Anda di halaman 1dari 9

Naskah Drama Seni Musik

“Nyi Roro Kidul”

Disusun Oleh:
 Dinanty Nurshabrina  Rd. Dieka P
 Faisal M  Regi Septiaji
 Ina Mulyani S  Rida Desyani
 Indah Nur Fajarini  Risnawati
 Lala Latifah W  Rizka Dita P
 M. Angga  Samuel
 M. Gilang  Tri Budi P
 M. Rizal  Yogi
 Nurhadiansyah  Yuda

Kelas 9B

Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Bandung


Jl. Alun-Alun Utara no. 211B Ujungberung Bandung

Pemeran Tokoh

Narator : Lala Latifah W


Dewi Suwido (Nyi Roro Kidul) : Rida Desyani
Ibu Dewi Suwido : Ina Mulyani S
Adik Ibu Dewi Suwido 1 : Rizka Dita P
Adik Ibu Dewi Suwido 2 : Dinanty Nurshabrina
Permaisuri : Indah Nur F
Putri : Risnawati
Raja Rimba : Yuda
Prabu Mundingsari : M. Rizal
Pangeran : M. Gilang
Dukun Tenung (Ki Joko Budi) : Tri Budi P
Pengawal 1 : Rd. Dieka P
Pengawal 2 : Faisal M
Pengawal 3 : Yogi
Pengawal 4 : Regi Septiaji
Pengawal 5 : Samuel
Pengawal 6 : M. Angga
Emang : Nurhadiansyah

Nyi Roro Kidul


Di kerajaan Pajajaran Purba, bertahtalah seorang raja yang bernama
Prabu Mundingsari. Baginda dikenal sebagai raja yang tampan dan
bijaksana dalam pemerintahannya, oleh karena itu beliau dicintai oleh
rakyatnya.
Suatu hari, ia tersesat dalam perjalanannya berburu seekor kijang di
dalam hutan rimba. Ia terpisah dari para pengawalnya.
Setelah ia menjelajahi rimba, ia beristirahat sebentar. Ketika ia
sedang beristirahat, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik dan
tengah tersenyum di hadapannya.

Prabu Mundingsari : “Oh, siapakah kau?”


Ibu Dewi Suwido : “Hamba adalah putri dari Raja Rimba ini.
Apakah Tuan adalah Prabu Mundingsari dari
Pajajaran?”
Prabu Mundingsari : “Ya, aku adalah Prabu Mundingsari. Ada apa
kiranya?”
Ibu Dewi Suwido : “Tuanku tampaknya tersesat dan terpisah dari
para pengawal tuan. Sudilah kiranya tuanku
singgah di istana ayahku sambil beristirahat
di
sana.”

Karena undangan itu disampaikan dengan ramah dan sopan, Prabu


Mundingsari tidak dapat menolaknya, lalu ia pun mengikuti gadis
tersebut.
Akhirnya mereka sampai di istana gadis itu ...

Raja Rimba : “Aha...ha...ha...! Prabu Mundingsari, Wilujeng


Sumping di Istana sim kuring. Mugi-mugi
anjeun
betah aya di dieu.”
Prabu Mundingsari : “Hatur nuhun, Tuan.”
Raja Rimba : “Putri abdi bogoh pisan ka anjeun, nepi ka
unggal wengi sok ngimpenkeun anjeun.
Kapisahna anjeun ti pangawal anjeun jeung
kasasab di hutan ieu oge, abdi nu ngaturna.”
Adik Ibu Dewi Suwido 1 : “Kakak, itukah Prabu Mundingsari yang sering
kau ceritakan?”
Ibu Dewi Suwido : “Ya, itulah dia.”
Adik Ibu Dewi Suwido 1 : “Wa..h tampan sekali orangnya!”
Adik Ibu Dewi Suwido 2 : “Kakak, kau memang pintar dalam memilih
lelaki.”
Ibu Dewi Suwido : “Ah ... kau ini, bisa saja.”
Adik 1 dan 2 : “Aha ... ha ... ha ... Wajah kakak jadi merah
tuh!”
Adik Ibu Dewi Suwido 2 : “Kak, kita ke dalam yuk! Nanti takutnya kita
malah ganggu lagi.”
Adik Ibu Dewi Suwido 1 : “Oh, iya, ayo... ayo...! Kita berdua mau ke
dalam
dulu ya kak! Dah kakak...!”
Ibu Dewi Suwido : “Daa...h!”

Prabu Mundingsari merasa heran akan kata-kata Raja Rimba tadi.


Tetapi, karena kecantikan dan kelemah lembutan putri itu, Prabu
Mundingsari pun jatuh cinta padanya dan menikah dengannya.
Suatu hari...
Prabu Mundingsari : “Adinda, rasanya sudah cukup lama kakanda
meninggalkan istana Pajajaran. Aku ingin
menengok kerajaanku dan melihat keadaan
rakyatku ...”
Ibu Dewi Suwido : “Baiklah Kakanda! Kakanda boleh pulang ke
Pajajaran, tetapi Kakanda harus berjanji untuk
menjenguk adinda di sini!”
Prabu Mundingsari : “Tentu saja, Adindaku!”

Prabu Mundingsari pun kembali ke Pajajaran.


Setibanya di Istana ...
Permaisuri : “Kakanda! Akhirnya kakanda pulang. Adinda
rindu sekali pada kakanda.”
Prabu Mundingsari : “Ya, adinda aku pun begitu.”

Berbulan-bulan kemudian, pada suatu malam ...


Dewi Suwido : “ea...ea...ea...”
Prabu Mundingsari : “Tangisan siapa itu?”

Ketika melihat keluar, Prabu Mundingsari melihat seorang bayi


perempuan yang digendong oleh perempuan yang ia temui di tengah
hutan rimba tempo dulu, yang sekarang telah menjadi istrinya.

Ibu Dewi Suwido : “Kakanda, bayi ini adalah anak kita! Aku ingin
menyerahkannya padamu, untuk kau
besarkan
dalam pergaulan manusia.”
Prabu Mundingsari : “Pergaulan Manusia? Apa maksudmu Adinda?”
Ibu Dewi Suwido : “Sebenernya Kakanda, aku berasal dari
kalangan siluman. Tapi, siluman yang cantik
loh
Kakanda.”

Baginda Prabu Mundingsari merasa heran dan hanya tertegun. Tanpa


mengetahui, bahwa istrinya itu menghilang.
Dan bayi perempuan tersebut diberi nama olehnya Dewi Suwido.
18 tahun kemudian ...
Pengawal 5 : “Baginda, ada seorang pangeran dari negeri
tetangga datang ingin bertemu dengan tuan.”
Prabu Mundingsari : “Suruh ia masuk!”
Pengawal 5 : “Baik Baginda.”

Pengawal pun memanggil tamu tersebut.


Pengawal 5 : “Baginda, ini tamunya sudah datang.”
Prabu Mundingsari : “Oh, terima kasih! Selamat datang pangeran.
Ada maksud apa kau datang kemari?”
Pangeran : “Maksud hamba tuan, ingin mempersunting
Dewi
Suwido.”
Prabu Mundingsari : ”Oh... begitu. Mang, tolong panggilkan Dewi
Suwido!”
Emang : “Baik Tuan.”
Emang pun memenggil Dewi Suwido.
Emang : “Baginda, Dewi Suwido telah tiba.”
Prabu Mundingsari : “Oh, iya!”
Dewi Suwido : “Ada apa, ayahanda?”
Prabu Mundingsari : “Anakku, di hadapanmu sekarang ada seorang
pangeran yang ingin mempersuntingmu.
Bagaimana pendapatmu anakku?”
Dewi Suwido : “Mempersuntingku? Tapi ayah, aku masih
berusia 18 tahun, masih banyak yang ingin ku
cari. Aku belum berminat untuk menikah.
Prabu Mundingsari : “Jadi anakku?”
Dewi Suwido : “Maaf .....”
Pangeran : “Ta ... ta ... tapi mengapa? Apa kurangku?
Ganteng? Sudah jelas. Kaya? Terbukti. Jantan?
Ya... iyalah, makanya ngelamar kamu juga.”
Dewi Suwido : “Bukan begitu, tapi memang aku belum ingin
menikah saja.”
Pangeran : “Ta...ta...tapi...”
Prabu Mundingsari : “Sudahlah Pangeran, kupikir kau sudah tahu
jawaban putriku. Pulanglah kau!”

Pangeran pun pulang dengan hati yang sedih. Selanjutnya banyak


sekali pangeran dari negeri-negeri tetangga yang melamar Dewi Suwido.
Tapi tentu saja ditolak olehnya. Keadaan ini membuat hati permaisuri dan
putri geram.
Putri : “Ibu, kenapa sih banyak sekali pangeran yang
melamar Dewi Suwido ampe ngantri segala?
Tapi, kenapa tidak ada yang melamar aku?
Padahal, aku kan lebih cantik darinya.”
Permaisuri : “Ibu juga sebel ama benci banget sama si
Dewi i
tu.”
Putri : “Bu, pokoknya aku ingin Dewi Suwido itu pergi
dari istana ini.”

Permaisuri : “Tenang dulu, anakku! Ibu pun sedang


memikirkan hal itu, tapi bagaimana caranya
ya
agar Dewi Suwido itu keluar dari istana.”

Permaisuri dan putri pun mondar-mandir memikirkan cara untuk


mengeluarkan Dewi Suwido dari istana.
Permaisuri dan Putri : “Hm...hm...hm...”

Tiba-tiba di Televisi ada iklan dukun yang sedang mempromosikan dirinya.


Iklan dukun tenung : “Anda ingin membuat ancur muka orang???”
Permaisuri dan Putri : “Ya...ya...ya...”
Iklan dukun tenung : “Caranya gampang. Ketik REG(spasi)JOKOBUDI
kirim ke 9554. dari muka saya saja anda pasti
tahu siapa yang lebih ancur.”
Permaisuri dan Putri : “Aha, gimana kalau minta tolong ke
dukun
tenung yang itu aja?”
Putri : “Eit, tunggu-tunggu. Bu, kayaknya aku pernah
lihat dukun itu deh!”
Permaisuri : “Coba ibu lihat lagi (sambil melihat TV ) Oh, iya
itu kan Ki Joko Budi, rumahnya kan tidak
terlalu
jauh dari sini, kita kesana aja yuk!”
Putri : “Ayo...ayo...!”
Permaisuri : “Pengawal, antarkan aku ke markas dukun
tenung!”
Pengawal 6 : “Dukun tenung yang mana nyonya?”
Putri : “Itu loh, Ki Joko Budi. Masa gak tau sih?! Di sini
kan dukun yang paling jago cuma dia!”
Pengawal 6 : “Oh, yang itu. Baik nyonyaku.”

Sesampainya di markas dukun tenung...


Pengawal 6 : “Nyonya kita sudah sampai di markas dukun
tenung.”
Permaisuri : “Oh, iya. Kamu tunggu saja di sini.”
Pengawal 6 : “Baik.” (sambil mengangguk )

Permaisuri dan Putri pun masuk ke markas dukun tenung


Permaisuri : “Ki, aku ingin membuat wajah Dewi Suwido
hancur ...”
Putri : “Aki bisa gak???”
Dukun Tenung : “Ah, nyonya-nyonya tenang saja! Itu pekerjaan
mudah buat hamba. Bikin ancur muka orang
itu
hobiku.”
Permaisuri : “Ingat, aku ingin wajah gadis itu hancur.
Hingga tak
seorang pun yang sudi memandangnya
Dukun Tenung : “Baik, nyonyaku!”

Keesokan Harinya...
Dewi Suwido : “Du..h kepalaku rasanya berat. Kulit wajahku
pun
terasa berat.”
Dewi Suwido pun bercermin ...
Dewi Suwido : “Wa... Siapa ini? Ah... apakah... apakah yang
berada
di dalam cermin itu adalah wajahku?Kenapa
jadi
begini?”

Dewi Suwido pun menangis. Kecantikannya yang dulu dipuja-puja


sama sekali tak tersisa. Dan sekarang, seluruh badannya menjadi berbau
tidak sedap.
Dewi Suwido pun menghampiri ayahnya.
Dewi Suwido : “Papi.... wajahku!”
Prabu Mundingsari : “Anakku, mengapa wajahmu kok sudah buruk
jadi
nambah buruk???”
Dewi Suwido : “Papi kok gitu? Ini serius pih!”
Prabu Mundingsari : “Sepertinya kau terkena penyakit lepra,
anakku.
Penyakit itu adalah salahsatu penyakit
berbahaya
dan menghantui.”
Permaisuri : “Kakanda, sebaiknya Dewi Suwido diasingkan
saja
dari istana.”
Putri : “Iya papi, kalau nanti penyakititu menular
padaku,
eh... maksudku pada rakyat akan berbahaya
papi...”
Prabu : “Hmm...Maafkan ayahanda anakku. Ayah
menyesal
sekali, tetapi apa boleh buat, kau akan
kuasingkan
dari istana. Lagipula ayah juga takut ketularan
dan
nantinya ayah jadi jelek. Nanti fans ayah jadi
berkurang.”

Jeng...jeng...jeng...
Dewi Suwido terkejut mendengarkan keputusan ayahnya dan
hatinya pun semakin hancur. Permaisuri dan putri pun bersorak senang.
Baginda Mundingsari segera memerintahkan beberapa orang
pengawal untuk mengantarkan Dewi Suwido ke dalam hutan rimba.
Pengawal 1 : “Duh... bau nih...”(sambil menutup hidungnya
)
Pengawal 2 : “Iya nih... geuleuh.”
Pengawal 3 : “Hus...kalian ini jaga dong ucapan kalian. Gini-
gini
juga kan anaknya baginda, tetep harus kita
hormati.”
Pengawal 4 : “Da... atuh geuleuh. Geus teu kuat yeuh!”
Pengawal 1 : “Ya... udah nganterinnya sampe sini aja!”
Pengawal 3 : “Ta...ta...tapi...”
Pengawal 2 : “Kamu ini kenapa sih?”
Pengawal 4 : “Ssstt... sudah-sudah. Silakan turun Dewi, kita
sudah
sampai.”

Para pengawal pun meninggalkan Dewi Suwido di hutan rimba.


Dengan hati yang sedih, Dewi Suwido berjalan di hutan rimba seorang
diri. Tanpa tahu akan pergi kemana.
Dewi Suwido : “Aduuh... aku harus kemana ya???” (sambil
menggaruk kepalanya )
Akhirnya Dewi Suwido pun tiba di Gunung Kombang, dia bertapa
disana dan memohon pada para dewa agar wajahnya dikembalikan
sebagaimana sebelumnya.
Dewi Suwido : “Dewa, aku ingin kau kembalikan wajahku
seperti
semula, dewa. Hik...hik...hik...” (sambil
menangis )
Bertahun-tahun ia bertapa, tetapi wajahnya tak kunjung kembali
seperti semula bahkan semakin rusak.
Suatu hari ia mendengar sebuah suara...
Raja Rimba : “Cucuku, Dewi Suwido! Kalau ingin wajahmu
kembali
seperti semula, berangkatlah menuju selatan.
Kau
harus masuk ke laut dan bersatu dengannya!
Dan
tak usah kembali dalam pergaulan manusia!”

Dewi Suwido pun segera berangkat ke selatan.


Tibanya di selatan...
Dewi Suwido : “A...a...aku takut. Ta...tapi aku percaya akan
kata-
kata yang kudengar itu. Itu pasti petunjuk dari
dewa.”

Jbuuurrr....
Dewi Suwido terjun ke laut dari tebing yang curam.
Setelah muncul kembali dari dalam laut...
Dewi Suwido : “Oh...Oh...Tuhan. wajahku kembali, bahkan
lebih dari
kembali. Terima kasih Tuhan, terima kasih.”

Menurut kepercayaan penduduk setempat, Dewi Suwido masih hidup


hingga kini dan menjadi ratu di Laut Selatan yang sering disebut Nyi Roro
Kidul. Ratu dari segala jin dan siluman disana. Benar atau tidaknya cerita
di atas yang jelas penduduk di sepanjang pantai Selatan Pulau Jawa
sampai saat ini masih percaya akan kesaktian Ratu Samudera Indonesia
itu.