Anda di halaman 1dari 7

Yuli Ana Dwi Handayani

15308141055
Biologi E

RESUME FILM “LIFE OF MAMMALS”

Kera dan monyet memiliki kehidupan social paling kaya dari semua mamalia. Banyak
dari waktu mereka dipakai membentuk hubungan satu sama lain. Dan itu semua memiliki akibat-
akibat luar biasa. Kera Capuchin di Amerika Selatan dianggap paling mirip dengan kera awal
dilihat dari fosilnya. Cengkraman tangan dan ekornya memungkinkan mereka berlari di hutan
dengan cepat dan lincah. Namun otaklah mereka gunakan untuk mencari makan. Kera Capuchin
memiliki kemampuan melihat kesempatan kemudian memanfaatkannya, kemampuan ini tidak
dimiliki oleh kera lainnya. Keingintahuan kera Capuchin sangat luar biasa. Mereka akan mencari
makan dimana-mana. Penglihatan mereka sangat luar biasa, namun penciuman mereka sama
seperti manusia. Jadi untuk mencari makan yang tidak terlihat, mereka memakai otak mereka.
Mereka bisa membayangkan apa yang mungkin ada dibalik daun kering. Dalam mencari makan,
mereka dibantu dengan ingatan yang kuat.
Otak kera Capuchin yang besar, memungkinkan mereka menemukan makanan yang
tidak ditemukan oleh mamalia lain di hutan bakau. Air surut menyebabkan kerang terlihat oleh
kera Capuchin. Namun mereka akan menemukan masalah karena kesulitan untuk membuka
kerang tersebut. Akan tetapi, genggaman tangan dan kecerdasan kera Capuchin dapat mengatasi
masalah tersebut. Kera tersebut kemudian akan memukul-mukulkan kerang ke pohon dengan
keras dan dalam waktu yang lama. Kerang akan terbuka dan mereka akan melahap daging lezat
di dalamnya. Perilaku tersebut akan diikuti oleh seluruh anggota kelompok kera Capuchin. Kera
Capuchin muda akan memperhatikan baik-baik, umumnya mereka akan belajar bagaimana
melakukannya, sehingga teknik membuka kerang akan disampaikan ke generasi berikutnya.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi kera muda untuk bisa membuka kerang dengan baik. Kera
Capuchin sama seperti kita, memiliki bermacam-macam kepribadian dan kemampuan. Sebagian
benar-benar tidak pernah mahir membuka kerang.
Kera Capuchin tidak hanya mengumpulkan makanan di hutan. Ketika dua jenis daun
yang hampir sama bentuknya diletakkan. Daun yang satu bernama daun pipa merupakan daun
yang digunakan oleh warga sekitar sebagai antiseptic dan pengusir serangga. Sedangkan daun
yang lain tidak berkhasiat apa-apa. Kera Capuchin akan memilih daun pipa kemudian mereka
akan menggosok-gosokkan daun tersebut ke seluruh tubuhnya. Daun pipa bergetah dan sangat
ampuh mengusir serangga. Daun pipa ini sulit dicari, sehingga daun ini akan menimbulkan
kesenangan bagi kera Capuchin. Menggosokkan daun pipa ke tubuh mereka merupakan kegiatan
social utama bagi mereka. Peristiwa menggosokkan daun pipa ke tubuh kera, banyak dilakukan
pada saat musim hujan dimana pada saat tersebut banyak infeksi kulit dan serangga. Tidak semua
Capuchin memakai daun pipa, namun begitu satu oknum menemukan sifat tanaman tersebut,
pengetahuan ini akan cepat menyebar dan menggosok daun pipa menjadi tradisi kelompok.
Sebagian kera mempunyai makanan special tertentu. Uakaris misalnya, mereka akan
memakan buah dari jenis yang tidak lazim. Warna dari wajah Uakaris akan menunjukkan posisi
social mereka, dimana semakin cerah warna merah wajah mereka, semakin senior kera Uakaris
tersebut. Penglihatan warna yang baik dari Uakaris memungkinkan mereka mengetahui di mana
kedudukan social mereka. Penglihatan tersebut juga membantu mereka dalam memilih buah.
Anehnya mereka memakan buah yang hijau dan belum matang.
Kera di hutan ini dapat memakan makanan berbeda yang memungkinkan berbagai
species hidup berdampingan. Kera Saki memiliki gigi khusus yang memungkinkan memakan
kacang yang tak bisa dibuka kera lain. Kera laba-laba memiliki kaki yang panjang dan ekor yang
dapat memegang yang memungkinkan kera tersebut mengambil buah-buah yang sangat masak.
Pada dahan dan ranting pohon paling tepi rantingnya sangat tipis sehingga tidak
mungkin dapat menahan kera besar. Namun banyak makanan pada ranting tersebut. Pygmy
marmoset, kera paling kecil di dunia, tidak lebih besar dari tangan manusia. Kakinya sangat kecil
sehingga mereka hanya dapat memegang ranting terkecil. Cakar mereka yang setajam jarum
mencegah mereka tergelincir. Semua kera mempunyai mata ke depan yang memungkinkan
menilai jarak yang amat berharga bila berjalan di pepohonan. Namun, kera Pygmy juga
menggunakan kemampuan tersebut untuk menyergap mangsa. Makanan utama Pygmy
sebenarnya adalah getah pohon yang mereka peroleh dengan menggigit kulit pohon tersebut,
sehingga akan menimbulkan luka pada kulit pohon. Pygmy selalu membuka luka-luka itu dan
pohon akan terus menutup luka tersebut hingga banyak terbentuk bekas luka sehingga muncul
bukit-bukit bundar pada pohon. Beberapa generasi Pygmy telah melakukan hal tersebut khusus
pada satu pohon yang menimbulkan kolom besar berupa bukit-bukit sepanjang batangnya.
Pohon getah yang dikelola dengan baik adalah asset berharga bagi kelompok Pygmy
dan menjadi sasaran para pencuri. Sekelompok saingan siap menyerbu, penyerbu datang dan
pemiliknya akan lari meninggalkan getah berharganya tak terjaga. Sementara penyerbu mencuri
getah, penghuni baru mulai meninggalkan tanda bau pohon di dekatnya. Ini tampak memperkuat
ikatan antar mereka dan memperkuat kemantapan untuk menghadapi serangan balik. Ini berhasil,
kelompok tuan rumah kembali ke pohon mereka.
Douracoulis adalah satu-satunya kera yang mencari makan dimalam hari, sehingga kera
ini disebut sebagai kera burung hantu. Kera ini memiliki mata yang besar, namun penglihatan
malam harinya tidak begitu bagus. Hal ini menunjukkan bahwa nenek moyangnya dekat dengan
kehidupan siang hari dan Douracoulis hanya menjadi makhluk malam yang belum lama secara
komparatif. Di siang hari bunga yang kaya jus yang mereka makan dijaga oleh kera lain secara
agresif. Dengan keluar malam hari Douracoulis menghindari perkelahian dan mendapat makanan
dengan damai.
Tamarin hidup dalam kelompok kecil, betinanya selalu beranak kembar dan mereka
selalu bersama ketika mencari makan. Betina Tamarin mempuyai 2 jantan pasangannya dan dia
memakai lidahnya sebagai tanda bahwa saatnya salah satu harus menjaga si kembar. Namun
biasanya si kembar tidak mau berpisah dengan ibunya. Betina harus memberi susu, jadi dia harus
makan nectar bunga lebih banyak dari biasanya. Betina akan kesulitan jika harus dibebani oleh
anak kembarnya. Ada jenis Tamarin lain yang juga memakan nectar bunga, yaitu Tamarin Sadel.
Kera biasanya menjaga makanannya dengan sangat buas, namun kedua jenis Tamarin ini sering
makan berdampingan. Dan bila satu pergi, yang lain akan mengikuti. Kedua jenis Tamarin ini
memiliki musuh yang sama, yaitu Tayra sejenis musang raksasa. Mereka akan mengeluarkan
teriakan bahaya dan dimengerti oleh kedua species.
Kera melolong, memiliki ukuran tubuh 10 kali lebih besar dari Tamarin. Mereka juga
memakan bunga yang sama seperti yang dimakan oleh Tamarin, namun mereka juga memakan
daun-daun lain. Daun yang dimakan oleh Kera melolong adalah daun yang tidak terlalu muda
dan tidak terlalu tua. Daun yang muda berwarna merah dan sangat beracun, tetapi daun muda ini
banyak mengandung air dan enak untuk dimakan. Daun yang tua berwarna hijau, racunnya telah
berkurang, tetapi sangat berserat dan berkayu sehingga tidak enak untuk dimakan. Kera
melolong dapat membedakan warna dengan baik, Kera melolong akan memilih daun yang tidak
terlalu tua dan tidak terlalu muda dengan melihat warnanya.
Daun terbaik yang dipilih Kera melolong pun tidak mudah dicerna. Jadi meskipun kera
melolong dapat memperoleh makanan dengan cepat, namun mereka butuh waktu yang panjang
untuk mencernanya. Kera melolong akan menghabiskan setengah hari untuk berbaring. Kera ini
tidak akan membuang tenaga untuk mengusir saingannya, mereka lebih memakai cara hemat
tenaga untuk melakukannya. Kera melolong mempunyai tulang besar di kerongkongan yaitu
Hyoid, yang memunginkan mereka mengeluarkan suara berirama. Mungkin dengan melolong ini
mereka dapat memperkuat solidaritas keluarga dan mengusir musuh.
Terdapat jenis kera dari Afrika yang mirip suaranya dengan kera melolong, yaitu kera
colobus hitam putih. Seperti di Amerika Selatan, di Afrika berbagai jenis kera juga berbagi hutan
yang sama. Karena mereka mencari makan dengan cara yang berbeda. Colobus merah
mempunyai perut khusus yang memungkinkan mereka memakan buah dan daun mentah.
Sedangkan mangabey hitam seperti kera saki mempunyai rahang yang kuat yang dapat membuka
makanan yang amat keras.
Kera guenon hampir mirip dengan kera capuchin. Semua guenon memakan buah dan
serangga, tetapi masing-masing mencari makanan di ketinggian yang berbeda. Ada 11 jenis
guenon di Afrika, mereka semua mempunyai bentuk tubuh yang sama. Tetapi masing-masing
mempunyai warna dan pola yang berbeda yang merupakan tanda social yang memungkinkan
mereka langsung mengenali mana teman dan saingan. Kera guenon merupakan kelompok kera
yang paling beraneka warna di dunia.
Kera berbagai jenis berjalan berdampingan, ini merupakan jaringan keamanan kerja
yang amat besar yang meluas dari puncak pohon hingga lantai hutan. Dengan banyaknya pasang
mata disetiap ketinggian di hutan siapapun hampir pasti dapat melihat ancaman. Jarak
penglihatan kera sangat terbatas, sehingga mereka berkomunikasi hampir seluruhnya dengan
suara untuk memperingatkan bahaya. Kera Diana mencari makan dekat dengan puncak pohon
sehingga mereka yang biasanya melihat pertama kali bahaya dari udara. Elang merupakan
bahaya yang berasal dari udara, kera akan membunyikan tanda bahaya khusus untuk
memberitahu kera lain untuk segera turun berlindung.
Semua kera memiliki tanda bahaya yang berbeda untuk pemangsa yang berbeda. Semua
species kera mengenal teriakan species lainnya dan tahu apa musuhnya. Hal ini penting karena
setiap pemangsa memerlukan reaksi khusus. Jika musuh yang datang adalah Leopard, mereka
tidak akan lari menjauhi Leopard. Mereka justru akan mendekat dan mengawasi leopard tersebut
hingga akhirnya leopard menyerah dan meninggalkan kera-kera tersebut.
Kota purba Polonnarwua di Sri Lanka, peradaban yang membangun kota ini seribu
tahun yang lalu telah lama punah. Tetapi satu masyarakat yang hidup di masa itu masih ada
sekarang dan tetap hidup. Toque macaques memiliki masyarakat yang kompleks. Anak-anak dari
toque macaques dapat bermain bersama seakan mereka sederajat, namun mereka memiliki masa
depan yang amat berbeda. Ada system kelas mengerikan dalam masyarakat kera dan yang
beruntung lahir menjadi keluarga peringkat tertinggi punya langkah awal besar dalam
kehidupannya. Kera yang berasal dari kelas atas dapat mengambil makanan yang didapat oleh
kera yang memiliki kelas lebih rendah, meskipun kera tersebut lebih besar dan lebih tua. Bahkan
kera kelas atas tersebut dapat mengambil langsung dari mulut kera yang memiliki kelas lebih
rendah. Bahkan jika kera kelas rendah tersebut menolak memberikan makanan, dia akan dipukuli
oleh semua kelompok.
Pada saat musim kawin, kera toque macaques mencoba menarik perhatian satu sama
lain dengan memainkan kelopak matanya yang putih dan menggertakkan gigi mereka. Namun
meskipun terdapat banyak sekali Toque macaques jantan, hanya sedikit betina yang siap kawin.
Betina hanya subur selama beberapa minggu dalam setahun, selama masa tersebut tentu banyak
jantan yang ingin kawin dengannya. Tetapi hirarki tidak mengijinkan hal tersebut. Toque
macaques jantan dari kelas rendah akan kesulitan kawin secara terbuka dengan betina yang
subur. Kemungkinan terbaik adalah menjadi simpanan.
Sepuluh juta tahun yang lalu, iklim dunia berubah. Banyak tempat menjadi lebih kering,
hutan tropis berkurang dan diganti oleh semak dan padang rumput. Beberapa kera turun dari
cabang pohon lalu pergi mencari makan di padang rumput tersebut. Kera pertama yang berjalan
pada padang rumput tersebut mendapat makanan dari bunga dan beri musiman yang tumbuh.
Tetapi saat ini baboon juga memakan segala jenis umbi, kaktus, bahkan kelinci. Baboon
memakai tangannya yang cekatan dan otaknya yang besar untuk mengumpulkan aneka ragam
makanan. Belatung serangga dapat diambil dari tepi danau sodium Rift Valley, Kenya. Flamingo
berkumpul di danau tersebut dalam jumlah besar dan membuat lapisan kompos yang kaya akan
kandungan banyak makanan. Namun beberapa Baboon menjadi sangat ambisius, awalnya hanya
satu kelompok yang menangkap flamingo untuk dijadikan makanannya. Baru lima tahun lalu
mereka pertama menemukan makanan baru ini dan mencari cara untuk mendapatkannya. Namun
keahlian tersebut telah menyebar cepat dan kini seluruh kelompok menjadi pemburu flamingo.
Baboon juga memiliki pemangsa besar di sekitarnya sehingga baboon melindungi diri
dengan berkumpul dalam kelompok besar. Seperti pada macaques, hidup berkelompok
menimbulkan masalah social dan struktur social yang lebih rumit. Baboon jantan harus bersaing
mendapatkan betina. Bila betina siap kawin, pantatnya membesar dan berwarna merah muda.
Semua jantan dapat mengetahui tanda tersebut, namun betina tersebut hanya mau kawin dengan
jantan yang telah memelihara dia selama ini. Pejantan muda harus belajar susunan social pada
komunitas yang kompleks, yaitu dengan berteman dengan betina senior. Jantan yang mapan
mengandalkan jaringan kerja kelompok, yang paling berhasil ialah mereka yang banyak
berhubungan social. Salah satu cara menjalin hubungan social adalah dengan merawat baboon
lain atau dengan menjaga anak. Anak dilindungi oleh masyarakat baboon, sehingga ketika
baboon menjaga anak, baboon tersebut tidak boleh dipukul. Hal ini digunakan oleh baboon yang
cerdik sebagai pelindung bila mereka merasa terancam. Butuh banyak waktu dan kekuatan otak
untuk dapat menjadi baboon yang mapan dalam kelompok besar.
Kompleksitas social adalah tenaga pendorong dibalik pertumbuhan otak primate, maka
besarnya otak pada primate terkait dengan besarnya kelompok. Otak yang dimiliki oleh kera bayi
semak sangat kecil meskipun ukuran tubuhnya besar, ternyata kera ini adalah kera penyendiri.
Otak yang agak lebih besar adalah otak Colobus dengan besar kelompok 15. Dan yang lebih
besar lagi adalah otak guenon dengan besar kelompok 25. Dan otak baboon yang sangat besar
dengan besar kelompok 50.
500 mil di dataran tinggi Ethiopia hidup kelompok kera terbesar yaitu Gelada, satu-
satunya kera pemakan rumput. Ada banyak rumput ditempat ini sehingga gelada menjadi banyak
dan membentuk kawanan dalam jumlah yang besar. Gelada tidak memiliki gigi penggigit, jadi
mereka harus mengambil rumput dengan tangan. Kegiatan ini paling baik dilakukan dengan
duduk, sehingga gelada menghabiskan banyak waktu dengan duduk. Karena hal tersebut,
penampilan seks mereka pindah ke dada dimana gelada lain dapat melihatnya. Tanda ini juga
memberi indikasi langsung pada kekuatan dan kejantanan, sehingga memungkinkan individu
langsung menilai status individu yang lain.
Dalam kawanan gelada ada kelompok kecil seperti yang dibentuk oleh kera-kera lain.
Betina yang berkeluarga mendukung pemimpin, dengan seekor jantan pemimpin harem yang
menjaga mereka. Sekelompok jantan lajang akan berkeinginan mengganti pemimpin sebuah
harem. Pejantan lajang ini akan menghindari jantan dengan dada paling terang, karena mereka
sedang hebat-hebatnya dan mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Tetapi jantan dengan
dada kurang terang harus membuktikan nilainya dengan berkelahi. Bibir melipat pada kera
lajang adalah ancaman, jika lipatan tersebut dibalas dengan lipatan oleh jantan dewasa, maka
akan terjadi pertarungan. Perkelahian akan membuang waktu mereka untuk mencari rumput, jadi
Gelada menjaga pertemanan dengan saling bercakap-cakap. Dan inilah rahasia mereka mampu
hidup dalam kelompok besar.
Kebutuhan mengkomunikasikan informasi social yang rinci, antara banyak individu
yang membawa pada evolusi bahasa pada spesies kita sendiri.