Anda di halaman 1dari 13

Disusun Oleh:

Kelompok 2:

- Alvin Ramadhani (0615 4042 1930)


- Cindy Pakpahan (0615 4042 1595)
- Dwi Septiani (0615 4042 1598)
- Jerra Novia A (0615 4042 1603)
- Marlisa (0615 4042 1605)
- Novianita (0615 4042 1608)
- Suri Andayana (0615 4042 1611)
- Utari Oktavia (0615 4042 1613)
- Vonnie Fani Dillah (0615 4042 1616)

Dosen Pembimbing : Ir. Fadarina, M.T.


Judul Percobaan : Evaporasi
Jurusan : Teknik Kimia
Prodi : Teknologi Kimia Industri
Kelas : 4 KI.A
EVAPORASI

I. TUJUAN
- Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kerja evaporasi
- Mahasiswa dapat mengoperasikan alat evaporasi

II. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
- Satu set alat evaporator
- Gelas ukur
- Pengaduk
- Corong
- Ember / baskom
B. BAHAN
- Gula
- Air suling

III. DASAR TEORI


Proses Evaporasi adalah proses untuk memisahkan pelarut dengan proses
penguapan dari padatan (zat terlarut) yang tidak volatil (tidak mudah menguap).
Inti dari proses ini adalah terjadinya perubahan fasa dari fasa cair menjadi fasa
uap, suatu proses yang membutuhkan energi yang relatif besar. Evaporasi
dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut pada titik didihnya,
sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Uap
yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari satu komponen, dan
jika uapnya berupa campuran umumnya tidak diadakan usaha untuk memisahkan
komponen-komponennya. Dalam evaporasi zat cair pekat merupakan produk yang
dipentingkan, sedangkan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Sebagai
contoh adalah pemekatan larutan susu, sebelum dibuat menjadi susu bubuk.
Beberapa sistem evaporasi bertujuan untuk mengambil air pelarutnya, misalnya
dalam unit desalinasi air laut untuk mengambil air tawarnya.
Perlu diperhatikan bahwa titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.
Makin tinggi tekanan, maka titik didih juga semakin tinggi. Hubungan antara titik
didih dengan tekanan uapnya dapat dirumuskan dengan persamaan Antoine :
B
log (P°) = A −
C+t
Untuk air : A = 6,96681; B = 1668,21; C = 228, dimana P° dalam cmHg dan
t dalam ℃
Titik didih larutan yang mengandung zat yang sulit menguap akan
tergantung pada tekanan dan kadar zat tersebut. Pada tekanan yang sama, makin
tinggi kadar zat, makin tinggi titik didih larutannya. Beda antara titik didih
larutan dengan titik didih pelarut murninya disebut kenaikan titik didih (boiling
point rise)
Dalam evaporator, terjadi 3 proses penting yang berlangsung simultan, yaitu
:
(a) Transfer panas
(b)Penguapan (transfer massa)
(c) Pemisahan uap dan cairan
Penguapan umumnya berlangsung cepat, sehingga tidak mengontrol
kecepatan keseluruhan proses. Penguapan cairan pada evaporator ukuran standar
sudah dirancang oleh manufacturer sedemikian rupa sehingga untuk jumlah
penguapan dalam evaporator tersebut, pemisahan uap-cairan sudah bisa berjalan
dengan baik. Jadi untuk perhitungan / perancangan evaporator (bentuk standar),
yang perlu diperhatikan hanyalah kecepatan transfer panasnya. Untuk perhitungan
kecepatan transfer panas, diperlukan hitungan neraca massa dan neraca panas.
Penyelesaian praktis terhadap masalah evaporasi sangat ditentukan oleh
karakteristik cairan yang akan dikonsentrasikan. Beberapa sifat penting dari zat
cair yang dievaporasikan :
1. Konsentrasi
Walaupun cairan encer diumpankan ke dalam evaporator mungkin cukup
encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi jika konsentrasinya
meningkat, larutan itu akan makin bersifat individual. Densitas dan viskositasnya
meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga larutan itu menjadi
jenuh, atau jika tidak, menjadi terlalu lamban sehingga tidak dapat melakukan
perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh dididihkan terus, maka akan
terjadi pembentukan kristal, dan kristal ini harus dipisahakan karena bisa
menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih larutanpun dapat
meningkat dengan sangat bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu
didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan
yang sama.
2. Pembentukan Busa
Beberapa bahan tertentu, lebih-lebih zat-zat organik, membusa (foam) pada
waktu diuapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar evaporator bersama uap, dan
menyebabkan banyaknya bahan yang terbawa-ikut. Dalam hal-hal yang ekstrem,
keseluruhan massa zat cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar dan
terbuang.
3. Kepekaan Terhadap Suhu
Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi dan bahan makanan
dapat rusak bila dipanaskan pada suhu sedang selama waktu yang singkat saja.
Dalam mengkonsentrasikan bahan-bahan seperti itu diperlukan teknik khusus
untuk mengurangi suhu zat cair dan menurunkan waktu pemanasan.
4. Kerak
Beberapa larutan tertentu menyebabkan kerak pada permukaan pemanasan.
Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin berkurang, sampai
akhirnya operasi evaporator terpaksa dihentikan untuk membersihkannya. Bila
kerak itu keras dan tak dapat larut, pembersihan itu tidak mudah dan memakan
biaya.
5. Bahan Konstruksi
Bilamana mungkin, evaporator itu dibuat dari baja. Akan tetapi, banyak
larutan yang merusak bahan-bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh bahan
itu. Karena itu digunakan juga bahan-bahan kondtruksi khusus, seperti tembaga,
nikel, baja tahan karat, aluminium, grafit tak tembus dan timbal. Oleh karena
bahan-bahan ini relatif mahal, maka laju perpindahan kalor harus harus tinggi agar
dapat menurunkan biaya pokok peralatan.
Oleh karena adanya variasi dalam sifat-sifat zat cair, maka
dikembangkanlah berbagai jenis rancang evaporator. Evaporator mana yang
dipilih untuk suatu masalah tertentu bergantung terutama pada karakteristik zat
cair itu.
Ada dua metode pada evaporator yaitu :
1. Operasi efek Tunggal (single-effect evaporation)
Hanya menggunakan satu evaporator dimana uap dari zat cair yang
mendidih dikondensasikan dan dibuang. Walaupun sederhana, nemun proses ini
tidak efektif dalam penggunaan uap.
2. Operasi Efek Berganda (multiple-effect evaporation)
Metode yang umum digunakan untuk meningkatkan evaporasi perpon uap
dengan menggunakan sederetan evaporator antara penyediaan uap dan kondensor.
Jika uap dari satu evaporator dimasukkan ke dalam rongga uap (steam chest)
evaporator kedua, dan uap dari evaporator kedua dimasukkan ke dalam
kondensor, maka operasi itu akan menjadi efek dua kali atau efek dua (doubble-
effect). Kalor dari uap yang semula digunakan lagi dalm efek yang kedua dan
evaporasi yang didapatkan oleh satu satuan massa uap yang diumpankan ke dalam
efek pertama menjadi hampir lipat dua. Efek ini dapat ditambah lagi dengan cara
yang sama.
Untuk bisa memahami proses evaporasi ini, maka diperlukan pengetahuan
dasar tentang neraca massa dan neraca energi untuk proses dengan perubahan
fasa. Salah satu alat yang menggunakan prinsip ini adalah alat pembuat aquades (
auto still ). Pada pembuatan aquades ini, air ( pelarut ) dipisahkan dengan dari
padatan pengotornya ( Padatan pengotor tidak volatil ) dengan proses penguapan.
Pada praktikum ini penekanannya pada pengguaan neraca massa dan neraca
energi untuk mengetahui performance dari suatu unit operasi, dan mendapatkan
kondisi optimal proses.
Neraca Massa ( keadaan steady ) adalah
Kecepatan massa masuk – Kecepatan massa keluar = 0
Neraca Energi ( keadaan steady ) adalah
Kecepatan panas masuk – Kecepatan panas keluar = 0
Entalpi ( H )
Isi panas dari satu satuan massa bahan dibandingkan dengan isi panas dari
bahan tersebut pada suhu referensinya.
Entalpi Cair pada suhu T ( hl pada T )
Hl = Panas Sensibel
= Cp1( T – TR )
Entalpi Uap pada suhu T ( HV pada T )
HV = Panas Sensibel Cair – Panas Laten (Panas Penguapan) + Panas
Sensibel uap
= Cp1 ( Tb – TR ) – λ . CpV ( T – Tb )

hl = entalpi spesifik keadaan cair  kJ 


 Kg 
 

HV = entalpi spesifik keadan uap  kJ 


 Kg 
 

Cp1 = kapasitas panas bahan dalam keadan cair kJ , untuk air =


Kg0C

kJ
4,182
Kg 0 C

CpV = kapasitas panas bahan dalam keadan uap kJ0 , untuk uap air
Kg C

suhu menengah = 1,185 kJ0


Kg C

T = suhu bahan dalam ( °C )


TR = suhu referensi, pada “steam table” digunakan 0 °C
Tb = titik didih bahan ( °C )
λ = panas laten / panas penguapan bahan, untuk air pada suhu 100 °C =
2260,16 kJ
Kg

Neraca Massa Total Keadaan Steady State


Kecepatan Massa Masuk = Kecepatan Massa Keluar
FT = O + D ……………………………………………………………( 1 )

Neraca Energi Total Keadaan Steady State


Kecepatan Panas Masuk = Kecepatan Panas Keluar
Panas dibawa pendingin + Panas dari Heater = Panas dibawa Over Flow +
Panas dibawa Distilat – Panas hilang ke lingkungan.
FT . Cp1 ( TFT – TR ) + Q = O . Cp1 ( TO – TR ) + D . Cp1 ( TD – TR ) +
Qloss…( 2 )
Neraca Energi di Pendingin
Panas dibawa air pendingin masuk + Panas dibawa uap masuk = Panas
dibawa Distilat keluar + Panas dibawa air pendingin keluar.
FT . Cp1 ( TFT – TR ) + V. HV = D . Cp1 ( TD – TR ) + ( O + FB ) . Cp1 . ( TO –
TR )
Karena FB = V = D
O + FB = O + D = FT
FT . Cp1 ( TFT – TR ) + V. HV = D . Cp1 ( TD – TR ) + FT. Cp1 . ( TO – TR )
…...( 3 )
Neraca Energi di Boiler
Panas dari Heater = Panas dibawa Uap + Panas hilang ke lingkungan
Q = V . HV + Qloss, karena V = D, maka
Q = D . HV + Qloss ….……………………………………………..( 4 )
HV = Cp1 . ( Tb – TR ) + λ + CpV . ( T – Tb ), karena T = Tb = 100 °C
HV = Cp1 . ( 100 – TR ) + λ …………………………………………….( 5 )
Faktor-faktor yang mempercepat proses evaporasi :
1. Suhu; walaupun cairan bisa evaporasi di bawah suhu titik didihnya, namun
prosesnya akan cepat terjadi ketika suhu di sekeliling lebih tinggi. Hal ini
terjadi karena evaporasi menyerap kalor laten dari sekelilingnya. Dengan
demikian, semakin hangat suhu sekeliling semakin banyak jumlah kalor yang
terserap untuk mempercepat evaporasi.
2. Kelembapan udara; jika kelembapan udara kurang, berarti udara sekitar
kering. Semakin kering udara (sedikitnya kandungan uap air di dalam udara)
semakin cepat evaporasi terjadi. Contohnya, tetesan air yang berada di
kepingan gelas di ruang terbuka lebih cepat terevaporasi lebih cepat daripada
tetesan air di dalam botol gelas. Hal ini menjelaskan mengapa pakaian lebih
cepat kering di daerah kelembapan udaranya rendah.
3. Tekanan; semakin besar tekanan yang dialami semakin lambat evaporasi
terjadi. Pada tetesan air yang berada di gelas botol yang udaranya telah
dikosongkan (tekanan udara berkurang), maka akan cepat terevaporasi.
4. Gerakan udara; pakaian akan lebih cepat kering ketika berada di ruang yang
sirkulasi udara atau angin lancar karena membantu pergerakan molekul air. Hal
ini sama saja dengan mengurangi kelembapan udara.
5. Sifat cairan; cairan dengan titik didih yang rendah terevaporasi lebih cepat
daripada cairan yang titik didihnya besar. Contoh, raksa dengan titik didih
357°C lebih susah terevapporasi daripada eter yang titik didihnya 35°C.
Diagram pemanasan air
Kalor sensibel adalah kalor yang dibuthkan untuk menaikan suhu air. Bila
kita memanaskan suhu air maka secara perlahan suhu air akan terus naik dan pada
suatu titik akan mendidih. Kalor sensibel bisa diliat pada grafik di atas, yaitu garis
yang semakin naik. Kalor sensibel bisa dicari dengan menggunakan rumus :
Q = m c (T2-T1)
Dimana :
m = massa benda
c = panas jenis
(T2-T1) = perbedaan jenis
Kalor laten adalah kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan wujud zat, dai
es menjadi air, dari air menjadi uap dan sebagainya. Bila air suda mencapai titik
didihnya lalu dipanaskan terus, suhu air tidak akan naik melainkanwujudnya akan
berubah. Kalor laten ditunjukan oleh garis mendatar pada grafik di atas. Kalor
laten bisa dicari dengan menggunakan rumus :
Q=mL
Dimana :
m = massa benda
L = kalor lebur benda
IV. LANGKAH KERJA
- Membuat larutan gula dengan komposisi 200 gr gula dalam 4 liter air aquadest
(konsentrasi gula 5%)
- Menghubungkan evaporator pada stop kontak
- Menghidupkan main evaporator dengan menekan tombol pada bagian samping
tombol papan
- Memanaskan heater dengan memutar tombol heater ke kanan
- Menguapkan larutan gula
- Mencatat waktu dan suhu ketika terbentuk bubble pertama
- Mencatat T boiler, T in condensat, dan T out condensat setiap 5 menit
- Menghitung volume cairan hasil evaporasi
- Ketika semua proses selesai, tombol heater diatikan dengan memutar tombol
kearah kiri
- Mematikan main operator dengan memutarnya ke posisi off
- Mencabut kabel evaporator pada stop kontak
- Menunggu sampai kondisi evaporator dalam keadaan suhu ruang, kemudian
mematikan kondenser.

V. DATA PENGAMATAN

Laju Alir
Temperatur (°C)
(L/h)
Waktu
Water Water Water Water
(menit) Junction
In Out Inlet Inlet Cristalizer Outlet Outlet
Line
Condenser Cristalizer Condenser Cristalizer
0 70 60 27,9 13,4 13,4 17,6 15,1 13,3
5 70 60 28 13,4 13,4 17,6 15,2 13,3
10 70 60 28,1 13,6 13,6 17,7 16,3 13,5
15 70 60 28,1 14,2 14,2 18,1 18,1 14,1
20 70 60 28,2 15,1 15 18,4 19,2 15
25 70 60 28,3 15,7 15,7 18,8 20 15,6
30 70 60 28,4 16,2 16,2 19,2 20,6 16,1
35 70 60 28,5 16,5 16,5 19,5 21 16,4
40 70 60 28,6 16,7 16,7 19,7 21,2 16,6
45 70 60 28,7 16,9 16,9 20 21,6 16,8
50 70 60 29,8 18,4 18,4 21,2 23,3 18,2
Temperatur Boiler Controller = 100°C
Volume Cairan Umpan = 4000 ml
Volume Cairan Pekat = 1030 ml

VI. PERHITUNGAN
 Pembuatan Larutan Gula (Feed)
5% gula dalam 4 liter air :
5 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑥 4000 𝑚𝑙 = 200 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑔𝑢𝑙𝑎.
100 𝑚𝑙
𝟐𝟎𝟎 𝒈𝒓𝒂𝒎
𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝒈𝒖𝒍𝒂 = = 𝟐𝟑𝟓, 𝟓𝟕 𝒎𝒍.
𝟎,𝟖𝟒𝟗 𝒈𝒓/𝒎𝒍

Volume air = (4000-235,57)ml = 3764,43 ml.

 Penentuan Densitas
-Berat piknometer kosong = 33,2 gram
-Berat piknometer + aquades = 57,55 gram
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠 (57.55−33,2)𝑔𝑟𝑎𝑚
-Volume aquades = = = 24,45 ml
𝜌 0,996𝑔𝑟/𝑚𝑙

1) Feed (Larutan Gula)


-Berat piknometer + sampel umpan = 57,8 gram
-Berat sampel umpan = (57,8-33,2)gram = 24,6 gram
𝟐𝟒,𝟔 𝒈𝒓𝒂𝒎
-𝝆 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒆𝒍 𝒖𝒎𝒑𝒂𝒏 = = 𝟏, 𝟎𝟎𝟔 𝒈𝒓/𝒎𝒍
𝟐𝟒,𝟒𝟓 𝒎𝒍

2) Kondensat
-Berat piknometer + kondensat = 56,5 gram
-Berat kondensat = (56,5-33,2)gram = 23,3 gram
𝟐𝟑,𝟑 𝒈𝒓𝒂𝒎
-𝝆 𝒌𝒐𝒏𝒅𝒆𝒏𝒔𝒂𝒕 = = 𝟎, 𝟗𝟓𝟑 𝒈𝒓/𝒎𝒍
𝟐𝟒,𝟒𝟓 𝒎𝒍

3) Hasil evaporasi (cairan pekat)


-Berat piknometer + cairan pekat = 58,1 gram
-Berat cairan pekat = (58,1-33,2)gram = 24,9 gram
𝟐𝟒,𝟗 𝒈𝒓𝒂𝒎
-𝝆 𝒄𝒂𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒌𝒂𝒕 = = 𝟏, 𝟎𝟏𝟖 𝒈𝒓/𝒎𝒍
𝟐𝟒,𝟒𝟓 𝒎𝒍
 Neraca Massa

V = 2975,46 gram
Air 100%
F = 4024 gram Evaporator L = 1048,54 gram
Gula 5% Gula 19,18%
Air 95% Q Air 80,82%

- Umpan (F) Larutan Gula :


gr = 𝜌 𝑥 𝑣 = 1,006 gr/ml x 4000 ml = 4024 gram
- Cairan Pekat (L) :
gr = 𝜌 𝑥 𝑣 = 1,018 gr/ml x 1030 ml = 1048,54 gram
- Air yang teruapkan (V) :
F = L +V
4024 gram = 1048,54 gram + V
V = 2975,46 gram

Input = Output
F = L +V
Gula: 5%(F) = x(L) + 0(V)
Air : 95%(F) = y(L) + 100%(V)

Gula: 5%(4024 gram) = x(1048,54gram)


201,2 = x(1048,54gram)
x = 0,1918 (19,18%)
Air : 1=x+y
` y = 1- 0,1918 = 0,8082 (80,82%)

 Neraca Panas

Tv, Hv, Xv
F, Tf, Xf, Hf Evaporator L, Tl, Xl, Hl
T = 30°C T = 100°C
Q
From table heat capacities of aqueous solutions (Heat Capacity) Predictive
Equation parameters for binary aqueous solutions.
a1 b1 c1 a2 b2 c2 a3 b3 c3
Aqueous
Jm3/g° Jm3/g2° Jm3/g° Jm3/g2° Jm3/g° Jm3/g2° r2
Solution J/g°C J/g°C J/g°C
C C C C C C

Glucose 4,15263 -0,03271x10-4 1,994x10-8 -0,00107 1,999 x10-8 -0,014 x10-12 0,174 x10-4 -0,013 x10-8 0,0013 x10-8 0,996

Cp = [(a1+b1.s+c1.s2) + T(a2+b2.s+c2.s2) + T2(a3+b3.s+c3.s2)]


From McCabe.Operasi Teknik Kimia.1996
- Panas yang diumpan (Qf)
Qf = mf . Cp . dT
= 4024 gram [(4,15263+(-0,03271x10-4).(0,05)+ 1,994x10-8.(0,05)2) + 30°C
(-0,00107+1,999 x10-8.(0,05)+ -0,014 x10-12.(0,05)2) +
(30°C)2(0,174 x10-4+(-0,013 x10-8).(0,05)+ 0,0013 x10-8.(0,05)2)]
= 4024 gram [(4,1526) + (-0,03209) + (0,01565)]
= 16643,9 joule

- Panas penguapan (Qv)


T = 100°C
P = 1 atm
Hv = Hfg = 2257,5 kj/kg
Cp = 1,888 kj/kg.K
Qv = v.Hv + mv.Cp.dT
= (2975,46x10-3 kg)( 2257,5 kj/kg) + (2975,46x10-3 kg)( 1,888 kj/kg.K)(70K)
= 7110,337 kj

- Panas Cairan Pekat (QL)


QL = mL . Cp . dT
= 1048,54 gram [(4,15263+(-0,03271x10-4).(0,1918)+ 1,994x10-8.(0,1918)2) +
30°C (-0,00107+1,999 x10-8.(0,1918)+ -0,014 x10-12.(0,1918)2) +
(30°C)2(0,174 x10-4+(-0,013 x10-8).(0,1918)+ 0,0013 x10-8.(0,1918)2)]
= 1048,54 gram [(4,1526) + (-0,1069) + (0,1739)]
= 4424,42 joule
Input = Output
Panas masuk + Panas coil = Panas Uap + Panas Liquid
Qf + Qc = Qv + QL
Qc = Qv - Qf + QL
Qc = 7110,337 kj – 16,6439 kj + 4,42442 kj
Qc = 7098,11 kj

𝑄𝑣 7110,337 𝑘𝑗
- Efisiensi Evaporasi = 𝑄𝑐 = = 𝟏, 𝟎𝟎𝟏
7098,11 𝑘𝑗
𝑄𝑐 7098,11 𝑘𝑗
- Kapasitas Evaporasi = 𝑈.∆𝑇 = 1000𝑊 = 𝟎, 𝟏𝟎𝟏𝟒
℃ (100−30)℃
𝑚2

*Catatan : Diasumsikan evaporator vertikal tabung panjang memiliki koefisien


1000𝑊
menyeluruh U = ℃
𝑚2