Anda di halaman 1dari 22

Tari Tradisi diartikan sebagai tata cara menari atau menyelenggarakan tarian yang dilakukan

oleh sebuah komunitas etnik secara turun menurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Konsep , Teknik , & prosedur dalam ragam gerak tari tradisi.


tari merupakan salah satu cabang seni, yang diungkapkan dengan media tubuh.

a. Konsep gerak tari tradisional .


Tari memiliki gerak berbeda tetapi memiliki kesamaan berupa tenaga, ruang, dan waktu.
b. Teknik & prosedur gerak tari tradisional.
Teknik & proses gerak dasar tari tradisional beragam.
1. Ragam gerak kepala
Gerak dasar kepala.
a. kedet, yaitu gerakan kepala seolah menarik dagu.
b. gedug, yaitu kepala tegak digerakkan kesamping kanan kiri.
c. gedug angka delapan, yaitu gerak kepala dengan memfokuskan putaran dagu seolah menulis
angka delapan dengan diakhiri gerak hedot.
d. Gilek, yaitu gerak kepala membuat lengkungan kebawah, kiri & kanan.
e. Godeg cangreud, yaitu gerak gilet diakhiri gerak kedet.
f. Galieur, yaitu gerak halus kepala yang dimulai dari menarik dagu , kemudian ditarik dengan
leher , kembali kearah tengah diakhiri dengan kedet.

2. Ragam gerak badan


a. Ngotag dada berarti menggoyangkan dada.
b. Ngotag pinggang berarti menggoyangkan pinggang.
c. Ngotag pala berarti menggoyangkan Pundak.
d. lelok berarti rebah kanan & rebah kiri bergantian.
e. Neregah berarti badan didorongkan ke depan.

KONSEP, TEKNIK DAN PROSEDUR GERAK DASAR TARI


TRADISIONAL
1.KONSEP DAN RAGAM RERAK TARI DAERAH
Setiap daerah memiliki budaya dan selera yang berbeda – beda. Oleh karena itu, jika kita mengamati
tariannya terdapat perbedaan bentuk gerak dan teknik memperagakannya . Ragam gerak tari kerakyatan
banyak menggunakan imitataif dan ekspresif .Gerakannya menirukan kegiatan dan emosi manusia
sampai menirukan perangai bintang.
Ragam gerak tari klasik banyak menggunakan gerak murni dan gerak ekspresif serta imitatif yang
telah distilasi atau diperhalus .Tema gerakannya juga menirukan kegiatan manusia dan perangai
hewan,tetapi geraknya sudah terpilih dan mempunyai nilai simbolik dengan patokan atau pola-polagerak
yang sudah di tentukan .
Ragam gerak tari kreasi baru merupakan paduan beberapa ragam gerak tradisional sehinnga
menjadi bentuk baru.bentuk baru ini terasa lebih dinamis dan energik karena didukung oleh generasi
muda dan di tata oleh koreografer yang kreatif.
Untuk menjadikan rangkaian gerak tari,penari harus menguasai gerak dasar anggota tubuh sebagai
sarana pengekspresian tari. Gerak dasar suatu tari dari beberapa kelompok yaitu sebagai berikut.

a.Gerak Kaki

Telapak kaki berperan penting dalam pelakasanaan sikap dan gerak kaki yang bisa menambah
keindahan sikap gerak seluruh tubuh .Dasar sikap kaki yang utama adalah sebagai berikut.

 Sikap telapak kaki rapat kembar.


 Sikap telapak kaki rapat silang.
 Sikap telapak kaki renggang silang.
 Sikap telapak kaki rapat siku
 Sikap telapak kaki renggang.
Sikap telapak telapak kaki yang tidak penuh dan banyak menghiasi gerak tari tradisional yaitu sebagai
berikut.

1. Tumit terangkat (jinjit)


2. Menapak pada ujung kaki kembar .
3. Tekukan kaki,pada pergelangan ,lutut,dan pangkal paha.

b.Gerak Tangan

Gerak tangan merupakan ciri yang menonjol dari seni tari dunia timur .pada dunia barat ,gerak tari
lebih menonjolkan gerak kaki sebagai ekspresi ide tari.

c.Gerak Bahu dan Kepala

Gerakan ini sangat berperan pada tarian tradisi ketimuran di samping menjadi pelengkap pada
gerak yang dapat memperkuat suatu sikap atau gerak.

d. Gerak Mata

Gerakan ini merupakan pelengkap dari sikap dan gerak kepala dalam mewujudkan keterpanaan
pengungkapan bersama anggota badan lain.

e. Gerak Lambung

Sikap dan gerak lambung mengesankan bentuk badan membesar.

2. ASAL GERAK DAN MENYUSUN GERAK


Gerak dapat diperoleh melalui ekplorasi atau penjelajahan. Eksplorasi merupakan proses berfikir,
berimajinasi, merasakan, dan merespon objek yang diperoleh melalui pancaindra. Objek tersebut dapat
berupa benda, alam, suara, dan rasa. Mengamati karya seni dapat menimbulkan imajinasi yang
merangsang terjadinya respon gerak spontan. Adapun penjelajahan rasa, seperti panas, dingin, marah,
senang dan sedih akan membantu pencarian gerak ekspresif. Gerak-gerak ini dapat kita himpun menjadi
gerakan tari yang indah. Untuk mempermudah mencari dan merespons gerak, kita harus mengetahui
tema dari tari tersebut.

Tema merupakan gambaran awal gerak-gerak yang diperagakan, contohnya sebagai berikut.

 Kepahlawanan, gerak yang muncul adalah gerak pencak silat, perang, bela diri, atau contoh
kanuragan.
 Kesedihan, gerak yang muncul adalah gerak permohonan.
 Kegembiraan, gerak yang muncul adalah gerak sukacita, meloncat-loncat, melambai-lambai,
melenggang, dan bergoyang.
 Binatang, gerak yang muncul adalah menirukan tingkah laku binatang.
Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah berkumpul, barulah dirangkai menjadi tarian.

Menyusun gerak yang baik adalah memadukan gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai
dengan tema yang sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.

Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari yaitu sebagai berikut.

 Arah handap, menunjukan arah penari menghadap, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang,
menengadah, atau menunduk.
 Arah gerak, menunjukan arah penari akan bergerak, membuat lingkaran, zigzag, berjalan maju dan
mundur, serong diagonal, spiral, dan sebaginya.
Dalam menata tari perlu diperhatikan level dan kepadatan yaitu sebagai berikut.

a. Level yaitu tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak.

1. Level tinggi : berdiri


2. Level sedang : membungkuk
3. Level rendah : duduk
b. Kepadatan (Density)

Penguasaan ruang oleh penari penting untuk tari kelompok. Penempatan atau formasi penari di atas
pentas harus sedemikian rupa sehingga indah dan tidak tampak penuh. Penata tari yang baik juga
memperhatikan desain tari. Desain adalah garis yang terlihat oleh penonton yang ditimbulkan oleh gerak
penari. Garis yang dilalui di lantai oleh para penari disebut desain bawah, misalnya garis diagonal,
horizontal, zig-zag, spiral, dan lain-lain. Garis yang dilihat oleh penonton sebagai geakan penari di atas
pentas adalah desain atas, contohnya loncatan, gerak payung, pita, dan lain-lain.

Merankai gerak agar indah dan menarik perlu adanya harmoni. Harmoni dapat dicapai bila koreografer
memperhatikan atau memadukan gerak dengan hal-hal berikut.

 Irama sebagai pengiring dan pemertegas gerakan.


 Pengusaan ruangan dengan desain atas, bawah, dan medium.
 Penataan komposisi penari untuk mengatasi kejenuhan sesuai dengan jumlah penari.
 Penggunaan rias dan busana yang selaras dan mencerminkan tema.
SIMBOL DALAM TARI
Kelahiaran seni tari tidak bisa dilepaskan dari zamannya dan mencerminkan situasi, kondisi dan budaya
saat itu. Seni tari sebagai bagian kesenian tidak terlepas dari simbol yang digunakan untuk
mewujudkannya, bahkan hampir setiap kegiatan manusia selalu menggunakans simbol karena manusia
merupakan animal simbolicum atau makhluk yang bermain dengan simbol-simbol. Selain itu, manusia
adalah Homo estheticus, yaitu setiap manusia memiliki rasa indah meskipun keindahan tidak memiliki
bentuk mutlak. Oleh karena itu, manusia selalu bermain dengan simbol yang sesui dengan pengalaman
keindahannya masing-masing. Manusia dapat menggunakan akal budi dan pikirannya untuk memahami
simbol dan menjadikannya sebuah sarana untuk merespon terhadap segala sesuatu yang dihadapi dalam
hidupnya.

Hubungan anatar simbol dan seni sangat erat karena biasanya berkaitan dengan pemujaan terhadap
sesuatu atau yang sifatnya religius dan ini diwujudkan berupa tarian, patung, lukisan dan nyanyian dalam
bentuk simbol-simbol. Simbol selalu mencerminkan sesuatu yang sedang dirasakan sang kreator yang
sebelumnya memlui proses kreatif shingga orang lain yang melihat ataupun mendengarnya dapat
merasakan hal yang sama.

NILAI ESTETIS DALAM GERAK TARI


Berbicara mengenai simbol akan berkaitan dengan estetika. Estetika diartikan indah. Pada awalnya
estetika mencakup seluruh nilai seperti nilai seni, alam moral, dan intelektual. Perkembangan berikutnya,
definisi estetika (keindahan) adalah kesatuan dari hubungan bentuk yang terdapat diantara kesadaran
kita. Dengan demikian estetika bukan bagian dari kualitas atau peristiwa, melainkan cara kita
menagkapnya atau mengacu pada selera. Simbol dan estetika tari dapat diamati melalui wirama
(irama), wiraga (keterampilan gerak), wirasa (rasa), serta unsur-unsur yang mendukungnya seperti
musik.

Hasil karya seni merupakan ungkapan perasaan yang dibentuk dari unsur-unsur yang dipadu menjadi satu
kesatuan yang utuh untuk dapat dinikmati secara estetis. Seorang seniman mengomunikasikan pikiran
dan perasaannya dalam bentuk karya seni untuk dinikmati nilai-nilai keindahannya oleh para penikmat
seni. Untuk memahami hasil keindahan karya seni, masing-masing memiliki tolak ukur atau kriteria
tersendiri, misalnya pada karya surakarta nilai-nilai keindahan tari terangkum dalam hasta sawanda serta
wiraga, wirama, dan wirasa. Adapun hasta sawanda berarti delapan , sa/esa artinya
satu, wanda artinya muka atau badan. Jadi hasta sawanda berarti delapan ketentuan normatif yang
menjadi satu kesatuan untuk diterapkan bagi seorang penari agar membawakan suatu tarian dengan
baik. Unsur-unsur pada hasta sawanda yaitu sebagai berikut.
1. Pacak : Suatu norma atau ketentuan yang meliputi keseluruhan ekspresi gerak setiap tarian yang
harus diterapkan dan ditaati. Sebagai contoh dalam membawakan tokoh Srikandhi pacaknya
berbeda dengan tokoh Shinta meskipun karakter tarinya sama-sama tari putri.
2. Pancat : Pola kesinambungan antara motif gerak satu dan motif gerak lainnya yang dirangkai
secara berurutan, serasi, dan menyatu.
3. Ulat : Sikap pandangan, polatan, atau ekspresi wajah ketika menari supaya mencapai dramatik
peran yang dibawakan, seperti ekspresi gembira, sedih, gelisah, dan sebagainya.
4. Lulut : Hafal secara secara keseluruhan dengan insting sehingga gerakan-gerakan tarinya akan
keluar dengan sendirinya tanpa harus mengingat atau menghafal.
5. Wiled : Kreatifitas yang menjadi ciri (gaya) setiap penari yang diterapkan saat melakukan gerakan
tari.
6. Luwes : Gerakan tari luwes dan enak dipandang yang biasanya dipengaruhi faktor pembawaan
atau bakan seseorang.
7. Irama : Ketukan-ketukan tertentu yang mengatur cepat-lambatnya gerakan tari. Penari harus
dapat menepati irama, artinya tidak boleh mendahului ataupun ketinggalan dalam irama tersebut.
8. Gending : Seorang penari harus memahami dan mampu menerapkan bentuk-bentuk gending
sebagai iringan tari serta dapat mengetahui saat jatuhnya ketuk, kenong, kempul, dan gong.
Perhatikan contoh analisis simbol dan nilai estetis tari tradisional (tari payung) dari aspek secara
keseluruhan mulai gerak, busana, iringan, hingga properti yang digunakan!

Nilai estetis ragam gerak dasar tari tradisi


Ada 5 unsur yang menjadi dasar untuk menilai indahnya sebuah pertunjukan tari yaitu;

 Wiraga,yakni kesesuaian antara jenis tarian dengan umur dan fisik penarinya.
 Wirama,yakni kesesuaian antara irama lagu atau musik pengiring.
 Wirasa,yakni penghayatan yang dilakukan oleh penari terhadap materi.
 Wicitra,yakni bagaimana keseluruhan gambaran yang dapat diperlihatkan sebagai
sebuah keutuhan karya seni.
 Konteks,yakni hubungan pertunjukan dengan momen atau acara tertentu.
TATA TEKNIK PENTAS
Tata Teknik Pentas Adalah Cara bagaimana membuat menyusun pentas atau tempat
pertunjukan / Cara menata panggung atau tempat pertunjukan.

Jadi tata teknik pentas adalah cara menata panggung untuk sebuah pertunjukan. Seorang yang
melakukan tata teknik pentas atau penataan sebuah panggung disebut sebagai seorang kreator.
Sebelum melakukan sebuah penataan alangkah lebih tepatnya bila seorang kreator mempunyai
konsep untuk melandasi penataan yang akan dilakukan pada sebuah pertunjukan,dimana konsep
merupakan sebuah kompas yang mampu memberikan suatu petunjuk dan gambaran bagi seorang
penata panggung.

Suatu konsep dapat kita buat dengan merancang atau membahas tentang pertunjukan apa yang
akan dipertujukan atau dipentaskan. Misal katakan saja kita akan mementaskan sebuah pertujukan
tari, tari yang dimaksud disini adalah tari kontenporer kemudian setelah itu kita akan menentukan
tema yang akan diangkat, misal temanya tentang sebuah permainan rakyat,permainan rakyat yang
seperti apa yang akan diangkat dan permainan rakyat daerah mana.

Cara Menata : Terlebih dahulu merancang / membuat konsep setelahnya mengarah pada Teknik
perencanaan apa yang akan dibuat sehingga menjadi sebuah tempat pertunjukan.

Perencanaan : Contoh perencanaan Pentas / Pertunjukan untuk Tari, Pertunjukan Tari seperti apa
kita Buat, Sebut saja KONTEMPORER kemudian pemilihan Tema / Cerita Pada Tarian, Setelahnya
masuk pada Material yang digunakan Seperti

KOSTUM,
MAKE- UP,
PROFERTI,
HAND PROFERTI,
SET PROFERTI,
CAHAYA,
SOUND SISTEM, AKUSTIK.

Penata Pentas : Pentas / Pertunjukan yang mau diselenggarakan Menurut kebutuhan , Pentas /
Pertunjukan diselenggarakn IN DOOR (Lingkungan / Alam) / OUT DOOR (Gedung Pertunjukan),

Jenis-jenis Panggung
Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara
kerja penulis lakon, sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Jenis panggung
yang sering digunakan adalah, panggung proscenium, panggung arena dan panggung thrust,
Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat
merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.

Macam-Macam Panggung

Secara fisik bentuk panggung dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu panggung tertutup, panggung terbuka
dan panggung kereta. panggung tertutup terdiri dari panggung prosenium, panggung portable dan juga dapat
berupa arena. Sedangkan panggung terbuka atau lebih dikenal dengan sebutan open air stage dan bentuknya
juga bermacam-macam.

a. Panggung Prosenium atau Panggung Pigura

Panggung prosenium merupakan panggung konvensional yang memiliki ruang prosenium atau suatu bingkai
gambar melalui mana penonton menyaksikan pertunjukan. Hubungan antara panggung dan auditorium
dipisahkan atau dibatasi oleh dinding atau lubang prosenium. Sedangkan sisi atau tepi lubang prosenium bisa
berupa garis lengkung atau garis lurus yang dapat disebut dengan pelengkung prosenium (Proscenium Arch).

Panggung prosenium dibuat untuk membatasi daerah pemeranan dengan penonton. Arah dari panggung ini
hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan penonton lebih terpusat kearah pertunjukan.
Para pemeran diatas panggung juga agar lebih jelas dan memusatkan perhatian penonton. Dalam kesadaran
itulah maka keadaan pentas prosenium harus dapat memenuhi fungsi melayani pertunjukan dengan sebaik-
baiknya.

Dengan kesadaran bahwa penonton yang datang hanya bermaksud untuk menonton pertunjukan, oleh karena
itu harus dihindarikan sejauh mungkin apa yang nampak dalam pentas prosenium yang sifatnya bukan
pertunjukan. Maka dipasanglah layar-layar (curtain)dan sebeng-sebeng (Side wing). Maksudnya agar segala
persiapan pertunjukan dibelakang pentas yang sifatnya bukan pertunjukan tidak dilihat oleh penonton. Pentas
prosenium tidak seakrab pentas arena, karena memang ada kesengajaan atau kesadaran membuat
pertunjukan dengan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran-ukuran atau nilai-nilai tertentu dari pertunjukan itu
kemudian menjadi konvensi. Maka dari itu pertunjukan yang melakukan konvensi demikian disebut dengan
pertunjukan konvensional.

Gambar 1. Denah panggung Prosenium

b. Panggung Portable

Panggung portable yaitu panggung tanpa layar muka dan dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung
dengan mempergunakan panggung (podium, platform) yang dipasang dengan kokoh di atas kuda-kuda.
Sebagai tempat penonton biasanya mempergunakan kursi lipat. Adegan-adegan dapat diakhiri dengan
mematikan lampu (black out) sebagai pengganti layar depan. Dengan kata lain bahwa panggung portable yaitu
panggung yang dibuat secara tidak permanen.

Gambar 2. Panggung portable

c. Panggung Arena

Panggung arena merupakan bentuk panggung yang paling sederhana dibandingkan dengan bentuk-bentuk
pangung yang lainnya. Panggung ini dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung asal dapat dipergunakan
secara memadai. Kursi-kursi penonton diatur sedemikian rupa sehingga tempat panggung berada di tengah
dan antara deretan kursi ada lorong untuk masuk dan keluar pemain atau penari menurut kebutuhan
pertunjukan tersebut. Papan penyangga (peninggi) ditempatkan di belakang masing-masing deret kursi,
sehingga kursi deretan belakang dapat melihat dengan baik tanpa terhalang penonton dimukanya. Sebagai
penganti layar pada akhir pertunjukan atau pergantian babak dapat digunakan dengan cara mematikan lampu
(black out). Perlengkapan tata lampu dapat dibuatkan tiang-tiang tersendiri dan penempatannya harus tidak
mengganggu pandangan penonton.

Berbagai ragam bentuk panggung arena adalah sebagai berikut :

c.1. Panggung arena tapal kuda adalah panggung dimana separuh bagian pentas atau panggung masuk
kebagian penonton sehingga membentuk lingkaran tapal kuda.

Gambar 3. Denah panggung arena tapal kuda

c.2. Panggung arena ¾, berarti ¾ dari panggung masuk kearah penonton atau dengan kata lain penonton
dapat menyaksikan pementasan dari tiga sisi atau arah penjuru panggung. Panggung arena ¾ biasanya berupa
pentas arena bentuk U.

Gambar 4. Denah panggung arena bentuk U

c.3. Panggung arena penuh yaitu dimana penonton dapat menyaksikan pertunjukan dari segala sudut atau
arah dan arena permainan berada di tengah-tengah penonton. Panggung arena penuh biasanya panggung
arena bujur sangkar atau panggung arena bentuk lingkaran.
Gambar 5. Denah panggung arena bujur sangkar

Gambar 6. Denah panggung arena bentuk lingkaran

d. Panggung Terbuka

Panggung terbuka sebetulnya lahir dan dibuat di daerah atau tempat terbuka. Berbagai variasi dapat
digunakan untuk memproduksi pertunjukan di tempat terbuka. Pentas dapat dibuat di beranda rumah, teras
sebuah gedung dengan penonton berada di halaman, atau dapat diadakan disebuah tempat yang landai
dimana penonton berada di bagian bawah tempat tersebut. Panggung terbuka permanen (open air stage) yang
cukup popular di Indonesia antara lain adalah panggung terbuka di Candi Prambanan.
Gambar 7. Denah panggung terbuka

1. Proscenium
Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton
menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium Kalau Di
Banjarmasin kal-sel bisa kita lihat pada BALAIRUNG SARI Taman Budaya KAL-SEL.
2. Arena
Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung,
Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi
maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat
menghalangi pandangan penonton. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap)
dan tertutup.

 Bentuk segi empat , jenis panggung yang perletakan panggung perunjukan berada di salah satu sisi yang lain.
Kondisi ini menyebabkan penonton yang berada di arena samping akan merasa kesulitan menikmati
pertunjukan kesenian.
 Bentuk kipas (melingkar), jenis panggung yang menjadikan ruang penonton melingkari panggung pertunjukan.

 Bentuk tapak kuda, jenis panggung ini akan memantulkan gelombang bunyi secara memusat disisi tengah
ruangan, karena permukaaan dinding yang berbentuk cekung.

 Bentuk tak beraturan,jenis panggung ini tercipta untuk memenuhi aspek kenyaman visual,pencahayaan dan
akustik.dinding ruangan dibuat tak beraturan agar dapat menyerap bunyi ataupun memantulkan gelombang
bunyi yang dibutuhkan dengan baik.

 Auditorium, jenis panggung ini berada di tengah,dengan auditorium terletak mengelilingi panggung
pertunjukan. Dengan begitu kemampuan arah hadap pementas, maka ia akan menghadap ke penonton.
 Auditorium transverse stage, jenis panggung ini memiliki bentuk yang sangat sederhana dengan meletakan
panggung pertunjukan dan tempat duduk penonton saling berhadapan.

 Panggung terbuka, jenis panggung ini memiliki ruang utama dan ruang penonton terletak saling berhadapan.
Terkadang ruang utama juga dikelilingi ruang penonton.

 Ruang arena/panggung arena, jenis panggung ini berupa teater melingkar yang dikembangkan dari bentuk
amphitheatre klasik berupa bentuk radial. Ruang penonton berada di sekeliling ruang utama.

Proscenim, jenis panggung ini dapat disebut sebagai panggung bingkai karena penonton
menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkungan proscenium. Dalam
panggung ini terdapat drop/silokrama dan wing yang terbuat dari kain hitam , serta balkon (posisi
penonton di atas samping)

Masing-masing bentuk memiliki keunikannya tersendiri tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama
yaitu mendekatkan pemain dengan penonton.

Panggung Arena terbagi 2 yaitu Full Arena Dan Semi Arena.

1. Full Arena : Bentuk Segi Empat, Bentuk Melingkar panggung perunjukkan berada di salah satu
sisi dan ruang penonton berada disisi yang lain. Kondisi ini menyebabkan penonton yang berada di
arena samping akan merasa kesulitan menikmati pertunjukkan kesenian,

2. Semi Arena
1. Later U
2. Tapal Kuda
3. Leter L
3. Thrust
Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah
penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri
panggung, Panggung thrust nampak seperti gabungan antara panggung arena dan proscenium.
Bagian-bagian Panggung

Panggung teater, Bagian yang paling kompleks dan memiliki fungsi artistik pendukung pertunjukan
adalah bagian panggung. Masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Seorang penata panggung
harus mengenal bagian-bagian panggung secara mendetil. Yaitu :
1. Border. Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk
memberikan batasan area permaianan yang digunakan.
2. Backdrop. Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk
latar belakang panggung.
3. Batten. Disebut juga kakuan. Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk meletakkan
atau menggantung benda dan dapat dipindahkan secara fleksibel.
4. Penutup/flies. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor
serta menangani peralatan tata cahaya.
5. Rumah panggung (stage house). Seluruh ruang panggung yang meliputi latar dan area untuk
tampil
6. Catwalk (jalan sempit). Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang
dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain sehingga memudahkan pekerja dalam memasang dan
menata peralatan.
7. Tirai besi. Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi
penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung. Tirai ini diturunkan sehingga api tidak
menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.
8. Latar panggung atas. Bagian latar paling belakang yang biasanya digunakan untuk memperluas
area pementasan dengan meletakkan gambar perspektif.
9. Sayap (side wing). Bagian kanan dan kiri panggung yang tersembunyi dari penonton, biasanya
digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil.
10. Layar panggung. Tirai kain yang memisahkan panggung dan ruang penonton. Digunakan (dibuka)
untuk menandai dimulainya pertunjukan. Ditutup untuk mengakhiri pertunjukan.
11. Trap jungkit. Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-
masuk pemain dari bawah panggung.
12. Tangga. Digunakan untuk naik ke bagian atas panggung secara cepat. Tangga lain, biasanya
diletakkan di belakang atau samping panggung sebelah luar.
13. Apron. Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium.
14. Bawah panggung. Digunakan untuk menyimpan peralatan set. Terkadang di bagian bawah ini
juga terdapat kamar ganti pemain.
15. Panggung. Tempat pertunjukan dilangsungkan
16. Orchestra Pit. Tempat para musisi orkestra bermain. Dalam beberapa panggung proscenium,
orchestra pit tidak disediakan.
17. FOH (Front Of House) Bar. Baris lampu yang dipasang di atas penonton. Digunakan untuk lampu
spot.
20. Langit-langit akustik. Terbuat dari bahan yang dapat memproyeksikan suara dan tidak
menghasilkan gema.
21. Ruang pengendali. Ruang untuk mengendalikan cahaya dan suara (sound system).
22. Bar. Tempat menjual makan dan minum untuk penonton selama menunggu pertunjukan dimulai.
23. Foyer. Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat.
24. Tangga. Digunakan untuk naik dan turun dari ruang lantai satu ke ruang lantai lain.
25. Auditorium (house). Ruang tempat duduk penonton di panggung proscenium. Istilah auditorium
sering juga digunakan sebagai pengganti panggung proscenium itu sendiri.
26. Ruang ganti pemain. Ruang ini bisa juga terletak di bagian bawah belakang panggung.

HAKIKATNYA PRINSIP DAN SEJARAH PENTAS


Berdasarkan hakikat, prinsip dan sejarah pentas :
Secara hakikat, tata teknik pada dasarnya adalah untuk menghidupkan sebuah karya seni dan secara
prinsip, tata teknik pentas adalah sebuah komitmen,aturan,dan pegangan. Disini pentas dihadirkan
sesuai dengan konsep yang menjadi pilihan. Kemudian berdasarkan sejarah panggung hadir karena
terjadinya suatu pergeseran dari hal yang bersifat ritual ke hal yang bersifat sebagai hiburan untuk
manusia. Dan juga kelahiran pentas sama dengan peralihan dari sebuah kepercayaan menuju pada
ke pertunjukan

Hakikatnya / Keberadaannya bahwa dengan tidak adanya Teknik tata pentas (TTP) pasti tidak aka
nada Pentas / Pertunjukan.
Prinsip : Pentas dihadirkan sesuai dengan konsep yang menjadi pilihan atau sesuai dengan tujuan.
Pentas/Tempat : Penonton yang ditinggikan.
Panggung : Bisa penonton yang ditinggikan dan juga panggung yang ditinggikan untuk menampilkan
sehingga ada sebuah peninggian.

JENIS – JENIS LAMPU (LIGHTING)


A. Strip Light
1 Open System
Deretan lampu yang berada dalam kotak panjang tanpa sekat, jenis ini dipasang pada Apron,
untuk lampu kaki (Foot Light)). Di samping berfungsi sebagai penerangan umum juga dapat untuk
menetralkan sinar dari atas.
2 Compartment System

Deretan lampu dalam kotak panjang yang bersekat. Di dalam kesatuannya, deret lampu ini dapat
dibagi menjadi beberapa kelompok warna. Lampu ini dipasang di daerah Border sebagai Border
Light.

B. Spot Light

Sumber sinar berkekuatan besar, sinar yang dipantulkan oleh reflector dibiaskan oleh lensa
dan biasannya sesuai dengan jenis lensanya. Ada berbagai macam lampu khusus atau Spot Light

1. Fresnell Spot light

Fresnell adalah lampu spot yang menggunakan reflector spherical dan lensa patent fresnell yang
memiliki cahaya menyatu tidak tajam (lembut).

2 Plano Convex Spot Light

Lampu spot ini menggunakan reflector ellipsoidal dan lensa plano-konvex yang memiliki cahaya
menyatu tajam. Lampu lensa dengan berbagai ukuran 5-8 dengan kekuatan antara 250 watt sampai
3000 watt.

3 Ellipsoidal Spot Light

Lampu lensa berukuran 3- 12 dengan kekuatan antara 250 watt sampai 3000 watt.

4.Follow spot light

Follow spot adalah lampu yang memiliki intensitas atau berkekuatan besar dan voltase/tegangan
tinggi. Sinar dapat dipergunakan untuk mengikuti pemain berpindah atau bergerak untuk berganti
posisi. Intensitas lampu follow minimal 1000 watt dan maximal 2500 watt.

5 Flood Light
Flood light adalah lampu yang mempunyai kekuatan yang besar tanpa lensa. Apa yang ditaruh di
bawah dipancangkan pada suatu standar untuk menerangi jalan-jalan keluar masuk, drop, cyclorama,
dan sebagainya. Ada yang digantungkan untuk menerangi daerah permainan, sebuah backdrop,
sebuah cyclorama.

TATA CAHAYA
Pencahayaan yang memiliki Artificial (Buatan) melalui lampu dan muatan listrik yang
diperdunakan untuk keperluan penerangan panggung atau untuk tujuan tujuan khusus guna untuk
membantu suatu penampilan dalam kebutuhan pertunjukan.
Tata Cahaya dibagi dua :
1. Tata Cahaya Lampu Umum (General Illumination)
Contoh : Cahaya Lampu Sehari – Hari.
2. Tata Cahaya Khusus (Spesific Illumination)
Contoh : Cahaya yang disalurkan melalui lensa (Lampu-lampu pertunjukan)
Tugas dan Tanggung jawab penata Cahaya
1. Menafsirkan scenario bersama sutradara
2. Menggali stimulus gagasan Kreatifitasnya melalui tahapan tahapan awal yang disebut Working
with the teks.
3. Membuat catatan penting tentang scenario.
4. Bekerjasama dengan Tim produksi dan para penata lainnya.
5. Memahami dan menguasai tata cahaya (Lighting equitment) atau menguasai cara pengendalian
lampu sangat perlu. Maka tidak saja diperlukan pengetahuan juga pengalaman.
Sarana Pengendali Lampu
1. Intensitas : Kekuatan Cahaya (Tebal atau Tipisnya cahaya)
2. Warna : Yaitu Berkaitan dengan Suasana.
3. Distribusi : Pencahayaan (Pemberian Pencahayaan)
4. Gerakan : Perpindahan Ruang.
Prosedure Tata Cahaya
1. Planning : Rancangan.
2. Design : Rancangan.
3. Bump in : Konsep.
4. Rigging : Tempat Lalu lalang Penonton.
5. Paching : Cara penataan Dari Alat alat.
6. Plooting Gerakan Pencahayaan (Gambar)
7. Focusing : Pemokusan (Yang Biasanya pada lampu tertentu)
8. Performing : Permainan cahaya (Memberikan Cahaya)
9. Bump Out : Konsep keluar
Macam-macam lampu :
1. Scoop adalah lampu flood yang menggunakan reflektor elipssoial dan dapat digunakan
2. Profile adalah termasuk lampu spot yang menggunakan lensa plano convet sehingga
lingkaran cahaya
3. Lampu efek adalah lampu yang menghadirkan cahaya khusus untuk kepentingan tertentu
4. Barndorn adalah sebuah alat yang memiliki strip atau penutup yang dapat diatur atau
disesuaikan
5. Gobo adalah plat metal yang dicetak membentuk pola motif tertentu m
6. Filter
Perencanaan Pergelaran Tari
A. PERENCANAAN PERGELARAN TARI

Perencanaan adalah suatu proses untuk menetapkan apa yang akan dicapai dan bagaimana
mencapainya. Perencanaan adalah langkah awal sebelum melakukan langkah-langkah
berikutnya dibuat dalam bentuk tertulis dengan jelas. Perencanaan yang dibuat secara
tertulis disebut proposal.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat perencanaan tertlis yaitu
menentukan tema pagelaran, menentukan rencana kegiatan, menyusun program pergelaran
serta mnentukan tempat pergelaran.

1. Menentukan Tema Pagelaran


Tema adalah sesuatu yang akan dicapai. Dengan kata lain tema merupakan jiwa sesuatu
kegiatan. Tema pagelaran sabngat penting karena sebagai pedoman untuk bertindak. Dalam
pagelaran tari tema dapat dimunculkan dalam kisah yang akan dipertunjukan. Dalam
menentukan tema, dapat juga dihubungkan dengan hari bear nasional misalnya tema
perjuangan, kepahlawanan, kebudayaan dan lain-lain.

2. Menentukan Rencana Kegiatan


Yang dimaksud rencana kegiatan adalah tindakan yang akan kita lakukan secra tertulis.
Rencana kegiatan masih bersifat teknis dan berbentuk garis besar atau hal-hal yang pokok.
Misalnya :

§ Jenis kegiatan berupa pergelaran tari

§ Tempat pergelaran

§ Pelaksanaan pergelaran

§ Karya yang akan dipergelarkan

3. Menyusun program Pergelaran Tari


Setelah rencana kegiatan disepakati dan dipahami bersama, langkah berikutnya adalah
menyusun program pergelaran. Program acara merupakan rencana kegiatan yang detail,
misalnya apakah dilakukan pada hari yang sama, macam pergelaran tari apa yang akan
dipergelarkan dan apa saja yang dilakukan pada saat pembukaan dan penutupan.

4. Menentukan Tempat Pergelaran Tari


Tempat merupakan komponen yang sangat penting dalam pergelaran dalam pergelaran tari.
Letaknya berda diluar atau di dalam ruangan, dan kapasitasnya orang ang dapat ditampung
banyak atau sedfikit. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menentukan tempat pegelaran
adalah :

§ Nyaman, memberikan keleluasaan bagi pengunjung untuk mengepresikan karya seni.

§ Tertib dan lancar, pengaturan aus satu arah sehingga pengunjung tidak tabrakan.

5. Pengorganisasian Pergelaran Tari


Oranisasi adalah suatu wadah bekerja sama untuk mencapai tujuan yang kan dicapai. Dalam
pergelaran tari organisasi dimaksudkan pembentukan panitia yang bertugas menyusundan
merencanakan kegiatan secara matang. Adapun panitia organisasi yang diperlukan dalam
pergelaran tari adalah :

§ Direktur/Ketua (sutradara)

§ Stage manager

§ Aktor/aktris dibantu oleh crew, stage crew, property crew, ligh crew, costum
crew, sound crew.

§ Business manager yang dibantu oleh house manager dan publicity manager atau box office
manager.

1. Business manager memegang, mengurusi serta menggunakan masalah keuangan yang


merupakan modal dalam kegiatan pergelaran tari.

2. House manager adalah seksi yang mengurusi serta mempersiapkan, mengatur masalah
tempat penonton, mengecek tiket/undangan, membagi brosur, tenaga/staf manager disebut
liser.

3. Stage manager, seksi yang bertugas mengkoordinasikan pergelar. Koordinasi ini


langsung kepada pemain, urusan pentas (stage), perlengkapan pentas (property crew),
urusan lampu (laiht crew), urusan rias/busana (costum crew), urusan pengeras suara (sound
crew).

4. Direktur/ketua adalah orang yang berkoordinasi langsung kepada business manager,


sedang sutradara koordinasinya langsung kepada stage manager aau aktor/aktris. Business
manager langsung dapat berkoordinasi dengan msing-masing seksi dengan sepengetahuan
atau bersama-sama direktur/ketua.

5. Keberhasilan tugas business manager banyak dipengaruhi atau mendapat bantuan dari
publicity manager (publikasi), sedangkan box office manager tugasnya adalah menjual
tiket/karcis dalam pergelaran.

Dalam kegiatan pagelaran tari yang besar dan professional, kepanitiaan ini mutlak harus ada
namaun ountuk lingkunagan sekolah cukup siswa dan kepanitiaan disesuaiakan dengan
jenis kegitan yang diperlukan dalam pergelaran. Dalam kepanitiaan pergelaran tari peranan
penting adalah secretariat seksi pementasan yang bertugas menemani materi pergelaran.
Sekertariat bekerja sama dengan seksi pementasan harus menjalin hubungan yang baik
dalam menentukan :

1.

o Jadwal latihan
o Merencanaka kebutuhan perlengkpaan dan alat-alat yang diperlukan dalam
pergelaran.
o Menentukan jumlah undangan yang dihadirkan
o Mengecek segala hasil kegiatan persiapan secara rutin
o Menentukan walktu latihan dengan iringan.
o Menentukan gladi bersih (general repetisi) yang dilakukan dua hari sebelum
pergelaran dilaksankan.
B. FUNGSI PERGELARAN TARI

Kegiatan pagelaran memiliki manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat langsung
adalah sebagai media untuk berekpresi diri, untuk berkomunikasi, untuk mengembangkan
bakat, dan apresiasi. Sedangkan manfaat tidak langsung adalah dapat mengembangkan
kepekaan terhadap alam sekitar dan menambah kehalusan budi pekerti.

1. Media Expresi Diri


Melalui pergelaran seseorang memiliki kesempatan untuk mengepresikan dirinya dabn
menciptakan karya seni untuk diperlihartkan kepada orang lain.

2. Media Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan kepada orang lain secra timbal
balik sehingga dan kesepahaman antara pengirim pesan dan penerima pesan. Dalam
komunikasi ada pesan, isi pesan, penerima pesan. Melalui pergelaran ini pencipta seni dapat
menyampaikan pesan perasaannya atau pesan-pesan social yang berwujucdm karya seni
kepada penikmat seni.

3. Media Pengembangan Bakat


Bakat adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia sejak lahir. Namun demikian bakat
tidak akan berkembang dengan baik bila lingkungan sekitar tidak memberikan kesempatan
untuk berkembang. Oleh karena itu, dengan adanya pergelaran seseorang diberi kesempatan
mengembangkan bakat karya seni.

4. Media Apresiasi
Apresiasi adalah totalitas kegiatan meliputi pengamatan,penghayatan,penilaian dan
penghargaan terhadap sesuatu. Dengan adanya pergelaran seseorang dapat melakukan
pengamatan terhadap karya seni dan memberikan penilaian. Penilaian ini menjadi masukan
kepada pecinta seni untuk karya berikutnya.
A. PENGERTIAN KRITIK TARI
Kritik berarti memberikan apresiasi terhadap karya seni yang dilihatnya. Kritik tari disebabkan adanya
kegiatan apresiasi karya seni tari. Dalam menikmati sebuah karya seni tari perwujudan artistik dibatasi
oleh waktu dalam pertunjukan. Pada saat pertunjukan itu selesai, maka karya tari itupun menghilang dari
pandangan penonton. Seorang penonton yang memiliki bekal pengetahuan dan apresiasi yang baik akan
mendapatkan pengalaman batin yang lebih banyak dan ia mampu melihat karya tari tersebut dengan kritis.
Setelah Anda mengadakan kegiatan pengamatan terhadap pergelaran atau pertunjukan tari, Anda dapat
membuat tanggapan berupa kritik.

Mengkritik karya seni tari tidak hanya dilihat dari sisi tariannya saja, tetapi banyak aspek yang harus
diamati, seperti musik pengiring, penghayatan dalam menari, koreografi, properti tari yang digunakan,
kostum dan tata rias, serta artistik. Kritik sering dikatakan menilai karya seni baik dan buruknya karya seni
tersebut bergantung dari pemahaman seorang kritikus seni.

B. JENIS KRITIK TARI


Jenis kritik seni termasuk di dalamnya kritik tari adalah kritik jurnalistik, kritik pedadogis, kritik ilmiah,
dan kritik populer. Penjelasan mengenai kritik ini sudah Anda pelajari pada bab Kritik Karya Seni Rupa.

C. FUNGSI KRITIK TARI


Kritik dimaksudkan untuk memberikan manfaat dalam membentuk penonton menjadi lebih kritis. Setelah
terbentuk penonton yang kritis, pada giliran berikutnya, seniman tari atau para kreator tari benar-benar
mendapatkan penonton-penonton yang mempunyai bekal pengetahuan yang cukup dan berpandangan yang
luas serta terbuka, atau dengan pengertian lain mendapatkan penonton yang terpilih. Maka, kritik mampu
menciptakan masyarakat yang berkualitas dan berwawasan mendalam tentang kehadiran sebuah karya
seni.

Fungsi yang lebih utama selain memberi penilaian, kritik merupakan suatu jembatan. Dimana sebuah kritik
mampu memberi penjelasan kepada masyarakat tentang adanya suatu karya yang mempunyai bobot, baik
bobot artistik maupun bobot nonartistik.

Kritik sebagai penilaian, seperti banyak orang mengungkapkan dan menjelaskan, kritik sebenarnya bukan
suatu usaha penghakiman. Akan tetapi, sebuah kritik memberikan suatu usaha untuk memberikan
penilaian. Mengingat hal tersebut bahwa masyarakat dalam menikmati karya tari mempunyai bekal yang
tidak seragam. Semua bergantung sekali atas besar kecilnya kemampuan mengamati, dengan dasar
pengalaman dan tingkat apresasinya. Demikian pula pada segi teknis, tidak semua juga penilaian teknis
yang dipunyai oleh penonton untuk mampu menelaah sebuah karya tari. Mengingat karya yang
dipentaskan mempunyai ciri dan karakteristik tersendiri, contohnya karya-karya eksperimental. Seniman
tari (koreografer) dalam emnciptakan sebuah karya mencoba berbagai macam teknik dan gaya. Sudah
tentu yang mampu membedahnya adalah orang yang mendapatkan pendidikan atau pengalaman yang
lebih, khususnya dalam hal teknik.

Dalam penyadaran masyarakat terhadap tingkat keberadaban zamannya memang tidak hanya untuk
mengenal seni tari, tetapi secara umum kritik memang sangat dibutuhkan dalam berbagai sisi kehidupan.

D. SIMBOL KARYA TARI DALAM KRITIK TARI


Simbol dalam seni tari bisa terlihat dari gerak, busana, hingga tata rias yang digunakan. Simbol dalam
gerak tari sering diartikan tarian yang dipertunjukan memiliki makna yang dapat ditafsirkan melalui
tulisan. Simbol gerak dalam sebuah tarian ada yang memiliki arti dan ada yang tidak memiliki arti, tetapi
masih memiliki unsur keindahan. Simbol dapat berupa gerak tari berdasarkan imajinasi seorang penari dan
dapat berupa benda yang disajikan properti tari.

Untuk memahami betul mengenai makna dari sebuah tarian, penulis harus memiliki wawasan seni yang
luas tidak hanya seni tari, tetapi cabang seni yang lain karena setiap cabang seni memiliki keterkaitan dan
berhubungan. Selain itu, perlu ketelitian indra penglihatan sangat diutamakan dan pemahaman dalam
mengartikan dari sebuah gerak tari, gerak tersebut bersifat imitasi atau imajinasi.

E. NILAI ESTETIS DALAM KRITIK TARI


Nilai estetis dalam karya seni tari menjadi faktor penting karena dengan nilai estetis tersebut penonton
dapat menikmati sebuah penampilan tari serta memberi kesan yang mendalam. Jenis tari yang
dipertunjukkan ditata secara khusus untuk dapat dinikmati nilai artistiknya. Nilai estetis dalam karya seni
tari tidak hanya dapat dilihat dari gerak tari itu sendiri, tetapi dilihat dari berbagai aspek seni yang lain
sebagai unsur pendukungnya.

Nilai estetis tari dapat terlihat menarik karena kostum yang digunakan menarik, memiliki teknik menari
yang baik, memiliki penampilan pribadi yang mengesankan, memiliki kepekaan yang baik dalam ritme
musik, serta koreografi yang tepat dan dapat menggugah emosi, baik pada penari maupun bagi penonton.

Kepekaan estetis dapat ditumbuhkan dengan melalui belajar dan mempraktikan tari dengan penuh
kejiwaan dan berbaur dengan musik yang mengiringi, memilih bentuk dan warna kostum yang sesuai
dengan tarian tersebut, merias wajah, properti tari yang digunakan, dan sebagainya.

F. MEMBUAT TULISAN DALAM KRITIK TARI


Seorang kritikus harus memiliki pengetahuan tentang seni tari dan memiliki kepekaan estetis. Selain itu,
memiliki kemampuan dalam menulis hasil pengamatannya secara langsung di atas panggung atau pentas.
Jika tidak, tidak dapat disebut kritik tari, tetapi hanya sebuah esai atau artikel tari. Sebuah kritik tari terdiri
dari beberapa bagian ulasan sebagai berikut.

1. DESKRIPSI
Deskripsi yang dimaksud di sini adalah mengumpulkan data berkaitan dengan tari dengan cara mengamati
pertunjukan tari yang tersaji langsung. Dalam mendeskripsikan karya seni, kritikus dituntut menyajikan
keterangan secara objektif yang bersumber pada fakta. Hal yang dideskripsikan berupa uraian aspek
penari, gerak, ekspresi, dan ilustrasi musik yang mengiringinya.

2. ANALISIS FORMAL
Pada tahap ini kritikus menguraikan kualitas elemen seni yang berupa gerak, ruang, waktu, tenaga, dan
ekspresi pada karya seni tari tersebut.

3. INTERPRETASI
Interpretasi dalam kritik seni adalah proses mengemukakan arti atau makna karya seni dari hasil deskripsi
dan analisis yang cermat. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai proses penilaian.

4. EVALUASI
Evaluasi karya seni dengan metode kritis berarti menetapkan peringkat sebuah karya dalam hubungannya
dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya.

Kegiatan kritik merupakan salah satu aspek dari apresiasi yang berkaitan dengan kegiatan memberi resensi
(ulasan) suatu pameran atau karya seni. Cara memberi komentar kritik terhadap karya seni tari, antara lain
sebagai berikut.

1. Pemaparan atau deskripsi mengenai tari yang terlihat atau tampak ketika mengadakan pengamatan.
2. Uraian kebetulan (formal) yaitu menganalisis mengenai bentuk atau unsur-unsur tari seperti gerak,
pola lantai, iringan tari, dan lain-lain.
3. Menyajikan karya dan menyampaikan masalah-masalah, kemudian siswa memberikan saran yang
perlu ditambah atau dikurangi dari karya tersebut.
4. Penilaian atau evaluasi caranya dengan menentukan kualitas suatu karya seni bila dibandingkan
dengan karya lain yang sejenis. Di sini siswa membandingkan dengan karya yang sejenis yang
pernah dilihatnya