Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH MATEMATIKA DISKRIT I

PRINSIP INKLUSI DAN EKSKLUSI

OLEH :

KELOMPOK 9

1. Robinhot Pasaribu 4143230023


2. Rahmani 4151230018
3. Muhammad Suhadi 4152230010
4. Nur Asyiah Panggabean 4152230012
5. Tri Fransiskawati Br. Sitompul 4152230015

Dosen Pengampu : Faridawaty Marpaung , S.Si., M.Si.

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat-Nya dapat diselesaikannya tugas mata kuliah Matematika Diskrit I yaitu
sebuah makalah yang berjudul Prinsip Inklusi-Eksklusi sehingga makalah ini
dapat menjadi suatu bahan untuk menambah wawasan dalam memahami mata
kuliah Matematika Diskrit I. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak
sedikit hambatan, namun disadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini
tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari Dosen Matematika
Diskrit I. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
terutama kepada Dosen pembimbing, yang telah memberikan tugas, petunjuk,
kepada penulis sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan tugas ini.
Penulis mohon maaf jika dalam penyajian dan penyampaian makalah ini,
banyak hal-hal yang kurang berkenan atau berkualitas karena keterbatasan sarana
buku-buku yang bisa mendukung terciptanya makalah ini. Mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat dan demi kesempurnaan makalah ini, dengan tangan
terbuka penulis selalu menerima saran-saran yang bersifat membangun dan
membantu perbaikan-perbaikan dalam makalah ini.

Medan, 8 Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3.Tujuan........................................................................................................ 1

BAB II ISI
PRINSIP INKLUSI-EKSKLUSI .......................................................................... 3
Lemma 1.1 ..................................................................................................... 3
Teorema 1.1 ................................................................................................... 3
Teorema 1.2 ................................................................................................... 4
Teorema 1.3: (Prinsip Inklusi-Eksklusi) ........................................................ 4
Contoh Soal .................................................................................................... 5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ..................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.4. Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering membicarakan objek-objek diskrit,
misalnya buku, komputer, mahasiswa, nilai ujian, dan lain-lain. Dalam
membicarakan objek diskrit, kita sering berhadapan dengan situasi yang
berhubungan dengan sekumpulan objek di dalam suatu kelompok. Misalnya,
“semua mahasiswa Matematika UNIMED Angkatan 2015” adalah sebuah
kelompok yang terdiri atas sejumlah mahasiswa UNIMED Angkatan 2015 dari
Program Studi Matematika.
Terminologi dasar tentang sekumpulan objek diskrit adalah himpunan.
Himpunan digunakan untuk mengelompokkan objek secara bersama-sama.
Himpunan merupakan struktur diskrit fundamental yang mendasari struktur diskrit
lainnya seperti relasi, kombinasi, dan graf.
Berapa banyak anggota di dalam gabungan dua buah himpunan A dan
himpunan B? Penggabungan dua buah himpunan menghasilkan himpunan baru
yang elemen-elemennya berasal dari himpunan A dan himpunan B. Cara-cara
menentukan banyaknya anggota dalam gabungan antara himpunan terhingga dari
sebuah himpunan dinamakan Prinsip Inklusi-Eksklusi. Dengan demikian, penulis
dalam makalah ini akan membahas tentang Prinsip Inklusi-Eksklusi.

1.5. Rumusan Masalah


a. Apakah yang dimaksud dengan Prinsip Inklusi-Eksklusi?
b. Bagaimana cara mengidentifikasi Prinsip Inklusi-Eksklusi dalam struktur
objek diskrit himpunan?
c. Bagaimana cara menyelesaikan persoalan matematika yang menggunakan
Prinsip Inklusi-Eksklusi?

1.6. Tujuan
a. Memahami Prinsip Inklusi-Eksklusi.

1
b. Dapat mendeskripsikan Prinsip Inklusi-Eksklusi dalam menghitung pada
struktur objek diskrit himpunan.
c. Dapat menyelesaikan persoalan matematika yang menggunakan Prinsip
Inklusi-Eksklusi.

2
BAB II
ISI

PRINSIP INKLUSI-EKSKLUSI

Berapa banyak anggota di dalam gabungan dua buah himpunan A dan


himpunan B? Penggabungan dua buah himpunan menghasilkan himpunan baru
yang elemen-elemennya berasal dari himpunan A dan himpunan B. Himpunan A
dan himpunan B mungkin saja memiliki elemen-elemen yang sama. Banyaknya
elemen bersama antara A dan B adalah A  B . Setiap unsur yang sama itu telah

dihitung dua kali, sekali pada A dan sekali pada B , meskipun ia seharusnya

dianggap sebagai satu buah elemen di dalam A  B .1

Lemma 1.1:
Misalkan A dan B adalah himpunan berhingga yang saling asing. Maka A  B
berhingga dan
n A  B  n A  nB .
Bukti :
Dalam menghitung elemen-elemen A  B , pertama hitung jumlah elemen pada A
yaitu n(A). Elemen lain dari A  B ada pada B tetapi bukan di A. Tetapi, karena
A dan B saling asing, tidak ada elemen B di A, sehingga ada n(B) elemen di B
yang bukan di A. Dengan demikian, n A  B  n A  nB .

Teorema 1.1:
Misalkan A dan B adalah himpunan berhingga. Maka A  B dan A  B
berhingga dan
n A  B  n A  nB  n A  B
sehingga
n A  B  n A  nB  n A  B .
Bukti :

1
Rinaldi Munir, Matematika Diskrit (Bandung: Informatika, 2005), h. 70.

3
Dalam menghitung elemen-elemen A  B , kita hitung elemen-elemen di A dan B.
Ada n(A) elemen di A dan n(B) elemen di B. Tetapi elemen pada A  B dihitung
dua kali. Sehingga
n A  B  n A  nB  n A  B
Kita mempunyai gabungan yang saling asing
A  B  A  B \ A dan B   A  B  B \ A
Sehingga berdasarkan Lemma 1.1 diperoleh,
n A  B  n A  nB \ A dan nB  n A  B  nB \ A
Maka nB \ A  nB  n A  B , dengan demikian

n A  B  n A  nB  n A  B
yang diperlukan.

Teorema 1.2:
Misalkan A, B dan C adalah himpunan berhingga. Maka A  B  C berhingga
dan
n A  B  C   n( A)  n(B)  n(C)  n( A  B)  n( A  C)  n(B  C)  n( A  B  C) .

Bukti :
Gunakan A  B  C  A  C   B  C  dan A  C   B  C   A  B  C
dan gunakan Teorema 1.1 secara berulang, maka kita dapatkan :
n A  B  C   n A  B  nC   n A  C   B  C 
 n A  nB   n A  B   nC   n A  C   nB  C   n A  B  C 
 n A  nB   nC   n A  B   n A  C   nB  C   n A  B  C 
yang diperlukan.

Teorema 1.3: (Prinsip Inklusi-Eksklusi):


Misalkan A1, A2, ..., An adalah himpunan berhingga. Maka A1 A2, ..., An adalah
berhingga dan
n A1  A2    An    n A    n  A  A    n  A  A
1 i  n
i
1 i  j  n
i j
1 i  j  k  n
i j  Ak   

4
 1 n A1  A2  An  2
n 1

Prinsip Inklusi dan Eksklusi merupakan perluasan ide dalam Diagram Venn
beserta operasi irisan dan gabungan.3

Contoh Soal
Contoh 1 :
Dalam kelas matematika diskrit terdiri dari mahasiswa Prodi Pendidikan
Matematika atau Matematika, atau keduanya. Banyak mahasiswa Prodi
Pendidikan Matematika (mungkin bersama dengan Prodi Matematika) adalah 25;
banyak mahasiswa Prodi Matematika (mungkin bersama dengan Prodi Pendidikan
Matematika) adalah 13; dan banyak mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika dan
Matematika adalah 8. Berapa banyak mahasiswa di kelas ini ?

Penyelesaian :
Misalkan A himpunan mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika di kelas dan B
adalah himpunan mahasiswa Prodi Matematika di kelas. Maka A  B adalah
himpunan mahasiswa Prodi Matematika bersama Prodi Pendidikan Matematika di
kelas. Karena setiap mahasiswa di kelas Prodi Pendidikan Matematika atau
Matematika (atau keduanya), diperoleh bahwa banyak mahasiswa di kelas adalah
A  B . Oleh karena itu,

A B  A  B  A B

 25  13  8
 30

Terdapat 30 mahasiswa di dalam kelas tersebut.

Contoh 2 :
Sebanyak 1.232 mahasiswa Jurusan Matematika mengambil mata kuliah
Kalkulus, 879 mengambil mata kuliah Matematika Diskrit dan 114 mengambil
mata kuliah Bahasa Pemrograman. Terdapat 103 mahasiswa mengambil mata
kuliah Kalkulus dan Matematika Diskrit, 23 mengambil mata kuliah Kalkulus dan

2
Seymour Lipschutz dan Marc Lars Lipson, Matematika Diskrit 1 (Jakarta:Salemba Teknika,
2001), hh. 30, 31.
3
http://retnomayapada.blogspot.co.id/2016/03/makalah-prinsip-inklusi-eksklusi-dan.html (diakses
3 Maret 2017).

5
Bahasa Pemrograman, dan 14 mengambil mata kuliah Matematika Diskrit dan
Bahasa Pemrograman. Jika 2.092 mahasiswa mengambil setidaknya satu dari
mata kuliah Kalkulus, Matematika Diskrit, dan Bahasa Pemrograman, berapa
banyak mahasiswa yang mengambil ketiga mata kuliah tersebut ?

Penyelesaian :
Misalkan S himpunan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kalkulus, F
himpunan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matematika Diskrit, dan R
himpunan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Bahasa Pemrograman. Maka
S  1.232 , F  879 , R  114 , S  F  103 , S  R  23 , F  R  14 , dan

S  R  F  2.092 . Ketika banyak tersebut dimasukkan ke dalam persamaan

S RF  S  R  F  S F  S R  F R  S F R ,

diperoleh
S  F  R = 1232 + 879 + 114 – 103 – 23 - 14 + 2092 = 7.

Oleh karena itu, ada 7 mahasiswa yang telah mengambil matakuliah Kalkulus,
Matematika Diskrit, dan Bahasa Pemrograman.

Contoh 3 :
Carilah banyaknya anggota dari A  B  C  D jika setiap himpunan berukuran

25, setiap irisan dari dua himpunan berkuran 15, setiap irisan dari tiga himpunan
berukuran 5, dan irisan dari keempat himpunan berukuran 1.

A B C  D  A  B  C  D  A B  AC  A D  B C

 B  D  C  D  A B C  A B  D 

AC  D  B C  D  A B C  D

 25  25  25  25  15  15  15  15  15  15  5  5  5 
5 1
 29 4

4
Tim Dosen Matematika, Matematika Diskrit I (Medan: UNIMED, 2017).

6
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Prinsip Inklusi dan Eksklusi merupakan perluasan ide dalam Diagram Venn
beserta operasi irisan dan gabungan. Misalkan A dan B sembarang himpunan.
Penjumlahan A  B adalah menghitung banyaknya elemen A yang tidak

terdapat dalam B dan banyaknya elemen B yang tidak terdapat dalam A tepat satu
kali, dan banyaknya elemen yang terdapat dalam A  B sebanyak dua kali. Oleh
karena itu, pengurangan banyaknya elemen yang terdapat dalam A  B dari
A  B membuat banyaknya anggota A  B dihitung tepat satu kali. Dengan

demikian,
A B  A  B  A B .

Sehingga, untuk r buah himpunan berlaku teorema berikut:


n A1  A2    An    n A1  
1i n
 nA  A    nA  A  A     1 nA  A  A 
1i  j n
1 j
1i  j k n
i j k
n1
1 2 n

Generalisasi dari hal tersebut bagi gabungan dari sejumlah himpunan


dinamakan Prinsip Inklusi-Eksklusi.

7
DAFTAR PUSTAKA

Lipschutz, Seymour dan Lipson, Marc Lars. 2001. Matematika Diskrit 1. Jakarta :
Salemba Teknika.

Mayapada, Retno. 2016. Makalah Prinsip Inklusi-Eksklusi dan Permutasi.


[Online]. Tersedia: retnomayapada.blogspot.co.id/2016/03/makalah-
prinsip-inklusi-eksklusi-dan.html. (3 Maret 2017).

Munir, Rinaldi. 2004. Matematika Diskrit. Bandung : Informatika.

Tim Dosen Matematika. 2017. Matematika Diskrit I. Medan : Universitas Negeri


Medan.