Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker serviks merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh HPV
atau Human Papilloma Virus onkogenik, kanker serviks terjadi ditandai
dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim atau
abnormal. Kanker serviks terjadi pada bagian organ reproduksi wanita, leher
rahim adalah bagian yang sempit disebelah bawah antara vagina dan rahim,
dibagian inilah tempat terjadinya dan tumbuhnya kanker serviks. Kanker
serviks bisa menyerang dengan pendarahan pada vagina, tetapi gejala kanker
serviks tidak terlihat sampai kanker memasuki stadium yang lebih jauh
(Tilong, 2012).
Kanker serviks merupakan penyakit kanker yang menimbulkan
kematian terbanyak terutama di negara berkembang. Setiap tahun lebih dari
270.000 wanita meninggal karena kanker serviks, 85% dari kematian ada
pada negara dengan pendapatan menegah ke bawah (WHO, 2013). Kanker
serviks menepati peringkat pertama penyebab kematian pada wanita dengan
kasus keganasan kanker. Untuk wilayah ASEAN, insiden kanker serviks di
singapore sebesar 25,0 pada ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand
sebesar 23,7 per 100.00 penduduk
Menurut data WHO tahun 2013, insiden kanker meningkat dari 12,7
juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus tahun 2012. Sedangkan jumlah
kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2 juta pada
tahun 2012. Diperkirakan pada tahun pada tahun 2030 insiden kanker dapat
mencapai 26 juta orang dan 17 juta diantaranya meninggal akibat kanker,
terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat
( Atika, 2015 ).
WHO memperkirakan lebih dari setengah juta wanita meninggal
karena kanker serviks tiap tahunnya dan sekitar 174.000 terjadi di Asia
Tenggara. Indonesia yang memiliki penduduk 240 juta dengan 70 %

1
penduduknya hidup dipedesaan serta proporsi wanita setengah dari penduduk
dengan dua pertiganya berada pada usia reproduksi. Kematian ibu di
indonesia 4 kali lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya. Setiap
tahun di
indonesia lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak
8.000 kasus diantaranya berakhir dengan kematian (Noviana, 2015).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan
Dasar (2013) menyatakan bahwa penyakit kanker serviks di indonesia
merupakan penyakit dengan prevalensi tertinggi yaitu sekitar 0,8 % atau
sekitar 98,692 penderita. Berdasarkan estiminasi jumlah kanker serviks
terbanyak terdapat pada provinsi Jawa Timur yang berjumlah 21.313,
kemudian Jawa Barat berjumlah 15.635. sedangkan provinsi Jambi masuk
dalam 10 besar penderita kanker serviks dengan jumlah 1.792 penderita
(Melly, 2016).
Berikut ini adalah data kejadian kanker serviks di RSUD Raden
Mattaher Jambi Tahun 2014-2016 adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1 Distribusi Data Pasien Kanker Serviks Menurut Usia


Tahun 2014-2016
Tahun
Usia
2014 2015 2016
5 – 14 Th - - 1
15 – 24 Th - - 2
25 – 44 Th 15 30 69
45 – 64 Th 29 62 135
>65 Th 2d 11 21
Total 46 103 228
Sumber : Rekam Medik RSUD Raden Mattaher Jambi 2014-2016

Berdasarkan pada tabel 1.1 diatas diketahui bahwa pada tahun 2014
penderita kanker serviks sebanyak 46 orang, di tahun 2015 sebanyak 103
orang, tahun 2016 mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu
sebanyak 228 orang. Melihat terus bertambahnya penderita kanker serviks di

2
setiap tahunnya, maka perlu adanya upaya pencegahan agar dapat
mengurangi tingkat kejadian kanker serviks di setiap tahunnya.
Tabel 1.2 Data Pasien Kanker Serviks yang menjalani kemoterapi di
Zaal Kebidanan RSUD
Bulan
Usia
Januari Februari Maret
25 – 44 Th 9 9 8
45 – 64 Th 14 12 15
>65 Th 8 8 7
Total 31 29 30
Sumber : Zaal kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi, 2017
Penatalaksanaan untuk kanker serviks ada beberapa macam yaitu
melalui pebedahan, radioterapi, dan kemoterapi. Alternatif pengobatan utama
adalah kemoterapi, jenis kemoterapi yang paling baik adalah kemoterapi
ajuvan karena telah terbukti dapat mengurangi efek samping, dapat lebih
mengontrol metastasis, serta memiliki tingkat kerusakan genitalia yang lebih
sedikit (Winarsih,2010).
Pengetahuan pasien tentang terapi adalah pemahaman pasien terhadap
aspek penting dari terapi (seperti nama, dosis obat, frekuensi, tujuan, efek
samping, jadwal, serta tempat berkonsultasi), kesadaran diri pada kesehatan,
dan pengetahuan pasien pada rejimen terapi yang dijalaninya. Ketidaktahuan
pasien terhadap program kemoterapi yang dijalaninya dapat berdampak pada
perilaku berobat yang tidak konsisten (Murphy, 2007).
Pasien yang memiliki tingkat pengetahuan rendah atau tidak memiliki
pemahaman pada pengobatan, maka pasien tersebut cenderung tidak patuh
dalam menjalani program pengobatan tersebut. Sebaliknya, pasien akan
cenderung akan bersikap patuh dalam menjalani pengobatan yang
direkomendasikan oleh tenaga kesehatan jika memiliki pengetahuan atau
pemahaman terhadap pengobatan yang dijalani (Burge , 2005).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi, Karini, dan
Agustin (2010) yang berjudul hubungan antara tingkat pengetahuan dengan
kepatuhan pasien kanker menjalani kemoterapi yang melakukan penelitian
terhadap 60 pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD. Dr.

3
Moewardi Surakata, menujukkan hasil adanya hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dengan kepatuhan (p < 0,05). Kemudian dari hasil
penelitian Komatsu, yagasaki dan Yoshimura (2014), menyimpulkan bahwa
dengan meningkatkan pengetahuan yang dimiliki pasien, dapat meningkatkan
kepatuhannya dalam menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang rekomendasi
dan menyelesaikan program kemoterapi yang dijalaninya.
Dukungan keluarga sebagai bentuk bantuan dalam menyelesaikan
permasalahan dan berperan sebagai sumber koping bagi induvidu dalam
menghadapi penyakit dan menjalani suatu proses pengobatan serta dapat
memberikan rasa kenyamanan dan keamanan bagi individu dalam
kehidupannya. Penelitian Setyaningsih, Makmuroch, dan Andayani (2011)
terhadap 50 pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD. Dr.
Moewardi Sukarta, menujukkan hasil bahwa dukungan emosional keluarga
memiliki pengaruh terhadap menurunnya rasa kecemasan pada pasien
kemoterapi yang juga berpengaruh terhadap meningkatnya kepatuhan pasien
dalam menjalani kemoterapi.
Pasien kanker yang menjalani kemoterapi diharuskan mengikuti
program pengobatan hingga selesai. Dalam menyelesaikan program
kemoterapi tersebut sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam
menjalani kemoterapi sesuai jadwal (Cramer, Roy, Burrell, dan Fairchild,
2008). Kepatuhan pasien kanker menjalani program kemoterapi memegang
peranan penting dalam proses pengobatan dan penyembuhan bagi dirinya.
Namun tidak semua pasien kanker patuh menjalani program menjalani
program kemoterapi sampai tuntas , bahkan terdapat juga pasien memilih
tidak menjalani pengobatan tersebut (Firmana, 2017).
Ketidakpatuhan pasien adalah perilaku yang menunjukkan adanya
sikap yang tidak konsisten, lalai, menunda, atau menolak terapi yang harus
dijalani oleh pasien sesuai dengan yang diinstruksikan oleh tenaga kesehatan.
Pasien yang tidak patuh menjalani program kemoterapi sesuai dengan jadwal
atau hanya menjalani setengah dari keseluruhan jadwal yang
direkomendasikan oleh petugas kesehatan (dokter), memiliki potensi terhadap

4
ketidakberhasilan (kegagalan) dalam mecapai hasil dari proses pengobatan
yang dijalaninya. Hal ini menyebabkan penurunan kelangsungan hidup dan
akan menerima konsekuensi klinis pengobatan , baik sesuatu yang tidak
menyakitkan sampai permasalahan yang serius (Firmana, 2017).
Saratsiotou (2011) melakukan sebuah penelitian pada 99 pasien kanker
yang menjalani kemoterapi di Athena, Yunani, terkait pengaruh efikasi diri
terhadap kepatuhan kemoterapi. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
kepatuhan pasien terhadap rejimen kemoterapi di pengaruhi oleh keyakinan
pasien terhadap efektivitas terapi. Meskipun masih banyak ditemukannya
pasien kanker yunani yang memiliki pola ketidakpatuhan terhadap terapi,
tetapi keyakinan dalam keberhasilan terapi muncul sebagai penentu
kepatuhan yang sigifikan.
Penelitian yang dilakukan Budiman, Khambri, dan Bactiar (2013)
terhadap 61 pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RS.Dr.M.Djamil
padang, didapatkan adanya hubungan antara faktor tingkat pendidikan dengan
kepatuhan kemoterapi sesuai jadwal (p < 0,005) pasien dengan tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi memiliki tingkat kepatuhan kemoterapi sesuai
jadwal.
Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 5
april 2017 kepada 3 orang penderita kanker serviks dan dilanjutkan 16 april
2017 dengan 2 orang penderita kanker serviks sehingga jumlah responden
survey awal sebanyak 5 orang responden di RSUD Raden Mattaher Jambi, 3
orang responden mengatakan kanker serviks adalah kanker pada mulut rahim
yang timbul akibat virus. Selanjutnya 2 orang responden mengatakan kanker
serviks adalah
4 orang responden mengatakan keluarga selalu didampingi keluarga
saat menjalani kemoterapi memberikan dukungan informasi yang baik untuk
program kemoterapi, dukungan emosional untuk menjalankan program
kemoterapi dan keluarga selalu memperhatikan jadwal kemoterapi . 1 orang
responden mengatakan bahwa keluarga tidak memberikan dukungan
informasi yang baik untuk melakukan program kemoterapi, dan pasien

5
kurang mendapatkan dukungan emosional untuk menjalankan program
kemoterapi, dan keluarga juga kurang memperhatikan jadwal untuk
kemoterapi.
Selain itu didapatkan data bahwa 4 orang responden yang mematuhi
program kemoterapi mengatakan selalu mengikuti pengobatan kemoterapi
secara teratur karena mereka mengetahui penyakit kanker serviks
membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Dan 1 orang responden tidak
patuh karena sudah jenuh mengikuti pengobatan kemoterapi dikarenakan efek
samping yang ditimbulkan. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk
meneliti “Hubungan Pengetahuan Dan Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Pasien Kanker Serviks Untuk Menjalani Kemoterapi”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini “Hubungan Pengetahuan Dan
Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pasien Kanker Serviks Untuk
Menjalani Kemoterapi Di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2017”.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinnya hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga
dengan kepatuhan penderita kanker serviks untuk menjalani
kemoterapi di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan penderita kanker serviks
untuk menjalani kemoterapi di RSUD Raden Mattaher Jambi.
2. Untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga penderita kanker
serviks untuk menjalani di RSUD Raden Mattaher Jambi.
3. Untuk mengetahui gambaran kepatuhan penderita kanker serviks
untuk menjalani kemoterapi di RSUD Raden Mattaher Jambi.

6
4. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan
penderita kanker servik untuk menjalani kemoterapi di Raden
Mattaher Jambi.
5. Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
penderita kanker untuk menjalani kemoterapi di RSUD Raden
Mattaher Jambi.

1.4 Mamfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Tempat Peneltian
Sebagai masukan informasi bagi RSUD Raden Mattaher Jambi agar
penderita kanker serviks dapat mengikuti pengobatan kanker serviks
secara teratur dan melakukan penyuluhan tentang pentingnya mengikuti
kemoterapi dan mamfaat dilakukannya pengobatan kemoterapi.
1.4.2 Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan praktek dan teori tentang
keperawatan medikal bedah agar mahasisiwa lebih mengerti lagi
tentang masalah kanker serviks dan pengobatannya.
1.4.3 Bagi penelitian selanjutkan
Sebagai sumber dan bahan acuan bagi peneliti lainnya untuk
melanjutkan penelitian yang lebih kompleks dengan penelitian dengan
variabel yang berbeda tentang hubungan perubahan fisik dengan konsep
diri pada penderita kanker serviks yang menjalani kemoterapi.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross
Sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan
dukungan keluarga dengan kepatuhan penderita kanker serviks untuk
menjalani kemoterapi di RSUD Raden Mattaher Jambi Tahun 2017.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker serviks yang
menjalani kemoterapi di Zal Kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi.
Teknik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Dengan jumlah sampel
sebanyak 30 responden. Penelitian ini dilakukan di Zal kebidanan

7
RSUDRaden Mattaher Jambi dengan menggunakan kuesioner yang diisi
langsung oleh responden. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan juli
2017. Analisa data dengan univariat dan bivariat

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Kemoterapi


2.1.1 Pengertian Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik, sebagian besar
diberikan dengan cara injeksi ke dalam pembuluh vena, sebagaian
kecil dapat berupa tablet atau kapsul dan kadang kadang ada yang
diberikan subkutan (Puspita, 2015).
Kemoterapi merupakan suatu medikasi antikanker pada kasus
keganasan yang tidak dapat tertangani (Rasjidi, 2010). Kemoterapi
adalah pengguanaan preparat antineoplasmatik sebagai upaya untuk
membunuh sel-sel tumor dengan mengganggu fungsi dan reproduksi
selular (C.Smelzer, 2011).
2.1.2 Tujuan Kemoterapi
Penentuan tujuan yang dilakukannya keoterapi tergantung pada
kondisi dan stadiumkanker ynag diderita pasien saat memutuskan untuk
menjalani kemoterapi.
1. Cure cancer

Bila kemungkinan, kemoterapi diberikan dengan tujuan untuk

menyembuhkan penyakit kanker (kuratif) yang artinya tumor hilang dan

tidak tumbuh lagi. Namun, sebagian besar dokter lebih memilih kata

survive dibanding “sembuh” karena diperlukan waktu bertahun-tahun

untuk bisa mnegatakan pasien benar-bensar sembuh dari kanker.

2. Control cancer

Bila sudah tidak mungkin bisa untuk disembuhkan, mak tujuan

pemberian kemoterapi aalah mengontrol pertumbuhan kanker, mencegah

penyebaran dan mengecilkan ukurannya. Hal ini dapat menolong pasien

9
mengurangi keluhannya kanker dalm hal ini seperti pada penyakit kronis

seperti diabetes, hipertensi dan sebagainya.

3. Palliative care

Pada penderita kanker serviks yang berbeda sudah dalam stadium

lanjut maka kemoterapi dilakukan untuk mengurangi penderitaan yang

dialami pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien namun bukan

untuk mengobati. Sehingga pada saatnya pasien meninggal dengan

tenang dan bermartabat.

2.1.3 Mamfaat Kemoterapi

Terdapat tiga program kemoterapi yang dapat diberikan pada

pasien kanker (NCL, 2009), yaitu sebagai berikut :

1. Kemoterapi Primer
Kemoterapi yang diberikan sebelum tindakan medis lainnya,
seperti operasi dan radiasi.
2. Kemoterapi Adjuvant
Kemoterapi yang diberikan sesudah tindakan operasi atau
radiasi. Tindakan ini ditunjukkan untuk mengahancurkan sel-sel
kanker yang masih tersisa atau metastasis kecil.
3. Kemoterapi neoadjuvant
Kemoterapi yang diberikan sebelum tindakan operasi atau
radiasi yang kemudian dilanjutkan kembali dengan kemoterapi.
Tindakan ini ditunjukan untuk mengecilkan ukuran massa kanker
yang dapat mempermudah saat dilakukannya tindakan operasi atau
radiasi.

10
2.1.4 Jenis Kemoterapi
1. Inhibitor mitosis
Kemoterapi jenis ini bekerja dengan cara menghentikan
proses mitosis dan menghambat reproduksi sel.
2. Antibiotik antitumor
Kemoterapi jenis ini memiliki cara kerja dengan mengurangi
enzim yang terlibat dalam proses replikasi DNA.
3. Agen alkylating
Kerja alkylating dalah dengan merusaj DNA sel kankers
secara langsung, sehingga mencegah sel kanker berkembang biak.
4. Antimetabolites
Cara kerja antimetabolites adaalah dengan merusak sel-sel
kanker selama fase , sehingga tidak memungkinkan sel kanker
untuk hidup atau berkembang.
5. Kortikosteroid
Digunakan untuk mencegah muntah atau reaksi alaergi yang
berhubungan dengan kemoterapi.
2.1.5 Efek Samping Kemoterapi
Pasien kanker serviks yang kemoterapi akan mengalami
perubahan fisik akibat dari efek samping kemoterapi (Firmana, 2017),
yaitu:
1. Kerontokan rambut
Kerontokan rambut merupakan salah satu konsekuensi bagi
pasien yang menjalani kemoterapi. Diketahui bahwa obat
kemoterapi tidak mmapu membedakan sehat sel sehat/normal
dengan sel yang berbahaya (kanker),sehingga sel-sel folikel rambut
ikut hancur dan terjadinya kerontokan. Selain itu, sel-sel folikel
rambut ini merupakan salah satu sel yang membelah dengan cepat
didalam tubuh, sehinggan rambut akan tumbuh kembali setelah
pasien selesai menjalani kemoterapi.

11
2. Mual dan muntah
Chemotherapy-induced nausea and vomiting (CINV)
disebabkan oleh adanya rangasangan zat obat kemoterapi dan hasil
metabolitnya terhadap pusat mual dan muntah, yaitu vomiting
center yang terdapat di medula oblongata dan chemoreceptor
triggerzone (CTZ) yang terdapat di area postrema (AP) batas
belakang ventrikel keempat melalui serabut saraf aferen.
3. Mulut kering, sariawan, dan sakit tenggorakan
Stomatis atau mukositosis adalah perdangan mukosa mulut
dan merupakan komplikasi utama pada kemoterapi kanker
(Isselbacher dkk., 2014). Tanda dini stomatitis adalah aritema dan
edema yang dapat berkembang menjadi ulkus nyeri yang menetap
dalam beberapa hari sampai seminggu atau lebih. Eritemotosa
mukositosis biasanya muncul 7 sampai10 hari setelah memulai
terapi kanker dosis tinggi.
4. Diare (Chemotherapy-Induced Diarrhea)
Kemoterapi memengaruhi daya serap dan adanya peningkatan
zat terlarut dalam lumen usus. Hal ini menyebabkan pergeseran
osmotik air ke lumen, sehingga terjadinya diare (Richardson dan
Dibish, 2007). Diare merupakan efek samping kemoterapi yang
umum terjadi, terutama bagi pasien dengan pasien lanjut.diare
dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit,
insufisiensi ginjal, disfungsi kekbalan tubuh, dan memungkinkan
dapat menyebabkan kematian dalam kasus yang ekstrem (cherney,
2008).
5. Pansitopenia
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat memberikan dapat
memberikan toksisitas pada jaringan atau organ tubuh lainnya.
Salah satu efek dari toksisitas yang banyak ditemukan adalah
pansitopenia. Salah satu golongan obat kanker yang menyebabkan
efek tersebut adalah alkylating. Golongan obat alkylating ini

12
memengaruhi kinerja sumsum tulang (supresi sumsum tulang)
yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi sel darah (sel
darah putih, sel darah merah, trombosit). kemoTerjadinya tersebut
dapat mengakibatkan timbulnya gejala anemia.
6. Alergi atau hipersensitivitas
Terjadi alergi dipicu oleh respons sisitem kekebalan tubuh
pasien. Gejala reaksi alergi yang dapat timbul seperti gatal-gatal
atau ruan kulit, sulit bernafas,pembekakan kelopak mata, dan
pembekakan kelopak mabirta, dan pembekakan bibir atu lidah.
Selain itu, alergi juga dapat terjadinya syok anafilaksis dan
kematian.
7. Efek pada organ seksual
Kemoterapi dapat memengaruhi organ seksual pria maupun
wanita. Hal tersebut dikarenakan obat kemoterapi ini dapat
menurunkan jumlah sperma, memengaruhi ovarium, dan
memengaruhi kadar hormon, sehingga dapat menyebabkan dapat
menyebabkan terjadinya menopouse dan infetilitas sementara atau
permanen.
8. Saraf dan otot
Efek samping kemoterapi yang berpengaruh pada saraf dan
otot dapat menujukkan gejala seperti kehilangan keseimbangan
saat berdiri atau berjalan bergemetar, rahang rahang, dan neuropati
perifer (rasa nyeri, rasa baal atau kesemutan pada ekstremitas atas
dan/atau bawah, lemah, dan rasa terbakar).
9. Masalah kulit
Kemoterapi dapat mengakibatkan terjadinya masalah kulit
seperti kulit kering, bersisik, pecah-pecah, teerkelupas, ruam kulit,
serta hiperpligmentasi kulit dan kuku. Terjadinya hiperpigmentas
tersebut akibat kerusakan sel-sel basal padajaringan epidermis.
Biasanya hiperpigmentasi timbul diarea penusukan kateter IV dan

13
atau sepanjang pembuluh darah yang digunakan dala pelaksanaan
kemoterapi.
10. Kelelahan (fatigue)
Kelalahan yang dialami pasien kemoterapi disebabkan oleh
adanya nyeri, anoreksia ( kehilangan nafsu makan), kurang
istirahat/tidur, dan anemia. Selain itu, kelelahan pasien juga dapat
disebabakan oleh adanya masalah psikologi (stress) yang
berkepanjangan akibat penyakit, proses pengobatan, atau
perawatan. Kelelahan ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan
berlangsung dalam beberapa hari, minnggu atau sampai beberapa
tahun.
11. Konstipasi
Obat kemoterapi dapat menyebabkan konstipasi, terutama
obat kemoterapi golongan vinca-alkaloid yang dapat memengaruhi
suplai saraf ke usus. Kondisi konstipasi ini akan semakin
memburuk jika mengonsumsi obat analgetik secara bersamaan,
dikarenkan obat analgesik juga dapat memberikan efek samping
konstipasi (CRUK,2014b).
2.1.6 Obat Kemoterapi
1. Obat Kemoterapi Intravena
Obat kemoterapi yang diberikan secara intravena terdiri atas
beberapa golongan (ACS, 2013b; Al-Benna, O’Boyle, dan Holley,
2013), yaitu sebagai berikut.
1) Alkylating agents, contohnya cycphosphamide, ifosfamde, dan
dacarbazine.
2) Platinum compounds, contoh cisplatin
3) Antibiotik anthracyclines, contoh irinotecan dan topotecan
4) Mitotic inhibitors, contoh vinca alkaloid (vincristine dan
vinblastine) dan taxanes (docetaxel dan paclitexel).
5) Enzim, contoh L-Asparaginase.

14
2. Obat Kemoterapi Intra Arteri
Kemoterapi intra-arteri (IAC) merupakan metode pemberian
obat kemoterapi lansung ke jaringan kanker melalui pembuluh
darah arteri dengan menggunakan kateter dan sistem pencitraan X-
ray untuk melihat arteri. Metode IAC ini efektif, baik sebagai
pengobatan primer atau sekunder (Gobin dkk.,2012).
3. Obat Kemoterapi Oral
Obat kemoterapi yang diberikan secara oral terdiri dari:
1) Capecitabine
2) Dasatinib
3) Erlotinip
4) Gefitinip
5) Imatinip
6) Lapatinip
7) Lenalidomide
8) Nilotinib
9) Sorafenib
10) Thaliddomide
11) Vorinostat
4. Obat kemoterapi intraperitoneal
Kemoterapi intraperitonial dapat digunakan dalam
pengobatan beberapa kanker yang tumbuh di daerah abdomen atau
organ pencernaan dan ovarium. Kemoterapi ini langsung diberikan
melalui ruang peritenium (arnold- korzeniowski, 2015). Pasien
biasanyadiharuskan untuk menjalani kemoterapi IP sebanyak 1-2
kali setiap siklus kemoterapi, bergantung pada rencana pengobatan.
Beberapa obat kemoterapi yang biasa dipergunakan pada
kemoterapi IP antara lain :
1) Cisplatin
2) Carboplatin
3) Cyclophosphamide

15
4) Doxatacel
5) Gemcitabine
6) Ifosfamide
5. Obat kemoterapi intramuskular
Pemberian kemoterapi intramuskular (IM) dapat dilakukan
diarea otot, lengan, paha, atau bokong. Obat kemoterapi IM akan
diserap kedalam darah lebih lambat dari kemoterapi IV,
kemoterapi IM ini dapat diberikan pada pasien setiap hari, satu kali
perhari, satu kali perminggu, atau dua kali dalm sebulan.
6. Obat kemoterapi subkutan
Obat kemoterapi subkutan (AC) diberikan dengan cara
injeksi di bawah kulit. Kemoterapi SC ini dapat diberikan pada
pasien yang mengalami akses vena yang mudah pecah/rapuh dan
menjalani rawat jalan. Volume obat kemoterapi yang diberikan
harus terbatas, yaitu 1-5 ml untuk mengurangi rasa sakit didaerah
injeksi (Leveque,2014). Obat kemoterapi yang sering digunakan
pada kemoterapi SC (Leveque, 2014), diantaranya sebgai berikut:
1) MTX
2) Cytarabine
3) Cladribine
4) Bortezomid
5) Omacetaxine
6) Bleomycin
7) Azacitidine
2.1.7 Periode Pemberian Kemoterapi
Program kemoterapi yang harus dijalani oleh pasien kanker
tidak diberikan dalam satu kali, tetapi diberikan secra berulang selama
ena kali siklus pengobatan dan jarak waktu antar-sikl;us tersebut
selama 21 hari. Pasien akan memasukinwaktu istirahat diantara siklus
untuk memberikan kesempatan pemulihan pada sel-sel yang sehat,
akan tetapi, frekuensi dan pengobatan bergantung pada beberapa

16
faktor, seperti jenis, stadium kanker, kondisi kesehatan pasien, dan
jenis rejimen kemoterapi yang diresepkan (Tjokronegro, 2006;Yarbo,
Wujcik, dan Globel,2011; ACS, 2013b).
Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode
pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi dengan pemulihan,
begitu seterusnya. Beberapa lama pemberian kemoterapi kepada
pasien tidak ditetapkan dengan pasti, hal ini dikarenakan proses
pengobatan kemoterapi tergantung pada jenis kanker, stadium, faktor
kesehatan, jenis obat. Kemoterapi diberikan secara siklit, dapat secara
mingguan, atau 3-4 mingguan. Jika pemberian dengan metode setiap 3
minggu, maka akan diberikan sebanyak 6 siklus (Puspita, 2015).

2.2 Konsep Kepatuhan


2.2.1 Pengertian
Kepatuhan adalah perilaku yang terbentuk dari hasil hubungan
saling menghargai dan berperan aktif dalam partisifasi atau hubungan
kerja sama antara pasien dengan tenaga kesehatan yang disadari tanpa
adanya suatu paksaan dan manipulasi antara satu dengan lainnya
(falvo, 2011).
Kepatuhan kemoterapi diartikan sebagai keterliabatan aktif
atau partisipasi pasien dalam mengikuti rejimen dari program
kemoterapi yang diinstruksikan oleh tenaga profesional kesehatan
(dokter) secara konsisten (Osterberg dan Blaschke, 2005 Bosworth,
Oddone, dan Weinberger, 2008).
Ketidakpatuhan pasien diartikan sebagai perilaku pasien yang
tidak konsisten, lalai, atau menunda terapi yang dijalaninya (Boswoth,
Oddene, dan Weinberger, 2008). Ketidakpatuhan tersebut dapat
diketahui ketika pasien tidak menjalani terapi sesuai yang
direkomendasikan oleh tenaga kesehatan oleh tenaga kesehatan
(Robinson dkk., 2005).

17
2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhaan
Kepatuhan individu tidak terlepas dari adanya suatu
perubahan dalam tingkah laku yang di pengaruhi oleh (Purwanto,
2004; Pieter dan Lubis, 2012) hal sebagai berikut:
1. Proses belajar, yang mampu mengubah perilaku individu dari
perilaku sebelumnya dan menampilan kemampuan individu sesuai
kebutuhanya.
2. Emosi, yang mampu merangsang individu untuk memehamai objek
atau perubahan yang didasari sehingga memungkinkannya
mengubah sifat atau perilakunnya.
3. Presepsi, yang mampu membantu induvidu untuk mengetahui atau
mengenal objek melalui alat pengindraan.
4. Motivasi, yang dapat menggerakan atau menggugah timbulnya
keinginan dan kemauan individu untuk melakukan sesuatu,
sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.
5. Intelegensi, yang membuat individu memiliki kemampuan dalam
menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru secara cepat dan
efektif.
Menurut Green (1980) kepatuhan dikatakan sebagai suatu
perilaku individu yang berbentuk respon atau reaksi terhadap
stimulus yang dapat dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sebagai
berikut:
1. Faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor yang berasal dari diri pribadi yang dibawa oleh idividu yang
dapat mendukung atau menghambat perilaku yang menjadi dasar
atau motivasi individu untuk melakukan suatu tindakan.
Kemudian faktor-faktor lainnya juga termasuk ke dalam faktor
predisposisi yaitu status umur, jenis kelamin, tingakat pengetahuan
, dan sosial-ekonomi.

18
2. Faktor pemungkin (enabling factors)
Faktor kemampuan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk
melakukan suatu perilaku, yang meliputi pelayanan kesehatan
(terkait biaya, jarak, ketersedian transportasi, waktu pelayanan, dan
keterampilan petugas kesehatan).
3. Faktor penguat (reinforcing factor)
Faktor yang berasal dari keluarga, teman, tenaga kesehatan, atau
pemimpin.faktor penguaat dapat memberikan dampak positif atau
negatif bagi individu, bergantung pada sikap dan perilaku orang
lain yang diberikan dukungan atau pengaruh pada individu
tersebut.
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Pasien
Kanker Yang Menjalani Kemoterapi
1. Pengetahuan
Pengetahuan secara umum diartikan sebagai pemahaman
individu terhadap sesuatu atau berbgai hal yang ada disekitarnya
dan memiliki pernanan penting dalam kehidupan yang dapat
dipergunakan dalam merefleksikan berbagai informasi yang
diperoleh. Kemudian informasi-informasi tersebut diproses ke
dalam suatu penilaian atau persepsi, ingatan janka pendek, dan
ingat jangka panjang, yang pada akhirnya ditentukan suatu sikap
yang paling tepat dalam pemecagahan masalah dan berkreaktivitas
(Buckley dan Jakovljevic, 2012; Niedderer, 2007).
Sementara pengetahuan pasien tentang adalah pemahaman
pasien terhadap berbagai aspek penting dari terapi (seperti nama
dan dosis obat, frekuensi, tujuan, efek samping, jadwal, seta tempat
untuk berkonsultasi), kesadaran diri pada kesehatan, pengetahuan
pasien pada rejimen terapi yang dijalaninya (Murphy, 2007).
Ketidaktahuan pasien terhadap program kemoterapi ynag
dijalaninya dapat berdampak pada perilaku berobat yang tidak
konsisten.yang memiliki tingkat pengetahuan rendah atau tidak

19
memiliki pemahaman pada pengobatan, maka pasien cenderung
tidak akan patuh dalam menjalani program pengobatan tersebut.
Sebaliknya, pasien akan cenderung bersikap patuh dalam menjalani
program pengobatan yang direkomendasikan oleh tenaga
kesehatan, jika memiliki pengrtahuan atau pemahaman terhadap
pengobatan yang dijalaninya (Burge dkk.,2015).
2. Efikasi diri
Efikasi diri sebagai keyakinan atau kepercayaan dalam
kempuan individu untuk mengatur dan melaksankan program
tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi dan mencapai
suatu tujuan ( Bandura, 1997). Efikasi diri merupakan pandangan
dan penilaian terhadap kemampuan diri untuk mengambil dan
melakukan tindakan yang diingingkan dan (Markland dkk., 2005;
Alwisol, 2006). Sementara menurut Vansteenkiste dan Sheldon
(2006). Mendefinisikan efikasi diri sebagai keinginan dan
kemampuan untuk mengeksplorasi dan berusaha untuk menguasai
atau berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa efikasi diri merupakan suatu keyakinan yang ada pada diri
setiap induvidu terhadap kemampuannya dalam melaksanakan dan
mengontrol tindakan yang didasarkan pada yujuan yang
diharapkannya serta berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya. Sementara itu diri pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi adalah keyakinan pasien pada kemampuan dirinya
dalam melaksanakan program kemoterapi yang dinilai sangat
diperlukan bagi dirinya untuk mencapai kondisi kesehatan yang
diharapkannya.
3. Jarak lokasi tempat tinggal
Program kemoterapi yang harus dijalani oleh pasien dalam
setiap siklusnya dapat berdampak pada kesulitan tersendiri bagi
pasien yang khususnya bertempat tinggal jauh dari pusat pelayanan

20
kemoterapi. Hal ini menyebabkan pasien harus pergi tengah malam
atau dini hari untuk mencapai pusat pelayanan kemoterapi tersebut
dan merasa kelelahan akibat perjalanan yang jauh. Selain itu,
banyak pasien yang terpaksa menginap di teras atau koridor RS
karena ketidaksediaan tempat tinggal. Hal tersebut mereka lakukan
untuk mendaptkan pelayanan emlterapi di RS. Namun, tidak
sedikit dari mereka harus menunda kemoterpi karena tidak adanya
transportasi atau yang mengantar dirinya ke RS.
4. Efek samping kemoterapi
Efek samping merupakan salah satu faktor yang sering
berpengaruh pada kepatuhan pasien dalam menjalani program
pengobatan. Salah satu efek samping yang sering berpotensi
terhadap masalah ketidakpatuhan pasien menjalani pengobatan
adalah mual muntah (D’Amato, 2008).
5. Kualitas pelayanan petugas kesehatan
Petugas kesehatan yang senantiasa memberikan perhatian
(caring) dan mampu menciptakan komunikasi yang lebih baik
dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien kemoterapi,
dapat memberikan rasa nyaman dan aman bagi pasien, serta dapat
berpengaruh pada kepatuhan pasien dalam menjalani program
pengobatan. Menurut Zhou dkk, (2010), kebutuhan pasien kanker
dalam menjalani kemoterapi tidak hanya cukup dengan resedianya
saran dan fasilitas pengobatan yang memadai, tetapi pasien sangat
memerlukan ketersediannya petugas kesehatan dalam memberikan
informasi, saran, bimbingan, dan rekomendasi terkait penyakit,
program pengobatan, dan perawatan dirinya.
6. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga merupakan suatu dorongan yang
diterima dan dirasakan oleh individu berupa pemberan bantuan,
pertolongan, dan semangat dan (motivasi). Dukungan sosial
tersebut diwujudkan dalam bentuk informasi verbal maupun

21
nonverbal, dan penghargaan dalam bentuk bantuan tingkah laku
maupun materi dan keluarga, saat individu menghadapi suatu
masalah atau keadaaan yang dirasakan tidak nyaman bagi individu
tersebut. Dukungan keluarga ini menuntut individu meyakini
bahwa dirinya, dirawat, diperhatikan, disayangi oleh keluarga atau
orang-orang yang berada dekat disekitarnya (Sarafino, 2006)
Dukungan sosial keluarga berperan sebagai sumber koping
bagi pasien dalam menghadapi penyakit dan menjalani proses
pengobatan. Dengan memiiliki koping efektif, pasien dapat
menghadapi dan mengelola masalah psikologi yang dihadapinya
(Rehwaldt, 2009). Sebagaimana diketahui bahwa pasien
kemoterapi sering digadapkan pada kecemasan terhadap program
dan efek samping kemoterapi dan dukungan keluarga merupakan
salah satu faktor yang berpengaruh terhadap rasa kecemasan pada
diri pasien dalam menjalani kemoterapi selain faktor kepribadian
(Hawari, 2004).
7. Usia
Usia sebagai salah satu faktor yang memiliki hubungan
dengan kepatuhan pasien kanker dalam menjalani program
kemoterapi. Semakin bertambahnya usia akan semakin
meningkatnya kepatuhan pasien menjalani pengobatan. Hal
tersebut didasari oleh banyak pengalaman yang diperoleh
sebelumnya dan usia tua tidak memiliki kesibukan dengan aktivitas
pekerjaan, sehingga dapat menjalani pengobatan secara teratur
(Gater dkk.,2012). Pengalaman pasien kanker yang menjalani
kemoterapi tidak hanya dilihat berdasarakan pada lamanya
menjalani terapi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor usia.
8. Pendidikan
Pendidikan didefinisikan sebagai suatu kegiatan sistematis
yang terarah menuju terbentuknya kepribadian (Tirtahardja, 2005).
Sementara menurut Peters (2010), pendidikan sebagai usaha yang

22
dilakukan dengan sadar oleh individu melalui kegiatan latihan,
bimbingan, pengajaran baik di institusi pendidikan formal dan
informal sela hidupnya untk dapat berperan dalam berbagai
lingkungan.
Pendidikan sangat berpengaruh pada cara individu dalam
mengambi keputusan dan menerima informasi. Pendidikan juga
berpengaruh pada daya intelektual yang memiliki oleh individu.
Pendidikan yang tinggi akan berpengaruh pada semakin luasnya
pandangan individu tentang segala sesuatu hal, banyaknya
pengetahuan yang dimiliki, dan mudah meerima ide tau cara baru
dalam kehidupannya. Sementara tingkat pendidikan yang lebih
rendah dapat berpengaruh pada keterbatasan daya intelektual yang
menyebabkan perilakunya masih terpengaruh oleh keadaan
lingkungan sekitarnya ( Purwanto, 2004).
Ketidakpatuhan dalam menjalani kemoterapi yang
disebabkan dan keterbatasan biaya ini dapat dikatakan sebagai
intentional non compliance (ketidakpatuhan yang disengaja)
(atkins dan fallowfield, 2006). Ketidakpatuhan dalam menjalani
pengobatan secara tepat dapat menyebabkan psien akan
mengalami kehilangan kesempatan untuk mningkatkan atau
mempertahankan status kesehatannya (Elliot dkk, 2008).
Faktor sosial ekonomi memiliki peranan dalam kepatuhan
pasien menjalani pengobatan, yakni semakin rendahnya tingkat
ekonomi pasien maka semakin tidak patuh terhadap pengobatan
yang sedang dijalaninya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
kondisi ekonomi pasien dan/ atau keluarga memiliki hubungan
yang berarti dengan kepatuhan pasien dalam menjalani program
pengobatan (Osterberg dan Blaschke, 2005).

23
2.2.4 Ketidakpatuhan Kemoterapi
Ketidakpatuhan pasien diartikan sebagai perilaku pasien yang
tidak konsisten, lalai, atau menunda terapi yang dijalani (Bosworth,
Oddene, dan Weinberge, 2008). Ketidakpatuhan tersebut dapat
diketahui ketika pasien tidak menjalani terapi sesuai yang
direkomendasikan oleh tenaga kesehatan (Robinson dkk., 2005).
Berdasarkan penjelasan Lapinski (2009) dan Bosworth,
Oddone, dan Weinberge (2008), terdapat dua tipe ketidakpatuhan
pasien, yaitu sebagai berikut:
1. Ketidakpatuhan yang disengaja
Perilaku pasien saat mengambil keputusan untuk megikuti atau
menyimpang dari rejimen terapi yang diharuskan.
2. Ketidakpatuhan yang tidak disengaja
Perilaku yang disebabkan adanya kesalahpahaman, lupa pada
instruksi yang diberikan, kurang informasi tau wawasan mengenai
program terapi yang harus dijalani pasien, keterbatasan fasilitas
kemoterapi ditempat pelayanan kesehatan (RS).
Pasien yang tidak patuh menjalani program kemoterapi sesuai
jadwal tau hanya menjalani setengah dari keseluruhan jadwal yang
direkomnedasikan oleh petugas kesehatan (dokter), memiliki potensial
terhadap ketidakberhasilan (kegagalan) dalam mencapai hasil dari
proses pengobatan yang dijalaninya. Hal ini menyebabkan penurunan
kelangsungan hidup dan akan menerima konsekuensi klinis
pengobatan, baik sesuatu yang tidak menyakitkan sampai
permasalahan yang serius (Osterberg dan Blaschke, 2005;
Partridgedkk.,2007;Hersaman dkk.,2011).
Konsekuensi yang dapat diterima oleh pasien sebagai kaibat
dari ketidakpatuhan nya dalam menjalani program kemoterapi sesuai
jadwal, diantaranya, yaitu penyakit yang tidak berespon terhadap
pengobatan sebelumya akibat berkurangnya khasiat pengobatan ,

24
pasien akan menerima perubahan dosis obat atau menerimaa rejimen
kemoterapi yang berbeda.
Mengulang program pengobatan ke siklus awal, meningkatnya
biaya perawatan kesehatan akibat jangka waktu pengobatan dan
perawatan yang lebih lama di RS, peningkatan resiko kekambuhan
gejala peyakit atau penyakit semakin memburuk (Osberg dan Blascke,
2005; Boyle dan Bubalo, 2007; patton, 2008; Butow dkk.,2010).

2.3 Kanker Serviks


2.3.1 Pengertian
Kanker serviks adalah kanker leher rahim, terjadi di daerah
organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke rahim, dan
terletak antara rahim (uterus) dan lubang vagina. Kanker serviks
adalah pertumbuhan sel-sel abnormal pada serviks dimana sel-sel
normal berubah menjadi sel kanker (Peckenpaugh, 2009).
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel abnormal pada
serviks di mana sel-sel normal berubah menjadi sel kanker. Perubahan
ini biasanya memekan waktu 10-15 tahun sampai kanker terjadi 80%
dari wanita yang beresiko terinfeksi oleh HPV, hingga 50% dari
mereka akan terin feksi oleh HPV sepajang hidupnya menurut Evi
Adriani (2010).
Kanker serviks adalah penyakit kanker yang menyerang rahim
dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel
tersebut untuk memyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan
pertumbuhan langsung di jaringan yang berseblahan (invasi) atau
dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastase) (Wuto, 2008 ).
2.3.2 Etiologi
Menurut Padila (2012), faktor resiko dan predidisposisi yang
memicu terjadinya kanker serviks :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.
2. Jumlah kehamilan dan partus.

25
3. Jumlah perkawinan.
4. Infeksi virus.
5. Sosial ekonomi.
6. Hygiene dan sirkumsisi.
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Menurut Rasjidi (2010), faktor lain yang berhubungan dengan
kanker mulut rahim ini adalah aktivitas seksual yang terlalu muda
(<16 tahun), jumlah pasangan seksual banyak (>4orang), dan ada
riwayat menderita kandiloma.
Sedangkan menurut setiati (2009), wanita yang mudah
(beresiko) terkena kanker mulut rahim adalah mereka yang berada
pada kondisi:
1. Sudah mulai berhubungan seks sejak usia muda
2. Sering berganti-ganti pasangan ( bukan hanya dengan suami )
3. Mempunyai bnayak anak
4. Terlalu sering melahirkan
5. Mengalami infeksi HPV ( Human Paplloma Virus )
Selain itu, beberapa kebiasaan buruk berikut yang dapat
memicu terjadi kanker serviks, yaitu:
1. Kebiasaan merokok
2. Mengkonsumsi minuman keras
3. Pola hidup yang kurang bersih
2.3.3 Faktor Resiko
American Cancer society menyebutkan faktor resiko kanker
serviks adalah sebagai berikut :
1. Infeksi Human papilloma virus (HPV)
2. Merokok
3. Imunosupresan
4. Infeksi klamidia
5. Diet kurang sehat dan obesitas
6. Kontrasepsi oral

26
7. Penggunaan IUD
8. Kehamilan multipel
9. Kemiskinan
10. Penggunaan obat hormonal diethylstilbestrol (DES)
11. Riwayat keluarga dengan kanker serviks
2.3.4 Epidemiologi kanker serviks
Secara global, kanker serviks menepati posisi kedua penyebab
kematian wanita akibat kanker. Setiap tahunnya ditemukan 510.000
kasus baru, 288.000 kasus meninggal, atau setiap menit seorang
wanita meningggal akibat penyakit ini (Rusli, 2008).
Departemen kesehatan RI melaporkan , penderita kanker
serviks di indonesia diperkirakan 90-100 diantara 100.000 penduduk
pertahun dan masih menduduki tingkat pertama dalam urutan
keganasan pada wanita. (Suwiyoga, 2011).
Angka kejadian kanker serviks mulai meningkat sejak usia 50
tahun. Ketahanan hidup seseorang tergantung stadium kanker serviks,
untuk stadium I 85%, II 60%, III 33%, IV 7%.
2.3.5 Gejala kanker serviks
Berikut ini adalah gejala yang sering muncul pada penderita
kanker serviks (Tilong, 2012):
1. pendarahan rahim yang abnormal
2. siklus mentruasi yang abnormal
3. pendarahan di antara dua siklus menstruasi (pada wanita yang
mengalami menstruasi)
4. pendarahan vagina atau spotting pada wanita setelah masa
menopouse
5. pendarahan yang sangat lama, berat dan sering ( pada wanita yang
berusia diatas 40 tahun)
6. nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
7. keluar cairan putih dan encer atau jernih (pada wanita pasca-
menopouse)

27
8. nyeri atau sulit untuk berkemih
9. nyeri saat melakukan hubungan seksual
10. kotoran vagina yang meningkat
11. nyeri pada velvis
2.3.6 Stadium kanker serviks
Stadium yang dipakai adalah klinis berdasarakan the
internasional on ginercologi and oncology, dan sistem TNM ( tumor,
node, metasasis) Menurut AJCC (American joint committe on cancer)
Tabel 2.1 stadium kanker serviks
Stadium Kriteria TNM
FIGO
Tumor primer tidak dapat digambarxkan Tx
Tidak ada bukti adanya tumor primer T0
0 Karsinoma in situ (pre-invasivecarsinoma) Tis
I Proses terbatas pada serviks, meskipun ada T1
perluasan korpus uteri
IA Karsinoma mokroinvasif T1a
IA1 Kedalaman invasi stroma > 3mm tapi tidak > T1a1
5mm, dan perluasan horizontal < 7mm
IA2 Kedalaman invasi srtoma > 3mm tapi tidak > 5 T1a2
mm, dan perluasan horizontal < 7 mm
IB Secara klinis lesi sudah diduga adanya tumor T1b
mokroskopik lebih dari IA2 atau T1a2.
1B1 Secara klinis lesi berukuran 4 cm atau kurang T1b1
pada dimensi terbesar
1B2 Secara klinis lesi berukuran lebih dari 4 cm pada T1b2
dimensi terbesar
II Tumor menyebar keluar serviks, tapi tidak T2
sampai dinding panggul atau sepertiga abawah
IIA vagina T2a

28
IIB Tanpa invasi parametrium T2b
Dengan invasi parametrium
III Tumor menyebar ke dinding panggul dan atau T3
sepertiga bawah vagina, yang menyebabkan
hidronefrosis aau penurunan fungsi ginjal.
IIIA Tumor meneyebar sepertiga bawah vagina tapi T3a
tidak sampai ke dinding panggul
IIIB Tumor menyebar ke dinding panggul T3b
IV Tumor telah menyebar kedinding panggul kecil T4
dan melibatkan mukosa racun atau kandung
kemih (dibuktikan secara histologis), atau telah
terjadi metastase keluar panggul atau ketempat-
IVA temapat yang jauh T4a
IVB Invasi mukosa buli-buli atau rektum T4b
Metastase jauh
(sumber : rasjidi, 2010).
2.3.7 Deteksi dini kanker serviks
Menurut Tilong (2012) deteksi dini kanker serviks sebagai berikut :
1. Pap smear
Pap smear test merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks)
menggunakan alat yang dinamakan speculum untuk mendeteksi
secara dini terhadap infeksi HPV yang berkembang menjadi sel pra
kanker dan tingkat berikutnya menjadi penyebab kanker serviks,.
Pap smear test bisa dilakukan kapan saja, kecuali sedang haid, pap
smear test sebaiknya dilakukan 1 X setahun oleh para wanita yang
sudah melakukan hubungan seksual.
2. Thin prep ( Liquid Base Cytology )
Thin trip adalah scrining sel-sel abnormal dengan cara
visualisai, thin prep juga berfungsi medeteksi dini kelainan pada
mulut rahim dengan berbasis cairan. Cairan seperti getah pada

29
leher rahim, lalu dijadikan sampel, dan dimasukkan ke dalaam
suaru cairan, kemudian dibawa ke laboratorium.
3. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan metode baru deteksi dini kanker serviks
dengan mengoleskan asam asetat (cuka) ke dalam leher rahum.
Bila terdapata lesi kanker, maka terjadi perubahan warna menjadai
agak keputihan pada leher rahim yang diperiksa.
4. Kolposkopi
Kolposkopi merupakan sebuah alat diagnostik dari jarak
hingga 30cm. Untuk melihat abnormalitas serviks, koloskopi
menggunakan sinar kuat dan mikrobioskop binokuler. Sebagai alat
yang bisa mengidentifikasi adanya sel-sel kanker pada permukaan
serviks.
2.3.8 Pencegahan Kanker Serviks
Pencegahan kanker serviks dibagi menjadi dua, yakni:
1. Pencegahan primer
Pendidikan dan promsi, vaksinasi, pemberian vaksin
(antigen) yang dapat merangsang pemebentuk antibodi, vaksinasi
dapat mencegah terjadinya HPV 16 dan 18 yang menyebabkan
infeksi 71% kasus kanker serviks.
2. Pencegahan sekunder
Pap smear atau IVA (inspeksi visual asam asetat). Deteksi
dini dapat mendeteksisel abnormal, lesi pra kanker dan kanker
serviks, tetapi tidak bisa mencegah terjadinya infeksi HPV, kanker
serviks yang ditemukan pada stadium dini dan dapat disembuhkan
segan cepat dan tepat.

30
2.4 Pengetahuan
2.4.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoadmotjo (2011) mengatakan bahwa dengan
meningkatnya pengetahuan seseorang akan menimbulkan kesadaran
dan akhirnya akan menyebabkan seseorang berperilaku sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya.
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua
aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini
menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek
yang diketahui maka akan menimbulkan sikap yang positif terhadap
objek tertentu (Wawan dan Dewi, 2011).
Notoatmodjo (2010) juga mengatakan bahwa salah satu cara
untuk meningkatkan pengetahuan seseorang adalah dengan cara
memberikan informasi atau pendidikan yang dapat diperoleh melalui
proses belajar.
2.4.2 Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan adalah tingkat seberapa kedalaman
seseorang dapat menghadapi, mendalami, memperdalam perhatian
seperti sebagaimana manusia menyelesaikan masalah tentang konsep-
konsep baru dan kemampuan dalam belajar dikelas. Untuk mengukur
tingkat pengetahuan seseorang secara rinci terdiri dari enam tingkatan
menurut (Lestari, 2015 yaitu :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk juga mengingat kembali (recall) terhadap
rangsangan yang sudah diberikan. Kata kerja untuk mengukur
bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menyatakan, dan sebagiannya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

31
objek tersebut secara benar. Orang yang paham terhadap objek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis di sini berarti suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Sintesis dapat diartikan juga suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Kata
kerja untuk sintesis yaitu dapat menyusun, merencanakan,
meringkaskan, dan sebagainya.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
kriteria yang sudah ada.
2.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut (Lestari, 2015) faktor yang mempengaruhi
pengetahuan, yaitu:
1. Tingkat pendidikan
yakni upaya untuk memberikan penegtahuan sehingga terjadi
perubahan perilaku positif yang meningkat.

32
2. Informasi
Seseorang yang mendapat informasi lebih bnayak akan menambah
pengetahuan yang lebih luas.
3. Pengalaman
Yakni sesuatu yang pernah dilakukan sesorang akan menambah
pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal
4. Budaya
Tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi
sikap kepercayaan
5. Sosial ekonomi
Yakni kempuan sesorang memenuhi kebutuhan hidupnya.
2.4.4 Cara Memperoleh Pengetahuan
Dalam memperoleh pengetahuan terbagi menjadi 2 (dua) yaitu
cara kuno dan cara modern dalam memperoleh pengetahuan. Berikut
cara memperoleh pengetahuan menurut Lestari (2015).
1. Cara kuno dalam memperoleh pengetahuan
1) Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini
dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak
berhassil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai
masalah tersebut dapat dipecahkan.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pimpinan-pimpinan
masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang
pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima,
mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai
otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan

33
kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun
penalaran sendiri.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi masa lalu.
2. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih populer disebut
metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh
Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh
Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan
penelitian yang dewasa ini dengan penelitian.
2.4.5 Sumber Pengetahuan
Berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh manusia untuk
memperoleh pengetahuan. Upaya-upaya serta cara-cara tersebut yang
dipergunakan dalam memperoleh pengetahuan menurut (Lestari,
2015) sebagai berikut.
1. Orang yang memiliki otoritas
Salah satu upaya seseorang mendapatkan pengetahuan yaitu
dengan bertanya pada orang yang memiliki otoritas atau yang
dianggapnya lebih tahu. Pada zaman modern ini, orang yang
ditempatkan memiliki otoritas, misalnya pengakuan melalui gelar,
termasuk juga dalam hal ini misalnya, hasil publikasi resmi
mengenai kesaksian otoritass tersebut, seperti buku-buku atau
publikasi resmi pengetahuan lainnya.
2. Indra
Indra adalah peralatan pada diri manusia sebagai salah satu sumber
internal pengetahuan. Dalam filsafat science modern menyatakan
bahwa pengetahuan pada dasarnya adalah dan hanyalah
pengalaman-pengalaman konkrit kita yang terbentuk karena

34
persepsi indra, seperti indra penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman dan pencicipan dengan lidah.
3. Akal
Dalam kenyataannya ada pengetahuan tertentu yang bisa dibangun
oleh manusia tanpa harus mempersepsinya dengan indrah terlebih
dahulu. Pengetahuan dapat diketahui dengan pasti dan dengan
sendirinya karena potensi akal.
4. Intuisi
Salah satu sumber pengetahuan yang mungkin adalah intuisi atau
pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak
merupakan hasil pemikiran yang sadar atau persepsi rasa yang
langsung. Intuisi dapat berarti kesadaran tetnang data-data yang
langsung dirasakan.
2.4.6 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari
subyek penelitian kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau
kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkat domain di atas (Lestari,
2015).
2.4.7 Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) dalam Wawan dan Dewi (2010)
pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan
skala yang bersifat kualitatif, yaitu :
1. Baik : hasil persentase 76%-100%
2. Cukup : hasil persentase 56%-75%
3. Kurang : hasil persentase >56%

2.5 Dukungan Keluarga


2.5.1 Pengertian
Dukungan keluarga merupakan suatu dorongan yang diterima
dan dirasakan oleh individu berupa pemberian bantuan, pertolongan,

35
dan semangat (motivasi). Dukunan sosial tersebut di wujudkan dalam
bentuk informasi verbal maupun nonverbal, dan penghargaan dalam
bentuk bantuk bantuan tingkah laku maupun materi dari keluarga, saat
individu mengahadapi suatu masalah atau keadaan yang dirasakan
tidak nyaman bagi individu tersebut. Dukungan sosial keluarga ini
menutut individu meyakini bahwa dirinya dirawat, diperhatikan, dan
disayangi oleh keluarga atau orang-orang yang berada dekat di
sekitarnya (Firmana, 2017).
Dukungan keluarga adalah sikap keluarga terhadap anggota
keluarag yang sakit yang ditunjukkan melalui interaksi dan reaksi
keluarga terhadap anggita keluargayang sakit ( Friedman, 2010)
2.5.2 Bentuk Dukungan Kelurga
Dukungan sosial keluarga terdiri atas enam bentuk (Friedman,
2010), yaitu sebagai berikut :
1. Dukungan emosional
Keluarga sebagai tempat yang aman untuk pemulihan dan
membantu dalam mengontrol emosi pasien. Seperti kehangatan,
kasih sayang, dan semangat.
2. Dukungan informasional
Keluarga sebagai pemberi informasi bagi pasien.
3. Dukungan finansial
Keluarga sebagai pendukung ekonomi pasien dalam masalah biaya
pengobatan.
4. Dukungan instrumental
Keluarga sebagai sumber pertolongan yang konkret dan praktis ,
seperti menyediakan akomondasi
5. Dukungan penilaian
Keluarga bertindak dalam memberikan bimbingan, umpan balik,
dan sebagai penengah dalam mengatasi permasalahan.

36
6. Dukungan spiritual
Keluarga membantu dalam membangun spiritual pasein dengan
meningkatkan kepercayaan dan berdoa pada Tuhan untuk
mengetasi stressor yang dihadapi oleh pasien.
Menurut friedman (2010), membagi dukungan keluarga
kedalam beberapa bentuk, yaitu:
1. Dukungan instrumnetal
Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat
memeberikan pertololongan langsung seperti pemeberian uang,
pemberian barang, makan, dan pelayanan.
2. Dukungan informasional
Bentuk dukungan ini melibat pemeberian informasi, saran atau
umpan balik tentang umpan balik tentang situasi dan kondisi
individu. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk
mengenali dan mengatasi masalah dengan mudah.
3. Dukungan emosional
Dukungan ini membuat individu memiliki perasaa nyaman, yakin,
diperdulikan dan dicintai oleh keluarga sehingga individu dapat
menghadapi masalah dengan baik.
4. Dukungan pengharapan
Dukungan pengharapan meliputi pertolongan pada individu untuk
memehami kejadian stress lebih baik dan juga sumber stress serta
strategi koping yang dapat digunakan dalam menghadapi stressor.
Dukungna sosial keluarga dapat membantu meningkatkan strategi
koping individu dengan menyarankan strategi-strategi alternatif
yang didasarkan pada pengalaman seblumnya dan mengajak orang-
orang berfokus pada aspek-aspek yang lebih positif dari situasi
tersebut.
5. Dukungan harga diri
Bentuk dukungan ini berupa positif terhadap individu, pemberi
semangat, persetujuan terhadap pendapat individu, perbandingan

37
yang positif dengan individu lain. Bentuk dukungan ini membantu
individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.
2.5.3 Faktor Yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi individu dalam
memperoleh dukungan sosial keluarga (Sarafino, 2006), yaitu:
1. Penerima dukungan
Individu tidak akan memperoleh dukungan jika dirinya tidak
memiliki sikap yang ramah, tidak mau menolong orang lain, dan
tidak memberikan orang lain mengetahui bahwa mereka
membutuhkan pertolongan.
2. Penyedian lingkungan
Individu tidak akan memperoleh dukungan jika penyedian tidak
mem 4mpunyai berbagai sumber yang dibutuhkan oleh bantuan,
atau tidak cukup sensitif terhadap kebutuhan orang lain.
3. Komposisi dan struktur jaringan sosial,
Terkait dengan jumlah orang yang biasa dihubungi oleh individu,
seberapa sering individu bertemu dengan orang tersebut, apakah
orang tersebut adalh keluarga, teman, rekan kerja, atau yang
lainnya, dan kedekatan hubungan individu serta adanya keinginan
untuk saling mempercayai.

38
2.6 Kerangaka Teori

Bagan 2.6.1 Kerangka Teori

Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kepatuhan
kemoterapi :
1. Pengetahuan
2. Efikasi diri
3. Jarak lokasi tempat tinggal
4. Efek samping kemoterapi
5. Dukungan sosial keluarga
6. Usia
7. Pendidikan
8. Ekonomi

(Osterberg dan Blaschke)

Faktor yang mempengaruhi


Kepatuhan
perilaku : Kemoterapi

1. Faktor predisposisi
 Umur
 Jenis kleamin
 Tingkat pendidikan
 Tingkat pengetahuan
 Sosial-ekonomi

2. Faktor pemungkin
 Biaya
 Jarak
 Ketersedian transportasi
 Waktu pelayanan
 Keterampilan petugas
kesehatan

3. Faktor penguat
 Keluarga
 Teman
 Tenaga kesehatan
 Pimpinan

(Green, 1998)

Sumber : Green (1998) dalam Dicky Firmana (2017)

39
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka konsep


Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau
kaitan antar konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antar variabel yang
satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo,
2012).
Variabel dalam penelitian ini yang akan diteliti antara lain variabel
independen (pengetahuan dan dukungan keluarga) dan variabel dependen
(kepatuhan menjalani kemoterapi), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
bagan 3.1 berikut :

Bagan 3.1.1
Kerangka Konsep

Variable Indepeden Variabel Dependen

1. Pengetahuan Kepatuhan
2. Dukungan keluaraga Kemoterapi

40
3.2 Defenisi Operasional

Variabel Defenisi Alat ukur Cara Skala Hasil ukur


ukur ukur
Independen
Pengetahuan Segala sesuatu yang Kuesioner Pengisian Ordinal 1. Baik jika
diketahui responden Kuesioner hasil:
tentang penyakit kanker 76%-100%
serviks, dan kemoterapi 2. Cukup jika
meliputi: hasil:
1. pengertian 56%-75%
2. etiologi 3. Kurang jika
3. tanda dan gejala hasil:
4. faktor resiko <56%
5. pengertian kemoterapi
6. mamfaat kemoterapi (Arikunto,
7. tujuan kemoterapi 2006)
8. periode pemberian
kemoterapi
9. efek samping
kemoterapi
Dukungan Suatu dukungan yang Kuesioner Pengisian Ordinal 1. baik, jika
Keluarga diberikan keluarga Kuesioner hasil >
berdasarkan persepsi mean /
responden untuk menjalani median
kemoterapi meliputi: 2. kurang baik
1. dukungan emosional jika hasil <
2. dukungan informasi mean /
3. dukungan harga diri median
4. dukungan instrumental
(Notoatmodjo,
5. dukungan pengharapan 2010)

Dedependen
Kepatuhanan Kepatuhan penderita Kuesioner Pengisian Ordinal 1. Patuh bila
pasien kanker kanker serviks dalam Kuesioner skor >
serviks menjalani kemoterapi mean /
menjalani sesuai dengan jadwal median
kemoterapi 2. Tidak patuh
bila skor <
mean /
median

41
3.3 Hipotesis Dan Pertanyaan Penelitian
3.3.1 Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan penderita kanker
serviks untuk menjalani kemoterapi di RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2017.
3.3.2 Ada hubungan anatara dukungan keluarga dengan kepatuhan
penderita kanker serviks untuk menjalani kemoterapi di RSUD Raden
Mattaher Jambi Tahun 2017

3.4 Tempat Dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di zal kebidanan RSUD Raden Mattaher
Jambi dan penelitian ini akan dilakukan pada bulan mei 2017.

3.5 Desain Penelitian


3.5.1 Objek yang diamati atau ruang lingkup penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dilakukan
untuk mengetahui hubungan pengetahuaan dan dukungan keluarga
dengan kepatuhan RSUD Raden Mattaher Jambi 2017. Desain
penelitian dalam penelitian menggunakan rancangan cross sectional
yaitu pendekatan ini bersifat sesaat pada waktu tertentu dan tidak
diikuti secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu dan bertujuan
untuk melihat apakah ada hubungan antara variabel independen dan
dependen, disamping itu pendekatan ini mudah dilaksanakan,
ekonomis baik biaya maupun waktu (Natoatmodjo, 2012).
3.5.2 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Hidayat (2008) yang dimaksud dengan populasi
adalah seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang
akan diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien
penderita kanker serviks yang mengikuti kemoterapi RSUD Raden
Mattaher Jambi pada tahun 2017.

42
2. Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek
yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (
Notoatmodjo, 2012). Teknik pengambilan sampel menggunakan
teknik Total Sampling dimana keseluruhan populasi dijadikan
sampel pada saat penelitian (Arikunto, 2010).
1) Kriteria Inklusi
a. Penderita kanker serviks
b. Sedang menjalani kemoterapi
c. Pasien yang responsif
d. Bersedia menjadi responden

3.5.3 Instrumen Penelitian


Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar pertanyaan
(kuesioner). Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara meyebarkan
lembar kuesioner kepada responden. Untuk mempermudah analisa
data diberikan nilai (scoring) pada setiap jawaban dan setiap variabel.
Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti melakukan uji
validitas dan reabilitasnya kuesioner di ruang zal kebidanan RSUD H.
Abdul Manap Kota Jambi pada 10 responden yang mempunyai
karakteristik yang hampir sama dengan kriteria penelitian. Untuk
mengetahui validitas dan reliabilitas dilakukan dengan
membandingkan nilai r tabel dengan r hitung. Bila r hitung > r tabel
maka pertanyaan dikatakan valid. Untuk menentukan reabilitas
dengan membandingkan nilai r tabel dengan nilai alpha yaitu jika
alpha > r tabel pertanyaan tersebut reliabel. Untuk mempermudah
analisa data diberikan nilai (scoring) pada setiap jawaba dan seriap
variabel adalah sebagai berikut:

43
1. Pengetahuan
Pertanyaan pengetahuan terdiri dari 17 pertanyaan dan jika
responden menjawab benar diberi nilai 1 dan jika jawaban
responden salah diberi nilai 0. Variabel ini dikatergorikan menjadi
pengetahuan tinggi jika nilai jawaban lebih dari mean/median, dan
dikategorikan rendah jika nilai jawaban kurang dari median.
2. Dukungan keluarga
Pada variabel ini terdiri dari 10 pertanyaan. Untuk
dukungan insrumen positif pada soal nomor 1, dukungan informasi
positif pada soal nomor 3, dukungan emosional positif pada soal
nomor 5, dukungan pengharapan positif pada soal nomor 9. Jika
responden menjawab selalu diberi nilai 4, jika menjawab sering
diberi nilai 3, jika menjawab jarang diberi nilai 2, jika menjawab
tidak pernah diberi nilai 1. Untuk dukungan keluarga instrumen
negatif pada soal nomor 2, dukungan informasi negatif pada soal
nomor 4, dukungan emosional negatif pada soal nomor 6,
dukungan pengharapan negatif pada soal nomor 8, dukungan harga
diri negatif pada soal nomor 10. Jika respoden menjawab selalu
diberi nilai 1, jika responden menjawab sering diberi nilai nilai 2,
jika mejawab jarang diberi nilai 3 , jika menjawab tidak pernah
diberi nilai 4.
3. Kepatuhan
Pada variabel ini terdiri dari 7 pertayaan. Untuk pertanyaan
kepatuhan positif pada soal nomor 1, 3 ,7. Jika responden
menjawab selalu diberi nilai 4, jika menjawab sering diberi nilai 3,
jika menjawab jarang diberi nilai 2, jika menjawab tidak pernah
diberi nilai 1. Dan untuk pertanyaan kepatuhan negatif pasa soal
nomor 2, 4, 5, 6. Jika responden menjawab selalu diberi nilai 1,
jika responden menjawab sering diberi nilai2, jika responden

44
menjawab jarang diberi nilai3, jika responden menjwab tidak
pernah diberi nilai 4.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner

No Variabel Indikator Jumlah Nomor


pertanyaan Pertanyaan
1. Pengetahuan Pengertian kanker serviks 2 1,2
1. Etiologi kanker serviks 1 3
2. Tanda dan gejala kanker 1 4
serviks 1 5
3. Faktor resiko 1 7
4. Pengertian kemoterapi 1 11
5. Mamfaat kemoterapi 4 8,9,10,17
6. Tujuan kemoterapi 1 16
7. Periode pemberian
kemoterapi 13,14
8. Efek samping keoterapi 2

2. Dukungan 1. Dukungan emosional 5,6


keluarga 2. Dukungan informasi 3,4
3. Dukungan harga diri 10
4. Dukungan instrumental 1,2
5. Dukungan pengharapan 9,8

3. Kepatuhan 1. Positif 7 1,3,7


kemoterapi 2. Negatif 2,4,5,6

3.7 Teknik Pengumpulan Dan Analisa Data


1. Teknik Pengumpulan Data
a. Sumber Data
1) Data Primer
Yaitu data yang diperoleh dari subjek penelitian dengan
menggunakan alat pengukuran langsung kepada subjek sebagai

45
sumber informasi yang ingin didapat dengan pemberian kuesioner
langsung kepada subjek.

2) Data Sekunder
Yaitu data penunjang penelitian yang berasal dari Zal
Kebidanan da Rekam Medik RSUD Raden Mattaher Jambi.
b. Prosedur penelitian
Adapun tahap pengambilan data dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1) Mengurus surat pengantar pengambilan data dari Program Studi
Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim
Jambi untuk pengambilan data ke RSUD Raden Mattaher Jambi.
2) Menyampaikan izin pengambilan data dari Diklat RSUD Raden
Mattaher ke Zal kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi.
3) Melakukan survey awal di Zal Kebidanan Kebidanan RSUD
Raden Mattaher Jambi.
4) Menyusun proposal penelitian
5) Seminar proposal
6) Meminta surat izin validitas dan reliabilitas dari Program Studi
Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim
Jambi.
7) Menyampaikan surat validitas dan reliabilitas ke RSUD Raden
Mattaher Jambi
8) Melakukan uji validitas dan reliabilitas selama 1 hari di ruang Zal
kebidanan RSUD Raden Mattaher Jambi
9) Meminta surat izin penelitian dari Program Studi Ilmu
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim Jambi.
10) Menyampaikan surat izin penelitian di Kesbang Pol Provinsi
Jambi.
11) Menyampaikan surat izin penelitian dari Kesbang Pol ke RSUD
Raden Mattaher jambi.

46
12) Melakukan pengambilan sampel yaitu pasien kanker serviks yang
menjalani kemoterapi
13) Meminta persetujuan responden untuk terlibat dalam penelitian,
jika setuju diminta untuk tanda tangan pada lembar Informed
Consent dan peneliti memperkenalkan diri, melakukan kontrak
waktu kepada responden serta penjelasan mengenai prosedur
penelitian dan pengisian kuesioner yang akan dilakukan.
14) Data yang telah dikumpul kemudian diolah dan dilakukan
pengujian masalah penelitian dengan menggunakan uji statistik
kemudian dilanjutkan dengan penyajian hasil penelitian.
2. Analisis Data
1) Pengolahan Data
Tahap dalam pengolahan data (Notoatmodjo, 2012), yaitu :
(1) Editing
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus
dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum
editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan
perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut.
(2) Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya
dilakukan peng “kodean” atau “coding”, yakni mengubah data
berbentuk kalimat atau huruf menjadi angka atau bilangan.
Pemberian kode untuk setiap jawaban sesuai dengan definisi
operasional yang telah diisi di dalam kuesioner.
(3) Scoring
Scoring yaitu mendapatkan skor untuk setiap variabel. Mensortir
dengan memilih atau mengelompokkan data menurut jenis yang
dikehendaki (klasifikasi data).
(4) Processing atau Entry Data

47
Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden
yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke
dalam program atau “software” komputer.
(5) Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden
selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat
kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode,
ketidaklengkapan, dan sebagainya kemudian dilakukan
pembetulan atau koreksi.
2) Analisis Data
(1) Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian, baik
independen maupun dependen (Notoatmodjo, 2012). Analisis
univariat digunakan untuk memperoleh gambaran masing-masing
variabel yaitu variabel independen (Pengetahuan dan dukungan
keluaraga) dan variabel dependen (kepatuhan menjalani
kemoterapi).
(2) Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui tingkat kemaknaan
hubungan variabel Independen (pengetahuan dan dukungan
keluarga) dengan variabel Dependent (kepatuhan menjalani
kemoterapi) yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square,
yaitu untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel
tersebut. Apabila p ≤ 0,05 artinya terdapat hubungan yang
bermakna (Ho ditolak), sedangkan apabila p > 0,05 berarti tidak
terdapat hubungan yang bermakna (Ho gagal ditolak).
3.8 Etika Penelitian
Hidayat (2008) masalah etika penelitian keperawatan yang sangat
penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan

48
langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Informed consent (Persetujuan)
Diberikan sebelum melakukan penelitian yaitu berupa lembar
persetujuan untuk mejadi responden. Bertujuan agar subjek mengerti
maksud dan tujuan penelitian dan mengetahui dampak nya. Jika subjek
tersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika
responden tidak bersedia ,maka penelitian harus menghormati keputusan
tersebut.
2. Anonimity (Tanpa Nama)
Menjelaskan bentuk penulisan kuesioner dengan tidak perlu
mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, hanya menulis
kode pada lembar pengumpulan data.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Menjelaskan masalah-masalah responden yang harus dirahasiakan
dalam penelitian. Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan
dijaminan kerahasiaan oleh penelitian, hanya kelompok data tertentu
yang akan dilaporkan dalam hasil penelitian.
4. Privasi
Merupakan jaminan dalam menggunakan respon dan peneliti yang
mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus
dirahasiakan .
5. Fair treatment
Merupakan jaminan kepada responden untuk diperlakukan secara
adil dan baik sebelum dan sesudah keikutsertaaanya dalam penelitian
tanpa ada diskriminasi apabila ternyata tidak bersedia ataupun droup out
sebagai responden
6. Self determinition
Merupakan jaminan yang diberikan kepada responden penelitian
agar dilakukan secra manusiawi. Subjek memiliki hak memutus untuk
bersedia menjadi responden ataupun tidak, tanpa ada sanksi

49
DAFTAR PUSTAKA

Firmana, D. (2017). Keperawatan Kemoterapi. Jakarta. Salemba Medika.

Padila. (2012). Keperawatan medikal bedah. Yogyakarta. Nuha Medika.

Rasjidi, I . (2009). Deteksi Dini & Pencegahan Kanker Serviks. Jakarta. Sagung
Seto.

Puspita, S. (2015). Stop Kanker Serviks. Yogyakarta. Notebook.

Tilong, D. (2012). Bebas Dari Ancaman Kanker Serviks. Jogjakarta. flash books

Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif & kualitatif. Yogyakarta. Graha


Ilmu.

Lestari, T . (2014). Kumpulam Teori Untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.


Yogjakarta. Nuha Medika.

Padila. (2013). Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogjakarta. Nuha Medika

Friedman. (2010). Konsep Keperawatan Keluarga. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran EGC

Rahayu. (2015). Asuhan Ibu Dengan Kanker Serviks. Jakarta : Penerbit Buku
Salemba Medika

Riskesdas. 2013. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementrian


Kesehatan RI Tahun 2013. Kepala Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jakarta

Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka


Cipta

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka


Cipta

50
LeMone, P . 2015. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed. 5, Vol. 1. Jakarta.
EGC

Budiman, A. Khambri, D., dan Bachtiar, H. 2013. “Faktor Yang Mempengaruhi


Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah
Operasi Kanker”. Jurnal Kesehatan Andalas. Volume 2/Nomor 1.

Komatsu, H., Yagasaki, K., dan Yoshimura, K. 2014. “Current Nursing Practice
For Patien On Oral Chemotherapy : A Multicenter Survey In Japan”.
Biomed Central Research Notes. Volume7/ Nomor 259.

Pratiwi, T. F. 2012. “Kualitas Hidup Pasien Kanker”. Development and Clinical


Psychology. Volume 1/Nomor 1.

Setyaningsih, F.D. 2011. Hubungan antara Dukungan Emosional Keluarga dan


Resiliensi dengan Kecemasan Mengahadapi Keoterapi Pada Kanker
Di RSUD. Dr. Moewardi Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

51