Anda di halaman 1dari 12

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8

Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

STUDI TENTANG KARAKTERISTIK ENDAPAN EMAS OROGENIK DI DAERAH


BOMBANA, SULAWESI TENGGARA

Sayyed Faturahman*, Sutrisno


Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin Makassar,
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea - Makassar, 90245
Telp./Fax: (0411) 580202
*corresponding author: sayyedfaturahman1@gmail.com

ABSTRAK
Awal mula ditemukanya endapan emas pada Sungai Tahi Ite daerah Bombana berawal ketika seekor
buaya dengan permukaan kulit yang dilapisi pasir emas ditangkap penduduk Desa Tahi Ite,
Kecamatan Rarowatu, pada tahun 2008. Sejak saat itu, kabupaten yang terbentuk tahun 2003 dari
hasil pemekaran Kabupaten Buton ini terus diserbu pendatang (Iqbal E. Putra, 2015). Setelah diteliti
pada daerah tersebut ternyata penemuan endapan emas ini bersifat anomali dan unik karena di
Indonesia tidak umum ditemukanya cebakan emas pada batuan metamorf. Para Ahli Geologi
menduga bahwa endapan ini merupakan endapan emas orogenik karena daerah tersebut sangat
dipengaruhi oleh aktifitas struktur pada batuan metamorf yang merupakan batuan samping.
Berdasarkan data lapangan menunjukan bahwa endapan emas letakan berhubungan dengan
urat/uratan kuarsa dalam batuan metamorf, khususnya sekis mika dan metasedimen di daerah
tersebut. Urat/uratan kuarsa sekarang ditemukan di Pegunungan Wumbubangka, pada sayap utara
rangkaian Pegunungan Rumbia. Urat/uratan kuarsa yang tergerus dan tersegmentasi tersebut
memiliki ketebalan dari 2 cm sampai 2 m dengan kadar emas antara 2 sampai 61 g/t (Idrus dkk, 2011).
Tujuan dari studi ini adalah untuk memahami pola-pola mineralisasi, zona-zona alterasi beserta
karakteristik endapan emas orogenik. Terdapat tiga generasi urat pada daerah Bombana Sulawesi
Tenggara yaitu generasi pertama adalah urat yang sejajar foliasi. Sedangkan urat generasi kedua
adalah urat kuarsa yang memotong foliasi, memiliki kandungan mineral sulfide yang cukup dominan
serta memiliki kadar emas yang cukup potensi disebandingkan dengan urat generasi pertama. Urat
generasi ketiga yaitu urat kalsit-kuarsa, merupakan fase akhir dari endapan emas orogenik yang ada
di lokasi penelitian (Fadlin, 2012). Urat kuarsa tersebut, terbentuk yang khas secara fisik yaitu masif,
sigmoidal dan breksiasi. Endapan emas orogenik pada daerah ini berada pada zona epizonal-
mesozonal.

I. PENDAHULUAN merupakan batuan samping. Tujuan dari studi


ini adalah untuk memahami pola-pola
Daerah studi berada di Kabupaten Bombana, mineralisasi, zona-zona alterasi, beserta
Provinsi Sulawesi Tenggara. Daerah ini karakteristik endapan emas orogenik.
menjadi pusat perhatian bagi para ahli geologi
karena ditemukannya endapan emas pada II. KONDISI GEOLOGI REGIONAL
Sungai Tahi Ite berawal dari seekor buaya
Geologi daerah studi termasuk geologi daerah
dengan permukaan kulit yang dilapisi emas
Wumbubangka dan Rau-rau, Kecamatan
ditangkap penduduk Desa Tahi Ite, Kecamatan
Rarowatu, Kabupaten Bombana, Provinsi
Rowatu pada tahun 2008 diberitakan pada
Sulawesi Tenggara, yang telah diteliti
Artikel geologi Populer (c 2015). Penemuan
sebelumnya oleh Kisman, (2009). Pembahasan
endapan emas ini bersifat anomali dan unik
geologi daerah penelitian meliputi
karena di Indonesia tidak umum ditemukan
pembahasan geomorfologi, stratigrafi, dan
cebakan emas pada batuan metamorf.
struktur geologi yang berkembang pada
Endapan ini merupakan endapan emas
daerah penelitian.
orogenik karena daerah tersebut dipengaruhi
oleh struktur pada betuan metamorf yang Geomorfologi
268
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Morfologi daerah Bombana terdiri dari terdapat bongkahan-bongkahan batuan


morfologi perbukitan terjal dan morfologi tersilisifikasi dengan kuarsa bertekstur
pedataran. Morfologi pegunungan terjal saccharoidal mengisi foliasi dan rekahan-
menempati bagian Selatan, bagian sisi Barat, rekahannya.
Barat Laut hingga agak ke tengah pada daerah
Kenampakan lapangan dari batuan sekis
studi (Gambar 2). Pegunungan yang
(Gambar2) memperlihatkan warna segar abu-
menempati bagian terluas kawasan ini yaitu
abu kebiruan sampai kehijauan, warna lapuk
Pegunungan Rumbia yang mempunyai
coklat, dengan tekstur lepidoblastik, struktur
topografi yang sangat kasar dan kemiringan
foliasi (schistose), isian kekar berupa kuarsa
lereng yang sangat tinggi, pegunungan dalam
dan dengan kedudukan foliasi batuan N 65o E,
satuan ini memiliki pola yang hampir sejajar
29o. Berdasarkan klasifikasi batuan metamorf
berarah Barat Laut – Tenggara. Arah ini sejajar
menurut Travis, (1955), batuan ini dinamakan
dengan struktur sesar regional di kawasan ini.
sekis epidot (Pasomba, 2015).
Pola tersebut mengindikasikan bahwa
pembentukan morfologi pegunungan ini erat 2. Satuan batupasir
hubungannya dengan sesar regional.
Pegunungan ini dibentuk oleh batuan malihan Satuan batupasir Formasi Langkowala ini
dan memiliki bentuk morfologi yang khas yaitu diusulkan oleh Simandjuntak dkk, (1980),
punggung gunungnya terputus pendek-pendek dengan runtunan sedimen yang didominasi
dengan lerang yang tidak rata walaupun batupasir dengan sisipan serpih, batulanau,
bersudut tajam. dan juga konglomerat pada Formasi
Langkowala ini. Anggota satuan batuan ini
Stratigrafi menyebar luas di daratan Langkowala,
membentuk daratan dan perbukitan rendah
Pembagian satuan batuan di daerah studi
yang luas.
didasarkan pada sistem pembagian tatanama
tidak resmi, yaitu pengelompokan lapisan Ciri fisik batupasir ini ditandai oleh tidak
batuan secara bersistem menjadi satuan dijumpai adanya fosil dengan kelimpahan
bernama berdasarkan ciri-ciri litologinya. mineral kuarsa dan feldspar. Berdasarkan ciri
Meliputi jenis dan kombinasi batuan, serta fisik tersebut, maka satuan batupasir ini pada
kesamaan ciri atau gejala litologi batuan yang daerah penelitian berumur Miosen Atas
dapat diamati di lapangan. Pembagian satuan (Simanjuntak dkk, 1980).
batuan juga didasarkan pada dominasi batuan
yang tersingkap di daerah studi. Berdasarkan Struktur Geologi
ciri-ciri litologi yang dominan, perbedaan Struktur geologi utama yang berkembang di
antara batuan yang satu dengan batuan daerah penelitian berupa sesar naik yang
lainnya, serta posisi stratigrafi yang diamati di memiliki arah umum Timur – Barat dengan
lapangan, maka stratigrafi daerah studi dapat bagian Selatan merupakan hanging wall yang
dibagi menjadi 2 (dua) satuan batuan yaitu memisahkan bagian Utara yang merupakan
satuan sekis yang beranggotakan sekis satuan morfologi perbukitan rendah dan
muskovit, sekis epidot, serta metalimestone, pedataran Langkolawa, dan di bagian Barat,
dan satuan batupasir yang beranggotakan Selatan maupun Timur merupakan satuan
konglomerat (Pasomba, 2015). morfologi perbukitan tinggi di bukit Tangkeno
1. Satuan sekis Wumbubangka dan Pegunungan Rumbia
(Kisman, 2009).
Satuan sekis ini terdiri dari sekis epidot, sekis
muskovit, dan metalimestone dengan struktur Bagian hanging wall yang membentuk
foliasi. Di dalam satuan batuan metamorf ini perbukitan rendah ini kemudian mengalami
oksidasi yang mengakibatkan terjadinya
269
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

proses pengayaan. Kemungkinan proses mengalami proses pendinginan dan


hidrotermal masih aktif sampai saat ini dengan mengendapkan ion-ion logam yang
ditemukannya sumber mata air panas (Kisman, membentuk endapan dalam bentuk vein atau
2009). urat.

III. METODE STUDI Kuarsa sebagai mineral yang paling akhir


terbentuk umumnya hadir dan terendapkan
Terdapat beberapa tahapan pada studi Studi dalam urat-urat ini yang seringkali dijumpai
ini yaitu bersama dengan endapan emas. Kehadiran
1. Studi Pustaka urat-urat ini merupakan salah satu penciri
utama dari jenis endapan hidrotermal.
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data
melalui beberapa literatur berdasarkan Endapan tipe urat atau vein type deposit
penelitian yang terdahulu yang membahas merupakan daerah yang umumnya
tentang kondisi geologi regional dan kondisi termineralisasi dengan jelas yang umumnya
endapan emas pada daerah studi. membentuk tubuh yang diskordan (memotong
tubuh batuan yang ada disekelilingnya) yang
2. Pengkajian Literatur pada umumnya ukurannya lebih kecil
Setelah dilakukan pengumpulan data dari dibandingkan dengan panjang dan
beberapa literatur tentang kondisi geologi kedalamannya. Kebanyak urat-urat terbentuk
regional dan endapan emas pada daerah studi pada zona-zona patahan atau mengisi rongga-
maka dilakukan pengkajian dan analisis dari rongga pada batuan atau pada daerah gerusan.
setiap literatur yang ada sehingga dapat Banyak endapan endapan yang bernilai
disimpulkan tentang karakteristik endapan eknomis tinggi seperti emas, tembaga, perak,
emas orogenik di daerah Bombana, Sulawesi logam dasar (Pb-Zn-Cu) dan arsenik, mercuri,
Tenggara. dan mineral mineral logam ekonomis lainnya
yang berasosiasi dengan mineral-mineral
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN pengotor (gangue mineral) seperti kuarsa dan
kalsit pada batuan sampingnya (country rocks)
Menurut Bateman (1981) secara umum
dalam bentuk struktur urat.
proses pembentukan ore atau mineralisasi
bijih pada endapan jenis hidrotermal Vein Kuarsa
dipengaruhi oleh beberapa faktor pengontrol,
Idrus dkk. (2011) menjelaskan bahwa terdapat
meliputi: larutan hidrotermal yang berfungsi
2 jenis vein pada daerah Langkowa yaitu vein
sebagai larutan pembawa mineral, zona lemah
generasi pertama dimana veinnya sejajar
yang berfungsi sebagai saluran untuk lewat
dengan foliasi batuan yang dijumpai pada
larutan hidrotermal, tersedianya ruang untuk
sekis mika, sedangkan vein generasi kedua
pengendapan larutan hidrotermal, terjadinya
adalah vein yang memotong foliasi.
reaksi kimia dari batuan induk/host rock
dengan larutan hidrotermal yang Fadlin dan Asy’ari (2012) dalam penelitiannya
memungkinkan terjadinya pengendapan membagi 3 jenis vein yang terdapat pada
mineral bijih (ore), dan adanya konsentrasi daerah Wumbubangka. Urat kuarsa yang
larutan yang cukup tinggi untuk sejajar dengan foliasi memiliki geometri yang
mengendapkan mineral bijih (ore). relatif lebih besar dibanding dengan urat
kuarsa yang memotong foliasi, urat kuarsa tipe
Oleh akibat larutan hidrotermal bersifat
ini merupakan urat generasi pertama,
sangat cair, menyebabkan larutan ini sangat
berwarna putih transparan sampai putih susu,
mudah untuk melalui bidang bidang rekahan
memiliki kandungan mineral sulfida yang
pada batuan yang dilewatinya dan kemudian
sangat sedikit, sedangkan urat yang
270
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

memotong foliasi merupakan urat generasi untuk mengintervensi batuan, sehingga


kedua dan biasanya berukuran lebih kecil dari pergerakan larutan hanya melewati rekahan
urat yang sejajar foliasi, warna putih sampai yang ada pada batuan.
abu-abu buram serta memiliki kandungan
Fase ketiga atau fase terakhir merupakan hasil
mineral sulfida yang lebih domina dibanding
dari pengaruh larutan hidrotermal terhadap
dengan urat kuarsa yang sejajar foliasi.
batuan samping yang telah membentuk
Sedangkan urat kuarsa-kalsit merupakan urat
alterasi. Adapun mineral hasil alterasi yang
generasi ke-3 bertekstur laminasi.
dijumpai pada daerah penelitian yaitu klorit,
Menurut Pasomba (2015) bahwa vein yang muskovit, epidot dan kuarsa
dijumpai pada daerah studi memiliki tekstur
Mineralisasi
saccoroidal (Gambar 6) dan Karakteristik
tertentu ( Tabel 1). Berdasarkan klasifikasi vein Fadlin (2012) dalam penelitiannya
menurut Guilbert & Park (1986) maka menunjukan keterdapatan mineral pirit,
Pasomba (2015) mengklasifikasikan vein yang kalkopirit, astenopirit, cinnabar, stibnite, dan
dijumpai pada daerah ini menjadi dua jenis ashenopirit. Mineral-mineral tersebut tidak
vein yaitu jenis vein simple dan jenis vein hanya hadir dalam urat namun seringkali
irregular (Gambar 7). Adapun ciri lapangan ditemukan pada batuan samping wallrock dan
dari vein jenis simple yaitu bentuknya relatif tersilisifikasi. Cinabar memiliki ciri fisik
lurus, kuarsanya telah mengalami oksidasi berwarna merah jambu dan melimpah pada
fluida sedangkan jenis irregular di lapangan keterdapatan emas primer maupun emas
dicirikan dengan kenampakan rekahan yang sekunder atau endapan emas placer. Mineral-
diisi oleh fluida dengan arah yang tidak mineral ini terdapat pada daerah
beraturan serta ketebalan vein yang bervariasi. Wumbubangka, Kabupaten Bombana, Provinsi
Sulawesi Tenggara.
Menurut Pasomba (2015) terdapat 3 fase
dalam mekanisme pembentukan vein kuarsa Menurut Idrus dkk (2011) bahwa secara
pada daerah Bombana. pengamatan megaskopis ditemukannya
mineral pirit, kalkopirit, cinnabar, stibnite, dan
Fase pertama terjadi deformasi berupa sesar
asenopyrit dengan konsentarsi yang sedikit
naik yang memiliki arah umum Timur – Barat
berada pada urat kuarsa dan tersilisifikasi
dengan bagian Selatan merupakan hanging
pada batuan samping. Mineral-mineral ini
wall yang memisahkan satuan morfologi
terdapat pada daerah Longkowala, Kabupaten
perbukitan di Bukit Tangkeno sampai
Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara.
pegunungan terjal Rumbia dengan daerah
Wumbubangka yang merupakan morfologi Alterasi Hidrotermal
perbukitan rendah dan pedataran Langkowala
di sebelah Utara. Interaksi antara larutan hidrotermal dengan
batuan yang dilaluinya (wall rocks) akan
Fase kedua merupakan pengisian rekahan menyebabkan terubahnya mineral primer
pada batuan oleh larutan hydrothermal menjadi mineral sekunder yang kemudian
bersifat asam yang melewati batuan metamorf disebut dengan mineral yang teralterasi
melalui rekahan pada zona-zona lemah (alteration minerals). Proses terubahnya
sebagai media tempat larutan tersebut mineral primer menjadi mineral sekunder
mengalir kemudian mengalami pembekuan akibat interaksi batuan dengan larutan
dan pengkristalan. Pengisian larutan hidrotermal disebut dengan proses alterasi
hidrotermal umumnya dijumpai dalam bentuk hidrotermal.
vein disebabkan oleh berkurangnya intensitas
larutan maupun tekanan larutan tersebut Alterasi hidrotermal merupakan proses yang
kompleks, karena meliputi perubahan secara
271
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

mineralogi, kimia, dan tekstur yang dihasilkan Dicirikan dengan hadirnya mineral klorit
dari interaksi larutan hidrotermal dengan bersamaan dengan mineral karbonat dalam
batuan yang dilaluinya pada kondisi fisika– bentuk uratan kalsit, berada tidak terlalu jauh
kimia tertentu (Pirajno, 1992). Beberapa faktor dari pusat urat kuarsa (Gambar 9).
yang berpengaruh pada proses alterasi
d. Karbonisasi (carbonization)
hidrotermal adalah temperatur, kimia, fluida,
konsentrasi dan komposisi batuan samping, Dicirikan oleh hadirnya lapisan mineral grafit
durasi aktifitas hidrotermal, dan permeabilitas. yang umumnya berwarna hitam dan yang
Namun faktor kimia dan temperatur fluida relatif sejajar foliasi.
merupakan faktor yang paling berpengaruh
(Browne, 1994 dalam Corbett dan Leach, Inklusi Fluida
1995). Inklusi fluida adalah material dalam bentuk
Proses hidrotermal pada kondisi tertentu akan fasa cair, gas, atau padat, berukuran mikro
menghasilkan kumpulan mineral tertentu yang yang terperangkap saat pertumbuhan kristal
dikenal sebagai himpunan mineral atau suatu mineral (Rodder, 1984). Inklusi fluida
mineral assemblage (Guilbert dan Park, 1986). adalah inklusi yang terperangkap sebagai zat
Hal ini menyebabkan kehadiran himpunan cair yang sebagian besar masih dalam bentuk
mineral tertentu dalam suatu ubahan batuan cairan pada suhu permukaan. Inklusi ini
akan mencerminkan komposisi pH larutan dan (terutama yang primer) terbentuk bersamaan
temperature fluida tipe alterasi tertentu. dengan mineral yang memperangkapnya,
Morrison (1995) menjabarkan mineral mineral sehingga karakteristik fisik/kimia dari larutan
hidrotermal yang menjadi penunjuk pembawa mineral tersebut akan mempunyai
pembentukan mineral yang terbentuk dari kemiripan dengan larutan yang terperangkap
alterasi batuan pada kondisi pH asam netral. sebagai inklusi fluida. Dengan demikian, inklusi
fluida dapat digunakan antara lain untuk
Idrus dkk, (2011) dan Fadlin (2012) membagi 4 mengetahui lingkungan fisika dan kimia
tipe alterasi hydrothermal yang terdapat pada pembentukan endapan bijih; suhu, tekanan,
daerah Wumbubangka yaitu Silisisikasi dan komposisi larutan hidrotermal,
(silicification), Alterasi argilik / clay±silica menentukan batas boiling, evolusi suhu dan
(argillic), Klorit-karbonat (chlorite-carbonate tekanan pada cekungan minyak bumi (khusus
alteration), dan Karbonisasi (carbonization). pada inklusi fluida yang mengandung minyak
bumi) dan membuat zonasi suhu pada
a. Silisisikasi (silicification)
eksplorasi geothermal.
Alterasi ini ditandai dengan terubahnya
Fadlin (2012) melakukan analisi inklusi fluida
mineral primer pada batuan samping
pada urat kuarsa dimana hasil analisi inklusi
terutama yang digantikan dengan mineral
fluida pada urat kuarsa yang sejajar foliasi
silika yang sangat dominan.
temperatur homogenisasi (Th) rata-rata
b. Alterasi argilik /clay±silica (argillic) adalah 221,9 oC, sedangkan temperatur
pelelehan (Tm) rata-rata yaitu -4,55 oC dan
Alterasi ini ditandai dengan hadirnya mineral
salinitas rata-rata adalah 7,17 wt,%NaCl
lempung (clay) yang dominan dengan mineral
ekuivalen. Pada conto urat yang memotong
mineral silika, berada di sepanjang zona urat
foliasi menunjukkan bahwa temperatur
kuarsa.
homogenisasi (Th) rata-rata adalah 188,40 oC,
c. Klorit-karbonat (chlorite-carbonate Temperatur pelelehan (Tm) rata-rata yaitu -
alteration) 2,62 oC dan Salinitas rata rata adalah 3,87
wt,%NaCl ekuivalen. Sedangkan hasil
pengukuran inklusi fluida pada conto urat
272
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

kuarsa±kalsit yaitu menunjukkan temperatur b. Terdapat 4 tipe alterasi hydrothermal yang


homogenisasi (Th) rata-rata 138,2 oC, terdapat pada daerah studi yaitu
sedangkan temperatur pelelehan (Tm) rata- Silisisikasi (silicification), Alterasi argilik /
rata yaitu -1,1 oC dan nilai salinitas rata-rata clay±silica (argillic), Klorit-karbonat
adalah 1,91 wt,%NaCl ekuivalen. Pada (chlorite-carbonate alteration) dan
fotomikrograf conto urat memperlihatkan Karbonisasi (carbonization).
kehadiran komposisi gas (CO2) (Gambar 10),
c. Terdapat tiga generasi urat pada daerah
namun dalam jumlah yang cukup sedikit, dan
Bombana, Sulawesi Tenggara yaitu
hal tersebut diperkirakan karena posisi
generasi pertama adalah urat yang sejajar
endapan berada pada level epizonal sehingga
foliasi. Sedangkan urat generasi kedua
gas CO2 cenderung menghilang. Evolusi fluida
adalah urat kuarsa yang memotong foliasi,
endapan emas orogenik yang ada di lokasi
memiliki kandungan mineral sulfida yang
penelitian terdiri dari 3 (tiga) fase yaitu fase
cukup dominan serta memiliki kadar emas
isothermal mixing with fluids of constracting
yang cukup potensi dibandingkan dengan
salinity, fase simple cooling, dan fase mixing
urat generasi pertama. Urat generasi
with cooler, less saline fluids. Fluida endapan
ketiga yaitu urat kalsit-kuarsa.
diperkirakan berasal dari air meteorik,
metamorfik hingga magmatik atau multi Endapan emas orogenik daerah
source. Bombana adalah sumber emas paleoplacer
yang terbentuk pada suhu rata-rata antara
Berdasarkan hasil penelitiannya Fadlin (2012)
200oC-250oC yang tebentuk setelah terjadi
menyimpulkan bahwa endapan emas orogenik
aktifitas struktur pada batuan metamorf, serta
yang terdapat di daerah penelitian merupakan
berada pada zona transisi antara epizonal-
sumber daripada endapan emas sekunder
mesozonal yaitu pada fasies greenschist
(placer/paleoplacer) yang ada di daerah
dikedalaman 5-6 kilometer
penelitian. Endapan emas orogenik ini
terbentuk pada zona transisi antara epizonal-
VI. UCAPAN TERIMAKASIH
mesozonal yaitu pada fasies green schist di
kedalaman lebih kurang 5-6 kilometer. Penulis mengucapkan banyak terimah kasih
kepada bapak Adi Maulala dan Irrzal Nur yang
V. KESIMPULAN telah Memberikan arahan dalam pembuatan
paper ini dan penulis juga mengucapkan
Pada hasil studi ini maka dapat dibuat
banyak terima kasih kepada bapak Arifudin
kesimpulan bahwa :
Idrus yang telah memberikan saran dan
a. Mineralisasi yang terdapat dan dukungan kepada kami.
berkembang pada daerah studi ini adalah
cinnabar, stibnit, pirit, kalkopirit, dan
emas.

DAFTAR PUSTAKA
A. Idrus., Irzal. Nur., I W. Warmada., Fadlin.,2011.Metamorphic Rock-Hosted Orogenic Gold Deposit
Type as a Source of Langkowala Placer Gold, Bombana, Southeast Sulawesi.Jurnal Geologi Indonesia,
Vol. 6 No. 1 Maret 2011 : 43-49

Arifudin Idrus., Akira Imai., Andi Makkawaru., Kamrullah., I Wayan Warmada.,Irzal Nur,. Rohaya
Langkoke.,2009.Preliminary Study on Orogenic Deposit Type as a Source of Placergold at Bombana,
Southeast Sulawesi, Indonesia.Symposium Paper Kyushu

273
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Fadlin.,2012.Karakteristik Endapan Emas Orogenik Sebagai Sumber Emas Placer di Daerah


Wumbubangka, Bombana, Sulawesi Tenggara.JurusanTeknikGeologiFT-UGM.Yogakarta

Groves, D. I., Goldfarb, R. J., and Robert, F., 2003, Gold deposit in metamorphic belts: Overview or
current understanding, outstanding problems, future research, and exploration significance.
Economic Geology 98: 1-29.

Iqbal.E Putra, 2015, Emas Batuan Metamorfosis Bombana, Sebuah Anomali, Artikel Geologi Indonesi
diterbitkan online.

Kisman.,2011.Keterdapatan Mineralisasi Emas Yang Berasosiasi Dengan Sinabar di Kecamatan


Rarowatu Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.Pusat Sumber Daya Geologi.Buletin
Sumber Daya Geologi Volume 6 Nomor 2 – 2011. Bandung

Maulana,Adi.,2015. Buku Ajar Endapan Mineral .Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin,
Makassar

Pasomba, I., 2015. Studi tentang Karakterisrik Vein Kuarsa Pada Derah Bombana Sulawesi Tenggara.
Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin, Makassar.

TABEL
Tabel 1. Karakteristik vein kuarsa daerah Bombana (Pasomba, 2015)

VEIN KEDUDUKAN DIMENSI BATUAN KOMPOSISI ZONA


KUARSA SAMPING MINERAL ALTERASI
STRIKE/DIP PANJANG LEBAR HIDROTERMAL

Saccharoidal N 89o E/61o 1,2 M 1 CM Sekis Epidot Muskovit, Propilitik


Kuarsa,
Klorit,
Epidot
Saccharoidal N 92o E/60o 15 CM 0,4 CM Sekis Muskovit, Propilitik
Muskovit Kuarsa,
Klorit,
Aktinolit
Saccharoidal N 140o E/10o 7 CM 0,2 CM Sekis Muskovit, Propilitik
Muskovit Kuarsa,
Klorit,
Biotit,
Kyanit
Saccharoidal N 144o E/33o 5,5 CM 0,2 CM Metalimest Kuarsa, Propilitik
one Klorit,
Kalsit,
Epidot

274
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Tabel 2. Hasil Analisi XRF (X-ray flourence) urat kuarsa pada sekis mika di daerah Wumbubangka
(Idrus dkk, 2011)

GAMBAR

Gambar 1. Peta geologi Langkowala Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara Formasi
Langkowala (Tml) dan Batuan Metamorf Paleozoikum Kompleks Pompangeo (Mtpm) sebelah selatan
gunung Wumbaka dan Rumbia ( Simandjuntak et al, 1993).

275
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 2. Kenampakan satuan bentangalam pegunungan terjal di foto dari daerah PT. Panca Logam
Makmur disekitar stasiun 5 pada arah N 168o E.

Gambar 3. Kenampakan satuan bentangalam pedataran di foto dari daerah PT.Panca Logam Makmur
disekitar stasiun 4 pada arah N 56o E.

276
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 4. Kenampakan lapangan sekis yang memperlihatkan urat-urat kuarsa pada stasiun 2 difoto
ke arah N 275°E pada daerah Rau-Rau.

Gambar 5. Foto mikroskopis sekis muskovit dengan komposisi mineral berupa muskovit (2C), kuarsa
(1C), klorit (2F), epidot (6A) dan mineral opak (2H).

277
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 6. Kenampakan tekstur saccharoidal pada sekis.

Gambar 7. Kenampakan vein jenis simple (kiri)dan vein jenis irregular (kanan) menurut Pasomba
(2015).

Gambar 8. Fotomikrograf Conto B44/P, sinabar dan emas 6VFC, 1VCC pada daerah Langkowala
(Kisman dkk., 2009).

278
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 9. Conto batuan tersilisifikasi dengan kuarsa vuggy dalam satuan batuansekis di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara KabupatenBombana (Kisman dkk., 2009).

Gambar 10. Fotomikrograf Inklusi fluida memperlihatkan kehadiran CO2, kondisi Necking Down
kenampakan dua fase (L+V), fluida primer dengan batas kristal yg sangat jelas (Fadlin,2012).

279