Anda di halaman 1dari 27

PERBEDAAN PERMENKES RI NOMOR 35 TAHUN 2014 dan PERMENKES RI NOMOR 73 TAHUN 2016

TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK

NO Permenkes RI 35 Tahun 2014 Permenkes RI 73 Tahun 2016

Bagian Menimbang : Bagian Menimbang :


a. bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan a. bahwa Peraturan Menteri Kesehatan
kefarmasian di Apotek yang berorientasi Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar
kepada keselamatan pasien, diperlukan suatu Pelayanan Kefarmasian di Apotek
standar yang dapat digunakan sebagai acuan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
dalam pelayanan kefarmasian di Apotek Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2016
1 b. bahwa Keputusan Menteri Kesehatan Nomor tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Pelayanan Farmasi di Apotek sudah tidak Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masih belum memenuhi kebutuhan hukum
hukum; di masyarakat sehingga perlu dilakukan
c. bahwa berdasarkan pertimbangan perubahan;
sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b. bahwa berdasarkan pertimbangan
huruf b, serta untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu
Pasal 21 ayat (4) Peraturan Pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Kefarmasian, perlu menetapkan Peraturan Apotek;
Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek;

Bagian mengingat :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998
tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan
Bagian Mengingat :
Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Indonesia Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan
Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik
2 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
Indonesia Tahun 2014 Nomor 298, Tambahan
3781)
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
b. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
5607)
189/Menkes/SK/III/2006 tentang Kebijakan
Obat Nasional;
c. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi,
Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga
Kefarmasian (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 322);
Pasal 1:
a. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga
yang membantu apoteker dalam menjalani
Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas
Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, dan
Pasal 1 :
Analis Farmasi
Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang
b. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
membantu apoteker dalam menjalani Pekerjaan
3 yang selanjutnya disingkat Kepala BPOM
Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
adalah Kepala Lembaga Pemerintah Non
Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga
Kementerian yang mempunyai tugas untuk
Menengah Farmasi/Asisten Apoteker
melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan.
c. Menteri adalah menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.
Pasal 10 :
(1) Pengawasan selain dilaksanakan oleh
Menteri, kepala dinas kesehatan provinsi
dan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat
(1), khusus terkait dengan pengawasan
sediaan farmasi dalam pengelolaan sediaan
farmasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (1) huruf a dilakukan juga oleh
Kepala BPOM sesuai dengan tugas dan
fungsi masing-masing.
(2) Selain pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Kepala BPOM dapat
melakukan pemantauan, pemberian
bimbingan, dan pembinaan terhadap
pengelolaan sediaan farmasi di instansi
pemerintah dan masyarakat di bidang
pengawasan sediaan farmasi.
Pasal 11:
(1) Pengawasan yang dilakukan oleh dinas
kesehatan provinsi dan dinas kesehatan
kabupaten/kota sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 dan pengawasan yang
dilakukan oleh Kepala BPOM sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)
dilaporkan secara berkala kepada Menteri.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disampaikan paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun.

Pasal 12 :
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam
Peraturan Menteri ini dapat dikenai sanksi
administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas: a. peringatan
tertulis; b. penghentian sementara kegiatan;
dan/atau c. pencabutan izin
Pasal 13 :
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku,
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 1162) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35
Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor
1169), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
Lampiran BAB II Penyimpanan
Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan
untuk penyimpanan barang lainnya yang
menyebabkan kontaminasi
Lampiran BAB II Pemusnahan :
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan
Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat
digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan. 4. Penarikan sediaan farmasi
yang tidak memenuhi standard/ketentuan peraturan
perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin
edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM
(mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi
sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)
dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala
BPOM. 5. Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan
Medis Habis Pakai dilakukan terhadap produk yang
izin edarnya dicabut oleh Menteri.
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang Lampiran BAB II Pencatatan dan pelporan :
dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang
ketentuan peraturan perundang-undangan meliputi dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan
pelaporan narkotika (menggunakan Formulir 3 ketentuan peraturan perundangundangan, meliputi
sebagaimana terlampir), psikotropika (menggunakan pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan
Formulir 4 sebagaimana terlampir) dan pelaporan lainnya. Petunjuk teknis mengenai pencatatan dan
lainnya. pelaporan akan diatur lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal.
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan,
pemeriksaan ketersediaan, penyiapan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai termasuk peracikan Obat, pemeriksaan,
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil
penyerahan disertai pemberian informasi. Pada
pengkajian maka Apoteker harus menghubungi
setiap tahap alur pelayanan Resep dilakukan upaya
dokter penulis Resep.
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian Obat
(medication error). Petunjuk teknis mengenai
pengkajian dan pelayanan Resep akan diatur lebih
lanjut oleh Direktur Jenderal.
Kemenkes Keluarkan Permenkes Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek

Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, mengeluarkan Peraturan Menteri


Kesehatan RI (Permenkes/PMK) terbaru Nomor 9 Tahun 2017 terkait Apotek
pada 30 Januari 2017 dan mulai berlaku sejak 13 Februari 2017. PMK ini dibuat
untuk meningkatkan aksesibilitas, keterjangkauan, dan kualitas pelayanan
kefarmasian kepada masyarakat, perlu penataan penyelenggaraan pelayanan
kefarmasian di Apotek.

Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993


tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik sebagaimana telah
diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002
tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotik perlu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan hukum.

Total 36 pasal beserta lampirannya dengan lengkap mengatur Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotik serta penataan pelayanan kefarmasian di Apotek.

Pengaturan Apotek ini bertujuan untuk:

1. meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di Apotek;

2. memberikan perlindungan pasien dan masyarakat dalam memperoleh pelayanan


kefarmasian di Apotek; dan

3. menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dalam memberikan


pelayanan kefarmasian di Apotek.

Berikut beberapa aturan terkait pendirian apotek :

1. Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
2. Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerjasama dengan pemilik
modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Apoteker yang bersangkutan.

Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:

1. lokasi;

2. bangunan;

3. sarana, prasarana, dan peralatan; dan

4. ketenagaan.

Dalam PMK ini dijelaskan dengan detil mengenai rincian persyaratan pendirian
apoteknya.

Terkait perizinan, setiap apotek masih membutuhkan Surat Izin Apotek (SIA),
yakni

1. Setiap pendirian Apotek wajib memiliki izin dari Menteri.

2. Menteri melimpahkan kewenangan pemberian izin sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa SIA.

4. SIA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi


persyaratan.

KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 33
(1) Permohonan izin Apotek yang telah diajukan sebelum berlakunya Peraturan
Menteri ini tetap diproses berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik.

(2) Izin Apotek yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan


Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotik dinyatakan masih tetap berlaku sampai dengan 5 (lima)
tahun sejak Peraturan Menteri ini diundangkan.

(3) Apotek yang telah melakukan pelayanan kefarmasian berdasarkan Peraturan


Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan
Tata Cara Pemberian Izin Apotik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik wajib menyesuaikan dengan
ketentuan dalam Peraturan Menteri ini paling lama 2 (dua) tahun sejak Peraturan
Menteri ini mulai berlaku.
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 35
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotik, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
PENYIMPANAN OBAT

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 411//Dir-SK/XII/2016

TENTANG

PEDOMAN PENYIMPANAN OBAT RUMAH SAKIT

DIREKTUR RUMAH SAKIT

MENIMBANG :

a. Bahwa perbekalan farmasi adalah terdiri dari obat, alat kesehatan, reagen,
gas medis, ataupun film.
b. Bahwa perbekalan farmasi harus dikelola dan menjadi tanggung jawab
Instalasi Farmasi.
c. Bahwa dalam pengelolaan perbekalan farmasi perlu dilakukan
penyimpanan perbekalan farmasi sesuai dengan aturan yang berlaku
sehingga tidak mengurangi mutu dari perbekalan farmasi tersebut.
d. Bahwa untuk menjamin perbekalan farmasi disimpan secara aman, sesuai
dengan dan menjaga mutu dan stabilitas obat maka perlu ditetapkan Surat
Keputusan Direktur tentang Pedoman Penyimpanan Obat.

MENGINGAT :

1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit


2. Undang-Undang RI Nomor 7 tahun 1963 tentang Farmasi.
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3 tahun 2015 tentang Peredaran,
Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, psikotropika, dan
Prekusor Farmasi.
4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 tahun 1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197 tahun 2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.
MEMUTUSKAN

MENETAPKAN :

KESATU : Peyimpanan perbekalan farmasi di pelayanan farmasi dan


seluruh ruang keperawatan menjadi tanggung jawab dari Instalasi Farmasi.

KEDUA : Aturan dan tata cara penyimpanan perbekalan farmasi di


Rumah Sakit terlampir dalam Surat Keputusan ini.

KETIGA : Kebijakan ini berlaku selama 3 tahun dan akan dilakukan


evaluasi minimal 1 tahun sekali.

KEEMPAT : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan,


maka akan dilakukan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di

Tangerang

30 Desember 2016

RUMAH SAKIT TANGERANG

Direktur
TEMBUSAN Yth :

1. Wadir Pelayanan Medis

2. Komite Medis

3. Seluruh Dokter di Rumah Sakit

4. Kepala Bagian Keperawatan

5. Seluruh Kepala Ruang Keperawatan

6. Instalasi Farmasi

7. Arsip

LAMPIRAN SURAT PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 411/Dir-SK/XII/2016

TANGGAL : 30 Desember 2016

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengelolaan obat di rumah sakit sangat penting karena ketidakefisienan akan


memberikan dampak negatif terhadap rumah sakit, baik secara medis maupun
ekonomis (Anonim, 1994). Pengelolaan obat tidak hanya mencakup aspek logistik
saja, tetapi juga mencakup aspek informasi obat, supervisi dan pengendalian
menuju penggunaan obat yang rasional (Justicia, 2009).

Dalam pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit tahapan yang penting


adalah proses penyimpanan. Penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan
perbekalan farmasi menurut persyaratan yang telah ditetapkan disertai dengan
sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai
kebutuhan. Tujuan dari manajemen penyimpanan obat adalah untuk melindungi
obat-obat yang disimpan dari kehilangan, kerusakan, kecurian, terbuang sia-sia,
dan untuk mengatur aliran barang dari tempat penyimpanan ke pengguna melalui
suatu sistem yang terjangkau (Anonim, 2006).

Definisi Penyimpanan perbekalan farmasi secara umum adalah suatu kegiatan


menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan perbekalan farmasi yang
diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang
dapat merusak mutu obat. Penyimpanan perbekalan farmasi dimaksudkan juga
untuk pengaturan tempat penyimpanan perbekalan farmasi sesuai dengan
peraturan yang berlaku dan memudahkan dalam pengontrolan ketersediaan
perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.

Dalam upaya terciptanya sistem penyimpanan perbekalan farmasi yang baik,


Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau
prosedur untuk mengatur tempat penyimpanan menurut bentuk sediaan dan
jenisnya, suhu dan kestabilannya, sifat bahan (b3, mudah tidaknya meledak atau
terbakar), tahan tidaknya terhadap cahaya, tingkat kewaspadaan (obat-obat
kewaspadaan tinggi ).

B. TUJUAN

Tujuan Umum :

Terwujudnya sistem penyimpanan yang baik, memudahkan dalam pengelolaan


dan pencarian sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Tujuan Khusus :

1. Memelihara mutu sediaan farmasi

2. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab

3. Menjaga ketersediaan
4. Memudahkan dalam pencarian dan pengawasan

C. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup penyimpanan perbekalan farmasi meliputi :

1. Instalasi Farmasi

2. Gudang Farmasi

3. Ruang perawatan

4. Poliklinik rawat jalan

5. ICU

6. Laboratorium

7. Radiologi

BAB II

TATA LAKSANA

A. PENERIMAAN

Tahapan awal sebelum obat disimpan adalah penerimaan. Penerimaan perbekalan


farmasi dari distributor di rumah sakit menggunakan sistem 1 pintu dilakukan di
logistik farmasi. Penerimaan perbekalan farmasi harus sesuai dengan surat
pesanan dan memperhatikan kualitas dan kuatintas perbekalan farmasi yang
diterima. Sebelum diterima perbekalan farmasi harus dicek. Pengecekan
perbekalan farmasi meliputi :

a. Nama pemesan di faktur

b. Nama perbekalan farmasi

c. Jumlah
d. Kekuatan untuk obat

e. Waktu kadaluarsa dan

f. Kondisi fisik obat.

B. PENYIMPANAN

Penyimpanan perbekalan farmasi di rumah sakit dikendalikan oleh kepala


instalasi farmasi. Penyimpanan dilakukan di depo – depo farmasi, laboratorium,
radiologi, poliklinik, ruang perawatan dan unit khusus. Penyimpanan di depo
farmasi dibedakan menurut :

1. Bentuk Sediaan dan Jenisnya, Perbekalan farmasi di tata menurut bentuk


sediaannya meliputi:
a. Tablet, kaplet, kapsul dan puyer di tata sesuai abjad
b. Syrup dan larutan obat minum ditata sesuai abjad
c. Injeksi dan infus obat di tata sesuai abjad
d. Salep, cream, lotion dan powder ditata sesuai abjad
e. Tetes mata dan salep mata ditata sesuai abjad
f. Tetes telinga di tata sesuai abjad
g. Infus dasar ditata di atas palet
h. Alkes ditata terpisah dari obat disesuaikan dengan tempat
penyimpanannya.
i. Bahan – bahan kimia yang bukan termasuk B3 di tata tersendiri terpisah
dengan obat dan alkes
Perbekalan farmasi ditata menurut jenisnya meliputi :
a. Obat narkotika di simpan dilemari terpisah, tertutup, rangkap dua dan
terkunci
b. Obat psikotropika di simpan dilemari terpisah, tertutup, dan terkunci
c. Obat generik
d. Obat HIV
e. Obat paten
2. Suhu dan Kestabilannya

Suhu penyimpanan perbekalan farmasi meliputi :

a. Suhu ruang terkontrol (20˚C-25˚C)

b. Suhu Refrigerator (2˚C-8˚C)

c. Suhu Freezer (-20˚ C) - (-10˚C). Freezer yang digunakan untuk menyimpan


obat berupa freezer yang terpisah dari refrigerator, bukan kombinasi refrigerator-
freezer.

d. Suhu Warmer (maksimun tidak boleh lebih dari 43˚C).

Untuk memantau suhu penyimpanan perbekalan farmasi, maka :

a. Setiap tempat dan atau ruang penyimpanan perbekalan farmasi harus dipasang
termometer ruangan.

b. Suhu ruangan dan suhu kulkas dicek dan dicatat pada blangko suhu yang di
tempatkan di dekat thermometer suhu.

c. Pemantauan suhu ruang dan suhu kulkas penyimpanan obat dilakukan setiap
hari oleh asisten apoteker atau staff terlatih yang ditunjuk secara sah.

d. Pemantauan suhu di dalam ruang dan suhu di kulkas penyimpanan obat


dilakukan dengan cara melihat dan membaca suhu yang tertera pada termometer
dan kulkas. Suhu dicatat pada log temperatur pada jam 08.00 pagi, jam 15.00
siang dan jam 22.00 malam untuk unit pelayanan 24 jam.

e. Khusus pada hari libur, untuk depo dan unit yang tutup pemantauan suhu
dilakukan setelah petugas masuk kerja.

f. Pada kondisi suhu ruang atau suhu kulkas penyimpanan perbekalan farmasi di
luar rentang suhu yang seharusnya, maka petugas harus segera menghubungi unit
pemeliharaan alat rumah sakit.
Dokumentasi pemantauan suhu penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan setiap
hari dengan menggunakan form log temperatur yang telah ditentukan dan pada
akhir bulan ditandatangani oleh kepala bagian/kepala unit/kepala ruangan.

3. Sifat Bahan ( mudah tidaknya meledak atau terbakar ).

Penyimpanan B3 ( bahan berbahaya dan beracun ) :

a. Mengikuti standar dalam MSDS masing-masing bahan

b. Terpisah dari obat dan alat kesehatan lainnya.

c. Tempat penyimpanan tersendiri dan selalu terkunci, Memiliki ventilasi yang


baik dan memiliki wastafel.

4. Tahan Tidaknya Terhadap Cahaya.

Penyimpanan obat yang tidak tahan cahaya dilakukan di dalam kemasan


tertutup dan gelap.

5. Tingkat Kewaspadaan (obat-obat HAM). Penyimpanan obat-obat HAM


diatur dalam kebijakan penyimpanan obat-obat kewaspadaan tinggi.

Penyimpanan Perbekalan Farmasi Khusus

1. Penyimpanan Produk Nutrisi

Penyimpanan produk nutrisi di Rumah Sakit ada 4 macam, meliputi :


a. Penyimpanan produk nutrisi enteral yang belum diolah dilakukan di bagian gizi
dan instalasi farmasi terpisah dengan bahan lain.

b. Penyimpanan produk nutrisi enteral yang sudah diolah penyimpanannya sesuai


dengan kebijakan dari instalasi gizi.

c. Penyimpanan produk nutrisi parenteral yang masih utuh di instalasi farnasi dan
ruang keperawatan disimpan terpisah dari perbekalan farmasi lain.

d. Penyimpanan produk nutrisi parenteral yang sudah direkonstitusi di ruang


perawatan disimpan pada suhu 2 – 6 ◦C ( dalam kulkas ).

2. Penyimpanan Kontras

Penyimpanan kontras dilakukan dengan mengikuti standar MSDS dan terpisah


dari obat dan alat kesehatan lainnya. Penyimpanan dilakukan di bagian radiologi.

3. Penyimpanan Reagen

Penyimpanan reagen dilakukan dengan mengikuti standar MSDS dan terpisah


dari obat dan alat kesehatan lainnya. Penyimpanan dilakukan di bagian
laboratorium.

C. PENINGKATAN KEAMANAN PERBEKALAN FARMASI

Dalam meningkatkan keamanan penyimpanan perbekalan farmasi maka segala


tempat penyimpanan perbekalan farmasi harus dikunci setiap tidak ada penjaga
atau petugas di tempat penyimpanan perbekalan farmasi.
Selain mengunci tempat perbekalan farmasi, petugas yang masuk ke dalam tempat
tempat perbekalan farmasi dibatasi, antara lain :

1. Petugas logistik farmasi

2. Petugas farmasi

3. Petugas instalasi lain untuk pengadaan perbekalan farmasi

4. Petugas dari instansi yang berwenang melakukan pemeriksaan

Dalam prakteknya apabila dibutuhkan perbekalan farmasi yang berada di depo


farmasi sudah tutup diatur dalam kebijakan pelayanan perbekalan farmasi saat
depo farmasi tutup. Untuk mendukung pengawasan perbekalan farmasi, logistik
farmasi dilengkapi dengan CCTV untuk pengawasan dari kehilangan barang dan
penyalahgunaan perbekalan farmasi.

D. BARANG-BARANG PERBEKALAN FARMASI

Perbekalan farmasi yang disimpan harus memiliki informasi yang jelas, meliputi
nama, kekuatan dan bentuk sediaan obat, peringatan, tanggal kadaluarsa atau
beyond use date, informasi penyimpanan dari pabrik sebelum produk dibuka
maupun setelah dibuka.

E. PENYUSUNAN PERBEKALAN FARMASI

Perbekalan farmasi disimpan dan disusun dengan menggunakan metode :

1. Alfabetis

2. FIFO (first in first out) perbekalan farmasi yang pertama kali masuk (diterima)
itu yang pertama kali dikeluarkan ( didistribusikan ).
Metode ini digunakan untuk penyusunan alkes.

3. FEFO (First Expired First Out perbekalan farmasi yang tanggal kadaluarsa
awal (hampir kadaluarsa) dikeluarkan (didistribusikan) terlebih dahulu. Metode
ini digunakan untuk penyusunan obat.

F. PENYIMPANAN OBAT-OBAT KADALUARSA

Obat dan alat kesehatan yang telah kadaluarsa atau rusak disimpan di lemari
terpisah dan terkunci. Pada lemari harus diberi label “Obat Rusak/Kadaluarsa,
Jangan Diracik/Digunakan”.

G. PENYIMPANAN OBAT-OBATAN DI BANGSAL KEPERAWATAN

1. Obat untuk pasien rawat inap disimpan diloker tempat penyimpanan obat
pasien yang dikelola oleh perawat bekerja sama dengan bagian farmasi.

2. Obat untuk pasien rawat inap harus memiliki label identitas pasien dan nama,
jumlah dan kekuatan obat.

3. Obat yang digunakan untuk banyak pasien di rawat inap di simpan dengan
diberi label dan terpisah dari obat yang belum digunakan.

4. Obat obat yang digunakan untuk banyak pasien di rawat inap , setelah dibuka
diberikan label informasi tanggal dibuka dan disimpan sesuai persyaratan
penyimpanan. Masa obat setelah dibuka dibatasi maksimal 30 hari setelah obat
pertama kali segel dibuka.
H. PENYIMPANAN OBAT-OBATAN SISA

Obat injeksi di kamar operasi bentuk ampul yang sudah dipakai sebagian, sisa
obatnya di spuit, diberi label yang badan disimpan dalam kulkas yang berisi
tanggal pemakaian terakhir, nama obat, dosis obat, dan nama perawat (batas
maksimal obat dapat digunakan 24 jam setelah obat pertama kali dibuka
segelnya). Obat sisa penyimpanannya tidak lebih dari 24 jam.

I. PENYIMPANAN OBAT SAMPLE

Rumah sakit menyimpan dan mengelola obat sample di atur yang diatur dalam
kebijakan obat sample.

J. PENGECEKAN TANGGAL KADALUARSA

Pengecekan tanggal kadaluarsa :

1. Pengecekan tanggal kadaluarsa obat dan alkes di setiap area penyimpanan


dilakukan setiap sebulan sekali. Dilakukan oleh petugas logistik farmasi, petugas
instalasi farmasi, dan keperawatan.

2. Enam bulan sebelum tanggal kadaluarsa, semua perbekalan farmasi harus sudah
dikembalikan ke Depo Logistik Farmasi.

BAB III

PENUTUP

Pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit sangat penting fungsinya bagi


terwujudnya pelayanan perbekalan farmasi yang baik. Pengelolaan perbekalan
farmasi yang baik didukung juga dengan sistem penyimpanan yang baik untuk
perbekalan farmasi diseluruh unit pelayanan di rumah sakit. Untuk membangun
sistem penyimpanan yang baik dan menerapkanya diperlukan kerja sama dari
semua unit pelayanan, mulai dari farmasi, perawat, radiologi, laboratorium,
dokter, manajer dan direksi rumah sakit untuk mendukung sistem penyimpanan
perbekalan farmasi yang sudah dibuat.

Contoh Penyimpanan Obat :

Dumin suppos

Kemasan
Dumin 125 mg / 2,5 ml Rektal Tube
Tersedia dalam kotak berisi 5 Rektal tube @ 2,5 ml
No. Reg.: DBL0105510758A1

Dumin 250 mg / 4 ml Rektal Tube


Tersedia dalam kotak berisi 5 Rektal tube @ 4 ml
No. Reg.: DBL0105510758B1

Simpan pada suhu 15°C-25°C


Jauhkan dari jangkauan anak-anak

FLADYSTIN OVULA
Komposisi :
Tiap ovula mengandung :
Metronidazol 500,0 mg
Nystatin 22,7 mg
(setara dengan 100.000 IU)

SIMPAN PADA LEMARI PENDINGIN


ATAU SUHU DINGIN (ANTARA 2-8oC)
TERLINDUNG DARI CAHAYA.
L-BIO

KOMPOSISI
Setiap 1 gram sachet mengandung :
Rice Starch
Maltodextrin
Strain Bakteri :
-Bifidobacterium lactis WS1
-Bifidobacterium lactis WS2
-Lactobacillus acidophilus WS5
-Lactobacillus casei W56
-Lactobacillus salivarius W57
-Lactobacillus lactis W58
total koloni bakteri > 10^8 cfu/gr

KEGUNAAN L-BIO
Memelihara kesehatan pencernaan

DOSIS PER HARI (DAILY DOSAGE):


Anak & Dewasa (Child & Adult) :
Di bawah 2 tahun :
Sesuai dengan anjuran dokter

2 tahun - dewasa :
2 - 3 sachet / hari.
(sesua anjuran dokter)

PETUNJUK PEMAKAIAN :
Gunakan gunting yang bersih untuk membuka.
Dapat diberikan langsung
Campurkan L-Bio dengan makanan bayi aduk hingga rata
Atau anda dapat campurkan L-Bio dengan susu atau air.

PENYIMPANAN
Hindari kontak dengan sinar matahari langsung , kelembabban & suhu tinggi
Simpan & distribisukan pada suhu maksimum 25 derajat selcius
segera berikan sesudah dibuka

PROBIOKID® merupakan kombinasi dari 3 galur Probiotik dan 1 Prebiotik.


Menurut United Nations Food and Agriculture Organization dan World Health
Organization. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang bila diberikan
dalam jumlah cukup dapat memberikan manfaat kesehatan pada tubuh manusia.
Prebiotik terkandung dalam makanan yang berfungsi sebagai bahan bakar
Probiotik, merangsang pertumbuhan dan/ atau aktivitasnya.
Kombinasi dari Bifidobacterium bifidum R0071 dengan Bifidobacterium infantis
R0033 ditemukan dalam usus besar; Lactobacillus helveticus R0052 ditemukan
dalam usus kecil. Mereka membantu meningkatkan perlindungan terhadap bakteri
dan menyeimbangkan mikroflora yang penting bagi pertahanan tubuh.
KEGUNAAN
Sebagai suplemen untuk membantu memelihara kesehatan pencernaan.

PERHATIAN

 Pasien yang mengalami luka terbuka akibat penggunaan central venous


catheters dan paska pembedahan. khususnya setelah pembedahan usus besar dan
mulut (termasuk cabut gigi) merupakan daerah yang berpotensi sebagai jalan
masuk mikroba ke dalam aliran darah.
 Pasien dengan gangguan pankreas.
 Anak-anak di bawah 3 tahun dengan short bowel syndrome. Asidosis D-
laktat merupakan hal yang penting bagi bayi yang mengalami short bowel
syndrome. Harus diberikan perhatian khusus untuk mencegah galur-galur bakteri
menghasilkan D-laktat.
 Pasien yang mengalami diare akut dengan pendarahan yang parah,
khususnya pada bayi dan orang tua, karena pelindung usus yang permeabel
merupakan tempat yang berpotensi terhadap masuknya mikroba ke dalam aliran
darah.
 Pasien yang mengalami immunocompromised dan immunosuppressed
yang parah termasuk pasien yang menjalani kemoterapi dan allograft.

ATURAN PAKAI
Digunakan atas anjuran dokter. Sehari 1 kali 1 sachet. maksimum selama 10 hari .

PROBIOKID® hanya untuk anak-anak diatas 3 tahun dan dewasa.

KEMASAN
Dus Isi 10 sachet @ 1.5 g.
No. Reg.: POM SI. 124 203 871

PENYIMPANAN
Simpan di tempat sejuk (15° - 25°C) dan kering.