Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di era globalisasi dewasa ini, apotek dituntut untuk tepat, cermat, dan
cepat. Keputusan yang tepat dan cermat memberikan dampak yang signifikan
terhadap kemampuan daya saing apotek. Persaingan yang semakin ketat
menuntut Apoteker Pengelola Apotek (APA) memanfaatkan informasi untuk
keputusan manajerialnya. Oleh karena itu, Apoteker Pengelola Apotek (APA)
membutuhkan sebuah sistem informasi yang akan mengumpulkan semua
data-data yang diperlukan. Salah satu informasi terpenting yang dihasilkan
oleh sistem informasi tersebut adalah informasi keuangan yang berupa
laporan-laporan keuangan atau dikenal sebagai manajemen keuangan apotek.
Manajemen keuangan di apotek merupakan fungsi yang melibatkan
proses pencatatan semua transaksi/ kejadian keuangan yang masuk dan keluar
dalam periode tertentu. Periode pencatatan manajemen keuangan dapat dibuat
dalam periode harian, mingguan, bulanan, triwulanan, dan tahunan.
Manajemen keuangan di apotek berfungsi untuk informasi Apoteker
Pengelola Apotek (APA) sebagai sumber informasi dalam proses
pengambilan keputusan strategis atas kelangsungan apotek. Laporan
manajemn keuangan dapat berbentuk neraca, laporan rugi/ laba, perubahan
modal, penggunaan modal, jumlah aktiva dan passiva. Laporan manajemen
keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang dibuat dalam
bentuk neraca dan laporan rugi/ laba (R/L). Neraca akan menyajikan posisi
keuangan suatu apotek pada saat tertentu yang mencakup posisi kekayaan
apotek (aktiva) serta sumber kekayaan atau hutang dari modal (passive).
Sedangkan laporan R/L akan menyajikan hasil kegiatan apotek dalam waktu
tertentu. Laporan R/L juga berfungsi sebagai indikator keberhasilan apotek
dalam menjalankan usahanya selama satu periode tertentu.
Setiap apotek yang profit oriented maupun nirlaba dalam aktivitas
sehari-hari pasti memerlukan uang (kas). Dalam mengelola uang masuk dan

1
keluar suatu apootek membutuhkan suatu perencanaan perhitungan yang
akurat. Akurasi perencanaan kebutuhan akan uang sangat menentukan efektif
tidaknya suatu tujuan. Perencanaan kebutuhan uang yang mengalami over-
under estimate pada perode tertentu akan mengurangi tingkat perolehan laba
perusahaan. Oleh karena itu, manajemen keuangan di apotek perlu dilakukan.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan manajemen keuangan?
2. Apa tujuan dari dilakukannya manajemen keuangan?
3. Bagaimana manajemen keuangan di apotek?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan memahami manjemen keuangan.
2. Untuk mengetahui dan memahami tujuan dari dilakukannya manajemen
keuangan.
3. Untuk mengetahui dan memahami manajemen keuangan di apotek.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Keuangan Apotek


Menurut Bambang Riyanto, manajemen keuangan adalah keseluruhan
aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha mendapatkan dana
yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling
menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien
mungkin. Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-
fungsi keuangan. Pemahaman manajemen keuangan, memerlukan prinsip-
prinsip dasar akuntasi, yaitu akuntasi keuangan yang merupakan suatu proses
pencatatan, pengukuran, dan pengkomunikasikan informasi keuangan yang
dibuat dalam berbagai bentuk antara lain laporan laba-rugi, neraca, aliran kas
dan rasio keuangan. Laporan keuangan adalah informasi finansial tentang
kebijakan apotek dan hasil-hasilnya yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip
akuntasi untuk suatu periode tertentu. Dalam laporan keuangan memberikan
informasi penting yang dapat menggambarkan kondisi keuangan apotek
sehingga dapat digunakan oleh berbagai pihak sesuai dengan kepentingan
yang dibutuhkan.
Manajemen keuangan yang dilakukan dalam suatu kegiatan
perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian,
pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau
perusahaan dapat dilakukan dengan cara pembukuan (accounting).
Pembukuan (accounting) adalah sistem pencatatan, dan pengikhtisaran
transaksi dagang dan keuangan serta penganalisaan, pembuktian dan
pembuatan laporan. Di apotek, pembukuan (accounting) bertujuan agar suatu
apotek dapat menggambarkan secara jelas baik sifat dan perkembangan atas
perubahan yang dialami apotek dari waktu ke waktu. Pembukuan
(accounting) perlu dilakukan dalam penyusunan laporan keuangan dalam
waktu setidaknya untuk 2 tahun terakhir. Di Indonesia istilah pembukuan

3
(accounting) yang dapat dipercaya kebenaran laporannya dikenal sebagai
fungsi tata usaha.

2.2. Fungsi Tata Usaha Apotek


Fungsi tata usaha di apotek menjadi fungsi pencatatan yang dapat
dipercaya kebenaran laporannya. Tugas dari fungsi tata usaha, yaitu :
1. Sebagai pelaksana fungsi pencatatan, yaitu yang mencatat, memeriksa
membuat laporan dan mengarsipkan dokumen.
2. Sebagai pengendali, yaitu mengawasi dan mengendalikan jalannya sistem
prosedur (SPO) yang berlaku pada setiap fungsi kegiatan yang ada.
2.3. Struktur Organisasi Tata Usaha Apotek
Struktur organisasi tata usaha yang ideal, yaitu terdiri dari :
1. Kepala tata usaha;
2. Bagian administrasi pembelian, bertugas mencatat dan membukukan
seluruh pembelian barang keperluan apotek;
3. Bagian administrasi penjualan, bertugas mencatat dan membukukan
seluruh hasil penjualan;
4. Bagian administrasi kas-bank, bertugas mencatat dan membukukan
seluruh hasil penjualan tunai, piutang dan pengeluaran biaya operasional
apotek;
5. Bagian administrasi pajak, bertugas mencatat dan membukukan pajak
masukan, keluaran dan pajak yang harus disetorkan ke kantor pajak;
6. Bagian administrasi umum-personalia;
7. Bagian administrasi kas bertugas mencatat dan membukukan transaksi alat
tagih.
2.4. Proses Pembuatan Laporan Akuntansi Keuangan Apotek
Dokumen transaksi yang terdapat pada fungsi pembelian, fungsi
gudang, fungsi penjualan, dan fungsi keuangan merupakan dokumen yang
diperlukan untuk membuat laporan akuntansi keuangan:

4
1. Proses pembuatan laporan akuntansi keuangan
Proses pembuatan laporan akuntansi keuangan terdiri dari beberapa
tahapan, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Tahap 1 : mengumpulkan seluruh dokumen transaksi;
b. Tahap 2 : mencatat seluruh data transaksi ke buku jurnal;
c. Tahap 3 : memindahkan dari buku jurnal ke buku besar (posting);
d. Tahap 4 : mencocokan (judmen) terhadap informasi terakhir;
e. Tahap 5 : menyusun (reporting) laporan dari data buku besar;
f. Tahap 6 : menutup buku besar dan membuat laporan;
g. Tahap 7 : mengirimkan laporan ke pihak yang membutuhkan;
h. Tahap 8 : mengarsipkan.
2. Mekanisme pengawasan sistem prosedur operasional
Mekanisme pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Sistem
Prosedur (SPO) dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan terhadap
keabsahan dokumen berikut :
a. Dokumen kegiatan pengadaan (pembelian), yaitu :
1. Hanya faktur yang memiliki surat pesanan (SP) dan tanda terima
(TT) dari petugas penanggungjawab gudang yang dapat dinyatakan
sebagai dokumen pembelian barang apotek yang sah.
2. Hanya faktur dengan harga yang telah diperiksa oleh petugas
pembelian dapat dibukukan sebagai hutang dagang apotek.
b. Dokumen kegiatan penyimpangan barang (gudang), yaitu :
1. Hanya faktur yang memiliki surat pesanan (SP) yang dinyatakan
sebagai barang masuk apotek yang sah.
2. Hanya order list (OL) yang memiliki paraf peminta dari penanggung
jawab penjualan dan paraf petugas gudang yang dapat dibukukan
sebagai barang keluar.
c. Dokumen kegiatan penjualan, yaitu :
Hanya sale report (SR) dari resep, nota, OTC, kwitansi atau faktur
yang dinyatakan sebagai dokumen penjualan tunai yang sah. Sale report

5
(SR) berguna sebagai alat kontrol untuk mengetahui jumlah hasil
penjualan setiap hari.
d. Dokumen kegiatan keuangan (kasir besar), yaitu :
1. Hanya fisik uang, cek, giro dan CR (Cash Repor) yang memiliki
tanda tangan (TT) dari petugas kasir dan penanggung jawab loket
penjualan yang dapat dibukukan sebagai uang masuk.
2. Hanya fisik uang, cek, giro, dan kwitansi atau faktur tanda lunas
yang memiliki tanda tangan (TT) dari petugas juru tagih dan petugas
keuangan yang dapat dibukukan sebagai uang masuk.
3. Hanya fisik uang, cek, giro, dan faktur hutang dagang yang telah
disetujui oleh petugas tata usaha dan pimpinan yang dapat dibukukan
sebagai uang keluar.
4. Hanya fisik uang, cek, giro, dan dokumen biaya variable serta biaya
tetap yang telah disetujui oleh petugas tata usaha dan pimpinan yang
dapat dibukukan sebagai uang keluar.
2.5. Bentuk Laporan Keuangan Apotek
Laporan akuntansi keuangan pada dasarnya berfungsi sebagai pemberi
informasi kepada pengelola atau pemilik apotek mengenai perubahan-
perubahan yang terjadi pada unsur-unsur kekayaan (neraca) yang dimiliki di
apotek. Perubahan neraca tersebut di mulai dari kondisi neraca pada awal
kegiatan hingga neraca pada akhir kegiatan apotek. Perubahan neraca tersebut
merupakan akibat adanya kegiatan transaksi jual-beli barang atau jasa selama
pada kurun waktu tertentu.
1. Bentuk laporan akuntansi
a. Neraca
Neraca adalah laporan akuntasi keuangan yang menggambarkan
tentang kondisi harta (aktiva), hutang (pasiva) dan modal sendiri
(ekuity) yang dimiliki apotek pada tanggal tertentu. Neraca disebut juga
sebagai gambaran kekayaan suatu apotek.
1. Unsur-unsur yang terdapat pada neraca, meliputi :
a. Aktiva (harta atau asset), terdiri dari :
6
1. Aktiva lancar (harta yang lancar likuid), seperti uang (kas),
surat berharga (cek, giro, saham), piutang dan persediaan.
2. Aktiva tetap (harta yang tidak likuid), seperti bangunan, tanah,
dan kendaraan.
b. Passiva (hutang atau liability) terdiri dari :
1. Passiva lancar (hutang lancar) yaitu hutang jangka pendek
yang usianya kurang dari 1 tahun, seperti hutang dagang ke
supplier.
2. Hutang jangka panjang yaitu hutang yang usianya lebih dari 1
tahun, seperti pinjaman (loan) dari Bank.
c. Ekuitas (Modal sendiri), yaitu :
Ekuitas merupakan modal yang berasal dari pemilik atau
modal yang dikeluarkan dari sakunya pemilik atau pendiri apotek
sehingga modal tersebut dianggap sebagai hutang apotek.
2. Rumus Neraca
Neraca merupakan suatu konstanta, yaitu apabila jumlah aktiva
sebanding dengan jumlah passiva {jumlah hutang (hak kreditor)
ditambahkan dengan modal pemilik (hak pemilik)}

AKTIVA = HUTANG + MODAL PEMILIK


PASSIVA = HUTANG + MODAL PEMILIK
AKTIVA ~ PASSIVA

b. Laporan Laba Rugi (Income Statement)


Laporan laba rugi (Income Statement) adalah laporan akuntansi
keuangan yang menggambarkan tentang jumlah penjualan (sales), biaya
variabel (variabel cost), biaya tetap (fix cost) dan laba (earning) yang
diperoleh dalam suatu periode tertentu. Unsur-unsur yang terdapat pada
laporan laba rugi, meliputi :
1. Penjualan (Sales)
2. Biaya Pembelian Barang = Biaya Variabel (Variabel Cost)
7
3. Biaya Operasional = Biaya Tetap (Fix Cost)
4. Laba rugi sebelum bunga dan pajak (EBIT), meliputi pajak (Tax),
laba bersih (EAT), dan harga per lembar saham.
Laporan laba rugi tersebut berguna dalam hal :
1. Menilai keberhasilan usaha dengan menghitung profitabilitas usaha.
2. Menilai laba dengan membandingkan laporan periode lalu.
3. Menilai efisiensi perapotekan dengan melihat besarnya biaya dan
komposisi jenis biaya.
Pendapatan usaha dapat bersumber dari penjualan baik tunai
maupun kredit. Biaya adalah pengeluaran yang diperlukan agar usaha
tersebut memperoleh pendapatan, seperti biaya penjualan, gaji
karyawan, pembayaran listrik dan air.
Cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), yaitu :
1. Cara pertama dengan faktor harga jual
1
= 100% (100 )

2. Cara kedua dengan perhitungan jumlah barang

= ( + )

Ada beberapa cara perhitungan nilai stok barang yaitu :


1. Sistem FIFO (First in first Out) adalah cara menilai stok barang yang
dihitung berdasarkan faktor harga beli yang paling akhir.
2. Sistem LIFO (Last In First Out) adalah cara menilai stok barang
yang dihitung berdasarkan factor harga beli yang paling awal.
3. Sistem rata-rata (Average) adalah nilai stok barang dihitung
berdasarkan harga yang diperoleh dari harga beli rata-rata.

8
Contoh laporan laba rugi

c. Laporan aliran kas


Laporan aliran kas dibuat untuk menggambarkan tentang
estimasi rencana jumlah penerimaan dan jumlah pengeluaran uang kas
apotek selama periode waktu tertentu.
1. Unsur-unsur yang terdapat pada laporan aliran kas, yaitu :
a. Saldo awal.
b. Penerimaan kas dari hasil akhir operasi dan investasi.
c. Pengeluaran kas dari kegiatan operasi dan investasi.
d. Saldo akhir.
2. Cara membuat laporan aliran kas, yaitu :
a. Menghitung saldo awal kas yang dimiliki apotek.
b. Mengestimasikan rencana jumlah penerimaan uang tunai yang
diperoleh dari hasil penjualan tunai dan pencairan piutang.
Pendapatan dividen (bila dimiliki saham) dan bunga bank (bila
memiliki tabungan atau deposito)
c. Mengestimasikan rencana jumlah pengeluaran uang tunai untuk
keperluan membayar hutang dagang dan biaya operasional.

9
d. Menghitung kembali saldo akhir dengan cara sebagai berikut :

= +

3. Cara mengevaluasi laporan aliran kas, yaitu :


a. Melihat saldo akhir, mengalami defisit atau surplus.
b. Bila mengalami defisit, Apoteker Pengelola Apotek (APA) harus
mencari penyebabnya dengan cara sebagai berikut :
1. Analisis data penjualan tunai dan penerimaan piutang, yaitu :
Apakah penurunan penjualan tunai dan penerimaan
piutang lebih disebabkan faktor internal (banyak barang
kosong, pelayanan lambat atau harga mahal, pengiriman alat
tagih terlambat dan tidak membrikan intensif) atau faktor
eksternal (jumlah apotek bertambah dan konsumennya
berkurang, pelanggan belum mampu untuk membayar dan
pelanggan kabur atau bangkrut).
2. Analisis data pembayaran hutang dagang, yaitu :
Apakah terdapat faktur-faktur yang belum jatuh tempo
nmaun sudah dibayarkan atau karena adanya tuntutan dari
supplier yang memperpendek masa kredit sehingga jumlah
pembayaran hutang dagang ke supplier menjadi lebih besar
dari yang direncanakan.
3. Analisis data penggunaan biaya usaha, yaitu :
Apakah terdapat penggunaan biaya tertentu yang
melebihi anggaran, seperti biaya penjualan yang intensif
karena petugas terlalu boros atau karena adanya tuntutan
pelanggan dan kebijakan pemerintah sehingga melebihi dari
anggaran.
c. Cara penanggulangan penyebab defisit, yaitu :
1. Penjualan tunai dan penerimaan piutang, apabila
penyebabnya faktor internal maka apotek harus melengkapi
barang, melayani lebih cepat, megirimkan alat tagih lebih
10
cepat, memberikan insentif atau diskon, sedangkan apabila
penyebabnya faktor eksternal maka apotek harus dapat
membujuk dan mempengaruhi agar pelanggan lebih suka
membeli obat ke apotek.
2. Pembayaran hutang dagang, apabila penyebabnya karena
faktor internal seperti adanya kesengajaan membayar faktur
yang belum jatuh tempo maka bagian keuangan harus
menjelaskan apakah ada tambahan diskon atau tidak.
Sedangkan apabila penebabnya factor eksternal maka apotek
harus dapat membujuk dan mempengaruhi agar supplier dapat
memberikan masa kredit yang lebih lama atau apotek dapat
menambah modal kerja dengan meminjam ke bank agar
likuditasnya baik.
3. Penggunaan biaya usaha, apabila penyebab karena faktor
internal seperti pemborosan, maka apotek harus segera
melakukan cost reduction atau cost cutting. Sedangkan apabila
penyebabnya faktor eksternal maka apotek harus mengevaluasi
cost-benefitnya dan melakukan cost reduction atau cost cutting
Contoh aliran dana (cash flow)

11
2.6. Faktor yang Mempengaruhi Laporan Keuangan Apotek
Beberapa faktor yang mempengaruhi laporan keuangan dari waktu ke
waktu, yaitu sebagai berikut :
1. Data historis, yaitu data kondisi keuangan beberapa tahun yang lalu dapat
digunakan untuk memberikan gambaran seberapa besar kecenderungan.
Data-data historis tersebut dibandingkan dengan kondisi kinerja keuangan
saat ini seperti perolehan laba-rugi (penjualan, HPP, biaya usaha dan laba)
neraca dan indikator-indikator keuangannya.
2. Data kerja pesaing (kompetitor), yaitu data yang digunakan dalam
membandingkan kinerja keuangan apotek dengan keuangan apotek pesaing
untuk mengetahui seberapa besar tingkat keunggulan dan efisiensi apotek.
3. Implementasi strategi, yaitu cara digunakan untuk memberikan gambaran
seberapa besar pengaruh (efek) dari implementasi strategi apotek yang
sedang atau telah dilaksanakan seperti menambah karyawan, jumlah
apotek, membeli kendaraan dinas.
4. Perkembangan data eksternal : untuk memberikan gambaran seberapa
besar pengaruhnya perkembangan kondisi eksternal yang sudah dan
sedang terjadi seperti pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan pasar, apotek
pesaing, pemasok, regulasi
2.7. Metode Analisis Laporan Kinerja Keuangan Apotek
Metode yang dapat digunakan dalam menganalisis laporan kinerja
keuangan, diantaranya yaitu :
1. Analisis BEP
Analisis BEP (Break End Point) yaitu suatu titik yang
menggambarkan bahwa apotek dalam posisi yang tidak memperoleh
keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian (titik impas).
Rumus : Keterangan :

= FC = Fixed cost (biaya tetap)
1

VC = Variable cost (biaya variable)

TR = Total revenue (hasil penjualan)

12
Fungsi analisis BEP adalah untuk merencanakan Jumlah Penjualan,
pada tingkat penjualan berapa labanya dapat menutup biaya variable dan
biaya tetap yang dieluarkan apotek? Laba (rugi), berapa jumlah
keuntungan (kerugian) yang akan diperoleh apotek, ketika jumlah
penjualan dan biaya mencapai tingkat tertentu?
Kurva BEP

2. Analisis rasio
Analisis rasio yaitu suatu analisis yang dilakukan dengan cara
membandingkan angka-angka yang terdapat pada laporan keuangan
(laporan laba-rugi dan neraca) dalam suatu periode tertntu. Analisis rasio
terdiri dari 5 macam, yaitu :
a. Rasio likuiditas (liquidity) yaitu indikator yang mengukur kemampuan
apotek dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Terdapat 2
indikator dalam rasio likuidasi, yaitu :
1. Current Ratio (CR) yaitu indikator yang mengukur perbandingan
antara jumlah nilai aktiva lancar dengan jumlah pasiva lancar.
Rumus :
+ + +
() =

13
2. Quick Ratio (QR) yaitu indikator yang mengukur antara
perbandingan jumlah aktiva lancar (tanpa persediaan) dengan jumlah
nilai pasiva lancar.

Rumus :
+ +
() =

b. Rasio Aktivitas (activity) yaitu indikator yang mengukur kemampuan


apotek dalam mengelola seluruh asetnya yang terdapat pada aktiva
lancar dan aktiva tetap dalam satu periode. Terdapat 3 indikator dalam
rasio aktivasi, yaitu :
1. Perputaran persediaan (Inventory Turn Over ITO) yaitu indikator
yang mengukur tingkat kemampuan apotek memutar barang
dagangannya (beli-simpan-jual) dalam 1 tahun.
Rumus :

=

2. Perputaran piutang (Receivable Turn Over RTO) yaitu indikator


yang mengukur tingkat kemampuan apotek memutar piutang (jual-
alat tagih lunas) dalam 1 tahun.
Rumus :

=

3. Perputaran aktiva tetap (Fix Asset Turn Over FATO) yaitu


indicator yang mengukur tingkat apotek dalam megelola dan
memanfaatkan fix asset untuk mengahasilkan sejumlah penjualan
dalam 1 tahun.
Rumus :

=

14
c. Rasio Solvatibilitas (Solvatibility) yaitu indikator yang mengukur
kemampuan apotek dalam memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek
dan panjangnya dengan total nilai asset yang dimiliki. Rasio
Solvatibilitas dapat diukur dengan 2 indikator, yaitu :
1. Solvatibilitas dengan rumus :

=

2. TIE (Time Interest Earning) yaitu indikator yang mengukur
kemampuan apotek dalam menghasilkan laba (EBIT) untuk menutup
beban bunga tetapnya.
Rumus :

d. Profitabilitas (profitibility) yaitu indikator yang mengukur kemampuan


apotek dalam menghasilkan laba bersih (EAT) pada tingkat penjualan,
jumlah asset dan jumlah modal sendiri.
Profitibilitas dapat diukur dengan 3 indikator, yaitu :
1. Profit yaitu yang mengukur kemampuan apotek dalam menghasilkan
laba bersih (EAT) pada tingkat penjualan tertentu.
Rumus :


= 100%

2. ROA (Return On Asset) yaitu indikator yang mengukur kemampuan


apotek dalam menghasilkan laba bersih (EAT) dari seluruh asset
apotek. ROA disebut juga ROI (Return On Investment).
Rumus :


= 100%

15
3. ROE (Return On Equity) yaitu indikator yang mengukur kemampuan
apotek dalam menghasilkan laba bersih (EAT) dari pemakaian
modal pemilik (Equity).
Rumus :

= 100%

3. Payback periode (PP)


Periode Payback menunjukkan berapa lama (dalam beberapa
tahun) suatu investasi akan bisa kembali. Periode Payback
menunjukkan perbandingan antara initial investment dengan aliran
kas tahunan.
Rumus :


= 1

16
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

1. Manajemen keuangan merupakan suatu kegiatan perencanaan,


penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan
penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan dapat
dilakukan dengan cara pembukuan (accounting).
2. Manajemen keuangan bertujuan agar suatu suatu organisasi atau
perushaan dapat menggambarkan secara jelas baik sifat dan
perkembangan atas perubahan yang dialami dari waktu ke waktu
sehingga dapat digunakan oleh berbagai pihak sesuai dengan
kepentingan yang dibutuhkan.
3. Manajemen keuangan di apotek merupakan sistem manajemen
terhadap fungsi-fungsi keuangan yang ada di apotek sehingga dalam
memahami manajemen keuangan tersebut, diperlukan pemahaman
akan prinsip-prinsip dasar akuntansi yang meliputi pencatatan,
pengukuran dan pengkomunikasian informasi keuangan yang dibuat
dalam berbagai antara lain berupa laporan rugi, neraca, aliran kas dan
rasio keuangan. Manajemen keuangan di apotek dilakukan dengan
berbagai bentuk laporan keuangan untuk mengethui sifat dan
perkembangan atas perubahan keuangan yang terjadi dari waktu ke
waktu secara jelas sehingga dapat mengatur keuangan yang ada di
apotek.

17
LAMPIRAN
Contoh Neraca dan Laporan Rugi-Laba :

APOTEK e ISTN Farma


NERACA
31 Maret 2015
Aktiva (Harta/ Asset)
1. Aktiva lancar
Kas Tunai Rp 6.000.000,-
Bank (Tabungan) Rp 7.000.000,-
Persediaan Obat Rp 60.000.000,-
Piutang Rp 15.000.000,- +
Total Harta Lancar Rp. 88.000.000,-
2. Aktiva Tetap
Motor Rp. 13.000.000,-
Komputer Rp. 4.000.000,-
Bangunan Rp. 100.000.000,- +
Total Harta Tetap Rp. 117.000.000,-

Total Aktiva (Total Harta Lancar + Total Harta Tetap) Rp. 205.000.000,-
Passiva (Hutang/ Liability)
1. Passiva Lancar Rp. 45.000.000,-
2. Pinjaman Bank ` Rp. 60.000.000,- +
Rp. 105.000.000,-

18
Ekuitasi
Modal Pemilik Rp. 100.000.000,- +
Total Passiva (Passiva + Ekuitasi) Rp. 205.000.000,-

APOTEK e ISTN Farma


LAPORAN LABA RUGI
31 Maret 2015

Penjualan Bersih
1. Penjualan Kontan Rp. 350.000.000,-
2. Penjualan Kredit Rp. 150.000.000,- +
Total Penjualan Bersih Rp. 500.000.000,-
Harga Pokok Penjualan
1. Persediaan awal Rp. 40.000.000,-
2. Pembelian Rp. 300.000.000,-
3. Persediaan akhir Rp. 50.000.000,-
= ( + )
= (Rp. 65.000.000,- + Rp. 300.000.000,-) Rp. 45.000.000,-
= Rp. 320.000.000,-
Pendapatan Kotor (Total Penjualan Bersih HPP) Rp. 180.000.000,-
Biaya Operasional
Gaji karyawan Rp. 105.000.000,-
Sewa bangunan Rp. 25.000.000,-
Biaya asuransi Rp. 6.200.000,-
Biaya pemasaran Rp. 2.400.000,-
Biaya pemeliharaan Rp. 3.200.000,-
Biaya administrasi Rp. 4.700.000,-
Biaya air, listrik dan telepon Rp. 3.500.000,- +
Total Biaya Operasional Rp. 150.000.000,-

Pendapatan Usaha (Pendapatan Kotor Biaya operasional) Rp. 30.000.000,-


19
Pajak Pendapatan = Pendapatan Usaha x 15%
= Rp. 30.000.000,- x 15%
=Rp. 4.500.000,-
Pendapatan Bersih (Pendapatan Usaha Pajak Pendapatan)Rp. 25.500.000,-
Analisis Manajemen Keuangan Apotek
1. Profit

= 100%

2. ROA

= 100%

3. ROE

= 100%

4. ITO

=

5. PP

= 1

6. BEP

=

1

Keterangan :

FC = Fixed cost (biaya tetap)

VC = Variable cost (biaya variable)

TR = Total revenue (hasil penjualan)

20