Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Natrium banyak ditemukan di bintang-bintang. Garis D pada spektrum
matahari sangat jelas. Natrium juga merupakan elemen terbanyak keempat di
bumi, terkandung sebanyak 2.6% di kerak bumi. Unsur ini merupakan unsur
terbanyak dalam grup logam alkali. Jaman sekarang ini, sodium dibuat secara
komersil melalui elektrolisis fungsi basah natrium klorida. Metoda ini lebih murah
ketimbang mengelektrolisis natrium hidroksida, seperti yang pernah digunakan
beberapa tahun lalu.
Natrium, seperti unsur radioaktif lainnya, tidak pernah ditemukan
tersendiri di alam. Natrium adalah logam keperak-perakan yang lembut dan
mengapung di atas air. Tergantung pada jumlah oksida dan logam yang terkekspos
pada air, natrium dapat terbakar secara spontanitas. Lazimnya unsur ini tidak
terbakar pada suhu dibawah 115 derajat Celcius.
Logam natrium sangat penting dalam fabrikasi senyawa ester dan dalam
persiapan senyawa-senyawa organik. Logam ini dapat di gunakan untuk
memperbaiki struktur beberapa campuran logam, dan untuk memurnikan logam
cair. Campuran logam natrium dan kalium, NaK, juga merupakan agen heat
transfer (transfuse panas) yang penting.
Senyawa yang paling banyak ditemukan adalah natrium klorida (garam
dapur), tapi juga terkandung di dalam mineral-mineral lainnya seperti soda niter,
amphibole, zeolite, dsb. Senyawa natrium juga penting untuk industri-industri
kertas, kaca, sabun, tekstil, minyak, kimia dan logam. Sabun biasanya merupakan
garam natrium yang mengandung asam lemak tertentu. Pentingnya garam sebagai
nutrisi bagi binatang telah diketahui sejak zaman purbakala.
Di antara banyak senyawa-senyawa natrium yang memiliki kepentingan
industrial adalah garam dapur (NaCl), soda abu (Na2CO3), baking soda (NaHCO3),
caustic soda (NaOH), Chile salpeter (NaNO3), di- dan tri-natrium fosfat, natrium
tiosulfat (hypo, Na2S2O3 . 5H20) and borax (Na2B4O7 . 10H2O).

1
Dalam makalah rancangan pabrik ini, akan dibahas secara spesifik tentang
senyawa NaOH atau kaustik soda, yaitu meliputi pengertian, sifat, sintesis
kegunaan dan lain-lain.

1.2 TUJUAN
Untuk mengembangkan keterampilan sumber daya manusia (SDM) yang
mempunyai daya saing di bidang chemical dan dapat di jadikan sebuah
pengetahuan yang menunjang kualitas diri di era globalisasi yang sangat
kompeten. Adapun tujuan lain dari pembuatan rancangan pabrik ini adalah:
1) Dapat mengetahui apa kaustik soda itu.
2) Mengetahui sifat fisik dari NaOH/kaustik soda.
3) Mengetahui cara pembuatan Kaustik soda/NaOH.
4) Mengetahui kegunaan dari kaustik soda/NaOH

1.3 DATA KEBUTUHAN PABRIK


Di Indonesia, kebutuhan akan NaOH dalam negeri dipenuhi dari impor
dan produksi dalam negeri. Pendirian pabrik Sodium Hidroksida mempunyai
prospek yang cukup baik yang akan memberikan beberapa keuntungan, antara
lain:
1.Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan dari
negara lain.
2.Untuk menghemat pengeluaran negara dalam impor NaOH.
3.Memperlancar roda perekonomian di Indonesia dan dapat menciptakan lapangan
pekerjaan sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran.
4.Untuk menggerakkan pertumbuhan industri lain di Indonesia yang
menggunakan bahan baku serta bahan pembantu NaOH.

1.4 LOKASI PENDIRIAN PABRIK


Lokasi yang di pilih haruslah strategis dan aman bagi penduduk sekitar
dan tidak membahayakan biota alam di sekitar lingkungan yang akan di dirikan
sebuah plant atau pabrik kimia, serta harus mudah dalam akses untuk kebutuhan
darurat atau pun kebutuhan umum yang di rencanakan sebagai akses utama dalam

2
pendistribusian bahan baku atau pun produk. Kami memilih pendirian lokasi
pabrik di daerah merak, karena dekat dengan laut agar pengiriman barang
kedalam/ keluar negri dan kedalam / keluar pulau lebih mudah dan memerlukan
biaya yang relative murah.

1.5 PEMASARAN PABRIK


Kaustik soda dengan rumus kimia NaOH mempunyai berat molukul 40,
berbentuk padatan putih dan mudah larut di dalam air. Produksi kaustik soda di
dunia sebahagian besar dipakai sebagai reagensia di laboratorium dan juga
digunakan untuk bahan baku industri-industri hilir sebagai berikut:
a. Industri sabun,
b. Industri kertas,
c. Industri rayon,
d. Industri makanan,
e. Industri tekstil,
f. Industri obat,
g. Industri cat,
h. Industri karet,
i. Industri metalurgi,
j. Industri minyak/petroleum refining,
k. Industri alumina,
l. Industri bahan kimia lainnya.

BAB II
DESKRIPSI PROSES

2.1 PERSIAPAN RAW MATERIAL


Bahan Baku yang digunakan pada pabrik NaOH adalah sodium klorida
(NaCl) dan air (H2O). Adapun bahan utama NaCl berasal dari air laut atau garam
industri. Oleh karena sebagian besar wilayah Indonesia dikelilingi lautan yang
mana air lautnya mengandung garam, maka persediaan bahan baku yang telah ada
sudah dirasa cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dipabrik
sodium hidroksida ini.

2.2 URAIAN PROSES


Skala Industri

3
Bahan baku proses pembuatan caustic soda adalah garam, air, dan listrik.
Proses pembuatan caustic soda melalui beberapa tahapan proses, pemurnian bahan
baku yang meliputi pencampuran, pengendapan pengotor, penyaringan pengotor,
penukaran ion. Tahap selanjutnya adalah proses utama yang meliputi pengasaman
dan elektrolisa. Tahap Finishing meliputi evaporasi dan pendinginan produk.
Produk samping dari pembuatan caustic soda berupa gas Cl yang diproses lebih
lanjut menjadi chlorine cair.

i. Pemurnian Bahan Baku


1. Tangki pencampur (Pencampuran)
Garam (97,7%) dilarutkan bersama air proses dan garam lemah recycle pada
suhu 90,6oC ke dalam tangki pencampur untuk mendapatkan larutan garam
konsentrasi 27%(othmer,2000). Larutan garam jenuh keluar dari tangki
pencampur memiliki suhu 67,1oC memasuki tangki pengendap, suhu operasi
yang baik untuk pengendapan adalah diatas 60oC.

2. Tangki pengendap (Pengendapan)


Larutan garam dari tangki pencampur memasuki tangki pengendap untuk
diendapkan pengotornya, diantaranya CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2
menggunakan Na2CO3 dan NaOH dengan reaksi sebagai berikut:
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4
MgSO4 + 2NaOH Mg(OH)2 + Na2SO4
CaCl2 + Na2SO4 CaSO4 + 2NaCl
MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2NaCl
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2NaCl
Reagen dan pengotor bereaksi membentuk endapan dan dikeluarkan dari
dasar tangki. Pemberian reagen dilakukan dengan kadar berlebih untuk
mendapatkan hasil yang optimum. Pemberian reagen NaOH dilakukan
dengan excess 0,01 g NaOH per liter larutan garam, untuk Na2CO3 0,15 g

4
per liter larutan garam. Pada kondisi ini ion Ca2+ yang bereaksi 88,6% dan ion
Mg2+ 67,6%. Sekitar 60% dari pengotor yang mengendap keluar dari bagian
bawah tangki pengendap, sedangkan larutan lainya keluar dari bagian atas
clarifier menuju ke filter
3. Filtrasi (Penyaringan)
Endapan yang masih tersisa seluruhnya di terfilter dalam filter press.
4. Pertukaran ion
Selama proses sedimentasi, masih terdapat ion-ion yang masih lolos sehingga
diperlukan perlakuan lebih lanjut dengan melewatkanya pada resin penukar
ion. Reaksi penukaran ion yang terjadi adalah:
Resin kation : R-H + A- R-A + H+
Resin anion : R-OH B+ R-B + OH-
Proses diatas terjadi secara reversible sehingga bila resin sudah jenuh, atau
tidak bisa menangkap atau mengikat ion mineral positif/negative, bisa
diregenerasi kembali. Regenerasi dilakukan dengan mereaksikan kembali
resin dengan asam-basa yaitu NaOH dan H2SO4 sehingga ion mineral positif
yang sudah terikat di resin akan terlepas lagi. Reaksi regenerasi sebagai
berikut:
2(R-A) + H2SO4 2(R-H) + A2SO4
2R-B + NaOH R-OH + NaB
Proses yang terjadi dalam unit ini adalah kation dan anion yang terlarut dalam
air umpan akan terserap oleh resin secara bersama-sama. Indikasi adanya
penyerapan di dalam mixed bed polisher adalah konduktivitas air yang keluar
rendah. Konduktivitas rendah berarti padatan atau mineral yang terlarut di
dalamnya juga rendah.
ii. Proses Utama
1. Penambahan HCl (Pengasaman)
Penambahan HCl dilakukan untuk mengurangi terjadinya pembentukan
chlorate pada sel elektrolisa, larutan masuk anoda diasamkan hingga ph 4.
2. Elektrolisa
Larutan keluar dari resin penukar ion memasuki sebelum memasuki sel
elektrolisa dipanaskan terlebih dahulu hingga suhu 87oC dengan steam. Pada
proses elektrolisa menggunakan anoda dan katoda yang dialiri arus DC(direct

5
current) sebagai sumber energy. Elektrolisa ini menggunakan nikel sebagai sel
katoda dan titanium sebagai sel anoda. Reaksi utama yang terjadi dalam
elektrolisa :
Anoda : 2Cl- Cl2 + 2e
Katoda: 2e- + 2H+ H2
Antara sel anoda dan katoda dibatasi oleh membran, yaitu nafion yang hanya
dapan dilalui oleh ion positif.
Pada anoda feed masuk adalah larutan garam, ion Cl- pada NaCl teroksidasi
sehingga ion Na+ kehilangan pasangan dan bergerak menuju anoda. Pada
anoda feed masuk adalah H2O dan NaOH recycle pada suhu 85oC, ion H+ dari
H2O tereduksi sehingga ion OH- kehilangan pasangan. Ion Na+ dan OH+ ini
selanjutnya bertemu dan membentuk NaOH. Dihasilkan larutan NaOH yang
dihasilkan 32%. Hasil samping dari proses elektrolisa ini berupa gas chlorine
(Cl2) dan gas Hydrogen (H2) pada suhu 91oC. Gas Cl2 diproses lebih lanjut
menjadi Cl2 liquid, sedangkan gas H2 diblower ke udara karena jumlahnya
relatif sedikit.
Larutan keluar anoda pada suhu 91oC di recycle kembali menuju tangki
pencampur. Sedangkan larutan keluar katoda suhu 91oC mengandung NaOH
32%, 10% direcycle kembali sebagai umpan dan sebagian yang lain diproses
lebih lanjut untuk mendapatkan NaOH 50%.
Pada elektrolisa ini juga terjadi berbagai reaksi samping. Reaksi samping
yang terjadi yaitu pembentukan Chlorate (NaClO3) reaksi pembentukan
chlorate :
H2O + Cl2 HClO + HCl
HClO + 3NaOH NaClO3 + 2NaCl + 3H2O
Perpindahan ion yang terjadi dalam elektrolisa juga tidak sempurna, sekitar
5% ion Cl- lolos menuju katoda (Uhde), dan sekitar 5% ion OH - lolos menuju
anoda, membentuk NaOH dan kemudian membentuk chlorate.
Reaksi samping lain yang terjadi adalah sebagian dari H 2O di anoda juga
teroksidasi dengan reaksi:
H2O 2H+ + O2 + 2e-

6
Reaksi ini menghasilkan gas O2 yang akan keluar dari bagian atas anoda, dan
ion H+ yang akan menuju ke katoda, kemudian ion H+ bereaksi dengan OH-
manjadi H2O (back mixing).
iii. Finishing
1. Evaporasi
NaOH 32% yang keluar dari sel elektrolisa memasuki evaporator untuk
dipekatkan menjadi 50% NaOH. NaOH di evaporasi menggunakan steam
sehingga NaOH 50% keluar memiliki suhu 144oC. NaOH 50% kemudian
didinginkan melalui beberapa tahap pendinginan, pertama ditukarkan
panasnya dengan feed katoda sehingga suhunya menjadi 110,7 oC, larutan ini
kemudian didinginkan kembali menggunakan air pendingin hingga suhunya
mencapai 45oC dan ditampung ke dalam tangki penampung.
2. Treatment Recycle
Garam lemah dari anoda masih mengandung chlorate di treatment terlebih
dahulu dengan penambahan HCl untuk reaksi destruksi chlorate :
NaClO3 + HCl NaCl + 3Cl2 + 3H2O
Setelah melewati reaktor destruksi chlorate, kandungan Cl2 di stripping
menggunakan udara. Larutan setelah stripping yang mengandung NaCl dan
H2O siap direcycle menuju tangki pencampur

2.3 DIAGRAM ALIR PROSES

PencampuranNaCl + AIR(H2O)

Penambahan flokulan Na2CO3 untuk mengendapkan

CaCO3 ,Mg(OH)2 ,CaSO4,Mg(OH)2, CaCO3

Filtrasai untuk memisahkan endapan yang masih


terbawa oleh larutan

Pertukaran Ion ion menggunakan resin kation dan


anion
7

Pengasaman dengan penambahan HCl sampai pH 4


ELEKTROLISA MENGGUNAKAN
EVAPORASI ARUS LISTRIK
BAB III
SPESIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK

3.1 SPESIFIKASI BAHAN BAKU DAN PRODUK


Pengertian NaOH/Kaustik Soda
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal
sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida,
adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium
Hidroksida terbentuk dari oksida basa.
Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium
hidroksida membentuk larutan alkalin
yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia
digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai
basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan
deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam
laboratorium kimia.
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam
bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair

8
dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut
dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol
dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil
daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar
lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain
dan kertas.

Sifat-Sifat NaOH
Berikut adalah sifat-sifat fisik dan kimia dari kaustik soda atau NaOH
a. Sifat fisik

Natrium Hidroksida

Nama Sistematis Natrium Hidroksida


Nama lain Soda kaustik
Sifat
Rumus molekul NaOH

9
Massa molar 39,9971 g/mol
Penampilan zat padat putih
Densitas 2,1 g/cm, padat
Titik leleh 318C (591 K)
Titik didih 1390C (1663 K)
Kelarutan dalam air 111 g/100 ml (20C)
Kebasaan (pKb) -2,43

b. Sifat Kimia
o NaOH berwarna putih atau praktis putih, berbentuk pellet, serpihan atau
batang atau bentuk lain.
o Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur.
o Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab.
o Mudah larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter.
o NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni
merupakan padatan berwarna putih.
o Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida
c. Penanganan
o Cuci bersih setelah penanganan
o Jangan biarkan air masuk ke dalam wadah karena reaksi eksotermis
o Minimalkan akumulasi debu
o Jangan sampai terkena mata, kulit, atau pakaian
o Jaga agar wadah tertutup rapat
o Membuang sesuatu yang terkontaminasi.
d. Penyimpanan
o Simpan di wadah tertutup rapat
o Simpan di tempat yang sejuk, kering, dan berventilasi
o Jauhkan dari bahan yang bersifat asam
o Lindungi dari kelembaban
o Wadah harus ditutup rapat untuk mencegah konversi NaOH ke natrium
karbonat oleh CO2 di udara. (Wikipedia, 2011)

3.2 PENGOLAHAN LIMBAH


Pengolahan produk samping

10
Gas Cl2 keluar dari bagian atas anoda masih mengandung H 2O yang terikut dan
sedikit O2 untuk mendapatkan Cl2 liquid dengan kemurnian 99,65% kandungan air
harus dihilangkan terlebih dahulu. Gas Cl2 pada suhu 91oC didinginkan terlebih
dahulu menggunakan brine hingga suhunya mencapai 10oC pada suhu ini
campuran gas Cl2 telah berada pada dua fase. Campuran gas-liquid ini kemudian
dipisahkan dalam flash separator, produk atas dari flash separator berupas gas
yang memiliki kandungan Cl2 sekitar 99,65. Untuk mendapatkan Cl 2 liquid, gas
Cl2 terlebih dahulu dinaikan tekananya, kemudian dikondensasikan. Kompresi
dilakukan dalam dua stage, kompresi pertama tekanan Cl2 gas 1 atm dinaikan
tekananya menjadi 4 atm, dan didapatkan suhu keluar kompresor 154oC.
Selanjutnya dilakukan pendinginan dari gas Cl2 untuk meringankan beban
kompresor ke dua, gas Cl2 didinginkan menggunakan brine hingga suhu 50oC.

Kompresi yang kedua menaikan tekanan gas Cl2 dari tekanan 4 atm menjadi
tekanan 6 atm. Gas Cl2 keluar dari kompresor kedua pada suhu 93 oC, kemudian
didinginkan dengan air pendingin hingga suhu 45oC, dan dikondensasikan
sehingga menjadi liquid hingga suhu 8oC.

11
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah
sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa
Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan
alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam
bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur
kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah
basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.

12
4.2. SARAN
Dari penjabaran yang telah kami lakukan, sebaiknya jika akan
menggunakan bahan ini haruslah dengan hati-hati dan teliti serta diharapkan
menggunakan peralatan-peralatan kerja yang dibutuhkan seperti sarung tangan
karet, pakaian keamanan dan pelindung mata. Karena seperti kita tahu bahwa
bahan-bahan ini sangatlah berbahaya. Solid natrium hidroksida atau larutan
natrium hidroksida akan menyebabkan luka bakar kimia, cedera atau bekas luka
permanen, dan kebutaan jika kontak tidak dilindungi jaringan tubuh manusia atau
hewan.

Daftar Pustaka

Anonim, 2011. Sodium_hydroxide.


http://en.wikipedia.org/wiki/Sodium_hydroxide. diakses : 9 April 2012

Cotton, 2007. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Ketaren, S. 2008. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press.


Jakarta.

Sugiyarto H, Kristian. 2003. Dasar-Dasar Kimia Anorganik Logam. Jakarta : UI


Press.

13
Wahyu, Indrawan. 2010. Kaustik Soda.
http://regest.wordpress.com/2009/06/03/115/ diakses pada 9 April 2012.

14