Anda di halaman 1dari 4

Klasifikasi Batuan Sedimen Menurut Para Ahli

OLEH RARUDIN AS
SATURDAY, 5 JULY 2014

Bagikan :
Tweet
Klasifikasi Batuan Sedimen Menurut Para Ahli-Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil
pemadatan endapan yang berupa bahan lepas. Hutton (1875; dalam Sanders, 1981) menyatakan Sedimentary
rocks are rocks which are formed by the turning to stone of sediments and that sediments, in turn, are formed
by the breakdown of yet-older rocks. ODunn & Sill (1986) menyebutkan sedimentary rocks are formed by the
consolidation of sediment : loose materials delivered to depositional sites by water, wind, glaciers, and
landslides. They may also be created by the precipitation of CaCO3, silica, salts, and other materials from
solution (Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang
terangkut ke lokasi pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah longsor.
Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat, silika, garam dan material lain.
Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 %
dari volume seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi
ketebalannya relatif tipis.

Batuan sedimen klastika (detritus, mekanik, eksogenik) adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil
pengerjaan kembali (reworking) terhadap batuan yang sudah ada. Proses pengerjaan kembali itu meliputi
pelapukan, erosi, transportasi dan kemudian redeposisi (pengendapan kembali). Sebagai media proses tersebut
adalah air, angin, es atau efek gravitasi (beratnya sendiri). Media yang terakhir itu sebagai akibat longsoran
batuan yang telah ada. Kelompok batuan ini bersifat fragmental, atau terdiri dari butiran/pecahan batuan
(klastika) sehingga bertekstur klastika.

Batuan sedimen non-klastika adalah batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil penguapan suatu larutan,
atau pengendapan material di tempat itu juga (insitu). Proses pembentukan batuan sedimen kelompok ini dapat
secara kimiawi, biologi /organik, dan kombinasi di antara keduanya (biokimia). Secara kimia, endapan
terbentuk sebagai hasil reaksi kimia, misalnya CaO + CO2 CaCO3. Secara organik adalah pembentukan
sedimen oleh aktivitas binatang atau tumbuh-tumbuhan, sebagai contoh pembentukan rumah binatang laut
(karang), terkumpulnya cangkang binatang (fosil), atau terkuburnya kayu-kayuan sebagai akibat penurunan
daratan menjadi laut.

KSIFIKASI MENURUT PARA AHLI


Sanders (1981) dan Tucker (1991), membagi batuan sedimen menjadi:
Batuan sedimen detritus (klastika)
Batuan sedimen kimia
Batuan sedimen organik, dan
Batuan sedimen klastika gunungapi.
Batuan sedimen jenis ke empat itu adalah batuan sedimen bertekstur klastika dengan bahan penyusun
utamanya berasal dari hasil kegiatan gunungapi.

Graha (1987) membagi batuan sedimen menjadi 4 kelompok juga, yaitu :


Batuan sedimen detritus (klastika/mekanis)
Batuan sedimen batubara (organik/tumbuh-tumbuhan)
Batuan sedimen silika.
Batuan sedimen karbonat
Batuan sedimen jenis kedua pada umumnya bertekstur non-klastika. Tetapi batuan sedimen jenis ketiga dan
keempat dapat merupakan batuan sedimen klastika ataupun batuan sedimen non-klastika.

Komposisi Penyusun Utama batuan sedimen klastika (bertekstur klastika)


1. Batuan sedimen silisiklastika, adalah batuan sedimen klastika dengan mineral penyusun utamanya adalah
kuarsa dan felspar.
2. Batuan sedimen klastika gunungapi adalah batuan sedimen dengan material penyusun utamanya berasal
dari hasil kegiatan gunungapi (kaca, kristal dan atau litik), dan
3. Batuan sedimen klastika karbonat, atau batugamping klastika adalah batuan sedimen klastika dengan
mineral penyusun utamanya adalah material karbonat (kalsit).

PENGELOMPOKAN BATU SENDIMEN


Berdasarkan tenaga pembawanya, antara lain:

1. Batuan sedimen aquatic, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya terbawa oleh air sungai
2. Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya terbawa oleh air laut
3. Batuan sedimen glacial, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya terbawa oleh gletser
4. Batuan sedimen aeris, yaitu batuan sedimen yang komponen pembentuknya terbawa oleh udara yang
berhembus (angin)
Berdasarkan proses pengendapannya, antara lain:

Batuan sedimen klasik, contoh: tanah pasir, batu pasir, tanah liat, konglomerat.
Batuan sedimen organic, contoh: batu bara (coal), batu kapur (lime stone).
Batuan sedimen an-organik/kimiawi, contoh: batu pasir dan tanah liat.
Berdasarkan tempat pengendapannya, antara lain
Batuan sedimen limnik, yaitu batuan sedimen yang mengendap di rawa
Batuan sedimen fluvial, yaitu batuan sedimen yang mengendap di sungai
Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang mengendap di laut
Batuan sedimen teistrik, yaitu batuan sedimen yang mengendap di darat
Berdasarkan proses transportasinya, antara lain:

Batuan sedimen klasik, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari batuan lain yang hancur, kemudian
berpindah tempat dan kemudian mengalami proses sedimentasi.

Batuan sedimen non klasik, yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami perpindahan tempat. Batuan jenis
ini terbentuk melalui proses kimiawi dan organis.

Dari sekian banyak jenis batuan sedimen di atas, berikut adalah beberapa contoh jenis batuan sedimen yang
paling umum dijumpai di kehidupan sehari hari kita:

1. Batu konglomerat
2. Batu breksi
3. Batu pasir
4. Batu gamping
5. Batu shale
6. Batu kapur

Masing-masing jenis batuan sedimen memiliki sifat yang berbeda. Keberadaan batuan sedimen tertentu juga
bisa menunjukkan kondisi suatu lahan seperti status gunung berapi atau kondisi patahan lempeng bumi.

Warna Batuan Sedimen


Pada umumnya, batuan sedimen berwarna terang atau cerah, putih, kuning atau abu-abu terang. Namun
demikian, ada pula yang berwarna gelap, abu-abu gelap sampai hitam, serta merah dan coklat. Dengan
demikian warna batuan sedimen sangat bervariasi, terutama sangat tergantung pada komposisi bahan
penyusunnya.

Tekstur
Seperti diuraikan di atas, maka batuan sedimen dapat bertekstur klastika atau non klastika. Namun demikian
apabila batuannya sudah sangat kompak dan telah terjadi rekristalisasi (pengkristalan kembali), maka batuan
sedimen itu bertekstur kristalin. Batuan sedimen kristalin umum terjadi pada batugamping dan batuan sedimen
kaya silika yang sangat kompak dan keras.

Tekstur Permukaan
1. Kasar, bila pada permukaan butir terlihat meruncing dan terasa tajam. Tekstur permukaan kasar biasanya
dijumpai pada butir dengan tingkat kebundaran sangat meruncing-meruncing.
2. Sedang, jika permukaan butirnya agak meruncing sampai agak rata. Tekstur ini terdapat pada butir dengan
tingkat kebundaran meruncing tanggung hingga membulat tanggung.
3. Halus, bila pada permukaan butir sudah halus dan rata. Hal ini mencerminkan proses abrasi permukaan
butir yang sudah lanjut pada saat mengalami transportasi. Dengan demikian butiran sedimen yang
mempunyai tekstur permukaan halus terjadi pada kebundaran membulat sampai sangat membulat.
Ukuran Butir
Ukuran butir batuan sedimen klastika umumnya mengikuti Skala Wentworth (1922, dalam Boggs, 1992)
seperti tersebut pada Tabel 3.7.

Butir lanau dan lempung tidak dapat diamati dan diukur secara megaskopik. Ukuran butir lanau dapat
diketahui jika material itu diraba dengan tangan masih terasa ada butir seperti pasir tetapi sangat halus. Ukuran
butir lempung akan terasa sangat halus dan lembut di tangan, tidak terasa ada gesekan butiran seperti pada
lanau, dan bila diberi air akan terasa sangat licin.
Kemas atau Fabrik
1. Kemas tertutup, bila butiran fragmen di dalam batuan sedimen saling bersentuhan atau bersinggungan atau
berhimpitan, satu sama lain (grain/clast supported). Apabila ukuran butir fragmen ada dua macam (besar
dan kecil), maka disebut bimodal clast supported. Tetapi bila ukuran butir fragmen ada tiga macam atau
lebih maka disebut polymodal clast supported.
2. Kemas terbuka, bila butiran fragmen tidak saling bersentuhan, karena di antaranya terdapat material yang
lebih halus yang disebut matrik (matrix supported).