Anda di halaman 1dari 5

13

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

UV 366 nm
IV.2 Perhitungan
Dik : jarak noda 1 = 2 cm
jarak noda 2 = 1 cm
jarak noda 3 = 0,8 cm
jarak noda 4 = 0,3 cm
jarak noda 5 = 3,4 cm
jarak eluen = 4 cm
Dit : Nilai RF 1, 2, 3, 4, 5?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑛𝑜𝑑𝑎
Peny : Nilai RF = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛
2 𝑐𝑚
Nilai RF 1 = 4 𝑐𝑚 = 0,25 cm
1 𝑐𝑚
Nilai RF 2 = 4 𝑐𝑚 = 0,25 cm
0,8 𝑐𝑚
Nilai RF 3 = = 0,2 cm
4 𝑐𝑚
0,3 𝑐𝑚
Nilai RF 4 = = 0,075 cm
4 𝑐𝑚
3,4 𝑐𝑚
Nilai RF 5 = = 0,85 cm
4 𝑐𝑚

IV.3 Pembahasan
Kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) adalah salah satu metode
yang memerlukan pembiayaan paling murah dan memakai peralatan paling
dasar. Walaupun KLTP dapat memisahkan bahan dalam jumlah gram,
sebagian besar pemakainya hanya dalam jumlah miligram. KLTP
bersama-sama dengan kromatografi kolom terbuka, masih dijumpai dalam

13
14

sebagian besar publikasi mengenai isolasi bahan alam (Hostettmann,


2006).
Proses isolasi kromatografi lapis tipis preparatif terjadi berdasarkan
perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-
komponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen, oleh
karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka
komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah
yang menyebabkan pemisahan (Nasution, 2010).
Pada praktikum kali ini kami menggunakan sampel daun tembelekan
yang sudah diektraksi menggunakan metode dingin yaitu maserasi yang
kemudian dipisahkan senyawanya menggunakan metode Kromatografi
Kolom Gravitasi.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan
yang akan digunakan pada praktikum ini. Kemudian membersihkannya
dengan alkohol 70%, karena alkohol 70% adalah desinfektan yang dapat
membunuh bakteri atau mikroorganisme pada jaringan mati (Tjay, 2015).
Langkah kedua yang dilakukan adalah penyiapan lempeng. Lempeng
yang sudah di potong diberi batas atas 0,5 cm dan batas bawah 0,5 cm.
Menurut Arisanti (2015) hal ini dimaksudkan untuk memberikan batas
awal dan batas akhir serta dalam pemberian batas digunakan pensil karena
pensil tidak larut dalam eluen.
Langkah ketiga yaitu mengambil pelarut n-heksan dan etanol dengan
menggunakan perbandingan 70 mL :10 mL. Digunakannya perbandingan
N-heksan yang lebih banyak dibandingkan etanol dikarenakan senyawa
yang berada pada daun tembelekan adalaf flavonoid. Menurut
Kantasubrata (2003), flavonoid merupakan senyawa non polar, jadi
digunakan pelarut non polar yang dimana adalah n-heksan agar senyawa
non polar pada daun tembelekan dapat ditarik oleh pelarut n-heksan itu
sendiri.
Langkah keempat yaitu Dicampurkan kedua pelarut ke dalam
chamber. Menurut Rudi (2010), chamber merupakan alat penempatan
15

eluen yang berukuran besar untuk menampung eluen dengan panjang


20:20 cm untuk membentuk pita noda, yang akan diambil sebagai
isolate.
Langkah kelima yaitu penjenuhan dengan menggunakan tisu.
Menurut Roy (1991), Tujuan penjenuhan chamber ini yaitu untuk
menghilangkan uap air atau gas lain yang mengisi fase penjerap yang akan
menghalangi laju eluen.
Langkah kelima yaitu mengambil 5 sampel KKG kemudian
ditotolkan menggunakan pipa kapiler pada lempeng yang sudah diberi
batas atas dan batas bawah. Semua ekstrak ditotolkan pada satu lempeng
yang sama secara berdekatan. Menurut Arisanti (2015), penotolan ekstrak
menggunakan pipet kecil dimaksudkan agar memudahkan pengambilan
sampel dalam skala kecil.
Langkah keenam yaitu memasukan lempeng yang sudah ditotol
kedalam eluen yang sudah dijenuhkan. Menurut Arisanti (2015),
diusahakan agar peletakan lempeng dilakukan secara sejajar atau simetris
agar eluen yang naik juga sejajar.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan lempeng yang sudah dielusi
ke dalam UV 366 nm. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah
karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor
yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Yang dimaksud
dengan gugus kromofor adalah suatu gugus fungsi yang memiliki peranan
menyebabkan suatu senyawa memiliki warna. Gugus kromofor
juga merupakan gugus kovalen tidak jenuh yang dapat menyerap radiasi
dalam daerah UV-Vis. Sedangkan auksokrom merupakan gugus fungsi
yang mempunyai peranan untuk memberikan warna yang lebih intensif
pada suatu senyawa. Auksokrom tidak lepas kaitannya dengan adanya
kromofor di dalam senyawa tersebut (Gandjar, 2007).
Langkah selanjutnya yaitu dilingkari noda yang nampak
menggunakan pensil. Dan dihitung nilai Rf dari setiap noda. Menurut Rudi
(2010) nilai Rf adalah jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Oleh
16

karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk memastikan spot


yang terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun ukuran jarak plat nya
berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan
sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel. Nilai RF dapat dihitung
dengan rumus: jarak tempuh noda : jarak tempuh eluen.Hasil yang
didapatkan berturut-turut adalah 0,5 cm, 0,25 cm, 0,2 cm, 0,075 cm, 0,85
cm.
17