal ini disebabkan karena hingga saat ini, birokrasi belum
banyak mengalami perubahan mendasar.

Banyak permasalahan yang dihadapi pada masa-masa


sebelumnya, belum terselesaikan. Pemberian pelayanan publik yang
bermutu dan penyelenggaraan negara yang bersih dari unsur-unsur
penyalahgunaan kekuasaan adalah sedikit dari sasaran
pembangunan yang belum dapat dicapai. Permasalahan ini makin
meningkat kompleksitasnya dengan terjadinya perubahan besar
terutama yang disebabkan oleh desentralisasi, demokratisasi, dan
globalisasi.

Terkait dengan penataan kelembagaan, penataan kelembagaan


suatu daerah juga harus didasarkan pada kebutuhan empiris.
Kebutuhan empiris ini merupakan suatu konsekuensi dari dinamisasi
perkembangan yang terjadi di masyarakat seiring dengan berbagai
tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat. Kebutuhan yang
dewasa ini menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat antara
lain kebutuhan terhadap penyediaan pelayanan publik yang lebih
baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, kebutuhan terhadap
informasi dan komunikasi, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang
semakin berkembang dari hari ke hari. Dengan munculnya berbagai
kebutuhan baru dan berkembangnya kebutuhan yang telah ada,
pemerintah perlu memfasilitasi dan mengatur penyediaan kebutuhan
tersebut yang mana untuk menanganinya dibutuhkan suatu
kelembagaan pemerintah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 44


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Disamping berkembangnya berbagai kebutuhan tersebut yang


selanjutnya berimplikasi terhadap kebutuhan kelembagaan perangkat
daerah, dalam kenyataan empiris juga muncul permasalahan-
permasalahan yang membutuhkan penanganan segera. Oleh
karenanya, perlu adanya pola organisasi yang memberikan
kemungkinan untuk melakukan penanganan secara cepat dan tepat.

C. Landasan Yuridis

Landasan yuridis merupakan landasan hukum yang menjadi


dasar pembentukan suatu peraturan perundang-undangan.
Landasan hukum yang menjadi dasar pembentukan suatu
perundang-undangan tidak hanya dilihat dari kewenangan
pembentuknya, akan tetapi juga perlu diketahui tata cara
pembentukan dan dasar logika yuridisnya. Bagir Manan (1992, hal.
15) merinci yang menjadi syarat dasar keberlakuan yuridis sebagai
berikut:
Pertama, keharusan adanya kewenangan dari pembuat
peraturan perundang-undangan. Setiap peraturan perundang-
undangan harus dibuat oleh badan atau pejabat yang
berwenang. Jika tidak maka peraturan perundang-undangan
tersebut batal demi hukum. Dianggap tidak pernah ada dan
segala akibatnya batal secara hukum. Misalnya peraturan
perundang-undangan formal harus dibuat secara bersama-
sama antara Presiden dengan DPR, jika tidak maka Undang-
Undang tersebut batal demi hukum.
Kedua, keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis atau
peraturan perundang-undangan tingkat lebih tinggi atau
sederajat. Ketidaksesuaian bentuk ini dapat menjadi alasan
untuk membatalkan peraturan perundang-undangan tersebut.
Misalnya kalau Undang-Undang Dasar 1945 atau Undang-
Undang terdahulu menyatakan bahwa sesuatu harus diatur
oleh Undang-Undang, maka dalam bentuk Undang-Undang
lah hal itu diatur. Kalau diatur dalam bentuk lain misalnya
Keputusan Presiden maka keputusan tersebut dapat
dibatalkan.
Ketiga, keharusan mengikuti tata cara tertentu, apabila tata
cara tersebut tidak diikuti, maka peraturan perundang-
undangan tersebut batal demi hukum atau tidak/belum
memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Misalnya Peraturan
Daerah dibuat bersama-sama antara DPRD dan Kepala Daerah
tanpa mencantumkan persetujuan DPRD maka batal demi
hukum.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 45


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Keempat, keharusan tidak bertentangan dengan peraturan


perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya. Suatu
Undang-Undang tidak boleh mengandung kaidah yang
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar.

Ada sejumlah peraturan perundang-undangan yang dijadikan


sebagai landasan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah
Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah, yaitu:
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pembentukan
Provinsi Gorontalo;
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah; dan
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah.

Dalam hal pembentukan peraturan daerah dasar hukumnya


adalah Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Pembentukan
Daerah, dan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Jika
terdapat peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memerintahkan
secara langsung pembentukan peraturan perundang-undangan baik
secara tegas atau secara tersirat, maka peraturan perundang-
undangan tersebut dimuat di dalam dasar hukum.

Oleh sebab itu, maka landasan hukum Pembentukan


Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah adalah sebagaimana telah disebutkan di
atas. Hal tersebut, karena peraturan daerah sebagaimana dimaksud
dibentuk berdasarkan perintah atau delegasi dari Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 46


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 47


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP
MATERI MUATAN

A. Jangkauan, Arah Pengaturan, dan Sasaran Yang Akan


Diwujudkan

Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014


tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah tentunya pembentukan dan
susunan perangkat daerah harus diatur dengan peraturan daerah.
pengaturan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dan
susunan perangkat daerah ini diharapkan dapat menjangkau seluruh
tugas dan fungsi sebagai instrumen kelembagaan yang mampu
mewadahi, mengkoordinir, mengendalikan sumber daya dan perilaku
dalam rangka mencapai tujuan organisasi sebagai manifestasi dari
kehendak yang utuh dan terstruktur secara jelas untuk
melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan urusan
pemerintahan yang diserahkan kepada daerah provinsi yang terdiri
atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan.
Adapun arah pengaturan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi
Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
meliputi asas, pembentukan dan susunan perangkat daerah, unit
pelaksana teknis, staf ahli, jabatan perangkat daerah, serta ketentuan
peralihan.

Sasaran yang akan diwujudkan dengan dibentuknya


Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah, yaitu dapat mewujudkan pembentukan
Perangkat Daerah sesuai dengan prinsip desain organisasi dan
didasarkan pada asas efisiensi, efektivitas, pembagian habis tugas,
rentang kendali, tata kerja yang jelas, fleksibilitas, Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah, dan intensitas
Urusan Pemerintahan dan potensi Daerah, serta berbagai ketentuan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
2016 tentang Perangkat Daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 48


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

B. Ruang Lingkup Materi Muatan

Materi muatan yang hendak dituangkan dalam Rancangan


Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah merupakan penormaan dari jangkauan
dan arah pengaturan yang telah ditentukan untuk menentukan
luasnya pengaturan norma dalam Rancangan Peraturan Daerah
dimaksud. Oleh karena itu, dapat diuraikan materi muatan
Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, sebagai berikut:

1. Ketentuan Umum

Untuk menyeragamkan pemahaman dan kesesuaian dalam


memahami dan melaksanakan isi dari peraturan perundang-
undangan, serta menghindari terjadinya multitafsir terhadap
norma yang diatur maka perlu untuk menentukan defenisi dan
batasan pengertian terhadap suatu istilah yang hendak digunakan
dalam Peraturan Daerah.

Definisi atau batasan pengertian yang akan digunakan dalam


Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, adalah:
a. Daerah adalah Provinsi Gorontalo.
b. Gubernur adalah Gubernur Gorontalo.
c. Pemerintah Daerah adalah Gubernur sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin
pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah otonom.
d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat
DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat Daerah yang
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan
Daerah.
e. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Gubernur dan
DPRD dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Daerah.
f. Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang
menjadi kewenangan Presiden yang pelaksanaannya

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 49


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

dilakukan oleh kementerian negara dan penyelenggara


Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani,
memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.
Pembentukan Perangkat Daerah dilakukan berdasarkan asas
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah,
intensitas Urusan Pemerintahan dan potensi Daerah, efisiensi,
efektivitas, pembagian habis tugas, rentang kendali, tata kerja
yang jelas dan fleksibilitas.

2. Materi Pokok Yang Diatur

Pengelompokan materi muatan dirumuskan secara lengkap sesuai


dengan kesamaan materi yang diatur.

a. Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah

Dengan Peraturan Daerah ini dibentuk Perangkat Daerah.


Susunan Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud terdiri
atas:
1) sekretariat Daerah merupakan sekretariat Daerah tipe B;
2) sekretariat DPRD merupakan sekretariat DPRD tipe B;
3) inspektorat merupakan inspektorat tipe B;
4) dinas, terdiri atas:
a) dinas pendidikan dan kebudayaan dengan tipe A
yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di
bidang pendidikan, dan bidang kebudayaan;
b) dinas kesehatan dengan tipe A yang
menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di bidang
kesehatan dan bidang pengendalian penduduk dan
keluarga berencana;
c) dinas pekerjaaan umum dan penataan ruang dengan
tipe B yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang pekerjaaan umum dan penataan ruang,
bidang perumahan dan kawasan permukiman;
d) satuan polisi pamong praja dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan ketentraman dan
ketertiban umum, dan urusan kebakaran;

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 50


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

e) dinas sosial dengan tipe A yang menyelenggarakan


urusan pemerintahan di bidang sosial;
f) dinas perpustakaan dan kearsipan dengan tipe A
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang perpustakaan dan kearsipan;
g) dinas kelautan dan perikanan dengan tipe B yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kelautan dan perikanan;
h) dinas kepemudaan dan olah raga dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kepemudaan dan olah raga;
i) dinas lingkungan hidup dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
lingkungan hidup dan pertanahan;
j) dinas kehutanan dengan tipe B yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kehutanan;
k) dinas pangan dengan tipe B yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pangan;
l) dinas pariwisata dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pariwisata;
m) dinas pemberdayaan masyarakat dan desa dengan
tipe A yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang pemberdayaan masyarakat dan desa dan
bidang administrasi kependudukan dan catatan sipil;
n) dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan
anak dengan tipe B yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pemberdayaan perempuan
dan perlindungan anak;
o) dinas pertanian dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertanian;

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 51


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

p) dinas perdagangan dengan tipe B yang


menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perdagangan;
q) dinas transmigrasi dengan tipe A yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
transmigrasi, dan bidang tenaga kerja;
r) dinas perhubungan dengan tipe B yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perhubungan;
s) dinas komunikasi dan informatika dengan tipe B
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang komunikasi dan informatika;
t) dinas statistik dengan tipe A yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang statistik, dan bidang
persandian;
u) dinas penanaman modal dengan tipe B yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
penanaman modal;
v) dinas energi sumber daya mineral dengan tipe B yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
energi sumber daya mineral; dan
w) dinas koperasi, usaha kecil, dan menengah dengan
tipe A yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang koperasi, usaha kecil, dan menengah.
5) badan terdiri atas:
a) badan perencanaan dengan tipe A yang melaksanakan
fungsi penunjang urusan pemerintahan di bidang
perencanaan;
b) badan keuangan dengan tipe B yang melaksanakan
fungsi penunjang Urusan Pemerintahan di bidang
keuangan;
c) badan penelitian dan pengembangan dengan tipe B
yang melaksanakan fungsi penunjang urusan
pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan;

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 52


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

d) badan kepegawaian dengan tipe A yang melaksanakan


fungsi penunjang urusan pemerintahan di bidang
kepegawaian;
e) badan pendidikan dan pelatihan dengan tipe A yang
melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan
di bidang penelitian dan pengembangan; dan
f) badan penghubung yang melaksanakan fungsi
penunjang koordinasi pelaksanaan dan pembangunan
dengan pemerintah pusat.
Kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi, serta tata
kerja Perangkat Daerah diatur dengan peraturan Gubernur.

b. Unit Pelaksana Teknis

Pada dinas dan badan dapat dibentuk unit pelaksana teknis.


Dimana pembentukan unit pelaksana teknis untuk
melaksanakan kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan
teknis penunjang tertentu. Pembentukan unit pelaksana teknis
sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan Peraturan
Gubernur setelah dikonsultasikan secara tertulis kepada
Menteri yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan dalam
negeri.
Selain unit pelaksana teknis, terdapat unit pelaksana teknis
dinas Daerah dibidang pendidikan berupa satuan pendidikan
Daerah dan bidang kesehatan berupa rumah sakit Daerah.
Satuan pendidikan Daerah sebagaimana dimaksud berbentuk
satuan pendidikan formal.
Rumah sakit daerah sebagaimana dimaksud di atas bersifat
otonom dalam penyelenggaraan tata kelola rumah sakit dan
tata kelola klinis serta menerapkan pola pengelolaan keuangan
badan layanan umum Daerah.

c. Staf Ahli

Gubernur dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu staf


ahli. Staf ahli sebagaimana dimaksud berjumlah paling banyak
3 (tiga) staf ahli dan diangkat oleh Gubernur dari pegawai
negeri sipil yang memenuhi persyaratan. Dimana

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 53


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

pengangkatan dan pemberhentian staf ahli Gubernur oleh


Gubernur.

d. Jabatan Perangkat Daerah

Sekretaris Daerah merupakan jabatan eselon Ib atau


jabatan pimpinan tinggi madya.
Sekretaris DPRD, Inspektur, asisten sekretaris Daerah,
kepala dinas, kepala badan dan staf ahli gubernur
merupakan jabatan eselon IIa atau jabatan pimpinan tinggi
pratama.
Kepala Biro sekretariat Daerah merupakan jabatan eselon
IIb atau jabatan pimpinan tinggi pratama.
Sekretaris inspektorat, inspektur pembantu, sekretaris
dinas, sekretaris badan, kepala badan penghubung, kepala
bagian, dan kepala bidang merupakan jabatan eselon IIIa
atau jabatan administrator.
Kepala cabang dinas kelas A, kepala unit pelaksana teknis
dinas dan badan kelas A merupakan jabatan eselon IIIb
atau jabatan administrator.
Kepala subbagian, kepala seksi, kepala cabang dinas
daerah kelas B, dan kepala unit pelaksana teknis dinas dan
badan kelas B merupakan jabatan eselon Iva atau jabatan
pengawas.
Kepala subbagian pada cabang dinas daerah kelas B dan
kepala subbagian pada unit pelaksana teknis dinas dan
badan kelas B, serta kepala subbagian pada satuan
pendidikan merupakan jabatan eselon IVb atau jabatan
pengawas.
Kepala unit pelaksana teknis daerah yang berbentuk
satuan pendidikan merupakan jabtan fungsional guru
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kepala unit pelaksana teknis daerah yang berbentuk
rumah sakit daerah dijabat oleh dokter atau dokter gigi
yang ditetapkan sebagai pejabat fungsional dokter atau
dokter gigi dengan diberikan tugas tambahan

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 54


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

e. Ketentuan Peralihan

Perangkat Daerah yang menyelenggarakan sub Urusan


Pemerintahan bidang Bencana yang telah terbentuk sebelum
Peraturan daerah ini diundangkan, tetap melaksanakan
tugasnya sampai dengan dibentuknya Perangkat Daerah baru
yang melaksanakan sub urusan bencana sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Perangkat Daerah yang melaksanakan Urusan Pemerintahan
di bidang kesatuan bangsa dan politik, tetap melaksanakan
tugasnya sampai dengan peraturan perundang-undangan
mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan umum
diundangkan.
Anggaran penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di bidang
kesatuan bangsa dan politik dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah sampai dengan peraturan
perundang-undangan mengenai pelaksanaan urusan
pemerintahan umum diundangkan.
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, kepala
Perangkat Daerah dan kepala unit kerja pada Perangkat
Daerah yang ada tetap menjalankan tugas sampai dengan
ditetapkannya/dikukuhkannya pejabat yang baru
berdasarkan Peraturan Daerah ini.

3. Ketentuan Penutup

Ketentuan penutup mengatur mengenai:

a. Untuk pertama kali, pengisian kepala Perangkat Daerah dan


kepala unit kerja pada Perangkat Daerah diselesaikan paling
lambat 19 Desember 2016 serta pengisian kepala Perangkat
Daerah dan kepala unit kerja pada Perangkat Daerah
sebagaimana dimaksud, untuk pertama kalinya dilakukan
dengan mengukuhkan pejabat yang sudah memegang jabatan
setingkat dengan jabatan yang akan diisi dengan ketentuan
memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi jabatan.
b. Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai
Perangkat Daerah yang telah ada tetap berlaku sepanjang

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 55


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

belum diganti dan tidak bertentangan dengan Peraturan


Daerah ini.
c. pencabutan dan dinyatakan tidak berlaku Peraturan Daerah
Provinsi Nomor 9 Tahun 2008 tentang Politeknik Gorontalo,
Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 7 Tahun 2013
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit
Umum Daerah Provinsi Gorontalo, Peraturan Daerah Provinsi
Gorontalo Nomor 11 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi Gorontalo, Peraturan Daerah Provinsi
Gorontalo Nomor 12 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah Provinsi Gorontalo, Peraturan Daerah
Provinsi Gorontalo Nomor 13 Tahun 2013 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Provinsi Gorontalo, dan
Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 14 Tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Lain, sejak
peraturan daerah tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah yang baru tersebut mulai berlaku.
d. Peraturan pelaksanaan dari peraturan daerah, dimana
ditetapkan paling lama 1 (satu) bulan sejak peraturan daerah
diundangkan.
e. Saat berlakunya peraturan daerah. Dimana peraturan daerah
tersebut mulai berlaku pada tanggal 19 Desember 2016.

BAB VI
PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian dan pembahasan di atas, maka yang


menjadi simpulan dalam Naskah Akademik Rancangan Peraturan
Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah, yaitu:

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 56


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

1. Pertimbangan yang mendasari perlu dibentuknya Rancangan


Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah yakni:
a. Ketidaksinkronan antara besaran organisasi yang dibentuk
dengan visi dan misi yang ditetapkan menyebabkan
penyelenggaraan pemerintahan daerah berjalan dalam koridor
rutinitas belaka dan tidak mampu membawa perubahan yang
mendasar di daerah sesuai perencanaan. Sehingga perangkat
daerah yang dibentuk seringkali tidak memberikan konstribusi
bagi pengembangan pembangunan daerah.
b. Bahwa diabaikannya faktor lain dalam rangka penataan
kelembagaan perangkat daerah yaitu tidak dilakukan
pembedaan penentuan secara khusus kriteria kelembagaan
bagi daerah provinsi. Sehingga yang terjadi adanya
penyeragaman pola dan organisasi yang dibentuk hanya
berdasarkan berbagai pertimbangan subyektifitas birokrat di
daerah yang terkadang muncul perangkat daerah yang
dibentuk tidak sesuai dengan kebutuhan daerah.
c. Bahwa perangkat daerah yang ada sekarang, indikator hasil
pemetaannya belum menyeluruh, artinya bahwa masih
menggunakan variable umum dengan indikator jumlah
peduduk, luas wilayah, dan jumlah APBD. Sementara dengan
adanya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah sebagai pengganti dari Peraturan
Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah, pembentukan perangkat daerahnya
mempertimbangkan faktor luas wilayah, jumlah penduduk,
kemampuan keuangan daerah, serta besaran beban tugas
sesuai dengan Urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada
Daerah sebagai mandat yang wajib dilaksanakan oleh setiap
Daerah melalui Perangkat Daerah.
d. Bahwa bertambah besar ukuran organisasi pemerintah daerah
tidak dibarengi dengan pencapain kinerja signifikan, baik
kinerja pelayanan, pembangunan, maupun kinerja
pemerintahan daerah yang bersangkutan. Dengan demikian

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 57


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

besaran organisasi yang berkembang secara nyata telah


menimbulkan pembengkakan dan sekaligus inefisiensi
anggaran daerah.
e. Bahwa dengan pembentukan Peraturan Daerah Provinsi
Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah yang baru sesuai dengan ketentuan sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah mengantikan Peraturan Daerah
sebelumnya, diharapkan penataan Perangkat Daerah dapat
menghasilkan perangkat daerah yang mampu mengedepankan
pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan struktur dan
fungsi yang efektif, efisien dan rasional sesuai dengan
kemampuan daerah.
2. Yang menjadi landasan filososfis pembentukan Rancangan
Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah adalah untuk mempercepat
terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat sebagai
perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat
serta berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia. Sementara, landasan sosiologis yaitu untuk
pembentukan instrumen kelembagaan yang mampu mewadahi,
mengkoordinir, mengendalikan sumber daya dan perilaku dalam
rangka mencapai tujuan organisasi. Selanjutnya, landasan yuridis
yaitu berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan pembentukan perangkat daerah.
3. Jangkauan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
diharapkan dapat menjangkau seluruh tugas dan fungsi yang
merupakan manifestasi dari kehendak yang utuh dan terstruktur
secara jelas untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan
sesuai dengan urusan pemerintahan yang diserahkan kepada
daerah provinsi. Sedangkan arah pengaturan meliputi asas,
pembentukan dan susunan perangkat daerah, unit pelaksana
teknis, staf ahli, serta ketentuan peralihan. Untuk sasaran yang

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 58


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

akan diwujudkan dengan diberlakukannya Rancangan Peraturan


Daerah Provinsi Gorontalo tentang Pembentukan dan Susunan
Perangkat Daerah, yaitu dapat mewujudkan pembentukan
Perangkat Daerah sesuai dengan prinsip desain organisasi dan
didasarkan pada asas efisiensi, efektivitas, pembagian habis tugas,
rentang kendali, tata kerja yang jelas, fleksibilitas, Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah, dan intensitas
Urusan Pemerintahan dan potensi Daerah, serta berbagai
ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Adapun ruang
lingkup materi muatan yakni ketentuan umum, materi pokok yang
diatur, dan ketentuan penutup.

B. Saran

Berdasarkan simpulan tersebut di atas maka saran yang


diberikan, sebagai berikut:
1. Perlu adanya Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah sesuai
dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah.
2. Mengingat sifatnya yang urgen serta pembentukannya yang
merupakan perintah dari peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi serta diberi batas waktu dalam penetapan peraturan
daerah sebagaimana dimaksud. Sehingga perlu mendapat
prioritas dalam penyusunan dan pembahasannya oleh Pemerintah
Provinsi Gorontalo bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Provinsi Gorontalo.
3. Perlu pengawasan masyarakat baik perseorangan maupun
berkelompok terhadap Pemerintah Daerah dalam
mengimplementasi Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016
tentang Perangkat Daerah, sehingga apa yang menjadi tujuan dari
peraturan daerah dapat terwujud.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah 59


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

A. Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia


Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara Suatu Studi
Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi
Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I-Pelita V, Disertasi,
Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990.

----------------, Teori Perundang-Undangan Indonesia, Makalah pada


Pidato Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap di
Fakultas Hukum UI Jakarta, 25 April 1992.

A. S. Moenir, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Jakarta,


Bumi Aksara, 1995

Azwar, Sikap Manusia dan Skala Pengukurannya, Jakarta, PT. Rineka,


2011.

Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, Inhill C,


Jakarta, 1992.

----------------, Dasar-dasar Konstitusional Peraturan Perundang-


undangan Nasional, Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Padang, 1994.

----------------, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu


Negara, Mandar Maju, Bandung, 1995.

----------------, Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Perundang-


undangan Tingkat Daerah, LPPM Unisba, Bandung, 1995.

----------------, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Pusat Studi


Hukum UII, Yogyakarta, 2002.

Bagir Manan dalam Supar dan Modoeng, Teori dan Praktek


Penyusunan Perundang-undangan Tingkat Daerah, PT.
Tintamas Indonesia. Jakarta, 2001.

B. Hestu Cipto Handoyo, Prinsip-Prinsip Legal Drafting dan Desain


Naskah Akademik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2008.

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Cet-


5, Jakarta, 2003.

Bulkis, Manajemen Pembangunan, Universitas Hasanudin, Makasar,


2004.
Edy Sutrisno, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Kencana,
Prenada Media Group, 2010.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah


PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

H. Rojidi Ranggawijaya, Pengantar Ilmu Perundang-undangan


Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1998.

Hamzah, Hubungan Eksekutif dengan Legislatif Daerah dan Implikasi


Hukumnya, Pascasarjana UNHAS, Makassar, 2008.

Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Cetakan 9, PT.


Bumi Aksara, 2007.

Horton and Hunt, Sociology, Prentice Hall, London, 1984.

I Nyoman Sumaryadi, Efektivitas Implementasi Kebijakan Otonomi


Daerah, CV. Citra Utama, jakarta, 2005.

Inu Kencana Syafiie dkk, Ilmu Administrasi Publik, PT. Rineka Cipta,
1999.

Irawan Soejito, Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,


Bina Aksara, Jakarta, 1981.

Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-Undangan, Kanisius.


Yogyakarta, 2007.

Meuthia-Rochman dalam artikel berjudul Good Governance: Prinsip,


Komponen dan Penerapannya, yang dimuat dalam buku
HAM: Penyelenggaraan Negara Yang Baik & Masyarakat
Warga, Komnas HAM, Jakarta, 2000.

Munir Fuady. Perlindungan Pemegang Saham Minoritas. CV Utomo:


Bandung. 2005.

Pipin Syarifin, dan Dedah Jubaedah,Pemerintahan Daerah di


Indonesia Jakarta, Pustaka Setia, 2005.

Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gramedia Pustaka


Utama, Jakarta,1997.

Sarundajang, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Pustaka Sinar


Harapan, Jakarta, 1999.

Sedarmayanti,Manajemen Sumber Daya Manusia Reformasi Birokrasi


dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil, Bandung, PT. Refka
Aditama, 2010.

Sudargo Gautama, Pengertian tentang Negara Hukum, Alumni


Bandung, 1983.

Syahyuti, Tinjauan Sosiologis Terhadap Konsep Kelembagaan Dan


Upaya Membangun Rumusan Yang Lebih Operasional, Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor,
2009.
Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
PEMERINTAHAN PROVINSI GORONTALO

Provinsi Gorontalo Dalam Angka 2015 (Badan Pusat Statistik Provinsi


Gorontalo).

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan


Bencana.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan


Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat


Daerah.

Naskah Akademik Raperda ttg Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah