Gaya dan Kapasitas Tiang Dermaga
Gaya dan Kapasitas Tiang Dermaga
LANDASAN TEORI
Gaya-gaya yang bekerja pada dermaga dapat dibedakan menjadi gaya lateral dan
gaya vertikal. Gaya lateral meliputi gaya benturan kapal pada dermaga, gaya
tarikan kapal dan gaya gempa, sedang gaya vertikal adalah berat sendiri dan beban
hidup.
Gaya benturan kapal adalah gaya yang terjadi akibat merapatnya kapal ke
sehingga terjadi benturan antara kapal dan dermaga. Gaya benturan bekerja secara
WV 2
E C m Ce C s Cc
2g
dengan:
V = Komponen tegak lurus sisi demaga dari kecepatan kapal pada saat
g = Percepatan grafitasi
12
Cm = Koefisien massa
Ce = Koefisien eksentrisitas
Kecepatan merapat kapal dapat ditentukan dari nilai pengukuran atau pengalaman,
secara umum kecepatan merapat kapal diberikan dalam tabel berikut ini
Koefisien massa tergantung pada gerakan air disekeliling kapal, yang dapat
d
Cm = 1 +
2Cb B
Dimana :
W
Cb =
L pp Bd o
dengan
B = lebar kapal
13
Lpp = Panjang Garis Air (M)
1
Ce =
1 (l / r ) 2
Dengan :
l = jarak sepanjang permukaan air dermaga dari pusat berat kapal sampai
r = jari jari putaran disekeliling pusat berat kapal pada permukaan air
gerakan kapal yang bisa menimbulkan gaya pada dermaga. Besar gaya akibat
Rw = 0,42 Qa Aw
Dermaga
Rw = 0,5 Qa Aw
Dermaga
Rw = 1,1 Qa Aw
Arah angin Datang
Kapal
Dermaga
dimana;
Qa = 0,063 V2
dengan :
1. Gaya tarikan pada bollard yang terdapat pada tabel untuk berbagai ukuran
kapal dalam GRT, selain gaya tersebut yang bekerja secara horizontal,
bekerja juga gaya vertikal sebesar ½ dari nilai yang tercantum dalam tabel.
2. Gaya tarikan kapal pada bitt yang terdapat pada tabel untuk berbagai
Ditinjau dari cara mendukung beban, tiang dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
Tiang dukung ujung adalah tiang yang berkapasitas dukungnya ditentukan oleh
tahanan ujung tiang. Umumnya tiang dukung ujung berada dalam zona tanah yang
lunak yang berada diatas lapisan tanah yang keras. Untuk menentukan gaya
16
perlawanan lapisan tanah keras tersebut terhadap ujung tiang dilakukan dengan
alat sondir atau SPT. Dengan alat ini dapat diketahui kedalaman tiang yang harus
dipancang dan berapa daya dukung lapisan tanah keras tersebut pada ujung tiang.
Tiang gesek adalah tiang yang kapasitas dukungnya lebih ditentukan oleh
perlawanan gesek antara dinding tiang tanah dan tanah disekitarnya. Tahanan
diperlukan.
c. Bila daya dukung tiang pancang tunggal sudah diperkirakan, maka daya
dukung yang diizinkan untuk seluruh tiang harus diperiksa, harga akhir
akibat gabungan tiang ini atau gaya gesekan dinding tiang merupakan daya
e. Setelah beban kepala tiang dihitung, pembagian momen lentur dan gaya
gesek pada tiang dalam arah yang lebih mendetail pada bagian bagian
Hitungan kapasitas tiang dapat dilakukan dengan cara pendekatan statis dan
dinamis.
Perhitungan kapasitas tiang secara statis dilakukan menurut teori mekanika tanah
yaitu dengan mempelajari sifat-sifat teknis tanah, menggunakan data hasil uji
laboratorium dan data penyelidikan tanah berupa SPT, CPT dan Boring.
Kapasitas ultimityang didasarkan atas data-data yang didapat dari hasil pengujian
di laboratorium, dibedakan atas kapasitas daya dukung ujung dan daya dukung
gesek, sedangkan hitungan dengan cara dinamis meggunakan data pada saat
pemancangan.
Perhitungan daya dukung ujung dilakukan dengan teori teori sebagai berikut :
Kapasitas daya dukung ujung yang diusulkan Meyerhof untuk kondisi tanah
berpasir adalah:
Qe = Ap . q . Nq’
18
dengan : Qe = Daya dukung tiang ujung (ton)
Sehingga :
qu = q . Nq’
qu ≤ 50 . Nq’ tan Ø
perlawanan ujung tiang (qu) pada tanah berbutir seragam (homogen) adalah
sebagai berikut :
qu = 40 . N . L ≤ 400 . N
D
dengan :
Sehingga :
qu = c . Nc’
qu =9.c
Sehingga :
qu = c . Nc’ + q . Nq’
Dimana :
Ep.Ip
T= 5
nh
t/fit3 7.0 21 56
Qb = Ab (Pb’ . Nq)
dengan :
Daya dukung gesek yang diusulkan oleh Brom adalah sebagai berikut :
n
Qs = i 1
. As ( Kd tan i ).Po'
dengan :
Tabel 3.6 Nilai δ (sudut gesek antara dinding tiang dan tanah granuler)
n
Qs = i 1
. As.(q.K tan )
Dengan :
Berdasarkan data yang didapat dari hasil pelaksanaan Standard Penetration Test
yang dilakukan didapat desain suatu tipe pondasi dalam. Berikut dua metode yang
sering digunakan untuk mendesain pondasi dalam berdasarkan data SPT yaitu :
25
> Metode Meyerhof
Berdasarkan data hasil uji SPT, besarnya daya dukung batas tiang pada lapisan
As.N
Qult = Ap.40.Nb
5
As.N
Qult = Ap.40.Nb
10
As.N
Qult = Ap.40.Nb
2 x5
As.N
Qult = Ap.40.Nb
2 x10
Dengan :
Nb = Nilai rata-rata N-SPT sejarak 4D diatas ujung tiang sampai ujung tiang
26
> Metode Assosiasi Jalan Raya Jepang (Japan Road Association)
Assosiasi Jalan Raya Jepang mengusulkan juga suatu metode perhitungan daya
dukung aksial tiang pancang tunggal berdasarkan hasil uji SPT, dengan rumus
sebagai berikut :
n
Qult = qd . Ap + as . i 1 ( fi.hi )
dengan:
fi = Intensitas gaya geser maksimum lapisan tanah yang akan dihitung daya
perkiraan daya dukung qd, diperoleh dari hubungan antara L/D dengan qd/N,
seperti yang diperlihatkan pada gambar (3.7) dengan L adalah panjang ekivalen
tiang yang tertanam pada lapisan pendukung, sedangkan D adalah diameter atau
lebar tiang dan N adalah harga rata-rata N-SPT yang dihitung dengan persamaan
berikut :
27
N1 N 2
Ñ=
2
Dengan :
pendukung, ada dua kondisi yang harus diperhatikan. Kondisi pertama, bila
Pada kondisi kedua, dimana lapisan pendukung tidak dapat dibedakan dengan
jelas, maka langkah langkah yang harus diikuti dalam menentukan panjang
ekivalen tiang yang ditanam dalam lapisan pendukung adalah sebagai berikut:
N1 N 2
Ñ=
2
4. Menentukan luas daerah yang dibatasi oleh N dengan kurva N-SPT (area 1)
lapisan pendukung.
Besarnya gaya geser maksimum dinding tiang fi ditentukan macam tiang serta
3.3.1.3 Daya Dukung Berdasarkan Data Hasil Uji Cone Penetration Test
Metode Tomlinson
Besarnya daya dukung tiang pancang yang didasarkan atas uji Cone Penetration
Ap qu as 1 c
Qall =
2 5
29
b. Terhadap kekuatan tanah dan beban tetap/ statis
Ap qu as 1 c
Qall =
3 5
Ap qu as 1 c
Qall =
5 5
Dengan :
qu1 qu 2
qu =
2
dengan :
menurut Begmen (1984) besarnya qu1 dihitung sebagai rata-rata qu pada jarak 3D
diatas ujung tiang, sedangkan qu2 adalah rata-rata qu pada jarak 3,75 D dibawah
ujung tiang.
Menurut Dute Theories yang diperbaharui oleh Delf Labolatory, nilai qu yang
digunakan untuk menghitung daya dukung di ujung tiang adalah qu rata-rata yang
30
diperoleh dari harga qu sedalam 3,5D dari ujung tiang, yaitu dihitung dengan
qu1 qu 2 ........... qu n
qu =
2n
dengan :
n = Jumlah lapisan
Daya dukung aksial tiang pancang yang dihitung dengan menggunakan formula
dinamik yang ada didasarkan pada data-data yang didapat pada saat pelaksanaan
Beberapa formula yang dapat digunakan untuk menghitung daya dukung aksial
tiang :
Formula Hilley
eh w H w wp e 2
Pu = x
c w wp
s
2
eh w H w wp e 2
Pu = x
c w wp
s
2
Dimana :
c = reboun (cm)
Formula Gates
25
Pu = 4 x (eh Wh H log 10
s
Dengan:
eh = Efisiensi hammer
Japan
F
Pu = F = 2W. h
5 s 0,1
2W .h
Pu =
5 s 0,1
dengan :
32
W = Berat ram (ton)
Pada kondisi tanah yang letak lapisan tanah kerasnya sangat dalam, maka untuk
antara tanah dengan tiang pada permukaan keliling tiang sepanjang tiang yang
dipancang kedalam tanah, pada kondisi tanah berlapis nilai tahanan gesek akan
berbeda beda sesuai dengan sifat lapisan tanah yang ditinjau, maka persamaan
i
Qs = (L )(a
i 1
i si )( s si )
Dimana :
asi = Keliling tiang pancang setiap lapisan tanah yang ditinjau (m2)
Ssi = Tahanan gesek tiang pada lapisan tanah yang ditinjau (m2)
gaya geser :
U Σ li.fi = π x D x li x fi
Dimana :
beban lateral. Untuk tiang panjang perhitungan daya dukung lateral pondasi tiang
pancang pada tanah kohesif menggunakan Metode Broms. Pada tiang ujung jepit,
Broms menganggap bahwa momen yang terjadi pada tubuh tiang yang tertanam
didalam tanah sama dengan momen yang terjadi di ujung atas tiang yang terjepit
My My My
Hu My My
e 1,5 d
f
f
3γdLK
p
9cud
Defleksi Reaksi tanah Diagram momen
Gambar 3.8 Mekanisme tiang panjang prilaku jepit dalam tanah granuler
34
3.3.5 Defleksi Tiang Vertikal
Metode Broms (1964) dianggap metode yang lebih teliti dalam hal hitungan
defleksi tiang, untuk tanah granuler (pasir, kerikil), defleksi tiang akibat beban
sebagai berikut :
1
5
nh
α =
EpIp
dengan :
Tiang ujung bebas dan tiang ujung jepit dianggap sebagai tiang panjang (tidak
persamaan :
0,93H
y0 =
(nh) 3 / 5 E p I p
2/5
dimana :
Mulai
Selesai
Mulai
Menghitung l = ¼ Loa
W
Menghitung Cb =
LPP Bdo
d
Menghitung Cm = 1
2Cb B
r
Menentukan nilai Ce dari grafik
Loa
WV
Menghitung E = CmCeCsCc
2g
Selesai
36
3.3.8 Diagram Alir Gaya Akibat Angin
Mulai
Menentukan nilai Aw
Menghitung Qa = 0,065 V2
Menghitung Rw = 0,42 Qa Aw
Selesai
Mulai
Menentukan nilai Aw
Menghitung Qa = 0,065 V2
Menghitung Rw = 0,5 Qa Aw
Selesai
Mulai
Menentukan nilai Aw
Menghitung Qa = 0,065 V2
Menghitung Rw = 1,1 Qa Aw
Selesai
37
3.3.9 Diagram Alir Daya Dukung Pondasi Berdasarkan Data SPT
Mulai
Menentukan nilai Nb
Menghitung Ap = ¼ . . D2
Menghitung Ñ
Menghitung As = (.D) L
Qult = 40 . Ap . Nb + 0,1 N . As
Selesai
Mulai
Menghitung Ñ = (Nspt . L . 4D) + Nspt . L)/ 2
Menentukan Lekv
qd = 0,1 . Ñ
qi = hi . fi
Ap = ¼ . . D2
As = ( . D) L
n
Qult= Ap . qd + i 1 (hi . fi)
Qall = Qult / Sf – Wp
Selesai
38
3.3.10 Diagram Alir Daya Dukung Pondasi Berdasarkan Data End Bearing
Pile dan Data Friction Pile
Mulai
Qu = Qe +Qs
Qall = Qult/SF
Selesai
Mulai
Menentukan nilai li
Menghitung fi = N/5
Menghitung li.fi
Selesai
39
3.3.12 Diagram Alir Gaya Lateral Maksimum
Mulai
4 4
Menghitung σIp = (d d )
64 2 1
Menghitung My = σizin x S
Menghitung Mmax = γ d L3 Kp
Hu
Menghitung f = 0,82
dKp
2 My
Hu =
e2 f
3
H = Hu/3
Selesai
Mulai
Menentukan nilai nh
Menentukan nilai Ep
Menghitung nilai Ip = (d 4 d 4 )
64 2 1
1/ 5
0,93H
Menentukan nilai y0 =
(nh) E p I p
3/5 2/5
Selesai
40
3.3.14 Diagram Alir Metode Perhitungan
Mulai
Pengumpulan Data
Selesai