Anda di halaman 1dari 10

Perspektif Vol. 15 No. 1 /Juni 2016. Hlm 01 – 10 DOI: http://dx.doi.org/10.21082/psp.v15n1.2016.

01-10
ISSN: 1412-8004

ABAKA (Musa textilis Nee) SEBAGAI SUMBER SERAT ALAM,


PENGHASIL BAHAN BAKU PULP KERTAS DAN SUMBER
PENDAPATAN PETANI
Abaca (Musa textilis Nee) As Thesourceof Naturalfiber, Producingraw Materialfor
Pulp and Source of Farmer Income

BUDI SANTOSO, MASTUR, dan FITRININGDYAH TRI KADARWATI


Balai PenelitianTanaman Pemanis dan Serat
Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute
Jl. Raya Karangploso Km 4 PO Box 199 Malang, Indonesia
E-mail: b_santoso111@yahoo.com

ABSTRAK menyediakan bahan baku kertas uang yang dicanakan


oleh Bank Indonesia (BI)dan membuka lapangan kerja
Abaka penghasil serat alam yang menjadi bahan baku di pedesaan, serta memberikan sumber pendapatan
pulp kertas uang. Serat alam yang berasal dari abaka, para petani.
mempunyai sifat ramah lingkungan dan berkearifan
lokal, sangat disukai oleh para konsumen pabrikan. Kata Kunci: Abaka, cabai kecil, sumber pendapatan
Dewasa ini kebutuhan serat abaka di dalam negeri tumpangsari.
masih dipenuhi dari impor. Pulp dan kertas yang
berasal dari abaka mempunyai keunggulan di ABSTRACT
antaranya tahan sobek, kalau sudah menjadi kertas
sulit dipalsukan atau kertas yang dihasilkan Abaca-producing natural fiber as raw material for
digunakan untuk , kertas yang sulit ditiru, materai, pulp paper money. Natural fibers derived from abaca,
kertas dukomen(segel, sertifikat, ijazah dan kertas have environmentally friendly nature and local
penting lainnya). Bank Indonesia (BI) mulai tahun wisdom, highly favored by consumers manufacturer.
2014 lebih serius untuk menggunakan bahan baku Nowadays the need for abaca fiber in the country is
serat kapas dan serat abaka dalam negeri. Hal ini still imported. Pulp and paper are derived from abaca
sesuai dengan Undang-Undang Mata Uang N0. 7 has advantages including a tear-resistant, when it
Tahun 2011 pada pasal 9 (2) agar mengutamakan becomes difficult falsified paper or paper produced is
bahan baku dalam negeri (lokal) dengan menjaga used for Paper that is difficult to imitate, stamp paper
mutu, keamanan dan harga yang bersaing dalam dukomen (seals, certificates, diplomas and other
mencetak Uang Rupiah. Panen perdana abaka pada important papers). Bank Indonesia (BI) in 2014 is more
umur 18-20 bulan setelah tanam. Pada saat itu belum serious to use raw materials of cotton fiber and abaca
ada pendapatan bagi petani, adanya tumpangsari fiber in the country. This is in accordance with the
antara cabai + abaka memberikan sumber pendapatan, Currency Act N0. 7 Year 2011 on article 9 (2) in order to
karena cabai merupakan tanaman semusim sehingga give priority to domestic raw materials (local) to
hasil panen cabai dapat membantu dalam memenuhi maintain the quality, safety and competitive prices in
kebutuhan petani dalam masalah keuangan. the printing Rupiah. The first harvest abaca at age 18-
Disamping itu masih ada tanaman tegakan (jabon,atau 20 months after planting. At that time there has been
sengon). Pola tumpangsari abaka + cabai kecil bisa no income for farmers, their inter-cropping between
memberikan keuntungan sebesar Rp. 21.333.000,- chili + abaca provide a source of income, because chili
Dengan demikian pengembangan abaka mempunyai is a seasonal crop that yields chilli can assist in meeting
prospek yang cukup baik. Tujuan dari pada penulisan the needs of farmers in financial trouble. Besides, there
review ini untuk memberikan dukungan eksistensi is no plant stand (Jabon, or sengon). The pattern of
inovasi pengembangan abaka sebagai sumber serat intercropping abaca + small chilli may generate profits
alam yang memberikan kontribusi dalam of Rp. 21.333 million, - thus the development of abaca

Abaka Sebagai Sumber Serat Alam, Penghasil Bahan Baku Pulp Kertas dan Sumber Pendapatan Petani (BUDI SANTOSO et al.) 1
has good prospects. The purpose of the writing of this Hasil panen serat Abaka baru dapat
review is to provide support for the existence of abaca dinikmati oleh petani dalam kurun waktu sekitar
development innovation as a source of natural fiber 18-20 bulan. Selang waktu menunggu hasil panen
which contribute in providing raw materials of paper
tersebut, petani memperoleh tambahan
money dicanakan by Bank Indonesia and to create
pendapatan dari tanaman sela seperti cabai,
employment in rural areas, and provide a source of
income of farmers kacang tanah dan jagung. Usahatani cabai rawit
dalam waktu sekitar 6 bulan cukup memberikan
Key word: Abaca, cayenne pepper, source farmers pendapatan yang menggembirakan. Pemanfaatan
income, intercropping. lahan yang efisien melalui pola tumpangsari
cabai rawit + abaka dapat meningkatkan
pendapatan petani, baik penerimaan dari cabai
PENDAHULUAN maupun penerimaan dari abaka. Secara umum
petani di Indonesia dikelompokan ke dalam
Abaka (Musa textilis Nee) merupakan kategori petani subsisten artinya kepemilikan
tanaman tahunan, penghasil serat alam. lahan yang sempit (0,30 ha), modal sedikit dan
Kekuatan serat kering abaka di atas rata-rata sulit menerima teknologi baru. Hadirnya abaka
komoditas serat lainnya (Bledzki et al., 2007). membuka lapangan kerja di pedesan, selain itu
Serat yang dihasilkan berasal dari pelepah batang membantu dalam penyediaan serat nasional,
yang ramah terhadap lingkungan dan sehingga dapat menghemat devisa Negara.
berkelanjutan (Mwaikambo, 2006). Permasalahan Dasar pertimbangan lain bahwa lahan yang
utama pada saat ini di antaranya kebutuhan serat sesuai untuk abaka di tanah air cukup luas.
abaka nasional masih impor. Demkian pula Abaka tumbuh baik pada tanah subur, volcan
kebutuhan dunia akan serat abaka juga belum atau alluvial, retensi air tinggi, curah hujan 2.000-
terpenuhi. Produksi serat abaka internasional 3.000 mm/tahun (tidak ada bulan kering,
sebesar 65.000 ton/tahun, sedang permintaan kelembaban udara 78-88%, suhu optimal 20oC-
sudah mencapai 85.000 ton/tahun, sehingga 27oC dan ketinggian tempat sampai 1.000 m di
masih kekurangan sekitar 20.000 ton/tahun. Serat atas permukaan laut (Bande etal., 2012). Secara
abaka banyak digunakan untuk bahan baku pulp alami abaka tumbuh pada hutan tropis campuran
kertas (Manish Kumar dan Deepak Kumar, 2011). dengan tanaman lain.
Pulp dan kertas yang berasal dari abaka Pada daerah gugusan kepulauan seperti
mempunyai keunggulan di antaranya tahan pulau Nias, Sangir Talaud dan dataran tinggi
sobek, kalau sudah menjadi kertas sulit (700 sampai dengan 900 m di atas permukaan
dipalsukan atau kertas yang dihasilkan laut) sebagai tempat yang cocok untuk
digunakan untuk pkertas yang sulit ditiru, kelangsungan pertumbuhan M. textilis. Lereng-
materai, kertas dukomen (segel, sertifikat, ijazah lereng gunung berapi yang umumnya mendapat
dan kertas pentinglainnya). Menurut Jose C. de irupsi berupa abu, lahar dan belerang serta tanah
Rio dan Ana Gutierrez (2006); dikemukakan mineral memiliki tingkat kesuburan lahan yang
bahwa serat abaka digunakan sebagai bahan baik dan sangat ideal untuk pertumbuhan abaka
baku pulp kertas berkualitas tinggi. Bank (Romel et al., 2011).
Indonesia (BI) mulai tahun 2014 lebih serius Pada budidaya abaka diperlukan naungan
untuk menggunakan bahan baku serat kapas dan agar tidak mendapat penetrasi matahari secara
serat abaka dalam negeri. Hal ini sesuai dengan langsung. Bande et al., (2012) melaporkan
Undang-Undang Mata Uang N0. 7 Tahun 2011 pemberian naungan hingga 50% dapat
pada pasal 9 (2) agar mengutamakan bahan baku menghasilkan serat abaka yang lebih tinggi
dalam negeri (lokal) dengan menjaga mutu, dibandingkan tanpa naungan. Oleh karena itu
keamanan dan harga yang bersaing dalam masuknya tanaman sengon, albasia, akasia bulat,
mencetak Uang Rupiah. Philipina dan Jepang tanaman kayu berdaun menjari (pinus), jabon
menggunakan kertas uang campuran serat abaka dan kayu tegakan lunak pada pola tumpangsari
(Suratos, 2001). yang menghasilkan naungan baik bagi abaka.

2 Volume 15 Nomor 1, Juni 2016 : 01 - 10


Cabai rawit sebagai tanaman musiman yang membutuhkan naungan agar dapat tumbuh
ditanam di bawah abaka, dipanen saat umur 6 dengan normal.
bulan setelah tanam. Ketiga komoditas tersebut Tujuan dari pada penulisan review ini
mempunyai habitus yang berbeda-beda. Kondisi untuk memberikan dukungan eksistensi inovasi
yang demikian cocok untuk ditanam secara pengembangan abaka sebagai sumber serat alam
tumpangsari. Menurut Guritno (1996 dalam yang memberikan kontribusi dalam
Santoso, 2007) syarat suatu tanaman dapat menyediakan bahan baku kertas uang yang
ditumpangsarikan bilamana ada ketidak samaan dicanakan oleh Bank Indonesia dan membuka
dalam hal tinggi tanaman, kebutuhan cahaya, air, lapangan kerja di pedesaan, serta memberikan
CO2, pengambilan unsur hara, dan berbedaan sumber pendapatan para petani.
lintasan siklus karbon Dengan permasalahan
yang demikian kiranya tidak berlebihan POLA TUMPANGSARI ABAKA + CABAI
bilamana pengembangan abaka harus di KECIL + KAYU TEGAKAN
pertahanakan agar seluruh permasalahan yang
ada dapat di selesaikan dengan baik. Usahatani pola tumpangsari dengan harapan
Tumpangsari adalah suatu bentuk pola mendapatkan hasil yang optimal. Untuk
tanam dengan menanam lebih dari satu jenis mengukur hasil tersebut salah satunya adalah
tanaman pada lahan yang sama dalam waktu dengan memanfaatkan penggunaan lahan yang
yang bersamaan atau hampir bersamaan efisien. Pola tumpangsari disamping untuk
(Papendick et al., 1976 dalam Zulkarnain 2005). mendapatkan hasil ganda juga, bertujuan
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memperoleh pendapatan yang berkesinam-
pola tumpangsari yaitu jenis komoditas yang bungan dalam kurun waktu 18-20 bulan. Apakah
diusahakan, susunan perakaran tanaman, habitat pola tumpangsari lebih menguntungkan dari
tanaman, respon tanaman terhadap faktor pada monkultur dapat didekati dengan Land
lingkungan seperti air, cahaya, hara, CO2 dan Equivalen Ratio (LER).
suhu serta kelembaban udara. Komponen LER atau dikenal dengan istilah Nilai
lingkungan tersebut pada sistem tumpangsari, Kesetaraan Lahan (NKL) dapat dirumuskan
masing-masing salin diperebutkan oleh tanaman. sebagai berikut :
Menurut Riajaya dan Kadarwati (2014)
dikemukanan bahwa pada sistem tumpangsari YSts YPts
selalu terjadi kompetisi akan ruang, CO2, cahaya, NKL = +
air dan nutrisi antar tanaman. Abaka dalam pola YSm YPm
tumpangsari sebagai tanaman pokok atau utama.
Kerapatan tanaman abaka (jarak tanam 3 m x 3 Sumber : Mulyaningsih dan Hariyono (2013)
m) dengan populasi tanaman sekitar 1.000 pohon Dimana :
per ha, kondisi ini sudah termasuk saluran
NKL : Nilai Kesetaraan Lahan
drainase. Pada sistem penyerapan karbon
YStm : Hasil tanaman sela tumpangsari
dioksidanya (CO2) abaka tergolong ke dalam
YSm : Hasil tanaman sela monokultur
tanaman siklus C3 atau 3 karbon. Menurut
YPts : Hasil tanaman Pokok tumpangsari
Ochie, 2010 bahwa tumbuhan dengan jalur C3
YPm : Hasil tanaman Pokok monokultur
umumnya mempunyai laju fotosintesis yang
lebih rendah dibandingkan dengan tumbuhan
Bila NKL >1, mempunyai arti bahwa
C4, terutama dalam intensitas cahaya tinggi.
pertanaman tumpangsari lebih efisien dalam
Pada tumbuhan abaka terjadi peningkatan
memanfaatkan lahan dibanding pada
efisiensi fotosintesis, penyebab utama yaitu tidak
pertanaman monokultur, sebaliknya manakala
adanya fotorespirasi yang dapat diukur. Hal ini
hasil yang diperoleh <1 monokultur sangat
terjadi pada saat fotorespirasi mengalami
efisien daripada tumpangsari.
kehilangan CO2 dalam jaringan fotosintetik dan
Ketika hasilnya dihitung secara B/C ratio,
ternyata nilai antara tambahan pendapatan

Abaka Sebagai Sumber Serat Alam, Penghasil Bahan Baku Pulp Kertas dan Sumber Pendapatan Petani (BUDI SANTOSO et al.) 3
(benefit) dibagi dengan tambahan biaya usahatani dan konservasi lahan hutan sangat diperlukan
(cost) dari pola monokultur ke pola tumpangsari serta harus berhasil. Pendekatan melalui efisiensi
>1, maka pengembangan abaka secara lahan dengan system pola tumpangsari sebagai
tumpangsari dapat diteruskan, karena sangat langkah yang sesuai, tanpa menambah perluasan
menguntungkan. areal lahan baru.
Dalam sistem pola tanam tumpangsari Sengon tanaman kayu tegakan yang
terdapat berbagai macam tipe (Lithourgidis et al., digolongkan kedalam kelompok leguminose.
2011) yaitu : Laju pertumbuhan sengon, sangat cepat sehingga
1. Mixed cropping (pola tanam campuran, sesuai digunakan sebagai tanaman naungan.
tanam bersamaan atau ada jeda dalam Abaka memperlukan pelindung dari intensitas
kurun waktu1 tahun) cahaya matahari secara langsung. Oleh karena itu
2. Relay cropping (pola tanam pergiliran 2 atau hadirnya sengon di pertanaman abaka dalam
lebih komoditas dalam kurun waktu 1 bentuk tumpangsari, membantu sekali.
tahun). Disamping itu tanaman leguminose dapat
3. Strip cropping (pola tanam berbaris, 2 atau menarik nitrogen dari udara. Menurut Lay dan
lebih komoditas kurun waktu 1 tahun) Heliyanto (2013), dikemukakan bahwa abaka
4. Multiple cropping (pola tanam bermacam– tumbuh baik di bawah pohon akasia
macam komoditas, waktu tanam bersamaan (leguminose) karena tanaman ini menghasilkan
dalam kurun waktu 1 tahun nitrogen. Secara umum nitrogen di dalam tanah
sedikit sekali, sehingga ada tambahan nitrogen
Pada umumnya di Indonesia tumpangsari
dari luar dapat meningkatkan tingkat kesuburan
yang digunakan untuk abaka adalah Mixed
lahan. Keunggulan dari tanaman kayu tegakan
cropping (pola tanam campuran, tanam
(sengon) adalah menghasilkan humus, melalui
bersamaan atau ada jeda dalam kurun waktu 1
daun-daun yang jatuh ke tanah dan menjadi
tahun)
bahan organik. Dampak yang nyata pada proses
Peningkatan daya saing dan implementasi
tersebut pertumbuhan abaka menjadi lebih baik.
pengembangan komoditas abaka dan cabai kecil
serta tanaman sela (sengon) secara tumpangsari,
mendukung pencapaian ketahanan pangan, EKSISTENSI INOVASI TEKNOLOGI
menghemat devisa negara dan sekaligus PENGEMBANGAN ABAKA
menekan inflansi. Komoditas cabai merupakan
produk pertanian yang sering menganggu Pada pengembangan abaka masalah yang
stabilitas perekonomian. Pada saat tertentu harga penting adalah dalam perbanyakan bibit dan
melambung tinggi dan dalam waktu yang varietas unggul yang tahan terhadap penyakit
singkat harga merosot tajam. Oleh karena itu Fusarium (Teodora et al., 2012). Penggandaan
cabai dikelompokan ke dalam komoditas bibit abaka yang sembarangan, penyebab
strategis yang harus dapat dikendalikan. Dalam kegagalan yang patal dalam pengembangan.
mendukung penyediaan cabai nasional yang Disamping itu dalam pengelolaan pasca panen
cukup, pola tumpangsari abaka + cabai kecil + diperlukan mesin dekortikasi untuk proses
kayu tegakan (sengon) ikut memberikan penyeratan batang abaka. Kebutuhan bibit abaka
kontribusi terhadap program pemerintah dengan populasi tanaman yang rapat dapat
terutama keberadaan cabai. mencapai 1.000 sampai dengan 1.100 tanaman
Intensifikasi sektor pertanian sebagai upaya per ha. Model tanamnya bisa berupa single row
dalam mengoptimalkan lahan untuk dengan jarak tanm (3 m x 3 m), atau ( 2,5 m x 2,5
mendapatkan produksi yang tinggi, perlu terus m) (Marlito et al., 2012). Tetapi juga ada yang
ditingkatkan. Sementara ekstensifikasi, sulit menggunakan double row (2,75 x 2,75 m) + 5 m.
dilaksanakan dan tingkat keberhasilannya Bidang masalah adalah bagaimana dalam
rendah, karena banyak lahan-lahan produktif menyediaakan bibit abaka dalam jumlah yang
beralih fungsi menjadi perumahan atau sarana banyak tersebut. Saat ini sudah tersedia teknologi
umum yang diperlukan oleh masyarakat banyak untuk mendukung pengembangan abaka yaitu

4 Volume 15 Nomor 1, Juni 2016 : 01 - 10


Foto: Hastono et al.
Foto: Rully

Gambar 1. Hasil kultur jaringan abaka klon Gambar 2. Model mesin dekortikator abaka
tangangon prototipe

perbanyakan bibit abaka dengan sistem kultur mengakibatkan kerusakan sebanyak 5% sampai
jaringan (Gambar 1). Keunggulan bibit abaka dengan 65%. Hasil penelitian Sulistyowati et al.,
yang berasal dari kultur jaringan adalah cepat (2009) menyebutkan bahwa untuk memperbaiki
dalam pengadaannya, walaupun dalam jumlah sifat genetik abaka adalah melalui transfer gen
yang banyak; bibit seragam karena diambil dari spesifik dengan vector Agrobacterium tumefaciens,
bagian vegetatif tanaman; dan bebas serangan dan berhasil memperoleh 4% kalus transforman
hama dan penyakit. yang mengandung Chilinase.
Badan Penelitian dan Pengembangan Panen abaka yang diambil berupa batang
Pertanian telah mempunyai klon-klon unggul tanaman, kemudian pelepah yang menempel
abaka dari hasil ekplorasi, karakterisasi, uji daya pada batang, dikelupas satu demi satu untuk
hasil dan plasma nutfah. Pada tahun 20010 telah diambil seratnya. Hasil pelepah batang abaka
dilakukan uji multi lokasi klon-klon abaka di tersebut diproses dalam mesin dekortikator.
beberapa tempat untuk dilepas menjadi varietas Badan Liitbang Pertanian sudah membuat
baru. Tahun 2016 direncanakan akan dilepas 2-3 prototype mesin dekortikator dengan rendemen
varietas baru dari abaka. serat sekitar 4 sampai dengan 4,5% (Gambar 2).
Pertanaman abaka yang terserang penyakit Di Philipina mesin dekortikator mempunyai
Fusarium yang dicirikan dengan kelayuan pada rendemen serat hanya 3 sampai dengan 3,5%
bagian ujung daun, terus menyebar ke seluruh (Vijayalakshmi et al., 2014). Mesin giling serat
tanaman dan berakhir dengan kematian.Pada tersebut bisa dipindah-pindah atau fortable,
tahun 2007 Litbangtan mempergunakan mutasi mendekati hasil panen batang abaka di lokasi
radiasi, berhasil memperoleh klon abaka yang pertanaman, sehingga biaya pasca panen lebih
toleran terhadap Fusarium. Hasil penelitian murah.
Purwati et al., (2007) menujukkan bahwa Berdasarkan kualitas serat kering abaka
perlakuan induksi mutasi penggunaan mutagen dibedakan menjadi 4 kelas yaitu:1). Grade excellent
kimia EMS dan seleksi in vitro dengan 40% fitrat (kelas utama) S2, S3 (Gambar 4), 2). Grade good
F. oxysporum isolate atau 50 mg/l fusarat (kelas baik) I, G,H, 3). Grade fair (Kelas sedang)
menghasilkan klon-klon abaka yang toleran JK,M1, dan 4). Grade residual (kelas terjelek) Y, OT
terhadap penyakit Fusarium. Menurut Lestari (PT. Kertas Leces, 2013). Kualitas serat abaka
(2013) dikemukakan bahwa kendala utama dibentuk sejak ada di pertanaman, mulai dari
dalam pengembangan tanaman abaka di daerah pemilihan klon unggul abaka, pemeliharaan
tropis adalah penyakit layu yang disebabkan oleh tanaman abaka, pada saat panen sudah masak,
cendawan F. oxysporum. Lebih lanjut dikatakan artinya tanaman abaka sudah mengakhiri masa
bahwa serangan jamur F. oxysporum ini vegetatif dan memasuki masa generatif. Bilamana

Abaka Sebagai Sumber Serat Alam, Penghasil Bahan Baku Pulp Kertas dan Sumber Pendapatan Petani (BUDI SANTOSO et al.) 5
Gambar 3. Batang abaka siap dipanen Gambar 4. Serat abaka dengan grade excelent
Sumber : Santoso dan Purwati, 2011. Sumber : Fibra de abaca, 2014.

Tabel 1. Keragaan usahatani Abaka tumpangsari dengan cabai rawit (kecil) per ha di daerah Kabupaten
Tumanggung Jawa tengah.
Kegiatan abaka/ha Biaya /ha Kegiatan cabai/ha Biaya /ha
I. Biaya produksi I. Biaya produksi
a. Sarana produksi a. Sarana produksi
Bibit Rp. 5.000.000,- Bibit Rp. 240.000,-
Pupuk kandang Rp. 1.000.000,- Pupuk kandang Rp. 60.000,-
Pupuk Urea Rp. 480.000,- Pupuk Urea Rp. 96.000,-
Pupuk TSP Rp. 200.000,- Pupuk TSP Rp. 120.000,-
Pupuk KCl Rp. 260.000,- Pupuk NPK Rp. 720.000,-
Pestisida Rp. 150.000,- Pupuk daun Rp. 96.000,-
Karbofuran 3 G Rp. 100.000,- Pestisida Rp. 75.000,-
Fungisida Rp. 50.000,- Kapur pertanian Rp. 105.000,-
Kayu/bambu ajir Rp. 1.800.000,-
b. Pengolahan tanah dengan traktor Rp. 400.000,-
b.Pengolahan tanah Rp. 3.010.000,-
Pembuatan surjan
Pengolahan bedengan Rp. 735.000,-
c.Tenaga kerja
Pengajiran dan lubang tanam Rp. 2.625.000,- c. Tenaga kerja
Penanaman Rp. 455.000,- Penanaman dan penyulaman Rp. 175,000,-
Pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, Rp. 875.000,-
pembersihan daunkering dan penyulaman) Pempukan Rp. 270.000,-
Penyiraman Rp. 1.770.000,-
Pemasangan ajir Rp. 315.000,-
Perbaikan saluran Rp. 140.000,-
Pengendalian HPT Rp. 525.000,-
Panen dan pasca panen Rp. 2.100.000,- Panen dan angkut Rp. 2.520.000,-

Total biaya produksi/ha (100%) Rp. 13.695.000,- Total biaya produksi/ha (60%) Rp. 10.972.000,-
II. Pendapatan II. Pendapatan
Produksi abaka Rp. 16.000.000,- Produksi cabai Rp. 30.000.0000,-
Keuntungan(II-I) Rp. 2.305.000,- Keutungan (II-I) Rp. 19.028.000,-
Keterangan : Populasi abaka 1 ha penuh 100%, sedang populasi cabai 1 ha hanya 60% karena ditumpangsari
dengan abaka

tanaman abaka dipanen masih umur muda maka,


USAHATANI TUMPANGSARI ABAKA
kualitas serat yang dihasilkan kurang baik,
DAN CABAI RAWIT
kekuatan seratnya mudah putus. Sebaliknya
manakala pada saat panen umur abaka terlalu
Prinsip tumpangsari adalah untuk
tua, sudah keluar ontong dan buah kecil-kecil,
mendapatkan hasil yang ganda artinya selain
serat yang dihasilkan juga jelek, rapuh dan warna
panen tanaman utama juga memperoleh panen
serat kecoklatan. Oleh karena itu panen abaka
tanaman selanya baik yang semusim maupun
harus tepat waktu, agar kualitas serat yang
yang tahunan. Hasil usahatani abaka
dihasilkan bisa digolongkan kedalam kelas
tumpangsari dengan cabai disajikan pada Tabel
utama atau kelas yang baik.Tanaman abaka yang
1.
siap untuk dipanen disajikan pada Gambar 3.

6 Volume 15 Nomor 1, Juni 2016 : 01 - 10


Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen)
mempunyai tipe daun yang menjari, kecil-kecil
dan tajuk yang tidak rapat, sehingga sangat
sesuai untuk tumpangsari. Menurut Mugiyana
(2010) dikemukakan bahwa hal paling utama
dalam pola tumpangsari yaitu pengaturan jarak
tanam. Lebih lanjut dikemukakan bahwa jarak
tanam harus diatur dengan tujuan agar intensitas

Foto: Mastur
cahaya matahari dan nutrisi harus mampu
mencukupi kebutuhanan tanaman pokok
ataupun tanaman sela yang lain. Jarak tanam
sengon 4 m x 1 m dengan populasi tanaman
Gambar 5. Pola tumpangsari abaka + cabai kecil +
sebanyak 2.500 tanaman per ha, tetapi selama
kayu tegakan
pertumbuhan harus dijarangi agar tanaman tidak
mengalami gangguan, baik tinggi maupun
diameter batang.
Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa pola Keragaan usahatani pola tumpangsari
usahatani tumpangsari abaka + cabai kecil dapat
memberikan keuntungan sebesar Rp. 21.333.000/ Pola tumpangsari abaka + cabai kecil + kayu
ha. tegakan (sengon) diperagakan dalam kurun
Penjarangan (50% dari populasi) dilakukan waktu 1 tahun sebagai berikut :
setelah umur 1 tahun, sisa tanaman dari Bulan
penjarangan tinggal 1.250 pohon per ha. Pada 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
pola tumpangsari abaka + cabai + sengon,
populasi tanaman sengon tidak terlalu banyak,
ABAKA
sekitar 275 pohon saja per ha. Jarak tanam segon
sangat jarang 6 m x 6 m, sehingga kebutuhan CABAI KECIL CABAI KECIL
bibit dapat dihemat. Hal ini terjadi karena KAYU TEGAKAN (SENGON)
tanaman segon sebagai tanaman naungan abaka,
Sumber : Untung et al. (2013).
telah diatur sedemikian rupa jarak tanamnya,
sehingga tidak terlalu rapat. Kanopi dari Keterangan: Abaka berproduksi pada umur 16 bulan, sedang
tanaman abaca dan cabai diharapkan masih cabai kecil berproduksi pada umur 6 bulan, kemudian
dilanjutkan musim tanam cabai berikutnya dan panen pada
mampu berfungsi untuk meluruskan batang selang 6 bulan. Sengon pada jangka waktu 1 tahun masih
kayu etiolasi. belum terpanen diperkirakan umur berproduksi mencapai 6
Berdasarkan perhitungan pengukuran kayu, tahun.
setiap 5 pohon kayu segon yang berdiameter
batang sebesar 30 cm, berumur 6 tahun akan
KESIMPULAN DAN SARAN
menghasilkan kayu sebanyak 1 m3 (Mugiyana,
2010). Harga kayu segon dipasaran bebas Rp.
750.000,- setiap 1 m3. Pendapatan dari hasil kayu Kebutuhan serat dalam negeri untuk abaka
sengon adalah 275/5 x Rp. 750.000 - Rp. masih dipenuhi dari impor. Pulp kertas dari serat
41.250.000,- per ha. Pada pola tumpangsari, abaka mempunyai keunggulan komperatif.
populasi tanaman sela di masing-masing Bank Indonesia (BI) mulai tahun 2014 lebih
komoditas berkurang, kecuali pada tanaman serius untuk menggunakan bahan baku serat
pokoknya. Menurut Suwarto et al., (2005) kapas dan serat abaka dalam negeri. Hal ini
dikemukakan bahwa sistem tumpangsari tetap sesuai dengan Undang-Undang Mata Uang N0. 7
mampu meningkatkan produktivitas lahan, Tahun 2011 pada pasal 9 (2) agar mengutamakan
walupun terjadi penurunan hasil pada masing- bahan baku dalam negeri (lokal) dengan menjaga
masing komoditas, akibat dari kompetisi. Pola mutu, keamanan dan harga yang bersaing dalam
tumpangsari abaka + cabai kecil + kayu tegakan mencetak Uang Rupiah. Oleh karena itu
sengon disajikan pada Gambar 5. peningkatan produksi abaka nasional perlu

Abaka Sebagai Sumber Serat Alam, Penghasil Bahan Baku Pulp Kertas dan Sumber Pendapatan Petani (BUDI SANTOSO et al.) 7
dipacu, apalagi ditambah dengan program DAFTAR PUSTAKA
swasembada bahan baku kertas uang pada tahun
2014 mulai diterapkan. Anonymous. 2014. Fibra de abaca.jpg.
Badan Penelitian dan Pengembangan http://commons.wikimedia.org/wiki/File:
Pertanian telah mendapatkan teknologi Fibra_de_abaca. jpg. Diakses tanggal 25
perbanyakan bibit abaka dengan sistem kultur Juni 2014.
jaringan. Disamping itu klon-klon unggul abaka Bande, M.B., J. Grenz, V.B. Asio and Saueborn
dari hasil ekplorasi, karakterisasi, uji daya hasil J.2012. Morphplogical and physiological
dan plasma nutfah telah dilaksanakan. Pada of Abaca (Musa textilis var. Laylay) to
tahun 2010 telah dilakukan uji multi lokasi klon- shade, irrigation and fertilizer
klon abaka dibeberapa tempat untuk dilepas supplication at different stages of plant
menjadi varietas baru. Tahun 2016 direncanakan growth. International Journal of Agri
akan dilepas 2-3 varietas baru dari abaka. Klon Science. 3(2):157-75.
unggul baru abaka tersebut toleran terhadap Bande, M.M., J. Grenz, V.B. Asio and Saverborn.
penyakit Fusarium. 2012. Production of high quality abaca
Teknologi mesin pasca panen berupa mesin (Musa textilis Nee) fibre under different
penyeratan secara fortable abaka dan dapat shading, irrigation and fertilizer
meningkatkan rendemen serat sebesar 4 sampai management system in Leyte Philippine.
dengan 5%, serta kualitas serat yang diperoleh Paper presented at the Internasional
dalam grade excellent. Sceintific Conference on Susainable Land
Pengembangan abaka perlu dipertahankan Use and Rural Development Morentani
karena dapat membuka lapangan kerja di Areas, Hohenhein, Stuttgart, 16-18 April
pedesaan dan menghemat devisa negara. 2012.
Usahatani pola tumpangsari abaka + Cabai Bledzki, A.K., A.A. Mamun, and O. Faruk. 2007.
kecil (rawit) dalam kurun waktu (16 bulan) Abaca fibre reinforced PP composites and
memberikan untungan sebesar Rp 21.333.000,-/ha comparison with jute and flax PP
,.Nilai tambah pendapatan dari Cabai kecil dapat composite. Express Polymer Letters 1(11):
digunakan untuk keperluan hidup petani sambil 755-762.
menunggu hasil dari kayu tegakan. Secara Guearte, R.C. 2014. Utilization of abaca of (Musa
nasional ikut membantu dalam penyediaan cabai textilis Nee) fibre in the automotion
kecil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat industry. The case of the PPP abaca
dan memperkuat ketahanan pangan. Project in The Phillipina.
Pengembangan abaka dengan pola Herlina. 2011. Kajian Variasi Jarak dan Waktu
tumpangsari mempunyai prospek yang baik, dan Tanam Jagung Manis dalam Sistem
mempunyai nilai ekonomi yang kreatif, serta Tumpangsari Jagung Manis (Zea mays
secara makro dapat menekan inflasi. Cabai saecharata Sturt) dan Kacang Tanah
tergolong komoditas yang harganya sulit untuk (Arachis hypogea L.). Tesis. Program Pasca
dikendalikan oleh Pemerintah. Secara mikro bisa Sarjana Universitas Andalas Padang. 38
meningkatkan sumber pendapatan petani di hlm.
pedesaan dan membuka lapangan kerja disektor Jose C. de Rio and Ana Gutierrez. 2006. Chemical
pertanian. Composition of Abaca (Musa textilis) Leaf
Pemerintah wajib ikut mendukung dalam Fibers Used for Manufacturing of High
pengembangan abaka melalui program-program Quality Paper Pulps. Abstract J. Agric.
yang ada di Kementerian Pertanian, terutama Food Chem., 2006, 54 (13):4600-4610.
pada daerah baru maupun sentra pengembangan http://www.google.coiul/abaca fibre
abaka. Di Kabupaten Kepulauan Talaud product journal. Diakses tanggal 30 Juni
membutuhkan sentuhan, agar percepatan 2014.
teknologi inovasi abaka yang sudah ada PT. Kertas Leces. 2013. Prospek Binis Serat Abaka
disosialisakan. dalam Rangka Peningkatan Ekonomi

8 Volume 15 Nomor 1, Juni 2016 : 01 - 10


Masyarakat di Kabupaten Daerah mugiyana.blogspot.com/2010/08/blog-
Tertinggal. Workshop Percepatan post.html. Diakses tanggal 20 Juni 2014.
Pembangunan Daerah Tertinggal Melalui Mulyaningsih, S., dan B. Hariyono. 2013.
Pengembangan Pisang Abaka. Hlm. 1-9. Pengaruh Macam Tanaman Sela
PT. Antako Wisena. 2014. Usahatani cabai Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jarak
rawit.www.antakowisena.com Pagar (Jatropha curcas L.) Hasil
antakowisena.indonetwork.net. Diakses Rehabilitasi Tahun Ketiga. Buletin
tanggal 20 Juni 2014. Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak
Vijayalakshmi, K. ., Ch. Y.K. Neeraja, A. Kaviatha Industri. Pusat Penelitian dan
and J. Hajavadana. 2014. Abaca Fibre Pengembangan Perkebunan.Badan
Transaction on Engineering and Sciences Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
2:16-19. 5(2):69-77.
Kadarwati, F.T. 2013. Peningkatan Produktivitas Mwaikambo L.Y. 2006. Review of the History
Pendapatan Petani Kapas. Dalam: Properties and Aplication of Plant Fibres.
Teknologi Budidaya Kapas. IAARD African Journal of Science and Tecnology.
Press. Badan Penelitian dan Science and Engineering 7(2): 120-133.
Pengembangan Pertanian. Hlm. 89-105. Ochie. 2010. Tanaman C4. http://ssp09-unhaz.
Lay, A. dan B. Heliyanto. 2013. Abaka (Musa Diakses tanggal 18 Juni 2014.
textilis Nee) dan Prospek Pengembangan- Purwati, R.L., U. Setyo-Budi dan Sudarsono.
nya di Kabupaten Kepulauan Talaud 2007. Penggunaan asam fusarat dalam
Sulawesi Utara. IPB Press. Bogor. 136 seleksi in vitro untuk resistensi abaka
hlm. terhadap Fusarium oxysporum f. sp.
Lestari, E.G. 2013. Pembentukan Galur Unggul cubense. Bogor. Journal Littri 13(2):64-72.
Tanaman Melalui Peningkatan Ke- Romel, B., Armecin, Wilfredo, C. Cosico and B.B.
ragaman Genetik Dengan Metode Variasi Rodrigo, 2011. Characterization of the
Somaklonal. Journal Pengembangan Different Abaca Based Agro-Ecosystem
Inovasi Pertanian. Pemuliaan Konven- in Leyte, Philippines. Taylor and Francis
sional dan Non-Konvensional untuk Group. Journal of natural Fibers (8) : 111-
Tanaman dan Ternak. Badan Penelitian 125.
dan Pengembangan Pertanian. Riajaya, P.D. dan Kadarwati, FT. 2014.
Kementerian Pertanian. 6 (2): 53-61. Kesesuaian Galur-Galur Harapan Kapas
Lithourgidis, A.S., C.A. Dordas, C.A. Damalas, Berdaun Okra dalam Sistem
and D.N. Ulachostergias. 2011. Annual Tumpangsari dengan Kedelai. Buletin
intercops an alternative path way for Tanaman Tembakau, Serat dan Minyak
sustainable agriculture. Australian Industri 6(1):11-20.
Journal of Crop Science 5(4):396-410. Santoso, B. 2007. Pengaruh Tanaman Kacang
Manish Kumar and Deepak Kumar. 2011. Tanah dan Jagung Terhadap
Comparative od pulping of banana stem. Pertumbuhan Agave sisalana Perrine
International Journal of Fiber and Textile dalam Sistem Tumpangsari di Lahan
Research 1(1) : 1-5. Kering Berkapur.Journal Agritek.
Marlito, M., J. Bande, B. Grenz Victor, Ssio and J. 15(6):1358-1363.
Saueborn. 2012. Nutriet Uptake Fiber Santoso, B., dan R.D. Purwati. 2011. Abaka (Musa
Yield of Abaca (Musa textilis var. Laylay) textilis Nee) Bahan Baku Serat Alam
as affected by shade, irrigation and Berkualitas Tinggi. Penerbit Tunggal
fertilizer application. Annals of Tropical Mandiri. Malang. 120:94 hlm.
Research 34(1) : 1-28. Sridach, W. 2015. The environmentally benigu
Mugiyana. 2010. Budidaya Sengon dengan pulping prosess of non wood fibers.
Sistem Tumpangsari. Http://accounts Suranarce. Sci. Technol 17(2):105-123.
google.Com/savicelogin.

Abaka Sebagai Sumber Serat Alam, Penghasil Bahan Baku Pulp Kertas dan Sumber Pendapatan Petani (BUDI SANTOSO et al.) 9
Sulistyowati L., R.D., Purwati, Suharsono dan G. Lalusin, T. Keiko, and Natsuanki. 2012.
Iskarlia. 2009. Transformasi gen chitinase Induction of putative resistant lines of
dari jamur Trichoderma asperillum pada abaca (Musa textilis Nee) to banana
kalus Abaka. Agrivita Jurnal Ilmu bunchy top virus and banana bract
Pertanian. 31(3):205-213. mosaic virus throughin vitro mutagenesi.
Suratos, A.I. 2001. The use of abaca in the J. ISSAAS 18(1) : 87-99.
manufacture of banknote paper. Ai paper Untung, SB., Marjani dan B. Santoso. 2013.
presented at the 2001 currency Confrence, Evaluasi Potensi Produktivitas dan Mutu
Barcelona, Spani, April 8-11. Serat Abaka. Rencana Operasional
Suwarto, Sudirman, Y., Handoko dan M.A. Penelitian Pertanian. Balai Penelitian
Chezin. 2005. Kompetisi tanaman jagung Tanaman Pemanis dan Serat. Hlm. 1-8.
dan ubikayu dalam sistem tumpangsari. Zulkarnain. 2005. Pertumbuhan dan Hasil Selada
Journal Agronomi Indonesia IPB. pada Berbagai Kerapatan Jagung dalam
http//journal ipb.acid. Diakses tanggal 26 Pola Tumpangsari. Journal Ilmu-Ilmu
Juni 2014. 33(2):1-7. Pertanian 1(2):94-101.
Teodora, O., D. Olivia, P. Damasco, Irish T.
Lobina, Marita, S., Pinili, G. Antonio,

10 Volume 15 Nomor 1, Juni 2016 : 01 - 10