Anda di halaman 1dari 39

Sabtu, 12 Maret 2011

Resume Buku Manajemen Resiko


Posted by Aditya Lukman Pradana on 07.49. Manajemen

BAB I
PENDAHULUAN

Benarkaah kebanyakan orang ingin mengelakan risiko ? Karena selalu ingin aman dan hidup
tentram, maka memang kebanyakan orang takut menanggung resiko. Namun semua tahap
kehidupan kita mengandung resiko. Kemanaapun kita mengelak atau lari dari resiko, makaa
disitupun kita akan menemukan risiko yang lainnya. Resiko merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan. Bahkan ada orang yang mengatakan , bahwa tak ada hidup tanpa
resiko sebagaimana tak ada hidup tanpa maut. Jadi dengan demikian setiap hari kita menghadapi
resiko, baik sebagai perorangan, maupun sebagai perusahaan. Orang berusaha melindungi diri
tehadap resiko, demikian pula badan usaha pun harus berusaha melindungi diri terhadap resiko.
Agar resiko tidak menghalangi kegiatan perusahaan, maka seharusnyalah itu dimanajemeni
dengan sebaik-baiknya. Namun benarkah para pengusaha Indonesia kurang memperhatikan
manajemenn resiko?
Program Manajemen Resiko pertama-tama bertugas mengidentifikasikaan resiko-resiko yang
dihadapi, sesudah itu mengukur atau menentukan besarnya resiko itu dan kemudian barulah
dapat dicarikan jalan untuk menghadapi ataau menangani resiko itu. Ini berarti orang harus
menyusun strategi untuk memperkecil ataupun mengendalikannya.
Pendeknya dengan progran itu, dapatlah dilindungi keefektifan operasi perusahaan yang
bersangkutan. Jadi pernyataan yang harus dicari jawabannya oleh manajer resiko antara lain
adalah : Resiko apa saja yang dihadapi perusahaannya. Bagaimana dampak resiko itu terhadap
kehidupan bisnis perusahaannya. Resiko mana yang harus dihadapi sendiri, mana yang harus
dipindahkan kepada asuransi. Metode mana yang cocok dan efisien untuk menghadapinya. Dan
seterusnya..

TANGGUNG JAWAB PENGELOLAAN RESIKO OLEH PEGAWAI DAN DIREKTUR


TERHADAP PEMILIK
Pegawai dan direktur dunia usahamempunyai tanggung jawab hukum terhadap pemegang saham
atau pemilik perusahaan bagi pengelolaan resiko murni. William and Heins ( 1985 ) memberikan
salah satu contoh pernyataan batas-batas tanggung jawab seseorang manajer resiko dari suatu
perusahaan, sebagaiman terlihat dibawaah ini.
DAERAH TANGGUNG JAWAB UNTUK MANAJER RESIKO FULLTIME
Menentukan resiko dan evaluasi (mengidentifikasikan exposure potensi kerugian dan ukuran
kerugian). Pembelanjaan resiko (menentukan tingkat asuransi yang dapat dikurangi ( deductible )
dan batas polis, apakah untuk mengasuransikan atau menanggungnya dan menempatkan
perlindungan asuransi ).
Rekayasa atau engineering pencegahan kerugian ( merancang sistem-sistem mekanik dan
prosedur-proedur untuk mencegah atau meminimalkan kerugian atas kekayaan dari musibah
seperti : api, badai, peledakan, dan sebagainya). Keamanan ( administrasi keamanaan personalia
dan penyehatan prosedur keamanan untuk mencegah atau meminimalkan kerugian harta yang
disebabkan oleh perilaku yang berasal dari manusia seperti kejahatan, pencurian, pengrusakan
dan huru-hara ).
Administrasi keselamatan ( merancang dan mengadministrasikan sistem dan prosedur untuk
mencegah atau meminimumkan kerugian yang disebabkan cidera dan penyakit termasuk
kelengkapan alat keselamatan memenuhi peraturan pemerintah ). Administrasi penanganan klaim
(mengurus klaim dengan pihak asuransi, atau administrasi klaim asuransi sendiri ). Rancangan
jaminan hari tua dan administrasinya.
Administrasi unit program manajemen resiko :
1. Akuntansi asuransi ( lokasi premi, statistik kerugian, fungsi pembukuan lainnya)
2. Unit anggaraan
3. Unit manajemen personalia ( jika lebih dari dua unit )
Sumber : The risk and insurance Manager Position : Sibson and Company, princeton,, 1978

PENETAPAN KEBIJAKSANAAN TERTULIS


Manajemen puncak perusahaan menetapkan kebijaksanaan bagi pedoman pelaksanaan kegiatan
di Bagian Manajemen Resiko, yang mencakup tujuan, tugas dan tanggung jawab manajemen
resiko.
William and Heins ( 1985 ) memberikan contoh kebijaksanaan tersebut bagi perusahaan General
Mills, sebagai dibawah ini :

GENERAL MILLS, INC


KEBIJAKSANAAN MANAJEMEN RESIKO
Kegiatan manajem resiko dipengaruhi oleh falsafah umum perusahaan yang bekenaan dengan
asuransi.
1. Hilangkan atau kurangi kondisi dan praktek yang menyebabkan kerugian yang dapat
diasuransikan.
2. Bila resiko tak dapat dihilangkan atau dikurangi sampai tingkat yang dapat dikerjakan :
a. Beli asuransi komersial yang akan memberikan idemnity bagi kerugian bencana besar (
catastropic losses)
b. Asuransi ( penanggungan ) sendiri terserah pada judgement terbaik bagi perusahaan jika
resiko-resiko itu dipertimbangkan tidak begitu penting ditinjau dari sudut operasi keuangan
perusahaan.
Tetapi, dalam peristiwa mana saja, usahakan menanggung sebagian resiko dan mengasuransikan
sebagian yang lainnya, sepanjang reduksi premi atau pengurangan premi menarik secara
ekonomis.
Tanggung jawab Departemen Manajemen Resiko untuk melaksanakan policy itu adalah sebagai
berikut :
1. Membantu divisi dan subsidiary untung merancang dan mengoperasikan pengendalian
kebakaran dan program-program pencegahan kerugian.
2. Mempelajari rencana konstuksi dan rencana perubahan fasilitas untuk memastikan cukup
memenuhi syarat pengendalian resiko dan penerimaan pihak asuransi.
3. Mengembangkan polis perlindungan asuransi dan programnya dan menjaganya untuk selalu
sesuai dengan perubahan keadaan (up to date) untuk menjamin efektivitasnya.
4. Negoisasi dan penempatan semua kontark asuransi dan bonding untuk memastikan bahwa
telah memenuhi program yang sudah ditetapkan.
5. Mempelajari kembali program asuransi luar negeri.
6. Menyetujui provisi asuransi dari pada leasing sdan kontark sebelum pelaksanaan.
7. Melaporkan dan menyesuaikan semua klaim asuransi.
8. Memberikan saran kepada departemen akuntansi perusahaan dan subsidiary untuk penentuan
nilai yang dapat diasuransikan.
9. Administrasi dan mengoperasikan perusahahaan asuransi anak perusahaan GMI : GOLD
Medal Insurance Co dan Medallion Insurance Company Limited.
Dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut, Departemen Manajemen Resiko mengharapkan
kerjasama dari orang-orang yang berada pada anak perusahaan dan divisi departemen untuk
memperoleh informasi, identifikasi resiko dan analisis serta pelaksanan yang terkoordinasi.
ADMINISTRASI PELAKSANAAN PROGRAM
Manajemen resiko dalam perusahaan besar memelihara pencatatan dari bermacam-macam jenis,
antaranya yang paling penting adalah kontrak asuransi, teermasuk tanggal jatuh temponya,
pencatatan valuasi yang menyebabkan atu menunjukkan nilai dan alokasi semua kekayaan,
catatan personalia, analisis secara keseluruhan dari tipe kerugian yang berbeda yang dihadapi
perusahaan dan data kerugian sebelumnya.
1. EVALUASI HASIL KERJA
Oleh karena Manajer Resiko membuat keputusan dalam keadaan ketidakpastian maka banyak
hal dari hasil kerja mereka sukar untuk dievaluasi dalam jangka waktu yang pendek. Yang
lainnya adalah untuk menentukan apakah Manajer Resiko dapat berhasil mencegah
membengkaknya pengeluaran Kas sepanjang toleransi yang ditetapkan perusahaan.

HUBUNGAN MANAJEMEN RESIKO DENGAN FUNGSI-FUNGSI LAIN DALAM


PERUSAHAAN
1. HUBUNGAN DENGAN FUNGSI AKUNTING
Bagian akunting menjalankan kegiatan manajemen resiko yang penting, yaitu :
a. Mengurangi kesempatan pegawai melakukan penggelapan, dengan jalan menjalankan
internal control dan internal audit.
b. Melalui rekening aset bagian akunting mengidentifikasikan dan mengukur exposure
kerugian terhadap harta.
c. Melalui penilaian rekening seperti rekening piutang bagian akunting mengukur risiko
piutang dan mengalokasikan cadangan dana exposure kerugian piutang.
Bagian akunting juga dapat menimbulkan resiko, misalnya saja penggunaan komputer, resiko
tanggung-gugat karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam penyajian informasi.
2. HUBUNGAN DENGAN FUNGSI KEUANGAN
Bagian keuangan banyak melakukan banyak penetapan yang mempengaruhi manajemen resiko.
a. Manajer resiko biasanya bawahan Direktur Keuangan
b. Bagian keuangan menganalisis pengaryh turunnya profit dan cash flow
c. Dalam menetapkan apakah perusahaan akan membeli peralatan yang mahal atau gedung
baru, maka manajer finansial seharusnya mempertimbangkan resiko murni yang tercipta karena
tindakan itu.
d. Jika perusahaan meminjam uang dengan menggunakan harta sebagian kolateral, biasanya
pemberi pinjaman menuntut agar harta diasuransikan, yang selanjutnya akan melibatkan
manajemen asuransi.

3. HUBUNGAN DENGAN MARKETING


Kegiatan marketing dapat menciptakan resiko, terutama resiko tanggung-gugat. Misalnya
perusahaan bisa dituntut oleh pihak luar karena berkenaan dengan penggunaan packaging yang
tidak sesuai dengan pesanan.

4. HUBUNGAN DENGAN BAGIAN PRODUKSI


Kegiatan produksi juga banyak menciptakan resiko. Dalam mendesain atau membuat produk
atau memberikan service, pekerja seringkali diekspose pada kecelakaan kerja. Karena itu Bagian
Produksi haruslah mengidentifikasikan dan mengevaluasi bahaya-bahaya yang terkait dengan
proses, servis dan produk. Untuk itu pengawasan terhadap produksi dijalankan mulai dari disain,
pengawasan operasi, pengujian mutu bahan dan hasil akhir, pemakaian package yang tidak
beracun dan lain sebagainya.

5. HUBUNGAN DENGAN ENGGINERING DAN MAINTENANCE


Bagian ini bertanggung jawab untuk disain pabrik, maintenance, dan melaksanakan fungsi
perawatan gedung, pabrik dan peralatan, yang semuanya sangat vital untuk mencegah,
mengurangi frekuensi dan keparahan kerugian.

6. HUBUNGAN DENGAN BAGIAN PERSONALIA


Bagian personalia mempunyai banyak tanggung jawab dibidang resiko. Contoh yang paling
jelas adalah perencanaan, instalasi, dan administrasi program-program kesejahteraan pegawai.
Karena Bagian Personalia bertanggung jawab untuk seleksi dan latihan personil, maka Bagian
Personalia yang bertanggung jawab dalam mengawasi jabatan yang mengandung resiko,
misalnya kecelakaan dan penyakit.

2. KOMUNIKASI DUA ARAH


Dari uraian diatas dapat disipulkan bahwa diperlukan komunikasi dua arah antara Manajer
Resiko dan Manajer-Manajer lainnya dalam suatu perusahaan untuk menyalurkan informasi yang
berkenaan dengan resiko.
Dengan demikian diharapkan resiko itu dapat dimanajeri dengan baik, sehingga tujuan
perusahaan dapat dicapai dengan efisien.

SUMBANGAN MANAJEMEN RESIKO TERHADAP PERUSAHAAN, KELUARGA, DAN


MASYARAKAT
TERHADAP PERUSAHAAN

1. Manajemen resiko dapat mencegah perusahaan dari kegagalan


2. Oleh karena laba dapat ditingkatkan melalui pengurangan pengeluaran, maka Manejem
Resiko menunjang secara langsung peningkatan laba tersebut.
3. Manajemen Resiko dapat menyumbang secara tidak langsung laba sedikitnya dengan cara-
cara sebagai berikut :
a. Jika sebuah perusahaan dapat memanajeri resiko murninya dengan berhasil, maka manajer
akan bersifat tenang dan percaya diri, dan membuka pikiran untuk menyelidiki resiko spekulatif.
b. Dengan membebaskan manajer umum dari aspek resiko murni dari proyek yang bersifat
spekulatif, maka manajemen resiko dalam hal ini menunjang peningkatan kualitas keputusan
yang diambil.
c. Bila keputusan telah diambil untuk menerima pokok yang bersifat spekulatif, maka
penanganan resiko spekulatif lebih efisien.
d. Manajemen resiko dapat mengurangi fluktuasi laba tahunan dan aliran kas.
e. Melalui persiapan sebelumnya, manajemen resiko dalam banyak hal dapat membuat
perusahaan melanjutkan kegiatannya walaupun telah mengalami kerugian. Jadi, dengan
demikian mencegah langganan pindah kesaingan.
4. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan
terhadap resiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan
5. Manajemen resiko melindungi perusahaan dari resiko murni, dan karena kreditur pelanggan
dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong
meningkatkan public image.

TERHADAP KELUARGA
1. Manajemen resiko dapat mempersiapkan keluarga dengan kelima faedah tersebut diatas.
2. Manajemen resiko yang sehat mungkin menyanggupkan suatu keluarga untuk mengurangi
pengeluaran untuk asuransi tanpa mengurangi sifat perlindungannya.
3. Jika suatu keluarga telah dilindungi terhadap kematian atau kesehatan, kehilangan atau
kerusakan harta bendanya, maka keluarga itu mungkin akan berani untuk menanggung resiko
dalam berinvestasi atau persetujuan mengenai karier.
4. Suatu keluarga dapat disembuhkan dari tekanan fisik dan mental.
5. Keluarga mungkin memetik faedah dari program manajemen resiko yang menolong orang-
orang lain.

TERHADAP MASYARAKAT
Masyarakat juga dapat memetik faedah dari makin efisiennya manajemen resiko menangangi
perusahaan dan keluarga akan mengurangi beban masyarakat ( social cost ).

OBYEKTIF MANAJEMEN RESIKO


Sasaran yang mungkin akan dicapai oleh manejemen resiko yaitu sebagai berikut:
1. Survival
2. Kedamaian pikiran
3. Memperkecil biaya
4. Menstabilkan pendapatan perusahaan
5. Memperkecil atau meniadakan gangguan operasi perusahaan.
6. Melanjutkan pertumbuhan perusahaan
7. Merumuskan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan dan massyarakat

OBYEKTIF MANAJEMEN RESIKO HARUS KONSISTEN DENGAN OBYEKTIF


PERUSAHAAN
Mehr dan Hedges dalam bukunya Risk Management, Concept and Application , menulis
bahwa tujuan umum ( Generale Objective ) perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Profit atau layanan yang efisien
2. Good citizenship
3. Kepuasan pribadi
Obyektif Manajemen Resiko yang dianggap konsisten dengan obyektif umum tersebut dibagi
atas :
1. Obyektif yang akan dicapai sesudah terjadinya suatu kerugian (Post-loss-Objective)
a. Survival
b. Kelanjutan operasi perusahaan
c. Stabilitas laba
d. Pertumbuhan
e. Good citizennship dan tanggapan baik dari publik

2. Obyektif yang harus dicapai sebelum terjadinya sesuatu kerugian (Pre-loss-Objective)


a. Ekonomi
b. Pencegahan ketegangan syaraf dan kesusahan
c. Good citizennship dan tanggapan baik dari publik

BAB II
KONSEP RESIKO

PENGERTIAN TENTANG RESIKO


Vaugan (1978), mengemukakan beberapa definisi resiko sebagaimana dapat kita lihat sebagai
berikut :
1. Risk is the chance of loss ( Resiko adalah kerugian )
2. Risk is the possibility of loss ( Resiko adalah kemungkinan kerugian )
3. Risk is uncertainty ( Resiko adalah ketidakpastian )
4. Risk is the dispersion of actual from expected result ( Resiko merupakan penyebaran hasil
aktual dari hasil yang diharapkan)
5. Risk is the probability any outcome different from the one expected ( Resiko adalah
probabilitas sesuatu outcome berbeda outcome yang diharapkan )

KESIMPULAN
Kondisi yang tidak passti atau resiko itu timbul karena berbagai sebab, antara lain :
a. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang
jarak waktu makin besar ketidakpastiannyaa.
b. Keterbatasan tersediannya informasi yang diperlukan
c. Keterbatasan pengetahuan/keterampilan/teknik mengambil kepuutusan
d. Dan sebagainya

KONSEP-KONSEP LAIN YANG BERKAITAN DENGAN RESIKO


Pada umumnya masyarakat mempersamakan pengertian resiko, hazard dan peril. Padahal ketiga
hal tersebut berbeda. Maka dari itu hal ini harus dibedakan secara jelas dan tegas.
PERIL ( BENCANA/MUSIBAH)
Peril adalah suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian dan merupakan sebagai penyebab
langsung kerugian. Contohnya orang yang mengalami kerugian karena bencana.
HAZARD ( BAHAYA )
Hazard adalah keadaan atau kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu
peril atau musibah.

Tipe-tipe Hazard
1. Physical Hazard
Adalah suatu kondisi yang bersumber pada karakteristik secara fisik dari suatu objek yang dapat
memperbesar kemungkinan terjadi suatu peril ataupun memperbesarnya suatu kerugian.

2. Moral hazard
Adalah suatu kondisi yang bersumber dari orang yang bersangkutan atau yang berkaitan dengan
sikap mental atau pandangan hidup serta kebiasaannya yang dapat memperbesar kemugkinan
terjadinya suatu peril atau suatu kerugian.

3. Morale Hazard
Adalah suatu kecerobohan atau kurang hati-hati dari seseorang dapat menimbulkan kondisi yang
dapat memeprbesar suatu kerugian.

4. Legal Hazard
Adalah suatu peril dapat terjadi akibat dari mengabaikan aturan atau perundang-undangan yang
berlaku.

RESIKO SPEKULATIF DAN RESIKO MURNI


RESIKO SPEKULATIF
Resiko spekulatif biasanya disebut juga resiko bisnis yaitu suatu keadaan yang dihadapi
seseorang atau perusahaan yang dapat memeberikan keuntungan atau juga dapat memeberikan
kerugian. Misalnya saja berinvestasi.

RESIKO MURNI
Resiko murni adalah sesuatu yang hanya berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan
tidak mungkin menguntungkan. Misalnya saja terjadi kebakaran.

SUMBER RESIKO
RESIKO SOSIAL
Sumber resiko sosial ini adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang yang menciptakan
kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan kita. Misalnya saja
terjadi pencurian, perusakan, huru-hara dan lain-lain.

RESIKO FISIK
Ada banyak resiko fisik yang sebagiannya adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan
oleh kesalahan manusia. Banyak resiko yang kompleks sumbernya tetapi termasuk terutama
kategori fisik, contohny antara lain ; kebakaran, cuaca, petir, tanah longsor, dan lain sebagainya.

RESIKO EKONOMI
Banyak resiko yang dihadapi perusahaan itu bersifat ekonomi. Contoh-contoh resiko ekonomi
adalah inflasi, fluktuasi lokal, dan ketidakstabilan perusahaan individu dan sebagainya.

JENIS-JENIS RESIKO YANG DITANGANI MANAJER RESIKO


Manajemen resiko menangani terutama resiko murni. Ia tidak menangani resiko spekulatif
kecuali jika adanya resiko spekulatif memaksa manajer resiko murni untuk menghadapi resiko
murni yang lainnya. Kerugian potensial yang dihadapi dan bersifat ekonomi yang harus
ditangani oleh manajer resiko adalah sebagai berikut:
a. Kerugian terhadap harta
b. Tanggung jawab terhadap pihak lain
c. Kerugian personil
BIAYA-BIAYA YANG DITIMBULKAN KARENA MENANGGUNG RESIKO
Biaya-biaya yang bersifat ekonomi karena menanggung resiko atau ketidakpastian dapat dibagi
sebagai berikut :
1. Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan
2. Biaya-biaya dari ketidakpastian itu sendiri
3. Keraguan penghambat perkembangan ekonomi
4. Langkah-langkah dalam proses manajemen resiko
Manajemen resiko dimulai dari proses mengidentifikasi resiko penilaian resiko mitigasi
monitoring evaluasi
BAB III
MENGIDENTIFIKASI RESIKO

Pengidentifikasian resiko adalah proses penganalisaan atau analisis untuk menemukan secara
sistematis dan secara berkesinambungan resiko ( kerugian yang potensial ) yang menantang
perusahaan. Untuk itu diperlukan :
1. Pertama : Suatu checlist dari semuakerugian yang potensial yang mungkin bisa terjadi pada
umumnya setiap perusahaan.
2. Kedua : Untuk menggunakaan checlist itu diperlukan suatu pendekataan yang sistematik
untuk menentukan mana dari kerugian potensial yang tercantum dalam checlist itu yang dihadapi
oleh perusahaan yang sedang dianalisis.
Manajemen resiko seharusnya melakukan sendiri kedua langkah diatas tanpa meminta bantuan
atau dipercayakan kepada pihak jasa asuransi, broker atau konsultan.

SUMBER CHECKLIST
Checklist itu diterbitkan oleh:
1. Perusahaan asuransi
2. Badan penerbitan asuransi
3. Asosiasi Manajemen Amerika ( AMA )
4. Ikatan Manajemen Resiko dan Asuransi

KLASIFIKASI KERUGIAN
Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checlist adalah sebagai
berikut :
A. Kerugian Hak Milik ( Property Losses )
1. Kerugian langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan untuk mengganti atau reparasi atau
kehilangan harta
2. Kerugian tidak langsung, seperti keharusan untuk menghancurkan sisa gedung yang rusak
akibat kerusakan secara langsung.
3. Kerugian pendapatan ( net income ) seperti penghentian kegiatan sementara yang
disebabkan oleh suatu kerugian dimana tidak boleh ditempatinya ruang kerja.

B. Kerugian Personalia ( Personel Losses )


1. Kerugian bagi perusahaan, karena kematian, cacat, atau mengundurkan dirinya sebagai
pegawai, langgana ataau pemilik.
2. Kerugian bagi keluarga pegawai, yang disebabkan oleh kematian, cacat atau pemberhentian.

PENGGUNAAN SUATU CHECKLIST


Metode yang dianjurkan untuk dipergunakan adalah sebagai berikut:
1. QUESTIONNAIRE ANALISIS RESIKO (RISK ANALYSIS QUESTIONNAIRE)
Analisis ini menjuruskan manajemen resiko untuk memastikan bahwa informasi yang diperlukan
berkenaan dengan harta dan operasi perusahaan tidak ada yang terlupakan.

2. METODE LAPORAN KEUANGAN


Dengan menganalisis neraca, laporan laba-rugi dan catatan lain yang menyokongnya, manajer
resiko dapat mengidentifikasikan semua resiko yang berkenaan dengan harta, utang dan
personalia perusahaan.

3. METODE PETA-ALIRAN
Suatu peta aliran menggambarkan seluruh operasi dari perusahaan yang bersangkutan, yang
dimulai dari bahan mentah, listrik dan input lain-lain pada lokasi supplier dan berakhir dengan
produk jadi dalam tangan langganan. Dari peta-aliran dapat dilakukan analisis sebagai berikut;
a. Kerugiaan yang berkenaan dengan harta
b. Kerugian yang berkenaan dengan tanggung jawab
c. Kerugian personil

4. INSPEKSI LANGSUNG PADA OBYEK


Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan kerja,
kebiasaan kerja pegawai dan seterusnya. Manajer resiko dapat mempelajari lebih banyak dan
meyakinkan tentang hazard yang mungkin tidak disadari oleh pekerja ataupun mungkin tidak
pernah ditemukan pada laporan tertulis.

5. INTERAKSI YANG TERENCANA DENGAN BAGIAN-BAGIAN PERUSAHAAN


Interaksi ini meliputi :
a. Untuk memperoleh pemahaman yang sempurna dari kegiatan suatu bagian,
mengidentifikasikan kerugian potensial yang timbul, maka dari itu, manajer resiko dapat sering
mengunjungi manajernya serta dapat mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pegawai.
b. Laporan lisan atau tertulis dari bagian-bagian perusahaan itu, baik atas inisiatif mereka
maupun sebagai laporan tertulis yang rutin dapat memberi informasi yang up to date mengenai
perkembangan yang relevan.

6. CATATAN STATISTIK DARI KERUGIAN MASA LALU


Pendekatan yang keenam ini dapat memberikan petunjuk tentang kerugian yang telah lalu dan
kerugian mana diantaranya yang sering terjadi.

7. ANALISIS LINGKUNGAN
Lingkungan yang relevan adalah sebagai berikut ;
a. Langganan
b. Pemasok
c. Saingan
d. Undang-Undang atau ketentuan-ketentuan lainnya
Dalam menganalisis masing-masing komponen pertimbangan yang penting adalah :
a. Sifat hubungannya
b. Keanekaannya
c. Kestabilannya
PENGGUNAAN PIHAK LUAR UNTUK MENGIDENTIFIKASI RESIKO
Manajer resiko boleh percaya pada agen asuransi, broker atau konsultan manajemen resiko untuk
melakukan pekerjaan yang terinci untuk mengidentifikasikan resiko. Akan tetapi, mempercayai
saja sepenuhnya pihak luar untuk mengidentifikasikan resiko pada suatu ketika dapat
mengandung kelemahan.
Melaksanakan survei sendiri memang memakan waktu, tetapi tidak lain yang lebih baik bagi
manajer resiko untuk mengamati dari dekat sumber resiko yang melekat pada hak milik, operasi
dan manajemen phylosophy dan karena itu akan mengambil keputusan dengan hasil yang baik.
PENUTUP
Tidak ada metode tunggal atau prosedur pengidentifikasian resiko yang bebas dari kelemahan.
Dalam hal ini diperlukan stategi manajemen untuk menentukan metode ataukah kombinasi
metode yang cocok dengan situasi yang dihadapi.Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
itu adalah:
1. Sifat dari bisnis
2. Besarnya perusahaan itu
3. Tersedianya tenaga ahli.

BAB IV
PENGUKURAN RESIKO

Sesudah manajer resiko mengidentifikasikan berbagai jenis resiko yang dihadapi perusahaan,
maka selanjutnya resiko itu harus diukur. Perlunya diukur adalah :
1. Untuk menentukan relatif pentingnya
2. Untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan
manajemen resiko yang cocok untuk menanganinya.
3.
DIMENSI YANG HARUS DIUKUR
Informasi yang diperlukan berkenaan dengan dua dimensi resiko yang perlu diukur, yaitu :
1. Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi
2. Keparahan dari kerugian itu
Paling sedikit untuk masing-masing dimensi itu, yang ingin diketahui adalah :
a. Rata-rata nilainya dalam periode anggaran
b. Variasi nilai itu, dari satu periode anggaran ke periode anggaran sebelum dan berikutnya
c. Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian itu jika seandainya kerugian itu ditanggung
sendiri, harus dimasukkan dalam analisis, jadi tidak hanya nilainya dalam rupiah saja.
Mengapa kedua dimensi itu diperlukan ?
Hal ini dikarenakan , Kedua dimensi itu diperlukan untuk menilai relatif pentingnya suatu
exposure terhadap kerugian potensial. Berlawanan dengan pendapat kebanyakan orang,
pentingnya suatu exposure bagi kerugian tergantung sebagian besar atas keparahan kerugian
potensial itu, bukan pada frekuensi potensial. Suatu kerugian potensial dengan kemungkinan
catastropic, walaupun jarang terjadi, adalah jauh lebih parah daripada yang sering terjadi, tetapi
hanya menimbulkan kerugian kecil saja. Sebaliknya frekuensi kerugian tidak bisa diabaikan. Jika
dua exposure ditandai oleh keparahan kerugian yang sama, maka exposure yang frekuensinya
lebih besarlah yang seharusnya dimasukkan dalam ranking yang lebih penting. Belum ada
formula untuk membuat ranking menurut pentingnya, dan rankingnya akan berbeda jika orang
me-ranking-nya berbeda pula.
Tetapi pendekatan yang rasional lebih menekankan pada keparahan kerugian. Sebuah contoh
akan menjelaskan persoalan ini. Kans terjadi kerugian karena tabrakan mobil mungkin lebih
besar dari Kans dituntut pihak lain karena tabarakan, tetapi keparahan potensial daripada
kerugian tanggung-gugat (liability loss) bisa lebih tinggi atau besar dari nilai kerusakan terhadap
mobil itu sendiri. Karena itu seharusnya tidak ada keberatan menaruh liability loss lebih tinggi
dari property loss (kerugian harta)
Sub pembagian dari suatu jenis kerugian tertentu mungkin pula dilakukan berdasarkan suatu
batas tertentu yang ditentukan atau ditetapkan perusahaan yang bersangkutan. Misalnya jika
batas yang ditetapkan adalah Rp 100.000,00,maka kerugian itu dapat dibagi kedalam (1)
kerugian Rp 100,000,00 atau kurang. (2) kerugian diatas Rp 100.000,00
Dalam hal ini kerugian yang lebih penting adalah kerugian yang kedua, walaupun frekuensinya
kurang. Jelaslah pembagian seperti ini dilakukan orang dengan maksud menempatkan tekanan
lebih penting pada keparahan kerugian, bukan pada frekuensi kerugian.

MENENTUKAN KEPARAHAN
Dalam menentukan keparahan kerugian, manajer harus berhati-hati untuk memasukkan semua
kerugian yang mungkin bisa terjadi sebagai akibat suatu peristiwa tertentu, sebagaimana
dampaknya yang terakhir terhadap keuangan perusahaan yang bersangkutan.
Dampak keuangan terakhir dari suatu kerugian bahkan mungkin pula terabaikan dalam
mengevaluasi nilai rupiah dari sesuatu kerugian. Keparahan kerugian juga akan tergantung pada
jumlah unit yang terkena kerugian. Misalnya suatu perusahaan mempunyai beberapa gudang
yang letaknya berdekatan, maka kerugian akan lebih parah karena satu peristiwa kebakaran saja
bisa menghabiskan ketiga gudang itu.
Kerugian rata-rata ini dapat dibandingkan dengan premi asuransi yang harus dibayar, jika
perusahaan itu minta perlindungan asuransi.
Demikian pula frekuensi kerugian dan keparahan kerugian membantu peramalan kerugian dan
berapa penting kerugian itu yang mungkin terjadi dalam suatu bad year

PENGUKURAN RESIKO DENGAN DISTRIBUSI PROBABILITAS


Distribusi probabilitas menunjukkan ppobabilitas kejadian bagi masing-masing outcome yang
mungkin. Karena outcome itu merupakan mutuallly exclusive, maka semua probabilitas itu jika
dijumlahkan sama dengan satu.
Tiga macam distribusi probabilitas menunjukkan outcome yang mungkin untuk :
1. Total kerugian per tahun ( atas periode budget)
2. Banyak kejadian per tahun
3. Kerugian per kejadian
Untuk menggambarkan ketiga jenis probabilitas itu, kita akan mempertimbangkan contoh
tentang kerugian tabrakan mobil :
a. Total kerugian harta langsung ( tidak termasuk kerugian net income, liability loss, atau
personal ) yang mungkin akan dialami perusahaan yang disebabkan oleh tabrakan armada atau
pengangkutan.
b. Banyaknya tabrakan per tahun
c. Total kerugian harta per tabrakan
Contoh kerugian ini berkenaan dengan satu jenis kerugian untuk semua unit yang dihadapkan
pada kerugian dengan satu penyebab (tabrakan). Distribusi probabilitas bisa dibangun untuk
berbagai kombinasi daripada:
1. Jenis kerugian
2. Unit-unit yang mengalami exposure ( kemungkinan merugi )
3. Penyebab kerugian
Akhirnya, untuk kebanyakan keputusan manajemen resiko, sebaiknya juga membangun
distribusi probabilitas untuk total kerugian sesudah pajak dan distribusi probabilitas kerugian
sesudah pajak pada setiap kejadian.

KONSEP PROBABILITAS
Dalam menjelaskan konsep mengenai probabilitas kita awali dengan menggunakan konsep
sample space atau lingkup kejadian dan event suatu kejadian/peristiwa.
Apabila W(s) merupakan jumlah keseluruhan bobot dalam set S, dan W(E) merupakan julah
keseluruhan bobot dalam subset E, maka probabilitas (P), yang menunjukkan jumlah tabrakan
kendaraan sedan dapat diekspresikan sebagai berikut :

S = Set peristiwa yang diamati


E = Subset
Apabila kita mengansumsikan bahwa keseluruhan kejadian dalam set (S) mempunyai tingkat
kemungkinan kejadian yang sama maka ekspresi diatas dapat disederhanakan sebagai berikut :

Dengan alur pemikiran yang sama pada probabilitas tidak terjadinya tabrakan mobil sedan adalah
:

1. AKSIOMA YANG MENDASARI DEFINISI PROBABILITAS


Tiga aksioma yang mendasari definisi probabilitas, yaitu :
1. Probabilitas adalah suatu nilai/angka yang terletak antara 0 dan 1 yang diberikan pada
masing-masing event
2. Jumlah hasil penambahan keseluruhan probabilitas dari event-event yang saling pilah dalam
set S adalah 1
3. Probalitas suatu event yang terdiri dari sekelompok event yang saling pilah dalam suatu set
adalah merupakan hasil penjumlahan dari masing-masing probabilitas yang terpisah.

2. PROBABILITAS MERUPAKAN APROKSIMASI ( PROBABILITY IS APPROXIMATE)


Hanya dalam kasus-kasus tertentu yang sangat jarang terjadi kita dapat mengetahui
probabilitasnya secara mutlak. Kejadian-kejadian ini kemudian diekspresikansebagai persentase
dari total exposure dalam rangka mendapatkan estimasi empiris dari probabilitas.
Dari sudut empiris maka probabilitas dipandang sebagai frekuensi terjadinya event dalamjangka
panjang yang dinyatakan dalam persentase.
PERCOBAAN ( TRIAL )YANG INDEPENDENT
Sama seperti 2 atau lebih eventyang idependent satu sama lain, maka hasil dari jumlah
percobaanpun dapat dianggap independent. Dalam kasus ini sample spase didefinisikan sebagai
serangkaian percobaan (succesive trials) dan hasilnya merupakan akibat apa yang terjadi
dalammasing-masing percobaan.
PERANAN EVENT ( OUTCOME ) YANG INDEPENDENT DAN ACAK(RANDOM)
Keacakan dan ketidakketergantungan (independent) event mempunyai peranan yang sangat
penting dalam asuransi. Underwriter akan berusaha untuk mengklasifikasikan unit-unit
exoposure kedalam kelompok-kelompok dimana kejadian atau ketugian dapat dianggap sebagai
event yang independent.
EVENT (OUTCOME) YANG BERULANG (REPENTED EVENT)
Apabila kita mengetahui bahwa probabilitasnya untuk terjadinya sesuatu dalam satu kali
percobaan p, dan probabilitas tidak terjadinya adalah q = 1 p, maka kita dapat menghitung
probabilitas terjadinya suatu event selkama r kali dalam n, kali percobaan dengan menggunakann
formula binominal. Formula binominal ini menggunakan konsep compound probability dan
additive rule seperti diuraikan sebelumnya dan dengan menggunakan formula ini kita akan dapat
menghitung distribusi binominal.
Sekalipun distribusi ini merupakan salah satu dari teori probabilitas yang digunakan dalam
asuransi, tetapi cara ini merupakan salah satu dari yang terpenting. Untuk dapat menggunakan
formula binominal ini maka diasumsikan bahwa kondisi-kondisi berikut ini dapat dipenuhi:
1. ada suatu event atau hasil yang bersifat saling pilah atau mutually exclusive.
2. probabilitas dari masing-masing event diketahui atau dapat diestimasikan
3. mengingat bahwa masing-masing event berdiri sendiri, makaprobabilitasnya tidak akan
berubah daru percobaan satu ke percobaan yang lainnya tetapi tetap konstan karena probabilitas
terjadinya event sudah diketahui dan hanya terdapat dua event maka probabilitas ini tidak
terjadinya event adalah 1-probabilitas terjadinya event (q = 1- p ).

EXPECTED VALUE ( NILAI HARAPAN )


Nilai harapan dari suatu event dapat ditentukan dengan membuat tabel untuk hasil-hasil yng
mungkin diperoleh untuk menilai masing masing hasil tersebut berdasarkan provbabilitasnya.
Dengan menambahkan hasil dari masing-masing event tersebut dapatlah diperoleh nilai harapan.
Perhatikan contoh dibawah ini !
Expected Value of Contract
Probabilitas Hasil Expected value
90% + Rp 4.000.000,- Rp 3.600.000,-
10% - Rp 4.000.000,- Rp 400.000,-
100% Rp 3.200.000,-

DUA MACAM TAFSIRAN TENTANG PROBALITAS


Tafsiran yang pertama yaitu timbulnya tafsiran tentang probabilitas 1/10.
Penafsiran tersebut berdasarkan :
1. Misalnya saja gudang. Gudang yang dikatakan sama atau serupa pada kenyataannya tidak
pernah persis serupa. Misalnya walaupun sama tetapi berbeda lokasi, konstruksinya dan
perawatannya.
2. Kondisi bisa berubah peninjauan masa lalu itu menyediakan sebagaian dasar untuk suatu
penafsiran probabilitas kerugian.

Penafsiran yang kedua sangat berfaedah dalam menetapkan tindakan yang diambil berkenaan
dengan exposure tersebut:
1. Peristiwa yang saling pilah ( mutually exclusive event)
Dua peristiwa yang dikatakan saling pilah adalah apabila terjadinya peristiwa yang satu
menyebabkan tidak terjadinya peristiwa yang lainnya.

2. Compound event
Adalah terjadinya dua atau lebih peristiwa terpisah selama dalam jangka waktu yang
sama.metode untuk menentukan suatu compound outcome tergantung atas apakah outcomes
terpisah itu merupakan peristiwa yang bebas.
3. peristiwa bersyarat ( conditional outcomes )
Bagaimana jika dua peristiwa yang terpisah itu tidak bebas maka perhitungan compound
probabilitas lebih rumit.
4. Peristiwa yang insklusif
Misalkan kita berhadapan dengan dua atau lebih peristiwa yang tidak mempounyai hubungan
saling pilah dan kita menginginkan mengetahui probabiklitas terjadinya paling sedikit satuc
peristiwa diantara dua peristiwa atau lebih itu. Jika peristiwa itu lebih dari dua maka proses
perhitungannya lebih rumit. Maka dari itu disini akan disajikan hanya probabilitas bahwa paling
sedikit satu dari peristiowa tersebut itu yang akan terjadi. Jika peristiwa A dan peristiwa B
merupakan peristiwa yang terpisah, maka probabilitas terjadi paling sedikit satu peristiwa adalah
jumlah kedua probabilitas terjadinya A atau B dikurangi dengan probabilitas terjadinya kedua
peristiwa tersebut :
P ( A atau B ) = P (A) + P (B) P ( A atau B )

TOTAL KERUGIAN PER TAHUN


Distribusi probabilitas total kerugian per tahun memperlihatkan masing-masing total kerugian
yang mungkin akan dialami oleh perusahaan yang bersangkutan, dalam tahun yang akan datang
dan probabilitas bahwa masing-masing total kerugian itu mungkin akan terjadi.

INFORMASI YANG AKAN DICARI


Jika manager resiko dapat memperkirakan distribusi probabilitas total kerugian dengan tepat,
maka akan dapat diperoleh informasi yang berkenaan dengan :
a. Probabilitas bahwa perusahaan akan menanggung sedikit kerugian
b. Probabilitas bahwa kerugian yang parah akan terjadi
c. Keruguian rata-rata pertahun
d. Variasi hasil yang mungkin

VARIASI HASIL YANG MUNGKIN


Dua probabilitas boleh jadi menunjukkan kerugian yang sam besarnya, tetapi variasi
distribusinya buisa berbeda. Makin besar variasinya maka makin besar pula resikonya. Jika
variasinya kecil, maka kerugian bisa diramalkan dengan baik dan karena itu perusahaan ini bisa
dinasehatkan untuk menanggung resiko itu dengan memasukkan sebagai biaya operasi. Jika
variasinya cukup besar dan hampir semuanya tidak dapat diperkirakan, maka dalam hal ini
sebiknya resiko ini dipindahkan ke orang lain atau pihak lain.
Sampai disini belum ada lat ukur yang disarankan untuk mengukur resiko, tetapi hubungannya
terhadap variasi dalam distribusi probabilitas telah diketahui.
Menurut teknik statistik, variasi nilai-harapan dapat diukur dengan menggunakan :
1. Deviasi Standar
Deviasi standar ini memberikan sebagian informasi tambahan:
a. Jika distribusi probabilitas itu bisa diperkirakan dengan distribusi normal, deviasi standar
bisa dipergunakan untuk menetapkan probabilitas bahwa outcome akan jatuh antara nilai
tertentu
b. Jika orang mengetahui rata-rata deviasi standar tetapi tidak mengetahui sedikit juga tentang
distribusi itu, orang masih bisa memperkirakan dengan keyakinan, probabilitas maksimum
bahwa akan berdeviasi dari nilai rata-rata dengan suatu besaran tertentu atau lebih.
c. Dengan memaksimumkan kondisi yang akan melatar belakangi sama, maka nilai harapan
dan deviasi standar keduanya akan bertambah jika jumlah unit diekspose terhadap kerugian,
bertambah pula.

2. Koefisien Variasi
Koefisien variasi merupakan ukuran yang lebih berfaedah, sebab nilai-nilai harapan sering
melayani sebagai predicted value dan koefisien variasi itu menunjukkan relatif error dalam
peramalan atau prediction.

BAGAIMANA MEMBANGUN DISTRIBUSI PROBABILITAS


Untuk membangun distribusi probabilitas dapat mempergunakan :
1. Data Historis
Dengan mengamati berulang kali berbagai kerugian potensial yang telah terjadi dalam jangka
waktu yang lama yang kondisinya serupa, maka dapat diperoleh informasi berapa kalikah
terjadinya kerugian itu dalam masa tertentu.tetapi jarang orang yang memiliki pengalaman yang
cukup luas untuk membangun distribusi probabilitas untuk menurut cara ini.
2. Distribusi Probabiliotas yang Teoritis
Distribusi Probabiliotas yang Teoritis Adalah distribusi yang bisa diharapkan terjadi berdasarkan
pengalaman-pengalaman sebelumnya atau berdasarkan kepada pertimbangan teoritis. Ada
banyak macam teoritis distribusi probabilitas, tetapi yang penting dibahas disini adalah distribusi
normal, distribusi binomial dan distribusi poisson.

BANYAKNYA KEJADIAN PER TAHUN


Jika kerugian per kejadian bervariasi secara luas, maka diperlukan distribusi probabilitas
kerugian perkejadian dan banyaknya kejadian pertahun untuk membangunm informasi mengenai
total kerugian per tahun. Bahkan dengan berkurangnya informasi mengenai total kerugian per
kejadian, manajer resiko akan memperbaiki pengertiannya tentang situasi resiko jika ia
mengetahui distribusi probabilitas dari banyaknya kejadian pertahun.
DISTRIBUSI POISSON
Distribusi probabilitas yang telah terbukti berguna dalam memperkirakan probabilitas bahwa
sebuah perusahaan akan menderita sejumlah tertentu kejadian selama tahun berikutnya adalah
distribusi poisson. Poisson menganggap tidak ada limit banyaknya tabrakan yang mungkin.
KERUGIAN PERKEJADIAN DALAM JUMLAH RUPIAH
Peneliti sudah berhasil menerangkan distribusi probabilitas tentang kerugian perkejadian.
Distribusi ini menyatakan probabilitas bahwa kerugian dalam satu kejadian akan
mengansumsikan berbagai nilai. Sebagai contoh diasumsikan kerugian yang mungkin
pertabrakan adalah Rp 500.000,- , Rp 1.000.000,- , Rp 5.000.000,- , dan Rp 10.000.000,- dengan
probabilitas masing-masing adalah 0,900, 0,080, 0,018 dan 0,002. Nilai harapannya adalah :
(0,900x500.000) + (0,80x1.000.000) + ( 0,018x5.000.000) + ( 0,002x10.000.000) = Rp 640.000
Kurva log normal dapat menerangkan secukupnya distribusi kerugian perkejadian bagi berbagai
jenis kerugian. Dengan distribusi ini orang dapat mengukur atau menghitung, antara lain
probabilitas bahwa kerugian perkejadian akan melebihi jumlah tertentu.

DISTRIBUSI KOMPONEN TOTAL KERUGIAN PERTAHUN DAN DISTRIBUSI


PROBABILITASNYA
Karena total kerugian dalam satu tahun merupakan hasil dari jumlah kejadian pertahun dan rata-
rata kerugian perkejadian, maka orang dapat membuat beberapa pernyataan atau daftar tentang
total kerugian dalam rupiah pertahun jika orang mempunyai distribusi probabilitas untuk
banyaknya kejadian dan kerugian perkejadian. Total kerugian-harapan pertahun sama dengan
jumlah harapan kejadian dikalikan dengan kerugian harapan perkejadian.

BAB 5
PENGENDALIAN RESIKO

PENDAHULUAN
Sesudah manajer resikomengidentifikasikan dan mengukur risiko yamg dihadapi
perusahaannya, maka ia harus memutuskan bagaimana menangani resiko tersebut. Ada dua
pendekatan dasar untuk itu :
1. Pengendalian Reasiko (risk control)
Pengendalian resiko, dijalankan dengan metode berikut :
a. menghindari resiko
b. Mengendalikan Resiko
c. Pemisahan
d. Kombinasi atau pooling
e. Pemindahan Resiko
2. Pembiayaaan Resiko (risk financing)
Pembiayaan Resiko, meliputi :
a. Pemindahan resiko melalui pembelian asuransi
b. Menanggung resiko (retention)

MENGHINDARI RESIKO
Salah satu cara mengendalikan resiko murni adalah menghindari harta, orang, atau kegiatan dari
exposure terhadap resiko dengan jalan :
1. Menolak memiliki, menerima, atau melaksanakan kegiatan itu walaupun hanya untuk
sementara
2. Menyerahkan kembali resiko yang terlanjur diterima, atau segera menghentikan kegiatan
begitu diketahui mengandung resiko. Jadi menghindari resiko berarti juga menghilangkan resiko.

PENGENDALIAN KERUGIAN (LOSS CONTROL)


Pengendalian kerugian dijalankan dengan :
1. Merendahkan kans (chance) untuk terjadinya kerugian
2. Mengurangi keparahannya jika kerugian itu memang terjadi
Kedua tindakan itu dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara :
1. Tindakan pencegahan kerugian atau tindakan pengurangan kerugian
2. Menurut sebab kejadian yang akan dikontrol
3. Menurut lokasi daripada kondisi-kondisi yang akan dikontrol
4. Menurut timing-nya

Metode Pencegahan kerugian dan Metode Pengurangan Kerugian


Program pencegahan kerugianberusaha mengurangi atau menghilangkan kans kerugian.
Program pengurangan kerugian bertujuan untuk mengurangi keparahan potensial dari kerugian.

Pengendalian Kerugian Menurut Sebab-sebab Terjadinya


Seacara tradisional teknik pengendalian kerugian diklasifikasikan menurut pendekatan yang
dilakukan :
1. Pendekatan engineering
2. Pendekatan hubunga kemanusiaan (human relations)

Pengendalian Kerugian Menurut Lokasi


Dr. Haddon menegaskan bahwa kemungkinan dan keparahan kerugian dari kecelakaan lalu-
lintas tergantung atas kondisi-kondisi dalam :
1. Orang yang mempergunakan jalan
2. Kendaraan
3. Lingkungan umum jalan raya yang melingkupi faktor-faktor seperti desain. Pemeliharaan,
keadaan lalu-lintas, dan peraturan. Konsep Haddon ini dapat diperluas pemakaiannya untuk
bentuk kerugian lain, misalnya :
Kerugian Lokasi
Kerusakan kebakaran terhadap
bangunan Orang yang menggunakan bangunan itu, dan masyarakat di sekitarnya.
Tanggung gugat produk Pemakai produk, pembuat produk-produk itu dan lingkungan hukum.

Pengendalian Menurut nTiming


Pendekatan ini mempertanyakan apakah metode itu dapat dipakaikan :
1. Sebelum kecelakaan
2. Selama kecelakaan
3. Sesudah kecelakaan

Klasifikasi yang kedua yang berdasarkan timing juga mengenalkan :


1. Phase perencanaan
2. Phase pengamanan perawatan
3. Phase darurat

ANALISIS KERUGIAN DAN ANALISIS HAZARD


Langkah pertama dalam pengendalian kerugian adalah untuk mengidentifikasikan dan
menganalisis :
1. Kerugian yang telah terjadi
2. Hazard yang menyebabkan kerugian itu atau yang mungkin menyebabkan kerugian di masa
datang
Langkah ini memerlukan :
1. Suatu sistem pelaporan yang komprehensif
2. Inspeksi secara berkala

ANALISIS KERUGIAN
Untuk mendapatkan informasi atas kerugian, maka pengendali kerugian perlu membangun :
1. Jaringan pemberi informasi
2. Formulir untuk melaporkan kerugian

ANALISIS HAZARD
Analisis Hazard tidak dapat dibatasi pada analisis hazard yang te;ah menyebabkan kecelakaan
saja. Perlu menyelidiki hazard yang mungki n akan muncul, berdasarkan pengalaman
perusahaan lain, atau pengalaman perusahaan asuransi. Misalnya hazard dalam produk baru
seperti obat baru merupakan hazard yang belum pernah dialami olehperusahaan lain, tapi melalui
percobaan laboratorium hazard itu mungkin ditemukan.
Alat-alat baru dalam menemukan hazard melalui inspeksi adalah :
1. Checklist
2. Fault free analysis

MENENTUKAN KELAYAKAN EKONOMIS


Walaupun pencegahan segala kerugian diinginkan, tetapi ditinjau dari sudut manfaat dan
biaya, tidak selalu economically feasible. Oleh karena itu pertimbangan yang bersifat ekonomis
harus dilakukan.

Biaya yang timbul karena kecelakaan


Biaya yang timbul karena kecelakaan ini sering dialokasikan jauh lebih rendah dari jumlah
yang mungkin terjadi, hal ini disebabkan karena adanya biaya-biaya lain yang tersembunyi yang
secara langsung tidak terlihat pada kecelakaan itu sendiri. Diantara biaya-biaya itu adalah :
1. Biaya karena hilangnya waktu kerja bagi pegawai yang cedera.
2. Biaya karena hilangnya waktu kerja pegawai lain, karena menolong yang cedera.
3. Biaya dari waktu yang terpakai bagi supervisor menyiapkan laporan kecelakaan itu serta
melatih pegawai lainuntuk menggantikan pegawai yang cedera.
4. Biaya berkenaan dengan rusaknya mesin, peralatan, atau harta yang lain : seperti material
yang terbuang.
5. Biaya berkenaan dengan pembayaran penuh gaji karyawan yang pulih dari cederanya,
walaupun kemampuan kerjanya menurun.
6. Hilangnya waktu produksi.

Biaya Pengendalian Kerugian


Biaya pemasangan dan perawatan peralatan pengendalian kerugian dapat dibagi ke dalam tiga
kategori :
1. Pengeluaran modal dan depresisasi untuk alat pencegah seperti dinding tahan api, peralatan
seperti pompa pemadam api.
2. Pengeluaran seperti gaji, tunjangan, pakaian, biaya, training, dan sebagainya bagi penjaga,
supervisor, regu pemadam kebakaran, konsultasn, dan sebagainya.
3. Pengeluaran untuk menjalankan program seperti biaya manual dan lain-lain alat bantu,
inspeksi dan perawatan preventif, dan sebagainya.

PEMINDAHAN RESIKO
Pemindahan resiko dapat dilakukian dengan tiga cara :
1. Harta milik atau kegiatan yang menghadapi resiko dapat dipindahkan kepada pihak lain,
baik dinyatakan dengan tegas, maupun berikut dengan berbagai transaksi atau kontrak
2. Resiko itu sendiri yang dipindahkan
3. Suatu risk financing transfer menciptakan suatu loss exposure untuk transferee. Pembatalan
perjanjian itu oleh transferee dapat dipandang sebagai cara ketiga dalam risk control transfer.
Dengan pembatalan itu, transferee tidak bertanggung jawab secara hukum untuk kerugian yang
semula ia setujui untuk dibayar.
BAB 6
PEMBELANJAAN RESIKO
(RISK FINANCING)

PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan dijelaskan pembelanjaan (pembiayaan) yang berhubungan dengan cara-cara
pengadaan dana untuk memulihlkan kerugian. Cara ini terdiri dari :
1. Risk financing transfer (memindahkan resiko disertai dengan pembiayaan)
2. Risk retention (resiko ditangani sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan)

RISK FINANCING TRANSFERS


Peminfahan resiko melalui pengendalian resiko, tidak memerlukan pengerahan dana karena
dijalankan dengan :
1. Memindahkan harta atau kegiatan yang bersangkutan kepada pihak lain.
2. Memindahkan tanggung jawab kepada transferee dengan maksud menghilangkan atau
mengurangi tanggung jawab transferor terhadap kerugian yang ersangkutan.
3. Menganggap kerugian yang bersangkutan dipihak lain.

Noninsurance Transfer
Kebanyakan peminahan resiko kepada pihak nonasuransi ini dilakukan melalui kontrak-
kontrak bisnis biasa, dan melalui kontrak khusus untuk pemindahan resiko. Banyak isi kontrak
ini berkenaan dengan pemindahan tanggung jawab keuangan atas :
1. Harta
2. Kerugian atas net income
3. Kerugian personil
4. Tanggung-gugat (liabilities) kepada pihak ketiga

MENANGGUNG SENDIRI RESIKO (RISK RETENTION)


Metode yang paling umum penanganan resiko adalah penanggungan sendiri oleh perusahaann
yang bersangkutan. Sumber dananya diusahakan oleh perusahaan yang bersangkutan.
Penanggungan sendiri ini biasanya bersifat pasif atau tidak direncanaka (unplanned retention)
bisa bersifat aktif ataundirencanakan (planned retention).
Dikatakan pasif atau tidak terencana, bila manajer resiko tidak memperhatikan tentang adanya
exposure dan karena itu tidak melakukan usaha apapun untuk menanganinya. Sedikit sekali
perusahaan yang telah mengidentifikasi semua exposure terhadap kerugian harta benda, kerugian
tanggung-gugat dan kerugian personil. Sebagai akibatnya, penanggungan resiko yang tidak
terencana ini merupakan hal yang umum dijumpai bahkan tak terelakkan. Kadang-kadang juga
dijumpai bahwa mereka telah mengidentifikasikan resiko, tetapi menaksirnya terlalu rendah
(under estimat) besarnya kerugian tersebut.
Retention disebut aktif, bila manajer mempertimbangkan metode-metode lain untuk
menangani resiko dan kemudian memutuskan secara sadar untuk tidak memindahkan kerugian
potensial itu. apakah satu planned retention adalah rasional atau tidak rasional tergantung atas
keadaan yang melingkupi pengabilan keputusan untuk menanggung resiko itu sendiri, tetapi
ternyata ditanggung oleh perusahaan yang bersangkutan. Sebaliknya ada pula ditemukan bahwa
sesuatu resiko seharusnya ditanggung sendiri, ternyata diasuransikan.

Ikhtisar Faktor-faktor yang Mendorong dan Menghambat Retention


Dibawah ini akan diberikan ikhtisar yang mendorong pemakaian retention dan faktor-faktor
yang menghalanginya.
Hal-hal yang Mendorong pemakaian peralatan retention
1. jika biayanya lebih rendah dari biaya yang dibebankan pihak perusahaan asuransi.
2. Jika kerugian harapan (expected losses) lebih rendah dari perkiraan perusahaan asuransi
3. Jika unit menghadapi resiko (exposure unit) banyak, sehingga resiko akan menjadi lebih
rendah karena perusahaan itu akansanggup memperkirakan probabilitas kerugiannya dengan
akurat
4. Tujuan manajemen resiko yang menerima variasi yang besar dalam kerugian tahunan
5. Pembayaran expense dan kerugian membengkak selama jangka waktu yang panjang, yang
menghasilkan opportunity cost yang besar
6. Peluang yang kuat bagi investasi, yang mengakibatkan opportunity cost yang besar
7. Keuntungan pelayanan internal atau noninsurance servicing

Retention dibuat kurang menarik oleh faktor-faktor sebagai berikut :


1. Biaya yang lebih besar daripada biaya yang dibebankan pihak asuransi
2. Kerugian harapan lebih besar daripada kerugian yang diperkirakan perusahaan asuransi
3. Exposure unit sedikit jumlahnya, yang berarti bahwa resiko akan tinggi dan perusahaan
yang bersangkutan tidak akan sanggup untuk meramalkan kerugiannya dengan ketepatan yang
memuaskan
4. Ketidakmampuan keuangan menopang maksimum possible losses atau maximum probable
losses dalam short run
5. Tujuan manajemen resiko yang ditekankan kepada ketenangan pikiran dan pada variasi
laba tahunan yang kecil
6. Pembayaran kerugian dan expense membengkak selama jangka waktu yang pendek jadi
mengurangi opportunity costs
7. Peluang investasi yang terbatas serta pengembaliannya yang rendah
8. Lebih menguntungkannya jasa perusahaan asuransi
9. Peraturan perpajakan bisa pula menyebabkan retention menjadi kurang menarik
BAB 7
PEMINDAHAN RESIKO KEPADA
PERUSAHAAN ASURANSI

Asuransi bukanlah satu-satunya peralatan dasar manajemen resiko. Meskipun begitu ia


mmerupakan sarana yang paling penting daripada teknik transfer resiko dan merupakan dasar
dari kebanyakan program manajemen resiko.

Definisi Asuransi
Asuransi dapat didefinisikan dari dua sudut pandangan. Pertama asuransi sebagai
perlindunganterhadap keuangan yang disediakan pihak insurer. Kedua, asuransi alat
penggabungan resiko dari dua atau lebih orang-orang atau perusahaan-perusahaan melalui
sumbangan aktual atau yang dijanjikan untuk membentuk dana guna membayar klaim. Dari
sudut pandangan orang yang diasuransikan asuransi merupakan peralatan retensi resio dan
kombinasi resiko.

Asuransi Bukanlah Perjudian


Pembelian asuransi kadang-kadang dikelirukan dengan perjudian. Keduanya menanggung
bersama satu karakteristik. Baik tertanggung maupun penjudi, keduanya mungkin menerima
lebih banyak uang daripada yang mereka bayarkan, hasilnya ditentukan oleh kejadian
berpeluang. Akan tetapi melalui pembelian asuransi, tertanggung memindahkan resiko murni
yang ada, sedangkan seorang penjudi menciptakan resiko spekulatif,

Perbedaan Antara Asuransi dan Bonding


Dari sudut obligee, perlindungan disediakan oleh surety bonds adalah mirip asuransi.
Selanjutnya, surety yang berbadan hukum dianggap sebagai insurer dalam segi hukum,
nsebagian besar perusahaan asuransi kerugian yang besar memiliki bonding departemen
tersendiri.

Manfaat dan Biaya Asuransi


Asuransi seperti kebanyakan lembaga-lembaga lainnya, menyajikan kepada masyarakat,
manfaat dan biaya. Pertama akan dibahas manfaat-manfaat tersebut.
Manfaat
Idemnifivication. Manfaat asuransi yang sebenarnya adalah mengganti kerugian bagi mereka
yang menderita kerugian ta diharapka
Mengurangi ketidakpastian (Reduction of Uncertainty). Manfaat yang lebih berarti tapi kurang
nyata dari asuransi muncul dari kenyataan bahwa asuransi itu dapat :
1. Menghilangkan resiko, ketidakpastian, dan reaksi pribadi terhadap resiko bagi pihak
tertangung individual
2. Mengurangi total resiko, ketidakpastian dan reaksi sebaliknya terhadap resiko ini dalam
masyarakat

Perusahaan Asuransi Sebagai Sumber Dana Untuk Investasi


Perusahaan asuransi ialah satu lembaga keuangan bukan bank dapat mengerahkan dana-dana
yang tersedia untuk investasi pada bidang lain diluar asuransi, tidak hanya karena resiko yang
kecil tetapi juga karena adanya suatu pemasukan yang konstan, sehingga jumlah uang yang
tersedia selalu melebihi cadangan pembayaran klaim.

Bantuan Bagi Perusahaan Kecil


Asuransi meningkatkan semangat bersaing, sebab tanpa perusahaan asuransi, perusahaan
kecila akan menghadapi suatu persaingan yang kurang efektif terhadap perusahaan besar.
Perusahaan besar dapat dengan aman mengatasi beberapa resiko, tetapi jika resiko seperti itu
menjelma menjadi kerugian akan dapat menghancurkan perusahaan kecil. Tanpa asuransi ,
perusahaan kecil akan menanggung beberapa resiko dan akan kurang menarik menanamkan
tenaga dan modal dalam perusahaan.

Syarat-syarat Ideal Resiko yang Dapat Diasuransikan


Resiko yang dapat diasuransikan haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Kerugian potensial cukup besar tetapi probabilitasnya tidak tinggi, sehingga membuat
perusahaan asuransi dapat bekerja seekonomis mungkin
2. Probabilitas kerugian dapat diperhitungkan
3. Terdapat sejumlah besar unit yang terbuka (expose) terhadap resiko yang sama (massal dan
homogen)
4. Kerugian yang terjadi bersifat kebetulan (fortuitous)
5. Kerugian tertentu (definite)
6. Bukan resiko Catastrope (bencana besar yang serentak)

Resiko-resiko yang Tidak dapat Ditanggung Oleh Asuransi


Contoh-contoh dari resiko yang umumnya dipertimbangkan tidak bisa dijamin oleh asuransi
swasta melalui saluran-saluran yang normal adalah yang berhubungan dengan kerugian-kerugian
yang disebabkan air bah terhadap real estate (kecuali untuk keadaan tertentu), Bank Insolvencies
(tidak mampu membayar), dan pengangguran.

Resiko Yang Bisa Ditanggung hanya Oleh Perusahaan Asuransi Pemerintah


Perusahaan asuransi pemerintah bisa menanggung resiko-resiko yang tidak bisa ditanggung
oleh perusahaan asuransi swasta, karena pemerintah bisa menjadikan asuransi itu wajib. Karena
itulah pemerintah dapat mnyebarkan biaya program itu atas exposure yang kualitasnya
bervariasi.
Melalui kekuatan perpajakannya, pemerintah mungkin juga mensubdsidi program-program
masyarakat atau swasta, bahkan perusahaan asuransi pemerintah, malahan lebih suka operasi
yang lebih stabil yang dimungkinkan apabila penaksiran resiko merupakan aproksimasi resiko
ideal yang bisa ditanggung.
Penggunaan asuransi Bersama Metode Penanggungan Resiko yang Lain
Deductible dan excess insurance merupakan contoh peralatan asuransi yang membuat
penggunaan kombinasi ini menjadi mungkin. Deductible memungkiinkan tertanggung untuk
memikul semua atau tipe tertentu dari kerugian sampai batas suatu jumlah tertentu, sementara
penanggung menanggung semua atau sebagian kerugiab diatas batas jumlah yang telah
ditentukan itu. secra normal tertanggung boleh memilih salah satu dari beberapa jumlah
deductible.
Excess Insurance adalah salah satu bentuk dari asuransi yang deductible, dua istilah ini sering
digunakan dengan arti yang sama, jika kerugian potensial yang harus diukur itu oleh tertanggung
jumlahnya bisa diukur. Tetapi excess Insurance telah mempunyai arti yang lebih khusus. Jumlah
minimum yang harus dipikul oleh tertanggung biasanya ditetapkan oleh perundingan antara
tertanggung dengan penanggung dan biasanya sama dengan kerugiam maksimum yang mungkin
terjadi. Selain dari penempatan jumlah deductible melalui perundingan-[erundingan khusus,
insurer tersebut biasanya menawarkan pilihan dari beberapa jumlah deductible yang spesifik.
Perbedaan yang lain antara asuransi deductible biasanya memberikan servis pengendalian
kerugian dan claim adjusment services terhadap seluruh kerugian. Sementara pada asuransi
excess orang yang diasuransikan harus mencari servis itu dari luar pihak atau melakukannya
sendiri, maka dari itu asuransi excess kurang populer dari asuransi deductible dan hanya
bermanfaat untuk bisnis besar.

BAB 8
SUATU PENDEKATAN KUALITATIF
DALAM PEMILIHAN METODE PENANGANAN RESIKO

PENDAHULUAN
Dalam praktek, disebabkan perubahan-perubahan yang cepat dari lingkungan resiko, perlunya
untuk bereaksi dengan cepat terhadap masalah yang mendesak, dan keterbatasan-keterbatasan
baik yang bersifat kelembagaan maupun yang berhubungan dengan faktor manusia, maka
seringkali manajer resiko pada suatu waktu terperangkap mengurusi satu bagian saja dari total
program manajemen resikonya.

PENDEKATAN DUA LANGKAH


Salah satu pendekatan terhadap perencanaan total resiko adalah suatu prosedur dua langkah
yang sering pula disebut sebagai metode asuransi.

PENDAFTARAN SEMENTARA
Dalam langkah pertama, manajer resiko harus menetapkan: pertama, kombinasi penutupan
asuransi yang dapat memberikan perlindungan terbaik terhadap resiko yang dihadapi perusahaan
yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengadaka perlindungan yang paling lengkap
dengan biaya yang paling murah.
Manajer resiko harus memilih limit dari kebijaksanaan yang memberi perlindungan, selengkap
mungkin. Umumnya limit kebijaksanaan dalam daftar sementara ini seharusnya sama dengan
kerugian maksimum yang mungkin, tetapi kadang-kadang kerugian ini melebihi penutupan
maksimum yang tersedia.
Sesudah manjer resiko menetapkan kombinasi penutupan yang terbaik dan limit
kebijaksanaan, maka ia membagi kontrak asuransi kedalam 3 golongan :
1. Penutupan yang esensial
2. Penutuoan yang diinginkan
3. Penutupan yang tersedia

Penutupan yang esensial ialah penutupan yang diwajibkan oleh undang-undang (misalnya
kompensasi tenaga kerja, ASTEK), atau yang diwajibkan oleh perjanjian (seperti perjanjian
dengan serikat buruh, perjanjian dengan pemberi hipotik, dan sebagaiya).

Membuat Daftar Yang Telah Diperbaiki


Setelah daftar sementara itu lengkap, manajer resiko lalu meninjau kontrak-kontrak dalam
masing-masing golongan untuk menetapjan yang mana di antara kerugian itu yang mungkin bisa
ditangani lebih memuaskan dengan cara-cara lain.
Dalam membuat keputusan-keputusan ini manajer resiko dapat menimbang manfaat dari
setiap metode (sarana) yag ada atau dapat menerapkan pendekatan kuantitatif.
Manajer resiko cenderung pada penutupan yang diinginkan terhadap jenis analisis yang sama.
Kasus bagi metode non insurance lebih kuat dengan penghargaan pada penutupan-penutupan ini,
sebab akibat daripada tidak mengasuransikan tidak akan parah.
Selagi asuransi merupakan yang diinginkan dan jika metode lain penanganan resiko tidak
menarik, maka asuransi sebaliknya dibeli. Sebagai yang berkenaan dengan penutupan yang
esensial maka manajer resiko akan memutuskan untuk membeli asuransi dengan ketentuan dapat
dirabat (deductible provision).
Pembelian suatu asuransi, sebagian ada yang disebabkan oleh service tertentu yang ditawarkan
oleh pihak perusahaan asuransi, di mana service tersebut dipandang oleh manajer resiko yang
bersangkutan bernilai tinggi.
Kontrak-kontrak asuransi yang esensial dan diinginlkan yang belum dihapuskan dalam
pendaftaran kedua ini seharusnya dibeli jikalau kebutuhan dari dana premi tidak lebih penting.
Asuransi apakah yang akan merupakan isi kedua kelas ini, tergantung atas beberapa faktor
pebdukung seperti berikut ini :
1. Status ekonomi dari perusahaan yang bersangkutan
2. Obyektif manajemen resiko perusahaan yang bersangkutan
3. Sifat daripada exposure
4. Sikap penolakannya terhadap resiko
5. Ketetapan pengukuran kerugian potensial
Selanjutnya manajer resiko mestinya mempertimbangkan tentang apa yang harus dilakukan
terhadap resiko-resiko yang tidak tertulis dalam daftar yang pertama, disebabkan oleh tidak
tersedianya jasa asuransi terhadap kerugian semacam itu. contoh daftar itu yang sudah
dipersingkat diberikan di bawah ini :
A. Penghindaran (tidak mungkin)
B. Pencegahan dan pengurangan kerugian
1. Inspeksi keselamatan harta benda
2. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pegawai-pegawai yang penting
C. Penanggungan sendiri
1. Kerugian-kerugian sampai Rp. 1.000.000,- bagi jenis mana saja
2. Kerugian yang bersifat tanggung gugat yang melebihi batas yang ditentukan, diperoleh dari
asuransi.
D. Pemindahan resiko yang bukan kepada asuransi
1. Persetujuan leasing bagi peralatan dan gedung
E. Asuransi (dengan Rp. 1.000.000,- yang bersifat deductible sepanjang jasa itu tersedia)
1. Prioritas pertama (esensial)
a) Asuransi kompensasi peerja
b) Asuransi tanggung gugat bagi pekerja
c) Asuransi harta milik atas gedung
2. Prioritas kedua (bersifat diinginkan)
a) Asuransi kerusakan kendaraan bermotor
b) Asuransi ketidakmampuan bagi personal penting

3. Prioritas ketiga (bila tersedia)


a) Asuransi kaca jendela dan dinding kaca
b) Asuransi leasing

Walaupun metode asuransi yang telah dijelaskan di atas ditujukan pada pendekatan perencanaan
total resiko, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk program manajemen resiko yang berkenaan
dengan sesuatu resiko saja. Misalnya jika seseorang manajer resiko ingin membeli asuransi,
maka berfaedah mengelompokkan asuransi itu atas esensial, diinginkan dan tersedia.
BAB 9
PENDEKATAN KUANTITATIF DALAM PROSES PEMILIHAN
METODE PENANGANAN RISIKO

Pemilihan metode yang akan dipakai untuk menangani risiko berdasarkan pendekatan ini
dimulai dengan membuat sebuah tabel matrik kerugian yang mungkin yang memperlihatkan
berbagai kemungkkinan atau biaya yang harus dikeluarkan bagi setiap keputusan yang mungkin,
dan bagi setiap outcome yang mungkin.
Penerapan pendekatan ini agak terbatas, disebabkan oleh beberapa hambatan sebagai berikut :
1. Data yang diperlukan tidak ada atau tidak mencukupi.
2. Kemungkinan kurangnya pengalaman penggunaan cara ini.
Walaupun adanya keterbatasan tersebut di atas, pendekatan ini sangat bermanfaat dalam
menetapkan sesuatu keputusan manajemen yang penting.

MATRIK KERUGIAN
Untuk menggambarkan konsep matrik kerugian anggaplah bahwa sebuah gedung yang
memiliki oleh suatu perusahaan dihadapkan pada suatu kerugian karena kebakaran dan yang
akan terjadi adalah kerugian total atau sama sekali tidak ada kerugian. Selanjutnya anggaplah
bahwa manajer risiko harus memutuskan antara tiga (3) perangkat tindakan yaitu :
1. Untuk menanggung (retain) risiko.
2. Untuk menanggung (retain) risiko serta menambah beberapa usaha pengamanan sehingga
mengurangi kans suatu kebakaran.
3. Untuk membeli perlindungan asuransi.
Matrik kerugian di bawah ini memperlihatkan kerugian bagi setiap keputusan dari ketiga
kemungkinan tindakan dalam contoh ini, sebalum mempertimbangkan pengaruh pajak
pendapatan. Kerugian-kerugian itu jatuh ke dalam dua kategori :
1. Kerugian secara kebetulan yang akan terjadi hanya jika ada sesuatu kebakaran.
2. Biaya yang akan timbul baik ada kebakaran maupun tidak ada kebakaran.
Kerugian secara kebetulan (accidental losses) ini dapat dibagi lagi kedalam :
1. Yang dapat diasuransikan.
2. Yang tidak dapat diasuransikan.

Tabel 9.1
MATRIK KERUGIAN SEBELUM PAJAK
Keputusan Outcome
Kebakaran Tidak ada kebakaran
1

Menanggung risiko
Menanggung risiko dan menambah peralatan pengamanan

Membeli asuransi Kerugian yang dapat diasuransikan


Kerugian yang tidak dapat diasuransikan.

Kerugian yang diasuransikan.


Kerugian yang tidak dapat diasuransikan.
Biaya peralatan pengamanan.

Premi asuransi pertahun Rp. 200.000.000,-

Rp. 12.000.000,-

Rp. 200.000.000,-

Rp. 12.000.000.-

Rp. 6.000.000.-
Rp, 218.000.000,-

Rp. 10.000.000,- _

Biaya peralatan pengamanan


Premi asuransi Rp. 0,-

Rp.6.000.000,-
Rp.6.000.000,-

Rp.10.000.000,-

PENGARUH PAJAK TERHADAP KEPUTUSAN


Sampai pada titik ini. Uraian-uraian mengakibatkan pengaruh pajak. Pada contoh berikutnya
kita misalkan tarif pajak rata-rata 50%. Dengan demikian kerugian sebesar Rp. 200.000.000,-
sesudah pajak akan menjadi 50% X Rp. 200.000.000,- = Rp. 100.000.000,-, biaya kredit akan
menjadi 50% X Rp. 12.000.000,- = Rp 6.000.000,-. Maka total kerugian sesudah pajak adalah
Rp. 106.000.000,-
Tabel di bawah ini memperlihatkan baiaya dan kerugian yang diperhitungkan sesudah pajak.

PENGARUH KECEMASAN DALAM MENETAPKAN KEPUTUSAN


Kecemasan tentang kemungkinan terjadinya kerugian, dalam uraian di atas, belum
diperhitungkan sebagai baiaya. Nilai kecemasan tentu saja itu merupakan faktor yang sangat
subyektif. Nilai itu tergantung atas distribusi probabilitas dari pada :
- Ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi menurut perasaan pribadi manajer risiko yang
bersangkutan.
- Risiko-risiko lain yang dihadapi perusahaan yang bersangkutan.
- Tujuan manajemen risiko perusahaan yang bersangkutan.
Tujuan manajemen risiko akan mempengaruhi faktor kecemasan tersebut sebab :
1. Tujuan manajemen risiko menentukan seberapa besar pentingnya kecamasan itu seharusnya
ditempatkan pada kerugian potensial.
2. Tujuan manajemen risiko mencerminkan sikap perusahaan yang bersangkutan terhadap
risiko.

Tabel 9.2
MATRIK KERUGIAN SESUDAH PAJAK
Keputusan Outcome
Kebakaran
1

3 Memikul risiko

Memikul risiko dengan menambah usaha pengamanan.

Membeli asuransi Kerugian yang dapat diasuransikan


Kerugian kebetulan yang tidak dapat diasuransikan.

Kerugian yang diasuransikan.


Kerugian yang tidak dapat diasuransikan.
Biaya usaha pengamanan.

Premi asuransi Rp. 100.000.000,-

Rp. 6.000.000,-
Rp. 106.000.000,-

Rp. 100.000.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp. 3.000.000,-
Rp. 109.000.000,-
Rp. 5.000.000,- _

_
_

Rp. 3.000.000,-
Rp. 3.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Misalnya suatu kerugian potensial yang akan menyababkan turunnya laba tiap saham 20%
adalah penting jika batas turunnya laba tiap saham yang masih bisa di tolerir adalah 10%, tetapi
tidak akan mencemaskan, jika tujuan perusahaan adalah mempertahankan keberadaannya. Begitu
pula bila tujuan adalah kestabilan laba dengan target fluktuasi turunnya laba harus kurang dari
30%, maka kemungkinan akan turunnya laba 20% tidaklah merisaukan.

OBYEKTIF DAN ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Adalah tidak mungkin untuk mempertimbangkan masing-masing obyektif yang mungkin
yang akan dicapai manajer risiko dalam kasus ini, meskipun demikian beberapa obyektif yang
umum kiranya sudah mencukupi untuk dibahas. Obyektif itu akan dibagi ke dalam kategori
utama :
1. Obyektif yang menganggap manajer risiko tidak dapat memperkirakan probabilitas kerugian
kebakaran.
2. Obyektif yang menganggap manajer risiko dapat memperkirakan probabilitas kerugian
tersebut.

Tabel 9.3
MATRIK KERUGIAN SESUDAH PAJAK
Keputusan Outcome
Kebakaran
1
2

3 Menanggung risiko

Menanggung risiko usaha baru pengamanan.

Membeli asuransi. Kerugian yang dapat diasuransikan.


Kerugian kebetulan yang tidak dapat diasuransikan.
Kecemasan.

Kerugian yang tak dapat diasuransikan.


Kerugian kebetulan yang tak dapat diasuransikan.
Kecemasan
Biaya ekstra pengamanan.

Premi asuransi Rp. 100.000.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp. 4.000.000,-
Rp. 110.000.000,-

Rp. 100.000.000,-

Rp. 6.000.000,-
Rp. 3.000.000,-
Rp. 3.000.000,-
Rp. 112.000.000,-
Rp. 5.000.000,- _

Rp. 4.000.000,-
Rp. 4.000.000,-

Rp. 3.000.000,-
Rp. 3.000.000,-
Rp. 6.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

BAB 10
METODE KECEMASAN UNTUK
MENSELEKSI TEKNIK PENANGANAN RISIKO

PENDAHULUAN
Banyak variasi cara di mana seseorang manajer risiko dapat memilih teknik-teknik manajemen
risiko untuk dgunakan dalam suatu keadaan tertentu. Dua buah contoh penting yang sangat
disederhanakan telah digunakan untuk menggambarkan aplikasi dari metode kecemasan.

PENINJAUAN METODE KECEMASAN


Dengan metode kecemasan, manajer risiko memilih keputusan yang dalam waktu lama (long
run) akan menghasilkan kerugian rata-rata pertahun yang paling rendah. Termasuk di dalam
kerugian tersebut adalah suatu nilai yang dibebankan untuk menanggung kecemasan sebab
dengan fluktuasi kerugian lebih dari tahun ke tahun.
Nilai ini sangat subyektif sekali, tetapi bila kerugian-kerugian diharapkan akan menjadi tinggi
dalam suatu tahun tetentu, bisa menyebabkan mesalah-masalah keuangan yang besar bagi
perusahaan tersebut. Penerapan berikut ini diatur untuk member keterangan lebih lanjut atas
metode ini.

KASUS
Seorang manajer resiko dari sebuah perusahaan menengah harus menentukan bagaimana
menangani kerugian-kerugian harta benda yang potensial dari yang mungkin diderita perusahaan
tersebut karena memiliki bangunan dengan segala isinya dalam suatu lokasi pinggiran kota.
Kerugian-kerugian personil dan tanggung jawab sehubungan dengan kerugian-kerugian harta
benda itu dapat diabaikan.
Neraca perusahaan itu menunjukkan asset Rp 500.000.000,- utang Rp 300.000.000,- capital
dan retained earning sebesar Rp 200.000.000,-. Berdasarkan laporan operasi perusahaan tahun
laiu penjualannya adalah Rp 400.000.000,- pengeluaran Rp 350.000.000,- dan pendapatan
sebelum pajak Rp 50.000.000,-
Distribusi probabilitas dari kerugian selama tahun mendatang berbeda-beda tergantung apakah
sebuah sprinker otomatis digunakan atau tidak.

BAB 11
EKSPOSURE KERUGIAN TERHADAP PENDAPATAN

PENDAHULUAN
Kerugian harta yang sifatnya langsung dan tidak langsung, yang dibicarakan di sini pada
dasarnya tidaklah hanya kerugian-kerugian yang terjadi ketika hak milik tersebut rusak, hancur,
atau hilang saja. Perusahaan mungkin mengalami menurunnya pendapatan jika harta yang rusak
itu mengganggu produksi dan kegiatan lain, seluruhnya maupun sebagai akibatnya antara lain :
1. Menurunnya pendapatan atau
2. Meningkatnya biaya-biaya

Beberapa kejadian utama yang menurunkan pendapatan sabagai akibat dari kerugian kebetulan
yang terjadi terhadap hak milik termasuk :
1. Kerugian sewa
2. Tergantungnya kegiatan perusahan
3. Tergantungnya operasi perusahaan pemasok atau pemakai
4. Berkurangnya laba pada barang jadi
5. Pengumpulan piutang mengecil

KERUGIAN SEWA
Seandainya bangunan secara tidak sengaja rusak atau hancur, dan apabila perjanjian
menyebutkan bahwa penyewa tidak bertanggung jawab untuk membayar sewa selama periode
hak milik tersebut tidak dapat dipergunakan, maka si pemilik menderita rugi sewa, dikurangi
beberapa biaya selama masa untuk memperbaiki gedung itu sampai seperti semula.

TERGANGGUNYA KEGIATAN PERUSAHAAN


Karena harta dirusak atau dirubuhkan, perusahaan atau organisasi lain mungkin akan menutup
atau mengurangi kegiatan. Sebagai contoh, sebuah toko mungkin akan menutup pintunya atau
sebagian unit toko disebabkan hartanya diperbaiki. Toko tersebut jika dirusak atau diperbaiki,
tidak saja penutupan unit tersebut, tetapi juga termasuk peralatannya dan barang-barang untuk
dijual. Pabrik mungkin akan berhenti atau mengurangi hasil produksi, karena adanya
pengurangan faktor produksi seperti peralatan pabrik, mesin, investaris bahan baku atau barang
dalam proses. Kerugian karena terganggunya perusahaan seperti itu meliputi :
1. Laba bersih perusahaan yang akan diperoleh jika perusahaan tidak terganggu.
2. Pengeluaran (biaya) yang tetap yang harus dibayar, seperti gaji pegawai, penyusutan, premi
asuransi dan sebagainya.

Kerugian Netto atas laba akan tergantung atas :


a. Keadaan perekonomian
b. Keadaan umum perusahaan perusahaan dalam kelompok industry itu
c. Keadaan perusahaan itu sendiri.

Karena itu, trend, cyclical, dan faktor musim dipertimbangkan dalam memperkirakan kerugian
itu. Pembuatan daftar laba performa selama berbagai periode penutupan itu, sangat menolong
dalam memperkirakan kerugian-kerugian itu.

TERGANGGUNYA KESATUAN PERUSAHAAN


Beberapa perusahan hanya tergantung pada satu pemasok untuk menyediakan tenaga, bahasa
atau peralatan. Gangguan pada operasi perusahaan pemasok tunggal, akan menyebabkan
terganggunya pula kegiatan produksi dn penjualan perusahaan. Demikian pula perusahaan yang
hanya menjual kepada pemakai tunggal, jika pemakai itu terganggu kegiatannya maka
konsekuensinya adalah pembelian perusahaan itu akan berkurang pula maka perusahaan tentu
akan menderita kerugian. Kerugian seperti ini disebut CONTINGENT BUSINESS
INTERUPTION LOSS.

KERUGIAN ATAS PENDAPATAN YANG BERKENAN DENGAN BARANG JADI


Seperti yang diuraikan diatas, kegiatan perusahaa pabrik dianggap terganggu jika proses
produksi, dan penjualan terganggu. Karenanya jika barang jadi rusak atau terpaksa dimusnahkan
maka pengusaha pabrik akan mengalami kerugian terhadap pendapatannya, karena tidak bisa
diualnya barang jadi itu sebagaimana mestinya. Karena itu pengusaha pabrik perlu pula
mempertimbangkan di antara eksposure laba netto kemungkinan kehilangan sebagian laba
sebagai kerusakan barang jadi.
Kehilangan laba pedagang, yang disebabkan rusaknya atau diambilnya barang mereka yang
akan dijual sudah termasuk dalam kerugian akibat gangguan perusahaan. Masalahnya karena
barang dagangan itu dapat diputarkan berkali-kali selama periode yang bersangkutan, maka laba
bersih yang hilang mungkin melebihi kerugian rusaknya persediaan barang tersebut. Tetapi
kadang-kadang kerugian potensial diukur lebih baik dengan kerugian atas laba yang berkenaan
dengan persediaan yang siap dijual. Misalnya, barang tersebut mungkin tidak bisa digantikan.
Kadang-kadang walaupun barang itu bisa diganti, tetapi musim penjualan akan berlalu sebelum
barang itu bisa diganti. Akhirnya bila barang itu sudah terjual tetapi belum diserahkan, maka
kerugian adalahharga jual termasuk laba.

MENINGKATNYA BIAYA
Biaya bisa meningkat karena kebetulan kerugian terjadi pada bermacam-macam hal yang
termasuk :
1. Kerugian nilai sewa
2. Pengeluaran ekstra agar perusahaan tetap beroperasi
3. Pembatalan leasing
4. Kerugian penggunaan oleh penyewa yang terpaksa harus dipindahkan selama masa
perbaikan

PERBAIKAN YANG TAK DAPAT DIPINDAHKAN DAN DIPERBAIKI


Kadang-kadang penyewa melakukan perbaikan untuk bangunan yang disewanya, bahan yang
terpakai tidak dapat dipindahkan ketika penyewa mwninggalkan bangunan. Suatu perusahaan
melakukan perbaikan itu disebabkan tambahan nila guna selama gedung itu dipakainya.
Berapakah kerugian yang diderita penyewa jika perbaikan yang tak dapat dipindahkan ini ikut
rusak atau hancur?
Jika lease menghendaki lessor yang harus melakukan perbaikan itu, penyewa hanya
mengalami kerugian kegunaan perbaikab itu sementara reparasi dilaksanakan. Kerugian ini
menjadi bagian dari kerugian yang diakibatkan gangguan (The Broader Bussines Interruption
Loss).
Jika penyewa diberi tanggung jawab untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada
bangunan, termasuk perbaikan, biaya memperbaiki kembali kerusakan untuk perbaikan-
perbaikan menjadi tanggung jawab yang besar.
Berapa kerugian perusahaan jika Lease tidak menyebutkan secara khusus mengenai perbaikan
untuk peningkatan nilai guna. Jiia penyewa bernaksud untuk mengganti perbaikan itu,
perusahaan ini harus menganal kerugian potensialhak milik sama dengan biaya penggantian
perbaikan itu selama masa reparasi tanpa pengurangan depresiasi. Kerugian penggunaan selama
perbaikan akan menjadi bagian kerugian akibat gangguan perusahaan. Jika penyewa tidak
mengembalikan perbaikan itu maka kerugian dapat dihitung sebagai jika biaya perbaikan semula
merupakan suatu bonus yang dibayar pada waktu perbaikan. Dalam praktek biasa digunakan
pendekatan rata-rata yang lebih sederhana. Contoh diperagakan perbaikan bahwasanya biaya
perbaikan Rp 15.000,- dilakukan pada awal 10 tahun lease dan dimusnahkan pada akhir tahun
keenam. Diasumsikan bahwa 40% dari Rp 15.000,- atau Rp 6.000,- telah hilang. Pendekatan pro-
rata ini mengabaikan kenyataan bahwa nilai perbaikan mungkin tidak menurun secara seragam
selama periode lease, nilai waktudari uang, dan pengaruh inflasi.
Jika lease dihapuskan, karena kejadian kebetulan kerugian, seperti diterangkan dalam
pembicaraan bunga lease yang dipunyai, metode pro-rata digambarkan dalam paragraf terdahulu
dapat digunakan untuk menghitung kerugian. Tidak ada perbedaannya dalam kasus ini apakah
perbaikan yang sesungguhnya dirasakan oleh suatu kecelakaan.