0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
516 tayangan22 halaman

Tugas 2 - Dimensi Visual Simpang Lima Semarang

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah penelitian tentang kajian dimensi visual Kawasan Simpang Lima Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen apa saja yang membentuk citra Kawasan Simpang Lima dan bagaimana elemen-elemen tersebut saling berkaitan untuk membentuk identitas Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan dan analisis deskriptif terhadap obyek penelitian.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
516 tayangan22 halaman

Tugas 2 - Dimensi Visual Simpang Lima Semarang

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang masalah penelitian tentang kajian dimensi visual Kawasan Simpang Lima Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen apa saja yang membentuk citra Kawasan Simpang Lima dan bagaimana elemen-elemen tersebut saling berkaitan untuk membentuk identitas Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan dan analisis deskriptif terhadap obyek penelitian.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Dalam desain perkotaan (Shirvani, 1985) terdapat elemen-elemen fisik Urban Design
yang bersifat ekspresif dan suportif yang mendukung terbentuknya struktur visual kota serta
terciptanya citra lingkungan yang dapat pula ditemukan pada lingkungan di lokasi penelitian.
Elemen-elemen tersebut dapat berupa tata guna tanah, bentuk dan massa bangunan dalam
sebuah setting, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, jalur pejalan kaki, activity support juga
simbol dan tanda.
Kota Semarang identik dengan landmark Kawasan Simpang Lima. Simpang Lima
menjadi salah satu tujuan wisata apabila mengunjungi Kota Semarang. Simpang Lima
sendiri terdiri dari elemen-elemen terpisah yang berkaitan dan menjadi satu kesatuan
harmonis yang membentuk citra sebuah kawasan.
Melalui penelitian ini penulis ingin melihat lebih dalam elemen apa saja yang terdapat
dalam Kawasan Simpang Lima dan bagaimana elemen-elemen tersebut saling berkaitan
dan mendukung membentuk sebuah citra dan menjadi identitas Kota Semarang. Untuk itu
penelitian ini diberi judul Kajian Dimensi Visual Kawasan Simpang Lima Semarang

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah :
a. Apa saja elemen dimensi visual pembentuk citra sebuah kawasan?
b. Apa saja elemen yang membentuk dimensi visual pada kawasan Simpang Lima
Semarang?
c. Bagaimana Simpang Lima Semarang menjadi identitas Kota Semarang?

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana elemen-
elemen pada Kawasan Simpang Lima membentuk citra sebuah Kawasan

1.4. Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan pada obyek
penelitian yang kemudian dijabarkan dalam laporan deskriptif yang mengacu pada teori
elemen pendukung dimensi visual sebuah kawasan

1.5. Lingkup dan Batasan Penelitian

Penelitian ini memiliki lingkup dan batasan secara spasial dan substansial. Lingkup
spasial Kawasan Simpang Lima sedangkan lingkup substansial dibatasi pada pembahasan
yang berkaitan dengan elemen rancangan Kota yang membentuk dimensi visual.

1
2
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1. Pengertian Dimensi Visual Kota


Dalam kaitannya dengan suatu lingkungan kota, seni yang dirasakan pengamat
terhadap desain kota disebut dengan seni visual. Yaitu dimana pengamat merasakan apa
yang mereka lihat. Menurut Cullen (1961) karakter visual yang menarik adalah karakter
formal yang dinamis, dapat dicapai melalui pandangan yang menyeluruh berupa suatu
amatan berseri atau menerus (serial vision) yang memiliki unit visual yang dominasinya
memiliki keragaman dalam suatu kesinambungan yang terpadu dan berpola membentuk
satu kesatuan yang unik.
Elemen pembentuk dimensi visual sebuah kota terdiri dari :
I. Tata Guna Tanah
Tata guna lahan dua dimensi menentukan ruang tiga dimensi yang terbentuk, tata
guna lahan perlu mempertimbangkan dua hal yaitu pertimbangan umum dan
pertimbangan pejalan kaki (street level) yang akan menciptakan ruang yang
manusiawi. Peruntukan lahan suatu tempat secara langsung disesuaikan dengan
masalah-masalah yang terkait, bagaimana seharusnya daerah zona dikembangkan,
Shirvany mengatakan bahwa zoning ordinace merupakan suatu mekanisme
pengendalian yang praktis dan bermanfaat dalam urban design, penekanan utama
terletak pada masalah tiga dimensi yaitu hubungan keserasin antar bangunan dan
kualitas lingkungan. Jika kita melihat dilokasi penelitian bisa dilihat dari zona mitigasi
tiap-tiap wilayah kaitanya dalam menyiapkan daerah yang masuk dalam wilayah
bencana alam siap menghadapinya dan juga membentuk kualitas hidup lingkungan
dan bersifat kawasan yang manusiawi.
II. Bentuk dan Massa Bangunan
Menyangkut aspek-aspek bentuk fisik karena setting, spesifik yang meliputi
ketinggian, besaran, floor area ratio, koefisien dasar bangunan, pemunduran
(setback) dari garis jalan, style bangunan, skala proporsi, bahan, tekstur dan warna
agar menghasilkan bangunan yang berhubungan secara harmonis dengan
bangunan-bangunan lain disekitarnya.
Prinsip-prinsip dan teknik Urban Design yang berkaitan dengan bentuk dan massa
bangunan meliputi :
Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi dan dimensi
bangunan sekitar.
Urban Space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas dan tipe-tipe
ruang.

3
Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang yang
dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam skala
besar dan kecil.
III. Sirkulasi Dan Parkir
Elemen sirkulasi adalah satu aspek yang kuat dalam membentuk struktur lingkungan
perkotaan, tiga prinsip utama pengaturan teknik sirkulasi adalah :
Jalan harus menjadi elemen ruang terbuka yang memiliki dampak visual yang
positif.
Jalan harus dapat memberikan orientasi kepada pengemudi dan membuat
lingkungan menjadi jelas terbaca.
Sektor publik harus terpadu dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan
bersama.
IV. Ruang Terbuka
Ian C. Laurit mengelompokkan ruang terbuka sebagai berikut :
Ruang terbuka sebagai sumber produksi.
Ruang terbuka sebagai perlindungan terhadap kekayaan alam dan manusia
(cagar alam, daerah budaya dan sejarah).
Ruang terbuka untuk kesehatan, kesejahteraan dan kenyamana
Ruang terbuka sendiri memiliki fungsi :
Menyediakan cahaya dan sirkulasi udara dalam bangunan terutama di pusat
kota.
Menghadirkan kesan perspektif dan visa pada pemandangan kota (urban scane)
terutama dikawasan pusat kota yang padat.
Menyediakan arena rekreasi dengan bentuk aktifitas khusus.
Melindungi fungsi ekologi kawasan.
Memberikan bentuk solid foid pada kawasan.
Sebagai area cadangan untuk penggunaan dimasa depan (cadangan area
pengembangan).
Aspek pengendalian ruang terbuka pusat kota sebagai aspek fisik, visual ruang,
lingkage dan kepemilikan dipengaruhi beberapa faktor :
Elemen pembentuk ruang, bagaimana ruang terbuka kota yang akan dikenakan
(konteks tempat) tersebut didefinisikan (shape, jalan, plaza, pedestrian ways,
elemen vertikal).
Faktor tempat, bagaimana keterkaitan dengan sistem lingkage yang ada.
Aktifitas utama.
Faktor comfortabilitas, bagaimana keterkaitan dengan kuantitas (besaran ruang,
jarak pencapaian) dan kualitas (estetika visual) ruang.
Faktor keterkaitan antara private domain dan public domain.
V. Jalur Pejalan Kaki
Sistem pejalan kaki yang baik adalah :
Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota.
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia.
Lebih mengekspresikan aktifitas PKL mampu menyajikan kualitas udara.
VI. Activity Support
Muncul oleh adanya keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kota dengan
seluruh kegiatan yang menyangkut penggunaan ruang kota yang menunjang akan

4
keberadaan ruang-ruang umum kota. Kegiatan-kegiatan dan ruang-ruang umum
bersifat saling mengisi dan melengkapi. Pada dasarnya activity support adalah :
Aktifitas yang mengarahkan pada kepentingan pergerakan (importment of
movement).
Kehidupan kota dan kegembiraan (excitentent).
Keberadaan aktifitas pendukung tidak lepas dari tumbuhnya fungsi-fungsi kegiatan
publik yang mendominasi penggunaan ruang-ruang umum kota, semakin dekat
dengan pusat kota makin tinggi intensitas dan keberagamannya.
Bentuk actifity support adalah kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau
lebih pusat kegiatan umum yang ada di kota, mislnya open space (taman kota,
taman rekreasi, plaza, taman budaya, kawasan PKL, pedestrian ways dan
sebagainya) dan juga bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.
VII. Simbol Dan Tanda
Ukuran dan kualitas dari papan reklame diatur untuk :
Menciptakan kesesuaian.
Mengurangi dampak negatif visual.
Dalam waktu bersamaan menghilangkan kebingungan serta persaingan dengan
tanda lalu lintas atau tanda umum yang penting.
Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter pada fasade
bangunan dan menghidupkan street space dan memberikan informasi bisnis.
Dalam urban design, preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada
dan urban place, sama seperti tempat atau bangunan sejarah, hal ini berarti pula
mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu.

2.2. Elemen Rancangan Kota Menurut Kevin Lynch


PATHS (Jalur,Jalan)
Umumnya jalur atau lorong berbentuk pedestrian dan jalan raya
Jalur merupakan penghubung dan jalur sirkulasi manusia serta kendaraan dari
sebuah ruang ke ruang lain di dalam kota. Secara fisik paths adalah merupakan
salah satu unsur pembentuk kota. Path sangat beraneka ragam sesuai dengan
tingkat perkembangan kota, lokasi geografisnya, aksesibilitasnya dengan wilayah lain
dan sebagainya. Berdasarkan elemen pendukungnya , paths dikota meliputi jaringan
jalan sebagai prasarana pergerakan dan angkutan darat, sungai, laut, udara,
terminal/pelabuhan, sebagai sarana perangkutan. Jaringan perangkutan ini cukup
penting khususnya sebagai alat peningkatan perkembangan daerah pedesaan dan
jalur penghubung baik produksi maupun komunikasi lainnya.
Berdasarkan frekuensi, kecepatan dan kepentingannya jaringan penghubung di kota
dikelompokan menjadi :
- Jalan arteri primer
- Jalan arteri sekunder
- Jalan kolektor primer
- Jalan kolektor sekunder
- Jalan utama lingkungan
- Jalan lingkungan

5
Paths ini akan terdiri dari eksternal akses dan internal akses, yaitu jalan-jalan
penghubung antar kota dengan wilayah lain yang lebih luas. Jaringan jalan adalah
pengikat dalam suatu kota, yang merupakan suatu tindakan dimana kita menyatukan
semua aktivitas dan menghasilkan bentuk fisik suatu kota.
NODES (SIMPUL)
Simpul merupakan pertemuan antara beberapa jalan/lorong yang ada di kota,
sehingga membentuk suatu ruang tersendiri. Masing-masing simpul memiliki ciri
yang berbeda, baik bentukan ruangnya maupun pola aktivitas umum yang terjadi.
Biasanya bangunan yang berada pada simpul tersebut sering dirancang secara
khusus untuk memberikan citra tertentu atau identitas ruang. Nodes merupakan
suatu pusat kegiatan fungsional dimana disini terjadi suatu pusat inti / core region
dimana penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup semuanya bertumpu di nodes.
Nodes ini juga juga melayani penduduk di sekitar wilayahnya atau daerah
hiterlandnya.
DISTRICK (DISTRIK)
Suatu daerah yang memiliki ciri-ciri yang hampir sama dan memberikan citra yang
sama. Distrik yang ada dipusat kota berupa daerah komersial yang didominasi oleh
kegiatan ekonomi. Daerah pusat kegiatan yang dinamis, hidup tetapi gejala
spesialisasinya semakin ketara. Daerah ini masih merupakan tempat utama dari
perdagangan, hiburan-hiburan dan lapangan pekerjaan. Hal ini ditunjang oleh
adanya sentralisasi sistem transportasi dan sebagian penduduk kota masih tingal
pada bagian dalam kota-kotanya (innersections). Proses perubahan yang cepat
terjadi pada daerah ini sangat sering sekali mengancam keberadaan bangunan-
bangunan tua yang bernilai historis tinggi. Pada daerah-daerah yang berbatasan
dengan distrik masih banyak tempat yang agak longgar dan banyak digunakan untuk
kegiatan ekonomi antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan untuk golongan
ekonomi rendah dan sebagian lain digunakan untuk tempat tinggal.
LANDMARKS (TENGARAN)
Tengaran merupakan salah satu unsur yang turut memperkaya ruang kota.
Bangunan yang memberikan citra tertentu, sehingga mudah dikenal dan diingat dan
dapat juga memberikan orientasi bagi orang dan kendaraan untuk bersirkulasi.
Landmarks merupakan ciri khas terhadap suatu wilayah sehingga mudah dalam
mengenal orientasi daerah tersebut oleh pengunjung. Landmarks merupakan citra
suatu kota dimana memberikan suatu kesan terhadap kota tersebut.
EDGES (TEPIAN)
Bentukan massa-massa bangunan yang membentuk dan membatasi suatu ruang di
dalam kota. Ruang yang terbentuk tergantung kepada kepejalan dan ketinggian
massa.Daerah perbatasan biasanya terdiri dari lahan tidak terbangun. Kalau dilihat
dari fisik kota semakin jauh dari kota maka ketinggian bangunan semakin rendah dan

6
semakin rendah sewa tanah karena nilai lahannya rendah (derajat aksesibilitas lebih
rendah), mempunyai kepadatan yang lebih rendah, namun biaya transpotasinya lebih
mahal.

2.3. Dimensi Visual


Arsitektur dan Urban Desain adalah suatu bentuk-bentuk seni dari ruang publik yang
saling terkait (Nazar, 1998), Dalam kaitannya dengan suatu lingkungan kota, seni dirasakan
pengamat terhadap desain kota dinamakan seni visual yang berarti pengamat merasakan
apa yang mereka lihat.
Dimensi visual terdiri dari :
1. Preferensi Estetika
Yaitu pendapat pengamat tentang sebuah lingkungan kota yang terekam melalui
visual pengamat yaitu melibatkan semua indera baik penglihatan, penciuman,
pendengaran. Smith (1 980, hal.74) berpendapat bahwa kemampuan kita merasakan
dan mengapresiasi estetika dipengaruhi oleh 4 komponen :
a. Sense of rhyme and pattern (rasa akan rima dan pola)
b. Apreciation of rhytm (Apresiasi terhadap irama)
c. Recognition of balance (Pengakuan atas keseimbangan)
d. Sensitivity to harmonic relationship (Kepekaan terhadap hubungan yang
harmonis)
2. Apresiasi Ruang dan Kualitas Estetika, Townscape
Untuk mencapai kualitas visual lingkungan yang baik diperlukan keteraturan visual
yang harmonis. Maka sebaiknya dibuat pola dan pengelompokan lingkungan
(Arnheim, 1977). Kualitas estetika akan selalu berubah mengikuti perkembangan
jaman (lang, 2005). Bentuk kota dan estetikanya tidak hanya merupakan ungkapan
dari budaya perkotaan saja, melainkan juga merupakan landasan yang kuat yang
mempengaruhi budaya perkotaan ke arah yang baik atau sebaliknya (Camillo, Sitte,
dalam Zahnd, 1999)
3. Desain Elemen Kota
4. Soft And Hard Material
Menurut Camillo Site, untuk mendapatkan kualitas estetika visual diperlukan penataan
struktur kota, prinsip-prinsip penataan tersebut adalah :
a. Enclosure/pagar
b. Terdapat sculpture
c. Membentuk proporsi
d. Monument
Menurut Zukar, terdapat lima tipe dasar perkotaan :
a. Alun-alun tertutup
b. Alun-alun yang didominasi
c. Alun-alun yang dikelompokkan kotak
d. Ruang terbatas
Karakter visual lingkungan perkotaan tidak hanya berasal dari kualitas spasial saja, namun
tekstur, warna dan detail juga berpengaruh. Menurut Buchanan (1988) fasad bangunan
sebaiknya :
a. Menciptakan rasa akan suatu tempat

7
b. Menandakan ruang luar dan dalam, ruang privat dan publik, serta membedakan
keduanya
c. Menjadikan jendela sebagai frame internal
d. Memiliki karakter yang berhubungan dengan bangunan sekitarnya
e. Memberikan irama yang baik
f. Memiliki tekstur bahan bangunan
g. Memiliki substansial yang baik antara bahan bangunan dan cuaca
h. Memiliki ornament yang baik.

Menurut Von Meiss (1990), prinsip organisasi dan koherensi ruang adalah :
a. Menggunakan prinsip kesamaan, sehingga memiliki karakter yang sama

Gambar : Pola Prinsip Kesamaan

b. Menggunakan prinsip kedekatan, sehingga


membentuk kelompok

c. MenggunakanGambar : Pola Yang Memiliki Prinsip Kedekatan


prinsip yang sama namun
umum. Memiliki bentuk lain namun di dalam
area yang sama

Gambar : Pola yang memiliki bentuk lain namun berada dalam area yang sama
d. Menggunakan prinsip
orientasi yang sama

8
Gambar : Pola yang memiliki bentuk lain namun berada dalam area yang sama

e. Menggunakan prinsip penutupan, menggunakan elemen sebagai keseluruhan

f. Gambar : Prinsip
Menggunakan prinsip Penutupan, Elemen Sebagai Keseluruhan
kesinambungan, pola-pola
yang saling berhubungan

Gambar : Prinsip Kesinambungan

9
BAB III

DATA DAN ANALISA

3.1. Tentang Simpang Lima Semarang


Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah 373,70
km2 dan luas wilayah laut 18000 ha yag dibatasi oleh sebelah barat : Kabupaten Kendal,
sebelah timur : Kab. Demak, sebelah selatan : Kab. Semarang, Sebelah Utara : Laut Jawa.
Salah satu unsur penting dalam suatu kota adalah adanya ruang terbuka atau open
space. Kota Semarang memiliki ruang terbuka yang juga dipunyai oleh kota-kota lain yaitu
alun-alun. Alun-alun kota Semarang bukan hanya berfungsi sebagai landmark kota saja
tetapi juga menjadi wadah sosialisasi masyarakat dan tempat masyarakat beraktivitas.

Gambar : Peta Jawa Tengah


Simpang lima merupakan sebuah
Sumber lapangan yang terletak di pusat kota Semarang.
: altovart.blogspot.com
Lapangan tersebut juga biasa dikenal dengan Lapangan Pancasila. Simpang Lima adalah
pertemuan dari lima jalan yang bertemu menjadi satu yaitu Jl. Pahlawan, Jl, Ahmad Yani, Jl,
Pandanaran, Jl. Ahmad Dahlan, dan Jl. Gadjah Mada.
Di sekitar kawasan ini berdiri pusat perbelanjaan dan hotel-hotel berbintang seperti
Hotel Ciputra, Hotel Graha Santika, Hotel Horison, E-Plaza, Mall Ciputra, Ramayana, Plaza
Simpang Lima, dan lain-lain. Lapangan simpang lima ini adalah pusat keramaian warga
Semarang, pada hari Sabtu dan Minggu serta pada hari-hari libur.
Sejarah Simpang Lima
Sejarah Simpang Lima tidak terlepas dari sejarah perkembangan pusat kota Semarang.
Mulai tahun 1965 kegiatan Pasar Johar mengalami perkembangan pesat sehingga ruang
aktivitasnya mengambil alih ruang Aloon-aloon yang membuat aloon-aloon menjadi tidak
berfungsi. Sebelumnya Aloon-aloon tersebut berfungsi sebagai ruang terbuka hijau di depan
Masjid Kauman Johar. Kemudian Presiden Ir.Soekarno mengusulkan untuk memindahkan
aloon-aloon. Setelah dilakukan penelitian ternyata kawasan daerah ujung jalan Seteran
(Jalan Gajahmada) ke arah kaki bukit Candi. Karena daerah itu masih luas dengan
hamparan sawah dan hanya ada satu perempatan (yang merupakan perpotongan jalan
antara Jalan Seteran dengan jalan Oei Tiong Ham (Jalan Pahlawan). Pada sisi barat dan
timur terdapat Jalan Pandanaran (dahulu bernama Hoogerraadslann weg dan Pieter
Sitjthofflann weg). Akhirnya dibuatlah proyek pembangunan Kawasan Simpang Lima

10
sebagai Aloon-aloon baru yang dikerjakan mulai tahun 1965 dan selesai pada tahun 1969.
Perempatan kawasan tersebut ditambah dengan Jalan K.H. Achmad Dahlan) sehingga
pere,patan tersebut menjadi Simpang Lima (Jongkie Tio, 2002 : 42).
Karena lapangan ini merupakan pusat dari lima jalan yang bertemu, maka akhirnya
lebih dikenal sebagai Simpang Lima. Saat ini Simpang Lima telah menjadi ciri khas kota
Semarang yang berupa ruang terbuka yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat
untuk melakukan berbagai aktivitas. Kawasan ini terus berbenah diri, gedung-gedung
pemerintahan mulai menempati lokasi ini, diantaranya Kantor Gubernur yang merupakan
pindahan dari gedung Papak di Kota Lama ke Jalan Pahlawan yang kini dikenal dengan
sebutan Gedung Berlian, kemudian gedung Kantor Daerah Kepolisian Jawa Tengah
(awalnya bertempat di Jalan Dr. Cipto), dan gedung lainnya adalah Kantor Telkom dan
Gedung Pertemuan Rimba Graha milik Perhutani. Selanjutnya terdapat gedung kantor
perdagangan, gedung bank dan bioskop. Tepat di bawah tanjakan Bukit Candi terdapat
kompleks Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Sesuai dengan tradisi, disekitar Aloon-
aloon Simpang Lima juga ditanam pohon beringin di empat pojoknya. Di lokasi tersebut juga
dibangun Masjid Baiturrachman yang modern dengan menara yang indah, selain itu juga
terdapat area pertokoan dan sebuah sekolah Kejuruan Teknik (SMK Pembangunan) juga
Hotel Ciputra yang saat ini sudah menjadi Landmark Kawasan Simpang Lima Semarang.
Menurut Sejarah, di Kawasan Simpang Lima ini dulu juga terdapat Gedung Olahraga dan
Wisma Pancasila, namun sekarang telah dibongkar.
Kawasan Simpang Lima saat ini sudah dipenuhi dengan gedung bertingkat dan
billboard. Kota Semarang sendiri saat ini sangat identik dengan Simpang Lima karena
keramaian dan pusat kegiatannya terpusat di kawasan ini. Pada hari Minggu, lapangan
Simpang Lima biasanya dipadati oleh para pengunjung yang ingin berolahraga, berjalan-
jalan, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Pada saat menjelang pergantian tahun,
Simpang Lima ini juga menjadi tempat yang paling ramai di Semarang karena biasanya
ditempat ini berlangsung pesta kembang api.

3.2. Elemen-elemen Rancangan Kota Pada Kawasan Simpang Lima, Semarang


Simpang Lima memiliki citra sebagai kawasan perdagangan di Kota Semarang.
Awalnya Simpang Lima diperuntukkan sebagai kawasan ruang publik untuk memenuhi
kebutuhan estetika dan kesenian. Namun dalam perkembangannya Simpang Lima
mengalami alih fungsi menjadi ruang yang didominasi untuk transaksi ekonomi. Simpang
Lima telah berubah menjadi pusat perdagangan Kota Semarang. Pergerakan aktivitas di
Simpang Lima Semarang terjadi dari pagi hari hingga malam hari.

11
Gambar : Kawasan Simpang Lima Sebagai Pusat Aktivitas Warga Kota Semarang
Sumber : tripadvisor.com

Berikut iniadalah Gambar : Site Plan Simpang Lima Semarang elemen-elemen


Sumber :indonesianoticia.com
citra Kota Semarang yang terdapat di
Alun-alun Simpang Lima Semarang :
a. Path
Path atau jalur adalah elemen yang paling penting dalam citra kota. Path merupakan
rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan
secara umum. Path disini berupa jalur sepanjang Jalan Simpang Lima, Jalan
Pahlawan dan Jalan Ahmad Yani yang meurupakan jalan kolektor sekunder dan
merupakan kawasan campuran.
b. Edge (tepian)
Edge adalah elemen linier yang tidak dilihat sebagai path. Edge berada antara dua
kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linier, misalnya pantai, tembok,
topografi dan lain-lain. Bangunan bertingkat seperti Hotel Ciputra, Plasa Simpang
Lima, Ace Hardware dan Informa, dan juga Masjid Baiturrahman yang mengelilingi
alun-alun dapat didefinisikan sebagai tepian yang melingkupi kawasan Simpang
Lima Semarang.

Gambar : Edge (Tepian) Kawasan Simpang Lima


Sumber : Sari, Novita (2010).
12
Di area alun-alun simpang lima terdapat barrier berupa taman atau jalur hijau lainnya
antara kedua kawasan sebagai batas antara serat menjadi media yang dapat
meredam tingkat kebisingan yang ditimbulkan oleh aktivitas perdagangan dan jasa
terhadap kawasan alun-alun.

Gambar : Pohon-pohon di Sekitar Area Lapangan Simpang Lima yang berfungsi


sebagai Edge (tepian) Untuk Area Lapangan Itu Sendiri
c. Landmark
Dalam suatu Sumber : seputarsemarang.com kawasan biasanya
terdapat suatu point of interest atau seringkali disebut Landmark. Landmark
(tengeran) merupakan titik referensi seperti elemen node, tetapi orang tidak masuk
ke dalamnya karena bisa dilihat dari luar. Landmark merupakan elemen eksternal
dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari Kota. Landmark di kawasan
Simpang berupa Masjid Baiturrahman dengan menara yang menonjol dan khas.
Hotel Ciputra yang tampak tinggi dan megah, juga dapat berfungsi sebagai
landmark yang menjadi identitas dan ciri khas Kawasan Simpang Lima Semarang.

Gambar : Masjid Baiturrahman Semarang Sebagai Landmark


Sumber : semarangkota.com

d. Node Gambar : Hotel Ciputra Semarang Sebagai Landmark


Node atau simpul pada Sumber : pegipegi.com Kawasan Simpang
Lima Semarang berupa :

Gambar 6 : Hotel Ciputra Semarang Sebagai Landmark

13
- Lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan
dapat diubah kearah atau aktivitas lainnya, misalnya persimpangan lalu lintas,
taman, jembatan dan lain-lain
- Setiap tikungan atau pertigaaan dan perempatan di Kawasan simpang Lima
merupakan node utama karena merupakan simpul penghubung antara kawasan
alun-alun, pemerintah dan perdagangan.
Dalam hal ini node di kawasan Simpang Lima adalah lapangan Simpang Lima itu
sendiri. Selain itu semua persimpangan di Kawasan Simpang Lima sebagai
pengubung juga bias disebut sebagai node.
e. District (Kawasan)
District merupakan kawasan kota dalam skala dua dimensi. District dalam kawasan
dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Yang dapat disebut sebagai
district di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang adalah setiap persimpangan jalan
di area tersebut yaitu, Jalan Gajahmada, Jalan Achmad Dahlan, Jalan Pandanaran
dan Jalan Achmad Yani.

3.3. Dimensi Visual Kota Pada Kawasan Simpang Lima, Semarang


Elemen-elemen kawasan yang membentuk dimensi visual Simpang Lima adalah
sebagai berikut :
I. Tata Guna Tanah
Tata guna lahan di dalam sebuah kawasan akan menciptakan ruang yang
manusiawi. Menurut Shirvany zoning yang tepat akan menciptakan sebuah
hubungan yang harmonis antara bangunan dan kualitas lingkungan. Di kawasan
Simpang Lima sendiri penggunaan lahan mayoritas didominasi oleh pusat kegiatan
perekonomian dan pusat pelayanan umum.
Penggunaan Lahan di Kawasan Simpang Lima didominasi oleh zona
perdagangan modern. Di dalam zona perdagangan modern terdapat Mall Ciputra
yang bergabung dengan hotel Ciputra, Plasa Simpang Lima, ruko Simpang Lima
(bekas Super Ekonomi), E Plaza, dan Ace Hardware (termasuk di dalamnya terdapat
Informa).

Gambar : Mall Ciputra Termasuk Dalam Zona Perdagangan Modern di


Simpang Lima
Sumber : Wordpress.com

14
Gambar : Plasa Simpang Lima
Terutama pada malam hari, terdapat fasilitias food cout di Kawasan Simpang
Sumber : Seputarsemarang.com
Lima yang menggunakan pedestrian di sepanjang ruko Simpang Lima hingga depan
E-Plaza Semarang.

Gambar : Food Court Simpang Lima


Di dalam
Sumber : wordpress.com
kawasan Simpang
Lima juga terdapat
zona peribadatan yaitu masjid
Baiturrahman Semarang.

Gambarlahan
Zona penggunaan : Masjid Raya Baiturrahman
Simpang Semarang
Lima yang lain adalah pusat pendidikan
Sumber : ypkpi-jateng.org
yang ditandai dengan adanya SMKN 7 Semarang.

Zona berikutnya
dalam kawasan Simpang
Lima adalah Zona ruang
terbuka publik yaitu lapangan
Pancasila yang dikenal dengan Lapangan Simpang Lima sebagai landmark

Gambar : SMKN 7 Semarang 15


Sumber : direktorijateng.com
kawasan. Lapangan ini merupakan zona pusta kegiatan masyarakat seperti rekreasi
dan olahraga. Lapangan ini juga merupakan pusat event warga kota Semarang baik
formal sepeti Upacara Peringatan Kemerdekaan Republik Indoneia dan Sholat Idul
Fitri maupun kegiatan non-formal seperti acara malam pergantian tahun maupun
rekreasi setiap akhir pekan.

Gambar : Upacara Peringatan HUT RI di Simpang Lima


Sumber : youtube.com

Gambar
II. Bentuk dan Massa : Malam Pergantian Tahun di Simpang Lima
Bangunan
Sumber
Dimensi visual sebuah : blog.reservasi.com
kawasan tentu tidak lepas dari bentuk dari massa
bangunan yang terdapat di dalamnya.
Aspek-aspek yang akan dibahas dalam bentuk dan massa bangunan di Simpang
Lima adalah sebagai berikut :
Scale
Skala bangunan pada kawasan Simpang Lima didominasi oleh bangunan tinggi.
Bangunan tertinggi di kawasan ini adalah menara Masjid Raya Baiturrahman
dengan ketinggian 45 m (Muhibbudin, 2012) , kemudian Hotel Ciputra Semarang
dan bangunan di sekitarnya dengan minimal ketinggian 2 lantai menimbulkan
kesan monumental di kawasan ini.
Urban Space
Unsur urban space pada kawasan ini adalah lapangan Pancasila yang
dilingkupi oleh vegetasi di sekelillingnya. Bangunan-bangunan tinggi yang

16
mengelilingi kawasan Simpang Lima juga saling berhubungan dengan harmonis
dan menjadi pelingkup (enclosure) bagi Kawasan Simpang Lima, Semarang
Urban Mass
Bangunan di kawasan Simpang Lima, kenaikan level di Lapangan Pancasila
menunjukkan unsur urban mass pada Kawasan Simpang Lima Semarang.

III. Sirkulasi Dan Parkir


Elemen sirkulasi adalah satu aspek yang kuat dalam membentuk struktur lingkungan
perkotaan, tiga prinsip utama pengaturan teknik sirkulasi adalah :
Jalan sebagai elemen ruang terbuka
Jalan di Kawasan Simpang Lima sudah menunjukkan unsur struktur yang kuat
pada kawasan tesebut
Jalan di Kawasan Simpang memiliki orientasi yang jelas terutama pada jalur
yang mengelilingi lapang Pancasila sendiri
Bangunan-bangunan pusat pelayanan umum yang ada di Kawasan ini sudah
memiliki area parkir sendiri, sedangkan untuk pengunjung Lapangan Pancasila
Parkir disediakan di badan jalan mulai dari depan Plasa Simpang Lima hingga
depan E-Plaza Semarang sehingga menimbulkan ketidakteraturan dan
kemacetan terutama pada sore hari dan akhir pekan

IV. Ruang Terbuka


Ruang terbuka di kawasan Simpang Lima adalah Lapangan Simpang Lima sendiri
yang memenuhi fungsi ruang terbuka yaitu :
Menyediakan cahaya dan sirkulasi udara dalam bangunan terutama di pusat
kota.
Menghadirkan kesan perspektif dan visa pada pemandangan kota (urban scane)
terutama dikawasan pusat kota yang padat.
Menyediakan arena rekreasi dengan bentuk aktifitas khusus.
Melindungi fungsi ekologi kawasan.
Memberikan bentuk solid-void pada kawasan.
Sebagai area cadangan untuk penggunaan dimasa depan (cadangan area
pengembangan).
Lapangan Simpang Lima (Lapangan Pancasila merupakan elemen pembentuk
ruang yang memiliki daya tarik yang kuat sebagai pusat kegiatan masyarakat Kota
Semarang dan memiliki keterkaitan dengan massa bangunan disekitarnya dan
menjadi pusat dari Kawasan tersebut.

V. Jalur Pejalan Kaki


Jalur Pejalan kaki di kawasan Simpang telah digunakan sebagai food court dan
disisakan ruang sekitar 80cm
untuk area pejalan kaki.

17
Gambar : Area Pejalan Kaki di Simpang Lima
Area Pejalan kaki ini tentu Sumber
belum layak dilihat dari space yang kurang dan tidak
: aiaidunk.blogspot.com
adanya peneduh. Namun pembatas antara Jalan Raya dengan pedestrian sudah
memenuhi faktor keamanan bagi pejalan kaki.

VI.Activity Support
Ruang-ruang umum di sekitar kawasan Simpang Lima saling berkaitan dan
saling menunjang satu sama lain dan menciptakan suasana Kawasan yang hidup
dan menhasilkan excitement bagi warga. Semua ruang sebagai elemen dari
kawasan berperan dan menyebabkan intensitas yang cukup tinggi pada kawasan ini.
Hal tersebut dibuktikan dengan kawasan ini terus hidup dan terdapat pergerakan di
hampir setiap hari. Aktivitas pagi hari didominasi oleh kendaraan di jalur transportasi.
Kecuali pada akhir pekan, aktivitas di Kawasan Simpang Lima di dominasi oleh
kegiatan rekreasi atau olahraga oleh warga Kota Semarang. Sedangkan pada sore-
hingga malam hari dimana food court mulai buka aktivitas di kawasan ini didominasi
oleh warga Kota Semarang yang juga berekreasi di area Lapangan Pancasila atau
wiasta kuliner di food court.

Gambar : Suasana Kawasan Simpang Lima Pada Pagi Hari


Sumber : pamboedifiles.blosgspot.com

Gambar : Aktivitas Warga Kota Semarang pada Malam Hari Di Kawasan Simpang Lima
Sumber : jatengtribunnews.com

18
Gambar : Food Court Simpang Lima
Sumber : wisatakulinersemarang.com
VII. Simbol Dan Tanda
Simbol dan tanda pada kawasan Simpang Lima berupa papan reklame dan
beberapa rambu lalu lintas. Sedangkan untuk simbol utama terdapat neon sign
bertuliskan Simpang Lima sebagai signage dan penanda kawasan. Fungsi dari
papan reklame adalah untuk kepentingan bisnis dan iklan layanan masyarakat oleh
pemerintah sedangkan rambu lalu lintas untuk mengelola ketertiban warga Kota
Semarang dalam penggunaan kawasan ini. Namun, khususnya untuk papan reklame
ukuran dan bentuk yang tidak seragam menimbulkan kesan tidak rapi pada kawasan
ini.

Gambar : Neon Sign Simpang Lima


Sumber : kompasiana.com

Gambar : Papan Reklame di Simpang Lima yang Tidak Rapi


Sumber : jateng.tribunnews.com

19
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. KESIMPULAN

Dari data dan analisa yang dikumpulkan makan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
Simpang Lima merupakan kawasan yang berfungsi sebagai alun-alun kota
Semarang yang menjadi pusat kegiatan warga Kota Semarang
Semua elemen di kawasan Simpang Lima berperan dengan baik dan saling
berkaitan satu sama lain menimbulkan kesan hidup dan ramai pada kawasan
Menurut elemen rancangan kota menurut Kevin Lynch didapati bahwa :
a. Path
Path disini berupa jalur sepanjang Jalan Simpang Lima, Jalan Pahlawan dan
Jalan Ahmad Yani yang meurupakan jalan kolektor sekunder dan merupakan
kawasan campuran.
b. Edge (tepian)
Bangunan bertingkat seperti Hotel Ciputra, Plasa Simpang Lima, Ace Hardware
dan Informa, dan juga Masjid Baiturrahman yang mengelilingi alun-alun dapat
didefinisikan sebagai tepian yang melingkupi kawasan Simpang Lima Semarang.
c. Landmark
Landmark di kawasan Simpang berupa Masjid Baiturrahman dengan menara
yang menonjol dan khas. Hotel Ciputra yang tampak tinggi dan megah, juga dapat
berfungsi sebagai landmark yang menjadi identitas dan ciri khas Kawasan
Simpang Lima Semarang.
d. Node
Node di kawasan Simpang Lima adalah lapangan Simpang Lima itu sendiri.
Selain itu semua persimpangan di Kawasan Simpang Lima sebagai pengubung
juga bias disebut sebagai node.

e. District (Kawasan)
District merupakan kawasan kota dalam skala dua dimensi. District dalam
kawasan dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Yang dapat
disebut sebagai district di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang adalah setiap
persimpangan jalan di area tersebut yaitu, Jalan Gajahmada, Jalan Achmad
Dahlan, Jalan Pandanaran dan Jalan Achmad Yani.

20
Penggunaan lahan di Kawasan Simpang Lima didominasi oleh bangunan yang
bertujuan untuk kegiatan ekonomi terutama mall
Aspek bentuk massa bangunan
a. Scale
Terdiri dari bangunan monumental dengan ketinggian maksimal 45 meter yaitu
menara masjid Raya Baiturrahman
b. Urban Space
Unsur urban space pada kawasan ini adalah lapangan Pancasila yang
dilingkupi oleh vegetasi di sekelillingnya. Bangunan-bangunan tinggi yang
mengelilingi kawasan Simpang Lima juga saling berhubungan dengan harmonis
dan menjadi pelingkup (enclosure) bagi Kawasan Simpang Lima, Semarang
c. Urban Mass
Bangunan di kawasan Simpang Lima, kenaikan level di Lapangan Pancasila
menunjukkan unsur urban mass pada Kawasan Simpang Lima Semarang.
Sebagai aspek ruang terbuka, Lapangan Simpang Lima (Lapangan Pancasila
merupakan elemen pembentuk ruang yang memiliki daya tarik yang kuat sebagai
pusat kegiatan masyarakat Kota Semarang dan memiliki keterkaitan dengan massa
bangunan disekitarnya dan menjadi pusat dari Kawasan tersebut.
Kelemahan kawasan Simpang Lima sebagai pusat kegiatan masyarakat adalah
keberadaan papan reklame yang tidak rapi dan juga ketersediaan area parkir untuk
pengunjung lapangan simpang lima.

4.2. SARAN

Simpang Lima menjadi ikon dan daya tarik tersendiri bagi kota Semarang untuk
itu perlu diperhatikan beberapa hal sebagai upaya perbaikan Kawasan Simpang Lima
sebagai obyek wisata kaitannya dengan dimensi visual kawasan adalah penataan
papan reklame yang tidak beraturan dan sebagian besar menutupi kawasan Simpang
Lima. Pengembangan reklame menjadi iklan digital seperti di beberapa titik di Simpang
Lima (di depan E-Plaza dan Ace hardware) juga dapat menjadi solusi yang tepat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Lynch, Kevin. 1960. Image Of The City, MIT Press. Cambridge


Von Meiss, Pierre, 1986, Elements of Architecture: from form to place, Van Nostrand
Reinhold Publisher, New York
Mumford, Lewis, 1968, The Urban Prospects, Harcourt Brace & World Inc, New York
Tio, Jongkie, 2002. Kota Semarang Dalam Kenangan. Semarang

Sari, Novita. 2012. Analisa Alun-Alun Simpang Lima Semarang, Universitas Diponegoro.
Semarang.

Muhibbudin, M. 2012. Profil Pendidikan Islam Di Masjid Raya Baiturrahman Semarang,


Universitas Islam Negeri Walisongo. Semarang.

22

Anda mungkin juga menyukai