0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan21 halaman

Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Bioteknologi

Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur digunakan dalam bioteknologi untuk memproduksi protein, mengubah makanan melalui fermentasi, dan membuat alkohol serta cuka. Jenis mikroba tertentu digunakan untuk memproduksi protein, membuat makanan seperti keju, roti, dan minuman, serta mengubah etanol menjadi cuka.

Diunggah oleh

Aloel Teloelas
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan21 halaman

Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Bioteknologi

Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur digunakan dalam bioteknologi untuk memproduksi protein, mengubah makanan melalui fermentasi, dan membuat alkohol serta cuka. Jenis mikroba tertentu digunakan untuk memproduksi protein, membuat makanan seperti keju, roti, dan minuman, serta mengubah etanol menjadi cuka.

Diunggah oleh

Aloel Teloelas
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bioteknologi umumnya menggunakan mikroorganisme seperti bakteri dan khamir (kapang)

dengan alasan sebagai berikut:


1) pertumbuhannya cepat, walaupun dalam skala besar seperti industri;
2) sel-selnya mengandung protein yang tinggi;
3) dapat menggunakan produk-produk sisa sebagai substratnya, misalnya dari limbah pertanian;
4) menghasilkan produk yang tidak toksik;
5) sebagai organisme hidup, reaksi biokimianya dikontrol oleh enzim yang berarti tidak memerlukan
tambahan reaktan dari luar.
Pemanfaatan mikroorganisme telah digunakan pada bioteknologi tradisional maupun modern.
Bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme, antara lain: digunakan dalam bidang pangan, obat-
obatan, pembasmian hama tanaman, pencemaran, dan pemisahan logam dari bijih logam.
A. Pemanfaatan mikroba untuk menghasilkan protein
Protein merupakan bahan makanan yang mutlak diperlukan manusia. Protein yang dihasilkan
dengan memanfaatkan mikroorganisme disebut SCP (Single Cell Protein) protein sel tunggal. SCP ini
mempunyai kadar protein hingga 80% lebih tinggi dibandingkan protein kedelai dan ragi.
Beberapa mikroorganisme yang efektif untuk pembuatan SCP antara lain: Methylophylus
methylotropus. SCP ini biasa digunakan untuk makanan ternak agar hewan ternak mampu
menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi. Fusarium, SCP yang digunakan untuk nutrisi
manusia.
B. Penggunaan jasa mikroorganisme untuk mengubah makanan.
Melalui proses fermentasi yang dilakukan mikroorganisme, bahan makanan tertentu diubah
menjadi bahan bentuk lain sehingga cita rasanya lebih menarik atau mengandung nilai gizi yang lebih
tinggi. Contoh makanan ini ialah keju, mentega, roti, alkohol, dan cuka.
1) Keju
Keju bahan utamanya adalah dadih yang dipisahkan dari Whey (air dadih utama). Dadih dibuat
dari protein kasein yang umumnya terbentuk karena aktivitas enzim renin dan kondisi asam yang
ditimbulkan karena aktivitas bakteri asam laktat.
Bakteri yang dibiarkan pada media keju menyebabkan proses fermentasi yang memberikan
suasana asam. Selain itu, juga memberikan cita rasa khas dan bau harum (aroma) pada produk susu
tersebut. Makin lama masa inkubasinya, makin tinggi keasamannya dan makin tajam cita rasanya.
Mikroorganisme yang digunakan dalam pembuatan keju ialah jamur Penicillium camemberti.
2) Mentega
Mentega dibuat dengan mengaduk kepala susu (krim) hingga tetesan-tetesan mentega yang
berlemak memisah dari susu mentega. Susu mentega adalah cairan susu yang tinggal setelah
membuat mentega.
Krim (kepala susu) memiliki rasa masam dan digunakan untuk pembuatan produk lain, seperti
yoghurt. Yoghurt dibuat dari krim yang ditanami mikroorganisme seperti yang digunakan membuat
susu mentega.
Yoghurt banyak kamu jumpai di toko. Yoghurt terbuat dari susu dengan lemak kadar rendah
yang sebagian airnya telah diuapkan. Untuk meningkatkan keasamannya, susu kental yang terbentuk
ditanami dengan Streptococcus thermophillus, sedangkan untuk meningkatkan cita rasa dan aroma
ditanami Lactobacillus bulgaris.
Fermentasi Lactobacillus bulgaris berlangsung pada subtrat yang bertemperatur 45° C selama
beberapa jam. Pada temperatur tersebut Lactobacillus bulgaris masih mungkin tumbuh dan
berkembang. Untuk menjaga cita rasa, aroma, dan keasamannya maka perlu dijaga keseimbangan
antara kedua jenis mikroorganisme tersebut.
C. Fermentasi makanan nonsusu
Pemanfaatan mikroorganisme, seperti ragi banyak digunakan dalam pembuatan roti, asinan,
minuman alkohol, minuman anggur, dan cuka.
Dalam pembuatan roti, adonan roti akan ditanami ragi yang sebenarnya kultur spora suatu
jenis jamur. Spora jamur akan tumbuh dan memfermentasi gula dalam adonan, dan terbentuklah
gelembung-gelembung karbondioksida. Fermentasi yang berlangsung dalam kondisi aerob ini akan
mendorong produksi CO2.
Pada pembuatan asinan kubis atau sauerkraut, acar, dan olive maupun kecap diperlukan
mikroba jamur penghasil enzim yang mampu mengubah zat tepung menjadi gula yang dapat
difermentasikan. Prinsip ini juga digunakan dalam pembuatan brem dan minuman khas Jepang, sake
yang dibuat dari ketan dan beras.
Dalam pembuatan kecap diperlukan jamur Aspergillus oryzae. Jamur ini dibiakkan dalam kulit
gandum terlebih dahulu. Selanjutnya, jamur ini bersama-sama bakteri asam laktat yang tumbuh pada
kedelai yang sudah dimasak, menghancurkan campuran gandum.
Setelah melalui fermentasi karbohidrat yang cukup lama, dihasilkanlah kecap. Beberapa jenis
mikroba yang digunakan untuk mengubah bahan makanan menjadi bentuk lain, misalnya:
1) Rhizopus oligospora untuk membuat tempe dengan substrat kedelai.
2) Neurospora sitophila untuk membuat oncom dengan substrat kacang tanah.
3) Saccharomyces cerevisiae untuk membuat tape dengan substrat ketan atau singkong atau ubi kayu.
4) Acetobacter xulinum untuk membuat nata de coco dengan substrat air kelapa.
D. Pembuatan alkohol dan asam cuka
a. Proses pembuatan alkohol
Hampir semua pembuatan minuman beralkohol, seperti bir, ale, dan anggur memerlukan jasa
mikroorganisme. Bir dan ale dibuat dari tepung biji padi-padian yang difermentasi oleh ragi. Ragi tidak
dapat menggunakan tepung secara langsung. Tepung tersebut diubah terlebih dahulu menjadi
glukosa atau maltosa. Selanjutnya, glukosa dan maltosa difermentasi menjadi etanol dan CO2.
Dalam proses pembuatan minuman ini, malting, yaitu biji padi-padian dibiarkan berkecambah,
terus dikeringkan, selanjutnya digiling menghasilkan malt. Malt ini mengandung enzim amilase yang
mampu mengubah amilum menjadi glukosa dan maltosa sehingga dapat difermentasi oleh ragi.
Pada pembuatan minuman keras berkadar alkohol tinggi, seperti vodka, wiski, dan rum,
karbohidrat dari biji padi-padian, kentang dan sirup atau tetes gula difermentasi menghasilkan
alkohol. Selanjutnya, alkohol ini disuling untuk menghasilkan minuman berkadar alkohol tinggi.
Minuman anggur atau wine dapat dibuat dari buah anggur maupun dari buah lain. Karena
buah anggur mengandung gula, maka langsung dapat difermentasikan oleh ragi. Jika bahannya selain
buah anggur, untuk meningkatkan produksi alkoholnya perlu ditambah gula
b. Proses pembuatan cuka
Bahan dasar pada proses pembuatan cuka adalah etanol yang dihasilkan oleh fermentasi
anaerob oleh ragi. Oleh bakteri asam asetat, seperti Acetobacter dan Gluconobacter, etanol akan
dioksidasi menjadi asam asetat.
Berikut beberapa Makanan yang Difermentasi dan Jenis Mikroba yang
Diperlukan
Bahan
No. Produk/Makanan Mikroorganisme Lokasi produk
mentah
Produk dari
Perusahaan Susu
Propioni bacterium
1 Keju Swiss Susu Eropa, Amerika
skerma manisi
Streptococcus sp.
Keju (masak) Dadih susu Meliputi seluruh
2 Penicillium roqueforti
Keju biru susu dunia
Leuconostoc sp.
Streptococcus lactis Meliputi seluruh
3 Krim asam Susu skim
Lactobacillus lactis dunia
Streptococcus lactis
4 Kefir Susu Lactobacillus bulgaricus Asia Barat Daya
Candida sp.
L. bulgaricus
Susu kuda atau
5 Kurmiss Lactobacillus leichmannii Rusia
Domba
Candida sp.
Streptococcus
Meliputi seluruh
6 Yogurt Susu thermophilus
dunia
L. bulgaricus
7 Taette Susu S. lactis var taette Skandinavia
Produk Daging
dan Ikan
Eropa, Amerika
1 Sosis kering Daging sapi Pediococcus cereviceae
Serikat
2 Saus ikan Ikan kecil Halophilic becillus sp Asia Tenggara
Ikan segar
3 Izushi Lactobacillus sp. Jepang
beras sayuran
Produk Tanaman
Bukan Minuman
Candida krussek Afrika, Amerika
1 Biji cokelat Buah cokelat
Geitrichum sp. Serikat
Brasil, Kongo,
Erwinia dissolvens
2 Biji kopi Buah kopi Hawaii,
Saccharomyces sp.
India
Kubis dan
3 Kimchi sayuran Bakteri asam laktat Korea
lainnya
Aspergillus oryzae
4 Miso Kacang kedelai Jepang
Saccharomyces ruoxii
Leuconostic mesenterodes Meliputi seluruh
5 Olive Olive hijau
Lactobacillus pantarum dunia
6 Tauco Kedelai Aspergillus oryzae Asia
A. oryzae atau Aspergillus
Jepang,
7 Kecap Kedelai soyae
Indonesia
S. ruoxii
Indonesia,
Rhizopus oligosporus
8 Tempe Kedelai Suriname, Irian
Rhizopus oryzae
Timur (Papua)
Roti
Tepung beras, India bagian
1 Idli Leuconostoc mesenteroides
tepung kacang selatan
Tepung Meliputi seluruh
2 kue-kue Saccharomyces cerevisiae
gandum dunia
Tepung California utara
3 Roti adonan Masaur Saccharomyces exyguus
gandum (AS)
PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM BIDANG KEDOKTERAN
PENDAHULUAN
Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil. Setiap
sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan
antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan
sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena
mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga
apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat
yang tinggi pula.
Di bidang medis, pemanfaatan mikrooganisme di masa lalu dibuktikan antara lain
dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin dengan cara bioteknologi walaupun masih
dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan
signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi
antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal. Pada masa ini, bioteknologi
berkembang sangat pesat, terutama di negara negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan
ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan,
rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Bioteknologi adalah
penggunaan terpadu dari disiplin biokimia, mikrobiologi, dan ilmu keteknikan dengan
bantuan mikroba, atau sel dan jarirang organisme dalam penerapanya secara teknologis dan
industri. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-
penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun
AIDS. Teknologi ini merupakan bentuk terobosan baru untuk memanfaatkan
mikroorganisme di bidang kedokteran.
Negara-negara dengan areal kecil, seperti Israel, Jepang, Thailand, dan Singapura,
sudah sangat jauh mengembangkan bidang ini. Selain itu, Negara-negara maju, seperti
Inggris, Amerika, Jerman, Australia, dan Jepang telah lama mengadakan riset terpadu di
bidang bioteknologi dan rekayasa genetika, bahkan mereka sudah menjual produk-produk
baru dengan hak paten dari hasil biotek dan rekayasa genetika(terutama dalam kedokteran
dan farmasi), seperti antibody, obat-obatan, hormone-hormone, enzim-enzim, bahan
kosmetika, bakteri-bakteri, cloning, bayi tabung dan sebagainya.
Teknologi Pemanfaatan Mikrorganisme
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pemanfaatan mikroorganisme
dalam bidang kedokteran mulai dikembangkan. Salah satu teknik atau cara pemanfaatan
mikroorganisme adalah dengan cara bioteknologi. Para ahli telah mulai lagi mengembangkan
bioteknologi dengan memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Dalam
bioteknologi modern orang berupaya dapat menghasilkan produk secara efektif dan
efisien. Bioteknologi modern merupakan bioteknologi yang didasarkan pada manipulasi atau
rekayasa DNA, selain memanfaatkan dasar mikrobiologi dan biokimia.Aplikasi bioteknologi
modern juga mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, misalnya pada aspek pangan,
pertanian, peternakan, hingga kesehatan dan pengobatan.
Ciri-ciri penggunaan mikroorganisme, yaitu sebagai penggunaan mikroorganisme
sebagai agen, pemanfaatan rekayasa genetika, produksi hormon, enzin, antibiotik, gas
metahana, MSG, dan lain-lain serta didukung oleh bidang ilmu lain seperti biokimia, teknik
kimia. Selain itu pemanfaatan mikroorganisme juga dapat dilakukan dengan teknologi
rekayasa genetika.

Rekayasa Genetika
Rekayasa genetika adalah suatu cara memanipulasikan gen untuk menghasilkan
makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa genetika disebut juga
pencangkokan gen atau rekombinasi DNA. Dalam rekayasa genetika digunakan DNA untuk
menggabungkan sifat makhluk hidup. Hal itu karena DNA dari setiap makhluk hidup
mempunyai struktur yang sama, sehingga dapat direkomendasikan. Selanjutnya DNA
tersebut akan mengatur sifat-sifat makhluk hidup secara turun-temurun. Untuk mengubah
DNA sel dapat dilakukan melalui banyak cara, misalnya melalui transplantasi inti, fusi sel,
teknologi plasmid, dan rekombinasi DNA. Rekayasa genetika dalam sector kedokteran
pengaruhnya sangat besar dan penting. Misalnya penderita diabetes sekarang bisa hidup
seperti orang normal, karena selalu disuntik insulin rekombinan dan alat pengukur gula
darah yang menggunakan enzim rekombinan glukosa dehidrogenase. Penderita kanker
semakin panjang harapan hidupnya berkat erythropoietin rekombinan, grow koloni
stimulating factor rekombinan yang memacu pertumbuhan sel-sel darah setelah kemoterapi
atau radioterapi.
TRANSPLANTASI INTI
Transplantasi inti adalah pemindahan inti dari suatu sel ke sel yang lain agar
didapatkan individu baru dengan sifat sesuai dengan inti yang diterimanya. Transplantasi inti
pernah dilakukan terhadap sel katak. Inti sel yang dipindahkan adalah inti dari sel-sel usus
katak yang bersifat diploid. Inti sel tersebut dimasukkan ke dalam ovum tanpa inti, sehingga
terbentuk ovum dengan inti diploid. Setelah diberi inti baru, ovum membelah secara mitosis
berkali-kali sehingga terbentuklah morula yang berkembang menjadi blastula. Blastula
tersebut selanjutnya dipotong-potong menjadi banyak sel dan diambil intinya. Kemudian inti-
inti tersebut dimasukkan ke dalam ovum tanpa inti yang lain. Pada akhirnya terbentuk ovum
berinti diploid dalam jumlah banyak. Masing-masing ovum akan berkembang menjadi
individu baru dengan sifat dan jenis kelamin yang sama.
FUSI SEL/HIBRIDOMA

Fusi sel adalah peleburan dua sel baik dari spesies yang sama maupun berbeda supaya
terbentuk sel bastar atau hibridoma. Fusi sel diawali oleh pelebaran membran dua sel serta
diikuti oleh peleburan sitoplasma (plasmogami) dan peleburan inti sel (kariogami). Manfaat
fusi sel, antara lain untuk pemetaan kromosom, membuat antibodi monoklonal, dan
membentuk spesies baru. Di dalam fusi sel diperlukan adanya:
1. Sel sumber gen (sumber sifat ideal)
2. Sel wadah (sel yang mampu membelah cepat)
3. Fusigen (zat-zat yang mempercepat fusi sel).
TEKNOLOGI PLASMID
Plasmid adalah lingkaran DNA kecil yang terdapat di dalam sel bakteri atau ragi di luar
kromosomnya.
Sifat-sifat plasmid, antara lain:
1. merupakan molekul DNA yang mengandung gen tertentu
2. dapat beraplikasi diri
3. dapat berpindah ke sel bakteri lain
4. sifat plasmid pada keturunan bakteri sama dengan plasmid induk.
Karena sifat-sifat tersebut di atas plasmid digunakan sebagai vektor atau pemindah gen ke
dalam sel target. Selain memiliki DNA Kromoson, bakteri juga memiliki DNA nonkro-mosom.
DNA nonkromosom bentuknya juga sirkuler dan terletak di luar DNA kromosom. DNA
nonkromosom sirkuler ini dikenal sebagai plasmid. Ukuran plasmid sekitar 1/1000 klai DNA
kro-mosom. Plasmid mengandung gen-gen tertertu misalnya gen kebal antobiotik, gen
patogen. Seperti halnya DNA yang lain, plasmid mampu melakukan replikasi dan membentuk
dirinya dalam jumlah banyak. Dalam sel bakteri dapat terbentuk 10-20 plasmid.
REKOMBINASI DNA

Proses menyambungkan DNA disebut rekombinasi DNA. Karena tujuan rekombinasi


DNA adalah untuk menyambungkan gen yang ada di dalam DNA maka disebut juga
rekombinasi gen. Rekombinasi DNA terbagi menjadi dua, yaitu alami dan buatan. Alami yaitu
dengan pindah silang, transduksi, transformasi. Sedangkan Buatan dengan penyambungan
DNA secara in vitro
Alasan dapat dilakukan rekombinasi DNA karena Struktur DNA semua spesies sama
sehingga DNA dapat disambung-sambungkan. Ditemukan enzim pemotong dan penyambung
sehingga memudahkan gen untuk dapat terekspresi di sel apa pun.
Faktor-Faktor DNA Rekombinan:
1. Enzim (pemotong dan penyambung)
2. Vektor
3. Agen (sel target)
Enzim pemotong dikenal dengan nama enzim restriksi endonuklease. Fungsi enzim ini
adalah untuk memotong-motong benang DNA yang panjang menjadi pendek agar dapat
disambung-sambungkan kembali degan enzim penyambung, Nama lain dari enzim
penyambung adalah enzim ligase. Enzim ligase berfungsi menyambung untaian-untaian
nukleotida
Sifat enzim ligase, Ligase DNA tidak dapat menyambungkan DNA untai tunggal, jadi
hanya bisa digunakan pada DNA rangkap karena mengkatalisis ikatan fosfodiester antara dua
rantai DNA
Vektor, DNA yang akan diklonkan membutuhkan alat transportasi untuk menuju tempat
pembiakannya, alat transportasi disebut wahana kloning atau vektor. Vektor yang digunakan
biasanya berupa plasmid
Agen / sel target yang digunakan biasanya berupa mikroba, umunya bakteri. Contohnya E.
Coli. Bakteri yang telah diinfeksi memperbanyak plasmid ‘titipan’ ketika bereproduksi. Alasan
pemilihan bakteri untuk rekombinasi DNA karena daya reproduksi bakteri tinggi dan cepat
sehingga diperoleh jumlah keturunan yang banyak dalam waktu singkat, Merupakan mikroba
yang mengandung banyak plasmid, dan tidak mengandung gen yang membahayakan.
Proses Rekombinasi DNA :
 Para penderita diabetes melitus (kencing manis) membutuhkan asupan insulin.
 Gen insulin manusia dari pulau Langerhans diambil kemudian disambungkan ke
dalam plasmid bakteri yang sudah dipotong oleh enzim restriksi endonuklease
membentuk kimera (DNA rekombinan).
 Kimera dimasukkan ke dalam agen (E. coli) dan disambungkan dengan bantuan enzim
ligase untuk dikembangbiakkan
Bioteknologi dalam Bidang Kedokteran
Bioteknologi mempunyai peran penting dalam bidang kedokteran, misalnya dalam
pembuatan antibodi monoklonal, terapi gen, vaksin, antibiotika, serta pembuatan hormon.
PEMBUATAN ANTIBODI MONOKLONAL

Antibodi monoklonal dibuat dengan cara penggabungan atau fusi kedua jenis sel yaitu
sel limfosit B yang memproduksi antibodi dengan sel kanker (sel mieloma) yang dapat hidup
dan membelah terus menerus. Hasil fusi antara sel limfosit B dengan sel kanker secara in
vitro ini disebut dengan hibridoma. Bertindak sebagai antigen yang akan menghasilkan anti
bodi adalah limpa. Fungsi antara lain diagnosis penyakit dan kehamilan. Manfaat antibodi
monoklonal, antara lain:
Untuk mendeteksi kandungan hormon korionik gonadotropin dalam urine wanita hamil.
1. Mengikat racun dan menonaktifkannya.
2. Mencegah penolakan tubuh terhadap hasil transplantasi jaringan lain.
TERAPI GEN

Terapi gen suatu teknik terapi yang digunakan untuk memperbaiki gen-
gen mutan(abnormal/cacat) yang bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu penyakit.
Pada awalnya, terapi gen diciptakan untuk mengobati penyakit keturunan (genetik) yang
terjadi karena mutasi pada satu gen, seperti penyakit fibrosis sistik. Penggunaan terapi gen
pada penyakit tersebut dilakukan dengan memasukkan gen normal yang spesifik ke
dalam selyang memiliki gen mutan. Terapi gen kemudian berkembang untuk mengobati
penyakit yang terjadi karena mutasi di banyak gen, seperti kanker dan HIV. Selain
memasukkan gen normal ke dalam sel mutan, mekanisme terapi gen lain yang dapat
digunakan adalah melakukan rekombinasi homolog untuk melenyapkan gen abnormal
dengan gen normal, mencegah ekspresi gen abnormal melalui teknik peredaman gen, dan
melakukan mutasi balik selektif sehingga gen abnormal dapat berfungsi normal kembali.
Salah satu contoh mikroorganisme yang dimanfaatkan dalam terapi gen adalah adeno virus.
Adeno virus merupakan golongan virus yang dapat membuat rantai ganda DNA dari
genomnya dapat disatukan dengan kromosom sel inangnya misalnya sel kanker . Virus ini
mempunyai kemampuan lebih untuk mengenali sel kanker, menembus masuk dan
mentransfer material genetik ke dalamnya. Secara garis besar ada dua macam cara yang dapat
digunakan untuk memasukkan gen baru ke dalam sel:
 Secara ex vivo. Sebagian sel darah atau sumsum tulang penderita diambil untuk
dibiakkan di laboratorium. Sel itu diberi virus adeno virus pembawa gen baru. Adeno
virus masuk ke dalam sel dan “menembakkan” gen baru tersebut ke dalam rantai DNA
sel yang dituju. Sel tersebut masih dibiakkan beberapa saat lagi di laboratorium.
Setelah gen benar-benar menyatu dengan selnya, kemudian sel tersebut dikembalikan
ke dalam tubuh penderita dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
 Secara in vivo. Adeno virus pembawa gen baru disuntikkan ke dalam tubuh penderita.
Adeno virus yang telah diprogram tersebut akan mencari dan menyerang sel yang
dituju contohnya sel kanker dengan cara menembakkan gen baru yang dibawanya ke
dalam sel. Peran virus ini terkadang di gantikan oleh liposom atau plasmid sebagai
vektor buatan
VAKSIN

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif
terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh
organisme alami atau “liar”. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah
dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati
atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb). Vaksin akan
mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan
patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem
kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Contoh vaksin yang mudah dikembangkan adalah pembuatan virus polio inaktif.
Mikroorganisme yang digunakan adalah Poliovirus yang merupakan virus RNA kecil yang
terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan
kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima
puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio
dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.
Proses produksi vaksin inaktif polio ini melalui tahapan sebagai berikut :
1. Penyiapan medium (sel vero) untuk pengembangbiakan virus
2. Penanaman/inokulasi virus
3. Pemanenan virus
4. Pemurnian virus
5. Inaktivasi/atenuasi virus
ANTIBODI
Antibodi adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai
efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya
dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan
pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga
digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja
seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja
targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya.
Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman
untuk hidup.
Contoh bakteri yang menghasilkan antibiotika adalah jamur Penicillium
cryzogenum yang menghasilkan antibiotik penisilin. Taksonomi dari jamur ini adalah:
Kingdom: Fungi
Divisi : Ascomycotina
Class : Eurotiomycetes
Ordo : Moniliales
Family : Moniliceae
Genus : Penicillium
Spesies : Penicillium cryzogenum
(dulu dikenal dengan Penicillium notatum)

Penicillium cryzogenum adalah salah satu produsen lipase terbaik diantara jamur
dalam satu genus selain itu, penicillium cryzogenum memiliki aktivitas enzimatik yang tinggi
dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan alpha-amilase dan mampu menghasilkan
antibiotik yang dikenal dengan penisilin. Penisillin merpakan antibiotik β-laktam yang
memiliki rumus molekul R-C9H11N2O4S, dengan R adalah rantai samping yang
beragam.Penicillium cryzogenum merupakan sumber untuk memproduksi penisilin,
antibiotik pertama. Penisillin bekerja terhadap bakteri gram positif
seperti Staphylococcus danPneumacoccus.
Cara kerja penisilin adalah dengan cara menggangu sintesis peptidoglikan di dinding
sel bakteri. Crosslinking pada saat pembentukan peptidoglikan yang terjadi pada bakteri
dicegah oleh penisilin dengan cara menghambat transpeptidase enzim dengan kata lain β-
laktam akan terikat pada enzim transpeptidase yang berhubungan dengan molekul
peptidoglikan bakteri sehingga nantinya menyebabkan cacat dinding sel pada bakteri.
Kemudian terjadi pengambilan kelebihan air dan melemahkan dinding sel bakteri ketika sel
bakteri membelah sehingga menyebabkan mereka pecah (lisis sel) dan akhirnya bakteri
tersebut mati. Untuk bakteri gram negatif seperti Escherichia coli dan Klebsiella
pneumoniae mekanismenya tidak berbeda dengan mekanisme aksi pada bakteri gram positif.
Hal yang membedakan mekanisme aksi pada bakteri gram positif dan negatif yaitu pada
bakteri gram positif, setelah kehilangan dinding sel akan menjadi protoplas, sedangkan pada
bakteri gram negatif akan menjadi sferoplas. Protoplas dan sferoplas inilah yang nantinya
akan lisis (pecah). Berikut gambar dari protoplas dan sferoplas pecah dan inti penisilin

Kegunaan klinis penicillin antara lain:


 Pengobatan terhadap penyakit infeksi oleh kuman-kuman clostridia, misalnya blackleg
(Cl.Chauvoei), malignant edema (Cl. Septicum, Cl. boutvuur), dan tetanus (Cl. tetani).
 Pengobatan anthrax (Bacillus anthracis)
 Pengobatan erysipelas babi (Erisipilothrix rhusiopathiae)
 Infeksi Corynebacterium renale, yang menyebabkan pielonefritis, diperlukan dosis
tinggi.
 Untuk pengobatan lumpy jaw (aktinomikosis oleh Actinomyces bovis) pada sapi.
 Untuk pengobatan wooden tongue (Actinobacillus lignieresi) pada sapi
 Infeksi leptospira, penicillin dikombinasikan dengan strptomisin.
PEMBUATAN HORMON

Dengan rekayasa DNA, dewasa ini telah digunakan mikroorganisme untuk


memproduksi hormon. Hormon-hormon yang telah diproduksi, misalnya insulin, hormon
pertumbuhan, kortison, dan testosteron.Contoh hormon insulin manusia
yang dihasilkan dengan bantuan Escherechia coli.
Produksi insulin dapat dilakukan dengan cara mentransplantasikan gen-gen pengendali
hormon tersebut ke plasmid bakteri. Keberhasilan memindahkan gen insulin manusia ke
dalam bakteri sudah dapat diperoleh, yaitu melalui bakteri-bakteri yang tumbuh dengan
metode fermentasi. Teknik Plasmid bertujuan untuk membuat hormone dan antibodi. Misal
untuk membuat hormon insulin dengan teknik plasmid. Gen /DNA digunting dengan Enzim
Endonuklease Restriksi Gen /DNA disambung dengan Enzim Ligase.
Proses Pembuatan Insulin

1. Pada proses pembuatan insulin ini, langkah pertama adalah


mengisolasi plasmid dari E. coli. Plasmid adalah salah satu bahan genetik bakteri yang
berupa untaian DNA berbentuk lingkaran kecil. Selain plasmid, bakteri juga memiliki
kromosom. Keunikan plasmid ini adalah dapat bisa keluar-masuk tubuh bakteri, dan
bahkan sering dipertukarkan antar bakteri.
2. Pada langkah kedua ini plasmid yang telah diisolir dipotong pada segmen tertentu
menggunakan enzim restriksi endonuklease. Sementara itu DNA yang di isolasi
darisel pankreas dipotong pada suatu segmen untuk mengambil segmen pengkode
insulin. Pemotongan dilakukan dengan enzim yang sama.
3. DNA kode insulin tersebut disambungkan pada plasmid menggunakan bantuan
enzimDNA ligase. Hasilnya adalah kombinasi DNA kode insulin dengan plasmid
bakteri yang disebut DNA rekombinan.
4. DNA rekombinan yang terbentuk disisipkan kembali ke sel bakteri.
5. Bila bakteri E. coli berkembangbiak, maka akan dihasilkan koloni bakteri yang
memiliki DNA rekombinan.
Setelah tumbuh membentuk koloni, bakteri yang mengandung DNA rekombinan
diidentifikasi menggunakan probe. Probe adalah rantai RNA atau rantai tunggal DNA yang
diberi label bahan radioaktif atau bahan fluorescent dan dapat berpasangan dengan basa
nitrogen tertentu dari DNA rekombinan. Pada langkah pembuatan insulin ini probe yang
digunakan adalah ARNd dari gen pengkode insulin pankreas manusia.
Untuk memilih koloni bakteri mana yang mengandung DNA rekombinan, caranya adalah
menempatkan bakteri pada kertas filter lalu disinari dengan ultraviolet. Bakteri yang memiliki
DNA rekombinan dan telah diberi probe akan tampak bersinar. Nah, bakteri yang bersinar
inilah yang kemudian diisolasi untuk membuat strain murni DNA rekombinan. Dalam
metabolismenya, bakteri ini akan memproduksi hormon insulin.
BIOTEKNOLOGI KULTUR SEL DAN JARINGAN
Kultur jaringan (tissue culture) untuk memahami aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi fungsi sel telah
berkembang sejak satu abad yang lalu, melalui masa-masa pengembangan yang pada awalnya sederhana,
diikuti fase perkembangan ekspansif pada pertengahan abad yang lalu, dan kini berada pada fase
pengembangan.
Perkembangan ilmu biologi molekuler menyebabkan sulitnya melihat batas pemisah antara biologi molekuler
dan tissue culture. Saling bergantungnya perkembangan masing-masing teknologi ini, sukar untuk dinyatakan
batas berhentinya teknologi tissue culture dan mulai berkembanganya teknologi biologi molekuler. Meskipun
tantangan untuk mendapatkan sel-sel yang tumbuh secara in vitro telah terjawab dan diversitas jenis sel telah
meningkat secara konstan, tissue culture kini sudah semakin populer dibanding sebelumnya. Untuk beberapa
kalangan tissue culture menghadirkan peluang untuk mengurangi percobaan hewan yang tidak perlu, untuk
kalangan lainnya teknologi tissue culture mendorong kemampuan untuk menghasilkan produk farmasi inovatif
yang lebih ekonomis.
Untuk beberapa kalangan tertentu teknologi ini masih menjadi dasar guna mengeksplorasi permasalahan
regulasi sel dan pengembangan intervensi medis. Sangat jelas bahwa penelitian tentang aktivitas selular
padatissue culture akan membawa berbagai manfaat, meski demikian perhatian diperlukan terhadap berbagai
kelemahan teknologi ini. Hal ini penting untuk membangun perhatian yang lebih besar guna pengembangannya
di masa mendatang.
Pengertian Kultur Sel dan Jaringan
Salah satu teknik bioteknologi yang sering digunakan adalah kultur sel dan jaringan. Menurut Suryowinoto
(1991) kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai tissue culture, weefsel cultuus, atau gewebe kultur.
Kultur adalah budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
Kultur jaringan digunakan sebagai istilah umum yang juga meliputi kultur organ ataupun kultur sel. Istilah
kultur sel digunakan untuk berbagai kultur yang berasal dari sel-sel yang terdispersi yang diambil dari jaringan
asalnya, dari kultur primer, atau dari cell line atau cell strain secara enzimatik, mekanik, atau disagregasi
kimiawi. Terminologi kultur histotypic akan diterapkan untuk jenis kultur jaringan yang menggabungkan
kembali sel-sel yang telah terdispersi sedemikian rupa untuk membentuk kultur jaringan.
Kultur sel dan jaringan dapat digunakan pada hewan dan tumbuhan. Kultur jaringan hewan merupakan suatu
teknik untuk mempertahankan kehidupan sel di luar tubuh organisme. Lingkungan sel dibuat sedimikian rupa,
sehingga menyerupai lingkungan asal dari sel yang bersangkutan. Sel yang dipelihara bisa berupa sel tunggal
(kultur sel), sel di dalam jaringan (kultur jaringan), maupun sel di dalam organ (kultur organ) (Listyorini, 2001).
Teknik pembuatan kultur primer pada kultur sel, jaringan, dan organ hewan pada dasarnya sama. Sel, jaringan,
atau organ hewan diambil dari tubuh hewan dan mulai dipelihara di dalam kondisi in-vitro. Selama di dalam
kultur primer semua kebutuhan sel baik sebagai sel tunggal (kultur sel), sebagai bagian dari jaringan (kutur
jaringan), maupun sebagai bagian organ (kultur organ) harus dipenuhi agar sel dapat hidup dan menjalankan
fungsi normalnya.
Kultur jaringan pada tumbuhan merupakan salah satu teknik perbanyakan tumbuhan yang menggunakan sel
atau organ atau jaringan tumbuhan Kultur jaringan pada suatu tumbuhan merupakan suatu cara
membudidayakan suatu jaringan tumbuhan menjadi tumbuhan kecil yang mempunyai sifat seperti induknya
(Hendaryono, 1994).
Sejarah dan Perkembangan Kultur Sel dan Jaringan
Kultur jaringan (tissue culture) pertama kali digunakan pada awal abad 20 sebagai suatu metode untuk
mempelajari perilaku sel hewan yang bebas dari pengaruh variasi sistemik yang dapat timbul saat hewan dalam
keadaan homeostasis ataupun dalam pengaruh percobaan atau perlakuan. Kultur jaringan bukanlah teknik
yang baru. Teknologi ini telah berkembang sejak satu abad yang lalu, melalui masa-masa pengembangan yang
pada awalnya sederhana, diikuti fase perkembangan ekspansif pada pertengahan abad yang lalu. Saat ini kultur
jaringan berada pada fase pengembangan khusus untuk memahami aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi
fungsi sel. Kendati teknologi kultur jaringan kini telah berkembang begitu pesat, seperti kultur sel-sel
khusus,chromosome painting, dan DNA fingerprinting, tetapi teknologi dasar yang awal dikembangkan adalah
teknik kultur primer, pasase serial, karakterisasi, preservasi sel dengan prinsip yang masih sama.
Pada saat istilah kultur jaringan diperkenalkan, teknik ini pertama kali dikembangkan dengan menggunakan
fragmen jaringan yang tidak terurai, dan pertumbuhan sel atau jaringan terjadi dengan bermigrasinya sel
fragmen jaringan disertai adanya mitosis di luar pertumbuhan. Kultur sel dari jaringan explant primer seperti
inilah yang mendominasi perkembangan teknik kultur jaringan pada lebih dari lima puluh tahun
perkembangannya, sehingga tidaklah mengherankan jika istilah kultur jaringan sudah begitu melekat untuk
pengembangan teknologi ini. Walaupun demikian, fakta yang terjadi pada saat percepatan perkembangan
teknologi berikutnya pada era setelah tahun 1950 lebih didominasi oleh penggunaan kultur sel yang terurai
dari jaringan (Katuuk, 1989).
Sejarah kultur jaringan tumbuhan sebenarnya sejalan dengan sejarah perkembangan botani. Beberapa ahli
jaman dulu sudah meramalkan bahwa perbanyakan sel in-vitro dapat dilaksanakan. Pemikiran ini didasarkan
pada penemuan para ahli yang mendahului mereka serta penemuan mereka sendiri.
Pada abad 17 seorang ahli matematika Robert Hooke mengatakan bahwa sel-sel dapat disamakan dengan
batu-batu bangunan alamiah. Kemudian pada tahun 1838-1839, seorang ahli Biologi M.V Schleiden dan
Theodore Schwann yang telah menjuruskan perhatiannya pada kehidupan sel, menemukan satu konsep baru,
bahwa satu sel dapat tumbuh sendiri walaupun telah terpisah dari tumbuhan induknya. Mereka
mengemukakan bahwa segala peristiwa rumit yang terjadi dalam tubuh satu organisme selama hidup,
bersumber pada sel. Dari konsep inilah tumbuh pernyataan bahwa satu sel mempunyai kemampuan untuk
berkembang. Sel berkembang dengan jalan regenerasi sehingga pada suatu saat akan terbentuk tumbuhan
sempurna. Kemampuan regenerasi ini disebut totipotensi (totipotency). Konsep totipotensi yang ditanamkan
oleh Schleiden dan Theodore Schwann berkembang terus sehingga Vouchting pada tahun 1878, walaupun
masih belum berhasil baik, sudah mencoba mengembangkan kalus dari potongan tumbuhan. Kegagalannya
dalam mengembangkan potongan tumbuhan ini disebabkan oleh kekurangan fasilitas pada saat itu. Beberapa
ahli yang juga telah bekerja mengisi sejarah perkembangan botani papa abad ke 19, adalah Charles Darwin,
Louis Pasteur, Justus Van Liebik, Johan Knopp dan Rechinger.
Untuk mempelajari teknik dasar kultur jaringan diperlukan pemahaman dasar tentang anatomi, histologi,
fisiologi sel, dan prinsip dasar biokimia. Perkembangan ilmu biologi molekular menyebabkan sulitnya melihat
batas pemisah antara biologi molekular dan kultur jaringan. Saling bergantungnya perkembangan masing-
masing teknologi ini sukar untuk dinyatakan batas berhentinya teknologi kultur jaringan dan mulai
berkembangnya teknologi biologi molekular.
Perkembangan teknologi kultur jaringan kini banyak diarahkan untuk dapat memberikan simulasi proses
biologis yang terjadi pada tubuh makhluk hidup, sehingga tidak hanya digunakan untuk mempelajari proses
atau mekanisme yang terjadi pada sel, namun juga interaksi yang terjadi antara sel dan lingkungan yang dapat
diatur menyerupai berbagai keadaan fisiologis ataupun patologis. Hal ini akan semakin mengatasi kelemahan
teknologi kultur jaringan yang dianggap sebagai teknologi experiment in vitro, kendati menggunakan sel atau
jaringan hidup, dibanding dengan penggunaan hewan percobaan yang dinilai sebagai experiment in vivo.
Sejalan dengan perkembangan teknologi ini maka perkembangan berbagai referensi yang berkaitan dengan
teknologi kultur jaringan banyak menyajikan berbagai teknologi khusus, sehingga perhatian terhadap prosedur
dasar menjadi banyak terabaikan. Meski banyak berkembang referensi yang menyajikan teknologi baru, namun
masih banyak referensi teknologi dasar yang tetap dipertahankan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi modern menjadi semakin bergantung pada teknologi canggih. Prosedur
pewarnaan antibodi, analisis probe molekular, pemeriksaan sitotoksisitas, dan yang lainnya, kini sudah tersedia
dalam bentuk kit. Hal ini memungkinkan penilaian regulasi gen serta produk sel lebih cepat dan mudah
meskipun dengan biaya yang lebih mahal. Keuntungan berkembangnya berbagai kit ini adalah penghematan
waktu dan meningkatkan produktivitas.

Kultur pada Hewan dan Tumbuhan


Kultur pada Hewan
Kultur pada hewan yang dapat digunakan adalah dengan kultur sel, jaringan, dan organ. Kultur sel adalah
teknik pemeliharaan sel di dalam kondisi in-vitro. Seperti halnya pada kultur organ, kultur bakal organ, maupun
kultur jaringan, kultur sel juga mempertahankan karakteristik sel seperti saat sel tersebut berada di dalam
kondisi in-vivo. Sel hewan diisolasi dari organ yang bersangkutan. Selanjutnya, sel diupayakan untuk terpisah
satu dari yang lainnya. Sel hewan dipisahkan secara mekanis dan secara enzimatis. Sel-sel yang diperoleh
sebagian dipelihara di dalam kultur suspensi, dan sebagian dipelihara di dalam kultur yang melekat.
Selanjutnya kultur tersebut dipelihara di dalam medium yang dilengkapi dengan serum di dalam suhu yang
sesuai dengan asalnya. Untuk sel mamalia suhu pemeliharaan adalah 37°C dan untuk sel aves suhu
pemeliharaannya adalah 39°C.
Ukuran keberhasilan yang dapat digunakan dalam pembuatan kultur ini adalah tidak adanya kontaminasi pada
kultur, kesehatan sel selama dipelihara di dalam kondisi in-vitro, dan keberhasilan sel memperbanyak diri.
Menurut Listyorini (2001), cara pembuatan kultur sel hewan adalah sebagai berikut.
a. Menyiapkan peralatan kultur yang dipakai, mematikan hewan coba secara mekanis kemudian mengambil
organ atau jaringan yang dikehendaki untuk dibuat kultur selnya, mencuci organ atau jaringan di dalam larutan
garam seimbang kemudian memindahkan ke dalam wadah lain yang berisi larutan garam seimbang segar,
Memindahan bahan yang akan dikultur ke dalam sterile bench, kemudian melakukan penyiapan sel untuk
dikultur.
b. Penyiapan secara mekanis dilakukan dengan memotong organ atau jaringan, mencuci potongan tersebut
menggunakan larutan garam seimbang, memindahkan potongan (ekplan) ke dalam wadah yang berisi larutan
garam seimbang segar, menanam eksplan ke dalam cawan atau botol kultur dan menambahkan medium kultur
yang telah ditambahkan dengan serum dan memelihara kultur di dalam inkubator CO2 dengan suhu yang
sesuai. Fungsi larutan garam seimbang adalah untuk memberikan lingkungan fisiologis dan fisik yang baik bagi
sel selama sel, jaringan atau organ dipersiapkan.
c. Penyiapan secara enzimatis dilakukan dengan memindahkan eksplan ke dalam labu erlenmeyer dengan
adanya larutan tripsin 5% di dalam medium tanpa serum, mengaduk suspensi di atas magnetic stirrer dengan
kecepatan sedang, setelah didapkan suspensi sel, barulah menambahkan medium yang mengandung serum
kemudian melakukan sentrifuge dengan kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Kemudian membuang
supernatan dan mengganti dengan medium segar yang mengandung serum. Untuk kultur yang melekat
menanam sebagian sel ke dalam cawan atau botol kultur untuk kultur melekat dan menambahkan medium
yang mengandung serum 10% dan memelihara kultur sel di dalam inkubator CO2 dengan suhu yang sesuai.
Kultur jaringan adalah teknik pemeliharaan jaringan di dalam kondisi in-itro. Seperti halnya pada kultur jaringan
juga mempertahankan karakteristik sel seperti saat sel tersebut berada di dalam kondisi in-vivo. Keberhasilan
kultur selain dapat dilihat dari tidak adanya kontaminasi pada kultur, kesehatan jaringan selama dipelihara di
dalam kondisi in-vivo, dan berfungsinya jaringan yang dipelihara sebagaimana mestinya.
Kultur organ adalah teknik kultur jaringan yang dipakai untuk mempertahankan organ secara utuh dan
mempertahankan struktur serta fungsi organ tersebut. Kultur organ terdiri atas dua macam teknik kultur, yaitu
kultur organ dewasa dan kultur bakal organ. Kultur organ dewasa pada umumnya dipakai untuk
mempertahankan kehidupan organ yang diambil dari tubuh baik yang masih sehat maupun kehidupan organ
yang tidak mungkin dapat bertahan hidup. Kultur bakal organ memelihara jaringan-jaringan bakal organ untuk
dikembangkan di dalam kondisi in-vitro. Indikator keberhasilan kultur organ hewan sama dengan kultur sel dan
jaringan.

Kultur pada Tumbuhan


Kultur jaringan termasuk ke dalam jenis perkembangbiakan vegetatif (Anonim, 2009). Bagian tumbuhan yang
akan dikultur (eksplan) dapat diperoleh dari dari semua bagian tumbuhan seperti pucuk, akar, meristem,
bunga, bahkan serbuk sari.
Kultur jaringan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan meristem (Hendaryono,
1994). Jaringan meristem adalah jaringan muda yaitu jaringan yang terdiri atas sel-sel yang selalu membelah,
dindingnya tipis, belum mengalami penebalan dari zat pektin, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil.
Kebanyakan jaringan meristem digunakan karena keadannya selalu membelah sehingga diperkirakan
mempunyai zat hormon yang mengatur pembelahan.
Gambar 2. Jaringan Tumbuhan

(Sumber: Leavingbio, 2009)


Pelaksanaan teknik kultur jaringan berdasarkan teori sel yaitu mempunyai kemampuan autonom bahkan
mempunyai kemampuan totipotensi. Menurut Suryowinoto (1991), totipotensi adalah kemampuan setiap sel,
dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh
menjadi tumbuhan yang sempurna. Sifat totipotensi merupakan potensi pada setiap sel penyusun jaringan
dewasa untuk mengadakan pembelahan dan membentuk individu baru. Sel-sel penyusun jaringan dewasa (sel
somatis) yang berada di bawah rangsangan tertentu memiliki potensi untuk mengadakan pembelahan
(embrionik) membentuk kalus. Selanjutnya, kalus dibawah rangsangan tertentu memliki potensi untuk
berdiferensiasi menjadi individu baru multiselular melalui diferensiasi (Haruna, 2009).
Teknik kultur jaringan akan dapat berhasil dengan baik apabila syarat- syarat yang diperlukan terpenuhi.
Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukan kalus, penggunaan
medium yang cocok, keadaan yang aseptik, dan pengaturan udara yang terutama untuk kultur cair. Meskipun
pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaliknya dipilih bagian tumbuhan yang masih
muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, misalnya: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji,
dan lain-lain (Hendaryono, 1994). Saat ini teknik kultur jaringan telah semakin luas penggunaannya, antara
lain:
1. Meristem culture
Yaitu budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari jaringan muda atau meristem.
2. Pollen culture/anther culture
Yaitu budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari pollen atau benang sari.
3. Protoplast culture
Yaitu budidaya jaringan dengan menggunakan eksplan dari protoplas. Protoplas adalah sel hidup yang telah
dihilangkan dinding selnya.
4. Chloroplast culture
Yaitu budidaya jaringan dengan menggunakan kloroplas untuk keperluan protoplas (memperbaiki sifat
tumbuhan dengan membuat varietas baru).
5. Somatic cross
Yaitu menyilangkan dua macam protoplas menjadi satu kemudian dibudidayakan sampai menjadi tumbuhan
kecil yang mempunyai sifat baru. Persilangan ini dapat dilakukan dengan menggunakan zat kimia.
Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi
media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dutumbuhkan secara
in vitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro
dan vitamin untuk pertumbuhan tumbuhan. Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan
vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Pada media MS, tidak
terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen). ZPT atau hormon
tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Interaksi dan keseimbangan antara
ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah
perkembangan suatu kultur (Wikipedia, 2010).
Pelaksanaan kultur jaringan tumbuhan dapat dijabarkan sebagai berikut (Hendaryono, 1994).
1. Sterilisasi Alat Penabur
Entkas sebelum digunakan harus disterilisasi dengan menggunakan hand sprayer berisi spiritus atau campuran
formalin 10% dan alkohol 70% dengan perbandingan 1:1 yang didiamkan selama 10 menit.
2. Sterilisasi Alat dan Medium
Alat-alat yang akan digunakan untuk kultur jaringan setelah dicuci dan dikeringkan kemudian dibungkus
dengan kertas payung dan disterilisasikan di dalam autoklaf dengan suhu 121°C, tekanan 15 lb dalam waktu 20-
30 menit. Botol-botol eksplan yang sudah berisi medium setelah ditutup dengan aluminium foil kemudian
diterilisasikan. Sterilisasi medium memerlukan waktu 15 menit dengan tekanan dan suhu yang sama pada
sterilisasi alat-alat. Teknik pelaksanaan autoklaf adalah autoklaf diisi air sampai batas kemudian botol eksplan
dimasukkan ke dalamnya. Setelah autoklaf ditutup rapat kemudian dinyalakan dan ditunggu sampai air
mendidih dan tekanan menunjukkan angka 15 (15 menit). Setelah autoklaf menunjukkan angka 0, autoklaf
boleh dibuka dan botol-botol di dalamnya dikeluarkan untuk disimpan sampai saat digunakan.
3. Sterilisasi Eksplan
Sterilisasi dilakukan dengan dua cara, yaitu secara mekanik dan kimia.
a. Secara Mekanis
Cara ini digunakan untuk eksplan yang keras atau berdaging yaitu dengan cara membakar eksplan di atas
lampu spiritus sebanyak tiga kali. Eksplan keras yang disterilisasi dengan cara ini adalah tebu, biji salak, bung,
buah anggrek, dll. Eksplan berdaging adalah wortel, umbi, bawang putih, dll.
b. Secara Kimiawi
Sterilisasi secara kimiawi digunakan untuk eksplan yang lunak (jaringan muda) seperti daun, tangkai daun,
anther dan sebagainya. Bahan-bahan kimia yang sering digunakan adalah:
§ Sodium hipoklorit, konsentrasi tergantung dari kelunakan eksplan, antar 5%-10% dalam waktu 5-10 menit.
Cara sterilisasi di dalam laminair air flow adalah memasukkan eksplan ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan
clorox, erlenmeyer digoyangkan dengan arah memutar mendatar selama 3 menit. Kemudian mencuci bersih
eksplan menggunakan aquades steril sebanyak 3-5 kali selama 3 menit. Barulah eksplan diambil menggunakn
pinset dan diletakkan di atas petridish yang ada kertas saringnya.
§ Mercuri khlorit, cara perlakuan sterilisasi dengan sublimat sama dengan sterilisasi dengan clorox, hanya
waktunya lebih pendek karena bahan kimia ini sangat keras.
§ Alkohol 70%
4. Menabur Eksplan
Menabur eksplan dilakukan dalam kondisi aseptik. Eksplan yang telah siap ditanam, dipotong-potong dengan
menggunakan skapel di dalam cawan petri. Potongan eksplan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi
media tumbuh hingga permukaan yang teriris bersentuhan dengan medium. Selanjutnya, erlenmeyer ditutup
kembali dengan aluminium foil dan diinkubasikan di dalam ruang inkubator dan intensitas cahaya disesuaikan
dengan yang dikehendaki.
5. Melaksanakan Sub-kultur
Sub-kultur adalah usaha untuk mengganti media tanam kultur jaringan dengan media yang baru sehingga
kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi.
a. Sub-kultur pada media cair
Media cair cepat diserap oleh eksplan, maka empat hari sekali harus diganti dengan media yang baru.
b. Sub-kultur pada media padat
Sub-kultur media padat lebih mudah dilakukan, yaitu hanya dengan meletakkan kalus yang sudah terbentuk di
atas cawan petri kemudian membelah-belah menjadi bagian kecil dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer baru
yang berisi media baru.
6. Menumbuhkan Planlet (Tumbuhan Kecil)
Medium yang digunakan untuk menumbuhkan kalus adalah medium induksi kalus. Sedangkan medium yang
digunakan untuk menumbuhkan planlet adalah medium diferensiasi yang komponen-komponen kimianya agak
berbeda. Untuk mendeferensiasikan suatu kalus agar dapat tumbuh akar dan tunas, maka harus sesuai dengan
medium sebelumnya. Bila memakai medium MS maka akan lebih baik bila konsentrasi medium diferensiasinya
separuh dari medium induksi kalus.
Skema teknik kultur jaringan dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 3. Skema Kultur Jaringan

Sumber: Haruna, 2009


Salah satu pembudidayaan tumbuhan menggunakan kultur jaringan adalah anggrek. Teknik kultur jaringan
dapat memperbanyak anggrek secara cepat. Adapun langkah kerja yang dilakukan adalah
1. Membakar buah anggrek menggunakan spiritus
2. Menaburkan biji di dalam ruang penabur agar terjaga kondisi steril. Setelah itu baru biji ditabur dalam media
tumbuh yang telah disediakan dengan menggunakan pinset. Media tumbuh yang biasanya digunakan adalah
medium Knudson C atau Vacin and Went (VW).
3. Overplanting dilakukan secara aseptis di dalam ruang penabur, dengan cara: biji anggrek yang telah ditabur
akan berkecambah menjadi planlet dalam waktu 3-4 bulan harus dipindahkan ke dalam medium baru,
mediumoverplanting yang digunakan sama dengan medium lama, di dalam ruang penabur, anggrek diambil
satu-satu dengan menggunakan pinset kemudian langsung dipindah ke dalam medium baru. Untuk satu botol
anggrek biasanya dapat dipindahkan ke dalam tiga botol anggrek baru, botol hasil overplanting diinkubasi
dengan suhu 25°C. Overplanting ini perlu dilakukan dua kali sebelum anggrek siap dipindahkan ke dalam pot-
pot. Ilustrasi cara kultur jaringan anggrek dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.
Manfaat Kultur Sel dan Jaringan
Manfaat dari kultur sel dan jaringan adalah a) eksplan yang dibutuhkan hanya sedikit dan dapat diambil dari
seluruh bagian tumbuhan, b) sifat genetik yang dihasilkan tetap, sehingga dapat digunakan dalam pelestarian
plasma mutasi, c) tidak bergantung pada musim (pada tumbuhan), d) dapat waktu singkat dapat diperoleh bibit
unggul yang banyak, e) diperoleh bibit yang bebas virus dan penyakit, f) dapat menghasilkan metabolis
sekunder, f) Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah, g) dalam proses pembibitan bebas dari
gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya.
Kultur jaringan tumbuhan adalah suatu metode atau teknik mengisolasi bagian tumbuhan (protoplasma, sel,
jaringan, dan organ) dan menumbuhkannya pada media buatan dalam kondisi aseptik di dalam ruang yang
terkontrol sehingga bagian-bagian tumbuhan tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan
lengkap. Saat ini teknik kultur jaringan digunakan bukan hanya sebagai sarana untuk mempelajari aspek-aspek
fisiologi dan biokimia tumbuhan saja, tetapi sudah berkembang menjadi metode untuk berbagai tujuan
seperti:
a. Mikropropagasi (perbanyakan tumbuhan secara mikro)
Teknik kultur jaringan telah digunakan dalam membantu produksi tumbuhan dalam skala besar melalui
mikropropagasi atau perbanyakan klonal dari berbagai jenis tumbuhan. Jaringan tumbuhan dalam jumlah yang
sedikit dapat menghasilkan ratusan atau ribuan tumbuhan secara terus menerus. Teknik ini telah digunakan
dalam skala industri di berbagai negara untuk memproduksi secara komersial berbagai jenis tumbuhan seperti
tumbuhan hias (anggrek, bunga potong, dll.), tumbuhan buah-buahan (seperti pisang), tumbuhan industri dan
kehutanan (kopi, jati, dll). Dengan menggunakan metode kultur jaringan, jutaan tumbuhan dengan sifat genetis
yang sama dapat diperoleh hanya dengan berasal dari satu mata tunas. Oleh karena itu metode ini menjadi
salah satu alternatif dalam perbanyakan tumbuhan secara vegetatif.
b. Perbaikan tumbuhan
Dalam usaha perbaikan tumbuhan melalui metode pemuliaan secara konvensional, untuk mendapatkan galur
murni diperlukan waktu enam sampai tujuh generasi hasil penyerbukan sendiri maupun persilangan. Melalui
teknik kultur jaringan, dapat diperoleh tumbuhan homosigot dalam waktu singkat dengan cara memproduksi
tumbuhan haploid melalui kultur polen, antera atau ovari yang diikuti dengan penggandaan kromosom.
Tumbuhan homosigot ini dapat digunakan sebagai bahan pemuliaan tumbuhan dalam rangka perbaikan sifat
tumbuhan.
c. Produksi tumbuhan yang bebas penyakit (virus)
Teknologi kultur jaringan telah memberikan kontribusinya dalam mendapatkan tumbuhan yang bebas dari
virus. Pada tumbuhan yang telah terinfeksi virus, sel-sel pada tunas ujung (meristem) merupakan daerah yang
tidak terinfeksi virus. Dengan cara mengkulturkan bagian meristem akan diperoleh tumbuhan yang bebas virus.
d. Transformasi genetik
Teknik kultur jaringan telah menjadi bagian penting dalam membantu keberhasilan rekayasa genetika
tumbuhan (transfer gen). Sebagai contoh transfer gen bakteri (seperti gen cry dari Bacillus thuringiensis) ke
dalam sel tumbuhan akan terekspresi setelah regenerasi tumbuhan transgeniknya tercapai.
e. Produksi senyawa metabolit sekunder
Kultur sel tumbuhan juga dapat digunakan untuk memproduksi senyawa biokimia (metabolit sekunder) seperti
alkaloid, terpenoid, phenyl propanoid dll. Teknologi ini sekarang sudah tersedia dalam skala industri. Sebagai
contoh produksi secara komersial senyawa shikonin dari kultur sel Lithospermum erythrorhizon.
Penerapan Teknologi Kultur Sel dan Jaringan
Salah satu penerapan ilmu kultur sel dan jaringan adalah upaya untuk meningkatan produksi azadirahtin
melalui kultur suspensi sel Azadirachta indica A.Juss melalui penambahan skualen. Azadirachta indica atau
tumbuhan nimba adalah salah satu jenis tumbuhan yang menghasilkan berbagai zat aktif, salah satu bahan
aktif tersebut adalah azadirahtin, yaitu suatu senyawa triterpenoid yang berguna sebagai sumber terbaik untuk
biopestisida. Azadirahtin dapat digunakan sebagai biopestisida karena bersifat antifeedant dan mengganggu
pertumbuhan serta reproduksi serangga. Sampai saat ini, produksi biopestisida dari tumbuhan nimba dilakukan
dengan cara mengisolasi langsung dari tumbuhan utuh, terutama dari biji. Setiap gram biji nimba mengandung
3,6 mg azadirahtin, namun keberadaan nimba di Indonesia relatif sedikit karena daerah penyebarannya
terbatas di Pulau Jawa dan Bali. Eksploitasi terhadap tumbuhan ini menyebabkan penurunan populasinya di
alam yang secara langsung mengakibatkan berkurangnya sumber biopestisida, khususnya azadirahtin.
Eksploitasi terjadi karena nimba digunakan sebagai sumber obat-obatan dan bahan bangunan. Untuk
mengatasi masalah ini diperlukan metode alternatif, yaitu dengan menggunakan kultur jaringan (Zakiah, 2003).

Tipe kultur yang dapat digunakan untuk menghasilkan metabolit sekunder pada tumbuhan adalah kultur sel.
Salah satu cara untuk meningkatkan kandungan metabolit sekunder dalam kultur jaringan adalah dengan
penambahan prazat. Penambahan prazat ke dalam medium kultur dapat merangsang aktivitas enzim tertentu
yang terlibat dalam jalur biosintesis sehingga dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder. Prazat yang
dapat digunakan untuk meningkatkan kandungan senyawa triterpen secara in vitro adalah skualen, yang
merupakan senyawa triterpen linear tak jenuh dan prazat untuk semua triterpen. Penambahan skualen sebagai
prazat ke dalam kultur sel A. indica diharapkan dapat meningkatkan kandungan azadirahtin secara in vitro.
Penelitian yang dilakukan oleh Zakiah, dkk (2003) bertujuan untuk mengetahui umur kultur yang optimum
untuk memperoleh produksi azadirahtin tertinggi dalam kultur suspensi sel A. indica dan pengaruh
penambahan skualen terhadap produksi azadirahtin di dalam kultur suspensi sel A. indica. Bahan dan metode
yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kultur kalus
Kalus diinduksi dari potongan eksplan daun majemuk kedua dan ketiga tumbuhan A. indica yang diperoleh.
Eksplan ditanam pada medium padat MS yang ditambah zat pengatur tumbuh (ZPT) dengan komposisi 0,5; 5,0;
7,5μM asam 2,4-diklorofenoksi asetat (2,4-D) yang dikombinasikan dengan 0,1; 1,0; 5,0μM benzilaminopurin
(BAP).
2. Kultur suspensi sel
Kalus meremah terbaik yang diperoleh dari kultur kalus diinokulasikan ke dalam medium cair MS yang
ditambah ZPT berupa 0,1; 0,5; 1,0 μM 2,4-D yang dikombinasikan dengan 0,1; 0,5; 1,0μM BAP, dan sebagai
kontrol digunakan medium tanpa penambahan ZPT. Kombinasi konsentrasi 2,4-D dan BAP yang menghasilkan
pertumbuhan terbaik, yaitu kultur dengan berat massa sel tertinggi akan digunakan untuk pembuatan kurva
pertumbuhan sel, kurva kandungan azadirahtin dan perlakuan prazat.
a. Kurva pertumbuhan sel
Kurva pertumbuhan dibuat untuk melihat pengaruh waktu (umur kultur) terhadap berat kering. Berat kering
diperoleh setelah sel dikeringkan dengan freeze dryer hingga mencapai berat konstan. Sampling untuk
pengukuran berat kering dilakukan setiap dua hari sampai pertumbuhan mengalami penurunan.
b. Kurva kandungan azadirahtin
Kurva kandungan azadirahtin ditentukan dari hasil pengukuran kandungan azadirahtin di dalam massa sel dan
medium dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Pengukuran dilakukan setiap dua hari
sekali hingga umur kultur 20 hari. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui kandungan azadirahtin pada
setiap fase pertumbuhan suspensi sel, sehingga waktu penambahan prazat dapat ditentukan.
c. Penambahan prazat
Prazat yang digunakan adalah skualen dengan konsentrasi 10, 100 dan 1000 μM. Penambahan skualen ke
dalam suspensi sel dilakukan pada saat kandungan azadirahtin sedang meningkat. Pemanenan dilakukan setiap
dua hari sampai kultur berumur 12 hari dari waktu penambahan skualen.
Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Bahan kering (sel) yang telah digerus ditimbang sebanyak 0,1 g,
lalu diekstrak dengan 10 mL metanol teknis dalam labu erlenmeyer yang diagitasi dengan alat pengocok pada
kecepatan 120 rpm selama 48 jam. Selanjutnya ekstrak disaring dengan kertas saring Whatman no.1. Residu
dibilas dua kali dengan 5 mL metanol teknis, filtratnya kemudian diuapkan dengan vaccum rotary
evaporatorsampai semua pelarut menguap. Ekstrak kasar yang terbentuk dikeringkan dengan desikator, lalu
ditimbang, kemudian dilarutkan dengan 2 mL metanol Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
Medium sebanyak 10 mL dikeringkan dengan freeze dryer untuk menghilangkan kandungan airnya, diekstrak
dengan 10 mL metanol teknis, dan dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan kertas saring Whatman no.1,
residunya dibilas dua kali dengan 5 mL metanol teknis. Selanjutnya filtrat diuapkan dengan vaccum
rotaryevaporator sampai semua pelarut menguap. Ekstrak kasar yang terbentuk dikeringkan dengan desikator,
lalu ditimbang dan dilarutkan dengan 2 mL metanol KCKT.
Analisis kualitatif dan kuantitatif azadirahtin dilakukan dengan menggunakan KCKT dengan jenis kolom Shim-
pack CLC-ODS (C18, Ø 6,0 mm x 0,15 mm). Elusi dilakukan dengan menggunakan metanol:air (6:4) secara
isokratik dengan kecepatan aliran 1 mL/menit dan diamati pada UV λ 214 nm.
Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan waktu retensi puncak (peak) pada sampel dengan
azadirahtin standar (SIGMA). Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengkonversi luas area sampel dengan
luas area standar. Kurva standar diperoleh dari data luas area berbagai konsentrasi larutan azadirahtin standar,
kemudian dibuat hubungan luas area dengan kandungan azadirahtin.
Tekstur kalus yang dihasilkan berupa kalus kompak dan kalus meremah. Perlakuan yang menghasilkan kalus
yang paling meremah adalah pada medium dengan penambahan penambahan zat pengatur tumbuh berupa
0,5µM asam 2,4-diklorofenoksi asetat (2,4-D) dan 1,0µM benzilamino purin (BAP) atau 0,5 μM 2,4-D + 1,0 μM
BAP. Tekstur pada kalus dapat bervariasi dari kompak hingga meremah, tergantung pada jenis tumbuhan yang
digunakan, komposisi nutrien medium, zat pengatur tumbuh dan kondisi lingkungan kultur. Pertumbuhan in
vitro sangat ditentukan oleh interaksi dan keseimbangan antara zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke
dalam medium dan zat pengatur tumbuh endogen yang dihasilkan oleh sel yang dikultur.
Pertumbuhan kultur suspensi terbaik dengan berat kering sel tertinggi diperoleh pada medium dengan
penambahan 0,1 μM 2,4-D + 1,0 μM yaitu 0,259 ± 0,087g. Pertumbuhan sel yang stabil dapat membentuk
populasi sel dengan aktivitas fisiologi yang homogen, yaitu dalam mensintesis metabolit sekunder dan dalam
pembentukan vakuola sebagai tempat penyimpanan metabolit sekunder.
Dalam bidang kesehatan, kultur sel dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. Kultur sel atau yang
biasa disebut sebagai stem sel atau sel induk adalah sel yang dalam perkembangan embrio menjadi sel awal
yang tumbuh menjadi berbagai organ. Sel ini belum terspesialisasi dan mampu berdeferensiasi menjadi
berbagai sel matang dan mampu meregenerasi diri sendiri. Stem cell adalah sel yang tidak atau belum
terspesialisasi dan mempunyai kemampuan (potensi) untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel-sel yang
spesifik yang membentuk berbagai jaringan tubuh (Jusuf, 2008)

Gambar: stem cell (Sumber: Rismaka, 2009)


Embryonic stem cells adalah sel yang diambil dari inner cell mass (suatu kumpulan sel yang terletak di satu sisi
blastokista) embrio berumur 5 hari dan terdiri dari 100 sel. Sel ini mempunyai sifat dapat berkembang biak
secara terus menerus dalam media kultur optimal dan dalam keadaan tertentu dapat diarahkan untuk
berdifferensiasi menjadi berbagai sel yang terdifferensiasi seperti sel jantung, sel kulit, neuron, hepatosit dan
sebagainya, sehingga dapat dipakai untuk transplantasi jaringan yang rusak.
Sumber lain adalah sel stem dewasa, yakni sel induk yang terdapat di semua organ tubuh, terutama di dalam
sumsum tulang dan berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan. Tubuh mengalami
perusakan oleh berbagai faktor dan semua kerusakan yang mengakibatkan kematian jaringan dan sel akan
dibersihkan. Sel stem dewasa dapat diambil dari fetus, sumsum tulang, dan darah tali pusat.
Sel induk embrionik maupun sel induk dewasa sangat besar potensinya untuk mengobati berbagai penyakit
degeneratif, seperti infark jantung, stroke, parkinson, diabetes, berbagai macam kanker; terutama kanker
darah dan osteoarthritis. Sel stem embrionik sangat plastis dan mudah dikembangkan menjadi berbagai
macam jaringan sel sehingga dapat dipakai untuk transplantasi jaringan yang rusak.
Keuntungan sel induk dari embrio di antaranya adalah mudah didapat dari klinik fertilitas dan bersifat
pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel dalam tubuh. Pada kultur sel ini dapat
berpoliferasi beratus kali lipat sehingga berumur panjang, Namun, sel induk ini berisiko menimbulkan kanker
jika terkontaminasi, berpotensi menimbulkan penolakan, dan secara etika sangat kontroversial.
Sementara sel induk dewasa dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun, sudah
terspesialisasi sehingga induksi jadi lebih sederhana dan secara etika tidak ada masalah. Kerugiannya, sel induk
dewasa ini jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan matur, masa hidupnya tidak selama sel
induk dari embrio, dan bersifat multipoten sehingga diferensiasinya tidak seluas sel induk dari embrio. Stem
cells dapat digunakan untuk keperluan baik dalam bidang riset maupun pengobatan. Adapun penggunaan
kultur stem cells adalah sebagai berikut.
1. Terapi gen
Stem cells khususnya hematopoetic stem cells digunakan sebagai pembawa transgen kedalam tubuh pasien
dan selanjutnya dilacak apakah jejaknya apakah stem cells ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam
tubuh pasien. Adanya sifat self renewing pada stem cell menyebabkan pemberian stem cells yang mengandung
transgen tidak perlu dilakukan berulang-ulang. Selain itu hematopoetic stem cells juga dapat berdifferensiasi
menjadi bermacam-macam sel sehingga transgen tersebut dapat menetap diberbagai macam sel.
2. Penelitian untuk mempelajari proses-proses biologis yang terjadi pada organisme termasuk perkembangan
organisme dan perkembangan kanker
3. Penelitian untuk menemukan dan mengembangkan obat-obat baru terutama untuk mengetahui efek obat
terhadap berbagai jaringan
4. Terapi sel (cell based therapy). Stem cell dapat hidup di luar tubuh manusia, misalnya di cawan petri. Sifat ini
dapat digunakan untuk melakukan manipulasi pada stem cells yang akan ditransplantasikan ke dalam organ
tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu tanpa mengganggu organ tubuh.

Kesimpulan
a. Kultur sel dan jaringan merupakan budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk
dan fungsi yang sama. Kultur yang berasal dari sel-sel yang terdispersi yang diambil dari jaringan asalnya, dari
kultur primer, atau dari cell line atau cell strain secara enzimatik, mekanik, atau disagregasi kimiawi.
b. Kultur jaringan (tissue culture) pertama kali digunakan pada awal abad 20 sebagai suatu metode untuk
mempelajari perilaku sel hewan yang bebas dari pengaruh variasi sistemik yang dapat timbul saat hewan dalam
keadaan homeostasis ataupun dalam pengaruh percobaan atau perlakuan. Kultur sel dan jaringan hingga saat
ini tetap berkembang.
c. Kultur pada hewan yang dapat digunakan adalah dengan kultur sel, jaringan, dan organ. Kultur jaringan
termasuk ke dalam jenis perkembangbiakan vegetatif.
d. Manfaat dari kultur sel dan jaringan adalah a) eksplan yang dibutuhkan hanya sedikit dan dapat diambil dari
seluruh bagian tumbuhan, b) sifat genetik yang dihasilkan tetap, sehingga dapat digunakan dalam pelestarian
plasma mutasi, c) tidak bergantung pada musim (pada tumbuhan), d) dapat waktu singkat dapat diperoleh bibit
unggul yang banyak, e) diperoleh bibit yang bebas virus dan penyakit, f) dapat menghasilkan metabolis
sekunder, f) Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah, g) dalam proses pembibitan bebas dari
gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya.
e. Penerapan teknologi kultur sel dan jaringan antara lain dapat digunakan sebagai sumber biopestisida dan
pengobatan penyakit.
Dampak Positif dan Negatif Bioteknologi
Dampak Positif dan Negatif Bioteknologi
Dengan perkembangan bioteknologi, akan memberikan dampak positif maupun
dampak negatif bagi makhluk hidup, yang mencakup semua bidang. Adapun dampak positif
antara lain yakni :
1. Pada bidang pertanian, dengan menggunakan peralatan yang semakin modern serta pupuk
dengan kualitas yang lebih baik, memberikan kemudahan pengerjaan sawah bagi para petani
dengan hasil panen yang lebih baik dan labih banyak. Dimana yang sebelumnya hanya
menggunakan bajak dengan bantuan hewan (seperti sapi, kerbau) untuk membajak
sawahnya, kini petani semakin dimudahkan dengan adanya traktor untuk membajak sawah
serta penggunaan pupuk yang memberikan kesuburan pada tanaman dan terhindar dari
hama tanaman. Namun, dengan penggunaan pupuk mengakibatkan kerusakan pada
lingkungan karena pupuk yang digunakan mengandung bahan-bahan kimia yang dapat
merusak lingkungan.
2. Keanekaragaman hayati merupakan modal utama sumber gen untuk keperluan rekayasa
genetik dalam perkembangan dan perkembangan industri bioteknologi. Baik donor maupun
penerima (resipien) gen dapat terdiri atas virus, bakteri, jamur, lumut, tumbuhan, hewan, juga
manusia. Pemilihan donor / resipien gen bergantung pada jenis produk yang dikehendaki dan
nilai ekonomis suatu produk yang dapat dikembangkan menjadi komoditis bisnis. Oleh karena
itu, kegiatan bioteknologi dengan menggunakan rekayasa genetik menjadi tidak terbatas dan
membutuhkan suatu kajian sains baru yang mendasar dan sistematik yang berhubungan
dengan kepentingan dan kebutuhan manusi ; Kegiatan tersebut disebut sebagai
bioprespecting. Perdebatan tentang positif untuk mengatasi dampak negatif yang dapat
ditimbulkan bioteknologi, antara lain pada tahun 1992 telah disepakati konvensi
keanekaragaman Hayati, ( Convetion on Biological Diversity )yang mengikat secara hukum
bagi negara-negara yang ikut mendatanginnya.
Adapun dampak negatif perkembangan bioteknologi antara lain yakni
1. Penggunaan pupuk mengakibatkan kerusakan pada lingkungan karena pupuk yang
digunakan mengandung bahan-bahan kimia yang dapat merusak lingkungan.
2. Penggunaan peralatan modern membutuhkan keahlian khusus atau terdidik sehingga
penggunaan alat ini terbatas.
3. Di bidang kesehatan manusia terdapat kemungkinan produk gen asaing, seperti, gen cry
dari bacillus thuringiensis maupun bacillus sphaeericus, dapat menimbulkan reaksi alergi
pada tubuh mausia, perlu di cermati pula bahwa insersi ( penyisipan ) gen asibg ke genom
inang dapat menimbulkan interaksi antar gen asing dan inang produk bahan pertanian dan
kimia yang menggunakan bioteknologi.Dampak lain yang dapat ditimbulkan oleh bioteknologi
adalah persaingan internasional dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi.
Persaingan tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang karena
belum memiliki teknologi yang maju, Kesenjangan teknologi yang sangat jauh tersebut
disebabkan karena bioteknologi modern sangat mahal sehingga sulit dikembangkan oleh
negara berkembang

Anda mungkin juga menyukai