Anda di halaman 1dari 6

Dispersi dan Daya Pemecah Prisma

Melany Putri Razita (140310130029 )

Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Padjadjaran

28 Mei 2015

Asisten : Irmha C

Abstrak

Cahaya adalah gerakan gelombang yang dipancarkan sumber cahaya ke


segala arah. Kita telah mempelajari bahwa secara dasar cahaya merupakan
gelombang dan dalam beberapa hal kita harus meninjau sifat-sifat gelombang
secara eksplisit. Bidang prisma adalah salah satu bidang yang dapat dilalui cahaya
yang terbuat dari bahan gelas yang dibatasi oleh dua bidang permukaan yang
membentuk sudut tertentu. Bidang ini disebut ini disebut bidang pembias dan
sudut ini disebut sudut pembias.

Kata kunci : Cahaya, Pembiasan, pembiasan pada prisma, Sudut deviasi.

I. Pendahuluan yaitu cahaya bersifat sebagai


Berdasarkan hal tersebut timbulah partikel dan sebagai gelombang.
beberapa pertanyaan bagaimana Saat cahaya sebagai gelombang
proses pembiasan pada prisma karena cahaya dapat dipantulkan,
terjadi. Dan bagaimana cara dibiaskan, dilenturkan, di uraikan,
mengukur indeks bias prisma dan dll. Sedangkan saat cahaya sebagai
beberapa cairan. Maka dari itu partikel karena cahaya bisa
dengan unakan spektrometer berpindah dari satu posisi ke posisi
ganiometer untuk menjawab lain diikuti oleh atom-atom
pertanyaan-pertanyaan tersebut. elektronnya.
Cahaya merupakan suatu energi II. Teori dasar
yang dipancarkan oleh suatu A. Pembiasan
sumber cahaya. Cahaya Apabila cahaya melewati suatu
mempunyai sifat dualisme cahaya medium maka sebagian dari
cahaya akan dipantulkan dan Cahaya yang datang dari udara
sebagian lainnya akan diteruskan. menuju bidang pembias 1 pada
Dan apabila berkas cahaya yang prisma cahaya dibiaskan mendekati

diteruskan tersebut mengalami garis normal. Selanjutnya cahaya

pembelokan pada sudut tertentu, akan sampai pada bidang pembias

maka keadaan tersebut disebut kedua pada prisma maka cahaya

dengan peristiwa pembiasan. akan dibiaskan menjauhi garis

Pembiasan terjadi karena cahaya normal, sebelum pada akahirnya

melewati dua medium yang cahaya keluar meninggalkan prisma.

berbeda kerapatannya sebagai Proses pembiasan cahaya pada


prisma ditunjukkan oleh gambar 1.
contoh yaitu saat di udara dan di
fluida. Sinar bias akan dibiaskan
menjadi garis normal apabila
pada medium ke 2 lajunya
menjadi lebih besar. Dan begitu
pula sebaliknya, sianr akan
dibiaskan mendekati garis normal
apabila lajunya lebih kecil.
B. Pembiasan pada prisma Segitiga ADC
Cahaya putih dari matahari ADC = ADC + ACD + CAD
merupakan cahaya polikromatik
180 = ADC + ( r i ) + ( i r )
yang diuraikan menjadi cahaya
ADC = 180 ( r i ) - ( i r )
monokromatik. Cahaya yang
ADC = 180 r + i i + r
melewati prisma akan diuraikan
menjadi warna merah, jingga, ADC = 180 ( r + i ) + ( i + r)

kuning, hijau, biru, nila, ungu. = 180 ADC


Secara berurutan memiliki sudut = 180 ( 180 ( r + i ) + ( i +
deviasi semakin besar, indeks r)

bias semakin besar, frekuensi = -(-(r + i) + (i + r))


semakin besar, dan panjan = (r+i) (i+r)
gelomban yang semakin kecil. = (r+i) u
r=i dan i=r 2
+
( )
2
=
1 sin( )
= (r+i) u 2

+
= 2i u ( ) = 2 ( 2 )
2 1
+
i = + = 2
2
1
sin 1
= => Hukum snelius =
2
( ) = ( 2 1)
sin 2
1 1
+
( ) 1 III. PERCOBAAN
2
=
sin( ) 2
2
Mengatur spektrometer goniometer
+ 1 dan grating sesuai dengan intruks
( )= (2)
2 2 operasi.

+ = 1
2


= 1
2


= (1 1)
2

Deviasi minimum => i1 = r2


Karena i1 = r2 maka i1=r1

Sehingga = r1 +r2 = 2 r1
Gambar : Set Up dan Lintasan Sinar
r1 = Dalam Spektrometer
2

diketahui m = (i1 +r2) - Keterangan :


nilai r2 = i1 dimasukan kepersamaan L = Sumber Cahaya
m = (i1 +r2) - Sp = Celah Dalam Tabung

Menjadi m = (i1 +r2) - S = Kolimator

= (i1 +i2) - So = Lensa Kolimator


+ PT = Meja Prisma
=( )
2
P = Prisma
Berdasarkan hukum pembiasan
snelius berlaku FO = Lensa Teleskop
1 2
Sin = , subtitusikan 1 = F = Teleskop
11 1 2
+
dalam ( ) O = Mata
2
K = Kawat Melintang Tabel 2 : Prisma Gryserol
W = Skala Pembaca
Memproyeksikan apertur atau
celah ke-dalaman bidang dari kawat
menyilang dengan mengesetan
teleskop tak hingga dan me-ngamati
dengan lensa mata yang digunakan
sebagai pembesar. Mengatur prisma
agar menghasilkan deviasi minimum
dengan posisi anguler 1 dari
VI.
teleskop membaca off pada vernierc
untuk masing-masing garis spektra.
Tabel 3 : Prisma metanol
memutar prisma sehingga cahaya
jatuh pada permukaan terdekat dan
cahaya dideviasikan ke arah
sebaliknya. Sudut 2 tidak membaca
off pada masing-masing garis spektra;
pada deviasi minimum . menyatakan
panjang gelombang garis spektrum
mercuri menempatkan sebuahVII.
grating(dengan holdernya)sejajar
sumbu kolimator dan cocok dengan
tempat prisma. Mengukur sudut dari
garis yang terdifraksi orde pertama
terhadap bagian kanan dan kiri
gambar dari celah yang tidak
terdeviasi .
IV. Data dan Analisa
Tabel 1: Prisma kaca

Analisa

Pada praktikum kali ini mengenai


dispersi dan daya pemecah prisma,
untuk menentukan sudut dispersi
sinar monokroma-tik (merah, jingga
kuning, hijau biru dan ungu).
Menggunakan 3 buah prisma yaitu
V. prisma gliserin, prisma metanol dan
prisma biasa(kaca). Setelah alat
disusun sesuai dengan gambar prisma
diletakan pada meja prisma , namun
sebelumnya menyalakan lampu Hg
terlebih dahulu(15 menit sebelum Sedangkan pada metanol sudut dispersi
praktikum). selanjutnya mengamati yang didapat adalah warna merah,
sinar monokromatik dari prisma yang
tampak pada layar teleskop dengan kuning, hijau, biru. Indeks bias rata-rata
cara menggeser-geserkan bagian untuk prisma kaca adalah adalah
teleskop kekanan dan kekiri.sampai
didapat sinar monokromatik 0,998522 dengan KSR 34,30776%, untuk
merah,jingga , kuning, hijau, biru dan indeks bias dari prisma glyserol rata-
ungu. Untuk mendapatkan sudut
deviasi misalnya sinar monokromatik ratanya adalah 0,99902 dengan nilai KSR
merah maka geser-geserkan bagian sebesar 32,17446%. Sedangkan indeks
teleskop kekanan dan kekiri lalu
pokuskan skala yang seperti huruf (x) bias pada prisma metanol rata-ratanya
pada teleskop di tengah-tengah sinar adalah 0,997853 dengan nilai KSR
monokromatik merah, maka nantinya
24,86044%.
akan didapatkan sudut deviasi merah,
untuk kanan dan kiri. Untuk mencari
sudut deviasi merah, kuning, hijau, Kesimpulan
biru dan ungu pun perlakuannnya
sama seperti saat mencari sudut 1. Cara kerja spektrometer yaitu
deviasi untuk merah, masing masing dengan menggunakan prisma
dicari sudut deviasinya untuk prisma
gliserin, prisma metanol dn prisma dengan 3 variasi untuk
kaca(biasa). Dengan data yang menentukan sudut sudut
didapat dapat dicari deviasi minimum
dengan menggunakan persamaan : dispersi dari sinar

monokromatik untuk masing-


=
2 masing prisma yang
Kemudian setelah deviasi minimum digunakan,
didapat, bisa digunakan untuk 2. Untuk mencari indeks bias kita
mencari indeks bias, dengan
menggunakan persamaan : menggunakan rumus

+ +
sin sin
2 = 2
=
2
2
3. Dan hubungan antara indeks
Untuk prisma kaca didapat sudut
bias dengan panjang
dispersi yaitu merah, jingga, kuning,
gelombang adalah berbanding
hijau, biru, Ungu. Untuk prisma gryserol
didapat sudut dispersi yang didapat
terbalik, grafik yang sesuai

adalah merah, kuning, hijau, dan biru. dengan teori namun pada
grafik prisma glyserol dan
metanol tidak sesuai teori
sedangkan pada prisma kaca
sesuai teori.

DAFTAR PUSTAKA

Young and Freedman . 2003 .


Fisika Universitas Jilid 2 .
Jakarta : Erlangga
Douglas C , Giancoli . 1999 .
Fisika Edisi kelima . Jakarta :
Erlangga