Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


SOFT TISSUE TUMOR

A. Defenisi Penyakit
Soft Tissue Tumor atau Soft Tissue Sarkoma adalah suatu
kelompok umur tertentu yang biasanya berasal dari jaringan ikat, dan
ditandai sebagai massa di anggota gerak badan atau retroperitoneum (Toy
et al, 2011)
Soft Tissue Tumor (STT) adalah pertumbuhan sel baru, abnormal,
progresif, dimana sel selnya tidak tumbuh seperti kanker. Soft Tissue
Tumor adalah suatu benjolan atau pembengkakan abnormal yang
disebabkan oleh neoplasma dan nonneoplasma (Brunerr and Suddart,
2011).
Soft tissue tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal,
progesif, sel-selnya tidak tumbuh seperti kanker (Price, Sylvia Anderson,
2015).

B. Etiologi
1. Kondisi genetik
Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor
predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak, dalam daftar
laporan gen yang abnormal, bahwa gen memiliki peran penting dalam
diagnosis.
2. Radiasi
Mekanisme yang patogenic adalah munculnya mutasi gen radiasi-
induksi yang mendorong transformasi neoplastic.
3. Lingkungan carcinogens
Sebuah asosiasi antara eksposur ke berbagai carcinogens dan setelah
itu dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan lunak.
4. Infeksi Infeksi virus

1
Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan
meningkatkan kemungkinan tumor pembangunan jaringan lunak.
5. Trauma
Hubungan antara trauma danSoft Tissue Tumorsnampaknya kebetulan.
Trauma mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada
(Muttaqin, 2008).

C. Tahapan/ Grade/ tingkatan penyakit


Tumor jinak bisa berubah menjadi tumor ganas/kanker, penyebaran
atau metastasis kanker ini paling sering melalui pembuluh darah ke paru-
paru ke liver, dan tulang. Jarang menyebar melalui kelenjar getah bening
(Muttaqin, 2008).

D. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik, tergantung
pada lokasi di mana tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya
suatu benjolan dibawah kulit yang tidak terasa sakit. Hanya sedikit
penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi akibat pendarahan
atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan pada
saraf-saraf tepi (Muttaqin, 2008).
Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat, tidak cepat
membesar, bila diraba terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih
mudah digerakan dari jaringan di sekitarnya dan tidak pernah menyebar ke
tempat jauh (Muttaqin, 2008).
Umumnya pertumbuhan kanker jaringan lunak relatif cepat
membesar, berkembang menjadi benjolan yang keras, dan bila digerakkan
agak sukar dan dapat menyebar ke tempat jauh ke paru-paru, liver maupun
tulang. Kalau ukuran kanker sudah begitu besar, dapat menyebabkan
borok dan perdarahan pada kulit diatasnya (Muttaqin, 2008).

2
E. Deskripsi Patofisiologi
Pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak atau Soft Tissue
Tumors (STT) adalah proliferasi jaringan mesenkimal yang terjadi di
jaringan nonepitelial ekstraskeletal tubuh. Dapat timbul di tempat di mana
saja, meskipun kira-kira 40% terjadi di ekstermitas bawah, terutama
daerah paha, 20% di ekstermitas atas, 10% di kepala dan leher, dan 30% di
badan.
Tumor jaringan lunak tumbuh centripetally, meskipun beberapa
tumor jinak, seperti serabut luka. Setelah tumor mencapai batas anatomis
dari tempatnya, maka tumor membesar melewati batas sampai ke struktur
neurovascular. Tumor jaringan lunak timbul di lokasi seperti lekukan-
lekukan tubuh (Muttaqin, 2008).
Proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase
yaitu :
1) Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi.
2) Pertumbuhan dari sel-sel transformasi.
3) Invasi lokal.
4) Metastasis jauh (Muttaqin, 2008).

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan imaging
Sebagai tambahan dari pemerikasaan klinis penderita perlu
dikerjakan, selain untuk menegagkan diagnosis juga untuk staging.
Pada pemeriksaan dengan foto polos kadang-kadang didapatkan
gambaran masa dengan kalsifikasi. Foto polos pada ekstremitas
dapat digunakan untuk evaluasi adanya infiltrasi tumor pada tulang.
Pemeriksaan imaging lebih lanjut dapat dengan CT scan, MRI atau
PET scan.
2. Biopsi pada tumor primer
Bagian yang penting sebelum treatment pada penderita soft
tissue tumor. Soft tissue tumor dengan ukuran yang lebih beasar dari
5 cm harus dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi terlebih dahulu.

3
Dengan biopsi dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi dan
diharapkan dapat menentukan grade dari tumor. Grade sangat
penting untuk menentukan rencana terapi.
3. Percutaneous core-needle biopsy (CNB)
Memberikan hasil yang cukup memuaskan untuk diagnosis
beberapa soft tissue tumor. CNB dapat dilakukan secara blind atau
dengan image-guided. Dengan image-guided, biopsi akan lebih
terarah pada area tumor (tidak pada area sentral nekrosis).
Insisi biopsi merupakan pilihan kedua apabila dengan CNB
diagnostik masih belum bisa ditegakkan. Hal ini disebabkan oleh
karena adanya morbiditas yang harus dipertimbangkan dengan
tindakan insisi biopsi termasuk resiko anestesi, perdarahan dan
penyembuhan luka. Selain itu insisi biopsi juga memerlukan biaya
yang lebih besar. Eksisi biopsi merupakan pilihan pada neoplama
yang kecil dan letaknya superficial.
4. Fine needle aspiration biopsy (FNAB)
alat bantu untuk menegakkan diagnosis soft tissue neoplasma
masih diperdebatkan. Hasil dari FNA pada lesi mesenchymal sangat
bervariasi dan tergantung beberapa faktor, diantaranya skill dari
aspirator dan keahlian interpretasi dari cytopathologist (Muttaqin,
2008).

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan X-ray
X-ray untuk membantu pemahaman lebih lanjut tentang
berbagai tumor jaringan lunak, transparansi serta hubungannya dengan
tulang yang berdekatan. Jika batasnya jelas, sering didiagnosa sebagai
tumor jinak, namun batas yang jelastetapi melihat kalsifikasi, dapat
didiagnosa sebagai tumor ganas jaringan lunak, situasi terjadi di
sarkoma sinovial, rhabdomyosarcoma, dan lainnya (Sjamsuhidajat,
2010).

4
2. Pemeriksaan USG
Metode ini dapat memeriksa ukuran tumor, gema perbatasan
amplop dan tumor jaringan internal, dan oleh karena itu bisa untuk
membedakan antara jinak atau ganas. tumor ganas jaringan lunak
tubuh yang agak tidak jelas, gema samar-samar, seperti sarkoma otot
lurik, myosarcoma sinovial, sel tumor ganas berserat histiocytoma
seperti. USG dapat membimbing untuk tumor mendalami sitologi
aspirasi akupunktur (Sjamsuhidajat, 2010).
3. CT scan
CT memiliki kerapatan resolusi dan resolusi spasial
karakteristik tumor jaringan lunak yang merupakan metode umum
untuk diagnosa tumor jaringan lunak dalam beberapa tahun terakhir
(Sjamsuhidajat, 2010).
4. Pemeriksaan MRI
Mendiagnosa tumor jinak jaringan lunak dapat melengkapi
kekurangan dari X-ray dan CT-scan, MRI dapat melihat tampilan luar
penampang berbagai tingkatan tumor dari semua jangkauan, tumor
jaringan lunak retroperitoneal, tumor panggul memperluas ke pinggul
atau paha, tumor fossa poplitea serta gambar yang lebih jelas dari
tumor tulang atau invasi sumsum tulang, adalah untuk mendasarkan
pengembangan rencana pengobatan yang lebih baik (Sjamsuhidajat,
2010).
H. Penatalaksanaan Medis/Operatif
1. Bedah (Eksisi)
Bedah eksisi adalah salah satu cara tindakan bedah yaitu membuang
atau menghancurkan jaringan (tumor) dengan cara memotong.
Tindakan ini di lakukan untuk berbagai tujuan antara lain untuk
pemeriksaan penunjang (biopsy), pengobatan lesi jinak ataupun ganas
dan memperbaiki penampilan.
2. Kemoterapi
Metode ini melakukan keperawatan penyakit dengan menggunakan zat
kimia untuk membunuh sel sel tumor tersebut. Keperawatan ini

5
berfungsi untuk menghambat pertumbuhan kerja sel tumor. Pada saat
sekarang, sebagian besar penyakit yang berhubungan dengan tumor
dan kanker dirawat menggunakan cara kemoterapi ini.
3. Radioterapi
Terapi radiasi atau radioterapi adalah terapi yang menggunakan radiasi
yang bersumber dari radioaktif. Kadang radiasi yang diterima
merupankan terapi tyunggal. Tapi, terkadang dikombinasikan dengan
kemoterapi dan juga operasi pembedahan.
4. Penatalaksanaan Keperawaatan:
a. Perhatikan kebersihan luka pada pasien
b. Perawatan luka pada pasien
c. Pemberian obat
d. Amati ada atau tidaknya komplikasi atau potensial yang akan
terjadi setelah dilakukan operasi.

I. Terapi Farmakologis
Obat yang diberikan pada saat kemoterapi
1. Metotreksat
2. Adriamisin
3. Siklofosfamid
4. Vinkristin
5. Sisplatinum (Muttaqin, 2008).

J. Pengkajian
1) Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada klien dengan soft tissue tumor
yaitu adanya keluhan nyeri yang menunjukkan tanda ekspansi tumor
yang cepat dan penekanan ke jaringan sekiranya.
2) Pemeriksaan lokasi tomor, besar, bentuk, batas dan sifat tumor
3) Adanya gangguan pergerakan sendi akibat adanya tumor, spasme otot
dan kekakuan tulang belakang jika tumor terdapat pada tulang
belakang.

6
4) Pemeriksaan neurologis menentukan adanya penekan pada tumor pada
saraf-saraf tertentu (Muttaqin, 2008).

K. Diagnosa Keperwatan yang mungkin muncul dan prioritas diagnosa


Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi (tomor/benjolan)
2. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan penyakit
Post Op
1. Nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik (insisi)
2. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi
4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan penyakit

L. Rencana Asuhan keperawatan


No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
keperawatan hasil (NIC)
(NOC)
1 Pre Op NOC : NIC :
Nyeri berhubungan dengan - Pain Level, 1. Lakukan pengkajian
agen agen injuri (biologi, - Pain control, nyeri secara
kimia, fisik, psikologis), Setelah dilakukan tinfakan komprehensif termasuk
kerusakan jaringan keperawatan selama …x lokasi, karakteristik,
24 jam Pasien tidak durasi, frekuensi,
DS: Laporan secara verbal
mengalami nyeri, dengan kualitas dan faktor
DO: kriteria hasil: presipitasi
- Mampu mengontrol 2. Bantu pasien dan
a. Posisi untuk menahan
nyeri (tahu penyebab keluarga untuk mencari
nyeri
nyeri, mampu dan menemukan
b. Tingkah laku berhati-
menggunakan tehnik dukungan
hati
nonfarmakologi untuk 3. Kontrol lingkungan
c. Gangguan tidur (mata
mengurangi nyeri, yang dapat
sayu, tampak capek,
mencari bantuan) mempengaruhi nyeri
sulit atau gerakan
- Melaporkan bahwa nyeri seperti suhu ruangan,
kacau, menyeringai)
berkurang dengan pencahayaan dan
d. Terfokus pada diri
menggunakan kebisingan
sendiri
manajemen nyeri 4. Berikan analgetik
e. Fokus menyempit

7
(penurunan persepsi - Menyatakan rasa untuk mengurangi
waktu, nyaman setelah nyeri nyeri :
f. Tingkah laku distraksi, berkurang 5. Tingkatkan istirahat
contoh: jalan-jalan, 6. Berikan informasi
menemui orang lain tentang nyeri seperti
dan/atau aktivitas, penyebab nyeri, berapa
aktivitas berulang- lama nyeri akan
ulang) berkurang dan
g. Respon autonom antisipasi
(seperti diaphoresis, ketidaknyamanan dari
perubahan tekanan prosedur
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
h. Tingkah laku ekspresif
(contoh: gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang / berkeluh
kesah)

2. Kecemasan berhubungan Tingkat kecemasan Pengurangan cemas


dengan Faktor keturunan, Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan pendekatan
Krisis situasional, Stress, keperawatan selama …×24 menenagkan
perub ahan status kesehatan, jam klien dapat mengontol 2. Pahami perspektif
ancaman kematian, cemasnya dengan pasien terhadap situasi
perubahan konsep diri, indikator : stres
kurang pengetahuan dan 1. monitor intensitas 3. temani pasien untuk
hospitalisasi. kecemasan mengurangi takut
DO/DS: (mempertunjukkan 4. berikan informasi
1. Insomnia keadaan tetap dengan mengenai diagnosis
2. Kontak mata kurang nilai 5) tindakan dan prognosis
3. Kurang istirahat 2. menyingkirkan tanda 5. dorong keluarga untuk
4. Berfokus pada diri kecemasan menemani pasien
sendiri (mempertunjukkan 6. identifikasi tingkat
5. Iritabilitas keadaan tetap dengan kecemasan
6. Takut nilai 5) 7. Bantu pasien mengenai
7. Nyeri perut 3. menurunkan stimulus situasi menimbulkan
8. Penurunan TD dan lingkungan ketika kecemasa
denyut nadi cemas 8. dorong pasien untuk
9. Diare, mual, kelelahan (mempertunjukkan mengungkapkan
10. Gangguan tidur keadaan tetap dengan perasaan, ketakutan,
11. Gemetar nilai 5) persepsi

8
12. Anoreksia, mulut kering 4. merencanakan 9. instruksikan pasien
13. Peningkatan TD, denyut strategi koping untuk menggunakan teknik
nadi, RR situasi penuh stres relaksasi
14. Kesulitan bernafas (mempertunjukkan 10. berikan obat untuk
15. Bingung keadaan tetap dengan mengurangi kecemasan
16. Bloking dalam nilai 5)
pembicaraan
17. Sulit berkonsentrasi
3. Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan : - Kowlwdge : disease 1. Kaji tingkat
keterbatasan kognitif, process pengetahuan pasien dan
interpretasi terhadap - Kowledge : health keluarga
2. Jelaskan patofisiologi
informasi yang salah, Behavior
dari penyakit dan
kurangnya keinginan untuk Setelah dilakukan tindakan bagaimana hal ini
mencari informasi, tidak keperawatan selama …. berhubungan dengan
mengetahui sumber-sumber pasien menunjukkan anatomi dan fisiologi,
informasi. pengetahuan tentang dengan cara yang tepat.
DS: proses penyakit dengan 3. Gambarkan tanda dan
Menyatakan secara verbal kriteria hasil: gejala yang biasa
muncul pada penyakit,
adanya masalah - Pasien dan keluarga
dengan cara yang tepat
DO: menyatakan pemahaman 4. Gambarkan proses
Ketidakakuratan tentang penyakit, penyakit, dengan cara
mengikuti instruksi, kondisi, prognosis dan yang tepat
perilaku tidak sesuai program pengobatan 5. Identifikasi
- Pasien dan keluarga kemungkinan
mampu melaksanakan penyebab, dengan cara
yang tepat
prosedur yang dijelaskan
6. Sediakan informasi
secara benar pada pasien tentang
- Pasien dan keluarga kondisi, dengan cara
mampu menjelaskan yang tepat
kembali apa yang 7. Sediakan bagi keluarga
dijelaskan perawat / tim informasi tentang
kemajuan pasien
kesehatan lainnya.
dengan cara yang tepat
8. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
9. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat

9
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
keperawatan hasil (NIC)
(NOC)
1 Post Op NOC : NIC :
Nyeri berhubungan dengan - Pain Level, 1. Lakukan pengkajian
agen agen agen injuri - Pain control, nyeri secara
(biologi, kimia, fisik, Setelah dilakukan tinfakan komprehensif
psikologis), kerusakan keperawatan selama 3x 24 termasuk lokasi,
jaringan jam Pasien tidak karakteristik, durasi,
mengalami nyeri, dengan frekuensi, kualitas
DS: Laporan secara verbal
kriteria hasil: dan faktor presipitasi
DO: - Mampu mengontrol 2. Bantu pasien dan
nyeri (tahu penyebab keluarga untuk
a. Posisi untuk menahan
nyeri, mampu mencari dan
nyeri
menggunakan tehnik menemukan
b. Tingkah laku berhati-
nonfarmakologi untuk dukungan
hati
mengurangi nyeri, 3. Kontrol lingkungan
c. Gangguan tidur (mata
mencari bantuan) yang dapat
sayu, tampak capek,
- Melaporkan bahwa nyeri mempengaruhi nyeri
sulit atau gerakan
berkurang dengan seperti suhu ruangan,
kacau, menyeringai)
menggunakan pencahayaan dan
d. Terfokus pada diri
manajemen nyeri kebisingan
sendiri
- Menyatakan rasa 4. Berikan analgetik
e. Fokus menyempit
nyaman setelah nyeri untuk mengurangi
(penurunan persepsi
berkurang nyeri :
waktu,
5. Tingkatkan istirahat
f. Tingkah laku distraksi,
6. Berikan informasi
contoh : jalan-jalan,
tentang nyeri seperti
menemui orang lain
penyebab nyeri,
dan / atau aktivitas,
berapa lama nyeri
aktivitas berulang-
akan berkurang dan
ulang)
antisipasi
g. Respon autonom
ketidaknyamanan dari
(seperti diaphoresis,
prosedur
perubahan tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
h. Perubahan autonomik
dalam tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah ke
kaku)

10
2. Kerusakan integritas kulit a. Tissue Integrity: Skin Pressure Management
berhubungan dengan : and Mucous 1. Anjurkan pasien untuk
Eksternal : Membranes menggunakan pakaian
a. Hipertermia atau b. Wound Healing: primer yang longgar
hipotermia dan sekunder 2. Hindari kerutan pada
b. Substansi kimia tempat tidur
c. Kelembaban Setelah dilakukan tindakan 3. Jaga kebersihan kulit
d. Faktor mekanik keperawatan selama agar tetap bersihdan
(misalnya : alat yang .......x24 jam integritas kering
dapat menimbulkan luka, jaringan: kulit dan mukosa 4. Mobilisasi pasien
tekanan, restraint) normal dengan indikator: (ubah posisi pasien)
e. Immobilitas fisik 1) temperatur jaringan setiap dua jam sekal
f. Radiasi dalam rentang yang 5. Monitor kulit akan
g. Usia yang ekstrim diharapkan adanya kemerahan
h. Kelembaban kulit 2) elastisitas dalam 6. Monitor aktivitas dan
i. Obat-obatan rentang yang mobilisasi pasien
diharapkan 7. Observasi luka :
Internal : 3) hidrasi dalam lokasi, dimensi,
a. Perubahan status rentang yang kedalaman luka,
metabolik diharapkan karakteristik,warna
b. Tonjolan tulang 4) pigmentasi dalam cairan, granulasi,
c. Defisit imunologi rentang yang jaringan nekrotik,
d. Berhubungan dengan diharapkan tandatanda infeksi
dengan perkembangan 5) warna dalam rentang lokal, formasi traktus
e. Perubahan sensasi yang diharapkan 8. Ajarkan pada keluarga
f. Perubahan status nutrisi 6) tektur dalam rentang tentang luka dan
(obesitas, kekurusan) yang diharapkan perawatan luka
g. Perubahan status cairan 9. Cegah kontaminasi
h. Perubahan pigmentasi feses dan urin
i. Perubahan sirkulasi 10. Lakukan tehnik
j. Perubahan turgor perawatan luka
(elastisitas kulit) dengan steril
11. Berikan posisi yang
DO: mengurangi tekanan
1. Gangguan pada bagian pada luka
tubuh
2. Kerus akan lapisa kulit
(dermis)
3. Gangguan permukaan
kulit (epidermis)

11
3. Risiko infeksi a. Immune Status 1. Pertahankan teknik
Faktor-faktor risiko : b. Knowledge: Infection aseptif
a. Prosedur Infasif control 2. Batasi pengunjung bila
b. Kerusakan jaringan dan c. Risk control perlu
peningkatan paparan Setelah dilakukan tindakan 3. Cuci tangan setiap
lingkungan keperawatan selama…… sebelum dan sesudah
c. Malnutrisi pasien tidak mengalami tindakan keperawatan
d. Peningkatan paparan infeksi dengan kriteria 4. Gunakan baju, sarung
lingkungan patogen hasil: tangan sebagai alat
e. Imonusupresi 1) Klien bebas dari pelindung
f. Tidak adekuat tanda dan gejala 5. Tingkatkan intake
pertahanan sekunder infeksi nutrisi
(penurunan Hb, 2) Menunjukkan 6. Berikan terapi
Leukopenia, penekanan kemampuan untuk antibiotik
respon inflamasi) mencegah 7. Monitor tanda dan
g. Penyakit kronik timbulnya infeksi gejala infeksi sistemik
h. Malnutrisi 3) Jumlah leukosit dan lokal
i. Pertahan primer tidak dalam batas normal 8. Inspeksi kulit dan
adekuat (kerusakan kulit, 4) Menunjukkan membran mukosa
trauma jaringan, perilaku hidup terhadap kemerahan,
gangguan peristaltik) sehat panas, drainase
5) Status imun, 9. Monitor adanya luka
gastrointestinal, 10. Dorong masukan
genitourinaria cairan
dalam batas normal 11. Dorong istirahat
12. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi

4. Kecemasan berhubungan Tingkat kecemasan Pengurangan cemas


dengan Faktor keturunan, Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan pendekatan
Krisis situasional, Stress, keperawatan selama …×24 menenagkan
perub ahan status kesehatan, jam klien dapat mengontol 2. Pahami perspektif
ancaman kematian, cemasnya dengan pasien terhadap situasi
perubahan konsep diri, indikator : stres
kurang pengetahuan dan 1. monitor intensitas 3. temani pasien untuk
hospitalisasi. kecemasan mengurangi takut
DO/DS: (mempertunjukkan 4. berikan informasi
1. Insomnia keadaan tetap dengan mengenai diagnosis
2. Kontak mata kurang nilai 5) tindakan dan prognosis
3. Kurang istirahat 2. menyingkirkan tanda 5. dorong keluarga untuk
4. Berfokus pada diri kecemasan menemani pasien

12
sendiri (mempertunjukkan 6. identifikasi tingkat
5. Iritabilitas keadaan tetap dengan kecemasan
6. Takut nilai 5) 7. Bantu pasien mengenai
7. Nyeri perut 3. menurunkan stimulus situasi menimbulkan
8. Diare, mual, kelelahan lingkungan ketika kecemasa
9. Gangguan tidur cemas 8. dorong pasien untuk
10. Gemetar (mempertunjukkan mengungkapkan
11. Anoreksia, mulut kering keadaan tetap dengan perasaan, ketakutan,
12. Peningkatan TD, denyut nilai 5) persepsi
nadi, RR 4. merencanakan strategi 9. instruksikan pasien
13. Kesulitan bernafas koping untuk situasi menggunakan teknik
14. Bingung penuh stres relaksasi
15. Bloking dalam (mempertunjukkan 10. berikan obat untuk
pembicaraan keadaan tetap dengan mengurangi kecemasan
16. Sulit berkonsentrasi nilai 5)

13
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2011. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Potter, Patricia A.2011. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses


dan praktik. Edisi.4 volume 1. Jakarta : EGC

Bulcheck, Gloria M, dkk, 2015, Nursing Intervention Classification, America:


Elseiver

Herdman, T.Heather, dkk, 2015, Nursing Diagnoses, America: Wiley Blackwell

Price, Sylvia Anderson. 2009. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakrata : EGC

Moorhead, Sue, dkk, 2015, Nursing Outcome Classification, America: Elseiver

Muttaqin, Arif, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan

Sistem Muskuloskeletal, Jakarta : EGC.

Sjamsuhidayat, R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Toy, Eugene C. Liu, Terrence H dan Campbell, Andre R. 2011. Case file: Ilmu
Bedah Edisi Ketiga. Tangerang: Karisma Publishing Group.

14