Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH EPIDEMIOLOGI SOSIAL

Pengaruh Determinan Sosial (Kesenjangan Sosial dan Stress) Terhadap Penyakit Tidak
Menular

Oleh : Kelompok 1
DESVI NITA SARI DARWIS (1411211003)
SELLIN DEWANTI (1411211015)
TEGUH PRIMADANI (1411211058)
IRMA SYAFITRI (1411211054)
YOLANDA DWI PUTRI (1411212013)
JULIETA SARI (1411212058)
SURYANI ANNISA (1511216035)

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Tugas Epidemiologi Sosial

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas rahmat ALLAH SWT yang telah memberikan kami
kesehatan dan kesempatan sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan
baik. Makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi Sosial di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Penulis telah menyelesaikan makalah dengan segenap kemampuan dan pikiran,
namun kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih belum sempurna. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar
makalah yang telah kami susun dapat mencapai kesempurnaan dan dapat bermanfaat bagi
pembaca.
Penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi semua orang sehingga mampu
menambah pengetahuan bagi para pembaca.Penulis mohon maaf jika dalam penulisan
makalah terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, segala kritik dan saran yang membangun
akan senantiasa penulis terima dengan lapang hati.

Padang, Maret2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
Latar Belakang..................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 6
Determinan Sosial Kesehatan ............................................................................................................. 6
Kesenjangan social (masalah social) ................................................................................................... 8
Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll. .......................................................................... 8
Faktor budaya : Perceraian,Kenakalan Remaja, dll....................................................................... 10
Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb. .................................................... 10
Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb. ................................................................... 10
Stres .................................................................................................................................................. 11
Definisi .......................................................................................................................................... 11
Jenis Stres...................................................................................................................................... 11
Tingkat Stres.................................................................................................................................. 11
PENUTUP ............................................................................................................................................... 16
Kesimpulan........................................................................................................................................ 16
Saran ................................................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 17
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Determinan sosial kesehatan merupakan proses yang membentuk perilaku di dalam


masyarakat. Perilaku adalah semua kegiatan yang dilakukan manusia baik yang dapat diamati
langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku seseorang terbentuk dari
pengetahuan, sikap dan praktek atau tindakan yang dimiliki (Notoatmodjo, 2012). Timbulnya
suatu penyakit dalam masyarakat tidak serta merta karena penyakit tersebut muncul begitu
saja. Apalagi bila sebelumnya penyakit tersebut tidak pernah ditemukan pada masyarakat
pendahulunya. Tentu ada faktor penyebab munculnya penyakit tersebut selain faktor
lingkungan yang mendukung penyebaran penyakit tersebut.Diantara penyebab-penyebab
timbulnya suatu penyakit selain faktor lingkungan adalah faktor perilaku dan sosial-budaya
masyarakat. Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh dalam penyebaran penyakit karena
ada sebagian penyakit yang timbul karena pola perilaku masyarakat yang dipengaruhi oleh
kondisi sosial dan budayanya. Determinan sosial berkontribusi terhadap kesenjangan
kesehatan di dalam kelompok masyarakat yang disebut determinan sosial kesehatan dan
mempengaruhi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga dapat
menjadi tolak ukur status kesehatan masyarakat.

Salah satu determinan sosial yang berhubungan dengan penyakit tidak menular yaitu
Kesenjangan sosial dan stress. Masyarakat dengan kelas sosial ekonomi lemah, biasanya
sangat rentan dan beresiko terhadap penyakit, serta memiliki harapan hidup yang rendah.
Sedangkan Stres merupakan keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi
stres baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja akan mempengaruhi
kesehatan seseorang. dengan demikian, perlunya pemahan lebih mengenai determinan sosial
seperti stress dan kesenjangan sosial sebagai penyebab timbulnya penyakit menular.

Perumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dari determinan sosial?

2. Bagaimana kesenjangan sosial dapat mempengaruhi penyakit tidak menular?

3. Bagaimana stress dapat mempengaruhi penyakit tidak menular?

4. Apa saja contoh penyakit tidak menular yang disebabkan oleh kesenjangan sosial dan
stress?
Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep dari determinan sosial.

2. Untuk mengetahui kesenjangan sosial dapat mempengaruhi penyakit tidak menular.

3. Untuk mengetahui stress dapat mempengaruhi penyakit tidak menular.

4. Untuk mengetahui contoh penyakit tidak menular yang disebabkan oleh kesenjangan
sosial dan stress.
PEMBAHASAN

Determinan Sosial Kesehatan


Dalam bahasa Inggris, kata health mempunyai dua pengertian dalam bahasa Indonesia
yaitu sehat atau kesehatan.sehat menjelaskan kondisi atau keadaan dari subjek, misalnya anak
sehat, ibu sehat, dan orang sehat. Sedangkan kesehatan menjelaskan tentang sifat dari subjek,
misalnya kesehtan manusia, kesehatan masyarakat, dan kesehatan individu. Sehat dalam
pengertian keadaan atau kondisi mempunyai batasan yang bebeda-beda. Secara awam, sehat
diartikan keadaan seseorang yang dalam kondisi tidak sakit, tidak ada keluhan, dapat
menjalankan kesehatan sehari-hari, dan sebagainya. Menurut batasan ilmiah, sehat atau
kesehatan telah dirumuskan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, ”keadaan
sempurna baik fisik, mental, dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, serta
produktif secara ekonomi dan sosial. Hal ini berarti, kesehatan seseorang tidak hanya diukur
dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti
mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.
Banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi kesehatan kita, yang mungkin tidak kitasadari
bahwa hal-hal yang berada di sekitar kita adalah faktor-faktor utama yang mempengaruhi
kesehatan. Kesehatan adalah hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal (fisik dan
psikis) maupun faktor eksternal (sosial, budaya, lingkungan fisik, politik, ekonomi,
pendidikan). Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar
masalah kesehatan itu sendiri. Menurut Henrik L. Blum (1974) seperti dikutip Azwar (1983),
terdapat empat faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan yaitu faktor
lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan yang saling
mempengaruhi.

Ada sepuluh determinan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan.


• Kesenjangan sosial
Masyarakat dengan kelas sosial ekonomi lemah, biasanya sangat rentan dan beresiko
terhadap penyakit, serta memiliki harapan hidup yang rendah.
• Stres
Stres merupaka keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi stres
baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja akan
mempengaruhi kesehatan seseorang.
• Pengucilan sosial
Kehidupan di pengasingan atau perasaan terkucil akan menghasilkan perasaan tidak
nyaman, tidak berharga, kehilangan harga diri, akan mempengaruhi kesehatan fisik
maupaun mental.
• Kehidupan dini
Kesehatan masa dewasa ditentukan oleh kondisi kesehatan di awal kehidupan.
Pertumbuhan fisik yang lambat, serta dukungan emosi yang kurang baik pada awal
kehidupan akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, mental, dan kemampuan
intelektual masa dewasa.
• Pekerjaan
Stres di tempat kerja meningkatkan resiko terhadap penyakit dan kematian. Syarat-
syarat kesehatan di tempat kerja akan membantu meningkatkan derajat kesehatan.
• Pengangguran
Pekerjaan merupakan penopang biaya kehidupan. Jaminan pekerjaan yang mantap
akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi diri dan keluarganya.
• Dukungan sosial
Hubungan sosial termasuk diantaranya adalah persahabatan serta kekerabatan yang
baik dalam keluarga dan juga di tempat kerja.
• Penyalahgunaan napza
Pemakaian napza merupakan faktor memperburuk kondisi kesehatan, keselamat dan
kesejahteraan. Napza atau pemakaian narkoba, alkohol, dan merokok akan memberika
dampak buruk terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
• Pangan
Ketersediaan pangan, pendayagunaan penghasilan keluarga untuk pangan, serta cara
makan berpengaruh terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat.
Kekurangan gizi maupun kelebihan gizi berdampak terhadap kesehatan dan penyakit.
• Transportasi
Transportasi yang sehat, mengurangi waktu berkendara, meningkatkan aktivitas fisik
yang memadai akan baik bagi kebugaran dan kesehatan. Selain itu, mengurangi waktu
berkendara dan jumlah kendaraan akan mengurangi polusi pada manusia.
Di samping determinan-determinan tersebut, masih terdapat faktor lain
yangmempengaruhi atau menentukan terwujudnya kesehatan seseorang, kelompok atau
masyarakat. Determinan-determinan yang menentukan atau mempengaruhi kesehatan
baik individu, kelompok atau masyarakat ini, dalam Piagam Otawa (Ottawa
Charter )disebut prasyarat untuk kesehatan (prerequisites for health). Piagam Ottawa,
1986mengidentifikasikan prasayarat untuk kesehatan ini dalam 9 faktor, yaitu:
1. Perdamaian atau keamanan ( peace)
2. Tempat tinggal (shelter)
3. Pendidikan (education)
4. Makanan ( food )
5. Pendapatan (income)
6. Ekosistem yang stabil dan seimbang (a stable eco-sistem)
7. Sumber daya yang berkesinambungan (sustainable resources)
8. Keadilan sosial (social justice)
9. Pemerataan (equity)

Kesenjangan social (masalah social)


Kesenjangan sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau
masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara
unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan
dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Kesenjangan atau masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara
nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial
yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat
ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat,
pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
• Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan
kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh
kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini
secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi
moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang
telah mapan,dll.
Banyak sekali berbagai macam penyebab kemiskinan, Kemiskinan banyak
dihubungkan dengan:
• penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat
dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku
dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
• penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan
keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang
tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
• penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah
contohnya.
• penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,
termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain
lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain.
Contoh lainnya adalah perbudakan.
• penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan
hasil dari struktur sosial.

Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai


akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di
dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja
miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun
masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
• Pengangguran : Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang
tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari
selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan
yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja
atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada
yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan
pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya
kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
Masalah sosial yang bersumber dari faktor biologis ini misalnya, masalah-
masalah yang menyangkut kependudukan dan keharusan biologis lainnya.bebarapa
faktor penyebab timbulnya masalah sosial yang bersumber dari faktor biologis :
• Penyakit Menular
Penyakit menular dapat didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat
ditularkan (berpindah dari orang satu ke orang yang lain, baik secara langsung
maupun perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agent atau
penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah serta menyerang host atau
inang (penderita).
• Keracunan makanan
Keracunan makanan adalah penyakit yang dihasilkan akibat dari penggunaan
makanan yang tercemar, patogen bakteri, virus, atau parasit yang mencemari
makanan, dan juga kimia atau racun alami seperti sebagai jamur.
Faktor budaya : Perceraian,Kenakalan Remaja, dll.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia.Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut
culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa
diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Beberapa jenis faktor budaya :
• Perceraian : Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua
pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa
meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut
harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama
pernikahan seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana
mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak
negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu
dapat menyelesaikannya ke pengadilan.
• Kenakalan remaja : Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar
norma, aturan, atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja
atau transisi masa anak-anak ke dewasa.
Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

Stres
Definisi
Dr. Hans Selye, seorang pelopor peneliti stres pada tahun 1930an mendiskiripsikan
stres sebagai respon tubuh terhadap berbagai macam tuntutan.13 Sementara, peneliti lain
medefinisikan stres sebagai keadaan ketika seseorang dihadapkan dengan kebutuhan yang
sulit atau perubahan yang tidak menyenangkan saat beradaptasi dalam kehidupan. Stres tidak
selalu diartikan respon non-spesifik tubuh terhadap kebutuhan fisik dan psikologis, tetapi
juga mencakup mental, emosi, dan perilaku.

Jenis Stres
Para peneliti membedakan stres menjadi dua jenis, yaitu eustres dan distres.

• Eustres (stres positif)


Eustres adalah ketidaksesuaian yang bersifat positif antara persepsi dan
keinginan.Eustres juga merupakan respon tubuh yang bersifat menyenangkan dan
berasal dari pengalaman yang memuaskan. Eustres dapat meningkatkan kesiagaan
mental, kewaspadaan, kognisi, dan performasi individu, serta meningkatkan
motivasi individu dalam berkreasi. Eustres ditandai dengan harapan (keyakinan
yang dimiliki seseorang untuk mencapai keinginan dan sukses) dan efek positif
yang berasal dari energi dan antusiasme.
• Distres (stres negatif)
Jenis stres yang bersifat merusak dan tidak menyenangkan. Distres ditandai dengan
rasa cemas, takut, khawatir, kemarahan, pengasingan, rasa frustasi, dan gelisah
sehingga menyebabkan keadaan psikologis yang negatif.

Tingkat Stres
Menurut berbagai lembaga internasional yang mengkaji mengenai stres, stres
diklasifikasikan menjadi tiga tingkat, yaitu tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Namun,
adapula yang membagi tingkat stres menjadi 2, yaitu stres akut dan stres kronik. Stres akut
dianggap bukan masalah selama aktivasi stres masih dapat ditekan, sedangkan pada stres
kronik biasanya keadaan terpajan stres sudah berlangsung lama dan berpengaruh pada sistem
anabolik tubuh. Pada stres akut ditandai dengan naiknya denyut jantung, tekanan darh,
aktivitas elektrodermal, epinefrin, dan kortisol, serta turunnya HRV. Pada stres kronik gejala
lebih sulit diidentifikasi, tetapi biasanya diikuti dengan tingginya denyut jantung dan tekanan
darah selama 24 jam disertai dengan penurunan kerja sistem anabolik tubuh.

• Komponen yang berhubungan


Dalam stres, ada 3 komponen utama yang berhubungan, meliputi:
• Stessor, yaitu hal-hal yang dapat memicu timbulnya stres yang berasal dari
lingkungan sekitar atau faktor psikososial. Misalnya, gangguan, batasan waktu, tugas,
tuntutan kerja yang tinggi, dan konflik sosial.

• Ketegangan, yang berasal dari penerimaan psikologis atau manifestasi perilaku dari
individu terhadap stressor.
• Modifier, yaitu cara individu dalam mengatasi stres dan dukungan sosial baik yang
dapat mengurangi atau menambah respon terhadap stressor.

• Mekanisme Stres dalam Tubuh


Dalam menerima respon stres, tubuh akan mengalami mekanisme tersendiri yang
terdiri dari tiga fase, yaitu fase bahaya, fase perlawanan, dan fase kelelahan. Pada fase
bahaya, tubuh mulai terpajan stres dengan adanya perubahan psikologis yang menimbulkan
pengalaman tidak menyenangkan. Jika pajanan stres masih bertahan, maka mulailah fase
perlawanan dengan munculnya respon dalam tubuh dengan menyesuaikan diri dan mencapai
ke arah stressor, tetapi tubuh akan mudah terganggu karena efek dari pengaturan sistem
biologis stres tersebut, misalnya masalah dalam menjaga homeostatis tubuh. Apabila pajanan
stres masih berlanjut dan intensitasnya bertambah, tubuh akan mengalami fase kelelahan
karena dipicu habisnya persediaan energi.

• Penanganan
Penanganan stres dapat diupayakan dengan berbagai macam cara, antara lain:
• Latihan erobik secara struktur setiap hari minimal 20 menit
• Makan secara berimbang, mulai dari makanan pokok, kacang-kacangan, buah, dan
sayuran
• Kurangi kafein berlebihan untuk mencegah rasa kecemasan, gelisah, insomnia, dan
menggigil
• Kurangi konsumsi gula sulingan untuk mencegah fluktuasi kadar gula
• Hindari konsumsi alkohol dan obat-obatan yang dapat memicu rasa pusing
• Usahakan waktu tidur minimal 7 jam tiap malam
• Usahakan kegiatan relaksasi setiap hari, misalnya yoga, dan meditasi

• Contoh Penyakit yang disebabkan oleh Kesenjangan dan Stress


• Kanker Paru dan Merokok

Ilmu kedokteran menganggap kanker paru sebagai medical determinant dari


kematian. Jika kanker paru dapat dihentikan, maka kematian bisa dicegah. Dokter
mencari pengobatan agar pasien kanker dapat diselamatkan. Penelitian epidemiologi
menemukan bahwa perokok memikili risiko untuk memperoleh kanker paru. Kondisi-
kondisi nonmedik yang berkaitan dengan orang menjadi perokok merupakan social
determinant of kanker paru. Peneliti sosial lebih jauh menunjuk industri rokok sebagai
social determinant of health. Analis kebijakan kesehatan yang rasionalis akan
menggunakan merokok dan industri yang mendukung merokok sebagai penyebab
sosial yang harus dikendalikan. Analis kebijakan yang politikal memandang industri
rokok bukan sebagai penyebab sosial penyakit. Industri rokok memiliki serapan
tenaga kerja dan dapat menjadi bagian ekonomi informal.
• Menurut penelitian Anna Fitriani (2010) menyatakan bahwa Salah satu PTM yang
menjadi penyebab utama kematian di berbagai negara adalah hipertensi. Pada
peneltiannya, responden berasal dari kelompok sosial ekonomi rendah yang sebagian
besar berpendidikan rendah, pengeluaran rumah tangga di bawah UMR, tidak bekerja,
dan bertatus janda. Sosial ekonomi yang rendah dapat menjadi faktor risiko
hipertensi. Hasil analisis pada Riskesdas menunjukkan bahwa responden yang tidak
sekolah dan tidak bekerja mempunyai risiko yang lebih tinggi terhadap hipertensi

• Menurut penelitian Anna Fitriani (2010) menyatakan bahwa Stres dapat dipengaruhi
oleh faktor sosial demografi seperti pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan status
perkawinan. Pada wanita berusia 45 _ 64 tahun, sejumlah faktor psikososial seperti
ketegangan dan ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stres harian, mobilitas
pekerjaan, gejala ansietas dan kemarahan terpendam berhubungan dengan
peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik pada penyakit kardiovaskuler
manapu

Respon stres melibatkan semua fungsi tubuh, sehingga terlampau besarnya distres
yang menghabiskan sumber-sumber adaptif kita dapat menyebabkan kelelahan, beragam
masalah kesehatan, dan bahkan akibat yang fatal. Berikut beberapa gangguan-gangguan dan
penyakit yang berhubungan dengan stress.

SISTEM SISTEM OTOT DAN SENDI


PERNAFASAN PENCERNAAN
· Penyakit jantung · Gangguan pencernaan · Pusing
koroner (angina dan · Nausea · Kram
serangan jantung) · Rasa panas dalam perut · Kejang otot
· Hipertensi (tekanan (pirosis) · Nyeri punggung
darah tinggi) · Bisul dalam perut dan · Nyeri leher
· Stroke usus dua belas jari
· Migren · Radang usus besar,
sindroma usus besar
berat
· Diare
· Sembelit
· Kembung perut

PERILAKU EMOSIONAL LAIN-LAIN


· Makan terlampau · Kecemasan, termasuk · Diabetes
banyak-obesitas ketakutan, fobia, dan · Kanker
· Hilang selera makan- obsesi · Encok (Rheumatiod
anoreksia · Depresi arthritis)
· Meningkatnya · Asma
frekuensi merokok · Masuk angin biasa dan
· Meningkatnya flu
konsumsi kafein · Gangguan seksual-
· Meningkatnya dorongan seks berkurang,
konsumsi alcohol ejakulasi dini, gagal
· Penyalahgunaan obat- mencapai orgasme,
obatan kemandulan
· Penyakit kulit
· Gangguan tidur

Stres dapat memicu perubahan kesehatan yang tidak langsung disebabkan oleh
variabel biologis atau psikologis, namun disebabkan oleh perubahan gaya hidup sehat. Stres
yang tinggi dapat menyebabkan semakin tingginya frekuensi merokok, tidur terganggu,
meningkatnya konsumsi alkohol, dan berubahnya pola makan (seringkali dianggap sebagai
stresor) terbukti berhubungan dengan angka kematian lebih tinggi yang disebabkan beberapa
penyakit seperti penyakit-penyakit tidak menular seperti kanker, hipertensi, DM, dll.
Hubungan stres-penyakit merupakan hal yang nyata, namun dimediasi secara tidak langsung
melalui perubahan perilaku sehat dan bukan melalui efek biologis langsung dari stress.
PENUTUP

Kesimpulan
Stres merupaka keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi stres
baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja akan mempengaruhi
kesehatan seseorang. Masyarakat yang memiliki kesenjangan sosial seperti masyarakat
dengan kelas sosial ekonomi lemah, biasanya sangat rentan dan beresiko terhadap penyakit,
serta memiliki harapan hidup yang rendah. Hasil analisis pada Riskesdas menunjukkan
bahwa responden yang tidak sekolah dan tidak bekerja mempunyai risiko yang lebih tinggi
terhadap hipertensi.

Saran
Dengan makalah ini maka diharapkan pembaca dan penulis dapat menambah
wawasan serta lebih mengetahui mengenai pengaruh determinan sosial (kesenjangan sosial
dan stress) terhadap penyakit tidak menular .
DAFTAR PUSTAKA

1. Lusisusanti. 2012. Hubungan Tingkat Stres dengan Keluhan Dispepsia pada


Mahasiswa FKUI. Jakarta
2. Kuntari, Titik. Social Determinant of Health. Departemen Kesehatan Masyarakat
3. Bustan MN. Epidemiologi penyakit tidak menular. Jakarta: Rineka Cipta; 1993.
4. Hasanbasri, Mubasysyir. 2012. Pengajaran Epidemiologi Sosial dan Social
Determinant of Diseases. UGM. Pengajaran Epidemiologi Sosial.. - Konas JEN di
Solo 6-8 November 2012
5. Jurnal kedokteran indonesia, vol. 2/no. 1/januari/2011 Lisa F. Berkman (Editor),
Ichiro Kawachi (Editor) Social Epidemiology, Oxford University Press, USA,
Pertama 391 halaman
6. Fitriani, Anna. 2010. Kondisi Sosial Ekonomi dan Stres pada Wanita Hipertensi
Anggota Majelis Taklim Al-Amin Cilandak, Jakarta Selatan . Departemen Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional Vol. 7, No. 5, Desember 2012