Tugas 2 - Dimensi Visual Simpang Lima Semarang
Tugas 2 - Dimensi Visual Simpang Lima Semarang
PENDAHULUAN
Penelitian ini memiliki lingkup dan batasan secara spasial dan substansial. Lingkup
spasial Kawasan Simpang Lima sedangkan lingkup substansial dibatasi pada pembahasan
yang berkaitan dengan elemen rancangan Kota yang membentuk dimensi visual.
1
2
BAB II
KAJIAN TEORI
3
Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang yang
dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam skala
besar dan kecil.
III. Sirkulasi Dan Parkir
Elemen sirkulasi adalah satu aspek yang kuat dalam membentuk struktur lingkungan
perkotaan, tiga prinsip utama pengaturan teknik sirkulasi adalah :
Jalan harus menjadi elemen ruang terbuka yang memiliki dampak visual yang
positif.
Jalan harus dapat memberikan orientasi kepada pengemudi dan membuat
lingkungan menjadi jelas terbaca.
Sektor publik harus terpadu dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan
bersama.
IV. Ruang Terbuka
Ian C. Laurit mengelompokkan ruang terbuka sebagai berikut :
Ruang terbuka sebagai sumber produksi.
Ruang terbuka sebagai perlindungan terhadap kekayaan alam dan manusia
(cagar alam, daerah budaya dan sejarah).
Ruang terbuka untuk kesehatan, kesejahteraan dan kenyamana
Ruang terbuka sendiri memiliki fungsi :
Menyediakan cahaya dan sirkulasi udara dalam bangunan terutama di pusat
kota.
Menghadirkan kesan perspektif dan visa pada pemandangan kota (urban scane)
terutama dikawasan pusat kota yang padat.
Menyediakan arena rekreasi dengan bentuk aktifitas khusus.
Melindungi fungsi ekologi kawasan.
Memberikan bentuk solid foid pada kawasan.
Sebagai area cadangan untuk penggunaan dimasa depan (cadangan area
pengembangan).
Aspek pengendalian ruang terbuka pusat kota sebagai aspek fisik, visual ruang,
lingkage dan kepemilikan dipengaruhi beberapa faktor :
Elemen pembentuk ruang, bagaimana ruang terbuka kota yang akan dikenakan
(konteks tempat) tersebut didefinisikan (shape, jalan, plaza, pedestrian ways,
elemen vertikal).
Faktor tempat, bagaimana keterkaitan dengan sistem lingkage yang ada.
Aktifitas utama.
Faktor comfortabilitas, bagaimana keterkaitan dengan kuantitas (besaran ruang,
jarak pencapaian) dan kualitas (estetika visual) ruang.
Faktor keterkaitan antara private domain dan public domain.
V. Jalur Pejalan Kaki
Sistem pejalan kaki yang baik adalah :
Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota.
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia.
Lebih mengekspresikan aktifitas PKL mampu menyajikan kualitas udara.
VI. Activity Support
Muncul oleh adanya keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kota dengan
seluruh kegiatan yang menyangkut penggunaan ruang kota yang menunjang akan
4
keberadaan ruang-ruang umum kota. Kegiatan-kegiatan dan ruang-ruang umum
bersifat saling mengisi dan melengkapi. Pada dasarnya activity support adalah :
Aktifitas yang mengarahkan pada kepentingan pergerakan (importment of
movement).
Kehidupan kota dan kegembiraan (excitentent).
Keberadaan aktifitas pendukung tidak lepas dari tumbuhnya fungsi-fungsi kegiatan
publik yang mendominasi penggunaan ruang-ruang umum kota, semakin dekat
dengan pusat kota makin tinggi intensitas dan keberagamannya.
Bentuk actifity support adalah kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau
lebih pusat kegiatan umum yang ada di kota, mislnya open space (taman kota,
taman rekreasi, plaza, taman budaya, kawasan PKL, pedestrian ways dan
sebagainya) dan juga bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan umum.
VII. Simbol Dan Tanda
Ukuran dan kualitas dari papan reklame diatur untuk :
Menciptakan kesesuaian.
Mengurangi dampak negatif visual.
Dalam waktu bersamaan menghilangkan kebingungan serta persaingan dengan
tanda lalu lintas atau tanda umum yang penting.
Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter pada fasade
bangunan dan menghidupkan street space dan memberikan informasi bisnis.
Dalam urban design, preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada
dan urban place, sama seperti tempat atau bangunan sejarah, hal ini berarti pula
mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu.
5
Paths ini akan terdiri dari eksternal akses dan internal akses, yaitu jalan-jalan
penghubung antar kota dengan wilayah lain yang lebih luas. Jaringan jalan adalah
pengikat dalam suatu kota, yang merupakan suatu tindakan dimana kita menyatukan
semua aktivitas dan menghasilkan bentuk fisik suatu kota.
NODES (SIMPUL)
Simpul merupakan pertemuan antara beberapa jalan/lorong yang ada di kota,
sehingga membentuk suatu ruang tersendiri. Masing-masing simpul memiliki ciri
yang berbeda, baik bentukan ruangnya maupun pola aktivitas umum yang terjadi.
Biasanya bangunan yang berada pada simpul tersebut sering dirancang secara
khusus untuk memberikan citra tertentu atau identitas ruang. Nodes merupakan
suatu pusat kegiatan fungsional dimana disini terjadi suatu pusat inti / core region
dimana penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup semuanya bertumpu di nodes.
Nodes ini juga juga melayani penduduk di sekitar wilayahnya atau daerah
hiterlandnya.
DISTRICK (DISTRIK)
Suatu daerah yang memiliki ciri-ciri yang hampir sama dan memberikan citra yang
sama. Distrik yang ada dipusat kota berupa daerah komersial yang didominasi oleh
kegiatan ekonomi. Daerah pusat kegiatan yang dinamis, hidup tetapi gejala
spesialisasinya semakin ketara. Daerah ini masih merupakan tempat utama dari
perdagangan, hiburan-hiburan dan lapangan pekerjaan. Hal ini ditunjang oleh
adanya sentralisasi sistem transportasi dan sebagian penduduk kota masih tingal
pada bagian dalam kota-kotanya (innersections). Proses perubahan yang cepat
terjadi pada daerah ini sangat sering sekali mengancam keberadaan bangunan-
bangunan tua yang bernilai historis tinggi. Pada daerah-daerah yang berbatasan
dengan distrik masih banyak tempat yang agak longgar dan banyak digunakan untuk
kegiatan ekonomi antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan untuk golongan
ekonomi rendah dan sebagian lain digunakan untuk tempat tinggal.
LANDMARKS (TENGARAN)
Tengaran merupakan salah satu unsur yang turut memperkaya ruang kota.
Bangunan yang memberikan citra tertentu, sehingga mudah dikenal dan diingat dan
dapat juga memberikan orientasi bagi orang dan kendaraan untuk bersirkulasi.
Landmarks merupakan ciri khas terhadap suatu wilayah sehingga mudah dalam
mengenal orientasi daerah tersebut oleh pengunjung. Landmarks merupakan citra
suatu kota dimana memberikan suatu kesan terhadap kota tersebut.
EDGES (TEPIAN)
Bentukan massa-massa bangunan yang membentuk dan membatasi suatu ruang di
dalam kota. Ruang yang terbentuk tergantung kepada kepejalan dan ketinggian
massa.Daerah perbatasan biasanya terdiri dari lahan tidak terbangun. Kalau dilihat
dari fisik kota semakin jauh dari kota maka ketinggian bangunan semakin rendah dan
6
semakin rendah sewa tanah karena nilai lahannya rendah (derajat aksesibilitas lebih
rendah), mempunyai kepadatan yang lebih rendah, namun biaya transpotasinya lebih
mahal.
7
b. Menandakan ruang luar dan dalam, ruang privat dan publik, serta membedakan
keduanya
c. Menjadikan jendela sebagai frame internal
d. Memiliki karakter yang berhubungan dengan bangunan sekitarnya
e. Memberikan irama yang baik
f. Memiliki tekstur bahan bangunan
g. Memiliki substansial yang baik antara bahan bangunan dan cuaca
h. Memiliki ornament yang baik.
Menurut Von Meiss (1990), prinsip organisasi dan koherensi ruang adalah :
a. Menggunakan prinsip kesamaan, sehingga memiliki karakter yang sama
Gambar : Pola yang memiliki bentuk lain namun berada dalam area yang sama
d. Menggunakan prinsip
orientasi yang sama
8
Gambar : Pola yang memiliki bentuk lain namun berada dalam area yang sama
f. Gambar : Prinsip
Menggunakan prinsip Penutupan, Elemen Sebagai Keseluruhan
kesinambungan, pola-pola
yang saling berhubungan
9
BAB III
10
sebagai Aloon-aloon baru yang dikerjakan mulai tahun 1965 dan selesai pada tahun 1969.
Perempatan kawasan tersebut ditambah dengan Jalan K.H. Achmad Dahlan) sehingga
pere,patan tersebut menjadi Simpang Lima (Jongkie Tio, 2002 : 42).
Karena lapangan ini merupakan pusat dari lima jalan yang bertemu, maka akhirnya
lebih dikenal sebagai Simpang Lima. Saat ini Simpang Lima telah menjadi ciri khas kota
Semarang yang berupa ruang terbuka yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat
untuk melakukan berbagai aktivitas. Kawasan ini terus berbenah diri, gedung-gedung
pemerintahan mulai menempati lokasi ini, diantaranya Kantor Gubernur yang merupakan
pindahan dari gedung Papak di Kota Lama ke Jalan Pahlawan yang kini dikenal dengan
sebutan Gedung Berlian, kemudian gedung Kantor Daerah Kepolisian Jawa Tengah
(awalnya bertempat di Jalan Dr. Cipto), dan gedung lainnya adalah Kantor Telkom dan
Gedung Pertemuan Rimba Graha milik Perhutani. Selanjutnya terdapat gedung kantor
perdagangan, gedung bank dan bioskop. Tepat di bawah tanjakan Bukit Candi terdapat
kompleks Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Sesuai dengan tradisi, disekitar Aloon-
aloon Simpang Lima juga ditanam pohon beringin di empat pojoknya. Di lokasi tersebut juga
dibangun Masjid Baiturrachman yang modern dengan menara yang indah, selain itu juga
terdapat area pertokoan dan sebuah sekolah Kejuruan Teknik (SMK Pembangunan) juga
Hotel Ciputra yang saat ini sudah menjadi Landmark Kawasan Simpang Lima Semarang.
Menurut Sejarah, di Kawasan Simpang Lima ini dulu juga terdapat Gedung Olahraga dan
Wisma Pancasila, namun sekarang telah dibongkar.
Kawasan Simpang Lima saat ini sudah dipenuhi dengan gedung bertingkat dan
billboard. Kota Semarang sendiri saat ini sangat identik dengan Simpang Lima karena
keramaian dan pusat kegiatannya terpusat di kawasan ini. Pada hari Minggu, lapangan
Simpang Lima biasanya dipadati oleh para pengunjung yang ingin berolahraga, berjalan-
jalan, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Pada saat menjelang pergantian tahun,
Simpang Lima ini juga menjadi tempat yang paling ramai di Semarang karena biasanya
ditempat ini berlangsung pesta kembang api.
11
Gambar : Kawasan Simpang Lima Sebagai Pusat Aktivitas Warga Kota Semarang
Sumber : tripadvisor.com
13
- Lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan
dapat diubah kearah atau aktivitas lainnya, misalnya persimpangan lalu lintas,
taman, jembatan dan lain-lain
- Setiap tikungan atau pertigaaan dan perempatan di Kawasan simpang Lima
merupakan node utama karena merupakan simpul penghubung antara kawasan
alun-alun, pemerintah dan perdagangan.
Dalam hal ini node di kawasan Simpang Lima adalah lapangan Simpang Lima itu
sendiri. Selain itu semua persimpangan di Kawasan Simpang Lima sebagai
pengubung juga bias disebut sebagai node.
e. District (Kawasan)
District merupakan kawasan kota dalam skala dua dimensi. District dalam kawasan
dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Yang dapat disebut sebagai
district di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang adalah setiap persimpangan jalan
di area tersebut yaitu, Jalan Gajahmada, Jalan Achmad Dahlan, Jalan Pandanaran
dan Jalan Achmad Yani.
14
Gambar : Plasa Simpang Lima
Terutama pada malam hari, terdapat fasilitias food cout di Kawasan Simpang
Sumber : Seputarsemarang.com
Lima yang menggunakan pedestrian di sepanjang ruko Simpang Lima hingga depan
E-Plaza Semarang.
Gambarlahan
Zona penggunaan : Masjid Raya Baiturrahman
Simpang Semarang
Lima yang lain adalah pusat pendidikan
Sumber : ypkpi-jateng.org
yang ditandai dengan adanya SMKN 7 Semarang.
Zona berikutnya
dalam kawasan Simpang
Lima adalah Zona ruang
terbuka publik yaitu lapangan
Pancasila yang dikenal dengan Lapangan Simpang Lima sebagai landmark
Gambar
II. Bentuk dan Massa : Malam Pergantian Tahun di Simpang Lima
Bangunan
Sumber
Dimensi visual sebuah : blog.reservasi.com
kawasan tentu tidak lepas dari bentuk dari massa
bangunan yang terdapat di dalamnya.
Aspek-aspek yang akan dibahas dalam bentuk dan massa bangunan di Simpang
Lima adalah sebagai berikut :
Scale
Skala bangunan pada kawasan Simpang Lima didominasi oleh bangunan tinggi.
Bangunan tertinggi di kawasan ini adalah menara Masjid Raya Baiturrahman
dengan ketinggian 45 m (Muhibbudin, 2012) , kemudian Hotel Ciputra Semarang
dan bangunan di sekitarnya dengan minimal ketinggian 2 lantai menimbulkan
kesan monumental di kawasan ini.
Urban Space
Unsur urban space pada kawasan ini adalah lapangan Pancasila yang
dilingkupi oleh vegetasi di sekelillingnya. Bangunan-bangunan tinggi yang
16
mengelilingi kawasan Simpang Lima juga saling berhubungan dengan harmonis
dan menjadi pelingkup (enclosure) bagi Kawasan Simpang Lima, Semarang
Urban Mass
Bangunan di kawasan Simpang Lima, kenaikan level di Lapangan Pancasila
menunjukkan unsur urban mass pada Kawasan Simpang Lima Semarang.
17
Gambar : Area Pejalan Kaki di Simpang Lima
Area Pejalan kaki ini tentu Sumber
belum layak dilihat dari space yang kurang dan tidak
: aiaidunk.blogspot.com
adanya peneduh. Namun pembatas antara Jalan Raya dengan pedestrian sudah
memenuhi faktor keamanan bagi pejalan kaki.
VI.Activity Support
Ruang-ruang umum di sekitar kawasan Simpang Lima saling berkaitan dan
saling menunjang satu sama lain dan menciptakan suasana Kawasan yang hidup
dan menhasilkan excitement bagi warga. Semua ruang sebagai elemen dari
kawasan berperan dan menyebabkan intensitas yang cukup tinggi pada kawasan ini.
Hal tersebut dibuktikan dengan kawasan ini terus hidup dan terdapat pergerakan di
hampir setiap hari. Aktivitas pagi hari didominasi oleh kendaraan di jalur transportasi.
Kecuali pada akhir pekan, aktivitas di Kawasan Simpang Lima di dominasi oleh
kegiatan rekreasi atau olahraga oleh warga Kota Semarang. Sedangkan pada sore-
hingga malam hari dimana food court mulai buka aktivitas di kawasan ini didominasi
oleh warga Kota Semarang yang juga berekreasi di area Lapangan Pancasila atau
wiasta kuliner di food court.
Gambar : Aktivitas Warga Kota Semarang pada Malam Hari Di Kawasan Simpang Lima
Sumber : jatengtribunnews.com
18
Gambar : Food Court Simpang Lima
Sumber : wisatakulinersemarang.com
VII. Simbol Dan Tanda
Simbol dan tanda pada kawasan Simpang Lima berupa papan reklame dan
beberapa rambu lalu lintas. Sedangkan untuk simbol utama terdapat neon sign
bertuliskan Simpang Lima sebagai signage dan penanda kawasan. Fungsi dari
papan reklame adalah untuk kepentingan bisnis dan iklan layanan masyarakat oleh
pemerintah sedangkan rambu lalu lintas untuk mengelola ketertiban warga Kota
Semarang dalam penggunaan kawasan ini. Namun, khususnya untuk papan reklame
ukuran dan bentuk yang tidak seragam menimbulkan kesan tidak rapi pada kawasan
ini.
19
BAB IV
4.1. KESIMPULAN
Dari data dan analisa yang dikumpulkan makan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
Simpang Lima merupakan kawasan yang berfungsi sebagai alun-alun kota
Semarang yang menjadi pusat kegiatan warga Kota Semarang
Semua elemen di kawasan Simpang Lima berperan dengan baik dan saling
berkaitan satu sama lain menimbulkan kesan hidup dan ramai pada kawasan
Menurut elemen rancangan kota menurut Kevin Lynch didapati bahwa :
a. Path
Path disini berupa jalur sepanjang Jalan Simpang Lima, Jalan Pahlawan dan
Jalan Ahmad Yani yang meurupakan jalan kolektor sekunder dan merupakan
kawasan campuran.
b. Edge (tepian)
Bangunan bertingkat seperti Hotel Ciputra, Plasa Simpang Lima, Ace Hardware
dan Informa, dan juga Masjid Baiturrahman yang mengelilingi alun-alun dapat
didefinisikan sebagai tepian yang melingkupi kawasan Simpang Lima Semarang.
c. Landmark
Landmark di kawasan Simpang berupa Masjid Baiturrahman dengan menara
yang menonjol dan khas. Hotel Ciputra yang tampak tinggi dan megah, juga dapat
berfungsi sebagai landmark yang menjadi identitas dan ciri khas Kawasan
Simpang Lima Semarang.
d. Node
Node di kawasan Simpang Lima adalah lapangan Simpang Lima itu sendiri.
Selain itu semua persimpangan di Kawasan Simpang Lima sebagai pengubung
juga bias disebut sebagai node.
e. District (Kawasan)
District merupakan kawasan kota dalam skala dua dimensi. District dalam
kawasan dapat dilihat sebagai referensi interior maupun eksterior. Yang dapat
disebut sebagai district di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang adalah setiap
persimpangan jalan di area tersebut yaitu, Jalan Gajahmada, Jalan Achmad
Dahlan, Jalan Pandanaran dan Jalan Achmad Yani.
20
Penggunaan lahan di Kawasan Simpang Lima didominasi oleh bangunan yang
bertujuan untuk kegiatan ekonomi terutama mall
Aspek bentuk massa bangunan
a. Scale
Terdiri dari bangunan monumental dengan ketinggian maksimal 45 meter yaitu
menara masjid Raya Baiturrahman
b. Urban Space
Unsur urban space pada kawasan ini adalah lapangan Pancasila yang
dilingkupi oleh vegetasi di sekelillingnya. Bangunan-bangunan tinggi yang
mengelilingi kawasan Simpang Lima juga saling berhubungan dengan harmonis
dan menjadi pelingkup (enclosure) bagi Kawasan Simpang Lima, Semarang
c. Urban Mass
Bangunan di kawasan Simpang Lima, kenaikan level di Lapangan Pancasila
menunjukkan unsur urban mass pada Kawasan Simpang Lima Semarang.
Sebagai aspek ruang terbuka, Lapangan Simpang Lima (Lapangan Pancasila
merupakan elemen pembentuk ruang yang memiliki daya tarik yang kuat sebagai
pusat kegiatan masyarakat Kota Semarang dan memiliki keterkaitan dengan massa
bangunan disekitarnya dan menjadi pusat dari Kawasan tersebut.
Kelemahan kawasan Simpang Lima sebagai pusat kegiatan masyarakat adalah
keberadaan papan reklame yang tidak rapi dan juga ketersediaan area parkir untuk
pengunjung lapangan simpang lima.
4.2. SARAN
Simpang Lima menjadi ikon dan daya tarik tersendiri bagi kota Semarang untuk
itu perlu diperhatikan beberapa hal sebagai upaya perbaikan Kawasan Simpang Lima
sebagai obyek wisata kaitannya dengan dimensi visual kawasan adalah penataan
papan reklame yang tidak beraturan dan sebagian besar menutupi kawasan Simpang
Lima. Pengembangan reklame menjadi iklan digital seperti di beberapa titik di Simpang
Lima (di depan E-Plaza dan Ace hardware) juga dapat menjadi solusi yang tepat.
21
DAFTAR PUSTAKA
Sari, Novita. 2012. Analisa Alun-Alun Simpang Lima Semarang, Universitas Diponegoro.
Semarang.
22