Anda di halaman 1dari 59

BATIK PESISIR PUSAKA INDONESIA

Batik adalah kain yang ragam hiasnya dibuat dengan mempergunakan malam
sebagai bahan perintang warna, sehingga zat warna tidak dapat mengenai bagian kain yang
tertutup malam saat pencelupan. Untuk membubuhkan malam ke atas kain, dipergunakan
canting, yaitu sebuah alat kecil berupa semacam mangkuk berujung pipa dari tembaga,
yang diberi gagang kayu atau bambu.
Akibat peningkatan permintaan akan batik, pada pertengahan abad XIX, mulai
dikembangkan batik yang pembubuhan malamnya dilakukan dengan lempengan logam
bermotif. Alat itu biasa disebut "cap" dan hasilnya disebut "batik cap", sedangkan batik yang
digambar dengan canting lantas disebut "batik tulis". Batik cap tidak sehalus batik tulis, tetapi
pembuatannya jauh lebih cepat.
Tahun 1970-an muncul tekstil bermotif batik yang populer disebut "batik printing".
Batik printing dihasilkan tanpa mempergunakan teknik membatik, artinya tidak memakai
perintang warna. Motif batik dibubuhkan pada kain dengan mesin cetak yang kini sudah
dikomputerisasi. Tekstil ini dapat dihasilkan dalam waktu singkat dan dalam jumlah banyak.
Akibatnya harganya jauh lebih murah daripada batik cap, apalagi batik tulis. Yang akan kita
bicarakan di sini hanyalah batik tulis.
Metode merintang warna dalam pembuatan ragam hias pada kain sebetulnya sudah
lebih dari seribu tahun dikenal di pelbagai bagian dunia. Zat perintang warnanya beragam dan
pembubuhannya bukan dengan canting. Selain di Mesir, Cina, India dan beberapa kawasan
Asia yang lain, termasuk Timur Tengah, metode merintang warna ditemukan juga di
beberapa tempat di Afrika Barat. Tidak diketahui dengan pasti di mana metode itu pertama
lahir. Apakah lahir di suatu tempat lalu diperkenalkan ke tempat-tempat lain? Ataukah lahir
di beberapa tempat yang tidak saling berhubungan?
Yang jelas, di Pulau Jawa-lah metode pembatikan berkembang paling subur dan
menghasilkan kain-kain batik dengan ragam hias paling kaya, teknik pewarnaan paling
berkembang dan mutu pengerjaan paling halus dan paling cermat, walaupun metode
perintang warna ditemukan pula di beberapa pulau lain di Nusantara dengan zat perintang
warna dan alat yang berbeda-beda.
Tidak diketahui dengan pasti kapan batik mulai dibuat di Jawa. Namun batik tulis
yang dibuat dengan canting dan malam, menurut Robyn Maxwell dalam Textiles of
Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation, mungkin baru berkembang pada awal
abad XVII. Sebelum canting ditemukan, pembubuhan perintang warna dilakukan dengan alat
lain, seperti umpamanya tangkai bambu.
Pada awal abad XX, G.P. Rouffaer merupakan ilmuwan pertama Belanda yang
meneliti batik. Penelitiannya hanya difokuskan pada batik keraton yang didominasi warna
cokelat dari tanaman soga tingi, soga tengerang di samping warna indigo, hitam dan putih.
Ragam hias batik Solo-Yogya banyak menunjukkan pengaruh kebudayaan Hindu-Jawa.
Penampilan batik yang dibuat di pesisir utara Jawa berbeda daripada yang dibuat di
Solo-Yogya. Batik dari pesisir utara P. Jawa berlatar putih dengan motif berwarna. Masa itu
warna biru atau nila diperoleh dari tanaman indigo/tarum/tom, sedangkan warna merah dari
akar tanaman mengkudu. Saat itu batik merupakan pakaian laki-laki maupun perempuan.
Mulai tahun 1980-an, antropolog Rens Heringa meneliti batik dari pesisir utara Jawa,
begitu pula Harmen C. Veldhuisen, seorang sosiolog dan kolektor batik. Keduanya berasal
dari Belanda. Mereka tidak sependapat dengan Rouffaer yang menyatakan batik pesisir yang
berwarna-warni mestinya berkembang kemudian. Dalam Five Centuries of Indonesian
Textiles, Rens Heringa menge-mukakan bahwa penelitian lebih baru mengungkapkan:
"...perkembangan gaya batik berwarna cerah dari pesisir utara Jawa, secara historis tidak
dapat dipertanggungjawabkan bila dikaitkan dengan kematian perdagangan cita dari Gujarat
dan Pantai Koromandel pada akhir abad XVIII atau awal abad XIX." Batik pesisir
diperkirakan sudah mulai berkembang sejak abad XV.
Kita tahu kalau awal abad XV, kota-kota di pantai utara P. Jawa sudah di bawah
kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam dan menjadi pusat perdagangan yang berhubungan
dengan Malaka di Semenanjung Melayu, Samudera Pasai di Sumatra, Ternate, Tidore, kota-
kota pantai di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan pedagang mancanegara. Kaum santri
sampai saat ini masih banyak yang menjadi saudagar yang andal di pelbagai bidang.
Peter Carey, ilmuwan Inggris yang meneliti sejarah Jawa, dalam Enchanted Fabric
menyatakan pesisir utara menjadi tempat lahir kebudayaan yang unik. Kebudayaan ini
memiliki masa gemilangnya antara kejatuhan Majapahit di awal abad XVI sampai Perang
Diponegoro (1825-1830) berakhir. Pesisir Jawa menjadi tempat pertemuan pedagang,
pelawat maupun agamawan dari India, Cina dan pelbagai penjuru Asia Timur. Di sinilah
pendatang Cina, Arab dan Gujarat dari India Barat memperkenalkan agama Islam. Di sini
pula para penjelajah Barat pertama pada abad XV dan XVI mendarat. Daerah pantai terletak
jauh dari keraton. Penduduknya lebih terpapar dan lebih mudah menyerap pengaruh luar,
sehingga pesisir utara Jawa menjadi "belanga peleburan". Pengaruh itu bisa datang dari
daerah lain di Nusantara, bisa juga dari para pendatang India, Cina, Arab, Persia, Turki,
Siam, Portugis, dan Belanda yang menetap dan menikah dengan penduduk setempat.
Perpaduan kebudayaan ini masih tetap tercermin pada batik yang dihasilkan di pesisir
utara Jawa dan batik pesisirlah yang akan kita jumpai di buku ini, khususnya yang dibuat
antara 1870-1960-an. Batik pesisir umumnya lebih berwarna-warni dan ragam hiasnya lebih
naturalistis. Namun batik pesisir pun banyak yang memiliki makna simbolis.
Batik pesisir dihasilkan di Jakarta (dulu disebut Batavia, Betawi), Indramayu,
Cirebon, Tegal, Pekalongan dan sekitarnya, Kudus, Juwana, Lasem, Tuban, Gresik, Sidoarjo,
Madura, dan sejumlah tempat lain. Batik Banyumas, Garut, dan Tasikmalaya dimasukkan
pula ke dalam kelompok ini, walaupun tempat-tempat itu terletak di pedalaman. Begitu pun
batik Jambi yang dibuat di Sumatra.
Batik pesisir ada yang dibuat oleh kaum santri dan biasanya menggambarkan flora
dan hiasan non-figuratif. Lar dan burung sering distilasi seperti tumbuh-tumbuhan. Selain
sarung, mereka juga membuat kain ikat kepala atau destar dan selendang. Kaligrafi Arab juga
merupakan salah satu ciri batik yang dibuat oleh pembatik santri. Di Bengkulu banyak
disukai kain basurek, artinya kain bersurat. Kain itu disebut demikian, karena bertuliskan
huruf-huruf Arab. Kain itu tadinya dibuat di pantai barat Jawa, diantaranya di Cirebon,
walaupun ada yang dibuat di pembatikan milik orang keturunan Cina di Palmerah, Batavia.
Kain pesisir terdiri atas dua bagian yang disebut "kepala" dan" badan". Kepala dihias
lebih rumit. Ragam hias yang banyak menghias kepala kain pesisir berupa segitiga sama kaki
yang disebut pucuk rebung dan hiasan yang berbentuk garis membujur yang disebut papan.
Pedagang Cina yang datang pada abad XIV-XV, membawa sutera bersulam dan juga
porselin yang bergambar naga, burung hong, kilin, banji (swastika), bunga-bunga yang ada di
Cina seperti bunga peony, bunga plum, juga burung bangau dsb. Gam-bar-gambar itu
diadaptasi pada batik dan dikombinasikan dengan ragam hias yang sudah merupakan bagian
dari kebudayaan Indonesia seperti kawung, parang dsb. Sumbangan daerah Lasem terhadap
perkembangan batik pesisir sangat besar.
Sejak pertengahan abad XIX sampai 1942 batik mendapat pengaruh besar dari kaum
Indo-Eropa, khususnya Indo-Belanda. Wanita Indo-Belandalah yang memperkenalkan ragam
hias buketan sehingga mendominasi batik pesisir selama berpuluh tahun dan ditiru oleh
golongan Cina peranakan. Sampai sekarang pun ragam hias buketan pada batik pesisir masih
dibuat oleh pelbagai kalangan.
Ragam hias seperti sawat, lar, kawung dan pelbagai ragam hias lain yang merupakan
motif utama pada batik Jawa Tengah, di Pesisir dijadikan tanah-an (latar). Batik pesisir
banyak yang diberi tanda tangan orang yang memproduksinya. Umpamanya: Mv. E. Van
Zuylen, Oey Soe Tjoen.
Produksi batik pesisir tumbuh dengan pesat sekitar tahun 1870-an, didukung oleh
kemajuan transportasi dengan adanya kereta api dan kapal uap. Pedagang dan penghasil batik
berusaha memenuhi selera konsumen yang beragam, yang senantiasa menuntut inovasi baru.
Akibatnya, batik yang dibuat di sepanjang pesisir, terutama di daerah Pekalongan, coraknya
sangat dinamis.
PERIUK PELEBURAN

Bahwa pantai utara Pulau Jawa merupakan tempat pertemuan dan periuk peleburan
pelbagai kebudayaan, jelas tercermin pada batik pesisir seperti contoh berikut ini.

Kain Basurek
Kain basurek merupakan selembar kain panjang atau selendang, yang motif utamanya
adalah kaligrafi Arab atau tulisan Arab. Karena itu dalam bahasa Bengkulu ia disebut kain
basurek, yang artinya "kain bersurat". Motif-motif lainnya bisa berupa fauna seperti cengkih
dan bunga lain, bakal buah pinang, dan juga hewan yang distilasi.
Kain basurek tidak boleh diduduki, tidak boleh pula dikenakan pada tubuh bagian
bawah, tetapi dipakai di bahu atau sebagai kerudung pada upacara-upacara. Umpamanya saja
pada upacara pernikahan atau perhelatan lain, saat cukuran rambut pada bayi, dll. Jenazah
yang sudah dibersihkan boleh ditutup dengan kain basurek.
Kain basurek di halaman 32 dibuat di Cirebon untuk atau atas pesanan Baginda Halim
dari Betawi. Hal itu diketahui dari tulisan dengan huruf Arab Melayu: Baginda Halim,
Batawi.
Pada kain basurek untuk Baginda Halim ini, terdapat banyak sekali motif dalam
kotak-kotak persegi panjang. Ada motif kaligrafi Arab, ada motif cumi-cumi yang distilasi,
ada motif bunga cengkih dan bahkan bunga Rafflesia kebanggaan Bengkulu. Tidak selalu
kain basurek memiliki motif sebanyak itu. Ada yang cuma dihiasi dengan salah satu motif
saja. Motif ini masing-masing ada maknanya dan ada aturan penggunaannya.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa batik berhiaskan kaligrafi Arab pertama kali
dibuat di Demak, yaitu untuk membungkus Al-Quran at.au untuk hiasan dinding atau untuk
umbul-umbul. Para saudagar muslim membawa batik berhiaskan kaligrafi dari Demak ke
tempat-tempat lain dan menerima pesanan sesuai yang dibutuhkan konsumen. Akhirnya,
orang-orang di tempat lain membuat sendiri batik yang bertuliskan huruf-huruf Arab sesuai
kebutuhan mereka. Umpamanya saja destar dan kain basurek di Cirebon, Jambi, dan
Bengkulu.

Batik Wayang
Batik laksana wayang beber ini dibuat di pembatikan Nyonya Carolina Maria Meyer-
de Batts sekitar tahun 1870-1880. Ny. Meyer adalah seorang wanita Indo-Belanda yang lahir
di Yogya dan meninggal di Pekalongan.
Tropenmuseum di Amsterdam juga mempunyai kain kuno bermotif wayang yang
menceritakan cerita Panji. Namun yang ditampilkan dalam batik Ny. Meyer ini adalah cerita
wayang yang di ilhami kakawin Arjuna Wiwaha karangan Mpu Kanwa sekitar tahun 1030,
yaitu pada masa pemerintahan Raja Airlangga (1019-1042) di Jawa Timur.
Menarik sekali bahwa selain tokoh-tokoh wayang, lengkap dengan gunungannya,
pada kain ini kita melihat tumbuh-tumbuhan seperti manggis dan juga burung hong dan
burung lain, serta kalajengking, kaki seribu, capung, laba-laba, cecak, kelelawar dan kupu-
kupu yang ukurannya tidak proporsional dibandingkan dengan ukuran manusia dan dewa di
kain itu.
Walaupun motif utama pada kain ini diberi warna biru dari bahan indigo dan dibuat di
Pekalongan, tetapi warna merah tepinya dibuat di Lasem. Latarnya yang putih tua diberi
hiasan cocohan, yaitu titik-titik yang dibuat dengan menusuk-nusukkan alat yang ujungnya
berupa deretan jarum pada kain yang sudah ditutupi malam, sebelum pencelupan.
Berikut ini cerita Arjuna Wiwaha versi wayang :
1. Seorang raksasa sakti bernama Niwatakawaca bersiap-siap menyerbu kahyangan
kediaman Batara Indra. Raksasa itu tidak bisa dikalahkan oleh dewa maupun raksasa. Ia
hanya bisa dikalahkan oleh manusia. Jadi, para dewa berunding mencari manusia yang
tepat untuk menghadapi raksasa itu. Pilihan akhirnya jatuh pada. Arjuna. Namun ia
sedang bertapa memohon kesaktian di G. Indrakila. Tapi mau dan mampukah Arjuna
mengalahkan Niwatakawaca?
2. Batara Narada mengutus tujuh bidadari cantik, di antaranya Dewi Suprabha untuk
menggoda Arjuna yang sedang bertapa. Ternyata Arjuna tidak tergoda. Sekali lagi Arjuna
diuji. Batara Indra mendatanginya dengan menyamar sebagai resi tua. Arjuna
menghentikan tapanya sejenak untuk melayani. Terungkaplah tujuan Arjuna bertapa,
yaitu meminta kesanggupan menegakkan keadilan. Indra pulang dengan keyakinan
Arjuna mau membantu dan Batara Guru akan berkenan menganugerahkan senjata
pamungkas kepada Arjuna.
3. Niwatakawaca mendengar apa yang terjadi di Indrakila. Diutusnya seorang raksasa
bernama Mamangmuka untuk membunuh Arjuna. Mamangmuka dalam wujud seekor
babi hutan membuat kegaduhan di pertapaan Arjuna. Arjuna keluar dan memanah babi
hutan itu. Pada saat yang bersamaan, muncullah Batara Guru yang menyamar sebagai
seorang pemburu dari suku Kirata dan melepaskan anak panah juga. Anak panah mereka
sama-sama mengenai babi hutan itu.
4. Mereka bertengkar, masing-masing mengaku dirinyalah yang membunuh babi hutan itu.
Terjadilah perang tanding yang seru. Saat Arjuna hampir kalah, ia tidak mau melepaskan
kaki lawannya. Saat itulah Batara Guru menampakkan jati dirinya dan memberi Arjuna
anak panah Pasopati yang tidak bisa dihindari lawan. Lalu datang utusan Dewa Indra,
meminta Arjuna membantu membunuh Niwatakawaca. Arjuna bersedia.
5. Di kahyangan diaturlah strategi untuk mengetahui titik kelemahan raksasa itu. Dewi
Suprabha yang sangat cantik dan sudah lama menjadi incaran Niwatakawaca pura-pura
meminta perlindungan kepada sang raksasa. Niwatakawaca sangat senang. Berkat rayuan
Suprabha, diketahuilah bahwa kelemahan raksasa itu terletak pada langit-langit mulutnya.
Sementara itu, Arjuna yang memakai aji panglimunan untuk tidak tampak, selalu
mendampingi Suprabha supaya tak dapat disentuh oleh Niwatakawaca.
6. Dewi Suprabha meminta Niwatakawaca untuk tidak menyentuhnya sampai keesokan
harinya. Niwatakawgca mengabulkan permintaan itu. Namun, begitu mengetahui
kelemahan raksasa itu, Arjuna segera melarikan Suprabha kembali ke kahyangan Batara
Indra. Ketika menyadari ia kena tipu, Niwatakawaca tentu saja sangat gusar. Bersama
Momongdono dan Buto Cakil ia langsung menyerbu kahyangan tempat Dewa Indra.
Karena para raksasa itu sangat sakti, lawannya pun segera kocar-kacir.
7. Arjuna membaur di antara tentaranya. Para punakawan memancing Niwatakawaca agar
marah. Raksasa itu berkoar-koar karena sangat murka. Akibatnya, ia tidak waspada. Saat
mulutnya terpentang lebar, Arjuna segera melepaskan anak panahnya. Karena ia pemanah
yang ulung, anak panahnya tepat menancap di langit-langit mulut raksasa itu.
Niwatakawaca pun langsung tewas. Anak buahnya pun bisa dikalahkan dengan mudah.
8. Sebagai imbalan atas jasa Arjuna, ksatria Pandawa itu langsung dinikahkan dengan tujuh
bidadari, di antaranya dengan Dewi Suprabha dan Dewi Tilotama. Namun, tujuh hari
kemudian atau tujuh bulan menurut hitungan di bumi, Arjuna pamit untuk kembali
kepada saudara-saudaranya di bumi. Walaupun hidup di kahyangan lebih menyenangkan,
tetapi batinnya terdorong untuk menegakkan keadilan di kalangan manusia di bumi.

Kain Jelamprang
Menurut Nian S. Djoemena, seorang ahli, kolektor dan penulis sejumlah buku tentang
kain tradisional, kain Jelamprang adalah kain yang dihiasi corak nitik khas Pekalongan, yang
merupakan adaptasi corak geometris dari patola, Patola adalah kain sutera yang dibuat
dengan teknik tenun ikat berganda yang rumit dan berasal dari Gujarat di India. Di Jawa,
patola yang sangat mahal itu biasa disebut cinde dan di Sumatra cindai.
Walaupun di tempat asalnya patola ada yang bergambar manusia, hewan dan tumbuh-
tumbuhan, tetapi yang digemari di Nusantara adalah yang bermotif geometris.
Di Solo dan Yogya, adaptasi dari motif geometris patola disebut nitik, sedangkan di
Pekalongan disebut Jelamprang. Di Pekalongan, motif tersebut mulanya di buat di rumah-
rumah di tepi Jalan Perang, yaitu jalan raya tempat serdadu berbaris untuk pergi berperang.
Dari Jalan Perang itulah asal nama Jelamprang.
Penghasil kain bermotif nitik yang paling terkenal di Yogya sebelum kemerdekaan
Republik Indonesia adalah H. Bilal. Warna yang dipakai di Yogya adalah warna soga, biru
dan putih. Di Pekalongan lebih berwarna-warni dan kain Jelamprang banyak dibuat oleh
pembatik keturunan Arab maupun pribumi. Sejak akhir abad XVIII, orang-orang Arab dari
Hadramaut mulai banyak datang dan menetap di pesisir utara Jawa. Wanita keturunan Arab
menyukai warna merah, hijau dan biru yang kelam. Namun bukan berarti kain ini cuma
disukai oleh kalangan keturunan Arab.
Di Solo-Yogya, motif nitik biasanya dipakai menghiasi kemben, yaitu kain penutup
dada. Kain panjang bermotif jelamprang yang Anda lihat ini mempunyai dua kepala. Kain
panjang dari pesisir memang biasanya memiliki dua kepala yang lebarnya masing-masing
setengah dari lebar kepala pada sarung, walaupun ada yang tidak memakai kepala.
Kalau kita perhatikan, motif kedua kepala itu berbeda, tetapi warnanya sama. Ada
kain panjang vans kedua kepalanya mempunyai motif yang sama, tetapi warnanya berbeda.
Kalau dipakai, kepala yang satu akan tersembunyi, sedangkan yang lain tampil. Pada
pemakaian berikutnya, kalau kepala yang tadinya tersembunyi ditonjolkan, maka pemakainya
seakan-akan mengenakan kain yang berbeda.
Ada kain panjang yang memiliki dua kepala yang sangat kontras warnanya: yang satu
merah dan yang lain biru tua atau biru kehitaman. Orang muda akan menampilkan warna
yang muda dan menyembunyikan warna yang tua. Kalau orang tua yang memakainya,
dilakukan yang sebaliknya.
Ada yang menyatakan bahwa kepala yang sama melambangkan dua manusia menjadi
satu, jadi untuk dipakai oleh wanita bersuami.

Sarung Batik Bunga Tulip


Batik ini dihasilkan oleh Ny. Lien Metzelaar, seorang Indo-Belanda yang membuka
pembatikan di Pekalongan tahun 1880-1920-an. Ia termasuk salah seorang tokoh terkenal
yang menghasilkan "Batik Belanda".
Motif utama batik ini adalah bunga tulip. Kita selalu mengasosiasikan bunga tulip
dengan Belanda, karena itulah bunga nasional mereka. Padahal bunga itu berasal dari Persia
yang dipopulerkan oleh Belanda ke pelbagai penjuru dunia.
Batik yang kita lihat ini adalah sehelai kain sarung. Pada awalnya, batik untuk
pakaian selalu berbentuk kain panjang. Ketika batik dalam bentuk sarung diperkenalkan,
ternyata segera disukai oleh peranakan Cina maupun wanita Indo-Eropa. Batik sarung juga
disukai di Sumatra.
Batik sarung selalu mempunyai bagian yang disebut kepala dan badan. Tadinya
bagian kepala selalu dihiasi dengan motif segitiga sama kaki yang disebut pasung/pucuk
rebung/tumpal yang merupakan pengaruh dari kain-kain yang didatangkan dari India di masa
sebelumnya. Namun, kepala pada sarung ini sudah menggambarkan bunga-bungaan, yang
menunjukkan pengaruh Indo-Eropa.
Kepala pada sarung ini berwarna merah, begitu pula tepi kain yang biasa disebut
"pinggir". Pada masa kain ini dibuat, belum dipergunakan zat warna sintetis. Warna merah
diperoleh dari akar pohon mengkudu (Morinda citrifelia L.). Bagian batik yang berwarna
merah sering dikerjakan di Lasem, karena Lasem bisa menghasilkan warna merah yang lebih
indah daripada tempat-tempat lain.
Lasem banyak menghasilkan kain-kain yang cuma dibatik kepala dan pinggirnya saja
dengan warna merah. Badannya dibiarkan kosong atau Blanco/blangko. Kain setengah jadi
itu disebut blangkoan dan dijual ke tempat-tempat lain untuk diisi di sana dengan motif dan
warna-warna lain.
Latar dari motif bunga tulip itu hijau. Warna hijau alami pada batik, mulai
diperkenalkan oleh Nona L.J. von Franquemont, seorang wanita Indo keturunan Jerman pada
tahun 1840. Sebelumnya tidak ada warna hijau alami yang tahan luntur dan batik hanya
mengandalkan pewarna soga, biru dan merah

Seprai Batik Sarat Makna


Pengaruh Cina pada kedua seprai batik ini sangat jelas. Banyak orang Cina di masa
yang lampau, dan juga sebagian dari mereka di masa kini, beranggapan bahwa hidup yang
memuaskan ditopang oleh empat dasar yaitu: fu atau nasib baik, lu atau kekayaan/jabatan
tinggi, shou atau umur panjang dan xi, kebahagiaan.
Fu yang berarti nasib baik diucapkan mirip dengan fu yang berarti kelelawar. Jadilah
kelelawar melambangkan nasib baik. Lu yang berarti kekayaan atau jabatan tinggi diucapkan
mirip lu yang berarti rusa atau menjangan, sehingga hewan itu dijadikan perlambang
kekayaan/jabatan tinggi.
Shou Xing atau Bintang Kutub Selatan adalah nama Dewa Umur Panjang, yang
dipercaya menentukan kapan seseorang meninggal. Dewa ini digambarkan sebagai orang tua
yang janggutnya panjang, kepalanya botak dan melembung ke atas. Tangan kirinya
memegang tongkat, sedangkan tangan kanannya memegang buah peach umur panjang, yaitu
yang pohonnya cuma berbuah 3.000 tahun sekali.
Dewa itu sering dilambangkan sebagai jamur umur panjang lingzhi atau kura-kura.
Karena menjangan dikatakan bisa menemukan lingzhi, hewan itu pun ikut melambangkan
panjang umur seperti juga halnya burung bangau, Xi, kebahagiaan, bunyinya mirip xi pada xi
que, nama sejenis burung kecil, sehingga burung itu pun dijadikan lambang kebahagiaan.
Temyata, selain kelelawar, banyak makhluk atau benda lain, yang melambangkan
nasib baik. Menjangan pun bukan satu-satunya makhluk yang melambangkan kekayaan.
Lambang-lambang ini akan banyak kita jumpai dalam kedua seprai batik ini.

Seprai bermotif kilin


Seprai buatan Lasem di halaman 42-43, merah -nya didapat dari akar mengkudu.
Inilah warna merah alami dari Lasem yang tidak bisa ditiru di tempat lain itu. Seprai batik ini
meniru seprai buatan Cina yang bahannya sutera dan ragam hiasnya disulam.
Di tengah, kita melihat bintang berujung delapan dengan lengkungan seperti kipas
merah yang jumlahnya juga delapan. Delapan atau pa, bunyi-nya mirip dengan fa yang
artinya "makmur", "kekayaan". Dalam dialek Kanton, delapan adalah baat, mirip dengan faat
yang artinya "keberuntungan", "nasib baik". Bila delapan disandingkan menjadi 88, ia disebut
shuangxi atau "kebahagiaan ganda". Ada anggapan, makin banyak angka 8, makin beruntung.
Di dalam bintang berujung delapan yang menunjuk ke arah delapan mata angin itu
ada dua ekor kilin. Kilin adalah makhluk berkepala mirip naga, bertubuh seperti rusa tetapi
bersisik seperti ikan emas, sedangkan ekornya seperti ekor singa.
Kalau Anda perhatikan, di dahi kilin itu ada aksara kanji wang, yang distilasi. Wang
artinya "raja". Anda bisa melihat kilin digambarkan berbeda-beda pada beberapa kain batik
yang ditampilkan di buku ini.
Walaupun penampilannya sangar, kilin dianggap makhluk yang lembut, dan muncul
mengisyaratkan kabar baik dan melambangkan kemurnian, kebenaran, keadilan,
kemakmuran, dan kedamaian. Ia juga dianggap pemberi kesuburan kepada orang-orang yang
mandul.
Dekat kilin itu kita melihat anak-anak harimau. Harimau dan macan tutul disebut hu.
Bunyinya sama dengan hu yang berarti "melindungi". Ia dianggap pengusir bala dan
pelindung anak-anak selain melambangkan kegagahan, kekuatan dan martabat tinggi. Ada
yang menganggapnya dewa kekayaan atau tunggangan dewa kekayaan.
Ada juga dua bola mainan yang berpita dan dua gulungan buku. Gulungan buku
adalah lambang orang terpelajar. Pada bentuk-bentuk seperti kipas, kita melihat pohon hayat.
Pohon hayat dalam kepercayaan Tao adalah sejenis pohon peach yang berbuah 3.000 tahun
sekali dan orang yang memakan buahnya akan hidup selamanya. Yang pernah memakannya
adalah Sun Wukong, Siluman Monyet perkasa tapi nakal dalam cerita Xi Yu Ji yang dikenal
juga di Indonesia dan di Barat.
Dalam agama Buddha, pohon hayat adalah pohon bodhi, tempat Siddharta Gautama
mendapat pencerahan ketika bersemadi di bawahnya.
Di luar bintang, kita melihat kilin lagi, burung hong, kuda, rusa, harimau, ikan
berkepala naga yang sering disebut makara, juga kelelawar.
Burung hong juga merupakan salah satu penjaga penjuru dunia, di samping kilin, naga
dan kura-kura. Pada kain-kain batik di Indonesia ia sering sekali muncul dan digambarkan
dalam pelbagai variasi. Kadang-kadang penampilannya mirip burung kuao dengan ekor
panjang dan indah. Kadang-kadang distilasi sehingga cuma berbentuk garis-garis sederhana.
Burung hong (merah) bisa digambarkan merah, bisa juga berwarna-warni.
Kalau naga bersifat yang, maka burung hong bersifat yin. Kalau naga merupakan
lambang kaisar, maka burung hong melambangkan permaisuri. Kalau naga melambangkan
keperkasaan, maka burung hong melambangkan kelembutan, keanggunan, dan sifat murah
hati.
Tentang naga, burung hong, kilin dan kura-kura, Anda bisa melihat lebih lanjut dalam
'"Penjaga Empat Penjuru Dunia". Makara dalam kebudayaan Cina adalah ikan berkepala naga
yang merupakan lambang kegigihan, daya tahan dan ketabahan dalam mencapai cita-cita
yang tinggi atau kemuliaan. Kita tahu, kelelawar disebut fu yang bunyinya mirip dengan
"keberuntungan", la sering digambarkan sedang menukik, sebab "menukik" diucapkan dao
yang sama bunyinya dengan "sudah tiba", Jadi "kelelawar menukik" bunyinya sama dengan
"keberuntungan sudah tiba". Lima kelelawar membentuk lingkaran melambangkan lima
keberuntungan, yaitu: umur panjang, kesehatan, kekayaan, cinta kebajikan dan meninggal
wajar di usia lanjut, Kelelawar juga dianggap mengenyahkan roh jahat, apalagi kalau
warnanya merah. Sayang penampilan kelelawar kurang menarik sehingga sering distilasi
sampai hampir menyerupai kupu-kupu.
Motif seperti kipas kembar dengan pohon hayat di dalamnya kita dapati pula di
keempat sudut kain. Di situ juga ada kilin, menjangan, ayam, dan semut, Kita tahu
menjangan atau lu, bunyinya sama dengan penghasilan pejabat atau dengan kata lain
kekayaan. Menjangan juga merupakan simbol sukses dalam karier yang panjang, dihormati
masyarakat dan kemasyuran selain umur panjang.
Ayam dan semut melambangkan kerajinan mencari nafkah. Namun ayam juga
dianggap sebagai pengusir bala. Ayam jantan adalah gongji. Ji ucapannya mirip dengan
"beruntung". Ayam jantan berkokok, gong ming, bunyinya mirip "manfaat" dan
"kernasyhuran."
Di keempat sudut itu juga ada gulungan buku lambang keterpelajaran. Gambar ini
dibingkai dengan empat lapis pinggiran Di antaranya ada yang digambari ukel-ukel
(melambangkan kesinambungan) atau reinkarnasi. Paling luar adalah pinggiran berwarna
merah polos yang melambangkan matahari atau langit dan pencerahan.
Jadi seprai ini memuat pelbagai lambang yang mencerminkan harapan agar
pemakainya terhindar dari segala macam bala dan mengalami kedamaian dan kesejahteraan
sepanjang masa, untuk rajin mencari nafkah, gigih menghadapi kesulitan, kaya, terhormat,
termasyhur, kuat, terpelajar, panjang umur dan pelbagai harapan baik lain.

Seprai Bermotif Burung Hong


Di tengah seprai kedua ini kita melihat ba gua atau patkua yaitu bentuk segi delapan
yang dianggap memiliki tuah penolak bala dan banyak kegunaan lain. Tepi ba gua dihiasi
dengan banji, motif geometris yang di sini berbentuk kunci bersam-bung tanpa putus. Motif
banji berbentuk kunci ini melambangkan kemudahan yang tidak terputus untuk memasuki
segala pintu, entah itu pintu rezeki atau lainnya.
Motif dominan di dalam ba gua adalah dua ekor burung hong yang artinya sudah kita
lihat di atas. Juga ada kilin dan kelelawar yang distilasi, ada ayam yang sudah kita lihat pula
pada seprai sebelumnya. Selain itu ada kepiting."Kepiting" dan "harmoni" diucapkan mirip,
yaitu xie, sehingga ia melambangkan perdamaian.
Cangkang kepiting disebut jia yang bunyinya sama dengan "lulus ujian negara dengan
angka tertinggi". Sedikit sekali orang berhasil lolos dari ujian yang sulit itu. Peserta yang
lulus terjamin masa depannya sebagai pejabat negara. Cangkang yang berbenjol-benjol di
bagian tengahnya dianggap bertuliskan wang yang artinya raja. Jadi kepiting juga
melambangkan kemakmuran dan status yang tinggi.
Di luar ba gua kita melihat sejumlah makara, kelelawar, burung hong, harimau,
menjangan, kepiting, ayam. Ayam jantan disebut pula guan, yang bunyinya mirip dengan
"pejabat", sehingga dijadikan lambang kemajuan dalam usaha atau karier, sifat bisa
diandalkan, selain rajin dan bisa mengusir roh jahat. Menjangannya menggigit jamur panjang
umur. Kita juga melihat udang, ikan dan kera. Udang melambangkan kebahagiaan. Ikan
disebut yu yang bunyinya mirip dengan "berkelimpahan". Ikan karper atau ikan emas disebut
li yang bunyinya sama dengan "keuntungan" "kekuatan" dan "tenaga". JCarena te/urnya
banyak, ia juga dijadikan lambang kesuburan. Selain itu ia melambangkan ketenangan,
kesabaran, harmoni, kebijaksanaan dan umur panjang. Bila ikan digambarkan bersama lotus,
burung xi que, dan aksara kanji yang berarti "tahun", maknanya adalah "lebih banyak
kebahagiaan dari tahun ke tahun" Kera dianggap penuh inovasi dan tidak gentar bersaing.
Dua ekor kera bunyinya sama dengan "generasi yang akan datang lebih baik daripada yang
sebelumnya".
Di keempat sudut batik ini terdapat tanaman lotus, lengkap dengan buahnya yang
banyak berbiji sehingga melambangkan kesuburan. Bunga lotus melambangkan kemurnian,
kesucian. Lotus melambangkan ketidakpedulian pada keduniawian dan dianggap suci. Bunga
lotus disebut lian yang sama ucapannya dengan "terus-menerus". Kadang-kadang ia disebut
he yang bunyinya mirip "harmoni", sehingga dianggap melambangkan harmoni yang
berkesinambungan.
Batik ini mempunyai tepi empat lapis. Yang paling dalam berupa setengah bulatan
yang bersinar, menggambarkan matahari terbit, harapan baru dalam hidup. Lapisan di
sebelahnya merupakan stilasi lain dari lambang kesinambungan. Di sebelahnya terdapat
lapisan ombak yang distilasi. Ombak dipakai menghiasi tepian jubah pejabat tinggi kelas satu
dalam pemerintahan Dinasti Qing, yaitu mereka yang berhak menghadap kaisar. Lapisan
paling luar berwarna hitam polos, lambang keadilan.

Penjaga Empat Penjuru Dunia


Berabad-abad sebelum tarikh Masehi, orang-orang Cina percaya kalau dunia dijaga
oleh empat makhluk sakti. Naga berjaga di Timur, Kilin di Barat, Burung Hong di Selatan
dan Kura-kura di Utara. Cina berada di tengah kawasan yang dijaga itu.

Naga
Naga Cina disebut Long dalam bahasa Mandarin, dan Liong dalam dialek Hokian. la
mulai dike-nal sejak kira-kira 3.000 tahun yang lalu.
Penampilannya berbeda dengan Naga Jawa yang seperti ular bermahkota, dengan
Naga Eropa yang mirip dinosaurus bersayap dan dengan Naga India yang sering digambarkan
mirip ular kobra.
Naga Cina ada bermacam-macam jenisnya. Yang paling dikenal adalah yang hijau
kebiruan. Kepalanya dikatakan seperti kepala kuda atau unta, tetapi bermisai. Giginya
runcing seperti gigi harimau, tanduknya seperti milik rusa jantan raksasa, sedangkan matanya
seperti mata kelinci. Ada pula yang menyatakan matanya seperti mata setan. Daun telinganya
seperti milik lembu jantan. Tubuhnya panjang seperti ular, ditutupi 117 sisik yang bentuknya
seperti sisik ikan emas. Keempat kakinya memiliki cakar seperti elang. Cakarnya bisa lima,
empat atau tiga.
Soal cakar ini tidak boleh sembarangan. Naga adalah lambang kaisar Cina. Cuma
naga kekaisaran yang boleh memiliki lima cakar. Pakaian pembesar di bawah kaisar cuma
boleh dihias dengan naga bercakar empat. Naga bercakar tiga adalah milik orang-orang yang
berkedudukan sosial lebih rendah lagi.
Naga yang berpenampilan demikian dikenal pula di Jepang, Korea dan di Asia
Tenggara, termasuk di Indonesia. Konon naga kekaisaran Korea di Istana Gyeongbok yang
terletak di sebelah utara Seoul memiliki tujuh cakar, tetapi disembunyikan di atas kasau
penyangga atap supaya tidak ketahuan kaisar Cina. Akhirnya Jepang yang menghancurkan
istana itu, bukan Cina. Alasannya pun bukan karena naga bercakar tujuh.
Naga kerap digambarkan dikelilingi air atau awan. Makhluk ini diagungkan karena
dipercaya memiliki kekuasaan dan kesaktian yang luar biasa. la bisa terbang, bisa pula hidup
di dasar lautan dan ada pula yang tinggal di dalam tanah.
Naga Cina umumnya dianggap sebagai pelin-dung, penolak bala, pemberi rezeki dan
kesuburan karena menurunkan hujan, walaupun kalau sedang murka bisa mendatangkan
kemarau panjang dan banjir di darat serta badai di laut.
Hiasan berupa naga pada pakaian, bangunan, perabot rumah tangga, keramik dsb.
dianggap bisa menolak bala dan memberi keberuntungan. Jadi berbeda dengan Naga Eropa
yang dianggap sebagai makhluk jahat pembawa bencana. Sampai saat ini, kain batik untuk
menggendong anak, banyak yang masih dihiasi dengan gambar naga.
Banyak orangtua Cina mengharapkan putranya "menjadi naga", artinya sukses dan
berkuasa. Harapan ini diantaranya dinyatakan dengan memberi nama "Long" atau
"Lung/Loong" atau "Liong" kepada anaknya. Kadang-kadang ada anak bernama "Long" atau
"Loong" atau "Liong" yang sering sakit gara-gara "keberatan nama", sehingga harus diberi
nama barn dalam usaha menyembuhkannya.
Bukan cuma orang, konon ikan pun banyak yang ingin menjadi naga. Untuk itu
mereka harus berusaha mengatasi pelbagai kesulitan dalam mencapai air terjun "Gerbang
Naga" di Sungai Kuning. Kalau mereka berhasil melompati air terjun itu, berarti mereka lulus
ujian dan berubah menjadi naga.
Tiap jenis naga memiliki tugas yang berbeda. Yang banyak dikenal di Indonesia
adalah Donghai Longwang, Raja Naga dari Laut Timur. Tokoh itu dalam dialek Hokian biasa
disebut Hai Liong Ong.

Burung hong
Burung hong (fenghuang) sering disebut sebagai phoenix, walaupun sebenarnya
berbeda dari phoenix yang berasal dari Mesir.
Pada kain-kain batik di Indonesia ia digambarkan berbeda-beda. Kadang-kadang
penampilannya mirip burung kuao dengan ekor panjang dan indah.
Kadang-kadang distilasi sehingga cuma berbentuk garis-garis sederhana. Burung
hong bisa merah, bisa juga berwarna-warni. Konon warna-warna pada bulu burung itu
melambangkan lima sifat baik yang patut diutamakan. Hitam melambangkan kesetiaan, putih
kejujurans merah kesantunan, hijau keadilan dan kuning kemurahan hati.
Kalau Naga bersifat yang, maka burung hong bersifat yin. Kalau naga merupakan
lambang kaisar, maka burung hong melambangkan permaisuri. Kalau naga melambangkan
keperkasaan, maka burung hong melambangkan kelembutan dan keanggunan. Di Jawa pada
masa yang silam, burung hong pada batik dianggap penolak bala.
Naga yang disandingkan dengan burung hong melambangkan kebahagiaan
pernikahan.

Kilin
Qilin atau kilin adalah makhluk bertubuh seperti rusa tetapi bersisik seperti ikan emas.
Kepalanya seperti naga, lengkap dengan tanduknya. Ada kilin yang digambarkan cuma
memiliki satu tanduk, sehingga salah kaprah dikatakan Unicorn Cina. Kuku kakinya seperti
kuku sapi, walaupun ada yang mengatakan seperti kuku kuda, Ekornya seperti ekor singa,
tetapi ada yang menggambarkannya seperti ekor sapi. Kadang-kadang tubuhnya digambarkan
berapi-api.
Anda bisa melihat kilin digambarkan berbeda-beda pada kain batik yang ditampilkan
di buku ini.
Walaupun penampilannya sangar, kilin dianggap makhluk yang lembut. Ia melangkah
hati-hati supaya tidak menginjak makhluk dan bahkan juga tanaman hidup. Kilin dikatakan
vegetarian. Bahkan ia hanya makan rumput yang sudah kering, bukan rumput hidup. Ia
mampu berjalan di atas air.
Konon kilin muncul menjelang kelahiran orang bijak seperti umpamanya Kong Fuzi,
yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Kong Hu Cu (551-479 SM), seorang pemikir dan
filsuf sosial yang termasyhur.
Selain mengisyaratkan kabar baik, kilin melambangkan kemurnian, kebenaran,
keadilan, kemakmuran serta kedamaian. la juga dianggap pemberi kesuburan kepada orang-
orang yang mandul.
Ketika Laksamana Zheng He (1371-1435) kembali ke Cina dari salah satu
perlawatannya, ia mem-bawa sepasang jerapah dari Afrika Timur. Banyak orang mengira
binatang itu kilin, padahal lehernya sangat panjang. Laksamana Zheng He, seorang kasim
yang beragama Islam, sempat singgah di beberapa pelabuhan di Nusantara. Di Indonesia ia
lebih dikenal sebagai Laksamana Cheng Ho. Di Semarang ada kelenteng tempat ia dipuja dan
disebut Sam Poo Kong.
Kilin sudah dikenal pada abad ke-5 sebelum Masehi. Namun, kemudian
kedudukannya sebagai penjaga dunia digantikan oleh harimau putih.

Kura-kura
Dari empat makhluk penjaga dunia itu, hanya kura-kura yang bisa kita saksikan dalam
kehidupan nyata. Tempurung kura-kura bagian atas dianggap sebagai kubah langit atau surga
dan bagian bawah-nya sebagai bumi. Karena umur kura-kura relatif panjang, ia dijadikan
lambang panjang umur dan bahkan keabadian.
Kura-kura menjadi pahlawan yang tangguh dalam banyak legenda Cina, sehingga
disebut "Pejuang Hitam" yang melambangkan kegigihan, kekuatan dan tidak tertembus
musuh. Karena itulah tentara kaisar membawa bendera naga yang melambangkan kekuatan
yang tak tertahankan dan bendera kura-kura yang melambangkan pertahanan yang tidak
tertembus lawan.
Selain itu, kura-kura dianggap mengundang rezeki dan nasib baik. Sampai sekarang,
masih dikenal sesaji dan penganan dari tepung ketan yang di-cetak berbentuk kura-kura. Kue
ku ketan yang diisi adonan kacang itu rasanya manis dan dibuat untuk mengundang
kemakmuran, keserasian dan ke-amanan, walaupun kini di Indonesia sebagian orang
menganggapnya sebagai penganan biasa.
Arti di Balik Gambar Binatang Menurut Cerita Rakyat Cina

Mengapa bintang-binatang seperti ular, kalajengking, kaki seribu dan laba-iaba justru
dipakai menghiasi kain batik untuk menggendong bayi?
Naga, burung hong, kilin, kura-kura, rusa, bangau, kupu-kupu dan burung memang
merupakan binatang yang indah. Namun mengapa kelelawar mendapat tempat dalam
sejumlah kain batik? Ternyata makhluk itu dipiSih karena arti yang dikandungnya.
Lambang-lambang ini sebetulnya berakar pada ajaran Tao, Konfusius, dan Buddha.
Namun makna yang dikandung lambang-lambang itu sering ditafsirkan meleset di abad-abad
kemudian, sehingga kerap kehilangan arti religiusnya dan falsafahnya yang sejati dan
dianggap sekadar penolak bala.
Berikut ini binatang-binatang yang kita temukan dalam kain-kain yang ditampilkan
dalam buku ini. Kadang-kadang binatang ini melambangkan hal yang sama dalam ke-
budayaan Jawa, tetapi bisa juga berbeda. Tidak semua pelukis atau pemakainya sengaja
memilih binatang tertentu karena maknanya. Bisa juga semata-mata karena alasan keindahan.
Kupu-kupu hampir tidak pernah absen dalam batik pesisir, karena bentuknya indah.
Di kain batik, kupu-kupu dipakai mengisi ruang yang kosong, seperti halnya dengan burung-
burung kecil.
Apalagi kupu-kupu melambangkan cinta, termasuk cinta remaja dan cinta sejati yang
tidak terpisahkan. Kupu-kupu disebut hudie dan die juga berarti "umur 90 tahun", sehingga
dijadikan lambang umur panjang.
Burung melambangkan kegembiraan dan keba-hagiaan. Burung kecil yang disebut xi
que (magpie), apabila digambarkan menukik berarti "kebahagiaan (xi) telah datang".
"Menukik" dan "telah datang" sama-sama diucapkan dao.
Burung layang-layang diucapkan yon. Kalau melihat kedatangan burung itu, orang
tahu bahwa musim semi segera datang, sehingga ia dianggap melambangkan nasib baik dan
datangnya kemak-muran.
Bangau hitam dianggap paling panjang umur, tetapi mungkin kurang menarik untuk
ditampilkan dalam batik dibandingkan dengan yang berwarna lain. Bangau menyandang
banyak atribut yang mu-luk seperti keberhasilan, kebijaksanaan, keterpe-lajaran, keningratan,
keagungan, tekad yang kuat, kekayaan, dan kekuasaan.
Kalau digambarkan berpasangan artinya ke-setiaan atau hidup pernikahan yang
panjang, karena bangau diucapkan sebagai he, yang bunyinya sama dengan "keserasian".
Bangau juga dianggap sebagai binatang tung-gangan roh manusia ke surga.
Rusa adalah lu yang bunyinya mirip dengan "penghasilan pejabat", artinya kekayaan,
la juga. melambangkan sukses dalam karier yang panjang, kemasyhuran, pengakuan
masyarakat, selain melambangkan daya tahan dan keanggunan. Rusa dianggap mengundang
umur panjang karena selain tunggangan Dewa Umur Panjang. Ia sendiri mampu menemukan
jamur lingzhi (Ganoderma lucidum) untuk memanjangkan usia.
Kelelawar disebut fu yang bunyinya mirip dengan "keberuntungan" atau
"kebahagiaan". Ia juga melambangkan umur panjang yang penuh kebahagiaan. Ia sering
digambarkan sedang menukik, sebab "menukik" diucapkan dao yang sama bunyinya dengan
"sudah tiba". Jadi "kelelawar menukik" bunyinya sama dengan "keberuntungan sudah tiba".
Lima kelelawar membentuk lingkaran melambangkan lima keberuntungan, yaitu:
umur panjang, kesehatan, kekayaan, cinta akan kebajikan dan me-ninggal wajar di usia lanjut.
Kelelawar juga dianggap mengenyahkan roh jahat, apalagi kalau warnanya merah.
Jadi sungguh berbeda dengan di Barat, yang mengaitkan kelelawar dengan vampir yang
menghisap darah korban-nya sampai tewas, Namun karena bentuk kelelawar kurang menarik
untuk hiasan kain, walaupun di-stilasi sampai mirip kupu-kupu pun, satwa ini kemudian
kurang diminati sebagai hiasan pakaian di kalangan perempuan Cina peranakan.
Kepiting dan "harmoni" diucapkan mirip, yaitu xie, sehingga. ia melambangkan
perdamaian. Cang-kang kepiting disebut jia yang bunyinya sama dengan "lulus ujian negara
dengan angka tertinggi". Sedikit sekali orang berhasil lolos dari ujian yang sulit itu. Peserta
yang lulus terjamin masa depannya sebagai pejabat negara. Cangkang yang berbenjol-benjol
di bagian tengahnya dianggap bertuliskan wang yang artinya raja. Jadi kepiting juga melam-
bangkan kemakmuran dan status yang tinggi.
Ikan disebut yu yang bunyinya mirip dengan "berkelimpahan". Sisik ikan emas atau
ikan koki berkilat seperti emas, sehingga ia juga melambangkan emas yang berkelimpahan
atau kekayaan. Ikan karper disebut Kyang bunyinya sama dengan "keuntungan" "kekuatan"
dan "tenaga". Karena telurnya banyak, ia juga dijadikan lambang kesuburan.
Selain itu ia melambangkan ketenangan, kesabar-an, harmoni, kebijaksanaan dan
umur panjang.
Bila ikan digambarkan bersama lotus, burung xi que, dan aksara kanji yang berarti
"tahun", maka maknanya adalah "lebih banyak kebahagiaan dari tahun ke tahun".
Udang melambangkan kebahagiaan, nasib baik, dan umur panjang.
Harimau dan macan tutul disebut hu. Bunyinya sama dengan hu yang berarti
"melindungi". Ia dianggap pengusir bala dan pelindung anak-anak selain melambangkan
kegagahan, kekuatan dan martabat tinggi. la membantu anak-anak untuk kuat dan berani. Tak
heran kalau gambarnya meng-hiasi pakaian dan kain gendongan anak. Ada yang
menganggapnya dewa kekayaan atau tunggangan dewa kekayaan.
Harimau putih atau baihu kemudian menggan-tikan kilin sebagai salah satu penjaga
empat penjuru dunia.
Singa bisa melambangkan Buddha yang pernah lahir 10 kali sebagai singa.
Lima binatang beracun yaitu ular, katak berkaki tiga, kalajengking, kaki seribu dan
laba-laba diang-gap sebagai pengusir roh jahat. Jadi tidak mengherankan kalau pada
gendongan atau pakaian bayi digambari binatang-binatang beracun itu. Binatang lain yang
dianggap mengusir setan adalah harimau, anjing, singa, babi, dan naga.
Laba-laba diucapkan zhizhu atau xizi. Xi berarti juga "bahagia" dan zi berarti "putra",
jadi xizi juga berarti "putra bahagia", sehingga dijadikan perlam-bang harapan untuk
memperoleh putra atau anak. Laba-laba yang terjatuh dari sarangnya diartikan sebagai
"kebahagiaan jatuh dari langit".
Kodok diasosiasikan dengan hujan, panen yang baik dan nasib baik. Karena ia disebut
wa yang bu-nyinya sama dengan "bayi", ia juga dianggap lambang kesuburan.
Makara dalam kebudayaan Hindu adalah ikan berkepala gajah seperti yang kita
jumpai di candi-candi Hindu di Jawa dan disebut gajahmina di Bali. Makara dianggap
sebagai tunggangan dewa laut Baruna dan Dewi Gangga. Namun di batik-batik buatan Cina
peranakan, makara adalah ikan berkepala naga, seperti yang terdapat dalam kebudayaan Cina
dan Jepang. Makara berkepala naga ini diya-kini sebagai ikan karper/ikan emas yang
menempuh segaia bahaya dan kesulitan, untuk bisa mencapai Gerbang Naga, yaitu sebuah air
terjun yang tinggi. Di Cina air terjun itu dianggap berada di Sungai Kuning. Kalau sang ikan
berhasil melompati air terjun itu, ia akan berubah menjadi naga. Karena itu ia dijadikan
lambang kegigihan, ketabahan, kekuatan dalam menanggulangi kesulitan untuk mencapai
cita-cita yang tinggi atau kemuliaan, Di Jepang, ia disebut schachihoko dan dianggap mampu
mendatangkan hujan untuk menyuburkan tanah. Ia dipakai menghias ujung-ujung wuwungan
kuil, sebab diyakini bisa mencegah kebakaran.
Gajah melambangkan nasib baik, kekayaan, kekuatan, dan keteguhan. Tonggeret
melambangkan kelahiran kembali. Telur yang diselipkan induknya di celah-celah kulit kayu,
setelah menetas akan bersembunyi di dalam tanah dan lama kemudian barulah tonggeret siap
keluar untuk terbang ke angkasa. Ia serangga yang termasuk panjang umur, bisa mencapai
2-5 tahun, bahkan ada jenis yang bisa bertahan 13-17 tahun. Karena itu ia melambangkan
keabadian, awet rnuda dan kebahagiaan yang panjang.
Jangkrik dianggap pembawa nasib baik dan pelindung. Jangkrik berhenti berbunyi
kalau ada orang mendekat, seakan-akan mengingatkan kita untuk waspada. la juga dianggap
menenangkan, mungkin karena bunyinya. Namun ia melambangkan juga semangat juang.
Ular melambangkan kebijaksanaan, ke-anggunan, kreativitas. Padahal di Barat ular
dikaitkan dengan setan, keculasan, dan kejahatan
Babi dianggap melambangkan kejujuran, kesetiaan dan tenggang rasa. Ia juga
mengecoh roh jahat supaya menjauh.
Kera dianggap penuh inovasi dan tidak gentar bersaing. Dua ekor kera bunyinya sama
dengan "generasi yang akan datang lebih baik daripada yang sebelumnya".
Capung disebut qingting. Qing bisa juga berarti murni, jernih.
Kuda melambangkan cepat maju dalam karier atau usaha, daya tahan dan tenaga yang
kuat, kesetiaan dan kemurnian. Ia juga dipercaya sebagai pembawa hal-hal yang baik.
Elang adalah lambang kekuatan. Elang di atas batu karang di tepi laut melambangkan
kepahlawanan.
Ayam jantan mempunyai beberapa sebutan, di antaranya guan, yang bunyinya mirip
dengan "pejabat", sehingga dijadikan lambang kemajuan dalam usaha atau karier, sifat bisa
diandalkan, rajin dan pengusir roh jahat.
Sepasang bebek mandarin kalau dipisahkan atau pasangannya mati, konon akan
merana dan mati tidak lama kemu-dian. Karena itu sepasang bebek mandarin melambangkan
kesetiaan suami-istri dan kebahagiaan dalam pernikahan.
Merak yang bulunya indah dan sikapnya ang-gun, melambangkan martabat dan
keindahan/kecantikan.
Burung puyuh melambangkan keberanian.
Kerbau/sapi melambangkan kedatangan musim semi/musim hujan yang membawa
banyak harapan dan juga ketenangan hidup seperti di pedesaan.
Menurut Cerita Rakyat Cina
Arti di Balik Gambar Tanaman & Benda Lain

Walaupun sejumlah bunga dan tanaman diang-gap melambangkan arti oleh orang
Indonesia, Eropa maupun Cina, tidak semua pembatik dan pembeli batik menghayati arti di
balik gambar bunga itu. Sering kali faktor keindahannyalah yang diutamakan.
Beras dan biji-bijian: Di kalangan masyarakat tertentu, termasuk orang Jawa dan Cina
peranakan, beras dan biji-bijian adalah lambang kemakmuran dan kesuburan. Karena itu ada
kebiasaan melempar pasangan pengantin dengan beras dan biji-bijian. Dalam kain batik, ada
ragam bias pengisi latar belakang atau isen-isenyang disebut beras mawur, dele kecer.
Buah delima melambangkan kesuburan, banyak anak dan keturunan, karena buah itu
banyak biji-nya. Delima masak dijadikan hadiah pada pernikahan. Selain itu ia
melambangkan kejernihan karena daging buahnya jernih.
Magnolia melambangkan wanita cantik. Keranjang berisi buah-buahan atau bunga
melambangkan kekayaan dan penghalau roh jahat.
Bunga narcissus/daffodil atau shuixian melambangkan keabadian atau umur panjang.
Bunga plum atau meihua merupakan bunga yang pertama mekar di musim semi
sehingga dianggap perlambang keberanian dan harapan akan keberuntungan. Lima tajuk
bunganya melambangkan "lima kebahagiaan" atau "lima keberuntungan", ya-itu umur
panjang, kekayaan, kesehatan, kebajikan, dan keinginan untuk meninggal wajar di usia lanjut,
Bunga plum yang bermekaran dengan kupu-kupu melambangkan umur panjang dan
kecantikan. jika dengan kucing, melambangkan hidup 90 tahun.
Bunga lotus melambangkan kemurnian, kesucian. Walaupun ia keluar dan hidup
dikelilingi lumpur, ia tetap bisa mempertahankan keindahan atau kesuciannya dan memberi
seri pada sekitarnya. Lotus melambangkan ketidakpedulian pada keduniawian dan dianggap
suci karena Buddha sering digambarkan duduk di atasnya.
Bunga lotus disebut lian yang sama ucapannya dengan "terus-menerus". Kadang-
kadang ia disebut he yang bunyinya mirip "harmoni" sehingga dianggap melambangkan
harmoni yang berkesinambungan.
Biji lotus disebut lianzi yang bisa diartikan "melahirkan anak terus-menerus".
Bunga lotus mekar dengan sehelai daun dan sekuntum kuncup berarti kebahagiaan
yang lengkap. Bunga lotus dengan seorang anak laM-laki dan seekor ikan emas berarti rezeki
melimpah ruah.
Bunga lotus dengan bangau melambangkan harapan untuk karier atau usaha yang
menanjak.
Bunga seruni/krisan yang mekar di musim gugur melambangkan ketabahan
menghadapi keadaan. Seruni juga menyiratkan umur panjang, kebahagiaan dan kesejahteraan
di usia senja selain mengundang keberuntungan.
Bunga botan atau peony disebut fu-gui hua, bunga kekayaan dan kehormatan. Nama
lainnya ialah mudan. Ia dianggap mengundang kebahagiaan, kesetiaan, kecantikan abadi dan
umur panjang, Karena tajuk bunga itu ada yang bersusun banyak, maka ia juga dianggap
melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Kalau diletakkan dalam jambangan berarti
kekayaan, kehormatan, dan kedamaian.
Bunga anggrek melambangkan sifat mulia, moral yang tinggi, kerendahan hati,
keanggunan, kecantikan, kesuburan, dan keabadian.
Bunga anyelir/carnation melambangkan pernikahan, kesuburan dan rezeki melimpah.
Bunga ini sering muncul dalam batik pesisir, entah sebagai hiasan utama, maupun sebagai
penghias tepi, terutama dalarn batik Lasem dan disebut teluki atau celuki.
Bunga anyelir yang berasal dari Persia dan Turki, dibawa ke Eropa dan diperkenalkan
ke India sebagai motif kain sembagi. Lewat kain sembagi inilah ia masuk ke kain batik.
Kembang bokor /hydrangea/hortensia melam-' bangkan cinta, rasa terirna kasih.
Bawang melambangkan kepandaian.
Buah peach melambangkan umur panjang.
Pohon cemara melambangkan umur panjang, keteguhan, dan disiplin diri.
Jeruk melambangkan kekayaan dan naslb baik. Karena itulah pada Tahun Baru Imlek
banyak orang Cina menghiasi rumahnya dengan tanaman jeruk yang berbuah, selain
menyuguhkan jeruk sebagai sesaji kepada arwah nenek-moyang.
Buah labu botol yang berbentuk seperti botol arak para dewa melambangkan umur
panjang dan kesuburan, perlindungan dan berkat, kebahagiaan, dan pangkat tinggi.
Bambu melambangkan kelurusan hati, keuletan, tahan menghadapi kesulitan,
keluwesan, kelembutan, keanggunan, kerendahan hati, dan juga umur panjang. Bambu
dianggap bisa mengusir setan, karena kalau dibakar akan bergemeretak seperti bunyi mercon.
Kapak juga disebut fu, mirip bunyi "kebahagiaan" dan melambangkan kekuatan serta
kemampuan untuk membasmi kejahatan.
Benda lain yang sering muncul di batik:
Pola geometris pada tepian kain, di antaranya swastika melambangkan
keberuntungan. Aksaranya merupakan kependekan dari aksara 10,000, yang melambangkan
umur panjang.
Kapal di tengah gelombang melambangkan tabah menghadapi cobaan.
Gunung melambangkan tempat yang tinggi, yang lebih dekat pada para dewa. Besar
dan tinggi-nya mengandung arti tidak terbatas.
Batu panjang umur adalah batu karang berbentuk aneh yang sering digambarkan
bersamaan dengan jamur lingzhi.
Lidah api melambangkan kesaktian.
Awan yang distilasi melambangkan keberuntungan dan diasosiasikan dengan negara
dalam keadaan damai. Apalagi kalau diberi lima warna. Ucapan untuk "awan" bunyinya
mirip "banyak rezeki". Kalau dikombinasikan dengan kelelawar merah menjadi "sembilan
keberuntungan besar dan banyak rezeki". Tidak heran kalau dipakai mengisi ruang kosong di
pakaian kaisar.
Kipas atau shan bunyinya mirip dengan baik, ramah, sempurna. Kipas merupakan
peralatan dari Zong-li Quan, pemimpin Delapan Dewa. Tidak heran kalau kipas dijadikan
peralatan orang-orang terpandang dan mencerminkan status sosial.
Kipas dengan 5 kelelawar artinya bermurah hatilah, maka kamu akan dikaruniai 5
kebahagiaan.
BATIK PEKALONGAN

Pekalongan bukanlah penghasil batik pesisir tertua. Namun daerah Pekalongan


menghasilkan batik yang termasuk paling halus dan sampai sekarang masih menjadi
penghasil batik utama. Karena itulah kaini menempatkannya pada bab awal.
Pada sejumlah batik Pekalongan, kita bisa menemukan ragam hias Hindu-Jawa.
Namun, berbeda dengan di Solo-Yogya, ragam hias itu tidak terikat peraturan-peraturan
keraton. Sementara itu pern-batik santri di Pekalongan banyak menerapkan seni hias dari
kebudayaan Islam. Pengaruh paling dominan pada batik Pekalongan datang dari Cina dan
Belanda. Akibat paparan dengan pelbagai kebudayaan ini, batik Pekalongan sangat berbeda
dibandingkan dengan batik di pedalaman Jawa. Warnanya berane-ka. Ragam hiasnya
naruralistis.
Sayang sekali sebagian dari batik-batik yang bagus ini tidak diketahui siapa
pembuatnya, karena sebelum pertengahan abad XIX pembuat tidak mencantumkan namanya,
dan setelah itu pun banyak yang tidak melakukannya.
BATIK PENGARUH INDIA

Salah satu ragam bias yang menjadi keistimewaan pembatik keturunan Arab dan
pribumi dl Pekalongan dan tempat-tempat lain adalah ragam hias jelamprang, yaitu ragam
bias yang meniru pola patola dan sembagi dengan gaya nitik. Jelamprang juga disukai di
Sumatra. Wanita keturunan Cina dan Belanda pun memakainya. Sayang sekali banyak yang
tidak diketahui siapa pembuatnya.
BATIK CINA PCRANAKAN

Menurut sinolog Profesor Gondomono, Ph.D., para perantau Cina yang datang ke
Jawa mulai abad XII-XIII, mula-mula tinggal sepanjang pantai utara. Sebagian dari mereka
menetap untuk sementara dan sebagian lagi selamanya tinggal di Jawa. Mereka menikah
dengan wanita setempat, karena tidak ada wanita Cina yang disertakan dalam perjalanan yang
jauh dan berbahaya dalam jung yang penuh sesak. Baru ketika anggota kelompok hasil
pernikahan campuran ini cukup banyak, pernikahan bisa dilakukan antar mereka.
Di masa yang lalu, ibu diserahi tugas mengasuh anak dan mengurus rumah tangga,
sedangkan ayah mencari nafkah. Akibatnya, anak-anak lebih dekat dengan ibu mereka dan
kebanyakan tidak menguasai bahasa ayah mereka. Apalagi masyarakat Cina masih sedikit.
Sebagian anak atau cucu pernikahan campuran itu terserap "menjadi Jawa". Sebagian
lagi menjadi masyarakat yang disebut "Cina peranakan", yang sampai abad XX
mempergunakan bahasa "Melayu Cina" yang disebut pula "Melayu Pasar" karena tadinya
dipergunakan dalam berdagang di pasar.
Kaum wanita di masyarakat Cina peranakan mengadopsi pakaian ibu mereka, berupa
kain batik dan kebaya. Pakaian itu disesuaikan dengan selera mereka. Baju mereka
berkembang dari baju kurung, kebaya panjang, kebaya pendek putih berenda, kebaya putih
tembus pandang yang dikerancang dan dibordir, sampai kebaya warna warni tanpa bordiran
dari bahan tembus pandang. Kebaya kerancang dan kebaya bordir menjadi mode lagi di
pelbagai kalangan mulai akhir abad XX dan disebut "Kebaya Encim".
Awalnya kain batik yang mereka pakai, adalah buatan rakyat setempat. Diketahui
sejak akhir abaci XVIII pedagang-pedagang Cina dan Arab sudah memperdagangkan batik-
batik buatan rumahan yang mereka kumpulkan dari kampung-kampung. Kadang-kadang
batik itu mereka peroleh dengan membayar di muka atau mengijon. Mereka juga berjualan
pelbagai keperluan membatik. Sejak tahun 1800, Batavia, Semarang, dan Surabaya di pantai
utara sudah menjadi pusat perdagangan batik.
Kemudian, sebagian wanita Cina peranakan mengupah perajin batik untuk membuat
batik yang ragam hiasnya mereka tentukan. Ragam bias itu diambil dari motif sulaman sutera
Cina atau motif pada porselin dari Cina. Mereka mempunyai lambang-lambang sendiri. Pada
batik yang mereka buat, kadang-kadang kita melihat motif geometris banji (wanzi) atau
swastika yang melambangkan keberuntungan. Mereka menyukai motif burung hong, bangau,
merak, burung-burung kecil, ayam, kupu-kupu, menjangan, kilin, naga, bunga teratai, seruni,
anyelir, peony, iris, dsb.
Pada kain gendongan bayi mereka menampilkan naga, burung hong, harimau, tetapi
juga kelelawar, dan bahkan serangga beracun seperti kalajengking, kaki seribu, clan laba-laba
yang mengandung makna.
Namun, mereka mengadopsi banyak ragam hias dari Jawa Tengah seperti pasung,
kawung, parang dan juga lar, udan liris, dan motif-motif lain dari batik pedalaman.
Para perajin mengerjakan batik pesanan di rumah pemesan, dengan diawasi oleh si
pemesan. Pemesan berani membayar lebih, tetapi tuntutannya tinggi. Hasilnya adalah batik-
batik yang bermutu tinggi.
Karena mereka merupakan masyarakat dagang, menjelang sekitar tahun 1870-an,
timbullah gagasan untuk membuka pembatikan yang mempekerjakan sejumlah perajin.
Hasilnya diperdagangkan sampai ke Sumatra, Malaka dsb. dan bukan hanya dipakai oleh
golongan keturunan Cina saja.
Umumnya wanita Cina peranakan tidak menyukai warna-warna yang kelam. Karena
itu warna sintetis yang masuk sekitar tahun 1890 lekas mereka terima, sebab memungkinkan
mereka untuk menghasilkan batik yang lebih warna-warni dan semarak.
Kebiasaan berkain kebaya ini masih dipertahankan oleh sebagian wanita Cina
peranakan sampai awal abad XXI, terutama di kota-kota kecil, walaupun makin lama makin
sedikit jumlahnya.
Bukan cuma pakaian yang mereka buat dari batik, tetapi juga tokwi, kain penutup
bagian depan altar nenek moyang, dengan meniru gambar sulaman dari tokwi yang dibuat di
tanah leluhur. Biasanya digambarkan Delapan Dewa (Baxian/Pat Sian) dengan binatang-
binatang dan tumbuh-tumbuhan. Atau tiga dewa: Fu Xing yang memberi berkah dan
kebahagiaan, Lu Xing yang memberi status tinggi dan juga keturunan dan Shou Xing, dewa
umur panjang. Namun, karena bebasnya memilih ragam hias, mereka bisa menampilkan apa
pun.
Mereka juga membuat muili, kain untuk digan-tungkan di pintu dan seprai, meniru
penutup ranjang sulaman dari Cina, yang sarat dengan gambar-gambar penolak bala dan
pengundang keberuntungan.
Batik belanda berkembang pada waktu hampir bersamaan di pesisir utara Jawa. Di
Pekalongan diperkenalkan buketan, yaitu buket bunga sebagai motif utama. Para pemilik
pembatikan Cina peranakan segera menirunya. Sejak 1910 pengaruh Indo-Belanda merasuk
ke pembatikan orang Cina. Sebaliknya pembatikan milik wanita Indo-Eropa pun ada yang
meniru batik Cina peranakan, seperti teknik menonjolkan bunga dan objek-objek lain dengan
titik-titik yang membentuk garis melengkung, yaitu yang semula ditampilkan oleh Oey Soe
Tjoen dari Kedungwuni. Kedungwuni terletak 7 km saja dari kota Pekalongan.
Di masa yang lalu, kaum Cina peranakan mempunyai kebiasaan untuk membekalkan
barang-barang kesayangan orang yang meninggal ke Hang kubur. Akibatnya, batik-batik
yang terbagus jarang tersisa.

Berikut ini beberapa pengusaha batik terkenal:


Oey Soe TJoen (1901-1975)
Di daerah Kedungwuni, Pekalongan, pengusaha batik dari kalangan Cina peranakan
yang menghasilkan batik paling halus dan paling indah di masa keemasan batik tulis adalah
Oey Soe Tjoen yang memulai usahanya tahun 1930. Istrinya, Kwee Tjoan Giok Nio atau
Kwee Nettie, memainkan peranan penting dalam memajukan usaha mereka. Namun kalau ia
menandatangani batik keluaran mereka dengan namanya sendiri, batik itu tidak selaris kalau
diberi nama suaminya. Akhirnya, batik keluaran mereka seluruhnya diberi nama sang suami.
Keduanya berasal dari keluarga pengusaha batik, tetapi bukan batik tulis, melainkan
batik cap. Oey dari Kedungwuni, beberapa kilometer dari kota Pekalongan dan istrinya dari
Batang. Diduga,' pembatikan mereka yang mempekerjakan 150 orang lebih besar dari
pembatikan E. van Zuylen yang menghasilkan batik belanda di Pekalongan pada waktu itu.
Usaha pembatikan mereka diteruskan oleh anak mereka, Muljadi Widjaya dan
istrinya, M. Istiyanti Setiono. Cucu perempuan mereka, Oey Kiem Lian kini sudah terjun ke
bisnis itu juga. Sebenarnya banyak juga pernbatik terkemuka yang terpaksa menghentikan
usahanya karena keturunannya lebih suka memilih bidang usaha atau pekerjaan lain.
Di daerah Pekalongan, pembatikan sejak dulu dikelola oleh wanita. M. Istiyanti
Setiono yang sampai saat ini masih berusaha menghidupkan batik tulis halus, mendapat
didikan dari mertuanya, Kwee Nettie. Berikut ini beberapa batik yang dihasilkan oleh suami-
istri Oey Soe Tjoen dan Kwee Nettie.

The Tie Siet, Ny. Oey Kok Sing, Oei Khing Liem, dll.
Pemilik pembatikan lain yang menghasilkan kain-kain batik bermutu tinggi di
Pekalongan adalah The Tie Siet yang membuka usaha sejak sekitar tahun 1920-1950-
an.Tahun 1930-an, dibalik motif utama berupa buketan, ia mulai menghasilkan isen-isen atau
hiasan pengisi latar maupun ragam hias utama yang sangat padat. Isen-isen-nya bersifat bebas
seperti yang terdapat pada kain Lasem, bukan pada kain Pekalongan. Isen-isen yang sangat
padat juga dipakai mengisi latar salah satu sisi dari kain panjang pagi-sorenya.
Penghasil batik terkemuka lain adalah Oey Soen King, kelahiran 1861; menantuya
Ny. Oey Kok Sing yang namanya sendiri adalah Kho Tjing Nio dan cucunya Oey Djin Nio
atau Jane Hendromartono. Ny. Oey Kok Sing adalah pembatik yang mencantumkan tanggal,
bulan, dan tahun pembuatan batiknya.
Selain itu ada Oei Khing Liem yang memulai usahanya sekitar tahun 1910.
Ditemukan pula batik-batik yang selain menerakan tanda tangan Oey Siok Kiem, ditambahi
tulisan M.D. E. van Zuylen, artinya Model Dari E. van Zuylen!
Masih banyak lagi nama-nama lain yang akan Anda jumpai bersama batik mereka
berikut ini.
BATIK PENGARUH BELANDA

Kehadiran orang Eropa di panlai Nusantara sudah dimulai sejak tahun 1500. Mula-
mula orang Portugis, Spanyol, lalu Belanda mulai 1601 dan orang-orang Eropa lain.
Keturunan orang Eropa dengan pribumi dan bangsa lain di Nusantara disebut Indo-Eropa.
Paling banyak jumlahnya tentu saja Indo-Belanda.
Tadinya orang Eropa mempertahankan gaya pakaian mereka, tetapi pada abad XVII-
XVIII pa-kaiannya disesuaikan dengan iklim tropis. Bahan yang dipakai lebih tipis. Yang
paling populer di kalangan wanita Eropa dan Indo-Eropa adalah bahan katun yang diberi
motif dengan teknik cap dari India, yaitu chintz.
Sejak pertengahan abad XVIII mereka mulai beralih ke kain batik dan kebaya untuk
pakaian sehari-hari di rumah. Kebayanya putih longgar, diberi tepian renda. Kaum prianya di
rumah mengenakan celana batik longgar yang nyaman.
Orang Inggris di bawah Letnan Gubernur Jenderal Raffles yang sempat menggantikan
Belanda untuk waktu yang singkat (1811-1816), merasa terperangah melihat orang-orang
Eropa dan Indo-Eropa mengenakan "pakaian pribumi", yang mereka anggap tidak layak bagi
orang Eropa dan keturunannyu. Hanya kalau bepergian, bekerja atau pada acara-acara khusus
mereka mengenakan pakaian bergaya Eropa.
Pada masa Inggris berkuasa dan kemudian juga Belanda, mereka mulai mengimpor
kain putih halus buatan pabrik Eropa. Jadi, ketika kemudian permintaan akan batik
meningkat, bahannya tersedia. Tadinya mereka memakai kain tenunan tangan.
Wanita Indo-Eropa, seperti halnya wanita Cina peranakan, awalnya memesan atau
membeli batik buatan golongan lain. Lalu banyak yang mempekerjakan beberapa perempuan
perajin batik di halaman belakang rumah mereka, tapi hasilnya bukan untuk dijual.
Didorong oleh kebutuhan untuk mencari nafkah, sejumlah wanita Indo-Eropa di
pantai utara Jawa, memanfaatkan peluang untuk melayani permintaan akan batik di kalangan
mereka. Mulai sekitar tahun 1830-an mereka membuka pembatikan yang hasilnya untuk
dijual.
Pada dasarnya, batik bermutu tinggi dihasilkan oleh bahan yang baik, keterampilan
dan ketekunan perajin serta pengawasan yang terus-menerus, sehingga batik yang dihasilkan
di tempat majikan lebih baik jadinya daripada yang dikerjakan di rumah perajin sendiri.
Ragam hias setempat dan ragam bias Cina mulai ditambahi ragam hias pilihan wanita
Indo-Eropa sendiri. Mereka mendapat ilham dari gambar pada kartu pos, majalah-majalah
bergambar, buku-buku dsb. yang datang dari Eropa.
Warna pun disesuaikan dengan selera mereka. Umumnya tidak sesemarak warna batik
Cina peranakan. Belanda totok bahkan menyukai warna dan motif yang lebih tidak mencolok
lagi. Mereka kemudian memperkenalkan warna-warna pastel yang lembut.
Perkembangan batik belanda bisa kita lihat pada balik balik dalam koleksi ini.
I'elanggan mercka hukan cuina kalangan sencliri tctapi mcncrima pesanan dari pelanggan
Cina peranakan dan sebaliknya. Mereka juga menerima pesanan dari kalangan atas pribumi.
Karena itulah, setelah kaum Indo-Eropa tidak ada lagi yang mengenakan batik dan kebaya
sejak 1930, pembatikan Eliza van Zuylen masih berjalan dengan baik, karena memiliki
pelanggan golongan lain.

Berikut ini beberapa di antara tokoh penghasil batik belanda yang paling terkenal.

Batik Prankemonan
Diketahui seorang Indo-Jerman, Nona Carolina Josephina von Franquemont, sudah
sejak 1840 memulai usaha pembatikan di Surabaya,
Nn. von Franquemont membuat banyak tero-bosan dalam membuat batik, baik
desainnya maupun warnanya. Ia membuat batik warna-warni, meniru kain chintz yang mahal
dari India. Bukan sekadar cokelat (sogan), biru (biron), merah (bang-bangan), rnerah biru
(bang biron), merah ungu (bang ungon). Waktu itu batik masih memakai warna-warna alami
dari tetumbuhan seperti soga untuk warna cokelat, biru dari indigo yang disebut pula tarum,
torn atau nila dan warna merah dari akar mengkudu.
Sebenarnya sudah lama orang mencoba memakai tumbuh-tumbuhan lain untuk
menghasilkan warna lain seperti kunyit untuk warna kuiiing dsb. Namun warna kuning dari
kunyit mudah luntur. Prestasi Nn. Franquemont yang paling mengesankan ialah: ia bisa
menghasilkan warna hijan kebiruan dengan mencampur zat-aat warna lain dan pembabaran
berulang.
Ternyata penggemarnya banyak dan dari pel-bagai kalangan, sehingga ditiru para
juragan lain, walaupun ramuan dan dan takaran pewarna alami itu sangat dirahasiakan. Bukan
cuma warna yang ditiru, tetapi juga ragam hiasnya. Batiknya sering disebut batik
Prankemonan.
la juga memperkenalkan pinggir gaya baru di bagian bawah kain dan sepanjang
kepala, yang meniru motif renda, Oleh lidah setempat disebut booh, maksudnya boog,
lengkungan, karena pinggir gaya baru itu memperlihatkan lengkungan-lengkungan seperti
tepi renda. Pinggir di bagian kepala disamakan dengan pinggir pada badan. Penemuan ini pun
banyak diikuti sesama pembatik.

Pastromanan
Pada tahun 1845 Nn. Franquemont pindah ke Ungaran, dekat Semarang. Ia
bertetangga dengan seorang wanita Indo-Belanda yang mem-buka pembatikan juga, Nyonya
Catharina Carolina (Anna) van Oosterom. Kalau batik Nona Franquemont disebut batik
Prankemonan, maka batik Ny. Oosterom disebut Pastromanan.
Sepuluh tahun kemudian Ny. Van Oosterom pindah ke Banyumas untuk meneruskan
usahanya di sana. la memberi warna baru seperti merah pesisir dan corak Eropa pada batik
Banyumas yang tadinya meniru gaya Yogyakarta. Karena air tanahnya berbeda, meskipun ia
memakai skema warna yang sama dengan saat di Ungaran, hasilnya agak berbeda. Menurut
Harmen C. van Veldhuisen, yang meneliti, mengoleksi dan menulis buku yang bagus tentang
batik belanda, pastromanan juga disukai di Jawa Barat. Ny. van Oosterom juga membuat
selendang dan bahkan ikat kepala pria. la juga membuat batik untuk memperingati peristiwa-
peristiwa yang mengesankan dirinya seperti pertunjukan sandiwara.

Terikat kekerabatan atau hubungan kerja


Di antara pemilik pembatikan Indo-Eropa yang terkenal, terdapat nama-nama seperti
Ny. B. Fisfer, Ny. Susannah Weston Ferns, Ny. Scharff van Dop, Nn. J. Toorop, Ny. Carolina
Maria Meyer, Ny. J.A. de Witt; Ny. A.J.F. fans , Nn. A. Wollweber, Ny. W. Beer. Banyak di
antara mereka terikat tali kekerabatan atau pernah memiliki hubungan kerja. Selain itu,
Harnien C. Veldhuisen juga menyebutkan nama Ny. S.B. Feunem, C. Croes, Ny. L.
Fredericks, Nn. S. Haighton dan J. William, dll.
Setidaknya masa itu ada tiga tokoh batik belanda yang sebenarnya orang Asia.
Mereka adalah Ny. Simonet yang lahir sebagai Tan len Nio, Ny. Maria Paulina Carp yang
menurut keluarganya adalah putri Bupati Demak Pangeran Ario Tjondronegoro dari seorang
selir bernama Rapilla, dan seorang pria bernama Raden Mas Padmo Soediro. Sementara itu
Ny. A.J.F. Jans adalah satu-satunya yang berayah-bundakan Belanda totok.

Lien Metzelaar
Dua nama besar dalam sejarah batik belanda yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Ny.
Lien Metzelaar-de Stoop dan Eliza (Lies) van Zuylen-Nlessen. Keduanya dari Pekalongan.
Ny. L. Metzelaar membuat batik antara tahun 1880-3919, berarti dalam masa
keemasan batik belanda. Semula ia menandatangani batiknya: "L. Metzelaar Pekalongan",
lama-kelamaan cuma "L. Metz Pek".
Orang yang melihat bakat Ny. Metzelaar untuk menghasilkan batik yang bagus adalah
seorang saudagar batik Arab, Baoudjir. Ia memodali wanita Indo-Belanda itu untuk
menghasilkan batik yang dijualnya ke Batavia. Sementara itu, kemenakan Ny. Metzelaar,
Lien Antonijs-de Beer, menjualkan batik Iniatan bibinya ke kalangan atas Pekalongan.
Penemuan-penemuan barunya ditiru pembatik lain. Kepala kain bukan lagi diberi
ragam bias pasung, tetapibunga-bungaan; ataubunga-bungaan di antara lajur-lajur yang
dihiasi titik-titik, garis atau hiasan lain; atau bunga-bungaan dengan satu lajur miring yang
lebar (dlorong). Motif burung mulai ditemukan di kepala. Motif nitiknya biasanya tidak
dibuat sendiri, tetapi dibuatkan pada pembatikan Haji May. Pembatik keturunan Arab di
Pekalongan ini memang termasyhur dengan motif nitiknya.
Kita juga melihat Ny. Metzelaar sudah memakai tata letak terang bulan di sebagian
batiknya. Terang bulan yang muncul sekitar tahun 1870-an akan menjadi mode lagi sekitar
tahun 1920-an di Garut dan Tasikmalaya dan pada zaman Jepang (1942-1945) di Pekalongan
dalam bentuk batik Djawa Hokokai.
Ada lagi yang banyak ditiru pembatik lain dari Ny. Metzelaar, yaitu motif bangaunya
yang Anda lihat pada kepala salah satu batiknya. Bangau Metzelaar itu akan Anda temukan
lagi pada banyak batik buatan orang lain.

Eliza Charlotte (Lies) van Zuylen


Batik van Zuylen atau "panselen" menurut lidah banyak orang, merupakan batik
belanda yang paling terkenal. Lies pekerja keras yang rnemiliki jiwa bisnis. Tahun 1890 ia
mulai membuka pembatikan di Pekalongan dan tahun 1918 sudah menjadi pemilik
pembatikan Indo-Eropa terbesar di Jawa.
Kalau kita perhatikan batik-batiknya yang dibuat tahun 1900, ia sudah berani
memakai motif yang sama untuk badan dan kepala. Di badan, motif kepala diulang beberapa
kali. Walaupun sudah dikenal sebelumnya, E. van Zuylen-lah yang memopulerkan buket
bunga, yang kemudian disebut buketan dan ditiru dan bahkan dijiplak para pesaingnya di
sepanjang pesisir Jawa. Buketan ini bertahan lama, bahkan masih ada penggemarnya di abad
XXI. Begitu pula warna-warna pastelnya.
Penggemar batiknya tidak terbatas pada golongan Indo-Eropa. Saking banyak
pesanan, kadang-kadang ia terpaksa meminta bantuan perajin di luar pembatikannya dan
hasilnya tidak sebaik batik yang dikerjakan di bawah pengawasan ketat di pembatikannya.
Karena batiknya banyak disukai, banyak pula yang memalsukannya. Setelah tahun 1940 ia
mengalami kesulitan menulis, sehingga tidak menandatangani lagi kainnya. Namun peng-
gemarnya tahu mana karyanya yang asli walaupun tanpa tanda tangannya.
Eliza (Lies) van Zuylen yang lahir tahun 1863, meninggal di Pekalongan pada tahun
1947.
BATIK OJAWA HOKOKAI

Antara tahun 1942-1945, Indonesia dijajah olch Jepang. Sekitar masa itu, muncul
jenis batik pesisir yang herbeda daripada yang sebelumnya, terutama di Pekalongan dan
sekitarnya seperti Kedungwuni dan Batang.
Batik itu disebut Batik Djawa Hokokai, me-nurut nama organisasi bentukan Jepang
yang ber-anggotakan orang Indonesia, tetapi dipimpin oleh kepala pemerintahan militer
Jepang.
Ciri utamanya adalah warnanya sangat beraneka ragam, Pada satu kain bisa lima
sampai enam warna dengan kombinasi yang berani seperti merah muda dengan hijau atau
ungu dengan kuning.
Pewarnaan dilakukan dengan warna kimia, dengan penceiupan berulang-ulang.
Berarti membutuhkan pelorodan malam dan penutupan kembali dengan malam berulang-
ulang pula. Ada yang mengatakan, batik Djawa Hokokai juga memakai sistem colet, tapi
persentasenya kecil sekali.
Menurut Eiko Adnan Kusuma, seorang kolektor batik, teknik pewarnaan batik itu
mirip dengan yuzen, yaitu teknik pewarnaan kain yang popular di Jepang sejak tahun 1700.
Ciri-cirinya: warna cenderung terang, gambar motif sesuai aslinya dan efek tiga dimensi yang
diperoleh dari permainan warna.
Kalau efek tiga dimensi pada yuzen diperoleh dengan keterampilan menggunakan
kuas, maka pada kain Djawa Hokokai merupakan hasil ketelitian pembatik membubuhkan
malam dan memberi isen-isen yang sangat halus.
Motif utama batik ini, berupa bunga-bungaan berukuran besar. Bunga yang sering
muncul adalah peony, seruni, sakura dan bunga-bunga yang pernah ada sebelum zaman
Jepang. Seperti layaknya batik pesisir, ragam hiasnya bersifat naturalis. Motif lain yang
sering muncul adalah kupu-kupu dengan sayap wama-warni, burung merak dan kipas. Kupu-
kupunya besar, bukan sekadar motif tambahan seperti sebelum zaman Jepang.
Motif itu diatur seperti pada kain batik terang bulan, yaitu pada dua pinggir kain.
Susunan motif utama seperti ini oleh orang Jepang disebut sushomoyo. Susho artinya motif
border bawah dan ditemui juga pada kimono yang motifnya penuh dan ramai di bagian
bawah, tetapi makin ke atas makin kecil atau makin jarang.
Kalau batik terang bulan biasa memiliki latar polos, sebaliknya latar batik Djawa
Hokokai dipenuhi motif yang lebih kecil, biasanya motif khas Indonesia seperti tanahan
semarangan, kawung, atau parang. Tanahan semarangan yang motifnya kecil-kecil mulai
dibuat oleh pembatik Cina peranakan di Solo tahun 1940 dan disukai wanita Cina peranakan
di Semarang.
Yang nienarik adalah ragam hiasnya dibatik memenuhi setiap senti kain. Jarang sekali
ada bidang yang kosong. Beberapa pihak berpendapat bahwa motif rumit di seluruh
permukaan kain, dan aneka warna yang memerlukan proses pencelupan berulang-ulang itu
mestinya ada alasannya. Masa itu memperoleh kain putih untuk bahan pembatikan sulit
sekali. Selain itu terjadi krisis pekerjaan. Supaya tidak terjadi pengangguran akibat
kelangkaan kain, sehelai kain dibatik serumit mungkin dan dicelup berulang-ulang agar
makan waktu pembuatan selama mungkin.
Batik Djawa Hokokai memiliki kepala, badan, motif pinggir dan sered di sisi paling
pinggir dari kepala. Bentuknya hampir selalu kain panjang dua sisi, artinya pada satu badan
terdapat dua desain yang berbeda. Mungkin karena kelangkaan kain, sehelai batik bisa
dipakai pagi dan sore tanpa kentara kalau kainnya itu-itu juga. Karena itu bila pada sehelai
kain terdapat dua desain yang berbeda, atau desainnya sama tetapi warnanya yang satu gelap
yang satu terang, kain itu disebut kain pagi-sore. Warna yang lebih cerah biasanya dipakai
untuk pagi hari dan yang lebih gelap untuk sore hari. Kain seperti ini sudah ada sebelum
zaman Jepang.
Tidak benar kalau kain panjang ini dikatakan dibuat untuk kimono. Bentuk pagi
sorenya tidak memungkinkan ia dipotong untuk dijadikan kimono.
Walaupun batik Djawa Hokokai termasuk batik halus yang indah, jarang sekali cap
atau tanda tangan pembuatnya diterakan. Mungkin mereka tidak mau masyarakat luas
mengetahuinya. Kalau mengingat saat itu sulit sekali mendapat kain putih halus dan bahan
pembatikan yang baik, mungkin sekali bahan-bahan pembuat batik Djawa llokokai dipasok
oleh Jepang, dengan imbalan kain batik yang sudah jadi.
Ada yang menduga batik halus itu dipesan oleh orang Jepang untuk istri mereka yang
orang Indonesia atau untuk dihadiahkan kepada orang Indonesia dan Cina peranakan kelas
atas di daerah Pekalongan yang telah membantu mereka.
Menurut Iwan Tirta, ditinjau dari warna-warninya yang semarak, batik itu sesuai
dengan selera wanita Cina peranakan kelas atas di Pekalongan.
Walaupun nama pembuat tidak diterakan, dilihat dari kehalusannya diduga kain-kain
itu dibuat di pembatikan-pernbatikan milik Cina peranakan, Indo-Eropa dan Indo-Arab yang
terkenal halus batikannya. Rens Heringa menyebut nama Oey Soe Tjoen dan Oey Siok Kiem
dari Kedungwuni, Oei Khing Liem dan Eliza van Zuylen dari Pekalongan.
Pada zaman Jepang, Oey Soe Tjoen dan Eliza van Zuylen diketahui membuat obi
(ikat pinggang untuk kimono) yang dibatik dan kain panjang pagi sore atas perintah Jepang.
Keluarga Eliza van Zuylen tidak diinternir seperti orang Eropa dan orang Indo-Eropa lain,
karena keahlian mereka rnembuat batik dibutuhkan Jepang. Oey Siok Kiem dari Kedungwuni
diketahui tercantum namanya pada sehelai batik Djawa Hokokai yang menjadi koleksi Los
Angeles County Museum of Art. Mereka membuat batik yang gayanya bukan seperti gaya
mereka yang biasa, mungkin menuruti permintaan pemesan.
Motif kupu-kupu dan burung merupakan motif favorit pada batik pesisir. Biasanya
sebagai pengisi ruang kosong. Namun dalam batik buatan tahun 1943 ini, kupu-kupu
dijadikan sebagai motif utama.
Kain panjang yang digolongkan sebagai jenis kain Djawa Hokokai ini diberi nama
Sam Pek Eng Tay (Shanbo Yingtai). Dalam cerita yang berasal dari Dinasti Tang (618-907)
diceritakan bahwa Zhu Yingtai, putri seorang hartawan, menyamar menjadi laki-laki supaya
bisa menuntut ilmu di sebuah sekolah di Hangzhou.
Di sekolah itu Ia bersahabat dengan Liang Shanbo, dan diam-diam jatuh cinta kepada
pemuda itu. Ketika Yingtai sudah kembali ke rumah orang tuanya, ia mengundang Shanbo
untuk datang, dengan dalih akan diperkenalkan kepada adik perempuannya. Shanbo segera
jatuh cinta pada gadis yang ternyata mantan teman sekolahnya itu.
Ada versi lain yang menceritakan bahwa setelah tiga tahun menuntut ilmu bersama-
sama, Yingtai dijemput untuk pulang. Menjelang pulang ia membuka rahasianya kepada
Shanbo dan Shanbo jatuh cinta kepada Yingtai.
Namun orang tua Yingtai menentang percintaan mereka, karena orangtua Shanbo
tidak kaya. Lagi pula Yingtai sudah ditunangkan dengan.putra seorang hartawan. Shanbo
akhirnya meninggal karena berduka.
Ketika Yingtai akan dinikahkan dengan orang lain, ia dan pengiring-pengiringnya
menumpang perahu melewati sebuah makam. Di situ perahunya tidak bisa melaju. Lalu
seseorang memberi tahu bahwa makam di tepi sungai itu adalah makam Shanbo. Yingtai
memaksa untuk turun dari perahu. Konon tanah makam itu terbelah ketika Yingtai menangis
di dekatnya. Yingtai segera melompat ke dalamnya. Kedua kekasih itu kemudian keluar dari
liang kubur sebagai sepasang kupu-kupu.
Pada batik ini makam Shanbo digambarkan sebagai gundukan tanah dan Yingtai
sebagai merak. Kupu-kupu melambangkan cinta, termasuk cinta remaja dan cinta sejati yang
tidak terpisahkan. Kupu-kupu disebut hudie dan die juga berarti "umur 90 tahun" sehingga
dijadikan lambang umur panjang.
BATIK UNTUK ANAK-ANAK

Anak-anak juga memakai kain batik. Panjang dan lebarnya tentu saja disesuaikan.
BATIK BATANG

Batang letaknya cuma 8 km dari Pekalongan. Seperti Pekalongan, kota ini juga
menghasil-kan batik dan bukan sembarang batik. Ciri batik Batang sama seperti batik
Pekalongan, tetapi warna-warnanya lebih kelam. Salah satu perbedaan dapat dilihat dari batik
bang birori. Di Pekalongan batik bang biron biasanya memakai latar berwarna krem tetapi di
batik Batang latarnya berwarna kopi susu.
BATIK TEGAL

Corak batik Tegal termasuk besar, berupa fauna dan flora dan juga lar atau sayap
garuda. Kita juga menemukan corak gribigan, beras mawur, batu pecah, ukel, dan corak
yang disebut kuku macan dan tapak kebo. Peda-gangpedagang batik dari Tegal, pada masa
yang silam membawa dagangannya sampai Tasikmalaya dan Garut, sehingga ikut
memengaruhi batik di tempat-tempat itu.
Sebagai kota pesisir, Tegal pun tidak luput dari pengaruh Cina dan Belanda dan
terutama dari tetangganya, Pekalongan. Bedanya dengan Pekalongan sering hanya di variasi
warna. Di Pekalongan, warna pada badan biasanya lebih muda. Selain itu batik Tegal tidak
terlalu banyak memakai isen-isen.
BATIK LASEM

Lasem di masa yang lampau termasyhur karena warna merahnya yang dijuluki abang
getih pithik (merah darah ayam). Warna merah alami itu diperoleh dari akar mengkudu dan
tidak bisa ditiru di tempat-tempat lain. Banyak orang di luar Lasem ingin mengetahui resep
warna merah yang sangat dirahasiakan itu. Namun diduga merah yang bagus itu disebabkan
bukan cuma karena ramuan zat warnanya, tetapi juga karena kandung-an mineral pada air di
daerah itu, yang dipakai melarutkan zat warna.
Lasem bukan cuma menghasilkan batik sendiri, tetapi juga memasok blangkoan untuk
sentra batik lain seperti Pekalongan, Solo, dll. Blangkoan adalah kain putih yang kepala dan
pinggirnya sudah dibatik dengan warna merah dari akar mengkudu, tetapi badannya dibiarkan
kosong. Blangkoan ini akan dibeli pembatik-pembatik di tempat lain, untuk diisi badannya
dengan ragam hias dan warna-warna lain.
Salah satu ciri hiasan pinggir pada batik Lasem dan blangkoan adalah bunga anyelir
atau carnation, yang di sini disebut celuki atau teluki. Karena Lasem terkenal merahnya, Solo
soganya dan Pekalongan birunya, sampai-sampai ada jenis batik mahal yang disebut "tiga
negeri", yaitu yang merahnya dibuat di Lasem, birunya di Pekalongan dan soganya di Solo.
Namun tiga negeri juga bisa dibuat umpamanya saja merahnya di Lasem, soganya di Batang
dan birunya di Pekalongan. Ada juga tiga negeri yang merahnya dibuat di Semarang, birunya
di Kudus dan soganya di Demak, tetapi merah Semarang agak mengarah ke jingga dan soga
Demak tidak sama dengan soga Solo.
Di Lasem, ada batik yang dihasilkan oleh penduduk desa di rumah masing-masing di
kala seng-gang. Ada pula yang dikerjakan oleh buruh batik di pembatikan-pembatikan dan
sangat dipengaruhi kebudayaan Cina, Yang kedua ini lebih banyak berperan dan disebut
laseman. Lasem yang terletak dekat perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur merupakan
salah satu dari tiga pelabuhan penting pada zaman Majapahit dan tempat persinggahan paling
awal dari para perantau Cina yang lalu menyebar ke Demak, Kudus dan sekitarnya. Jumlah
penduduk keturunan Cina juga besar di sana.
Penampilan laseman berbeda daripada batik Pekalongan yang dihasilkan penduduk
Cina peranakan, terutama warnanya. Menurut Nian S. Djoemena, tata warna laseman
mengingatkan pada benda-benda porselin kuno dari Cina. Kalau kita lihat batik-batik laseman
dari koleksi ini, kita akan paham maksud beliau. Tata warna itu adalah: Bangbangan, yaitu
ragam hias merah di atas dasar putih susu (off white) atau sebaliknya.
Kelengan, yaitu ragam hias biru di atas latar putih susu atau sebaliknya.
Bang biron, yaitu ragam hias merah dan biru di atas latar putih susu.
Bang ijo, yaitu ragam hias merah, biru dan hijau di atas dasar putih susu.
Barigungon, yaitu ragam hias merah dan ungu di atas dasar putih susu.
Selain itu didapati juga batik-batik yang memakai warna soga. Batik penduduk desa
juga memakai warna merah, biru dan hijau. Lasem dan Indramayu juga sama-sama
menerapkan motif latar yang khas, yaitu titik-titik yang disebut cocohan.
Batik yang memakai soga ini ada yang motifnya disebut Kendoro-Kendiri, lasem
sekar jagad, gring-sing, lasem lunglungan, parang sekar es teh, dsb.
Ragam hias pasung, pohon hayat, parang, lar, kawung, ceplok menunjukkan pengaruh
India dan Hindu-Jawa.
Kita tahu bahwa burung hong, kilin, naga, makara, rusa, kupu-kupu, kelelawar, kura-
kura, kepi-ting, udang, delima, lotus, banji, dsb merupakan ciri pengaruh Cina dan
menyiratkan arti tertentu. Motif itu banyak kita jumpai pada laseman. Barangkali Anda ingat
pada dua seprai sarat makna yang kita temukan di "Belanga Peleburan".
Laseman yang berjaya lebih dulu dari batik Pekalongan, terdesak oleh batik belanda
sejak pertengahan abad XIX. Jadi mereka berusaha mengikuti selera pasar dengan
menyesuaikan diri pada ragam hias dan kecenderungan barn di Pekalongan. Namun mereka
tidak meninggalkan kepala yang dihias dengan pucuk rebung, yang diisi dengan ragam hias
Cina seperti burung hong, kilin, banji dsb. Pucuk rebung kemudian dimodifikasi dan menjadi
pelbagai variasi tumpal jepit.
Jarang dijumpai kepala bergaya buketan seperti batik Pekalongan, walaupun ada juga
pembatik yang mengkhususkan diri membuat batik gaya Pekalongan.
Kain Lasem juga disukai di Sumatra. Jadi orang Lasem membuat batik untuk
konsumsi Sumatra dengan menyesuaikannya pada selera konsumen setempat. Umpamanya
dengan motif patola dan kain panjang diberi dua kepala berbeda warna, satu berwarna lebih
gelap, yang lain lebih terang. Di Sumatra, kain-kain yang didatangkan dari Jawa kadang-
kadang ditambahi perada. Selain itu untuk konsumsi Sumatra mereka juga membuat
selendang/kerudung.
Lasem seperti halnya Rembang dan Indramayu, merupakan salah satu daerah yang
menghasilkan lokcan, yaitu selendang sutera yang biasanya berwarna biru muda kehijauan
yang diberi motif burung hong, kilin, banji dsb. Untuk Sumatra Barat dibuat berwarna seperti
tanah Hat sehingga di sana disebut kain tanah Hat. Biasanya selendang itu cuma terdiri atas
satu warna. Motif bisa dibedakan dari dasar berdasarkan tua muda warnanya.
Lokcan disukai di Sumatra, Bali, Lombok, Sumbawa untuk dipakai dalam upacara.
Bahkan di Sumatra Barat juga dikenakan oleh kaum pria.
Batik Lasem praktis tidak berproduksi saat zaman penjajahan Jepang karena
kelangkaan bahan baku. Seusai perang, mereka tidak bisa merebut pasar semula yang tadinya
bukan hanya di Jawa dan sebagian Sumatra, tetapi juga mencapai Sulawesi Utara, Malaka,
dan Suriname. Pangsa pasar mereka, kaum wanita Cina peranakan telah beralih ke pakaian
gaya Eropa. Mereka mencari konsumen baru di kalangan pribumi, dengan mengubah ragam
hias dan warna, tetapi kejayaan lama tidak teraih kembali.
Batik Lasem sampai saat ini masih dicari sebagai bagian dari seserahan, yaitu antaran
dari pihak pengantin lelaki untuk pengantin perempuan di masyarakat Jawa pesisir.

Tokoh-tokoh pada kain ini luar biasa. Ada naga bertubuh manusia, ada wanita
menunggang kerang, ada kepiting, udang, ikan berkepala naga (makara), kura-kura yang
semuanya berbadan manusia dan bahkan anjing terbang. Namun yang paling mencengangkan
ialah naga itu membawa bendera Belanda. Ada pula tokoh yang menunggang kura-kura
sambi! membawa membawa bendera Amerika Serikat, sedangkan seekor serangga air
membawa bendera bertuliskan "Selamet" dan siluman kura-kura membawa bendera
bergambar "gajah putih'. 'Apakah yang ingin disampaikan oleh kain itu? Untuk keperluan apa
kain yang pengerjaannya halus itu dibuat?
Tokoh naga di Cina yang paling dikenal di Indonesia adalah Donghai Longwang atau
dalam dialek Hokian disebut Hai Liong Ong. la dan tiga saudara laki-lakinya disebut Empat
Raja Naga. Mereka masing-masing merajai laut di sebelahTimur, Barat, Utara, dan Selatan.
Donghai Longwang ditakuti karena ia diyakini bisa mendatangkan hujan maupun
kemarau panjang, banjirdi darat maupun gelombang besar dan badai di laut. Sedapat-
dapatnya orang berusaha menyenangkan para naga itu, supaya hujan yang menyuburkan
tanahlah yang mereka peroleh, bukan malapetaka.
Donghai Longwang yang sakti dan garang itu diceritakan tinggal dalam istana kristal
yang megah di dasar laut. la bisa terbang dan bahkan berganti rupa menjadi manusia. la
memiliki bala tentara udang dan jenderal-jenderal kepiting.
Apakah naga berbadan manusia pada batik itu Donghai Longwang?

Kain sarung buatan Lasem yang dijadikan sampul buku ini, warnanya indah, merah
dan biru atau bang biron. Saat kain ini dibuat (1890-1900), belum dipakai warna sintetis.
Merahnya didapat dari akar mengkudu (Morinda citrifelia L). Warna merah dari akar
mengkudu yang dihasilkan di Lasem, tidak bisa ditandingi di tempat-tempat lain. Warna
birunya diperoieh dari tanaman indigo atau disebut pula tarum/tom.
Bagian kepala sarung ini memakai ragam hias berbentuk pasung atau pucuk rebung.
Kepala dan badan kain dibatasi dengan bidang membujur yang disebut papan dan papan ini
dihias dengan indah.
Badan kain diberi ragam hias tanaman lotus yang luwes dan juga gambar anak
menunggang kilin yang menunjukkan pengaruh Cina. Kilin adalah makhluk mitologi yang
dianggap membawa kabar baik, mengisyaratkan lahirnya orang besar dan juga memberi anak
laki-laki. Anak laki-laki pemberian kilin dianggap akan menjadi pejabat tinggi atau
mengangkat martabat keluarga. Selain itu bunyi "ki" pada kilin, sama dengan bunyi "qi" yang
artinya berumur panjang.
Bunga lotus disebut lian hua. Lian di sini diucapkan sama dengan lian yang artinya
"terus-menerus'' Anak menunggang kilin yang membawa bunga lotus melambangkan harapan
untuk memiliki putra-putra lain.
Rupanya kain ini dibuat untuk dipakai oleh wanita yang ingin terus-menerus
melahirkan anak laki-laki dan anak laki-laki itu diharapkan menjadi orang terpandang dan
berumur panjang.
BATIK KUDUS

Menurut Nian S. Djoemena, ada pendapat yang menyatakan bahwa batik berhiaskan
kaligrafi Arab yang kini dibuat di Cirebon, Jarabi dan Bengkulu, mula-mula dibuat di Demak
dan Kudus. Kain batik itu mendapat pasaran yang baik, diantaranya di Jambi dan Bengkulu,
yang kini membuatnya sendiri.
Kemudian di Demak dan Kudus berkembang batik jenis lain. Konon ada orang-orang
Cina dari Demak, Kudus dan Semarang yang mendatangkan perajin-perajin batik dari
Pekalongan, untuk membuat batik seturut selera mereka. Ketiga daerah itu menghasilkan
batik yang nyaris sama. Pada umumnya latarnya luar biasa rumit dan berwarna cokelat.
Corak utamanya bisa buketan, bunga, burung, dan kupu-kupu.
Pembatik Cina peranakan yang menghasilkan batik Kudus paling halus pengerjaannya
adalah Lie Boen In dan Lieni Wie Tjioe. Lie Boen In tidak membuat batik pembatikannya
hanya membuat batik untuk keperluan keluarga mereka dan pelanggan terbatas. Karena
jumlahnya sedikit dan mutunya prima, sekarang batiknya banyak dicari kolektor.
Walaupun Demak dan Kudus menghasilkan batik yang indah, tetapi kejayaannya
tidak bertahan, karena penduduknya tidak memiliki tradisi membatik. Beda dengan
Pekalongan. Batik gaya Kudus malah kemudian dibuat di. Pekalongan seperti oleh Liem Siok
Hien yang menuliskan "Kudus" pada kain batiknya, yaitu kalau dibuat dengan gaya Kudus.
Berikut ini Anda bisa menikmati batik Kudus yang dibuat tahun 1910-1940-an.
BATIK BANYUMAS

Dibandingkan dengan batik pesisir yang lain, batik Banyumas paling dekat ke batik
Solo. Maklumlah letaknya bukan di pesisir. Di masa yang lalu orang Banyumas mendapat
tugas menjadi penjaga perbatasan dan penarik pajak untuk keraton. Batik Banyumas biasa
disebut banyumasan dan memakai sogan yang agak kuning kemerahan, seperti yang dibuat
oleh Jonas, pemba-tik keturunan Belanda di Solo. Warna latarnya gading, lebih muda dari
batik Solo dan mengilhami warna latar gumading pada batik Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut
yang letaknya berdekatan.
Di Banyumas dikenal corak batik yang disebut ayam puger, konon nama itu diilhami
oleh kedatangan Pangeran Puger ke kawasan itu, saat mengungsi dalam perang saudara di
Mataram.
Ragam hiasnya banyak dipengaruhi ragam hias Solo seperti parang curiga, lar, tambal
dsb. Namun mempunyai corak khas sendiri seperti plonto gularan seling parang klitik,
godong lumbu atau daun keladi, jahe serimpang dan ayam puger.
Di sini, batik tulis lebih banyak dibuat oleh keluarga ningrat Banyumas seperti
keluarga Pangeran Arya Gandasubrata yang menjadi bupati di. sana 1913-1933. Bupati itu
menciptakan corak parang gandasuli dan madu bronto untuk keturunannya.
Kalau di masa yang lain pembatikan banyak dikelola oleh perempuan, maka di
Banyumas pria pun ada yang menjadi pembatik. Kita juga ingat, bahwa salah seorang perintis
batik belanda yang andal, Ny. Catharina Carolina van Oosterom yang mulai membuka
pembatikan di Ungaran dekat Semarang sekitar tahun 1845-an, pada tahun 1855 pindah ke
Banyumas. Perempuan Indo-Belanda yang sudah sukses di Ungaran itu, ternyata berhasil
pula di tempat yang baru.
Ia menghasilkan kain-kain yang kepalanya indah terdiri atas pelbagai variasi pasting
dan badannya sangat variatif, umumnya berbau Eropa, mulai dari bunga, buah anggur,
pelbagai binatang, sampai malaikat, Cupido yang suka menembakkan panah asmara dan
dongeng-dongeng. Warna-warnanya merah kelam, biru atau hitam dan krem, yang agak
berbeda daripada di Ungaran, mungkin karena pengaruh air tanah yang berbeda.
Batik-batiknya popular di kalangan wanita keturunan Cina. Karena itu juga ia
membuat batik dengan motif dari mitologi Cina. Karyanya juga disukai kalangan masyarakat
Bandung yang sejak dulu merupakan pusat mode dan pernah dijuluki Parijs van Java, Paris
dari Jawa.
Seperti di mana-mana, di sini pun dijumpai pemilik pembatikan Cina peranakan.
BATIK CIREBON DAN INDRAMAYU

Dari seluruh kota pesisir utara Jawa, batik Cirebon termasuk unik. Cirebon pernah
menjadi pusat persinggahah kapal-kapal dari Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia. Selain
itu, Cirebon juga merupakan salah satu kota Islam tertua di Jawa. Semua inilah yang ikut
membentuk batik Cirebon, yang merupakan perpaduan corak Cina, Eropa, Arab, Hindu serta
budaya Cirebon sendiri.
Walau secara umum batik Cirebon yang terpusat di Desa Trusmi dan Kalitengah itu
termasuk dalam kelompok batik pesisir, tapi ia juga dapat dikatakan masuk dalam kelompok
batik keraton. Cirebon masih memiliki dua keraton, Keraton Kasepuhan dan Keraton
Kanoman dari abad XVI, yang masih memiliki pengaruh cukup kuat.
Ragam hias batik keraton di Cirebon juga lebih bersifat simbolis dan banyak
dipengaruhi kebudayaan Hindu Jawa. Ragam hias sawat, lar, parang menjadi bukti adanya
hubungan kebudayaan dengan daerah Solo-Yogya. Ciri warna dasar batik keraton Cirebon
yang didominasi warna putih, biru dan cokelat banyak memiliki corak yang dipengaruhi
Cina, Arab dan Hindu.
Pengaruh Cina pada ragam hias batik Cirebon umumnya bergaris tebal dan boleh
dikatakan bebas dari motif-motif yang mendetail. Ini terlihat jelas pada ragam hias wadasan
dan mega mendung, dengan tata warna yang bergradasi, yang menjadi ciri khas batik
Cirebon. Tidak ketinggalan motif binatang dan bunga, seperti kilin, burung hong serta banji.
Seperti kota-kota pesisir lainnya, ragam hias batik Cirebon juga banyak menampilkan
hal-hal yang terkait dengan laut, seperti ikan, udang, ganggeng atau rumput laut serta kapal
keruk. Demikian pula adanya hubungan dengan Indramayu tetangganya, terlihat dari adanya
kesamaan dalam ragam bias kapal kandas misalnya.
Batik Indramayu sendiri sering disebut dermayon dan dulu banyak dibuat oleh istri
para nelayan di desa Paoman, Babad, dan Terusan. Batik Indramayu dibuat dengan
menggunakan alat sederhana, berupa canting besar. Sedangkan untuk mengisi bidang yang
kosong digunakan complongan. Complongan berbentuk mirip sisir serit, yang ujungnya
terdiri dari deretan jarum yang bisa menghasilkan titik-titik yang disebut cocohan.
Agar pengerjaannya tidak lama, mereka hanya memakai satu warna saja, yaitu biru
tua atau hitam, merah atau cokelat, yang diperoleh dari tanaman mengkudu dan mahoni.
Walau cuma memakai satu warna, umpamanya biru, tetapi hasilnya seakan-akan memakai
dua warna, biru tua dan biru muda, karena zat warna melunturi dasarnya. Jarang sekali
dermayon memakai dua warna.
Ragam hiasnya diilhami alam sekitar seperti udang dalam motif urang ayu, ganggang
dalain motif ganggeng, ikan dalam motif iwak etong, burung dara dalam dara kipu, kerang
dalam sawat gunting dan kapal dalam motif kapal kandas. Motif terakhir ini dikenal juga di
berbagai kota pelabuhan lainnya, karena adanya hubungan sejak dahulu.
Selain itu, layaknya kota pelabuhan, ragam hias dermayon juga ikut dipengaruhi
pelbagai kebudayaan, seperti kebudayaan Islam, Cina, India, Belanda, Cirebon, dsb. Jadi
mereka juga mengenal pasung pada kepala kain panjang, motif lengko-lengko seperti di
Cirebon yang di sini disebut obar-abir dll.
Selendang kelengan ini di tengahnya bergambar kilin. Lalu sekelilingnya ada gambar
yang kiri dan kanan saling berhadapan seperti bercermin. Namun kalau kita perhatikan,
ternyata di sisi yang satu orang-orangnya perempuan dan di sisi yang lain laki-laki. Pasangan
yang di tengah berpakaian Cina dan seperti berdiri di awan. Pasangan yang di ujung
mengenakan pakaian Barat.
Selain binatang-binatang penyandang lambang yang baik-baik dalam kebudayaan
Cina seperti makara (ikan berkepala naga), naga, udang, kelelawar, burung, kupu-kupu,
ayam, kalajengking, kita juga melihat umang-umang dan bahkan garuda! Motif selendang ini
semuanya berpasang-pasangan, baik yang hidup di darat, laut dan udara. Sementara binatang-
binatang berbisa dianggap sebagai penolak bala, keielawar dianggap pembawa
keberuntungan, kebahagiaan dan umur panjang.
BATIK GARUT

Letak Garut di selatan, berdekatan dengan Ciamis dan Tasikmalaya. Jadi warna dan
ragam hias batiknya pun lebih mendekati kedua tetangganya. Namun tidak lepas dari
pengaruh Solo-Yogya maupun Pekalongan dan Cirebon. Kebudayaan Cina dan Belanda
yang diadaptasi batik pesisir, tidak luput juga memengaruhi batik Garut.
BATIK SIDOARJO

Sidoarjo terletak di pantai Jawa Timur, antara Surabaya dan Pasuruan, di sebelah
selatan Pulau Madura. Di Sidoarjo bermukim banyak orang Madura. Jadi tidak heran kalau
kita melihat ciri-ciri yang mengingatkan pada batik Madura, seperti warna merah tua, biru
dan hijau yang berani. Garis-garis pada batiknya pun tegas dan motifnya besar.
Sayang sekali, Sidoarjo pun kini hampir tidak berperan lagi sebagai penghasil batik
yang mengagumkan.
Berikut ini empat batik Sidoarjo yang dibuat antara tahun 1920-1940 dan memiliki
corak berbeda-beda.
BATIK MADURA

Motif dan warna yang tertuang di dalam kain batik Madura rnerefleksikan karakter
masyarakatnya. Pelaut Madura terkenal hebat. Berbulan-bulan lamanya mereka
meninggalkan kampung halamannya untuk berdagang antarpulau. Selain membawa hasil
bumi, ternak dan kayu, para pelaut yang juga nelayan ini ikut memasarkan batik saat mereka
berdagang ke Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem dan berbagai tempat lainnya.
Batik Madura dibuat oleh para wanita yang di-tinggal di kampung, di sela-sela
kesibukan bertani, untuk meningkatkan penghasilan. Demikianlah, batik Madura dikerjakan
secara tradisional dan tidak terlalu masal. Daerah pembatikan di Madura yang terkenal ada di
Bangkalan, kecamatan Tanjung Bumi, di Sampang, Pamekasan, juga di Sumenep.
Seperti umumnya batik pesisir, ragam bias serta warna batik Madura juga beraneka
warna. Warna utama batik Madura umumnya merah, merah tua atau jingga, biru tua, hijau
tua, hitam dan putih. Namun dalam perkembangannya, akibat terkena proses modernisasi,
dan permintaan pasar, terutama di Pamekasan, batik Madura kemudian juga mulai
menggunakan warna seperti biru muda, cokelat muda.
Sedangkan ragam bias batik Madura bersifat naturalistis. Apa yang dilihat di alam
sekitar, itulah yang digambar. Contohnya, ayam bekisar, udang, kepiting maupun tumbuh-
tumbuhan. Semua itu digambarkan secara mencolok, kuat dan berani, yang merupakan ciri
lain dari batik Madura.
Akibat hubungan dagang, tentunya ragam bias batik, Madura juga tidak lepas dari
pengaruh luar. Pengaruh SoJo-Yogya jelas terlihat dari adanya motif lar atau sawat pada batik
Madura yang disebut Sabet rantay, Sabet kraton. Corak kerang atau kemeh atau yang di Jawa
disebut keong pada batik Madura, jelas memperlihatkan adanya pengaruh dari India.
Sedangkan: ragam bias burung hong, kupu-kupu dan banji, merupakan pengaruh budaya
Cina, selain buketan yang biasa disebut blendeh sebagai pengaruh dari Belanda.
Hanya saja ragam bias batik Madura tidak mengenal stilisasi. Semua bentuk
diwujudkan secara utuh, tidak membentuk simbol-simbol tertentu.
Coraknya biasanya digambarkan besar-besar se-hingga motif yang kecil-kecil tidak
menonjol. Ini erat hubungannya dengan sifat alamnya yang keras, dan watak orang Madura
yang berani dan tegas. Ragam bias pada kain mori yang digambarkan tanpa menggunakan
mal atau patron itu, juga merupakan gambaran sifat yang bebas, tidak mau terikat pada pola
tertentu.
Isen sebagai pengisi latar belakang maupun motif utama juga ada pada batik Madura
yang dikenal dengan sebutan guri (oret-oretan). Mirip dengan batik Pekalongan, guri ikut
menentukan baik atau kurang baiknya mutu sehelai kain batik Madura. Semakin halus dan
semakin banyak jenis guri yang dipakai, semakin tinggi pula mutu batik tersebut. Guri
biasanya menggambarkan benda-benda yang lekat dengan keadaan sehari-hari, seperti jenis-
jenis tumbuhan. Sebagai contoh, carcena (pacar cina), sesse (sisik ikan) atau rebba monyo
(rumput liar) dsb.
Begitu berperannya guri, sampai kain batik Madura juga sering disebut berdasarkan
guri yang mendominasi sehelai batik. Misalnya batik yang dihiasi dengan guri pacar cina
disebut dengan batik carcena. Atau bila ada dua motif guri yang menonjol, seperti guri sisik
ikan (sesse) dan guri pacar cina (carcena) misalnya, maka batik itu disebut sesse carcena.
Sedangkan kain batik dengan latar kosong atau putih disebut tarpote dan untuk yang berlatar
belakang warna-warni disebut berna an. Namun, ada juga sebutan yang tidak ada kaitannya
sama sekali dengan guri. Seperti batik Tasek Malaya, berupa garis berombak-ombak, konon
merupakan imajinasi istri para pelaut yang membayangkan suaminya sedang berlayar ke
Malaya.
Kekhasan batik Madura lainnya adalah tidak adanya batik cap, sekalipun untuk batik
murah. Untuk batik harga murah ini, ragam bias digambarkan langsung di atas kain putih dan
dibatik dengan menggunakan canting kasar dan hampir tidak ada isen.
CELANA PANGSI

Augusta de Wit, seorang wanita Belanda kelahiran Sibolga tahun 1864, menetap di
Eropa sejak berumur 10 tahun. Kemudian, sebagai wartawan, ia datang ke Jawa awal abad
XX. Pengalamannya dibukukan dalam Java, Facts and Fancies.
Hari pertama di Batavia, ia terkejut melihat pakaian orang-orang Eropa penghuni
hotel yang sama dengannya. Menurut Augusta de Wit, kaum wanita Eropa mengenakan
pakaian yang tampaknya seperti pakaian penduduk asli, yaitu sarung dan kebaya. Kebayanya
terbuat dari kain tipis putih yang dihiasi banyak renda. Di bagian depannya disemat dengan
peniti-peniti hiasan yang diuntai dengan rantai emas. Lebih mencengangkan lagi ialah
pakaian kaum prianya. Di saat santai, mereka memakai baju tidak berkerah. Celananya dari
batik tipis, bermotif bunga-bunga merah dan biru, ada pula yang bergambar kupu-kupu dan
naga.
Dulu batik memang menjadi pakaian santai sehari-hari kaum pria Eropa dan Indo-
Eropa. Bukan sebagai kemeja, tetapi sebagai celana. Celana pangsi adalah celana yang
panjangnya lebih bawah sedikit dari lutut dan longgar, sehingga nyaman dipakai.
Walaupun untuk pakaian santai, batik tulis untuk celana pangsi, memiliki motif yang
tidak sembarangan. Tidak jarang motifnya sama dengan yang digunakan untuk pakaian
perempuan. Motif apapun bisa dijadikan celana pangsi, entah itu swastika, burung, atau
bunga dan naga sekali pun, seperti yang dilihat Augusta de Wit. Sama dengan kain panjang
ataupun kain sarung, bahan untuk celana pangsi ini pun memiliki ukuran yang sudah pasti,
biasanya sekitar 160x106 cm, dengan toleransi perbedaan panjang dan lebar 1-2 cm. Bahan
untuk celana pangsi dihasilkan di kota-kota terkenal yang memproduksi batik pada
umumnya, antara lain Pekalongan, Cirebon, Lasem, Temanggung, Madura, Juwana. Salah
seorang yang diketahui memproduksi bahan untuk celana pangsi adalah Gan Tjoe Liam di
Pekalongan.
Walaupun sudah ada kain khusus untuk celana pangsi, tapi ada juga orang yang
memanfaatkan kain panjang. Padahal tata letak motif di bahan khusus untuk celana pangsi
sudah diperhitungkan agar kelak jatuhnva simetris di kaki celana kiri dan kanan.
Celana pangsi yang Anda lihat ini dibuat tahun 1890 dan 1900. Mulai tahun 1920
orang-orang Eropa dan keturunan Eropa mulai meninggalkan batik sebagai pakaian sehari-
hari, sehingga pada tahun 1930-an praktis tidak ada lagi yang mempergunakannya dan kini
menjadi buruan kolektor.
Gendongan Memberi Rasa Aman

Di masa yang lampau, bagi banyak penduduk Indonesia, batik merupakan barang
yang menyertai mereka dari lahir sampai meninggal. Bayi digendong atau dibuat dengan kain
batik. Ranjangnya mungkin dialasi dengan batik. Kalau ia menangis, ibunya menyapu air
matanya dengan ujung kain batiknya. Kemudian ia memanfaatkan batik sebagai selimut atau
pakaian atau ikat kepala. Ketika ia tua dan meninggal, jenazahnya dibaringkan di atas
hamparan kain batik atau ditutupi dengan kain batik sebelum dibawa ke makam. Perempuan
Cina peranakan banyak yang dibekali batik kesayangannya saat dimasukkan ke peti jenazah.
Di masa yang lampau, batik memang akrab dengan manusia Indonesia dan memberi
rasa aman. Menurut Rens Heringa, di Tuban selendang untuk gendongan disebut sayut. Sayut
artinya "membalut", "melingkar", "bersatu membela sesama". Sementara dalam bahasa Jawa
Kuno, sayut berarti rnenolak bala.
Motif yang ada pada sayut ini pun sarat makna, Misalnya, sayut dengan satu warna
(biru), biasanya disebut putihan, dianggap mempunyai kekuatan untuk melindungi anak.
Konon menurut filsafat orang Jawa, warna biru-putih berhubungan dengan arah timur laut,
yang terletak antara arah utara (kematian) dan timur (kdahiran), yaitu daerah siklus
kehidupan manusia yang berulang.
Meskipun banyak orang menggunakan kain panjang sebagai alat untuk menggendong
anak, sebenarnya ada batik yang khusus dibuat untuk gendongan. Panjangnya sekitar 300 x
80 cm atau 300 x 100 cm, dengan perbedaan ukuran yang tak jauh dari itu.
Kota-kota penghasil batik yang diketahui memproduksi gendongan antara lain adalah
Lasem, Pekalongan, Madura, Juwana, Cirebon dan Tasikmalaya. Meskipun gendongan
umumnya memiliki kepala seperti kain sarung, ada juga gendongan tanpa kepala yang
sepintas mirip seperti kain panjang.
Motif kain gendongan ini juga cukup variatif dan banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Cina. Dari yang motif buketan sampai motif hewan. Motif hewan biasanya sarat
dengan simbol di dalamnya. Bagi kaum Cina peranakan, gajah misalnya melambangkan
kekuatan, memiliki moral yang tinggi, dan kesabaran. Sementara kilin yang melambangkan
kebijakan dianggap sebagai penjaga pintu surga. Dengan memakai gendongan bermotif kilin
diharapkan si anak akan mendapatkan rasa aman. Angsa dimaknai sebagai lambang
keindahan, burung hong dianggap menjadi lambang kebaikan atau keberhasilan. Kupu-kupu
melambangkan cinta kasih. Jika burung melambangkan kebahagiaan, maka anjing
melambangkan keuntungan yang akan diperoleh. Bahkan kalajengking yang beracun,
dianggap penghalau roh jahat.
Selain hewan, motif flora juga memiliki arti yang bermacam-macam. Bunga teratai
misalnya, dipercaya akan membawa keberuntungan bagi anak yang digendong, bunga botan,
anggur dan sulur mencerminkan umur panjang.
ISEN-ISEN DAN LATARAN

Salah satu ciri yang sangat penting pada batik pesisir, terutama batik Pekalongan,
adalah motif pengisi latar belakang ragam bias utamanya. Motif pengisi latar itu disebut isen-
isen dan berfungsi lebih menonjolkan ragam bias utama. Berikut ini kita akan menikmati
beberapa dari isen-isen yang dibuat dengan sangat tekun dan cermat.
Salah satu teknik pembuatan isen ini antara lain dengan cocohan dan cecekan.
Cocohan, yaitu motif titik-titik berwarna yang dibuat dengan memakai jarum, sedangkan
cecekan juga motif tutul-tutul dengan menggunakan canting, bisa dengan canting berparuh
tunggal maupun ganda.
Seperti ragam hias utama, masing-masing ragam hias isen-isen ini juga memiliki
nama sendiri-sendiri. Namun, isen yang sama bisa saja disebut berbeda di tempat lain, sesuai
dengan ragam bahasa setempat, terutama pada batik Madura. Sebagai contoh, galaran di Jawa
Tengah disebut rawan manjeng di Madura, atau gringsing menjadi se sesse, dll.
Proses pembuatan isen membutuhkan waktu cukup lama, sebab setiap bidang kosong
diisi sedetail mungkin. Untuk itu diperlukan kesabaran dan ketelitian tinggi. Tidak jarang
juga kalau isen-isen ini terlihat lebih mendetail dan rumit dibandingkan corak utamanya, dan
ini juga yang membuat sebuah kain batik menjadi lebih meriah dan indah dan memiliki mutu
tinggi. Jadi isen pun bisa ikut menentukan mutu sehelai kain batik.
TANDA TANGAN JURAGAN BATIK

Dalam batik koleksi ini, Anda akan men-jumpai sejumlah batik yang sama atau mirip
dengan yang dimiliki oleh Tro-penmuseum di Amsterdam ataupun oleh kolektor-kolektor
lain.
Pembuatnya memang tidak selalu menghasilkan sehelai saja, tetapi bisa beberapa
helai kalau batik itu bagus dan peminatnya banyak. Namun persamaan atau kemiripan itu bisa
juga terjadi akibat tiru-meniru dan bahkan jiplak-menjiplak yang sudah merebak sejak waktu
itu.
Sekadar contoh: Batik yang menggambarkan dongeng Si Tudung Merah atau Red
Riding Hood atau Roodkapje termasuk laris sampai banyak ditiru. Begitu pula gambar
bangau Lien Metzelaar dan buketan E. van Zuylen.
Supaya pelanggan tidak terkecoh oleh peniru, sejak 1870 juragan-juragan Indo-Eropa
dan kemudian juga para juragan lain, memberi tanda tangan di sisi kiri atas bagian kepala
kain yang sudah digambari dengan malam. Tapi cuma dengan pensil, lalu perajin menelusuri
tanda tangan itu dengan canting untuk ditutupi dengan malam.
Penghasil batik belanda yang paling terkenal, Eliza (Lies) van Zuylen,
menandatangani batiknya sejak awal proses pembuatan. Tidak cukup dengan tanda tangan,
tetapi juga dengan cap tinta cina seperti yang dilakukan juragan-juragan batik Cina peranakan
sebelumnya. Bahkan ia memberi nomor pada batiknya. Namun rupanya itu bukan jaminan
untuk tidak ditiru.
Selain untuk melindungi desain dan melindungi batik dari dicuri saat pengerja batik
membawanya ke tempat lain untuk pewarnaan, membubuhkan cap yang berisikan nama dan
alamat pembatik juga merupakan sarana untuk beriklan.
MEMBUAT BATIK TULIS

Batik tulis yang halus bahan dan pengerjaannya, tidak bisa dihasilkan secara masal.
Proses pembuatannya rumit, membutuhkan keterampilan dan ketekunan yang luar biasa serta
makan waktu lama.
Pertama-tama kain mori yang akan dibatik itu direndam dalam air dan direbus untuk
melepaskan kanji. Lalu di-loyor, artinya direndam dalam minyak nabati seperti minyak jarak
atau minyak kacang tanah. Perendaman bisa memakan waktu beberapa hari bahkan beberapa
minggu.
Mori kemudian direndam dalam larutan abu sekam padi atau kapur tohor untuk
membilasnya. Warnanya sudah menjadi kekuningan. Selanjutnya kain itu dijemur hingga
kering.
Agar permukaannya licin kembali, kain mori itu dikemplong, yaitu dipukul-pukul
dengan "palu" kayu atau kemplongan. Kini kain itu siap dibatik.
Mula-mula, motif yang diinginkan digambar di kain dengan pensil 4B. Lalu kain
disampirkan pada gawangan. Dengan salah satu tangan, pembatik memegang kain, sementara
tangan yang lain membuat garis dengan canting yang sudah diisi malam panas, mengikuti
garis yang sudah dibuat dengan pensil.
Yang mula-mula digambar dengan canting adalah garis paling luar dari objek.
Istilahnya diklowongi. Garis ini berfungsi sebagai perintang warna. Lalu dengan canting
berisi malam panas juga, objek tersebut diberi isian atau lebih dikenal dengan istilah isen-
isen, Motif isen banyak sekali ragamnya.
Setelah selesai, barulah bagian belakang kain diterusi, yaitu digambari dengan canting
dan malam, seperti pada sisi muka kain itu. Nanti ketika dicelup, zat pewarna tidak bisa
masuk ke bagian yang ditutupi malam, Jika pada kain itu diharapkan ada bidang berwarna
putih, maka bagian itu ditutup dengan malam bolak-balik. Ini namanya di tembok.
Proses berikutnya adalah pencelupan dengan zat warna. Zat warna tidak boleh panas,
sebab malam tidak boleh meleleh, Pewarnaan pen ting sekali dalam pembuatan kain batik
bermutu.
Mulanya pembuatan batik tulis memanfaatkan pewarna alami, yang berasal dari
tanaman yang direbus dan ditambahi zat-zat lain, Pewarna alami yang paling terkenal adalah
biru dari nila/tarum/tom/indigo, cokelat dari pelbagai tanaman soga dan merah dari akar
mengkudu.
Campuran dan dosis dari tumbuhan pemberi warna biasanya dirahasiakan oleh
keluarga atau oleh juragan batik. Begitu pula resep untuk menghidupkan warna kain pada
sentuhan terakhir. Kandungan air ikut menentukan warna yang dihasilkan. Tidak
mengherankan jika setiap daerah memiliki warna khas dan khusus, misalnya merah Lasem
yang sangat terkenal itu.
Ketika ditemukannya pewarna sintetis, maka penggunaan tanaman sebagai pewarna
sedikit demi sedikit digantikan pewarna kimia sejak awal abad XX. Pencelupan bisa
dilakukan berulang-ulang sampai dicapai warna yang dikehendaki. Setelah itu, malam pada
bagian yang akan diberi warna kedua dikerok supaya terlepas, sedangkan bagian yang tidak
boleh dikenai warna kedua ditutupi lagi dengan malam. Sisanya yang masih tertutup,
dibiarkan tertutup.
Setelah selesai, kain dicelup lagi di warna kedua. Kalau akan dipergunakan warna
ketiga, maka bagian-bagian yang akan diwarnai dengan warna ketiga dikerok supaya
malamnya lepas, sedangkan bagian yang tidak ingin dikenai warna itu harus tertutup dengan
malam. Bayangkan kalau banyak warna yang akan dipakai. Kalau proses pencelupan sudah
selesai, tibalah saat untuk nglorod, yaitu meluruhkan semua malam dalam air panas. Namun,
bukan berarti pembuatan batik sudah selesai.
Kalau ingin menonjolkan corak dengan garis titik-titik berwarna putih, semua bagian
yang sudah diwarnai ditutup lagi dengan malam, begitu pula yang ingin dibiarkan putih. Lalu
titik-titik digambar dengan canting dan malam. Tibalah saatnya untuk mencelup lagi,
kemudian nglorod lagi.
Ketika ditemukan teknik nyolet, proses pencelupan bisa dikurangi, sebab ada sebagian
warna yang bisa dibubuhkan dengan kuas, bukan dengan pencelupan. Namun mata ahli bisa
mengetahui, apakah batik itu seluruhnya dihasilkan dengan mencelup, ataukah sebagian
dengan mencolet.
Pengerjaan batik tulis membutuhkan konsentrasi yang tinggi, dan kehati-hatian
supaya hasilnya rapi, Karena itu bisa makan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa mencapai
setahun kalau motifnya rumit dan warnanya banyak.
Karena digambar di kedua sisi, seandainya batik tersebut dipakai terbalik pun tak
mudah dikenali.