Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat , karunia
dan hidayahNya kepada kita semua sehingga akhirnya Makalah dapat terselesaikan.. Adapun
Makalah ini berjudul “Kenakalan Remaja”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan.Oleh karena
itu segala saran dan kritik yang membangun , penulis harapkan untuk kemajuan masa-masa
mendatang.
Harapan penulis semoga penulis Makalah ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.

Ruteng , April 2018


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang Permasalahan

I.2. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konsep Kenakalan Remaja

2.2 Masa Remaja

2.3 Kenakalan Remaja

2.4 Masalah-Masalah Kenakalan Remaja

2.5 Hal – hal Yang dapat Dilakukan untuk Mengatasi Kenakalan Remaja

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuh kembang remaja pada zaman sekarang sudah tidak bisa lagi dibanggakan.
Perilaku kenakalan remaja saat ini sulit diatasi. Baru-baru ini sering kita dengar berita
ditelevisi maupun radio yang disebabkan oleh kenakalan remaja diantaranya tawuran,
pemerkosaan yang dilakukan oleh pelajar, pemakaian narkoba, dan lain-lain.
Kehidupan remaja pada masa kini mulai memprihatinkan. Remaja yang seharusnya
menjadi kader-kader penerus bangsa kini tidak bisa lagi menjadi jaminan untuk kemajuan
Bangsa dan Negara. Bahkan perilaku mereka cenderung merosot. Sungguh sangat di
sayangkan para remaja saat ini dengan mudah melakukan perubahan social dan budaya dengan
mengadopsi budaya luar tanpa adanya filter. Meningkatnya kenakalan remaja saat ini
merupakan salah satu dampak dari media informasi yaitu program siaran televisi yang dinilai
kurang memberikan nilai edukatif bagi remaja ketimbang nilai amoralnya. Hal ini disebabkan
karena industri perfilman kurang memberikan pesan-pesan moral terhadap siaran yang
ditampilkan. Dapat diperhatikan dalam berbagai program televisi seperti pada sinetron-
sinetron maupun reality show yang banyak menayangkan tentang pergaulan bebas remaja
bersifat pornografis, kekerasan, hedonisme dan sebagainya untuk selalu ditampilkan dilayar
kaca. Oleh karena program tersebut banyak diminati publik, khususnya remaja. Sehingga
dapat memberikan suatu peluang bisnis bagi pihak stasiun TV yaitu misalnya berupa
banyaknya iklan yang masuk.Berbagai acara yang menayangkan tentang pergaulan bebas
remaja di kota besar yang sarat akan dunia gemerlap (dugem). Seperti tayangan remaja dalam
mengonsumsi obat-obatan terlarang, cara berpakaian yang terlalu minim alias kurang bahan /
sexy, goyang-goyangan yang sensual para penyanyi dangdut, kisah percintaan remaja hingga
menimbulkan seks bebas, ucapan-ucapan kasar dengan memaki-maki atau menghina dan
sebagainya. Inilah yang seringkali menjadi contoh tidak baik yang sering mempengaruhi
remaja-remaja yang berada di kota maupun di daerah untuk mengikuti perilaku tersebut.
1.2 Tujuan Penulisan
a. Memahami pengertian kenakalan remaja
b. Mengetahui penyebab kenakalan remaja dan gejala-gejala yang dapat memperlihatkan
hal-hal yang mengarah pada kenakalan remaja serta untuk memahami hal-hal yang perlu
diperhatikan untuk menanggulangi kenakalan remaja.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Kenakalan Remaja


Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang
tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988
: 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka
menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat,
sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut
“kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan
remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar
norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.
Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja
digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1)
kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga
tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat
melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang
berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut
bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ; (1)
kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah
tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai
mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti
penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas
yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.
Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan
dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa perilaku
menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang
normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan
adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku
dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat,
perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang
tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat
yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat.

2.2. Masa Remaja


Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu
tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku,
dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat
rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul
sebagai akibat terjadinya perubahan social. Memang banyak perubahan pada diri seseorang
sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-
tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang
pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada
berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu
dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut
a. Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan
menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra,
secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan
seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada masa
pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon
(gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan
pertumbuhan, yaitu:
- Follicle-Stimulating Hormone (FSH)
- Luteinizing Hormone (LH).
Pada anak perempuan, kedua hormone tersebut merangsang pertumbuhan
estrogen dan progesterone dua jenis hormone kewanitaan. Pada anak lelaki,
Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone
(ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari
hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak
perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya
sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang,
dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya
yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan
berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia
remaja.
b. Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli
perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap
pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya
para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-
masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang
sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak
alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas
berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir
multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya,
tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan
pemikiran mereka sendiri.
c. Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanyamengenai
berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi
pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja
mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalahmasalah populer yang
berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang,
keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku,
sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja
mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih
banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan
pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan
dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya
“kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya
d. Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood
(suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh
Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata
memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih
luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama.
Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan
beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan ehari-hari di rumah. Meski
mood remaja yang mudah berubah-ubah dengancepat, hal tersebut belum tentu
merupakan gejala atau masalah psikologis. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan
remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia
nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia
tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya.
Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi
tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan
untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan. Para remaja
juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat
“tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan;
sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka
pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-
jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-
hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Dari beberapa dimensi
perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah dijelaskan diatas maka terdapat
kemungkinan – kemungkinan perilaku yang bisa terjadi pada masa ini. Diantaranya
adalah perilaku yang mengundang resiko dan berdampak negative pada remaja.
Perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan
alcohol, tembakau dan zat lainnya; aktivitas social yang berganti – ganti pasangan dan
perilaku menentang bahaya seperti balapan, selancar udara, dan layang gantung
(Kaplan dan Sadock, 1997). Alasan perilaku yang mengundang resiko adalah
bermacam – macam dan berhubungan dengan dinamika fobia balik ( conterphobic
dynamic ), rasa takut dianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin
dan dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.
2.3.Kenakalan Remaja
a. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang
melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia
remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.
Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
- Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-
anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti
mencuri, menganiaya dan sebagainya.
- Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk
menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
- Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
b. Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja
Perilaku nakal remaja biasa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri
(internal) maupun dari luar (eksternal)
- Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang datangnya dari dalam tubuh remaja sendiri.
Faktor intern ini jika mendapatkan contoh-contoh yang kurang mendidik dari
tayangan televisi akan menimbulkan niat remaja untuk meniru adegan-adegan
yang disaksikan pada isi program televisi tersebut. Khususnya menyangkut
masalah pergaulan remaja di zaman sekarang yang makin berani mengedepankan
nilai-nilai budaya luar yang tidak sesuai dengan adat budaya bangsa. Akhirnya
keinginan meniru tersebut dilakukan hanya sekedar rasa iseng untuk mencari
sensasi dalam lingkungan pergaulan dimana mereka bergaul tanpa batas dan
norma agar dipandang oleh teman-temannya dan masyarakat sebagai remaja yang
gaul dan tidak ketinggalan zaman. Timbulnya minat atau kesenangan remaja yang
memang gemar menonton acara televisi tersebut dikarenakan kondisi remaja yang
masih dalam tahap pubertas. Sehingga rasa ingin tahu untuk mencontoh berbagai
tayangan tersebutyang dinilai kurang memberikan nilai moral bagi perkembangan
remaja membuat mereka tertarik. Dan keinginan untuk mencari sensasipun timbul
dengan meniru tayangan-tayangan tesebut, akibat dari kurangnya pengontrolan diri
yang dikarenakan emosi jiwa remaja yang masih labil.
- Faktor Ekstern
adalah faktor yang datangnya dari luar tubuh remaja. Faktor ini dapat disebut
sebagai faktor lingkungan yang memberikan contoh atau teladan negatif serta
didukung pula oleh lingkungan yang memberikan kesempatan. Hal ini disebabkan
karena pengaruh trend media televisi saat ini yang banyak menampilkan edegan-
adegan yang bersifat pornografi, kekerasan, hedonisme dan hal-hal yang menyimpang
dari nilai moral dan etika bangsa saat ini. sepertinya media televisi telah memaksa
remaja untuk larut dalam cerita-cerita yang mereka tampilkan seolah-olah memang
begitulah pergaulan remaja seharusnya saat ini. Yang telah banyak teradopsi oleh nilai-
nilai budaya luar yang kurang dapat mereka seleksi mana yang layak dan yang tidak
layak untuk ditiru.
- Kurangnya perhatian dari orang tua dan lingkungan yang memang menyediakan
pergaulan buruk. Maka memberikan dampak buruk pula bagi remaja untuk mudah
larut dalam hal-hal negatif. Baik dari tayangan televisi maupun dari pergaulan teman-
temannya. Kurangnya perhatian orang tua banyak para remaja mencari perhatian
didunia luar. Mereka cenderung melakukan atau mencari kesenangan di lingkungan
pergaulannya. Ikut-ikutan dan tak lagi dapat membedakan yang mana baik dan buruk.
Rasa takut hilang karena menganggap banyak temannya yang melakukan hal keliru
tersebut. Hingga akhirnya ketergantungan dan mereka terus melakukannya berulang
kali seperti halnya biasa dan membentuk sebuah budaya yang tak bisa lepas dari hidup
mereka. Seperti mengkonsumsi minuman keras, narkoba dan kegiatan lain yang dinilai
dapat memberikan kesenangan sesaat. Dan dampak dari kegiatan tersebut akan
menciptakan orang-orang yang hedonis.
2.4. Masalah – Masalah Kenakalan Remaja
Remaja adalah masa ketika identitas dikembangkan lebih besar (Erikson, 1963). Suatu
kelompok anak berumur 11 tahun adalah betul-betul homogen. Bagaimanapun juga, 6 tahun
kemudian ada beberapa yang menjadi anak nakal, yang lain menjadi siswa teladan, beberapa
menjadi ahli matematika, ada yang pemain drama, dan yang lain lagi ahli mesin. Pengalaman
di rumah dan di sekolah sebelum remaja, berperan penting dalam menentukan remaja sebagai
individu. Demikian juga pengalaman di SMP dan SMA berperan penting dalam membantu
siswa-siswa melalui masa-masa sulit untuk sebagian besar mereka.
Hampir sebagian besar anak remaja mengalami suatu konflik emosi (Blos, 1989).
Untuk sebagian besar remaja, kekacauan emosi dapat ditangani dengan sukses, tetapi untuk
beberapa remaja lari pada obat bius atau bunuh diri.
Satu dari masalah yang paling serius dari remaja adalah remaja nakal
atau delinquent, dan kebanyakan laki-laki. Remaja nakal biasanya berprestasi rendah.
Biasanya mereka didukung oleh kelompoknya. Sebab-sebab terjadinya anak nakal
atau juvenile delinquency pada umumnya adalah sebab yang kompleks, yang berarti suatu
sebab dapat menimbulkan sebab yang lain. Para peneliti melihat banyak kemungkinan
penyebab kenakalan remaja. Sedangkan para ahli sosiologi berpendapat bahwa kenakalan
remaja adalah suatu penyesuaian diri, yaitu respons yang dipelajari terhadap situasi
lingkungan yang tidak cocok atau lingkungan yang memusuhinya. Hasil penelitian Robbin
(1986) berpendapat, kenakalan remaja akibat adanya masalah neurobiological, sehingga
menimbulkan genetik yang tidak normal. Ahli lain berpendapat kenakalan remaja merupakan
produk dari konstitusi defektif mental dan emosi-emosi mental. Mental dan emosi anak remaja
belum matang, masih labil, dan rusak akibat proses condition sering lingkungan yang buruk.
Gangguan emosi yang serius sering timbul pada anak-anak remaja. Mereka
mengalami depresi, kecemasan yang berlebihan tentang kesehatan sampai pikiran bunuh din i
atau mencoba bunuh diri (Mosterson, 1987).
Adapun jenis kenakalan remaja yang sering kita jumpai dilingkungan tempat tinggal
kita yaitu:
a. Penyalahgunaan Obat Bius dan Alkohol
Penyalahgunaan obat bius dan alkohol bertambah secara dramatis akhir-akhir
tahun ini. Beberapa dari siswa-siswa SMA, terutama di kota-kota besar, menggunakan
mariyuana dan minum-minuman keras (bahkan sudah merambat ke desa-desa). Obat
bius yang juga disebut sebagai drugs. Drugs terdiri dari hard drugs dan soft drugs.
Obat keras (hard drugs) bisa mempengaruhi saraf dan jiwa si penderita secara cepat.
Waktu ketagihannya berlangsung relatif pendek. Jika si penderita tidak segera
mendapat jatah obat tersebut, dia bisa meninggal. Sedangkan soft drugs bisa
mempengaruhi saraf dan jiwa penderita, tetapi tidak terlalu keras. Waktu ketagihannya
agak panjang dan tidak mematikan. Gejala siswa yang menggunakan narkoba antara
lain: badan tidak terurus dan semakin lemah, tidak suka makan, matanya sayu dan
merah, pembohong, malas, daya tangkap otaknya melemah, mudah tersinggung dan
mudah marah. Banyak remaja yang memakai narkoba karena mula-mula iseng, rasa
ingin tahu, atau sekadar ikut-ikutan teman. Ada juga remaja yang menggunakan
narkoba karena didorong oleh nafsu mendapatkan status sosial yang tinggi, ingin
pengakuan atas egonya, serta untuk menjaga gengsi. Beberapa kelompok anak remaja
lain menggunakan narkoba karena ingin lari dan kesulitan hidup dan konflik-konflik
batin. Anak remaja merasa menjadi “orang super” jika bisa merokok dan diberi ganja
dan diselingi minuman keras atau minum Wie Seng, semacam arak keras yang
berkadar alkohol yang sangat tinggi. Segala kesulitan hidup, kesulitan di sekolah, di
rumah bisa hilang lenyap diganti dengan rasa nikmat (teler) walaupun sesaat.
b. Kehamilan
Kehamilan dan melahirkan anak bertambah di antara beberapa kelompok gadis
remaja, terutama pada masyarakat yang kurang mampu. Jika laki-laki remaja sering
bertingkah laku sebagai anak nakal untuk mencoba membuktikan kemandirian mereka
dan kontrol orang dewasa, demikian juga bagi gadis remaja. Mereka membuktikannya
dalam bentuk seks dan di banyak kasus dengan mempunyai anak, sehingga memaksa
dunia melihat mereka sebagai orang dewasa. Sejak melahirkan anak, gadis remaja
menjadi sulit untuk melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Oleh karena itu,
peranan sekolah dalam membantu gadis yang mengalami “kecelakaan” sangat
dibutuhkan. Sebaiknya, sekolah tidak mengeluarkan remaja yang hamil di luar nikah.
Biarlah mereka tetap diperbolehkan meneruskan sekolah mereka sampai lulus sehingga
memudahkan dia mencari pekerjaan.
c. Masalah Pergaulan Bebas Pria-Wanita
Bila kita meninjau kembali sejarah di negeri kita sendiri dan sejarah dunia pada
umumnya, maka akan terlihat adanya banyak persoalan yang sama, peristiwa yang
sama intinya walaupun berbeda waktunya. Dalam cerita roman Romeo dan Juliet yang
termasyhur itu, yang mengisahkan suatu kisah cinta pada zaman yang lampau, jelas
bahwa pada masa itu di Eropa tidak terdapat pergaulan yang bebas. Juga dari
otobiografi mengenai ratu-ratu dan anggota-anggota keluarga kerajaan, seorang puteri
belum saling mengenal dengan pangerannya ketika ia dilamar. Mereka baru berkenalan
sesudah lamaran diterima. Belum dipersoalkan pihak manakah yang melamar, pihak
pangerankah atau pihak puterikah. Pernikahan merupakan suatu hasil perundingan
antara negara dan keluarga raja yang bersangkutan. Hal yang sama juga terlihat di
benua belahan Timur. Contoh-contoh yang tak terhingga banyaknya dapat kita ambil
dari sejarah negeri kita sendiri. Bahkan bila ingatan orangtua masih dapat meraih jauh
ke riwayat nenek moyang mereka, pastilah hal yang sama akan ditemukan pula, yakni
pria dan wanita belum saling mengenal sebelum pernikahan atau persetujuan keluarga
tercapai dan mereka memasuki hidup pernikahan.
d. Kecanduan Narkotika Pada Remaja
Bukan sebuah rahasia jika kecanduan narkotika adalah penyakit yang
mengerikan, apalagi ketika remaja telah kecanduan narkotika, maka ini merupakan hal
yang lebih serius. Narkotika mempengaruhi tubuh remaja dengan cara yang berbeda-
beda. Jika remaja telah kecanduan narkotika, maka akan lebih susah untuk
mempertahankan gaya hidup bersih dan sadar saat mereka bertambah tua. Anak-anak
telah tersentuh narkotika dalam usia yang semakin dini. Penelitian menunjukkan
bahwa saat anak-anak memasuki kelas 8, hampir 35 persen telah mencoba narkotika.
Jumlah para remaja yang kecanduan narkotika adalah 20 persen dan itu adalah jumlah
yang terlalu besar.
Para remaja lebih rentan kecanduan narkotika karena kondisi hidup mereka.
Banyak remaja kewalahan menghadapi masalah hidupnya sehari-hari. Banyak remaja
memiliki rasa percaya diri yang rendah, merasa cemas, ketidakmampuan untuk
mengungkapkan perasaan, dan kurang dapat mengendalikan hidup mereka. Semua hal
itu sangat berkonstribusi terhadap penggunaan narkotika dan akhirnya membuat
mereka kecanduan narkotika. Narkotika membunuh rasa sakit kehidupan duniawi.
Narkotika menghilangkan sakit fisik dan emosional dengan merubah persepsi pecandu
terhadap kenyataan. Narkotika membuat pecandu kebal terhadap rasa sakit, keputus-
asaan atau kesepian yang mereka rasakan di kehidupan. Berikut ini adalah tanda-tanda
umum remaja anda kecanduan narkotika:
- Perubahan dramatis terhadap sikap dan perilaku
- Muram, mata berkaca-kaca
- Sering merasa kelelahan
- Kegagalan di sekolah
- Berbohong atau mencuri
- Mengisolasi diri atau kehilangan minat untuk beraktivitas
e. Pornografi
Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat pada masa remaja membuat
banyak remaja (terutama laki-laki) terperosok ke maksiat satu ini. Banyak media yang
memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, sampai VCD. Bahkan majalah
Playboy yang udah masyhur kepornoannya pun udah masuk ke Indonesia setelah
majalah porno lainnya eksis di negeri ini. Menahan pandangan dari lawan jenis
termasuk juga nggak liat hal-hal yang porno semacam ini. Pornografi juga memancing
kejahatan seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Berapa banyak kasus perkosaan
berawal dari nonton VCD porno. Setelah Undang-Undang Anti Pornografi dan
Pornoaksi disahkan, kita nggak aman dari tuntutan hukum dunia dalam masalah ini.
Kalo ketauan liat atau bawa barang-barang berbau porno, kamu bisa dipenjara atau
kena denda. Selain itu, kamu masih harus menghadapi tuntutan hukum akherat kalo
nggak tobat.
f. Onani masturbasi
Maksiat yang satu ini juga terkenal banget dilakukan oleh para remaja.
Sebabnya rata-rata sama, ingin tahu dan besarnya nafsu seksual pada masa remaja.
Menurut penelitian, aktivitas ini lebih banyak dilakukan remaja pria (sekitar 90%),
namun ada juga remaja perempuan yang melakukannya (30%). Sebagian orang
menganggap melepaskan syahwat dengan onani/ masturbasi merupakan jalan yang
lebih selamat daripada berzina. Kadar maksiat mungkin memang lebih rendah dari zina
beneran. Tapi bukan berarti onani nggak terlarang. Dalam Islam, melampiaskan nafsu
syahwat hanya diperkenankan dilakukan terhadap istri atau suami. Barangsiapa yang
mencari pelampiasan selain itu maka mereka termasuk orang yang melampaui batas.
Onani jelas termasuk jalan lain, berarti onani termasuk perbuatan melampaui batas.
Jika onani dibolehkan, tentu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam nggak perlu
memerintahkan para pemuda yang belum mampu untuk menikah untuk berpuasa.
Mereka yang belum mampu menikah tentu tinggal diperintahkan untuk onani. Namun
kenyataannya enggak, mereka yang belum mampu menikah diperintahkan untuk
berpuasa, tidak diperintahkan untuk onani. Jadi, onani tetap aja terlarang.
g. Merokok
“Tidak jantan kalo tidak merokok!” Remaja pria kalo udah diberi cap seperti ini
biasanya keder juga. Lalu, ikut-ikutan lah ia merokok. Padahal, yang jantan adalah
yang nggak merokok; sendirian tanpa rokok aja udah berani menghadapi masalah
hidup. Kenyataannya, rokok memang bisa menjadi pelarian orang-orang pengecut
yang nggak berani menghadapi hidup.
Rokok seluruhnya mengandung racun. Rokok juga merupakan pintu untuk
merasakan hal-hal haram lainnya. Pecandu rokok bisa-bisa tertarik untuk
mencampurkan ganja di rokoknya. Ganja mempunyai efek memabukkan, jadi tentu
saja ganja adalah barang haram. Kalo udah kenal rokok-dan ganja- nggak lama
kemudian para remaja akan mencoba obat-obat penenang. tidak ketinggalan juga
miras. Seringkali pecandu semua itu berawal dari merokok.
2.5. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja.
a. Kegagalan yang mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah
atau diatasi dengan prinsip keteladana.
b. Adanya motifasi dari keluarga , guru , teman sebaya untuk melakukan point pertama.
c. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga
yang harmonis , komunikatif , dan nyaman bagi remaja.
d. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua member
arahan dengan siapa dan dikomunitas mana remaja harus bergaul.
e. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak terpengaruh jika ternyata teman sebaya
atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Dari Pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan :
a. Pada dasarnya kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-
norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan
dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.
b. Kenakalan remaja pada zaman sekarang ini disebabkan oleh beberapa factor. Perilaku
nakal remaja disebabkan oleh factor remaja itu sendiri (internal) maupun factor dari luar
(eksternal).
c. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah
melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri
setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
d. Adanya motivasi dari keluarga , guru , teman sebaya merupakan hal-hal yang bisa
dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja.
e. Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya anak tersebut menyendiri. Anak yang
demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.

3.2. Saran
a. Perlu adanya tindakan-tindakan dari pemerintah untuk mengawasi tindakan remaja di
Indonesia agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja.
b. Perlunya penanaman nilai moral , pendidikan dan nilai religious pada diri seorang remaja.
DAFTAR PUSTAKA

http://helda.info/2009/06/kenakalan-remaja/

http://pusatremaja.com/2008/01/15/kenakalan-remaja/

http://yoyooh.com/original-post/yo-ori-remaja/90-kenakalan-remaja.html

http://www.scribd.com/doc/12007831/KENAKALAN-REMAJA

http://www.anneahira.com/narkoba/index.htm

http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=60:pkni4209

-kriminologi-dan-kenakalan-remaja&catid=30:fkip&Itemid=75

http://zonaclassic.blogspot.com/2008/04/dampak-siaran-tv-terhadap-kenakalan.html

http://psikonseling.blogspot.com/2010/02/pengertian-kenakalan-remaja.html

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHa7c5.dir/doc.pdf

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915

http://subandowo.blogspot.com/2008/08/kenakalan-remaja.html

http://www.anneahira.com/narkoba/index.htm
Makalah Sosiologi
“Kenakalan Remaja”

Nama : Aurelya Dellawati Jegaut

Kelas :X

Jurusan : IPS 3