Anda di halaman 1dari 31

Surat Keputusan Direktur RSPP

No. Kpts-0020/B00000/2013-S0
Tanggal 01 Juli 2013

PEDOMAN
PELAYANAN DAN PENGORGANISASIAN LUKA BAKAR
(BURN UNIT)

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA


2 0 1 3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Luka bakar merupakan trauma yang merusak (devasting injury) dan di ikuti oleh angka
mortalitas tinggi. Dengan kerusakan jaringan yang terjadi demikian kompleks
permasalahan yang timbul sehingga luka bakar memerlukan penatalaksanaan yang
mengacu pada pendekatan multidisipliner secara terpadu dalam suatu tim medis,
tenaga-tenaga dari berbagai disiplin ilmu terkait bersama-sama mengatasi masalah yang
dijumpai dan membuahkan keberhasilkan dengan turunnya angka mortalitas.
Tim luka bakar terpadu adalah sekelompok professional dari berbagai disiplin ilmu yang
tergabung dalam suatu tim bersama-sama saling mendukung dalam upaya mengatasi
permasalahan pada luka bakar khususnya pada fase akut, keterpaduan disiplin ilmu
seperti anastesi, pulmonologi, kardiologi, internist, gizi klinik, psikiater dan rehabilitasi
medik.
Luka bakar sebagaimana bidang keilmuan lainnya berkembang sejalan dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan perjalanan waktu.banyak perubahan prinsipil terjadi dan
hal ini terlihat dampaknya dalam aspek manajemen penatalaksanaan penyakit.
Sebelumnya orientasi permasalahan yang dihadapi adalah berkisar di seputar proses
penyembuhan luka. Permasalahan saat ini selain masalah komplikasi yang terjadi acute
renal failure dan stress ulcer ,tingginya angka kematian di kaitkan dengan kejadian
infeksi yang dikenal dengan terminology sepsis, metabolism konsep systemic
inflammatory response syndrome (SIRS) dan multisystem organ dysfunction syndrome
(MODS). Orientasi mengenai kasus luka bakar lebih terfokus pada permasalahan di
seputar acute burn injury. Disisi lain penatalaksaaan proses penyembuhan luka juga
mengalami perkembangan dengan konsep early debridement dan STSG dapat
memempercepat penyembuhan.
Unit perawatan luka bakar saat ini terdiri dari pelayanan perawatan ICU ,pelayanan
bedah, pelayanan anastesi dan perawatan luka. Oleh sebab itu, dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan unit perawatan luka bakar secara keseluruhan di RSPP
disusunlah Pedoman Pelayanan Unit Luka Bakar

1
B. TUJUAN PEDOMAN
Kebijakan pelayanan bertujuan untuk memberikan panduan praktis mengenai intervensi
klinis yang relevan yang diperlukan untuk manajemen pasien yang efektif.

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Ruang lingkup pelayanan perawatan luka bakar di RSPP meliputi Pelayanan
Keperawatan ICU luka bakar, pelayanan bedah, pelayanan anastesi, pelayanan
perawatan luka dan pelayanan rehabilitasi.
Pelayanan yang diberikan dalam pelayanan perawatan luka bakar adalah:
1. Pelayanan anestesia peri-operatif merupakan pelayanan anestesia yang
mengevaluasi, memantau dan mengelola pasien pra, intra dan pasca
anestesia serta terapi intensif dan pengelolaan nyeri berdasarkan
keilmuan yang multidisiplin.
2. Pelayanan pasien kondisi kritis diperlukan pada pasien dengan
kegagalan organ yang terjadi akibat komplikasi akut penyakitnya atau
akibat terapi yang diberikan.
3. Pelayanan intervensi bedah untuk pengelolaan dan penatalaksanaan luka.
4. Pelayanan perawatan luka bakar pre dan post operasi dengan memperhatikan
kedalaman dan luas luka bakarnya.
5. Pelayanan psikologis baik pasien dan keluarga yang menunjang untuk mempercepat
penyembuhan.
6. Pelayanan rehabilitasi medis yang diperlukan untuk penanganan kontraktur.

D. BATASAN OPERASIONAL
Pasien kritis dengan perawatan di ruang ICU (Intensif Care Unit) memiliki morbiditas dan
mortalitas yang tinggi. Mengenali ciri-ciri dengan cepat dan penatalaksanaan dini yang
sesuai dengan pasien berisiko kritis atau pasien yang berada dalam keadaan kritis dapat
membantu mencegah perburukan lebih lanjut dan memaksimalkan peluang untuk
sembuh. Comprehensive Critical Care Department of Health Inggris merekomendasikan
untuk memberikan perawatan kritis sesuai filosofi perawatan kritis tanpa batas (critical
care without wall), yaitu kebutuhan pasien kritis harus dipenuhi di manapun pasien
tersebut secara fisik berada di dalam rumah sakit.
Hal ini dipersepsikan sama oleh tim pelayanan luka bakar bahwa pasien kritis
memerluka pencatatan medis yang berkesinambungan dan monitoring penilaian setiap
tindakan yang dilakukan. Dengan demikian pasien luka bakar kritis erat kaitannya

2
dengan perawatan intensif oleh karena dengan cepat dapat dipantau perubahan
fisiologis yang terjadi atau terjadinya penurunan fungsi organ-organ tubuh lainnya.

E. LANDASAN HUKUM
1. Undang – undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
2. Undang – undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Undang – undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
4. Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin Praktek dan
Pelaksanaan Praktek Kedokteran.
6. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1203/Menkes/SK/XII/2008 tentang Standar
Pelayanan ICU.
7. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK.02.04/I/1966/11 tentang
Petunjuk Tekhnis Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU) di Rumah
Sakit.

3
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Tenaga yang terlibat dalam pelayanan perawatan luka bakar terdiri dari tenaga Burn
Surgeon, dokter spesialis bedah plastic dan bedah, dokter umum ruangan yang telah
mengikuti pelatihan ICU, Bedah Dasar dan Burn Course. Tenaga tersebut
menyelenggarakan pelayanan intensif luka bakar sesuai dengan kompetensi dan
kewenangan yang diatur oleh RSPP.
Pola ketenagaan dan kualifikasi perawat luka bakar adalah :

NO Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan

1 Kepala SMF - Bedah Luka Bakar - Sertifikasi Burn Surgeon


bedah plastik - Dokter Spesialis bedah - ACLS/ATLS
plastik (SpBP) - ABLS (Advance Burn Life
Suport)
2 Kepala Unit - D III Keperawatan - Bersertifikasi ICU/KD
Khusus - S1 Keperawatan - BCLS/ACLS
- Manajemen Keperawatan

3 Koord Ruang - D III Keperawatan - Bersertifikat ICU/KD


Luka Bakar - S1 Keperawatan - BCLS/ACLS
- Manajemen Keperawatan
- Burn Course
- Bedah Dasar
4 Koord Lay - D III Keperawatan - Bersertifikat ICU
Penunjang - S1 Keperawatan - BCLS/ACLS
Keperawatan - Pelatihan Alat Medik
- Burn Course
- Bedah Dasar
5 Ketua Regu - D III Keperawatan - Bersertifikat ICU
- S1 Keperawatan - BCLS/ACLS
- Pelatihan Operasional Alat
Medik
- Burn Course
- Bedah Dasar

4
6 Anggota Regu - D III Keperawatan - Bersertifikat ICU
- S1 Keperawatan - BCLS
- Pelatihan Operasional Alat
Medik
- Burn Course
6 Administrasi - D3 Umum - Operator Komputer
- S1 Umum - Komunikasi Baik
7 Pekarya - SLTP - Petugas Kebersihan
- SLTA - Kurir Dokumen

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Pola pengaturan ketenagaan ruang rawat Luka Bakar disesuaikan dengan kapasitas
tempat tidur yang dimiliki masing – masing ruangan yaitu:
1. Shift Pagi
Dinas pagi di ruang Luka Bakar berjumlah 2 – 3 orang perawat dan 1 orang dokter
umum yang merangkap ruang rawat inap Stroke Unit.
2. Shift Sore
Dinas sore di ruang Luka Bakar berjumlah 2 – 3 orang perawat dan 1 orang dokter
umum yang merangkap ruang rawat inap Unit A.
3. Shift Malam
Dinas malam di ruang Luka Bakar berjumlah 2 – 3 orang perawat dan 1 orang dokter
umum yang merangkap ruang rawat inap Unit A.
Setiap shift dinas dipimpin oleh seorang ketua regu dan dibantu oleh perawat pelaksana
yang terdiri dari 1-2 orang

C. PENGATURAN JAGA
1. Pengaturan Jaga Perawat Ruang Luka Bakar
a. Pengaturan jaga perawat shift mengikuti pola kerja yang berlaku di RSPP dimana
setiap ruangan terdiri dari 4 team yang dipimpin oleh seorang ketua regu. Pola
jaga adalah 3:1 yaitu 3 hari kerja dan 1 hari libur.
b. Pengaturan jadwal dinas perawat Unit Luka Bakar dibuat dan di pertanggung
jawabkan oleh masing-masing Koordinator Layanan Keperawatan dan disetujui
oleh Kepala Unit Rawat Inap Khusus.
c. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan oleh
perawat pelaksana masing – masing unit perawatan luka bakar setiap satu bulan.

5
d. Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka
perawat tersebut dapat mengajukan permintaan tukar dinas ke Koord Layanan
Keperawatan di Unit tersebut dengan seijin ketua regu yang tukar dinas.
Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada, apabila
tenaga cukup dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka Koord
Layanan Keperawatan Unit dapat menyetujui permintaan tukar dinas tersebut.
e. Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab shift (Ketua Regu)
dengan syarat pendidikan minimal D III / S1 Keperawatan dan masa kerja
minimal 3 tahun, serta memiliki sertifikat ICU dan Burn Course.
f. Jadwal dinas terbagi atas shift pagi, shift sore, shift malam, libur dan cuti.
g. Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai jadwal yang telah ditetapkan (terencana), maka perawat yang
bersangkutan harus memberitahu Koordinator Luka Bakar untuk pengaturan
tenaga selanjutnya, dan perawat tersebut dikategorikan cuti.

2. Pengaturan Jaga Dokter Umum Ruangan Luka Bakar


a. Pengaturan jadwal dokter jaga ruang luka bakar menjadi tanggung jawab Ka SMF
Dokter Umum dan disetujui oleh Wadir Medis.
b. Jadwal dokter jaga ruang luka bakar dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta
sudah diedarkan ke unit terkait
c. Apabila dokter jaga ruang luka bakar karena sesuatu hal sehingga tidak dapat
jaga sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :
1) Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke
Ka SMF Dokter Umum untuk menunjuk dokter jaga pengganti.
2) Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus
menginformasikan ke Ka SMF Dokter Umum menunjuk dokter jaga pengganti
atau dirangkap oleh dokter jaga ruangan rawat lain.
d. Pengaturan Jaga Dokter Konsulen
1) Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab Wadir
Medis.
2) Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 1 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait dan dokter konsulen yang bersangkutan 1 minggu
sebelum jaga di mulai.
3) Apabila dokter konsulen jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan maka dokter yang bersangkutan

6
harus menginformasikan ke Wadir Medis serta dokter tersebut wajib
menunjuk dokter jaga konsulen pengganti.

7
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANGAN

Ruang Luka Bakar

RUANG RAWAT UTILITY

RUANG ICU KORIDOR BU


RUANG RAWAT
RUANG TUNGGU

RUANG
PERAWAT
R. DOKTER
KAMAR OPERASI
RUANG ICU

GUDANG PANTRY RUANG ADM KAMAR


MANDI

RUANG GANTI SHOWER RUANG


ROOM LINEN

KORIDOR BURN UNIT

8
B. STANDAR FASILITAS
1. Fasilitas dan Sarana
Pelayanan perawatan Luka Bakar di RSPP terdiri dari layanan ICU 2 tempat tidur, 6
tempat tidur rawat biasa dan dilengkapi dengan fasilitas kamar operasi.
Sarana yang ada di ruang luka bakar adalah:
a. Area pasien dengan luas 3,25m2x5 m2 untuk per kamar ICU, untuk kamar biasa 5
m2x4,75 m2 dan 6,30 m2x6,30 m2 dengan jarak antar tempat tidur adalah 2m.
Masing – masing tempat tidur terdapat 3 outlet udara tekan dan stop kontak
antara 10 – 16 titik untuk seluruh ruangan.
b. Kamar Operasi yang berukuran 5 m2x4,25 m2 yang dilengkapi dengan peralatan
operasi. Ruangan operasi mandiri memudahkan transfer pasien luka bakar ke
kamar operasi. Dan juga meminimalkan potensi bahaya gagal gagal nafas pada
pasien kritis saat transfer karena kontinuitas dalam pemantauan.
c. Area kerja meliputi ruang staf dokter, ruang perawat, ruang administrasi, lemari
pendingin.
d. Lingkungan dengan pendingin ruangan antara 18-20 oC dengan kelembaban
antara 50 – 70%.Lingkungan yang terkontrol bertujuan untuk mengurangi tingkat
organisme udara sehingga meminimalkan kontaminasi silang dari luka bakar
dengan organisme udara.
e. Koridor di luar ruangan luka bakar memungkinkan pasien di ruangan luka bakar
bisa kontak visual dengan keluarga tanpa masuk kedalam ruangan untuk kontak
langsung.
f. Ruang penyimpanan peralatan dan barang bersih.
g. Ruang tempat pembuangan alat/bahan kotor.
h. Ruang tunggu keluarga pasien.

2. Peralatan
a. Peralatan yang tersedia di unit perawatan luka bakar untuk kamar ICU yang
mengacu kepada Buku Standar Pelayanan ICU Departermen Kesehatan RI untuk
penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien kritis sedangkan untuk kamar
operasi.
b. Alat yang tersedia adalah bersifat peralatan monitoring baik invasif maupun
noninvasif serta peralatan untuk bantuan life saving untuk kasus kritis dan
kegawatan selain itu peralatan untuk menunjang perawatan luka bakar , operasi
debridement, skin graft dan flap

9
c. Peralatan yang dimiliki di ruang perawatan intensif terdiri dari :
1) Ventilator
2) Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas
3) Alat hisap / suction baik sentral maupun portable
4) Peralatan akses vaskuler
5) Peralatan monitor invasif dan non infasif
6) Defibrilator dan alat pacu jantung
7) Pompa infus dan pompa syring
8) CVC Set untuk pemasangan CVC
9) Peralatan portable untuk transportasi
10) Tempat tidur khusus
11) Lampu untuk tindakan
Peralatan lain yang berada di kamar operasi adalah :
1) Meja Operasi.
2) Lampu Operasi.
3) Mesin anastesi.
4) Suction sentral maupun portable
5) Benang dan Pisau operasi
6) Dermatome.
7) Pasien Monitor
8) Mesin Elektrik Couter
9) Meja Mayo
10) Standart Infus
11) Sentral Oksigen
12) Sentral Nitrogen
Peralatan untuk perawatan luka :
1) Dressing set yang berisikan pinset cirrurgis, pinset anatomis,
Nierbeken/bengkok, kom kecil dan besar, gunting verban dan gunting
anatomis, spatel,doek steril dan korentang.
2) Kantong plastik tempat sampah kain dan plastic kuning untuk tempat
sampah infeksi.

10
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. ALUR PELAYANAN PASIEN


1. Asal Pasien dan Alur Kerja
Pasien yang dirawat di ruang perawatan luka bakar dapat berasal dari Poliklinik
Rawat Jalan dan Instalasi Gawat Darurat.
Alur pelayanan pasien di ruang rawat luka bakar terdiri dari : Alur Pasien Baru di
Luka Bakar, Alur Pasien Pindah Rumah Sakit, Alur Pasien Pulang Paksa, dan Alur
Pasien Meninggal.
2. Informed Consent
Setiap pasien yang masuk ke ruang perawatan luka bakar maka pasien dan atau
keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang dasar
pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan perawatan di ruang luka bakar
serta berbagai macam tindakan kedokteran yang mungkin akan dilakukan selama
pasien dirawat serta prognosis penyakit yang diderita pasien.
Penjelasan tersebut diberikan oleh DPJP atau dokter yang bertugas sebelum pasien
masuk ruang rawat luka bakar. Setelah mendapatkan penjelasan, pasien dan atau
keluarga bisa menerima atau tidak bisa menerima harus dinyatakan dalam formulir
yang ditandatangani (informed consent).

B. INDIKASI MASUK RUANG RAWAT LUKA BAKAR


1. Model Diagnosa
a. Luas luka bakar
1) 5% dari TBSA pada anak di bawah usia 2 tahun
2) 10% dari TBSA pada anak-anak usia 3-10 tahun.
3) 15% dari TBSA pada anak 10-15 tahun.
4) 20% dari TBSA pada orang dewasa usia.
5) 10% dari TBSA di senior di atas 65 tahun.
b. Luka bakar yang melibatkan wajah, tangan, kaki dan alat kelamin
perineum.
c. Luka bakar derajat tiga untuk semua kelompok usia.
d. Luka bakar dengan cedera listrik
e. Luka bakar dengan cedera karena zat kimia

11
f. Luka bakar dengan inhalasi injury
g. Luka bakar pada pasien dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya
yang bisa menyulitkan manajemen, memperpanjang pemulihan atau
menyebabkan kematian
h. Setiap pasien dengan luka bakar dan trauma bersamaan (seperti patah tulang) di
mana luka bakar menimbulkan risiko terbesar morbiditas atau mortalitas.
i. Luka bakar pada pasien yang akan memerlukan intervensi sosial, emosional atau
rehabilitasi khusus.

2. Kelainan fisik pada luka bakar


a. Luka Bakar Derajat I
1) Kerusakan jaringan terbatas pada bagian permukaan (supervisial) yaitu
epidermis.
2) Kulit kering, hiperemik memberikan efloresensi berupa eritema
3) Nyeri karena ujung – ujung saraf sensorik teriritasi.
4) Penyembuhan (regenerasi epitel) terjadi secara spontan dalam waktu 5-7 hari
b. Luka Bakar Derajat II
1) Kerusakan meliputi seluruh ketebalan epidermis dan sebagian superficial
dermis.
2) Respon yang timbul berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi.
3) Nyeri karena ujung –ujung saraf sensorik teriritasi.
Luka derajat II ini dibedakan menjadi dua, yaitu: derajat dua dangkal dan derajat
dua dalam.
1) Derajat II dangkal (supervicial partial thickness burn)
a) Kerusakan mengenai epidermis dan sebagian (sepertiga bagian
superficial) dermis.
b) Dermal epidermal junction mengalami kerusakan sehingga terjadi
epidermolisis yang diikuti terbentuknya (bula, blister). Lepuh ini
merupakan karakteristik luka bakar derajat dua dangkal. Bila epidermis
terlepas (terkelupas), terlihat dasar luka berwarna kemerahan, kadang
pucat, edematous dan eksudatif.
c) Apendises kulit (integument, adneksa kulit) seperti folikel rambut, kelenjar
keringat, kelenjar sebasea utuh.

12
Penyembuhan terjadi secara spontan umumnya memerlukan waktu antara 10 –
14 hari, hal ini dimungkinkan karena membran basalis dan apendises kulit tetap
utuh, diketahui keduanya merupakan sumber proses epithelisasi
2) Derajat II dalam (deep partial thickness burn)
a) Kerusakan mengenai hampir seluruh (dua pertiga bagian superficial)
dermis.
b) Apensises kulit (integument) seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea sebagian utuh.
c) Dijumpai eskar tipis permukaan.
d) Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung apendises kulit yang tersisa.
Biasanya penyembuhan memerlukan waktu lebih dari dua minggu.
c. Luka Bakar Derajat III ( Full Thickness Burn)
1) Kerukan meliputi seluruh ketebalan kulit (epidermis dan dermis) serta lapisan
yang lebih dalam.
2) Apendises kulit (adneksa, integument) seperti folikel rambut, kelenjar keringat,
kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
3) Kulit yang terbakar tampak berwarna pucat atau lebih putih karena terbentuk
eskar.
4) Nyeri tidak dijumpai bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung saraf serabut
saraf sensorik mengalami kerusakan/ kematian.
5) Penyembuhan terjadi lama. Proses epithelisasi spontan baik dari tepi luka
(membrane basalis) maupun dari apendises kulit (folikel rambut, kelenjar
keringat dan kelenjar sebasea yang memiliki potensi epithelialisasi) tidak
dimungkinkan terjadi karena struktur–struktur jaringan tersebut mengalami
kerusakan.
d. Klasifikasi berat dan ringannya luka bakar
1) Luka bakar ringan
a) Luka bakar derajat II < 15% pada orang dewasa.
b) Luka bakar derajat II < 10% pada anak-anak.
c) Luka bakar derajat III < 2%.
2) Luka bakar sedang
a) Luka bakar derajat II 15% – 25% pada orang dewasa.
b) Luka bakar derajat II 10% – 20% pada anak-anak.
c) Luka bakar derajat III < 10%

13
3) Luka bakar berat (mayor burn)
a) Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa.
b) Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak.
c) Luka bakar derajat III 10% atau lebih.
d) Luka bakar mengenai wajah, telinga, mata, dan genitalia/perineum.
e) Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain
Berdasarkan kritieria diatas dimana pasien memiliki luka bakar derajat II dengan
luas luka bakar ± 70 %, maka pasien termasuk dalam kriteria luka bakar berat
(mayor burn).

e. Nilai Luas Luka Bakar


Luas Luka Bakar pada dewasa dihitung berdasarkan table Lund & Browder.
Umur (Th) 10-
1 1-4 5-9 15 Dws Tingkat
LUKA BAKAR 14
Kepala 19 17 13 11 9 7 II III
Leher 2 2 2 2 2 2
Dada dan Perut 13 13 13 13 13 13
Punggung 13 13 13 13 13 13
Pantat kiri 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2
Pantat Kanan 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2
Genital 1 1 1 1 1 1
Lengan Atas Kanan 4 4 4 4 4 4
Lengan Atas Kiri 4 4 4 4 4 4
Lengan Bwh Kanan 3 3 3 3 3 3
Lengan Bwh Kiri 3 3 3 3 3 3
Tangan Kanan 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2
Tangan Kiri 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2 21/2
Tungkai Atas Kanan 51/2 61/2 8 81/2 9 91/2
Tungkai Atas Kiri 51/2 61/2 8 81/2 9 91/2
Tungkai Bwh Kanan 5 5 51/2 6 61/2 7
Tungkai Bwh Kiri 5 5 51/2 6 61/2 7
Kaki Kanan 31/2 31/2 31/2 31/2 31/2 31/2
Kaki Kiri 31/2 31/2 31/2 31/2 31/2 31/2
Jumlah
Jumlah Luka Bakar
Seluruhnya

14
C. INDIKASI PASIEN MASUK DAN KELUAR DARI ICU LUKA BAKAR
1. Indikasi Pasien Masuk Ruang ICU Luka Bakar
a. Dewasa TBSA > 50 dengan kedalam grade II dalam (partial thickness)
b. Inhalational injury
c. Perlu pemakaian alat bantu nafas (ventilator)
d. Luka bakar grade II dalam dengan daerah luka muka dan leher melingkar
e. Luka bakar kimia TBSA > 20
f. Luka bakar Listrik TBSA > 20 grade II dalam
g. Manula > 70 tahun dengan TBSA > 30 dan grade II dalam
h. Anak TBSA > 20 grade II dalam
2. Indikasi pasien keluar dari ruang ICU luka bakar
a. Gangguan pada saluran nafas akibat eskar melingkar di dada atau trauma
multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi seperti keseimbangan cairan
elektrolit, syok hipovolemia sudah dapat teratasi dengan baik.Dengan
memperlihatkan perbaikan pada hasil – hasil laboratorium.
b. Tidak terjadi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan Multi-
system Organ Dysfunction Syndrome (MODS).

D. PENGELOLAAN PASIEN
1. Pasien yang memerlukan perawatan di luka bakar ditempatkan secara selektif
berdasarkan indikasi medis serta mempertimbangkan kebutuhan keluarga dari aspek
psikososial yang dihadapi pasien dan keluarga selama perawatan.

15
ACUTE BURN INJURY

Perawatan Kamar Operasi


Intensif
(Debridement,
(ICU) dsb)

Luka Bakar Kritis

Perawatan Semi
Intensif

Instalasi Gawat
Darurat

(IGD)

Perawatan Luka
Luka Bakar Bakar
Sedang (Ward)
Non Kritis

Perawatan Kamar Operasi


Rehabilitatif (manajemen luka
Rawat Jalan
& rekonstruksi)

NON ACUTE BURN INJURY

2. Penempatan pasien di ICU luka bakar diutamakan untuk pasien dengan kasus luka
bakar dengan kriteria seperti di atas.
3. Pasien yang dirawat di ruang luka bakar dikelola oleh seorang DPJP. Selama
perawatan DPJP berhak untuk melakukan konsultasi dengan dokter spesialis lain bila
dari hasil penilaian terhadap pasien menunjukan hasil yang memerlukan konsultasi
ke bagian lain melalui sistem rujukan.
4. Perawatan pasien di ruang rawat luka bakar dilakukan secara team yang terdiri dari
multidisiplin dan dikoordinasikan oleh DPJP. Setiap sebelum pelaksanaan operasi
debridement atau skin graft pasien di konsulkan kepada team.
5. Tindakan perawatan/terapi yang dilakukan adalah :
a. Mengelola jalan nafas :
1) Intubasi
2) Krikotiroidotomi/tracheostomi : Segera dilakukan dengan tanda-tanda
visualisasi secara langsung didapatkan eritema atau pembengkakan
oropharing.Perubahan suara dengan batuk yang kasar atau suara
serak.Stridor, tachypnoe atau dyspnoea.
3) Perawatan jalan nafas
4) Penghisapan sekret (secara berkala)

16
5) Pemberian terapi inhalasi
6) Perawatan rehabilitatif untuk respirasi
7) Eskarotomi pada dinding toraks  memperbaiki kompliansi paru
b. Tatalaksana Resusitasi cairan
1) Cairan infus 24 jam I
Rumus : 2,5 – 3 cc/kg/%.
Setengahnya diberikan dalam 8 jam I (dihitung mulai jam kecelakaan).
Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Cairan yang diberikan :
100% elektrolit (RL) bila total cairan yang diberikan <= 3000cc.
Atau
50% elektrolit (RL), 25% hypertonic, 25% Isotonik/koloid bila total cairan yang
diberikan > 3000cc.
2) Cairan infuse 24 jam II
Rumus : 24 x (25 + % LLB) x BSA
Cairan yang diberikan :
50% elektrolit (RL), 25% hypertonic, 25% Isotonik/koloid
3) Insensible waterloss
Rumus : (25 + kg ) x BSA
c. Terapi Pembedahan pada luka bakar
Eksisi dini tindakan pembuangan jaringan nekrosis dan debris (debridement)
yang dilakukan dalam waktu < 7 hari pasca cedera termis. Tindakan eskarotomi
atau fasiotomi dapat dilakukan untuk luka bakar dengan grade II dalam dan grade
III menghindari terjadinya kompartemen sindrom.Eskarotomi dilakukan bila ada
penurunan aliran darah ke ujung extremitas (tes pengisian kapiler lambat),
cyanosis dan pulse tidak teraba.Untuk mengatasi kasus luka bakar derajat II
dalam dan derajat III. Tindakan ini diikuti tindakan skin grafting. Eksisi dini terdiri
dari eksisi tangensial dan eksisi fasial.
d. Skin grafting
Tujuan dari metode ini:
1) Menghentikan evaporate heat loss
2) Mengupayakan agar proses penyembuhan terjadi sesuai dengan waktu
3) Melindungi jaringan yang terbuka
Teknik mendapatkan kulit pasien secara autograft dapat dilakukan secara split
thickness skin graft atau full thickness skin graft. Untuk memaksimalkan

17
penggunaan kulit donor, kulit donor tersebut dapat direnggangkan dan dibuat
lubang – lubang pada kulit donor (seperti jaring-jaring dengan perbandingan
tertentu, sekitar 1 : 2 sampai 1 : 3) dengan mesin.  mess grafting.
Ketebalan dari kulit donor tergantung dari lokasi luka yang akan dilakukan
grafting, usia pasien, keparahan luka dan telah dilakukannya pengambilan kulit
donor sebelumnya.
Pengambilan kulit donor ini dapat dilakukan dengan mesin ‘dermatome’.
e. Terapi Nutrisi
Penilaian Nutrisi

Keputusan untuk memulai pemberian


Nutrisi penunjang khusus

Fungsi Sal Cerna

BAIK TIDAK BAIK


Obstruksi, peritonitis, muntah, Pancreatitis
akut,ileus,short bowel syndrom

Nutrisi Enternal Nutrisi Parenteral

Jangka pendek Jangka panjang Jangka pendek Jangka panjang


Nasogastrik Gastrostomi
Nasoduodenal Jejunostomi
Nasojejunal

Fungsi Sal Cerna Fungsi Sal Cerna


kembali normal

Normal Menurun
Toleransi Ya Tidak

Nutrien Formula
utuh khusus

Adekuat Inadekuat Adekuat

Nutrisi
Per Oral Diet lebih
Parenteral
kompleks
Suplemen
per oral
selama di
toleransi

Per Oral

18
f. Penatalaksaan Luka

BURN

Epidermal Analgetik Dilihat


perkembangan
hari berikutnya Melindungi,
melembabkan
& merangsang
Superficial Desinfektan & Setelah 3 hari: Desinfektan & Epitelisasi
kelenturan
dermal Mengatur eksudat telah mempertahankan
eksudat mengering suhu yang stabil

Deep Desinfektan & Penyembuhan Mengelola Epitelisasi Melindungi, Resiko


dermal Debridement dari kulit dalam /mengendalikan melembabkan jaringan
infeksi dan & merangsang parut
hypergranulasi kelenturan hipertrofik

Luka yang Desinfektan, Infeksi ,


terinfeksi Antiseptik dan penyembuhan
Antibiotik spontan atau
cangkok

Full Desinfektan, Terapi


thickness debridement &
Topical
mengontrol cairan
sampai tindakan
graft
Graft Melindungi,kontrol Setelah 5 Melindungi &
eksudat dan hari: graft mempertahankan
pengendalian resiko menempel cairan
infeksi

Setelah 5 Desinfektan /
hari: debridement
kegagalan mempersiapkan
graft luka untuk graft
atau penyembuhan
luka

Situs donor Kontrol perdarahan dan Setelah 10-14 Melindungi dan


resiko infeksi hari melembabkan
merangsang penyembuhan
penyembuhan spontan

19
g. Pemberian Antibiotik
1) Diberikan sejak pasien di IGD dengan antibiotik broad spectrum.

2) Dilakukan pemeriksaan kultur mikrobiologi apusan luka saat pasien datang


pertama kali dan diulang setiap minggu, dan antibiotik diganti sesuai dengan
hasil kultur terbaru.

h. Penatalaksanaan luka bakar listrik.

Untuk pemantauan pertama setiap pasien harus di lakukan pematuan di ruang


ICU luka bakar dalam 24 jam pertama.Lakukan EKG rutin. Cek CK CKMB dan
troponin T untuk 3 hari pertama. Konsul Specialis kardiovakuler.

i. Penatalaksanaan luka bakar kimia.


Segera lakukan tindakan debridement untuk mencegah korosif dari paparan
kimia.

j. Pengelolaan nyeri.
Pada luka bakar manajemen nyeri dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sederhana dengan penutupan luka secara cepat.Kemudian pemberian Nonopioid
Analgesia dapat diberikan pada pasien dengan skala nyeri 3-5 dan pemberian
opioid dapat diberikan pada pasien dengan skla nyeri 6-10. Pemberian Nonopioid
ketorolak 30mg/bolus. Pemberian Opioid melalui intravena melalui syringe pump
dengan dosis morfin 10mg dalam 24 jam atau pethidine 100mg dalam 24 jam.

E. SISTEM RUJUKAN
1. Rujukan adalah penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas /
wewenang dan tanggung jawab secara timbal balik baik horizontal maupun vertikal
terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau permasalahan kesehatan
karena adanya keterbatasan dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh
pasien.
2. Jenis rujukan yang dilakukan adalah:
a) Rujukan eksternal (rujukan antar fasilitas pelayanan kesehatan) yang terdiri dari :
1) Rujukan vertikal yaitu rujukan dari unit perawatan luka bakar RSPP ke unit
peraatan luka bakar dengan fasilitas dan layanan yang lebih lengkap dari
RSPP

20
2) Rujukan horizontal yaitu rujukan yang terjadi unit perawatan luka bakar RSPP
ke unit luka bakar rumah sakit dengan fasilitas yang setara dengan RSPP.
b) Rujukan internal (rujukan di dalam fasilitas kesehatan dari tenaga kesehatan ke
tenaga kesehatan lainnya : dokter ke dokter, rujukan triase) yang terdiri dari:
1) Rujukan kasus penyakit atau masalah penyakit yaitu rujukan yang dilakukan
berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa pengiriman pasien
(kasus), spesimen dan pengetahuan tentang penyakit.
2) Rujukan permasalahan kesehatan yaitu rujukan yang dilakukan berkaitan
dengan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa fasilitas,
teknologi dan operasional.
3. RSPP mempunyai kewajiban untuk merujuk pasien yang memerlukan pelayanan
diluar kemampuannya. RS penerima rujukan harus mampu menjamin bahwa pasien
yang dirujuk tersebut akan mendapat penanganan segera. Rujukan balik ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang merujuk dilakukan segera setelah alasan rujukan sudah
tertangani, oleh karena itu rujukan merupakan proses timbal balik yang meliputi kerja
sama, koordinasi dan transfer informasi antar fasilitas pelayanan kesehatan. RSPP
sebagai rumah sakit referal tertinggi di Group PERTAMEDIKA menerima rujukan dari
RS unit PERTAMEDIKA. Selain itu RSPP menjalin kerja sama dengan beberapa
rumah sakit rujukan maupun rumah sakit yang merujuk.
4. Tujuan dilakukan sistem rujukan antara lain adalah:
a) Membutuhkan pendapat dari ahli (second opinion)
b) Memerlukan pemeriksaan yang tidak tersedia di fasilitas RSPP
c) Memerlukan intervensi medis di luar kemampuan RSPP
d) Memerlukan penatalaksanaan bersama dengan ahli lainnya
e) Memerlukan perawatan dan pemantauan lanjutan.

F. KONDISI BENCANA
Semua petugas di unit perawatan luka bakar harus memahami prosedur penanganan
bencana baik internal maupun eksternal.
Dalam kondisi bencana masal, unit luka bakar harus menyediakan satu tempat tidur
untuk mendukung pasien korban bencana dan berkoordinasi dengan Instalasi Gawat
Darurat.

21
BAB V
LOGISTIK

A. PENYEDIAAN FARMASI
Penyediaan kebutuhan obat – obatan dan alat kesehatan disediakan oleh bagian farmasi
rawat inap melalui resep. Persediaan obat injeksi dan cairan infus diresepkan untuk
persediaan satu hari, sedangkan untuk obat oral diresepkan untuk 2 – 3 hari. Bila obat
dihentikan maka sisa obat dan alkes tersebut dikembalikan ke bagian farmasi.
Untuk kebutuhan obat dan alkes dalam kondisi kegawatan dan kedaruratan, unit luka
bakar menyediakan persediaan di dalam emergency trolley yang jenis dan jumlahnya
telah ditetapkan. Bila terjadi kegawatan maka akan menggunakan obat di emergency
trolley dan setelah kegawatan tertangani, maka dilakukan penggantian terhadap
penggunaan obat dan alat tersebut sehingga jumlah dan jenisnya adalah tetap. Setiap
petugas di unit perawatan luka bakar berkewajiban menjaga agar emergency trolley
selalu terpelihara.
Penggunaan alkes pendukung disediakan oleh unit perawatan luka bakar melalui
permintaan barang ke bagian farmasi dimana permintaan dan pengeluarannya dicatat
serta dilakukan stok opname secara berkala.

B. PENYEDIAAN BARANG UMUM


Penyediaan barang umum dilakukan bekerja sama dengan bagian Layanan Umum.
Prosedur permintaan barang umum mengacu pada prosedur yang ada, dan laporan
penggunaan perbulan harus dipantau.

C. PENYEDIAAN BARANG INVESTASI


Penyediaan barang investasi mengacu pada pedoman pengadaan barang dan jasa dari
Bagian Logistik.

22
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. PENGERTIAN KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY)


Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, yang
meliputi :
1. Ketepatan identifikasi pasien
Identifikasi pasien di ruang rawat luka bakar mengacu pada standar yang berlaku di
RSPP yaitu menggunakan 2 identitas berupa gelang yang dipakai oleh pasien yang
terdiri dari nama pasien dan tanggal lahir pasien.
Penggunaan identifikasi dengan menggunakan nomor tempat tidur sudah tidak
digunakan lagi.
Untuk pasien yang sadar, petugas harus memastikan identitas pasien dengan
meminta pasien menyebutkan nama dan tanggal lahirnya sebelum melakukan
tindakan dan mencocokan dengan gelang identitas.
2. Peningkatan komunikasi yang efektif
Tujuan dari komunikasi efektif adalah mengurangi kesalahan dan meningkatkan
keselamatan pasien. Setiap instruksi dokter harus tertulis, bila instruksi diberikan
secara perlisan/pertelpon, maka penerima instruksi harus mencatat instruksi tersebut
dan wajib meminta pengesahan dari yang memberikan instruksi (dokter).
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (High Alert Medications)
Penerapan 6 benar sebelum memberikan obat ke pasien mutlak dilakukan untuk
menghindari kesalahan. Selain itu bekerjasama dengan Bagian Farmasi untuk obat –
obat tertentu (LASA/Look A Iike Sound A like) dengan menggunakan kode atau tanda
tertentu.
4. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi
Setiap ada rencana tindakan operasi petugas di unit perawatan intensif harus
memastikan benar pasien, benar lokasi dan benar prosedur.
5. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
Dalam pencegahan infeksi di ruang intensif bekerjasama dengan ICN (Infection
Control Nurse) melalui program cuci tangan, pengelolaan sampah yang benar,
pembersihan alat, pembersihan ruangan dan pemantauan mikrobiologi pasien dan
ruangan).
6. Pengurangan resiko pasien jatuh

23
Di unit perawatan intensif pasien harus dipantau untuk resik jatuh, melalui
pengkajian,penggunaan tempat tidur khusus, penjelasan ke pasien dan atau keluarga
pasien, dan bila perlu melalui restrain.

B. TUJUAN KESELAMATAN PASIEN


1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
3. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di rumah sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ).

C. METODE KESELAMATAN PASIEN


1. Menghormati hak pasien.
2. Mendidik pasien dan keluarga.
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien.
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

D. KEJADIAN BERKAITAN DENGAN KESELAMATAN PASIEN


1. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) / Adverse Event
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat
diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat
dicegah.
2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) / Near Miss
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
a. Karena “ keberuntungan”
b. Karena “ pencegahan ”
c. Karena “ peringanan ”

24
3. Kesalahan Medis / Medical Error
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien.
4. Kejadian Sentinel / Sentinel Event
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius; biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima,
seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi (seperti,
amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang
berlaku.

25
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

A. PENGERTIAN
Pelaksanaan keselamatan kerja adalah berkaitan dengan upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh berbagai faktor
bahaya, baik berasal dari pelaksanaan pekerjaan maupun lingkungan kerja serta
tindakan pekerja sendiri.

B. TUJUAN
1. Melindungi keselamatan pekerja dalam melakukan pekerjaannya untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktifitas kerja.
2. Menjaminkeselamatansetiap orang lain yang beradaditempatkerja.
3. Sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.
4. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi
diri sendiri, pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi.

C. TINDAKAN RESIKO TERPAJAN INFEKSI


1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.

D. PRINSIP KESELAMATAN KERJA


Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal dalam kaitan keselamatan kerja adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan.
Ketiga prinsip tesebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah
kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan

26
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

E. PROGRAM KESELAMATAN KERJA


1. Pencegahan infeksi melalui kewaspadaan universal dalam setiap pelaksanaan
pekerjaan.
2. Melakukan pekerjaan sesuai dengan Standar Prosedur Operasi yang berlaku.
3. Pemeriksaaan kesehatan calon pekerja sebelum diterima sebagai pekerja.
4. Pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi setiap pekerja.

27
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Catatan perawatan luka bakar diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang
melakukan pelayanan di ruang luka bakar dan dokter tersebut harus bertanggung jawab
atas semua yang dicatat dan dikerjakan. Pencatatan dilakukan di rekam medis pasien
dan untuk ICU luka bakar ditambah dengan status khusus perawatan intensif yang
meliputi diagnosis lengkap yang menyebabkan dirawat, data tanda vital, pemantauan
fungsi organ khusus, (jantung, paru, ginjal) secara berkala, jenis dan jumlah asupan
nutrisi dan cairan, catatan pemberian obat, serta jumlah cairan tubuh yang keluar dari
pasien.
Pencatatan kondisi luka bakar, nilai – nilai pengukuran tanda vital secara berkala
dilakukan oleh perawat luka bakar secara berkala sesuai kondisi pasien.
Pemantauan secara umum dan khusus setiap pagi hari oleh dokter jaga dan perawat
ruang luka bakar serta dikoordinasikan oleh DPJP.
Pemantauan umum meliputi :
1. Pemeriksaan tanda – tanda vital : tekanan darah, denyut nadi, laju pernafasan,
temperatur badan dan kadar saturasi oksigen perifer.
2. Pemeriksaan fisik :luas dan derajat luka bakar, kondisi luka dan sistem syaraf,
kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, tractus urinarius dan sistem lokomotif.
3. Balans cairan dilakukan setiap 12 jam di ruang luka bakar sedangkan di ruang ICU
luka bakar setiap jam diperhitungkan intake dan output cairan.
4. Pemeriksaan laboratorium : AGD, gula darah, darah rutin, elektrolit, ureum, kreatinin,
albumin, AT3 hemostase lengkap, SGOT/SGPT, sesuai kebutuhan), pemeriksaan
lain bila dibutuhkan.

B. MONITORING DAN EVALUASI


Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan guna mewujudkan
pelayanan peraeatan luka bakar yang aman, bermutu dan mengutamakan keselamatan
pasien. Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk menentukan faktor
– faktor yang potensial berpengaruh agar dapat diupayakan penyelesaian yang efektif.

28
C. PENGENDALIAN MUTU DAN PENGAWASAN PELAYANAN LUKA BAKAR
Pengendalian mutu dan kualitas pelayanan perawatan luka bakar merupakan satu
program yang bersifat objektif dan berkelanjutan untuk menilai dan memecahkan
masalah yang ada sehingga dapat memberikan kepuasan pada pelanggan dan
mencapai standar klinis yang bermutu.
Pemantauan kualitas adalah kegiatan pemantauan yang dilaksanakan setiap hari secara
objektif bekerjasama dengan Manajemen Mutu dan Infection Control Nurse.
Pelaksanaan pemantauan meliputi:
1. Self Assesment adalah kegiatan memantau parameter mutu pelayanan dan hasilnya
dilaporkan ke Manajemen Mutu
Pemantauan meliputi penilaian penyembuhan luka, pertemuan staf ruang luka bakar,
diskusi kasus sulit, laporan berkala.
2. Independent Audit merupakan pelaksanaan parameter mutu pelayanan yang tolak
ukur keberhasilannya ditentukan sesuai prioritas dan dilaksanakan oleh Manajemen
Mutu.

29
BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Perawatan Luka Bakar di RSPP ini diharapkan dapat menjadi panduan
bagi Unit Luka Bakar di RSPP. Pedoman ini memberikan panduan bagi semua pihak yang
berkepentingan terhadap layanan perawatan luka bakar di RSPP yang selanjutnya perlu
dijabarkan dalam bentuk Standar Prosedur Operasional guna kelancaran pelaksanaannya.
Apabila dikemudian hari diperlukan adanya perubahan pada Pedoman Pelayanan
Perawatan Luka Bakar di RSPP ini, maka akan dilakukan penyempurnaan pada penyusunan
petunjuk teknis selanjutnya.

RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA


Direktur,

dr. Mustofa Fauzi, SpAn

30