Panduan Lengkap Transfusi Darah
Panduan Lengkap Transfusi Darah
TRANSFUSI DARAH
Pembimbing :
Disusun Oleh :
Muhammad Ardly
110.2010.176
Bab I Pendahuluan. 1
Bab II 2
Pembahasan
Darah 2
Darah sebagai 2
organ.......
Peran penting 2
darah
Definisi dan tujuan tranfusi 3
darah..
Tranfusi darah dalam 3
klinik
Indikasi transfusi 4
darah...
Prosedur pelaksanaan transfusi 5
darah.
Sediaan Darah Untuk 6
Transfusi
Packed Red Cell... 9
..
Suspensi Trombosit... 1
. 1
Plasma Segar Beku... 1
.. 2
Cryopresipitate... 1
. 3
Albumin.... 1
.. 4
Kompleks Faktor IX... 1
4
Imunoglobulin... 1
. 4
1
Transfusi Darah Autologus.. 1
.. 5
1
GOLONGAN DARAH DAN CARA PENGUMPULAN
5
DARAH
1
KOMPLIKASI TRANSFUSI
9
DARAH.
2
Bab III
3
Kesimpulan.
2
Daftar 5
Pustaka
.
BAB I
PENDAHULUAN
Transfusi darah adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah donor
ke dalam sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan.
Pemikiran dasar pada transfusi darah adalah cairan intravaskuler dapat diganti
atau disegarkan dalam cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh. Pada tahun 1901,
Landsteiner menemukan golongan darah sistem ABO dan kemudian sistem antigen
Rh (rhesus) ditemukan oleh Levine dan Stetson di tahun 1939. Kedua sistem ini
menjadi dasar penting bagi tranfusi darah modern. Meskipun kemudian sistem
berbagai sistem antigen lain seperti Duffy, Kell dan lain-lain, tetapi sistem-sistem
tersebut kurang berpengaruh.
2
komponen darah, dan transplantasi organ. Namun tranfusi bukanlah tanpa resiko,
meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk memperlancar tindakan tranfusi,
namun efek samping reaksi tranfusi atau infeksi akibat tranfusi tetap mungkin terjadi.
Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui tentang definisi
transfusi darah, macam bentuk sediaan darah serta komponen darah, indikasi
pemberian transfusi darah, dan reaksi transfusi darah.
BAB II
PEMBAHASAN
DARAH
1. Darah sebagai organ
Darah yang semula dikategorikan sebagai jaringan tubuh, saat ini telah
dimasukkan sebagai suatu organ tubuh terbesar yang beredar dalam sistem
kardiovaskuler, tersusun dari :
a) Komponen korpuskuler atau seluler
Komponen korpuskuler yaitu materi biologis yang hidup dan bersifat
multiantigenik, terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan keping trombosit,
yang kesemuanya dihasilkan dari sel induk yang senantiasa hidup dalam sumsum
tulang. Ketiga jenis sel darah ini memiliki masa hidup terbatas dan akan mati jika
masa hidupnya berakhir. Agar fungsi organ darah tidak ikut mati, maka secara
berkala pada waktu-waktu tertentu, ketiga butiran darah tersebut akan diganti,
diperbarui dengan sel sejenis yang baru.
b) Komponen cairan
Komponen cair yang juga disebut plasma, menempati lebih dari 50 volume %
organ darah, dengan bagian terbesar dari plasma (90%) adalah air, bagian kecilnya
3
terdiri dari protein plasma dan elektrolit. Protein plasma yang penting diantaranya
adalah albumin, berbagai fraksi globulin serta protein untuk factor pembekuan dan
untuk fibrinolisis. (2)
4
d. Memperbaiki fungsi homeostasis
e. Tindakan terapi khusus (2,4)
5
a. Anemia karena perdarahan, biasanya digunakan batas Hb 7-8 g/dL. Bila telah
turun hingga 4,5 g/dL, tranfusi harus dilakukan secara hati-hati.
b. Anemia haemolitik, biasanya kadar Hb dipertahankan hingga penderita dapat
mengatasinya sendiri. Umumnya digunakan patokan 5g/dL. Hal ini
dipertimbangkan untuk menghindari terlalu seringnya tranfusi darah dilakukan.
c. Anemia aplastik
d. Leukimia dan anemia refrekter
e. Anemia karena sepsis
6
7
8
9
10
1. Tranfusi Packed Red Cell
Packed red cell diperoleh dari pemisahan atau pengeluaran plasma secara
tertutup atau septik sehingga hematokrit menjadi 70-80%. Volume tergantung
11
kantong darah yang dipakai yaitu 150-300 ml. Lama simpan darah 24 jam dengan
sistem terbuka.(3)
Packed cells merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah
dipekatkan dengan memisahkan komponen-komponen yang lain. Packed cells
banyak dipakai dalam pengobatan anemia terutama talasemia, anemia aplastik,
leukemia dan anemia karena keganasan lainnya. Pemberian transfusi bertujuan
untuk memperbaiki oksigenasi jaringan dan alat-alat tubuh. Biasanya tercapai bila
kadar Hb sudah di atas 8 g%.
Indikasi: :
1. Kehilangan darah >20% dan kehilangan volume darah lebih dari
1000 ml.
2. Hemoglobin <8 gr/dl.
12
3. Hemoglobin <10 gr/dl dengan penyakit-penyakit utama : (misalnya
empisema, atau penyakit jantung iskemik)
4. Hemoglobin <12 gr/dl dan tergantung pada ventilator. (6)
13
1. Setiap perdarahan spontan atau suatu operasi besar dengan jumlah trombositnya
kurang dari 50.000/mm3. Misalnya perdarahan pada trombocytopenic purpura,
leukemia, anemia aplastik, demam berdarah, DIC dan aplasia sumsum tulang
karena pemberian sitostatika terhadap tumor ganas.
2. Splenektomi pada hipersplenisme penderita talasemia maupun hipertensi portal
juga memerlukan pemberian suspensi trombosit prabedah.
Rumus Transfusi Trombosit
BB x 1/13 x 0.3
Macam sediaan:
Platelet Rich Plasma (plasma kaya trombosit)
Platelet Rich Plasma dibuat dengan cara pemisahan plasma dari darah segar.
Penyimpanan 34C sebaiknya 24 jam.
Dibuat dengan cara melakukan pemusingan (centrifugasi) lagi pada Platelet Rich
Plasma, sehingga diperoleh endapan yang merupakan pletelet concentrate dan
kemudian memisahkannya dari plasma yang diatas yang berupa Platelet Poor
Plasma. Masa simpan 48-72 jam.(3)
14
XI. Kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi tergantung dari faktor spesifik
yang akan diganti.
Komponen ini dapat diberikan pada trauma dengan perdarahan hebat atau
renjatan (syok), penyakit hati berat, imunodefisiensi tanpa ketersediaan preparat
khusus, dan pada bayi dengan enteropati disertai kehilangan protein (protein
losing enteropathy). Meskipun demikian, penggunaan komponen ini sekarang
semakin berkurang. Dan bila diperlukan, maka dosisnya 20-40 ml/ kgBB/hari.
Indikasi lain transfusi plasma beku segar adalah sebagai cairan pengganti
selama penggantian plasma pada penderita dengan purpura trombotik
trombositopenik atau keadaan lain dimana plasma beku segar diharapkan
bermanfaat, misalnya tukar plasma pada penderita dengan perdarahan dan
koagulopati berat. Transfusi plasma beku segar tidak lagi dianjurkan untuk
penderita dengan hemofilia A atau B yang berat, karena sudah tersedia konsentrat
faktor VIII dan IX yang lebih aman. Plasma beku segar tidak dianjurkan untuk
koreksi hipovolemia atau sebagai terapi pengganti imunoglobulin karena ada
alternatif yang lebih aman, seperti larutan albumin atau imunoglobulin intravena.
(2)
4. Cryopresipitate
Suhu simpan -18C atau lebih rendah dengan lama simpan 1 tahun,
ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah dicairkan. Efek sampingnya berupa
demam dan alergi. Satu kantong (30 ml) mengadung 75-80 unit faktor VIII, 150-
200 mg fibrinogen, faktor von wilebrand, dan faktor XIII.
Indikasi :
15
- Hemophilia A
- Perdarahan akibat gangguan faktor koagulasi
- Penyakit von wilebrand
5. Albumin
albumin x BB x 0.4
6. Kompleks faktor IX
7. Imunoglobulin
Komponen ini merupakan konsentrat larutan materi zat anti dari plasma,
dan yang baku diperoleh dari kumpulan sejumlah besar plasma. Komponen yang
hiperimun didapat dari donor dengan titer tinggi terhadap penyakit seperti
varisela, rubella, hepatitis B, atau rhesus. Biasanya diberikan untuk mengatasi
imunodefisiensi, pengobatan infeksi virus tertentu, atau infeksi bakteri yang tidak
16
dapat diatasi hanya dengan antibiotika dan lain-lain. Dosis yang digunakan adalah
1-3 ml/kgBB.
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya
perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah.
Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah
penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh).
- Sistem ABO
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A
di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B
dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A hanya
dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A atau O.
Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen
A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B.
Sehingga, orang dengan golongan darah AB dapat menerima darah dari orang
dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun,
17
orang dengan golongan darah AB tidak dapat mendonorkan darah kecuali
pada sesama AB.
Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang
dengan golongan darah O hanya dapat menerima darah dari sesama O.
- Sistem Rhesus
Sistem rhesus ini ditemukan melalui penyuntikan sel-sel darah merah
kera Macacca rhesus kepada marmot (guinea-pig) untuk mendapatkan anti
serum. Anti serum yang didapat ternyata bereaksi dengan sel-sel darah
merah. ,antigen-Rh yang ditemukan dalam darah kera Macaca rhesus oleh
Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940 itu juga ditemukan dalam darah
manusia.
Berdasarkan ada tidaknya antigen-Rh, maka golongan darah manusia
dibedakan atas dua kelompok, yaitu :
Jika seseorang Rh(+), maka ia dapat menerima darah dengan Rh(+) atau Rh
(-). Sedangkan orang dengan Rh(-), hanya bisa menerima darah dengan Rh (-) saja.
Oleh karena itu darah Rh(-) sering disediakan untuk operasi-operasi darurat dimana
tidak ada waktu lagi untuk melakukan pengecekan golongan darah seseorang.
18
4. Tekanan darah 100-150 (sistole) dan 70-100 (diastole).
19
hanya membutuhkan waktu 10 menit. Biasanya ada sedikit rasa nyeri pada saat jarum
dimasukkan, tetapi setelah itu rasa nyeri akan hilang.
Standard unit pengambilan darah hanya sekitar 0,48 liter.
Darah segar yang diambil disimpan dalam kantong plastik yang sudah mengandung
bahan pengawet dan komponen anti pembekuan.
Sejumlah kecil contoh darah dari penyumbang diperiksa untuk mencari
adanya penyakit infeksi seperti AIDS, hepatitis virus dan sifilis. Darah yang
didinginkan dapat digunakan dalam waktu selama 42 hari. Pada keadaan tertentu,
(misalnya untuk mengawetkan golongan darah yang jarang), sel darah merah bisa
dibekukan dan disimpan sampai selama 10 tahun.
Karena transfusi darah yang tidak cocok dengan resipien dapat berbahaya,
maka darah yang disumbangkan, secara rutin digolongkan berdasarkan jenisnya;
apakah golongan A, B, AB atau O dan Rh-positif atau Rh-negatif. Sebagai tindakan
pencegahan berikutnya, sebelum memulai transfusi, pemeriksa mencampurkan setetes
darah donor dengan darah resipien untuk memastikan keduanya cocok: teknik ini
disebut cross-matching.
Crossmatch adalah pemeriksaan serologis untuk menetapkan sesuai atau tidak
sesuainya darah donor dengan darah resipien. Dilakukan sebelum
transfusi darah dan bila terjadi reaksi transfusi darah.
Terdapat dua cara pemeriksaan, yaitu:
1. Crossmatch mayor : mencampur enitrosit donor (aglutinongen donor) dengan
serum resipien (aglutinin resipien)
2. Crossmatch minor : mencampur eritrosit resipien (aglutinongen resipien)
dengan serum donor (aglutinin donor)
Cara menilai hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut:
- Bila kedua pemeriksaan (crossmatch mayor dan minor tidak mengakibatkan
aglutinasi eritrosit, maka diartikan bahwa darah donor sesuai dengan darah
resipien sehingga transfusi darah boleh dilakukan, bila crossmatch mayor
menghasilkan aglutinasi, tanpa memperhatikan hasil Crossmatch minor,
diartikan bahwa darah donor tidak sesuai dengan darah resipien sehingga
transfusi darah tidak dapat dilakukan dengan menggunakan darah donor itu.
- Bila Crossmatch mayor tidak menghasilkan aglutinasi, sedangkan dengan
Crossmatch minor terjadi aglutinasi, maka Crossmatch minor harus diulangi
dengan menggunakan serum donor yang diencerkan. Bila pemeriksaan
20
terakhir ini ternyata tidak menghasilkan aglutinasi, maka transfusi darah masih
dapat dilakukan dengan menggunakan darah donor tersebut. Bila pemeriksaan
dengan serum donor yang diencerkan menghasilkan aglutinasi, maka darah
donor
itu tidak dapat ditransfusikan.
21
3. Reaksi Transfusi Hemolitik Lambat
a. Demam
Demam merupakan lebih dari 90% gejala reaksi transfusi. Umumnya
ringan dan hilang dengan sendirinya. Dapat terjadi karena antibodi resipien
bereaksi dengan leukosit donor. Demam timbul akibat aktivasi komplemen dan
lisisnya sebagian sel dengan melepaskan pirogen endogen yang kemudian
merangsang sintesis prostaglandin dan pelepasan serotonin dalam hipotalamus.
Dapat pula terjadi demam akibat peranan sitokin (IL-1b dan IL-6). Umumnya
reaksi demam tergolong ringan dan akan hilang dengan sendirinya.
b. Reaksi alergi
Reaksi alergi (urtikaria) merupakan bentuk yang paling sering muncul,
yang tidak disertai gejala lainnya. Bila hal ini terjadi, tidak perlu sampai harus
menghentikan transfusi. Reaksi alergi ini diduga terjadi akibat adanya bahan
terlarut di dalam plasma donor yang bereaksi dengan antibodi IgE resipien di
permukaan sel-sel mast dan eosinofil, dan menyebabkan pelepasan histamin.
Reaksi alergi ini tidak berbahaya, tetapi mengakibatkan rasa tidak nyaman dan
menimbulkan ketakutan pada pasien sehingga dapat menunda transfusi.
Pemberian antihistamin dapat menghentikan reaksi tersebut.
c. Reaksi anafilaktik
Reaksi yang berat ini dapat mengancam jiwa, terutama bila timbul pada
pasien dengan defisiensi antibodi IgA atau yang mempunyai IgG anti IgA dengan
22
titer tinggi. Reaksinya terjadi dengan cepat, hanya beberapa menit setelah
transfusi dimulai. Aktivasi komplemen dan mediator kimia lainnya meningkatkan
permeabilitas vaskuler dan konstriksi otot polos terutama pada saluran napas yang
dapat berakibat fatal. Gejala dan tanda reaksi anafilaktik biasanya adalah
angioedema, muka merah (flushing), urtikaria, gawat pernapasan, hipotensi, dan
renjatan.
Penatalaksanaannya adalah :
(1) Menghentikan transfusi dengan segera,
(2) Tetap infus dengan NaCl 0,9% atau kristaloid,
(3) Berikan antihistamin dan epinefrin.
Pemberian dopamin dan kortikosteroid perlu dipertimbangkan. Apabila terjadi
hipoksia, berikan oksigen dengan kateter hidung atau masker atau bila perlu
melalui intubasi.(1,2)
23
Penularan retrovirus HIV telah diketahui dapat terjadi melalui transfusi
darah, yaitu dengan rasio 1:670.000, meski telah diupayakan
penyaringan donor yang baik dan ketat.
3) Infeksi CMV
Penularan CMV terutama berbahaya bagi neonatus yang lahir premature
atau pasien dengan imunodefisiensi. Biasanya virus ini menetap di
leukosit danor, hingga penyingkiran leukosit merupakan cara efektif
mencegah atau mengurangi kemungkinan infeksi virus ini. Transfusi sel
darah merah rendah leukosit merupakan hal terbaik mencegah CMV ini.
(1,2)
24
BAB III
KESIMPULAN
6. Gejala dan tanda yang dapat timbul pada Reaksi Tranfusi Hemolitik Akut
adalah demam dengan atau tanpa menggigil, mual, sakit punggung atau dada,
sesak napas, urine berkurang, hemoglobinuria, dan hipotensi. Pada keadaan
yang lebih berat dapat terjadi renjatan (shock), koagulasi intravaskuler
diseminata (KID), dan/atau gagal ginjal akut yang dapat berakibat kematian
7. Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam, pucat,
ikterus, dan kadang-kadang hemoglobinuria.
8. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik
a. Demam
b. Reaksi alergi
c. Reaksi anafilaktik
9. Penularan penyakit infeksi pada tranfusi
a. Hepatitis virus
b. AIDS
c. Penyakit CMV
d. Penyakit infeksi lain yang jarang
e. Graft Versus Host disease
26
Transfusi darah merupakan bentuk terapi yang dapat menyelamatkan jiwa.
Berbagai bentuk upaya telah dan hampir dapat dipastikan akan dilaksanakan, agar
transfusi menjadi makin aman, dengan resiko yang makin kecil. Meskipun
demikian, transfusi darah belum dapat menghilangkan secara mutlak resiko dan
efek sampingnya.Untuk itulah indikasi transfusi haruslah ditegakkan dengan
sangat hati- hati, karena setiap transfusi yang tanpa indikasi adalah suatu
kontraindikasi. Maka untuk memutuskan apakah seorang pasien memerlukan
transfusi atau tidak, harus mempertimbangkan keadaan pasien menyeluruh. Pada
pemberian transfusi sebaiknya diberikan komponen yang diperlukan secara
spesifik untuk mengurangi resiko terjadinya reaksi transfusi. Indikasi untuk
pelaksanaan transfusi didasari oleh penilaian secara klinis dan hasil pemeriksaan
laboratorium.
Menyadari hal ini, maka perlu kiranya mereka yang terlibat dalam praktek
transfusi darah mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang ilmu
kedokteran transfusi (transfusion medicine).
DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Cachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua,
Jakarta Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI : 2002
2. Ramelan S, Gatot D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan
Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics Updates,
2005, Jakarta, IDAI cabang Jakarta, halaman: 21-30
3. Sudoyo AW, Setiohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Keempat.
Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006
27
4. Palang Merah Indonesia. Pelayanan Transfusi Darah, 2015
http://www.palangmerah.org/pelayanan transfusi.asp
5. Sudarmanto B, Mudrik T, AG Sumantri, Transfusi Darah dan Transplantasi dalam
Buku Ajar Hematologi- Onkologi Anak, 2005, Jakarta, Balai Penerbit IDAI,
halaman: 217-225
6. http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http:/www.merckmanuals.com/home/blood_disorders/blood_transfusion/typ
es_of_transfusions.html Accessed on 2 July 2015.
28