Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL TUGAS AKHIR (TTA - 400)

ANALISIS EFISIENSI ALAT PADA CRUSHING PLANT


BERDASARKAN TARGET PRODUKSI DAN
SPESIFIKASI ALAT DI PT LOTUS SG LESTARI,
KABUPATEN BOGOR,
PROVINSI JAWA BARAT

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan pertumbuhan pembangunan yang semakin pesat di
Indonesia, kebutuhan akan bahan galian golongan C dan hasil pemanfaatannya
semakin hari akan semakin bertambah, oleh karena itu diperlukan kegiatan
penambangan bahan galian dan pengolahannya demi memenuhi kebutuhan.
Dalam hal ini salah satu komoditi yang menunjang adalah batu andesit. Andesit
termasuk jenis batuan beku kategori menengah sebagai hasil bentukan lelehan
magma diorit.
PT Lotus SG Lestari merupakan salah satu usaha milik perorangan yang
bergerak dibidang penambangan batu andesit dengan menggunakan metode
tambang terbuka (Quarry) dengan metoda Side Hill Type, dimana Side Hill Type
adalah salah satu metoda penambangan untuk bahan galian industri yang
dilakukan dengan menambang pada sisi bukit.
Adapun proses pemanfaatan andesit itu sendiri diawali dengan kegiatan
pembongkaran bahan galian, proses pembongkaran andesit biasanya dilakukan
dengan cara proses peledakan, mengingat andesit memiliki kekerasan yang
cukup tinggi dan tidak mungkin dibongkar menggunakan alat gali. Setelah proses
pembongkaran andesit ini akan diperkecil ukurannya untuk memenuhi kebutuhan
pasar, proses pengolahan dilakukan di crushing plant (unit pengolahan). Alat
yang digunakan pada unit pengolahan ini antara lain adalah Jaw Crusher,
vibrating grizzly, Cone Crusher dan Belt Conveyor.

1.2 Maksud dan Tujuan


1 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
Kegiatan tugas akhir ini dilakukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
mata kuliah tugas akhir (TTA-400) pada Program Studi Pertambangan Fakultas
Teknik Universitas Islam Bandung.
Maksud dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja alat pengolahan
(crushing plant) khususnya pada bagian secondary crushing di PT Lotus SG
Lestari. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kondisi
continuitas flow material untuk mendapatkan efisiensi kerja setiap alat pada
crshing plant.

1.3 Ruang Lingkup Masalah


Dalam melakukan penelitian analisis kinerja alat pengolahan mencakup
beberapa permasalahan, diantaranya adalah :
a. Ukuran feed yang dihasilkan dari proses peledakan (fragmentasi) yang
sesuai dengan kapasitas alat pengolahan
b. Ukuran mesh, % material tertahan, kemiringan dan kecepatan getaran
pada vibrating grizzly.
c. Kapasitas jaw crusher, besarnya lubang bukaan pada mulut jaw crusher,
jarak pergerakan dari swing jaw pada throat, kecepatan dan lebar lubang
pengeluaran produkta.
d. Kapasitas cone crusher, open setting (diameter bukaan), panjang keliling
dinding luar dan keliling dinding dalam pada gape.
e. Kemiringan dan kecepatan dari belt conveyor.

1.4 Metode Penelitian


a. Sudi Literatur
Membaca dari literatur yang berhubungan dengan pengolahan bahan
galian.
b. Perumusan Masalah
Merumuskan masalah yang berhubungan dengan pentingnya dilakukan
analisis kinerja alat pengolahan.
c. Pengambilan Data Lapangan
Pengambilan data lapangan terdiri dari data kapasitas, kinerja alat dan
produksi harian.
2 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
d. Menentukan ukuran feed yang sesuai dengan kapasitas alat, menentukan
kecepatan dari belt conveyor yang menuju cone crusher dan menentukan
ukuran diameter dari jaw crusher.
e. Analisis continuitas flow material berdasarkan perubahan kecepatan belt
conveyor dan diameter dari cone crusher.
f. Adapun diagram alir penelitian yang akan dilaksanakan seperti pada
gambar dibawah :

3 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Studi Pustaka

Pengambilan Data
Lapangan (Primer) Pengambilan Data
Sekunder
- Pemantauan
ukuran feed awal - Sejarah, lokasi,
iklim
- Kinerja dan
kemampuan alat - Geologi, topografi
- Produksi (Real - Ukuran
condition) fragmentasi

Pengolahan Data
1. ukuran feed dan produkta jaw crusher
2. kecepatan, kemiringan dan kapasitas belt
conveyor
3. ukuran diameter (open setting)

Analisa Data :
- Pengaruh fragmentasi terhadap kapasitas drop box,
vibrating grizzly dan jaw crusher
- Pengaruh kecepatan dan kemiringan belt conveyor
yang menuju cone crusher
- Pengaruh ukuran produkta jaw crusher
- Pengaruh diameter bukaan cone crusher
- Evaluasi continuitas flow material berdasarkan variable
diatas

Kesimpulan dan Saran

Gambar 1
Diagram Alir Penelitian

4 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


II. TEORI DASAR
2.1 Ganesa Batuan Andesit
Andesit berasal dari magma yang biasanya meletis dari strato volacanoes
pada lahar tebal yang mengalir, beberapa diantaranya penyebarannya dapat
mencapai beberapa kilometer. Magam andesit dapat juga menghasilkan letusan
seperti bahan peledak yang kuat yang kemudian membentuk arus pyroclasticdan
surges dan suatu kolom letusan yang sangat besar. Andesit terbentuk pada
temperature antara 900 - 1.100 0C.
Di dalam andesit terdapat sekitar 52 dan 63 persen kandungan silika
(SiO2). Mineral-mineral penyusun utama andesit terdiri dari plagioclase feldspare
dan juga terdapat mineral pyroxene (clinopyroxene dan orthopyroxane) dan
hornblende dalam jumlah yang kecil.
Andesit adalah batuan leleran dari diorite, mineralnya berbutir halus,
komposisi mineralnya sama dengan diorite. Gunung api di Indonesia umumnya
menghasilkan batuan andesit dalam bentuk lava maupun piroklastika. Batuan
andesit yang banyak mengandung hornblenda disebut andesit hornblenda,
sedangkan yang banyak mengandung piroksin disebut andsit piroksin.
Batuan ini banyak digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, bendungan,
konstruksi beton, dan lainnya. Adapun yang berstruktur lembaran banyak
digunakan sebagai batu tempel.

2.1.1 Tufa Lafili Tufa


Berwarna abu-abu muda tua kehijauan agak keras, keras makin bawah,
bentuk fragmen menyudut tanggung, kemas terbuka tertutup, sportasi sedang,
terdiri dari fragmen plagioklas, gelas vulkanik, silika dan mineral bijijh.penyebaran
merata membentuk perbukitan yang pada bagian atas, tersingkap jelas dibagian
lereng / tebing yang berada disebelah utara.
Tufa lapili berada dibagian atas, makin kebawah terjadi pengerasan
menjadi tufa dengan perubahan secara berangsur, dibeberapa tempat teraltrasi
dan berupa (termetaorfkan) mengalami efek bakar akibat kontak dengan batu
andesit (intrusi), dibagian atas permukaan sebagian besar sudah tererosi dan
berubah menjadi soil/tanah.

5 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


3.1.2 Andesit
Merupakan intrusi pada batuan tufa lapili dan tufa, diperkirakan andesit ini
bagian dari tubuh batolit yang ada di daerah jatiluhur dan sekitarnya. Berwarna
abu-abu muda, keras, porfilitik, afanitik, terdiri dari feldspard dan amfibol,
massive, ukuran butir halus sedang, masa datar terdiri dari silika yang sangat
halus. Komposisi batu andesit terdiri dari mineral plagioklas (57-65%), kuarsa
(15-20%), piroksin 5%, hornblende (7-8%), klorit 2%, mineral opak (2-3%),
krbonat 1%. Sebagian mengalami gejala altrasi/ubahan lemah dengan dijumpai
veinlet kuarsa dan karbonat.

2.2 Pengolahan Bahan Galian


Pengolahan bahan galian atau mineral dressing adalah istilah umum yang
digunkanan untuk mengolah semua jenis bahan galian hasil tambang. Baik itu
berupa mineral, bijih, atau batuan. Tujuannya adalah untuk dipisahkan menjadi
produk-produk berupa satu macam atau lebih bagian mineral yang dikehendaki
atau yang tidak dikehendaki. Mineral yang dikehendaki disebut juga mineral yang
berharag karena memiliki nilai ekonomi, sedangkan mineral yang tidak
dikehendaki disebut juga mineral buangan (tailing). Pada akhir proses
pengolahan akan diperoleh dua macam hasil, yaitu konsentrat yang sebagian
besar terdiri dari mineral berharga dan tailing yang sebagian besar terdiri dari
mineral tidak berharga.
Pengolahan bahan galian yang dapat juga disebut mineral processing
technology dapat dibagi dalam tiga macam, yaitu :

1. Mineral Dressing
Yaitu proses pengolahan bahan galian yang bertujuan untuk memisahkan
mineral berharga dari mineral pengotornya yang kurang berharga. Proses
ini dilakukan secara mekanis dengan memanfaatkan perbedaan sifat-sifat
fisik dari mineral tersebut, tanpa mengubah identitas atau sifat kimia dan
fisiknya, menghasilkan produk yang kaya mineral berharga atau
konsentrat dan mineral pengotornya yang kadarnya rendah.

6 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


2. Extractive Metallurgy
Merupakan proses pengolahan bahan galian mineral logam, dengan
tujuan mengekstrak unsur logam dari mineralnya menjadi bahan logam
yang terpisah dari pengotornya, dimana dalam prosesnya memanfaatkan
reaksi kimia, sehingga terjadi perubahan dalam dalam sifat-sifat fisik dan
kimia dari mineral aslinya.

3. Fuel Technology
Yaitu proses pengolahan bahan galian atau mineral organik dengan
tujuan memisahkan atau mengurangi mineral tersebut menjadi fraksi-
fraksinya dengan memanfaatkan reaksi kimia, sehingga terjadi perubahan
dalam sifat-sifat fisik dan kimia dari mineral aslinya.

2.2.1 Comminution
Kominusi atau penghancuran adalah sebagai langkah pertama yang bisa
dilakukan dalam operasi mineral pengolahan bahan galian yang bertujuan untuk
memecahkan bongkah-bongkah besar menjadi fragmen yang lebih kecil. Dilihat
dari fragmen yang dihasilkan maka kominusi dapat dibagi ke dalam dua tingkat :

1. Crushing, biasanya dilakukan dalam keadaan kering dengan


menggunkan crusher.
2. Grinding, dapat dilakukan dalam keadaan kering dan basah dengan
menggunakan grinder.

Gaya penghancuran dari alat crusher adalah sebagai hasil tekanan


terhadap batuan oleh bagian yang bergerak dari alat kepada yang diam atau
bagian lain yang bergerak dari alat tersebut. Gaya impact dan gaya tekanan dari
alat dapat memecahkan batuan jika melebihi batas batuan itu.

Proses peremukan atau pengecilan ukuran butir harus dilakukan secara


bertahap karena keterbatasan kemampuan alat untuk mereduksi batuan
berukuran besar hasil peledakan sampai menjadi butiran-butiran kecil seperti
yang diinginkan. oleh karena itu proses peremukan batu andesit dilakukan dari
tahap primer (primary crushing), tahap sekunder (secondary crushing) sampai
tahap tersier (tertiary crushing). Menurut Hukkie (1962) tahapan dasar dari
kominusi batuan adalah seperti pada tabel dibaha ini :

7 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Tabel 2.1
Klasifikasi Reduksi Ukuran
UKURAN
ButirXTAHAPAN UKURAN UKURAN TERBESAR
TERKECIL
BUTIRAN
Hasil Peledakan Tak Terbatas 1m
Peremukan Primer 1m 100 mm
Peremukan Sekunder 100 mm 10 m
Grinding Kasar 10 m 1 mm
Grinding Halus 1 mm 100
Grinding Sangat Halus 100 10
Grinding Ultra Halus 10 1

Sumber : Diktat Pengolahan Bahan Galian (Hukkie 1962)

Peremukan batu pada prinsipnya bertujuan untuk mereduksi untuk


memperoleh ukuran butir tertentu melalui alat peremuk. Dalam memperkecil
ukuran pada umumnya dilakukan 3 tahap, yaitu :

1. Primary Crushing
Merupakan peremukan tahap pertama, alat peremuk yang biasanya
digunakan pada tahap ini adalah jaw crusher dan gyratory crusher.
Umpan yang digunakan biasanya berasal langsung dari hasil peledakan
dengan ukuran yang bisa diterima <100 cm, ukuran terbesar dari produk
jaw crusher adalah kurang dari 200 mm.

2. Secondary Crushing
Merupakan peremukan tahap kedua, alat yang biasanya digunakan
adalah cone crusher. Umpan yang digunakan berkisar 180 mm 200
mm. Ukuran produk yang dapat dihasilkan adalah 200 mm, 0.5 5 % dan
5 14 %.

3. Tertiary Crushing
Merupakan peremukan tahap lanjut dari secondary crushing, alat yang
digunakan adalah cone crusher. Umpan yang biasanya digunakan adalah
material yang tidak lolos ayak dari prosuk secondary crushing.

8 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


2.2.2 Sizing
Sizing adalah penyeragaman ukuran merupakan proses pemisahan
butiran mineral-mineral menjadi bagian-bagian (fraksi) yang berbeda dalam
ukurannya, sehingga setiap fraksi terdiri dari butiran-butiran yang hampir sama
ukurannya. Sizing dapat dilakukan dengan cara :
a. Screenig, menyaring atau mengayak
b. Classifying (klasifikasi) memisahkan butiran-butiran berdasarkan
kecepatan katuh butiran di dalam air atau udara
c. Cyclone, memisahkan butiran-butiran kasar dan halus dengan media air
melalui aliran pusar.

2.2.3 Concentration
Concentration adalah proses untuk memisahkan butiran-butiran mineral
berharga dari mineral pengotornya yang kurang berharga, yang terdapat
bersama-sama, sehingga didapat konsentrat yang lebih tinggi kadarnya.
Berdasarkan perbedaan sifak fisik dari mineral-mineral maka proses konsentrasi
dapat dibagi dalam empat macam, yaitu :
a. Konsentrasi Gravimetri, pemisahan berdasarkan perbedaan gaya berat.
b. Konsentrasi Magnetis, pemisahan berdasarkan perbedaan sifat
kemagnetan.
c. Konsentrasi Eloktrostatis, pemisahan berdasarkan sifat daya hantar listrik.
d. Konsentrasi secara floatasi, pemisahan berdasarkan perbedaan sifat fisik
permukaan mineral terhadap pengaruh bahan kimia.

2.2.4 Dewatering
Dewatering adalah proses mengurangi atau menghilangkan kandungan
air dari hasil akhir proses pengolahan bahan galian yang menggunakan air
dalam operasinya, proses ini dapat dilakukan dalam tiga tahap :

1. Thickening (pengentalan)
2. Filtering (Penyaringan)
3. Drying (penyaringan)

2.2.5 Material Balance


Material Balance adalah suatu neraca kesetimbangan pada pengolahan
bahan galian dimana jumlah pertikel umpan yang masuk ke dalam alat
pengolaha jumlahnya sama dengan partikel yang keluar.
9 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
F=C+T
Keterangan :
F : Berat feed (ton)
C : Berat Konsentrat (ton)
T : Berat Tailing (ton)

3.3 Dasar Pemilihan Alat


Pertimbangan-pertimbangan untuk memilih alat pereduksi ukuran yang
akan digunakan adalah sebagai berikut :
a. Ukuran umpan
b. Kekerasan material
c. Sifat material
d. Kapasitas
e. Keseragaman produk
f. Kemampuan wet grinding

Alur pemilihan alat reduksi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan


diatas ditampilkan pada skema berikut :

Sumber : Diktat Pengolahan Bahan Galian UNISBA


Gambar 2.1
Skema Pemilihan Alat

Blake jaw crusher cocok digunakan untuk menghancurkan material yang


cukup keras dengan ukuran besar. Poros rahang penghancurnya yang terletak di
atas dan dapat bergerak, membuat blake jaw crusher memiliki keunggulan,
yaitu :
a. Memberikan pergerakan yang baik sehingga dapat memberikan tekanan
maksimal bahkan untuk partikel terkecil.
10 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
b. Membuat produk yang terlempar keluar dengan kuat, sehingga
menghindari penyumbatan.

Selain itu, blake jaw crusher memiliki rasio reduksi yang besar sehingga
tahapan yang dibutuhkan untuk menghancurkan partikel dengan ukuran besar
lebih sedikit. Keunggulan blake jaw crusher dibandingkan dengan gyratory
adalah capital dan maintenence cost lebih rendah, tetapi seperti gyratory, blake
jawa crusher dapat digunakan untuk menghancurkan batu berukuran beasr.
Blake jaw crusher memiliki beberapa kelemahan, yaitu bila digunakan
untuk menghancurkan batu yang keras maka operating costnya besa. Sehingga
alat ini kurang ekonomis.

2.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peremukan


Faktor-faktor yang mempengaruhi peremukan batuan oleh jaw crusher
antar lain :
a. Kuat Tekan Batu
Ketahanan batuan dipengaruhi oleh brittlenes (kerapuhan) dari
kandungan mineralnya. Tekstur mineral yang sangat halus biasanya lebih
tahan dari pada batuan yang bertekstur kasar.
b. Ukuran Material Umpan
Ukuran material umpan untuk mencapai hasil yang baik pada peremukan
adalah kurang < 85% dariukuran bukaan alat peremuk.
c. Reduction Ratio
Merupakan perbandingan ukuran ayakan yang dapat meloloskan 80%
berat umpan kumulatif dengan ukuran dari ayakan yang dapat
meloloskan 80% berat prosuk komlatif. Nilai reduction ratio yang baik
pada proses peremukan untuk primary crushing adalah 4 7, untuk
secondary crushing adalah 14 20, dan untuk tertiary crushing adalah 50
100.
d. Arah Resultan Gaya
Untuk terjadinya suatu peremukan, maka arah resultan gaya terakhir
haruslah mengarah ke bawah. Jika arah resultan gaya terakhir mengarah
ke atas berarti peremukan tidak akan terjadi melainkan material hanya
akan meloncat-loncat ke atas.
e. Energi Peremukan
Energi yang dibutuhkan alat peremuk tergantung dari beberapa faktor
antara lain ukuran umpan, ukuran produk, kapasitas mesin peremuk pada
11 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
suatu proses peremukan. Besarnya energi yang dibutuhkan untuk
meremuk berkisar antara 0,3 1,5 KWh jam/ton.
f. Kapasitas
Kapasitas alat peremuk dipengaruhi oleh jumlah umpan yang masuk
setiap jam, berat jenis umpan dan besar pengaturan dari alat peremuk.

2.3.2 Primary Jaw Crusher


Jaw crusher adalah alat peremuk yang mempunyai dua plat (crushing
face) yang terbuat dari plat baja, yang berhadap-hadapan di mana terdiri dari dua
rahang (jaw), yang satu dapat digerakkan (swing) dan yang lainnya tidak dapat
digerakka (fixed). Berdasarkan letak porosnya jaw crusher dibagi menjadi dua,
yaitu :
a. Blake jaw crusher dengan poros di atas.
b. Dodge jaw crusher dengan poros di bawah.

Blake type jaw crusher mempunyai swing jaw tertahan pada porosnya
sebelah atas dan membuat gerakan dangan amplitudo terbesar sebelah bawah,
sehingga produk yang diperoleh tidak homogen.
Cara kerja swing jaw tertahan pada porosnya sebelah atas, sehingga
apabila swing jaw bergerak membuka dan menutup, maka amplitudo terbesar
terdapat pada bagian bawah, jadi lubang penerimaannya sebelah atas tetap
ukurannya sedangkan lubang bagian bawah berubah-ubah, membuka
membesar dan mengecil, sehingga produknya lebih bervariasi.

12 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Sumber : Diktat Pengolahan Bahan Galian UNISBA
Gambar 3.2
Single Toggle Jaw Crusher

2.3.3 Mekanisme Pecahnya Batuan


Pecahnya batuan pada alat peremuk rahang yang disebabkan oleh
ketahanan material umpan lebih kecil dari pada kuat tekan yang ditimbulkan oleh
alat alat peremuk, sudut singgung material (nip angle), dan arah dari resultan
gaya terakhir yang mengarah kebawah sedekian sehingga batuan tersebut
pecah. Adapun gaya yang bekerja pada alat peremuk adalah :
1. Gaya Tekan
Merupakan gaya yang dihasilkan oleh gerakan rahang ayun yang
bergerak menekan batuan.
2. Gaya Gesek
Merupakan gaya yang bekerja pada permukaan antara rahang diam
maupun rahang ayun dengan batuan.
3. Gaya Gravitasi
Merupakan gaya yang bekerja pada batuan, sehingga mempengaruhi
arah gerak material ke bawah (gravitasi)
4. Gaya Menahan
Merupakan gaya tahan yang dimiliki batuan atas gaya yang timbul akibat
gerakan rahang ayun dan rahang diam.

2.4 Peralatan Pendukung Crushing Plant

13 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Peralatan pendukung pada crushing plant adalah peralatan yang
tergolong sebagai alat gali, alat muat dan alat angkut. Alat alat berat ini
ditempatkan pada crushing plant untuk membantu kinerja crushing plant guna
meningkatkan efisiensi kerja crushing plant tersebut sehingga lebih cepat dan
efisien.

2.4.1 Alat Muat


Alat muat pada sistem kerja dibidang industri adalah peralatan yang
dapat digunakan untuk memindahkan suatu objek industri atau material dari
suatu tempat kedalam alat angkut untuk dipindahkan ke tempat lain atau
diproduksi.
Alat muat tidak hanya dipergunakan dalam proses pemindahan tanah
mekanis di lapangan saja, tetapi pada tingkatan yang luas alat muat dapat
dipergunakan sebagai peralatan pendukung untuk supporting equipment.
Sebagai contoh excavator dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan
pengolahan sebgai pemberai dan melepaskan material yang tersangkut pada
mulut crusher.
Faktor pemilihan alat muat sangat terpengaruh terhadap kondisi lapangan
dan lingkungan lokasi tambang, nantinya berpengarug terhadap efektifitas datu
kualitas kerja alat muat tersebut. Sebagai supporting equipment pada crushing
plant. Alat muat yang sering digunakan adalah :
1. Excavator
Excavator merupakan alat muat yang menggunakan system pemindahan
material dengan bucket atau kantong. Kantong yang dipunyai excavator
terdiri dari dua jenis yaitu kantong dengan arah pengerukan horizontal
keatas dan kantong pengerukan horizontal kebawah.
2. Wheel Loader
Wheel loader adalah alat yang dipergunakan unutk pemuatan material
kedalam bucket dumptruck, sebagai prime move loader menggunakan
roda. Bucket digunakan unutk menggali, memuat tanah atau material
yang granular, dan diangkut untuk kemudian dibuang (dumping) pada
suatu ketinggian pada dumptruck dan sebagainya.

2.5 Crushing Plant


14 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
Tahap penghancuran (crushing) adalah salah satu bagian dari
penambangan. Dari alat-alat penghancuran biasanya memakai alat : jaw crusher,
hopper, feeder, belt conveyor, screening, cone crusher, dan lainnya.

2.5.1 Hopper
Hopper merupakan alat untuk menampung material sebelum masuk
kedalam crusher. Biasanya hopper dibuat dari plat baja yang dibentuk sehingga
mampu menampung material yang akan diproses. Dengan material yang
ditampung lebih dahulu di dalam hopper, maka pemberian umpan pada crusher
dapat diatur secara kontiniu oleh feeder.
Tujuannya adalah agar material yang diangkut alat muat/alat angkut
dapat tertampung semuanya kepada hopper. Dengan menggunkaan rumus
dibawah ini volume suatu hopper dapat diketahui :

A 1+ A 2
V =P X XH
2

Keterangan :
V : Volume
P : Panjang Atas
A1 : Lebar Bawah
A2 : Lebar Atas
H : Tinggi
2.5.2 Feeder
Feeder adalah suatu alat yang berfungsi untuk memberikan umpan (feed)
kepada jaw crusher secara teratur dan kontiniu. Penggunaan feeder pada
dasarnya disesuaikan dengan anjuran yang diberikan oleh pabrik penghasil
feeder. Agar hasil yang diperoleh bisa semaksimal mungkin.

2.5.3 Jaw Crusher


Jaw crusher adalah alat peremuk tingkat pertama (primary crusher) yang
dapat meremukkan batuan dari tambang. Pada prinsipnya alat ini terdiri dari dua
buah bidang peremuka crusher face yang berbentuk jaw (rahang) yang

15 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


umumnya terbuat dari plat baja berhadap-hadapan membentuk sudut kecil
dibagian bawah, salah satu diantaranya static tetap bertahap pada kerangka
yang disebut fixed jaw, sedangkan yang satu lagi dapat mendekat dan menjauh
terhadap fixed jaw yang disebut dengan swing jaw.
Gaya peremuk dari alat jaw crusher didapat dari tekanan swing jaw
terhadap fixed jaw pada batuan yang akan pecah bila gaya tekan pada jaw
tersebut lebih besar dari pada batas elastisitas batuan yang akan diremukkan.
Kapasitas mesin peremuk jaw crusher dibedakan menjadi kapasitas
desain dan kapasitas nyata. Kapasitas desain merupakan kemampuan produksi
yang seharusnya dicapai oleh mesin peremuk tersebut, sedang kapasitas nyata
merupakan kemampuan produksi mesin peremuk sesungguhnya yang
didasarkan pada sistem produksi yang diterapkan. Kapasitas desain diketahui
dari spesifikasi yang dibuat oleh pabrik pembuat mesin peremuk dan kapasitas
nyata didapatkan dengan cara pengambilan conto produk yang dihasilkan.
Kapasitas Jaw Crusher Menurut Taggart

T = 0,6 x Lr x So

Keterangan :
T = Kapasitas (ton/jam)
Lr = Panjang lubang penerimaan (inchi)
So = Lebar lubang pengeluaran (inchi)

Target Produksi Jaw Crusher Sesuai Spesifikasi Alat

Target Produksi/Hari = Waktu Produktif X Kapasitas Alat

Target produksi/bulan = Jumlah Produktif x Produksi/hari

Perhitungan Produksi Jaw Crusher

Target Produksi /bulan


Target Produksi/hari=
Jumlah hari produktif

16 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Target Produksi/hari
Target Produksi/ jam=
Waktu Kerja Efektif

Mecanical Power Transmision


p2 x s2
S1 = (for Driver Rational Speed) S 1=
p1
p2 x s2
S2 = (To Fine Driven Shaft Speed) S 1=
p2
Keterangan :
P1 = Driver Pitch Diameter (puli)
P2 = Driver Pitch Diameter (roda gila)
S2 = Driver Shaft Speed (Rpm)

Jaw crusher cocok digunakan untuk menghancurkan material yang cukup


keras dengan ukuran yang besar. Poros rahang penghancurnya yang terletak di
atas dan dapt bergerak, membuat jaw crusher memiliki keunggulan berikut :

1. Memberikan pergerakan yang baik sehingga dapat menghasilkan


tekanan maksmal bahkan untuk partikel kecil.
2. Membuat produk terlempar keluar dengan kuat sehingga menghindari
menyumbatan.
3. Memiliki rasio reduksi yang besar, sehingga tahapan yang dibutuhkan
lebih sedikit dan singkat.
4. Biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah dari jenis crusher
lainnya. Sehingga lebih ekonomis.

2.5.3 Cone Crusher


Cone Crusher adalah salah satu alat penghancur batuan yang berbentuk
kerucut (cone) hal ini bertujuan untuk menambah daerah penghalusan (fine
crushing zone) dan memperbesar tempat pengeluaran yang nantinya diharapkan
gaya yang bekerja terhadap material jadi lebih besar, sehingga jumlah dan
kapasitas cone jadi lebih besar pula.
Persen kapasitas tumpah alat cone crusher berdasarkan produksinya
dapat dihitung dengan rumus berikut :

JP
Kapasitas= x 100
KA

17 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


Keterangan :
JP = Jumlah Produksi
KA = Kapasitas Alat

Kapasitas cone crusher secara impiritis dapat dinyatagan dengan rumus


(Taggart) sebagai berikut :

T = 0,75 So (L-G)

Keterangan :
T = Kapasitas (ton/jam)
So = Open setting (inci)
L = Panjang keliling dinding luar (inci)
G = keliling dinding dalam pada Gape (inci)

Sumber : domas09.blogspot.co.id
Gambar 2.4
Penampang Cone Crusher

2.5.5 Screening
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan
diperoleh bermacam-macam ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan

18 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar sesuai dengan ukuran yang
dibutuhkan pada proses pengolahan yang berikutnya.
A. Pengayakan / Penyaringan (Screening)
Prinsip screening atau penyaringan adalah untuk meloloskan butiran yang
lebih kecil melalui lubang saringan dan menahan butiran yang lebih besar dari
lubang saringan. Dalam hal ini material yang akan disaring harus dibuat
mengadakan kontak dengan lubang saringan agar butiran-butiran tersebut
dengan kecepatan dan arah tertentu dapat menerobos lubang saringan tanpa
hambantan, sedangkan butiran yang lebih besar tertahan di atas saringan.
Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan
penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium. Produk dari proses
pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu :
a. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
b. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan
(undersize).

Ayakan (screen) yang berskala industri yang dipergunakan adalah


Vibrating Grizzly, Vibrating Grizzly membentuk sudut antara 20-40 derajat,
besarnya sudut tergantung pada penggunaannya, sehingga apabila material
dijatuhkan diatas grizzly bagian yang tertahan pada permukaannya dapat
mengalir sendiri turun kebawah. Pada mulanya vibrating grizzly merupakan
saringan diam, kemudian grizzly dibuat bergetar karena dasarnya bertumpu pada
beberapa spiral. Apabila material dijatuhkan diatas grizzly maka tekanan pada
grizzly akan ditahan oleh per spiral yang membuat grizzly bergetar.Efisiensi
screening dapat dihitung dengan rumus berikut :

Jumlah Produk Tertahan


Efisiensi Screen= x 100
Jumlah Keseluruhan Produk Tertahan

2.5.6 Conveyor atau Bucket Elevator


Conveyor atau Bucket Elevator adalah suatu rangkaian alat transportasi
untuk mempermudah memindahkan material hasil penambangan dari tempat
pengolahan ke tempat atau tahap selanjutnya. Biasa juga disebut dengan ban
berjalan.
19 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU
Untuk menghitung kapasitas belt conveyor digunakan persamaan sebagai
berikut :
Q=60 x A x v x (Horizontal)

Q=60 x k x A x v x (Inklinasi)

Keterangan :
Q = Kapasitas Teoritis Conveyor (ton/jam)
A = Luas Penampang Melintang Muatan Di atas Belt Conveyor (m2)
v = Kecepatan ban (m/menit)
= Density (ton/m3)
K = Faktor Pengurangan Inklinasi

Tabel 2.1
Inclination Reduction Factor (K)

3.6 Efisiensi Kerja


Efisiensi kerja adalah perbandingan antara waktu kerja efektif terhadap
waktu yang tersedia. Waktu yang digunakan adalah waktu untuk produksi, yang
mana dalam waktu tersebut terdapat waktu kehilangan karena hampatan-
hambatan selama bekerja.
Waktu efektif dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

We=(Wn+Wu)

Keterangan :

20 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


We = Waktu Kerja Efektif
Wp = Waktu Kerja Produktif
Wn = Waktu hambatan yang disebabkan oleh faktor alat
Wu = Waktu hambatan yang disebabkan oleh faktor manusia

Waktu produksi efektif yang diperoleh, digunakan untukmenghitung


efisiensi kerja dengan rumus :

We
E= x 100

Keteranagan :
E = Efisiensi
We = Waktu Kerja Efektif
Wp = Waktu Kerja Produktif

IV. PELAKSANAAN KEGIATAN


4.1 Jadwal Kegiatan
Sesuai dengan proposal yang kami ajukan, maka waktu pelaksanaan
Tugas Akhir 2 bulan yang dimulai pada tanggal 03 Juli hingga 30 Agustus
2017 di PT Lotus SG Lestari
Tabel 3
Tabel Perincian Rencana Tugas Akhir
Waktu (Minggu)
Kegiatan
1 2 3 4 5
Orientasi Dan Pemilihan
Pembimbing
Lapangan Dan Penelitian
Pembuatan Laporan
Lain-Lain

Ket:

: Kegiatan dilakukan

21 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


: Kegiatan tidak dilakukan

4.2 Peserta Kegiatan

Adapun peserta kegiatan penelitian Tugas Akhir di PT Lotus SG


Lestari adalah sebagai berikut:
Nama : M Shadiq Dwipa Restu
NPM : 100.70.1.12.138
Program Studi : Teknik Pertambangan
Instansi : Universitas Islam Bandung (UNISBA)
Sebagai bahan pertimbangan Bapak/Ibu pimpinan Instansi terkait
penulis juga melampirkan :
Transkip nilai.
Surat pengantar proposal Tugas Akhir dari Program Studi Teknik
Pertambangan Universitas Islam Bandung.

V. PERMOHONAN PENYEDIAAN FASILITAS


Untuk menunjang terlaksananya kegiatan tersebut di atas, kami
mengharapkan sekiranya dari pihak perusahaan dapat menyediakan fasilitas
berupa :
1. Konsumsi selama kegiatan berlangsung
2. Penginapan selama berlangsungnya kegiatan Tugas Akhir
3. Penyediaan alat-alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) selama
kegiatan Tugas Akhir berlangsung (bila diperlukan).

VI. PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat sebagai acuan dalam melaksanakan Kerja
Praktek. Besar harapan kami akan bantuan segenap Direksi dan karyawan PT
Lotus SG Lestari, demi kelancaran serta suksesnya pelaksanaan Tugas Akhir
yang akan kami laksanakan.

22 PROPOSAL TUGAS AKHIR | M SHADIQ DWIPA RESTU


DAFTAR PUSTAKA

1. Harap, Wahyu Eka, 2012, Analisis Produktivitas Crushing Pant Dalam


Pencapaian Target Produksi Batubara Di PT Marunda Graha Mineral
Kabupaten Murung Jaya. Universitas Palangkaraya
2. Suryadharma, Hendra. dkk. Alat-alat Berat, Universitas Atma Jaya,
Yogyakarta. 1998
3. Prodjosumarto, Partanto. Tambang Terbuka, Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Ilmu Kebumian Institut Teknologi Bandung,
Bandung. 2000
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Analisis Efisiensi pada Crushing Plant Berdasarkan Target


Produksi dan Spesifikasi Alat, di PT Lotus SG Lestari
Kabupaten Bogor Jawa Barat

Nama : M Shadiq Dwipa Restu

Npm : 100.70.1.12.138

Bandung, Mei 2017

Menyetujui,

Ir. Sriyanti, M.T. Ir. Yuliadi, M.T.


Pembimbing Koordinator Tugas Akhir

Mengetahui,

Ir. Sri Widayati, M.T.


Ketua Program Studi Teknik Pertambangan
Universitas Islam Bandung