Anda di halaman 1dari 4

TUGAS FARMASI KOMUNITAS II

1 . Daniel Gunawan 10115110 kp C


2. Jayanti 110115003 kp C
3. Ursula Regine 110115027 kp C
4. Nia permatasari 110115085 kp C
5. Komang Novera Bella D. 110115091 kp C
6. Sahrul Riadi 110115202 KP D
7. Oktaviana 110115078 kp C
8. I Gusti Kadek Surya Amertha 110115162 kp D
9. Putu Melista Putri 110115084 kp C
10. Ni Putu Citra Ratna Dewi 110115031 kp C
Diskusi
1. Kepada siapakah seorang farmasis bertanggungjawab ?
2. Oleh siapa ( orang/institusi ) seorang farmasis dituntut tanggungjawab atas tindakannya ?
beri penjelasan tanggungjawab dalam hal apa ?
3. Sebutkan kesalahan dispensing yang mungkin terjadi secara mekanis maupun intelektual
?
Dispensing obat adalah proses berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dispensing obat.
Berbagai kegiatan tersebut adalah menerima dan memvalidasi resep obat, mengerti dan
menginterpretasikan maksud resep yang dibuat dokter, membahas solusi masalah yang
terdapat dalam resep bersama-sama dengan dokter penulis resep, mengisi Profil
Pengobatan Penderita (P-3), menyediakan atau meracik obat, memberi wadah dan etiket
yang sesuai dengan kondisi obat, merekam semua tindakan, mendistribusikan obat
kepada Penderita Rawat Jalan (PRJ) atau Penderita Rawat Tinggal (PRT) dan
memberikan informasi yang dibutuhkan kepada penderita dan perawat
Kesalahan :
- Kesalahan dalam interpretasi resep
- Kemasan atau pelabelan yang tidak memadai
Contoh :
 Lupa menempelkan etiket pada obat misalkan “kocok dahulu”
 Mengemas obat tidak pada wadah yang tepat sehingga berpengaruh terhadap
kestabilan obat
 Tidak melakukan pemeriksaan kembali kesesuaian pada penulisan etiket
- Kesalahan dalam mengambil obat yang dibutuhkan pada
rakatautidakmemperhatikanjikaadakerusakanpadafisikobat
- Ketidakmampuanmemberikaninformasiobatsecaralengkapkepada pasien baik karena
kurangnya pengetahuan mengenai penyakit yang dialami oleh pasien maupun
kemampuan berkomunikasi dengan pasien

4. Tuliskan tahapan/ langkah dalam mengambil keputusan ?


 Menghindari/kan bahaya
 Sebisa mungkin memperoleh manfaat
 Menghormati otonomi pribadi
 Mempertimbangkan keadilan, kepentingan, semua yang dipengaruhi

Debat 3
Pembelian antibiotika beberapa tablet (<5) untuk pengobatan infeksi saluran kemih

Antibiotik (antibiotic) berasal dari kata "Anti" yang berarti "melawan" dan "biotikos" yang
berarti "hidup". Istilah antibiotik pertama kali dipakai oleh Waksman (1924) yang
mengandung pengertian suatu zat yang bersifat menghambat atau menghancurkan, atau
membunuh kehidupan organisme lain. Antibiotik dihasilkan oleh mikroorganisme (golongan
bakteri dan jamur), yang dalam konsentrasi rendah dapat menghambat atau membunuh
mikroorganisme lainnya, misalnya:

 Penisilin yang dihasilkan oleh jamur Penicillium notatum dapat menghambat atau
membunuh berbagai mikroorganisme grampositif.
 Streptomisin dihasilkan oleh bakteri Streptomyces griceus dapat melawan
bakteri Mycobacterium tuberculosis.
 Khloramfenikol dihasilkan oleh bakteri Streptomyces venezuelae untuk melawan
bakteri Salmonella typhosa.

Secara Etika:
Farmasis merupakanprofesi yang
berkaitanlangsungdengannyawamanusiasehinggadalammenjalankantugasnya, farmasis
wajibmemikirkankelangsunganhiduppasien. Kesalahan pemberian antibiotik tanpa resep
dokter yang dapat berakibat pada kemungkinan resistensi terhadap antibiotik pasien harus
dihindari karena dapat mengancam kelangsungan hidup pasien.
Secara Legal:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
“Pekerjaan Kefarmasian yang berkaitan dengan pelayanan farmasi pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian wajib dicatat oleh Tenaga Kefarmasian sesuai dengan tugas dan
fungsinya.”
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 02396/A/SK/VIII/1986 Tahun
1986 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 02396/A/SK/VIII/1986 Tahun
1986 tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G (“Kepmenkes 2396/1986”). Dalam
peraturan ini dapat dilihat bahwa obat keras hanya dapat diberikan dengan resep dokter,
yaitu dalam Pasal 2 Kepmenkes 2396/1986:
(1) Pada etiket dan bungkus luar obat jadi yang tergolong obat keras harus
dicantumkan secara jelas tanda khusus untuk obat keras.
(2) Ketentuan dimaksud dalam ayat (1) merupakan pelengkap dari keharusan
mencantumkan kalimat "Harus dengan resep dokter" yang ditetapkan dalam
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 197/A/SK/77 tanggal 15 Maret 1977.
(3) Tanda khusus dapat tidak dicantumkan pada blister, strip, aluminium/selofan, vial,
ampul, tube atau bentuk wadah lain, apabila wadah tersebut dikemas dalam
bungkus luar.
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 919/Menkes/Per/X/1993 Tahun
1993 tentang Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 919/Menkes/Per/X/1993 Tahun
1993 tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep (“Permenkes
919/1993”)mengatur secara khusus tentang obat yang tidak perlu menggunakan resep
dokter.

Jadi, pada peraturan tersebut telah diatur bahwa dalam melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat menyerahkan obat
keras, narkotika dan psikotropika kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Ini berarti bahwa pemberian antibiotika beberapa
tablet (<5) untuk pengobatan infeksi saluran kemih tanpa adanya resep dokter tidak daapat
dilakukan.
Secara Profesional:
Dalam PP 51 tahun 2009 pasal 24 huruf c, dalam melakukan pekerjaan kefarmasian
pada fasilitas pelayanan kefarmasian, apoteker dapat menyerahkan obat keras, narkotika dan
psikotropika kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan.
Secara tidak langsung pada pasal ini dijelaskan seorang apoteker hanya bisa menyerahkan
obat keras dengan resep dokter. Swamedikasi obat keras non OWA di apotek dapat
dikatakan sebagai bentuk pelanggaran hukum PP 51 th 2009. Sesuai dengan Kode Etik
Apoteker Indonesia Pasal 3: Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya
sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada
prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
DEBAT NO.4
Hal terkait kompetensi professional seorang sejawat yang secara umum dianggap tidak layak
Ditinjau dari aspek legal, pada UU 36 th 2009 tentang Kesehatan Pasal 5 yang berbunyi
“Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan
terjangkau.” Secara langsung membuat semua tenaga kesehatan bertanggung jawab untuk
meningkatkan kesehatan setiap orang. Pada pasal 24 dijelaskan bahwa tenaga kesehatan harus
memnuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar
pelayanan, dan standar prosedur operasional. Hal ini menjelaskan bahwa seharusnya tenaga
kesehatan selalu kompeten dalam bekerja.
Namun, jika pada prakteknya seorang Apoteker mengetahui adanya hal yang berkaitan
dengan kurangnya kompetensi sejawat tenaga kesehatan, ia harus bertindak dengan
memperhatikan kode etik. Pada ketentuan mengenai Kode Etik Apoteker Bab III, mengenai
kewajiban Apoteker Terhadap Teman Sejawat, dijelaskan bahwa seorang Apoteker harus
memperlakukan teman sejawat dengan baik, saling mengingatkan, saling percaya, dan mampu
bekerja sama untuk menjaga keluhuran mertabat jabatan kefarmasian; sehingga seorang
Apoteker harus tetap menjaga sopan sntun untuk menghindari terjadinya perselisihan dan
perpecahan dalam menasihati teman sejawat yang mungkin melakukan kesalahan. Pada Bab IV
tentang Kewajiban Apoteker terhadap sejawat Petugas Kesehatan lain, Apoteker harus
menghargai dan mempercayai sejawat petugas kesehatan lain, dan menjauhi tindakan yang dapat
mengurangi kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain. Apoteker
hendaknya jika mengingatkan Petugas Kesehatan mengenai kelalaiannya tetap menjaga nama
baik petugas kesehatan yang bersangkutan.
Selain itu, seorang Apoteker harus bertindak professional, bukan seenaknya dan
memutuskan sendiri tindakan untuk sejawat yang lalai, sebagaimana tercantum dalam UU 36 th
2009 pasal 29, “Dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan
profesinya. Kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.” Dari
persyaratan tersebut jelas bahwa kelalaian seorang tenaga kesehatan harus diselesaikan dengan
jalan damai, dan lebih baik melibatkan adanya orang yang dapat bertindak sebagai
perantara/media.