Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“ISPA”

DEPARTEMEN PEDIATRIC

Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Departemen Pediatric

OLEH

KELOMPOK 21

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

1
PENDIDIKAN KESEHATAN

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang study : Keperawatan Pediatric

Topik : ISPA

Sasaran : Keluarga pasien poli KIA Puskesmas Kendalsari, Malang

Tempat :

Hari/tanggal : jum’at, 15 desember 2017

Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d Selesai

A. Latar Belakang
ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah
yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun
riketsia, tanpa atau disertai radang parenkim paru (Alsagaf, 2009). ISPA
salah satu penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun tetapi
diagnosis sulit ditegakkan. World Health Organization (WHO)
memperkirakan insidensi ISPA di negara berkembang dengan angka
kejadian ISPA pada balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah
15%-20% pertahun pada 13 juta anak balita di dunia golongan usia balita.
Pada tahun 2000, 1,9 juta (95%) anak – anak di seluruh dunia meninggal
karena ISPA, 70 % dari Afrika dan Asia Tenggara (WHO, 2002). Gejala
ISPA sangat banyak ditemukan pada kelompok masyarakat di dunia,
karena penyebab ISPA merupakan salah satu hal yang sangat akrab di
masyarakat. ISPA merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh virus
meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut
saluran pernapasan bagian bawah.
ISPA menjadi perhatian bagi anak-anak (termasuk balita) baik di
negara berkembang maupun di negara maju karena ini berkaitan dengan
sistem kekebalan tubuh. Anak- anak dan balita akan sangat rentan
terinfeksi penyebab ISPA karena sistem tubuh yang masih rendah, itulah
yang menyebabkan angka prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi

2
anak-anak dan balita (Riskerdas, 2007). Prevalensi ISPA tahun 2007 di
Indonesia adalah 25,5% (rentang: 17,5% - 41,4%) dengan 16 provinsi di
antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Kasus ISPA
pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Setiap anak
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Angka ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah
pada kelompok umur 15 - 24 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi
sesuai dengan meningkatnya umur. antara laki-laki dan perempuan relatif
sama, dan sedikit lebih tinggi di pedesaan. ISPA cenderung lebih tinggi
pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran per kapita
lebih rendah (Riskerdas, 2007). Kematian akibat ISPA (Infeksi Saluran
Pernafasan Akut) di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak lima
kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat ISPA, sebanyak 150.000
bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan atau 416
kasus sehari atau 17 anak per jam atau seorang bayi/balita tiap lima
menit (WHO, 2007). Di Indonesia, prevalensi nasional ISPA 25% (16
Provinsi di atas angka rasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia
pada bayi 2,2%, balita 3%, sedangkan angka kematian (mortalitas) pada
bayi 23,8% dan balita 15,5% (Riskerdas, 2007). Program pemberantasan
ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun 1984, dengan tujuan
berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian khususnya
pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun
kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi
(Rasmaliah, 2004).

B. TUJUAN UMUM
Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan, diharapkan
pengetahuan keluarga pasien poli KIA puskesmas kendalsari meningkat

C. TUJUAN KHUSUS
Setelah mendapatkan pelatihan tentang penyuluhan kesehatan
selama 1 hari diharapkan keluarga pasien poli KIA puskesmas kendalsari:
1. Memahami Konsep penyakit ISPA
2. Memahami proses penularan penyakit ISPA

3
3. Memahami penatalaksanaan penyakit ISPA
4. Memahami komplikasi penyakit ISPA
5. Memahami Pencegahan penyakit ISPA
6. Memahami hubungan antara ISPA dengan nutrisi
7. Memahami hubungan antara ISPA dengan lingkungan
8. Memahami hubungan antara ISPA dengan imunisasi

D. MATERI (terlampir)

E. METODE
1. Ceramah

2.Diskusi/Tanya jawab

E. MEDIA

1. Leaflet

F. KEGIATAN PELATIHAN

No. WAKTU KEGIATAN PELATIHAN KEGIATAN PESERTA

1. 5 menit Pembukaan :

 Membuka kegiatan dengan mengucapkan  Menjawab salam


salam.
 Memperkenalkan diri.
 Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.
 Memperhatikan
 Menyebutkan materi yang akan diberikan.
 Memperhatikan
2. 30menit Pelaksanaan :

 Menjelaskan konsep penyakit ISPA  Memperhatikan


 Menjelaskan proses penularan penyakit  Memperhatikan

4
ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan penatalaksanaan penyakit  Memperhatikan
ISPA
 Menjelaskan komplikasi penyakit ISPA

3 30 menit Pelaksanaan :  Memperhatikan


 Memperhatikan
 Menjelaskan Pencegahan penyakit ISPA
 Memperhatikan
 Menjelaskan hubungan antara ISPA
Memperhatikan
dengan nutrisi
 Menjelaskan hubungan antara ISPA
dengan lingkungan
 Menjelaskan hubungan antara ISPA
dengan imunisasi
4 8 menit Evaluasi :

 Memberikan kesempatan kepada kader untuk  Menjawab


bertanya. pertanyaan
 Menanyakan kepada kader tentang materi
yang telah diberikan.
 Memberikan reinforcement positif kepada
kader yang dapat menjawab pertanyaan.
5 2 menit Terminasi :

 Mengucapkan terimakasih atas peran serta  Mendengarkan


peserta.
 Mengucapkan salam penutup
 Menjawab salam

G. KRITERIA EVALUASI

1. Kriteria Evaluasi Struktur


a. Pelaksana pelatihan mencari literature tentang materi yang akan
disampaikan
b. Penyuluh membuat satuan acara penyuluhan,diharapkan telah
mempersiapkan terkait materi, modul, media, alat bantu, serta

5
sarana-prasarana yang digunakan untuk penyuluhan kesehatan
dengan matang

2. Kriteria Evaluasi Proses


a. Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai rencana
b. Diharapkan suasana penyuluhan konduksif dan tidak ada peserta
yang meninggalkan acara penyuluhan saat dilakukan penyuluhan
c. Diharapkan warga antusias terhadap materi penyuluhan
d. Diharapkan warga memberikan respon atau umpan balik berupa
pertanyaan-pertanyaan
3. Kriteria Evaluasi Hasil
a. Kehadiran peserta 50%
b. peserta mendapat nilai post test dengan minimal nilai 50 sebanyak
60 %

6
Materi (Lampiran)
1. Pengertian
ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada
anak-anak dengan gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut
muncul secara bersamaan (Meadow, Sir Roy, 2002: 153).
ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan Akut) yang diadaptasi dari bahasa
Inggris Acute Respiratory Infection (ARl) mempunyai pengertian sebagai
berikut:
 Infeksi adalah masuknya kuman atau mikoorganisme kedalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
 Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alfeoli
beserta organ adneksa seperti simrs-sinus, rongga tengah dan pleura
ISPA secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian atas.
 Infeksi akut adalah infeksi yang berlansung sampai 14 hari. Batas 14
hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini dapat berlangsung dari 14
hari (Suryana, 2005:57).

2. Klasifikasi
Klasifikasi ISPA berdasarkan hasil pemeriksaan dibedakan menjadi
dua golongan yaitu golongan umur dibawah 2 bulan, dan golongan umur 2
bulan sampai 5 tahun.
a. Golongan umur dibawah 2 bulan
o Pneumonia
Yang dimaksud pneumonia jika dalam pemeriksaan fisik
terdapat adanya tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau
frekuensi napas cepat (frekuensi pernafasan 60 kali permenit atau
lebih).
o Bukan Pneumonia
Yang dimaksud bukan pneumonia jika ditemukan penyakit batuk
pilek biasa, dan tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada

7
bagian bawah atau tidak ditemukan napas cepat (frekuensi
pernafasan kurang dari 60 kali permenit).

b. Golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun


o Pneumonia
Yang dimaksud pneumonia jika dalam pemeriksaan fisik
ditemukan nafas cepat dengan frekuensi pernafasan 50 kali per
menit atau lebih (usia 2 – 12 bulan), atau frekuensi pernafasan 40
kali per menit atau lebih (untuk usia 1 – 5 tahun).
o Pneumonia Berat
Yang dimaksud pneumonia berat jika ditemukan sesak nafas
dalam pemeriksaan fisik dan saat inspirasi adanya tarikan dinding
dada bagian bawah. Namun saat dilakukan pemeriksaan anak harus
dalam keadaan tenang, dan tidak menangis.

o Bukan Pneumonia
Yang dimaksud bukan pneumonia adalah jika tidak ada napas
cepat, dan tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah, jadi
penderita hanya mengalami batuk pilek biasa.

3. Etiologi
 Virus dan bakteri
Seperti virus influeuza sterptococcus, shapilococcus,
haemopilus influenzae.
 Alergen spesifik
Alergi yang disebabkan oleh debu asap dan udara dingin atau
panas .
 Perubahan cuaca dan lingkungan
Kondisi cuaca yang tidak baik seperti peralihan suhu panas ke
hujan dan lingkungan yang tidak bersih atau tercemar.
 Aktifitas

8
Kondisi dimana anak memiliki kegiatan yang banyak tanpa
memperhatikan kondisi tubuh atau daya tahan tubuh yang dapat
menyebabkan anak-anak menderita ISPA.
 Asupan gizi yang kurang.

4. Tanda dan Gejala


 Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
(misalnya pada waktu berbicara atau menangis)
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37oC

 Gejala dari ISPA Sedang


Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala
dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu: untuk
kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per
menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan sampai kurang dari 5
tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 sampai
kurang dari 12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12
bulan sampai kurang dari 5 tahun.
b. Suhu lebih dari 39 O C (diukur dengan termometer)
c. Tenggorokan berwarna merah
d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

 Gejala dari ISPA Berat

9
Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-
gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-
gejala sebagai berikut :
a. Bibir atau kulit membiru
b. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c. Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas
e. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Tenggorokan berwarna merah

5. Penularan
Penularan ISPA terutama melalui droplet (percikan air liur) yang
keluar saat penderita bersin, batuk, udara pernapasan yang mengandung
kuman yang terhirup oleh orang sehat. Penularan juga dapat terjadi melalui
kontak atau kontaminasi tangan oleh sekret saluran pernapasan, hidung, dan
mulut penderita.

6. Pencegahan
Kegiatan atau jenis-jenis yang dapal dilakukan dalam mencegah
terjadinya penyakit ISPA pada anak antara lain :
a. Perbaikan peningkatan gizi
 Penyusunan atau pengaturan menu
 Cara pengolahan makanan
 Variasi menu
b. Perbaikan dan santasi lingkungan
c. Pemeliharaan Kesehatan perorangan
d. Tindakan pencegahan pada bayi:
 Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan terhadap
penyakit tertentu.
 Perbanyak ASI eksklusif
 Jauhkan dari penderita ISPA

10
7. Penanganan
Perawatan ISPA di rumah
a. Memberi makan
Pemberian makanan yang cukup dan bergizi untuk menghindari
penurunan berat badan yang akan rnengakibatkan malnutrisi. Berikan
makan sedikit-sedikit tapi sering dari biasanya, lebih-lebih jika anak
muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu juga tetap diberikan.
b. Pemberian cairan atau minuman
Anak dengan infeksi saluran pernafasan dapat kehilangan cairan
lebih banyak dari biasanya terutama bila demam, menambah pemberian
minum atau cairan untuk menghindari dehidrasi. Dehidrasi akan
melemahkan anak dan dapat memperberat penyakitnya, pemberian
cairan akan membantu mengencerkan dahak,
c. Menjaga kelancaran pernafasan
Menjaga kelancaran pernafasan dengan cara mengajarkan anak
agar bila ia batuk lendirnya dikeluarkan.
d. Bersihkan hidung
Membersihkan hidung dengan memakai kain bersih yang lunak
untuk membersihkan lubang hidung,jika hidung tersumbat karena ingus
yang telah mengering, tetesilah dengan air garam untuk membasahinya.
e. Mengatasi panas
Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, demam diatasi dengan
paracetamol dan atau dengan kompres (bayi dibawah 2 bulan dengan
demam harus segera dirujuk). Pemberian kompres dengan cara:
gunakan kain bersih celupkan pada air (air hangat kuku) peras
seperlunya, kemudian letakkan diatas dahi anak, lipat paha, lipat ketiak,
ulangi bila kan sudah dingin.
f. Istirahat
Berikan istirahat yang cukup karena dengan istirahat gejala bisa
berkurang.
g. Berikan obat batuk herbal

11
Jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½
sendok teh , diminum tiga kali sehari.

Mengamati tanda-tanda bahaya yang mungkin timbul seperti sesak nafas,


nafas cepat, anak tidak mampu minum, suhu tubuh tinggi, bila terjadi segera
bawa anak ke pelayanan kesehatan agar komplikasi tidak terjadi.

12