Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi Sirup

Larutan merupakan salah satu sediaan tertua yang digunakan dalam


dunia pengobatan dan mampu dengan cepat diserap tubuh.Untuk sebagian
orang yang tidak bisa menggunakan bentuk sediaan padat, seperti pasien anak-
anak, pasien psikiatri, dan lain-lain, sediaan larutan merupakan alternative
terbaik.(Marriott, 2010).

Berdasarkan penggunaannya sediaan larutan dibagi dua, yaitu :


a. Sediaan Oral. Penggunaannya dalam tubuh. Seperti, eliksir, sirup,
mixture, dll.
b. Sediaan Eksternal. Penggunaannya diluar tubuh. Seperti, losion,
collutoria, dll.

Dalam Farmakope Indonesia edisi III, sirup adalah sediaan cair berupa
larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa
(C12H22O11) tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%. Sirup adalah
sediaan pekat dalam air dari gula atau perngganti gula dengan atau tanpa
penambahan bahan pewangi dan zat obat (Ansel, 1989)

Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang
berkadar tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan
sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah 64%-66% , kecuali dinyatakan lain
(Syamsuni, 2007).

Sirop adalah larutan pekat gula atau gula lain yang cocok yang di
dalamnya ditambahkan obat atau zat wewangi, merupakan larutan jernih
berasa manis. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, atau polialkohol yang lain
dalam jumlah sedikit, dengan maksud selain untuk menghalangi pembentukan
hablur sakarosa, juga dapat meningkatkn kelarutan obat (Anonim, 1978).

Sirup dengan kadar ± 65% disebut sirup simplek yang digunakan


sebagai origen saporis (pemanis).
B. Jenis Sirup

Ada tiga macam sirup yaitu:

1. Sirup simpleks, mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25%


b/v.
2. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat
tambahan dan digunakan untuk pengobatan, contoh :
 Sirup expectorant : sirup thymi
 Sirup antitusiv : sirup codein
 Sirup antihelmitik : sirup piperazin
 Sirup antibiotik : sirup kloramfenikol
 Sirup antihistamin : Chlor-trimeton Allergy syrups
 Sirup antipsychotic -Celexa (forest), Risperdal (janssen).
3. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi
atau penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah untuk
menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak, contoh :
 sirup akasia
 sirup jeruk
 sirup strawberry

C. Cara Pemberian Sirup

Obat digunakan melalui beberapa rute yaitu rute oral/peroral, rectal


(anus/dubur), parenteral/injeksi, kulit (perkutan), membrane selaput
lendir/mukosa (mata, hidung, telinga, vagina), dan implantasi
(subkutan).(Anief, 1994)

Pemilihan rute obat tergantung pada tujuan terapinya, sifat obat, dan
kondisi pasien. Harus memperhatikan beberapa hal :(Anief, 1994)

1. Tujuan terapi, local atau sistemik.


2. Kerja obat, cepat atau lambat.
3. Stabilitas obat dalam lambung atau usus.
4. Keamanan relative.
5. Rute yang tepat.
6. Kemampuan penderita menelan obat melalui mulut.

Bentuk-bentuk sediaan obat yang digunakan dalam rute oral misalnya


sediaan cair yakni larutan, eliksir, suspensi khususnya yang akan kita ulas yaitu
sediaan sirup.( Anief, 1994)

Penggunaan obat melalui rute oral biasanya obat yang dapat ditelan dan
jarang larut dalam mulut.Tujuan penggunaan obat mlalui oral adalh untuk
memperoleh efek sistemik yaitu obat masuk ke dalam peredaran darah dan
beredar ke seluruh tubuh setelah terjadi adsorbsi obat sepanjang saluran
cerna.( Anief, 1994)

Bentuk sediaan oral dapat juga memberikan efek pengobatan yang


lama seperti sustained release, repeat action dan prolonged action yang
berbeda dalam pelepasan zat aktif dan adsorbsinya. Bila dibandingkan dengan
rute lain, rute oral lebih menyenangkan, murah, aman walaupun responnya
lambat dan adsorbsi tidak teratur karena beberapa faktor yaitu : ( Anief, 1994)

 Jumlah dan jenis makanan yang ada dalam saluran lambung.


 Kemungkinan obat dapat dirusak oleh asam lambung.
 Keadaan penderita muntah atau koma.
 Menghendaki kerja awal yang cepat.

Kecepatan adsorbsi obat secara oral tergantung pada ketersediaan obat


terhadap cairan biologis (bioaviability).Biovaibility/ketersediaan hayati adalah
persentase obat yang diadsorpsi tubuh dari dosis yang diberikan dan tersedia
untuk menghasilkan efek terapeutik (mg%).( Anief, 1994)

Oral (PO) : paling cocok untuk obat-obat yang diberikan sendiri. Obat-
obat oral harus tahan terhadap lingkungan asam dalam lambung dan harus
menembus lapisan usus sebelum memasuki aliran darah.(Olson, 2004)
Agar tidak keliru pada pemberian obat, simpanlah obat lengkap dengan
labelnya agar pasien mendapatkan informasi yang cukup lengkap dalam hal
penggunaannya.

Obat dalam bentuk sirup cukup aman digunakan dalam rentang waktu
dua minggu sampai dua bulan setelah dibuka asal penyimpanannya cukup baik.
D. Komponen

Komponen sirup secara umum terdiri atas ;

1) Pemanis

Pemanis berungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan.Dilihat dari


kalori yang dihasilkan dibagi menjadi pemanis berkalori tinggi dan
pemanis berkalori rendah.Adapun pemanis berkalori tinggi misalnya
sorbitol, sakarin dan sukrosa sedangkan yang berkalori rendah seperti
laktosa.( Ansel, 2008)

2) Pengawet Antimikroba

Digunakan untuk menjaga kestabilan obat dalam penyimpanan agar


dapat bertahan lebih lama dan tidak ditumbuhi oleh mikroba atau
jamur.( Ansel, 2008)

3) Perasa dan Pengaroma

Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau


bahan-bahan yang berasal dari alam untuk membuat sirup mempunyai
rasa yang enak.Karena sirup adalah sediaan cair, pemberi rasa ini harus
mempunyai kelarutan dalam air yang cukup.Pengaroma ditambahkan ke
dalam sirup untuk memberikan aroma yang enak dan wangi.Pemberian
pengaroma ini harus sesuai dengan rasa sediaan sirup, misalkan sirup
dengan rasa jeruk diberi aroma citrus.( Ansel, 2008)

4) Pewarna

Pewarna yang digunakan umumnya larut dalam air dan tidak


bereaksi dengan komponen lain dalam sirup dan warnanya stabil dalam
kisaran pH selama penyimpanan. Penampilan keseluruhan dari sediaan
cair terutama tergantung pada warna dan kejernihan.Pemilihan warna
biasanya dibuat konsisten dengan rasa. Ada beberapa alasan mengapa
sirup itu berwarana, yaitu:( Ansel, 2008)
a. Lebih menarik dalam faktor estetikanya. ( Ansel, 2008)

b. Untuk menutupi kestabilan fisik obat.( Ansel, 2008)

5) Juga banyak sediaan sirup, terutama yang dibuat dalam perdagangan


mengandung pelarut-pelarut khusus, pembantu kelarutan, pengental dan
stabilisator.( Ansel, 2008)

E. Cara Pembuatan

Sirup paling sering dibuat dengan satu dari empat cara umum,
tergantung pada sifat kimia dan fisika bahan-bahan. Dinyatakan secara luas,
cara-cara ini adalah (1) larutan dari bahan-bahan dengan bantuan panas, (2)
larutan dari bahan-bahan dengan pengadukan tanpa penggunaan panas, (3)
penambahan sukrosa pada cairan obat yang dibuat atau pada cairan yang diberi
rasa, dan (4) dengan perkolasi dari sumber-sumber bahan obat atau sukrosa.
Pada keadaan tertentu sirup dapat berhasil dibuat dengan lebih dari satu cara
diatas , dan pemilihan semata-mata hanya merupakan pilihan lebih disukai
dalam bagian dari ahli farmasi. (Ansel, 2008)

1. Larutan Dari Bahan-Bahan Dengan Bantuan Panas

Bila dibutuhkan sirup secepat mungkin sirup dibuat dengan cara


dipanaskan dan bila komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas,
pada cara ini gula umumnya ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas
digunakan sampai larutan terbentuk. Kemudian, komponen-komponen lain
yang tidak tahan panas ditambahkan ke sirup panas, campuran dibiarkan
dingin, dan volumenya disesuaikan sampai jumlah yang tepat dengan
penambahan air murni. Dalam keadaan di mana zat-zat tidak tagan panas atau
senyawa menguap, seperti misalnya minyak mudah menguap penambah rasa
dan alkohol akan ditambahkan, maka biasanya ditambahkan ke sirup sesudah
larutan gula terbentuk oleh pemanasan, dan larutan cepat-cepat didinginkan
sampai temperature ruang. (Ansel, 2008)

Penggunaan panas membantu melarutnya gula dengan cepat juga


komponen tertentu lainnya dari sirup, akan tetapi hati-hati harus dilakukan,
jangan terburu-buru dan jangan menggunakan panas yang berlebihan .sukrosa,
suatu disakarida, mungkin terurai menjadi monosakarida, dekstrosa, (glukosa),
dan fruktosa ( levulosa). Reaksi hidrolisis ini dikenal sebagai invers, dan
kombinasi dari produk dua monosakarida adalah gula invert. Bila panas
digunakan dalam sediaan sirup sukrosa, adanya invers sukrosa hampir pasti
terjadi.Kecepatan invers meningkat dengan cepat oleh adanya asam, ion
hydrogen bekerja sebagai katalisator reaksi. Bila invers terjadi, kemanisan
sirup berubah karena gula invert lebih manis dari sukrosa, dan warna sirup
normal bertambah gelap karena efek panas pada bagian levulosa dari gula
invert bila sirup dipanaskan sangat berlebihan, maka akan menjadi berwarna
kuning coklat karena pembentukan caramel dari sukrosa. Sirup-sirup yang
mudah terurai leih rentan terhadap fermentasi dan terhadap pertumbuhan
mikroba daripada sirup yang stabil tidak terurai. Karena kemungkinan
penguraian oleh panas, sirup tidak dapat disterilkan dengan autoklaf.
Penggunaan air murni yang didihkan pada pembuatan sirup dapat
meningkatkan kestabilan dan penambahan zat pengawet, bila diperbolehkan ,
dapat menjaga sirup selama self life nya. Penyimpanan dalam wadah tertutup
rapat merupakan persyaratan untuk sediaan sirup. .(Ansel, 2008)

Diantara yang resmi atau seperti yang dijelaskan sebelumnya, sirup-


sirup yang dibuat dengan melarutkan dengan bantuan panas adalah sebagai
berikut: .(Ansel, 2008)

a. Sirup akasia

Sirup akasia mengandung bubuk atau granul akasia 10%, sukrosa 80%,
asam benzoat 0,1%, tinktur vanili 0,5%, dan air murni. Dibuat dengan
mengaduk akasia, sukrosa dan asam benzoat bersama-sama dan kemudian
ditambah air murni dan campuran dipanaskan di atas penangas uap supaya
larutan terbentuk.Bila sediaan dingin, busa dihilangkan dari permukaan atas,
dan tinktur vanili ditambahkan .air murni ditambahkan secukupnya sampai
volumenya tepat dan sirup disaring bila perlu.(Ansel, 2008)
b. Sirup coklat

Sirup coklat adalah suspens bubuk coklat dalam pembawa air yang
dimaniskan sukrosa, glukosa cair, dan gliserin, dan diberi rasa dengan vanili
dan natrium klorida. Sirop diawetkan dengan natrium natrium benzoat 0,1%.
Dibuat dengan pengadukan campuran sukrosa dan coklat dalam larutan yang
telah dibuat dari bahan-bahan lain dalam air murni panas. Seluruh campuran
direbus/ didihkan selama 3 menit, dibiarkan dingin, dan dicukupkan
volumenya dengan menambahkan air murni. .(Ansel, 2008)

2. Larutan Yang Dibuat Tanpa Penggunaan Panas

Untuk menghindari panas yang merangsang invers sukrosa, sirup dapat


dibuat tanpa pemanasan dengan pengadukan .pada skala kecil sukrosa dari zat
formula lain dapat dilarutkan dalam air murni dengan menempatkan bahan-
bahan dalam botol yang kapasitasnya lebih besar daripada volume sirup yang
akan dibuat, dengan demikian memungkinkan pengadukan campuran dengan
seksama. Proses ini memakan waktu lebih lama daripada yang dibutuhkan
panas untuk memudahkan melarutnnya sukrosa, tetapi produk mempunyai
kestabilan maksimal. Tangki besar dari stainless steel atau tangki yang dilepas
gelas dilengkapi dengan pengaduk mekanik atau pemutar digunakan dalam
pembuatan sediaan sirup skala besar.

Sebagai contoh sirup yang dibuat dengan pengadukan tanpa bantuan


panas adalah sirup ferro sulfat. .(Ansel, 2008)

a. Sirup Ferro Sulfat

Sirup ini mengandung kira-kira 4 g ferro sulfat per 100ml. dibuat


dengan melrutkan ferro sulfat, asam sitrat, spirit pepermin, dan kira-kira
seperempat dari sukrosa yang dibutuhkan dalam air murni dan disaring sampai
jernih. Sebagian sukrosa ditambahkan untuk memberi suatu lingkungan yang
mereduksi, dengan demikian menghambat oksidasi ion ferro menjadi ion ferri
yang mungkin akan mengendap dari larutan sebagai garam ferri. Mula-mula
tidak digunakan seluruh jumlah sukrosa, agar larutan mudah disaring.Sisa
sukrosa ditambahkan ke cairan filtrasi, dan air murni secukupnya ditambahkan
untuk mendapatkan volume sirup yang diinginkan. Asam sitrat digunakan
dalam sirup untuk membentuk chelat ( senyawa ion metal yang larut) dengan
ion ferri yang secara normal ada dalam ferro sulfat untuk mencegahnya dari
pembentukan ferri hidroksida yang tidak larut. Dengan cara ini asam sitrat
mencegah perubahan warna sirup dari normalnya hijau menjadi merah
kecokelatan, spirit pepermin menyembunyikan rasa besi dari ferro
sulfat. .(Ansel, 2008)

3. Penambahan sukrosa kedalam cairan obat atau ke dalam cairan atau


kedalam cairan pemberi rasa

Adakalanya cairan obat, seperti tinktur atau ekstrak cair, digunakan


sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup.Banyak tinktur-tinktur dan
ekstrak seperti itu mengandung bahan-bahan yang larut dalam alkohol dan
dibuat dengan pembawa beralkohol atau hidroalkohol. Jika komponen yang
larut dalam alkohol dibutuhkan sebagai bahan obat yang ada dalam sirup yang
sesuai, beberapa cara umum yang digunakan untuk membuat bahan tersebut
larut dalam air. Akan tetapi, bila komponen yang larut dalam alkohol itu tidak
dibutuhkan atau komponen-komponen yang tidak penting dari sirup yang
sesuai, komponen-komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan
mencampur tinktur atau ekstrak kental dengan air, campuran dibiarkan sampai
zat-zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dan menyaringnya dari
campuran. Filtrate adalah cairan obat yang kepadanya kemudian ditambahkan
sukrosa dalam sediaan sirup. Pada keadaan lain bila tinktur atau ekstrak kental
bercampur dengan sediaan berair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup
biasa atau ke sirup pemberi rasa sebagai obat. .(Ansel, 2008)

Contoh sirup pengobatan yang dibuat dengan penambahan sukrosa


untuk cairan pengobatan adalah sirup senna. .(Ansel, 2008)
Sirup senna

Sirup senna ini dibuat dengan menambahkan air murni ke campuran


dan membiarkan campuran ini selama 24 jam supaya resin-resin yang tidak
larut larut dalam air dari komponen-komponen inert lain dan komponen tidak
larut dari ekstrak cair mungkin mengendap. Campuran kemudian disaring dan
sukrosa dilarutkan dalam filtrat. Dengan mendorong pemisahan komponen-
komponen yang tidak larut dalam air dengan cara ini kemungkinan, sirup-
sirup jernih selama masa penyimpanan tidak baik sekali. (Pengantar bentuk
sediaan farmasi edisi keempat, 2008)

4. Dengan Perkolasi Dari Sumber-Sumber Bahan Obat Atau Sukrosa

Dalam cara perkolasi, sukrosa dapat diperkolasi untuk menjadi ekstrak


yang kepadanya dapat ditambahkan sukrosa atau sirup. Cara yang terakhir
benar-benar meliputi 2 prosedur yang berbeda mula-mula pembuatan ekstrak
obat dan kemudian pembuatan sirup.(Ansel, 2008)

Dalam pembuatan sirup dengan perkolasi sukrosa, air murni atau larutan
air dari cairan obat, atau cairan pemberi rasa dibiarakan untuk melewati kolom
kristal sukrosa dengan lambat untuk melarutkannya. Perkolat( hasil perkolasi)
ditampung dan dikembalikan ke dalam alat perkolasi sesuai kebutuhan samapi
semua sukrosa telah dilarutkan. (Ansel, 2008)

Untuk perkolasi dapat digunakan perkulator bentuk silinder atau


kerucut. Umumnya sukrosa digranul kasar lebih disukai daripada granul halus
atau bubuk dalam penggunaannya untuk mencegah gula memadat dengan
sangat kuat, dalam keadaan tersebut pelarut tidak akan dapat menembus kolom
dan melarutkan gula. Gumpalan kapas yang diletakkan pada dasar kolom
cukup rapat untuk mencegah gula tidak larut lewat masuk kedalam lubang
bawah yang cukup longgar untuk memungkinkan sukrosa yang tidak larut
lewat bebas.Aliran perkolat dapat diatur dengan mengatur kran pada
lubang.Bila semua sukrosa telah dilarutkan, air murni tambahan atau cairan air
yang dibutuhkan dilewatkan melalui kapas pada perkolat untuk mencuci kapas
yang diresapi sisa-sisa sirup kedalam perkolat dan untuk memperoleh produk
akhir dengan volume yang diinginkan.

Contoh-contoh sirup yang dibuat dengan perkolasi adalah sirup tolu


balsam , dan sirup ipecac. (Ansel, 2008)

Sirup ipecac

Ipecae sirup dibuat dengan menembahkan gliserin dan sirup ke hasil


ekstraksi bubuk ipecac yang diperoleh dengan perkolasi.Obat ipecac terdiri
dari rhizoma kering dan akar-akar cephaelis ipecacuanha dan mengandung
alkaloid-alkaloid yang aktif sebagai obat yaitu emetine, cefalina, dan
psikotrina.Alkaloid-alkaloid ini diekstraksi dari bubuk ipecac dengan perkolasi
menggunakan pelarut hidroalkohol.Gliserin ditambahkan ke cairan ekstrak
sebagai pelarut pembantu untuk mempertahankan kestabilan produk akhir
dengan mencegah pemisahan komponen tanaman tertentu selama shelf life
sirup.(Anonim, 2008).

Berdasarkan farmakope Indonesia, Pembuatan sirup kecuali


dinyatakan lain, sirup dibuat sebagai berikut :

Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan
hingga larut.Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot
yang dikehendaki, buang busa yang terjadi, serkai. (Anonim, 1979).

Pada pembuatan sirop dari simplisia yang mengandung glukosida


antrakinon, ditambahkan natrium karbonat sejumlah 10 % bobot simplisia.
Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirop simplisia untuk persediaan
ditambahkan metil paraben 0,25% b/v atau pengawet lain cocok. (Anonim,
1979).

Kecuali dinyatakan lain, jika dosis yang diminta atau ditulis lebih kecil
atau tidak merupakan kelipatan 5 ml, sirop harus diencerkan, sebaiknya dengan
sirop simpleks, sehingga dosis yang diberikan menjadi 5 ml atau kelipatan
daripadanya. Sirop simpleks, sirop gula adalah larutan gula yang dibuat dengan
melarutkan 65 bagian gula dalam larutan metil paraben 0,25% b/v secukupnya
hingga dperoleh 100 bagian sirop. (Anonim, 1978).

F. Evaluasi

Dalam pengadaan sediaan farmasi, tidak begitu saja suatu produk


langsung dipasarkan.Tetapi harus melalui uji kelayakan apakah suatu sediaan
sudah tepat untuk didistribusikan atau tidak.Salah satunya dalam pengadaan
sediaan sirup. Ada beberapa syarat yang harus di penuhi diantaranya:

1. Penetapan bobot Jenis

Gunakan piknometer bersih, kering, dan telah terkaliberasi dengan


menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang baru dididihkan pada
suhu250.Atur hingga suhu zat ujji lebih kurang 200, masukkan kedalam
piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 250, buang
kelebihan zat uji dan timbang. Kurangkan bobot piknometer kosong dari
bobot piknometer yang telah diisi.(Anonim, 2008)

2.Penetapan kekentalan (viskositas)

Penetapan viskositas( satuan = Poise) dilakukan dengan alat berupa


viskometer, terdapat beberapa macam viskometer, contohnya viskometer
Ostwald dan viskometer Tipe Ubbelohde.banyak zat seperti Gom Arab,
yang digunakan dalam bidang farmasi mempunyai kekentalan yang
bervariasi, dan kebanyakan bersifat kuning menghambat aliran pada
kecepatan aliran yang lebih tinggi. (Anonim, 2008)

3.Penetapan pH

Untuk menetapkan pH bisa menggunakan pH meter. pH meter harus


mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH mengguanakan elektrode
indikator yang peka terhadap aktivitas ion H, elektrode kaca, dan elektrode
pembanding yang sesuai seperti elektrode kalomel atau elektrode perak-
perak klorida. (Anonim, 2008)
4.Penetapan Stabilitas Obat

Larutan, eliksir, dan sirup endapan dan adanya mikroba atau


pembentukan gas kimia merupakan dua tanda utama
ketidaksetabilan.(Anonim, 2008)

Stabilitas Kimia

Stabilitas kimia suatu obat adalah lamanya waktu suatu obat


untukmempertahankan integritas kimia dan potensinya seperti yang tercantum
pada etiket dalam batas-batas yang di tentukan oleh united states pharmacopeia
(USP NF 2009).

StabilitasMikrobiologi

Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan dimana sediaan


bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme
hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi padasediaan sirup untuk
menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan
mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga jangka waktu
tertentu yang diinginkan.Uji stabilitas mikrobiologi sediaan sirup :

1. Jumlah cemaran mikroba ( ujibatasmikroba ), untuk sediaan oral (sirup,


tablet, granul, sirup kering, granul) dan rektal :

- Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU / gram atau ml.

- Total jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU / gram atau ml

-Escherichia coli, staphylococcus : negatif

2. Uji efektivitas pengawet

3. Untuk sediaan antibiotic dilakukan Penetapan Antibiotik secara


Mikrobiologi

(USP NF 2009)

Ketidakstabilan dan Cara Menstabilkan Pada Sediaan Sirup


Sediaan sirup mengandung air dan gula sehingga merupakan media
yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme sehingga harus
ditambahkan pengawet. Pengawet yang dapat digunakan antara lain nipagin dan
nipasol dengan perbandingan 0,18 : 0,02 (nipagin bersifat fungistatik dan
nipasol bersifat bakteriostatik) kombinasi ini efektif untuk pencegahan
terjadinya pertumbuhan bakteri dan jamur.

Zat aktif stabil pada pH tertentu oleh karena itu diperlukan dapar untuk
mempertahankan pH sediaan sirup. Dapar yang biasa digunakan antara lain :
dapar sitrat, dapar fosfat, dapar asetat.

Dalam sediaan sirup ada senyawa yang peka terhadap cahaya, maka
digunakan botol berwarna coklat.Rasa sirup yang kurang menyenangkan dapat
diberi pemanis dan perasa agar penggunaannya lebih nyaman.Untuk zat aktif
yang mudah teroksidasi dalam sediaan sirup ditambahkan
antioksidan.Contohnya : asam askorbat, asam sitrat.Untuk mencegah
caplocking karena sirupus simplek maka ditambahkan
sorbitol/gliserin/propilenglikol 10% (sebagai pengental).Sediaan cair biasanya
bersifat voluminous pada saat disimpan sehingga perlu dikemas pada wadah
yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Anonim.1979.Famakope Indonesia Edisi III.Jakarta: Depertemen Kesehatan


Republik Indonesia.

Anonim.1978.Formularium Nasional.Jakarta: Depertemen Kesehatan Republik


Indonesia.

Ansel, Howard. 2008. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat.Jakrta: UI


Press

Marriot,J.F.,Wilson,K.A.,Langley,C.A.,Belcher,D.2010. Pharmaceutical
Compounding and Dispensing.Pharmaceutical Press.

Olson,James.2004.BelajarMudah Farmakologi.Jakarta: EGC)

Priyanto,Drs.,Apt,M.Biomed.2010.Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi


& Keperawatan. Depok : Leskonfi.

Sulis, I. Kanisius.2010.Cerdas Mengenali Obat.Yogyakarta.