Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Diantara berbagai
fraktur yang terjadi saat usia lanjut, salah satunya adalah fraktur panggul atau fraktur
femur proksimal. Fraktur femur proximal dapat terjadi intracapsular dan
extracapsular. Yang termasuk intracapsular adalah fraktur collum femoris, sedangkan
yang termasuk extracapsular adalah fraktur inter-trokanter. Pada lanjut usia keduanya
dapat terjadi akibat trauma dengan kekuatan ringan seperti jatuh. Adanya tekanan saat
jatuh merupakan sebagian dari penyebab fraktur. Insidens fraktur ini pada wanita tiga
kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki, dengan osteoporosis merupakan faktor
predisposisi yang utama.
Fraktur panggul atau fraktur femur proximal adalah penyebab umum dan
penyebab penting kematian (dengan persentase sekitar 15-20 % dan pada orang tua
dapat meningkat sampai 36 %) dan kehilangan fungsional akibat nyeri yang menetap
atau keterbatasan mobilitas. Peningkatan jumlah terbesar fraktur ini terdapat pada
usia lebih dari 65 tahun. Hal ini juga lebih umum terdapat pada wanita (2-3 kali lebih
banyak daripada pria atau sekitar 75% untuk fraktur panggul dan 4 kali lebih banyak
daripada pria untuk fraktur collum femoris) yang disebabkan oleh kerapuhan tulang
akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pascamenopause. Berdasarkan ras,
insidens fraktur panggul 2-3 kali lebih banyak pada orang kulit putih dibandingkan
dengan warna kulit lain, hal tersebut disebabkan peningkatan insidens osteoporosis
pada orang kulit putih.
Fraktur collum femoris pada usia lanjut terjadi karena proses penurunan tensil
strength pada stiffness jaringan kolagen yang menyebabkan instabilitas persendian,
selain itu berkurangnya jaringan dan ukuran tulang secara keseluruhan yang akan
menyebabkan kekuatan dan kekakuan tulang menurun. Sehingga pada lansia mudah
terjadi trauma yang menyebabkan patah tulang.
2

Fraktur pada collum femoris merupakan masalah kesehatan yang penting pada
usia lanjut, maka dalam menangani fraktur collum femoris diperlukan pengangan
yang tepat untuk mencegah terjadinya nekrosis caput femur. Pada saat ini kemajuan
teknologi kesehatan sudah dapat mengganti caput femur yang nekrosis dengan
operasi pemasangan Tension Band Wiring (TBW). Dalam menggunakan TBW
terdapat permasalahan yang menyangkut kapasitas fisik dan kemampuan fungsional.
Untuk itu fisioterapi dapat memberikan terapi latihan untuk mengurangi nyeri,
edema, keterbatasan lingkup gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot, dan
mengembalikan aktifitas fungsional pasien dengan tercapainya kemandirian.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, pemeriksaan fisik, diagnosis dan
penatalaksanaan fraktur collum femoris.
1.2.2 Mengetahui tentang fraktur collum femoris.
1.2.3 Mengetahui tentang anatomi panggul dan suplai vaskularnya.
1.2.4 Mengetahui insiden morbiditas dan mortalitas fraktur collum femoris.
1.2.5 Mengetahui tentang etiologi dan patogenesis fraktur collum femoris.
1.2.6 Mengetahui klasifikasi fraktur collum femoris.
1.2.7 Mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan fraktur collum femoris.
1.2.8 Mengetahui penanganan fraktur collum femoris sebelum ke Rumah Sakit.
1.2.9 Mengetahui penanganan impacted fraktur collum femoris.
1.2.10 Mengetahui penanganan fraktur dengan dislokasi.
1.2.11 Mengetahui pencegahan, komplikasi, dan prognosis.

1.3 MANFAAT
1.3.1 Menambah wawasan mengenai penyakit bedah khususnya fraktur collum
femoris.
1.3.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit bedah ortopedi.
3

BAB II
STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. W
Usia : 67 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Katolik
Status : Menikah
Pekerjaan : Wirausaha
Alamat : Karang Rejo 3/10 Pucung Rejo
Tanggal MRS : Selasa, 8 Agustus 2017
Ruang Rawat : Bangsal Edelweiss
No. Reg : 119633

2.2 ANAMNESA
1. Keluhan utama : Nyeri bila menggerakkan kaki kanan.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke IGD RST dr. Soedjono dalam keadaan sadar diantar
oleh keluarga. Pasien mengeluhkan nyeri bila menggerakkan kaki kanan.
Pasien mengatakan bahwa pasien jatuh terpeleset di halaman atau teras rumah
2 hari yang lalu dengan posisi menyamping. Setelah terjatuh pasien sempat
dipijat.
Sebelum kecelakaan, pasien dapat berjalan dengan normal namun
setelah kecelakaan pasien tidak dapat berjalan maupun berdiri. Pasien juga
mengeluhkan nyeri bila menggerakkan kaki kanan. Pasien juga merasakan
demam dan sumer sumer setelah kejadian.

3. Riwayat penyakit dahulu


Riwayat Trauma sebelumnya : disangkal
4

Riwayar Operasi : disangkal


Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat Diabetes Melitus

4. Riwayat pengobatan
 Post kecelakaan pasien belum sempat diobati sebelumnya (hanya
dipijat)

5. Riwayat Keluarga
- Keluhan seperti ini disangkal
- Riwayat Hipertensi
- Riwayat Diabetes Melitus
- Riwayat penyakit jantung : disangkal

6. Riwayat Sosial dan Ekonomi


Pasien tidak merokok dan minum alkohol
Pasien berobat dengan jaminan BPJS

2.3 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum
Tampak Sakit Sedang, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6).
2. Tanda Vital
Tensi : 140/90 mmHg
Nadi : 87x / menit, reguler, isi cukup
Pernafasan : 20x /menit, regular
Suhu : 37,6 oC
Sp.O2/Oxy Hb Saturation : 96

Status Generalis
3. Kulit :
Kulit sawo matang, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-),
5

venektasi (-), petechie (-), spider nevi (-).


4. Kepala :
Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-),
nodula (-).
5. Mata :
Mata tidak cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor
(+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat
kehitaman).
6. Hidung :
Nafas cuping hidung (-/-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung (-/-),
hiperpigmentasi (-/-).
7. Mulut :
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah
hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-).
8. Telinga :
Nyeri tekan mastoid (-/-), sekret (-/-), pendengaran berkurang (-/-), cuping
telinga dalam batas normal.
9. Tenggorokan :
Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-/-)
10. Leher :
Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).
11. Toraks :
Normochest, simetris, pernafasan thorakoabdominal, retraksi (-), spidernevi
(-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)

Thoraks
- Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis kuat angkat
Perkusi : Batas kiri atas : ICS II linea para sternalis sinistra
6

Batas kanan atas : ICS II linea para sternalis dekstra


Batas kiri bawah : ICS V linea medio clavicularis sinistra
Batas kanan bawah : ICS IV linea para sterna dekstra
Pinggang jantung : ICS II linea para sternalis sinistra
(kesan jantung tidak melebar)
Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas noral, regular, tidak didapatkan
bising jantung

- Paru
Inspeksi : Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-), luka
(-)
Palpasi : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-), krepitasi
(-)
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

12. Abdomen :
Inspeksi :Dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-),
jaringan parut/bekas luka (-), tumor/benjolan (-).
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (-), meteorismus (-), hepar dan
lien tidak teraba
Perkusi : timpani

13. Ekstremitas
- Tidak ada edema
- Tidak terdapat akral yang dingin
- Tidak terdapat sianosis

14. Status Lokalis Regio Hip Joint Dextra


7

- Look : sweeling (+), deformitas (+), eksorotasi, luka tampak lebih


kebiruan dibanding kulit sekitar
- Feel : Nyeri tekan (+). Arteri poplitea dan arteri dorsalis pedis teraba kuat,
Daerah luka teraba lebih hangat dari kulit sekitar
- Move : Nyeri saat digerakkan (+), Range of Movement (ROM) terbatas

2.4 RESUME
Seorang wanita berusia 67 tahun datang dengan keluhan nyeri bila
menggerakkan kaki kanan setelah jatuh terpeleset di halaman rumah dengan posisi
menyamping.
Dari pemeriksaan lokalis pada regio Hip Joint Dextra didapatkan deformitas
(+) berupa pembengkakan dan pemendekan bila dibandingkan regio Hip Joint
Sinistra, didapatkan adanya nyeri tekan setempat, teraba hangat. Range of Movement
terbatas.

2.5 ASSESMENT
- Fraktur Collum Femur Dextra
- Diabetes Melitus

2.6 PLANNING
1. Planning Diagnostik
- Laboratorium darah : Darah lengkap, profil lipid, fungsi ginjal, fungsi
hati, CT/BT
- Pemeriksaan radiologi : Rotgen Pelvic AP View, Asimetris
- EKG
2. Planning Terapi
- Farmakologi (Konsul dr. Basuki, Sp.OT)
- Infus RL 20-30 tpm
- Inj. Ketorolac 3x30 mg IV
- Inj. Asam Tranexamat 3 x 500 mg
- Non Farmakologi
8

- Imobiliasasi

- Operatif
- Pro operasi ganti sendi hip dextra
3. Planning Monitoring
- Keadaan umum
- Vital sign (Tekanan darah, nadi, suhu, Frekuensi pernapasan)
- Pola makan
- Hasil pemeriksaan penunjang
- Kondisi luka operasi
- Perbaikan movement
4. Planning Edukasi
- Penjelasan mengenai penyakit dan prognosisnya
- Minum obat teratur, makan tinggi protein, menjaga kebersihan luka
- Cukup istirahat dan membatasi pengunjung agar pasien dapat istirahat
dengan baik

2.7 DIAGNOSA KERJA


- Fraktur Collum Femur Dextra

2.8 PROGNOSIS
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad sanam : dubia ad bonam
- Quo ad fungsionam : dubia ad bonam

Hasil Laboratorium pre op Tanggal 8 Agustus 2017


Jenis Hasil Referensi
Pemeriksaan
WBC 8,3 4-10
RBC 4,09 3-6
HGB 12,4 12-16
HCT 35,1 35-45
9

MCV 35,8 81-101


MCH 30,3 27-33
MCHC 35,3 31-35
RDW 12,1 10-16
PLT 257 150-400
MPV 6,9 7-11
PCT 0,18 0,20-0,50
PDW 13,8 10-18

Lym# 1,0 1,0-5,0


Mid# 1,0 0,1-1,0
Gra# 6,3 2,0-8,0
Lym% 12,3 25-50
Mid% 11,8 2-10
Gra% 75,9 50-80
CT/BT 3’/1’30”

Glukosa 238 70-115


SGOT 42 0,00-31,00
SGPT 23 0,00-31,00
Urea 32 17,00-43,00
Kreatinin 0,8 0,600-1,100

Hasil Pemeriksaan EKG Tanggal 8 Agustus 2017


10

Hasil Pemeriksaan Radiologi Pelvis AP View Tanggal 8 Agustus 2017

 Kesan :
1. Fracture complete collum femoris dextra, cum contractionem
2. Tak tampak dislokasi
3. Kalsifikasi soft tissue regio gluteus maximus dextra suspct et causa akumulasi
bahan obat injeksi

RIWAYAT RAWAT INAP


Follow up pre-operasi (8 Agustus 2017)

S O A P
- Nyeri - KU: sakit sedang -Fraktur Planning Diagnostik
panggul - GCS : CM (15) Collum - Darah lengkap, GDS
kanan (+) - Vital sign : Femur Dextra Planning Terapi
11

- Kaki kanan - - TD : 140/90 Nadi -Diabetes - Infus RL 20 tpm-30


sulit 87x/m Melitus tpm
digerakkan - - GDS : 238 - Inj. Asam
- Nyeri kepala - - RR : 20x/menit Tranexamat 3x500 mg
(-) - - Suhu: 36,8 - Inj. Ketorolac 3x30
- Mual/muntah - Status generalis mg IV
(-) Thoraks, Abdomen, - PRC 1 kolf
- BAB dan Ekstremitas : DBN 11
BAK dbn - Status Lokalis Regio -Inj Novoramid
Hip - Inj. Terfacef
- Joint Dextra - Inj. Tofadex
- - Look - Inj. Ranitidin
- Swelling (+), - Inj. Antrain
Deformitas (+), - Inj. Novorapid
Eksorotasi, Tepi Non Farmakologi
daerah luka tampak - Perbaikan KU
kebiruan dibanding - Perbaikan GDS
daerah sekitar. - Imobilisasi
- - Feel Planning Monitoring
- Nyeri tekan (+), A. - Tanda vital dan
Poplitea dan A. kesadaran
Dorsalis pedis teraba Planning Edukasi
kuat, daerah luka - Immobilisasi
lebih hangat dari kulit -
sekitar
- - Movement
- Nyeri saat digerakkan
(+), ROM terbatas

- GDS
12

- Hb

Langkah operasi Austin Moore Prothese Tanggal 9 Agustus 2017


1. Posisi miring kanan atas dalam spinal anestesi
2. Desinfeksi
3. Posisi Moore Approach
4. Dilakukan prosedur penggantian sendi panggul kanan berat dengan protesa bipolar
diameter 42 cm dan bone semen.
5. Cek stabilitas ROM sendi panggul
6. Cuci dan hentikan perdarahan
7. Jahit kapsul sendi
8. Jahit fascia dan kulit satu persatu
9. Operasi selesai
13

Follow up post-operasi (10 Agustus 2017)


S O A P
- Nyeri luka - KU: sakit sedang -Fraktur Planning Diagnostik
operasi (+) - GCS : CM (15) Collum - Darah lengkap, GDS
- Demam - Vital sign : Femur Dextra Planning Terapi
- Pucat - - TD : 150/90 -Diabetes - Infus RL Futrolit 20
- GDS : 224 - Nadi 82x/m Melitus tpm-30 tpm
14

- Mual (-) - - RR : 20x/menit Suhu: Inj. Asam tranexamat


- Muntah (-) 36,2 3x500 mg
- Nafsu makan - - GDP : 207 - Inj. Ketorolac 3x30
baik - -Hb : 7,9 mg IV
- BAB dan - Status generalis - Metlpredisolon 3x4
BAK dbn - Conjungtiva Anemis mg tab
Thoraks, Abdomen, - Paracetamol 2x500
Ekstremitas : DBN mg
- Status Lokalis Regio - PRC 2 kolf
Hip Non Farmakologi
- Joint Dextra - Perbaikan KU
- - Look - Perbaikan GDS
- Terpasang perban (+), - Imobilisasi
Rembesan darah (-) Planning Monitoring
- - Feel - Tanda vital dan
- Nyeri tekan (+), A. kesadaran
Poplitea dan A. Planning Edukasi
Dorsalis pedis teraba - Immobilisasi
kuat, daerah luka
lebih hangat dari kulit
sekitar
- - Movement
- Nyeri saat digerakkan
(+), ROM terbatas

Hasil Laboratorium post op Tanggal 10 Agustus 2017


Jenis Hasil Referensi
Pemeriksaan
WBC 18,9 4-10
RBC 2,57 3-6
HGB 7,9 12-16
15

HCT 23,8 35-45

MCV 92,7 81-101


MCH 30,7 27-33
MCHC 33,2 31-35
RDW 11,6 10-16
PLT 244 150-400
MPV 6,9 7-11
PCT 0,17 0,20-0,50
PDW 14,7 10-18

Lym# 1,7 1,0-5,0


Mid# 2,3 0,1-1,0
Gra# 14,9 2,0-8,0
Lym% 9,1 25-50
Mid% 12,4 2-10
Gra% 78,5 50-80

Hasil Radiologi Pelvis AP Tanggal 11 Agustus 2017


16

Kesan RO Post OP :
- Terpasang di femur dextra, posisi baik, ujung distal AMP tidak tervisualisasikan
S O A P
- Nyeri luka - KU: sakit sedang -Fraktur Planning Diagnostik
operasi (+) - GCS : CM (15) Collum - Darah lengkap, GDS
- Demam - Vital sign : Femur Dextra Planning Terapi
- Pucat - - TD : 150/90 -Diabetes - Infus RL Futrolit 20
- GDS : 224 - Nadi 82x/m Melitus tpm-30 tpm
- Mual (-) - - RR : 20x/menit Suhu: Inj. Asam tranexamat
- Muntah (-) 36,2 3x500 mg
- Nafsu makan - - GDP : 207 - Inj. Ketorolac 3x30
baik - -Hb : 7,9 mg IV
- BAB dan - Status generalis - Metlpredisolon 3x4
BAK dbn - Conjungtiva Anemis mg tab
Thoraks, Abdomen, - Paracetamol 2x500
Ekstremitas : DBN mg
- Status Lokalis Regio - PRC 2 kolf
Hip Non Farmakologi
- Joint Dextra - Perbaikan KU
- - Look - Perbaikan GDS
- Terpasang perban (+), - Imobilisasi
Rembesan darah (-) Planning Monitoring
- - Feel - Tanda vital dan
- Nyeri tekan (+), A. kesadaran
Poplitea dan A. Planning Edukasi
Dorsalis pedis teraba - Immobilisasi
kuat, daerah luka
lebih hangat dari kulit
sekitar
- - Movement
17

- Nyeri saat digerakkan


(+), ROM terbatas

Hasil Laboratorium post op Tanggal 11 Agustus 2017


Jenis Hasil Referensi
Pemeriksaan
WBC 15,9 4-10
RBC 3,54 3-6
HGB 11,0 12-16
HCT 30,7 35-45

MCV 86,7 81-101


MCH 31,1 27-33
MCHC 35,8 31-35
RDW 10,9 10-16
PLT 218 150-400
MPV 6,8 7-11
PCT 0,15 0,20-0,50
PDW 15,6 10-18

Lym# 1,3 1,0-5,0


Mid# 1,4 0,1-1,0
Gra# 13,2 2,0-8,0
Lym% 7,9 25-50
Mid% 9,0 2-10
Gra% 83,1 50-80
CT/BT

Glukosa 70-110
Ureum 8-50
Kreatinin 0-1,3
18

Follow up post op (15 Agustus 2017)


S O A P
- Nyeri luka - KU: sakit sedang -Fraktur Planning Diagnostik
operasi (+) - GCS : CM (15) Collum - Darah lengkap, GDS
- Demam - Vital sign : Femur Dextra Planning Terapi
- Pucat - - TD : 150/90 -Diabetes - Infus RL Futrolit 20
- GDS : 224 - Nadi 82x/m Melitus tpm-30 tpm
- Mual (-) - - RR : 20x/menit Suhu: Inj. Asam tranexamat
- Muntah (-) 36,2 3x500 mg
- Nafsu makan - - GDP : 207 - Inj. Ketorolac 3x30
baik - -Hb : 7,9 mg IV
- BAB dan - Status generalis - Metlpredisolon 3x4
BAK dbn - Conjungtiva Anemis mg tab
Thoraks, Abdomen, - Paracetamol 2x500
Ekstremitas : DBN mg
- Status Lokalis Regio - PRC 2 kolf
Hip Non Farmakologi
- Joint Dextra - Perbaikan KU
- - Look - Perbaikan GDS
- Terpasang perban (+), - Imobilisasi
Rembesan darah (-) Planning Monitoring
- - Feel - Tanda vital dan
- Nyeri tekan (+), A. kesadaran
Poplitea dan A. Planning Edukasi
19

Dorsalis pedis teraba - Immobilisasi


kuat, daerah luka
lebih hangat dari kulit
sekitar
- - Movement
- Nyeri saat digerakkan
(+), ROM terbatas

Fisioterapi
20

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 DEFINISI FRAKTUR

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang
rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya
disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan
lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan
persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung
dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada
tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan
tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya
jaringan lunak tetap utuh.
Fraktura adalah patah atau ruptur kontinuitas struktur dari tulang atau
cartilago dengan atau tanpa disertai dislokasio fragmen. Kadang kala sering terjadi
fraktur yang terbuka, hal ini sering terjadi karena trauma terjadi pada lapisan jaringan
yang tipis dan lembut. Lokasi fraktur sering terjadi pada bagian tengah dari tulang
radius atau pada bagian distal tulang raduis dan ulna atau pada bagian distal atau
keduanya.

Penyebab fraktur secara umum dapat disebabkan menjadi 2, yaitu : penyebab


ekstrinsik dan intrinsik. Penyebab ekstinsik juga dapat dibedakan menjadi 2 bagian
yaitu penyebab fraktur akibat gangguan langsung yaitu berupa trauma yang
21

merupakan penyebab utama terjadinya fraktur, misalnya kecelakaan, tertabrak, jatuh.


Penyebab yang lainnya adalah fraktur akibat gangguan tidak langsung seperti
perputaran, kompresi. Penyebab fraktur secara intrinsik dapat diakibatkan kontraksi
dari otot yang menyebabkan avulsion fraktur.. Fraktur patologis adalah fraktur yang
diakibatkan oleh penyakit sistemik seperti neoplasia, cyste tulang, ricketsia,
osteoporosis, hiperparatyroidisme, osteomalasia. Tekanan yang berulang juga dapat
menyebabkan fraktura.

3.2 PENYEBAB FRAKTUR

Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat:
1. Peristiwa trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan,
yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan, pemuntiran, atau
penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat patah pada tempat yang
terkena, jaringan lunaknya juga pasti rusak. Bila terkena kekuatan tak langsung,
tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena
kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada.
2. Fraktur kelelahan atau tekanan
Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau fibula atau metatarsal,
terutama pada atlet, penari, dan calon tentara yang jalan berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya
oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit Paget).
Daya pemuntir menyebabkan fraktur spiral pada kedua tulang kaki dalam
tingkat yang berbeda; daya angulasi menimbulkan fraktur melintang atau oblik
pendek, biasanya pada tingkatyang sama. Pada cedera tak langsung, salah satu dari
fragmen tulang dapat menembus kulit; cedera langsung akan menembus atau
22

merobek kulit diatas fraktur. Kecelakaan sepeda motor adalah penyebab yang paling
lazim.
Banyak diantara fraktur itu disebabkan oleh trauma tumpul, dan resiko
komplikasinya berkaitan langsung dengan luas dan tipe kerusakan jaringan lunak.
Tscherne (1984) menekankan pentingnya menilai dan menetapkan tingkat cedera
jaringan lunak:
C0 = kerusakan jaringan lunak sedikit dengan fraktur biasa
C1 = abrasi dangkal atau kontusio dari dalam
C2 = abrasi dalam, kontusio jaringan lunak dan pembengkakan, dengan fraktur berat
C3 = kerusakan jaringan lunak yang luas dengan ancaman sindroma kompartemen.

3.3 ANATOMI PANGGUL

Sendi panggul terdiri dari multiaxial-ball yang besar dan kantung sendi
sinovial yang dibungkus oleh kapsul artikularis yang tebal. Sendi panggul berguna
untuk mempertahankan keseimbangan dan memungkinkan pergerakan yang luas.
Setelah sendi bahu, sendi panggul merupakan sendi yang paling luas
pergerakannya dibandingkan dengan sendi-sendi lainnya. Selama berdiri, seluruh
berat bagian atas tubuh dipindahkan dari kepala dan leher ke femur. Lingkaran
kepala dari femur (kaput femoris) berhubungan dengan mangkuknya yang disebut
asetabulum. Bagian dalam asetabulum diisi oleh fibrokartilago labrum yang sangat
kuat, yang memegang kaput femoris, dan menutupi lebih dari setengah bagiannya.
Kartilago sendi menutupi seluruh kaput femoris, kecuali pada pit (fovea) yang
merupakan tempat untuk melekatnya ligamen pada kaput femoris.

Kapsul fibrosa yang kuat dan longgar memungkinkan pergerakan yang bebas
pada sendi panggul, mengikatkan asetabulum proksimal dan ligamen asetabular
transversal. Kapsul fibrosa mengikatkan bagian distal dengan collum femoris
hanya pada bagian anterior garis intertrokanter dan akar dari trokanter mayor. Di
bagian posterior, kapsul fibrosa menyilang ke collum proximal ke bagian atas
intertrokanter tanpa mengikatnya. Kapsul fibrosa yang tebal membentuk tiga
23

ligamen sendi panggul yaitu ligamen iliofemoral yang berbentuk Y, ligamen


pubofemoral dan ligamen ischiofemoral.

Sendi panggul juga ditunjang oleh femur dan otot yang menyilangi sendi.
Tulang dan otot adalah bagian paling kuat dan besar dari tubuh manusia. Panjang,
sudut dan lingkaran yang sempit dari collum femoris memungkinkan pergerakan
yang banyak pada sendi panggul. Fraktur terjadi ketika tekanan yang datang lebih
besar daripada kekuatan tulang. Garis intertrokanter adalah garis obliq yang
menghubungkan trokanter mayor dan trokanter minor, memisahkan collum
femoris dari batang femur. Fraktur panggul meliputi seluruh fraktur pada femur
proximal, mulai dari kepala sampai 4-5 cm dari area subtrokanter.

Gambar 1. Anatomi femur proximal

Suplai Vaskuler

Suplai vaskuler untuk femur proximal adalah sedikit dan berasal dari dua
sumber. Cabang medial dan lateral arteri femoralis sirkumflexial, biasanya
merupakan cabang dari arteri femoris profunda, naik ke bagian posterior dari
collum femoris pada retinacula (bayangan dari kapsul sepanjang collum femoris
24

sampai ke kepala). Cabang medial dan lateral dari arteri femoralis sirkumflexial
melewati tulang hanya pada bagian distal dari kaput femoris dimana arteri tersebut
beranastomosis dengan cabang dari arteri fovea dan cabang meduler pada batang
femur.

Ligamen pada kaput femoris juga berisi arteri yaitu arteri fovea yang
merupakan cabang arteri obturator. Arteri fovea masuk ke kaput femoris hanya
ketika pusat osifikasi diperpanjang pada pit (fovea) ke ligamen kaput, pada usia
11-13 tahun. Anastomosis juga terjadi pada usia yang lebih lanjut tapi tidak
melebihi 20 % dari populasi.

Fraktur collum femoris sering mengganggu suplai darah ke kaput femoris.


Arteri sirkumflexial medial mensuplai banyak darah ke kaput dan collum femoris
dan arteri ini sering robek pada fraktur collum femoris. Pada beberapa kasus,
suplai darah dari arteri fovea mungkin hanya dapat diterima pada fragmen
proximal dari kaput femoris. Jika pembuluh darah robek, fragmen tulang tidak
dapat menerima darah dan akan menjadi avascular necrosis (AVN) yang
merupakan salah satu komplikasi penting dari fraktur collum femoris.

Mekanisme Fraktur
Fraktur intrakapsuler (fraktur collum femoris) dapat disebabkan oleh trauma
langsung (direct) atau trauma tidak langsung (indirect).

 Trauma langsung (direct)


Biasanya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trokanter mayor
langsung terbentur dengan benda keras (misalnya jalanan).

 Trauma tidak langsung (indirect)


Disebabkan gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Karena
kaput femoris terikat kuat dengan ligamen didalam asetabulum oleh ligamen
iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur didaerah collum femoris.
Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur intrakapsuler (collum femoris) berarti
25

traumanya cukup hebat. Sedang kebanyakan fraktur collum ini (intrakapsuler)


terjadi pada wanita tua dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik.
Trauma yang dialami wanita tua ini biasanya ringan (misalnya jatuh terpeleset
di kamar mandi).

III. FAKTOR RESIKO

Faktor resiko fraktur panggul penting lainnya selain faktor usia, jenis kelamin
dan osteoporosis:

 Ras Caucasian atau kulit putih


 Berat badan yang rendah (IMT <18,5)
 Bilateral oophorectomy
 Penggunaan alkohol (lebih dari 2 gelas perhari)
 Penggunaan kortikosteroid jangka panjang
 Rheumatoid arthritis yang berat
 Riwayat fraktur panggul sebelumnya
 Riwayat fraktur panggul pada ibu
 Penggunaan obat-obatan yang menurunkan massa tulang seperti
furosemid, hormon tiroid, fenobarbital dan fenitoin
 Merokok
 Gangguan neurologis
Faktor resiko minor:

 Riwayat osteoporosis pada keluarga


 Menopause yang lebih cepat
 Hamil dan menyususi
 Intake Calcium rendah
 Intake kafein
 DM
 Scoliosis
26

 Tempat tinggal
 Inaktifitas fisik
 Tinggi yang berlebihan
 Riwayat colles atau fraktur vertebral yang berhubungan dengan
osteoporosis
 Gangguan penglihatan

IV. KLASIFIKASI

Fraktur collum femoris dibagi berdasarkan:

 lokasi anatomis
 arah garis patah
 dislokasi atau tidak dari fragmennya
Berdasarkan lokasi anatomis dibagi menjadi 3:

 fraktur subcapital
 fraktur transcervical
 fraktur basis collum femoris

(a) (b) (c)

Gambar 2. Klasifikasi fraktur collum femoris berdasarkan lokasi anatomis


27

a. fraktur supcapital

b. fraktur transcervical

c. fraktur basis collum femoris (intertrochanteric)

Berdasarkan arah garis sudut patah dibagi menurut Pauwel :

 tipe I : sudut 30


 tipe II : sudut 50
 tipe III : sudut 70
Berdasarkan dislokasi atau tidak fragmen dibagi menurut Garden:

 Garden I : incomplete (impacted)


 Garden II : fraktur collum femoris tanpa dislokasi
 Garden III : fraktur collum femoris dengan dislokasi sebagian
 Garden IV : fraktur collum femoris dan dislokasi total

A B C

A atas : fraktur collum femoris incomplete

A bawah : fraktur collum femoris impacted

B : fraktur collum femoris dengan dislokasi sebagian

C : fraktur collum femoris dengan dislokasi total


28

V. DIAGNOSA

Anamnesa

 Pada lanjut usia, fraktur sering terjadi akibat jatuh yang ringan. Sebagian kecil
fraktur dapat terjadi secara spontan tanpa adanya riwayat trauma.
 Pasien mengeluh sakit dan tidak dapat menggerakkan panggul.
 Pada fraktur tekanan yang terjadi pada orang muda, pasien mengeluh nyeri pada
panggul atau tumit.
 Pasien mempunyai riwayat fraktur osteoporosis lain seperti colles atau fraktur
kompresi vertebra.

Pemeriksaan fisik

 Penilaian penampilan fisik dan stabilitas pasien seperti pasien tampak


kesakitan dan tidak dapat berdiri.
 Perhatikan tanda-tanda vital dan manifestasi shock seperti perubahan kulit,
status mental dan volume urin. Fraktur panggul berhubungan dengan
kehilangan darah sampai 1500 mL.
 Inspeksi dan palpasi untuk deformitas, hematom dipanggul, laserasi dan
asimetris.
 Perhatikan posisi anatomi extremitas. Pada fraktur dengan dislokasi
sebagian atau total, pasien mengalami sakit yang berat, terlihat adanya
perpendekkan dari tungkai yang cedera, paha dalam posisi abduksi, flexi dan
eksorotasi. Sedang pada fraktur inclomplete atau tanpa dislokasi, penderita
masih dapat berjalan disertai dengan rasa sakit yang tidak begitu berat dan
posisi tungkai masih dalam posisi netral.
Lakukan pemeriksaan neurovaskuler distal

Pemeriksaan radiologi
29

 X-ray
Diperlukan proyeksi anteroposterior dan lateral, kadang-kadang
diperlukan proyeksi axial. Pada proyeksi anteroposterior kadang-kadang tak
jelas ditemukan fraktur (pada kasus yang impacted). Untuk itu perlu ditambah
dengan pemeriksaan proyeksi axial.

Jika fraktur tidak jelas, lihat adanya perubahan garis Shenton dan
bandingkan dengan sisi panggul yang lain. Sebagai tambahan, periksa sudut
collum dan batang femur, yang diperoleh dengan mengukur sudut yang
digambarkan oleh garis yang melalui pertengahan batang femur dan collum
femoris. Sudut ini harus sekitar 120-130˚.

Pada pasien yang diduga kuat mengalami fraktur collum femoris, tetapi
pada foto x-ray hasilnya negatif, maka proyeksi AP dengan rotasi interna
memberikan gambaran yang lebih baik dari collum femoris.

Gambar 4. Garis Shenton dan anatomi sudut dari femur


30

Gambar 5. Foto x-ray fraktur collum femoris sinistra, tampak pemendekan collum
bagian superior dan impaksi kaput kebagian atas collum.

Gambar 6. Foto x-ray, fraktur collum femoris garden IV

 MRI dan bone scan


Jika dengan foto x-ray didapatkan hasil negatif dan pasien diduga kuat
mengalami fraktur panggul, MRI dan bone scan memiliki sensitifitas tinggi
dalam mengidentifikasi trauma tersembunyi. MRI 100% sensitif pada pasien
dengan hasil x-ray yang tidak jelas. Dulu, bone scan tidak akurat sebelum 48-
72 jam setelah fraktur, tetapi ada satu penelitian yang menemukan sensitifitas
31

93% tanpa memperhatikan waktu trauma, termasuk fraktur yang kurang dari
24 jam.

Gambar 7. MRI potongan coronal T1, tampak fraktur collum femoris sinistra tanpa
dislokasi.

VI. DIFFERENSIAL DIAGNOSA

Diferensial diagnosis dibuat berdasarkan keluhan nyeri pada pasien.

Differential Diagnosis of Hip or Leg Pain


Source of pain Diagnosis

Bone Fracture, avascular necrosis of the femoral head, primary


neoplasm, metastatic disease

Joint Osteoarthritis, inflammatory arthritis, septic arthritis,


crystalloid arthritis, osteoid osteoma, osteitis pubis,
acetabular tear
32

Muscle, tendon, Contusion, iliotibial band syndrome, muscle strain,


bursa tendonitis, trochanteric bursitis, iliopsoas bursitis,
pyriformis syndrome, myositis ossificans

Spine, Disorders of the lumbar disc, lumbar spinal stenosis,


neuropathicsource sciatica, coccygodynia, meralgia paresthetica

Others Hernia, abdominal pathology, pelvic pathology,


referredpain from knee, ankle, or foot

VII. PENATALAKSANAAN

a. Terapi Konservatif

Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut :

- Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal

- Kesulitan mengamati fragmen proksimal

- Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial.

Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction dan buck


extension.

a. Terapi Operatif

Penatalaksanaan impacted fraktur

Pada fraktur intrakapsuler terdapat perbedaan pada daerah collum femoris


dibanding fraktur tulang ditempat lain. Pada collum femoris, periosteumnya
sangat tipis sehingga daya osteogenesisnya sangat kecil, sehingga seluruh
penyambungan tulang fraktur collum femoris boleh dikatakan tergantung pada
pembentukan kalus endosteal. Lagipula aliran pembuluh darah yang melewati
collum femoris pada fraktur collum femoris dapat mengalami kerusakan. Lebih-
lebih lagi terjadinya hemarthrosis akan menyebabkan aliran darah sekitar
33

fraktur tertekan alirannya. Maka mudah dimengerti apabila terjadi fraktur


intrakapsuler dengan dislokasi akan memungkinkan terjadinya avaskuler
nekrosis.

Pada fraktur yang benar-benar impacted dan stabil, maka penderita masih
dapat berjalan selama beberapa hari. Gejalanya ringan, sakit sedikit pada daerah
panggul. Kalau impactednya cukup kuat atau stabil penderita dirawat 3-4
minggu kemudian diperbolehkan berobat jalan dengan memakai tongkat selama
8 minggu. Kalau pada foto x-ray impactednya kurang kuat atau tidak stabil
ditakutkan terjadi disimpacted, penderita dianjurkan untuk operasi dipasang
internal fixation. Operasi yang dikerjakan untuk impacted fraktur biasanya
dengan multi pin teknik percutaneus.

Gambar 8. Multi pin teknik percutaneus

Penanggulangan fraktur collum femoris dengan dislokasi

Penderita segera dirawat di rumah sakit, tungkai yang sakit dilakukan


pemasangan tarikan kulit (skin traction) dengan Buck-extension. Dalam waktu
34

24-48 jam dilakukan tindakan reposisi, yang dilanjutkan dengan pemasangan


fiksasi interna. Reposisi yang dilakukan dicoba dulu dengan reposisi tertutup
dengan salah satu cara yaitu : menurut Leadbetter. Penderita terlentang dimeja
operasi. Asisten memfiksasi pelvis. Lutut dan coxae dibuat flexi 90˚ untuk
mengendurkan kapsul dan otot-otot sekitar panggul. Dengan sedikit adduksi,
paha ditarik keatas, kemudian dengan pelan-pelan dilakukan gerakan endorotasi
panggul 45˚. Kemudian pada sendi panggul dilakukan gerakan memutar dengan
melakukan gerakan adduksi dan ekstensi. Setelah itu dilakukan test yaitu Palm
heel test : tumit kaki yang cedera diletakkan diatas telapak tangan. Bila posisi
kaki tetap dalam kedudukan abduksi dan endorotasi berarti reposisi berhasil
baik. Setelah reposisi berhasil dilakukan tindakan pemasangan fiksasi internal
dengan teknik multi pin perkutaneus. Kalau reposisi pertama gagal, diulangi
sampai tiga kali, dilakukan open reduksi. Setelah dilakukan reposisi terbuka
dan setelah tereposisi dengan baik selanjutnya dilakukan fiksasi internal
diantaranya dengan :

 Knowless pin
 Cancellous screw
 Plate
Pada lanjut usia, penanggulangan fraktur collum femoris agak berlainan.
Bila penderita tidak bersedia dioperasi atau dilakukan prinsip penanggulangan
do nothing, dalam arti tidak dilakukan tindakan fiksasi interna, caranya
penderita dirawat, dilakukan skin traksi 3 minggu sampai rasa sakitnya hilang.
Kemudian penderita dilatih berjalan dengan menggunakan tongkat atau cruth.
Kalau penderita bersedia dilakukan operasi, akan digunakan prinsip pengobatan
do something yaitu dilakukan tindakan operasi arthroplasty untuk mengurangi
komplikasi luka. Arthroplasty atau Hemiarthroplasty dibagi menjadi dua yaitu :
unipolar (misalnya Thompson dan Austin Moore) dan bipolar (misalnya
Hastings). Pada kebanyakan pasien, protese bipolar hampir seluruhnya
bergerak diluar artikulasio dan efeknya hampir sama dengan protese unilateral
35

yang lebih mahal. Secara teori keuntungan dari protese bipolar adalah
mengurangi penggunaan asetabulum, mengurangi nyeri, kerusakan sendi dan
masalah mobilitas. Jalur pembedahan hemiarthroplasty adalah anterolateral atau
posterior dan yang dianjurkan adalah jalur anterolateral. Pada jalur posterior
sering terjadi dislokasi dan trombosis. Sedangkan pada jalur anterior, waktu
operasi yang dibutuhkan lebih lama, kehilangan darahnya lebih banyak dan
mudah terjadi infeksi. Pembagian lain yaitu digunakannya semen atau tidak
pada femur. Penggunaan semen tulang berhubungan dengan morbiditas
intraoperatif. Hal ini dapat dikurangi dengan intramedullary lavage den teknik
penyemenan moderen. Tidak digunakannya semen berhubungan dengan
bertambahnya nyeri dan penurunan fungsional. Semen harus digunakan pada
hemiarthroplasty kecuali jika ada komplikasi cardiorespirasi. Selain
hemiarthroplasty dapat dilakukan total hip replacement (THR) atau dibuat
mangkuk untuk Austine Moore sebagai pengganti asetabulum. Pada pasien
dengan penyakit sendi dan pasien dengan aktivitas tinggi THR merupakan
terapi pilihan utama.

Gambar 9. Austine Moore Protese


36

Gambar 10. Total Hip Replacement

Medikasi

Pemberian analgetik parenteral sangat dianjurkan untuk mengurangi rasa


nyeri pada pasien. Pemberian obat relaksasi otot juga kadang-kadang
diperlukan. Pemberian antibiotik untuk area kulit yang terbuka seperti sefazolin
sodium dan imunisasi tetanus juga diperlukan pada fraktur terbuka.

Analgetik

Mengontrol nyeri adalah penting untuk kenyamanan pasien. Analgetik yang


dapat diberikan :

 Morfin sulfat
Merupakan drug of choice dari golongan analgetik narkotik karena efek
yang jelas, aman dan dapat reversibel dengan nalokson dengan mudah.
Morfin sulfat yang diberikan secara intra vena dibagi dalam beberapa dosis
dan biasanya diberikan secara titrasi sampai efek yang diinginkan tercapai.
Untuk dewasa, dosis awal 0,1 mg/kg IV/IM/SC, dosis maintenance 5-20
mg/70 kg IV/IM/SC q4h. Pada pasien dengan hipovolemik relative, mulai
37

dengan 2 mg IV/IM/SC. Kontraindikasinya yaitu riwayat hipersensitif dan


hipotensi. Fenotiazin berantagonis dengan efek analgesiknya, sedangkan
antidepresan trisiklik, MAOIs dan depresan sistem saraf pusat lainnya dapat
memberikan efek yang berlawanan.

 Fentanil sitrat
Merupakan analgetik narkotik yang lebih poten dibandingkan dengan
morfin sulfat karena waktu paruh yang lebih pendek. Merupakan drug of
choice sebagai analgetik sedatif. Dengan durasinya yang pendek (30-60
menit), mudah untuk dititrasi. Mudah dan cepat efek reversibelnya terhadap
nalokson. Dosis untuk dewasa 0,5-1 mcg/kgBB/dose IV/IM q30-60 menit.
Transdermal 25 mcg/h sistem q48-72 jam. Kontraindikasi sama dengan
morfin sulfat. Juga berinteraksi dengan fenotiazin dan antidepresan trisiklik.

Antibiotik

 Sefazolin
Merupakan semisintetik sefalosporin generasi pertama. Efektif melawan
flora kulit termasuk stafilkokus aureus. Dosis untuk dewasa 2 g IV/IM q6-
12h tidak melebihi 12 g/day. Kontraindikasinya adalah riwayat hipersensitif.
Probenesid memperpanjang efeknya, penggunaan bersama aminoglikosid
dapat meningkatkan toksisitas terhadap ginjal. Dapat menyebabkan hasil
pemeriksaan glukosa urin menjadi positif palsu.

 Gentamisin
Merupakan golongan aminoglikosid untuk mengeradikasi bakteri gram
negatif. Biasanya digunakan sebagai kombinasi dengan antibiotik untuk
bakteri gram positif. Digunakan bersama ampisilin atau vankomisin untuk
pencegahan pada pasien dengan fraktur terbuka. Dosis untuk dewasa 1,5
mg/kgBB IV tidak melebihi 80 mg. Kontraindikasinya riwayat hipersensitif
38

dan gangguan fungsi ginjal. Golongan aminoglikosid lain, sefalosporin,


penisilin dan amfoterisin B dapat meningkatkan efek nefrotoksisitasnya.
Aminoglikosid dosis tinggi dapat mendepresi neuromuskular dan
mendepresi nafas. Diuretik dapat meningkatkan efek toksisitas pendengaran
dari aminoglikosid.

 Ampisilin
Digunakan bersama dengan aminoglikosid sebagai profilaksis pada
pasien dengan fraktur terbuka. Dosis untuk dewasa 2 g IV/IM.
Kontraindikasinya adalah riwayat hipersensitifitas. Probenesid dan
disulfiram meningkatkan kadarnya, sedangkan allopurinol menurukan
kadarnya serta menambah efek rash akibat ampisilin. Ampisilin dapat
menurunkan efek oral kontrasepsi.

 Vankomisin
Antibiotik poten untuk bakteri gram positif dan enterokokus. Juga
berguna untuk menangani septikemia. Digunakan bersama dengan
gentamisin untuk pencegahan pada fraktur terbuka pada pasien yang alergi
penisilin. Dosis untuk dewasa 1 g IV.

VIII. NUTRISI DAN REHABILITASI

Pada pasien lanjut usia dengan fraktur panggul pascaoperasi, biasanya akan
didapati intake makanan yang tidak adekuat. Kurangnya nutrisi dapat
menyebabkan gangguan mental seperti apatis, kehilangan dan kelemahan massa
otot, gangguan fungsi jantung dan penurunan daya tahan tubuh terhadap
berbagai infeksi. Pemberian multinutrisi secara oral termasuk protein, energi,
39

beberapa vitamin dan mineral dapat mengurangi komplikasi di rumah sakit,


walaupun hal tersebut tidak berpengaruh pada tingkat kematian. Adanya
pemberian protein pada makanan dapat mengurangi lama waktu rehabilitasi.
Pemberian makanan secara nasogastric berguna pada pasien malnutrisi berat
dan dapat mengurangi lama perawatan di rumah sakit. Intake makanan pasien
harus di monitor secara teratur untuk memastikan cukup tidaknya intake
makanan paien dibandingkan dengan kebutuhan.

Rehabilitasi harus dilakukan secepat mungkin supaya pasien menjadi mandiri


dalam mobilitas dan fungsionalnya. Pada tahap awal dapat dilakukan berjalan
dan aktivitas sehari-hari seperti transferring, washing, dressing, toileting.
Keseimbangan dan gaya berjalan adalah komponen penting dari mobilitas dan
berguna dalam memprediksikan kemandirian fungsional.

IX. PENCEGAHAN

 Pencegahan terbaik adalah menghindari faktor resiko dan mencegah terjadinya


jatuh.
 Pemberian suplemen calcium, biophosphonates, hormon paratiroid dan terapi
pengganti estrogen dapat mengurangi resiko fraktur pada pasien dengan
osteoporosis.

X. KOMPLIKASI

 Deep venous trombosis (DVT)


Terjadi pada 16-50 % pasien bahkan 14 % berakibat emboli paru. DVT
dapat terjadi akibat banyaknya darah yang keluar dari permukaan jaringan
yang terluka,yang akan mengaktifkan faktor pembekuan yang
mengakibatkan terbentuknya trombus dalam pembuluh darah. Imobilitas
akibat nyeri atau bedrest total juga merupakan faktor predisposisi untuk
40

terjadinya DVT. Kadang-kadang kerusakan pembuluh darah juga


berpengaruh terhadap terbentuknya bekuan darah intravaskuler. Pemberian
antikoagulan dosis penuh adalah efektif untuk mencegah DVT tetapi akan
menyebabkan perdarahan bertambah hebat dan biasanya tidak digunakan.
Profilaksis terhadap DVT dengan menggunakan heparin atau dextran dosis
kecil dengan atau tanpa obat antiplatelet hanya sedikit efektifitasnya.

 Ulkus dekubitus
Terjadi pada 42 % pasien, akibat imobilitas yang menyebabkan luka
akibat tekanan yang terus menerus dari tempat tidur. Hal ini dapat dicegah
dengan rehabilitasi secepatnya setelah operasi dilakukan misalnya dengan
mobilisasi bedrest yaitu dengan miring kekanan atau kekiri ditempat tidur
selama beberapa lama.

 Infeksi
Infeksi dapat terjadi pada fraktur terbuka sehingga menyebabkan
berbagai infeksi seperti infeksi pada kulit, myositis ossificans, bursitis, dan
septic artritis. Selain itu, karena fraktur lebih sering terjadi pada wanita,
penggunaan kateter akibat imobilitas dapat menyebabkan terjadinya infeksi
traktus urinarius. Infeksi dapat diatasi dan dicegah dengan pemberian
antibiotik.

 Nonunion
 Avaskular nekrosis
Hal ini terjadi karena berkurang atau berhentinya vaskularisasi pada proximal
femur akibat kerusakan pada pembuluh darah yang memperdarahinya
sehingga timbul kerusakan atau nekrosis pada tulang.

 Nyeri kronik
 Gangguan gaya berjalan
41

XI. PROGNOSIS

 Prognosis tergantung pada usia, jenis fraktur dan banyak faktor lainnya
 Secara umum, pasien usia muda hampir selalu dapat kembali berjalan,
walaupun masih tetap bergantung pada tipe frakturnya, mereka mungkin tidak
dapat kembali beraktifitas seperti tingkat aktifitas sebelumnya.
 Banyak pasien lanjut usia tidak dapat kembali berjalan atau hanya mampu
mengerjakan sesuatu bersama asisten. Hal ini mengakibatkan
ketidakmampuan mereka untuk hidup mandiri.
 Hampir 20% pasien tidak dapat berjalan lagi dan pada jumlah yang sama
pasien tidak mampu lagi berjalan diluar rumahnya.
 Hanya 50-65 % dapat kembali berjalan.

3.7 PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada
patahan tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan
tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost
yang disebut dengan fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan
fibrosis, lalu penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada
lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:

Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan


1. Pergelangan tangan 3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu
2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu
3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu
4. Pergelangan kaki 5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu
5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu
6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu
42

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia
(> 8 minggu).
Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun
1997.
Tingkat kematian dari fraktur:
 Kematian : 11.696
 Insiden : 1.499.999
 0,78% rasio dari kematian per insiden

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesa didapatkan, anak usia 15 tahun datang dengan keluhan


nyeri dan tak dapat digerakkan serta bengkak pada lengan bawah sebelah kanan
setelah terjatuh saat bermain bola. Pada saat MRS, pingsan (-), mual(-), muntah(-),
kepala pusing (-).
Dari pemeriksaan lokalis pada regio antebrachii dextra didapatkan edema
(+), deformitas (+), didapatkan adanya nyeri tekan setempat, teraba hangat, gerakan
aktif dan pasif terhambat, sakit bila digerakkan. False of Movement (+)
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien ini dapat
didiagnosa Close Fraktur Radius Ulna Dextra.

Fraktur femur proximal adalah penyebab umum dan penyebab penting


kematian dan kehilangan fungsional. Insidens fraktur berhubungan dengan
43

peningkatan usia, jenis kelamin, osteoporosis dan beberapa faktor resiko


lainnya. Karena peningkatan angka harapan hidup, insidens fraktur menjadi
meningkat pada beberapa tahun terakhir ini. Fraktur dapat terjadi akibat trauma
langsung atau tidak langsung. Berbeda dengan usia muda, fraktur pada lanjut
usia biasanya terjadi akibat trauma yang ringan misalnya jatuh dikamar mandi.

Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan


radiografi seperti foto x-ray posisi AP, lateral dan kadang-kadang perlu posisi
axial. MRI lebih sensitif dalam mendiagnosa fraktur collum femoris.

Penanganan fraktur yang impacted dan stabil yaitu dengan perawatan selama 3-
4 minggu lalu berobat jalan dengan menggunakan tongkat selama 8 minggu.
Untuk yang tidak stabil dilakukan operasi dengan fiksasi interna dengan teknik
multi pin percutaneus. Pada fraktur dengan dislokasi pada lanjut usia, dibagi
menjadi dua yaitu do nothing artinya tanpa operasi yaitu dengan skin traction
selama 3 minggu sampai sakitnya hilang lalu berjalan dengan tongkat atau
cruth. Atau dengan do something atau dengan operasi yaitu dengan
arthroplasty atau total hip replacement. Medikasi yang dapat diberikan adalah
analgetik misalnya morfin sulfat atau fentanil sitrat untuk mengatasi rasa sakit,
obat relaksasi otot dan antibiotik misalnya sulfazolin, gentamisin, ampisilin
dan vankomisin untuk mengatasi atau mencegah infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Carter Michel A., Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson Lorraine
McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal 1365-1371
44

Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad Sjahriar, Radiologi
Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit Buku Balai Penerbitan FKUI.
Jakarta. 2009. Hal 31-43.

Goh Lesley A., Peh Wilfred C. G., Fraktur-klasifikasi,penyatuan, dan komplikasi


dalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 112-121.

Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes Radiologi.
Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-230.

Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.


Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif
Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.