Anda di halaman 1dari 4

Kewajiban Dokter sesuai Undang-undang Rumah Sakit

Pekerjaan dokter sangat dekat dengan segala resiko yang dapat mengenai pasien, oleh
karena itu kewajiban dokter banyak di atur dalam peraturan perundang-undangan di Negara
Indonesia mulai dari peraturan perundang-undangan yang tertinggi hingga undang-undang praktik
kedokteran. Tidak terkecuali pada Undang-undang Rumah Sakit juga mengatur kewajiban dokter
serta tenaga medis lainnya kepada pasien. Pada Pasal 2 UU RS menjelaskan
Pasal 2 : Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai
kemanusiaan, etika, dan profesionalisme, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi,
pemerataan, perlindungan, dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi social.
Sesuai dengan pasal 2 diatas sudah sangat jelas bahwa tenaga medis tidak terkecuali dokter
yang bekerja di Rumah Sakit juga berkewajiban menjalankan asas dari Rumah Sakit. Selain
tersebut juga harus melaksanakan pelayanan secara paripurna sesuai dengan pasal 4 UU RS, yang
berbunyi.
Pasal 4 : Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna
Yang dimaksud paripurna disini sesuai pasal 1 ayat 3 yaitu pelayanan kesehatan paripurna
adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative.
Pelayanan kesehatan yang paripurna ini juga harus diberikan oleh seluruh elemen yang ada di
dalam Rumah Sakit terlebih dokter. Dimana dokter di dalam Rumah Sakit sangat memiliki nilai
tinggi dalam pelayanan kesehatan.
Tenaga kesehatan yang bekerja di dalam Rumah sakit juga memiliki kewajiban yang di
atur dalam pasal 13 bagian sumber daya manusia.
Pasal 13 :
(1) Tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran di Rumah Sakit wajib memiliki Surat
Izin Praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di Rumah Sakit wajib memiliki izin sesuai dengan
ketentuan peraturan peundang-undangan.
(3) Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar
profesi, standar pelayanan Rumah Sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika
profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien.
(4) Ketentuan mengenai tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagaimana dimakud pada ayat
(1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sudah jelas disini bahwa pelayanan kesehatan dokter pada Rumah Sakit sangat diatur dalam
perundang undangan. Dimana kewajiban dokter harus memiliki STR dan SIP yang merupakan
syarat dokter bisa melaksanakan praktik kedokterannya di Rumah Sakit.
Menurut pasal 29 menjelaskan bahwa Rumah Sakit dan tenaga kesehatan yang
menjalankan di dalamnya mempunyai beberapa kewajiban, diantaranya sebagai berikut.
Pasal 29
(1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban :
a. Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat;
b. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif
dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah
Sakit;
c. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan
pelayanannya.
d. Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan
kemampuan pelayanannya;
e. Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin;
f. Melaksanakan fungsi social antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien
tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis,
pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti social bagi misi
kemanusiaan;
g. Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah
Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;
h. Menyelenggarakan rekam medis;
i. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain saran ibadah, parkir,
ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, lanjut usia;
j. Melaksanakan system rujukan;
k. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta
peraturan perundang-undangan;
l. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai hak dan kewajiban
pasien;
m. Menghormati dan melindungi hak-hak pasien;
n. Melaksanakan etika Rumah Sakit;
o. Memiliki system pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;
p. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional maupun
nasional;
q. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi
dan tenaga kesehatan lainnya;
r. Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws);
s. Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam
melaksanakan tugas; dan
t. Memberlakukan seluruh lingkungan Rumah Sakit sebagai kawasan tanpa rokok.
(2) Pelanggaran atas kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi
administrative berupa :
a. Teguran;
b. Teguran tertulis; atau
c. Denda dan pencabutan izin Rumah Sakit.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Kewajiban Rumah Sakit tersebut harus ditaati oleh pimpinan Rumah Sakit, structural
Rumah Sakit serta pelaksana pelayanan kesehatan termasuk dokter. Dimana dokter di dalam
Rumah Sakit dalam memberikan pelayanan harus sesuai dengan standar profesi dan standar
pelayanan tanpa mendeskriminasikan pasien. Dokter juga wajib membuat rekam medis dan
bertindak aman terhadap pasien. Dalam peraturan perundang-undangan Rumah Sakit juga
dijelaskan bahwa kewajiban rumah sakit termasuk dokter sebagai pemberi pelayanan kedokteran
harus merujuk jika itu tidak sesuai dengan kemampuannya. Yang dimaksud disini adalah jika
dokter tersebut tidak memiliki keahlian didalamnya dan masih sekiranya bisa merujuk ke
pelayanan yang lebih tinggi di wajibkan untuk merujuknya.
Pada pasal 38 dijelaskan mengenai hak pasien yang termasuk dalam kewajiban Rumah
Sakit beserta tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan di dalamnya.
Pasal 38:
(1) Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran
(2) Rahasia kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dibuka untuk
kepentingan kesehatan pasien, untuk pemenuhan permintaan apparat penegak hukum
dalam rangka penegakan hukum, atas persetujuan pasien sendiri, atau berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri.
Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa rahasia kedokteran merupakan rahasia milik pasien yang
tidak boleh dibocorkan oleh siapapun termasuk dokter. Rahasia kedokteran dapat dibuka jika atas
permintaan pasien sendiri, kepentingan kesehatan dimana penyakit tersebut merupakan penyakit
yang menular yang harus dicegah agar tidak menimbulkan penyakit kepada orang lain serta dalam
rangka pemenuhan permintaan apparat penegak hukum dimana berupa visum et repertum yang
diminta oleh penyidik yang ditujukan oleh dokter. Peran kedokteran forensic dalam kewajiban
dokter di Undang-undang Rumah Sakit yaitu menyimpan rahasia kedokteran pasien dan wajib
membuka rahasia kedokteran pasien apabila diminta oleh apparat penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum.
Setiap Rumah Sakit dan juga dokter berkewajiban untuk menjaga keselamatan pasien
dalam segala hal terlebih keselamatan pasien dalam tindakan medis. Oleh karena itu setiap
tindakan medis yang diberikan kepada pasien harus sesuai dengan standar operasional prosedur
yang harus dilaksanakan. Kewajiban mengenai keselamatan pasien diatur dalam Undang-undang
Rumah Sakit pasal 43.
Pasal 43:
(1) Rumah Sakit waji menerapkan standar keselamatan pasien.
(2) Standar keselamatan pasien sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam
rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
(3) Rumah Sakit melaporkan kegitan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) kepada komite
yang membidangi keselamtan pasien yang ditetapkan oleh Menteri.
(4) Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dibuat
secara anonym dan ditujukan untuk mengkoreksi system dalam rangka meningkatkan
keselamatan pasien.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasien yang dirawat dalam Rumah Sakit berhak mendapatkan keselamatan disaat dirawat
di Rumah Sakit yang ditanggung sepenuhnya oleh Rumah Sakit yang pelaksanaannya harus
dilakukan oleh pelaksana pelayanan kesehatan terutama dokter yang bertindak langsung dalam
pemberian pengobatan terhadap pasien maupun tindakan yang dilakukan pada pasien dalam
rangka menyembuhkan pasien.
Semua kewajiban Rumah Sakit terutama kewajiban terhadap pasien maupun kewajiban
pemberian pelayanan kesehatan bagi pasien harus ditaati seluruh elemen yang ada didalam Rumah
Sakit tersebut termasuk dokter yang berperan dalam pemberi pelayanan kedokteran tunggal yang
langsung berhubungan dengan pasien. Apabila semua kewajiban tersebut dilaksanakan dengan
baik pemberian pelayanan kesehatan yang paripurna secara langsung dapat dicapai serta
peningkatan status kesehatan masyarakat di Negara ini juga akan meningkat. Efek tidak langsung
dalam pemenuhan kewajiban Rumah Sakit yang dilaksanakan oleh dokter juga dapat berefek
dalam peningkatan kepercayaan pasien terhadap dokter dan dapat mengurangi dugaan malpraktek
yang diajukan oleh pasien karena ketidakpuasan dalam pemberian pelayanan kedokteran yang
diberikan oleh dokter.