Anda di halaman 1dari 21

Materi UTS :

1. Pengertian Kurikulum

a. Pengertian Kurikulum : kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni

Curriculae, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari

Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat

penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh

perolehan suatu ijazah .

b. Hubungan kurikulum dengan tujuan pendidikan :

Proses belajar-mengajar atau proses pembelajaran merupakan suatu

kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat

mempengaruhi para siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah

ditetapkan . Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah mengantar para

siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah-laku,baik intelektual,

moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan mahluk

social melalui kurikulum yang telah disusun sesuai dengan tujuan

pendidikan .

c. Perbedaan Kurikulum lama dan Kurikulum Baru :

1. Kurikulum lama berdasarkan pengalaman lampau , Kurikulum Baru

berorientasi pada masa sekarang sebagai persiapan untuk masa yang

akan datang sesuai minat dan kebutuhan siswa

2. Kurikulum Lama Mengandalkan Pengetahuan akan ingatan semata

sedangkan kurikulum baru mengembangkan keseluruhan pribadi siswa,

belajar bertujuan untuk mampu hidup didalam masyarakat

3. Kurikulu lama Berpusat pada mata pelajaran yang diajarkan secara

terpisah-pisah sedangkan kurikulum baru disusun dalam bentuk bidang

studi yang luas yang diintegrasi dari semua matapelajaran;

4. Kurikulum lama didasarkan pada buku pelajaran (texbook) sebagai

sumber bahan dalam mengajarkan matapelajaran sedangkan kurikulum

baru bertitik tolak pada masalah kehidupan, yang disesuaikan dengan

tingkat perkembangan, minat dan kebutuhan individu . Bahkan sumber

yang paling luas adalah masyarakat itu sendiri.

5. Kurikulum lama dikembangkan oleh guru-guru secara perorangan,

mereka yang menentukan bahan dan pengalaman yang akan diajarkan


dan mereka pula yang menentukan sumber bahan , sedangkan

kurikulum baru dikembangkan oleh team guru bersama-sama atau oleh

suatu departemen tertentu. Setiap guru terikat pada konsep yang

telah disusun oleh team atau oleh departemen dengan tidak

mengurangi kebebasan guru untuk mengadakan beberapa penyesuaian

dalam batas-batas tertentu.

d. Tokoh bersejarah yang membawa perubahan kurikulum :

Kurikulum itu selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-

perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan

dapat berubah secara fundamental, bila suatu negara beralih dari negara

yang dijajah menjadi Negara yang merdeka. Dengan sendirinya kurikulum

pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh.

Pembaharuan kurikulum kadang-kadang terikat pada tokoh yang

mencetuskannya , bahkan diIndonesia dikaitkan dengan politik atau

pemimpin , ganti pemimpin berarti ganti kurikulum .

NO TAHUN FOKUS ORIENTASI

1 1968 Subject Matter (Mata Pelajaran)

2 1975 Terminal Objectives (Tiu, Tik)

3 1984 Keterampilan Proses (CBSA Project)


Munculnya Pembagian Kamar Antara Kurikulum Nasional
4 1994
Dengan Kurikulum Muatan Local

5 2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

6 2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Biasanya tokoh yang berperan disitu adalah para mentri pendidikan yang

saat itu menjabat di masanya yang dibantu oleh tim Pusat Kurikulum dan

Perbukuan ( PUSKURBUK ) .

2. Faktor factor yang mempengaruhi penyusunan kurikulum :

a. Adanya perkembangan dan perubahan bangsa yang satu dengan yang lain.

b. Berkembangnya industri dan produksi atau teknologi.

c. Orientasi politik dan praktek kenegaraan.

d. Pandangan intelektual yang berubah.

e. Pemikiran baru mengenai proses belajar-mengajar.

f. Perubahan dalam masyarakat.


g. Eksploitasi ilmu pengetahuan.

Filsafat dan tujuan pendidikan :

A. ONTOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN

Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu?

Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara

objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan

mengindera) yang membuakan pengetahuan?

B. EPISTIMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN

Disebut the theory of knowledge atau teori pengetahuan. Ia berusaha

mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan, dan mungkin

inilah bagian paling penting dari filsafat untuk para pendidik. Pertanyaan khas

epistemologi adalah bagaimana kamu mengetahui (how do you know?).

Pertanyaan ini tidak hanya menanyakan tentang apa (what) yang kita tahu

(the products) tetapi juga tentang bagaimana (how) kita sampai

mengetahuinya (the process). Para epistemolog adalah para pencari yang

sangat ulet. Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui (what is known),

kapan itu diketahui (when is it known), siapa yang tahu atau dapat

mengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting, bagaimana kita

tahu (how we know).

C. AXIOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN

Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethics) atau

moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebih

akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut sebagai the

theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian

tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong),

serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba

merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis . Terdapat dua

kategori dasar aksiologis; (1) objectivism dan (2) subjectivism. Keduanya

beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai itu bersifat bergantung
atau tidak bergantung pada manusia (dependent upon or independent of

mankind)

Psikologi Belajar :

Psikologi belajar terdiri dari dua penggalan kata yaitu psikologi dan belajar.

Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu psyche yang berarti jiwa dan

logos yang berarti ilmu. Dengan demikian secara harpiah psikologi dapat

diartikan ilmu jiwa. dapat diartikan bahwa psikologi belajar adalah suatu ilmu

jiwa yang berisi teori teori mengenai belajar , tentang bagaimana cara

individu belajar atau melakukan pembelajaran.

Teori Teori Belajar

1. Teori Belajar Behavioristik

Menurut pandangan ini, belajar adalah perubahan tingkah laku, dengan cara

seseorang berbuat pada situasi tertentu. Yang dimaksud tingkah laku disini

ialah tingkah laku yang dapat diamati ( berfikir dan emosi tidak menjadi

perhatian dalam pandangan ini, karena tidak dapat diamati secara langsung.

Diantara keyakinan prinsipil yang terdapat dalam pandangan ini ialah anak

lahir tanpa warisan kecerdasan, bakat, perasaan, dan warisan abstrak lainnya.

Semua kecakapan timbul setelah manusia melakukan kontak dengan

lingkungan. (J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner)

2. Teori Belajar Kognitif

Belajar adalah proses internal mental manusia yang tidak dapat diamati

secara langasung. Perubahan terjadi dalam kemampuan seseorang untuk

bertingkah laku dan berbuat dalam situasi tertentu, perubahan dalam tingkah

lauku hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal dan tak dapat diukur

tanpa dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. (aspek-aspek yang

tidak dapat diamati seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan,

kreatifitas, harapan dan pikiran)

3. Teori Belajar Humanistik

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan

tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara

manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk


mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung

jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.

Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil

utama dari psikologi humanistik, yaitu:

Keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen,

Manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia

lainnya,

Manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan

dengan orang lain,

Manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-

pilihanya, dan

Manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan

kreativitas.

Ruang Lingkup Psikologi Belajar

Psikologi belajar memiliki ruang lingkup yang secara garis besar dapat dibagi

menjadi tiga pokok bahasan , yaitu masalah belajar , proses belajar , dan

situasi belajar .

1. Pokok Bahasan Mengenai Belajar

Teori teori belajar

Prinsip prinsip belajar

Hakikat belajar

Jenis jenis belajar

Aktivitas aktivitas belajar

Teknik belajar efektif

Karakteristik perubahan hasil belajar

Manifestasi perilaku belajar

Faktor faktor yang mempengaruhi belajar


2. Pokok Bahasan Mengenai Proses Belajar

Tahapan perbuatan belajar

Perubahan perubahan jiwa yang terjadi selama belajar

Pengaruh pengalaman belajar terhadap perilaku individu

Pengarauh motivasi terahadap perilaku belajar

Signifikasi perbedaan individual dalam kecepatan memproses kesan dan

keterbatasan kapasitas individu dalam belajar

Masalah proses lupa dan kemampuan individu memproses perolehannya

melalui transfer belajar

3. Proses Bahasan Mengenai Situasi Belajar

Suasana dan keadaan lingkungan fisik

Suasana dan keadaan lingkungan non-fisik

Suasana dan keadaan lingkungan sosial

Suasana dan keadaan lingkungan non-sosial

Faktor anak didik , masyarakat dan organisasi pendidikan :

Pengertian Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum, yaitu pola atau bentuk bahan pelajaran disusun dan

disampaikan kepada murid-murid, merupakan suatu dasar yang penting sekali

dalam pembinaan kurikulumdan bertalian erat dengan tujuan program

pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan

bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.

Jenis jenis kurikulum :

1. Separate-subject curriculum ( Berdasarkan mata pelajaran )

2. Correlated Curriculum ( Kurikulum Gabungan )

3. Intergrated Curriculum ( Kurikulum terpadu )

Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,

terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :


1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan

peserta didik dan lingkungannya.

2. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik

peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa

membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial

ekonomi dan gender.

3. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.

4. Menyeluruh dan berkesinambungan.

5. belajar sepanjang hayat.

6. seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

3. Sejarah Perkembangan Pembelajaran Matematika di Indonesia :

a. Matematika sebelum tahun 1975 :

Setelah Indonesia terlepas dari penjajahan kolonial, pemerintah berbenah

diri menyusun program pendidikan. Matematika diletakkan sebagai salah

satu mata pelajaran wajib. Saat itu pembelajaran matematika lebih

ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi

seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah

sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes

dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang

diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian

penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang

selisihnya positif dan lain sebagainya.

Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa

pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan

bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya

demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan,

bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus

diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya

b. Matematika setelah tahun 1975

Pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum

1975. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya

kemajuan teknologi, di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan

orang-orang yang mampu menangani sejata, rudal dan roket sangat sedikit,

mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika. Selain itu


penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell,

J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain

semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran matematika.

W Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan

belajar bermakna dan berpengertian. Teori ini sesuai dengan terori

Gestalt yang muncul sekitar tahun 1930, dimana Gestalt menengaskan

bahwa latihan hafal atau yang sering disebut drill adalah sangat penting

dalam pengajaran namun diterapkan setalah tertanam pengertian pada

siswa.

Dua hal tersebut di atas memperngaruhi perkembangan pembelajaran

matematika dalam negeri, berbagai kelemahan seolah nampak jelas,

pembelajaran kurang menekankan pada pengertian, kurang adanya

kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin tahu, dan lain sebagainya.

Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi. Akhirnya

Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat menutupi

kelemanahn-kelemahan tersebut, munculah kurikulum 1975 dimana

matematika saat itu mempnyai karakteristik sebagai berikut ;

1. Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang

muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem

numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.

2. Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan

berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.

3. Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih

continue

4. Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur

5. Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya

hetrogen.

6. Menggunakan bahasa yang lebih tepat.

7. Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.

8. Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan

masalah dan teknik diskusi.

9. Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.

Pembelajaran Matematika masa kini


Pembelajaran matematika masa kini adalah pembelajaran era 1980-an. Hal

ini merupakan gerakan revolusi matematika kedua, walaupun tidak

sedahsyat pada revolusi matematika pertama atau matematika modern.

Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh

negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea,

dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu

adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan computer

tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun

1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain,

adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari

segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum

di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain,

belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik.

Dan, CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu

melekat erat dalam kurikulum tersebut.

Dalam kurikulum ini siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial,

sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti

komputer. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kurikulum tersebut,

adalah bahan bahan baru yang sesuai dengan tuntutan di lapangan,

permainan geometri yang mampu mengaktifkan siswa juga disajikan dalam

kurikulum ini.

Sementara itu langkah-langkah agar pelaksanaan kurikulum berhasil adalah

melakukan hal-hal sebagai berikut;

1. Guru supaya meningkatkan profesinalisme

2. Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan

kalkulator dan komputer

3. Sikronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan

sekolah lanjutan

4. Pengevaluasian hasil pembelajaran

5. Prinsip CBSA di pelihara terus

Kurikulum Tahun 1994


Kegiatan matematika internasional begitu marak di tahun 90-an. walaupun

hal itu bukan hal yang baru sebab tahun tahun sebelumnya kegiatan

internasional seperti olimpiade matematika sudah berjalan beberapa kali.

Sampai tahun 1977 saja sudah 19 kali diselenggarakan olimpiade

matematika internasional. Saat itu Yugoslavia menjadi tuan rumah

pelaksanaan olimpiade, dan yang berhasil mendulang medali adalah

Amerika, Rusia, Inggris, Hongaria, dan Belanda.

Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas olimpiade tersebut namun

jarang mendulang medali. (tahun 2004 dalam olimpiade matematika di

Athena, lewat perwakilan siswa SMU 1 Surakarta atas nama Nolang

Hanani merebut medali). Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi

lulusan yang kurang siap dalam kancah kehidupan. Para lulusan kurang

mampu dalam menyelsaikan problem-probelmke hidupan dan lain

sebagainya. Dengan dasar inilah pemerintah berusaha mengembangkan

kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem-

solving kehidupan. Lahirlah kurikulum tahun 1994.

Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama

kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran

matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain;

Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya

melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,

menunjukkankesamaan, perbedaan, konsistensi dan iskonsistensi

Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan

penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu,

membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

Mengembangkan kemampuan memcahkan masalah


Mengembangkan kewmapuan menyampaikan informasi atau

mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan,

grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Sementara itu secara umum prinsip dasar dari kurikulum tersebut adalah

bahwa setiap siswa mampu mempelajari apa saja hanya waktu yang

membedakan mereka dalam ketuntasan belajar. Siswa tidak diperkenankan

mengikuti pelajaran berikutnya sebelum menuntaskan pelajaran

sebelumnya. Dengan demikian remedial-remedial akan seringa dijumpai

terutama siswa yang sering tidak tuntas dalam belajarnya.

4. Hakikat Pengajaran Dan Matematika :

belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep

dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya. Ciri khas matematika

yang deduktif aksiomatis ini harus diketahui oleh guru sehingga mereka dapat

mempelajari matematika dengan tepat, mulai dari konsep-konsep sederhana

sampai yang komplek .

Pengajaran adalah suatu aktivitas (proses) belajar-mengajar. Di dalamnya

ada dua subjek yaitu guru dan peserta didik. Tugas dan tanggung jawab utama

seorang guru/ pengajar adalah mengelolah pengajaran dengan lebih efektif,

dinamis, efesien, dan positif yang diandai dengan adanya kesadaran dan

keterlibatan aktif di antara dua subjek pengajaran; guru sebagai penginisiatif

awal dan pengarah serta pembimbing, sedangkan peserta didik terlibat aktif

(yang mengalami) untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.

Pengajaran itu juga merupakan aktivitas (proses) yang sistematis dan

sistemik yang terdiri atas banyak komponen. Masing-masing komponen

pengajaran tidak bersifat parsial (terpisah) atau berjalan sendiri-sendiri,

tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, dan

berkesinambungan

Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan

penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai

dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan

berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan

bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat


memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi

untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan

kompetitif.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan focus dalam pembelajaran

matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tinggal, masalah

terbuka dengan solusi tidak tunggal , dan masalah berbagai cara penyelesaian.

Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan

keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan

masalah, dan menafsirkan solusinya.

Dalam setiap kemampuan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai

dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).

Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap

dibimbing untuk menguasai konsep matematika.

5. Struktur Pengajaran Matematika

Struktur Matematika

Suatu sistem aksioma yang diikuti dengan teorema-teorema yang dapat

diturunkan akan membentuk struktur. Struktur adalah statu sistem yang di

dalamnya memuat atau memperhatikan adanya hubungan yang hirarkhis.

Struktur matematika yang lengkap yaitu konsep-konsep primitif (undefined

term), aksioma, konsep-konsep lain yang didefinisikan, teorema.

Ketika mengajarkan matematika pada anak usia sekolah dasar, guru tidak

mengajarkan tentang struktur matematika yang tinggi seperti tentang

teorema, lemma, dan corollary. Pada tingkat usia ini, guru mengenalkan

tentang fakta, konsep, operasi dan prinsip matematika yang merupakan

konsep esensial untuk matematika sekolah dasar.

Dalam pembelajaran guru harus memahami hakekat materi pelajaran yang

diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan

berfikir siswa dan memahami berbagai model atau metode pembelajaran yang

dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan

pengajaran yang matang oleh guru. Sejalan dengan pendapat Jerome Bruner

(dalam Syaiful Sagala, 2006 : 63) bahwa perlu adanya teori pembelajaran

yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif

di kelas.
Hal ini menggambarkan orang yang berpengetahuan adalah orang yang

terampil memecahkan masalah, mampu berinteraksi dengan linkungannya

dalam menguji hipotesis dan menarik kesimpulan yang benar. Jadi belajar dan

pembelajaran diarahkan untuk membangun kemampuan berfikir dan kemapuan

menguasai materi pelajaran, dimana pengetahuan itu sumbernya dari luar diri,

tetapi diterapkan dalam diri individu siswa.

Belajar Matematika ialah bagaimana anak dengan informasi yang dia bangun

mampu menyelesaikan permasalahan.

Prinsipnya adalah pembangunan pola pikir anak dalam memecahkan masalah.

Jika anak belajar pada level pengetahuannya, anak tidak akan terlalu takut

terhadap Matematika. Kalau anak belajar tidak sesuai dengan levelnya, anak

ketakutan dan terjadi penumpukan materi yang tidak dikuasai.

Belajar Matematika seharusnya diawali dengan pemberian motivasi. Guru,

terutama, harus dapat menggambarkan kepada anak didiknya manfaat belajar

Matematika dalam kehidupan. Belajar Matematika juga dimulai dengan hal

yang mudah dan beranjak ke materi lebih sulit. Metode belajar Matematika

juga harus bervariasi.

6. GBPP Matematika Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 merupakan Implementasi dari TAP MPR No: II/MPR/1983

tentang GBHN 1983 yang ditindaklanjuti dengan Kepmendikbud No.

0461/U/1983 Tentang Perbaikan Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah

di lingkungan Depdikbud. Pengembangan Kurikulum 1984 berorientasi pada

Landasan Teori yaitu Pendekatan proses belajar mengajar yang diarahkan

agar siswa memiliki kemampuan untuk memproses perolehannya (Pendekatan

Keterampilan Proses). Sebagaimana Kurikulum 1975, Kurikulum 1984 juga

meliputi : LPP, GBPP, Juklak dan Juknis.

Alasan dalam menerapkan kurikulum 1984 antara lain adalah adanya

sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi

teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu

pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum

sesuainya materi kurikulum dengan taraf kemampuan anak didik. Dan CBSA

(cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam

kurikulum tersebut.

7. GBPP Matematika Kurikulum 1994


Kurikulum 1994 merupakan implementasi dari UU No. 2 Tahun 1989 tentang

Sistem Pendidikan Nasional (SPN) yang ditindaklanjuti PP No. 28 dan 29

Tahun 1990 serta Kepmendikbud No. 060 dan 061/U/1993 Tentang Kurikulum

Dikdas dan Dikmen. Dalam Kurikulum 1994 Dikdas meliputi SD dan SLTP,

sedang Dikmen meliputi SMU dan SMK. Di dalam kurikulum 1994 terdapat

beberapa unsur diantaranya adalah :

a. LPP yang memuat Landasan yang dijadikan acuan dan pedoman dalam

pengembangan kurikulum, tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan

sekolah, program pengajaran, pelaksanaan program, penilaian dan

pengembangan kurikulum selanjutnya di tingkat nasional dan tingkat daerah

(Muatan Lokal)

b. GBPP setiap mapel yang memuat : pengertian dan fungsi mapel, tujuan

pengajaran mapel yang bersangkutan. Dan ruang lingkup bahan kajiannya

adalah pokok-pokok bahasan, konsep atau tema dan uraian tentang keluasan

dan kedalamannya, dan rambu-rambu cara penyelenggaraan KBM.

c. Buku Pedoman Pelaksanaan Kurikulum terdiri atas pedoman kegiatan

belajar mengajar untuk setiap mapel, pedoman pengelolaan KBM, pedoman

bimbel/BK, dan pedoman penilaian kegiatan dan hasil belajar.

Dalam kurikulm tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai

karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi

perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam,

model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai

pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan

tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan

dengan materi. Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok

bahasan, hal ini diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu

menyelesaikan permasalahan sehari-hari.

8. Kurikulum 2004

Dasar pelaksanaan kurikulum 2004 adalah UU No. 20 Tahun 2003 Tentang

Sisdiknas dan Keputusan Direktur Dikmenum No. 766a dan

1247/C4/MN/2003 Tentang Penetapan 112 dan 20 SMU penerima bantuan

dana dalam rangka pelaksanaan kurikulum dan sistem penilaian berbasis

kompetensi di SMU Tahun Pelajaran 2003/2004. Di dalam kurikulum 2004

terdapat beberapa unsur diantaranya adalah :


a. Kerangka dasar

b. Kompetensi Lintas Kurikulum dan Kompetensi Bahan kajian.

c. Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator , dan

materi pokok untuk setiap mapel.

d. Pedoman Umum Pengembangan Silabus, Pedoman Umum Pengembangan

Penilaian, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian per mapel.

e. Pedoman-pedoman lainnya.

Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum

tersebut mempunyai tujuan antara lain:

a. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya

melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkankesamaan,

perbedaan, konsistensi dan iskonsistensi.

b. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan

penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat

prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.

c. Mengembangkan kemampuan memcahkan masalah.

d. Mengembangkan kewmapuan menyampaikan informasi atau

mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan,

grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Sementara itu secara umum prinsip dasar dari kurikulum tersebut adalah

bahwa setiap siswa mampu mempelajari apa saja hanya waktu yang

membedakan mereka dalam ketuntasan belajar. Siswa tidak diperkenankan

mengikuti pelajaran berikutnya sebelum menuntaskan pelajaran sebelumnya.

Dengan demikian remedial-remedial akan seringa dijumpai terutama siswa

yang sering tidak tuntas dalam belajarnya.

9. Kurikulum 2006 ( KTSP )

Implementasi dari UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, PP No. 19

Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Permendiknas No.

22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi (SI) dan Permendiknas No. 23 Tahun

2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).


Kurikulum 2006 adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-

masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari 2 dokumen penting diantaranya

adalah :

a. Dokumen I

1) Tujuan pendididikan tingkat satuan pendidikan

2) Struktur dan muatan kurikulum

3) Kalender Pendidikan

b. Dokumen II

1) Silabus

Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri

Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL,

ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari

komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan

kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau

Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru

dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari

perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam

penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi

masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

10. Praktek Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Tujuan evaluasi pendidikan terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus.

1) Tujuan umum evaluasi pendidikan adalah untuk menghimpun bahan-bahan

keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf

perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik

setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu

tertentu, mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode

pembelajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama

jangka waktu tertentu.

2) Tujuan khusus evaluasi pendidikan adalah untuk merangsang kegiatan

peserta didik dalam menempuh program pendidikan, untuk mencari dan

menemukan faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta


didik dalam mengikuti program pendidikan sehingga dapat dicari dan

ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya (Sudijono, 2006:17).

Yang dimaksud dengan objek evaluasi pendidikan adalah segala sesuatu

yang bertalian dengan kegiatan atau proses pendidikan yang dijadikan titik

pusat perhatian atau pengamatan karena pihak penilai ingin memperoleh

informasi tentang kegiatan atau proses pendidikan tersebut.

Salah satu cara untuk mengenal atau mengetahui objek dari evaluasi

pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga segi, yaitu input,

transformasi, dan output. Input merupakan bahan mentah yang akan

diolah, transformasi adalah tempat untuk mengolah bahan mentah,

sedangkan output adalah hasil pengolah yang dilakukan di dapur dan siap

dipakai.

Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah,

input atau bahan mentah yang akan diolah tidak lain adalah para calon

peserta didik. Ditilik dari segi input ini, objek dari evaluasi pendidikan

meliputi tiga aspek, yaitu aspek kemampuan, aspek kepribadian, aspek

sikap. Dalam konsep Bloom barangkali aspek-aspek ini hampir sama dengan

keluaran belajar yang dibagi olehnya menjadi tiga ranah yaitu ranah

kognitif, afektif, psikomotor (Nurgiyantoro, 1988:24-25).

A. Penilaian Tertulis

Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis

merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta

didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu

merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk

yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain

sebagainya.

Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:

1. Soal dengan memilih jawaban

pilihan ganda

dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)

menjodohkan

2. Soal dengan mensuplai-jawaban.

isian atau melengkapi

jawaban singkat atau pendek


soal uraian

Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar-salah,

isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya menilai

kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat (pengetahuan).

Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat

dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik

tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih

jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang

benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan

kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran

tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang

dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak

menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta

didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau

hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau

mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan

menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis

kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan

menyimpulkan. Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang

ditanyakan terbatas.

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-

hal berikut.

materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;

konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan

tegas.

bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang

menimbulkan penafsiran ganda.

B. Penilaian Diri

Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian, di mana

subjek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan
dengan, status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang

dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu.

Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang

berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam

proses pembelajaran di kelas, berkaitan dengan kompetensi kognitif,

misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan

pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam mata

pelajaran tertentu, berdasarkan kriteria atau acuan yang telah disiapkan.

Berkaitan dengan kompetensi afektif, misalnya, peserta didik dapat

diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya

terhadap suatu objek sikap tertentu. Selanjutnya, peserta didik diminta

untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah

disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi psikomotorik, peserta didik

dapat diminta untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah

dikuasainya sebagai hasil belajar berdasarkan kriteria atau acuan yang

telah disiapkan.

Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap

perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik ini

dalam penilaian di kelas antara lain sebagai berikut.

dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka

diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri;

peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena

ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap

kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya;

dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk

berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam

melakukan penilaian.

Terlampir Contoh : Prota , Promes dan RPP Matematika

11. Laporan Hasil Belajar Sesuai Kurikulum 2013

1. Hasil belajar dirumuskan dalam tiga kelompok ranah taksonomi meliputi

ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pembagian taksonomi hasil

belajar ini dilakukan untuk mengukur perubahan perilaku peserta didik selama

proses belajar sampai pada pencapaian hasil belajar yang dirumuskan dalam

aspek perilaku (behaviour) tujuan pembelajaran. Umumnya klasifikasi


perilaku hasil belajar yang digunakan berdasarkan taksonomi Bloom yang pada

Kurikulum 2013 yang telah disempurnakan oleh Anderson dan Krathwohl

dengan pengelompokan menjadi : (1) Sikap (affective) merupakan perilaku,

emosi dan perasaan dalam bersikap dan merasa, (2) Pengetahuan (cognitive)

merupakan kapabilitas intelektual dalam bentuk pengetahuan atau berpikir,

(3) Keterampilan (psychomotor) merupakan keterampilan manual atau motorik

dalam bentuk melakukan.

a. Ranah sikap dalam Kurikulum 2013 merupakan urutan pertama dalam

perumusan kompetensi lulusan, selanjutnya diikuti dengan rumusan ranah

pengetahuan dan keterampilan. Ranah sikap dalam Kurikulum 2013

menggunakan olahan Krathwohl, dimana pembentukan sikap peserta didik

ditata secara hirarkhis mulai dari menerima (accepting), menjalankan

(responding), menghargai (valuing), menghayati (organizing/internalizing), dan

mengamalkan (characterizing/actualizing).

b. Ranah pengetahuan pada Kurikulum 2013 menggunakan taksonomi

Bloom olahan Anderson, dimana perkembangan kemampuan mental

(intelektual) peserta didik dimulai dari C1 yakni mengingat (remember);

peserta didik mengingat kembali pengetahuan dari memorinya. Tahapan

perkembangan selanjutnya C2 yakni memahami (understand); merupakan

kemampuan mengonstruksi makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan,

tulisan maupun grafik. Lebih lanjut tahap C3 yakni menerapkan (apply);

merupakan penggunaan prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi

baru. Tahap lebih lanjut C4 yakni menganalisis (analyse); merupakan

penguraian materi kedalam bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian

tersebut saling berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur.

Tingkatan taksonomi pengetahuan selanjutnya C5 yakni mengevaluasi

(evaluate); merupakan kemampuan membuat keputusan berdasarkan kriteria

dan standar. Kemampuan tertinggi adalah C6 yakni mengkreasi (create);

merupakan kemampuan menempatkan elemen-elemen secara bersamaan ke

dalam bentuk modifikasi atau mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam

pola baru (struktur baru).

c. Ranah keterampilan pada Kurikulum 2013 yang mengarah pada

pembentukan keterampilan abstrak menggunakan gradasi dari Dyers yang

ditata sebagai berikut: mengamati (observing), menanya (questioning),


mencoba (experimenting), menalar (associating), menyaji (communicating),

dan mencipta (creating). Adapun keterampilan kongkret menggunakan gradasi

olahan Simpson dengan tingkatan: persepsi, kesiapan, meniru, membiasakan

gerakan, mahir, menjadi gerakan alami, dan menjadi gerakan orisinal

Diambil Dari :

1. http://perpuspendidikan.blogspot.co.id/2014/04/faktor-penyebab-

perubahan-kurikulum.html

2. https://van88.wordpress.com/filsafat-dan-tujuan-pendidikan/

3. http://11124acs.blogspot.co.id/2013/09/psikologi-belajar.html

4. http://masbando.tripod.com/subandoweb/perkebmat.htm

5. http://shaoran1401.blogspot.co.id/2012/03/hakikat-pengajaran.html

6. http://elferapgsd.blogspot.co.id/2011/07/pendekatan-model-cooperative-

learning.html

7. http://anindityaa.blogspot.co.id/2012/12/kurikulum-matematika-

sekolah.html

8.