Anda di halaman 1dari 7

23 Juni 1868

Mesin Ketik: dari Perang Sipil AS hingga


Lahirnya Gerakan Feminis
https://tirto.id/mesin-ketik-dari-perang-sipil-as-hingga-lahirnya-gerakan-feminis-cL8j

Mesin ketik, salah satu terobosan paling penting dalam dunia tulis-menulis. tirto.id/Sabit

Oleh: M Faisal - 23 Juni 2018


Dibaca Normal 4 menit
Papan pengetik.
Pembebas politik si
jemari lentik.

tirto.id - Nama Christopher Latham Sholes mungkin tak setenar Thomas Alva
Edison, Nikola Tesla, atau Alaxander Graham Bell. Padahal, jika boleh berkata jujur,
apa yang dilakukan Sholes tak kalah mentereng (dan berkontribusi besar) dibanding
nama-nama tersebut. Kepada Sholes kita mesti mengucapkan terima kasih; karena
atas temuannya, kita sekarang bisa menikmati benda yang disebut papan ketik
QWERTY—baik di komputer maupun telepon genggam.

Sama seperti listrik, telepon, hingga lampu, papan QWERTY juga punya riwayat
yang panjang. Penuh dengan dinamika, konflik, dan gejolak-gejolak yang membuat
pening kepala atau berdecak penuh keheranan—sekaligus ketakjuban.

Ide penemuan Sholes berasal saat ia membaca artikel mengenai mesin cetak huruf
yang terbit di Scientific American. Ia terkesima dengan gagasan itu dan bertekad
mewujudkannya. Keyakinannya semakin bulat tatkala kawannya bernama Carlos
Glidden, mendorongnya untuk menciptakan mesin tersebut.
Glidden menilai, Sholes tak bakal sulit membuat mesin ketik mengingat sebelumnya
ia bersama Samuel W. Soule sudah lebih dulu mendapatkan hak paten lewat
penemuan mesin penomoran halaman pada 1864.

Maka, bermodalkan antusias dan dukungan Glidden dan Soule, Sholes pun mulai
bekerja membuat mesin ketik. Sholes berpikir, apabila mesin itu jadi, beban-beban
kerja di media cetak bakal dapat diringankan. Sebagai catatan, Sholes merupakan
pekerja yang sudah makan banyak asam garam di bisnis percetakan dan media
massa. Dalam rentang 1830-an sampai 1860-an, tercatat Sholes pernah bekerja
di Green Bay, Wisconsin Enquirer, Milwaukee News, hingga Milwaukee Sentinel.

Upaya Sholes membuat mesin ketik memakan waktu bertahun-tahun. Selama itu
pula percobaannya kerap gagal dan tak maksimal. The Paris
Review mencatat, indikator kegagalan tersebut antara lain bentuknya yang kelewat
besar seperti piano, susunan abjad dan angka yang tak lengkap (tanpa kehadiran
“0,” “1,” huruf kecil, serta seluruhnya ditulis dengan kapital), sampai ketidaksesuaian
kerja antar komponen yang memaksa mesin acapkali macet.

Baca juga:

 Bagaimana Thomas Alva Edison Bisa Memiliki 1093 Hak Paten?


 Albert Einstein di Antara Ideologi Kiri dan Teori Relativitas

Keadaan itu seketika menjatuhkan mental Sholes. Ia sempat menyerah dan tidak
ingin melanjutkan proyeknya. Belum lagi utang yang menumpuk kian menjepit
keadaannya. Beruntung, Sholes punya James Densmore, rekannya yang senantiasa
memberikan suntikan motivasi. Di bawah dorongan Densmore, Sholes kemudian
bangkit dan memperbaiki segala kekurangan yang ada dalam mesin ketiknya. Kerja
keras Sholes berujung manis. Pada 23 Juni 1868, tepat hari ini 149 tahun silam,
mesin ketik Sholes mendapatkan paten dari pemerintah dengan nomor 79.265.

Meski paten sudah diperoleh, namun perjalanan (dan masalah) tidak otomatis
selesai begitu saja. Smithsonian menulis bahwa masalah yang harus dihadapi
mereka selanjutnya adalah menemukan pasar: akan dijual ke mana mesin ketik
tersebut?

Sholes dan Densmore menilai target pelanggannya adalah para pendeta dan
pekerja media. Dari dua lini tersebut, harapannya, mesin ketik bakal meluas dan
dibeli masyarakat umum. Tapi, ekspektasi mereka terbentur keadaan.
Perekonomian Amerika pada periode itu sedang mengalami kelesuan, yang
berdampak terhadap daya beli masyarakat.

Situasi kian kompleks saat masyarakat menganggap aktivitas yang dilakukan


dengan mesin ketik terlampau aneh. Konteks aneh di sini merujuk pada pemahaman
bahwa mesin ketik dapat merusak kebiasaan yang sudah mengakar sejak lama.
Mesin ketik, menurut masyarakat AS saat itu, bisa mendorong orang memalsukan
tanda tangan serta merendahkan hasil tulisan tangan.

Namun, kondisi berubah saat memasuki akhir 1880-an. Mesin ketik Sholes akhirnya
diminati pabrik pembuat senjata selama Perang Sipil asal Ilion, New York, E.
Remington & Sons. Pasca-kemenangan kubu Union yang sekaligus mengakhiri
perang, E. Remington & Sons merasa harus mencari produk lain untuk
diperjualbelikan. Alasannya: minat terhadap senjata turun.

Walhasil, Sholes dan Remington menjalin kesepakatan. Hak kepemilikan mesin ketik
Sholes dibeli Remington senilai $12 ribu. Mesin ketiknya lantas diproduksi secara
besar-besaran dan dilempar ke pasaran dengan nama Remington 1 pada 1873
seharga $125 untuk tiap mesin. Di momen inilah, Sholes mengembangkan model
QWERTY dalam mesin ketiknya.

Gempita tersebut berefek massif pada segala lini. Mesin ketik perlahan diminati
karena efektif membantu pekerjaan kantor seiring dengan menurunnya paradigma
masyarakat akan teknologi serta penemuan baru. Di lain sisi, kehadiran Remington
1 juga mencambuk pabrikan lain macam Caligraph, Yost, Densmore, serta Smith-
Premier guna menempuh langkah serupa.

Pada 1890, mesin ketik QWERTY Remington dicetak sebanyak 100 ribu dan dijual
ke seantero negeri. Tiga tahun berselang, kelima pabrikan mesin ketik yang
ada sepakat menjadikan model QWERTY Sholes sebagai standar pembuatan mesin
ketik.

Baca juga:

 Rasionalisme Stephen Hawking Melawan Dogma-Dogma Agama


 Si Jenius di Balik Tesla, SpaceX, dan SolarCity

Keberadaan mesin ketik di pasar AS seperti menebus kegagalan-kegagalan


terdahuluyang dilakukan beberapa ilmuwan. Gagasan merancang mesin ketik
sendiri sebetulnya sudah ada sejak 1700-an manakala Henry Mill dari Inggris
membuat mesin yang sama. Tapi, percobaan Mill dinilai gagal dan tidak
mencerminkan modernitas mesin ketik.

Selepas Mill, ada pula William Burt yang mematenkan mesin tipografi pada 1829.
Sekali lagi, upaya Burt bernasib sama dengan Mill: mesinnya tidak praktis digunakan
dan hanya berakhir di gudang penyimpanan tanpa perkembangan apa-apa.

Thomas Edison rupanya juga sempat menempuh eksperimen semacam itu. Pada
1872, ia menciptakan mesin ketik listrik pertama di dunia. Namun, jejak tersebut
berujung sama dengan kiprah Burt dan Mill. Mesin bikinan Edison tak populer di
masyarakat.

Sejarah mencatat bahwa mesin ketik Sholes memang bukan yang pertama di dunia.
Bukan juga mesin tik perdana yang menerima paten. Tapi, fakta menyatakan, mesin
ketik hasil kerja Sholes merupakan mesin ketik pertama yang punya nilai praktis
serta diproduksi secara massal. Faktor itulah yang membuatnya dijadikan penemu
mesin ini; bukan Burt, Mill, atau bahkan Edison.

Seiring waktu, model mesin ketik QWERTY temuan Sholes mulai menyesuaikan
zaman dan perkembangan teknologi. Dari awalnya yang berukuran besar, beralih
rupa minimalis seperti yang sekarang kita saksikan dalam komputer
atau smartphone. Semua itu tak bakal kita jumpai apabila Sholes memutuskan untuk
berhenti berusaha ketika kegagalan demi kegagalan mendatanginya.

Memerdekakan Perempuan
Kehadiran mesin ketik nyatanya berdampak besar pada kehidupan sosial
perempuan melalui tersedianya kesempatan bekerja sebagai juru ketik di instansi
pemerintahan, bank, serta kantor-kantor lainnya. Kesempatan itu coba dimanfaatkan
perempuan AS. Dalam The Iron Whim: A Fragmented History of Typewriting, Darren
Wershler-Henry menyatakan, perempuan AS berbondong-bondong untuk melamar
jadi juru ketik.

Sedangkan ABC dalam laporan visualnya berjudul “Why The Typewriter Was A
Feminist Liberation Machine” menyebut, di Amerika, jumlah perempuan yang
menjadi juru ketik mencapai sekitar 60 ribu pada 1885.

Fenomena tersebut terjadi akibat beberapa faktor seperti keinginan perempuan


untuk mendapatkan pekerjaan selepas selesainya Perang Sipil sampai membantu
menopang ekonomi keluarga. Tapi, terdapat faktor lain yang tak kalah penting:
strategi pemasaran Remington.

Dilansir BBC, dalam menjual produknya, Remington acapkali memasang figur


perempuan sebagai modelnya. Gambarannya begini: perempuan muda
mengenakan baju dan sepatu bagus duduk di atas meja dengan kaki menyilang.
Sementara di atas meja terdapat apel, kalender, beberapa tumpukan arsip, serta
mesin ketik Remington.

Baca juga:

 Veere Di Wedding: Betapa Repotnya Jadi Perempuan di India


 Referendum Aborsi di Irlandia: Harapan Baru Kesetaraan
Perempuan
Mengapa Remington memasang perempuan jadi model iklannya?

Remington memang menyasar perempuan sebagai target utama pemasaran. John


Harrison dalam Manual of the Typewriter (1888) mengatakan bahwa mesin ketik
Remington “secara khusus dirancang sesuai jari-jari feminin.”

Tak sekedar di AS, fenomena yang sama juga muncul di Inggris. Perempuan di sana
beramai-ramai mendaftar kerja pada posisi juru tulis dan administrasi. John
Keyworth, kurator museum Bank of England, menyatakan pekerjaan yang harus
dilakukan perempuan di kantor macam bank antara lain merapikan data-data yang
berkaitan dengan pinjaman, kredit, dan sebagainya.

Masuknya perempuan ke ranah pekerjaan profesional otomatis membuat mereka


tidak lagi sebatas terkungkung dalam rumah dan melakukan kerja-kerja domestik.
Perempuan jadi bisa mandiri, independen, serta menentukan jalan kariernya sendiri.
Capaian ini dirasa positif mengingat, saat itu, stereotip yang menempatkan
perempuan pada posisi lemah, tak berdaya, dan tak sepantasnya melakukan
pekerjaan laki-laki masih begitu kuat.

Di lain sisi, masuknya perempuan ke kantor-kantor lewat mesin ketik juga


mendatangkan perlakuan diskriminasi. Perempuan kerap dilecehkan, dibedakan
perlakuannya (dari jam kerja hingga tempat makan di kantor), serta yang paling
ironis: dibayar dengan upah rendah. Di Inggris, pekerja perempuan bahkan hanya
digaji £85—jumlah yang jauh dibanding laki-laki yang menerima £300.

Diskriminasi-diskriminasi semacam itulah yang mendorong perempuan


bergerakdalam aksi perjuangan kesetaraan hak. Di Amerika, pada akhir 1880-an
dan awal 1890-an, banyak perempuan bergabung dalam organisasi sipil macam
National American Woman Suffrage Association (NAWSA) serta American Woman
Suffrage Association (ASWA).

Melalui kedua organisasi itu, perempuan menyuarakan tuntutannya terhadap


pemerintah hingga pelaku bisnis agar diperlakukan setara dengan laki-laki dalam
lingkungan kerja. Bahwa perempuan juga berhak mendapatkan timbal balik yang
sama serta bisa bekerja dengan aman tanpa adanya perasaan takut akan
dilecehkan.

Perlahan, tuntutan meluas. Tak cuma sebagai pekerja, perempuan juga ingin
diperlakukan sebagaimana warga negara seharusnya. Mendapatkan hak politik,
jaminan kesehatan, dan lainnya. Kesetaraan adalah kunci dan pemerintah harus
menyediakannya.

Dari sini kita paham, cerita mesin ketik bukan sekedar rangkuman perjalanan
penemuan Sholes. Di dalamnya, ada semangat kebebasan dan perjuangan
perempuan untuk memperoleh kehidupan yang adil dan setara, di setiap aspek.

Baca juga artikel terkait KESETARAAN GENDER atau tulisan menarik lainnya M
Faisal
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: M Faisal
Editor: Ivan Aulia Ahsan