Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak Balita sebagai masa emas atau "golden age" yaitu insan manusia yang berusia 0-6
tahun (UU No. 20 Tahun 2003), meskipun sebagian pakar menyebut anak balita adalah anak
dalam rentang usia 0-8 tahun.
Kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat
unik, artinya memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus
dan motorik kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan
spiritual), sosio-emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang
khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilalui oleh anak
tersebut.
Secara psikologis, rentang usia tersebut dibagi dalam 3 tahapan yaitu masa sebelum lahir,
masa bayi dan masa awal kanak-kanak. Pada ketiga tahapan tersebut banyak terjadi
perubahan yang mencolok, baik fisik maupun psikologis, karena tekanan budaya dan harapan
untuk menguasai tugas-tugas perkembangan tertentu, yang akan mempengaruhi tumbuh
kembang anak. Pembagian menurut tahapan tersebut sangat tergantung pada faktor sosial,
yaitu tuntutan dan harapan untuk menguasai proses perkembangan yang harus dilampaui
anak dari lingkungannya.
Pada setiap tahap perkembangan, terdapat beberapa aspek fisik dan psikologis yang
terjadi, misalnya pada masa bayi secara umum menunjukkan bahwa anak sangat tergantung
pada orang dewasa, sedangkan saat anak memasuki awal masa kanak-kanak, ketergantungan
mulai berkurang dan ada harapan serta perlakuan tertentu dari kelompok sosial serta mulai
tumbuh kemandirian, yang akan berakhir saat anak mulai masuk sekolah dasar.
Perkembangan pada setiap aspek memiliki tingkat dan kecepatan yang berbeda-beda baik,
tergantung dari faktor individu maupun lingkungan yang menstimulirnya. Seluruh
perkembangan ini akan dilampaui anak dan setiap aspek perkembangannya tidak berdiri
sendiri melainkan saling terkait satu sama lain.
Berdasarkan hal tersebut, maka tumbuh kembang anak serta kemampuan mereka dapat
diidentifikasi lebih awal, yang selanjutnya dapat dikembangkan. Berbekal pemahaman
tentang perkembangan anak balita maka orang tua atau orang dewasa lainnya dapat
mengetahui titik terpenting untuk pengembangannya, dengan menitik beratkan pada masa
belajar anak. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan anak balita tersebut perlu
diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik,
daya pikir, daya cipta, sosio-emosional, bahasa, komunikasi yang seimbang sebagai dasar
pembentukan pribadi.
BAB II
TINJAUAN PUATAKA

2.1 Pengertian Balita

Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular
dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006).
Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah umum bagi anak
usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih
tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang
air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun
kemampuan lain masih terbatas.
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan
perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan
masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut
golden age atau masa keemasan.

2.2 Karakteristik Balita

Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1–3 tahun (batita)
dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004). Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif,
artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa
batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang
relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang
mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh
karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering
Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih
makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau
bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada
masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan
“tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami
penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan
terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak
mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki (BPS, 1999)

2.3 Tumbuh Kembang Balita


Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa
melalui tiga pola yang sama, yakni:
a. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal).
Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung kaki, anak akan berusaha
menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
b. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak akan lebih
dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu
meraih benda dengan jemarinya.
c. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengeksplorasi keterampilan-
keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan lain-lain.
Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan gejala kuantitatif. Pada konteks ini,
berlangsung perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak.
Dengan kata lain, berlangsung proses multiplikasi organ tubuh anak, disertai penambahan
ukuran-ukuran tubuhnya. Hal ini ditandai oleh:
a. Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.
b. Bertambahnya ukuran lingkar kepala.
c. Muncul dan bertambahnya gigi dan geraham.
d. Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot.
e. Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut, kuku, dan sebagainya.
Penambahan ukuran-ukuran tubuh ini tentu tidak harus drastis. Sebaliknya, berlangsung
perlahan, bertahap, dan terpola secara proporsional pada tiap bulannya. Ketika didapati
penambahan ukuran tubuhnya, artinya proses pertumbuhannya berlangsung baik. Sebaliknya
jika yang terlihat gejala penurunan ukuran, itu sinyal terjadinya gangguan atau hambatan
proses pertumbuhan. Cara mudah mengetahui baik tidaknya pertumbuhan bayi dan balita
adalah dengan mengamati grafik pertambahan berat dan tinggi badan yang terdapat pada
Kartu Menuju Sehat (KMS). Dengan bertambahnya usia anak, harusnya bertambah pula
berat dan tinggi badannya. Cara lainnya yaitu dengan pemantauan status gizi. Pemantauan
status gizi pada bayi dan balita telah dibuatkan standarisasinya oleh Harvard University dan
Wolanski. Penggunaan standar tersebut di Indonesia telah dimodifikasi agar sesuai untuk
kasus anak Indonesia. Perkembangan pada masa balita merupakan gejala kualitatif, artinya
pada diri balita berlangsung proses peningkatan dan pematangan (maturasi) kemampuan
personal dan kemampuan sosial.
Kemampuan personal ditandai pendayagunaan segenap fungsi alatalat pengindraan dan
sistem organ tubuh lain yang dimilikinya.
Kemampuan fungsi pengindraan meliputi ;
a. Penglihatan, misalnya melihat, melirik, menonton, membaca dan lain-lain.
b. Pendengaran, misalnya reaksi mendengarkan bunyi, menyimak pembicaraan dan lain-
lain.
c. Penciuman, misalnya mencium dan membau sesuatu.10
d. Peraba, misalnya reaksi saat menyentuh atau disentuh, meraba benda, dan lain-lain.
e. Pengecap, misalnya menghisap ASI, mengetahui rasa makanan dan minuma

2.4 Kebutuhan Utama Proses Tumbuh Kembang

Dalam proses tumbuh kembang, anak memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi,
kebutuhan tersebut yakni ; a. Kebutuhan akan gizi11 (asuh); b. Kebutuhan emosi dan kasih
sayang (asih); dan c. Kebutuhan stimulasi dini (asah) (PN.Evelin dan Djamaludin. N. 2010).
a. Pemenuhan kebutuhan gizi (asuh).
Usia balita adalah periode penting dalam proses tubuh kembang anak yang
merupakan masa pertumbuhan dasar anak. Pada usia ini, perkembangan kemampuan
berbahasa, berkreativitas, kesadaran social, emosional dan inteligensi anak berjalan
sangat cepat. Pemenuhan kebutuhan gizi dalam rangka menopang tumbuh kembang fisik
dan biologis balita perlu diberikan secara tepat dan berimbang. Tepat berarti makanan
yang diberikan mengandung zatzat gizi yang sesuai kebutuhannya, berdasarkan tingkat
usia. Berimbang berarti komposisi zat-zat gizinya menunjang proses tumbuh kembang
sesuai usianya. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi secara baik, perkembangan otaknya
akan berlangsung optimal. Keterampilan fisiknya pun akan berkembang sebagai dampak
perkembangan bagian otak yang mengatur sistem sensorik dan motoriknya. Pemenuhan
kebutuhan fisik atau biologis yang baik, akan berdampak pada sistem imunitas tubuhnya
sehingga daya tahan tubuhnya akan terjaga dengan baik dan tidak mudah terserang
penyakit
b. Menunjang proses
Tumbuh kembang sesuai usianya. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi secara
baik, perkembangan otaknya akan berlangsung optimal. Keterampilan fisiknya pun akan
berkembang sebagai dampak perkembangan bagian otak yang mengatur sistem sensorik
dan motoriknya. Pemenuhan kebutuhan fisik atau biologis yang baik, akan berdampak
pada sistem imunitas tubuhnya sehingga daya tahan tubuhnya akan terjaga dengan baik
dan tidak mudah terserang penyakit
c. Pemenuhan kebutuhan stimulasi dini (asah).
Stimulasi dini merupakan kegiatan orangtua memberikan rangsangan tertentu
pada anak sedini mungkin. Bahkan hal ini dianjurkan ketika anak masih dalam
kandungan dengan tujuan agar tumbuh kembang anak dapat berjalan dengan
optimal.Stimulasi dini meliputi kegiatan merangsang melalui sentuhansentuhan lembut
secara bervariasi dan berkelanjutan, kegiatan mengajari anak berkomunikasi, mengenal
objek warna, mengenal huruf dan angka. Selain itu, stimulasi dini dapat mendorong
munculnya pikiran dan emosi positif, kemandirian, kreativitas dan lain-lain. Pemenuhan
kebutuhan stimulasi dini secara baik dan benar dapat merangsang kecerdasan majemuk
(multiple intelligences) anak. Kecerdasan majemuk ini meliputi, kecerdasan linguistic,
kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik. kecerdasan
musical, kecerdasan intrapribadi (intrapersonal), kecerdasan interpersonal, dan
kecerdasan naturalis.

2.5 Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik pada Balita


2.5.1. Teknik Verbal
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam menumbuhkan
kepercayaan diri anak, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan
melibatkan orang tua secara langsung yang sedang berada di samping anak. Selain itu
dapat digunakan cara dengan memberikan komentar tentang mainan, baju yang sedang
dipakainya serta hal lainnya, dengan catatan tidak langsung pada pokok pembicaraan.
2. Bercerita
Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak dapat mudah diterima,
mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang disampaikan
hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang dapat diekspresikan
melalui tulisan maupun gambar.
3. Memfasilitasi
Memfasilitasi anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini ekspresi anak
atau respon anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam memfasilitasi kita harus mampu
mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan, tetapi anak harus diberikan respons
terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh perhatian dan
jangan merefleksikan ungkapan negatif yang menunjukkan kesan yang jelek pada anak.
4. Biblioterapi
Melalui pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk mengekspresikan
perasaan, dengan menceritakan isi buku atau majalah yang sesuai dengan pesan yang
akan disampaikan kepada anak.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak, dengan meminta anak
untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan anak dan
keinginan tersebut dapat menunjukkan perasaan dan pikiran anak pada saat itu.
6.Pilihan pro dan kontra
Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukan atau
mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pasa situasi yang
menunjukkan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
7. Penggunaan skala
Penggunaan skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan perasaan
sakit pada anak seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain, dengan
menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.

2.5.2. Teknik Non Verbal


Teknik komunikasi non verbal dapat digunakan pada balita seperti :
1. Menulis
Menulis adalah suatu alternatif pendekatan komunikasi bagi anak, remaja muda dan
pra remaja. Untuk memulai suatu percakapan perawat dapat memeriksa/ menyelidiki
tentang tulisan dan mungkin juga meminta untuk membaca beberapa bagian. Dengan
menulis anak-anak lebih riil dan nyata.
2. Menggambar
Menggambar adalah salah satu bentuk komunikasi yang berharga melalui
pengamatan gambar. Dasar asumsi dalam menginterpretasi gambar adalah bahwa anak-
anak mengungkapakan tentang dirinya. Untuk mengevaluasi sebuah gambar
utamakan/fokuskan pada unsur-unsur sebagai berikut :
a. Ukuran dari bentuk badan individu, ini mengekspresikan orang penting
b. Urutan bentuk gambar, mengekspresikan prioritas kepentingan
c. Posisi anak terhadap anggota keluarga lainnya, mengekspresikan perasaan anak
terhadap status dalam keluaraga atau ikatan keluarga
d. Bagian adanya hapusan, bayangan atau gambar silang, mengekspresikan ambivalen/
pertentangan, keprihatinan atau kecemasan pada hal- hal tertentu.
3. Gerakan gambar keluarga
Menggambarkan suatu kelompok, berpengaruh pada perasaan anak-anak dan
respon emosi, dia akan menggambarkan pikirannya tentang dirinya dan anggota keluarga
yang lainnya. Gambar kelompok yang paling berharga bagi anak adalah gambar keluarga.
4. Sosiogram
Menggambar tak perlu dibatasi bagi anak- anak, dan jenis gambar yang berguna
bagi anak- anak seusia 5 tahun adalah sosiogram (gambar ruang kehidupan) atau
lingkungan keluarga. Menggambar suatu lingkaran adalah untuk melambangkan orang-
orang yang hampir mirip dalam kehidupan anak, dan gambar bundaran- bundaran didekat
lingkaran menunjukkan keakraban/ kedekatan.

5. Menggambar bersama dalam keluarga


Salah satu teknik yang berguna dan dapat diterapkan pada anak- anak adalah
menggambar bersama dalam keluarga. Menggambar bersama dalam keluarga merupakan
satu alat yang berguna untuk mengungkapkan dinamika dan hubungan keluarga.
6. Bermain
Bermain merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk berhubungan dengan
anak. Dengan bermain dapat dikumpulkan petunjuk mengenai tumbuh kembang fisik,
intelektual dan sosial. Terapeutik play sering digunakan untuk mengurangi trauma akibat
sakit atau masuk rumah sakit atau untuk mempersiapkan anak sebelum dilakukan prosedur
medis/ perawatan.
Diatas telah dijelaskan beberapa teknik komunikasi terapeutik pada umumnya,
sedangkan cara yang perlu diterapkan saat melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien
balita, antara lain : (Mundakir, 2005 : 153-154)
1. Nada suara, diharapkan perawat dapat berbicara dengan nada suara yang rendah dan
lambat. Agar pasien anak jauh lebih mengerti apa yang ditanyakan oleh perawat.
2. Mengalihkan aktivitas, pasien anak yang terkadang hiperaktif lebih menyukai
aktivitas yang ia sukai, sehingga perawat perlu membuat jadwal yang bergantian
antara aktivitas yang pasien anak sukai dengan aktivitas terapi atau medis.
3. Jarak interaksi, diharapkan perawat dapat mempertahankan jarak yang aman saat
berinteraksi dengan pasien anak.
4. Kontak mata, diharapkan perawat dapat mengurangi kontak mata saat mendapat
respon dari pasien anak yang kurang baik, dan kembali melakukan kontak mata saat
kira-kira pasien anak sudah dapat mengontrol perilakunya.
5. Sentuhan, jangan pernah menyentuh anak tanpa izin dari si anak.

Komunikasi dengan anak merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga hubungan
dengan anak,melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan mengambil berbagai
data yang terdapat pada diri anak yang selanjutnya digunakan dalam penentuan masalah
keperawatan atau tindakan keperawatan.

2.6 Tahap Perkembangan Balita


1. Usia 0 – 8 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara
yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan
mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu.

Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya
komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua
minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan
mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon
terhadap suara yang dikenalinya.

2. Usia 8 – 24 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya
melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti ‘eh’, ‘ah’, ‘uh’, ‘oh’ dan tidak
lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti ‘m’, ‘p’, ‘b’, ‘j’ dan ‘k’. Pada
usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan
menyuarakan ‘gaga’, ‘ah goo’, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan
suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi
akan mulai bisa menyuarakan ‘ma’, ‘ka’, ‘da’ dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda
yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau
orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus
mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

3. Usia 28 Minggu – 1 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa


Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan ‘ba’, ‘da’, ‘ka’ secara jelas
sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh
intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang
sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu
sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai
mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti ‘bye-bye’ atau main ‘ciluk-
baa’. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti ‘guk’, ‘kuk’, ‘ck’..

4. Usia 1 Tahun – 18 Bulan

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata
yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana
yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru
kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada
porsi/ situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang
dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan
kurang lebih 10 kata yang bermakna.

5. Usia 18 Bulan – 2 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks.
Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan
pertanyaan sederhana, seperti ‘mana ?’, ‘dimana?’ dan memberikan jawaban singkat, seperti
‘tidak’, ‘disana’, ‘disitu’, ‘mau’. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata
yang menunjukkan kepemilikan, seperti ‘punya ani’, ‘punyaku’. Bagaimana pun juga,
sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar
merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam
menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan
mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi
motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering
kabur, misalnya ‘balon’ jadi ‘aon’, ‘roti’ jadi ‘oti’.

6. Usia 2 Tahun – 3 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog).
Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara
diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan
perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan
semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski
pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan
cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka
untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu
menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk
menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa
menggunakan kata “aku”, “saya”, “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-
kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa
lalu, masa kini dan masa sekarang.

7. Usia 3 – 4 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga
menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan
menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk
menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan
situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-
temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan,
kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya
makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh.
Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka,
seperti “kenapa dia Ma?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana?”

2.7 Hambatan Komunikasi pada klien Balita

Dalam berhubungan dengan balita perawat akan menemui beberapa hambatan dalam
proses komunikasi tersebut hal ini meliputi :

1. Keterbatasan dalam perkembangan bahasa, konsep dan pengalaman.


2. Keterbatasan dalam memahami konsep abstrak.
3. Kadangkala kurang atau tidak tanggap dalam diajak bicara.
4. Ucapan kata yang tidak jelas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lima tahun pertama merupakan masa terpenting dalam kehidupan manusia, inilah yang
disebut masa emas. Pada masa ini, perubahan dalam kemampuan terbesar terjadi pada balita,
termasuk pertumbuhan otak yang paling pesat, setelah itu pertumbuhan otak akan menurun
seiring dengan bertambahnya umur. Secara umum untuk tumbuh kembang anak, termasuk
pertumbuhan dan perkembangan otak pada masa emas diperlukan zat gizi makro
(karbohidrat, lemak dan protein) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Khusus untuk
pertumbuhan otak, lemak, terutama asam-asam lemak tak jenuh (polyunsaturated fatty acid =
PUFA) seperti omega 3 dan omega 6 yang merupakan bahan baku pembungkus serabut saraf
dalam otak, juga sangat dibutuhkan.
Naskah Drama :
Ibu N : Apriseila
Ayah N : Maulana
Perawat : Dwi Nanda
Dokter : Laurensia
Ibu Mertua : Maria
Balita N dirawat dirumah sakit dengan penyakit Diare.

Ruang anak, RS kasih bunda, terlihat ayah dan ibu, N, menyuapi n dengan Makanan yang dibeli
diluar.

Ayah N : Bu, ini saya bawakan makanan untuk anak kita, segera kamu suapkan.
Ibu N : Baik yah, mana makanannya (dibuka bungkusan,yang ternyata berisi nasi goreng).
Yaampun yah ini kan makanan kesukaan anak kita.
Ayah N : Iya dong bu, anak kita biar secepatnya sembuh.
Ibu N : Baik lah yah, ibu akan menyuapi anak kita terlebih dahulu.
Ayah N : Iya bu.

Belum selesai makan , perawat datang memberikan resep untuk ditebus oleh kedua orang tua
balita N

Perawat : Selamat pagi bu, bagaimana keadaan balita N?


Ibu N : Alhamdulilah baik bu, ini sudah enakan.
Perawat : Oh iya bu ini resep dari dokter tolong segera ditebus dan setelah itu tolong ditaruh
diruang perawat
Ibu N : Baik bu. (Ibu N menyuruh ayah N untuk menebus obat).

Ibu N : Ayah tolong tebus obat ini diapotik


Ayah N : Baik bu. ( berjalan keluar kamar ).
Ayah N meninggalkan ruangan, dan perawat bertanya tentang makanan yang disuapkan ibu N
ke N

Perawat : Ibu itu makanan yang dari RS kok tidak dimakan, malah membeli makanan diluar ?
Ibu N : Iya sus ! ini makanan yang dibelikan suami saya.
Perawat : ( Mendekat ke ibu N , dan melihat makanan apa yang diberikan pada balita N, perawat
terkejut pada balita itu adalah nasi goreng ). Ya ampun bu !! N kan belum cukup umur untuk
memakan nasi goreng.
Ibu N : Tapi itukan makanan kesukaan anak saya, lagian makanan yang disediakan RS juga
pantangan bagi keluarga saya.
Perawat : ibu makanan di rumah sakit itu baik untuk anak ibu.
Ibu : (Ibu tetap mengeyel dan mertua ibu mertua N datang)
Mertua ibu N : Ini ada apa yaa kok ribut-ribut?
Ibu N : Ini loh uti N kan makanan kesukaannya nasi goreng tapi sama perawat gak dibolehin.
Nanti kalau N makan-makanan rumah sakit N pasti tidak mau.
Perawat : Begini loh bu.. saya jelaskan N masih balita dan diarenya juga belum sembuh,
sebaiknya jangan diberi makan nasi goreng. Karena itu termasuk makanan makanan yang kasar
terhadap lambung, saus nya juga tidak baik dan nasi yang sudah dimasak dua kali itu tidak sehat.
Dan takutnya diare balita N juga tidak sembuh-sembuh. Menurut ahli gizi sebaiknya
mengkonsumsi makanan yang lembut agar mudah dicerna oleh lambung anak ibu dan
mengkonsumsi oralit untuk mencegah terjadinya dehidrasi karena diare tersebut.
Mertua Ibu N : Itu dengerin, lebih baik kamu nurut apa kata perawat supaya anak kamu kamu
cepet sembuh.
Ibu N : Iya sus, Iya uti, baik saya akan menuruti apa larangan dan perintah yang diarahkan oleh
staf rumah sakit.

Keesokan harinya penyakit balita N semakin parah dan disertai sesak nafas

Ibu N : Yah bagaimana anak kita kok semakin parah ditambah sesak nafas
Ayah N : Iya bu sebentar ayah panggilkan perawat dulu. (Ayah N keluar untuk memanggil
perawat)
Ayah N : Assalamu’alaikum permisi anak saya diruang flamboyan nomor 3 mengalami sesak
nafas tolong segera diperiksa yaa sus
Perawat : Iya pak sebentar saya akan kesana

Perawat : (mengetuk pintu lalu perawat pun masuk) Permisi saya akan memeriksa balita N
Ibu N : Iya sus
Perawat : Begini bapak, ibu. Anak ibu mengalami sesak nafas yang begitu berat tunggu sebentar
yaa saya akan memanggil dokter.

Perawat pun pergi meninggalkan ruangan dan menemui dokter

Dokter : Selamat siang saya akan memeriksa balita N (Dokter pun memeriksa keadaan balita N).
Sus segera siapkan dan pasangkan oksigen untuk balita N
Perawat : Iya dok segera saya siapkan dan pasangkan.

Setelah beberapa menit dipasangkan oksigen keadaan balita N mulai membaik

Dokter : Sus, tolong pantau selalu keadaan balita N. Dikawatirkan nanti ada susulan sesak napas
mendadak lagi.
Perawat : iya dok akan saya pantau terus keadaan balita N.
Ayah N dan Ibu N : Terimakasih dokter, suster yang sudah memeriksa keadaan anak saya.
Dokter dan perawat : Iya saya permisi dahulu ya pak, ibuk.