Anda di halaman 1dari 24

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat akses informasi yang beredar seolah tak

terbendung. Masyarakat semakin cerdas dalam menentukan pilihan, yang salah satunya adalah

pilihan dalam urusan kesehatan. Dengan akses informasi yang tak terbatas inilah, masyarakat

semakin diperdalam pengetahuannya dalam bidang kesehatan, terutama mengenai hak hak yang

wajib mereka dapat dan bahkan mengenai penyakit yang mereka derita.

Seorang dokter yang baik tentu harus memperhatikan hal tersebut, agar bisa mengimbangi

pasien yang berobat walau dengan keluhan apapun dan keadaan bagai mana pun.

Penerapan kaidah bioetik merupakan sebuah keharusan bagi para dokter yang berkecipung

dalam dunia medis, karena kaidah bioetik adalah sebuah panduan dasar dan standar, di mana

seorang dokter harus bertindak atau bersikap terhadap suatu persoalan atau kasus yang dihadapi

oleh pasiennya.

Kaidah bioetik harus dipegang teguh oleh seorang dokter dalam proses pengobatan pasien,

sampai pada tahap pasien tersebut tidak mempunyai ikatan lagi dengan dokter yang

bersangkutan.

1
1.2 Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah agar mahasiswa fakultas kedokteran khususnya FK

Ukrida mengetahui,mengerti dan bisa menerapkan kaedah-kaedah dasar bioetika ini dalam

praktiknya nanti di masyarakat.

2
PEMBAHASAN

2.1 Kaidah Dasar Bioetika

Selain etika, kini juga mulai popular istilah bio-etika. Istilah ini berasal dari bahasa Latin.

Bio = kehidupan. Bio – etika menjadi etika yang bersangkutan dengan masalah kehidupan. Bio

– etika adalah studi tentang masalah – masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang

biologi dan ilmu kedokteran yang menyangkut masalah di bidang kehidupan. Ia tidak hanya

memperhatikan masalah - masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga

memperhitungkan kemungkinan timbulnya pada masa yang akan datang. Bio – Etik mempunyai

jangkauan yang lebih luas dari etik, karena tidak hanya bergerak di bidang kedokteran saja.

Yang pertama menggunakan istilah “bio-ethics” adalah Van Rensselaer Potter, seorang

ahli kanker Amerika. Pada tahun 1971 dalam bukunya “ Bio-ethics, Bridge to the Future” telah

di – introdusirnya istilah “ Bio-ethics”. Di Negara – negara lain yang sejalan dengan Potter juga

timbul pemikiran kearah yang sama, walaupun memakai nama lain. Kini Bio – etika sudah

dikenal di dunia internasional, dan dewasa ini juga memsuki negara Indonesia dengan

didirikannya Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya, Jakarta dengan Dr. K Bertens-

sebagai direktur, Di dalam uraian mengenai Bio – Etika dibedakannya Etika dalam 3 pengertian

yaitu :

A. Etika sebagai nilai – nilai dan azas – azas moral yang dipakai seseorang atau suatu

kelompok sebagai pegangan bagi tingkah lakunya.

B. Etika sebagai kumpulan azas dan nilai yang berkenaan dengan moralitas ( apa yang

dianggap baik atau buruk )

Misalnya : Kode Etik Kedokteran, Kode Etik Rumah Sakit.

3
C. Etika sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dari sudut norma – norma

dan nilai – nilai moral.

Perkembangan ini sangat menonjol setelah universitas Gajahmada Yogyakarta yang

melaksanakan pertemuan bioethics 2000., An International Exchange dan pertemuan nasional 1

bioetika dan humaniora pada bulan agustus 2000. Pada waktu itu universitas Gajahmada juga

mendirikan Center for Bioethics and Medical Humanities. Dengan terselengaranya pertemuan

nasional 2 bioetika dan humaniora pada tahun 2002 di bandung, pertemuan 3 pada tahun 2004 di

Jakarta dan pertemuan 4 pada tahun 2006 di Surabaya serta telah terbentuknya Jaringan Bioetika

dan Humaniora Kesehatan Indonesia ( JBHKI ) pada tahun 2002, diharapkan studi bioetika akan

lebih berkembang dan tersebar luas di seluruh indonesia pada masa datang.

Masalah bioetika mulai diteliti pertama kali oleh institute for the study of society, ethics

and the life sciences, New York ( Amerika Serikat ) pada tahun 1969. Kini terdapat banyak

lembaga di dunia yang menekuni penelitian dan diskusi mengenai berbagai isu etika biomedik.

Bioetika sendiri berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti

norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika atau bioetika medis merupakan studi interdisipliner

tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu keokteran baik

secara mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang ( Bartens, 2001).

Bioetika mencakup isu-isu sosial,agama, ekonomi dan hukum bahkan politik. Bioetik

selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, eutanasia, transplantasi organ, teknologi

reproduksi buatan dan rekayasa genetik, membahas pula masalah kesahatan, faktor budaya yang

berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas, penyembuhan tradisional,

4
lingkungan kerja, demografi dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian yang besar pula

terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan.

Beachamp dan walters ( 49 – 51 ) bahkan melihat etika medis sebagai cabang tertua dari

bio – etika, kembali sampai ke Hipoerates ( 460 – 377 M ). Mereka melihat adanya tiga pokok

dasar utama dalam bio etika:

1. Jangan berbuat jahat ( beneficence : do no harm, do good )

2. Keadilan ( Justice ) dan

3. Autonomi ( self – determination ) ( Thomson, 15 )

Bio – etika bukan merupakan ilmu baru, tapi suatu usaha untuk melibatkan berbagai

ilmu dalam merefleksikan problem – problem baru. Bio – etika bersifat inter – disipliner.

Fransesc Abel telah mencoba merumuskan definisi tentang bio – etika yang diterjemahkan

Bertens sebagai berikut :

“ Bio – etika adalah studi intedisipliner tentang problem – problem yang ditimbulkan

oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran, baik pada skala mikro maupun pada

skala makro, lagi pula tentang dampaknya atas masyarakat luas serta sistim nilainya, kini dan

masa mendatang “

Jalan pemikirannya aliran Bio – etika : problem – problem etis yang baru timbul akhir –

akhir ini hanya dapat ditangani dalam kerja sama antar berbagai ilmu. Suatu problem yang

timbul di masyarakat, misalnya di bidang kedokteran seringkali mempunyai kaitan erat dengan

disiplin lainnya, sehingga tidak dapat dilihat hanya dari segi medis saja. Untuk mengambil

sebagai contoh misalnya tentang kriteria “ mati “. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

5
teknoligi di bidang kedokteran dan peralatan medisnya, kini usia manusia seakan – akan “ dapat

diperpanjang “, dalam arti dapat memberikan pernapasan buatan dengan Ventilator.

Ventilator yang dinamakan juga respirator memang adalah suatu alat yang sangat

berguna dan penting untuk membantu penderita dengan kegagalan pernapasan. Sesudah pulih

kembali, maka bantuan pernapasan tersebut dapat dihentikan. Namun ternyata penepuan ini

menimbulkan persoalan lain yang mungkin tadinya tidak diperhitungkan. Timbul problema :

bilamana ventilator harus mulai dipasang kepada pasien dan kepada pasien yang bagaimana ?

Bagaimana denganpasien yang sudah dipasangnkan respirator namun kemudian tidak ada

harapan untuk bisa disembuhkan lagi, sehingga seumur hidup harus bergantung kepada alat

tersebut ? tidak bisa dikembalikan pernapasan spontannya ? apakah harus dipertahankan terus

menerus ? jika dipasang terus sampai kapan ? bagaimana jika persiapan respiraot di rumah sakit

terbatas dan kemudian ada pasien lain yang lebih membutuhkan karena mempunyai lebih banyak

harapan untuk hidup dan memerlukan respirator hanya untuk sementara waktu ?. Untuk terus

menambah jumlah alat respirator tentunya diluar jangkauan keuangan rumah sakit karena masih

banyak keperluan – keperluan lain yang lebih urgen. Lagipula secara manajerial pun tidak dapat

dipertanggung jawabkan karena alat tersebut juga tidak selalu setiap saat dipergunakan, hanya

jika diperlukan, harus tersedia.

Selain itu pun menjadi beban berat bagi anggota keluarganya yang belum tentu bisa

membiayainya terus menerus. Lagipula apa gunanya jika pasien pada akhirnya tidak bisa hidup

kembali sebagaimana biasa ?. Di sini mulai tersangkut segi keadilan, ,moral, kemanusiaan, etik,

keuangan, dan lainnya. Dan secara medis juga masih merupakan pertanyaan apakah tindakan

terapetik yang sudah taka da gunannya masih tetap harus dipertahankan ( treatment which is

disproportionately burdensome, or futile, is not obligatory, Skegg, 146 ). Namun kesemua

6
jawaban ini tergantung kepada falsafah pandangan dan agama serta keyakinannya masing –

masing.

Masalah – masalah yang menyangkut etik selalu berhadapan dengan dilema. Harus

mengdakan pilihan antara dua kepentingan yang bertentangan. Kedua – duanya baik dan kedua-

duanya secara professional masih dapat dipertanggungjawabkan, hanya pendapat atau

pendiriannya berbeda. Dua – dua berdasarkan itikad baik. Maka samapi kita pada pertanyaan :

apa arti baik ? apa ciri – cirinya ? kalau sampai kepada masalah ini maka kita sudah memasuki

bidang filsafat. Baik adalah suatu pengertian yang tidak bisa diartikan, dirumuskan. “ Good is

indefinable ” ( Gone Blocker, 667 ). “ An unanalyzablenation” ( Prof Sidgewick ). Demikian

pula arti “ keadilan “ ( justice ). What is justice ? pertanyaan ini sejak Plato sampai Kant tidak

ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Apa itu keadilan ? Plato berpendapat bahwa seorang manusia yang adil dalam arti orang

yang mematuhi hokum dan hanya seorang yang adil adalah bahagia; sedangkan seseorang yang

tidak adil berarti seseorang yang melanggar hukum – tidak bahagia. “ The most just life is the

most pleasant “ kata plato yang dikutip Hans,6. Hans Kelsen mengemukakan teorinya tentang

“Realative Justice“, keadilan yang bersifat relative. Tergantung kepada keadaan, situasi dan

waktunya. Disadari bahwa di dunia ini tak mungkin bersifat absolut. Absolut salam arti abadi,

untuk segala kurun waktu, umtuk semua orang. Timbul pula istilah “ situation ethics”

Jika kita kembali pada kasus di atas mengenai pemasangan Ventilator, maka akan timbul

pertanyaan – pertanyan : mana yang lebih adil ? Dan dilihat dari sudut apa ? Yang pasti harus

dipilih antara 2 hal :

7
a. Membantu pernapasan paisien A terus – menerus karena telah lebih dulu dipasangkan

ventilatornya ( tetapi tidak ada harapan akan pulih kembali pernapasannya ) .

b. Mencabutnya dan menyambungka ke pasien B yang selain masih muda, pun masih

banyak harapan untuk hidup normal. Kalau dicabut pasien A akan mati. Lalu bagaimana

segi hukumannya mengenai boleh tidak mencabut respirator; apa nanti tidak bisa dituntut

pengadilan karena dianggap telah menyebabkan kematian.

Masalah pokok sebenarnya terletak pada keputusan dokter saat dimulainya memberikan

terapi untuk menunjang kelanjutan hidup pasien ( initiating life support treatment ). Pada

keputusan ini sebenarnya sudah melekat suatu konsekuensi bahwa pada saat atau pada suatu

keadaan tertentu pemberian bantuan dapat dihentikan apabila menurut pendapat dokternya terapi

tersebut sudah tidak dapat menolong jiwanya lagi dan tidak ada gunanya siteruskan.

Ada yang berpendapat bahwa pemberian makanan dan cairan juga mempunyai komponen

simbolik, psikologis dan social di dalam semua kebudayaan, selain rasio medis, etis, dan yuridis

( Jeane Kayser - Jones pada “ The Second International Conference on Health Law and Ethics,

London, 1990 ).

Meta- Ethics

Salah satu aliran meta – ethics adalah aliran filsafat di negara Inggris dan Amerika yang

dikenal dengan “ Analytical philosophy”. Aliran ini memusatkan diri kepada problem filsafat

yang timbul. Karena dikonstartir terdapatnya kekacauan pemikiran secara logis dan juga karena

kekacauan pada pemakaian bahasa tidak saja merupakan penghalang dalam mencari jawaban

atas problema – problema dibidang filsafat, tetapi pertanyaan – pertanyaan ini sendiri juga

8
disebabkan karena kekacauan pemakaian bahasa. Apabila kekacauan itu sendiri juga disebabkan

karena kekacauan pemakaian bahasa. Apabila kekacauan pemakaian bahsa sudah di clear kan

maka dengan sendirinya problem filsafat tersebut juga akan hilang.

Kemudian pada akhir abad 20 perlahan – lahan alam pikiran filsafat mulai kembali lagi

kepada bentuk “ normative ethics “, khususnya dalam cabang – cabang etika baru yang dikenal

dengan nama “ applied ethics “. Misalnya : medical ethics, hospital ethics terletak pada

penerapannya, pada aplikasinya. Penerapan dari ketentuan – ketentuan itu tidak bias dijalankan

secara mekanis, tetapi memerlukan intelegensia, keterampilan dan pertimbangan ( intelligence,

skill and judgment ) ( Gene Blocker, 734 )

Etika kedokteran, etik( ethics) berasal dari kata yunani ethos yang berarti akhlak, adat

kebiasaan, watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak. Menurut kamus umum bahasa

indonesia (Purwadarminta, 1993), etika adalah ilmu pengetahuan tentang azas, akhlak.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dari Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan (1988), etika adalah:

1. Ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan tentang kewajiban moral

2. Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak

3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

Menurut kamus kedokteran (Ramali dan Pamuncak,1987), etika adalah pengetahuan

tentang perilaku yang benar dalam suatu profesi. Istilah etika dan etik sering di pertukarkan

pemakaiannya dan tidak jelas perbedaan diantara keduanya. Dalam buku ini, yang dimaksud

dengan etika adalah ilmu yang mempelajari asas, akhlak, sedangkan etik adalah seperangkat asas

atau nilai yang berkaitan dengan akhlak seperti dalam kode etik. Istilah etis biasanyaa digunakan

9
untuk menyatakan sesuatu sikap atau pandangan yang secara etis dapat diterima (ethically

acceptable) atau tidak dapat diterima (ethically unacceptable) tidak etis.

2.2 Kaidah Bioetik Terhadap Kedokteran

Fondasi etika kedokteran dibangun oleh 3 hal pokok yaitu: moralitas eksternal, etika

internal dan moralitas internal. Moralitas eksternal merupakan teori-teori etika yang diterapkan

dalam dunia kedokteran. Sedangkan etika internal adalah kode etik profesi yang dibuat dan

ditetapkan oleh dokter dan untuk dokter sebagai bentuk pertanggungjawaban profesi pada

masyarakat. Yang membuat dinamis adalah moralitas internal. Moralitas internal adalah

merupakan fenomena umum yang terjadi dalam hubungan dokter pasien. Dalam konteks ini amat

tergantung dengan fakta empirik yang ada pada pasien secara individual.

Menurut Pellegrino, meskipun ketiga aspek tersebut tumbuh dan berkembang secara

bebas satu sama lain, empat principle based of bioethics atau kini populer dengan kaidah dasar

bioetika dari Beuchamps and Childress merupakan salah satu contoh teori yang dapat

menyatukan antara moralitas eksternal dan fakta empirik klinik (moralitas internal). Etika

kedokteran sebagai profesi luhur, bersama dengan etika lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan

telah memberi andil terhadap kaidah dasar ini dengan menyumbangkan 4 kaidah dasar bioetika

yakni: sikap berbuat baik (beneficence), tidak merugikan orang lain (non maleficence), berlaku

adil (justice) dan menghormati otonomi pasien (autonomy).

2.2.1 Beneficence

Prinsip bioetik dimana seorang dokter melakukan suatu tindakan untuk kepentingan

pasiennya dalam usaha untuk membantu mencegah atau menghilangkan bahaya atau hanya

sekedar mengobati masalah-masalah sederhana yang dialami pasien.

10
Lebih khusus, beneficence dapat diartikan bahwa seorang dokter harus berbuat baik,

menghormati harkat dan martabat manusia, dan harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap

dalam kondisi sehat. Dan memandang pasien tidak saja menguntungkan dokternya, serta

meminimalisasikan akibat buruk. Point utama dari prinsip beneficence sebenarnya lebih

menegaskan bahwa seorang dokter harus mengambil langkah atau tindakan yang lebih bayak

dampak baiknya daripada buruknya sehingga pasien memperoleh kepuasan tertinggi.

Beneficence memiliki prinsip - prinsip yang dianut yaitu :

 Prinsip positive beneficence

Tidak memperburuk keadaan pasien, usahakan yang terbaik untuk pasien.

( prevent evil or harm, remove evil or harm, do or promote good )

 Prinsip balancing of utility / proportionality

Keseimbangan antara positif dan negatife nya, atau untung ruginya. Bias uang ataupun

resiko yang terjadi.

 Prinsip of utility = balancing of cost – risk – benefit.

Cost benefit analysis ( diperhitungkan dalam bentuk uang )

Cost effectiveness analysis ( diperhitungkan bukan dalam bentuk uang melainkan ke

efektifan )

Risk Assessment ( probabilitas dan besarnya resiko )

11
Ciri – ciri dari beneficence yaitu :

1. Mengutamakan alturisme ( menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan

Orang lain

2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

3. Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan

Seorang dokter

4. Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan

keburukannya

5. Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang

6. Menjamin kehidupan baik-minimal manusia

7. Pembatasan “goal based”

8. Memaksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien

9. Minimalisasi akibat buruk

10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat

11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan

12. Tidak menarik honorarium di luar kepantasan

13. Maksimalisasi kepuasaan tertinggi secara keseluruhan

14. Mengembangkan profesi secara terus menerus

15. Memberi suatu obat berkhasiat namun murah

16. Menerapkan Golden Rule Principle

Kaidah Benefince dalam kasus dr. Bagus :

1. Dr. Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Sehari-

harinya ia bertugas di sebuah puskesmas yang hanya ditemani oleh seorang mantri, hal

12
ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena setiap harinya banyak warga

desa yang datang berobat karena puskesmas tersebut merupakan satu-satunya sarana

kesehatan yang ada. Dr. Bagus bertugas dari pagi hari sampai sore hari tetapi tidak

menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien dimalam hari bila ada warga desa yang

membutuhkan pertolongannya. (Paragraf 1).

Disini dr. Bagus menunjukan bahwa ia melayani pasien tanpa mengenal batas waktu,

walaupun sebenarnya ia merasakan kelelahan, tetapi hal tersebut tidak meruntuhkan

niatnnya untuk menolong pasien dokter bagus juga rela berkorban demi orang lain.

Dalam kasus ini, dr. Bagus telah menjalankan prinsip altruisme dan maksimalisasi

pemuasaan kebahagiaan/preferensi pasien dalam kaidah Beneficence.

2. Dr. Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasehat agar istirahat

yang cukup. (Paragraf 2).

Disini dr. Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien, dalam mengusahakan agar

kebaikan serta manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang akan diterima

pasien dan minimalisasi akibat buruk.

3. “baiklah kalau begitu saya akan member ibu obat dan ORALIT untuk anak ibu, nanti ibu

berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan usahakan anak ibu minum oralit sesering

mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan mampir ke rumah ibu untuk melihat

kondisi anak ibu” kata dr. Bagus. (Paragraf 3)

Disini dr. Bagus menjalankan prinsip alturisme dengan akan mengontrol anak ibu

13
tersebut setelah Ia selesai bekerja, meminimalisasi akibat buruk dengan memberikan

Oralit sebagai cairan pengganti tubuh agar anak tersebut tidak dehidrasi serta

memberikan obat yang berkhasiat namun murah.

4. “Pak, yang hanya saya dapat lakukan adalah memberi obat obatan penunjang agar anak

bapak tidak terlalu menderita” kata dr.Bagus sambil menyerahkan obat kepada orang tua

pasien ( Paragraf 4).

Disini dr.Bagus berusaha meminimalisasi akibat buruk dari anak bapak

tersebut sehingga dr.Bagus telah menerapkan prinsip beneficence.

5. Dokter Bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit jantung sehingga ia membuat

surat rujukan kerumah sakit yang berada dikota. (Paragraf 6)

Disini dokter Bagus menunjukkan mengusahakan agar kebaikan lebih banyak dari

keburukannya dan minimalisasi akibat buruk dengan memberikan surat rujukan.

Pelanggaran Beneficence dalam kasus dr.Bagus yaitu :

1. Pasien kelima adalah seorang ibu muda yang sangat cerewet, karena begitu masuk si ibu

tadi sudah mengeluh berbagai macam keluhan. Dokter Bagus tidak menanggapi keluhan si ibu

muda tadi dan segera membuat surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK “Cepat tepat”

langganannya di kota. Dari Lab Klinik ini dr.Bagus mendapat sejumlah uang ternyata sejajar

dengan pasien yang ia kirim ke situ. Pernah 2 bulan yang lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia

memperoleh Rp.300.000. (Paragraf 7).

Disini dr.Bagus melanggar kaidah beneficence yaitu dimana dr.Bagus mengutamakan

keuntungannya sebagai dokter dan menarik honorarium di luar batas harga yang wajar.

14
2.2.2 Non Maleficence

Non-maleficence adalah suatu prinsip dimana seorang dokter tidak melakukan perbuatan

yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien yang

dirawat atau diobati olehnya. Pernyataan kuno First do no harm, tetap berlaku dan harus

diikuti. Dokter haruslah memilih tindakan yang paling kecil resikonya. “Do no

harm” merupakan point penting dalam prinsip non-maleficence. Prinsip ini dapat diterapkan

pada kasus-kasus yang bersifat gawat atau darurat. Sebenarnya memiliki konteks yang sama

dengan beneficence namun berbeda pada konteks keadaanya. Gawat darurat disini diperlukan

intervensi medic dalam rangka penyelamatan nyawanya.

Prinsip Non – Maleficence yaitu :

 Primum non nocere ( pertama jangan menyakiti )

 Above all do no harm ( jangan memperburuk keadaan pasien )

 Satu contonium dengan beneficence

 Prinsip double effect ( tindakan yang merugikan tidak selalu dianggap tindakan yang

buruk )

Ciri – ciri dari Non – Maleficence yaitu :

1. Menolong pasien emergensi

2. Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah :

· Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat)

· Dokter sanggup mencegah bahaya/kehilangan tersebut

· Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

15
· Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian

3. Mengobati pasien yang luka

4. Tidak membunuh pasien

5. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien

6. Tidak memandang pasien sebagai objek

7. Mengobati pasien secara tidak proporsional

8. Mencegah pasien dari bahaya

9. Menghindari misrepresentasi dari pasien

10. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian

11. Memberikan semangat hidup

12. Melindungi pasien dari serangan

13. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan

Kaidah Non - Maleficence dalam kasus dr. Bagus:

1. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut, salah satu

orang mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk kedalam

mesin penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda tersebut baru

dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan padi. Pada pemeriksaan, dokter Bagus mendapatkan

telapak tangan pemuda tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang

mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda tersebut. Dari

serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia adalah istri dari

pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan

tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).

16
Disini dr.Bagus berusaha untuk menyelamatkan pasiennya yang berada dalam keadaan gawat

darurat yaitu dengan melakukan amputasi dalam hal untuk meminimalisasi akibat buruk

yang akan merugikan pasien, seperti kehilangan nyawa akibat pendarahan.

Pelanggaran non-maleficence dalam kasus dr.Bagus yaitu :

1. Pasien kelima adalah seorang ibu muda yang sangat cerewet, karena begitu masuk si ibu

tadi sudah mengeluh berbagai macam keluhan. Dokter Bagus tidak menanggapi keluhan si ibu

muda tadi dan segera membuat surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK “Cepat tepat”

langganannya di kota. Dari Lab Klinik ini dr.Bagus mendapat sejumlah uang ternyata sejajar

dengan pasien yang ia kirim ke situ. Pernah 2 bulan yang lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia

memperoleh Rp.300.000. (Paragraf 7).

Disini dr.Bagus telah melanggar kaidah non-maleficence karena dr.Bagus telah memanfaatkan

pasien , memandang pasien sebagai obyek, serta melakukan white collar crime dalam bidang

yang digelugutinya.

2.2.3 Autonomi

Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia. Setiap

individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib sendiri.

Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri.

Autonomi bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan membiarkan

pasien demi dirinya sendiri.

17
Autonomy pasien harus dihormati secara etik, dan di sebagain besar negara dihormati

secara legal. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa dibutuhkan pasien yang dapat berkomunikasi

dan pasien yang sudah dewasa untuk dapat menyetujui atau menolak tindakan medis.

Melalui informed consent, pasien menyetujui suatu tindakan medis secara

tertulis.Informed consent menyaratkan bahwa pasien harus terlebih dahulu menerima dan

memahami informasi yang akurat tentang kondisi mereka, jenis tindakan medik yang diusulkan,

resiko, dan juga manfaat dari tindakan medis tersebut.

Autonomi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri

2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan

3. Berterus terang

4. Menghargai privasi

5. Menjaga rahasia pasien

6. Menghargai rasionalitas pasien

7. Melaksanakan Informed Consent

8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri

9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien

10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk

Pasien keluarga sendiri

11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi

12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien

13. Menjaga hubungan atau kontrak

18
Kaidah Autonomi dalam kasus dr. Bagus :

1. Pasien kedua adalah seorang anak balita tampak lemah karena sudah 2 hari buang-buang air

besar. Ibunya memeriksakan anak tersebut pada dr.Bagus dan dr.Bagus menyarankan agar anak

tersebut dirawar di rumah sakit yang berada dikota. Namun ibu tersebut menolak karena tidak

mempunyai uang untuk berobat. Dan dr.Bagus juga berjanji akan mampor kerumah ibu itu untuk

melihat kondisi keadaan anak ibu itu lagi setelah selesai tugas. ( Paragraf 3)

Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu berada di tangan pasien, dan

dokter bagus tidak mengintervensi keputusan dari ibu tersebut. Dia juga tetap menjaga hubungan

atau kontrak dengan pasien, dengan berjanji akan mengunjungi anak dari ibu tersebut.

2 Pasien ketiga adalah seorang anak laki-laki. Pasien tersebut menderita keganasan stadium

lanjut. Sebelumnya pasien tersebut pernah dilakukan pembedahan di rumah sakit. Namun

keluarga pasien menghentikan pengobatannya lebih lanjut. Orangtua pasien bukanlah orang kaya

sehingga mereka tak mampu membeli obat-obatan kemoterapeutik yang mahal. Tetapi orangtua

pasien ingin anaknya mendapat pengobatan lebih lanjut. Dokter bagus menjelaskan kepada

orangtuanya bahwa kondisi anaknya tidak dapat ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk

membeli obat-obatan mahal tersebut. Dan juga fakta bahwa kemungkinan anak tersebut untuk

sembuh sangat kecil walau sudah diberikan obat sekalipun. Sehingga dokter Bagus hanya dapat

memberi obat-obatan penunjang agar anak bapak tersebut tidak terlalu menderita. (Paragraf 4)

19
Disini terlihat bahwa dr.Bagus telah menerapkan prinsip otonomi dari berbagai aspek yaitu aspek

nomor menghargai hak menentukan nasib sendiri, berterus terang, tidak berbohong kepada

pasien meskipun demi kebaikan pasien serta tidak menginetvensi/menghalangi otonomi pasien.

3. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan tindakan yang

harus dilakukan adalah amputasi. Walau dengan berat hati, istri pemuda tersebut menyetujui

tindakan yang akan dilakukan dokter. (Paragraf 5).

Disini dr. Bagus berterus terang dan tidak berbohong demi kebaikan pasien itu sendiri serta

menjalankan informed consent dengan meminta persetujuan istri si pemuda tersebut.

4. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan pulang dengan

diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk kontrol. (Paragraf 5).

Dapat dilihat bahwa dokter Bagus sepenuhnya memberikan keputusan kepada pasien, apakah dia

mau dirawat atau tidak, dan dokter Bagus pun tetap menjaga hubungannya dengan pasien

melalui kontrol rutin yang dilakukannya.

2.2.4 Justice

Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan

perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan

tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, , dan

kewarganegaraan tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya.

Dalam hal ini, dokter dilarang membeda-bedakan pasiennya berdasarkan tingkat ekonomi,

agama, suku, kedudukan sosial, dsb.

20
Diperlukan nilai moral keadilan untuk menyediakan perawatan medis dengan adil agar

ada kesamaan dalam perlakuan kepada pasien. Contoh dari justice misalnya saja: dokter yang

harus menyesuaikan diri dengan sumber penghasilan seseorang untuk merawat orang

tersebut.Untuk menentukan apakah diperlukan nilai keadilan moral untuk kelayakan minimal

dalam memberikan pelayaan medis, harus dinilai juga dari seberapa penting masalah yang

sedang dihadapi oleh pasien. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek dari pasien, diharapkan

seorang dokter dapat berlaku adil.

Ciri – ciri dari Justice yaitu :

1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal

2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan

3. Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama

4. Menghargai hak sehat pasien

5. Menghargai hak hukum pasien

6. Menghargai hak orang lain

7. Menjaga kelompok rentan

8. Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status social, dan

sebagainya

9. Tidak melakukan penyalahgunaan

10. Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

11. Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya

12. Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil

13. Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten

21
14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat

15. Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan kesehatan

16. Bijak dalam makroalokasi

Kaidah Justice dalam kasus dr. Bagus :

1. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 4 orang pasien yang sedang

mengantri. Dokter bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut pendaftaran, hal ini dilakukannya

agar pemeriksaan pasien berjalan tertib teratur. (Paragraf 2).

Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani pasien, ia memeriksa

pasiennya secara teratur menurut nomor urut agar pemeriksaan berjalan dengan tertib, lancar dan

tidak membeda-bedakan pasien.

2. “Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan cara

membuat air oralit pada ibu ini” kata dokter Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)

Dari percakapan dokter bagus diatas, dapat dilihat jika dokter Bagus menjalankan prinsip Justice

yang ke sepuluh, yaitu memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien

3. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu diluar karena ia akan

terlebih dahulu memberi pertolongan pada pemuda tersebut. (Paragraf 5).

Di sini dokter bagus menjalankan prinsip Justice yang ketiga, yaitu memberi kesempatan yang

sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama.

22
Pelanggaran justice dalam kasus dr.Bagus yaitu :

1. Setelah pasien kelima, dokter Bagus melihat keluar ruangan, tampak antrian pasien yang

masih banyak. “pak mantri tolong umumkan kepasien, saya akan istirahat makan sejenak” kata

dr.Bagus. ( Paragraf 8 )

Disini dr.Bagus tidak mengamalkan justice dalam pelayanannya karena ia tidak bijak dalam

makroalokasi dengan mementingkan kepentingan pribadinya untuk beristirahat sejenak padahal

pasiennya masih banyak yang mengantri.

23
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bioetika merupakan pedoman bagi dokter untuk bertindak pada pasiennya yang bertujuan

untuk kenyamanan pasien dan dokter itu sendiri. Bioetika ini terdiri dari empat bagian yaitu

beneficence, non-maleficence, justice dan autonomy, dimana pada tiap-tiap bagian itu

mengandung sebuah arti dimana suatu tindakan harus diambil. Pada kasus dr.Bagus ini ditemui

ke empat aspek tersebut. Walaupun terdapat adanya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada 2

paragraf terakhir. Namun dr.Bagus telah menerapkan prinsip bioetika dalam tindakan medisnya

tersebut.

Dari pembahasan mengenai kasus-kasus yang dihadapi Dokter Bagus, dapat ditarik

kesimpulan bahwa dari beberapa kasus Dokter Bagus telah menerapkan prinsip bioetik, namun

dalam kasus yang terakhir ia tidak menerapkannya. Prinsip-prinsip yang diterapkan oleh Dokter

Bagus antara lain beneficence (pasien memperoleh kepuasan tertinggi), non-maleficence(seorang

dokter tidak melakukan suatu perbuatan atau tindakan yang dapat memperburuk pasien),

autonomy (wajib menghormati martabat dan hak manusia, terutama hak untuk menentukan

nasibnya sendiri), dan justice (seorang dokter wajib memberikan perlakukan yang adil untuk

semua pasiennya).

Sangat disayangkan bahwa pada akhir kasus Dokter Bagus, ia justru melangar seluruh

prinsip-prinsip dalam bioetik. Diharapkan seorang dokter dapat melaksanakan seluruh prinsip

bioetik dan seluruh kasus yang dihadapinya. Dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam bioetik,

akan tercipta situasi dan hubungan yang baik antara dokter dengan pasien bahkan dengan pihak

keluarga pasien.

24