Anda di halaman 1dari 17

BuAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Krim
A. Defenisi
Krim adalah cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe
air dalam minyak atau minyak dalam air. (Pengantar Bentuk

Sediaan Farmasi : 513)


Krim adalah sedian setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang

sesuai. (FI IV : 6)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi
mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk

pemakaian luar. (FI III)


Krim adalah: bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi
dalam bahan dasar yang sesuai (mengandung air tidak kurang dari

60%) (Ilmu Resep Syamsuni)


B. Penggolongan krim
Krim merupakan emulsi dalam bentuk setengah padat. Secara
umum dibedakan menjadi dua tipe, yaitu :
1. Tipe M/A (minyak dalam air): tetes minyak terdispersi dalam fase
air (fase intern adalah minyak dan fase ekstern adalah air).
Sabun monovalen seperti : Triethanolaminum Stearat, Natrium
Strearat, Kalium Stearat, Ammonium Stearat.
2. Tipe A/M (air dalam minyak): tetes air terdispersi dalam fase
minyak (fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak).
Sabun polivalen, span, adeps lanae, cholesterol, cera.
Untuk penstabilan krim ditambah zat antioksidan dan zat
pengawet. Zat pengawet yang sering digunakan ialah Metil
paraben (Nipagin) 0.12 - 0,18 %, propilparaben (Nipasol) 0,02 % 0,05 %. (Moh.Anief; 2010)
C. Kesetabilan krim

Krim dikatakan stabil apabila:


a. Tidak adanya penggabungan fase dalam
b. Tidak adanya creaming, breaking dan inversa
c. Memberikan penampilan warna baud an sifat-sifat fisik lainnya
yang baik
d. Emulsi yang tidak mengalami pemisahan antara fase minyak
dan air
e. Emulsi yang tegangan permukaan antara fase pendispersi dan
fase terdispersinya rendah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas krim antara lain:
a. Ukuran partikel, semakin kecil ukuran partikel, kecepatan
pengendapan semakin lambat.
b. Jenis dan jumlah emulgator.
c. Kondisi penyimpanan
d. Kontaminasi mikroorganisme,

dapat

dihindari

dengan

menambahkan bahan pengawet.


Ketidakstabilan Krim
Creaming
Inverse
Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking atau breaking)
D. Formula sediaan krim

a) Bahan Berkhasiat `
Bahan berkhasiat adalah bahan obat yang digunakan untuk
tujuan pengobatan sehingga dapat memberikan efek terapi yang
diharapkan, bahan berkhasiat yang banyak digunakan antara
lain,

antibiotik,

antiradang,

antihistamin,

antiseptik

dan

analgetik. Bahan berkhasiat merupakan bahan obat yang dapat


menyembuhkan penyakit yang menyerang kulit.
b) Basis Krim
Pemilihan basis krim tergantung sifat obat, OTT, absorpsi, sifat
kulit

dan

jenis

luka.

Pertimbangan

pemilihan

basis

krim

dipengaruhi oleh sifat zat berkhasiat yang digunakan dan


konsistensi sediaan yang diharapkan.
Sifat basis yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Tidak berkhasiat
2. Tidak mengiritasi dan menghidrasi
3. Bersatu dengan zat aktif secara fisika dan kimia,
4. Stabil secara kimia dan fisika.
c) Bahan Pembawa
Emulgator (Zat pengemulsi) merupakan komponen yang
penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Emulgator
membantu

terbentuknya

emulsi

dengan

jalan

yaitu,

menurunkan tegangan antar muka (stabilisasi termodinamik),


membentuk film antar muka yang kaku (pelindung mekanik
terhadap

koelesen),

terbentuknya

lapisan

ganda

listrik,

merupakan pelindung listrik dari partikel. (Ansel, 2005:157).


Emulgator yang ideal:

Stabil
Inert
Bebas dari bahan toksik dan iritan
Tidak berbau
Tidak berasa dan tidak berwana

d) Bahan Tambahan
1. Bahan pengawet
Kriteria pengawet yang digunakan antara lain, tidak toksik
dan tidak mengiritasi, lebih memiliki daya bakterisid daripada
bakteriostatik,

efektif

pada

konsentrasi

rendah

untuk

spektrum luas, stabil pada kondisi penyimpanan, tidak berbau


dan tidak berasa, tidak mempengaruhi atau dapat bercampur
dengan

bahan

lain

dalam

formula,

harganya

murah.

(Syamsuni,2007)
2. Pendapar
Tujuan penggunaan pendapar adalah untuk mempertahankan
pH.sediaan untuk menjaga stabilitas sediaan. pH dipilih
berdasarkan stabilitas bahan aktif. Pemilihan pendapar harus

diperhitungkan ketercampurannya dengan bahan lainnya


yang terdapat dalam sediaan, terutama pH efektif untuk
pengawet. Pendapar adalah suatu zat yang digunakan untuk
mempertahankan PH pada pengenceran dan penambahan
asam atau alkali. (Ansel,1989:146).
3. Pelembab
Zat yang digunakan untuk mencegah keringnya preparat
karena berhubungan dengan kemampuan sediaan untuk
menahan lembab. Contoh pelembab adalah gliserin, propilen
glikol, sorbitol. (Ansel,1989:146).
E. Metode pembuatan krim
1) Metode pelelehan
Dalam metode pelelehan

zat

pembawa

dan

zat

berkhasiat

dilelehkan bersama dan diaduk sampai membentuk fasa yang


homogen. Dalam hal ini perlu diperhatikan stabilitas zat berkhasiat
terhadap suhu yang tinggi pada saat peleburan.
2) Metode triturasi
Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis yang akan
dipakai atau dengan salah satu zat pembantu, kemudian dilanjutkan
dengan penambahan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dahulu zat aktifnya, kemudian
baru dicampur dengan basis yang akan digunakan.
Pembuatan krim dapat dilakukan dengan melarutkan bahan-bahan
larut minyak dan lemak dilelehkan dalam suatu wadah. Air
dipanaskan bersama

komponen-komponen larut air (biasanya

termasuk emulgator) dalam wadah lain. Keduanya dicampurkan


pada suhu yang sama 75 C dan dicampur sampai suhu mendekati
30C. Pengadukan selanjutnya hingga krim halus terbentuk.
F. Penyimpanan dan pengemasan sediaan
Wadah untuk sediaan krim lebih baik diisikan kedalam tube. Hal
ini memberi jaminan perlindungan penguapan yang dibutuhkan.
Sediaan krim yang dibuat bebas kuman atau aseptik, yang
mengandung bahan obat peka oksidasi harus diisikan kedalam tube.

Dalam skala yang besar digunakan wadah dari bahan sintetis


misanya

polietilenglikol. Sediaan yang mengandung bahan obat

fenolik, tidak tepat jika disimpan didalam wadah bahan sintetis.


Krim sebaiknya disimpan pada kondisi yang dingin dan bebas
udara. Sediaan krim juga disesuaikan dengan kebutuhan. Pada
penyimpanan

terlalu

lama

dapat

menyebabkan

penurunan

kualitasnya, perubahan dari perbandingan fase dispersitas, dan


perusakan pada proses kimia dan mikroba. (Voight, 1995

BAB III
FORMULASI
Rancangan Formula Krim
Gentamycin krim M/A (antibiotic)
0,1% OOP, Hal 77

R/ Gentamycin
Gliserin

20%

Asam Stearat

15%

TEA

4%

Nipagin

0,3%

Nipasol

0,6%

Aquadest

60%
mf cream

R/ Gentamycin Krim 20 g
mf cream

Monografi Bahan

Gentamycin
Pemerian : serbuk; putih sampai kuning gading
Kelarutan : mudah larut dalam air; praktis tidak larut dalam etanol (95%)P, dalam
kloroform P dan dalam eter P
Khasiat : Antibiotikum

Gliserin ( FI III Hal 271)


Pemerian : cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis, diikuti rasa
hangat, higroskopik, jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat
membentuk massa hablur yang tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai
lebih kurang 200
Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut
dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam minyak lemak
Khasiat : zat tambahan (Humektan dan emolien) 30% (Handbook, Hal 283)

Asam stearat ( FI III Hal 57)


Pemerian : zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning
pucat, mirip lemak lilin
Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%) p, dalam 2 bagian

kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.


Khasiat : zat tambahan ( emulsifying agent)1-20% (Handbook, Hal 697)
Trietinolamin ( FI III Hal 612)
Pemerian : cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak,
higroskopik
Kelarutan : mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%), larut dalam kloroform P
Khasiat : zat tambahan (Emulsifying agent)2-4% (Handbook, Hal 754)

Aqua Destilata, Air Suling ( FI III Hal 96)


Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.

Methylis Parabenum, Metil Paraben, Nipagin ( FI III Hal 378)


Pemerian : serbuk hablur halus, putih, hamper tidak berbau, tidak mempunyai rasa,
kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian
etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan
alkali hidroksida; larut dalam 60 bagian glycerol P panas dan dalam 40 bagian minyak
lemak nabati panas, jika di dinginkan akan tetap jernih.
Khasiat : zat tambahan dan sebagai pengawet (0,02-0,3% Handbook, Hal 442).

Alasan Pemilihan Bahan

Pada praktikum ini, akan dibuat sediaan krim dengan bahan aktif gentamycin sebagai antibiotic
dengan konsentrasi 1 %(OOP, Hal 77), asam sterarat dan trietinolamin jika dipisahkan semuanya
merupakan emulsifying agent, dan

apabila digabung

maka mereka basis krim. Selain itu

digunakan gliserin sebagai humektan dan emolien dengan konsentrasi yang sama yaitu 20 %,
karena humektan khusus pada krim yaitu konsentrasi 10- 20 %. Sediaan krim juga terdapat pada
zat pengawet yaitu nipagin denan konsentrasi tinggi 0,3% untuk mematikan kuman yang terdapat
pada bahan yang larut air jadi menimbulkan tengik pada sediaan maka diperlukan tambahan
pengawet yaitu nipasol dengan konsentrasi tinggi juga yaitu 0,6% agar lebih efektif.
Perhitungan Bahan
Gentamycin 0,1% :

0,1 g
x 20 g=0,002 g=20 mg
100 g

Pengenceran : gentamycin + talk ad 50 mg ditimbang


Air yang dibutuhkan untuk melarutkan bahan :
50 mg 10 mL (yang dilarutkan dlm beaker glass)
20 mg x
x=

20 mg x 10 ml
=2mL
50 mg

(larutan yg dipipet)

20,6 g
x 20 g=4,12 g
Gliserin 20,6% : 100 g
15 g
x 20 g=3 g
Asam stearat 15% : 100 g
TEA 4% :

4g
x 20 g=0,8 g=800 mg
100 g

Nipagin 0,3% :

0,3 g
x 20 g=0,06 g=60 mg
100 g

0,6 g
Nipasol 0,6%: 100 g x 20 g = 0,12 g = 120 mg
Aquadest 60% :

60 ml
x 20 g=12 g=12ml2 ml=10 mL
100 ml

Alat Dan Bahan


Alat :

Bahan :

- Timbangan dan anak timbangan

-Gentamycin

- Mortir dan stamper

-G`liserin

-Sudip

-Nipagin

-Sendok tanduk

-Aquadest

-Cawan porselen

-Asam stearat

-Batang pengaduk

-TEA

-Lap
-Pot krim
-Etiket biru
Cara Pembuatan Sediaan Krim :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipanaskan mortir dan stemper dengan air panas hingga dinding mortir terasa panas, lalu
buang airnya kemudian dilap mortir dan stemper hingga kering
3. Dibuat fase minyak dengan cara :
- Ditimbang asam stearat 3g, dimasukan kedalam cawan porselen
- Ditimbang Nipagin 60 mg, dimasukan kedalam cawan porselen
- Ditimbang Nipasol 120 mg, dimasukan kedalam cawan
- Kemudian campuran bahan dilebur diatas waterbath
4. Masukkan fase minyak kedalam mortir yang telah panas, di tambahkan TEA 800 mg sedikit
demi sedikit, digerus kuat ad homogen hingga terbentuk massa krim
5. Ditimbang Gentamycin 50mg, dimasukkan dalam beaker glass, ditambahkan air hangat
5mL, diaduk hingga larut, kemudian dipipet 2 mL

6. Dimasukkan larutan gentamycin kedalam mortir sedikit demi sedikit, digerus ad homogen
7. Ditambahkan gliserin 4,12g, diaduk kuat ad homogen
8. Ditambahkan sisa aquades, digerus ad homogen
9. dimasukkan kedalam wadah krim
10. Diberi etiket biru

Hasil Evaluasi
-

Organoleptis
a. Warna
b. Bau
c. Tekstur
Homogenitas
pH

: putih
:: encer
: homogeny
:6

2.Formulasi krim
Formulasi standar

Cleansing cream ( FMS : 111)


R/

Acid stearin

10 %

Triaethanolamin

4%

Adp. Lanae

10%

Paraffin Liquidum

10%

Aq. Dest

60 %

Paraffin Liquidum 250

Nipagin

0,3%

Aquadest

m.f cream
S. u. e

1.

R / Acid stearin
Triaethanolamin
Adp . Lanae

Nipagin

145
15
30

550
qs

Monografi Bahan
- Acidum stearicum/asam stearat (FI III, 57)
Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak, sebagian besar
terdiri dari asam oktadekonat, C18H36O2 dan asam heksadekanoat, C16H32O2.

Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning
pucat, mirip lemak lilin.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2

bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.


Penyimpanna :Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan, untuk melembutkan kulit

- Triethanolamin (FI III, 612)


Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak,
higroskopik.
Kelarutan :Mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Khasiat dan penggunaan : Zat tambahan, surfaktan.
-

Adeps Lanae /Lemak Bulu Domba ( FI III : 57 )


Pemeriannya : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau kuning pucat, agak

tembus cahaya, bau lemah dank has.


Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95 %) P, mudah

larut dalam kloroform P dan dalam eter P.


Khasiat : basis krim

-Paraffinum Liquidum/paraffin cair (

Pemeriannya : cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna, hampir

tidak berbau, hampir tidak mempunyai rasa.


Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam

kloroform P, dan dalam eter P.


Khasiatnya
: sebagai laksativum. Penggunaan dalam krim 1-32 %

-Nipagin/methylis parabenum ( FI III : 378 )

Pemeriannya : serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa,

kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.


Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian
etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan
alkali hodroksi, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak

lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetpa jernih.


Khasiat : pengawet

2.

Perhitungan bahan
1. Acid stearin

3.

16
100 x 10=1 ,6g

2. Triaethanolamin =

4
10=0,4 g 400 mg
100

3. Adep lanae

10
100

x 10= 1 g

4. Paraffin Liqiud =

10
100 x10=1 g

5. Nipagin (0,3%) =

1
100

x 10 g = 0,03 g=30mg

6. Aquadest dest.

60
100

x 10 = 6 ml

prosedur kerja
1. disiapkan alat dan bahan
2. disetarakan timbangan
3. disiapkan air panas
4. ditimbang as. stearid, adeps lanae, nipagin dengan kertas perkamen
5. ditimbang TEA dan paraffin liq dalam cawan penguap
6. dimasukkan as. stearid dan adeps lanae ke dalam paraffin liq lalu dilebur diatas water
bath
7. disiapakan mortir panas, setelah peleburan dilakukan penyerkahan
8. dilarutkan TEA dengan air panas pada beaker glass
9. dilarutkan nipagin dengan air mendidih di beaker
10. dimasukkan leburan kedalam mortir panas sedikit demi sedikit aduk ad homogen
11. Dimasukkan TEA kedalam mortir aduk ad homogen
12. Dimasukkan no 9 kedalam mortir sedikit demi sedikit aduk ad homogen
13. Dimasukkan sediaan krim kedalam wadah
14. Diberi etiket biru

Hasil Evaluasi krim


-

Organoleptis
a. Warna
b. Bau
c. Tekstur
Homogenitas
pH

: kuning pucat
: adeps lanae lemah
: keras
: tidak homogen
:7

3.Vanishing cream (F.M.S , 110)


R/

Acid. Stearin
Glycerin
Triaethanolamin
Nipagin
Aq. Dest.

142
100
10
qs
750

m.f cream
S. u. e
1. Monografi Bahan

R/ Acid. Stearin 16%


Glycerin

20 %

Triaethanolamin 4 %
Nipagin

0,1%

Aquades ad

60 %

m.f cream

10 g

- Acidum stearicum/asam stearat (FI III, 57)

S.u.e
Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak, sebagian

besar terdiri dari asam oktadekonat, C18H36O2 dan asam heksadekanoat, C16H32O2.
Pemerian :
Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning pucat, mirip
lemak lilin.
Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian
kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat :
Zat tambahan, untuk melembutkan kulit
-Gliserin (FI III, 271)
Pemerian :
Cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.
Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa
hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 200 C.
Kelarutan :
Dapat campur dengan air dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform
P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat dan penggunaan :
Zat tambahan, untuk melembutkan kulit
-Triethanolamin (FI III, 612)
Pemerian :
Cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak,
higroskopik.
Kelarutan :
Mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
Khasiat dan penggunaan :
Zat tambahan, surfaktan.
Nipagin/ Methylis Parabenum (FI IV hal. 551)
Pemerian

: Hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau
khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.

Kelarutan

: Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon tetraklorida, mudah larut

dalam etanol dan dalam eter.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Khasiat

: Preservatif atau pengawet. Kadar 0,12-0,18%.

-Aquadest (FI III, 96)


Pemerian :
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik.
2. Perhitungan Bahan
1. Acid stearin

16 g
100 g

x 10 g = 1,6 g

2. Glycerin

20 g
100 g

x 10 g = 2 g

3. Triaethanolamin

4g
100 g

x 10 g = 0,4 g = 400 mg

4. Nipagin

0,3 g
= 100 g

5. Aqua dest.

60 ml
100 ml

x 10 g = 0,03 g= 30 mg
x 10 g = 6 ml

1. Alat dan Bahan


Alat :
-

Mortir + stamper
Anak timbangan
Serbet
Sendok tanduk
Sudip
Batang pengaduk
Beaker gelas
Gelas arloji
Gelas ukur
Penara

Cawan penguap
Pipet

Bahan :
a.
b.
c.
d.
e.

Asam sterat
Gliserin
Nipagin
TEA
Aquadest

1.
2.
3.
4.
-

Prosedur kerja

Disiapkan alat dan bahan


Disetarakan timbangan
Disiapkan mortir panas
Disiapkan fase minyak :
Ditimbang asam stearid 1,6 g, dan nipagin 30 mg, dimasukkan daloam cawan

penguap di
panaskan di atas waterbath ad lebur.
5. Dimasukkan fase minyak yang sudah di lebur kedlam mortit panas
6. Ditimbang TEA 400 mg ditambahkan sedikit demin sedikit ke dalam mortir, di gerus ad
homgen sampai membentuk masa krim.
7. Ditambahkan aquades 6 ml sedikit demi sedikit, gerus ad homogeny. Dibiarkan hingga
dingin.
8. Ditambahkan gliserin 2 g di tambahkan kedalam mortir sedikit demi sedikit, di gerus ad
homogeny.
9. Dimasukkan dalam wadah yang sesuai dan di beri etiket biru.
10. Diberi etiket
6. Hasil Evaluasi
- Organoleptis
d. Warna
: putih
e. Bau
:f. Tekstur
: lembut
- Homogenitas
: homogen
- pH
:6
-

BAB IV

PEMBAHASAN

Formuasi krim 1

Pada formulasi krim ini saya mendapatkan hasil krim yang encer karena pada saat
penimbangan gliserin dan tween saya menggunakan kaca arloji 2, sehingga

mempengaruhi hasil dari sediaannya, selain itu pada saat melarutkan gentamycin air
yang di butuhkan seharusnya 5 ml, tetapi di sini airnya lebih dari 5 ml, ini di
pengaruhi oleh gelas ukur yang di gunakan untuk mengalibrasi adalah 100 ml, karena
gelas ukur 10 ml tidak ada makanya saya memakai gelas ukur 100 ml. Sehingga
membuat krim yang saya buat encer.
-

Kesimpulan: pada formulasi krim yang saya buat hasilnya encer atau tidak sesuai
dengan literature.

Saran : pada saat pembuatan krim, kita harus teliti menggunakan alat pada saat
penimbangan, karena akan mempengaruhi hasil sediaan yang kita buat.

Formuasi krim 2

Pada formulasi sediaan krim ini saya mendapatkan hasil krim yang tidak homogen,
berwarna putih, bertesktur kasar dan memiliki konsistensi yang sangat keras. Hal ini
karena saya menggunakan mortir yang tidak terlalu panas sehingga basis cepat
mengeras. Dalam pembuatan krim kita harus menggunakan mortir yang panas biar
hasilnya maksimal. Hasil krim yang saya dapatkan tidak sesuai standar.

Kesimpulan : sediaan yang saya dapatkan hasilnya tidak memenuhi syarat, karena
krim yang saya buat bertekstur keras, seharusnya sediaan krim bertekstur lembut.

Saran : pada saat pembuatan sediaan krim, mortir yang di gunakan harus panas,
karena jika mortirnya dingin maka sediaan krimnya menjadi keras atau tidak
homogeny.

Formuasi krim 3

Pada formula ketiga saya menggunakan mulgator yaitu asam stearat dan TEA
menghasilkan sediaan yang homogen,berwarna putih,bertekstur lembut serta

memiliki konsistensi yang lebih lembut dibandingkan dengan hasil praktikum resep
pertama. Pada praktik formula resep ke tiga ini saya juga melakukan sesuai prosedur
yang saya buat yaitu krim vanishing cream. Pada dasarnya asam stearat dan TEA
dikombinasikan karena dapat membentuk lapisan tipis monomulekular pada globul
minyak dengan permukaan air sehingga mencegah terjadinya koalesensi. Hasil krim
yang saya dapatkan sesuai standar.
-

Kesimpulan : hasil krim yang saya dapatkan sesuai literature dengan tekstur lembut,
ini disebabkan pada saat pembuatan sesuai dengan cara kerja yang sudah di buat.

Saran : pada saat pembuatan sediaan krim kita harus memperhatika cara kerja yang
sudah dibuat, sehingga hasil yang di dapatkan maksimal.